Riwayat Hidup Anathapindika Bagian (4)

ANATHAPINDIKA DAN KAWAN-KAWANNYA

Begitu Anathapindika mencapai tingkat pemasuk-arus, ia mengabdikan diri sepenuhnya dalam menjalankan sila, memurnikan pikiran dan usaha-usaha untuk memajukan orangorang di sekelilingnya. Jadi ia hidup dalam kemurnian di tengahtengah orang yang sepaham. Tidak hanya keluarga langsungnya melainkan juga para pekerja dan pelayannya berjuang untuk berlatih kedermawanan, menjaga Lima Sila dan menjalankan hari Uposatha (Jat. 382). Rumahnya menjadi pusat kebaikan dan niat baik, dan sikapnya menyebar di lingkungannya, kepada temanteman dan kenalannya. Ia tidak memaksakan pendapatnya kepada mereka, ataupun menghindari masalah dalam kehidupan seharihari. Beberapa detil mengenai kehidupannya saat itu dilaporkan dalam teks.

Pada suatu ketika sekelompok pemabuk di Savatthi mulai kehabisan uang. Ketika mereka sedang merundingkan cara agar mereka bisa mendapatkan lebih banyak arak, salah seorang dari mereka berpikir untuk membuat Anathapindika yang kaya menjadi mabuk, dan ketika ia tidak sadarkan diri, merampoknya. Mereka tahu bahwa ia selalu melewati rute tertentu ketika mengunjungi raja, maka mereka membangun sebuah kios minuman di jalan itu. Ketika Anathapindika melewati jalan ittu, mereka mengundangnya untuk minum bersama. Namun dengan berpikir, “Bagaimana mungkin pengikut taat dari Yang Agung minum arak?”, ia pun menolak undangan mereka dan melanjutkan perjalanannya menuju istana.

Para pemabuk yang kecewa itu kemudian berusaha membujuknya sekali lagi ketika ia sedang dalam perjalanan pulang. Anathapindika langsung menghadapi mereka dan mengatakan ia bahwa mereka sendiri tidak ingin meminum arak itu karena araknya tidak tersentuh sama sekali seperti sebelumnya. Apakah mereka berencana untuk membuatnya tak sadarkan diri dan kemudian merampoknya? Ketika dengan beraninya ia melakukan perlawanan dengan perkataan ini, mereka pun lari ketakutan (Jat. 53).

Anathapindika tahu bagaimana cara untuk membedakan antara sila-nya untuk tidak minum alkohol dengan perilaku orang lain. Contohnya, salah seorang teman Anathapindika berdagang minuman keras. Walaupun demikian, Anathapindika tetap berteman dengannya. Suatu ketika si pedagang minuman keras mengalami kerugian besar yang disebabkan kecerobohan salah seorang pekerjanya. Anathapindika bersimpati penuh terhadapnya dan memperlakukannya sama dengan ia memperlakukan teman lain yang mengalami kesialan. Ia sendiri memberikan teladan yang baik, namun ia tidak memaksakan pendapatnya ataupun mengkritik kekurangan mereka (Jat. 47).

Pada suatu ketika, Anathapindika sedang berada di daerah yang rawan perampok. Ia memilih untuk menanggung ketidaknyamanan bergerak sepanjang malam daripada membuka diri terhadap risiko diserang (Jat.103). Ia menaati nasihat Sang Buddha yaitu seseorang sebaiknya mengatasi masalah tertentu dengan menghindarinya daripada menunjukkan kepahlawanan palsu (lihat MN 2).

Anathapindika juga menghindari perampokan dengan cara lain. Ia memiliki seorang teman sejak kecil yang bernama Kalakanni, “Burung Sial.” Ketika temannya ini membutuhkan uang, Anathapindika menolongnya dan memberinya pekerjaan di rumahnya. Teman-temannya yang lain mengkritik perbuatannya— karena orang itu memiliki nama yang sial dan berasal dari keturunan rendah. Tetapi Anathapindika menampiknya, “Apalah arti sebuah nama? Orang bijaksana tidak mempedulikan tahayul!” Ketika Anathapindika pergi dalam perjalanan bisnis, ia mempercayakan rumahnya kepada temannya. Sekelompok pencuri mendengar kabar kepergiannya dan merencanakan pencurian. Ketika mereka sedang mengelilingi rumah itu, Si “Burung Sial” yang selalu waspada memukul drum dan membuat suara-suara berisik sehingga terdengar seperti sebuah perayaan sedang berlangsung. Suara-suara ini meyakinkan para pencuri bahwa kepala rumah tidak benar-benar pergi, sehingga mereka membuang peralatan mereka dan kabur. Ketika Anathapindika mendengar kabar ini, ia mengatakan kepada teman-temannya, “Lihatlah, si ‘Burung Sial’ telah berjasa padaku. Bila dulu aku mendengar kalian, aku sudah dirampok” (Jat. 83, 121).

Kebanyakan teman Anathapindika adalah orang-orang yang religius, walaupun sebagian menjadi pengikut berbagai macam pertapa pengelana yang mewakili keanekaragaman sekte dan kepercayaan di India saat itu. Suatu hari, Anathapindika menyarankan sekelompok besar temannya untuk mendengar Sang Buddha. Mereka pergi dengan rela dan menjadi sangat tergerak oleh kotbah Yang Tercerahkan sehingga mereka menyatakan diri menjadi pengikut beliau. Mulai saat itu mereka mengunjungi vihara dengan teratur, memberikan dana, menjalankan sila, dan hari Uposatha. Tetapi begitu Sang Buddha meninggalkan Savatthi, mereka meninggalkan Dhamma dan sekali lagi mengikuti pertapa lain yang dengannya mereka bisa berhubungan setiap hari.

Beberapa bulan kemudian, ketika Sang Buddha sudah kembali ke Savatthi, Anathapindika sekali lagi membawa teman- temannya untuk menemui beliau. Kali ini Yang Terjaga tidak hanya menjelaskan aspek doktrin yang memajukan, namun juga memperingatkan mereka bahwa tidak ada perlindungan yang lebih baik atau lengkap untuk melawan penderitaan di dunia ini selain Tiga Perlindungan: Buddha, Dhamma dan Sangha. Kesempatan ini sangatlah langka di dunia, dan siapapun yang menyianyiakannya akan sangat menyesal. Demikian bagi mereka yang dengan tulus pergi berlindung pada Tiga Permata akan terhindar dari neraka dan mencapai salah satu dari tiga tujuan bahagia: kelahiran kembali yang baik sebagai manusia, salah satu dari kediaman surga, atau Nibbana.

Sang Buddha menantang para pedagang itu untuk mempertimbangkan kembali prioritas mereka, untuk mengenali bahwa keyakinan terhadap Tiga Permata bukanlah kemewahan yang bisa dengan mudahnya dikesampingkan ketika mereka merasa sudah tidak nyaman. Beliau berbicara kepada mereka mengenai kesia-siaan banyak perlindungan palsu yang dianut orang-orang, yang tidak dapat memberikan perlindungan yang nyata selain kelegaan yang semu. Ketika pikiran mereka telah siap menerima, beliau menjelaskan ajaran unik dari para Yang Terjaga—Empat Kebenaran Mulia perihal penderitaan, sumber, akhir, dan jalan menuju akhirnya—dan pada akhir kotbah mereka semua mencapai tingkat pemasuk-arus. Dengan demikian, pencapaian Anathapindika juga menjadi berkah bagi teman-temannya (Jat. 1).

–bersambung–

Sumber:

Riwayat Hidup Anathapindika – Penyokong Utama Sang Buddha

Insight Vidyasena Production

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: