SUKHAVIHĀRI-JĀTAKA (Jataka 10)

Picture source: http://www.jathakakatha.org/english/index.php?option=com_content&view=article&id=126:10-sukhavihari-jathaka&catid=42:1-50&Itemid=89

“Dia yang tidak menjaga apapun.” – Kisah ini diceritakan oleh Guru kita saat berdiam di kebun Mangga Anūpiya dekat kota Anūpiya, mengenai Sesepuh Bhaddiya (Yang Berbahagia), yang bergabung masuk Persaudaraan bersama dengan enam bangsawan dan Upali. Dari keenamnya, Sesepuh Bhaddiya, Kimbila, Bhagu dan Upali mencapai tingkat kesucian Arahat; Sesepuh Ananda mencapai tingkat kesucian Pertama; sedangkan Sesepuh Anuruddha memperoleh kemampuan mata dewa (mampu melihat segala sesuatu); dan Devadatta memperoleh kemampuan abstraksi diri. Kisah mengenai enam bangsawan ini terjadi di Anūpiya, dan akan berkaitan dengan Khaṇḍahāla-jātaka.

Yang Mulia Bhaddiya, yang dulunya terbiasa dijaga ketat oleh para penjaganya bahkan penjagaan tersebut dilakukan hingga dia berada di dalam kediamannya sendiri di istana, memikirkan rasa takut yang dulu ada sehingga dia memiliki penjaga tak terhitung jumlahnya; dan sekarang pada saat beliau telah mencapai tingkat kesucian tertinggi, membandingkan rasa takutnya yang dulu sekarang telah lenyap sama sekali, walaupun beliau berada di hutan pedalaman maupun padang pasir yang luas. Dan dia pun mengucapkan – “Oh, betapa bahagianya! Betapa bahagianya!”

Ungkapan Sesepuh Bhaddiya ini kemudian dilaporkan kepada Sang Bhagava, seperti demikian, “Yang Mulia Bhaddiya sedang menyatakan berkah Kemenangan.”

“Saudara-saudara,” jawab Sang Bhagava, “ini bukanlah pertama kalinya kehidupan Bhaddiya begitu bahagia, bahkan kehidupannya di masa lampau tak kalah bahagia.”

Persaudaraan kemudian meminta Sang Bhagava untuk menjelaskan hal ini. Sang Bhagava menjelaskan apa yang telah ditutup oleh kelahiran kembali.

Pada suatu masa, ketika Brahmadatta berkuasa di Benares, Bodhisatta lahir dalam keluarga brahmana yang kaya raya. Menyadari kejahatan yang timbul dari nafsu dan berkah yang diperoleh dari meninggalkan kehidupan duniawi, dia menjauhi segala bentuk nafsu dan pergi ke Himalaya untuk menjadi seorang pertapa pengembara dan akhirnya berhasil memenangkan Delapan Berkah. Pengikutnya terus bertambah hingga akhirnya berjumlah lima ratus pertapa. Pada saat musim hujan telah tiba, ia bersama-sama dengan pertapa pengikutnya turun dari Himalaya melalui desa-desa hingga akhirnya tiba ke kota Benares. Disanalah ia berdiam di salah satu istana kerajaan atas kemurahan hati raja. Setelah berdiam disana selama empat bulan musim penghujan, dia menemui raja untuk berpamitan. Tetapi sang raja berkata kepadanya, “Anda sudah tua, Yang Mulia. Mengapa Anda harus kembali ke Himalaya? Kirimkanlah murid-muridmu kembali ke Himalaya dan Anda sendiri tetap tinggal disini.”

Bodhisatta kemudian mempercayakan kelima ratus pertapa pengikutnya kepada murid tertuanya, berkata, “Pergilah kalian ke Himalaya, Aku akan menetap disini.”

Sebelum menjadi seorang pertapa, murid tertuanya adalah seorang raja yang meninggalkan sebuah kerajaan besar untuk memasuki persaudaraan. Dan dengan daya upaya yang tekun ketika berdiam di Himalaya, akhirnya dia juga berhasil mencapai Delapan Berkah. Pada suatu hari timbul keinginannya untuk bertemu dengan gurunya dan dia pun berkata pada pertapa pengikutnya, “Hiduplah dengan kesederhanaan disini, Aku akan kembali secepatnya setelah Aku memberikan hormat kepada guru kita.” Maka kemudian dia pun pergi menemui guru dan menyampaikan hormatnya kepada beliau. Kemudian dia pun duduk di salah satu sisi gurunya di atas sebuah tikar yang telah digelar.

Pada saat itu datanglah raja, yang setelah memberikan hormat pada guru pertapa kemudian duduk di salah satu sisinya. Namun walaupun menyadari kedatangan raja, murid tertua guru pertapa tidak berdiri dan memberikan salam, melainkan berkata dengan penuh keharuan, “Oh betapa bahagianya! Betapa bahagianya!”

Tidak menyukai sikap murid pertapa itu yang walaupun menyadari kedatangannya, tidak berdiri dan member salam, sang raja berkata kepada Bodhisatta, “Yang Mulia, murid Anda ini pastilah kekenyangan makan, melihat dia tetap duduk disana dengan begitu bahagia, menyatakan rasa bahagianya.”

“Tuanku,” ucap Bodhisatta, “pertapa ini sebelumnya juga adalah seorang raja, sama seperti anda. Dia sedang mengenang hari-hari yang lalu ketika dia masih sebagai umat awam dan tinggal di istana bersama-sama dengan banyak pengawal yang menjaganya. Dia tidak pernah mencicipi kebahagiaan sebagaimana ia sekarang. Yakni kebahagiaan kehidupan seorang pertapa dan kebahagiaan yang dimunculkan dari Wawasan ke dalam. Inilah yang membuatnya mengutarakan ungkapan kebahagiaan tersebut.” Dan Bodhisatta lebih lanjut menyatakan syair ini untuk mengajarkan kebenaran pada sang raja:

Dia yang tidak menjaga apapun, atau dijaga oleh siapapun,

Hidup berbahagia, terbebas dari perbudakan dan hawa nafsu.

Mendengar pelajaran ini, raja menyampaikan rasa hormatnya dan kembali ke istana. Sedangkan murid tertua pertapa tersebut juga meminta pamit pada gurunya dan kembali ke Himalaya. Tetapi Bodhisatta tetap berdiam disana dan dengan Wawasan ke dalam yang tak tergoyahkan, lahir kembali ke Alam Brahma.

PelajaranNya berakhir dan dari kedua cerita di atas, Buddha menghubungkan keduanya dan mengidentifikasikan kelahiran dengan mengatakan, — “Sesepuh Bhaddiya adalah murid guru pertapa itu, dan Aku sendiri adalah guru pertapa tersebut.”

***

Source:

http://buddhabihar.com/jataka_story_10.html

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: