cerita-jataka

April 3, 2010

Riwayat Hidup Raja Asoka

Kegiatan Sehari-Hari Raja Asoka

Perdana Menteri Canakka menggambarkan kebiasaan sehari-hari Raja Candagutta, kakek Raja Asoka, sebagai berikut: Raja bangun pada jam 3 pagi dan sampai jam 3.30 memeriksa berbagai hal yang berkaitan dengan kerajaan dan mengambil keputusan. Ia lalu menerima pemberkahan dari para guru dan pertapa serta menemui para tabib dan pejabat dapurnya. Ia kemudian menuju aula istana dan membahas pendapatan dan pengeluaran kerajaan di hari sebelumnya dari jam 6 sampai dengan jam 7 pagi. Dari jam 7.30 ia mengadakan tanya jawab dengan orang-orang yang datang untuk menemuinya karena hal yang mendesak dan mempertimbangkan pengabdian mereka. Ia mengundurkan diri untuk mandi pada jam 9 pagi. Setelah mandi, beribadah, dan makan pagi, ia menemui pejabat kerajaan pada jam 10.30 dan mengeluarkan perintah tentang berbagai masalah. Sepanjang siang hari ia mengadakan pertemuan dengan dewan menteri dan membahas berbagai masalah kenegaraan. Setelah beristirahat antara jam 1.30 sampai dengan jam 3 siang, ia memeriksa berbagai divisi armada perangnya. Setelah itu ia menerima laporan dari para utusan dan mata-mata yang datang dari berbagai daerah di kerajaan Magadha dan dari kerajan lain.

Raja Asoka, seperti juga ayahnya, mengikuti kebiasaan yang dilakukan kakeknya ini. Selain itu, Raja Asoka meyakini bahwa kemakmuran rakyatnya juga merupakan kemakmurannya sehingga ia menunjuk pejabat untuk melaporkan padanya kesejahteraan dan penderitaan rakyatnya. Mereka dapat memberikan laporan tersebut kapan pun tak peduli apakah raja sedang makan, bersenang-senang dengan para permaisuri, tidur, atau pun melakukan urusan lainnya dan di mana pun ia berada. Setiap saat raja berusaha memikirkan dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Tiga Puluh Tujuh Tahun Memerintah Magadha

Tahun Keempat

Raja Asoka mengenal ajaran Buddha karena pertemuannya dengan Samanera Nigrodha yang tak lain adalah keponakannya sendiri yang tidak ia ketahui. Pada tahun ini juga adik raja, Pangeran Tissa, meninggalkan keduniawian dan menjadi bhikkhu bersama dengan Aggibrahma, suami Putri Sanghamitta.

Tahun Kelima

Raja membangun delapan puluh empat ribu vihara setelah mendengar terdapat delapan puluh empat ribu bagian dalam ajaran Buddha dari Bhikkhu Tissa Moggaliputta.

Tahun Keenam

Pangeran Mahinda menjadi bhikkhu dan Putri Sanghamitta menjadi bhikkhuni.

Tahun Kedelapan

Perang Kalinga terjadi pada tahun ini dan menjadi perang terakhir Raja Asoka yang kemudian mengubah kebijakan pemerintahannya untuk penyebaran Dhamma.

Tahun Kesepuluh

Raja mengunjungi Sambodhi, tempat Sang Buddha mencapai Penerangan Sempurna dan mulai mengajarkan Dhamma kepada orang-orang.

Tahun Keduabelas

Pada tahun ini raja mulai memahatkan maklumatnya yang berisi pesan-pesan Dhamma pada batu dan tugu batu; para pejabat yukta, rajjuka, dan pradesika diperintahkan untuk berkeliling setiap lima tahun untuk pengajaran Dhamma dan urusan pemerintahan lainnya. Raja juga mendanakan gua Banyan dan gua Khalatika kepada para pertapa Ajivaka.

Tahun Ketigabelas

Pejabat Dhamma (Dhamma mahamatra) dibentuk pada tahun ini.

Tahun Kempatbelas

Sebuah stupa yang didirikan di tempat kelahiran Buddha Konagamana (Kanakamuni) dipugar dan diperluas menjadi dua kali ukuran semula atas perintah Raja Asoka.

Tahun Ketujuhbelas

Raja melibatkan diri dalam membersihkan Sangha dari para pengikut ajaran lain atas bantuan Bhikkhu Tissa Moggaliputta; Konsili Buddhis III yang dihadiri seribu orang bhikkhu dan dipimpin oleh Bhikkhu Tissa Moggaliputta terjadi pada tahun ini.

Tahun Kedelapanbelas

Bhikkhu Tissa Moggaliputta mengirimkan sejumlah bhikkhu sebagai Dhammaduta ke berbagai wilayah di sekitar kerajaan Magadha. Raja Devanampiya Tissa dinobatkan menjadi raja Sri Lanka menggantikan ayahnya dan mengirimkan utusan ke Pataliputta; Bhikkhu Mahinda menyebarkan Buddha Dhamma ke Sri Lanka tujuh bulan setelah Konsili Buddhis III diadakan.

Tahun Kesembilanbelas

Bhikkhuni Sanghamitta pergi ke Sri Lanka untuk mendirikan Sangha Bhikkhuni dengan membawa serta cabang pohon Bodhi untuk ditanam di Anuradhapura.

Tahun Keduapuluh

Raja mengunjungi Lumbini, tempat kelahiran Buddha Sakyamuni, dan membangun pilar batu untuk menandai kedatangannya. Kunjungan ke stupa Buddha Kanakamuni juga terjadi pada tahun yang sama.

Tahun Keduapuluh Enam

Bhikkhu Tissa Moggaliputta wafat pada tahun ini. Raja Asoka memerintahkan para pejabat rajjuka untuk bekerja demi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyatnya dengan menegakkan hukum seadil-adilnya; para tahanan yang akan dihukum mati diberikan penundaan hukuman selama tiga hari untuk bertemu dengan keluarganya dan melakukan kebajikan demi kelahiran yang akan datang.

Selain itu, pada tahun yang sama raja mengeluarkan perintah untuk melindungi berbagai hewan dan tidak menyakiti hewan-hewan tertentu seperti ikan, kerbau, biri-biri, babi, kuda, dan lain sebagainya pada hari tertentu.

Tahun Keduapuluh Tujuh

Penulisan prasasti Raja Asoka terakhir yang dapat diketahui angka tahunnya terjadi pada tahun ini.

Tahun Keduapuluh Sembilan

Ratu Asandhimitta meninggal dunia.

Tahun Ketigapuluh Dua

Ratu Tissarakkha diangkat menjadi permaisuri utama.

Tahun Ketigapuluh Empat

Ratu Tissarakkha menyebabkan kematian pohon Bodhi yang kemudian dapat kembali diselamatkan.

Tahun Ketigapuluh Tujuh

Setelah mengalami masa tua yang menyedihkan, Raja Asoka meninggal dunia pada usia tujuh puluh dua tahun.

Hari-Hari Terakhir Raja Asoka

Suatu hari Raja Asoka menanyakan kepada para bhikkhu tentang siapakah pendana terbesar yang pernah ada dalam ajaran Buddha. Para bhikkhu menjawab bahwa Anathapindika yang telah berdana sebanyak seribu juta keping emas kepada Sangha adalah pendana terbesar yang pernah ada. Raja sendiri telah menghabiskan sembilan ratus enam puluh juta keping emas untuk pembangunan vihara di seluruh Jambudipa dan berharap dapat berdana lebih banyak lagi agar dapat melebihi kedermawanan Anathapindika.

Namun pada masa-masa tuanya kekayaan kerajaan mulai berkurang dan takut tidak dapat memenuhi tujuannya, raja mengirim sedikit demi sedikit keping emas untuk didanakan kepada Sangha.

Waktu itu Pangeran Sampadi (Samprati), putra Pangeran Kunala, telah dijadikan putra mahkota. Penasehat sang pangeran memberitahukan padanya bahwa raja tengah menghambur-hamburkan kekayaan kerajaan dan hal ini harus dicegah. Pangeran lalu memerintahkan bendaharawan kerajaan untuk tidak mengeluarkan dana lagi. Raja pun mulai mendanakan piring emas yang ia gunakan ke vihara. Mengetahui hal ini, pangeran juga mengeluarkan larangan untuk mendanakan piring emas. Raja hanya dilayani dengan piring perak dan ia memberikan piring perak ini sebagai dana ke vihara yang kemudian juga dilarang oleh cucunya. Walaupun piring perak kemudian diganti dengan piring tembaga dan piring tembaga diganti dengan piring tanah liat, raja tetap mendanakannya kepada Sangha.

Akhirnya Raja Asoka tidak memiliki apa pun untuk diberikan kepada Sangha; apa yang tersisa hanyalah separuh buah myrobalan (amlaka). Dengan memegang buah tersebut di tangannya, raja memanggil semua menterinya dan bertanya kepada mereka,

“Siapakah penguasa dunia ini sekarang?”

Semua menteri bersujud kepada raja dan mengatakan bahwa penguasa tersebut tak lain adalah raja sendiri. Tetapi raja dengan berlinang air mata berkata, “Kalian berbohong untuk menghibur aku. Satu-satunya benda yang tersisa dalam kekuasaanku adalah separuh buah amlaka ini. Menyedihkan! O menyedihkan seorang raja yang bagaikan air luapan di mulut sungai! Perintahku dipandang rendah bagaikan sungai yang dibelokkan oleh sebuah karang terjal. Seperti pohon asoka dengan bunga-bunga yang telah dipetik, daun-daunnya telah layu dan berguguran, aku sang raja meredup.”

Kemudian raja memanggil seseorang yang lewat dan berkata, “Sobatku, walaupun telah jatuh dari kekuasaan, lakukanlah tugas terakhir ini untukku, dengan memandang kebajikanku masa lalu. Bawalah separuh buah amlaka ini dan berikan ke vihara atas namaku dengan mengatakan: Saya memberikan kebesaran saat ini dari seorang raja yang menguasai seluruh Jambudipa dan mintalah agar buah ini dibagikan sedemikian rupa sehingga dapat dinikmati oleh seluruh perkumpulan bhikkhu.”

Orang tersebut dengan patuh melakukan apa yang diminta dan memberikan separuh buah amlaka itu ke vihara dengan berkata, “Ia yang sebelumnya menguasai dunia, bersinar bagaikan matahari di tengah hari, sekarang diperdaya oleh karmanya sendiri dan menemukan bahwa kejayaannya telah menghilang bagaikan terbenamnya matahari di waktu senja.”

Kepala vihara kemudian berkata kepada para bhikkhu: “Raja para manusia telah berubah dari raja atas Jambudipa menjadi raja atas separuh buah amlaka, yang ia persembahkan sebagai teguran kepada mereka yang menginginkan untuk menikmati kemuliaan seorang raja. Hari ini kita dapat menunjukkan perasaan menghargai karena kemalangan orang lain adalah kesempatan untuk berbuat kebajikan.” Lalu ia menyuruh buah amlaka itu dilumatkan, dimasukkan ke dalam sup, dan dibagikan kepada para anggota Sangha.

Di istana Raja Asoka bertanya kepada perdana menterinya, “Katakan padaku, Radhagupta, siapakah sekarang penguasa dunia ini?”

Menjatuhkan diri pada kaki raja, Radhagupta menjawab, “Yang Mulia adalah penguasa dunia ini.”

Kemudian raja berusaha untuk berdiri dengan kedua kakinya, memandang ke keempat arah mata angin, dan menyatakan: “Dengan pengecualian kekayaan kerajaan, aku mendanakan kepada Sangha bumi ini bersama gunung Mandara dan pakaiannya yang biru tua (lautan) dan mukanya yang dihiasi dengan banyak permata. Dengan dana ini, aku tidak mencari kelahiran kembali di surga atau bahkan yang lebih rendah di bumi sebagai raja. Karena aku memberikannya dengan keyakinan, aku akan mendapatkan buahnya, sesuatu yang tidak dapat dicuri, yang dihargai oleh para Ariya (orang mulia) dan aman dari semua perubahan, yaitu penguasaan atas pikiran.”

Setelah menuliskan wasiat ini dan mencapnya dengan giginya, Raja Asoka meninggal dunia. Ketika para menteri melakukan persiapan untuk menobatkan Pangeran Sampadi sebagai raja, Radhagupta mengingatkan bahwa Raja Asoka telah mendanakan seluruh kerajaan kepada Sangha. Saat para menteri merasa tidak memiliki apa-apa lagi, Radhagupta mengatakan bahwa telah menjadi keinginan Raja Asoka untuk berdana seribu juta keping emas kepada Sangha dan saat wafat sembilan ratus enam puluh juta telah diberikan. Untuk memenuhi tujuannya, ia mendanakan kerajaannya. Oleh sebab itu, para menteri memberikan empat puluh juta keping emas kepada Sangha dan mendapatkan kembali kerajaan untuk menobatkan raja baru.

Akhir Dinasti Moriya

Setelah kematian Raja Asoka, kerajaan Magadha mulai terpecah-pecah karena sebab yang tidak jelas. Perebutan kekuasaan terjadi antara kedua cucu Raja Asoka, Pangeran Sampradi dan Pangeran Dasaratha, yang kemudian membagi kerajaan menjadi dua. Wilayah kerajaan berkurang hingga hanya tersisa di lembah sungai Gangga dan akhirnya sekitar lima puluh tahun kemudian raja terakhir dinasti Moriya bernama Brhadrata dibunuh oleh panglima perangnya sendiri, Pusyamitra Sunga, yang kemudian mendirikan dinasti Sunga.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

Ariyakumara

April 1, 2010

Riwayat Hidup Raja Asoka (8)

BAB 6 MASA-MASA AKHIR PEMERINTAHAN RAJA ASOKA

Karma Baik Ratu Asandhimitta Berbuah

Ratu Asandhimitta merupakan salah satu permaisuri Raja Asoka yang diangkat sebagai permaisuri utama. Suatu hari raja melihat sang ratu sedang menikmati makanan surgawi, yang dibawakan oleh para dewa karena karma baik raja, dan dengan bercanda raja mengejek ratu karena memakan sesuatu yang bukan berasal dari karma-nya sendiri.

Ejekan ini menyinggung perasaan ratu; ia merasa bahwa raja berpikir ia tidak memiliki jasa kebajikan. Ia balas menjawab bahwa semua yang ia nikmati berasal dari jasa kebajikannya sendiri.

Kemudian raja yang meragukan pernyataan ratu tersebut meminta ratu mendapatkan enam puluh ribu jubah untuk didanakan kepada Sangha keesokan harinya. Ratu tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan jubah sebanyak itu. Namun pada tengah malam para dewa datang kepadanya dan mengatakan agar ratu tidak perlu cemas, karena pada kehidupan lampau ia telah memberikan jubah kepada seorang Pacceka Buddha dan hasil jasa kebajikan ini sangat besar. Keesokan harinya ratu secara ajaib dapat menyediakan enam puluh ribu jubah saat dibutuhkan.

Raja Asoka sangat terkesan dengan kejadian ini dan menjadikan Ratu Asandhimitta sebagai permaisuri kesayangannya bahkan memberikan kekuasaan raja kepadanya. Ia menolak hak istimewa ini karena ini dapat menimbulkan kecemburuan dari para istri raja lainnya yang berjumlah enam belas ribu orang.

Untuk menghilangkan kecemburuan dari para wanita lain di harem, raja mengadakan pengujian jasa kebajikan yang kedua kalinya untuk Ratu Asandhimitta. Ia menyediakan enam belas ribu kue yang sama persis di mana salah satu berisi tanda kerajaan miliknya dan meminta semua istrinya termasuk Ratu Asandhimitta untuk memilih salah satu dari kue-kue tersebut lalu memecahnya menjadi dua bagian. Semua permaisuri raja melakukannya dan Ratu Asandhimitta mendapatkan kue terakhir yang tersisa. Namun ternyata kue tersebut berisi tanda kerajaan. Raja Asoka kemudian menyatakan kepada para istrinya tentang jasa kebajikan Ratu Asandhimitta yang besar dan menegur secara halus para permaisuri lainnya karena kecemburuan mereka.

Raja pun memberikan sang ratu kekuasaan sebagai raja selama tujuh hari, tetapi ratu menolaknya dan tetap mematuhi dan melayani suaminya sebagai istri yang baik. Selain itu, ratu juga sering mendengarkan Dhamma dan menjalankan sila.

Ratu Tissarakkha Berusaha Menghancurkan Pohon Bodhi

Pada tahun keduapuluh sembilan masa pemerintahan Raja Asoka, Ratu Asandhimitta meninggal dunia dan empat tahun kemudian Ratu Tissarakkha diangkat sebagai permaisuri utama. Pada masa-masa ini Raja Asoka semakin taat melakukan penghormatan kepada pohon Bodhi hingga ia memerintahkan agar permata-permata yang terbaik dikirimkan untuk persembahan kepada pohon Bodhi.

Namun Ratu Tissarakkha menyangka pohon Bodhi adalah wanita lain yang disukai oleh raja. Ia berpikir, “Walaupun aku adalah permaisuri utama di istana dan raja memuaskan kesenangannya bersama diriku, tetapi ia mengirimkan semua permata yang terbaik kepada wanita lain yang bernama Bodhi.” Oleh sebab itu ia memanggil wanita Matanga yang terkenal sebagai ahli sihir untuk menghancurkan “Bodhi”, saingannya tersebut. Setelah diberikan sejumlah uang, wanita Matanga tersebut mengucapkan mantra-mantra lalu mengikatkan seutas benang pada pohon Bodhi; perlahan-lahan pohon Bodhi pun menjadi layu.

Kabar bahwa pohon Bodhi layu dan mengering menyebabkan Raja Asoka jatuh pingsan. Setelah sadar, raja dengan terisak-isak berkata, “Ketika aku melihat raja pepohonan tersebut, aku tahu aku sedang melihat Sang Buddha itu sendiri. Jika itu pohon Sang Guru itu mati, aku juga pasti berakhir!”

Ketika melihat raja diliputi kesedihan, Ratu Tissarakkha berkata, “Yang Mulia, bahkan jika Bodhi benar-benar meninggal, bukankah masih ada aku yang dapat memberikan kesenangan kepada Baginda?”

“Wanita bodoh! Bodhi bukan wanita, melainkan pohon di mana Yang Dirahmati mencapai Penerangan Sempurna yang tiada bandingnya.”

Akhirnya Ratu Tissarakkha menyadari kesalahannya. Ia memanggil kembali sang wanita Matanga dan menanyakan apakah mungkin untuk mengembalikan kondisi pohon Bodhi seperti semula. “Jika masih terdapat beberapa tanda kehidupan yang tersisa, aku dapat menghidupkannya kembali,” jawab wanita penyihir tersebut.

Kemudian wanita Matanga itu melepaskan ikatan benang di sekeliling pohon Bodhi, menggali tanah di sekelilingnya, dan menyiraminya dengan seribu kendi susu setiap hari; setelah beberapa lama pohon Bodhi tumbuh seperti semula. Kabar ini membuat raja kembali bergembira.

Pangeran Kunala Menjadi Buta

Pada hari Raja Asoka membangun delapan puluh empat ribu stupa, salah satu permaisurinya yang bernama Padmavati melahirkan seorang putra yang matanya sangat indah. Anak tersebut kemudian diberi nama Kunala yang diambil dari nama burung Himalaya yang memiliki mata yang indah. Setelah dewasa Pangeran Kunala menikahi Putri Kancanamala. Saat berkunjung ke vihara, pangeran bertemu dengan Bhikkhu Yasa yang mengetahui masa depan sang pangeran dan menyarankan: “Terus-meneruslah mengawasi mata anda, karena ia selalu berubah dan membuatmu melekat pada banyak penderitaan.”

Kemudian Pangeran Kunala mulai membiasakan diri duduk di tengah kesunyian dan bermeditasi pada objek mata. Suatu hari Ratu Tissarakkha, yang menemukan sang pangeran sedang sendirian, mendekatinya dan merayunya: “Ketampananmu, tubuhmu yang bagus, dan matamu yang indah membakar diriku seperti bara api yang membakar kayu.”

Pangeran ketakutan dan memohon kepada ibu tirinya agar menjauhi jalan yang tidak benar. Ratu yang marah karena ditolak menyusun rencana untuk menghancurkan sang pangeran.

Kemudian terjadilah pemberontakan di kota Takkasila dan Raja Asoka mengirim Pangeran Kunala ke sana dengan mengingat bagaimana ayahnya mengirimnya ke sana di masa lalu. Para penduduk Takkasila menyambut pangeran dan mengatakan bahwa mereka terpaksa memberontak untuk melawan para menteri yang jahat. Di Pataliputta raja jatuh sakit dan menginginkan pangeran kembali untuk dinobatkan sebagai raja baru karena ia merasa tidak ada harapan untuk sembuh. Mendengar hal ini, Ratu Tissarakkha takut akan dihukum mati oleh Pangeran Kunala jika sudah menjadi raja.

Oleh sebab itu, ratu meyakinkan raja bahwa ia dapat menyembuhkan raja asalkan raja melarang semua tabib merawat dirinya. Lalu ratu memerintahkan para tabib untuk membawakan siapa pun yang mereka temukan menderita gejala sakit yang sama seperti penyakit raja. Beberapa hari kemudian seorang tabib membawa seorang yang menderita penyakit yang sama kepada ratu. Secara diam-diam ratu membunuh orang itu dan memeriksa perutnya di mana ia menemukan seekor cacing besar. Ia mengadakan percobaan dengan berbagai obat dan menemukan bahwa bawang dapat membunuh cacing tersebut. Lalu ratu memberitahukan kepada raja untuk memakan bawang dan raja pun dapat disembuhkan. Dalam kegembiraan raja memberikan janji untuk mengabulkan semua keinginan ratu.

Maka Ratu Tissarakkha meminta kekuasaan raja selama tujuh hari; Raja Asoka khawatir, namun ratu berjanji akan mengembalikan kekuasaan tersebut setelah itu. Setelah menjadi penguasa kerajaan, ratu pertama kali berpikir untuk membalas dendam pada Pangeran Kunala. Atas nama raja, ia menulis sepucuk surat kepada penduduk Takkasila yang berisi perintah untuk mencungkil mata sang pangeran, karena ratu membenci mata indah tersebut yang telah membuatnya tergila-gila pada pangeran.

Kapan pun Raja Asoka ingin membuat titah yang dibacakan kepada khalayak umum, ia biasanya mencapnya dengan giginya. Saat raja tidur, ratu berusaha mendapatkan cap kerajaan dari gigi raja tersebut. Pada saat ratu hampir membuat raja menggigit surat perintah itu, tiba-tiba raja terbangun dan berseru, “O Ratu, aku baru saja melihat dua ekor burung bangkai yang berusaha mematuk mata Pangeran Kunala!”

“Semoga sang pangeran baik-baik saja,” kata ratu dan raja pun kembali tidur.

Untuk kedua kalinya raja terbangun dengan keringat dingin dan berkata, “Aku melihat Pangeran Kunala memasuki kota dengan janggut, rambut yang panjang, dan kuku yang panjang.”

“Semoga sang pangeran baik-baik saja,” kata ratu lagi dan raja pun kembali tertidur. Kali ini ratu berhasil mendapatkan cetakan gigi raja pada surat perintah tersebut dan mengirimkannya ke Takkasila.

Orang-orang Takkasila tidak mau mematuhi perintah raja tersebut; mereka meratap: “Siapa yang tidak akan ia benci jika ia membenci pangeran yang tenang, seorang yang bijaksana yang menginginkan kesejahteraan semua orang?” Namun Pangeran Kunala dengan tenang meminta mereka untuk menjalankan perintah tersebut.

Orang-orang candala dipanggil untuk mencungkil mata pangeran, tetapi mereka menolak untuk menghancurkan wajah pangeran yang bagaikan rembulan itu. Ketika diberikan mahkota pangeran, mereka tetap menolak untuk melakukan kejahatan tersebut. Akhirnya ada satu orang yang mau melakukannya.

Pangeran teringat akan kata-kata Bhikkhu Yasa tentang ketidakkekalan penglihatan dan berkata kepada orang tersebut, “Lakukanlah seperti yang diperintahkan Baginda Raja, karena apakah mataku dicungkil atau tidak aku telah memahami esensi dari penglihatan yang tidak kekal, penuh penderitaan, dan kosong.”

Pangeran kemudian meminta orang itu untuk mencungkil terlebih dahulu sebuah mata dan menaruhnya di tangannya. Ini dilakukan di tengah-tengah ratap tangis para penduduk, namun pangeran berkata, “Mengapa kalian tidak melihat seperti sebelumnya, O gumpalan daging yang didandani? Hanya orang bodoh yang melekat pada tubuh ini yang berpikir, Inilah diriku!. Kalian hanyalah sebuah gelembung dan orang bijaksana tidak mengejar penderitaan yang kalian timbulkan.”

Lalu pangeran meminta mata yang lain dicungkil keluar. Dengan hilangnya kedua matanya, mata kebijaksanaan timbul dalam dirinya dan ia berkata, “Walaupun ditolak oleh raja yang putranya adalah aku sendiri, aku telah menjadi putra dari Raja Dhamma. Jatuh dari kekuasaan, melompati penderitaan, aku telah mendapatkan kekuasaan kerajaan Dhamma yang mengakhiri semua penderitaan.”

Ketika mengetahui bahwa ini terjadi atas perintah Ratu Tissarakkha, Pangeran Kunala memberkati ibu tirinya tersebut dan mengharapkan semoga sang ratu panjang umur karena ratu telah mengakibatkan pencapaian kesucian batinnya. Saat istrinya menangisi bahwa mata yang memberikannya kebahagiaan telah hilang, pangeran mengatakan pada istrinya untuk tidak menangis karena perpisahan dari orang-orang yang dicintai dan penderitaan adalah keadaan dunia ini dan kehidupan manusia dibangun dari penderitaan.

Kemudian pasangan suami istri tersebut berjalan kaki menuju Pataliputta. Pangeran sangat lemah dan tidak cakap untuk bekerja keras. Ia mencari nafkah dengan memainkan alat musik vina dan bernyanyi. Mereka kembali ke ibukota, tetapi para pengawal mengusir pangeran yang berpenampilan seperti pengemis buta yang berpakaian compang-camping ketika mendekati gerbang istana. Keduanya pun tinggal di bangsal kereta dan pada malam harinya pangeran memainkan vina menyanyikan bagaimana matanya dicungkil keluar dan dengan demikian ia memiliki penglihatan atas kebenaran.

Mengenali suara nyanyian tersebut sebagai suara putranya, Raja Asoka memerintahkan para pengawal mencari Pangeran Kunala. Mereka kembali tanpa pangeran dengan mengatakan bahwa itu bukan pangeran melainkan seorang pengemis buta yang sedang bernyanyi. Teringat akan mimpinya, raja yakin bahwa itu anaknya dan memerintahkan agar sang pengemis dibawa ke hadapannya. Mulanya raja tidak dapat mengenali pangeran dalam penampilannya yang menyedihkan; pangeran harus meyakinkan raja bahwa ia benar-benar anaknya hingga akhirnya raja benar-benar yakin.

Dengan marah bercampur sedih, raja menanyakan siapa yang melakukan perbuatan yang kejam tersebut. Namun pangeran menasehati ayahnya agar tidak berduka atas apa yang telah terjadi dan menambahkan, “Buah perbuatan yang dilakukan di dunia ini adalah berasal dari diri sendiri. Bagaimana mungkin aku berkata ini dilakukan oleh orang lain?”

Tetapi raja terus mendesak dan akhirnya mengetahui bahwa ini adalah hasil perbuatan Ratu Tissarakkha. Raja bermaksud untuk menghukum ratu dengan mencungkil matanya dan memberikan siksaan lainnya, namun pangeran berkata, “Jika perbuatan ratu tidak terpuji, janganlah kita menjadi seperti itu juga. Mohon Yang Mulia tidak menghukum mati ratu karena balasan atas cinta kasih tiada bandingnya dan perbuatan memaafkan dimuliakan oleh Sang Buddha. O Baginda Raja, aku tidak merasakan sakit karena tidak ada apa-apa dalam pikiranku. Aku hanya memiliki pikiran yang berbelas kasih terhadap ratu dan jika ini benar, semoga mataku kembali pulih seperti semula!”

Seraya berkata demikian, kedua mata pangeran kembali seperti semula. Terkesan atas keajaiban ini, raja memaafkan perbuatan ratu dengan penuh cinta kasih dan belas kasih.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

Ariyakumara

March 31, 2010

Riwayat Hidup Raja Asoka (7)

Filed under: riwayat hidup raja asoka — hansen @ 5:03 am
Tags:

Persahabatan Raja Asoka dan Devanampiya Tissa

Pada masa pemerintahan Raja Asoka, Sri Lanka diperintah oleh seorang raja bernama Mutasiva yang kemudian digantikan oleh putranya, Tissa. Setelah menjadi raja, Tissa mengirimkan utusan yang membawa permata, batu-batu mulia, tiga jenis batang bambu, kulit kerang yang memutar spiral ke kanan, dan mutiara kepada Raja Asoka.

Utusan tersebut terdiri dari keponakan Raja Tissa bernama Maharittha atau Arittha yang merupakan perdana menteri kerajaan, seorang brahmana penasehat kerajaan, seorang menteri, dan seorang bendahara kerajaan. Dalam tujuh hari para utusan dari Sri Lanka tiba di Pataliputta dan menyerahkan pemberian dari raja mereka kepada Raja Asoka. Raja sangat gembira ketika menerima pemberian ini dan menganugerahkan gelar panglima tertinggi kerajaan (senapatti) kepada Maharittha, gelar penasehat kerajaan (purohita) kepada sang brahmana, gelar jenderal (dandanayaka) kepada sang menteri, dan gelar kepala saudagar (setthi) kepada sang bendahara.

Kemudian Raja Asoka mengirimkan pemberian balasan yang terdiri atas kipas, mahkota, pedang, payung, sepatu, ikat kepala, hiasan telinga, rantai, kendi, kayu cendana, pakaian, serbet, obat luka, tanah merah, air dari danau Anotatta, air dari sungai Gangga, kulit kerang, piring emas, tandu mewah, myrobalan, tanaman-tanaman obat, dan lain sebagainya. Selain itu, raja juga memberikan Dhammadana dengan mengirimkan pesan:

“Aku telah berlindung dalam Buddha, Dhamma, dan Sangha, aku telah menyatakan diriku sebagai pengikut awam dalam ajaran Sang Putra Sakya; berlindunglah, O yang terbaik di antara manusia, dengan hati yang yakin dalam permata yang paling berharga ini!” dan juga mengatakan kepada para utusan tersebut, “Nobatkan lagi sahabatku Tissa sebagai raja.”

Setelah tinggal selama lima bulan di Pataliputta, para utusan ini kembali ke Sri Lanka dan menyerahkan pemberian dari Raja Asoka serta menobatkan kembali Tissa sebagai raja sesuai dengan tradisi India45. Setelah dinobatkan sesuai dengan tradisi India, Tissa memakai gelar Devanampiya sehingga ia kemudian dikenal sebagai Devanampiya Tissa.

Penyebaran Buddha Dhamma di Sri Lanka

Ketika Bhikkhu Mahinda ditugaskan untuk menyebarkan Buddha Dhamma ke Sri Lanka, ia melihat bahwa Raja Mutasiva saat itu sudah lanjut usia dan oleh sebab itu belum tepat waktunya untuk menyebarkan Dhamma ke sana. Maka, ia memutuskan untuk mengunjungi kerabatnya di Dakkhinagira bersama dengan empat bhikkhu lainnya dan Samanera Sumana, putra Sanghamitta. Selama enam bulan mereka mengajarkan Dhamma di Dakkhinagira.

Kemudian Bhikkhu Mahinda mengunjungi ibunya, Devi, di Vedisagiri dan mengajarkan Dhamma di sana. Anak dari saudara perempuan Devi yang bernama Bhanduka mencapai tingkat kesucian Anagami ketika mendengarkan Dhamma yang diberikan sang bhikkhu kepada ibunya. Satu bulan kemudian, setelah Devanampiya Tissa dinobatkan menjadi raja Sri Lanka, rombongan Bhikkhu Mahinda ditambah dengan upasaka Bhanduka pergi dengan terbang di udara ke Missakapabbata (Mihintale) di Sri Lanka.

Saat itu Raja Devanampiya Tissa sedang bersenang-senang bersama empat puluh ribu pengikutnya di Missakapabbata dalam suatu perayaan. Melihat seekor rusa jantan yang tak lain adalah dewa yang menyamar, raja mengejar rusa tersebut hingga akhirnya ia bertemu dengan Bhikkhu Mahinda. Kemudian sang thera mengajarkan Culahatthipadopama Sutta46 kepada raja dan para pengikutnya. Pada akhir pembabaran Dhamma ini, raja dan para pengikutnya mengambil Tiga Perlindungan.

Setelah raja kembali ke kota dan berjanji akan mengundang para bhikkhu tersebut keesokan harinya ke istana, Bhikkhu Mahinda memerintahkan Samanera Sumana untuk mengumumkan ke seluruh Sri Lanka bahwa waktu mendengarkan Dhamma telah tiba dengan kekuatan batinnya. Pengumuman ini terdengar sampai ke alam brahma sehingga para dewa dari berbagai alam datang berkumpul. Bhikkhu Mahinda kemudian menguraikan Samacitta Sutta kepada perkumpulan dewa tersebut. mereka punyai sebelum mencapai tujuan akhir. Sutta ini pertama kali dikotbahkan oleh Bhikkhu Sariputta kepada perkumpulan dewa yang datang mengunjunginya.

Keesokan harinya di istana sang thera menguraikan Petavatthu, Vimanavatthu, dan Sacca Samyutta kepada Ratu Anula, adik ipar Raja Devanampiya Tissa, dan lima ratus wanita lainnya. Para wanita tersebut akhirnya mencapai tingkat kesucian Sotapanna.

Sang thera juga menguraikan Devaduta Sutta kepada para penduduk kota dan menyebabkan seribu orang di antara mereka mencapai tingkat Sotapanna. Setelah beberapa waktu Raja Devanampiya Tissa berniat membangun stupa untuk menyimpan relik Sang Buddha. Bhikkhu Mahinda mengirim Samanera Sumana kembali ke Pataliputta untuk meminta semangkuk penuh relik Sang Buddha dari Raja Asoka. Setelah mendapatkan relik dari Raja Asoka, sang samanera pergi menemui Sakka, raja para dewa, untuk meminta relik tulang selangka kanan dari cetiya Culamani di surga Tavatimsa dan sang dewa memberikannya. Relik-relik ini kemudian disemayamkan di sebuah stupa yang dikenal dengan nama Thuparama.

Kedatangan Bhikkhuni Sanghamitta dan Penanaman Pohon Bodhi di Anuradhapura Ratu Anula dan para wanita lainnya ingin ditahbiskan sebagai bhikkhuni, namun Bhikkhu Mahinda dan para bhikkhu lainnya tidak dapat menahbiskan mereka karena penahbisan bhikkhuni harus dilakukan oleh Sangha Bhikkhuni. Selain itu, Raja Devanampiya Tissa juga ingin menanam pohon Bodhi di ibukota Anuradhapura. Oleh sebab itu, Bhikkhu Mahinda meminta Raja Devanampiya Tissa mengirim pesan kepada Raja Asoka untuk mengundang Bhikkhuni Sanghamitta dan mendatangkan cabang dari pohon Bodhi.

Raja Devanampiya Tissa mengutus Arittha ke Pataliputta untuk melaksanakan tugas ini. Sesampainya di Pataliputta, Arittha dan rombongannya menemui Raja Asoka dan mengatakan tujuan kedatangan mereka. Raja Asoka sangat berat hati untuk melepaskan Bhikkhuni Sanghamitta, putrinya sendiri, apalagi setelah putranya, Bhikkhu Mahinda, dan cucunya, Samanera Sumana, telah meninggalkannya. Namun karena ini bertujuan untuk penyebaran Dhamma di Sri Lanka, Raja Asoka pun menyetujuinya.

Untuk masalah pohon Bodhi, atas saran menteri Mahadeva, raja bertanya kepada Sangha apakah cabang dari pohon Bodhi boleh dikirimkan ke Sri Lanka. Mewakili Sangha, Bhikkhu Tissa Moggaliputta menyetujui hal ini. Bersama dengan para pasukannya dan ditemani oleh perkumpulan bhikkhu,

Raja Asoka pergi menuju Bodhi Gaya dengan membawa sebuah vas untuk menaruh cabang pohon Bodhi. Setelah menghormati pohon Bodhi dengan berbagai persembahan, mengelilinginya tiga kali dengan berputar ke kiri dan bernamaskara, raja dengan sungguh-sungguh berseru, “Jika pohon Bodhi yang agung ini harus pergi menuju Lankadipa (pulau Sri Lanka) dan jika saya benar-benar kokoh tak tergoyahkan dalam ajaran Buddha, maka cabang selatan pohon Bodhi agung terpotong dengan sendirinya dan jatuh ke dalam vas emas ini.”

Secara ajaib, cabang selatan pohon Bodhi terpotong dengan sendirinya dan jatuh ke dalam vas emas yang telah disediakan. Kemudian berbagai keajaiban terjadi di sekitar pohon Bodhi. Raja sangat gembira dengan keajaiban-keajaiban ini sehingga mengadakan penghormatan besar-besaran terhadap cabang pohon Bodhi tersebut selama berminggu-minggu. Setelah itu cabang pohon Bodhi tersebut dipercayakan kepada Bhikkhuni Sanghamitta dan para bhikkhuni lainnya untuk kemudian bersama-sama dibawa Arittha ke Sri Lanka.

Kepada Arittha, Raja Asoka berpesan, “Tiga kali aku telah menghormati pohon Bodhi dengan menganugerahkan gelar raja kepadanya. Demikian juga sahabatku Tissa harus menghormatinya dengan menganugerahkan gelar raja kepada pohon Bodhi.” Lalu Arittha dan Bhikkhuni Sanghamitta menaiki kapal yang berlayar ke Sri Lanka. Tetes air mata Raja Asoka mengalir keluar ketika ia memandang cabang pohon Bodhi yang perlahan-lahan menghilang dari garis cakrawala bersama dengan putrinya tercinta. Bahkan ia terus meratap sedih setelah kembali ke istana.

Selama perjalanan menuju Sri Lanka, gelombang laut yang berjarak satu yojana di sekeliling kapal menjadi tenang, bunga-bunga teratai yang memiliki lima warna bermekaran di mana-mana dan berbagai alunan alat musik bersenandung di udara. Para dewa memberikan berbagai persembahan kepada pohon Bodhi, namun para naga berusaha merebut pohon Bodhi dari tangan Bhikkhuni Sanghamitta. Sang bhikkhuni dengan kekuatan batinnya berubah wujud menjadi burung garuda yang ditakuti para naga.

Kemudian para naga memohon agar pohon Bodhi dapat dibawa untuk dihormati di alam naga selama seminggu lalu dikembalikan kepada sang theri. Permohonan ini pun dikabulkan.

Memasuki kota dari gerbang utara, cabang pohon Bodhi dibawa melalui gerbang selatan ke tempat yang telah dipilih untuk penanamannya. Di hadapan Bhikkhu Mahinda, Bhikkhuni Sanghamitta, dan para bangsawan lainnya, Raja Devanampiya Tissa menanam pohon Bodhi pada petak yang telah ditentukan. Ratu Anula dan para wanita lainnya pun dapat ditahbiskan menjadi bhikkhuni di bawah Bhikkhuni Sanghamitta.

Demikianlah akhirnya Buddha Dhamma dapat berkembang di Sri Lanka lengkap dengan Sangha Bhikkhu dan Sangha Bhikkhuni-nya.

Mengunjungi Tempat-Tempat Suci Agama Buddha

Pada tahun keduapuluh masa pemerintahannya Raja Asoka mengunjungi tempat kelahiran Pangeran Siddharttha di Lumbini dan membangun pagar serta pilar batu untuk menandai kunjungannya ke tempat tersebut. Raja membebaskan rakyat Lumbini dari pajak dan hanya membayar seperdelapan hasil buminya kepada pemerintah.

Selain itu, raja juga mengunjungi tempat Sang Buddha pertama kali mengajarkan Dhamma di Taman Rusa Isipatana dekat Benares dan tempat Sang Buddha wafat di Kusinara. Kota Savatthi dan Vesali yang sering disinggahi Sang Buddha juga menjadi tujuan kunjungan Raja Asoka. Di setiap tempat ini ia mendirikan pilar batu dan mendanakan seratus ribu potong emas untuk pemugaran vihara dan stupa yang ada.

Tak hanya itu saja, Raja Asoka juga mendanakan sejumlah emas yang sama untuk pemugaran stupa para siswa Sang Buddha seperti Sariputta, Moggallana, Mahakassapa, dan Ananda. Namun untuk stupa Bakkula ia hanya memberikan dana yang sangat sedikit. Para menteri kebingungan atas sikap sang raja dan meminta penjelasan; raja pun menjelaskan, “Walaupun Yang Mulia Bakkula telah melenyapkan kegelapan batin dengan pelita kebijaksanaan, Beliau tidak pernah mengajarkan dua kata kepada orang-orang seperti yang dilakukan para siswa lain untuk kebaikan umat manusia, ”terutama wanita; inilah sifat yang tidak disetujui Raja Asoka yang berpandangan bahwa Dhamma harus diajarkan kepada semua orang tanpa kecuali.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

March 30, 2010

Riwayat Hidup Raja Asoka (6)

Filed under: riwayat hidup raja asoka — hansen @ 5:02 am
Tags: ,

Pengiriman Dhammaduta ke Berbagai Wilayah

Penaklukan secara Dhamma yang dilakukan Raja Asoka berhasil menyebarkan pesan-pesan Dhamma sampai menjangkau jarak enam ratus yojana jauhnya dari Pataliputta, yang meliputi sampai Siria, Mesir, Macedonia, Cyrene, dan Epirus di Yunani. Selain itu, misi penyebaran Dhamma ini juga menjangkau sampai ke selatan di wilayah Chola, Pandya, dan Sri Lanka. Di dalam negeri sendiri Dhamma telah dijalankan oleh baik oleh orang India sendiri maupun orang Yunani.

Bhikkhu Tissa Moggaliputta setelah berakhirnya Konsili Buddhis III melihat ke masa depan dan mendapatkan bahwa Buddha Dhamma dapat berkembang di luar India. Mengetahui keberhasilan Raja Asoka memperkenalkan Dhamma ke luar India, sang thera memutuskan untuk mengirimkan para Dhammaduta yang terdiri dari sejumlah bhikkhu ke negeri-negeri yang berdekatan. Para Dhammaduta tersebut adalah:

1. Bhikkhu Majjhantika memimpin misi penyebaran Buddha Dhamma ke Kasmira (Kashmir) dan Gandhara.

2. Bhikkhu Mahadeva memimpin misi ke Mahisamandala (Mysore).

3. Bhikkhu Rakkhita memimpin misi ke Vanavasa (Karnataka).

4. Bhikkhu Dhammarakkhita, orang Yona, memimpin misi ke Aparantaka (Konkan).

5. Bhikkhu Mahadhammarakkhita memimpin misi ke Maharattha (Maharashtra).

6. Bhikkhu Maharakkhita memimpin misi ke Yona (Bactria).

7. Bhikkhu Majjhima memimpin misi ke Himalaya.

8. Bhikkhu Sona dan Uttara memimpin misi ke Suvannabhumi (Thailand dan Myanmar)

9. Bhikkhu Mahinda memimpin misi ke Sri Lanka.

Saat itu di Kasmira dan Gandhara raja naga yang bernama Aravala menciptakan hujan es yang menghancurkan hasil panen dan menyebabkan banjir. Dengan kekuatan batinnya Bhikkhu Majjhantika pergi ke sana melalui udara dan berjalan di atas danau sang raja naga. Raja naga kemudian menciptakan angin puyuh, halilintar dan kilat yang menyambar ke sana-sini, menyebabkan pepohonan dan puncak gunung terlempar. Para naga lainnya menakuti-nakuti penduduk di sana dengan wujud yang menakutkan, sementara raja naga menyemburkan api dan asap.

Tetapi sang thera dengan kekuatan batinnya dapat mengatasi hal ini. Ia berkata, “Bahkan jika seluruh dunia bersama dengan para dewa datang untuk menakuti-nakuti diriku, mereka tidak akan menyamaiku (dalam kekuatan) apa pun ketakutan yang ditimbulkan di tempat ini. Walaupun jika kalian mengangkat seluruh bumi dengan samudera dan gunung-gunungnya, O naga yang hebat, dan melemparkannya kepadaku, kalian tidak dapat membuatku takut sedikit pun. Ini tidak akan menghasilkan apa pun, kecuali kehancuran kalian sendiri, wahai raja para naga.”

Kata-kata ini dapat melembutkan hati raja naga dan para pengikutnya sehingga Bhikkhu Majjhantika dapat mengajarkan Dhamma kepada mereka. Raja naga kemudian mengambil Tiga Perlindungan dan Lima Pelatihan Moral, juga delapan puluh empat ribu naga, para gandhabba, yakkha, dan kumbhandaka di Himalaya. Seorang yakkha bernama Pandaka dan istrinya, yakkhini Harita, beserta lima ratus anak mereka mencapai Sotapatti Phala.

“Mulai sekarang janganlah menimbulkan kemurkaan seperti dulu; janganlah menghancurkan hasil panen para penduduk, karena semua makhluk mencintai kebahagiaan mereka; kembangkanlah cinta kasih kepada makhluk-makhluk, biarkanlah manusia hidup dalam kebahagiaan.” Demikianlah yang diajarkan sang bhikkhu kepada para naga dan makhluk halus tersebut dan mereka berbuat sesuai ajaran ini.

Ketika para penduduk Kasmira dan Gandhara yang datang untuk menyembah raja naga Aravala melihat bahwa bhikkhu tersebut duduk di tahta permata dengan dikipasi oleh sang raja naga, mereka pun mengetahui bahwa sang thera telah mengalahkan raja naga itu. Lalu sang thera membabarkan Asivisupama Sutta33 kepada para penduduk tersebut. Delapan puluh ribu orang kemudian menjadi upasaka-upasika dan ratusan ribu lainnya menerima penahbisan dari sang thera.

Bhikkhu Mahadeva yang pergi ke negeri Mahisamandala menguraikan Devaduta Sutta kepada para penduduk di sana. Empat puluh ribu orang menyempurnakan mata Dhamma dan empat puluh ribu orang mendapatkan penahbisan sebagai bhikkhu.

Bhikkhu Rakkhita yang pergi ke Vasavana menguraikan Anamatagga Samyutta kepada orang-orang dengan melayang di udara. Enam puluh ribu orang menjadi pengikut agama Buddha dan tiga puluh tujuh orang menerima penahbisan dari sang thera serta lima ratus vihara didirikan di negeri ini.

Bhikkhu Dhammarakkhita, orang Yona, yang pergi ke Aparantaka setelah menguraikan Aggikkhandopama Sutta menyebabkan tiga puluh tujuh orang memahami kebenaran dan bukan kebenaran. Seribu laki-laki dan banyak sekali perempuan dari keluarga yang terpandang menerima penahbisan sebagai bhikkhu-bhikkhuni.

Bhikkhu Mahadhammarakkhita yang pergi ke Maharattha mengisahkan Mahanaradakassapa Jataka dan delapan puluh empat ribu orang mencapai Sang Jalan serta tiga belas ribu orang menerima penahbisan.

Bhikkhu Maharakkhita yang pergi ke negeri Yona menguraikan Kalakarama Sutta kepada orang-orang. Seratus tujuh puluh ribu makhluk mencapai Sang Jalan dan sepuluh ribu menerima penahbisan.

Bhikkhu Majjhima bersama dengan empat bhikkhu lainnya menguraikan Dhammacakkappavattana Sutta41 di daerah Himalaya. Delapan puluh koti makhluk mencapai Sang Jalan. Kelima thera tersebut secara terpisah menyebarkan Buddha Dhamma di lima kerajaan, masing-masing menyebabkan seratus ribu orang menerima penahbisan.

Di Suvannabhumi sosok raksasa wanita yang menakutkan muncul dari laut setiap kali seorang anak laki-laki dilahirkan di istana kerajaan, menelan anak tersebut lalu lenyap. Saat itu seorang pangeran dilahirkan dan Bhikkhu Sona dan Uttara baru saja tiba di negeri tersebut. Para penduduk mengira para bhikkhu tersebut adalah teman sang raksasa dan berniat untuk membunuh mereka.

Ketika dijelaskan mereka adalah pertapa dan bukan teman raksasa wanita tersebut, sang raksasa muncul dari dalam laut bersama dengan para pengikutnya. Para penduduk berteriak panik dan ketakutan. Namun Bhikkhu Sona membuat dirinya menjadi banyak sebanyak dua kali dari jumlah pengikut raksasa tersebut dan mengelilingi sang raksasa dan pengikutnya dari berbagai arah. Dengan ketakutan, raksasa wanita itu dan para pengikutnya terbang melarikan diri.

Ketika sang thera membuat benteng di sekeliling negeri tersebut, ia menguraikan Brahmajala Sutta42 kepada para penduduk di sana. Banyak orang mengambil Tiga Perlindungan dan Lima Pelatihan Moral, enam puluh ribu menjadi berkeyakinan dalam Dhamma, tiga ribu lima ratus anak laki-laki dari keluarga yang terpandang menerima penahbisan sebagai bhikkhu dan seribu lima ratus anak perempuan menerima penahbisan sebagai bhikkhuni. Sejak saat itu ketika seorang pangeran dilahirkan di istana, raja memberikan nama Sonuttara kepada sang anak.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

Ariyakumara

March 29, 2010

Riwayat Hidup Raja Asoka (5)

Filed under: riwayat hidup raja asoka — hansen @ 4:56 am
Tags: ,

PERAN RAJA ASOKA DALAM MELESTARIKAN BUDDHA DHAMMA

Konsili Buddhis III

Seiring dengan berjalannya waktu Sangha memperoleh banyak penghormatan dan pemberian dari para umat yang berbakti. Sebaliknya, para pertapa dari ajaran lain kehilangan penghormatan dan pemberian dari para pengikutnya. Untuk memperoleh berbagai kebutuhan seperti makanan dan pakaian, mereka menjadi bhikkhu dan menyatakan ajaran mereka sebagai ajaran Buddha. Mereka yang gagal diterima sebagai anggota Sangha mencukur rambutnya, memakai jubah kuning, lalu berkeliaran di sekitar vihara mengganggu berlangsungnya upacara uposatha dan pavarana.

Ketika melihat adanya penyakit borok yang menjangkiti agama Buddha ini, Bhikkhu Tissa Moggaliputta dengan bijaksana memikirkan saat yang tepat untuk mengatasinya. Setelah menyerahkan perkumpulan para bhikkhu kepada Bhikkhu Mahinda, ia bermaksud berdiam di tempat yang tenang dan mengundurkan diri ke Ahoganga di dekat sungai Gangga selama tujuh tahun.

Walaupun para pengikut ajaran lain telah dikecam oleh Sangha, mereka tetap memunculkan berbagai bentuk pergolakan dalam ajaran Sang Buddha karena mereka tidak menyesuaikan diri dengan prinsip yang sesuai dengan Dhamma dan Vinaya.

Beberapa di antara mereka cenderung melakukan pemujaan api, beberapa terlena dalam bara api dari lima nafsu, beberapa menyembah matahari dengan mengikuti jalannya di langit, sedangkan yang lainnya berusaha menghancurkan Dhamma dan Vinaya.

Karena jumlah pengikut ajaran lain yang semakin banyak dan kekacauan yang ditimbulkan, para bhikkhu tidak mengadakan uposatha maupun pavarana bersama mereka. Uposatha di Asokarama terganggu selama tujuh tahun dan hal ini terdengar sampai ke telinga Raja Asoka.

Raja mengirimkan seorang menterinya untuk menyelesaikan masalah ini dengan berkata, “Pergilah, selesaikan masalah ini dan usahakan agar upacara uposatha dapat dijalankan oleh perkumpulan bhikkhu di viharaku.”

Ketika sampai di Asokarama, sang menteri memanggil para bhikkhu dan berseru, “Jalankan upacara uposatha; ini perintah Baginda Raja!”

Para bhikkhu menjawab, “Kami tidak akan mengadakan uposatha dengan orang-orang sesat.”

Sang menteri dengan pedangnya memenggal kepala beberapa bhikkhu dan berkata, “Aku akan memaksa kalian untuk mengadakan upacara uposatha!”

Bhikkhu Tissa, adik Raja Asoka, melihat kejadian ini dan memberitahukannya kepada raja. Mendengar tindakan menterinya, raja menjadi sangat terganggu dan segera menemui para bhikkhu untuk bertanya, “Siapakah sebenarnya yang bersalah atas perbuatan ini?”

Sebagian dari mereka dengan kebodohannya menjawab, “Andalah yang bersalah.” Yang lain menjawab, “Kalian berdua bersalah.” Namun para bhikkhu yang bijaksana menjawab, “Anda tidak besalah.”

“Adakah seorang bhikkhu yang dapat menghilangkan keragu-raguanku dan melindungi ajaran Sang Buddha?” tanya raja.

“Ada, O raja, seorang thera bernama Tissa Moggaliputta.”

Setelah mengirimkan beberapa kali utusan yang terdiri atas para bhikkhu dan para menteri, raja akhirnya mengetahui bahwa sang bhikkhu sudah berusia lanjut dan tidak dapat menaiki kereta. Raja kemudian mengirimkan kapal untuk menjemput Bhikkhu Tissa Moggaliputta. Raja Asoka turun ke sungai Gangga sampai sebatas lutut untuk membantu sang thera turun dari kapal.

Raja menuntun sang thera ke sebuah taman bernama Rativaddhana dan di sana raja meminta bhikkhu tersebut menunjukkan kekuatan batinnya dengan maksud untuk menguji kemampuan sang bhikkhu. Raja meminta sang thera menciptakan gempa bumi namun hanya pada wilayah tertentu karena ini adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan dibandingkan dengan mengguncang seluruh bumi.

Dalam batas satu yojana Bhikkhu Tissa Moggaliputta menempatkan sebuah kereta kuda, seekor kuda, seorang manusia, dan sebuah bejana yang dipenuhi air pada keempat arah mata angin. Lalu dengan kekuatan batinnya ia menyebabkan bumi berguncang bersama-sama dengan separuh dari masing-masing benda tersebut dan membiarkan raja duduk di sana menyaksikan hal ini.

Setelah yakin bahwa sang bhikkhu adalah benar-benar orang yang tepat, Raja Asoka bertanya apakah ia bersalah atas pembunuhan para bhikkhu yang dilakukan oleh menterinya. Sang thera mengatakan, “Tidak ada kesalahan tanpa kehendak jahat” dan mengajarkan Tittira Jataka kepada raja.

Tinggal selama tujuh hari di taman tersebut, sang thera mengajarkan Dhamma kepada Raja Asoka. Pada hari ketujuh raja mengumpulkan para bhikkhu di Asokarama dan membuat sekat-sekat pemisah untuk mengelompokkan para bhikkhu yang berbeda pandangan. Lalu duduk bersama dengan sang thera, raja memanggil setiap kelompok bhikkhu dan bertanya kepada mereka, “Yang Mulia, apakah yang diajarkan oleh Yang Dirahmati?”

Para penganut pandangan eternalis mengatakan bahwa Sang Buddha mengajarkan paham eternalis. Demikian juga, para penganut pandangan annihilasionis dan pandangan salah lainnya menjawab berdasarkan pandangan mereka. Karena raja telah mempelajari Dhamma yang benar, ia mengetahui bahwa mereka bukan para bhikkhu sejati, melainkan para pengikut ajaran lain. Lalu dengan memberikan mereka jubah putih, raja mengeluarkan mereka dari Sangha. Jumlah para bhikkhu palsu ini ada enam puluh ribu orang semuanya.

Kemudian raja memanggil para bhikkhu yang tersisa dan bertanya, “Apakah yang diajarkan Yang Dirahmati?” dan mereka menjawab, “Beliau mengajarkan Vibhajjavada (ajaran analitis).”

“Yang Mulia, benarkah Sang Buddha sesungguhnya mengajarkan Vibhajjavada?” tanya Raja Asoka kepada Bhikkhu Tissa Moggaliputta.

“Benar, O raja besar.”

Raja sangat gembira dan berkata, “Karena perkumpulan para bhikkhu telah bersih, Yang Mulia, biarlah Sangha mengadakan upacara uposatha.” Raja lalu menjadikan sang thera sebagai pelindung Sangha dan kembali ke istana; Sangha yang telah bersatu dalam kerukunan mengadakan upacara uposatha.

Bhikkhu Tissa Moggaliputta lalu memilih seribu bhikkhu yang terpelajar, yang memiliki enam kekuatan batin, mengetahui Tipitaka, dan ahli dalam ilmu pengetahuan tertentu untuk menyusun ajaran yang benar. Mereka mengadakan pertemuan di vihara Asokarama di Pataliputta dan menyepakati ajaran Sang Buddha dikelompokkan atas Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka. Pertemuan yang dipimpin oleh Bhikkhu Tissa Moggaliputta ini dikenal sebagai Konsili Buddhis III32 dan berlangsung selama sembilan bulan dibawah perlindungan Raja Asoka. Selama konsili ini sang thera juga menyusun Kathavatthu, kitab yang kemudian dimasukkan dalam Abhidhamma Pitaka, untuk menyangkal ajaran-ajaran lain yang dapat mencemari ajaran Sang Buddha.

Konsili ditutup dengan upacara pavarana dan saat itu bumi berguncang seakan-akan turut bergembira atas ditegakkannya kembali ajaran agama Buddha. Kejadian ini terjadi tujuh belas tahun setelah Raja Asoka dinobatkan.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

Ariyakumara

March 28, 2010

Riwayat Hidup Raja Asoka (4)

PERUBAHAN KEBIJAKAN RAJA ASOKA

Perang Kalinga

Walaupun telah mewarisi kerajaan yang begitu besar dan luas, Raja Asoka tidak puas. Beberapa kerajaan yang berbatasan langsung dengan kerajaan Magadha masih merdeka dan tidak mengakui hegemoni kerajaan Magadha. Raja Asoka yang berjiwa penakluk seperti juga ayah dan kakeknya mengerahkan armada perangnya untuk menguasai daerah-daerah yang belum dikuasainya. Ini berlangsung sampai tahun kedelapan masa pemerintahannya.

Di pesisir timur India terdapat kerajaan yang makmur bernama Kalinga. Terletak di antara sungai Godavari dan Mahanadi, Kalinga merupakan kerajaan agraris yang subur. Selain itu, kerajaan ini menguasai jalur laut sepanjang pesisir timur sampai ke lembah Krishna yang kaya akan emas dan batu mineral lainnya. Ini membakar semangat Raja Asoka untuk menguasai wilayah tersebut.

Mulanya Raja Asoka meminta pihak kerajaan Kalinga untuk tunduk pada kekuasaannya, tetapi ini ditolak mentah-mentah oleh Kalinga. Kemudian seorang panglima perang Magadha bersama sejumlah pasukan dikirimkan untuk menundukkan Kalinga. Pasukan ini pun dapat dikalahkan dengan taktik yang jitu dari panglima perang Kalinga. Raja Asoka akhirnya memutuskan untuk mengirimkan armada perang yang lebih besar dan memimpin sendiri penyerangan kali ini.

Pasukan Magadha bergerak menuju ke Kalinga. Namun demikian, rakyat Kalinga tidak takut; mereka mencintai tanah air dan kemerdekaan mereka serta telah siap untuk bertempur dan mati mempertahankan tanah kelahirannya.

Kekuatan pasukan Kalinga tidak dapat menandingi kekuatan pasukan Magadha. Raja Asoka memenangkan pertempuran terbesar dalam hidupnya, namun seratus ribu orang terbunuh dalam perang dan seratus lima puluh ribu orang menjadi tawanan perang; para wanita menjadi janda dan anak-anak kehilangan orang tuanya.

Perubahan Hati Raja Asoka

Bersama dengan sisa pasukannya Raja Asoka berkeliling melihat keadaan medan perang. Ia menyaksikan mayat-mayat mereka yang tewas bergelimpangan bersama dengan jasad gajah dan kuda mereka, darah mengalir di mana-mana, mereka yang masih hidup berguling kesakitan di tanah, dan burung-burung pemakan bangkai mematuki mayat-mayat tersebut.

Sebelumnya ia tidak pernah menyaksikan sendiri bahwa akibat perang sangat mengerikan. Hatinya sangat hancur karena kesedihan; ia tidak bergembira atas kemenangannya yang dibayar dengan penderitaan orang lain.

“Perbuatan mengerikan apa yang kulakukan? Aku adalah raja yang menguasai negeri yang besar, tetapi menginginkan sebuah kerajaan kecil dan menyebabkan ribuan orang meninggal, ribuan wanita menjadi janda, dan anak-anak menjadi yatim. Inikah yang ingin dimenangkan orang-orang dalam perang?” Pikiran ini terus menghantui benak Raja Asoka sehingga ia tidak dapat berlama-lama berada di tempat tersebut. Ia membawa pulang pasukannya ke Pataliputta dengan hati yang berat.

Raja Asoka akhirnya menjadi raja seluruh India seperti yang ia inginkan, namun kemenangan ini tidak membuatnya berbahagia tetapi bersedih. Pembantaian orang-orang Kalinga yang ia lakukan telah menyuramkan kebanggaannya atas kemenangan ini. Ketika makan, duduk, atau berbaring, pemandangan yang mengerikan dan berdarah-darah di medan pertempuran menghantuinya setiap waktu sehingga ia tidak dapat memperoleh ketenangan pikiran bahkan untuk sesaat.

Raja menyadari bahwa bara api peperangan tidak hanya membakar dan menghancurkan medan perang, tetapi juga membakar dan menghancurkan kehidupan banyak orang yang tidak bersalah. Penderitaan yang diakibatkan perang akan terus meracuni pikiran dan kehidupan mereka yang selamat selama waktu yang lama.

Dalam mencari pelipur lara atas duka dan rasa bersalah yang terus menghantui batinnya, Raja Asoka teringat akan agama Buddha yang pernah ia ikuti namun hanya sebatas kulit luarnya saja. Ia mulai lebih bersemangat untuk mengunjungi Sangha dan lebih mendalami ajaran Sang Buddha. Akhirnya raja Magadha tersebut bersumpah untuk tidak menggunakan kekuatan armada perangnya untuk memerangi kerajaan lain; ia tidak berniat lagi melakukan perluasan wilayah yang lebih jauh, namun juga tidak takut akan serangan dari kerajaan lain.

Raja Asoka menghabiskan sisa kehidupannya untuk menerapkan prinsip-prinsip ajaran Sang Buddha dalam administrasi pemerintahannya. Ia mengubah kebijakan pemerintahannya untuk mewujudkan kemakmuran rakyatnya sehingga terciptalah masa damai di Magadha. Ia mengubah cara penaklukan secara kekerasan (digvijaya) menjadi penaklukan secara Dhamma (Dhammavijaya), yaitu mengajarkan kepada semua orang untuk melaksanakan Dhamma (Secara umum Dhamma di sini berarti prinsip-prinsip moralitas dan kemanusiaan yang harus dijalankan semua orang. Ini dapat diketahui dari banyaknya prasasti peninggalan Raja Asoka yang menganjurkan semua orang untuk tidak melakukan pembunuhan bahkan terhadap binatang, berdana, menghormati orang tua dan guru, memperlakukan keluarga, saudara, teman, dan pelayan dengan baik, serta menghormati agama lain).

Melalui Teladan Menyebarkan Dhamma

Mulanya Raja Asoka ragu-ragu dalam menunjukkan penghormatannya kepada anggota Sangha. Suatu ketika raja bertemu dengan seorang samanera berusia tujuh tahun dan menunggu sampai mereka berdua berada di suatu tempat di mana orang-orang tidak dapat melihat mereka. Lalu raja bersujud kepada sang samanera dan berkata, “Mohon jangan mengatakan kepada siapa pun bahwa saya telah bersujud kepada anda.”

Tak jauh dari samanera tersebut terdapat sebuah kendi; secara tiba-tiba sang samanera masuk ke dalam kendi tersebut lalu muncul kembali melalui mulut kendi dengan kekuatan batinnya dan berkata, “O baginda raja, jangan katakan kepada siapa pun bahwa saya telah masuk ke dalam kendi ini dan keluar dari mulut kendi.” Raja mengatakan bahwa kekuatan batin seperti itu seharusnya tidak disembunyikan dan dapat diberitahukan kepada semua orang.

Sang samanera kemudian berkata, “Itulah sebabnya, O raja, tiga hal ini tidak boleh dianggap remeh: seorang raja muda, seekor naga muda, dan seorang bhikkhu muda. Seorang raja muda walaupun masih muda dapat membunuh banyak orang; seekor naga muda walaupun masih kecil dapat membuat hujan; seorang bhikkhu muda walaupun masih kecil dapat menyelamatkan umat manusia.”

Sejak saat itu Raja Asoka terbiasa menjatuhkan dirinya di kaki para bhikkhu tanpa menghiraukan tempat dan orang-orang yang melihatnya. Salah seorang menteri bernama Yasa memandang hal ini tidak sepatutnya dan berkata kepada raja, “Yang Mulia, anda tidak seharusnya bersujud kepada para bhikkhu, karena para bhikkhu berasal dari semua kasta.” Raja tidak segera menjawabnya.

Beberapa hari kemudian raja memanggil para menterinya dan memerintahkan mereka untuk mendapatkan kepala hewan yang berbeda-beda. Tanpa banyak bertanya para menteri tersebut segera membawakan kepala hewan yang ditentukan oleh raja. Yasa sendiri diminta untuk membawakan kepala manusia.

Setelah mendapatkan masing-masing menteri mendapatkan kepala yang ditentukan, raja memerintahkan mereka menjualnya di pasar. Tak lama kemudian semua menteri, kecuali Yasa, berhasil menjual kepala-kepala tersebut. Yasa menemui kesulitan untuk menjual kepala manusia sehingga ia berusaha memberikannya secara cuma-cuma, namun tidak ada orang yang menginginkan kepala manusia tersebut. Dengan kecewa ia melapor kepada raja, “Baginda, kepala sapi, keledai, rusa, burung semuanya dapat dijual dengan harga tertentu kepada orang-orang, tetapi tidak ada orang yang sudi mengambil kepala manusia yang tidak berharga ini, bahkan ketika diberikan secara cuma-cuma.”

Raja bertanya kepada Yasa, “Mengapa tidak ada orang yang mau menerimakepala manusia ini?”

“Karena, Yang Mulia, kepala ini menjijikkan bagi mereka.”

“Apakah hanya kepala manusia ini atau semua kepala manusia menjijikkan bagi orang-orang?”

“Semua kepala manusia itu menjijikkan, Yang Mulia.”

“Apa! Apakah kepalaku juga menjijikkan?”

Dengan ragu-ragu Yasa menjawab, “Demikianlah, Yang Mulia.”

Kemudian Raja Asoka menjelaskan maksud di balik perintahnya yang membingungkan: “Jika aku dapat memperoleh jasa kebajikan dengan menjatuhkan kepalaku yang begitu menjijikkan sehingga tidak ada orang di dunia ini yang menginginkannya, mengapa hal ini dikatakan tidak sepatutnya?” Akhirnya Yasa dan para menteri lainnya dapat menerima sikap raja memberikan penghormatan kepada Sangha.

Dua tahun setelah perang Kalinga, Raja Asoka mengadakan perjalanan Dhamma (Dharmayatra) mengunjungi Sambodhi (Bodhi Gaya), tempat di mana Pertapa Gotama mencapai Kebuddhaan. Selama perjalanan ini raja mengunjungi dan berdana kepada para pertapa dan brahmana, mengunjungi dan mendanakan emas kepada orang-orang lanjut usia, mengunjungi orang-orang di luar kota untuk mengajarkan mereka Dhamma dan berdikusi tentang Dhamma.

Di berbagai daerah dalam wilayah kekuasaannya dan di daerah perbatasan dengan kerajaan lain seperti Chola, Pandya, Satiyaputra, Keralaputra, Tamraparni (Sri Lanka), dan daerah-daerah seperti Mesir, Siria, Yunani dan sekitarnya, ia menyediakan obat-obatan bagi manusia dan hewan. Jika terdapat tanaman obat, akar-akaran, atau buah tertentu yang tidak ditemukan di suatu daerah, ia memerintahkan tumbuhan tersebut untuk diimpor dan ditanam di sana. Ia juga menyediakan sumur dan pepohonan di sepanjang jalan untuk manfaat bagi manusia dan hewan.

Raja Asoka menginginkan agar Dhamma dapat tersebar luas, diketahui oleh semua orang, dan dapat bertahan lama. Maka ia memerintahkan untuk memahatkan pesan-pesan Dhamma pada batu dan tugu batu yang ditempatkan di dalam maupun di luar wilayah kekuasaannya. Dalam prasasti-prasasti ini raja menyatakan keinginannya agar pesan Dhamma yang ia tuliskan dapat sampai kepada orang-orang dari seluruh negeri dan mereka dapat mengikuti dan menyebarkannya untuk kesejahteraan dunia.

Ia memerintahkan para pejabat yang disebut yukta, rajjuka, dan pradesika mengadakan perjalanan inspeksi setiap lima tahun untuk tujuan pengajaran Dhamma dan urusan lainnya. Para pejabat ini diperintahkan untuk mengajarkan kepada orang-orang agar menghormati orang tua, bermurah hati pada teman, kenalan, keluarga, para brahmana, dan pertapa, tidak membunuh makhluk hidup, serta tidak berlebihan dalam pengeluaran dan tidak berlebihan dalam penghematan.

Kemudian pada tahun ketigabelas masa pemerintahannya Raja Asoka menunjuk pejabat baru yang disebut Dhamma mahamatra (pejabat Dhamma) yang bertugas menyebarkan Dhamma untuk kesejahteraan dan kebahagiaan semua orang. Mereka bekerja di antara orang-orang Yunani, Kamboja, Gandhara, Rastrika, Pitinika dan bangsa lainnnya pada daerah perbatasan sebelah barat; mereka bekerja di antara prajurit, tokoh masyarakat, brahmana, perumah tangga, orang miskin, orang lanjut usia, dan orang-orang yang melaksanakan Dhamma agar bebas dari gangguan. Para pejabat Dhamma ini juga bertugas dalam memperlakukan para tahanan dengan baik; jika ada tahanan yang masih memiliki keluarga yang harus ditanggung, yang ditahan karena difitnah, atau tahanan yang sudah lanjut usia, para Dhamma mahamatra akan membebaskan mereka.

Pangeran Vitasoka Meninggalkan Keduniawian

Raja Asoka memiliki adik kandung lain bernama Vitasoka. Suatu hari ketika sedang berburu di hutan bersama dengan kakaknya, Pangeran Vitasoka bertemu dengan seorang pertapa yang sedang melakukan pertapaan dengan dikelilingi dengan lima api. Sang pangeran menanyakan berbagai hal kepada sang pertapa dan mengetahui bahwa pertapa tersebut telah melakukan pertapaan ini selama dua belas tahun, hidup dengan hanya memakan buah dan akar-akaran, tidur di tanah yang keras, dan memakai pakaian dari rerumputan atau kulit pohon.

“Yang Mulia,” tanya pangeran, “Apakah anda masih merasa terganggu dalam berbagai hal?”

“Ya, nafsu masih mencengkeram diriku,” jawab sang pertapa.

Kemudian pangeran mengatakan kepada raja bahwa jika pertapa yang tinggal di hutan dan melakukan pertapaan keras selama bertahun-tahun gagal dalam menaklukan nafsu keinginan, maka tidak diragukan lagi bahwa para bhikkhu yang tidur di tempat yang nyaman dan makan enak masih merupakan budak nafsu. Pangeran juga menambahkan bahwa raja telah tertipu dengan memberikan penghormatan kepada para bhikkhu, karena gunung Vindhya akan segera terapung di lautan ketika mereka dapat mengendalikan indera mereka.

Raja Asoka belakangan memanggil para menterinya dan memerintahkan mereka untuk mengatur sedemikian rupa sehingga ketika ia sedang mandi, Pangeran Vitasoka akan memakai mahkota kerajaan dan duduk di singgasana raja. Maka para menteri mendekati pangeran dan mengatakan kepadanya bahwa karena ia adalah penerus raja, mereka ingin melihat bagaimana ia terlihat saat memakai mahkota kerajaan dan duduk di singgasana. Ketika pangeran melakukan hal tersebut, raja tiba-tiba muncul dan berpura-pura murka karena selama ia hidup tidak ada orang lain yang boleh menaiki tahta.

Para algojo dipanggil, tetapi dengan isyarat para menteri memohon agar raja memaafkan pangeran. Raja kemudian berkata, “Aku akan memaafkannya selama tujuh hari; dan karena ia adalah adikku, aku memberikan kekuasaan raja selama satu minggu, atas dasar cinta kasih antara saudara.”

Musik pun beralun, orang-orang bergembira dan menghormati Vitasoka sebagai raja baru; para dayang datang untuk melayaninya. Namun para algojo berdiri di pintu dan para akhir hari mereka akan mendatanginya dan mengatakan: “Satu hari telah berlalu, hanya tersisa sekian hari lagi.”

Pada hari terakhir, pangeran dibawa ke hadapan raja yang menanyakan bagaimana ia menikmati satu minggu sebagai raja. Pangeran menjawab, “Aku tidak dapat melihat ataupun mendengar kesenangan. Baginda harus mencari seseorang yang mendengar lagu-lagu, melihat para penari, merasakan rasa makanan untuk menjawab Baginda.”

“Tetapi,” balas raja, “Aku memberikanmu kekuasaan raja. Aku melihatmu dihormati oleh ratusan orang, dikelilingi oleh para wanita cantik. Bagaimana mungkin kamu tidak melihat atau mendengar apa pun?”

“Wanita, tarian, lagu, istana, tempat tidur, tempat duduk, masa muda, kecantikan, keberuntungan, dan permata semuanya tanpa kegembiraan dan kosong bagiku, karena aku dapat melihat para algojo di pintu, mendengar suara lonceng mereka yang menakutkan dan aku sangat takut akan kematian. Aku tidak dapat tidur dan menghabiskan sepanjang malam berpikir: „Aku akan mati..”

Kemudian raja tersenyum dan berkata, “Tersiksa setiap hari oleh ketakutan akan kematian hanya dalam satu masa kehidupan, kesenangan indera gagal menggembirakan pikiranmu. Lalu bagaimana terdapat kegembiraan dalam kesenangan indera dalam pikiran para bhikkhu yang terus-menerus merenungkan ketakutan akan kematian dalam ratusan kehidupan yang akan datang? Melihat tubuh sebagai musuh yang mematikan dan melihat hidup itu tidak kekal seperti rumah yang terbakar, bagaimana mungkin mereka tidak terbebaskan ketika mereka melepaskan diri dari kelahiran kembali, pikiran mereka tidak terpengaruh pada kesenangan indera bagaikan air yang tidak dapat membasahi daun teratai?”

Demikianlah akhirnya Pangeran Vitasoka dapat menerima ajaran Sang Buddha dan kemudian memutuskan untuk menjadi bhikkhu. Mulanya raja berusaha meminta pangeran untuk memikirkan kembali keputusannya dengan berkata, “Kehidupan pertapa memiliki keburukan dalam penampilan; pakaian kamu akan berupa kain buruk dari tumpukan sampah dan pakaian luar kamu akan berupa sesuatu yang dibuang oleh pelayan; makanan kamu akan berasal dari sedekah yang dikumpulkan dari orang-orang yang tidak kamu kenal; tempat tidur dan tempat duduk kamu akan berupa selapis rumput di bawah pohon. Ketika kamu sakit, makanan akan sulit diperoleh dan air seni akan menjadi obatnya. Kamu sangat lembut dan tidak mampu menahan panas dan dingin, lapar dan dahaga; aku memohon kepadamu untuk mempertimbangkan kembali keputusan ini.”

Saat raja mengetahui bahwa adiknya teguh dalam pendiriannya, ia meneteskan air mata berpikir akan kehilangan adiknya tersebut. Sang pangeran menenangkan raja dengan berkata, “Aku telah melihat dunia ini dicengkeram oleh penderitaan, diinginkan oleh kematian, dan diliputi oleh kejahatan; takut akan kelahiran kembali, aku harus mengikuti jalan yang benar. Yang Mulia, samsara bagaikan usungan yang memutar; mereka yang masuk ke dalamnya pasti akan jatuh. Mengapa anda sangat bersedih ketika kita pasti akan berpisah suatu hari?”

Setelah pangeran menjadi bhikkhu, raja memintanya agar berpindapatta di dekat istana dan membuatkan sebuah tempat tidur dari dedaunan pada sebuah taman di istana.

Bhikkhu Vitasoka terbiasa menerima dana makanan dari para wanita istana yang memberikan makanan yang mewah. Melihat hal ini, raja memerintahkan para wanita tersebut hanya memberikan kacang lembek yang tidak enak. Bhikkhu Vitasoka memakan makanan ini dengan tenang. Menyadari bahwa keteguhan hati adiknya yang tidak tergoyahkan, raja mengizinkan sang bhikkhu untuk berkeliling dan kembali setelah mencapai Pencerahan.

Bertahun-tahun kemudian ketika berdiam di Videha, Bhikkhu Vitasoka mencapai kesucian Arahat dan menikmati kedamaian pembebasan. Lalu ia kembali kepada Raja Asoka seperti yang dijanjikan. Raja mengucurkan air mata ketika melihat adiknya dalam jubah dari kain buangan dengan mangkuk untuk meminta dana makanan dari tanah liat yang dipenuhi dengan makanan baik maupun buruk yang bercampur menjadi satu dan ketenangan pada wajah sang bhikkhu walaupun berjumpa secara tatap muka setelah waktu yang lama.

Setelah dapat menguasai dirinya, raja berkata, “Aku telah melihat seorang pewaris tahta yang meninggalkan kebanggaan, kedengkian, dan perselisihan, bahkan silsilah raja dan kerajaan beserta permata-permatanya. Namun aku gembira karena istanaku telah dihormati, kotaku dipenuhi dengan kemuliaan. Jelaskanlah, O adikku, ajaran mulia dari Sang Dasabala (Pemilik Sepuluh Kekuatan)!”

Setelah memberikan kotbah, Bhikkhu Vitasoka meninggalkan kota Pataliputta dengan diikuti oleh raja. Di pintu gerbang kota ia terbang ke angkasa; saat itu raja meneriakkan salam perpisahan kepada adiknya: “Bebas dari ikatan keluarga, engkau terbang bagaikan burung yang meninggalkan kami di belakang, yang meloncati belenggu nafsu duniawi. Kekuatanmu melembutkan kesombongan kami.”

Kematian Bhikkhu Vitasoka

Bhikkhu Vitasoka menghabiskan hidupnya di daerah perbatasan. Kemudian ia jatuh sakit dan ketika ia sembuh, rambut, kuku, dan janggutnya tumbuh. Sementara itu di Pundravardhana seorang pengikut Jain melukis gambar yang memperlihatkan Sang Buddha bersujud di kaki Nigantha Nataputta (Mahavira Jina). Mendengar hal ini, Raja Asoka memerintahkan agar seribu delapan ratus orang pengikut Jain di Pundravardhana dihukum mati. Lalu kejadian yang serupa terjadi di Pataliputta dan raja membakar orang yang merendahkan Sang Buddha tersebut beserta keluarganya. Setelah itu ia mengumumkan hadiah satu keping koin emas per kepala pertapa Jain.

Orang-orang yang antusias mulai memenggal kepala orang miskin atau pertapa yang bukan Buddhis. Ketika itu Bhikkhu Vitasoka datang untuk bermalam di rumah seorang penggembala sapi. Melihat jubah yang compang-camping, kuku, rambut, dan janggutnya yang panjang, istri sang penggembala menyangka bhikkhu tersebut adalah pertapa Jain. Ia memberitahukan suaminya untuk mendapatkan sekeping koin emas. Penggembala sapi tersebut mencabut pedangnya dan mendekati Bhikkhu Vitasoka yang duduk diam karena mengetahui bahwa waktunya telah tiba untuk memetik buah perbuatan jahatnya di masa lampau.

Pada kehidupan lampau Bhikkhu Vitasoka pernah terlahir sebagai seorang pemburu yang mencari nafkah dengan menangkap hewan-hewan dalam perangkap yang diletakkan di samping lubang air tempat biasanya para hewan minum. Suatu hari seorang Pacceka Buddha berhenti di tempat tersebut untuk beristirahat. Karena kehadiran sang Pacceka Buddha, tidak ada hewan yang mendekat dan sang pemburu menemukan perangkapnya kosong. Karena marah, ia membunuh Pacceka Buddha tersebut dengan pedangnya. Karena membunuh hewan dengan perangkap, Bhikkhu Vitasoka menderita sakit yang berat; karena membunuh Pacceka Buddha, ia selama kelahiran yang tak terhitung harus mati oleh pedang. Demikianlah sang bhikkhu meninggal karena kepalanya dipenggal oleh seorang penggembala sapi.

Ketika kepala Bhikkhu Vitasoka dibawa ke hadapan raja, raja jatuh pingsan. Perdana Menteri Radhagupta lalu menunjukkan kepada raja penderitaan yang ditimbulkan oleh mereka yang telah mencapai pembebasan dari nafsu keinginan. Sejak peristiwa ini Raja Asoka bertekad untuk menjamin keselamatan semua makhluk dan menghormati pengikut agama lain. Sejak saat itu tidak ada orang yang dihukum mati di kerajaan Magadha selama masa pemerintahan Raja Asoka.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

Ariyakumara

March 26, 2010

Riwayat Hidup Raja Asoka (3)

RAJA ASOKA MENGENAL AGAMA BUDDHA

Menjadi Pengikut Agama Buddha

Raja Bindusara semasa hidupnya merupakan pengikut ajaran para brahmana. Setiap hari ia memberikan dana kepada enam puluh ribu brahmana. Pada mulanya Raja Asoka juga mengikuti kebiasaan ayahnya ini selama tiga tahun masa pemerintahannya.

Namun ketika melihat pengendalian diri yang buruk dari para brahmana tersebut saat pembagian dana makanan, Raja Asoka memerintahkan para menterinya untuk memanggil para pertapa dari ajaran-ajaran lain yang ada saat itu. Para pun menteri memanggil para pertapa Ajivaka, Nigantha (Jain), dan Paribbajaka (Parivrajaka). Raja menguji tingkah laku mereka, memberi mereka dana makanan, dan mempersilahkan mereka meninggalkan istana setelah ia mengadakan perjamuan makan dengan mereka.

Suatu hari ketika sedang berdiri di dekat jendela, ia melihat seorang pertapa muda berjubah kuning yang tenang penampilannya melewati jalan. Pertapa tersebut tak lain adalah Samanera Nigrodha, putra Pangeran Sumana. Tidak mengetahui jati diri samanera tersebut yang sebenarnya, Raja Asoka seketika itu merasa tertarik pada sang pertapa dan menyukainya.

Saat Pangeran Sumana terbunuh, istrinya yang juga bernama Sumana sedang mengandung. Ia menyelamatkan diri melewati gerbang timur ke sebuah desa candala dan di sana seorang dewa penunggu pohon nigrodha membuatkan sebuah gubuk untuknya. Pada waktunya ia melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan dan diberi nama Nigrodha untuk menghargai perlindungan dari dewa pohon tersebut. Kemudian kepala desa candala yang merasa kasihan atas nasib sang ibu merawat keduanya sebagaimana istri dan anaknya sendiri selama tujuh tahun. Suatu hari seorang bhikkhu bernama Mahavaruna melihat bahwa Nigrodha dapat mencapai tingkat kesucian Arahat pada kehidupan sekarang. Sang bhikkhu lalu menahbiskan Nigrodha yang berusia tujuh tahun tersebut sebagai samanera setelah mendapatkan izin dari ibunya. Dalam ruangan di mana para bhikkhu mencukur rambutnya, Samanera Nigrodha langsung mencapai tingkat Arahat.

Saat itu sang samanera sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi ibunya. Ia memasuki kota dari gerbang selatan dan ketika melalui jalan yang menuju desanya, ia melewati istana raja. Raja tertarik pada sang samanera karena pembawaannya yang tenang saat berjalan dan berdiri, tetapi perasaan menyukai timbul karena pada kehidupan lampau mereka pernah berhubungan sebagai saudara.

Raja memanggil sang samanera ke hadapannya; sang samanera berjalan dengan tenang ke hadapan raja. Raja mempersilahkan samanera itu untuk duduk pada singgasana kerajaan. Ketika sang samanera melangkah menuju singgasana, raja berpikir, “Hari ini samanera ini akan menjadi tuan di rumahku.” Bersandar pada tangan raja, Samanera Nigrodha menaiki singgasana dan mengambil tempat duduk pada singgasana di bawah payung putih.

Setelah memberikan makanan keras maupun lembut, Raja Asoka menanyakan sang samanera tentang ajaran Sang Buddha. Maka sang samanera membabarkan Appamadavagga kepada raja. Raja sangat bergembira atas pembabaran Dhamma ini dan berkata, “Yang Mulia, saya mendanakan kepada anda delapan jenis persediaan makanan.”

Samanera Nigrodha menjawab, “Ini akan saya berikan kepada guru saya.”

Ketika delapan jenis persediaan makanan lagi didanakan kepadanya, ia memberikannya kepada gurunya; ketika delapan lagi didanakan, ia memberikannya kepada Sangha; akhirnya, ketika delapan lagi didanakan kepadanya, ia menerimanya untuk dirinya sendiri.

Pada hari berikutnya ia datang bersama dengan tiga puluh dua orang bhikkhu. Setelah dilayani oleh raja dengan tangannya sendiri dan membabarkan Dhamma kepada raja, ia memperkuat keyakinan raja dengan memberikan Tisarana dan pelatihan Pancasila.

Setiap hari Raja Asoka mendanakan lima ratus ribu dari kekayaannya dengan rincian sebagai berikut: seratus ribu didanakan untuk Samanera Nigrodha untuk digunakan sesukanya, seratus ribu untuk persembahan wewangian dan bunga pada stupa-stupa Sang Buddha, seratus ribu untuk pembabaran Dhamma, seratus ribu untuk empat kebutuhan para anggota Sangha, dan sisanya untuk pengobatan orang sakit. Sebagai tambahan, raja juga mendanakan sejumlah jubah yang ditempatkan di atas punggung gajah dan dihiasi dengan rangkaian bunga tiga kali sehari kepada Samanera Nigrodha. Sang samanera memberikan jubah-jubah ini kepada para bhikkhu lainnya.

Perbuatan Lampau Raja Asoka

Jauh sebelum kemunculan Buddha Gotama hiduplah tiga orang bersaudara yang merupakan pedagang madu; salah seorang menjual madu, sedangkan yang lainnya mengambil madu. Seorang Pacceka Buddha tertentu menderita luka dan seorang Pacceka Buddha lainnya datang ke kota guna mencarikan madu untuk menyembuhkan luka temannya tersebut. Ia melalui jalan yang biasa ia lalui saat berpindapatta.

Seorang gadis sedang berjalan mengambil air ke tepi sungai. Ketika ia mengetahui tujuan sang Pacceka Buddha, gadis itu menunjuk ke arah tertentu dengan mengulurkan tangannya dan berkata, “Di sebelah sana ada toko madu, Yang Mulia. Pergilah ke sana.”

Sang pedagang madu dengan hati yang yakin mendanakan semangkuk penuh madu kepada Pacceka Buddha yang datang meminta madu. Ketika melihat madu yang mengisi mangkuk dan mengalir keluar dari tepi kemudian tumpah ke tanah, ia berharap, “Semoga saya, karena dana ini, memperoleh kekuasaan tertinggi yang tidak terbagi atas Jambudipa dan semoga titahku menjangkau satu yojana ke atas angkasa dan satu yojana ke bawah bumi.”

Kepada saudara-saudaranya ketika mereka datang, ia berkata, “Kepada orang tersebut telah kuberikan madu; setujuilah dana ini karena madu itu juga milik kalian.”

Sang kakak tertua berkata dengan tidak rela, “Ia pasti seorang candala karena candala biasanya memakai pakaian kuning.” Orang kedua berkata, “Menjauhlah dengan Pacceka Buddha-mu ke seberang lautan.” Tetapi ketika mereka mendengar janji saudara mereka untuk berbagi manfaat dari dana tersebut, mereka pun menyetujuinya.

Kemudian sang gadis yang menunjukkan toko madu tersebut berharap ia dapat menjadi istri sang pedagang dan memiliki tubuh yang menarik dengan bentuk anggota tubuh yang sempurna.

Pedagang madu yang memberikan madu tak lain adalah Raja Asoka yang menguasai seluruh India (Jambudipa); gadis yang menunjukkan toko madu adalah Ratu Asandhimitta, permaisuri utama Raja Asoka. Orang mengucapkan kata “candala” adalah Nigrodha yang tinggal di desa candala, tetapi karena mengharapkan pembebasan, ia dapat menjadi Arahat bahkan saat masih berusia tujuh tahun. Orang terakhir yang menginginkan sang pedagang menjauh ke seberang lautan adalah Denampiya Tissa, raja Sri Lanka yang bersahabat dengan Raja Asoka.

Setelah sang pedagang madu meninggal dunia, ia terlahir kembali di alam surga. Setelah beberapa lama di surga, ia terlahir kembali di alam manusia sebagai seorang anak bernama Jaya di kota Rajagaha pada masa Buddha Gotama.

Pada saat itu Sang Buddha sedang berdiam di Kalandakanivapa di Veluvana dekat Rajagaha. Suatu pagi Beliau memakai jubah-Nya, membawa mangkuk-Nya, dan disertai oleh para bhikkhu berjalan menuju Rajagaha untuk berpindapatta. Setelah memasuki gerbang kota, Sang Buddha melewati jalan utama dan melihat dua orang anak laki-laki sedang bermain membangun rumah-rumahan dari tanah lumpur. Salah seorang anak yang berasal dari keluarga yang makmur bernama Jaya dan yang lain dari keluarga yang kurang mampu bernama Vijaya.

Kedua anak ini melihat Sang Buddha dan sangat terkesan dengan penampilan-Nya yang mulia dan gemilang, tubuh-Nya yang dihiasi dengan tiga puluh dua ciri manusia agung. Jaya berpikir, “Aku akan memberikan Ia makanan dari tanah” dan memasukkan segenggam tanah ke dalam mangkuk Sang Buddha. Vijaya beranjali dengan melipat kedua tangannya.

Setelah memberikan persembahan ini, Jaya membuat tekad: “Dengan kebajikan dari pemberian ini, semoga aku menjadi seorang raja dan setelah menempatkan Jambudipa dalam satu payung kekuasaan, aku akan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha.”

Sang Buddha, yang memahami sifat pembawaan Jaya dan tekadnya serta mengetahui ketulusan hatinya, menerima pemberian segenggam tanah tersebut dan tersenyum. Senyum Sang Buddha kemudian diikuti oleh cahaya biru, kuning, merah, putih, jingga, kristal, dan perak yang mengelilingi-Nya tiga kali dan memasuki telapak tangan kiri-Nya.

Ananda yang melihat pemandangan ini berkata, “Tidak pernah para Tathagata tersenyum tanpa alasan. Hilangkanlah keraguan kami, O Yang teragung di antara manusia yang ucapan-Nya bagaikan halilintar, dan ungkapkanlah apakah yang akan menjadi buah dari pemberian tanah ini.”

Sang Buddha menjawab, “Dua ratus delapan belas tahun setelah kematian-Ku akan muncul seorang raja bernama Asoka di Pataliputta. Ia akan menguasai salah satu dari empat benua dan menghiasi Jambudipa dengan relik-relik tubuh-Ku dengan membangun delapan puluh empat ribu stupa untuk kemakmuran orang banyak. Ia akan membuat stupa-stupa ini dihormati oleh para dewa dan manusia. Nama besarnya akan tersebar luas. Persembahan berjasanya hanyalah segenggam tanah yang dimasukkan Jaya ke dalam mangkuk Sang Tathagata.”

Jaya kemudian terlahir kembali sebagai Raja Asoka, sedangkan Vijaya terlahir kembali sebagai Perdana Menteri Radhagupta.

Pengeran Tissa Melepaskan Keduniawian

Suatu hari ketika sedang berburu Pangeran Tissa, adik kandung Raja Asoka, melihat sekelompok rusa bermain dengan gembira di alam liar; ia berpikir, “Bahkan para rusa yang hanya makan rumput di alam liar bermain demikian gembiranya. Mengapa para bhikkhu yang makan makanan yang enak dan tinggal di tempat yang nyaman tidak bahagia dan gembira?”

Sekembalinya ke istana, sang pangeran mengutarakan pemikirannya kepada raja. Untuk memberinya pelajaran, raja menyerahkan pemerintahan kerajaan ke tangan pangeran selama satu minggu dengan berkata, “Bergembiralah, Pangeran, karena selama satu minggu aku akan menyerahkan kerajaan ini ke tanganmu, kemudian aku akan menghukum mati kamu.”

Ketika satu minggu telah berlalu, raja bertanya, “Mengapa kamu tidak kelihatan gembira, O Pangeran?”

Pangeran menjawab, “Karena rasa takut akan kematian.”

“Dengan berpikir bahwa kamu pasti akan meninggal setelah satu minggu berlalu, kamu tidak lagi bergembira dan bahagia; lalu bagaimana para pertapa yang selalu merenungkan tentang kematian dapat bergembira dan bahagia?” Demikianlah akhirnya Pangeran Tissa menjadi berkeyakinan dalam ajaran Buddha.

Pada hari lain ketika pergi berburu, Pangeran Tissa melihat Bhikkhu Mahadhammarakkhita sedang duduk di bawah pohon dan dikipasi oleh seekor ular kobra dengan sebatang cabang pohon sala. Sang pangeran berpikir, “Kapan aku bisa seperti bhikkhu ini, ditahbiskan dan hidup dalam hutan belantara?”

Kemudian sang thera datang mendekat dengan terbang melalui udara, berdiri di atas air kolam, melepaskan jubahnya ke belakang di udara, menceburkan diri ke dalam air dan membersihkan anggota tubuhnya. Ketika melihat kejadian ini, pangeran dipenuhi dengan keyakinan yang menggembirakan dan bertekad: “Pada hari ini juga aku akan menerima penahbisan.” Ia pergi menemui raja dan dengan hormat memohon kepada raja agar diizinkan menjadi anggota Sangha.

Karena raja tidak dapat mengubah ketetapan hati adiknya, ia membawa pangeran ke vihara dan di sana pangeran menerima penahbisan dari Bhikkhu Mahadhammarakkhita bersama dengan sejumlah besar orang lainnya. Seorang keponakan Raja Asoka bernama Aggibrahma yang menjadi suami dari Putri Sanghamitta dan ayah dari Sumana juga ditahbiskan bersama dengan Pangeran Tissa.


Pembangunan Delapan Puluh Empat Ribu Vihara

Jumlah bhikkhu yang datang untuk menerima dana di istana Raja Asoka terus bertambah setiap harinya hingga akhirnya mencapai enam puluh ribu bhikkhu. Setelah memerintahkan makanan mewah baik yang keras ataupun lembut untuk dipersiapkan dengan cepat guna memberi makan enam puluh ribu bhikkhu, raja pergi menemui Sangha dan mengundang mereka ke istana. Setelah melayani mereka dengan ramah dan memberikan barang-barang kebutuhan para pertapa, raja bertanya, “Berapa banyak Dhamma yang diajarkan oleh Sang Guru?”

Bhikkhu Tissa Moggaliputta yang berada di antara para bhikkhu menjawab, “Terdapat delapan puluh empat ribu bagian dalam Dhamma.”

“Setiap bagian Dhamma ini akan saya hormati dengan sebuah vihara,” seru raja.

Dengan mendanakan sembilan puluh enam koti uang di delapan puluh empat ribu kota, Raja Asoka memerintahkan semua raja di India untuk mulai membangun vihara dan ia sendiri membangun vihara yang dinamakan Asokarama (dikenal juga dengan nama Kukkutarama).

Semua vihara yang indah ini seharusnya diselesaikan dalam tiga tahun, tetapi dengan kekuatan batin dari Bhikkhu Indagutta yang mengawasi pekerjaan ini, pembangunan vihara-vihara ini dengan cepat dapat diselesaikan. Pada setiap sisi dari delapan puluh empat ribu kota datang surat dalam satu hari dengan kabar bahwa vihara telah selesai dibangun. Raja juga mendirikan cetiya pada tempat-tempat yang pernah dikunjungi Sang Buddha.

Ketika menerima kabar gembira tersebut, Raja Asoka memerintahkan setiap kota untuk mengadakan perayaan keagamaan yang besar pada hari ketujuh sejak hari itu di setiap vihara di mana dana besar-besaran akan diberikan kepada Sangha. Pada hari tersebut juga diwajibkan untuk menjalankan uposatha sila dan mendengarkan kotbah Dhamma. Semua penduduk di setiap kota pun mengadakan perayaan yang berlangsung sangat meriah tersebut.

Pada hari perayaan berlangsung raja memakai semua perhiasannya dan pergi menuju Asokarama bersama-sama dengan semua wanita di istananya dan para menteri dengan dikelilingi oleh para prajuritnya. Kemudian raja memberikan penghormatan kepada Sangha. Saat itu terdapat delapan koti bhikkhu dan di antara mereka terdapat seratus ribu pertapa yang telah mengatasi kekotoran batin (asava). Terdapat juga sembilan juta bhikkhuni dan seribu di antaranya telah mengatasi kekotoran batin. Karena perbuatan baik ini, raja kemudian dikenal sebagai Dhammasoka (Asoka yang baik) sebagai ganti dari nama Candasoka sewaktu ia baru menjadi raja.

Pangeran Mahinda dan Putri Sanghamitta Memasuki Sangha

Raja sangat gembira saat melihat perayaan besar ini dan bertanya kepada para bhikkhu, “Yang Mulia, kedermawanan siapakah dalam ajaran Yang Dirahmati yang pernah sebesar kedermawanan saya?”

Bhikkhu Tissa Moggaliputta menjawab, “Bahkan pada masa kehidupan Yang Dirahmati tidak ada pemberi yang dermawan seperti anda.”

“Jika demikian, apakah ada pewaris agama (sasanadayada) Buddha yang seperti saya?”

Sang bhikkhu melihat bahwa putra raja yang bernama Pangeran Mahinda dan putrinya bernama Putri Sanghamitta dapat menjadi Arahat dan memelihara ajaran Sang Buddha sehingga ia berkata, “Bahkan pemberi dana besar-besaran seperti anda bukan pewaris agama, O penguasa di antara manusia, namun hanya disebut pemberi dalam hal materi. Tetapi ia yang melepaskan putra atau putrinya untuk memasuki Sangha merupakan seorang pewaris agama dan melebihi seorang pemberi dana.”

Karena raja sangat ingin menjadi seorang pewaris agama, ia bertanya kepada Pangeran Mahinda dan Putri Sanghamitta yang berdiri di dekatnya: “Apakah kalian ingin menerima penahbisan, Anak-anak yang kusayangi? Penahbisan merupakan hal yang baik.”

Mereka menjawab, “Pada hari ini juga kami akan sangat senang untuk memasuki Sangha jika ayahanda menginginkannya. Bagi kami, bahkan bagi ayahanda, penahbisan kami akan mendatangkan suatu berkah.”

Sejak Pangeran Tissa, adik Raja Asoka, melepaskan keduniawian dan menjadi bhikkhu, Pangeran Mahinda juga bertekad untuk menjadi bhikkhu, sedangkan Putri Sanghamitta bertekad menjadi bhikkhuni sejak suaminya, Aggibrahma, menjadi bhikkhu bersama dengan Pangeran Tissa. Walaupun raja menginginkan Pangeran Mahinda menjadi penerus tahta, namun sang pangeran berpikir bahwa kemuliaan menjadi bhikkhu akan jauh lebih besar daripada menjadi raja. Maka Raja Asoka mengizinkan Pangeran Mahinda dan Putri Sanghamitta memasuki kehidupan tanpa rumah. Saat ditahbiskan Pangeran Mahinda berusia dua puluh tahun dan Putri Sanghamitta berusia delapan belas tahun. Keduanya pun mencapai kesucian Arahat.

Pembagian Relik Sang Buddha ke Seluruh India

Menurut Mahaparinibbana Sutta, setelah Sang Buddha wafat dan tubuh-Nya dikremasi, sisa-sisa peninggalan tubuh atau relik Beliau dibagikan secara adil oleh Brahmana Dona menjadi delapan bagian kepada delapan pihak yang memperebutkannya (Kedelapan pihak tersebut adalah Raja Ajatasattu dari Magadha, suku Licchavi dari Vesali, suku Sakya dari Kapilavatthu, suku Buli dari Allakappa, suku Koliya dari Ramagama, seorang brahmana dari Vethadipa, suku Malla dari Pava, dan suku Malla dari Kusinara).

Masing-masing kemudian membangun sebuah stupa untuk menyimpan relik tersebut. Salah satu relik ini yang berada di Ramagama tenggelam ke dalam sungai Gangga karena terkena banjir dan kemudian dijaga oleh raja naga di sana. Setelah membangun delapan puluh empat ribu vihara, Raja Asoka bermaksud untuk membagikan relik tubuh Sang Buddha ke seluruh vihara yang telah dibangun tersebut. Raja berkata kepada Sangha, “Yang Mulia, saya akan membagikan relik-relik Sang Bhagava ke seluruh Jambudipa dan membangun delapan puluh empat ribu stupa. Di manakah relik-relik tersebut dapat ditemukan?”

Para bhikkhu menjawab bahwa relik Sang Buddha telah dibagikan menjadi delapan bagian dan disimpan dalam delapan stupa yang berada di delapan tempat yang berbeda. Raja pun pergi menuju lokasi kedelapan stupa tersebut satu per satu. Pertama kali ia menuju ke Rajagaha di mana terdapat stupa yang dibangun Raja Ajatasattu, membuka stupa tersebut, mengambil relik di dalamnya, mengembalikan sebagian relik tersebut, dan membangun stupa baru di sana. Ia melakukan hal yang sama pada keenam stupa lainnya, tetapi ia tidak dapat menemukan stupa terakhir yang berada di Ramagama.

Mengetahui bahwa relik di Ramagama telah tenggelam ke dalam sungai Gangga dan dijaga oleh raja naga, Raja Asoka menemui raja naga di istananya di bawah air. Raja naga menyambut kedatangan Asoka dengan hormat dan menunjukkan stupa tersebut. Raja naga mengatakan bahwa ia dan para naga ingin menghormati relik yang sekarang mereka miliki dan karenanya menolak untuk membagikan relik tersebut kepada sang raja. Asoka, yang menyadari bahwa ia tidak dapat menandingi para naga dalam hal ketaatan dan persembahan kepada relik tersebut, menyetujui hal ini dan pulang dengan tangan kosong.

Kemudian Raja Asoka memerintahkan untuk membuat delapan puluh empat ribu kotak dari emas, perak, permata, dan kristal sebagai tempat penyimpanan relik-relik yang telah ia peroleh. Ia juga menyediakan pasu (urn) dan lempengan prasasti dalam jumlah yang sama. Semuanya ia serahkan kepada para yakkha untuk ditempatkan dalam stupa yang ia bangun di masing-masing vihara di seluruh India.

Perbuatan Berjasa Raja Asoka Lainnya

Suatu hari para peramal kerajaan melihat bahwa tubuh Raja Asoka memiliki tanda-tanda tertentu yang tidak baik dan membawa kesialan. Untuk menghilangkan tanda-tanda tubuh ini, raja disarankan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Kemudian raja bertanya kepada Bhikkhu Yasa, kepala vihara Kukkutarama di Pataliputta, “Yang Mulia, walaupun saya telah membangun delapan puluh ribu vihara dan menyebarkan relik-relik Sang Buddha ke seluruh India, mengapa saya masih memiliki tanda-tanda tubuh yang tidak baik ini?”

Sang bhikkhu menjawab, “Ini disebabkan karena Baginda Raja hanya melakukan perbuatan baik untuk diri sendiri, yang bernilai sangat kecil jika dibandingkan mendorong orang lain untuk berbuat baik.”

Oleh karena itu, Raja Asoka menyamarkan dirinya sebagai orang miskin yang berkeliling dari pintu ke pintu untuk meminta sedekah. Suatu hari ia mendatangi sebuah gubuk reyot milik seorang janda miskin yang tidak memiliki apa pun untuk diberikan. Namun melihat kesempatan untuk melakukan perbuatan baik, sang janda tidak menyia-nyiakannya. Satu-satunya yang janda miskin itu miliki hanyalah sehelai pakaian yang ia kenakan. Dengan bersembunyi di balik dinding gubuknya yang terbuat dari anyaman bambu, janda tersebut memberikan pakaiannya kepada raja yang sedang menyamar. Raja yang sangat tergerak hatinya atas pengorbanan sang janda memberikan sebuah kalung berharga dan beberapa desa kepada wanita itu.

Pada rumah lainnya ia bertemu dengan pasangan suami istri yang sudah lanjut usia dan miskin. Mereka tidak memiliki apa pun untuk diberikan, tetapi mereka menyuruh raja untuk menunggu seraya mereka pergi ke seorang tetangga yang kaya untuk meminjam tujuh potong emas dengan janji akan menjadi budak orang kaya tersebut jika dalam seminggu tidak dapat mengembalikan pinjaman. Emas ini diberikan kepada raja yang sedang menyamar sebagai sedekah. Sebagai balasannya, raja memberikan pasangan suami istri itu pakaian mewah, perhiasan, dan sejumlah desa.

Dengan cara ini Raja Asoka berkeliling mendorong orang-orang untuk melakukan jasa kebajikan. Tanda-tanda yang tidak menguntungkan pada tubuh raja akhirnya berangsur-angsur menghilang.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

Ariyakumara

March 25, 2010

Riwayat Hidup Raja Asoka (2)

Perebutan Takhta

Raja Bindusara memiliki seratus satu orang putra yang lahir dari enam belas istrinya. Diantara semuanya, Pangeran Sumana (Susima) adalah putra yang tertua dan diharapkan dapat mewarisi tahta kerajaan. Ia dipercaya untuk menjadi raja muda di Takkasila, sedangkan Pangeran Asoka diangkat sebagai raja muda di Avanti dengan ibukotanya di Ujjeni.

Ketika Pangeran Asoka dalam perjalanan menuju Ujjeni untuk memerintah di sana, ia berhenti di kota Vedisa di mana ia bertemu dengan seorang gadis bernama Devi, putri seorang pedagang. Ia jatuh cinta kepadanya dan menikahinya; dari pernikahan ini lahirlah seorang putra bernama Mahinda dan, berselang dua tahun kemudian, seorang putri bernama Sanghamitta. Walaupun telah menikah dengan seorang anggota keluarga kerajaan, Devi tidak mengikuti suaminya untuk tinggal di istana. Ia tetap tinggal di Vedisa.

Dengan menangani administrasi pemerintahan Avanti, Pangeran Asoka menjadi seorang negarawan yang ulung. Hal ini menyebabkan Pangeran Asoka menjadi orang yang berpengaruh dalam pemerintahan dan popularitasnya semakin menanjak. Pangeran Sumana dan para pangeran lainnya menjadi khawatir apabila Pangeran Asoka disukai oleh raja untuk menjadi pewaris tahta.

Tak lama berselang penduduk Takkasila mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah. Pangeran Sumana tidak dapat menangani pemberontakan tersebut dan mendesak raja untuk mengirimkan Pangeran Asoka untuk mengatasinya. Raja mengutus Pangeran Asoka disertai dengan armada pasukan yang terdiri atas pasukan berkuda, pasukan penunggang gajah, kereta perang, dan pasukan pejalan kaki, tetapi raja tidak membekali mereka dengan persenjataan.

Para pelayan berlari mendatangi Pangeran Asoka dan memberitahukannya, “Tuanku, kami tidak memiliki persenjataan untuk berperang. Bagaimana kami dapat bertempur?”

Pangeran Asoka menjawab, “Jika jasa kebajikanku sedemikian rupa sehingga aku dapat menjadi raja, semoga persenjataan perang muncul di hadapanku!” Seraya sang pangeran berkata demikian, bumi terbelah dua dan para dewa muncul dari dalam bumi membawakan persenjataan untuk pasukan Pangeran Asoka.

Ketika penduduk Takkasila mendengar pasukan Pangeran Asoka mendekat, mereka menghias jalan sepanjang beberapa mil dan pergi menyambutnya dengan pot-pot yang penuh dengan persembahan. “O Pangeran,” mereka berseru, “Kami tidak berniat untuk memberontak terhadap Tuanku ataupun Baginda Raja. Namun para menteri yang jahat menindas kami dan kisah penderitaan kami tidak pernah sampai ke Pataliputta. Oleh karena itu, kami harus mengangkat senjata dan menyingkirkan wakil raja yang jahat tersebut.”

Pangeran Asoka memahami situasi yang sebenarnya dan menghukum mereka yang menyebabkan pemberontakan tersebut. Ia tinggal di sana selama beberapa hari dan memberikan nasehat kepada orang-orang dalam kata-kata yang sederhana dan indah. Ketika kedamaian telah ditegakkan di kota Takkasila, Pangeran Asoka kembali ke kota Ujjeni.

Tahun demi tahun telah berlalu. Raja Bindusara semakin tua dan kesehatannya mulai memburuk. Raja dan para menterinya mulai berpikir tentang masa depan kerajaan. Sesuai dengan kebiasaan, yang paling berhak menjadi raja berikutnya adalah Pangeran Sumana. Namun pemberontakan Takkasila menyiratkan kelemahan sang pangeran.

Selain itu, ia mulai bertindak dengan kesombongan. Suatu ketika Pangeran Sumana sepulang dari berkuda bertemu dengan perdana menteri. Bersenda gurau ia menempeleng kepala sang perdana menteri yang botak dan berlalu begitu saja. Tetapi sang perdana menteri berpikir, “Hari ini ia menempelengku dengan tangannya. Ketika menjadi raja, ia akan menjatuhkan pedangnya kepadaku. Aku harus memastikan ia tidak mewarisi kerajaan ini.”

Kemudian perdana menteri memanggil para menteri dan berkata kepada mereka, “Telah diramalkan oleh pertapa suci bahwa Pangeran Asoka akan menjadi raja yang menguasai salah satu dari empat benua. Ketika waktunya tiba, marilah kita menempatkannya pada tahta kerajaan.” Para menteri menyetujui hal ini.

(Menurut geografi India kuno, bumi terdiri atas empat benua besar, yaitu Jambudipa di sebelah selatan, Aparayojana di sebelah barat, Uttarakuru di sebelah utara, dan Pubbavideha di sebelah timur. Jambudipa juga merupakan nama kuno untuk India).

Ketika penyakit yang diderita raja semakin parah dan kelihatan tidak ada harapan lagi, para menteri mengirimkan pesan kepada Pangeran Asoka bahwa ayahnya jatuh sakit dan ia harus segera kembali ke istana kerajaan. Sang pangeran pun segera kembali ke Pataliputta untuk menjenguk ayahnya.

Terbaring lemah di ranjangnya, Raja Bindusara bermaksud untuk mengangkat putra tertuanya sebagai penerus kerajaan dan memerintahkan Pangeran Asoka untuk berangkat ke Takkasila. Namun para menteri menghalangi rencana ini. Mereka melumuri tubuh Pangeran Asoka dengan kunyit, mendidihkan lak merah dalam wadah tembaga, dan mengatakan kepada raja bahwa sang pangeran sedang sakit sehingga ia tidak dapat bangkit dari tempat tidur.

Ketika kondisi raja memburuk, para menteri membawa Pangeran Asoka ke hadapan raja dalam pakaian dan perhiasan yang mewah dan mendesak raja, “Nobatkan Pangeran Asoka untuk saat ini dan kami akan melantik Pangeran Sumana sebagai raja ketika ia kembali.”

Raja Bindusara menggelengkan kepala dengan lemah menandakan ia tidak menyetujuinya. Maka Pangeran Asoka berkata, “Jika tahta kerajaan menjadi hakku berdasarkan ketetapan takdir, semoga para dewa memahkotai aku dengan mahkota kerajaan!” Seketika para dewa muncul dan menaruh mahkota kerajaan pada kepala Pangeran Asoka. Ketika Raja Bindusara menyaksikan kejadian ini, ia muntah darah dan meninggal dunia. Ketika Pangeran Asoka mendapatkan mahkota kerajaan, dua ratus delapan belas tahun telah berlalu sejak wafatnya Sang Buddha.

Berita wafatnya Raja Bindusara dan naiknya Pangeran Asoka menjadi raja sampai ke telinga Pangeran Sumana. Merasa bahwa mahkota kerajaan seharusnya miliknya, Pangeran Sumana mempersiapkan armada pasukannya untuk bertempur melawan Pangeran Asoka guna memperebutkan tahta. Perang saudara yang berlangsung hingga empat tahun tersebut berakhir dengan kematian Pangeran Sumana di tangan Radhagupta, putra perdana menteri pada masa Raja Bindusara.

Dikisahkan juga bahwa untuk mencapai tujuannya Pangeran Asoka membunuh semua saudara tirinya. Karena kekejamannya ini, ia kemudian dikenal dengan nama Candasoka (Asoka yang kejam).

(Sulit untuk mengetahui kebenaran kisah ini karena menurut prasasti yang ditinggalkan Raja Asoka, ia memiliki banyak saudara laki-laki dan perempuan yang masih hidup ketika prasasti tersebut ditulis).

Penobatan Raja Asoka

Pada hari di mana akan diadakan penobatan raja baru, kota Pataliputta dihiasi dengan mewah dan meriah. Ketika waktu penobatan hampir tiba, alunan musik yang merdu bergema di lingkungan istana. Raja Asoka dengan wajah yang berseri-seri memasuki ruangan dengan dikelilingi oleh para pengawal. Sang pewaris tahta membungkukkan badannya di hadapan tahta kerajaan lalu menaikinya. Seraya para brahmana melantunkan mantra-mantra, Raja Asoka dipakaikan simbol-simbol seorang raja dan mahkota kerajaan Magadha diletakan di atas kepalanya.

Setelah resmi dinobatkan sebagai raja ketiga Dinasti Moriya, Raja Asoka menggunakan nama Devanampiya Piyadassi (Devanampiya = “Dicintai oleh para dewa”, Piyadassi = “Ia yang melihat dengan penuh kasih sayang”). Ia juga mengangkat Radhagupta sebagai perdana menteri dan Pangeran Tissa, adiknya yang lahir dari ibu yang sama, sebagai penasehat kerajaan.

Seketika setelah penobatannya, titah Raja Asoka membentang sejauh satu yojana (16 km) ke atas angkasa dan satu yojana ke bawah bumi. Setiap hari para dewa membawakan air sebanyak muatan delapan orang manusia dari danau Anotatta dan raja membagikan air ini kepada semua rakyatnya. Dari Himalaya para dewa juga membawakan ranting dari tumbuhan tertentu untuk membersihkan gigi, buah-buahan yang menyehatkan, myrobalan, terminalia, serta buah mangga yang sempurna dalam warna, bau, dan rasanya. Para makhluk halus (yakkha) dari angkasa membawakan pakaian dalam lima warna, bahan tertentu yang berwarna kuning sebagai serbet, dan minuman dewata dari danau Chaddanta. Para naga membawakan pakaian yang berwarna seperti bunga melati dan tanpa garis jahitan, bunga teratai surgawi, collyrium, dan obat luka. Burung-burung nuri setiap hari membawakan padi sebanyak sembilan puluh ribu kereta dari danau Chaddanta. Tikus-tikus tanpa henti mengubah padi-padi ini menjadi butiran beras tanpa sekam ataupun bubuk padi dan ini menjadi makanan bagi keluarga kerajaan. Lebah-lebah madu tanpa henti menyediakan madu untuk raja. Di tempat penempaan besi para beruang mengayunkan palu. Burung-burung karavika yang bersuara lembut dan merdu berdatangan dan mengalunkan nyanyian untuk raja.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

Ariyakumara

March 24, 2010

Riwayat Hidup Raja Asoka (1)

MASA MUDA RAJA ASOKA

Sejarah Kerajaan Magadha
Pada zaman dahulu di lembah sungai Gangga terdapatlah sebuah kerajaan yang berpengaruh bernama Magadha. Saat itu penguasa kerajaan Magadha adalah Raja Bimbisara yang bertahta di Rajagaha. Kemudian putra Raja Bimbisara, Pangeran Ajatasattu, karena hasutan dari Bhikkhu Devadatta, seorang murid Buddha Gotama yang jahat, membunuh ayahnya dan merebut tahta kerajaan.

Menjelang wafatnya Sang Buddha pernah berkunjung ke sebuah desa di pertemuan sungai Gangga dan sungai Sona bernama Pataligama. Saat itu perdana menteri kerajaan Magadha, Sunidha dan Vassakara, sedang membangun benteng di sana sebagai pertahanan terhadap suku Vajji. Saat melihat pembangunan benteng tersebut, Sang Buddha berkata kepada Ananda, salah satu murid sekaligus pelayan pribadi-Nya:

“Ananda, selama bangsa Ariya berkembang dan lalu lintas perdagangan menjadi lebih ramai, daerah ini akan menjadi kota yang terkemuka dan pusat perdagangan, Pataliputta. Tetapi Pataliputta, Ananda, dapat terkena tiga jenis bencana, yaitu api, air dan perselisihan.”

Putra Raja Ajatasattu, Udayabhaddaka, membunuh ayahnya dan menjadi raja Magadha. Raja Udayabhaddaka memindahkan ibukota kerajaan ke Pataligama. Putra Raja Udayabhaddaka, Mahamundika, membunuh ayahnya dan kemudian menjadi raja; Pangeran Anuruddha, putra Raja Mahamundika, menjadi raja setelah membunuh ayahnya; Pangeran Nagadasa, putra Raja Anuruddha, menjadi raja setelah membunuh ayahnya.

Para penduduk Magadha menjadi gusar atas pergantian raja mereka yang selalu dinodai dengan pembunuhan orang tua oleh anaknya. Mereka menurunkan Raja Nagadasa dari tahtanya dan mengangkat Sisunaga, seorang menteri yang dianggap layak, menjadi raja mereka. Raja Sisunaga memindahkan istananya ke Girivraja kemudian ke Vesali.

Kemudian Raja Kalasoka menggantikan ayahnya, Raja Sisunaga. Ia memindahkan kembali ibukota kerajaan ke Pataliputta. Pada akhir tahun kesepuluh pemerintahan Raja Kalasoka, seratus tahun telah berlalu sejak Parinibbana Sang Buddha.

Dinasti Sisunaga berakhir ketika Mahapadma Nanda merebut tahta kerajaan Magadha dan mendirikan Dinasti Nanda. Pada periode yang sama Alexander Agung dari Macedonia menguasai kerajaan Persia dan ingin memperluas kekuasaannya ke daerah lembah sungai Indus di India bagian barat laut. Ia menyeberangi sungai Indus dan menyerang Punjab sampai dengan sungai Hyphasis, namun para pasukannya memberontak dan menolak untuk melakukan penyerangan lebih jauh. Ia pun terpaksa kembali ke Persia.

Berdirinya Dinasti Mauriya
Seorang pemuda bernama Candagutta (Chandragupta) dari suku Moriya (Maurya) berhasil menghimpun kekuatan dan mengusir garnisun Macedonia dari lembah sungai Indus. Kemudian ia berhasil mengalahkan Dhanananda, raja terakhir dari Dinasti Nanda, dan menguasai kerajaan Magadha dari ibukotanya, Pataliputta. Dengan bantuan Brahmana Canakka (Chanakya atau Kautilya) yang pandai mengatur ketatanegaraan, Candagutta menjadi raja pertama yang berhasil menguasai daerah India bagian utara yang terbentang dari Teluk Benggala sampai dengan Laut Arab. Penerus Alexander, Seleukos I dari Siria, berusaha merebut kembali Punjab dari orang-orang India, namun menderita kekalahan dalam melawan pasukan Raja Candagutta.

Akhirnya, Seleukos I dengan senang hati mengadakan perjanjian damai dengan Raja Candagutta dan memberikan putrinya untuk dinikahi serta memberikan semua daerah di sebelah utara Hindu Kush, termasuk Baluchistan dan Afghanistan, sebagai alat tukar untuk lima ratus gajah perang. Seleukos juga mengirimkan duta besarnya, Magasthenes, ke Pataliputta. Berdasarkan catatan yang dibuat Magasthenes, kerajaan Magadha saat itu memiliki kekuatan armada perang yang sangat besar.
Raja Candagutta digantikan oleh putranya, Pangeran Bindusara. Raja Bindusara memperluas kekuasaannya hingga meliputi seluruh India bagian selatan di mana ia berbagi kekuasaan dengan penguasa Tamil yang bersahabat dengannya.

Kelahiran Asoka
Seorang brahmana dari Campa memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Dhamma atau Subhadrangi. Diramalkan bahwa ia akan menikah dengan seorang raja dan memiliki seorang putra yang akan menjadi penguasa seluruh India. Setelah putrinya dewasa, sang brahmana mempercantik Dhamma dengan berbagai perhiasan dan memberikannya untuk dinikahi oleh Raja Bindusara. Raja menerimanya ke dalam istananya.

Kecantikan Dhamma menimbulkan kecemburuan para permaisuri lainnya. Takut jika raja akan lebih menyukai sang gadis, para permaisuri mengajarkan keterampilan mencukur dan mengirimkannya untuk merawat rambut dan janggut raja. Ia sangat terampil dalam pekerjaannya sehingga raja dapat bersantai dan tertidur pulas selama rambut dan janggutnya dirawat oleh Dhamma.

Sangat puas dengan pekerjaannya, Raja Bindusara suatu hari menanyakan kepada Dhamma apa yang ia inginkan. Dhamma meminta anak dari sang raja. Raja terkejut dan berseru, “Tetapi bagaimana mungkin aku, seorang penguasa dari kasta ksatria, menikahi seorang gadis tukang cukur!”
“Yang Mulia,” sang gadis menjawab, “Saya bukan gadis tukang cukur, tetapi putri seorang brahmana. Ayah saya telah memberikan saya kepada Yang Mulia sebagai istri.”

Mengetahui bahwa ia telah diajarkan keterampilan mencukur, raja memerintahkan agar ia tidak melakukan hal tersebut lagi. Raja juga mengangkat Dhamma sebagai permaisuri utama.
Kemudian Ratu Dhamma melahirkan seorang putra. Ketika ditanyakan apa nama yang diberikan kepada putranya, ia berkata, “Ketika anak ini dilahirkan, aku tidak mengalami penderitaan apa pun.” Demikianlah, sang anak diberi nama Asoka yang berarti “tanpa penderitaan”.

Sebagai putra raja, Pangeran Asoka tumbuh tidak hanya menjadi anak yang gesit, tetapi juga nakal. Ia juga seorang pemburu yang cekatan. Sejak masa Raja Candagutta berburu merupakan kebiasaan dan hobi para anggota keluarga kerajaan.

Tidak ada pangeran lain yang melebihi Pangeran Asoka dalam hal keberanian, harga diri, kecintaan akan petualangan, dan kemampuan dalam administrasi. Oleh sebab itu, walaupun hanya sebagai pangeran, ia disukai dan dihormati oleh pengikutnya dan para menteri.

–berlanjut–

Sumber:
RIWAYAT HIDUP RAJA ASOKA
Oleh: Ariyakumara

The Rubric Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.