Riwayat Hidup Raja Asoka (4)

PERUBAHAN KEBIJAKAN RAJA ASOKA

Perang Kalinga

Walaupun telah mewarisi kerajaan yang begitu besar dan luas, Raja Asoka tidak puas. Beberapa kerajaan yang berbatasan langsung dengan kerajaan Magadha masih merdeka dan tidak mengakui hegemoni kerajaan Magadha. Raja Asoka yang berjiwa penakluk seperti juga ayah dan kakeknya mengerahkan armada perangnya untuk menguasai daerah-daerah yang belum dikuasainya. Ini berlangsung sampai tahun kedelapan masa pemerintahannya.

Di pesisir timur India terdapat kerajaan yang makmur bernama Kalinga. Terletak di antara sungai Godavari dan Mahanadi, Kalinga merupakan kerajaan agraris yang subur. Selain itu, kerajaan ini menguasai jalur laut sepanjang pesisir timur sampai ke lembah Krishna yang kaya akan emas dan batu mineral lainnya. Ini membakar semangat Raja Asoka untuk menguasai wilayah tersebut.

Mulanya Raja Asoka meminta pihak kerajaan Kalinga untuk tunduk pada kekuasaannya, tetapi ini ditolak mentah-mentah oleh Kalinga. Kemudian seorang panglima perang Magadha bersama sejumlah pasukan dikirimkan untuk menundukkan Kalinga. Pasukan ini pun dapat dikalahkan dengan taktik yang jitu dari panglima perang Kalinga. Raja Asoka akhirnya memutuskan untuk mengirimkan armada perang yang lebih besar dan memimpin sendiri penyerangan kali ini.

Pasukan Magadha bergerak menuju ke Kalinga. Namun demikian, rakyat Kalinga tidak takut; mereka mencintai tanah air dan kemerdekaan mereka serta telah siap untuk bertempur dan mati mempertahankan tanah kelahirannya.

Kekuatan pasukan Kalinga tidak dapat menandingi kekuatan pasukan Magadha. Raja Asoka memenangkan pertempuran terbesar dalam hidupnya, namun seratus ribu orang terbunuh dalam perang dan seratus lima puluh ribu orang menjadi tawanan perang; para wanita menjadi janda dan anak-anak kehilangan orang tuanya.

Perubahan Hati Raja Asoka

Bersama dengan sisa pasukannya Raja Asoka berkeliling melihat keadaan medan perang. Ia menyaksikan mayat-mayat mereka yang tewas bergelimpangan bersama dengan jasad gajah dan kuda mereka, darah mengalir di mana-mana, mereka yang masih hidup berguling kesakitan di tanah, dan burung-burung pemakan bangkai mematuki mayat-mayat tersebut.

Sebelumnya ia tidak pernah menyaksikan sendiri bahwa akibat perang sangat mengerikan. Hatinya sangat hancur karena kesedihan; ia tidak bergembira atas kemenangannya yang dibayar dengan penderitaan orang lain.

“Perbuatan mengerikan apa yang kulakukan? Aku adalah raja yang menguasai negeri yang besar, tetapi menginginkan sebuah kerajaan kecil dan menyebabkan ribuan orang meninggal, ribuan wanita menjadi janda, dan anak-anak menjadi yatim. Inikah yang ingin dimenangkan orang-orang dalam perang?” Pikiran ini terus menghantui benak Raja Asoka sehingga ia tidak dapat berlama-lama berada di tempat tersebut. Ia membawa pulang pasukannya ke Pataliputta dengan hati yang berat.

Raja Asoka akhirnya menjadi raja seluruh India seperti yang ia inginkan, namun kemenangan ini tidak membuatnya berbahagia tetapi bersedih. Pembantaian orang-orang Kalinga yang ia lakukan telah menyuramkan kebanggaannya atas kemenangan ini. Ketika makan, duduk, atau berbaring, pemandangan yang mengerikan dan berdarah-darah di medan pertempuran menghantuinya setiap waktu sehingga ia tidak dapat memperoleh ketenangan pikiran bahkan untuk sesaat.

Raja menyadari bahwa bara api peperangan tidak hanya membakar dan menghancurkan medan perang, tetapi juga membakar dan menghancurkan kehidupan banyak orang yang tidak bersalah. Penderitaan yang diakibatkan perang akan terus meracuni pikiran dan kehidupan mereka yang selamat selama waktu yang lama.

Dalam mencari pelipur lara atas duka dan rasa bersalah yang terus menghantui batinnya, Raja Asoka teringat akan agama Buddha yang pernah ia ikuti namun hanya sebatas kulit luarnya saja. Ia mulai lebih bersemangat untuk mengunjungi Sangha dan lebih mendalami ajaran Sang Buddha. Akhirnya raja Magadha tersebut bersumpah untuk tidak menggunakan kekuatan armada perangnya untuk memerangi kerajaan lain; ia tidak berniat lagi melakukan perluasan wilayah yang lebih jauh, namun juga tidak takut akan serangan dari kerajaan lain.

Raja Asoka menghabiskan sisa kehidupannya untuk menerapkan prinsip-prinsip ajaran Sang Buddha dalam administrasi pemerintahannya. Ia mengubah kebijakan pemerintahannya untuk mewujudkan kemakmuran rakyatnya sehingga terciptalah masa damai di Magadha. Ia mengubah cara penaklukan secara kekerasan (digvijaya) menjadi penaklukan secara Dhamma (Dhammavijaya), yaitu mengajarkan kepada semua orang untuk melaksanakan Dhamma (Secara umum Dhamma di sini berarti prinsip-prinsip moralitas dan kemanusiaan yang harus dijalankan semua orang. Ini dapat diketahui dari banyaknya prasasti peninggalan Raja Asoka yang menganjurkan semua orang untuk tidak melakukan pembunuhan bahkan terhadap binatang, berdana, menghormati orang tua dan guru, memperlakukan keluarga, saudara, teman, dan pelayan dengan baik, serta menghormati agama lain).

Melalui Teladan Menyebarkan Dhamma

Mulanya Raja Asoka ragu-ragu dalam menunjukkan penghormatannya kepada anggota Sangha. Suatu ketika raja bertemu dengan seorang samanera berusia tujuh tahun dan menunggu sampai mereka berdua berada di suatu tempat di mana orang-orang tidak dapat melihat mereka. Lalu raja bersujud kepada sang samanera dan berkata, “Mohon jangan mengatakan kepada siapa pun bahwa saya telah bersujud kepada anda.”

Tak jauh dari samanera tersebut terdapat sebuah kendi; secara tiba-tiba sang samanera masuk ke dalam kendi tersebut lalu muncul kembali melalui mulut kendi dengan kekuatan batinnya dan berkata, “O baginda raja, jangan katakan kepada siapa pun bahwa saya telah masuk ke dalam kendi ini dan keluar dari mulut kendi.” Raja mengatakan bahwa kekuatan batin seperti itu seharusnya tidak disembunyikan dan dapat diberitahukan kepada semua orang.

Sang samanera kemudian berkata, “Itulah sebabnya, O raja, tiga hal ini tidak boleh dianggap remeh: seorang raja muda, seekor naga muda, dan seorang bhikkhu muda. Seorang raja muda walaupun masih muda dapat membunuh banyak orang; seekor naga muda walaupun masih kecil dapat membuat hujan; seorang bhikkhu muda walaupun masih kecil dapat menyelamatkan umat manusia.”

Sejak saat itu Raja Asoka terbiasa menjatuhkan dirinya di kaki para bhikkhu tanpa menghiraukan tempat dan orang-orang yang melihatnya. Salah seorang menteri bernama Yasa memandang hal ini tidak sepatutnya dan berkata kepada raja, “Yang Mulia, anda tidak seharusnya bersujud kepada para bhikkhu, karena para bhikkhu berasal dari semua kasta.” Raja tidak segera menjawabnya.

Beberapa hari kemudian raja memanggil para menterinya dan memerintahkan mereka untuk mendapatkan kepala hewan yang berbeda-beda. Tanpa banyak bertanya para menteri tersebut segera membawakan kepala hewan yang ditentukan oleh raja. Yasa sendiri diminta untuk membawakan kepala manusia.

Setelah mendapatkan masing-masing menteri mendapatkan kepala yang ditentukan, raja memerintahkan mereka menjualnya di pasar. Tak lama kemudian semua menteri, kecuali Yasa, berhasil menjual kepala-kepala tersebut. Yasa menemui kesulitan untuk menjual kepala manusia sehingga ia berusaha memberikannya secara cuma-cuma, namun tidak ada orang yang menginginkan kepala manusia tersebut. Dengan kecewa ia melapor kepada raja, “Baginda, kepala sapi, keledai, rusa, burung semuanya dapat dijual dengan harga tertentu kepada orang-orang, tetapi tidak ada orang yang sudi mengambil kepala manusia yang tidak berharga ini, bahkan ketika diberikan secara cuma-cuma.”

Raja bertanya kepada Yasa, “Mengapa tidak ada orang yang mau menerimakepala manusia ini?”

“Karena, Yang Mulia, kepala ini menjijikkan bagi mereka.”

“Apakah hanya kepala manusia ini atau semua kepala manusia menjijikkan bagi orang-orang?”

“Semua kepala manusia itu menjijikkan, Yang Mulia.”

“Apa! Apakah kepalaku juga menjijikkan?”

Dengan ragu-ragu Yasa menjawab, “Demikianlah, Yang Mulia.”

Kemudian Raja Asoka menjelaskan maksud di balik perintahnya yang membingungkan: “Jika aku dapat memperoleh jasa kebajikan dengan menjatuhkan kepalaku yang begitu menjijikkan sehingga tidak ada orang di dunia ini yang menginginkannya, mengapa hal ini dikatakan tidak sepatutnya?” Akhirnya Yasa dan para menteri lainnya dapat menerima sikap raja memberikan penghormatan kepada Sangha.

Dua tahun setelah perang Kalinga, Raja Asoka mengadakan perjalanan Dhamma (Dharmayatra) mengunjungi Sambodhi (Bodhi Gaya), tempat di mana Pertapa Gotama mencapai Kebuddhaan. Selama perjalanan ini raja mengunjungi dan berdana kepada para pertapa dan brahmana, mengunjungi dan mendanakan emas kepada orang-orang lanjut usia, mengunjungi orang-orang di luar kota untuk mengajarkan mereka Dhamma dan berdikusi tentang Dhamma.

Di berbagai daerah dalam wilayah kekuasaannya dan di daerah perbatasan dengan kerajaan lain seperti Chola, Pandya, Satiyaputra, Keralaputra, Tamraparni (Sri Lanka), dan daerah-daerah seperti Mesir, Siria, Yunani dan sekitarnya, ia menyediakan obat-obatan bagi manusia dan hewan. Jika terdapat tanaman obat, akar-akaran, atau buah tertentu yang tidak ditemukan di suatu daerah, ia memerintahkan tumbuhan tersebut untuk diimpor dan ditanam di sana. Ia juga menyediakan sumur dan pepohonan di sepanjang jalan untuk manfaat bagi manusia dan hewan.

Raja Asoka menginginkan agar Dhamma dapat tersebar luas, diketahui oleh semua orang, dan dapat bertahan lama. Maka ia memerintahkan untuk memahatkan pesan-pesan Dhamma pada batu dan tugu batu yang ditempatkan di dalam maupun di luar wilayah kekuasaannya. Dalam prasasti-prasasti ini raja menyatakan keinginannya agar pesan Dhamma yang ia tuliskan dapat sampai kepada orang-orang dari seluruh negeri dan mereka dapat mengikuti dan menyebarkannya untuk kesejahteraan dunia.

Ia memerintahkan para pejabat yang disebut yukta, rajjuka, dan pradesika mengadakan perjalanan inspeksi setiap lima tahun untuk tujuan pengajaran Dhamma dan urusan lainnya. Para pejabat ini diperintahkan untuk mengajarkan kepada orang-orang agar menghormati orang tua, bermurah hati pada teman, kenalan, keluarga, para brahmana, dan pertapa, tidak membunuh makhluk hidup, serta tidak berlebihan dalam pengeluaran dan tidak berlebihan dalam penghematan.

Kemudian pada tahun ketigabelas masa pemerintahannya Raja Asoka menunjuk pejabat baru yang disebut Dhamma mahamatra (pejabat Dhamma) yang bertugas menyebarkan Dhamma untuk kesejahteraan dan kebahagiaan semua orang. Mereka bekerja di antara orang-orang Yunani, Kamboja, Gandhara, Rastrika, Pitinika dan bangsa lainnnya pada daerah perbatasan sebelah barat; mereka bekerja di antara prajurit, tokoh masyarakat, brahmana, perumah tangga, orang miskin, orang lanjut usia, dan orang-orang yang melaksanakan Dhamma agar bebas dari gangguan. Para pejabat Dhamma ini juga bertugas dalam memperlakukan para tahanan dengan baik; jika ada tahanan yang masih memiliki keluarga yang harus ditanggung, yang ditahan karena difitnah, atau tahanan yang sudah lanjut usia, para Dhamma mahamatra akan membebaskan mereka.

Pangeran Vitasoka Meninggalkan Keduniawian

Raja Asoka memiliki adik kandung lain bernama Vitasoka. Suatu hari ketika sedang berburu di hutan bersama dengan kakaknya, Pangeran Vitasoka bertemu dengan seorang pertapa yang sedang melakukan pertapaan dengan dikelilingi dengan lima api. Sang pangeran menanyakan berbagai hal kepada sang pertapa dan mengetahui bahwa pertapa tersebut telah melakukan pertapaan ini selama dua belas tahun, hidup dengan hanya memakan buah dan akar-akaran, tidur di tanah yang keras, dan memakai pakaian dari rerumputan atau kulit pohon.

“Yang Mulia,” tanya pangeran, “Apakah anda masih merasa terganggu dalam berbagai hal?”

“Ya, nafsu masih mencengkeram diriku,” jawab sang pertapa.

Kemudian pangeran mengatakan kepada raja bahwa jika pertapa yang tinggal di hutan dan melakukan pertapaan keras selama bertahun-tahun gagal dalam menaklukan nafsu keinginan, maka tidak diragukan lagi bahwa para bhikkhu yang tidur di tempat yang nyaman dan makan enak masih merupakan budak nafsu. Pangeran juga menambahkan bahwa raja telah tertipu dengan memberikan penghormatan kepada para bhikkhu, karena gunung Vindhya akan segera terapung di lautan ketika mereka dapat mengendalikan indera mereka.

Raja Asoka belakangan memanggil para menterinya dan memerintahkan mereka untuk mengatur sedemikian rupa sehingga ketika ia sedang mandi, Pangeran Vitasoka akan memakai mahkota kerajaan dan duduk di singgasana raja. Maka para menteri mendekati pangeran dan mengatakan kepadanya bahwa karena ia adalah penerus raja, mereka ingin melihat bagaimana ia terlihat saat memakai mahkota kerajaan dan duduk di singgasana. Ketika pangeran melakukan hal tersebut, raja tiba-tiba muncul dan berpura-pura murka karena selama ia hidup tidak ada orang lain yang boleh menaiki tahta.

Para algojo dipanggil, tetapi dengan isyarat para menteri memohon agar raja memaafkan pangeran. Raja kemudian berkata, “Aku akan memaafkannya selama tujuh hari; dan karena ia adalah adikku, aku memberikan kekuasaan raja selama satu minggu, atas dasar cinta kasih antara saudara.”

Musik pun beralun, orang-orang bergembira dan menghormati Vitasoka sebagai raja baru; para dayang datang untuk melayaninya. Namun para algojo berdiri di pintu dan para akhir hari mereka akan mendatanginya dan mengatakan: “Satu hari telah berlalu, hanya tersisa sekian hari lagi.”

Pada hari terakhir, pangeran dibawa ke hadapan raja yang menanyakan bagaimana ia menikmati satu minggu sebagai raja. Pangeran menjawab, “Aku tidak dapat melihat ataupun mendengar kesenangan. Baginda harus mencari seseorang yang mendengar lagu-lagu, melihat para penari, merasakan rasa makanan untuk menjawab Baginda.”

“Tetapi,” balas raja, “Aku memberikanmu kekuasaan raja. Aku melihatmu dihormati oleh ratusan orang, dikelilingi oleh para wanita cantik. Bagaimana mungkin kamu tidak melihat atau mendengar apa pun?”

“Wanita, tarian, lagu, istana, tempat tidur, tempat duduk, masa muda, kecantikan, keberuntungan, dan permata semuanya tanpa kegembiraan dan kosong bagiku, karena aku dapat melihat para algojo di pintu, mendengar suara lonceng mereka yang menakutkan dan aku sangat takut akan kematian. Aku tidak dapat tidur dan menghabiskan sepanjang malam berpikir: „Aku akan mati..”

Kemudian raja tersenyum dan berkata, “Tersiksa setiap hari oleh ketakutan akan kematian hanya dalam satu masa kehidupan, kesenangan indera gagal menggembirakan pikiranmu. Lalu bagaimana terdapat kegembiraan dalam kesenangan indera dalam pikiran para bhikkhu yang terus-menerus merenungkan ketakutan akan kematian dalam ratusan kehidupan yang akan datang? Melihat tubuh sebagai musuh yang mematikan dan melihat hidup itu tidak kekal seperti rumah yang terbakar, bagaimana mungkin mereka tidak terbebaskan ketika mereka melepaskan diri dari kelahiran kembali, pikiran mereka tidak terpengaruh pada kesenangan indera bagaikan air yang tidak dapat membasahi daun teratai?”

Demikianlah akhirnya Pangeran Vitasoka dapat menerima ajaran Sang Buddha dan kemudian memutuskan untuk menjadi bhikkhu. Mulanya raja berusaha meminta pangeran untuk memikirkan kembali keputusannya dengan berkata, “Kehidupan pertapa memiliki keburukan dalam penampilan; pakaian kamu akan berupa kain buruk dari tumpukan sampah dan pakaian luar kamu akan berupa sesuatu yang dibuang oleh pelayan; makanan kamu akan berasal dari sedekah yang dikumpulkan dari orang-orang yang tidak kamu kenal; tempat tidur dan tempat duduk kamu akan berupa selapis rumput di bawah pohon. Ketika kamu sakit, makanan akan sulit diperoleh dan air seni akan menjadi obatnya. Kamu sangat lembut dan tidak mampu menahan panas dan dingin, lapar dan dahaga; aku memohon kepadamu untuk mempertimbangkan kembali keputusan ini.”

Saat raja mengetahui bahwa adiknya teguh dalam pendiriannya, ia meneteskan air mata berpikir akan kehilangan adiknya tersebut. Sang pangeran menenangkan raja dengan berkata, “Aku telah melihat dunia ini dicengkeram oleh penderitaan, diinginkan oleh kematian, dan diliputi oleh kejahatan; takut akan kelahiran kembali, aku harus mengikuti jalan yang benar. Yang Mulia, samsara bagaikan usungan yang memutar; mereka yang masuk ke dalamnya pasti akan jatuh. Mengapa anda sangat bersedih ketika kita pasti akan berpisah suatu hari?”

Setelah pangeran menjadi bhikkhu, raja memintanya agar berpindapatta di dekat istana dan membuatkan sebuah tempat tidur dari dedaunan pada sebuah taman di istana.

Bhikkhu Vitasoka terbiasa menerima dana makanan dari para wanita istana yang memberikan makanan yang mewah. Melihat hal ini, raja memerintahkan para wanita tersebut hanya memberikan kacang lembek yang tidak enak. Bhikkhu Vitasoka memakan makanan ini dengan tenang. Menyadari bahwa keteguhan hati adiknya yang tidak tergoyahkan, raja mengizinkan sang bhikkhu untuk berkeliling dan kembali setelah mencapai Pencerahan.

Bertahun-tahun kemudian ketika berdiam di Videha, Bhikkhu Vitasoka mencapai kesucian Arahat dan menikmati kedamaian pembebasan. Lalu ia kembali kepada Raja Asoka seperti yang dijanjikan. Raja mengucurkan air mata ketika melihat adiknya dalam jubah dari kain buangan dengan mangkuk untuk meminta dana makanan dari tanah liat yang dipenuhi dengan makanan baik maupun buruk yang bercampur menjadi satu dan ketenangan pada wajah sang bhikkhu walaupun berjumpa secara tatap muka setelah waktu yang lama.

Setelah dapat menguasai dirinya, raja berkata, “Aku telah melihat seorang pewaris tahta yang meninggalkan kebanggaan, kedengkian, dan perselisihan, bahkan silsilah raja dan kerajaan beserta permata-permatanya. Namun aku gembira karena istanaku telah dihormati, kotaku dipenuhi dengan kemuliaan. Jelaskanlah, O adikku, ajaran mulia dari Sang Dasabala (Pemilik Sepuluh Kekuatan)!”

Setelah memberikan kotbah, Bhikkhu Vitasoka meninggalkan kota Pataliputta dengan diikuti oleh raja. Di pintu gerbang kota ia terbang ke angkasa; saat itu raja meneriakkan salam perpisahan kepada adiknya: “Bebas dari ikatan keluarga, engkau terbang bagaikan burung yang meninggalkan kami di belakang, yang meloncati belenggu nafsu duniawi. Kekuatanmu melembutkan kesombongan kami.”

Kematian Bhikkhu Vitasoka

Bhikkhu Vitasoka menghabiskan hidupnya di daerah perbatasan. Kemudian ia jatuh sakit dan ketika ia sembuh, rambut, kuku, dan janggutnya tumbuh. Sementara itu di Pundravardhana seorang pengikut Jain melukis gambar yang memperlihatkan Sang Buddha bersujud di kaki Nigantha Nataputta (Mahavira Jina). Mendengar hal ini, Raja Asoka memerintahkan agar seribu delapan ratus orang pengikut Jain di Pundravardhana dihukum mati. Lalu kejadian yang serupa terjadi di Pataliputta dan raja membakar orang yang merendahkan Sang Buddha tersebut beserta keluarganya. Setelah itu ia mengumumkan hadiah satu keping koin emas per kepala pertapa Jain.

Orang-orang yang antusias mulai memenggal kepala orang miskin atau pertapa yang bukan Buddhis. Ketika itu Bhikkhu Vitasoka datang untuk bermalam di rumah seorang penggembala sapi. Melihat jubah yang compang-camping, kuku, rambut, dan janggutnya yang panjang, istri sang penggembala menyangka bhikkhu tersebut adalah pertapa Jain. Ia memberitahukan suaminya untuk mendapatkan sekeping koin emas. Penggembala sapi tersebut mencabut pedangnya dan mendekati Bhikkhu Vitasoka yang duduk diam karena mengetahui bahwa waktunya telah tiba untuk memetik buah perbuatan jahatnya di masa lampau.

Pada kehidupan lampau Bhikkhu Vitasoka pernah terlahir sebagai seorang pemburu yang mencari nafkah dengan menangkap hewan-hewan dalam perangkap yang diletakkan di samping lubang air tempat biasanya para hewan minum. Suatu hari seorang Pacceka Buddha berhenti di tempat tersebut untuk beristirahat. Karena kehadiran sang Pacceka Buddha, tidak ada hewan yang mendekat dan sang pemburu menemukan perangkapnya kosong. Karena marah, ia membunuh Pacceka Buddha tersebut dengan pedangnya. Karena membunuh hewan dengan perangkap, Bhikkhu Vitasoka menderita sakit yang berat; karena membunuh Pacceka Buddha, ia selama kelahiran yang tak terhitung harus mati oleh pedang. Demikianlah sang bhikkhu meninggal karena kepalanya dipenggal oleh seorang penggembala sapi.

Ketika kepala Bhikkhu Vitasoka dibawa ke hadapan raja, raja jatuh pingsan. Perdana Menteri Radhagupta lalu menunjukkan kepada raja penderitaan yang ditimbulkan oleh mereka yang telah mencapai pembebasan dari nafsu keinginan. Sejak peristiwa ini Raja Asoka bertekad untuk menjamin keselamatan semua makhluk dan menghormati pengikut agama lain. Sejak saat itu tidak ada orang yang dihukum mati di kerajaan Magadha selama masa pemerintahan Raja Asoka.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

Ariyakumara

Tagged , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: