Riwayat Hidup Maha Kassapa (2)

Marilah pertama-tama kita mengikuti jejak Bhadda Kapilani. Jalan yang dipilihnya ternyata menuju kota Savatthi, tempat dimana dia mendengar khotbah-khotbah Buddha di vihara Jetavana. Oleh karena Persaudaraan Sangha Bhikkhuni belum ada pada saat itu, dia memilih berdiam di kediaman para pertapa wanita yang bukan pengikut Buddha, yang terletak tidak begitu jauh dari Jetavana. Disanalah ia berdiam selama lima tahun sampai berhasil mendapatkan penahbisan sebagai seorang bhikkhuni. Tidak butuh waktu yang lama bagi dirinya untuk mencapai tujuan dari menjalani hidup suci, yakni mencapai tingkat kesucian Arahat. Pada suatu hari dia menyatakan syair pujian terhadap Maha Kassapa dan sekaligus menyatakan Pencapaiannya sendiri:

Putra serta pewaris Buddha Gotama adalah dia,

Kassapa Yang Mulia – pikirannya tenang, terpusat.

Penglihatan mengenai kehidupan lampau adalah

Surga dan neraka yang telah ditembusnya.

Akhir dari tumimbal lahir telah dicapainya,

Dan pengetahuan supernormal telah dikuasainya.

Dengan tiga pengetahuan ini yang telah dimilikinya

Dialah seorang brahmana sejati, dengan tiga jenis pengetahuan.

Demikian pula dia, Bhadda Kapilani, telah memperoleh bagi dirinya sendiri

Ketiga jenis pengetahuan dan telah mengatasi kematian.

Setelah dengan gagah berani menaklukan Mara dan para abdinya,

Inilah bentuk terakhir dari badan jasmani yang ditanggungnya.

Melihat dunia ini dalam kesedihan, kami berdua pergi mengembara

Dan sekarang kami telah bebas dari noda batin, dengan pikiran yang telah dijinakan.

Tanpa nafsu, kami telah menemukan keselamatan;

Tanpa nafsu, kami telah menemukan kebebasan.

— Thig. 63-66

Sebagai seorang bhikkhuni Arahat, Bhadda mengabdikan dirinya sendiri untuk mendidik bhikkhuni-bhikkhuni yang lebih muda dan memberikan instruksi mengenai disiplin monastic (Vinaya). Dalam Analisis mengenai Sila Bhikkhuni (Bhikkhuni Vibhanga), banyak contoh-contoh yang tertulis melibatkan murid-muridnya dalam menjelaskan beberapa peraturan tertentu bagi para bhikkhuni. Juga terdapat dua kejadian dimana Bhadda Kapilani harus menanggung rasa dengki dari bhikkhuni lain yang bermusuhan dengan Maha Kassapa. Bhikkhuni Thullananda adalah seorang pelajar Dhamma dan seorang pengkhotbah yang hebat, tetapi sayangnya kepintarannya tidak diiringi dengan kelembutan hatinya. Dia begitu memuja dirinya sendiri dan tidak siap untuk mengubah tabiatnya, sesuai dengan bukti pada beberapa naskah Vinaya. Ketika Bhadda juga menjadi seorang pengkhotbah yang terkenal, bahkan lebih disukai oleh beberapa murid Thullananda, Thullananda menjadi cemburu. Untuk mengganggu Bhadda, pada suatu ketika ia dan murid-murid bhikkhuni lainnya berjalan di depan kediaman Bhadda dan melafal dengan keras sekali. Akibatnya dia dicela oleh Buddha atas perbuatan ini. Pada kesempatan lain, atas permintaan Bhadda, dia bersedia menempati sementara pondokan Bhadda ketika Bhadda harus pergi mengunjungi Savatthu. Tetapi kemudian, didorong oleh rasa cemburu, dia melarang Bhadda kembali ke pondokannya. Bhadda, oleh karena telah menjadi seorang Arahat, tidak lagi terpengaruh atas kejadian semacam ini dan melihat mereka dengan penuh belas kasih.

Buddha memuji Bhadda sebagai yang terkemuka diantara para bhikkhuni yang mampu mengingat kembali kehidupan masa lampaunya (Anguttara). Bagian komentar Pali dan cerita-cerita Jataka meninggalkan kita catatan dari beberapa kelahirannya di kehidupan lampau sebagai istri Kassapa.

— bersambung —

Source:

http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/hecker/wheel345.html#ch4

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: