Riwayat Hidup Raja Asoka (5)

PERAN RAJA ASOKA DALAM MELESTARIKAN BUDDHA DHAMMA

Konsili Buddhis III

Seiring dengan berjalannya waktu Sangha memperoleh banyak penghormatan dan pemberian dari para umat yang berbakti. Sebaliknya, para pertapa dari ajaran lain kehilangan penghormatan dan pemberian dari para pengikutnya. Untuk memperoleh berbagai kebutuhan seperti makanan dan pakaian, mereka menjadi bhikkhu dan menyatakan ajaran mereka sebagai ajaran Buddha. Mereka yang gagal diterima sebagai anggota Sangha mencukur rambutnya, memakai jubah kuning, lalu berkeliaran di sekitar vihara mengganggu berlangsungnya upacara uposatha dan pavarana.

Ketika melihat adanya penyakit borok yang menjangkiti agama Buddha ini, Bhikkhu Tissa Moggaliputta dengan bijaksana memikirkan saat yang tepat untuk mengatasinya. Setelah menyerahkan perkumpulan para bhikkhu kepada Bhikkhu Mahinda, ia bermaksud berdiam di tempat yang tenang dan mengundurkan diri ke Ahoganga di dekat sungai Gangga selama tujuh tahun.

Walaupun para pengikut ajaran lain telah dikecam oleh Sangha, mereka tetap memunculkan berbagai bentuk pergolakan dalam ajaran Sang Buddha karena mereka tidak menyesuaikan diri dengan prinsip yang sesuai dengan Dhamma dan Vinaya.

Beberapa di antara mereka cenderung melakukan pemujaan api, beberapa terlena dalam bara api dari lima nafsu, beberapa menyembah matahari dengan mengikuti jalannya di langit, sedangkan yang lainnya berusaha menghancurkan Dhamma dan Vinaya.

Karena jumlah pengikut ajaran lain yang semakin banyak dan kekacauan yang ditimbulkan, para bhikkhu tidak mengadakan uposatha maupun pavarana bersama mereka. Uposatha di Asokarama terganggu selama tujuh tahun dan hal ini terdengar sampai ke telinga Raja Asoka.

Raja mengirimkan seorang menterinya untuk menyelesaikan masalah ini dengan berkata, “Pergilah, selesaikan masalah ini dan usahakan agar upacara uposatha dapat dijalankan oleh perkumpulan bhikkhu di viharaku.”

Ketika sampai di Asokarama, sang menteri memanggil para bhikkhu dan berseru, “Jalankan upacara uposatha; ini perintah Baginda Raja!”

Para bhikkhu menjawab, “Kami tidak akan mengadakan uposatha dengan orang-orang sesat.”

Sang menteri dengan pedangnya memenggal kepala beberapa bhikkhu dan berkata, “Aku akan memaksa kalian untuk mengadakan upacara uposatha!”

Bhikkhu Tissa, adik Raja Asoka, melihat kejadian ini dan memberitahukannya kepada raja. Mendengar tindakan menterinya, raja menjadi sangat terganggu dan segera menemui para bhikkhu untuk bertanya, “Siapakah sebenarnya yang bersalah atas perbuatan ini?”

Sebagian dari mereka dengan kebodohannya menjawab, “Andalah yang bersalah.” Yang lain menjawab, “Kalian berdua bersalah.” Namun para bhikkhu yang bijaksana menjawab, “Anda tidak besalah.”

“Adakah seorang bhikkhu yang dapat menghilangkan keragu-raguanku dan melindungi ajaran Sang Buddha?” tanya raja.

“Ada, O raja, seorang thera bernama Tissa Moggaliputta.”

Setelah mengirimkan beberapa kali utusan yang terdiri atas para bhikkhu dan para menteri, raja akhirnya mengetahui bahwa sang bhikkhu sudah berusia lanjut dan tidak dapat menaiki kereta. Raja kemudian mengirimkan kapal untuk menjemput Bhikkhu Tissa Moggaliputta. Raja Asoka turun ke sungai Gangga sampai sebatas lutut untuk membantu sang thera turun dari kapal.

Raja menuntun sang thera ke sebuah taman bernama Rativaddhana dan di sana raja meminta bhikkhu tersebut menunjukkan kekuatan batinnya dengan maksud untuk menguji kemampuan sang bhikkhu. Raja meminta sang thera menciptakan gempa bumi namun hanya pada wilayah tertentu karena ini adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan dibandingkan dengan mengguncang seluruh bumi.

Dalam batas satu yojana Bhikkhu Tissa Moggaliputta menempatkan sebuah kereta kuda, seekor kuda, seorang manusia, dan sebuah bejana yang dipenuhi air pada keempat arah mata angin. Lalu dengan kekuatan batinnya ia menyebabkan bumi berguncang bersama-sama dengan separuh dari masing-masing benda tersebut dan membiarkan raja duduk di sana menyaksikan hal ini.

Setelah yakin bahwa sang bhikkhu adalah benar-benar orang yang tepat, Raja Asoka bertanya apakah ia bersalah atas pembunuhan para bhikkhu yang dilakukan oleh menterinya. Sang thera mengatakan, “Tidak ada kesalahan tanpa kehendak jahat” dan mengajarkan Tittira Jataka kepada raja.

Tinggal selama tujuh hari di taman tersebut, sang thera mengajarkan Dhamma kepada Raja Asoka. Pada hari ketujuh raja mengumpulkan para bhikkhu di Asokarama dan membuat sekat-sekat pemisah untuk mengelompokkan para bhikkhu yang berbeda pandangan. Lalu duduk bersama dengan sang thera, raja memanggil setiap kelompok bhikkhu dan bertanya kepada mereka, “Yang Mulia, apakah yang diajarkan oleh Yang Dirahmati?”

Para penganut pandangan eternalis mengatakan bahwa Sang Buddha mengajarkan paham eternalis. Demikian juga, para penganut pandangan annihilasionis dan pandangan salah lainnya menjawab berdasarkan pandangan mereka. Karena raja telah mempelajari Dhamma yang benar, ia mengetahui bahwa mereka bukan para bhikkhu sejati, melainkan para pengikut ajaran lain. Lalu dengan memberikan mereka jubah putih, raja mengeluarkan mereka dari Sangha. Jumlah para bhikkhu palsu ini ada enam puluh ribu orang semuanya.

Kemudian raja memanggil para bhikkhu yang tersisa dan bertanya, “Apakah yang diajarkan Yang Dirahmati?” dan mereka menjawab, “Beliau mengajarkan Vibhajjavada (ajaran analitis).”

“Yang Mulia, benarkah Sang Buddha sesungguhnya mengajarkan Vibhajjavada?” tanya Raja Asoka kepada Bhikkhu Tissa Moggaliputta.

“Benar, O raja besar.”

Raja sangat gembira dan berkata, “Karena perkumpulan para bhikkhu telah bersih, Yang Mulia, biarlah Sangha mengadakan upacara uposatha.” Raja lalu menjadikan sang thera sebagai pelindung Sangha dan kembali ke istana; Sangha yang telah bersatu dalam kerukunan mengadakan upacara uposatha.

Bhikkhu Tissa Moggaliputta lalu memilih seribu bhikkhu yang terpelajar, yang memiliki enam kekuatan batin, mengetahui Tipitaka, dan ahli dalam ilmu pengetahuan tertentu untuk menyusun ajaran yang benar. Mereka mengadakan pertemuan di vihara Asokarama di Pataliputta dan menyepakati ajaran Sang Buddha dikelompokkan atas Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka. Pertemuan yang dipimpin oleh Bhikkhu Tissa Moggaliputta ini dikenal sebagai Konsili Buddhis III32 dan berlangsung selama sembilan bulan dibawah perlindungan Raja Asoka. Selama konsili ini sang thera juga menyusun Kathavatthu, kitab yang kemudian dimasukkan dalam Abhidhamma Pitaka, untuk menyangkal ajaran-ajaran lain yang dapat mencemari ajaran Sang Buddha.

Konsili ditutup dengan upacara pavarana dan saat itu bumi berguncang seakan-akan turut bergembira atas ditegakkannya kembali ajaran agama Buddha. Kejadian ini terjadi tujuh belas tahun setelah Raja Asoka dinobatkan.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

Ariyakumara

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: