Riwayat Hidup Raja Asoka

Kegiatan Sehari-Hari Raja Asoka

Perdana Menteri Canakka menggambarkan kebiasaan sehari-hari Raja Candagutta, kakek Raja Asoka, sebagai berikut: Raja bangun pada jam 3 pagi dan sampai jam 3.30 memeriksa berbagai hal yang berkaitan dengan kerajaan dan mengambil keputusan. Ia lalu menerima pemberkahan dari para guru dan pertapa serta menemui para tabib dan pejabat dapurnya. Ia kemudian menuju aula istana dan membahas pendapatan dan pengeluaran kerajaan di hari sebelumnya dari jam 6 sampai dengan jam 7 pagi. Dari jam 7.30 ia mengadakan tanya jawab dengan orang-orang yang datang untuk menemuinya karena hal yang mendesak dan mempertimbangkan pengabdian mereka. Ia mengundurkan diri untuk mandi pada jam 9 pagi. Setelah mandi, beribadah, dan makan pagi, ia menemui pejabat kerajaan pada jam 10.30 dan mengeluarkan perintah tentang berbagai masalah. Sepanjang siang hari ia mengadakan pertemuan dengan dewan menteri dan membahas berbagai masalah kenegaraan. Setelah beristirahat antara jam 1.30 sampai dengan jam 3 siang, ia memeriksa berbagai divisi armada perangnya. Setelah itu ia menerima laporan dari para utusan dan mata-mata yang datang dari berbagai daerah di kerajaan Magadha dan dari kerajan lain.

Raja Asoka, seperti juga ayahnya, mengikuti kebiasaan yang dilakukan kakeknya ini. Selain itu, Raja Asoka meyakini bahwa kemakmuran rakyatnya juga merupakan kemakmurannya sehingga ia menunjuk pejabat untuk melaporkan padanya kesejahteraan dan penderitaan rakyatnya. Mereka dapat memberikan laporan tersebut kapan pun tak peduli apakah raja sedang makan, bersenang-senang dengan para permaisuri, tidur, atau pun melakukan urusan lainnya dan di mana pun ia berada. Setiap saat raja berusaha memikirkan dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Tiga Puluh Tujuh Tahun Memerintah Magadha

Tahun Keempat

Raja Asoka mengenal ajaran Buddha karena pertemuannya dengan Samanera Nigrodha yang tak lain adalah keponakannya sendiri yang tidak ia ketahui. Pada tahun ini juga adik raja, Pangeran Tissa, meninggalkan keduniawian dan menjadi bhikkhu bersama dengan Aggibrahma, suami Putri Sanghamitta.

Tahun Kelima

Raja membangun delapan puluh empat ribu vihara setelah mendengar terdapat delapan puluh empat ribu bagian dalam ajaran Buddha dari Bhikkhu Tissa Moggaliputta.

Tahun Keenam

Pangeran Mahinda menjadi bhikkhu dan Putri Sanghamitta menjadi bhikkhuni.

Tahun Kedelapan

Perang Kalinga terjadi pada tahun ini dan menjadi perang terakhir Raja Asoka yang kemudian mengubah kebijakan pemerintahannya untuk penyebaran Dhamma.

Tahun Kesepuluh

Raja mengunjungi Sambodhi, tempat Sang Buddha mencapai Penerangan Sempurna dan mulai mengajarkan Dhamma kepada orang-orang.

Tahun Keduabelas

Pada tahun ini raja mulai memahatkan maklumatnya yang berisi pesan-pesan Dhamma pada batu dan tugu batu; para pejabat yukta, rajjuka, dan pradesika diperintahkan untuk berkeliling setiap lima tahun untuk pengajaran Dhamma dan urusan pemerintahan lainnya. Raja juga mendanakan gua Banyan dan gua Khalatika kepada para pertapa Ajivaka.

Tahun Ketigabelas

Pejabat Dhamma (Dhamma mahamatra) dibentuk pada tahun ini.

Tahun Kempatbelas

Sebuah stupa yang didirikan di tempat kelahiran Buddha Konagamana (Kanakamuni) dipugar dan diperluas menjadi dua kali ukuran semula atas perintah Raja Asoka.

Tahun Ketujuhbelas

Raja melibatkan diri dalam membersihkan Sangha dari para pengikut ajaran lain atas bantuan Bhikkhu Tissa Moggaliputta; Konsili Buddhis III yang dihadiri seribu orang bhikkhu dan dipimpin oleh Bhikkhu Tissa Moggaliputta terjadi pada tahun ini.

Tahun Kedelapanbelas

Bhikkhu Tissa Moggaliputta mengirimkan sejumlah bhikkhu sebagai Dhammaduta ke berbagai wilayah di sekitar kerajaan Magadha. Raja Devanampiya Tissa dinobatkan menjadi raja Sri Lanka menggantikan ayahnya dan mengirimkan utusan ke Pataliputta; Bhikkhu Mahinda menyebarkan Buddha Dhamma ke Sri Lanka tujuh bulan setelah Konsili Buddhis III diadakan.

Tahun Kesembilanbelas

Bhikkhuni Sanghamitta pergi ke Sri Lanka untuk mendirikan Sangha Bhikkhuni dengan membawa serta cabang pohon Bodhi untuk ditanam di Anuradhapura.

Tahun Keduapuluh

Raja mengunjungi Lumbini, tempat kelahiran Buddha Sakyamuni, dan membangun pilar batu untuk menandai kedatangannya. Kunjungan ke stupa Buddha Kanakamuni juga terjadi pada tahun yang sama.

Tahun Keduapuluh Enam

Bhikkhu Tissa Moggaliputta wafat pada tahun ini. Raja Asoka memerintahkan para pejabat rajjuka untuk bekerja demi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyatnya dengan menegakkan hukum seadil-adilnya; para tahanan yang akan dihukum mati diberikan penundaan hukuman selama tiga hari untuk bertemu dengan keluarganya dan melakukan kebajikan demi kelahiran yang akan datang.

Selain itu, pada tahun yang sama raja mengeluarkan perintah untuk melindungi berbagai hewan dan tidak menyakiti hewan-hewan tertentu seperti ikan, kerbau, biri-biri, babi, kuda, dan lain sebagainya pada hari tertentu.

Tahun Keduapuluh Tujuh

Penulisan prasasti Raja Asoka terakhir yang dapat diketahui angka tahunnya terjadi pada tahun ini.

Tahun Keduapuluh Sembilan

Ratu Asandhimitta meninggal dunia.

Tahun Ketigapuluh Dua

Ratu Tissarakkha diangkat menjadi permaisuri utama.

Tahun Ketigapuluh Empat

Ratu Tissarakkha menyebabkan kematian pohon Bodhi yang kemudian dapat kembali diselamatkan.

Tahun Ketigapuluh Tujuh

Setelah mengalami masa tua yang menyedihkan, Raja Asoka meninggal dunia pada usia tujuh puluh dua tahun.

Hari-Hari Terakhir Raja Asoka

Suatu hari Raja Asoka menanyakan kepada para bhikkhu tentang siapakah pendana terbesar yang pernah ada dalam ajaran Buddha. Para bhikkhu menjawab bahwa Anathapindika yang telah berdana sebanyak seribu juta keping emas kepada Sangha adalah pendana terbesar yang pernah ada. Raja sendiri telah menghabiskan sembilan ratus enam puluh juta keping emas untuk pembangunan vihara di seluruh Jambudipa dan berharap dapat berdana lebih banyak lagi agar dapat melebihi kedermawanan Anathapindika.

Namun pada masa-masa tuanya kekayaan kerajaan mulai berkurang dan takut tidak dapat memenuhi tujuannya, raja mengirim sedikit demi sedikit keping emas untuk didanakan kepada Sangha.

Waktu itu Pangeran Sampadi (Samprati), putra Pangeran Kunala, telah dijadikan putra mahkota. Penasehat sang pangeran memberitahukan padanya bahwa raja tengah menghambur-hamburkan kekayaan kerajaan dan hal ini harus dicegah. Pangeran lalu memerintahkan bendaharawan kerajaan untuk tidak mengeluarkan dana lagi. Raja pun mulai mendanakan piring emas yang ia gunakan ke vihara. Mengetahui hal ini, pangeran juga mengeluarkan larangan untuk mendanakan piring emas. Raja hanya dilayani dengan piring perak dan ia memberikan piring perak ini sebagai dana ke vihara yang kemudian juga dilarang oleh cucunya. Walaupun piring perak kemudian diganti dengan piring tembaga dan piring tembaga diganti dengan piring tanah liat, raja tetap mendanakannya kepada Sangha.

Akhirnya Raja Asoka tidak memiliki apa pun untuk diberikan kepada Sangha; apa yang tersisa hanyalah separuh buah myrobalan (amlaka). Dengan memegang buah tersebut di tangannya, raja memanggil semua menterinya dan bertanya kepada mereka,

“Siapakah penguasa dunia ini sekarang?”

Semua menteri bersujud kepada raja dan mengatakan bahwa penguasa tersebut tak lain adalah raja sendiri. Tetapi raja dengan berlinang air mata berkata, “Kalian berbohong untuk menghibur aku. Satu-satunya benda yang tersisa dalam kekuasaanku adalah separuh buah amlaka ini. Menyedihkan! O menyedihkan seorang raja yang bagaikan air luapan di mulut sungai! Perintahku dipandang rendah bagaikan sungai yang dibelokkan oleh sebuah karang terjal. Seperti pohon asoka dengan bunga-bunga yang telah dipetik, daun-daunnya telah layu dan berguguran, aku sang raja meredup.”

Kemudian raja memanggil seseorang yang lewat dan berkata, “Sobatku, walaupun telah jatuh dari kekuasaan, lakukanlah tugas terakhir ini untukku, dengan memandang kebajikanku masa lalu. Bawalah separuh buah amlaka ini dan berikan ke vihara atas namaku dengan mengatakan: Saya memberikan kebesaran saat ini dari seorang raja yang menguasai seluruh Jambudipa dan mintalah agar buah ini dibagikan sedemikian rupa sehingga dapat dinikmati oleh seluruh perkumpulan bhikkhu.”

Orang tersebut dengan patuh melakukan apa yang diminta dan memberikan separuh buah amlaka itu ke vihara dengan berkata, “Ia yang sebelumnya menguasai dunia, bersinar bagaikan matahari di tengah hari, sekarang diperdaya oleh karmanya sendiri dan menemukan bahwa kejayaannya telah menghilang bagaikan terbenamnya matahari di waktu senja.”

Kepala vihara kemudian berkata kepada para bhikkhu: “Raja para manusia telah berubah dari raja atas Jambudipa menjadi raja atas separuh buah amlaka, yang ia persembahkan sebagai teguran kepada mereka yang menginginkan untuk menikmati kemuliaan seorang raja. Hari ini kita dapat menunjukkan perasaan menghargai karena kemalangan orang lain adalah kesempatan untuk berbuat kebajikan.” Lalu ia menyuruh buah amlaka itu dilumatkan, dimasukkan ke dalam sup, dan dibagikan kepada para anggota Sangha.

Di istana Raja Asoka bertanya kepada perdana menterinya, “Katakan padaku, Radhagupta, siapakah sekarang penguasa dunia ini?”

Menjatuhkan diri pada kaki raja, Radhagupta menjawab, “Yang Mulia adalah penguasa dunia ini.”

Kemudian raja berusaha untuk berdiri dengan kedua kakinya, memandang ke keempat arah mata angin, dan menyatakan: “Dengan pengecualian kekayaan kerajaan, aku mendanakan kepada Sangha bumi ini bersama gunung Mandara dan pakaiannya yang biru tua (lautan) dan mukanya yang dihiasi dengan banyak permata. Dengan dana ini, aku tidak mencari kelahiran kembali di surga atau bahkan yang lebih rendah di bumi sebagai raja. Karena aku memberikannya dengan keyakinan, aku akan mendapatkan buahnya, sesuatu yang tidak dapat dicuri, yang dihargai oleh para Ariya (orang mulia) dan aman dari semua perubahan, yaitu penguasaan atas pikiran.”

Setelah menuliskan wasiat ini dan mencapnya dengan giginya, Raja Asoka meninggal dunia. Ketika para menteri melakukan persiapan untuk menobatkan Pangeran Sampadi sebagai raja, Radhagupta mengingatkan bahwa Raja Asoka telah mendanakan seluruh kerajaan kepada Sangha. Saat para menteri merasa tidak memiliki apa-apa lagi, Radhagupta mengatakan bahwa telah menjadi keinginan Raja Asoka untuk berdana seribu juta keping emas kepada Sangha dan saat wafat sembilan ratus enam puluh juta telah diberikan. Untuk memenuhi tujuannya, ia mendanakan kerajaannya. Oleh sebab itu, para menteri memberikan empat puluh juta keping emas kepada Sangha dan mendapatkan kembali kerajaan untuk menobatkan raja baru.

Akhir Dinasti Moriya

Setelah kematian Raja Asoka, kerajaan Magadha mulai terpecah-pecah karena sebab yang tidak jelas. Perebutan kekuasaan terjadi antara kedua cucu Raja Asoka, Pangeran Sampradi dan Pangeran Dasaratha, yang kemudian membagi kerajaan menjadi dua. Wilayah kerajaan berkurang hingga hanya tersisa di lembah sungai Gangga dan akhirnya sekitar lima puluh tahun kemudian raja terakhir dinasti Moriya bernama Brhadrata dibunuh oleh panglima perangnya sendiri, Pusyamitra Sunga, yang kemudian mendirikan dinasti Sunga.

–berlanjut–

Sumber:

Riwayat Hidup Raja Asoka

Ariyakumara

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: