Riwayat Hidup Maha Kassapa (Bagian 1)

Judul asli: Maha Kassapa – Father of the Sangha

Oleh: Hellmuth Hecker

Diterjemahkan secara bebas oleh: Seng Hansen
Daftar Isi:
  1. Masa Muda Kassapa
  2. Bhadda Kapilani
  3. Kehidupan Lampau Kassapa dan Bhadda Kapilani
  4. Kassapa Bertemu Buddha
  5. Hubungan Maha Kassapa dengan Buddha Gotama
  6. Perjumpaan dengan Para Dewa
  7. Hubungan dengan murid dan bhikhu pengikutnya
  8. Setelah Buddha Parinibbana
  9. Syair-syair Maha Kassapa
  1. Masa Muda Kassapa

Diantara siswa-siswa Buddha yang dianggap paling dekat dengan Beliau adalah: dua orang sahabat yakni Sariputta dan Maha Moggallana, yang juga merupakan dua siswa utama Buddha, sepasang siswa teladan bagi yang lainnya. Juga terdapat dua orang kakak-beradik, Ananda dan Anuruddha, yang bertindak seperti “Bapak Persaudaraan”. Diantara kedua pasang siswa hebat ini, terdapatlah sesosok figure hebat yang berdiri sendiri yang bernama Pipphali Kassapa, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Maha Kassapa atau Kassapa Agung untuk membedakannya dengan siswa-siswa lain dari marga Kassapa yang sama, seperti Kumara Kassapa dan Uruvela Kassapa.

Setelah Sariputta dan Maha Moggallana meninggal dunia mendahului Buddha, Maha Kassapa menjadi siswa panutan dan dihormati oleh seluruh anggota Persaudaraan. Akan tetapi bahkan ketika Buddha meninggal dunia, Maha Kassapa tidak terpilih sebagai pemimpin Persaudaraan, sebagaimana itulah hal yang dikehendaki oleh Buddha sendiri agar tidak ada otoritas utama dalam Sangha. Dengan ringkas sebelum kepergianNya, Buddha berkata: “Apa  yang telah Kukatakan dan Kuajarkan, Ananda, sebagai Ajaran dan Disiplin (Dhamma-Vinaya), itulah yang akan menjadi Gurumu ketika Aku telah tiada” (D.16).

Namun demikian, karena kewibawaan dari Maha Kassapa membuatnya dihormati dan diagungkan di dalam Sangha. Ada banyak faktor yang memberikan kontribusi atas posisinya yang demikian tinggi dalam komunitas Sangha setelah kematian Buddha. Beliau telah sering kali dipuji oleh Buddha sebagai siswa yang sebanding dalam banyak hal dan dia juga mempunyai 7 (tujuh) dari 32 (tiga puluh dua) Tanda Manusia Agung yang dimiliki oleh Buddha. Beliau adalah satu-satunya bhikkhu yang pernah bertukar jubah dengan Buddha. Maha Kassapa memperoleh kemampuan tertinggi dari sepuluh “kualitas yang membangkitkan keyakinan diri.” Dia juga salah satu siswa teladan dan sepenuh hidupnya dipersembahkan untuk bermeditasi. Jadi pantas apabila beliau dipilih sebagai orang yang memimpin Persamuan Agung Pertama yang diadakan atas desakan nasehat dari dirinya sendiri. Mungkin karena semua fitur karakternya inilah yang kemudian di Cina dan Jepang, menjadikan Maha Kassapa sebagai pemimpin pertama dari Buddhisme Ch’an atau Zen.

Seperti kedua siswa utama, Sariputta dan Maha Moggallana, Maha Kassapa juga berasal dari kasta brahmana, dan lagi seperti kedua siswa utama, beliau lebih tua daripada usia Buddha Gotama. Beliau lahir di kerajaan Magadha, di desa Mahatittha, sebagai anak dari seorang brahmana bernama Kapila dan istrinya yang bernama Sumanadevi. Beliau disebut Pipphali. Ayahnya memiliki enam belas desa yang dikuasainya selayaknya raja kecil, dengan demikian Pipphali tumbuh besar di tengah kekayaan dan kemewahan yang ada. Walaupun demikian, semenjak usia muda sudah timbul keinginannya untuk meninggalkan hidup duniawi dan memilih untuk tidak menikah. Ketika orang tuanya berulang kali memaksanya untuk mencari seorang istri, beliau berkata bahwa dia ingin menjaga kedua orang tuanya sepanjang hidup mereka, tetapi setelah mereka meninggal, dia pun akan menjadi seorang pertapa. Namun kedua orang tuanya terus memaksa dan terus memaksa hingga akhirnya untuk menyenangkan hati ibunya, Pipphali setuju untuk menikah – dengan satu catatan: gadis itu haruslah sesuai dengan kriteria sempurna yang dimilikinya. Untuk tujuan tersebut, Pipphali membuat sebuah patung emas berwujud wanita cantik, dan setelah dihiasi dengan berbagai perhiasan dan ornamen, dia menunjukkannya pada kedua orang tuanya, berkata: “Jika kalian dapat menemukan wanita seperti patung ini untukku, aku akan hidup berumah tangga.” Orang tuanya segera mengundang delapan orang brahmana, menghadiahkan mereka bermacam-macam hadiah dan meminta mereka untuk membawa gambaran serupa patung tersebut bersama mereka dan pergi mengembara mencari wanita serupa wujud patung tersebut.

Para brahmana kemudian berpikir: “Mari kita pertama-tama pergi ke kerajaan Madda, mengingat disana terdapat wanita cantik seperti patung emas tersebut.” Disanalah mereka menemukan seorang wanita seperti gambaran patung emas buatan Pipphali di Sagala. Dia adalah Bhadda Kapilani, anak perempuan dari seorang brahmana yang kaya raya, berusia enam belas tahun, lebih muda empat tahun dari Pipphali Kassapa. Orang tuanya setuju dengan lamaran tersebut, dan para brahmana itu pun pulang menemui orang tua Pipphali untuk mengabarkan berita baik ini. Namun ternyata Bhadda Kapilani juga seseorang yang tidak memiliki keinginan untuk menikah. Dia pun berkeinginan untuk menjalani hidup sebagai seorang pertapa wanita. Kesamaan aspirasi antara Bhadda Kapilani dan Pipphali Kassapa mungkin yang membuat mereka memiliki ikatan karma yang telah ada sejak kehidupan lampau mereka, matang di kehidupan saat ini.

Ketika Pipphali mendengar kabar bahwa apa yang dipikirnya selama ini sebagai sesuatu yang mustahil ada di dunia ini ternyata ada, dia menjadi sedih dan mengirimkan surat berikut ini kepada gadis tersebut: “Bhadda, tolong menikahlah dengan pria lain yang memiliki status yang sama dengan anda dan hiduplah berbahagia bersamanya. Sedangkan aku, aku akan menjadi seorang pertapa. Tolong jangan memiliki penyesalan apapun.” Bhadda Kapilani, yang memiliki pikiran serupa, juga mengirimkan Pipphali sepucuk surat yang isinya hampir sama. Tetapi kedua orang tua mereka yang telah memperkirakan adanya surat-surat semacam ini, mengambil surat tersebut dan menukarkannya dengan surat yang berisi selamat.

Demikianlah akhirnya Bhadda dibawa ke Magadha dan sepasang pemuda-pemudi itu pun akhirnya menikah. Walaupun begitu, sesuai dengan aspirasi mereka untuk menjalani hidup suci, maka keduanya setuju untuk hidup selibat dalam rumah tangga. Untuk menunjukkan ekspresi aspirasi itu, mereka selalu menaruh kalung bunga di antara mereka sebelum pergi tidur, memutuskan untuk tidak larut dalam nafsu seksual.

Sepasang muda-mudi kaya ini hidup demikian bahagia selama bertahun-tahun. Sepanjang orang tua Pipphali masih hidup, mereka tidak perlu mengurusi sawah mereka. Tetapi ketika kedua orang tua Pipphali meninggal, mereka harus mengambil alih tanggung jawab property keluarga mereka yang demikian besar.

Pada suatu hari, ketika Pipphali Kassapa sedang mengawasi kebun, dilihatnya sesuatu yang belum pernah dilihatnya selama ini dengan mata kepala sendiri. Dia mengamati bahwa saat pekerja-pekerja membajak sawah, banyak burung-burung berkumpul dan dengan mudahnya segera mematuk cacing-cacing yang muncul dari permukaan tanah. Pemandangan ini yang mungkin terasa begitu wajar bagi para petani, begitu mengusiknya. Hal itu demikian mengusiknya karena mengetahui bahwa segala kekayaannya, yang merupakan hasil dari lading mereka, ternyata mengakibatkan penderitaan bagi banyak makhluk lainnya. Kesejahteraannya dibeli dengan kematian begitu banyak cacing dan hidup makhluk-makhluk kecil lainnya yang ada di tanah. Memikirkan hal ini, dia bertanya pada salah satu buruhnya: “Siapa yang akan menuai akibat dari perbuatan ini?” – “Anda sendiri, tuanku,” jawab si buruh.

Terkejut oleh wawasan ini, dia pulang ke rumah dan merenung: “Jika aku harus memikul akibat dari pembunuhan itu, lalu untuk apa semua kekayaan ini bagiku? Lebih baik bagiku untuk memberikan segalanya pada Bhadda dan pergi menjalani kehidupan pertapa.”

Tetapi di rumah, pada saat yang sama, istrinya juga sedang mengalami kejadian yang serupa. Dia juga melihat dengan penuh pengertian sesuatu yang belum pernah dilihatnya sendiri. Biji sesame (sejenis wijen) telah disebar di perkarangan untuk dikeringkan. Burung gagak dan burung-burung lain mematuk serangga-serangga yang ada di biji-biji itu. Ketika Bhadda bertanya pada pelayannya siapa yang akan menanggung akibat moral dari kematian kejam begitu banyak binatang, dia diberitahu bahwa itu adalah karma yang akan ditanggungnya. Kemudian dia berpikir: “Jika karena (banyak kematian) itu aku berbuat kesalahan, aku tidak akan sanggup membayarnya dengan samudra kelahiran kembali, bahkan hingga seribu kehidupan sekalipun. Setibanya Pipphali ke rumah, aku akan memberikannya segalanya dan pergi untuk menjalani kehidupan pertapa.”

Ketika mengetahui bahwa mereka memiliki niat yang sama, mereka pun akhirnya memakai jubah kuning pucat dan membawa mangkuk bulat dari tanah liat yang mereka peroleh dari bazar, dan kemudian mereka pun saling mencukur kepala mereka. Demikianlah mereka pun menjadi pertapa pengembara dan membuat tekad: “Mereka yang telah menjadi Arahat di dunia ini, kepada merekalah kami akan mendedikasikan hidup kami!” Dengan memikul mangkuk di belakang pundak, mereka pun pergi meninggalkan kekayaan dalam jumlah yang besar, dengan tanpa sepengetahuan para pelayan mereka. Tetapi ketika mereka tiba di desa tetangga yang masih merupakan milik keluarga mereka, para pekerja dan pelayan keluarga melihat mereka. Sambil menangis dan meratap, mereka bersujud di hadapan kedua pertapa pria-wanita itu dan berkata: “Oh tuanku yang terkasih dan termulia! Mengapa anda berdua membuat kami menjadi yatim yang tak berdaya?” – “Itu karena kami telah melihat tiga dunia yang seperti sebuah rumah yang sedang terbakar, karena itulah kami pergi meninggalkan kehidupan berumah tangga.” Kemudian kepada mereka yang selama ini menjadi abdi keluarga, Pipphali Kassapa memberikan kebebasan, dan dia serta Bhadda pergi melanjutkan perjalanan, meninggalkan kerumunan penduduk desa yang masih meratap di belakang.

Ketika berjalan, Kassapa berada di depan sedangkan Bhadda mengikutinya dari belakang. Mempertimbangkan hal ini, Kassapa berpikir: “Sekarang, Bhadda Kapilani mengikutiku dengan dekat dari belakang dan dia adalah wanita dengan kecantikan yang sungguh luar biasa. Beberapa orang dapat dengan mudah berpikir, ‘Walaupun mereka adalah pertapa, mereka masih tidak dapat hidup terpisah satu sama lainnya! Ini tidak sesuai dengan apa yang mereka jalani.’ Jika orang-orang itu memikirkan pikiran keliru seperti ini atau bahkan menyebarkan rumor keliru, mereka akan menyakiti diri mereka sendiri.” Jadi dia berpikir lebih baik untuk mengambil jalan terpisah. Ketika mereka tiba di sebuah persimpangan jalan, Kassapa berkata: “Bhadda, kamu ambillah jalan ini dan aku akan mengambil jalan disana.” Bhadda Kapilani membalas: “Memang benar, bagi para pertapa, seorang wanita adalah sebuah halangan. Orang-orang mungkin saja berpikir dan berbicara yang tidak-tidak tentang kita. Jadi silakan anda pergi mengambil jalan anda, dan kita akan berjalan masing-masing sekarang.” Dia kemudian dengan penuh hormat bersujud, member hormat di hadapan kaki Pipphali dan dengan tangan beranjali berkata: “Persahabatan akrab kita yang telah dilalui sejak kehidupan lampau akan berakhir pada hari ini. Silakan anda mengambil jalan ke kanan dan aku akan mengambil jalan lainnya.” Demikianlah mereka berpisah dan pergi mengembara masing-masing, mencari tujuan tertinggi tingkat kesucian Arahat, pembebasan sempurna dari penderitaan. Dikatakan bahwa bumi ini, didorong oleh kekuatan kebajikan mereka berdua, bergetar dan bergoyang.

Source:

http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/hecker/wheel345.html#ch2

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: