cerita-jataka

March 18, 2010

Riwayat Hidup Anathapindika Bagian (5)

KOTBAH-KOTBAH SANG BUDDHA

Dalam empat puluh lima musim penghujan hidupnya sebagai seorang guru, Sang Buddha menghabiskan sembilan belas musim di Savatthi di Vihara Anathapindika di Hutan Jeta. Manakala beliau tinggal selama tiga atau empat bulan masa penghujan di sana, Anathapindika biasanya mengunjungi beliau dua kali sehari, terkadang hanya untuk bertemu beliau namun seringkali pula untuk mendengar kotbah. Anathapindika sungkan bertanya pada Sang Bhagava. Sebagai penyokong Sangha yang paling murah-hati, ia tidak mau menciptakan kesan bahwa ia hanya membarter kontribusinya dengan konsultasi pribadi. Baginya berdana adalah mengenai hati, memberi tanpa mengharap balasan—kegembiraan karena memberi sudah cukup baginya. Ia berpikir bahwa Sang Buddha dan para bhikkhu tidak akan menganggap mengajar sebagai kewajiban atau ganti rugi bagi penyokong, melainkan membagi hadiah Dhamma sebagai perwujudan alami kebaikan dan cinta-kasih mereka.

Oleh karena itu ketika Anathapindika menemui Sang Buddha ia akan duduk diam di samping beliau dan menunggu jikalau Sang Bhagava akan memberikan ia instruksi. Bila Sang Bhagava tidak mengatakan apapun, Anathapindika terkadang akan menceritakan suatu kejadian dalam hidupnya, yang beberapa darinya telah dijelaskan. Ia kemudian menunggu apakah Sang Bhagava akan berkomentar, merestui atau mengkritik perilakunya, atau beliau akan menggunakan kisahnya sebagai titik awal kotbah. Dengan cara demikian ia menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan Ajaran.

Banyak kisah mengenai Sang Buddha memberikan instruksi kepada Anathapindika yang dicatat dalam Teks Pali. Ajaran-ajaran itu membentuk aturan yang lengkap bagi etika umat awam. Dan dengan mendapatkan instruksi-instruksi tersebut dari Sang Bhagava , Anathapindika juga menjadi penyokong umat awam yang tak terhingga banyaknya, yang dengan seksama berusaha mengikuti Dhamma. Kotbah-kotbah ini, yang terdapat dalam Anguttara Nikaya, berkisar dari yang paling sederhana sampai yang paling mendalam. Beberapa darinya disinggung di sini, dimulai dengan kata-kata dasar nasihat bagi umat awam:

“Perumah-tangga, milikilah empat hal, para murid mulia yang telah memasuki jalan tugas perumah-tangga. Jalan yang mendatangkan reputasi baik dan menuju alam surga. Apakah yang empat itu?

Di sini, perumahtangga, para murid mulia menantikan Sangha dengan menawarkan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan untuk digunakan ketika sakit. Inilah keempat hal itu.”

(AN 4:60)

“Perumahtangga, inilah empat jenis kebahagiaan untuk dimenangkan perumahtangga: kebahagiaan kepemilikan, kebahagiaan kekayaan, kebahagiaan tanpa-hutang, kebahagiaan tanpa-cela.

Apakah kebahagiaan kepemilikan itu? Seseorang memiliki kekayaan yang diperoleh melalui perjuangan penuh semangat, dikumpulkan melalui kekuatan lengannya, dimenangkan melalui keringat di dahinya, didapatkan melalui cara yang sah. Dengan pikiran: “Kekayaan adalah milikku yang didapatkan melalui perjuangan yang bersemangat…didapat dengan sah,” kebahagiaan datang padanya, kepuasan datang padanya. Inilah, perumahtangga, yang disebut kebahagiaan kepemilikan.

Apakah kebahagiaan kekayaan itu? Seseorang dengan kekayaan yang diperoleh melalui perjuangan yang bersemangat…menikmati kekayaan sekaligus melakukan perbuatan bajik. Dengan pikiran: “Dengan menggunakan kekayaan yang diperoleh…. Aku menikmati kekayaanku dan melakukan perbuatan bajik,” kebahagiaan datang padanya, kepuasan datang padanya. Inilah, perumahtangga, yang disebut kebahagiaan kekayaan.

Apakah kebahagiaan tanpa-hutang itu? Seseorang tidak berhutang, besar ataupun kecil, pada siapapun. Dengan pikiran: “Aku tidak berhutang, besar ataupun kecil, pada siapapun,” kebahagiaan datang padanya, kepuasan datang padanya. Inilah, perumahtangga, yang disebut kebahagiaan tanpa-hutang.

Apakah kebahagiaan tanpa-cela itu? Para murid mulia terberkati dengan perbuatan tanpa-cela, ucapan yang tanpa-cela, pikiran yang tanpa-cela. Dengan pikiran: “Aku terberkati dengan perbuatan, ucapan, dan pikiran yang tanpa-cela,” kebahagiaan datang padanya, kepuasan datang padanya. Inilah, perumahtangga, yang disebut kebahagiaan tanpa-cela.

Demikanlah empat jenis kebahagiaan untuk dimenangkan perumahtangga.”

(AN 4:62)

“Perumahtangga, ada lima hal yang diinginkan, disenangi dan disetujui, yang langka di dunia. Apakah yang lima itu? Kelima itu adalah umur panjang, keelokan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan (tumimbal lahir di) surga. Namun, perumahtangga, tidak ku ajarkan bahwa kelima hal ini dapat dicapai melalui mohon atau nazar. Bila kelima hal ini bisa dicapai melalui mohon atau nazar, siapakah yang tidak akan melakukannya?

Bagi seorang murid mulia, perumahtangga, yang menginginkan umur panjang, tidaklah pantas baginya mohon untuk mendapat umur panjang ataupun mendapat kesenangan dari melakukannya. Ia seharusnya mengikuti jalan hidup yang mendukung umur panjang. Dengan mengikuti jalan ini ia akan mendapatkan umur panjang baik sebagai dewa ataupun manusia.

Bagi seorang murid mulia, perumahtangga, yang menginginkan keelokan … kebahagiaan … kemasyhuran … (tumimbal lahir di) surga, tidaklah pantas baginya memohon untuk mendapatkannya atau mendapat kesenangan dari melakukannya. Ia seharusnya mengikuti jalan hidup yang mendukung kecantikan … kebahagiaan … kemasyhuran … (tumimbal lahir di) surga). Dengan mengikuti jalan ini ia akan memperoleh keelokan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan (tumimbal lahir di) surga.”

(AN 5:43)

“Perumahtangga, ada lima alasan untuk menjadi kaya. Apakah lima alasan itu?

… Seorang murid ariya dengan kekayaan yang diperoleh melalui kerja dan usaha, dikumpulkan melalui kekuatan lengannya, dimenangkan melalui keringat di dahinya, didapat melalui cara yang sah, membuat dirinya bahagia, gembira, dan menjaganya tetap demikian; ia membuat orang tuanya bahagia, gembira, dan menjaganya tetap demikian; demikian pula dengan istri, anak, dan pelayannya.

… Ketika kekayaan didapat dengan cara demikian, ia membuat teman-teman dan sahabat-sahabatnya bahagia, gembira, dan menjaganya tetap demikian.

… Ketika kekayaan didapat dengan cara demikian, keburukan … dihalau, dan ia menjaga barang-barangnya dengan aman.

… Ketika kekayaan didapat dengan cara demikian, ia membuat lima macam persembahan kepada sanak

saudara, tamu, makhluk halus, raja, dan dewa.

… Ketika kekayaan didapat dengan cara demikian, murid mulia memberikan dana dengan tujuan yang mulia, surgawi, masak dalam kebahagiaan, menuju surga, kepada para pertapa dan brahmana yang pantang menyombongkan diri dan bermalas-malasan, yang menanggung semuanya dengan sabar dan rendah hati, masing-masing menguasai dirinya, masing-masing menenangkan dirinya, masing-masing menyempurnakan dirinya.

Bila kekayaan si murid mulia, yang memperhatikan kelima alasan ini, lenyap, biarlah ia berpikir demikian: “Paling tidak aku telah memperhatikan kelima alasan untuk menjadi kaya, namun kekayaanku telah habis!”—dengan demikian ia tidak bersedih. Dan bila kekayaannya bertambah, biarlah ia berpikir: “Benar, aku telah memperhatikan kelima alasan ini dan kekayaanku bertambah!”—sehingga ia tidak bersedih juga.”

(AN 5:41)

Pentingnya kotbah sebelumnya ditekankan lebih jauh oleh fakta bahwa Sang Buddha mencamkannya lagi kepada Anathapindika di lain kesempatan dalam bentuk yang sedikit berbeda. Pada kesempatan itu beliau berkata kepadanya:

“Perumahtangga, ada empat keadaan (untuk direalisasi) yang diinginkan, disenangi, menggembirakan, sulit didapat di dunia. Apakah yang empat itu? (Keinginan:) “Semoga kekayaan yang sah datang padaku!” “Dengan kekayaan yang didapat lewat cara yang sah, semoga laporan yang baik kudapat sekaligus pula dengan kerabat dan guruku!”

“Semoga aku hidup lama dan berumur panjang!” “Ketika tubuh terurai, semoga setelah kematian aku mencapai alam surga!”

Sekarang, perumahtangga, untuk memperoleh empat keadaan ini, terdapat empat kondisi yang mendukung. Apakah yang empat itu? Kesempurnaan keyakinan, kesempurnaan moral, kesempurnaan kedermawanan, dan kesempurnaan kebijaksanaan.”

(AN 4:61)

Sang Buddha menjelaskan: keyakinan hanya dapat diperoleh bila seseorang sunguh-sungguh menerima Sang Bhagava dan pesannya mengenai sifat alami keberadaan. Seseorang bisa memperoleh kemoralan hanya bila ia memenuhi Lima Sila dasar kehidupan bermoral. Kedermawanan dimiliki oleh orang yang telah bebas dari keserakahan. Seseorang memperoleh kebijaksanaan ketika ia menyadari bahwa manakala hati dikuasai lima penghalang—nafsu duniawi, keinginan menyakiti, kemalasan, kegelisahan, dan keraguan—maka ia melakukan yang seharusnya tidak dilakukan dan tidak melakukan yang seharusnya dilakukan. Ia yang melakukan kejahatan dan tidak menghiraukan kebaikan akan kehilangan reputasi dan keberuntungannya. Sebaliknya, ia yang terus menerus menyelidiki dan mengamati keinginan dan dorongan batinnya mulai menguasai kelima penghalang. Oleh karena itu penaklukannya merupakan akibat dari kebijaksanaan.

Bila murid yang mulia, melalui keyakinan, kemoralan, kedermawanan, dan kebijaksanaan, sedang dalam perjalanan memperoleh empat hal yang diinginkan, yaitu kekayaan, reputasi baik, umur panjang, dan kelahiran kembali yang baik, menggunakan uangnya untuk melakukan empat perbuatan bajik. Ia membuat dirinya, keluarganya, dan temannya bahagia; ia menghindari kecelakaan; ia melakukan kelima tugas yang disinggung di atas; dan ia menyokong pertapa dan brahmana sejati. Bila seseorang menghabiskan kekayaan untuk hal selain dari empat ini, maka kekayaan itu tidak mencapai tujuannya dan telah disia-siakan dengan gegabah. Namun bila ia menghabiskan kekayaannya demi empat tujuan ini, maka ia telah menggunakannya dengan cara yang bermanfaat.

Dalam kesempatan lain Sang Buddha menjelaskan perbedaan antara tindakan baik dan tindakan buruk bagi umat awam. Di dalam kotbah ini (AN 10:91) beliau berkata: “Orang yang paling bodoh adalah ia yang walaupun memperoleh kekayaan melalui cara-cara yang tidak jujur, bahkan tidak menikmati penggunaannya untuk diri sendiri, ataupun demi manfaat orang lain. Sedikit lebih masuk akal bila seseorang paling tidak mendapatkan kebahagiaan dan kegembiraan bagi dirinya dari uang haram. Lebih masuk akal lagi orang yang menggunakannya untuk membahagiakan orang lain.” Bahkan pada tingkatan terendah dari pengumpulan uang dan barang lewat kekerasan dan kejahatan, yang dikutuk dengan keras dan tanpa membedabedakan oleh masyarakat umum, Yang Terjaga mampu melihat perbedaan yang halus antara perilaku dan sikap orang. Orang yang mengenali bahwa tujuan dasar dari memperoleh kekayaan adalah paling tidak untuk mendapatkan sedikit kenyamanan bagi dirinya, dapat dibuat memahami bahwa dengan mendapatkan pemasukan yang jujur, ia bisa memperoleh lebih banyak manfaat. Dan seseorang yang mendapatkan sedikit kebahagiaan dengan membuat orang lain bahagia juga dapat dengan mudah memahami bahwa ia jelas-jelas telah membuat orang-orang yang ia tipu atau rampok menjadi tidak bahagia. Di sisi lain, dengan penghidupan yang jujur, ia tidak menyakiti siapapun.

Kelompok kedua ialah orang yang memperoleh kekayaan sebagian melalui cara yang tidak jujur dan sebagian melalui cara yang jujur. Dalam kelompok ini ada orang yang tidak mendatangkan kebahagiaan baik untuk dirinya juga orang lain; mereka yang tidak menikmati kekayaannya; dan mereka yang dapat membahagiakan orang lain. Terakhir, kelompok ketiga terdiri dari mereka yang penghidupannya didapat melalui cara-cara yang jujur, yang juga terbagi menjadi tiga jenis. Namun di kelompok terakhir ini ditambahkan lagi dua jenis: mereka yang sangat melekat pada kekayaannya, dan karena dimabukkan olehnya, tidak mewaspadai bahaya yang terkandung di dalamnya dan tidak mencari jalan untuk keluar darinya; dan mereka yang tidak melekat pada kekayaannya dan tidak dimabukkan olehnya, namun waspada akan bahaya yang terkandung di dalamnya dan tahu jalan keluar darinya. Jadi semuanya ada sepuluh jenis orang yang menikmati kenikmatan duniawi hasil kekayaan.

Pada suatu ketika Sang Buddha bertanya apakah dana disediakan di rumahnya. Menurut kitab komentar, hal ini merujuk pada dana yang disediakan hanya bagi mereka yang membutuhkan, karena Sang Buddha mengetahui bahwa di rumah Anathapindika dana dengan murah hati diberikan pada Sangha. Dari sinilah berkembang perbincangan mengenai nilai kualitatif dari kesempurnaan berdana. Sang Buddha menjelaskan: “Walaupun seseorang memberikan dana baik kasar ataupun bagus, bila dana diberikan tanpa rasa hormat dan sopan santun, bukan dengan tangan sendiri, memberikan hanya sisa-sisa, dan memberi tanpa keyakinan terhadap hasil dari perbuatan, maka ketika ia terlahir kembali sebagai hasil dari berdana, maka batinnya tidak memiliki kesenangan terhadap makanan enak dan pakaian indah, kendaraan indah, pada lima objek indera yang lebih halus. Anak, istri, pelayan, dan pekerjanya tidak akan menaatinya, atau mendengarnya, atau memperhatikannya. Mengapakah demikian? Karena ini adalah hasil dari bertindak tanpa rasa hormat.

Sehubungan dengan ini, Sang Buddha menceritakan bagaimana beliau dalam kehidupan sebelumnya, sebagai seorang brahmana kaya bernama Velama, telah membagi-bagikan dana dalam jumlah besar namun tidak ada seorangpun dari penerimanya yang pantas diberi. Jauh lebih berjasa daripada dana dalam jumlah besar kepada orang yang tidak pantas, adalah sekali saja berdana makanan kepada para murid mulia, dari pemasukarus sampai arahat. Lebih berjasa lagi adalah berdana makanan kepada seorang paccekabuddha atau dari pada seratus orang paccekabuddha lebih baik berdana kepada seorang Buddha atau membangun vihara. Tetapi jauh lebih baik ialah pergi berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Dan tindakan ini akan lebih sempurna bila seseorang menjalankan Lima Sila. Namun, tetap lebih baik bila seseorang mampu walaupun hanya dalam satu tarikan nafas, memancarkan cinta-kasih universal (metta). Namun, yang terbaik adalah mengembangkan bahkan hanya dalam satu jentikan jari, pandangan-terang perihal ketidakkekalan (AN 9:20).

Kotbah ini menunjukkan tingkatan dalam berlatih: memberi, kemoralan, meditasi cinta-kasih, dan akhirnya, realisasi yang tak tergoyahkan perihal ketidakkekalan semua yang berkondisi. Tanpa usaha dalam memberi, kemoralan, dan mencintai sesama makhluk, perenungan terkonsentrasi perihal ketidakkekalan tidaklah mungkin, karena dalam kedamaian dan kesunyian yang dibutuhkan latihan ini, pikiran-pikiran gelap dapat muncul.

Pembabaran mengenai jenis memberi ini mengingatkan pada kotbah pendek lainnya. Dimana hanya di kisah inilah Anathapindika bertanya kepada Sang Buddha, yaitu, “Berapa banyakkah yang pantas menerima pemberian?” Sang Buddha menjawab bahwa ada dua jenis: mereka yang sedang menuju kebebasan dan mereka yang telah mencapainya (AN 2:27).

Walau dalam pembicaraan-pembicaraan sebelumnya topik pemurnian batin sedikit banyak ditekankan secara tidak langsung, dalam kejadian lain topik ini disinggung dengan gamblang. Pada suatu ketika Sang Buddha berkata kepada Anathapindika: “Bila pikiran terkorupsi, maka semua perbuatan, perkataan, dan pikiran juga ternoda. Orang yang demikian akan terbawa oleh nafsukeinginannya dan akan mengalami kematian yang tidak bahagia, seperti penyangga atap, kerangka atap, dan dinding dari rumah yang atapnya bobrok, tidak terlindungi, akan membusuk ketika basah oleh hujan” (AN 3:107-8).

Pada kesempatan lain, Anathapindika dengan beberapa ratus umat awam lainnya pergi menemui Sang Guru, yang kemudian berkata kepada mereka: “Kalian umat awam pasti menyediakan pakaian, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan bagi komunitas bhikkhu, namun kalian tidak boleh puas hanya dengan ini. Semoga kalian juga dari waktu ke waktu berjuang untuk masuk dan tinggal di dalam kegembiraan (meditatif) dari penyendirian!”

Setelah perkataan ini, Bhante Sariputta menambahkan: “Ketika seorang murid mulia berdiam di dalam kegembiraan (meditatif) dari penyendirian, lima hal tidak ada padanya: tidak ada kesakitan dan kesedihan yang berhubungan dengan indera; tidak ada kenikmatan dan kesenangan yang berhubungan dengan indera; tidak ada kesakitan dan kesedihan yang berhubungan dengan apa yang tidak bajik; tidak ada kesenangan dan kelegaan yang berhubungan dengan apa yang tidak bajik; tidak ada kesakitan dan kesedihan yang berhubungan dengan apa yang bajik” (AN 5:176).

Pada kesempatan lain ketika Anathapindika dan banyak umat awam mengunjungi Sang Buddha lagi, Sang Bhagava berkata kepada Y.M. Sariputta:

“Seorang perumahtangga berpakaian putih yang mengendalikan tindakannya sesuai Lima Sila dan yang dengan mudah dan tanpa kesulitan, dicapai setiap saat, empat kediaman mental yang agung yang membawa kebahagiaan sekarang juga—perumahtangga yang demikian boleh, bila ia mau, menyatakan dirinya: “Hancur sudah bagiku (tumimbal lahir di) neraka, hancur sudah tumimbal lahir sebagai hewan, hancur sudah alam setan:

hancur sudah bagiku alam-alam rendah, takdir yang tidak

bahagia, alam-alam menyedihkan: Aku telah memasuki arus, tidak akan lagi jatuh dalam keadaan yang

menyedihkan, pencerahan akhir telah dipastikan, dijamin!”

Di dalam Lima Sila tindakan apakah yang terkendali? Seorang murid mulia tidak membunuh, tidak mengambil apa yang tidak diberikan, tidak melakukan perilaku seksual yang salah, tidak berbohong, dan tidak mengkonsumsi zat yang memabukkan.

Dan apakah empat kediaman mental yang agung yang membawa kebahagiaan sekarang juga, yang dapat ia capai setiap saat? Seorang murid mulia memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Buddha, keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Dhamma, keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Sangha; dan ia memiliki kemoralan yang dicintai para ariya—kemoralan yang tak ter-rusak-kan, tak terlanggar, tak ternoda, tanpa cacat, membawa kemerdekaan, dipuji para bijaksana, tak tamak, mendukung konsentrasi. Inilah empat kediaman mental yang agung yang membawa kebahagiaan sekarang juga, yang memurnikan pikiran yang tidak murni dan membersihkan pikiran yang tidak bersih. Hal ini ia capai setiap saat, dengan mudah dan tanpa kesulitan.”

(AN 5:179)

Pada kesempatan lain pencapaian pemasuk-arus dijelaskan kepada Anathapindika dalam tiga cara yang berbeda— tetapi hanya kepada dia seorang. Sang Buddha berkata:

“Bila di dalam diri seorang murid mulia kelima kejahatan yang menakutkan telah lenyap, ketika ia memiliki empat sifat pemasuk-arus, dan bila ia memahami metode mulia dengan baik dan bijaksana, maka ia bisa menganggap dirinya sebagai pemasuk-arus. Namun, ia yang membunuh, mencuri, melakukan tindakan seksual yang salah, berbohong, dan mengkonsumsi zat yang memabukkan, menghasilkan kelima kejahatan yang menakutkan baik di masa sekarang maupun di masa depan, dan mengalami kesakitan dan kesedihan dalam pikirannya. Siapapun yang menjauhi kelima kejahatan, baginya kelima kejahatan telah dihapuskan. Kedua, ia memiliki—sebagai sifat pemasuk-arus—keyakinan tak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan ia menjalankan sila dengan tanpa-cela. Ketiga, ia telah sepenuhnya melihat dan menembus metode mulia, yakni asal mula yang saling bergantungan.”

(AN 10:92)

Pada suatu pagi Anathapindika ingin mengunjungi Sang Buddha, namun karena masih terlalu pagi maka ia pergi ke kediaman beberapa pertapa pengelana. Karena para pertapa mengenalinya sebagai pengikut Sang Buddha, mereka bertanya padanya perihal pandangan yang dimiliki pertapa Gotama. Ia menjawab bahwa ia tidak mengetahui semua pandangan Sang Bhagava. Ketika mereka bertanya kepadanya lagi perihal pandangan para bhikkhu, ia menjawab lagi bahwa ia tidak mengetahui semua pandangan mereka. Oleh karena itu ia ditanya apakah pandangan yang dimilikinya. Ia menjawab: “Pandangan apa yang kupegang, tuan-tuan yang mulia, tidaklah sulit untuk ku jelaskan. Tetapi bolehkan bila saya memohon Yang Mulia untuk menjelaskan pandangan anda dahulu. Setelah itu tidak akan sulit bagiku untuk menjelaskan pandangan yang aku pegang.”

Para pertapa kemudian menjelaskan anggapan mereka mengenai dunia. Yang satu menganggapnya abadi, yang lain menganggapnya tidak abadi; yang satu menganggapnya terbatas, yang lain menganggapnya tidak terbatas; yang satu menganggap bahwa badan dan jiwa adalah sama, yang lain menganggapnya berbeda; beberapa percaya bahwa Yang Tercerahkan tetap ada setelah meninggal, yang lain mengatakan bahwa ia hancur.

Anathapindika kemudian berkata: “Yang manapun dari pandangan ini yang dipegang, sumbernya pasti salah satu dari dua ini: dari refleksinya yang tidak bijaksana, atau melalui ucapan orang lain. Dalam kedua kasus itu, pandangannya muncul karena terkondisi. Akan tetapi, hal-hal yang terkondisi adalah sementara; dan hal-hal yang bersifat sementara melibatkan penderitaan. Oleh karena itu, ia yang memegang pandangan dan pendapat melekat pada penderitaan, tunduk pada penderitaan.”

Kemudian para pertapa ingin mengetahui pandangan yang dipegang Anathapindika. Ia menjawab: “Apapun yang timbul adalah sementara; kesementaraan adalah sifat dari penderitaan. Tetapi penderitaan bukanlah milikku, bukan aku, dan bukan diriku.”

Karena ingin membalas, mereka berargumen bahwa ia sendiri juga melekat karena ia melekat pada pandangan yang baru saja ia jelaskan. “Bukan begitu,” balasnya, “karena aku telah menangkap hal-hal ini sesuai kenyataan, dan lagipula, aku mengetahui cara keluar darinya sebagaimana adanya”—dengan kata lain, ia menggunakan pandangan ini hanya sebagai alat dan pada waktunya juga akan melepasnya. Para pengelana pun tidak mampu membalas dan duduk terdiam, sadar bahwa mereka telah dikalahkan.

Ananthapindika dengan diam-diam menemui Sang Buddha, melaporkan percakapan itu kepada beliau, dan menerima pujian Sang Buddha: “Engkau benar, perumahtangga. Engkau harus lebih sering membimbing mereka yang terkotori agar bisa sesuai dengan kebenaran.” Dan kemudian Sang Guru menyemangati dan mendorongnya dengan sebuah kotbah. Ketika Anathapindika telah pergi, Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu bahwa bahkan seorang bhikkhu yang telah hidup seratus tahun di dalam Sangha tidak akan dapat menjawab para pengelana itu sebaik yang telah dilakukan Anathapindika si perumahtangga (AN 10:93).

Akhirnya, dua kejadian lain dapat diceritakan: Anathapindika sakit dan memohon kunjungan seorang bhikkhu untuk mendapat penghiburan. Karena Anathapindika telah melakukan begitu banyak sebagai penyokong Sangha, pastilah permohonannya dikabulkan. Pertama kali, Y.M. Ananda menemuinya; kedua kali, Y.M. Sariputta. Y.M. Ananda berkata bahwa mereka yang pikirannya tak terlatih takut pada kematian dan kehidupan sesudahnya karena mereka tidak mempunyai empat hal: ia tidak memiliki keyakinan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, tidak pula ia memiliki kemoralan yang dipuji para mulia. Tetapi Anathapindika menjawab bahwa ia tidak memiliki rasa takut terhadap kematian. Ia memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan mengenai sila, ia tahu tidak satupun yang masih ia langgar. Bhante Ananda memujinya dan berkata bahwa ia baru saja menyatakan buah pemasuk-arus (SN 55:27).

Ketika Y.M. Sariputta berkunjung, ia memberitahu Anathapindika bahwa tidak seperti orang awam yang pikirannya tidak terlatih, dimana mereka masih mungkin terlahir di neraka, dia memiliki keyakinan terhadap Tiga Permata dan tidak melanggar sila. Bila sekarang ia berkonsentrasi penuh pada keyakinannya terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan kemoralannya sendiri, maka sakitnya dapat lenyap melalui meditasi ini. Ia tidaklah sama dengan mereka yang tak terlatih, yang memiliki pandangan salah, niat salah, ucapan salah, perbuatan salah, penghidupan salah, usaha salah, perhatian-penuh salah, konsentrasi salah, pengetahuan salah, atau kebebasan salah. Bila ia mempertimbangkan fakta bahwa ia, sebagai pemasuk-arus, memiliki sepuluh faktor mulia, mengalir menuju kebebasan benar, maka melalui meditasi ini sakitnya akan lenyap. Melalui kekuatan perenungannya, Anathapindika mengingat keberuntungannya yang besar menjadi seorang murid mulia, dan dengan kekuatan obat spiritual yang luar biasa ini penyakitnya langsung lenyap. Ia berdiri, mengundang Bhante Sariputta untuk mencicipi santapan yang dipersiapan untuk dirinya sendiri, dan berdiskusi lebih lanjut dengannya. Di akhir diskusi Bhante Sariputta mengajar dia tiga syair untuk diingat:

“Ketika seseorang memiliki keyakinan terhadap Sang Tathagata,

Tak tergoyahkan dan kokoh,

Dan tindakan bajik yang dibangun di atas kemoralan,

Disayangi para mulia dan dipuji—

Ketika seseorang memiliki keyakinan terhadap Sangha,

Dan pandangan yang telah diluruskan,

Mereka katakan bahwa ia tidak miskin,

Bahwa hidupnya tidak sia-sia.

Oleh karena itu orang yang cerdas,

Mengingat Ajaran Sang Buddha,

Seharusnya mengabdi pada keyakinan dan kemoralan,

Kepada kepercayaan dan pandangan Dhamma.”

(SN 55:26)

Delapan belas kotbah yang ditujukan kepada Anathapindika telah disinggung dengan singkat. Empat belas kotbah diberikan oleh Sang Bhagava atas inisiatif Beliau; satu

timbul ketika Anathapindika mengajukan satu pertanyaan; dalam kotbah yang lain ia melaporkan bagaimana ia telah mengajar orang lain; dan dalam dua kotbah ia diberi instruksi oleh Bhante Ananda dan Bhante Sariputta—kedelapan belas kotbah ini menunjukkan bagaimana beliau membuat Ajaran menjadi jelas bagi umat awam dan menginspirasi mereka pada usaha-usaha yang membahagiakan.

–bersambung–

Sumber:

Riwayat Hidup Anathapindika – Penyokong Utama Sang Buddha

Insight Vidyasena Production

The Rubric Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.