Riwayat Hidup Raja Asoka (2)

Perebutan Takhta

Raja Bindusara memiliki seratus satu orang putra yang lahir dari enam belas istrinya. Diantara semuanya, Pangeran Sumana (Susima) adalah putra yang tertua dan diharapkan dapat mewarisi tahta kerajaan. Ia dipercaya untuk menjadi raja muda di Takkasila, sedangkan Pangeran Asoka diangkat sebagai raja muda di Avanti dengan ibukotanya di Ujjeni.

Ketika Pangeran Asoka dalam perjalanan menuju Ujjeni untuk memerintah di sana, ia berhenti di kota Vedisa di mana ia bertemu dengan seorang gadis bernama Devi, putri seorang pedagang. Ia jatuh cinta kepadanya dan menikahinya; dari pernikahan ini lahirlah seorang putra bernama Mahinda dan, berselang dua tahun kemudian, seorang putri bernama Sanghamitta. Walaupun telah menikah dengan seorang anggota keluarga kerajaan, Devi tidak mengikuti suaminya untuk tinggal di istana. Ia tetap tinggal di Vedisa.

Dengan menangani administrasi pemerintahan Avanti, Pangeran Asoka menjadi seorang negarawan yang ulung. Hal ini menyebabkan Pangeran Asoka menjadi orang yang berpengaruh dalam pemerintahan dan popularitasnya semakin menanjak. Pangeran Sumana dan para pangeran lainnya menjadi khawatir apabila Pangeran Asoka disukai oleh raja untuk menjadi pewaris tahta.

Tak lama berselang penduduk Takkasila mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah. Pangeran Sumana tidak dapat menangani pemberontakan tersebut dan mendesak raja untuk mengirimkan Pangeran Asoka untuk mengatasinya. Raja mengutus Pangeran Asoka disertai dengan armada pasukan yang terdiri atas pasukan berkuda, pasukan penunggang gajah, kereta perang, dan pasukan pejalan kaki, tetapi raja tidak membekali mereka dengan persenjataan.

Para pelayan berlari mendatangi Pangeran Asoka dan memberitahukannya, “Tuanku, kami tidak memiliki persenjataan untuk berperang. Bagaimana kami dapat bertempur?”

Pangeran Asoka menjawab, “Jika jasa kebajikanku sedemikian rupa sehingga aku dapat menjadi raja, semoga persenjataan perang muncul di hadapanku!” Seraya sang pangeran berkata demikian, bumi terbelah dua dan para dewa muncul dari dalam bumi membawakan persenjataan untuk pasukan Pangeran Asoka.

Ketika penduduk Takkasila mendengar pasukan Pangeran Asoka mendekat, mereka menghias jalan sepanjang beberapa mil dan pergi menyambutnya dengan pot-pot yang penuh dengan persembahan. “O Pangeran,” mereka berseru, “Kami tidak berniat untuk memberontak terhadap Tuanku ataupun Baginda Raja. Namun para menteri yang jahat menindas kami dan kisah penderitaan kami tidak pernah sampai ke Pataliputta. Oleh karena itu, kami harus mengangkat senjata dan menyingkirkan wakil raja yang jahat tersebut.”

Pangeran Asoka memahami situasi yang sebenarnya dan menghukum mereka yang menyebabkan pemberontakan tersebut. Ia tinggal di sana selama beberapa hari dan memberikan nasehat kepada orang-orang dalam kata-kata yang sederhana dan indah. Ketika kedamaian telah ditegakkan di kota Takkasila, Pangeran Asoka kembali ke kota Ujjeni.

Tahun demi tahun telah berlalu. Raja Bindusara semakin tua dan kesehatannya mulai memburuk. Raja dan para menterinya mulai berpikir tentang masa depan kerajaan. Sesuai dengan kebiasaan, yang paling berhak menjadi raja berikutnya adalah Pangeran Sumana. Namun pemberontakan Takkasila menyiratkan kelemahan sang pangeran.

Selain itu, ia mulai bertindak dengan kesombongan. Suatu ketika Pangeran Sumana sepulang dari berkuda bertemu dengan perdana menteri. Bersenda gurau ia menempeleng kepala sang perdana menteri yang botak dan berlalu begitu saja. Tetapi sang perdana menteri berpikir, “Hari ini ia menempelengku dengan tangannya. Ketika menjadi raja, ia akan menjatuhkan pedangnya kepadaku. Aku harus memastikan ia tidak mewarisi kerajaan ini.”

Kemudian perdana menteri memanggil para menteri dan berkata kepada mereka, “Telah diramalkan oleh pertapa suci bahwa Pangeran Asoka akan menjadi raja yang menguasai salah satu dari empat benua. Ketika waktunya tiba, marilah kita menempatkannya pada tahta kerajaan.” Para menteri menyetujui hal ini.

(Menurut geografi India kuno, bumi terdiri atas empat benua besar, yaitu Jambudipa di sebelah selatan, Aparayojana di sebelah barat, Uttarakuru di sebelah utara, dan Pubbavideha di sebelah timur. Jambudipa juga merupakan nama kuno untuk India).

Ketika penyakit yang diderita raja semakin parah dan kelihatan tidak ada harapan lagi, para menteri mengirimkan pesan kepada Pangeran Asoka bahwa ayahnya jatuh sakit dan ia harus segera kembali ke istana kerajaan. Sang pangeran pun segera kembali ke Pataliputta untuk menjenguk ayahnya.

Terbaring lemah di ranjangnya, Raja Bindusara bermaksud untuk mengangkat putra tertuanya sebagai penerus kerajaan dan memerintahkan Pangeran Asoka untuk berangkat ke Takkasila. Namun para menteri menghalangi rencana ini. Mereka melumuri tubuh Pangeran Asoka dengan kunyit, mendidihkan lak merah dalam wadah tembaga, dan mengatakan kepada raja bahwa sang pangeran sedang sakit sehingga ia tidak dapat bangkit dari tempat tidur.

Ketika kondisi raja memburuk, para menteri membawa Pangeran Asoka ke hadapan raja dalam pakaian dan perhiasan yang mewah dan mendesak raja, “Nobatkan Pangeran Asoka untuk saat ini dan kami akan melantik Pangeran Sumana sebagai raja ketika ia kembali.”

Raja Bindusara menggelengkan kepala dengan lemah menandakan ia tidak menyetujuinya. Maka Pangeran Asoka berkata, “Jika tahta kerajaan menjadi hakku berdasarkan ketetapan takdir, semoga para dewa memahkotai aku dengan mahkota kerajaan!” Seketika para dewa muncul dan menaruh mahkota kerajaan pada kepala Pangeran Asoka. Ketika Raja Bindusara menyaksikan kejadian ini, ia muntah darah dan meninggal dunia. Ketika Pangeran Asoka mendapatkan mahkota kerajaan, dua ratus delapan belas tahun telah berlalu sejak wafatnya Sang Buddha.

Berita wafatnya Raja Bindusara dan naiknya Pangeran Asoka menjadi raja sampai ke telinga Pangeran Sumana. Merasa bahwa mahkota kerajaan seharusnya miliknya, Pangeran Sumana mempersiapkan armada pasukannya untuk bertempur melawan Pangeran Asoka guna memperebutkan tahta. Perang saudara yang berlangsung hingga empat tahun tersebut berakhir dengan kematian Pangeran Sumana di tangan Radhagupta, putra perdana menteri pada masa Raja Bindusara.

Dikisahkan juga bahwa untuk mencapai tujuannya Pangeran Asoka membunuh semua saudara tirinya. Karena kekejamannya ini, ia kemudian dikenal dengan nama Candasoka (Asoka yang kejam).

(Sulit untuk mengetahui kebenaran kisah ini karena menurut prasasti yang ditinggalkan Raja Asoka, ia memiliki banyak saudara laki-laki dan perempuan yang masih hidup ketika prasasti tersebut ditulis).

Penobatan Raja Asoka

Pada hari di mana akan diadakan penobatan raja baru, kota Pataliputta dihiasi dengan mewah dan meriah. Ketika waktu penobatan hampir tiba, alunan musik yang merdu bergema di lingkungan istana. Raja Asoka dengan wajah yang berseri-seri memasuki ruangan dengan dikelilingi oleh para pengawal. Sang pewaris tahta membungkukkan badannya di hadapan tahta kerajaan lalu menaikinya. Seraya para brahmana melantunkan mantra-mantra, Raja Asoka dipakaikan simbol-simbol seorang raja dan mahkota kerajaan Magadha diletakan di atas kepalanya.

Setelah resmi dinobatkan sebagai raja ketiga Dinasti Moriya, Raja Asoka menggunakan nama Devanampiya Piyadassi (Devanampiya = “Dicintai oleh para dewa”, Piyadassi = “Ia yang melihat dengan penuh kasih sayang”). Ia juga mengangkat Radhagupta sebagai perdana menteri dan Pangeran Tissa, adiknya yang lahir dari ibu yang sama, sebagai penasehat kerajaan.

Seketika setelah penobatannya, titah Raja Asoka membentang sejauh satu yojana (16 km) ke atas angkasa dan satu yojana ke bawah bumi. Setiap hari para dewa membawakan air sebanyak muatan delapan orang manusia dari danau Anotatta dan raja membagikan air ini kepada semua rakyatnya. Dari Himalaya para dewa juga membawakan ranting dari tumbuhan tertentu untuk membersihkan gigi, buah-buahan yang menyehatkan, myrobalan, terminalia, serta buah mangga yang sempurna dalam warna, bau, dan rasanya. Para makhluk halus (yakkha) dari angkasa membawakan pakaian dalam lima warna, bahan tertentu yang berwarna kuning sebagai serbet, dan minuman dewata dari danau Chaddanta. Para naga membawakan pakaian yang berwarna seperti bunga melati dan tanpa garis jahitan, bunga teratai surgawi, collyrium, dan obat luka. Burung-burung nuri setiap hari membawakan padi sebanyak sembilan puluh ribu kereta dari danau Chaddanta. Tikus-tikus tanpa henti mengubah padi-padi ini menjadi butiran beras tanpa sekam ataupun bubuk padi dan ini menjadi makanan bagi keluarga kerajaan. Lebah-lebah madu tanpa henti menyediakan madu untuk raja. Di tempat penempaan besi para beruang mengayunkan palu. Burung-burung karavika yang bersuara lembut dan merdu berdatangan dan mengalunkan nyanyian untuk raja.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

Ariyakumara

Tagged , , , ,

4 thoughts on “Riwayat Hidup Raja Asoka (2)

  1. dini says:

    aku seneng banget ma cerita ini………
    menyentuh andai aku jadi istri asoka aduuuuuuuuh mimpy bgt

    • hansen says:

      tp menurut cerita istri asoka cemburu ama pohon bodhi sehingga dia merusak pohon tersebut..
      boleh aja bermimpi jadi istri manusia mulia tetapi jgn cemburu spt istri beliau ya
      hahaha

  2. kelvin says:

    jaDI ORNG JGN SK IRI IRINITU AQ BAIK KATA KOMENG

  3. kalama sutta says:

    hati hati dalam mempercayai sesuatu, apalagi dari hanya dari satu pihak saja bukan kah sudah diajarkan oleh sang buddha sendiri dalam kalama sutra. seperti biasa sejarah ditulis sang pemenang, yang paling biasa adalah pemenang selalu di identikan menjadi pihak yang benar tapi kalau mau jujur kebenaran tidak selalu selalu menang bahkan jarang sekali, kepalsuan dan kebohongan lah yang lebih sering menang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: