Tandulanali Jataka – Si Penilai Bodoh (5)

Sumber: http://www.buddhabihar.com/jataka_story_5.html

Diterjemahkan secara bebas oleh: Upa. Sasanasena Seng Hansen

tandulanali jataka

Picture source: http://jathakakatha.org/english/index.php?option=com_content&view=article&id=131:05-tandulanali-jataka&catid=42:1-50&Itemid=89

“Jangan bertanya berapa nilai setakaran beras?” – Kisah ini diceritakan oleh Buddha ketika berdiam di Jetavana. Kisah ini bercerita tentang Sesepuh Udāyi, yang disebut orang bodoh.

Pada saat itu Yang Mulia Dabba, Mallian, adalah orang yang bertanggungjawab mengurus keperluan bhikkhu. Ketika pagi hari tiba adalah tugas Dabba untuk memeriksa persediaan dan pembagian beras. Kadang-kadang pilihan beras yang berkualitas rendah jatuh ke bagian Sesepuh Udāyi. Pada suatu hari ketika ia menerima beras berkualitas rendah, ia membuat keributan di ruang pemeriksaan dan bertanya, “Apakah Dabba adalah satu-satunya orang yang tahu bagaimana cara membedakan kualitas beras? Bukankah kita semua juga bisa tahu caranya?” Suatu hari ketika ia membuat keributan, mereka menyerahkan keranjang pembagian beras kepada Udāyi, mengatakan, “Ini! Anda yang akan memilih sendiri jatah beras Anda hari ini!” Kemudian setelah itu, Sesepuh Udāyi-lah yang melakukan pembagian beras kepada para bhikkhu. Namun, dalam distribusi, dia tidak tahu bagaimana cara membedakan kualitas beras yang rendah dan mana beras dengan kualitas tinggi, pun dia tidak mengetahui senioritas yang berhak mendapatkan beras terbaik dan mana yang harus menerima beras berkualitas lebih rendah. Demikian pula ketika ia membuat daftar nama-nama bhikkhu senior, ia tidak mempunyai gagasan tentang senioritas di atasnya. Karenanya, ketika para sesepuh senior lain mengambil tempat makan mereka, ia membuat tanda pada tanah atau di dinding untuk menunjukkan bahwa satu kumpulan senior berdiri di sini, dan satu lagi di sana. Hari berikutnya lebih sedikit sesepuh senior ada dalam satu kumpulan yang sama di ruang itu dan lebih banyak lagi di ruang periksa; di mana terdapat lebih sedikit tanda sedangkan jumlah sesepuh senior lebih banyak. Tetapi Udāyi, masa bodoh dengan kumpulan itu dan tetap memberikan jatah beras hanya sesuai dengan tanda buatannya yang sudah tidak falid lagi.

Oleh karena itu, sesepuh senior berkata kepadanya, “Sahabat Udāyi, tanda itu terlalu banyak atau terlalu sedikit; beras yang terbaik adalah bagi mereka yang seperti itu, dan beras dengan kualitas lebih rendah adalah untuk yang seperti itu.” Tapi ia menjawab kembali dengan argumen, “Jika tanda ini adalah untuk yang itu, untuk apa engkau berdiri di sini? Mengapa saya harus percaya pada anda? Tanda buatankulah yang aku percayai.”

Kemudian, bhikkhu-bhikkhu muda dan para samanera yang mempercayakan pembagian jatah beras pada sesepuh Udayi menangis di ruang pemeriksaan, “Sesepuh Udāyi adalah orang bodoh, saat Anda yang melakukan pembagian, sesepuh senior tidak mendapat apa yang seharusnya mereka dapat; Anda tidak cocok untuk mengatur pembagian jatah ini; silakan Anda pergi dari sini. ” Sesudah itu, muncul kehebohan besar di kamar periksa.

Mendengar keributan, Sang Guru bertanya kepada Sesepuh Ananda, mengatakan, “Ananda, ada kehebohan besar di kamar periksa. Apa yang terjadi?”

Para sesepuh menjelaskan semuanya kepada Sang Buddha. “Ananda,” katanya, “ini bukan satu-satunya saat ketika Udāyi oleh kebodohannya telah merampas keberuntungan orang lain, ia melakukan hal yang sama di masa lampau juga.”

Para sesepuh bertanya pada Sang Bhagava untuk penjelasan lebih lanjut, dan Sang Bhagava membuat jelas apa yang telah disembunyikan oleh kelahiran kembali.

Suatu ketika, pada waktu itu Brahmadatta sedang memerintah di Benares di Kasi. Pada masa itu, Bodhisatta adalah seorang penilai. Ia digunakan jasanya untuk menilai harga kuda, gajah, dan sejenisnya, dan demikian pula permata, emas, dan sejenisnya; dan ia juga digunakan jasanya untuk membayar ke pemilik barang dengan harga yang tepat.

Tetapi raja itu serakah dan keserakahan mengusulkan kepadanya pemikiran sebagai berikut: “Penilai ini dengan penilaiannya yang menghargai sesuatu sesuai dengan harganya akan segera menguras semua kekayaan di istanaku, saya harus mendapatkan penilai yang lain.” Membuka jendela dan memandang keluar ke halaman, terlintas seorang bodoh dan seketika itu keserakahan raja membuatnya menginginkan si orang bodoh itu untuk menjadi pengganti si penilai. Jadi, raja memanggil orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia dapat melakukan pekerjaan itu. “Oh ya,” kata pria tersebut, dan dengan demikian, untuk menjaga harta kerajaannya, orang bodoh ini ditunjuk sebagai penilai. Setelah ini orang bodoh tersebut, dalam menilai gajah dan kuda-kuda dan sejenisnya, menggunakan harga yang ditetapkannya sendiri, mengabaikan nilai sejati mereka, tetapi, karena dia adalah penilai, maka harga yang berlaku adalah harga yang diucapkannya dan tidak yang lain.

Pada waktu itu datang dari negeri utara seorang penjual kuda dengan 500 ekor kuda. Raja memanggil penilai barunya dan memintanya untuk menilai kuda-kuda tersebut. Dan harga yang ditetapkan secara keseluruhan untuk 500 ekor kuda hanyalah satu takaran beras, yang diperintahkan untuk dibayar ke para penjual kuda, mengarahkan kuda-kuda yang akan dibawa pergi ke kandang. Dengan kecewa si penjual kuda pergi ke tempat mantan penilai, kepada siapa ia menceritakan apa yang telah terjadi, dan bertanya apa yang harus dilakukan. “Beri dia suap,” kata mantan penilai, “dan tegaskan hal ini padanya: ‘Mengetahui saat kami melakukan penawaran kuda-kuda kami dengan hanya bernilai satu ukuran takar beras, kami ingin belajar dari Anda apa nilai yang tepat untuk satu takaran beras; bisakah Anda menyatakan nilai itu di hadapan raja?’. Kalau dia bilang bisa, kemudian bawalah dia menghadap raja, dan aku juga akan berada di sana.”

Siap mengikuti nasihat Bodhisatta, si penjual kuda menyuap pria tersebut dan mengajukan pertanyaan itu kepadanya. Si penilai yakin memiliki kemampuan untuk mengungkapkan nilai ukuran beras, langsung dibawa ke istana, di mana Bodhisatta dan banyak menteri lainnya juga pergi ke sana. Dengan hormat si pedagang kuda berkata, “Yang Mulia, aku tidak membantah bahwa harga dari 500 kuda adalah ukuran setakaran beras, tetapi aku akan meminta Mulia untuk bertanya kepada penilai Anda mengenai nilai dari setakaran beras.” Tanpa belajar dari apa yang telah terjadi sebelumnya, raja berkata kepada penilainya, “Penilai, apa yang senilai dengan nilai 500 ekor kuda?” “Sebuah ukuran beras, Tuanku,” jawabnya. “Sangat bagus, temanku, jika 500 kuda bernilai satu ukuran beras, maka apakah itu nilai setakaran beras?” “Senilai dengan seluruh Benares dan sekitarnya,” jawab si bodoh.

(Dengan demikian kita belajar bahwa setelah pertama-tama menilai harga kuda-kuda dengan ukuran setakaran beras untuk menyenangkan hati raja, ia disuap oleh penjual kuda untuk memperkirakan bahwa ukuran beras itu senilai dengan seluruh wilayah Benares dan sekitarnya. Dan bahwa meskipun wilayah kota Benares seluas radius dua belas mil, tetapi kota dan pinggiran kota semuanya seluas radius tiga ratus mil! Dan tetap saja si penilai bodoh menilai semua wilayah kota besar ini dan sekitarnya seukuran tunggal beras!)

Setelah itu para menteri bertepuk tangan dan tertawa riang. “Kami biasa berpikir,” kata mereka mengejek, “bahwa bumi dan alam berada di luar harga, tetapi sekarang kita belajar bahwa Kerajaan Benares bersama-sama dengan rajanya hanya bernilai satu takaran beras! Bakat apa yang dimiliki penilai! Bagaimana ia bisa mempertahankan jabatannya begitu lama? Tetapi ia benar-benar cocok dengan raja kami yang mengagumkan. ”

Kemudian Bodhisatta mengulangi bait 4:

Jangan bertanya berapa nilai setakaran beras?

– Mengapa, semua Benares, baik di dalam dan keluarnya.

Akan tetapi, walaupun aneh untuk dikatakan, lima ratus ekor kuda juga

Senilai dengan harga setakaran beras!

Dengan demikian, sambil meletakkan malu, raja mengirim pulang si orang bodoh, dan mengangkat kembali Bodhisatta. Dan ketika hidupnya berakhir, Bodhisatta meninggal dunia sesuai dengan jasa-jasa perbuatannya.

Pelajarannya berakhir dan kedua kisah yang diceritakan, Sang Buddha menghubungkannya, dan mengidentifikasi dalam kesimpulan, – “Udāyi adalah si penilai bodoh, dan aku sendiri adalah penilai yang bijak.”

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: