Riwayat Hidup Visakha – Penyokong Utama Wanita Sang Buddha (Bagian 2 dari 2)

Visakha dan (Permohonan) Berkahnya

Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di Savatthi. Visakha pergi berkunjung ke tempat dimana Sang Bhagava berada dan mengundang Beliau untuk mengambil dana makanan di rumahnya. Permintaan itu dikabulkan oleh Buddha. Kemudian hujan turun dengan begitu lebatnya sepanjang malam hari dan terus berlangsung hingga keesokan paginya. Para bhikkhu menggantungkan jubah mereka agar tetap kering dan membiarkan hujan jatuh membasahi tubuh mereka.

Keesokan harinya, ketika Sang Bhagava telah selesai menyantap dana makananNya, Visakha duduk di salah satu sisi dan berkata: “Ada delapan berkah, Yang Mulia, yang mana saya mohon perkenanan dari Anda.”

Sang Bhagava berkata: “Para Tathagata, o Visakha, tidak memberikan berkah apapun sampai Mereka mengetahui apakah berkah-berkah itu.” Visakha menjawab: “Baiklah Yang Mulia, berkah yang saya minta bukanlah sesuatu yang tidak pantas.”

Setelah memperoleh restu untuk mengutarakan permohonannya, Visakha berkata: “Saya menginginkan, Yang Mulia, sepanjang hidup saya untuk dapat memberikan jubah musim penghujan bagi anggota Sangha, dan makanan bagi para bhikkhu yang datang, dan makanan bagi para bhikkhu yang pergi, dan makanan pada mereka yang sakit, dan makanan pada mereka yang menjaga mereka yang sakit, dan obat-obatan bagi mereka yang sakit dan persediaan susu-beras yang teratur bagi Sangha, dan jubah mandi bagi para bhikkhuni.” Buddha berkata: “Tetapi atas alasan apakah, o Visakha, sehingga kamu meminta delapan berkah ini dari Tathagata?”

Visakha membalas: “Saya memberikan perintah, Yang Mulia, kepada pembantu saya dengan berkata, ‘Pergi dan umumkanlah pada para bhikkhu bahwa makanan telah siap.’ Dan pembantu saya pergi, tetapi ketika dia tiba di vihara, dia mengamati bahwa para bhikkhu telah menggantungkan jubah mereka selama hujan dan dia berpikir: ‘Mereka bukanlah para bhikkhu, tetapi para pertapa telanjang yang membiarkan hujan membasahi tubuh mereka. Jadi dia kembali dan melaporkan kepada saya apa yang dilihatnya, dan saya harus memintanya untuk pergi ke sana untuk kedua kalinya. Sungguh kurang pantas, Yang Mulia, dengan bertelanjang, dan menjijikan. Oleh karena alasan inilah, Yang Mulia, saya memiliki keinginan untuk menyediakan pakaian khusus selama musim hujan kepada Sangha sepanjang hidup saya.

“Untuk berkah kedua saya, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang datang, tidak mengetahui jalan mana yang harus ditempuh, dan tidak mengetahui tempat-tempat dimana makanan bisa didapatkan, datang dengan kelelahan dalam upaya mengumpulkan dana makanan. Oleh karena alasan inilah, Yang Mulia, saya memiliki keinginan untuk menyediakan makanan kepada para bhikkhu yang datang sepanjang hidup saya. Untuk berkah ketiga, seorang bhikkhu yang pergi, ketika mengumpulkan dana makanan, mungkin tertinggal jauh di belakang, atau mungkin terlalu lambat sampai di tempat yang dia tuju, dan akan merasa lelah di sepanjang perjalanannya.

“Untuk berkah keempat, Yang Mulia, jika seorang bhikkhu yang sakit tidak memperoleh cukup makanan, maka penyakitnya akan semakin menjangkitinya dan dia mungkin saja akan meninggal. Untuk berkah kelima, Yang Mulia, seorang bhikkhu yang sedang menjaga mereka yang sakit akan kehilangan kesempatan untuk pergi mengumpulkan dana makanan bagi mereka sendiri. Untuk berkah keenam, Yang Mulia, jika seorang bhikkhu yang sakit tidak memperoleh obat-obatan yang memadai, maka penyakitnya akan semakin menjangkitinya dan dia mungkin saja akan meninggal.

“Untuk berkah ketujuh, Yang Mulia, saya telah mendengar bahwa Sang Bhagava memuji susu-beras karena mampu memberikan kesegaran pada pikiran, melenyapkan rasa lapar dan haus; susu beras bermanfaat bagi mereka yang sehat sebagai makanan, dan bagi mereka yang sakit sebagai obat. Oleh karena itu saya menginginkan dapat menyediakan persediaan susu beras secara teratur kepada Sangha sepanjang hidup saya.

“Terakhir, Yang Mulia, para bhikkhuni memiliki kebiasaan mandi di sungai Achiravati yang bersamaan dengan para pelacur, di tempat yang sama, dan telanjang. Dan para pelacur itu, Yang Mulia, mengolok-olok para bhikkhuni dengan berkata, ‘Apakah gunanya, para wanita, menjaga kesucianmu ketika usia kalian masih muda? Ketika kalian sudah tua, barulah menjaga kesucian; dengan demikian kalian akan menikmati kesenangan duniawi dan kebahagiaan relijius.’ Tidak pantas, Yang Mulia, telanjang bagi seorang wanita, menjijikan dan memuakkan. Atas alasan inilah, Yang Mulia, saya memiliki pengharapan ini.”

Sang Bhagava berkata: “Tetapi apakah untungnya bagi dirimu sendiri, o Visakha, dengan meminta delapan berkah tersebut dari Tathagatha?”

Visakha menjawab: “Para bhikkhu yang telah menghabiskan musim hujan dari berbagai tempat akan datang, Yang Mulia, ke Savatthi untuk mengunjungi Sang Bhagava. Dan dalam perjalanan mereka akan bertanya, dengan berkata: ‘Bhikkhu ini dan ini, Yang Mulia, telah meninggal dunia. Sekarang bagaimanakah nasib mereka?’ Kemudian Sang Bhagava akan menjelaskan bahwa bhikkhu tersebut telah mencapai buah pembebasan; bahwa dia telah mencapai tingkat kesucian Arahat atau telah memasuki Nirvana, sebagai contohnya.

“Dan saya, mendatangi mereka dan bertanya, ‘Apakah bhikkhu itu, yang mulia, salah satu dari mereka yang sebelumnya telah mengunjungi Savatthi?’ Apabila jawaban yang diberikan pada saya, bahwa bhikkhu tersebut telah mengunjungi Savatthi kemudian saya akan berkesimpulan, pastilah bhikkhu tersebut telah menerima entah itu jubah selama musim penghujan, atau makanan bagi para bhikkhu yang datang, atau makanan bagi para bhikkhu yang pergi, atau makanan bagi mereka yang sakit, atau makanan bagi mereka yang menjaga mereka yang sakit, atau obat-obatan bagi mereka yang sakit, atau persediaan susu beras yang telah diberikan secara teratur.’

“Kemudian kegembiraan akan timbul dalam diri saya; kegembiraan itu akan membawa kebahagiaan; dan dengan kebahagiaan maka semua pikiran saya akan berada dalam kedamaian. Berada dalam kedamaian saya akan mengalami sebuah perasaan puas; dan dalam berkah ini hati saya menjadi tenang. Hal itu akan menjadi sebuah latihan bagi perasaan moral saya, sebuah latihan bagi kekuatan moral saya, sebuah latihan dari tujuh jenis kebijaksanaan! Inilah Yang Mulia, keuntungan yang saya peroleh dari permohonan delapan berkah saya kepada Sang Bhagava.”

Sang Bhagava berkata: “Sungguh bagus, Visakha, sungguh bagus. Engkau telah meminta delapan berkah dari Tathagata dengan mengharapkan keuntungan seperti itu. Kedermawanan yang diberikan kepada mereka yang layak menerimanya adalah seperti benih bagus yang ditanam di tanah yang bagus pula dan akan memberikan buah yang melimpah ruah. Tetapi sedekah yang diberikan kepada mereka yang berada dalam kendali tirani hawa nafsu adalah seperti benih yang ditaburkan di tanah yang buruk. Nafsu dari si penerima sedekah akan menghambat berbuahnya jasa-jasa kebajikan.” Dan Sang Bhagava memberikan ucapan terima kasih ini kepada Visakha:

“O wanita mulia yang menjalani kehidupan lurus,

Siswa dari Sang Bhagava, engkau memberikan

Dalam kemurnian hati.

Engkau menyebarkan kebahagiaan, mengurangi kesakitan,

Dan sesungguhnya berkahmu akan menjadi berkat

Bagi banyak orang lainnya seperti kepadamu.”

Peranan Visakha dalam Komunitas Buddhis

Dalam salah satu khotbah yang disampaikan Buddha kepada Visakha, Beliau berbicara mengenai delapan kualitas dalam diri seorang wanita yang akan membawanya pada kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia ini dan di kehidupan selanjutnya: “Inilah, Visakha, seorang wanita yang mengerjakan pekerjaannya dengan baik, mengatur para pelayannya, menaruh rasa hormat pada suami dan menjaga kekayaannya. Inilah, Visakha, seorang wanita yang memiliki keyakinan (saddha) kepada Buddha, Dhamma dan Sangha; sila; kedermawanan (caga); dan kebijaksanaan (panna).”

Menjadi seorang wanita yang memiliki banyak bakat, Visakha telah memainkan peranan penting dalam berbagai aktivitas Buddha dan para pengikut Beliau. Sering kali dia diberikan otoritas oleh Buddha untuk menyelesaikan perselisihan yang muncul di antara para bhikkhuni. Beberapa peraturan Vinaya juga diturunkan kepada para bhikkhuni ketika Visakha diminta datang untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi.

Visakha meninggal pada usia seratus dua puluh tahun. Berkat dukungan penuhnya kepada Buddha dan para anggota Sangha, beliau dianggap sebagai penyokong utama wanita dalam kehidupan Sang Buddha.

gambar: Stupa Visakha, tempat dimana abunya berada, Savatthi

*****

Disusun oleh : Hansen

Diadaptasi dari berbagai sumber:

WIKIPEDIA

http://www.buddhanet.net/e-learning/buddhism/lifebuddha/2_4lbud.htm

http://www.sacred-texts.com/bud/btg/btg35.htm

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: