Riwayat Hidup Maha Kassapa (3)

Kehidupan Lampau Kassapa dan Bhadda Kapilani

Pada jaman kehidupan Buddha sebelumnya yakni Buddha Vipassi, Kassapa dan Bhadda Kapilani menjadi sepasang brahmana yang miskin. Mereka sangat teramat miskin sehingga mereka hanya mempunyai satu setel pakaian yang akan digunakan hanya oleh salah satu dari mereka berdua ketika hendak pergi keluar dari gubuk mereka. Menurut catatan mengenai kisah ini, brahmana ini kemudian dikenal sebagai “dia yang dengan sehelai kain” (ekasataka). Walaupun sangat sulit bagi kita untuk membayangkan kemiskinan yang teramat menyedihkan ini, akan lebih sulit bagi kita untuk memahami bahwa terdapat banyak orang yang juga miskin tidak secara subjektif, penderitaan pribadi. Demikianlah yang dialami oleh pasangan miskin ini. Di dalam kehidupan mereka sebagai sepasang brahmana miskin, mereka hidup dalam keharmonisan berumah tangga yang membuat mereka mampu bertahan meskipun hidup dalam serba kekurangan. Mereka berdua, secara bergantian, telah mendengar khotbah Buddha Vipassi. Melalui ajaran Buddha Vipassi, kebajikan dari berdana dan perbuatan derma lainnya meninggalkan kesan yang mendalam dalam pikiran mereka sehingga calon Kassapa berniat untuk memberikan pakaian satu-satu mereka pada Persaudaraan. Tetapi setelah dia merenung kembali, kenyataan menghantam pikirannya. Karena ini adalah pakaian satu-satunya bagi dia dan istrinya, dia berpikir bahwa dia harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan si istri. Bagaimana nantinya mereka dapat bertahan hidup tanpa pakaian sama sekali? Tetapi dia mengesampingkan semua kekhawatiran itu dan mempersembahkan pakaian itu pada para bhikkhu. Setelah melakukannya, dia merapatkan kedua tangannya beranjali dan dengan gembira berkata: “Saya telah melakukannya! Saya telah melakukannya!”

Ketika raja yang juga sedang mendengar khotbah Buddha Vipassi, mendengar teriakan kemenangan itu dan mengetahui alas an kegembiraan tersebut. Dia mengirimkan beberapa set pakaian kepada brahmana dan pada kemudian hari, mengangkatnya menjadi pendeta kerajaan. Demikianlah penderitaan pasangan brahmana miskin itu pun berakhir.

Sebagai akibat dari perbuatan dananya, brahmana itu lahir kembali di alam surga. Setelah meninggal dari sana dia menjadi seorang raja di bumi, dermawan agung yang dicintai oleh rakyatnya dan selalu mendukung kehidupan para pertapa dan diantara mereka juga Paccekabuddha yang hidup pada masa itu. Bhadda menjadi permaisuri utamanya saat itu.

Sedangkan Bhadda, pernah dia terlahir menjadi ibu dari brahmana muda yang merupakan siswa Bodhisatta (calon Buddha) dan berniat menjadi pertapa. Kassapa adalah suaminya, Ananda adalah anak mereka. Bhadda menginginkan putranya mengenal kehidupan duniawi terlebih dahulu sebelum dia mengijinkannya menjadi seorang pertapa. Akan tetapi pelajaran dan pengetahuan yang datang pada brahmana muda itu sungguh drastis. Guru ibunya jatuh cinta padanya dan bahkan tega untuk membunuh putra Bhadda. Hal ini membuat brahmana muda merenungkan secara mendalam kehidupan duniawi. Setelah mengalami pengalaman seperti itu, kedua orang tua brahmana muda itu akhirnya memberikan ijin padanya untuk pergi menjadi seorang pertapa (J. 61).

Lagi, pada kesempatan lain Kassapa dan Bhadda menjadi orang tua dari empat putra yang di dalam kehidupan mendatang adalah Bodhisatta, Anuruddha, Sariputta dan Maha Moggallana. Keempat putranya berniat menjadi pertapa. Permohonan pertama ditolak oleh orang tua mereka, tetapi pada akhirnya mereka mengerti buah dari perbuatan bajik tersebut dan mereka sendiri pun akhirnya menjadi pertapa (J. 509).

Di kehidupan lainnya, dua kepala desa yang juga bersahabat memutuskan bahwa apabila anak mereka yang akan lahir berbeda jenis kelamin maka akan mereka nikahkan. Dan itulah yang terjadi. Tetapi di dalam kehidupan sebelumnya, kedua anak tersebut menjadi dewa di alam Brahma. Oleh karena itu mereka tidak memiliki keinginan atas kesenangan sensual dan dengan ijin orang tua mereka memilih kehidupan pertapa (J. 540).

Satu-satunya perbuatan keliru yang dilakukan Bhadda tercatat dalam kisah-kisah kehidupan lampaunya adalah berikut: Pada jaman setelah Buddha sebelumnya, ketika hanya terdapat Paccekabuddha yang hidup, Bhadda adalah istri dari seorang tuan tanah. Pada suatu hari dia bertengkar dengan saudara iparnya, dia mempermasalahkan perbuatan baik saudara iparnya yang memberikan dana pada seorang Paccekabuddha yang sedang berkeliling mengumpulkan dana makanan. Dia mengambil mangkuk Paccekabuddha dan mengisinya dengan lumpur. Tetapi pada saat itu pula dia merasa sangat bersalah, mengambil kembali mangkuk itu, mencucinya, mengisinya dengan makanan lezat dan wangi dan mempersembahkannya pada Paccekabuddha.

Dalam kehidupan berikutnya dia memiliki banyak kekayaan dan rupa yang cantik jelita, tetapi saying tubuhnya mengeluarkan semacam bau tak sedap. Suaminya, yang kemudian akan menjadi Kassapa, tidak tahan dengan bau tersebut dan akhirnya meninggalkannya. Oleh karena dia sangat cantik, dia pun memiliki banyak pengagum lainnya. Tetapi semua pernikahannya berakhir dengan akhir yang sama. Dia pun merasa cukup dalam putus asa nya dan tidak lagi melihat arti dari hidupnya. Dalam rangka mengurangi kekayaannya, dia meleburkan perhiasan-perhiasannya dan menjadikannya sebuah bata emas. Sambil membawa bata emas itu dia pergi ke sebuah vihara dimana terdapat sebuah stupa yang dibangun untuk menghargai Buddha Kassapa yang baru saja meninggal dunia. Untuk menyelesaikan stupa itu dia mempersembahkan bata emasnya dengan rasa bakti yang mendalam. Setelah dia melakukannya, sekujur tubuhnya berubah menjadi wangi dan suami pertamanya, Kassapa, menerimanya kembali.

Mereka berdua terlahir kembali di dunia manusia sebelum kelahiran terakhir mereka, Bhadda menjadi ratu Benares dan sering mendukung kehidupan beberapa Paccekabuddha. Terguncang oleh kematian para Paccekabuddha yang tiba-tiba, dia melepaskan kehidupan duniawinya sebagai seorang ratu dan hidup bermeditasi di pegunungan Himalaya. Dengan kekuatan pelepasannya dan pencapaian meditatifnya, dia terlahir kembali di alam Brahma, demikian pula dengan Kassapa. Setelah kehidupan panjang di alam Brahma berakhir, mereka berdua terlahir kembali di alam manusia, di dalam keluarga brahmana dan diberi nama Pipphali Kassapa dan Bhadda Kapilani.

Dari catatan-catatan ini dapat kita simpulkan bahwa pada kehidupan lampau mereka berdua telah menjalani kehidupan suci di alam Brahma dan berulang kali menjalani kehidupan pertapa. Oleh karena itulah, di dalam kehidupan terakhir mereka, tidaklah sulit bagi mereka untuk hidup selibat, melepaskan semua kekayaan mereka, dan mengikuti ajaran Buddha sehingga pada akhirnya mereka berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat.

Source:

accesstoinsight

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: