cerita-jataka

September 21, 2012

KUDDĀLA-JĀTAKA

Filed under: 051-100 — hansen @ 1:48 pm
Tags:

pic source

“Penaklukan,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang Thera yang bernama Cittahattha-Sariputta (Cittahattha -Sāriputta ).

Dikatakan semasa mudanya, ia berasal dari sebuah keluarga yang baik di Sawatthi. Suatu hari, saat dalam perjalanan pulang setelah membajak (tanah), ia berkunjung ke wihara. Di sana ia menerima makanan bagus yang lezat dan manis rasanya dari patta seorang bhikkhu sepuh (Thera), yang membuatnya berpikir, “Meskipun siang dan malam saya bekerja keras dengan kedua tangan mengerjakan berbagai macam pekerjaan, belum pernah saya menikmati makanan yang begitu enak. Saya harus menjadi seorang bhikkhu.” Maka ia menjadi anggota Sanggha; tetapi, setelah enam minggu berusaha dengan giat menerapkan perenungan yang mulia, ia dikuasai nafsu dan pergi dari sana. Karena menginginkan makanan bagus, ia kembali menjadi anggota Sanggha sekali lagi, dan mempelajari Abhidhamma.

Dengan cara seperti itu, ia keluar dan kembali menjadi anggota Sanggha sebanyak enam kali; tetapi, saat untuk yang ketujuh kalinya ia menjadi bhikkhu, ia menguasai keseluruhan tujuh kitab dari Abhidhamma. Dengan membaca lebih banyak Dhamma kebhikkhuan, ia mendapatkan kebijaksanaan dari hasil meditasi dan mencapai kearahatan. Ketika itu rekan-rekannya, sesama bhikkhu, mengejeknya, “Sanggupkah, Awuso Cittahattha, nafsu dilenyapkan dalam batinmu?”

“Awuso,” jawabnya, “mulai sekarang dan seterusnya saya telah melampaui kehidupan duniawi.”

Karena ia telah mencapai kearahatan, timbul perbincangan di Balai Kebenaran: “Awuso, walaupun ia telah sempurna dalam kearahatan, tetapi Yang Mulia Cittahattha-Sariputta pernah meninggalkan Sanggha sebanyak enam kali; sungguh, sangat berbahaya nafsu kehidupan duniawi.”

Setelah kembali ke Balai Kebenaran, Sang Guru bertanya apa yang sedang mereka bicarakan. Setelah mendengar cerita mereka, beliau berkata, “Para Bhikkhu, nafsu duniawi itu sangat halus dan sulit dikekang; benda-benda materi menarik dan mengikat dengan erat; sekali terikat dengan erat, tidak bisa dilepas dalam sekejap mata. Sangat baik mengendalikan pikiran; sekali terkendalikan, akan membawa kegembiraan dan kebahagiaan: —

“Sunggguh baik untuk menjinakkan pikiran yang bandel

Dan selalu berubah-ubah,

Oleh pengaruh nafsu. Sekali pikiran terjinakkan, akan

membawa kebahagiaan.”

Karena sifat pikiran yang bandel inilah, demi sebuah sekop yang sangat disayangi yang tidak bisa ia buang, seorang yang bijaksana dan pandai pada kehidupan yang lampau sebanyak enam kali kembali ke dalam kehidupan duniawi oleh pengaruh keserakahan (lobha); tetapi, saat untuk ketujuh kalinya, ia berhasil mencapai jhana dan menaklukkan keserakahannya.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

_____________________

Pada suatu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali dan tumbuh dewasa sebagai seorang tukang kebun. ‘Guru Sekop’ adalah namanya. Dengan sekopnya ia membersihkan sebidang tanah, dan menanam sayuran, labu kuning, kundur, mentimun, dan sayuran lainnya. Setelah menjual semuanya, ia hidup dalam penyesalan. Selain sekop itu, ia tidak mempunyai apa pun di dunia ini. Suatu hari, setelah memutuskan untuk meninggalkan keduniawian dan menempuh kehidupan suci, ia menyembunyikan sekopnya dan menjadi seorang petapa.

Tetapi pikiran akan sekop tersebut selalu muncul dan nafsu keserakahan timbul dalam dirinya, sehingga demi sekopnya yang tumpul itu, ia kembali pada keduniawian. Kejadian ini

terulang dan terulang lagi; enam kali sudah ia menyembunyikan sekop itu dan menjadi seorang petapa,—hanya untuk meninggalkan sumpahnya lagi. Tetapi, saat untuk ketujuh kalinya, ia berpikir kembali bagaimana sekop tumpul itu menyebabkannya berulang-ulang menyerah. Lalu ia membulatkan tekad untuk membuangnya ke sebuah sungai besar sebelum menjadi seorang petapa lagi. Maka ia membawa sekop tersebut ke tepi sungai itu. Ia memejamkan matanya sebisa mungkin karena khawatir jika ia melihat tempat sekop itu dijatuhkan, ia akan kembali dan berusaha untuk mendapatkannya lagi. Lalu ia memutar sekop itu tiga kali di atas kepalanya dengan menggenggam pegangan sekop itu dan melemparkannya dengan kekuatan seperti seekor gajah tepat di tengah aliran sungai. Kemudian ia berteriak dengan penuh kegembiraan, sebuah teriakan seperti raungan singa, “Saya sudah menaklukkan! Saya sudah menaklukkan!”

Pada saat yang sama, Raja Benares yang dalam perjalanan pulang setelah memadamkan pemberontakan di perbatasan, sesudah mandi di sungai itu juga, ketika sedang mengendarai gajahnya dengan segala kemegahannya, ia mendengar teriakan kemenangan Bodhisatta. “Ada seorang pria,” kata raja, “yang menyatakan bahwa ia sudah menaklukkan.

Saya ingin tahu siapa yang sudah ia taklukkan. Pergilah dan bawa ia menghadapku.”

Maka Bodhisatta dibawa ke hadapan raja. Raja berkata, “Temanku yang baik, saya adalah seorang penakluk; saya baru saja memenangkan pertempuran dan sedang dalam perjalanan

pulang dengan kejayaan. Katakanlah padaku siapa yang sudah Anda taklukkan.” “Maharaja,” jawab Bodhisatta, “seribu, ya, seratus ribu kemenangan seperti yang Anda peroleh adalah tidak ada artinya jika Anda tidak memperoleh kemenangan melawan nafsu dalam dirimu. Dengan menaklukkan keserakahan dalam diriku, maka saya telah menaklukkan nafsuku.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia menatap sungai besar itu; dan saat memusatkan seluruh pikirannya pada objek air, ia mencapai jhana. Kemudian dengan daya supramanusia yang baru ia capai, ia terbang di udara dan duduk di sana, mewejang raja mengenai kebenaran dalam syair berikut ini : —

Penaklukkan melalui kemenangan-kemenangan yang

Harus terus diperjuangkan, atau kita sendiri yang akan

Ditaklukkan pada akhirnya,

Adalah tidak berarti! Penaklukkan yang sejati bisa

Bertahan sepanjang masa!

Mendengar Dhamma ini, cahaya bersinar menerangi kegelapan batin raja, dan nafsu dalam batinnya padam. Batinnya dipenuhi keinginan untuk meninggalkan keduniawian; pada waktu dan di tempat itu juga, nafsu untuk menguasai takhta lenyap dari dirinya. “Ke manakah Anda akan pergi?” tanya raja kepada Bodhisatta. “Ke Pegunungan Himalaya, Maharaja; di sana menjalani kehidupan sebagai seorang petapa.” “Kalau begitu, saya juga akan menjadi seorang petapa,” kata raja; dan ia pergi bersama Bodhisatta. Bersama raja, ikut juga seluruh pasukan, brahmana, perumah tangga, dan semua penduduk lainnya, — dengan kata lain, seluruh rombongan besar yang ada di sana.

Kabar tersebar di Benares bahwa raja mereka, setelah mendengarkan Dhamma yang dibabarkan oleh Guru Sekop, merasa senang untuk menjalani kehidupan sebagai petapa dan

meninggalkan kehidupan berumah tangga bersama seluruh rombongannya. “Apa yang harus kita lakukan di sini?” jerit para penduduk Benares. Kemudian, kira-kira sejauh dua belas yojana dari kota, seluruh penduduk itu meninggalkan kehidupan berumah tangga, (sehingga membentuk) sebuah barisan sepanjang dua belas yojana, bersama Bodhisatta menuju ke Pegunungan Himalaya.

Lalu singgasana Sakka, raja para dewa, menjadi panas saat diduduki olehnya. Setelah melihat ke luar, ia melihat Guru Sekop sedang memimpin rombongan besar menuju Pelepasan Agung. Setelah menghitung jumlah rombongan besar yang mengikutinya, Indra (nama lain dari raja para dewa) berpikir bagaimana membuat pemondokan untuk mereka semua. Untuk itu ia memanggil Wissakamma (Vissakamma), arsitek para Dewa, dan berkata, “Guru Sekop sedang memimpin rombongan besar menuju Pelepasan Agung, dan tempat tinggal harus disediakan untuknya (dan rombongannya). Pergilah Anda ke Pegunungan Himalaya, dan di sana di tanah datar, dengan kekuatanmu yang hebat, buatlah sebuah pertapaan sepanjang tiga puluh yojana dan lebar lima belas.”

“Akan dilaksanakan, Raja Dewa,” jawab Wissakamma.

Maka pergilah ia untuk melaksanakan apa yang diperintahkan.

(Berikut ini hanyalah ringkasan; perinciannya akan diberikan di Hatthipāla-Jātaka, yang membentuk satu cerita dengan ini.) Wissakamma mendirikan sebuah pertapaan untuk para petapa; mengusir semua hewan, burung, dan makhluk non manusia yang ribut; membangun jalan setapak yang lebarnya hanya cukup dilewati satu orang untuk sekali jalan pada masing-masing jurusan utama. Setelah selesai, ia kembali ke tempat kediamannya. Guru Sekop bersama rombongannya tiba di Pegunungan Himalaya dan memasuki pertapaan yang diberikan oleh Indra, raja para dewa, dan memanfaatkan rumah serta perabot yang diciptakan oleh Wissakamma untuk para petapa.

Mula-mula ia sendiri meninggalkan keduniawian, dan setelah itu ia membuat orang lain juga meninggalkan keduniawian. Lalu Bodhisatta membagi tempat pertapaan tersebut di antara

mereka. Mereka meninggalkan semua kekuasaan mereka, yang menyamai kekuasaan Sakka sendiri; dan keseluruhan tiga puluh yojana luas pertapaan tersebut dipenuhi oleh mereka. Dengan menjalankan semua tata cara lainnya yang membawa pada pencapaian jhana, Guru Sekop mengembangkan brahma-wihara dalam dirinya. Ia mengajarkan bagaimana cara bermeditasi pada yang lainnya. Dengan cara seperti ini mereka semua memperoleh pencapaian, dan pasti setelah meninggal, mereka akan terlahir kembali di alam brahma; sementara semua yang melayani mereka memenuhi syarat untuk terlahir kembali di alam dewa setelah meninggal.

“Demikianlah para Bhikkhu,” kata Sang Guru, “batin, saat dicengkeram erat oleh nafsu, sangat sulit melepaskan diri darinya. Ketika sifat keserakahan tumbuh dalam batin, sangat sulit diusir; bahkan orang-orang yang sangat bijaksana dan penuh kebaikan seperti cerita-cerita di atas, menyerah tanpa sadar.” Setelah uraian tersebut berakhir, beliau membabarkan Dhamma; dan pada akhir khotbah, sebagian bhikkhu mencapai Sotāpanna, sebagian mencapai Sakadāgāmi, sebagian mencapai Anāgāmi, sementara yang lainnya lagi mencapai Arahat. Lebih lanjut, Sang Guru mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut, “Ananda adalah raja pada waktu itu, para pengikut Buddha adalah anggota rombongan itu, dan saya sendiri adalah Guru Sekop.”

Sumber: ITC, Jataka 1

September 12, 2012

VISAVANTA-JĀTAKA

Filed under: 051-100 — hansen @ 1:24 pm
Tags:

pic source

“Memalukan jika,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai Sariputta (Sāriputta), Panglima Dhamma. Menurut kisah yang diceritakan secara turun-temurun; pada masa itu, Sariputta Thera sangat suka makan kue yang terbuat dari tepung, (sehingga) para penduduk datang ke wihara dengan membawa sejumlah kue tersebut kepada Sanggha. Setelah semua bhikkhu makan bagian mereka, masih banyak kue yang tersisa; dan para pemberi derma berkata, “Bhante, ambillah sebagian untuk mereka juga yang sedang pergi ke dusun.”

Saat itu, seorang anak muda yang merupakan murid pendamping (saddhivihārika) Sariputta Thera sedang pergi ke dusun. Mereka menyisihkan satu bagian untuknya; tetapi, karena ia belum juga kembali sementara hari hampir siang, maka bagiannya diberikan kepada Sariputta Thera. Ketika bagian itu telah dimakan Sariputta Thera, anak muda itu tiba. Karena itu, Sariputta Thera menjelaskan hal tersebut kepadanya, “Awuso, saya telah memakan kue yang sebenarnya disisihkan untukmu.”

“Ah!” jawabnya tidak senang, “Bhante, kita semua juga suka makanan yang manis.” Sariputta Thera merasa sangat bersalah.

“Mulai hari ini,” ia berseru, “saya bertekad tidak akan pernah memakan kue tepung lagi.” Dan mulai saat itu, menurut kisah yang diceritakan secara turun-temurun; Sariputta Thera tidak pernah menyentuh kue tepung lagi. Pantangan ini diketahui secara umum di kalangan Sanggha. Dan saat para bhikkhu duduk membicarakan hal tersebut di Balai Kebenaran, Sang

Guru bertanya, “Apa yang sedang kalian bicarakan, para Bhikkhu, dengan duduk bersama di sini?” Setelah mereka menceritakan hal tersebut, beliau berkata, “Para bhikkhu, sekali Sariputta melepaskan sesuatu, ia tidak akan pernah mengambilnya lagi, walaupun nyawanya menjadi taruhan.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini:

____________________

Pada suatu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir dalam sebuah keluarga tabib yang ahli mengobati gigitan ular. Setelah dewasa, ia mempraktikkan keahlian tersebut sebagai mata pencahariannya. Ketika itu, ada seorang pria dusun yang digigit oleh seekor ular; dan tanpa menunda lagi, kerabatnya segera menjemput tabib tersebut. Bodhisatta berkata, “Haruskah saya mengeluarkan bisa ular dengan penangkal racun seperti

biasanya, ataukah menyuruh agar ular itu ditangkap untuk menyedot ke luar racunnya?” “Tangkap ular itu dan buat ia menyedot keluar racunnya.” Setelah ular itu ditangkap, ia menanyai hewan itu, “Apakah engkau yang mematuk pria ini?”

“Ya, benar,” jawab ular itu. “Kalau begitu, sedot kembali racunmu itu dari luka tersebut.” “Apa? Menyedot kembali racun yang telah saya keluarkan?” seru ular itu, “saya tidak pernah, dan saya tidak akan pernah (melakukannya).” Tabib itu kemudian membuat api dengan menggunakan kayu, dan berkata kepada ular itu, “Engkau sedot ke luar racun itu atau engkau masuk ke dalam api.”

“Walaupun api itu akan membinasakanku, saya tidak akan menyedot kembali racun yang telah saya keluarkan,” jawab ular itu, dan mengulangi syair berikut ini: —

Memalukan jika racun yang telah saya keluarkan,

Demi menyelamatkan nyawaku, saya telan kembali !

Lebih baik menerima kematian dari pada hidup yang

Diperoleh melalui kesukaan yang kurang baik!

Setelah berkata demikian, ular itu bergerak ke arah api. Tetapi tabib itu menghalanginya; lalu mengeluarkan racun itu dengan ramuan dan dengan ketenangan dan kehati-hatian, sehingga pria tersebut sembuh kembali. Kemudian ia menyampaikan sila kepada ular itu, dan membebaskannya dengan berkata, “Mulai sekarang, jangan melukai siapa pun lagi.”

____________________

Sang Guru melanjutkan perkataannya, “Para Bhikkhu, jika Sariputta telah melepaskan diri dari sesuatu, ia tidak akan pernah mengambilnya lagi, walaupun nyawanya yang menjadi taruhan.” Setelah uraian tersebut berakhir, beliau mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut, “Sariputta adalah ular itu pada kehidupan lampau, dan saya adalah tabib tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka 1

September 3, 2012

SĀKETA-JĀTAKA

Filed under: 051-100 — hansen @ 12:58 pm
Tags:

pic source

“Kepada orang yang pikiranmu merasakan ketenangan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Hutan Anjana (Añjana), mengenai seorang brahmana. Menurut kisah yang disampaikan secara turun-temurun; ketika Bhagawan dengan para siswanya sedang memasuki Kota Saketa (Sāketa), seorang brahmana tua dari tempat tersebut, yang hendak pergi ke luar, bertemu dengan beliau di gerbang kota. Setelah bersujud kepada Bhagawan, dan memegang pergelangan kakinya dengan penuh hormat, pria tua itu berseru, “Nak, bukankah adalah kewajiban anak-anak untuk membahagiakan hari tua orang tua mereka? Mengapa engkau tidak mengizinkan kami untuk menemuimu selama ini? Akhirnya saya bisa bertemu denganmu; mari, biar ibumu melihatmu juga.”

Setelah berkata demikian, ia membawa Sang Guru ke rumahnya; di sana, Sang Guru duduk di tempat duduk yang disiapkan untuknya, dengan para siswanya berada di sekelilingnya. Kemudian datanglah istri brahmana itu, dan ia juga bersujud kepada Sang Guru, berseru, “Anakku, ke manakah engkau pergi selama ini? Bukankah adalah kewajiban anak-anak untuk menyenangkan hari tua orang tua mereka?” Ia kemudian memanggil semua anak laki-laki dan anak perempuannya bahwa saudara mereka telah datang, dan menyuruh mereka memberi penghormatan kepada Bhagawan. Sepasang orang tua itu, dengan pikiran yang dipenuhi kebahagiaan, memberikan derma besar, yaitu jamuan makanan kepada Bhagawan dan para siswanya. Setelah selesai makan, Sang Guru membabarkan sutta yang berhubungan dengan usia tua kepada kedua orang tua itu; setelah selesai, sepasang suami istri itu memenangkan buah kesucian ketiga (Anāgāmi-phala ). Lalu, setelah bangkit dari tempat duduknya, Sang Guru kembali ke Hutan Anjana.

Saat berkumpul bersama di Balai Kebenaran, para bhikkhu membicarakan hal tersebut. Mereka mengatakan bahwa brahmana itu pastinya tahu dengan benar bahwa Suddhodana adalah ayah, dan Mahamaya (Mahāmāyā) adalah ibu dari Bhagawan; meskipun demikian, brahmana dan istrinya itu menyatakan bahwa Bhagawan adalah putra mereka; — dengan persetujuan dari Sang Guru. Apa maksud dari semua ini?

Setelah mendengar pembicaraan mereka, Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, sepasang orang tua itu benar dengan menyatakan bahwa saya adalah putra mereka.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Para Bhikkhu, pada kelahiran yang lampau, brahmana ini adalah ayah saya selama 500 (lima ratus) kelahiran berturut-turut, paman saya untuk jumlah kelahiran yang sama banyaknya, dan lima ratus kelahiran selanjutnya sebagai kakek saya. Dan dalam 1.500 (seribu lima ratus) kelahiran berturut-turut, (masing-masing sebanyak 500 kelahiran) istrinya adalah ibu saya, bibi saya, dan nenek saya. Jadi, saya dilahirkan dalam 1.500 kelahiran oleh brahmana ini, dan dalam 1.500 kelahiran oleh istrinya.

Bersamaan itu, setelah menceritakan tentang 3.000 (tiga ribu) kelahiran ini, Sang Guru, sebagai Buddha, mengulangi syair berikut ini:

Kepada orang yang pikiranmu merasakan ketenangan,

Bersamanya hatimu merasa senang pada pandangan

Pertama, — taruhlah kepercayaanmu kepadanya.

_____________________

Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut, “Brahmana itu dan istrinya adalah suami istri pada semua kelahiran itu, dan saya sendiri adalah anak tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka 1

August 17, 2012

UCCHAṄGA-JĀTAKA

Filed under: 051-100 — hansen @ 12:43 pm
Tags:

pic source

“Seorang putra mudah didapatkan,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang wanita desa. Suatu waktu di Kosala, terdapat tiga orang pria yang sedang membajak (tanah) di pinggiran sebuah hutan, bersamaan itu, para perampok menjarah penduduk di dalam hutan itu dan melarikan diri.  Para korban tiba, dalam pencarian tanpa hasil terhadap para penjahat, di tempat ketiga orang ini yang sedang membajak (tanah). “Inilah para perampok hutan itu, yang menyamar sebagai petani,” seru mereka, dan menangkap ketiga orang itu sebagai tahanan kepada Raja Kosala. Setelah beberapa waktu, datanglah seorang wanita ke istana raja, yang dengan ratapan yang keras, memohon, “Berikan pakaian (pelindung).” Mendengar ratapannya, raja memerintahkan agar sebuah pakaian diberikan kepadanya; tetapi ia menolaknya, dengan mengatakan bahwa bukan itu yang ia maksudkan. Maka pelayan raja menghadap raja dan mengatakan bahwa apa yang diinginkan wanita itu bukan pakaian, tetapi seorang suami.

Lantas raja menyuruh agar wanita itu dibawa ke hadapannya dan menanyakannya apakah benar yang ia maksudkan adalah seorang suami.

“Benar, Maharaja,” jawabnya, “karena seorang suami adalah pelindung sejati seorang wanita, dan jika ia yang tidak mempunyai seorang suami—walaupun ia memakai pakaian yang berharga seribu keping uang—tetap seperti telanjang dan tidak berpakaian.”

(Dan untuk menguatkan kebenaran ini, Sutta berikut ini sebaiknya diucapkan di sini: —

Seperti kerajaan tanpa raja, seperti sungai yang Kekeringan,

Seorang wanita akan terlihat seperti telanjang dan tidak berpakaian,

Yang meskipun sudah mempunyai sepuluh saudara,

masih kurang seorang pasangan.)

Merasa senang dengan jawaban wanita itu, raja bertanya apa hubungan ketiga tahanan tersebut dengannya. Dan ia berkata bahwa satu adalah suaminya, satu adalah saudaranya, dan satunya lagi adalah anaknya. “Baiklah, untuk menunjukkan kemurahan hatiku,” kata raja, “saya akan memberikan salah satu dari mereka untukmu. Siapa yang akan engkau pilih?”

“Maharaja,” jawabnya, “jika saya hidup, saya bisa mendapatkan seorang suami dan anak yang lain; tetapi, karena kedua orang tua saya telah meninggal, saya tidak pernah bisa mendapatkan saudara yang lain. Karena itu, berikanlah saudaraku kepada saya, Maharaja.” Merasa senang dengan jawaban wanita itu, raja membebaskan ketiga pria itu. Demikianlah satu wanita ini mampu menyelamatkan ketiga pria itu dari bahaya.

Ketika hal ini diketahui oleh para bhikkhu, mereka memuji wanita tersebut di Balai Kebenaran saat Sang Guru masuk ke dalam balai tersebut. Setelah mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan, beliau berkata, “Ini bukan pertama kalinya, para Bhikkhu, bahwa wanita ini telah menyelamatkan ketiga orang tersebut dari bahaya; ia melakukan hal yang sama pada kehidupan yang lampau.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Pada suatu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, tiga orang pria sedang membajak (tanah) di daerah pinggiran sebuah hutan, dan semua hal terjadi seperti cerita sebelumnya.

Ketika ditanya raja, siapakah di antara ketiga orang itu yang akan ia pilih, wanita itu menjawab, “Tidak bisakah Maharaja memberikan mereka bertiga kepadaku?” “Tidak,” jawab raja, “saya tidak bisa.”

“Baiklah, jika saya tidak bisa mendapatkan mereka bertiga, berikanlah saudaraku kepada saya.” “Ambil suami atau anakmu,” kata raja. “Apa masalahnya jika seorang saudara?” “Dua orang yang pertama (yang disebutkan Maharaja) bisa digantikan dengan mudah,” jawab wanita tersebut, “tetapi, seorang saudara tidak akan pernah.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengulangi syair berikut ini : —

Seorang putra mudah didapatkan; tentang suami juga

Beragam pilihan menjejali tempat-tempat umum. Tetapi,

Di manakah, dengan segala usahaku, seorang saudara

Yang lain bisa ditemukan?

“Ia sungguh benar,” kata raja, benar-benar puas. Raja kemudian memerintahkan agar ketiga pria itu dijemput dari penjara dan diberikan kepada wanita itu. Ia membawa mereka bertiga dan segera pergi.

____________________

“Demikianlah, para Bhikkhu,” kata Sang Guru, “bahwa wanita yang sama ini telah pernah menyelamatkan ketiga pria yang sama ini dari bahaya.” Setelah uraiannya berakhir, beliau mempertautkan dan menjelaskan kelahiran tersebut, “Wanita dan ketiga pria pada kelahiran ini adalah wanita dan pria-pria yang sama pada kehidupan lampau, dan saya sendiri adalah raja pada waktu itu.”

 

Sumber: ITC, Jataka 1

August 12, 2012

MUDULAKKHAṆA-JĀTAKA

Filed under: 051-100 — hansen @ 12:28 pm
Tags:

pic source

“Sampai Hati Lembut menjadi milikku,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai bahaya nafsu. Menurut kisah yang disampaikan secara turun-temurun; ada seorang pemuda dari Sawatthi, saat mendengar Dhamma yang dibabarkan oleh Sang Guru, ia menjadi sangat kagum pada ajaran dari Ti-Ratana. Setelah meninggalkan keduniawian untuk menjalani kehidupan tidak berumah tangga sebagai seorang bhikkhu, ia tekun berjalan di jalan kesucian (ariyamagga), berlatih meditasi, dan tidak pernah kendor dalam perenungannya terhadap objek utama yang telah dipilih untuk direnungkan. Suatu hari, saat sedang berkeliling untuk berpindapata melalui Sawatthi, ia melihat dari kejauhan seorang gadis yang berpakaian cantik; dan untuk kesenangan indriawi, melanggar moralitas yang lebih tinggi dan memandang gadis itu. Nafsu berkobar dalam dirinya, ia bagaikan pohon ara yang ditumbangkan oleh kapak. Sejak hari itu, karena dikuasai nafsu, kemauan pikirannya sama dengan tubuhnya, kehilangan semua semangatnya; seperti seorang yang kejam dan kasar, ia tidak merasakan kebahagiaan lagi terhadap ajaran nan mulia, dan membiarkan kuku serta rambutnya tumbuh panjang, dan jubahnya menjadi kotor. Ketika teman-temannya sesama anggota Sanggha menyadari masalah pikirannya, berkata, “Mengapa, Awuso (āvuso), kualitas tingkah laku Anda lain dari biasanya?”

“Kebahagiaanku telah hilang, Awuso,” jawabnya. Lantas mereka membawanya menemui Sang Guru, yang menanyai mereka mengapa membawa bhikkhu yang tidak berdasarkan keinginannya menghadap. “Karena, Bhante, kebahagiaannya telah hilang.” “Benarkah, Bhikkhu?” “Benar, Bhagawan.” “Siapa yang telah membuat pikiranmu kalut?” “Bhante, saat saya sedang berkeliling untuk berpindapata, dengan melanggar moralitas yang lebih tinggi, saya memandang seorang wanita; dan nafsu berkobar dalam diri saya. Itulah sebabnya pikiran saya menjadi kalut.” Lalu Sang Guru berkata, “Tidak mengherankan, Bhikkhu, bahwa saat melanggar moralitas, Anda memandang untuk kesenangan indriawi pada sebuah objek yang luar biasa, Anda dipengaruhi oleh nafsu yang berkobar. Mengapa? Karena pada kehidupan yang lampau, bahkan mereka yang telah memiliki lima pengetahuan istimewa dan delapan pencapaian, mereka yang karena kekuatan jhana telah memadamkan nafsu mereka, yang batinnya telah termurnikan dan yang mampu melayang di udara, bahkan Bodhisatta, karena melanggar moralitas dengan memandang pada sebuah objek yang luar biasa, kehilangan kekuatan jhana mereka, nafsu mereka berkobar, dan mengalami penderitaan yang hebat.

Sedikit kecerobohan saja, angin bisa menjatuhkan Gunung Sineru, apalagi sebuah bukit kecil yang gundul, yang tidak lebih besar dari seekor gajah; sedikit kecerobohan saja, angin bisa menjatuhkan sebatang pohon jambu yang sangat kuat, apalagi semak-semak di permukaan tebing yang curam; dan sedikit kecerobohan saja, angin bisa mengeringkan samudera yang luas, apalagi sebuah kolam yang kecil. Jika nafsu bisa menyebabkan kebodohan dalam diri Bodhisatta yang mempunyai pengetahuan yang luar biasa dan batin yang termurnikan, mungkinkah nafsu tidak mempermalukanmu? Karena, bahkan makhluk yang termurnikan pun dapat disesatkan oleh nafsu, demikian juga mereka yang telah mencapai kehormatan tertinggi, menjadi malu.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Pada suatu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir dalam sebuah keluarga brahmana kaya di negeri Kasi (Kāsi). Ketika ia dewasa dan setelah menyelesaikan

pendidikannya, ia membuang semua nafsu dan meninggalkan keduniawian untuk menjalani kehidupan tidak berumah tangga sebagai petapa, pergi untuk hidup di sebuah tempat yang sunyi di Pegunungan Himalaya. Di sana, dengan melaksanakan semua bentuk-bentuk meditasi pendahuluan yang sesuai, dengan perenungan ia mencapai lima pengetahuan istimewa dan delapan pencapaian; dan berdiam dalam kebahagiaan jhana.

Karena kehabisan garam dan cuka, ia pergi ke Benares pada suatu hari, dan bertempat tinggal sementara di taman peristirahatan raja. Keesokan harinya, untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya, setelah melipat setelan merah dari jangat kayu yang biasanya ia pakai, menyampirkan kulit antelop di salah satu bahunya, mengikat rambutnya yang kusut menjadi sebuah gulungan di kepalanya, dan dengan sebuah kuk di punggungnya yang tergantung dua buah keranjang, ia berkeliling untuk berpindapata. Setelah tiba di gerbang istana dalam perjalanannya, sikapnya yang begitu terpuji membuat raja mengundangnya masuk. Petapa itu dipersilakan duduk di sebuah kursi yang sangat megah dan disuguhi dengan makanan mewah nan lezat. Saat mengucapkan terima kasih kepada raja, ia diundang untuk menetap di taman peristirahatan. Petapa itu menerima tawaran tersebut, dan selama enam belas tahun menetap di taman peristirahatan itu, mewejang semua anggota rumah tangga kerajaan dan menerima makanan dari kerajaan. Pada suatu hari, raja harus pergi ke perbatasan untuk memadamkan pemberontakan. Tetapi, sebelum memulai perjalanan, ia memberi tugas kepada istrinya, yang bernama Hati Lembut, untuk melayani kebutuhan-kebutuhan orang suci itu. Maka, setelah raja berangkat, Bodhisatta tetap mengunjungi istana saat ia ingin ke sana.

Suatu hari, Ratu Hati Lembut mempersiapkan makanan untuk Bodhisatta; tetapi, karena petapa itu datang terlambat, ratu pergi ke kamar mandi pribadinya. Setelah mandi dengan air yang telah diberi wewangian, ia memakai pakaian yang sangat bagus dan berbaring, sambil menunggu kedatangan petapa tersebut, di sebuah dipan kecil di kamarnya yang luas.

Setelah bangkit dari kebahagiaan jhana, dan melihat sudah hampir siang, Bodhisatta bergerak melalui udara ke istana. Mendengar desiran jubah jangat kayunya, ratu terbangun dengan buru-buru untuk menyambutnya. Saat terburu-buru berdiri, bajunya merosot, sehingga kecantikan ratu terlihat oleh petapa tersebut saat ia masuk melalui jendela; dan segera setelah melihatnya, dengan melanggar moralitas, untuk kesenangan indriawi ia memandang kecantikan ratu yang mengagumkan. Nafsu berkobar dalam dirinya; ia seperti pohon yang ditumbangkan dengan kapak. Seketika itu juga pengetahuan yang telah didapat lenyap, ia berubah seperti gagak yang sayapnya terpotong. Sambil memegang makanannya, dengan tetap berdiri, ia tidak makan, tetapi berjalan dengan seluruh tubuh yang bergetar karena nafsu, dari istana menuju ke pondoknya di taman peristirahatan. Kemudian ia terduduk di kursi kayunya, dan berbaring selama tujuh hari penuh, tersiksa oleh rasa lapar dan haus, diperbudak oleh kecantikan ratu, hatinya terbakar oleh nafsu.

Pada hari ketujuh, raja kembali setelah mendamaikan perbatasan. Setelah mengelilingi kota dengan prosesi yang khidmat, ia memasuki istananya. Kemudian, berharap untuk menjumpai petapa itu, ia menuju ke taman peristirahatan, dan di bilik itu, menemukan Bodhisatta terbaring di kursinya. Mengira orang mulia itu sedang sakit, raja, setelah terlebih

dahulu menyuruh agar bilik itu dibersihkan, bertanya, saat ia mengusap kaki penderita, apa yang membuatnya sakit. “Maharaja, hati saya terbelenggu oleh nafsu; itu satu-satunya penyakit saya.” “Terbelenggu nafsu pada siapa?” “Pada Hati Lembut, Maharaja.” “Kalau begitu, ia milikmu; saya berikan ia kepadamu,” kata raja. Kemudian ia berlalu bersama petapa tersebut ke istana, dan meminta ratu menghiasi dirinya dengan semua kemegahan miliknya, dan memberikan ratu kepada Bodhisatta. Tetapi, saat memberikannya, raja secara diam-diam memberikan tugas kepada ratu untuk berusaha keras menyelamatkan orang mulia tersebut.

“Jangan khawatir, Maharaja,” kata ratu, “saya akan menyelamatkannya.” Bersama ratu, petapa itu keluar dari istana. Tetapi, saat melewati gerbang utama, ratu berseru bahwa mereka harus mempunyai sebuah rumah sebagai tempat tinggal, dan ia harus kembali menghadap raja untuk meminta sebuah rumah. Maka petapa itu kembali untuk meminta kepada raja sebuah rumah sebagai tempat tinggal, dan raja memberikan kepada mereka sebuah tempat tinggal yang hampir roboh, yang digunakan oleh para pengembara sebagai tempat membuang kotoran. Ke tempat itulah petapa tersebut membawa ratu; tetapi ratu menolak untuk masuk, karena tempat itu sangat kotor.

“Apa yang harus saya lakukan?” serunya. “Tentu saja membersihkannya,” kata ratu. Ratu menyuruhnya menghadap raja untuk meminta sebuah sekop dan keranjang, menyuruhnya membuang semua kotoran dan debu, dan menambal dinding tempat itu dengan kotoran sapi, yang harus ia dapatkan. Setelah selesai, ratu menyuruhnya untuk mendapatkan sebuah tempat tidur, sebuah bangku, sebuah permadani, sebuah kendi air, dan sebuah cangkir; menyuruhnya mengambil satu macam barang untuk setiap kali pergi. Selanjutnya, ratu memintanya untuk mendapatkan air dan ratusan barang lainnya. Maka ia pergi mendapatkan air, mengisi kendi air, mencari air untuk mandi, dan merapikan tempat tidur. Dan, saat duduk bersama ratu di tempat tidur, ratu memegang janggutnya dan menariknya sehingga mereka saling berhadapan, kemudian berkata, “Apakah Anda sudah lupa bahwa Anda adalah orang mulia dan seorang brahmana?”

Akhirnya ia sadar setelah sempat menjadi orang bodoh dan kehilangan kecerdasan.

(Di sini, seharusnya diulang teks awal, “Demikianlah rintangan dari nafsu dan keinginan disebut sebagai kejahatan, karena bersumber dari ketidaktahuan, Bhikkhu; bahwa apa yang bersumber dari ketidaktahuan akan menciptakan kegelapan batin.”)

Setelah sadar, agar menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi, ia mengingatkan dirinya, bagaimana haus-damba yang parah ini dapat menyebabkannya terlahir kembali di empat alam celaka. “Hari ini juga,” ia berseru, “saya akan mengembalikan wanita ini kepada Raja dan terbang ke pegunungan.” Maka ia berdiri bersama ratu di hadapan raja dan berkata, “Maharaja, saya tidak menginginkan Ratu lagi; hanya karena dirinyalah haus-damba timbul dalam diriku.” Setelah mengucapkan katakata tersebut, ia mengulangi syair berikut ini:

Sampai Hati Lembut menjadi milikku, satu-satunya nafsu

Yang saya miliki—untuk mendapatkannya. Ketika

Kecantikannya membelenggu saya, Maharaja,

Nafsu muncul dan muncul lagi.

Dengan segera kekuatan jhana kembali lagi kepadanya. Setelah terbang dari tanah dan duduk bersila di udara, ia membabarkan Dhamma kepada raja; dan tanpa menyentuh tanah, ia berlalu melalui udara menuju Pegunungan Himalaya. Ia tidak pernah kembali ke lingkungan manusia lagi; tetapi, dengan mengembangkan brahma-wihara (brahmavihāra) dalam dirinya, hingga mencapai kondisi jhana yang tidak terputus. Setelah meninggal, ia terlahir kembali di alam brahma.

Setelah uraiannya berakhir, Sang Guru membabarkan Dhamma, dan pada akhir khotbah tersebut, bhikkhu itu memenangkan tingkat kesucian Arahat dengan sendirinya. Sang Guru juga mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut, “Ananda (Ānanda) adalah Raja pada masa itu, Uppalawanna (Uppalavaṇṇā) adalah Hati Lembut, dan saya adalah petapa tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka 1

August 10, 2012

ANABHIRATI-JĀTAKA

Filed under: 051-100 — hansen @ 12:21 pm
Tags:

source

“Seperti jalan raya,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang upasaka yang lain, dengan kejadian yang sama seperti kejadian

sebelumnya. Pria ini, dalam penyelidikan yang dilakukannya, menjadi yakin akan perilaku buruk istrinya. Ia berbicara dengan istrinya, hasilnya ia begitu kecewa sehingga selama tujuh atau delapan hari ia tidak berkunjung. Suatu hari ia datang ke wihara (vihāra), memberikan penghormatan kepada Tathagata (Tathāgata) dan mengambil tempat duduk. Ketika ditanya mengapa ia absen selama tujuh atau delapan hari, ia menjawab, “Bhante, istri saya berperilaku buruk, dan saya begitu kecewa karena tindakannya, sehingga saya tidak datang.”

“Upasaka,” kata Sang Guru, “pada waktu yang lampau ia yang bijaksana dan baik telah memberitahukanmu untuk tidak marah terhadap kelakuan buruk yang ditemukan dalam diri

wanita, sebaliknya, agar tetap memelihara ketenangan batinmu; tetapi, hal ini telah Anda lupakan, karena kelahiran kembali telah menyembunyikan hal tersebut darimu.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, beliau menceritakan—atas permohonan upasaka tersebut—kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Pada suatu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah seorang guru dengan reputasi yang sangat terkenal, sama seperti cerita sebelumnya. Dan seorang muridnya, mendapati istrinya tidak setia, sangat terpengaruh oleh kejadian tersebut, sehingga ia tidak berkunjung selama beberapa hari. Suatu hari, saat ditanya oleh gurunya apa yang menjadi alasan ketidakhadirannya, ia mengakuinya. Gurunya berkata, “Anakku, sangat sulit mempertahankan wanita sebagai milik: mereka bersikap sama kepada semua pada umumnya. Oleh sebab itu, orang bijaksana yang mengetahui kelemahan moral wanita, tidak timbul keinginan untuk marah terhadap mereka.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, beliau mengulangi syair ini untuk peneguhan batin siswanya: —

Seperti jalan raya, sungai, halaman, penginapan,

Atau kedai minuman, yang kepada semua memberikan

Yang sama satu keramahtamahan yang umum, —

Adalah sifat wanita pada umumnya; dan orang bijaksana

Tidak pernah merendahkan diri untuk marah terhadap

Kelemahan moral wanita.

Demikianlah petunjuk yang disampaikan Bodhisatta kepada siswanya, yang sejak saat itu bersikap biasa saja terhadap apa yang dilakukan wanita itu. Sementara itu, istrinya berubah sikap begitu mendengar bahwa guru tersebut telah mengetahui kelakuannya. Sejak saat itu juga, ia meninggalkan kelakuannya yang buruk.

Demikian juga dengan istri upasaka itu, saat mendengar bahwa Sang Guru telah mengetahui kelakuannya, sejak saat itu juga, ia meninggalkan kelakuannya yang buruk.

Setelah uraiannya berakhir, Sang Guru membabarkan Dhamma; dan pada akhir khotbah, upasaka itu memenangkan buah kesucian pertama (Sotāpatti-phala) . Kemudian Sang Guru

mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut, “Suami istri ini juga adalah suami istri pada kehidupan lampau, dan saya sendiri adalah guru brahmana tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka 1

August 6, 2012

DURĀJĀNA-JĀTAKA

Filed under: 051-100 — hansen @ 12:16 pm
Tags:

source

“Anda berpikir,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang upasaka (upāsaka, umat awam pria). Menurut kisah yang disampaikan secara turun-temurun, ada seorang upasaka yang tinggal di Sawatthi, yang berlindung kepada Ti Ratana (Tiga Mestika, yang terdiri dari Buddha, Dhamma, dan Sanggha) dan (teguh menjalankan) lima latihan moralitas; ia adalah pengagum Buddha, Dhamma, dan Sanggha yang sangat taat, tetapi istrinya adalah seorang wanita yang bejat dan jahat. Bila telah berbuat salah, ia menjadi penurut seperti seorang budak wanita yang dibeli dengan seratus keping uang; sementara bila tidak berbuat salah, ia bertingkah seperti seorang nyonya besar, penuh nafsu jahat dan kejam. Suaminya tidak bisa menyadarkannya. Ia begitu mengkhawatirkan istrinya sehingga tidak pergi mengunjungi Buddha Yang Mahamulia.

Suatu hari, ia pergi dengan (membawa persembahan berupa) wewangian dan bunga, mengambil tempat duduk setelah memberikan penghormatan. Sang Guru berkata kepadanya, “Beritahukanlah, Upasaka, mengapa tujuh hingga delapan hari ini Anda tidak datang berkunjung?” “Istri saya, Bhante, satu hari bersikap seperti seorang budak wanita yang dibeli seharga seratus keping uang, sementara hari yang lain bertingkah seperti nyonya besar yang penuh nafsu jahat dan kejam. Saya tidak bisa menyadarkannya; karena itu ia membuat saya khawatir, sehingga saya tidak datang berkunjung.”

Mendengar kata-kata itu, Sang Guru berkata, “Mengapa, Upasaka, bukankah Anda telah diberitahu oleh ia yang bijaksana dan baik pada kehidupan yang lampau bahwa sangat sulit untuk memahami sifat dasar wanita,” dan beliau menambahkan, “tetapi jalan hidupmu yang lampau telah dikacaukan dalam pikiranmu, sehingga Anda tidak bisa mengingatnya lagi.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Pada suatu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang guru yang sangat terkenal, dengan lima ratus orang brahmana muda di bawah asuhannya. Salah seorang siswanya adalah seorang brahmana muda dari negeri asing, yang jatuh cinta kepada seorang wanita dan menikahi wanita tersebut. Walaupun menetap di Benares, ia tidak mengunjungi gurunya sebanyak dua atau tiga kali. Perlu diketahui, istrinya adalah seorang wanita yang bejat dan jahat, yang menjadi penurut seperti seorang budak bila ia telah berbuat salah; tetapi bila tidak berbuat salah, ia bertingkah seperti seorang nyonya besar yang penuh nafsu jahat dan kejam.

Suaminya sama sekali tidak bisa menyadarkannya; karena begitu khawatir dan terganggu akan keadaan istrinya, ia tidak mengunjungi gurunya. Setelah tujuh hingga delapan hari berlalu, ia mulai hadir kembali, dan ditanya oleh Bodhisatta mengapa ia tidak terlihat belakangan ini.

“Guru, penyebabnya adalah istri saya,” katanya. Ia kemudian menyampaikan kepada Bodhisatta bagaimana satu hari istrinya bersikap begitu penurutnya seperti seorang budak wanita, dan kejam keesokan harinya; bagaimana ia tidak bisa menyadarkannya sama sekali, bagaimana khawatirnya dia dan juga terganggu akan pergantian suasana hati istrinya sehingga ia tidak berkunjung.

“Memang begitulah, Brahmana Muda,” kata Bodhisatta, “bila mereka telah berbuat salah, wanita merendahkan diri mereka di hadapan suaminya dan menjadi penurut serta patuh seperti seorang budak wanita; tetapi bila mereka tidak berbuat salah, mereka menjadi keras kepala dan tidak patuh pada suami mereka. Karena perilaku inilah wanita dikatakan bejat dan jahat; dan sifat dasar mereka juga sulit untuk dipahami. Tidak ada yang perlu diperhatikan terhadap kesukaan mereka maupun ketidaksukaan mereka.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Bodhisatta mengulangi syair ini untuk peneguhan batin siswanya : —

Anda berpikir seorang wanita mencintaimu? — janganlah

Merasa gembira.

Anda berpikir ia tidak mencintaimu? — hindari diri dari

Kesedihan.

Tidak bisa diketahui, tidak pasti seperti jejak

Ikan-ikan di dalam air, inilah kenyataan wanita.

Demikianlah petunjuk Bodhisatta kepada siswanya, yang sejak saat itu tidak mempedulikan perubahan pikiran istrinya yang tanpa sebab. Dan istrinya, yang mendengar kalau perilakunya yang buruk telah sampai ke telinga Bodhisatta, sejak saat itu juga menghentikan semua kelakuannya yang buruk.

____________________

Demikian juga istri upasaka ini berkata kepada dirinya sendiri, “Buddha Yang Mahasempurna telah mengetahui, kata orang-orang kepadaku, mengenai kelakuanku yang buruk.” Sejak saat itu ia tidak melakukan kejahatan lagi. Setelah uraiannya berakhir, Sang Guru membabarkan Dhamma; dan pada akhir khotbah, upasaka itu memenangkan buah kesucian pertama (Sotāpatti-phala) . Kemudian Sang Guru mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut, “Suami istri ini juga adalah suami istri pada kehidupan lampau, dan saya sendiri adalah guru tersebut.”

 

Sumber: ITC, Jataka 1

August 3, 2012

TAKKA-JĀTAKA

Filed under: 051-100 — hansen @ 11:59 am
Tags: ,

pic source

“Wanita dipenuhi oleh kemarahan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu lain yang merasa gelisah karena nafsu indriawinya. Ketika ditanyai, bhikkhu itu mengakui kalau ia merasa gelisah karena nafsu indriawinya. Sang Guru berkata, “Wanita adalah makhluk yang tidak tahu berterima kasih dan curang; Mengapa engkau merasa gelisah dikarenakan nafsu indriawi terhadap mereka?” Dan Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

___________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta yang telah memilih hidup sebagai petapa, ia membangun sebuah tempat pertapaan di tepi Sungai Gangga, di sana ia memperoleh pencapaian dan kemampuan batin luar biasa, dan menetap dalam kebahagiaan jhana. Pada masa itu, Saudagar Benares mempunyai seorang anak perempuan yang galak dan kejam, yang dikenal dengan sebutan Wanita Jahat, ia selalu memaki dan memukul para pelayan dan budaknya. Suatu hari, mereka membawa nyonya muda mereka untuk menyenangkan diri di Sungai Gangga; Gadis itu sedang bermain dalam air, ketika matahari terbenam dan sebuah kilat besar menyambar ke arah mereka. Para penduduk berhamburan pergi, dan pendamping gadis tersebut, berseru, “Sekarang saat terakhir kalinya kita melihat makhluk ini!” Mereka melemparkannya tepat ke dalam sungai dan bergegas pergi. Hujan turun dengan derasnya, matahari terbenam dan hari mulai gelap. Saat para pendampingnya tiba di rumah tanpa nyonya muda mereka, dan ditanyai dimana ia berada, mereka menjawab bahwa ia telah keluar dari Sungai Gangga, mereka tidak mengetahui ke mana ia pergi. Pencarian dilakukan oleh keluarganya, namun tidak ada satu jejak pun yang ditemukan dari gadis yang hilang itu.

Sementara itu ia berteriak dengan keras, terseret dalam gelombang sungai, dan di tengah malam, ia tiba di tempat dimana Bodhisatta tinggal di tempat pertapaannya. Mendengar suara tangisannya, Bodhisatta berpikir, “Ada suara tangis wanita, saya harus menolongnya dari dalam air.” Ia membawa sebuah obor; dengan sinar obor tersebut, ia menghampiri gadis yang berada di sungai tersebut. “Jangan takut, jangan takut!” ia berseru menenangkan, mengarungi sungai dan berterima kasih pada tenaganya yang sangat kuat, seperti seekor gajah, ia membawa gadis itu dengan selamat ke daratan. Kemudian ia menyalakan perapian untuknya di tempat pertapaannya, dan menyiapkan beragam buah-buahan yang sangat lezat di hadapan gadis itu. Setelah gadis itu selesai makan ia baru bertanya, “Dimanakah rumahmu, dan bagaimana sampai engkau jatuh ke dalam sungai?” Gadis tersebut menceritakan semua hal yang menimpanya pada Bodhisatta. “Tinggallah di sini saat ini,” katanya, dan menempatkannya di tempat pertapaannya, sementara ia sendiri tinggal di udara terbuka. Akhirnya ia meminta gadis itu untuk pulang, namun gadis itu memilih menunggu hingga ia berhasil membuat petapa itu jatuh cinta kepadanya; ia tidak mau pergi. Dengan berlalunya waktu, ia membuat petapa itu gelisah dengan keanggunan dan tipu muslihat seorang wanita sehingga akhirnya ia kehilangan pencerahannya. Ia tinggal bersama gadis itu di dalam hutan. Namun gadis itu tidak suka tinggal di tempat yang terpencil, ia ingin tinggal di antara orang banyak. Menyerah pada desakannya, brahmana itu membawanya ke pinggir desa, tempat ia menyokong kehidupan mereka dengan menjual susu mentega (takka). Ia dipanggil Pendeta Takka. Para penduduk di sana membayarnya untuk mengajari mereka kapan musim yang baik dan buruk, memberikan sebuah pondok sebagai tempat tinggalnya di jalan masuk menuju desa mereka.

Suatu saat, pinggiran desa itu diganggu oleh perampok dari gunung. Mereka menyerang desa yang dihuni oleh pasangan tersebut, dan merampok di sana. Membuat para penduduk yang malang itu mengepak barang-barang mereka, dan berangkat bersama mereka — dengan putri saudagar itu di antara mereka — menuju tempat tinggal para perampok itu.

Setiba di sana, mereka membebaskan semua orang, kecuali gadis itu, karena kecantikannya, ia dijadikan istri oleh kepala perampok itu.

Saat Bodhisatta mengetahui hal ini, ia berpikir, “Ia tidak akan tahan untuk hidup jauh dari saya. Ia akan melarikan diri dan kembali lagi kepada saya.” Demikianlah cara ia melanjutkan

hidup, menanti gadis itu kembali kepadanya. Saat yang sama, gadis itu merasa bahagia hidup dengan para perampok itu, ia hanya merasa khawatir kalau-kalau Pendeta Takka itu akan datang untuk membawanya pergi. “Saya hanya akan merasa aman,” pikirnya, “jika ia mati. Saya harus mengirim pesan kepadanya, pura-pura cinta padanya dan membujuknya kemari, menuju kematiannya.” Maka ia mengirim seorang pembawa pesan kepadanya, dengan isi bahwa ia merasa tidak bahagia, dan ia ingin agar Pendeta Takka datang untuk membawanya pergi.

Dan ia, yang percaya padanya, segera pergi ke sana, tiba di gerbang desa para perampok, tempat dimana ia mengirim sebuah pesan untuk gadis tersebut. “Jika kita kabur sekarang, Suamiku,” katanya, “hanya akan membuat kita jatuh ke tangan kepala perampok, yang akan membunuh kita berdua. Mari kita tunda pelarian ini hingga malam.” Maka ia membawa dan

menyembunyikannya di sebuah kamar; Saat perampok itu pulang di waktu malam dan dibakar oleh minuman keras, gadis itu berkata kepadanya, “Katakan padaku, Tuan, apa yang akan kamu lakukan jika sainganmu berada dalam kekuasaanmu?”

Perampok itu berkata ia akan melakukan ini dan itu pada lelaki tersebut.

“Barangkali ia tidak berada sejauh yang engkau bayangkan,” katanya, “ia berada di ruangan sebelah.” Meraih sebuah obor, perampok itu menerjang masuk dan menangkap Bodhisatta. Kemudian memukuli kepala dan badannya hingga organ dalamnya. Bodhisatta tidak menangis di antara pukulan-pukulan itu, ia hanya bergumam, “Makhluk tidak tahu berterima kasih yang kejam! Pengkhianat yang juga tukang fitnah!” Hanya ini kata-kata yang ia ucapkan. Setelah memukul, ia mengikat dan membaringkan Bodhisatta dengan posisi miring. Perampok itu menghabiskan makan malamnya dan berbaring untuk tidur. Pagi harinya, setelah tidur yang menghilangkan efek pesta pora semalam suntuknya, ia berniat memukuli Bodhisatta lagi, yang tetap tidak menangis, ia hanya mengulangi kata-kata yang sama. Perampok itu berhenti dan bertanya mengapa, saat dipukuli, ia terus mengucapkan kata-kata tersebut.

“Dengarkanlah,” kata Pendeta Takka, “dan engkau harus memperhatikannya. Dulu saya adalah seorang petapa yang menetap di tempat yang terpencil di hutan dan mencapai pencerahan di sana. Lalu saya menolong gadis ini dari Sungai Gangga dan membantunya memenuhi kebutuhannya. Karena daya pikatnya, saya jatuh dari tingkat hidup saya. Kemudian saya meninggalkan hutan dan mendukung kehidupannya di desa, tempat darimana ia dibawa pergi oleh para perampok. Dan ia mengirim sebuah pesan kepadaku menyampaikan bahwa ia tidak bahagia, memohon agar saya datang dan membawanya pergi.

Sekarang, ia membuat saya jatuh ke tanganmu. Itulah mengapa saya mengulangi kata-kata itu.” Hal ini membuat perampok itu berpikir lagi, ia merenungkan, “Jika ia hanya mempunyai sedikit perasaan pada orang yang begitu baik dan telah melakukan begitu banyak hal untuknya. Kira-kira apa yang tidak bisa ia lakukan padaku? Ia harus mati.” Setelah menenangkan Bodhisatta dan membangunkan wanita tersebut, ia menghunuskan pedang di

tangannya, berpura-pura di hadapan gadis itu bahwa ia akan membunuh Bodhisatta di luar desa. Kemudian meminta gadis itu memegang Pendeta Takka saat ia menarik pedangnya, dengan gaya seperti akan membunuh guru itu, ia memotong wanita itu menjadi dua bagian. Kemudian perampok itu memandikan Pendeta Takka dari rambut hingga ke ujung kakinya, dan selama beberapa hari ia memberinya makanan pilihan untuk memulihkan organ dalam Bodhisatta.

“Kemanakah engkau akan pergi sekarang?” tanya perampok itu akhirnya.

“Keduniawian,” jawab guru tersebut, “tidak memberikan kesenangan padaku lagi. Saya akan kembali menjadi seorang petapa dan menetap di lingkungan saya sebelumnya di dalam hutan.”

“Saya juga akan menjadi petapa,” seru perampok itu.

Maka mereka berdua bersama-sama menjadi petapa dan menetap di tempat pertapaan di hutan, tempat dimana mereka memperoleh kemampuan batin luar biasa dan pencapaian (meditasi), dan membuat mereka memenuhi syarat terlahir kembali di alam brahma setelah meninggal dunia.

___________________

Setelah menceritakan kedua kisah ini, Sang Guru mempertautkan, dan membacakan, sebagai seorang Buddha, syair berikut ini : —

Wanita dipenuhi oleh kemarahan, tukang fitnah dan tidak tahu berterima kasih,

penabur bibit pertikaian dan menimbulkan percekcokan!

Lalu, Bhikkhu, tempuhlah jalan kesucian

Di sanalah kebahagiaan tidak akan gagal engkau temukan.

Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru membabarkan Dhamma, pada akhir khotbah bhikkhu yang merasa gelisah karena nafsu indriawinya itu mencapai phala tingkat kesucian Sotāpanna. Sang Guru juga menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Ānanda adalah kepala perampok di masa itu, dan Saya sendiri adalah Pendeta Takka.”

 

Sumber: ITC, Jataka 1

August 1, 2012

AṆḌABHŪTA-JĀTAKA

Filed under: 051-100 — hansen @ 11:49 am
Tags: ,

pic source

“Dengan mata tertutup, seorang pemain kecapi,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu lain yang merasa gelisah

akan nafsu indriawinya.

Tanya Sang Guru, “Benarkah laporan itu bahwa engkau adalah orang yang merasa gelisah karena nafsu indriawi, Bhikkhu?”

“Benar,” jawabnya.

“Bhikkhu, seorang wanita tidak bisa dijaga; di kehidupan yang lampau, orang bijaksana yang melindungi seorang wanita sejak ia lahir, gagal untuk menjaganya dengan aman.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang raja. Setelah dewasa, ia menguasai semua keahlian; ketika ayahnya meninggal, ia menjadi seorang raja, ia terbukti merupakan seorang raja yang adil. Ia selalu bermain dadu dengan pendetanya. Saat melemparkan dadu emas ke meja perak, ia akan menyanyikan syair yang membawa keberuntungan ini : —

Merupakan sifat alam bahwa sungai berkelok,

Hutan merupakan kumpulan dari pepohonan;

Jika diberi kesempatan, wanita akan melakukan

kesalahan.

 

Baris-baris tersebut selalu membuat raja memenangkan permainan. Pendeta itu selalu kalah dalam permainan yang jujur tersebut. Akhirnya ia kehilangan setiap uang yang ia miliki di dunia ini. Dengan tujuan menyelamatkan diri dari kehancuran total, ia memutuskan untuk mencari seorang gadis yang masih kecil, yang belum pernah bertemu dengan pria lain, kemudian menjaganya terkunci di dalam rumahnya.

“Karena,” pikirnya, “saya tidak dapat menjaga seorang gadis yang telah bertemu dengan lelaki lain, saya harus mengambil seorang bayi perempuan yang baru lahir, dan menjaganya tetap di bawah pengawasan saya selama ia tumbuh dewasa.

Mengawasinya seketat mungkin sehingga tidak ada yang bisa mendekatinya, dan ia benar-benar hanya mengenal seorang lelaki saja. Kemudian saya akan menang dari raja tersebut dan menjadi kaya.” Ia sangat pintar meramal, melihat seorang wanita miskin yang akan segera melahirkan, dan mengetahui bayi tersebut adalah anak perempuan, ia memberi uang pada wanita tersebut untuk datang dan melahirkan di rumahnya. Dan mengirimnya pergi setelah ia melahirkan dengan memberikan sejumlah hadiah kepadanya. Bayi itu dijaga oleh wanita, dan tidak boleh ada lelaki — selain dirinya — yang boleh melihatnya.

Setelah dewasa, gadis itu patuh padanya dan ia merupakan tuan bagi gadis tersebut. Saat gadis itu masih dalam proses tumbuh dewasa, ia menahan diri untuk tidak bermain dadu dengan raja; namun setelah gadis tersebut tumbuh dewasa dan berada di bawah kendalinya, ia menantang raja untuk bermain dadu. Raja menerimanya, dan permainan dimulai. Saat melempar dadu, raja menyanyikan syair keberuntungannya, dan pendeta itu menambahkan, — “Selalu kecuali gadis saya.” Keberuntungan pun berubah, sekarang pendeta itu yang menang sementara raja kalah.

Setelah memikirkan hal tersebut baik-baik, Bodhisatta merasa curiga kalau pendeta itu mempunyai seorang gadis baik yang dikurung di dalam rumahnya. Ia melakukan penyelidikan untuk membuktikan kebenaran kecurigaannya. Kemudian, untuk menguji gadis tersebut, ia mengundang seorang penggoda wanita yang cerdik dan menanyakan kesanggupannya untuk menggoda gadis tersebut. “Pasti bisa, Paduka,” jawab anak muda itu. Maka raja memberikan uang kepadanya dan memintanya segera pergi, tanpa menghabiskan waktu lagi.

Dengan uang pemberian raja, anak muda tersebut membeli wewangian, dupa dan berbagai jenis wewangian lainnya. Ia membuka sebuah kedai wewangian di dekat rumah pendeta tersebut. Rumah pendeta ini setinggi tujuh tingkat dengan tujuh buah pintu gerbang, dimana masing-masing gerbang dijaga oleh seorang penjaga, — penjaga yang juga wanita — tidak ada lelaki selain brahmana itu sendiri yang diizinkan untuk masuk. Keranjang untuk keperluan bersih-bersih diperiksa sebelum dibiarkan lewat. Hanya pendeta itu saja yang diizinkan untuk bertemu gadis tersebut, dan gadis itu hanya mempunyai seorang dayang wanita yang mendampinginya.

Wanita ini mendapatkan uang yang diberikan kepadanya untuk membeli bunga-bungaan dan wewangian untuk majikannya, dalam perjalanannya ia selalu lewat di dekat kedai yang dibuka oleh penggoda wanita tersebut. Dan penggoda itu tahu dengan baik bahwa ia adalah dayang gadis tersebut. Ia melihat kedatangannya pada suatu hari, kemudian berlari keluar dari kedainya, bersimpuh di kaki wanita itu, mendekap lutut wanita itu erat-erat dengan kedua tangannya dan menangis, “Oh, Ibu! Kemana engkau pergi selama ini?”

Para sekutunya, yang berdiri di sisi berandalan itu, berseru, “Betapa miripnya mereka! Tangan dan kuku, wajah dan bentuk tubuh, bahkan dalam hal berpakaian, mereka benar-benar sama!” Sementara satu dan yang lain terus menyatakan kemiripan yang mengagumkan itu, wanita itu kehilangan akal sehatnya. Sambil menangisi bahwa pemuda itu pasti adalah putranya, ia juga berlinangan air mata. Sambil menangis dengan air mata bercucuran, mereka berdua saling merangkul. Kemudian penggoda wanita itu bertanya, “Dimana engkau tinggal, Bu?”

“Di atas rumah pendeta itu, Anakku. Ia mempunyai seorang istri yang masih muda dengan kecantikan yang tiada taranya, bagaikan seorang dewi yang agung; Saya adalah dayangnya.” “Kemana engkau akan pergi, Bu?” “Membeli bunga dan wewangian untuknya.” “Mengapa pergi ke tempat lain untuk membelinya? Datanglah ke tempatku lain kali,” kata pemuda tersebut. Ia memberikan beragam wewangian dana dan bunga kepada wanita itu, menolak pembayaran darinya. Terkejut melihat jumlah bunga dan wewangian yang dibawa oleh dayangnya, gadis itu bertanya mengapa brahmana itu merasa senang kepadanya hari itu. “Mengapa engkau menyatakan hal itu, Nak?” tanya wanita tua itu. “Karena jumlah barang-barang yang engkau bawa pulang.” “Tidak, brahmana itu tidak membayar untuk barang-barang ini,” jawab wanita itu, “saya mendapatkannya di tempat anak saya.” Mulai saat itu, ia menyimpan uang yang diberikan oleh brahmana itu dan mendapatkan bunga serta barang-barang lainnya secara gratis di kedai tersebut.

Beberapa hari kemudian, anak muda itu berpura-pura sakit, dan berbaring di tempat tidurnya. Saat wanita tua itu datang ke kedainya dan menanyakan keberadaan anaknya, ia diberitahukan bahwa anaknya sedang sakit. Wanita itu segera pergi ke sisi anaknya, memegang bahu anaknya dengan penuh kasih, sambil bertanya apa yang menyebabkan ia sakit. Namun, ia tidak menjawab. “Mengapa engkau tidak mau mengatakannya kepadaku, Anakku?” “Saya tidak bisa mengatakannya padamu walaupun saya harus mati, Bu.” “Jika engkau tidak mengatakannya kepadaku siapa lagi yang bisa engkau beritahukan?” “Baiklah kalau begitu, Bu. Penyakitku adalah, setelah mendengar pujianmu terhadap kecantikan nyonya mudamu, saya jatuh cinta kepadanya. Jika bisa mendapatkannya, saya akan sembuh; namun jika tidak bisa, ini akan menjadi ranjang kematianku.” “Serahkan masalah ini padaku, Anakku,” kata wanita tua itu dengan gembira; “jangan mengkhawatirkan masalah ini.” Kemudian — dengan sejumlah muatan wewangian dan bunga-bungaan yang dibawa olehnya — ia pulang dan berkata kepada istri brahmana yang masih muda itu, “Aduh, anakku ini jatuh cinta kepadamu, hanya karena aku memberitahukan padanya betapa cantiknya engkau! Apa yang harus aku lakukan?”

“Jika engkau bisa memasukkan ia kemari,” jawab gadis itu, “engkau bisa menyerahkannya padaku.”

Sejak itu, wanita tua itu ikut melakukan pekerjaan membersihkan semua debu yang bisa ia temui di rumah itu, dari atas hingga ke bawah; debu-debu itu dikumpulkan dalam sebuah keranjang bunga besar, yang berusaha dilewatkannya bersamanya. Ketika pemeriksaan dilakukan seperti biasa, ia akan mengosongkan debu-debu itu di sekitar wanita penjaga tersebut, yang akhirnya menghilang untuk mengobati penyakit tertentu karenanya. Dengan cara yang sama ia menangani semua penjaga lainnya, melimpahkan debu pada setiap penjaga yang menyatakan sesuatu kepadanya. Sejak saat itu hingga seterusnya, tidak peduli apa pun yang dibawa masuk maupun keluar dari rumah tersebut oleh wanita tua itu, tidak ada orang yang berani untuk menggeledahnya. Sekaranglah saatnya!

Wanita tua itu menyelundupkan penggoda tersebut ke dalam rumah melalui sebuah keranjang bunga, dan membawanya menemui nyonya mudanya. Lelaki tersebut berhasil merusak kesucian gadis tersebut, dan benar-benar tinggal selama satu hingga dua hari di kamar teratas, — bersembunyi saat pendeta itu berada di rumah, dan menikmati waktu berkumpul dengan nyonyanya saat pendeta meninggalkan tempat itu. Setelah satu hingga dua hari berlalu, gadis itu berkata kepada kekasihnya, “Tuan, kamu harus pergi sekarang.” “Baik, namun saya harus memukul brahmana itu terlebih dahulu.” “Baiklah,” jawab gadis itu, dan menyembunyikan penggoda tersebut. Saat brahmana itu datang lagi, ia berseru, “Oh, Suamiku, saya ingin menari, jika engkau mau memainkan kecapi untukku.” “Menarilah, Sayang,” kata pendeta itu, dan segera memainkan kecapi tersebut.

“Namun saya malu jika engkau melihat. Biar saya tutup wajah tampanmu dengan sehelai kain terlebih dahulu, baru menari.”

“Baiklah,” jawabnya, “jika engkau terlalu malu untuk menari.” Ia mengambil sehelai kain yang tebal dan mengikatnya pada wajah brahmana itu untuk menutupi matanya. Dengan mata tertutup, brahmana itu mulai memainkan kecapi. Setelah menari beberapa saat, ia berseru, “Suamiku, saya ingin memukul kepalamu sekali.” “Pukul saja,” jawab orang tua pikun yang tidak menaruh curiga tersebut. Maka gadis itu segera memberi tanda pada kekasih gelapnya; yang dengan perlahan berdiri di belakang brahmana tersebut dan menghantam kepalanya. Karena kerasnya pukulan tersebut, mata brahmana tersebut seakan-akan terlepas dari kepalanya, dan pada tempat tersebut, sebuah benjolan muncul. Dalam kesakitannya, ia meminta gadis itu untuk memegang tangannya; gadis itu meletakkan tangannya pada tangan brahmana tersebut. “Ah, tangan yang lembut,” katanya, “namun memukul dengan keras.”

Sehabis memukul brahmana itu, penggoda wanita tersebut segera bersembunyi. Setelah ia bersembunyi, gadis tersebut melepaskan ikatan mata brahmana itu, dan menggosok kepalanya yang memar dengan minyak. Saat brahmana itu pergi, penggoda itu diseludupkan keluar melalui keranjang bunga oleh wanita tua tersebut. Dengan cara itu ia dibawa keluar dari rumah tersebut. Penggoda itu segera menemui raja dan menceritakan semua petualangannya.

Karena itu, saat kedatangan pendeta itu yang berikutnya, raja mengusulkan sebuah permainan dengan menggunakan dadu. Pendeta itu menyetujuinya, maka meja dadu dibawa keluar. Saat raja melemparkan dadu, ia melantunkan lagu lamanya, dan brahmana itu, — tidak mengetahui keburukan gadis tersebut — menambahkan kata ‘selalu kecuali gadis saya,’ — namun ia kalah!

Sang raja, yang mengetahui apa yang tidak diketahui oleh pendetanya itu, berkata, “Mengapa kecuali dia? Kesuciannya telah diberikan. Ah, impianmu mengambil seorang gadis sejak ia dilahirkan dan menempatkan tujuh lapis penjagaan padanya, membuat engkau merasa percaya kepadanya. Mengapa? Kamu tidak bisa percaya pada seorang wanita, bahkan jika engkau selalu menempatkannya di dalam dan selalu berjalan bersamanya. Tidak ada wanita yang setia pada satu orang pria saja. Mengenai gadismu, ia mengatakan ia ingin menari dan menutup matamu saat engkau memainkan kecapi untuknya; ia membiarkan kekasih gelapnya memukul kepalamu, kemudian menyelundupkannya keluar dari rumah. Dengan demikian, dimana pengecualian itu?” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, raja mengulangi syair berikut ini : — Dengan mata tertutup, seorang pemain kecapi, diperdaya oleh istrinya, Brahmana itu duduk, — ia yang mencoba menumbuhkan kebajikan yang tanpa noda — Wanita itu belajar secara diam-diam untuk melakukan itu.

Dengan cara bijaksana Bodhisatta menguraikan kebenaran pada pendeta tersebut. Ia pulang dan menuduh gadis itu atas kejahatan yang dituduhkan padanya. “Suamiku, siapa yang telah mengatakan hal seperti itu tentangku?” tanyanya.

“Saya tidak bersalah; benar-benar tanganku sendiri, bukan tangan orang lain yang memukulmu. Jika engkau tidak percaya padaku, saya cukup berani untuk disiksa dengan api, untuk membuktikan bahwa tidak ada tangan lelaki lain yang menyentuhmu, selain tanganku sendiri, sehingga saya bisa membuatmu percaya padaku.” “Kalau begitu, lakukanlah hal itu,”

jawabnya. Ia meminta agar sejumlah kayu disediakan dan menyalakan api dengan kayu-kayu itu. Kemudian gadis itu dipanggil, “Sekarang,” kata pendeta tersebut, “jika engkau percaya pada kisah yang engkau ceritakan sendiri, tantanglah kobaran api ini!”

Sebelumnya, gadis itu telah memberi perintah sebagai berikut pada dayangnya, “Sampaikan pada anakmu, Bu, untuk berdiri di sana dan tangkap tanganku saat aku akan masuk ke dalam kobaran api.” Perempuan tua itu melakukan apa yang diperintahkan padanya. Maka penggoda wanita itu datang dan berdiri di antara keramaian itu. Kemudian, untuk menipu suaminya, gadis tersebut berdiri di sana, di hadapan semua orang, berseru dengan penuh semangat, “Tidak ada tangan lelaki lain selain tanganmu, Brahmana, yang pernah menyentuhku; Melalui kebenaran pernyataanku saya akan meminta api ini untuk tidak menyakitiku.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia melangkah maju ke arah tumpukan kayu yang sedang menyala itu, — saat itu juga kekasih gelapnya menyerbu naik dan menarik tangannya, sambil berseru betapa memalukannya seorang brahmana bisa memaksa seorang gadis masuk ke dalam kobaran api! Mengibaskan tangannya, gadis itu berseru kepada brahmana itu bahwa apa yang telah dinyatakannya tidak berlaku lagi, sekarang ia tidak berani menghadapi kobaran api itu lagi. “Mengapa tidak?” tanya brahmana itu. “Karena,” jawab gadis itu, “pernyataan saya adalah tidak ada tangan lelaki lain selain tanganmu yang pernah menyentuhku; sekarang di sini, ada seorang lelaki yang menyentuh tanganku!” Namun brahmana yang mengetahui bahwa ia telah ditipu, mengusirnya pergi dengan tamparan.

Seperti itulah, kita ketahui, keburukan dari seorang wanita. Kesalahan apa yang tidak bisa mereka ucapkan; untuk menipu suaminya, sumpah apa yang tidak bisa mereka ucapkan — yah, di siang hari — mereka tetap akan melakukannya!

Betapa penuh kepalsuannya mereka. Karena itu dikatakan : — Nafsu indriawi terdiri dari kejahatan dan tipu muslihat, tidak bisa diketahui, tidak pasti seperti jalur Ikan-ikan di dalam air, — kaum wanita mempertahankan kebenaran sebagai kebohongan, dan kebohongan sebagai kebenaran!

Setamak sapi-sapi yang mencari padang rumput baru, Wanita, tidak bisa dikenyangkan, berhasrat pada pasangan demi pasangan.

Seperti pasir yang tidak stabil, kejam seperti ular, wanita mengetahui semua hal; Tidak ada yang bisa disembunyikan dari mereka!

____________________

“Adalah hal tidak mungkin untuk menjaga seorang wanita,” kata Sang Guru. Setelah uraian-Nya berakhir, Beliau membabarkan Dhamma, di akhir khotbah, bhikkhu yang (tadinya) gelisah itu memenangkan phala tingkat kesucian Sotāpanna. Sang Guru kemudian mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata: — “Pada masa itu Saya adalah Raja Benares.”

 

Sumber: ITC, Jataka 1

March 30, 2012

ASĀTAMANTA JĀTAKA

Filed under: 051-100 — hansen @ 4:32 am
Tags: ,

pict source

 

“Dalam hasrat yang tidak terkendali,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang menyesal dikarenakan nafsu indriawinya. Cerita pembukanya berhubungan dengan Ummadanti-Jātaka. Namun kepada bhikkhu ini Sang Guru berkata, “Wanita, Bhikkhu, adalah makhluk yang penuh nafsu, tidak bermoral, keji dan hina. Mengapa engkau menyesal dikarenakan nafsu terhadap wanita yang keji?” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

___________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang brahmana di Kota Takkasilā di Negeri Gandhāra. Setelah dewasa, hal-hal seperti keahliannya dalam Tiga Weda dan semua pencapaiannya, membuat ketenarannya sebagai seorang guru tersebar ke seluruh dunia. Pada masa itu terdapat sebuah keluarga brahmana di Benares, dimana seorang anak lelaki terlahir. Pada hari kelahiran anak tersebut, orang tuanya menyalakan api dan menjaga agar api tersebut tetap menyala, hingga anak tersebut berusia enam belas tahun. Kemudian mereka memberitahunya bagaimana api tersebut, yang dinyalakan pada hari kelahirannya, tidak pernah diizinkan untuk padam; mereka meminta ia untuk menentukan pilihan hidupnya. Jika ia memilih untuk memasuki alam brahma setelah meninggal nanti, ia harus membawa api tersebut masuk ke dalam hutan, di sana ia akan melepaskan semua hasratnya melalui pemujaan tanpa henti pada Raja Api. Namun, jika ia memilih kebahagiaan dengan tetap berada di rumah, mereka meminta agar ia pergi ke Takkasilā dan belajar di bawah bimbingan seorang guru yang sangat terkenal, dengan tujuan agar ia duduk mengurusi tanah milik mereka. “Saya pasti akan gagal dalam pemujaan terhadap Dewa Api,” kata brahmana muda itu, “Saya akan menjadi seorang tuan tanah saja.” Maka ia mohon diri pada ayah dan ibunya; dengan membawa seribu keping uang sebagai bayaran kepada gurunya, ia berangkat ke Takkasilā. Di sana ia menyelesaikan pendidikannya, setelah itu ia pulang kembali ke rumahnya.

Saat itu, orang tuanya berharap agar ia meninggalkan keduniawian dan memuja Dewa Api di dalam hutan. Karena itu ibunya, dalam keinginan untuk mengirim putranya ke dalam hutan berusaha membuat anaknya mengetahui keburukan wanita. Ia merasa yakin guru putranya yang bijaksana dan terpelajar dapat memaparkan tentang nafsu indriawi kepadanya; maka ia bertanya apakah putranya benar-benar telah menyelesaikan pendidikannya. “Benar,” jawab anak muda tersebut.

“Kalau begitu, kamu pasti telah mempelajari tentang Naskah Penderitaan?”

“Saya belum mempelajari hal tersebut, Bu.”

“Kalau begitu, bagaimana bisa kamu katakan pendidikanmu telah selesai? Kembalilah ke sana, ke tempat gurumu berada dan kembali kemari setelah engkau mempelajari hal tersebut,” kata ibunya.

“Baik,” jawab anak muda itu, dan sekali lagi ia berangkat ke Takkasilā. Gurunya masih mempunyai seorang ibu; — seorang wanita yang berusia seratus dua puluh tahun; — Bodhisatta menggunakan sepasang tangannya untuk memandikan, memberi makan dan merawatnya. Karena melakukan hal tersebut, ia dicemooh oleh para tetangganya, — begitu banyak yang bersungguh-sungguh mengatainya sehingga ia memutuskan untuk pergi ke hutan dan menetap di sana bersama ibunya. Karena itu, dalam hutan yang sunyi, ia mendirikan sebuah pondok di suatu tempat yang menyenangkan, dimana terdapat air dalam jumlah yang banyak. Setelah menyimpan persediaan biji-bijian, beras dan perbekalan lainnya, ia membawa ibunya ke rumah barunya dan di sana, mereka hidup dengan bahagia sambil menghabiskan hari tua ibunya.

Tidak menemukan gurunya di Takkasilā, brahmana muda itu bertanya kepada orang-orang, akhirnya ia mengetahui apa yang telah terjadi, ia pun berangkat ke hutan, dan melapor dengan penuh hormat di hadapan gurunya. “Apa yang membuat kamu kembali secepat ini, Anakku?” tanya gurunya. “Saya tidak merasa, Guru, kalau saya telah mempelajari Naskah Kesedihan saat berguru padamu,” jawab anak muda itu. “Siapa yang mengatakan bahwa engkau harus mempelajari Naskah Kesedihan ?”

“Ibu saya, Guru,” jawabnya. Bodhisatta menyadari tidak pernah ada naskah seperti itu, ia menyimpulkan bahwa ibu muridnya itu pasti menginginkan anaknya mempelajari bagaimana buruknya seorang wanita. Maka ia berkata kepada anak muda tersebut hal itu bukan masalah, ia akan mengajari naskah tersebut dalam bentuk pertanyaan. “Mulai hari ini,” katanya, “engkau harus menggantikan tugasku berkenaan dengan ibuku. Dengan sepasang tanganmu, mandikan, beri makan dan jagalah dia. Saat engkau menggosok tangan, kaki, kepala dan punggungnya, berserulah dengan penuh perhatian, ‘Ah, Nyonya, jika di usia setua ini saja engkau semenarik ini, apa yang tidak engkau miliki di masa jayamu sewaktu masih muda?’.

Saat engkau mencuci dan memberi wewangian pada tangan dan kakinya, pujilah kecantikan anggota tubuhnya itu. Selanjutnya, sampaikan padaku, tanpa perlu merasa malu atau menyembunyikan setiap ucapan ibu saya yang ia sampaikan kepadamu.

Patuhi aku dalam hal ini, maka engkau akan menguasai naskah kesedihan; jika melanggar perintah saya, engkau tidak akan pernah mengetahui isi naskah tersebut hingga selama-lamanya.”

Patuh pada perintah gurunya, anak muda itu melakukan semua hal yang diminta untuk dilaksanakan olehnya, ia secara terus menerus memuji kecantikan wanita tua itu sehingga wanita tua itu berpikir anak muda itu telah jatuh cinta kepadanya; walaupun telah begitu buta dan jompo, nafsu indriawi berkobar di dalam dirinya. Maka suatu hari ia menerobos masuk ke tempat anak muda itu dan bertanya padanya, “Apakah engkau menyukaiku?” “Benar, Nyonya,” jawab anak muda itu, “Namun guruku orang yang sangat tegas.” “Jika engkau menyukaiku,” katanya, “bunuhlah anakku!” “Bagaimana saya bisa, setelah belajar begitu banyak hal darinya, — bagaimana bisa demi nafsu indriawi, saya membunuh guru saya?” “Kalau begitu, jika engkau akan setia pada saya, saya yang akan membunuhnya sendiri.”

(Begitu penuh nafsu, keji dan hinanya seorang wanita, yang menyerah di bawah kendali nafsu indriawi, seorang wanita tua yang buruk rupa dan hati, seorang wanita setua dia, haus

akan darah seorang anak yang begitu patuh kepadanya!)

Brahmana muda tersebut menceritakan semua kejadian itu kepada Bodhisatta, yang memerintahkannya untuk menyampaikan hal tersebut kepadanya. Bodhisatta mengamati masih berapa lama lagi ibunya dapat hidup. Melihat bahwa sudah takdir ibunya untuk meninggal dalam waktu yang dekat, ia berkata, “Ayo, Brahmana muda; Saya akan memberikan ujian baginya.” Ia menebang sebatang pohon ara dan membentuk sebuah sosok yang mirip dengan dirinya dengan menggunakan kayu tersebut.

Kemudian ia membungkus kayu itu, kepala dan semuanya, dalam sebuah jubah dan membaringkan kayu tersebut di ranjangnya sendiri, — dengan seutas tali yang ia ikatkan pada kayu tersebut. “Sekarang pergilah untuk menemui ibu saya dengan membawa sebuah kapak,” katanya, “dan berikan benang ini padanya untuk membimbing langkahnya.”

Pergilah anak muda tersebut menemui wanita tua itu dan berkata, “Nyonya, guru sedang berbaring di kamar tidurnya; saya telah mengikat seutas benang sebagai petunjuk untuk membantumu; Ambil kapak ini dan bunuh dia jika engkau bisa.” “Kamu tidak akan meninggalkan saya, bukan?” tanya wanita tua itu. “Mengapa saya akan melakukannya?” jawab anak muda tersebut. Wanita tua tersebut mengambil kapak itu, kemudian bergerak dengan anggota tubuh yang gemetaran, mencari arah melalui benang tersebut, hingga ia merasa ia telah menyentuh anaknya. Kemudian ia melihat sebentuk kepala, dan — berpikir

untuk membunuh anaknya dengan satu serangan saja — ia menjatuhkan kapak tersebut tepat di kerongkongan sosok tersebut. — Dari suara gedebuk itu, ia tahu bahwa potongan itu adalah kayu! “Apa yang sedang engkau lakukan, Bu?” tanya Bodhisatta. Diiringi pekikan karena telah dikhianati, wanita itu jatuh dan meninggal dunia. Menurut kisah yang disampaikan secara turun temurun, sudah merupakan takdir wanita itu bahwa ia akan meninggal dalam waktu dekat, dan di bawah atap rumahnya sendiri.

Melihat ibunya telah meninggal, anaknya membakar jasadnya, dan ketika api dari tumpukan itu telah padam, ia memberikan penghormatan dengan menggunakan bunga-bunga.

Bodhisatta dan brahmana muda itu duduk di ambang pintu gubuknya, ia berkata, “Anakku, tidak ada yang namanya ‘Naskah Kesedihan’. Wanita merupakan perwujudan dari keburukan moral. Ketika ibumu mengirim engkau kembali kepadaku untuk mempelajari Naskah Kesedihan, tujuan ibumu yang sebenarnya adalah agar engkau belajar tentang keburukan wanita. Engkau telah melihat sendiri kejahatan ibu saya. Dari sana engkau bisa melihat betapa wanita itu dipenuhi nafsu dan juga keji.” Dengan uraian tersebut, ia mengirim anak muda itu kembali ke rumahnya. Setelah mengucapkan perpisahan kepada gurunya, brahmana muda itu kembali ke rumahnya untuk menemui orang tuanya. Ibunya bertanya kepadanya, “Apakah sekarang kamu telah menguasai Naskah Kesedihan?”

“Sudah, Bu.”

“Dan apa,” tanya ibunya, “pilihan akhirmu? Apakah kamu akan meninggalkan keduniawian untuk memuja Raja Api, atau kamu akan memilih kehidupan berkeluarga?” “Tidak,” jawab brahmana muda itu; “Dengan mata kepalaku sendiri aku telah melihat keburukan seorang wanita; Saya tidak akan terlibat di dalamnya. Saya akan meninggalkan keduniawian.” Pendiriannya terlihat jelas dalam syair berikut ini : —

Wanita itu tidak terkendali dalam nafsu indriawi, seperti api yang siap melahap (apa saja), tidak terkendali dalam kemarahan.

Dengan meninggalkan nafsu indriawi, saya akan menghentikan kelemahan ini menemukan kedamaian dalam pertapaan.

Diiringi dengan celaan terhadap kaum wanita, brahmana muda itu meninggalkan orang tuanya, dan meninggalkan keduniawian untuk menjalani hidup sebagai seorang petapa. — Dimana ia mendapatkan kedamaian yang diinginkannya, ia yakin dirinya akan memasuki alam brahma setelah meninggal dunia nantinya.

____________________

“Engkau lihat, Bhikkhu,” kata Sang Guru, “bagaimana wanita itu penuh dengan nafsu indriawi, keji dan merupakan sumber kesengsaraan.” Setelah mengumumkan keburukan wanita, Beliau membabarkan Empat Kebenaran Mulia, pada akhir khotbah bhikkhu tersebut memenangkan phala dari tingkat kesucian Sotāpanna. Terakhir, Sang Guru mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Kāpilāni adalah ibu di masa itu, Mahā-Kassapa adalah ayahnya, Ānanda adalah siswa itu dan Saya sendiri adalah guru tersebut.”

Sumber: ITC

Next Page »

The Rubric Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.