Riwayat Hidup Anathapindika Bagian (2)

SI PENYOKONG YANG KAYA

Setelah membangun vihara, Anathapindika tekun dalam menyokong Sangha yang tinggal menetap. Ia menyediakan segala keperluan para bhikkhu yang tinggal di sana . Setiap pagi ia mengirim nasi susu, dan setiap malam ia menyediakan semua keperluan jubah, mangkuk pindapata, dan obat-obatan. Semua perbaikan dan perawatan di Jetavana dilakukan oleh pelayannya. Di atas semuanya, beberapa ratus bhikkhu datang setiap hari ke rumahnya—sebuah wisma bertingkat tujuh—untuk menerima santap siang. Setiap hari saat santap siang, rumahnya penuh dengan jubah kuning dan suasana suci.

Ketika Raja Pasenadi mengetahui kedermawanan Anathapindika, ia juga ingin menirunya, sehingga ia menyediakan makanan untuk lima ratus bhikkhu setiap hari. Suatu hari, ketika ia sedang dalam perjalanan untuk pergi berbincang-bincang dengan para bhikkhu, ia mengetahui dari pelayannya bahwa para bhikkhu membawa makanan yang diberikannya dan memberikan kepada para penyokong di kota, yang kemudian memberikannya kembali kepada para bhikkhu. Sang raja kebingungan, karena ia selalu menyediakan makanan yang sangat lezat, maka ia pun bertanya kepada Sang Buddha alasan perilaku para bhikkhu. Sang Buddha menjelaskan kepada raja bahwa di istana, para anggota kerajaan membagikan makanan tanpa perasaan, hanya mengikuti perintah seperti ketika mereka membersihkan gudang atau membawa pencuri ke pengadilan. Mereka tidak mempunyai keyakinan dan tidak memiliki cinta kepada para bhikkhu. Bahkan banyak dari mereka yang berpikir bahwa para bhikkhu hanyalah parasit yang hidup dari keringat orang-orang yang bekerja. Ketika sesuatu diberikan dengan perasaan demikian, tidak seorangpun yang merasa nyaman menerimanya—walaupun santapannya terdiri dari makanan-makanan terlezat. Sebaliknya, para perumah-tangga yang penuh pengabdian di kota, seperti Anathapindika dan Visakha, menyambut para bhikkhu dan menganggap mereka sebagai teman spiritual yang hidup demi kesejahteraan dan manfaat semua makhluk. Sebuah santapan sederhana yang disediakan oleh seorang teman akan lebih berharga daripada santapan terenak yang diberikan oleh seseorang yang memberi tidak dengan semangat yang benar. Sang Buddha menambahkan sebuah syair kepada raja untuk diingat:

Sebuah masakan mungkin tawar atau lezat,

Makanan mungkin sedikit atau banyak,

Namun bila diberikan oleh tangan yang bersahabat,

Maka menjadi santapan yang nikmat.

(Jat. 346)

Anathapindika dan Visakha bukan hanya pendana utama di Savatthi (Jat. 337, 346, 465), namun pertolongan mereka juga seringkali diminta oleh Sang Buddha manakala sesuatu hal perlu diatur dengan komunitas umat awam. Namun kekayaan Anathapindika bukannya tidak bisa habis. Pada suatu ketika harta seharga delapan belas juta lenyap karena banjir bandang dan terbawa ke lautan. Ditambah ia juga meminjamkan kira-kira uang sejumlah demikian juga kepada teman-teman bisnis yang tidak membayarnya dan ia pun sungkan untuk menagihnya. Karena kekayaannya sekitar lima kali delapan belas juta, dan dia telah menghabiskan tiga perlima darinya untuk vihara, maka kekayaannya mulai habis. Anathapindika, sang jutawan, telah menjadi miskin. Walaupun demikian, meskipun dalam suasana sulit, dia tetap menyediakan makanan bagi para bhikkhu, meskipun hanya nasi susu yang encer.

Pada waktu itu ada makhluk halus yang hidup di atas gerbang istana bertingkat tujuh milik Anathapindika. Setiap kali Sang Buddha atau seorang murid mulia memasuki rumah, si makhluk halus, mengikuti hukum di alamnya, harus turun dari tempatnya untuk menghormat. Namun, hal ini membuat si makhluk halus merasa tidak nyaman, maka ia berusaha memikirkan cara untuk mencegah para bhikkhu masuk ke rumah. Ia muncul di hadapan seorang pelayan dan menyarankannya untuk berhenti memberikan dana makanan, tetapi pelayan itu tidak mempedulikannya. Kemudian ia berusaha mendekati anak tuan rumah untuk menentang para bhikkhu, namun inipun gagal. Akhirnya, si makhluk halus muncul dengan aura gaibnya di hadapan Anathapindika dan berusaha membujuknya karena sekarang ia telah miskin maka akan lebih baik bila ia berhenti memberi dana makanan. Si pendana besar menjawab bahwa ia hanya mengetahui tiga harta: Buddha, Dhamma, dan Sangha. Ia berkata bahwa ia bersungguh-sungguh dalam menjaga ketiga harta ini, serta ia juga memberitahu si makhluk halus agar meninggalkan rumahnya karena di sana tidak ada tempat bagi musuh Sang Buddha.

Oleh karena itu si makhluk halus, sekali lagi harus mengikuti hukum di alamnya, harus meninggalkan tempat itu. Ia pun pergi menemui dewa pelindung kota Savatthi dan meminta tempat bernaung baru. Dewa itu menyuruhnya pergi ke pengadilan yang lebih tinggi, yaitu Keempat Raja Dewa, yang bersama sama memerintah surga terendah. Namun Keempat dewa ini juga merasa tidak mampu untuk memutuskan dan mengirim si makhluk halus yang tak-berumah ini kepada Sakka, raja para dewa.

Namun, sementara itu, si makhluk halus sadar akan kesalahannya dan memohon Sakka untuk meminta maaf baginya. Sakka mengisyaratkan bahwa sebagai hukuman, si makhluk halus harus menolong Anathapindika mendapatkan lagi kekayaannya. Pertama, ia harus mengambil kembali harta yang tenggelam di laut; kemudian ia harus memperoleh harta tak bertuan yang terkubur; dan akhirnya ia harus membujuk orang-orang yang berhutang pada Anathapindika untuk membayar hutangnya. Dengan usaha yang keras akhirnya si makhluk halus berhasil memenuhi ketiga syarat ini. Dengan melakukannya, ia pun muncul dalam mimpi orang-orang yang berhutang itu dan meminta pembayaran. Tidak lama kemudian Anathapindika kembali mempunyai lima puluh empat juta dan mampu sedermawan dulu lagi.

Si makhluk halus kemudian muncul di hadapan Sang Buddha dan memohon pengampunan atas perilaku dengkinya. Ia pun mendapatkan pengampunan dan setelah Yang Tercerahkan menjelaskan Dhamma kepadanya, ia pun menjadi murid Sang Buddha. Lebih jauh lagi, Sang Buddha mengajarkan kepadanya bahwa seseorang yang berjuang untuk menyempurnakan ‘memberi’ tidak dapat dihentikan oleh apapun di dunia, baik oleh para makhluk halus, dewa, setan, maupun ancaman kematian (Jat. 140, 340).

Setelah Anathapindika mendapatkan kembali semua kekayaannya, seorang brahmana menjadi iri pada nasib baiknya dan memutuskan untuk mencuri apa yang menurutnya telah membuat Anathapindika begitu kaya. Ia ingin mencuri perwujudan dari Siri, dewi kekayaan, karena ia berpikir bahwa dengan demikian maka nasib baik akan meninggalkan Anathapindika dan berpindah kepada dirinya, terikat untuk menuruti kehendaknya. Persepsi aneh ini berdasarkan pemikiran bahwa apa yang disebut nasib baik, meskipun merupakan pahala dari perbuatan baik sebelumnya, bersumber dari dewa-dewi yang tinggal di rumah orang itu, yang menarik nasib baik bagi majikan mereka.

Maka si brahmana pergi ke rumah Anathapindika dan melihat sekeliling untuk mencari tempat dewi kekayaan dapat ditemukan. Seperti banyak orang India pada saat itu, ia memiliki kekuatan gaib dan dapat melihat bahwa Kekayaan tinggal dalam seekor ayam jantan putih dalam sangkar emas di dalam wisma. Ia memohon kepada pemilik rumah untuk memberikannya ayam jantan itu untuk membangunkan murid-muridnya di pagi hari. Tanpa ragu-ragu, Anathapindika yang murah-hati meluluskan permintaannya. Namun, tepat pada saat itu, Kekayaan pindah ke sebuah permata. Brahmana inipun memintanya sebagai hadiah dan menerimanya. Tetapi kemudian Kekayaan bersembunyi di dalam sebuah tongkat, senjata yang digunakan untuk membela diri. Setelah si brahmana berhasil memintanya, perwujudan Siri pindah ke kepala Punnalakkhana, istri Anathapindika, yang benarbenar merupakan jiwa kebajikan rumah ini sehingga ia dilindungi para dewa. Ketika si brahmana melihat ini, ia mundur ketakutan: “istrinya tidak dapat saya minta!” Ia mengakui niat jahatnya, mengembalikan hadiah-hadiahnya, dan, dengan penuh rasa malu, meninggalkan rumah itu.

Anathapindika menemui Yang Tercerahkan dan memberitahu beliau mengenai pertemuan aneh tersebut, yang tidak ia pahami. Sang Buddha menjelaskan hubungannya kepadanya –bagaimana dunia diubah melalui kerja yang baik dan bagaimana, bagi mereka dengan pandangan-terang yang benar melalui pemurnian moral, segalanya bisa dicapai, bahkan Nibbana (Jat. 284).

Setiap kali Sang Buddha menetap di Savatthi, Anathapindika selalu mengunjungi beliau. Namun, di lain waktu, ia merasa kehilangan objek untuk dipuja. Oleh karena itu, suatu hari ia memberitahu Y.M. Ananda mengenai keinginannya untuk membuat tempat pemujaan. Ketika Y.M. Ananda melaporkan ini kepada Sang Buddha, beliau menyatakan bahwa ada tiga jenis pemujaan: bentuk fisik, pengingat, dan perwakilan. Jenis yang pertama adalah relik, yang setelah Parinibbana Sang Buddha, disimpan di dalam stupa; jenis kedua adalah objek yang memiliki hubungan dengan Yang Tercerahkan dan telah digunakan oleh beliau, seperti mangkuk pindapata; jenis ketiga adalah simbol yang dapat dilihat. Dari ketiga pendukung untuk pemujaan ini, yang pertama belum mungkin selama Sang Bhagava masih hidup. Yang ketiga tidaklah sesuai bagi mereka yang tidak bisa puas hanya dengan gambar atau simbol. Maka yang tersisa adalah yang kedua.

Pohon Bodhi di Uruvela tampaknya merupakan objek terbaik yang berfungsi sebagai pengingat pada Sang Bhagava. Di bawahnya Beliau telah menemukan pintu menuju Tanpa-kematian, dan telah menyediakan perlindungan selama minggu pertama pencerahan beliau. Maka diputuskan untuk menanam tunas kecil dari pohon ini di Savatthi. Y.M. Mahamoggallana membawa potongan dari pohon asli, yang kemudian ditanam di gerbang Jetavana di hadapan orang-orang istana dan para bhikkhu serta umat awam yang terkenal. Y.M. Ananda memberikan anak pohon itu kepada raja untuk upacara penanaman. Namun Raja Pasenadi membalas, dengan penuh kerendahan hati, bahwa ia menjalani hidup ini hanya sebagai pengurus posisi raja. Akan jauh lebih sesuai bagi seseorang yang dekat dengan Ajaran untuk menanam pohon itu. Maka ia memberikan anak pohon itu kepada Anathapindika, yang berdiri di sebelahnya.

Pohon itu tumbuh dan menjadi objek pemujaan para umat awam yang berbakti. Atas permintaan Y. M. Ananda, Sang Buddha menghabiskan semalam duduk di bawah pohon itu untuk menganugerahkan pentahbisan istimewa yang lain. Anathapindika seringkali pergi ke pohon itu dan menggunakan ingatan yang berhubungan dengannya dan semangat spiritual yang diterimanya di sana untuk memusatkan pikirannya kepada Sang Bhagava (Jat. 479).

–bersambung–

Sumber:

Riwayat Hidup Anathapindika – Penyokong Utama Sang Buddha

Insight Vidyasena Production

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: