Riwayat Hidup Raja Asoka (7)

Persahabatan Raja Asoka dan Devanampiya Tissa

Pada masa pemerintahan Raja Asoka, Sri Lanka diperintah oleh seorang raja bernama Mutasiva yang kemudian digantikan oleh putranya, Tissa. Setelah menjadi raja, Tissa mengirimkan utusan yang membawa permata, batu-batu mulia, tiga jenis batang bambu, kulit kerang yang memutar spiral ke kanan, dan mutiara kepada Raja Asoka.

Utusan tersebut terdiri dari keponakan Raja Tissa bernama Maharittha atau Arittha yang merupakan perdana menteri kerajaan, seorang brahmana penasehat kerajaan, seorang menteri, dan seorang bendahara kerajaan. Dalam tujuh hari para utusan dari Sri Lanka tiba di Pataliputta dan menyerahkan pemberian dari raja mereka kepada Raja Asoka. Raja sangat gembira ketika menerima pemberian ini dan menganugerahkan gelar panglima tertinggi kerajaan (senapatti) kepada Maharittha, gelar penasehat kerajaan (purohita) kepada sang brahmana, gelar jenderal (dandanayaka) kepada sang menteri, dan gelar kepala saudagar (setthi) kepada sang bendahara.

Kemudian Raja Asoka mengirimkan pemberian balasan yang terdiri atas kipas, mahkota, pedang, payung, sepatu, ikat kepala, hiasan telinga, rantai, kendi, kayu cendana, pakaian, serbet, obat luka, tanah merah, air dari danau Anotatta, air dari sungai Gangga, kulit kerang, piring emas, tandu mewah, myrobalan, tanaman-tanaman obat, dan lain sebagainya. Selain itu, raja juga memberikan Dhammadana dengan mengirimkan pesan:

“Aku telah berlindung dalam Buddha, Dhamma, dan Sangha, aku telah menyatakan diriku sebagai pengikut awam dalam ajaran Sang Putra Sakya; berlindunglah, O yang terbaik di antara manusia, dengan hati yang yakin dalam permata yang paling berharga ini!” dan juga mengatakan kepada para utusan tersebut, “Nobatkan lagi sahabatku Tissa sebagai raja.”

Setelah tinggal selama lima bulan di Pataliputta, para utusan ini kembali ke Sri Lanka dan menyerahkan pemberian dari Raja Asoka serta menobatkan kembali Tissa sebagai raja sesuai dengan tradisi India45. Setelah dinobatkan sesuai dengan tradisi India, Tissa memakai gelar Devanampiya sehingga ia kemudian dikenal sebagai Devanampiya Tissa.

Penyebaran Buddha Dhamma di Sri Lanka

Ketika Bhikkhu Mahinda ditugaskan untuk menyebarkan Buddha Dhamma ke Sri Lanka, ia melihat bahwa Raja Mutasiva saat itu sudah lanjut usia dan oleh sebab itu belum tepat waktunya untuk menyebarkan Dhamma ke sana. Maka, ia memutuskan untuk mengunjungi kerabatnya di Dakkhinagira bersama dengan empat bhikkhu lainnya dan Samanera Sumana, putra Sanghamitta. Selama enam bulan mereka mengajarkan Dhamma di Dakkhinagira.

Kemudian Bhikkhu Mahinda mengunjungi ibunya, Devi, di Vedisagiri dan mengajarkan Dhamma di sana. Anak dari saudara perempuan Devi yang bernama Bhanduka mencapai tingkat kesucian Anagami ketika mendengarkan Dhamma yang diberikan sang bhikkhu kepada ibunya. Satu bulan kemudian, setelah Devanampiya Tissa dinobatkan menjadi raja Sri Lanka, rombongan Bhikkhu Mahinda ditambah dengan upasaka Bhanduka pergi dengan terbang di udara ke Missakapabbata (Mihintale) di Sri Lanka.

Saat itu Raja Devanampiya Tissa sedang bersenang-senang bersama empat puluh ribu pengikutnya di Missakapabbata dalam suatu perayaan. Melihat seekor rusa jantan yang tak lain adalah dewa yang menyamar, raja mengejar rusa tersebut hingga akhirnya ia bertemu dengan Bhikkhu Mahinda. Kemudian sang thera mengajarkan Culahatthipadopama Sutta46 kepada raja dan para pengikutnya. Pada akhir pembabaran Dhamma ini, raja dan para pengikutnya mengambil Tiga Perlindungan.

Setelah raja kembali ke kota dan berjanji akan mengundang para bhikkhu tersebut keesokan harinya ke istana, Bhikkhu Mahinda memerintahkan Samanera Sumana untuk mengumumkan ke seluruh Sri Lanka bahwa waktu mendengarkan Dhamma telah tiba dengan kekuatan batinnya. Pengumuman ini terdengar sampai ke alam brahma sehingga para dewa dari berbagai alam datang berkumpul. Bhikkhu Mahinda kemudian menguraikan Samacitta Sutta kepada perkumpulan dewa tersebut. mereka punyai sebelum mencapai tujuan akhir. Sutta ini pertama kali dikotbahkan oleh Bhikkhu Sariputta kepada perkumpulan dewa yang datang mengunjunginya.

Keesokan harinya di istana sang thera menguraikan Petavatthu, Vimanavatthu, dan Sacca Samyutta kepada Ratu Anula, adik ipar Raja Devanampiya Tissa, dan lima ratus wanita lainnya. Para wanita tersebut akhirnya mencapai tingkat kesucian Sotapanna.

Sang thera juga menguraikan Devaduta Sutta kepada para penduduk kota dan menyebabkan seribu orang di antara mereka mencapai tingkat Sotapanna. Setelah beberapa waktu Raja Devanampiya Tissa berniat membangun stupa untuk menyimpan relik Sang Buddha. Bhikkhu Mahinda mengirim Samanera Sumana kembali ke Pataliputta untuk meminta semangkuk penuh relik Sang Buddha dari Raja Asoka. Setelah mendapatkan relik dari Raja Asoka, sang samanera pergi menemui Sakka, raja para dewa, untuk meminta relik tulang selangka kanan dari cetiya Culamani di surga Tavatimsa dan sang dewa memberikannya. Relik-relik ini kemudian disemayamkan di sebuah stupa yang dikenal dengan nama Thuparama.

Kedatangan Bhikkhuni Sanghamitta dan Penanaman Pohon Bodhi di Anuradhapura Ratu Anula dan para wanita lainnya ingin ditahbiskan sebagai bhikkhuni, namun Bhikkhu Mahinda dan para bhikkhu lainnya tidak dapat menahbiskan mereka karena penahbisan bhikkhuni harus dilakukan oleh Sangha Bhikkhuni. Selain itu, Raja Devanampiya Tissa juga ingin menanam pohon Bodhi di ibukota Anuradhapura. Oleh sebab itu, Bhikkhu Mahinda meminta Raja Devanampiya Tissa mengirim pesan kepada Raja Asoka untuk mengundang Bhikkhuni Sanghamitta dan mendatangkan cabang dari pohon Bodhi.

Raja Devanampiya Tissa mengutus Arittha ke Pataliputta untuk melaksanakan tugas ini. Sesampainya di Pataliputta, Arittha dan rombongannya menemui Raja Asoka dan mengatakan tujuan kedatangan mereka. Raja Asoka sangat berat hati untuk melepaskan Bhikkhuni Sanghamitta, putrinya sendiri, apalagi setelah putranya, Bhikkhu Mahinda, dan cucunya, Samanera Sumana, telah meninggalkannya. Namun karena ini bertujuan untuk penyebaran Dhamma di Sri Lanka, Raja Asoka pun menyetujuinya.

Untuk masalah pohon Bodhi, atas saran menteri Mahadeva, raja bertanya kepada Sangha apakah cabang dari pohon Bodhi boleh dikirimkan ke Sri Lanka. Mewakili Sangha, Bhikkhu Tissa Moggaliputta menyetujui hal ini. Bersama dengan para pasukannya dan ditemani oleh perkumpulan bhikkhu,

Raja Asoka pergi menuju Bodhi Gaya dengan membawa sebuah vas untuk menaruh cabang pohon Bodhi. Setelah menghormati pohon Bodhi dengan berbagai persembahan, mengelilinginya tiga kali dengan berputar ke kiri dan bernamaskara, raja dengan sungguh-sungguh berseru, “Jika pohon Bodhi yang agung ini harus pergi menuju Lankadipa (pulau Sri Lanka) dan jika saya benar-benar kokoh tak tergoyahkan dalam ajaran Buddha, maka cabang selatan pohon Bodhi agung terpotong dengan sendirinya dan jatuh ke dalam vas emas ini.”

Secara ajaib, cabang selatan pohon Bodhi terpotong dengan sendirinya dan jatuh ke dalam vas emas yang telah disediakan. Kemudian berbagai keajaiban terjadi di sekitar pohon Bodhi. Raja sangat gembira dengan keajaiban-keajaiban ini sehingga mengadakan penghormatan besar-besaran terhadap cabang pohon Bodhi tersebut selama berminggu-minggu. Setelah itu cabang pohon Bodhi tersebut dipercayakan kepada Bhikkhuni Sanghamitta dan para bhikkhuni lainnya untuk kemudian bersama-sama dibawa Arittha ke Sri Lanka.

Kepada Arittha, Raja Asoka berpesan, “Tiga kali aku telah menghormati pohon Bodhi dengan menganugerahkan gelar raja kepadanya. Demikian juga sahabatku Tissa harus menghormatinya dengan menganugerahkan gelar raja kepada pohon Bodhi.” Lalu Arittha dan Bhikkhuni Sanghamitta menaiki kapal yang berlayar ke Sri Lanka. Tetes air mata Raja Asoka mengalir keluar ketika ia memandang cabang pohon Bodhi yang perlahan-lahan menghilang dari garis cakrawala bersama dengan putrinya tercinta. Bahkan ia terus meratap sedih setelah kembali ke istana.

Selama perjalanan menuju Sri Lanka, gelombang laut yang berjarak satu yojana di sekeliling kapal menjadi tenang, bunga-bunga teratai yang memiliki lima warna bermekaran di mana-mana dan berbagai alunan alat musik bersenandung di udara. Para dewa memberikan berbagai persembahan kepada pohon Bodhi, namun para naga berusaha merebut pohon Bodhi dari tangan Bhikkhuni Sanghamitta. Sang bhikkhuni dengan kekuatan batinnya berubah wujud menjadi burung garuda yang ditakuti para naga.

Kemudian para naga memohon agar pohon Bodhi dapat dibawa untuk dihormati di alam naga selama seminggu lalu dikembalikan kepada sang theri. Permohonan ini pun dikabulkan.

Memasuki kota dari gerbang utara, cabang pohon Bodhi dibawa melalui gerbang selatan ke tempat yang telah dipilih untuk penanamannya. Di hadapan Bhikkhu Mahinda, Bhikkhuni Sanghamitta, dan para bangsawan lainnya, Raja Devanampiya Tissa menanam pohon Bodhi pada petak yang telah ditentukan. Ratu Anula dan para wanita lainnya pun dapat ditahbiskan menjadi bhikkhuni di bawah Bhikkhuni Sanghamitta.

Demikianlah akhirnya Buddha Dhamma dapat berkembang di Sri Lanka lengkap dengan Sangha Bhikkhu dan Sangha Bhikkhuni-nya.

Mengunjungi Tempat-Tempat Suci Agama Buddha

Pada tahun keduapuluh masa pemerintahannya Raja Asoka mengunjungi tempat kelahiran Pangeran Siddharttha di Lumbini dan membangun pagar serta pilar batu untuk menandai kunjungannya ke tempat tersebut. Raja membebaskan rakyat Lumbini dari pajak dan hanya membayar seperdelapan hasil buminya kepada pemerintah.

Selain itu, raja juga mengunjungi tempat Sang Buddha pertama kali mengajarkan Dhamma di Taman Rusa Isipatana dekat Benares dan tempat Sang Buddha wafat di Kusinara. Kota Savatthi dan Vesali yang sering disinggahi Sang Buddha juga menjadi tujuan kunjungan Raja Asoka. Di setiap tempat ini ia mendirikan pilar batu dan mendanakan seratus ribu potong emas untuk pemugaran vihara dan stupa yang ada.

Tak hanya itu saja, Raja Asoka juga mendanakan sejumlah emas yang sama untuk pemugaran stupa para siswa Sang Buddha seperti Sariputta, Moggallana, Mahakassapa, dan Ananda. Namun untuk stupa Bakkula ia hanya memberikan dana yang sangat sedikit. Para menteri kebingungan atas sikap sang raja dan meminta penjelasan; raja pun menjelaskan, “Walaupun Yang Mulia Bakkula telah melenyapkan kegelapan batin dengan pelita kebijaksanaan, Beliau tidak pernah mengajarkan dua kata kepada orang-orang seperti yang dilakukan para siswa lain untuk kebaikan umat manusia, ”terutama wanita; inilah sifat yang tidak disetujui Raja Asoka yang berpandangan bahwa Dhamma harus diajarkan kepada semua orang tanpa kecuali.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: