Riwayat Hidup Visakha – Penyokong Utama Wanita Sang Buddha (Bagian 1 dari 2)

Masa Muda dan Pernikahan Visakha

Visakha dilahirkan dari sebuah keluarga jutawan yang kaya raya. Ketika dia baru berusia tujuh tahun, Buddha mengunjungi desa tempat kelahirannya. Kakeknya yang mendengar berita kunjungan Buddha, menasehati Visakha untuk pergi keluar dan menyambut Beliau. Walaupun dia masih begitu muda, tetapi Visakha adalah seseorang yang memiliki rasa bakti dan taat terhadap nilai-nilai relijius. Oleh karena itu Visakha dengan segera mencapai tingkat kesucian pertama setelah mendengar khotbah Dharma langsung dari Buddha.

Ketika dia berusia lima belas tahun, beberapa Brahmana melihat Visakha dan berpikir bahwa dia akan menjadi istri yang ideal bagi tuan mereka, Punnavaddhana, putra dari seorang jutawan bernama Migara. Visakha memiliki lima macam kecantikan wanita, yakni kecantikan rambut, kecantikan penampilan, kecantikan struktur tulang, kecantikan kulit yang lembut dan berwarna kuning emas, dan kemudaan. Oleh karena itu, mereka pun pergi meminta persetujuan kepada keluarga Visakha.

Pada hari pernikahannya, ayahnya yang bijaksana memberikannya beberapa nasehat yang dituangkan dalam 10 butir pernyataan berikut ini:

1. Seorang istri tidak boleh mengkritik suami dan mertuanya di depan orang lain. Demikian pula seorang istri tidak boleh menggosipkan kelemahan atau masalah dalam rumah tangga ke mana-mana.

2. Seorang istri tidak boleh mendengar cerita atau laporan dari rumah tangga orang lain.

3. Barang-barang seharusnya dipinjamkan kepada mereka yang (berniat) mengembalikannya.

4. Barang-barang tidak boleh dipinjamkan kepada mereka yang tidak (berniat) mengembalikannya.

5. Sanak keluarga dan teman-teman yang miskin harus dibantu walaupun jika mereka tidak membalasnya.

6. Seorang istri harus duduk dengan penuh keanggunan. Ketika melihat mertua atau suaminya, dia harus menunjukkan rasa hormat dengan berdiri dari kursinya.

7. Sebelum mengambil makanan untuk dirinya, seorang istri harus terlebih dahulu melihat apakah mertua dan suaminya sudah dilayani. Dia juga harus memastikan bahwa pelayan-pelayannya terawat dengan baik.

8. Sebelum pergi tidur, seorang istri harus melihat apakah semua pintu sudah tertutup, perabotan berada pada tempatnya, para pelayan mengerjakan tugas-tugas mereka, dan bahwa mertuanya sudah pergi beristirahat. Sebagai sebuah peraturan, seorang istri harus bangun sepagi mungkin dan kecuali dia sedang berada dalam kondisi sakit, seorang istri tidak boleh tidur sepanjang hari.

9. Mertua dan suaminya harus diperlakukan dengan sangat hati-hati, seperti api.

10. Mertua dan suaminya harus memberikan penghormatan pada para dewa.

Visakha dan Ayah Mertuanya

Sejak hari pertama Visakha menginjakkan kaki di Savatthi, kota tempat suaminya berada, dia berlaku sangat baik dan dermawan kepada semua orang di kota dan semua orang mencintainya.

Pada suatu hari, ketika ayah mertuanya sedang makan bubur manis dari mangkuk emas, seorang bhikkhu masuk ke dalam perkarangan rumah untuk mengumpulkan dana makanan. Walaupun ayah mertuanya melihat bhikkhu tersebut, dia tetap melanjutkan makan seolah-olah dia tidak melihat bhikkhu itu. Visakha dengan sopan berkata pada bhikkhu tersebut, “Pergilah Yang Mulia, ayah mertua saya sedang memakan makanan basi.”

Sebenarnya sudah sejak lama ayah mertua Visakha tidak senang kepadanya karena Visakha adalah seorang pengikut setia Buddha sedangkan dirinya bukan. Dia sedang mencari-cari kesempatan untuk mengakhiri pernikahan anaknya dengan Visakha, tetapi perbuatannya selalu saja gagal. Kali ini dia melihat kesempatan itu. Salah mengartikan kata-kata Visakha, dia berpikir bahwa Visakha sudah tidak lagi menaruh rasa hormat terhadap keluarganya.

Dia memerintahkan agar Visakha segera diusir dari rumah, tetapi Visakha mengingatkannya atas permintaan ayahnya kepada delapan pemimpin klan. Ayahnya berkata pada mereka, “Jika ada kesalahan yang dilakukan putriku, selidikilah.”

Ayah mertuanya setuju atas pemintaannya dan meminta agar kedelapan pemimpin klan datang ke rumahnya dan menyelidiki apakah Visakha bersalah atau tidak atas kekasarannya. Ketika mereka tiba ayah mertuanya diam-diam berkata pada mereka, “Temukan kesalahannya dan usir dia dari rumah ini.”

Visakha membuktikan ketidak-bersalahannya dengan menjelaskan, “Yang mulia, ketika ayah mertua saya mengabaikan kehadiran seorang bhikkhu dan tetap melanjutkan memakan bubur susunya dia tidaklah membuat sebuah jasa kebajikan di kehidupan ini. Beliau hanya sedang menikmati jasa-jasa perbuatannya di masa lampau. Bukankah itu sama saja dengan sedang memakan nasi basi?”

Akhirnya ayah mertuanya terpaksa harus mengakui bahwa Visakha tidaklah bersalah.

Masih ada beberapa kesalahpahaman yang terjadi setelah kejadian ini, tetapi Visakha mampu menjelaskannya sehingga memuaskan ayah mertuanya. Setelah kejadian-kejadian ini, ayah mertuanya mulai menyadari kekeliruannya selama ini dan melihat kebijaksanaan luar biasa yang ada dalam diri Visakha. Dengan saran dari Visakha, dia mengundang Buddha berkunjung ke rumahnya untuk memberikan pelajaran. Mendengar khotbah yang disampaikan oleh Buddha dia pun menjadi seorang sotapanna (tingkat kesucian pertama).

Dengan kebijaksanaan dan kesabaran, Visakha berhasil mengubah rumah keluarga suaminya menjadi sebuah rumah buddhis yang bahagia. Visakha juga sangat dermawan dan sering membantu para bhikkhu. Dia membangun vihara Pubbarama (Taman Timur) bagi para bhikkhu dengan biaya yang tidak sedikit. Sungguh luar biasa kebahagiaannya ketika Buddha menghabiskan enam musim penghujan disana.

gambar diatas: Visakha sedang memberikan instruksi pembangunan vihara Pubbarama di Savatthi.

–berlanjut ke bagian 2/akhir–

Diadaptasi dari berbagai sumber:

WIKIPEDIA

http://www.buddhanet.net/e-learning/buddhism/lifebuddha/2_4lbud.htm

http://www.sacred-texts.com/bud/btg/btg35.htm

Tagged , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: