Riwayat Hidup Anathapindika Bagian (3)

KELUARGA ANATHAPINDIKA

Anathapindika menikah dengan bahagia. Istrinya, Punnalakkhana, menjalankan sesuai namanya, yang berarti “seorang dengan tanda kebajikan,” dan sebagai semangat kebajikan di rumah, ia mengurus para pelayan dan para bhikkhu yang datang pada tengah hari. Ia juga taat pada Dhamma, seperti kakaknya, yang merupakan salah satu umat awam pertama Sang Buddha.

Anathapindika memiliki empat orang anak, tiga putri dan seorang putra. Dua putrinya, Subhadda Besar dan Subhadda Kecil, juga mendalami Dhamma seperti ayahnya, dan mencapai tingkat pemasuk-arus. Mereka mirip dengan ayahnya dalam hal spiritual dan demikian pula dalam hal duniawi; mereka juga menikah dengan bahagia. Namun, putrinya yang termuda, Sumana, bahkan melampaui semua orang di rumah dengan kebijaksanaannya yang mendalam. Ketika mendengar kotbah dari Sang Buddha ia langsung mencapai tingkat kedua kesucian, menjadi yang-kembali-sekali-lagi. Ia tidak menikah, namun bukan karena ia telah melepas ide itu. Sebenarnya, ketika ia melihat kebahagiaan kedua kakaknya, ia menjadi sedih dan kesepian. Kekuatan spiritualnya tidak cukup kuat untuk mengatasi depresinya. Dengan penuh kesedihan, keluarganya melihat ia menjadi semakin kurus, tidak mau makan apapun, sehingga mati kelaparan. Ia terlahir kembali di surga Tusita, salah satu dari surga tertinggi di alam indria, dan di sana ia mensucikan diri dari sisasisa kebergantungan pada orang lain, keinginan terakhirnya yang diarahkan ke luar.

Putra semata wayang Anathapindika, Kala si Gelap, pada mulanya merupakan sumber ketegangan di rumah ayahnya. Ia tidak mau tahu apapun mengenai Dhamma dan menyibukkan diri sepenuhnya dalam urusan-urusan bisnis. Kemudian suatu hari ayahnya mendorong ia untuk menjalankan hari suci, dengan menawarkannya seribu keping emas bila ia mau menjalankan Uposatha. Kala pun setuju dan tak lama kemudian menemukan bahwa libur sehari dalam seminggu dari bisnis untuk berkumpul dengan keluarga membuatnya rileks. Karenanya, aturan berpuasa dengan teratur dari Uposatha tidak terlalu memberatkan dirinya. Kemudian ayahnya membuat permintaan kedua dan menawarkannya seribu keping emas bila ia mau ke vihara dan menghafal sebait Dhamma, di hadapan Sang Guru. Kala dengan senang hati menyetujuinya. Peristiwa ini menjadi titik balik dalam kehidupannya. Setiap kali Kala mempelajari sebuah syair, Sang Buddha membuatnya salah mengerti sehingga ia harus mendengarnya berulang kali dengan penuh perhatian. Ketika ia merenungkan maknanya, ia tiba-tiba merasa sangat terinspirasi oleh Ajaran dan saat itu juga mencapai tingkat Pemasuk-Arus. Sejak saat itu, kehidupannya menjadi mulia, sama seperti ayahnya, dan ia pun menjadi penyokong utama Sangha, sehingga ia dikenal dengan nama “Anathapindika Kecil.”

Kala beristrikan Sujata, kakak dari Visakha, seorang umat awam yang terkenal. Sujata sangat bangga dengan latar belakang keluarganya dan kekayaan kedua sisi keluarganya. Karena ia hanya memikirkan hal-hal yang remeh ini, maka secara batiniah ia tidak terpenuhi, tidak puas dan mudah tersinggung, dan ia pun melepaskan ketidak-bahagiaannya kepada orang lain. Ia memperlakukan semua orang dengan kasar, memukuli para pelayan, dan menyebarkan ketakutan serta teror kemanapun ia pergi. Ia bahkan tidak menaati aturan kepemilikan dalam berhubungan dengan mertua dan suaminya, yang dipandang sangat penting oleh masyarakat India.

Pada suatu hari, setelah bersantap di rumah mereka, saat Sang Buddha sedang memberikan khotbah, terdengar bentakan dan teriakan keras dari ruangan lain. Sang Guru menghentikan khotbahnya dan bertanya kepada Anathapindika perihal sumber keributan itu, yang terdengar seperti teriakan nyaring para nelayan. Si perumahtangga menjawab bahwa sumbernya adalah menantu perempuannya yang sedang membentak para pelayan. Menantunya adalah orang yang pemarah, katanya, yang tidak berperilaku semestinya terhadap suami ataupun mertuanya, yang tidak berdana, tidak berkeyakinan, dan tidak percaya, yang selalu menyebarkan konflik.

Hal yang aneh pun terjadi: Sang Buddha meminta agar menantunya dipanggil. Ketika ia akhirnya muncul di hadapan beliau, Sang Buddha bertanya kepadanya: ingin menjadi yang manakah ia dari tujuh jenis istri. Ia menjawab bahwa ia tidak memahami maksud beliau dan memohon penjelasan lebih lanjut. Maka Yang Tercerahkan menjelaskan tujuh jenis istri kepadanya dalam syair berikut:

“ Dengan pikiran yang membenci, dingin dan kejam,

Penuh nafsu terhadap pria lain, merendahkan suaminya,

Yang ingin membunuh orang yang telah meminangnya—

Istri demikian disebut pembantai.

Ketika suaminya mendapatkan kekayaan

Melalui keterampilan atau berdagang atau bertani

Ia berusaha untuk mencuri sedikit bagi dirinya—

Istri demikian disebut pencuri.

Si rakus yang malas, suka bermalas-malasan

Keras, kejam, kasar dalam berbicara,

Seorang perempuan yang sewenang-wenang terhadap

bawahannya—

Istri demikian disebut tiran.

Ia yang suka menolong dan baik hati,

Yang menjaga suaminya seperti seorang ibu terhadap anaknya,

Yang berhati-hati melindungi kekayaan yang dikumpulkan suaminya—

Istri demikian disebut ibu.

Ia yang menghargai suaminya

Seperti adik menghargai kakaknya,

Yang dengan rendah hati menuruti keinginan suaminya—

Istri demikian disebut adik.

Ia yang bergembira dalam pandangan suaminya,

Seperti seorang teman menerima yang lainnya,

Dibesarkan dengan baik, bajik, taat—

Istri demikian disebut teman.

Ia yang tanpa kemarahan, takut pada hukuman,

Yang terhadap suaminya bebas dari kebencian,

Yang dengan rendah hati menuruti keinginan suaminya—

Istri demikian disebut pelayan.

Jenis-jenis istri yang disebut pembantai,

Pencuri dan istri seperti tiran,

Istri-istri demikian, dengan terurainya tubuh,

Akan terlahir di neraka yang dalam.

Tetapi istri seperti ibu, adik, teman

Dan istri yang dipanggil pelayan,

Mantap dalam kebajikan, tenang,

Dengan terurainya tubuh akan menuju surga.”

(AN 7:59)

Kemudian Sang Bhagava langsung menanyainya: “Inilah, Sujata, ketujuh jenis istri yang dapat dimiliki seorang pria. Yang manakah dirimu?”

Dengan hati yang sangat tergerak, Sujata menjawab bahwa mulai saat ini ia akan berjuang untuk menjadi pelayan bagi suaminya. Perkataan Yang Tercerahkan telah menunjukkan kepadanya cara berperilaku sebagai seorang istri. Kemudian ia pun menjadi murid Sang Buddha yang taat, yang kepada Beliau selamanya ia berterima kasih atas kebebasannya.

Kabar perihal perubahan Sujata menyebar cepat. Pada suatu malam, Sang Buddha masuk ke ruang kotbah dan Ia bertanya kepada para bhikkhu apa yang sedang mereka diskusikan. Mereka melapor bahwa mereka sedang membicarakan “mukjizat Dhamma,” yang ditunjukkan oleh keterampilan Yang Terjaga dengan membuat seorang istri menjadi mempesona dari yang dulunya Sujata si “naga rumah.” Sang Buddha kemudian menceritakan bagaimana ia telah menjinakkan Sujata di kehidupan sebelumnya. Pada waktu itu Sujata adalah ibu beliau, dan beliau telah menghentikannya membentak dan menguasai orang lain dengan perbandingan antara gagak yang menjijikan dan burung yang manis (Jat. 269).

Terakhir, disinggung pula keponakan Anathapindika. Ia mewarisi kekayaan sebesar empat puluh juta tetapi dengan gaya hidupnya yang liar, bermabuk-mabukan, dan berjudi serta menghabiskan kekayaannya untuk para penghibur, wanita dan teman-teman yang mengikutinya. Ketika warisannya telah habis, ia meminta bantuan kepada pamannya. Anathapindika memberinya seribu keping emas dan memberitahunya agar menggunakan uang itu untuk memulai usaha. Namun sekali lagi ia menghabiskan seluruh uangnya untuk kemudian muncul lagi di rumah pamannya.

Kali ini Anathapindika memberinya uang lima kali lebih banyak, tanpa satu syaratpun, namun sebagai tanda pemutusan hubungan. Walaupun Anathapindika telah memberikan peringatan bahwa uang ini merupakan pemberiannya yang terakhir, si keponakan tetap tidak merubah kebiasaannya yang boros. Pada saat ketiga kalinya ia memohon uang kepada pamannya, Anathapindika memberikannya dua potong pakaian, yang dihabiskannya juga, dan kemudian dengan tidak tahu malu menemui pamannya untuk keempat kalinya. Akan tetapi, kali ini ia diminta untuk pergi. Bila ia datang sebagai pengemis biasa dan bukan sebagai keponakan, tentu ia tidak akan meninggalkan rumah Anathapindika dengan tangan kosong. Namun ia tidak melakukannya karena bukan sedekah yang ia inginkan melainkan uang untuk berhura-hura.

Karena ia terlalu malas dan keras kepala untuk mencari penghidupan sendiri, namun juga tidak mau mengemis, maka ia meninggal dalam kondisi yang menyedihkan. Tubuhnya ditemukan di dekat tembok kota dan kemudian dibuang ke tumpukan sampah. Ketika Anathapindika mendengar berita ini, ia bertanya kepada dirinya sendiri apabila ia mampu mencegah akhir yang menyedihkan ini. Ia kemudian memberitahu Sang Buddha cerita ini dan bertanya apakah ia seharusnya bertindak dengan cara yang berbeda. Namun Sang Buddha menghapus kerisauannya dengan menjelaskan bahwa keponakannya itu termasuk sejumlah kecil orang yang tidak dapat dipuaskan, seperti ember tak berdasar. Ia meninggal dikarenakan perilakunya yang ceroboh, seperti yang terjadi kepadanya dalam kehidupan sebelumnya (Jat. 291).

–bersambung–

Sumber:

Riwayat Hidup Anathapindika – Penyokong Utama Sang Buddha

Insight Vidyasena Production

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: