Riwayat Hidup Raja Asoka (8)

BAB 6 MASA-MASA AKHIR PEMERINTAHAN RAJA ASOKA

Karma Baik Ratu Asandhimitta Berbuah

Ratu Asandhimitta merupakan salah satu permaisuri Raja Asoka yang diangkat sebagai permaisuri utama. Suatu hari raja melihat sang ratu sedang menikmati makanan surgawi, yang dibawakan oleh para dewa karena karma baik raja, dan dengan bercanda raja mengejek ratu karena memakan sesuatu yang bukan berasal dari karma-nya sendiri.

Ejekan ini menyinggung perasaan ratu; ia merasa bahwa raja berpikir ia tidak memiliki jasa kebajikan. Ia balas menjawab bahwa semua yang ia nikmati berasal dari jasa kebajikannya sendiri.

Kemudian raja yang meragukan pernyataan ratu tersebut meminta ratu mendapatkan enam puluh ribu jubah untuk didanakan kepada Sangha keesokan harinya. Ratu tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan jubah sebanyak itu. Namun pada tengah malam para dewa datang kepadanya dan mengatakan agar ratu tidak perlu cemas, karena pada kehidupan lampau ia telah memberikan jubah kepada seorang Pacceka Buddha dan hasil jasa kebajikan ini sangat besar. Keesokan harinya ratu secara ajaib dapat menyediakan enam puluh ribu jubah saat dibutuhkan.

Raja Asoka sangat terkesan dengan kejadian ini dan menjadikan Ratu Asandhimitta sebagai permaisuri kesayangannya bahkan memberikan kekuasaan raja kepadanya. Ia menolak hak istimewa ini karena ini dapat menimbulkan kecemburuan dari para istri raja lainnya yang berjumlah enam belas ribu orang.

Untuk menghilangkan kecemburuan dari para wanita lain di harem, raja mengadakan pengujian jasa kebajikan yang kedua kalinya untuk Ratu Asandhimitta. Ia menyediakan enam belas ribu kue yang sama persis di mana salah satu berisi tanda kerajaan miliknya dan meminta semua istrinya termasuk Ratu Asandhimitta untuk memilih salah satu dari kue-kue tersebut lalu memecahnya menjadi dua bagian. Semua permaisuri raja melakukannya dan Ratu Asandhimitta mendapatkan kue terakhir yang tersisa. Namun ternyata kue tersebut berisi tanda kerajaan. Raja Asoka kemudian menyatakan kepada para istrinya tentang jasa kebajikan Ratu Asandhimitta yang besar dan menegur secara halus para permaisuri lainnya karena kecemburuan mereka.

Raja pun memberikan sang ratu kekuasaan sebagai raja selama tujuh hari, tetapi ratu menolaknya dan tetap mematuhi dan melayani suaminya sebagai istri yang baik. Selain itu, ratu juga sering mendengarkan Dhamma dan menjalankan sila.

Ratu Tissarakkha Berusaha Menghancurkan Pohon Bodhi

Pada tahun keduapuluh sembilan masa pemerintahan Raja Asoka, Ratu Asandhimitta meninggal dunia dan empat tahun kemudian Ratu Tissarakkha diangkat sebagai permaisuri utama. Pada masa-masa ini Raja Asoka semakin taat melakukan penghormatan kepada pohon Bodhi hingga ia memerintahkan agar permata-permata yang terbaik dikirimkan untuk persembahan kepada pohon Bodhi.

Namun Ratu Tissarakkha menyangka pohon Bodhi adalah wanita lain yang disukai oleh raja. Ia berpikir, “Walaupun aku adalah permaisuri utama di istana dan raja memuaskan kesenangannya bersama diriku, tetapi ia mengirimkan semua permata yang terbaik kepada wanita lain yang bernama Bodhi.” Oleh sebab itu ia memanggil wanita Matanga yang terkenal sebagai ahli sihir untuk menghancurkan “Bodhi”, saingannya tersebut. Setelah diberikan sejumlah uang, wanita Matanga tersebut mengucapkan mantra-mantra lalu mengikatkan seutas benang pada pohon Bodhi; perlahan-lahan pohon Bodhi pun menjadi layu.

Kabar bahwa pohon Bodhi layu dan mengering menyebabkan Raja Asoka jatuh pingsan. Setelah sadar, raja dengan terisak-isak berkata, “Ketika aku melihat raja pepohonan tersebut, aku tahu aku sedang melihat Sang Buddha itu sendiri. Jika itu pohon Sang Guru itu mati, aku juga pasti berakhir!”

Ketika melihat raja diliputi kesedihan, Ratu Tissarakkha berkata, “Yang Mulia, bahkan jika Bodhi benar-benar meninggal, bukankah masih ada aku yang dapat memberikan kesenangan kepada Baginda?”

“Wanita bodoh! Bodhi bukan wanita, melainkan pohon di mana Yang Dirahmati mencapai Penerangan Sempurna yang tiada bandingnya.”

Akhirnya Ratu Tissarakkha menyadari kesalahannya. Ia memanggil kembali sang wanita Matanga dan menanyakan apakah mungkin untuk mengembalikan kondisi pohon Bodhi seperti semula. “Jika masih terdapat beberapa tanda kehidupan yang tersisa, aku dapat menghidupkannya kembali,” jawab wanita penyihir tersebut.

Kemudian wanita Matanga itu melepaskan ikatan benang di sekeliling pohon Bodhi, menggali tanah di sekelilingnya, dan menyiraminya dengan seribu kendi susu setiap hari; setelah beberapa lama pohon Bodhi tumbuh seperti semula. Kabar ini membuat raja kembali bergembira.

Pangeran Kunala Menjadi Buta

Pada hari Raja Asoka membangun delapan puluh empat ribu stupa, salah satu permaisurinya yang bernama Padmavati melahirkan seorang putra yang matanya sangat indah. Anak tersebut kemudian diberi nama Kunala yang diambil dari nama burung Himalaya yang memiliki mata yang indah. Setelah dewasa Pangeran Kunala menikahi Putri Kancanamala. Saat berkunjung ke vihara, pangeran bertemu dengan Bhikkhu Yasa yang mengetahui masa depan sang pangeran dan menyarankan: “Terus-meneruslah mengawasi mata anda, karena ia selalu berubah dan membuatmu melekat pada banyak penderitaan.”

Kemudian Pangeran Kunala mulai membiasakan diri duduk di tengah kesunyian dan bermeditasi pada objek mata. Suatu hari Ratu Tissarakkha, yang menemukan sang pangeran sedang sendirian, mendekatinya dan merayunya: “Ketampananmu, tubuhmu yang bagus, dan matamu yang indah membakar diriku seperti bara api yang membakar kayu.”

Pangeran ketakutan dan memohon kepada ibu tirinya agar menjauhi jalan yang tidak benar. Ratu yang marah karena ditolak menyusun rencana untuk menghancurkan sang pangeran.

Kemudian terjadilah pemberontakan di kota Takkasila dan Raja Asoka mengirim Pangeran Kunala ke sana dengan mengingat bagaimana ayahnya mengirimnya ke sana di masa lalu. Para penduduk Takkasila menyambut pangeran dan mengatakan bahwa mereka terpaksa memberontak untuk melawan para menteri yang jahat. Di Pataliputta raja jatuh sakit dan menginginkan pangeran kembali untuk dinobatkan sebagai raja baru karena ia merasa tidak ada harapan untuk sembuh. Mendengar hal ini, Ratu Tissarakkha takut akan dihukum mati oleh Pangeran Kunala jika sudah menjadi raja.

Oleh sebab itu, ratu meyakinkan raja bahwa ia dapat menyembuhkan raja asalkan raja melarang semua tabib merawat dirinya. Lalu ratu memerintahkan para tabib untuk membawakan siapa pun yang mereka temukan menderita gejala sakit yang sama seperti penyakit raja. Beberapa hari kemudian seorang tabib membawa seorang yang menderita penyakit yang sama kepada ratu. Secara diam-diam ratu membunuh orang itu dan memeriksa perutnya di mana ia menemukan seekor cacing besar. Ia mengadakan percobaan dengan berbagai obat dan menemukan bahwa bawang dapat membunuh cacing tersebut. Lalu ratu memberitahukan kepada raja untuk memakan bawang dan raja pun dapat disembuhkan. Dalam kegembiraan raja memberikan janji untuk mengabulkan semua keinginan ratu.

Maka Ratu Tissarakkha meminta kekuasaan raja selama tujuh hari; Raja Asoka khawatir, namun ratu berjanji akan mengembalikan kekuasaan tersebut setelah itu. Setelah menjadi penguasa kerajaan, ratu pertama kali berpikir untuk membalas dendam pada Pangeran Kunala. Atas nama raja, ia menulis sepucuk surat kepada penduduk Takkasila yang berisi perintah untuk mencungkil mata sang pangeran, karena ratu membenci mata indah tersebut yang telah membuatnya tergila-gila pada pangeran.

Kapan pun Raja Asoka ingin membuat titah yang dibacakan kepada khalayak umum, ia biasanya mencapnya dengan giginya. Saat raja tidur, ratu berusaha mendapatkan cap kerajaan dari gigi raja tersebut. Pada saat ratu hampir membuat raja menggigit surat perintah itu, tiba-tiba raja terbangun dan berseru, “O Ratu, aku baru saja melihat dua ekor burung bangkai yang berusaha mematuk mata Pangeran Kunala!”

“Semoga sang pangeran baik-baik saja,” kata ratu dan raja pun kembali tidur.

Untuk kedua kalinya raja terbangun dengan keringat dingin dan berkata, “Aku melihat Pangeran Kunala memasuki kota dengan janggut, rambut yang panjang, dan kuku yang panjang.”

“Semoga sang pangeran baik-baik saja,” kata ratu lagi dan raja pun kembali tertidur. Kali ini ratu berhasil mendapatkan cetakan gigi raja pada surat perintah tersebut dan mengirimkannya ke Takkasila.

Orang-orang Takkasila tidak mau mematuhi perintah raja tersebut; mereka meratap: “Siapa yang tidak akan ia benci jika ia membenci pangeran yang tenang, seorang yang bijaksana yang menginginkan kesejahteraan semua orang?” Namun Pangeran Kunala dengan tenang meminta mereka untuk menjalankan perintah tersebut.

Orang-orang candala dipanggil untuk mencungkil mata pangeran, tetapi mereka menolak untuk menghancurkan wajah pangeran yang bagaikan rembulan itu. Ketika diberikan mahkota pangeran, mereka tetap menolak untuk melakukan kejahatan tersebut. Akhirnya ada satu orang yang mau melakukannya.

Pangeran teringat akan kata-kata Bhikkhu Yasa tentang ketidakkekalan penglihatan dan berkata kepada orang tersebut, “Lakukanlah seperti yang diperintahkan Baginda Raja, karena apakah mataku dicungkil atau tidak aku telah memahami esensi dari penglihatan yang tidak kekal, penuh penderitaan, dan kosong.”

Pangeran kemudian meminta orang itu untuk mencungkil terlebih dahulu sebuah mata dan menaruhnya di tangannya. Ini dilakukan di tengah-tengah ratap tangis para penduduk, namun pangeran berkata, “Mengapa kalian tidak melihat seperti sebelumnya, O gumpalan daging yang didandani? Hanya orang bodoh yang melekat pada tubuh ini yang berpikir, Inilah diriku!. Kalian hanyalah sebuah gelembung dan orang bijaksana tidak mengejar penderitaan yang kalian timbulkan.”

Lalu pangeran meminta mata yang lain dicungkil keluar. Dengan hilangnya kedua matanya, mata kebijaksanaan timbul dalam dirinya dan ia berkata, “Walaupun ditolak oleh raja yang putranya adalah aku sendiri, aku telah menjadi putra dari Raja Dhamma. Jatuh dari kekuasaan, melompati penderitaan, aku telah mendapatkan kekuasaan kerajaan Dhamma yang mengakhiri semua penderitaan.”

Ketika mengetahui bahwa ini terjadi atas perintah Ratu Tissarakkha, Pangeran Kunala memberkati ibu tirinya tersebut dan mengharapkan semoga sang ratu panjang umur karena ratu telah mengakibatkan pencapaian kesucian batinnya. Saat istrinya menangisi bahwa mata yang memberikannya kebahagiaan telah hilang, pangeran mengatakan pada istrinya untuk tidak menangis karena perpisahan dari orang-orang yang dicintai dan penderitaan adalah keadaan dunia ini dan kehidupan manusia dibangun dari penderitaan.

Kemudian pasangan suami istri tersebut berjalan kaki menuju Pataliputta. Pangeran sangat lemah dan tidak cakap untuk bekerja keras. Ia mencari nafkah dengan memainkan alat musik vina dan bernyanyi. Mereka kembali ke ibukota, tetapi para pengawal mengusir pangeran yang berpenampilan seperti pengemis buta yang berpakaian compang-camping ketika mendekati gerbang istana. Keduanya pun tinggal di bangsal kereta dan pada malam harinya pangeran memainkan vina menyanyikan bagaimana matanya dicungkil keluar dan dengan demikian ia memiliki penglihatan atas kebenaran.

Mengenali suara nyanyian tersebut sebagai suara putranya, Raja Asoka memerintahkan para pengawal mencari Pangeran Kunala. Mereka kembali tanpa pangeran dengan mengatakan bahwa itu bukan pangeran melainkan seorang pengemis buta yang sedang bernyanyi. Teringat akan mimpinya, raja yakin bahwa itu anaknya dan memerintahkan agar sang pengemis dibawa ke hadapannya. Mulanya raja tidak dapat mengenali pangeran dalam penampilannya yang menyedihkan; pangeran harus meyakinkan raja bahwa ia benar-benar anaknya hingga akhirnya raja benar-benar yakin.

Dengan marah bercampur sedih, raja menanyakan siapa yang melakukan perbuatan yang kejam tersebut. Namun pangeran menasehati ayahnya agar tidak berduka atas apa yang telah terjadi dan menambahkan, “Buah perbuatan yang dilakukan di dunia ini adalah berasal dari diri sendiri. Bagaimana mungkin aku berkata ini dilakukan oleh orang lain?”

Tetapi raja terus mendesak dan akhirnya mengetahui bahwa ini adalah hasil perbuatan Ratu Tissarakkha. Raja bermaksud untuk menghukum ratu dengan mencungkil matanya dan memberikan siksaan lainnya, namun pangeran berkata, “Jika perbuatan ratu tidak terpuji, janganlah kita menjadi seperti itu juga. Mohon Yang Mulia tidak menghukum mati ratu karena balasan atas cinta kasih tiada bandingnya dan perbuatan memaafkan dimuliakan oleh Sang Buddha. O Baginda Raja, aku tidak merasakan sakit karena tidak ada apa-apa dalam pikiranku. Aku hanya memiliki pikiran yang berbelas kasih terhadap ratu dan jika ini benar, semoga mataku kembali pulih seperti semula!”

Seraya berkata demikian, kedua mata pangeran kembali seperti semula. Terkesan atas keajaiban ini, raja memaafkan perbuatan ratu dengan penuh cinta kasih dan belas kasih.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

Ariyakumara

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: