Makhadeva Jataka: Kisah Raja Makhadeva dan Pelepasan Agungnya (Jataka 9)

Sumber: http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1012.htm

Diterjemahkan secara bebas oleh: Upa. Sasanasena Seng Hansen

Picture source:

http://www.jathakakatha.org/english/index.php?option=com_content&view=article&id=127:09-makhadeva-jataka&catid=42:1-50&Itemid=89

********************************************************************************************************

Inilah rambut uban itu!” – Kisah ini diceritakan oleh Sang Bhagava ketika berdiam di Jetavana mengenai Pelepasan Agung, yang juga terkait dalam Nidāna-katha.

Pada kesempatan ini, para bhikkhu duduk memuji kisah Pelepasan Agung Buddha. Sang Bhagava kemudian berjalan memasuki Ruang Kebenaran dan duduk di tempat yang telah disediakan, Buddha Gotama kemudian bertanya pada para bhikkhu: – “Apa tema, o para bhikkhu, yang kalian perbincangkan dalam pertemuan ini?”

“Itu tidak lain, Yang Mulia, adalah tentang kisah Pelepasan Agung Anda sendiri.”

“Saudara-saudara,” jawab sang Guru, “tidak hanya dalam kehidupan ini saja Tathagata melakukan Pelepasan Agung; pada hari-hari di kehidupan lampau Tathagata juga meninggalkan dunia.”

Para bhikkhu bertanya pada Sang Bhagava penjelasan mengenai hal ini. Sang Bhagava menyingkap dengan jelas apa yang telah tersembunyi dari mereka oleh kelahiran kembali.

*****************************************************************************************************

Pada suatu ketika di Mithila di kerajaan Videha hiduplah seorang raja bernama Makhādeva, yang hidup dengan benar dan memerintah dalam kebenaran pula. Untuk periode berturut-turut selama delapan puluh empat ribu tahun ia telah menyenangkan dirinya dengan menjadi pangeran, memerintah sebagai raja muda, dan kemudian memerintah sebagai raja. Selama bertahun-tahun telah ia lalui, sampai pada suatu hari ia berkata kepada tukang cukurnya, –

“Katakanlah padaku, teman tukang cukur, ketika Anda melihat ada uban di kepalaku.”

Jadi suatu hari, bertahun-tahun setelah itu, si tukang cukur itu menemukan sehelai rambut beruban raja, dan dia pun mengatakannya kepada raja.

“Cabutlah rambut itu, temanku,” kata raja; “dan letakkan di telapak tanganku.”

Si tukang cukur rambut mencabut uban itu dengan penjepit emasnya dan meletakkannya di tangan raja. Raja pada saat itu masih memiliki delapan puluh empat ribu tahun lagi untuk hidup; namun demikian, saat ia melihat sehelai rambutnya beruban ia dipenuhi dengan emosi yang mendalam. Dia tampak melihat Raja Maut berdiri di atasnya.

“Bodoh kamu Makhādeva!” ia berseru; “uban telah datang kepadamu sebelum kamu telah membebaskan dirimu dari keburukan moral.”

Dan ketika dia berpikir dan berpikir tentang penampilan dari rambut ubannya, tumbuh semangat dalam dirinya; keringat bergulir turun dari tubuhnya; sementara pakaiannya tampak tak tertahankan. “Hari ini,” pikir dia, “Aku akan meninggalkan dunia untuk menjalani kehidupan suci.”

Kepada tukang cukurnya ia memberikan hadiah sebuah desa yang menghasilkan seratus ribu keping uang. Ia memanggil putra tertuanya dan berkata kepadanya, “Anakku, uban telah muncul padaku dan aku menjadi tua. Aku telah menikmati kebahagiaan manusia dan waktunya untuk merasakan kegembiraan surgawi, waktunya untuk pelepasan agung telah tiba. Ambillah kedaulatan ini untuk dirimu; sedangkan bagiku, aku akan mengambil tempat tinggal di tempat yang disebut kebun Mangga Makhādeva, dan di sanalah aku akan menapaki jalan pertapa. ”

Ketika ia bertekad menjalani kehidupan suci, para menteri mendekat dan berkata, “Apa alasannya, Yang Mulia, mengapa Anda mengadopsi kehidupan pertapa?”

Mengambil rambut abu-abu di tangannya, sang raja mengulangi bait ini kepada para menterinya: —

Inilah, ini rambut yang abu-abu yang muncul di kepalaku
Kematian itu sendiri adalah utusan yang datang untuk merampok
hidupku.

Kali ini aku berpaling dari hal-hal duniawi,
Dan
hidup di jalan pertapa untuk mencari kedamaian.

Dan setelah mengucapkan kata-kata ini, ia melepaskan kedaulatannya dan pada hari yang sama juga ia menjadi seorang pertapa. Tinggal di dalam kebun Mangga Makhādeva, dia di sana selama delapan puluh empat ribu tahun memupuk Empat Keadaan Batin Sempurna dalam dirinya, dan meninggal dengan pemahaman penuh dan utuh, kemudian terlahir kembali di Alam Brahma. Setelah itu, ia menjadi raja lagi di Mithila, dengan nama Nimi, dan setelah menyatukan keluarganya yang tersebar, sekali lagi ia menjadi seorang pertapa di dalam kebun Mangga yang sama, memenangkan Empat Keadaan Batin Sempurna dan setelah itu terlahir kembali ke Alam Brahma.

********************************************************************************************************

Setelah mengulangi pernyataan bahwa Beliau juga telah melakukan pelepasan agung pada kehidupan lampauNya, Buddha di akhir pelajarannya mengajarkan Empat Kebenaran Mulia. Beberapa bhikkhu memasuki tahap Pertama, beberapa tahap Kedua, dan beberapa tahap Ketiga. Setelah kedua cerita berakhir, Buddha menghubungkan keduanya dan mengidentifikasi Kelahiran, dengan mengatakan: – “Pada masa itu Ananda adalah tukang cukur, Rahula adalah putra raja, dan Aku sendiri adalah Raja Makhādeva.”

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: