cerita-jataka

September 22, 2014

55 Situs Warisan Budaya Buddhis UNESCO

Filed under: download — hansen @ 4:04 am
Tags: , ,

cover situs buddhis

click below to download:

50. 55 Situs Warisan Budaya Buddhis Dunia

 

 

May 31, 2014

Mara Si Penggoda

Filed under: download,riwayat hidup — hansen @ 3:02 am
Tags: , , ,

mara cover

49. Mara si Penggoda

 

 

March 25, 2014

Usaha Benar

Filed under: download — hansen @ 2:56 am
Tags: , ,

usahabenar

48. Usaha Benar

March 24, 2014

It’s Easy to be Happy

its easy to be happy

47. It’s Easy to be Happy

 

February 14, 2014

Riwayat Hidup Maha Kaccana (5)

Filed under: riwayat hidup maha kaccana — hansen @ 9:07 am
Tags:

7. Syair-Syair
Theragatha
Theragatha, syair-syair para sesepuh, memasukkan delapan
syair yang dianggap berasal dari Yang Mulia Maha Kaccana
(v. 494-501). Syair-syair ini tidaklah luar biasa dan hanyalah
berupa ungkapan saja, dalam bentuk syair, sebagai petunjuk
disiplin yang tepat bagi para bhikkhu dan saran yang praktis
bagi para perumah tangga. Meskipun syair Maha Kaccana
yang ditujukan kepada brahmana Lohicca berfungsi secara
efektif sebagai syair yang mendidik, beliau tampaknya tidak
cukup dianugerahi dengan karunia seni berpuisi sebagaimana
yang dimiliki oleh beberapa siswa-siswa utama lainnya,
seperti Maha Kassapa, Sariputta, dan Vangisa . Keunggulan
Kaccana terletak pada analisis dan penafsiran, bukan pada
kefasihan inspirasional atau kreativitas seni.
Dua syair pertama (v. 494-95), menurut bagian komentar,
diucapkan sebagai nasihat kepada para bhikkhu. Suatu hari
sang sesepuh menyadari bahwa sejumlah bhikkhu telah
mengesampingkan latihan meditasi mereka dibandingkan
dengan kesenangan dalam pekerjaan dan komunitas mereka.
Mereka juga menjadi terlalu menyukai makanan lezat yang
disediakan oleh para penyokong setia. Oleh karena itu beliau

menegur mereka demikian29:
“Seorang bhikkhu semestinya tidak melakukan banyak
pekerjaan
Seorang bhikkhu semestinya menghindari kerumunan
orang,
Seorang bhikkhu semestinya tidak memiliki kesibukan
(untuk memperoleh pemberian).
Seorang bhikkhu yang bersemangat dan serakah atas
berbagai rasa
Akan kehilangan tujuan yang membawa pada
kebahagiaan.
Mereka tahu adalah rawa berlumpur, bentuk penghormatan
dan pemujaan ini
Diperoleh dari keluarga-keluarga yang taat.
Sebuah bentuk yang halus, sulit untuk disaring,
Rasa tinggi hati sulit dibuang oleh seorang manusia
hina.”
Enam syair lainnya, lagi menurut bagian komentar, diucapkan
sebagai nasihat kepada Raja Candappajjota. Disebutkan
bahwa sang raja memiliki keyakinan pada brahmana dan
atas perintah mereka mengadakan pengurbanan hewan;
ia juga sering memberikan hukuman dan anugerah sesuka
hatinya, mungkin karena temperamen sesuka-hatinya inilah
dia memperoleh gelar “Yang Kejam.” Oleh karena itu, untuk
mencegah raja dari perilaku sembrono tersebut, sang sesepuh
mengucapkan empat syair berikut ini (496-99):

“Bukanlah tergantung pada perbuatan orang lain
Sehingga kamma seseorang merupakan kejahatan.
Bergantung pada diri sendiri seseorang harus menjauhi
kejahatan,
Karena seseorang berhubungan dengan kammanya
sendiri.
Seseorang bukanlah pencuri oleh karena perkataan orang
lain,
Seseorang bukanlah orang bijak oleh karena perkataan
orang lain;
Hal tersebut diketahui seseorang melalui dirinya sendiri
Demikian pula para dewa mengetahuinya.
Orang lain tidak mengerti
Bahwa kita semua sampai di akhir di sini.
Tetapi mereka yang bijaksana yang mengerti hal ini
Dengan demikian menyelesaikan semua perselisihan
ini.30
Orang bijak hidup dengan sesungguhnya
Bahkan meskipun mereka kehilangan harta
kekayaannya.
Tetapi apabila seseorang tidak memiliki kebijaksanaan,
Maka walaupun mereka kaya mereka tidak hidup.”
Dua syair terakhir (500-501) diucapkan oleh sang sesepuh
ketika sang raja datang menemuinya pada suatu hari dan

menceritakan sebuah mimpi yang mengganggunya tadi
malam kepada sesepuh Kaccana:
“Seseorang mendengar segalanya dengan telinga,
Seseorang melihat segalanya dengan mata,
Orang yang bijaksana tidak boleh mengabaikan
Segala sesuatu yang dilihat dan didengar.
Seseorang yang memiliki mata namun seolah-olah buta,
Seseorang yang memiliki telinga namun seolah-olah tuli,
Seseorang yang memiliki kebijaksanaan namun seolaholah
bisu,
Seseorang yang memiliki kekuatan namun seolah-olah
lemah.
Maka, ketika tujuan telah tercapai,
Seseorang mungkin telah berbaring di atas ranjang
kematiannya.”
Bagian komentar menjelaskan maksud dari dua syair di atas:
Seorang bijaksana tidak boleh mengabaikan segala sesuatu,
tetapi pertama-tama dia harus menyelidiki kebajikankebajikan
dan kesalahan-kesalahan, dan kemudian harus
menolak apa pun yang seharusnya ditolak dan menerima apa
pun yang dapat diterima. Oleh karena itu, dalam kaitannya
dengan apa yang seharusnya ditolak, meskipun seseorang
memiliki mata, dia harus bertindak seolah-olah buta, dan
walaupun mampu mendengar, dia harus bertindak seolaholah
tuli. Seorang yang cerdas, yang mampu berbicara dengan
baik, harus bertindak seolah-olah bodoh ketika tergoda untuk
berbicara apa yang tidak semestinya untuk diucapkan, dan
seorang yang kuat harus bertindak seolah-olah lemah dalam

kaitannya dengan apa yang tidak semestinya dilakukan.
Baris terakhir bersifat ambigu, demikian pula dalam bahasa
Pali-nya, dan ditafsirkan dalam dua cara yang berbeda
di dalam bagian komentar: (1) Ketika tugas yang harus
dilakukan telah muncul, seseorang harus menyelidikinya
dan tidak mengabaikannya bahkan jika ia sedang berada di
atas ranjang kematiannya (ambang pintu kematian). (2) Atau
alternatif lainnya, jika tugas yang tidak seharusnya dilakukan
seseorang muncul, dia seharusnya memilih kematian – untuk
berbaring di atas ranjang kematian – daripada melakukan apa
yang seharusnya tidak dilakukan itu. Penjelasan manapun
tampaknya tidak meyakinkan, dan maksud yang sekiranya
tepat untuk baris terakhir tersebut yang sesuai dengan
semangat syair Theragatha tersebut sebagai satu kesatuan
adalah: Seseorang seharusnya meninggal sebagai orang
yang telah mencapai tujuan, atau dengan kata lain sebagai
Arahat.

——————-

8. Penafsiran Risalah
Sebelum mengakhiri penyelidikan mengenai kontribusi Yang
Mulia Maha Kaccana pada masa kehidupan Buddha Gotama,
harus diperhatikan bahwa tradisi Theravada mencantumkan
dua risalah penafsiran yang berasal dari beliau, yaitu
Petakopadesa dan Nettippakarana – dan sebuah tata bahasa
yang mempengaruhi bahasa Pali yang disebut Kaccayana-
Vyakarana . Kedua risalah ini tidak terdapat dalam kitab
Pali (kecuali di Myanmar, dimana mereka belakangan
memasukkan keduanya ke dalam Sutta Pitaka), tetapi risalah
ini telah memberikan pengaruh besar pada evolusi metode
penafsiran.
Bhikkhu Ñanamoli yang menerjemahkan kedua risalah itu
ke dalam bahasa Inggris, berpendapat bahwa Netti muncul
belakangan, sebuah versi yang lebih baik dari Petakopadesa.
Keduanya memiliki metode penafsiran yang sama, yang di
dalam Netti terlihat lebih jelas dan lebih ringkas. Metode yang
tergambar di sana memang dirancang untuk memperoleh
kesatuan prinsip-prinsip yang mendasari beragam ekspresiekspresi
Dhamma di dalam khotbah-khotbah sang Buddha.
Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa dengan beragamnya
khotbah-khotbah sang Guru, yang diadaptasikan sesuai
dengan temperamen dan situasi para pendengarnya pada
saat tertentu, terdapat sebuah sistem yang konsisten, yang
dengan teknik penafsiran yang tepat dapat disarikan dari

pernyataan tersebut melalui penyelidikan dan ditampilkan
sesuai dengan esensinya tanpa kiasan. Netti, sebagaimana
yang telah dijelaskan oleh Y.M. Ñanamoli, sebenarnya
bukanlah sebuah komentar tetapi merupakan sebuah
panduan bagi para komentator. Netti menjelaskan secara
lengkap, tidak mengenai ajaran-ajaran itu sendiri (kecuali
pada cara pemberian contoh), tetapi sebagai alat yang dapat
digunakan untuk memperoleh kerangka-kerangka struktural
yang mendasari dan membentuk ekspresi dari ajaran
Buddha.
Netti membedakan metodologinya ke dalam dua judul
utama: ungkapan (byanjana) dan makna (attha). Ungkapan
ini memiliki enam belas “cara penyampaian” (hara), teknik
verbal dan analisis logis yang dapat diterapkan pada setiap
bagian khusus untuk mengekstrak prinsip-prinsip yang ada
di balik perumusan verbal dan organisasi logis dari isinya.
‘Makna’ memiliki tiga metode atau “pedoman” (naya).
Metode ini menarik makna sebagai tujuan dari ajaran
(attha bisa berarti “makna” dan “tujuan”), yang tak lain
adalah pencapaian Nibbana, dan kemudian mengungkapkan
bagaimana ajaran dalam bentuk pertanyaan mampu
mengarah pada pencapaian tujuan itu sebagai kerangka yang
mendasarinya. Dua metode tambahan kemudian diusulkan
untuk menghubungkan terminologi sutta dengan metodemetode
untuk menarik makna dari sutta. Metode tersebut
diterapkan oleh bagian sub-komentar pada sutta pertama
dari keempat Nikaya dengan tambahan khusus pada bagian
utama dari sub-komentar. Juga terdapat sebuah komentar
pada Netti yang berkenaan dengan Acariya Dhammapala.
Tanda pengarang dari kedua risalah penafsiran ini –
Petakopadesa dan Nettippakarana – jelas berasal dari Yang

Mulia Maha Kaccana. Bahkan tanda yang terdapat dalam
Netti lebih lanjut menyatakan bahwa Netti itu telah disetujui
oleh sang Bhagava dan dikumandangkan di hadapan Dewan
Buddhis awal. Cendekiawan Barat cenderung mengabaikan
anggapan bahwa Yang Mulia Maha Kaccana telah mengarang
kedua risalah ini. Akan tetapi Y.M. Ñanamoli, dalam Pengantar
dari terjemahan Nettippakarana, menawarkan sebuah
penjelasan yang setidaknya melindungi sebutir kredibilitas
dalam pandangan Buddhis tradisional tanpa jatuh ke dalam
sikap kontra yang keras.
Y.M. Ñanamoli mengusulkan agar kita membedakan antara
kepemilikan metode penafsiran di satu pihak, dan kepemilikan
dari risalah di sisi lain. Beliau mengusulkan sebuah hipotesis
– walaupun mungkin tidak dapat dibuktikan atau disanggah -
bahwa sesepuh Maha Kaccana dan garis keturunan muridnya
di Avanti mungkin telah merumuskan sebuah metode yang
ringkas untuk menginterpretasikan khotbah-khotbah sang
Buddha, dan bahwa metode ini – atau setidaknya unsurunsur
dari metode ini – mungkin telah dibahas pada Konsili
awal dan dituturkan secara lisan dalam bentuk kerangka
analisis. Di kemudian hari, metode ini bisa saja melahirkan
sebuah risalah, yang mencoba untuk menghubungkan unsurunsur
risalah dan menggambarkan aplikasinya dalam naskahnaskah
tertentu. Risalah ini akhirnya menjadi Petakopadesa.
Beberapa waktu kemudian, bahkan mungkin berabadabad
kemudian, versi yang lebih baik dan mudah dipahami
dari pekerjaan yang sama ini dilakukan, dan menjadi
Nettippakarana. Karena metodologi asli yang ada di dalam
risalah ini berasal dari pemikiran Yang Mulia Maha Kaccana,
atau setidaknya diyakini berasal dari beliau, juga sebagai
penghormatan kepada pengarangnya – dan juga untuk

meningkatkan prestise risalah – para penghimpun kitab
ini memberikan apresiasi kepemilikan ini kepada sesepuh
Kaccana. G.P. Malalasekera juga menawarkan rangkaian
hipotesis untuk menjelaskan hubungan status kepemilikan
tata bahasa Pali, Kaccayana-Vyakarana, yang ditujukan
kepada siswa utama Buddha Gotama ini.
Meskipun hipotesis-hipotesis tersebut masih berupa
dugaan, sebagaimana Y.M. Ñanamoli dan Malalasekera
ketahui sendiri, jenis analisis mendetail mengenai
pernyataan-pernyataan tekstual yang ditemukan di dalam
Nettippakarana sesuai dengan pendekatan yang dibawa
oleh Maha Kaccana terhadap interpretasi khotbah-khotbah
ringkas sang Buddha. Dengan demikian akan terlihat bahwa
seandainya pun sebenarnya tidak ada hubungan langsung
antara sang sesepuh agung dengan risalah Pali kuno yang
dianggap berasal dari beliau, fakta tetap menunjukkan
bahwa risalah-risalah tersebut membawa semangat yang
beliau perjuangkan. Semangat ini terlihat begitu jelas dalam
sutta-sutta yang mencatat penjelasannya terhadap sabda
sang Buddha, menggabungkan ketajaman wawasan dengan
kecakapan berekspresi, ketepatan perumusan dengan
kedalaman makna. Atas dasar kecakapan itulah sehingga
sang Bhagava memberinya gelar “Yang Terkemuka dalam
Pembabaran Ajaran”, dan inilah kontribusinya yang luar biasa
dalam pembabaran Ajaran Buddha.

——————–

 

sumber:

maha kaccana

Riwayat Hidup Maha Kaccana – Yang Terkemuka dalam Pembabaran Ajaran yang Terperinci

Insight Vidyasena Production

January 1, 2014

Riwayat Hidup Maha Kassapa (9-ending)

Filed under: riwayat hidup maha kassapa — hansen @ 7:03 am
Tags: ,

9. Syair-Syair Maha Kassapa

 

Di dalam kitab “Syair-Syair Para Sesepuh” (Theragatha), empat puluh syair (1051-1091) dianggap berasal dari Yang Mulia Maha Kassapa. Syair-syair ini mencerminkan beberapa karakteristik kualitas dan kebaikan luar biasa dari Maha Kassapa: kebiasaan hidupnya yang keras dan rasa puasnya; disiplinnya terhadap dirinya sendiri dan para bhikkhu; semangat kemandiriannya; kecintaannya pada penyendirian, menjauhi keramaian; dedikasinya dalam praktek meditasi dan kedamaian jhana-jhana. Syair-syair ini juga menunjukkan apa yang tidak ada di dalam naskah-naskah lain: sensitifitasnya terhadap keindahan alam yang ada di sekitarnya.

 

Berikut hanya diberikan beberapa syair yang telah diseleksi, yang dapat dibaca seutuhnya dari terjemahan (ke dalam bahasa Inggris) oleh C.A.F. Rhys Davids dan K.R. Norman[1].

 

Sebuah nasehat kepada para bhikkhu untuk berlatih rasa puas dengan empat kebutuhan dasar dalam kehidupan seorang bhikkhu[2].

 

Pada suatu hari saya turun dari pondokan di gunung
Dan berpindapatta di sepanjang jalan.
Saya melihat seorang penderita kusta sedangmenyantap makanannya
Dandengan sopan saya berhenti di sisinya. (1054)

 

Dia dengan tangannya yang berkusta dan berpenyakit
Meletakkan sebutir nasi ke dalam mangkukku; saat ia meletakkannya,
Sebuah jarinya putus dan jatuh ke dalam makananku. (1055)

 

Pada sebuah tembok terdekat saya menyantap bagianku,
Tidak pada saat itu ataupun sesudahnya saya merasa jijik. (1056)

 

Karena hanya dia yang menerima apa yang datang
Makanan sisa, urin sapi untuk obat,
Berdiam di bawah sebuah pohon, berjubah tambal sulam,
Sesungguhnya adalah seorang yang selalu merasa puas dimana pun berada[3]. (1057)

Ketika Maha Kassapa diajukan pertanyaan mengapa, pada usia lanjutnya, beliau masih mendaki dan menuruni bebatuan setiap hari, beliau menjawab:

 

Sementara beberapa orang merasa sangat lelah saat mereka memanjat batu,
Seorang pewaris Buddha, sadar, mawas diri,
Dengan kekuatan semangat yang tak surut[4],
Demikianlah Kassapa mendaki alur gunung. (1058)

Kembali dari kegiatan berpindapatta sehari-hari,
Dia mendaki lagi bebatuan dan duduk
Dalam meditasi, tidak melekatpada apapun,
Karenadia telah melepaskan ketakutan dan kengerian jauh dari dirinya. (1059)

 

Kembali dari kegiatan berpindapatta sehari-hari,
Dia mendaki lagi bebatuan dan duduk
Dalam meditasi, tidak melekat di manapun,

Karena dia salah satu di antara mereka yang apinya telah sejuk dan tenang. (1060)

Kembali dari kegiatan berpindapatta sehari-hari,
Dia mendaki lagi bebatuan dan duduk
Dalam meditasi, tidak melekat pada apapun,

Tugasnya telah dilaksanakan, dia telah terbebas dari kanker. (1061)

 

Orang-orang bertanya lagi mengapa Yang Mulia Maha Kassapa, pada usia lanjutnya, menetap di hutan-hutan dan pegunungan. Apakah beliau tidak menyukai wihara seperti Wihara Veluvana dan wihara lainnya?

 

Daerah-daerah ini menyenangkan hati saya
Ketika tanaman menjalar Kareri menyebarkanrangkaian bunganya,
Ketika suara terompet memanggil para gajah.
Daerah tinggi berbatu inimenyenangkan hati saya. (1062)

 

Bebatuan ini dengan rona awan biru-gelap
Dimana sungai mengalir, dingin dan sebening kristal,
Dengan diselimuti oleh kilauan cahaya (bersinar terang),
Daerah tinggi berbatu ini menyenangkan hati saya. (1063)

 

Seperti puncak menjulang awan biru-gelap,
Seperti bangunan-bangunan indah rupa bebatuan ini,
Dimana suara manis burung menghiasi udara,
Daerah tinggi berbatu ini menyenangkan hati saya. (1064)

 

Seperti tanah luas yang disegarkan oleh hujan (dingin),
Bergema dengan panggilan burung-burung jambul,
Tebing itu menjadi tempat bagi para pertapa,
Daerah tinggi berbatu ini menyenangkan hati saya. (1065)

Tempat ini cukup bagi saya, yangkeras,
Yang berkeinginan untuk bermeditasi (dalam kesendirian).
Tempat ini cukup bagi saya, seorang bhikkhu tekun,
Yang berusaha untuk berdiam dalam pencapaian tujuan tertinggi[5]. (1066)

Tempat ini cukup bagi saya, yang keras,
Yang berkeinginan untuk hidup dalam ketenangan (dan kebebasan).
Tempat ini cukup bagi saya yang bertekad bulat,
(mendedikasikan praktek) sebagai seorang bhikkhu tekun. (1067)

 

Seperti rami berwarna biru-gelap mereka,
Seperti langit musim gugur dengan awan biru-gelap,
Dengan kawanan berbagai jenis burung,
Daerah tinggi berbatu ini menyenangkan hati saya. (1068)

 

Tidak ada kerumunan orang di daerah bebatuan ini,
Tetapi dikunjungi oleh kawanan-kawanan rusa.
Dengan kawanan berbagai jenis burung,
Daerah tinggi berbatu ini menyenangkan hati saya. (1069)

Ngarai lebar yang ada dimana air jernih mengalir,
Dibayangi oleh monyet-monyet dan rusa,
Dipenuhi oleh karpetlumut, lembab,
Daerah tinggi berbatu ini menyenangkan hati saya. (1700)

Tidak ada musik dengan lima instrumen
Yang bisa menggembirakan saya seperti ini
Seperti ketika, dengan pikiran yang dihimpun dengan baik,
Wawasan langsung menuju fajar Dhamma. (1071)

Pada syair-syair berikut ini, Yang Mulia Maha Kassapa menyuarakan “Auman Singa”nya.

 

Di dalam semua pengikut Buddha,
Terkecuali bagi Guru Agungsendiri,
Saya berdiri terdepan dalam hal pertapaan;
Tidak ada seorang pun yang berlatih sekeras saya. (1087)

Sang Guru telah dilayani olehku,
Dan semua ajaran Buddha telah dilakukan.
Telah saya letakkan rendah beban beratku,
sebab kelahiran kembali tidak dapat ditemukan lagi dalam diriku. (1088)

Gotama yang tak terbandingkan tidak melekat
Pada jubah, makanan atau tempat tinggal.
Seperti bunga teratai bersih Ia bebas dari noda,
Bertekad bulat pada pelepasanIa melampaui tiga dunia. (1089)

 

Empat landasan perhatian adalah lehernya;
Pertapa agung memiliki keyakinan dan kepercayaan sebagai tangan;
Di atas, alisnya adalah kebijaksanaan sempurna; mulia bijaksana,
Beliau mengembara dengan semua keinginan yang telahdipadamkan. (1090)


[1]Keduanya diterbitkan oleh Pali Text Society, London.

[2]Kalimat pendahuluan bagian-bagian syair diambil dari bagian komentar kuno.

[3]Harfiah: “seorang pria dengan empat arah”; yang berarti bahwa dia merasa puas dengan segala kondisi dimana pun ia berada.

[4]Harfiah: didukung dengan kekuatan supernormalnya.

[5]Alam me atthakamassa;harfiah: “cukup bagi saya yang mengharapkan tujuan.”Tetapi karena Maha Kassapa telah mencapai tingkat kesucian Arahat, terjemahan kami pun telah disesuaikan. Terjemahan alternatif: “Dia yang menginginkan tujuannya”.

 

maha kassapa

sumber:

Riwayat Hidup Maha Kassapa – Bapak Sangha, Insight Vidyasena Production

December 31, 2013

Penghidupan Benar

Filed under: download — hansen @ 7:07 am
Tags: ,

cover+penghidupan+Benar+print

download here

39. Penghidupan Benar

December 25, 2013

Riwayat Hidup Yasodhara – Putri yang Mulia (Part 3 of 3)

Filed under: riwayat hidup yasodhara — hansen @ 6:34 am
Tags: , ,

PUTRI YASODHARĀ DALAM JᾹTAKA

 

Seperti halnya banyak para siswa-siswi utama Buddha Gautama lainnya, Putri Yasodharā memiliki keterkaitan kuat dengan kehidupan-kehidupan lampau Buddha Gautama. Terlebih dalam beberapa kelahiran lampau, posisi Putri Yasodharā tidak terbantahkan sebagai seorang pendamping setia Bodhisatta dalam menyempurnakan parami dan mencapai pencerahan. Tercacat terdapat 23 kisah di dalam Jātaka yang menceritakan pertautan antara Bodhisatta dan Putri Yasodharā. Berikut adalah rangkuman beberapa kehidupan lampau Putri Yasodharā yang terdapat dalam Jātaka.

 

 

Jātaka 11- Lakkhana Jātaka

Jātaka ini menceritakan hubungan antara Buddha Gautama, Sariputta, Devadatta dan Yasodharā. Diceritakan bahwa Bodhisatta terlahir sebagai seekor rusa jantan yang bijaksana. Setelah dewasa dan menikah dengan Yasodharā yang terlahir sebagai rusa betina, mereka memiliki 2 ekor anak yang bernama Lakkhana (Sariputta) dan Kala (Devadatta). Ketika kedua anaknya dewasa, Bodhisatta meminta agar masing-masing anaknya memimpin rombongan kawanan rusa mereka ke dalam hutan untuk berlindung selama masa panen. Akhir cerita, rombongan Lakkhana semuanya selamat sedangkan rombongan Kala semuanya binasa akibat kebodohan Kala.

 

 

Jātaka 281- Abbhantara Jātaka

Jātaka ini menceritakan hubungan kehidupan lampau antara Putri Yasodharā dan sang Senapati Dhamma – YM Sariputta. Diceritakan bahwa pada suatu ketika Putri Yasodharā yang telah melepaskan kehidupan duniawinya dan menjadi seorang bhikkhuni yang lebih dikenal dengan nama Bimbādevī Theri, merasakan sakit perut yang teramat sangat. Putranya, Samanera Rāhula, datang mengunjunginya dan mengetahui sakit ibunya. Dia pun bertanya kepada ibunya, “Obat apa yang biasa Anda minum?”

 

Bimbādevī Theri menjawab bahwa biasanya dia hanya membutuhkan sari buah mangga yang ditambah dengan gula apabila terserang sakit perut seperti ini. Oleh karena mereka berdua telah menjadi murid Buddha Gautama, maka mereka hanya hidup dari meminta derma. Samanera Rāhula berkata, “Saya akan mencarikannya untukmu.” Samanera muda itu pun pergi menemui Upajjhāya[1]-nya yaitu YM Sariputta. Mendengar berita dan kesusahan tersebut, YM Sariputta pergi menemui Raja Kosala. Disana beliau menerima dana persembahan berupa sari buah mangga yang dikupas sendiri oleh Raja Kosala dan mengisikannya ke dalam patta[2] sang thera. Sang thera pun pulang dan memberikannya kepada Samanera Rāhula yang kemudian memberikannya kepada ibunya. Ketika Bimbadevi Theri minum sari buah mangga itu, sakitnya pun terobati. Kejadian ini sampai ke telinga Buddha Gautama yang kemudian menceritakan kisah yang terjadi di masa lampau. Kala itu seorang pertapa sakti turun gunung dan menyebabkan kediaman Sakka terguncang. Sakka kemudian berpikir untuk mengusirnya dengan cara berbohong kepada seorang permaisuri. Pada tengah malam, permaisuri memperoleh penampakkan Sakka – raja para dewa, yang memintanya untuk memakan buah mangga sentral[3] demi memperoleh seorang putra. Permaisuri itu pun pura-pura sakit dan memohon agar raja mencarikan buah mangga sentral untuk diberikan kepadanya. Raja mengutus seekor burung nuri peliharaan istana untuk memperoleh buah tersebut. Setelah melewati berbagai tantangan dan halangan, si burung nuri berhasil memperoleh sebiji buah sentral dengan bantuan seorang pertapa bernama Jotirasa. Permaisuri memakan buah itu tetapi tetap tidak mendapatkan seorang putra.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa permaisuri itu adalah Putri Yasodharā, Ananda adalah burung nuri, Sariputta adalah pertapa Jotirasa, sedangkan pertapa sakti itu adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 292 – Supatta Jātaka

Pada kisah ini, hal yang serupa terjadi kepada Bimbadevi Theri. Beliau merasakan serangan sakit perut. Untuk menyembuhkannya, makanan berupa nasi yang dicampur dengan mentega cair segar dan ditambah dengan ikan merah akan mampu menyembuhkannya. Dengan bantuan YM Sariputta, Bimbadevi Theri pun sembuh dari sakit perutnya. Buddha kemudian mendengar perihal ini dan menceritakan sebuah kisah di masa lampau.

 

Dahulu kala Bodhisatta terlahir sebagai raja dari burung gagak dan bernama Supatta. Pasangannya bernama Suphassā. Dia memiliki seekor gagak panglima bernama Sumukha. Dengan delapan puluh ribu pengikut, dia tinggal di dekat Benares. Pada suatu ketika, dia dan pasangannya melewati dapur istana. Pasangannya tergiur oleh masakan koki istana. Dia pun meminta agar rajanya memberikannya makanan tersebut untuk dicicipi. Raja gagak menceritakan hal ini kepada panglimanya. Panglimanya dengan gagah berani mengatur siasat sehingga dapat mengecoh perhatian para penjaga dan koki istana. Gagak-gagak lain yang ikut bersamanya ke istana berhasil memperoleh makanan tersebut dan memberikannya kepada raja dan ratu mereka.

 

Sayang sekali sang panglima gagak tertangkap dan dibawa menghadap raja Benares. Raja bertanya kepada panglima gagak sebab tingkah laku tidak sopannya. Sang panglima gagak menceritakan perihal keinginan sang ratu gagak yang mendambakan untuk mencicipi rasa masakan koki istana tersebut. Sang raja tertegun dan kagum atas keberanian panglima gagak. Dia pun mengundang raja gagak untuk datang dan memberikan ajaran.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa ratu gagak itu adalah Putri Yasodharā, raja Benares adalah Ananda, panglima gagak adalah Sariputta, dan Supatta adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 328 – Ananusociya Jātaka

Jātaka ini menceritakan tentang ketidakkekalan segala hal yang berkondisi, termasuk terhadap istri tercinta yang meninggal dunia. Dikisahkan dahulu kala Bodhisatta terlahir sebagai seorang putra di dalam sebuah keluarga brahmana. Ketika dewasa ia dinikahkan dengan seorang putri dari sebuah keluarga brahmana terpandang di Kāsi bernama Sammillabhāsinī. Putri itu memiliki segala kecantikan wanita dan sangat berbudi. Oleh karena pernikahan keduanya dilangsungkan diluar kehendak mereka berdua, Bodhisatta dan Sammillabhasini tidak saling melihat satu sama lain dengan pandangan penuh nafsu, melainkan tinggal bersama layaknya dua orang pertapa suci atau dua makhluk suci.

 

Ketika kedua orang tua Bodhisatta meninggal, Bodhisatta berniat meninggalkan semua harta keluarganya kepada istrinya dan menjadi seorang pertapa. Namun ketika dia mengatakan hasratnya itu, sang istri pun berniat mengikuti suaminya menjadi seorang pertapa. Pada akhirnya mereka berdua mendermakan segala harta mereka dan menjadi pertapa.

 

Pada suatu ketika, pertapa wanita ini terserang penyakit sakit perut karena memakan makanan campuran. Karena tidak bisa mendapatkan obatnya, pertapa wanita ini pun meninggal dunia tatkala Bodhisatta sedang pergi mendapatkan derma makanan. Tubuhnya menjadi tontonan banyak orang yang ada disana dan mengagumi kecantikannya. Mereka pun menangis. Ketika Bodhisatta tiba dan mengetahui kematian pertapa wanita itu, dia tidak menjadi sedih. Banyak orang yang ada di sana keheranan dan bertanya mengapa dia tidak menjadi sedih. Bodhisatta pun mengajarkan kebenaran kepada kerumunan orang-orang tersebut bahwa segala sesuatu yang berkondisi tidaklah kekal adanya. Kematian pasti akan datang mendekat dan dapat datang sewaktu-waktu.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa Putri Yasodharā adalah Sammillabhasini dan pertapa itu adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 340 – Visayha Jātaka

Kisah ini menceritakan tentang betapa besarnya peranan berdana. Dahulu kala Bodhisatta terlahir sebagai seorang saudagar kaya raya bernama Visayha. Dia memiliki kekayaan sebesar delapan ratus juta. Ia pun sangat menggemari kegiatan berdana. Bersama istrinya, dia mengatur pembagian derma ke 4 (empat) balai distribusi dana di keempat penjuru kota yang dibangunnya. Setiap harinya ada enam ratus ribu orang yang datang meminta derma.

 

Kesungguhan tekadnya membuat kursi singgasana Sakka, raja para dewa, menjadi panas dan memaksanya turun dari takhtanya. Sakka kemudian berniat untuk membuat si saudagar kehilangan seluruh hartanya, menjadi miskin sehingga dia tidak dapat lagi berdana. Kemudian si saudagar kehilangan seluruh harta dan pelayan serta pekerjanya dalam sekejap. Hanya ada dia dan istrinya. Satu-satunya yang mereka miliki hanyalah pakaian yang melekat di tubuh mereka.

 

Ketika orang-orang yang biasa datang meminta dana makanan bertanya kemana semua dana yang biasa dilakukan oleh sang saudagar, Bodhisatta merasa perlu untuk bekerja sehingga dapat menghasilkan uang dan memberikan dana. Selama tujuh hari dia memotong rumput, menjualnya dan memberikan hasil penjualannya sebagai dana. Pada hari ketujuh, karena ia hanyalah manusia biasa dan sudah tujuh hari tidak makan, kepalanya mulai terasa berputar-putar dan akhirnya ia terbaring jatuh dan tak sadarkan diri.

 

Sakka yang sedang mengawasi apa yang dilakukan oleh Visayha segera sampai di tempat Visayha berada dan bertanya mengapa saudagar itu bersikeras melakukan dana. Bodhisatta membalas, “Dengan berdana, menjalankan sila, melaksanakan Uposatha dan memenuhi tujuh sumpah (tekad), Dewa Sakka mendapatkan kedudukannya sebagai raja para dewa. Sekarang, Anda malah melarang pemberian dana, yang sebelumnya telah membuatmu memperoleh kejayaan ini. Anda telah melakukan suatu keburukan atas hal yang tak seharusnya terjadi.”

 

Lebih lanjut sang saudagar itu berkata, “Bukan untuk mendapatkan kedudukan sebagai Sakka ataupun sebagai Brahma, melainkan untuk mencapai Kesadaranlah, saya memberikan derma.” Sakka yang bersukacita setelah mendengar perkataan tersebut, menyembuhkan tubuh Bodhisatta dan mengembalikan seluruh kekayaannya.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa istri dari saudagar itu adalah Putri Yasodharā dan saudagar itu adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 387 – Sūci Jātaka

Apabila dalam kebanyakan cerita Jātaka digambarkan Bodhisatta dan cikal bakal Yasodharā sama-sama memiliki keinginan untuk menjalankan kehidupan suci dan selibat meskipun merupakan sepasang kekasih, pada cerita ini digambarkan sisi manusiawi Bodhisatta yang jatuh hati kepada cikal bakal Yasodharā. Kala itu Bodhisatta terlahir sebagai seorang tukang pandai besi yang sangat terampil. Orang tuanya adalah orang yang miskin. Tidak jauh dari desa mereka, terdapat juga sebuah desa pandai besi yang terdiri dari seribu rumah. Kepala desa pandai besi itu adalah salah satu orang kesayangan raja, kaya raya dan dikaruniai seorang putri yang cantik jelita. Kecantikan putrinya ini bagaikan bidadari surgawi (apsara) dengan pertanda baik seorang wanita. Orang-orang terus membicarakan kecantikan dan kehalusan budi gadis ini sampai akhirnya terdengar oleh Bodhisatta.

 

Meskipun hanya dengan mendengar cerita orang-orang itu, Bodhisatta menjadi jatuh cinta dan berpikir, “Saya akan menjadikannya sebagai istriku.” Kemudian ia pun mengambil besi terbaik untuk membuat sebuah jarum halus yang tajam yang dapat menusuk tembus sebuah dadu dan terapung di atas air. Kemudian dia pun membuat sarung penutupnya dengan jenis yang sama. Dengan cara yang sama ia membuat sarung itu sebanyak tujuh buah.

 

Kemudian ia pun pergi ke desa itu dengan menanyakan jalan menuju ke rumah tukang pandai besi itu berada. Sesampainya disana ia menjelaskan dan memuji jarum buatannya. Putri si pandai besi yang sedang mengipasi ayahnya yang tertidur, mendengar suara merdu Bodhisatta. Kemudian ia pun keluar dan berbicara dengan Bodhisatta di luar dengan berdiri di beranda. Ayahnya yang mendengar percakapan mereka menyuruh Bodhisatta masuk dan menguji kehebatan jarum buatannya.

 

Dilakukanlah sebuah uji kehebatan jarum buatan Bodhisatta dengan disaksikan oleh ribuan tukang besi lainnya di desa tersebut. Jarum-jarum buatannya sanggup menembus kayu sekuat apapun namun tetap terapung ringan di permukaan air. Melihat kehebatan jarum-jarum itu, kepala pandai besi memanggil putrinya dan di tengah kumpulan orang banyak ia berkata, “Wanita ini adalah pasangan yang cocok untukmu.” Ia memercikkan air kepada mereka dan menyerahkan putrinya kepada Bodhisatta. Dan setelahnya, ketika kepala desa pandai besi itu meninggal dunia, Bodhisatta menjadi kepala desa pandai besi di desa itu.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa putri dari kepala desa pandai besi itu adalah Putri Yasodharā dan pemuda tukang besi yang pandai itu adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 397 – Manoja Jātaka

Pada cerita ini, Bodhisatta dan Putri Yasodharā terlahir sebagai sepasang singa yang memiliki dua ekor anak, satu jantan dan satunya betina. Anaknya yang jantan bernama Manoja. Ketika dewasa, singa jantan ini menikah dengan seekor betina lainnya sehingga mereka berjumlah 5 (lima) ekor dalam satu kawanan.

 

Pada suatu hari, Manoja bertemu dengan seekor serigala yang berkeinginan menjadi pembantu singa itu. Ketika Manoja membawa pulang serta serigala ke rumahnya, Bodhisatta meminta agar anaknya berhati-hati dan tidak berteman dengan serigala yang terkenal licik, jahat dan kejam. Tetapi Manoja tidak menghiraukan nasehat ayahnya. Hingga pada suatu ketika, si serigala berkata kepada tuannya untuk berburu kuda. Kuda tersebut dimiliki oleh raja Benares. Mendengar hal ini, Bodhisatta meminta agar anaknya tidak mendengar ucapan serigala, tetapi Manoja akhirnya tetap pergi untuk mendapatkan daging kuda.

 

Setelah berhasil membunuh seekor kuda istana, Manoja dipanah oleh pemanah istana. Serigala yang melihat hal ini segera meninggalkan Manoja dan pulang kembali ke rumah tuanya. Sedangkan Manoja segera pulang dengan tertatih-tatih dan penuh derita. Sesampainya di depan kediaman singa, Manoja pun rubuh dan mati. Melihat hal ini, orang tua, adik dan istrinya bersedih. Bodhisatta pun mengucapkan syair sebagai berikut:

 

“Ia yang mengikuti orang-orang jahat akan menjadi jahat;

Ia yang berteman dengan sesama temannya yang baik, tidak akan dikhianati;

Ia yang memberi hormat di depan orang mulia dapat bangkit dengan cepat;

Carilah, oleh karena itu, orang-orang yang lebih baik darimu, untuk membantumu.”

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa pada masa itu, serigala itu adalah Devadatta, Manoja adalah bhikkhu yang berteman dengan orang jahat, adiknya adalah Uppalavaṇṇā, istrinya adalah Ratu Khema, ibunya adalah Putri Yasodharā dan ayahnya adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 408 – Kumbhakāra Jātaka

Cerita ini mengisahkan tentang pertemuan Bodhisatta dengan empat orang Pacceka Buddha. Setelah mendengar khotbah yang disampaikan oleh Pacceka Buddha, Bodhisatta berniat meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi seorang pertapa. Dia pun pulang dan menyatakan keinginannya kepada istrinya. Dia juga menceritakan khotbah yang didengarnya kepada istrinya itu. Istrinya, setelah mendengar khotbah yang disampaikan ulang oleh suaminya, juga berkeinginan menjadi seorang pertapa wanita. Namun anak-anak mereka masih kecil dan oleh karena itu hanya salah satu dari mereka yang bisa menjadi seorang pertapa.

 

Dia pun bermaksud memperdaya suaminya dengan berkata akan pergi mengambil air. Sambil berpura-pura membawa kendi kosong, ia keluar rumah dan segera pergi menemui Pacceka Buddha. Mereka pun menerimanya dan menahbiskannya menjadi pertapa wanita. Bodhisatta yang menyadari bahwa istrinya tidak akan kembali lagi akhirnya harus menunda keinginannya menjadi seorang pertapa dan membesarkan anak-anak mereka.

 

Setelah beberapa lama, pada suatu hari, ia pun memasak nasi yang kurang matang. Besoknya memasak nasi yang matang, nasi yang terlalu matang, nasi dengan sedikit garam, nasi dengan kebanyakan garam. Anak-anaknya berkata, “Ayah, hari ini nasinya tidak matang, hari ini nasinya kurang matang, hari ini nasinya benar-benar matang, hari ini nasinya terlalu banyak air, hari ini nasinya tidak ada garam, hari ini nasinya terlalu banyak garam.” Bodhisatta kemudian berkata, “Ya, anak-anakku,” dan berpikir, “Anak-anak ini sekarang dapat mengetahui apa yang tidak matang dan apa yang matang, apa yang ada garamnya dan apa yang tidak ada; mereka pasti dapat hidup dengan jalan mereka sendiri.” Ia pun akhirnya menitipkan mereka kepada sanak keluarganya dan dirinya sendiri ditahbiskan menjadi seorang pertapa.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa pertapa wanita itu adalah Putri Yasodharā dan pertapa lelaki itu adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 411 – Susīma Jātaka

Pada suatu ketika, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang pendeta kerajaan. Di hari yang sama, lahir pula putra raja dari permaisurinya. Putra pendeta kerajaan diberi nama Susīma sedangkan putra raja diberi nama Brahmadatta. Mereka berdua tumbuh besar dan berparas elok menyerupai putra para dewa. Setelah raja dan pendeta kerajaan meninggal dunia, Brahmadatta naik takhta menjadi seorang raja sedangkan Susīma menjadi pendeta kerajaan.

 

Pada suatu ketika, mereka berdua berjalan. Ibu suri secara tidak sengaja melihat pendeta kerajaan yang adalah teman anaknya. Ibu suri jatuh hati tetapi malu mengatakannya kepada anaknya. Dia pun jatuh sakit sampai akhirnya raja mengutus ratu untuk mencari tahu penyebabnya. Ibu suri kemudian menceritakan permasalahannya kepada ratu. Ratu akhirnya memberitahukan hal ini kepada raja. Setelah berpikir dalam-dalam dan rasa bakti kepada ibunya, raja memutuskan untuk menjadikan pendeta kerajaan sahabatnya itu menjadi seorang raja, ibunya menjadi permaisuri, dan dirinya menjadi wakil raja.

 

Pada mulanya pendeta kerajaan menolak rencana tersebut. Tetapi karena terus didesak oleh sahabatnya sendiri, dia pun akhirnya setuju dan menikah dengan ibu suri. Akan tetapi karena pada dasarnya Bodhisatta tidak menyukai kehidupan duniawi, ia berdiri, duduk dan tidur sendirian layaknya orang yang terkurung dalam penjara istana. Istrinya berpikir bahwa raja menghindari dirinya karena dia masih muda sedangkan dirinya sudah menua. Ia pun berpikir untuk memperdaya raja dengan berkata bahwa dia telah menjadi tua dan oleh karena itu akan hidup bersama permaisuri sebagai temannya.

 

Suatu hari, seolah-olah sedang membersihkan kepala raja, permaisuri berkata bahwa dia menemukan rambut uban yang sebenarnya adalah rambutnya sendiri. Melihat hal ini raja menjadi cemas dan berpikir untuk segera menjalani hidup suci. Hal ini sungguh bertolak belakang dengan keinginan dan maksud permaisuri. Permaisuri pun mengakui perbuatannya tetapi Bodhisatta bersikukuh dan tidak menyalahkan permaisuri karena dia telah memberitahu hal yang pasti terjadi. Akhirnya Bodhisatta melepas segala jabatannya, mengembalikan kedudukan raja kepada sahabatnya dan menjadi pertapa di daerah pegunungan Himalaya.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa permaisuri itu adalah Putri Yasodharā dan Raja Susīma adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 415 – Kummāsapiṇda Jātaka

Berbeda dengan sebagian besar cerita Jātaka lainnya dimana Bodhisatta terlahir dalam keluarga kaya raya, cerita kali ini dimulai dengan Bodhisatta terlahir dalam keluarga miskin. Dia adalah seorang pelayan. Pada suatu hari dia melihat empat orang Pacceka Buddha dan berniat memberikan dana makanan kepada keempat Pacceka Buddha tersebut. Dia pun mendanakan bubur gandum yang seharusnya menjadi sarapannya. Sambil memberikan hormat dan mempersembahkan bubur itu, pemuda miskin itu berkata agar semoga di kehidupan masa mendatang dia tidak dilahirkan di dalam keluarga miskin dan semoga jasa kebajikan ini menyebabkan dia menjadi Yang Mahatahu. Keempat Pacceka Buddha menerima dan menyantap dana makanannya dan berterima kasih.

 

Setelah pemuda miskin ini meninggal dunia, dia terlahir sebagai putra raja Benares. Dia mampu mengingat jasa kebajikannya di masa lampau dan mengetahui penyebab kelahirannya sebagai seorang putra mahkota. Setelah dewasa, dia menikah dengan Putri Raja Kosala yang sangat cantik. Pada hari penobatannya menjadi raja, dia bersuka cita dan mengucapkan syair suka cita yang disukai dan dinyanyikan oleh banyak orang tetapi tidak dimengerti oleh istrinya.

 

Setelah sekian lama berlalu, permaisuri menjadi ingin mengetahui arti dari lagu tersebut tetapi tidak berani bertanya kepada Bodhisatta. Sampai pada suatu hari raja yang senang dengan sikap permaisuri menanyakan hadiah apa yang diinginkan oleh istrinya itu. Permaisuri berkata bahwa dia hanya ingin mengetahui arti dari ungkapan suka citanya itu. Raja pun bersedia memberitahukan arti ungkapan itu tidak hanya kepada permaisuri, tetapi juga kepada semua orang. Maka raja pun memerintahkan untuk mengumpulkan semua orang. Disana ia menceritakan tentang kehidupan masa lalunya sebagai seorang pelayan yang memberikan dana kepada empat Pacceka Buddha dan sebagai buah jasa kebajikannya, ia terlahir menjadi putra Raja Benares.

 

Mendengar hal ini, semua orang bersuka cita. Lebih lanjut raja bertanya kepada permaisuri tentang alasan di balik kecantikan dan keelokkan istrinya itu. Ternyata permaisuri juga mampu mengingat kehidupan lampaunya dan menceritakan bahwa dalam kehidupan lampaunya ia adalah seorang budak pelayan wanita di istana Kerajaan Ambaṭṭha. Dia selalu berusaha untuk rendah hati, melakukan kebajikan dan melatih moralitas. Dia pernah memberikan dana makanan kepada seorang bhikkhu yang berpindapatta. Dan atas jasa kebajikannya itulah dia terlahir sebagai Putri dari Kerajaan Kosala. Sejak saat itu, mereka mendirikan enam balai distribusi derma.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa permaisuri itu adalah Putri Yasodharā dan raja adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 443 – Culla Bodhi Jātaka

Dalam Jātaka ini, diceritakan Bodhisatta terlahir sebagai seorang putra dari keluarga brahmana yang kaya raya. Setelah tumbuh dewasa, orang tuanya mencarikan seorang istri berbudi luhur untuknya. Wanita yang diidamkan telah ditemukan dan mereka pun menikah. Beberapa waktu kemudian orang tua Bodhisatta meninggal dunia dan Bodhisatta berniat menjadi seorang pertapa dan memberikan seluruh harta kekayaannya kepada istrinya. Tetapi istrinya menolak dan berniat mengikuti suaminya. Mereka pun menjadi sepasang pertapa dan tinggal di sebuah taman milik raja.

 

Suatu hari, raja melihat tukang kebun membawa persembahan. Ketika ditanyakan, ternyata persembahan itu untuk diberikan kepada sepasang pertapa yang tinggal di dalam taman. Raja pun pergi menemui pertapa tersebut. Sesampainya disana raja jatuh cinta kepada pertapa wanita. Dengan kekuasaannya dia memerintahkan pengawalnya untuk membawa serta pertapa wanita itu ke istana meskipun pertapa wanita mengeluh keberatan. Selama di istana, raja tidak dapat meluluhkan hati pertapa wanita yang tetap teguh menjalankan kehidupan sederhana dan selibatnya. Dipenuhi kemarahan, raja kembali menemui pertapa laki-laki untuk meminta penjelasan. Singkat cerita, setelah berdialog dengan Bodhisatta akhirnya raja menjadi sadar kekeliruan perbuatannya dan meminta maaf kepada keduanya. Mereka diijinkan tetap tinggal di taman kerajaan.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa pertapa wanita itu adalah Putri Yasodharā dan raja adalah Ananda.

 

 

Jātaka 451 – Cakka Vāka Jātaka

Dalam Jātaka ini, Bodhisatta maupun Putri Yasodharā terlahir sebagai sepasang angsa merah yang tinggal di sebuah hutan. Seekor burung gagak pergi menemui mereka dan bertanya bagaimana caranya mereka memperoleh warna tubuh yang begitu indah.  Setelah memberikan nasehat, si gagak merasa tidak percaya dan pergi meninggalkan kedua angsa tersebut.

 

 

Selain Jātaka-Jātaka di atas, masih terdapat banyak lagi cerita di dalam Jātaka yang menceritakan pertautan kelahiran Bodhisatta dan Putri Yasodharā yaitu Jātaka 421 – Gaṅgamāla Jātaka, 424 – Ᾱditta Jātaka, 434 – Cakkavāka Jātaka, 458 – Udaya Jātaka, 459 – Pānīya Jātaka, 461 – Dasaratha Jātaka, 485 – Candakinnara Jātaka, 506 – Campeyya Jātaka, 513 – Jayadissa Jātaka, 525 – Cullasutasoma Jātaka, dan 531 – Kusa Jātaka.

 

 


 

PARINIBBᾹNA YASODHARĀ THERI

 

Setelah memasuki Sangha dan menjadi seorang bhikkhuni, Putri Yasodharā hidup tenang dan menjauhi keramaian. Beliau hidup sederhana dan menjadi seorang Arahat. Meskipun sebelumnya memiliki hubungan sebagai pasangan suami-istri dengan Pangeran Siddhārtha dan ibu-anak dengan Bhikkhu Rāhula, Putri Yasodharā yang kini lebih dikenal dengan sebutan Bhikkhuni Baddhakaccana, mampu menjaga dirinya sendiri dan mematuhi peraturan bhikkhuni Sangha selayaknya para bhikkhuni lainnya.

 

Memang tidak banyak kisah yang menceritakan kemampuan dan peranan Putri Yasodharā di dalam Sangha sepertihalnya siswa-siswa utama Buddha Gautama. Sedikit yang diketahui dari riwayat hidup istri Pangeran Siddhārtha ini yang tercatat di dalam naskah-naskah buddhis.

 

Menjelang usia 78 tahun, Arahat Bhaddakaccana mengetahui bahwa ajalnya telah dekat. Maka pada suatu malam beliau pergi menghadap Buddha Gautama dan berkata, “Malam ini saya akan meninggal dunia.” Beliau datang menemui Buddha untuk berterima kasih kepada seseorang yang pernah menjadi suaminya dan kini menjadi guru agungnya.

 

Buddha kemudian meminta Arahat Bhaddakaccana untuk menunjukkan kemampuan batinnya kepada anggota Sangha lainnya yang berkumpul saat itu. Hal ini penting karena meskipun beliau merupakan siswi yang terkemuka dalam hal kekuatan batin, Bhikkhuni Bhaddakaccana adalah seseorang penyendiri dan menyukai kehidupan sederhananya. Beliau jarang sekali menunjukkan kebolehannya sehingga banyak orang terutama para bhikkhu yang memandang rendah kemampuan beliau maupun kemampuan para bhikkhuni lainnya. Buddha Gautama mengetahui hal ini dan melihat hal itu sebagai kekotoran batin di dalam pikiran para siswaNya yang karena kebodohan mereka telah meremehkan kemampuan Bhikkhuni Bhaddakaccana. Sebagai seorang Arahat, Bhikkhuni Bhaddakaccana layak memperoleh pengakuan dan penghormatan baik dari para bhikkhu maupun bhikkhuni. Oleh karena itu Buddha meminta Bhikkhuni Bhaddakaccana untuk menunjukkan kekuatan batinnya untuk terakhir kalinya sebelum beliau meninggal dunia.

 

Menjawab permintaan Buddha, Bhikkhuni Bhaddakaccana yang meskipun telah berusia tua, menunjukkan berbagai kekuatan batinnya yang mengubah bentukan-bentukan tubuhnya, mengubah sel-sel padat di dalam tubuhnya (patthavi) menjadi air (sel-sel cair di dalam tubuh), angin, hingga sel-sel gas di dalam tubuh (vayo – unsur angin) menjadi unsur energi di dalam tubuh (thejo) yang semuanya membutuhkan kekuatan pikiran luar biasa. Inilah kemampuan luar biasa yang dimiliki Bhaddakaccana dan tidak diketahui oleh semua orang. Mereka yang hadir menjadi takjub akan kemampuan Bhikkhuni Bhaddakaccana dan memberikan penghormatan mereka. Akhirnya, pada usia 78 tahun Bhikkhuni Bhaddakaccana meninggal dunia dan mencapai Parinibbāna. Pada hari yang sama, para bhikkhuni arahat yang menjadi temannya juga menyusul mencapai Parinibbāna.

 


 

 

YASODHARĀ DALAM BERBAGAI BUDAYA

 

Nama Yasodharā telah dikenal luas dalam berbagai literatur buddhis. Di negara-negara buddhis Theravada, nama Yasodharā muncul dalam berbagai puisi dan nyanyian-nyanyian rakyat. Banyak pula umat buddhis yang menamai anak perempuan mereka dengan nama Yasodharā.

 

Di dalam bahasa Sinhala, riwayat hidup Yasodharā tumbuh berkembang menjadi 2 kitab yaitu Yasodharāvata (Kisah Yasodharā) dan Yasodharāpadānaya (Riwayat Hidup Suci Yasodharā). Di Sri Lanka, puisi-puisi ratapan Yasodharā berkembang menjadi kesenian rakyat.

 

Berbagai artikel dan tulisan telah dibuat oleh banyak pelajar buddhis yang mengupas kehidupan dan peranan beliau di dalam kehidupan Buddha Gautama. Banyak pula wihara dan sekolah yang dinamai Yasodharā. Ini dapat dijumpai di negara-negara buddhis terutama di Sri Lanka. Nama ini juga banyak digunakan di dalam lagu, komik dan film-film buddhis. Nama Yasodharā sering digunakan sebagai penggambaran untuk ikon cinta yang setia dan tidak berkondisi.

 


 

 

 

Referensi

Dhammapada Aṭṭhakathā – Kisah-Kisah Dhammapada. 2012. Insight Vidyāsenā Production.

Jātaka Vol 1 sampai 5. ITC.

Komik Bodhi: Bimbadewi – Kesetiaan Agung. 2009. Handaka Vijjānanda & Fredy Siloy. Ehipassiko Foundation.

Yasodhara and Siddhārtha – The Enlightenment of Buddha’s Wife. 2010. Jacqueline Kramer. Turning Wheel.

Yashodhara Theri. A Gift of Dhamma. Maung Paw.

Yasodharā – The Wife of The Bodhisattva (Terjemahan dari kitab Yasodharāvata dan Yasodharāpadānaya berbahasa Sinhala). 2009. Ranjini Obeyesekere.

 

 


[1] Bhikkhu penahbis

[2] Patta: Mangkuk yang dimiliki bhikkhu/bhikkhuni

[3] Abbhantara-Amba

 

 

yasodhara

sumber: Riwayat Hidup Yasodhara – Putri yang Mulia, Insight Vidyasena Production

 

December 20, 2013

Riwayat Hidup Maha Kaccana (4)

Filed under: riwayat hidup maha kaccana — hansen @ 8:13 am
Tags:

6. Ajaran Lain dari
Maha Kaccana
Tidak semua khotbah yang disampaikan oleh Yang Mulia
Maha Kaccana merupakan penjelasan tentang pernyataan
ringkas sang Buddha. Beliau juga menyampaikan Dhamma
yang tidak berawal dari pernyataan ringkas Buddha, dan
beliau juga terampil dalam menghilangkan keraguan para
penanya dan bhikkhu pengikutnya dengan wawasannya
sendiri terhadap ajaran.
Majjhima Nikāya memiliki sebuah dialog utuh antara sang
sesepuh dengan Raja Avantiputta dari Madhura, yang
(menurut komentar) adalah cucu Raja Candappajjota dari
Avanti. Pada suatu hari, saat Yang Mulia Maha Kaccana
sedang berdiam di Madhura, sang raja mendengar kabar
menggembirakan yang beredar perihal Kaccana: “Dia adalah
orang bijaksana, cerdas, berpengetahuan, terpelajar, pandai
berbicara, dan berpikiran tajam; ia berpengalaman dan ia
adalah seorang Arahat.” Berkeinginan untuk bercakap-cakap
dengan bhikkhu yang layak seperti demikian, sang raja pergi
keluar menuju tempat pertapaan Kaccana untuk bertemu
dengannya, dan percakapan yang dihasilkan telah tercatat
sebagai Madhura Sutta (MN 84).

Pertanyaan yang diajukan raja dalam mengawali dialog ini
tidaklah membahas mengenai masalah perihal sifat realitas
atau realisasi yang lebih dalam dari meditasi. Dialog ini
berkisar pada masalah praktis yang pastilah telah menjadi
beban berat di pikiran banyak orang dari kasta bangsawan
penguasa pada waktu itu: usaha dari kaum Brahmana untuk
membangun kekuasaan tertinggi mereka atas seluruh sistem
sosial di India. Para brahmana berusaha untuk membenarkan
kekuasaan mutlak ini dengan dalih bahwa mereka memiliki
status Ilahi. Raja Avantiputta berkata pada Yang Mulia Maha
Kaccana pernyataan yang telah mereka keluarkan: “Kasta
Brahmana adalah kasta tertinggi, sedangkan mereka yang
dari kasta lainnya adalah yang lebih rendah; kasta Brahmana
adalah kasta yang paling terang, sedangkan mereka yang
dari kasta lain adalah gelap; hanyalah para brahmana
yang dimurnikan, tidak demikian halnya bagi kasta selain
Brahmana; hanyalah brahmana yang merupakan putra
Brahma, keturunan Brahma, lahir dari mulutnya, lahir dari
Brahma, diciptakan oleh Brahma, pewaris Brahma.”
Yang Mulia Maha Kaccana, meskipun memiliki silsilah
keturunan brahmana dalam dirinya, sangat menyadari
keangkuhan dan kesombongan yang ada di balik pernyataan
semacam ini. Beliau menjawab bahwa pernyataan para
brahmana “hanyalah sebuah ucapan di dunia ini saja,” ucapan
yang tanpa sangsi Ilahi yang dapat mendukung pernyataan
tersebut. Untuk membuktikan pendapatnya Maha Kaccana
membuat sebaris argumen kuat untuk mendukung
pendapatnya itu: seseorang yang berasal dari kasta manapun
yang memiliki kekayaan akan dapat memerintah mereka dari
kasta yang berbeda; bahkan seseorang dari kasta rendah pun
dapat memerintahkan seorang brahmana untuk melayaninya.

Siapa pun dari kasta mana pun yang melanggar prinsip-prinsip
moralitas akan dilahirkan kembali di alam neraka. Demikian
pula siapa pun dari kasta mana pun yang menjalankan
prinsip-prinsip moral akan terlahir kembali di alam bahagia.
Siapa pun dari kasta mana pun yang melanggar hukum akan
dihukum. Siapa pun dari kasta mana pun yang meninggalkan
keduniawian dan menjadi seorang pertapa akan menerima
penghargaan dan penghormatan. Ketika setiap argumen
berakhir, raja menyatakan: “Keempat kasta ini semuanya
sama, tidak ada perbedaan di antara mereka sama sekali.”
Pada akhir diskusi, setelah menyatakan penghargaannya atas
jawaban yang diberikan oleh Guru Kaccana, Raja Avantiputta
menyatakan: “Saya pergi berlindung kepada Guru Kaccana
dan juga kepada Dhamma dan kepada Sangha para bhikkhu.”
Tetapi Maha Kaccana mengoreksi pernyataannya itu: “Jangan
pergi berlindung kepadaku, raja besar. Pergilah berlindung
kepada sang Bhagava, yang kepadanyalah aku telah pergi
untuk berlindung” – sang Buddha Yang Sepenuhnya
Tercerahkan. Ketika sang raja bertanya dimana sang Bhagava
sekarang tinggal, sang sesepuh menjelaskan bahwa beliau
telah mencapai Parinibbana. Jawaban ini menunjukkan
bahwa kematian Maha Kaccana sendiri pastilah terjadi pada
suatu waktu setelah parinibbana sang Buddha.
Samyutta Nikāya mencakup pula sebuah sutta (SN 35:132)
yang menunjukkan bagaimana kecakapan Yang Mulia Maha
Kaccana dalam menangani sekelompok brahmana muda
pembuat gaduh dan mengubah sikap seorang brahmana
tua terpelajar beserta seluruh pengikutnya. Pada suatu
ketika, sang sesepuh sedang berdiam di Avanti di sebuah
gubuk sederhana di dalam hutan. Kemudian sejumlah
brahmana muda, murid dari seorang guru brahmana terkenal

bernama Lohicca, berada di dekat gubuk itu ketika sedang
mengumpulkan kayu bakar. Sebagaimana para brahmana
pada masa itu sering memendam rasa permusuhan terhadap
pertapa-pertapa Buddhis, brahmana-brahmana muda ini,
berperilaku seperti yang biasanya dilakukan oleh sekelompok
anak laki-laki, berputar-putar di sekitar pondokan, sengaja
membuat kegaduhan untuk mengganggu sang bhikkhu yang
sedang bermeditasi. Mereka juga meneriakkan kata-kata
yang kerap kali digunakan untuk mengejek para pertapa nonbrahmana:
“Dasar pertapa botak yang tumpul ini, pertapa
bajingan, keturunan berkulit gelap dari kaki Yang Esa, merasa
terhormat, dihormati, dihargai, dipuja, dan diagungkan oleh
para budak setia.”
Yang Mulia Maha Kaccana keluar dari gubuk dan
menyampaikan kepada sekelompok brahmana muda itu
syair-syair yang mengingatkan mereka tentang cita-cita awal
kaum brahmana yang luhur, yang sayangnya telah begitu
parah diabaikan oleh para brahmana pada masa itu:
“Mereka para sesepuh yang unggul dalam kebajikan,
Mereka para brahmana yang mengingat aturan-aturan
kuno,
Pintu indera mereka terjaga, terlindung dengan baik,
Berdiam dengan tenang setelah menaklukkan angkara
murka di dalam diri .
Mereka berbahagia dalam Dhamma dan meditasi,
Merekalah para brahmana yang mengingat aturanaturan
kuno.
Tetapi kini mereka telah jatuh, menyatakan ‘Kami
melafal’

Sementara menumbuhkan kesombongan pada keturunan
mereka.
Mereka membimbing diri mereka sendiri dengan cara
yang tidak benar;
Dikuasai oleh kemarahan, dipersenjatai dengan berbagai
senjata,
Mereka melawan baik yang lemah dan yang kuat.
Bagi seseorang yang tidak menjaga pintu-pintu indera
(Semua bakti yang ia ucapkan) adalah sia-sia
Sama seperti kekayaan yang diperoleh seorang pria di
dalam mimpinya:
Berpuasa dan tidur di atas tanah,
Mandi di waktu fajar, (mempelajari) tiga kitab Veda,
Berkulit kasar, rambut kusut, dan penuh debu;
Hymne-hymne, peraturan-peraturan dan sumpah bakti,
kesederhanaan,
Kemunafikan, kejahatan, membilas mulut:
Inilah lambang dari kaum brahmana
Yang dilakukan untuk meningkatkan kesenangan
duniawinya.
Pikiran yang terkonsentrasi dengan baik,
Suci dan bebas dari cacat,
Lembut terhadap semua makhluk berakal budi -
Itulah jalan untuk mencapai Brahma.”

Mendengar hal ini, para brahmana muda itu marah dan
tidak senang. Pada saat mereka kembali menghadap
guru mereka, brahmana Lohicca, mereka melaporkan
bahwa pertapa Maha Kaccana sedang merendahkan dan
mencemooh kidung suci para brahmana. Setelah gejolak
kemarahan pertamanya mereda, Lohicca, yang telah menjadi
orang yang cerdas, menyadari bahwa ia seharusnya tidak
terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan
kabar yang dilaporkan oleh para muridnya, tetapi pertamatama
ia harus mencari tahu dari Maha Kaccana sendiri
apakah tuduhan mereka benar adanya. Ketika Lohicca pergi
menemui Yang Mulia Maha Kaccana dan bertanya kepadanya
tentang percakapan yang terjadi antara beliau dengan
para muridnya, Maha Kaccana melaporkan segala sesuatu
sebagaimana yang terjadi. Lohicca merasa sangat terkesan
dengan puisi Maha Kaccana mengenai cara hidup yang
tepat bagi kaum brahmana, dan bahkan terlebih lagi pada
khotbah yang diberikan sang sesepuh selanjutnya mengenai
bagaimana cara menjaga pintu-pintu indera. Pada akhir
diskusi dia tidak hanya menyatakan pergi berlindung pada
Tiga Mustika, tetapi ia juga mengundang sang sesepuh untuk
mengunjungi kediamannya, menjamin bahwa “para pemuda
dan gadis brahmana di sana akan menghormati Yang Mulia
Maha Kaccana; mereka akan berdiri untuk menunjukkan
rasa hormat padanya; mereka akan menawarkan tempat
duduk dan air; dan hal itu akan membawa kesejahteraan dan
kebahagiaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”
Yang Mulia Maha Kaccana tampaknya memiliki wawasan yang
sangat mendalam mengenai dasar penyebab pertengkaran
dan perselisihan umat manusia. Kita telah melihat bagaimana
beliau menarik keluar akar penyebab konflik dalam
penjelasannya di Madhupindika Sutta dan keahliannya dalam

mengubah sekelompok murid Lohicca. Pada kesempatan lain
(AN 2:4:6) seorang brahmana bernama Aramadanda datang
menemuinya dan bertanya: “Mengapa masyarakat harus
mengalami hal pahit seperti konflik – konflik yang terjadi antara
bangsawan dengan bangsawan lainnya, brahmana dengan
brahmana lainnya, perumah tangga dengan perumah tangga
lainnya?” Untuk pertanyaan ini sang sesepuh menjawab: “Ini
semua karena nafsu sensual, kemelekatan, keserakahan, dan
obsesi terhadap kenikmatan sensual, hingga menyebabkan
bangsawan bermusuhan dengan bangsawan lainnya,
brahmana dengan brahmana lainnya, perumah tangga
dengan perumah tangga lainnya.” Kemudian Aramadanda
bertanya: “Mengapa para pertapa bermusuhan dengan
pertapa lainnya?” Dan Maha Kaccana menjawab: “Ini semua
karena nafsu atas pandangan, kemelekatan, keserakahan, dan
obsesi atas pandangan, hingga menyebabkan para pertapa
bermusuhan dengan pertapa lainnya.” Akhirnya brahmana
itu bertanya apakah ada seseorang di dunia ini yang telah
melampaui kedua nafsu, yakni nafsu sensual dan nafsu
atas pandangan. Walaupun Maha Kaccana, sebagai seorang
Arahat, bisa saja menempatkan dirinya sendiri sebagai
contoh atas pertanyaan itu, dengan penuh kesopanan dan
kerendahan hati, beliau malah menyebutkan sang Bhagava,
yang sedang berdiam di Savatthi pada saat itu. Ketika hal ini
dikemukakan, brahmana Aramadanda berlutut di atas tanah,
merangkapkan kedua telapak tangannya menunjukkan rasa
hormat, dan berseru tiga kali: “Sujudku pada Sang Bhagava,
sang Arahat, Yang Telah Tercerahkan Sepenuhnya.”
Dalam sutta berikutnya (AN 2:4:7) seorang brahmana
bernama Kandarayana mencela Maha Kaccana karena tidak
menunjukkan rasa hormatnya terhadap para brahmana yang

lebih tua. Sang sesepuh membela diri dengan membedakan
penggunaan kata-kata konvensional “tua” dan “muda”
dengan makna yang tepat sesuai disiplin Ajaran Buddha.
Pada kriteria terakhir ini, bahkan walaupun seseorang telah
berusia delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun
sejak ia dilahirkan, tetapi jika ia masih memiliki kecanduan
terhadap kenikmatan sensual, maka ia diperhitungkan
sebagai orang bodoh, bukan seorang sesepuh. Tetapi bahkan
jika seseorang yang masih muda, dengan rambut hitam
legam, diberkahi dengan berkah seorang pemuda, namun
jika ia telah bebas dari keinginan sensual, maka ia kemudian
dapat diperhitungkan sebagai seorang sesepuh.
Pernah pada suatu ketika Yang Mulia Maha Kaccana
memberikan khotbah mengenai enam perenungan (cha
anussati) – yaitu perenungan kepada Buddha, Dhamma,
Sangha, kebajikan, kemurahan hati, dan para dewa (AN 6:26).
Beliau menyatakan bahwa sungguh indah dan mengagumkan
bagaimana cara sang Bhagava telah menemukan enam
perenungan ini sebagai jalan menuju kebebasan bagi mereka
yang masih terjebak dalam keduniawian. Beliau menjelaskan
enam perenungan ini dengan cara yang persis sama dengan
istilah yang telah digunakan oleh sang Buddha sendiri
dalam menggambarkan empat landasan kesadaran. Mereka
adalah sarana-sarana “untuk mensucikan makhluk, untuk
mengatasi kesedihan dan ratapan, untuk melalui rasa sakit
dan duka, untuk menemukan metode yang tepat, dan untuk
merealisasikan Nibbana.”
Pada kesempatan lain (AN 6:28) beberapa bhikkhu sepuh
sedang berdiskusi mengenai saat yang tepat untuk mendekati
“seorang bhikkhu yang layak dihormati” (manobhavaniyo
bhikkhu). Salah seorang bhikkhu berkata bahwa sang

bhikkhu harus didekati setelah ia selesai makan siang, yang
lain mengatakan bahwa dia harus didekati pada sore hari,
sementara yang lain lagi berpendapat bahwa pagi hari
adalah waktu yang paling tepat untuk berbicara dengan
bhikkhu yang dihormati itu. Tidak mampu mencapai mufakat,
mereka datang menemui Maha Kaccana dengan membawa
permasalahan mereka. Sang sesepuh menjawab bahwa ada
enam saat yang tepat untuk mendekati seorang bhikkhu yang
layak dihormati. Lima yang pertama adalah ketika pikiran
dikuasai dan dipenuhi oleh lima rintangan batin – keinginan
sensual, niat jahat, kemalasan dan kelambanan, kegelisahan
dan penyesalan, serta keragu-raguan – dan seorang bhikkhu
tidak dapat menemukan jalan keluar dengan upayanya
sendiri. Saat pendekatan yang tepat keenam adalah ketika
seorang bhikkhu tidak tahu obyek mana yang cocok untuk
direnungkan dalam rangka melenyapkan kekotoran-kekotoran
batin (asavakkhaya).
Yang Mulia Maha Kaccana tidak selalu mengajarkan melalui
kata-kata saja, tetapi juga dengan contoh diam. Pada satu
kesempatan, sang Buddha tergerak untuk memuji Maha
Kaccana dalam sebuah udana – sebuah khotbah inspirasi
– disajikan di dalam kitab koleksi dengan nama yang sama
seperti namanya – Udana (Ud. 7:8). Suatu malam, Buddha
Gotama sedang berada di dalam pondokannya di hutan Jeta
di Savatthi ketika beliau melihat Yang Mulia Maha Kaccana di
dekatnya, “duduk bersila, dengan tubuh tegap, dan memiliki
kesadaran penuh terhadap tubuhnya sendiri.” Menyadari
pentingnya hal ini, sang Bhagava mengucapkan khotbah
terinspirasi berikut:
“Ia yang selalu memiliki kesadaran penuh
Terus mengembangkan di dalam diri hal ini:

“Jika (memang) tidak ada, maka (memang) tidak ada
untukku;
Jika (memang) tidak akan ada, maka (memang) tidak
akan ada untukku,’
Jika ia berdiam seperti ini tahap demi tahap
Pada waktunya ia akan melampaui kemelekatan.”
Dalam penjelasan sutta ini, bagian komentar Udana
membantu menjelaskan pendekatan yang diadopsi oleh
Yang Mulia Maha Kaccana dalam mencapai tingkat kesucian
arahat. Walaupun penjelasan ini bertentangan dengan catatan
mengenai “pencerahan seketika” sang sesepuh sebagaimana
yang dapat ditemukan dalam gambaran biografi dari bagian
komentar Anguttara (baca pada bagian sebelumnya, halaman
10), akan tetapi hal ini tampaknya lebih realistis. Bagian
komentar Udana menjelaskan bahwa dalam upayanya untuk
mencapai tingkat kesucian arahat, Maha Kaccana pertamatama
mengembangkan jhana menggunakan kesadaran tubuh
(kayagata sati) sebagai subyek meditasinya. Memanfaatkan
jhana tersebut sebagai dasar konsentrasinya yang tenang,
beliau kemudian mengarahkan kembali kesadaran tubuh
pada jalan meditasi wawasan ke dalam (vipassana). Dengan
kebijaksanaan yang muncul dari perenungan terhadap tubuh,
beliau mencapai jalan tertinggi dan buahnya, mencapai
puncaknya di buah akhir pencapaian arahat. Setelah itu beliau
secara teratur kembali melakukan pendekatan yang sama
agar dapat memasuki buah dari pencapaian tingkat kesucian
arahat (arahattaphala-samapatti), pencerapan meditasi
khusus, khusus bagi sang Arahat, dimana kebahagiaan
Nibbana dapat dialami bahkan dalam kehidupan saat ini juga.
Pada kesempatan itulah, ketika sang sesepuh sedang duduk
tenggelam dalam pencapaian hasilnya, Buddha Gotama

melihatnya dan memuji beliau dalam syair inspirasional ini.
Sebuah bait dimana sang Buddha mengungkapkan makna
dari perenungan yang dilakukan, dalam bagian komentar,
untuk menandakan “kekosongan bersudut empat” (catukotisuññata),
yaitu: tidak adanya “aku” dan “milikku” di masa
lalu dan masa kini (“Jika tidak ada, maka tidak ada untukku”);
dan tidak adanya “aku” dan “milikku” di masa mendatang
(“Jika tidak akan ada, maka tidak akan ada untukku”).
Dengan memuji Yang Mulia Maha Kaccana dengan ungkapan
terinspirasi ini, sang Buddha telah menjadikannya sebagai
contoh panutan bagi para bhikkhu lain dalam pencarian
mereka sendiri untuk mengatasi keterikatan pada dunia.

December 19, 2013

Riwayat Hidup Maha Kassapa (8)

Filed under: riwayat hidup maha kassapa — hansen @ 6:58 am
Tags:

8. Setelah Buddha Parinibbana

 

Hal tersisa yang dapat dibicarakan tentang hubungan Maha Kassapa dengan Ananda sangat berkaitan erat dengan peranannya dalam memimpin Sangha setelah kematian Buddha. Pada saat kematian Buddha, hanya dua dari lima siswa unggul yang hadir, Ananda dan Anuruddha bersaudara. Sariputta dan Maha Moggallana telah mendahului kepergian sang Guru sedangkan Maha Kassapa, bersama dengan sekelompok besar para bhikkhu baru saja pergi dari Pava menuju Kusinara. Selama perjalanan beliau menepi dari jalan dan duduk di bawah sebuah pohon untuk beristirahat.Pada saat itu seorang pertapa telanjang sedang melintas jalan tersebut.Pertapa itu memiliki sekuntum bunga Mandarava (pohon koral), yang dikatakan hanya tumbuh di alam surga.Ketika Maha Kassapa melihat hal ini, beliau tahu bahwa sesuatu yang tidak biasa pasti telah terjadi karena bunga ini muncul di bumi. Beliau bertanya kepada pertapa tersebut apakah dia mendengar kabar apapun tentang Gurunya, Buddha, dan si pertapa mengakui hal tersebut sambil berkata: “Pertapa Gotama telah pergi ke dalam Nibbana seminggu yang lalu. Bunga Mandarava ini saya ambil dari tempat kremasi.”

 

Di antara para bhikkhu yang mendengar berita tersebut, hanya mereka yang telah menjadi Arahat seperti Maha Kassapa yang dapat tetap tenang dan sabar; tetapi bagi mereka yang belum bebas dari nafsu keinginan menangis dan meratap: “Terlalu cepat Yang Terberkahi pergi menuju Nibbana! Terlalu cepat Sang Mata Dunia lenyap dari pandangan kami!”

 

Tetapi terdapat seorang bhikkhu bernama Subhadda yang menerima penahbisannya pada usia tuanya. Dia berkata kepada bhikkhu lain: “Cukup, sahabat-sahabatku! Janganlah bersedih, janganlah meratap! Kita telah terbebas dari Sang Pertapa Agung. Kita telah dipersulit dengan wejanganNya: ‘Inilah yang sesuai, itu tidak sesuai.’ Sekarang kita dapat melakukan apa yang kita inginkan, dan kita tidak harus melakukan apa yang tidak kita inginkan.”

 

Tidak tercatat bahwa pada saat itu Yang Mulia Maha Kassapa memberikan balasan atas kata-kata keji tersebut.Beliau tidak berkeinginan untuk membalas ungkapan pertentangan itu dengan mencela bhikkhu tersebut atau membuatnya melepaskan jubah sebagaimana yang layak didapatkannya. Melainkan Maha Kassapa tetap diam. Tetapi, seperti yang akan kita lihat selanjutnya, Maha Kassapa mengutip peristiwa tersebut saat beliau berbicara tentang keperluan untuk mengadakan sebuah konsili. Sekarang, beliau menegurpara bhikkhu dalam kelopmpoknya untuk tidak meratap, tetapi mengingat bahwa ketidakkekalan adalah sifat alami dari segala hal yang terkondisi.Beliau kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Kusinara bersama dengan para bhikkhunya.

 

Sampai saat itu, tempat (gundukan kayu) kremasi tidak dapat dinyalakan karena para dewa yang hadir hendak menunggu sampai Maha Kassapa hadir dan memberikan penghormatan terakhirnya kepada jasad Sang Guru.Ketika Maha Kassapa tiba di tempat kremasi, beliau berjalan mengelilinginya dua kali, dengan penuh rasa hormat, bersikap anjali, dan kemudian, dengan menundukkan kepalanya memberikan penghormatannya di hadapan kaki Sang Tathagata. Ketika para bhikkhu kelompoknya telah selesai melakukan hal serupa, tempat kremasi itu disebutkan, terbakar dalam kobaran api dengan sendirinya.

 

Sungguh sulit menangani sisa jasad Tathagata yang telah dikremasi ketika timbul perselisihan tentang pembagian relik di antara para umat awam yang berkumpul dan mereka yang telah mengirimkan para pengantar sesudahnya. Tetapi Yang Mulia Maha Kassapa tetap tenang dan menyendiri ditengah-tengah perselisihan tersebut, sepertihalnya yang dilakukan oleh para bhikkhu lain seperti Anuruddha dan Ananda. Adalah seorang brahmana terkemuka bernama Dona yang pada akhirnya membagi relik tersebut ke dalam 8 (delapan) bagian dan memberikannya kepada 8 (delapan) pihak yang mengklaimnya.Dia sendiri mengambil sebuah bejana yang di dalamnya telah terkumpul relik-relik tersebut.

 

Yang Mulia Maha Kassapa sendiri membawakan relik bagian Raja Ajatasattu di Magadha. Setelah melakukan hal itu, beliau memikirkan perihal pelestarian warisan spiritual Sang Guru, Ajaran (Dhamma) dan Disiplin (Vinaya).

 

Kebutuhan untuk melakukan hal ini ditunjukkannya atas tantangan Subhadda terhadap disiplin monastik, dan pembelaan Subhadda terhadap kelonggaran moral, yang dianggap Maha Kassapa sebagai sebuah peringatan. Apabila sikap seperti itu menyebar, hal ini akan membawa kemunduran dan kehancuran pada Sangha dan Ajaran. Untuk mencegah hal ini dari sejak dini, Maha Kassapa mengajukan untuk mengadakan sebuah konsili dimana Dhamma dan Vinaya dapat disusun dan diamankan.Dengan saran tersebut, beliau meminta agar para bhikkhu berkumpul di Rajagaha. Para bhikkhu setuju dan atas permintaan mereka, Maha Kassapa memilih lima ratus bhikkhu yang kesemuanya – kecuali seorang bhikkhu – adalah Arahat. Ananda, yang pada saat itu belum mencapai pencapaian tertinggi tetapi berhasil mengingat sejumlah besar khotbah Buddha, juga diterima untuk menggenapi lima ratus anggota dari Konsili Pertama[1]. Para bhikkhu lain pergi meninggalkan Rajagaha selama konsili berlangsung.

 

Sebagai materi pertama dari rapat konsili, naskah-naskah disiplin monastik dibacakan ulang oleh Yang Mulia Upali, yang merupakan seorang ahli Vinaya.Materi kedua adalah pengkodean Ajaran yang diuraikan dalam khotbah-khotbah.Disini adalah Ananda, yang melalui pertanyaan Yang Mulia Maha Kassapa, mengulang kembali semua naskah yang kemudian dihimpun ke dalam Lima Kelompok (nikaya) dari Sutta Pitaka.Ini merupakan prestasi daya ingat beliau yang luar biasa.

 

Akhirnya, beberapa hal khusus berkenaan dengan Sangha didiskusikan.Diantaranya, Yang Mulia Ananda menyebutkan bahwa Buddha, sesaat sebelum kematianNya, telah mengijinkan penghapusan beberapa peraturan minor. Ketika Ananda ditanyakan apakah beliau telah menanyakan kepada Buddha apa sajakah peraturan minor tersebut, dia mengakui bahwa dia telah lalai melakukan hal tersebut.

 

Sekarang beberapa pendapat mengenai hal ini dikemukakan di dalam pertemuan tersebut. Karena tidak ada kesepakatan, Yang Mulia Maha Kassapa bertanya kepada anggota untuk mempertimbangkan bahwa bila mereka berniat menghapus peraturan sewenang-wenang, para umat awam dan orang secara umum akan mencela mereka karena telah terburu-buru dalam melonggarkan disiplin setelah kematian Sang Guru.Oleh karena itu Maha Kassapa menyarankan agar peraturan-peraturan tersebut tetap dijaga utuh tanpa ada pengecualian.Dan itulah yang ditetapkan (Culavagga, XI).

 

Setelah mengadakan Konsili Pertama, penghormatan tinggi yang ditujukan kepada Yang Mulia Maha Kassapa masih sangat besar dan beliau dianggap sebagai kepala Sangha secara de facto. Senioritasnya telah berkontribusi atas hal ini karena beliau kemudian menjadi salah satu siswa dengan usia terlama[2].

 

Beberapa waktu kemudian, Yang Mulia Maha Kassapa menyerahkan mangkuk Buddha kepada Ananda, sebagai sebuah simbol untuk meneruskan pelestarian Dhamma.Dengan demikian Maha Kassapa, yang telah diakui secara luas di dalam Persaudaraan sebagai yang paling pantas memimpin Sangha, memilih Ananda sebagai yang paling pantas setelah dirinya.

 

Tidak terdapat catatan di dalam literatur Pali tentang waktu dan situasi kematian Maha Kassapa.


[1]Bertekad untuk tidak menghadiri pertemuan tersebut sebagai seorang siswa biasa yang sedangdalam pelatihan (Sekha), Ananda melakukan sebuah daya upaya berdedikasi dalam meditasinya pada malam sebelum Konsili diadakan.Tepat ketika subuh menjelang, pikirannya bebas dari segala kekotoran batin dan dia menghadiri pertemuan tersebut sebagai seorang Arahat.

[2]Bagian komentar menyebutkan bahwa Maha Kassapa berusia 120 tahun pada saat diadakannya Konsili Pertama, tetapi kronologi ini berarti bahwa beliau lebih tua empat puluh tahun daripada Buddha dan oleh karena itu pastilah beliau sudah berusia tujuh puluh lima tahun ketika bertemu Sang Guru, sebuah pernyataan yang sulit diterima.

 

sumber:

Riwayat Hidup Maha Kassappa – Bapak Sangha, Insight Vidyasena Production

Next Page »

The Rubric Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.