Mora Sutta: Khotbah Tentang Doa Pujian Merak Emas

Alkisah Buddha pernah terlahir sebagai seekor burung merak berwarna emas yang berdiam di bukit emas Dandaka di pegunungan Himalaya. Ketika hari menjelang pagi, si burung merak emas biasanya duduk di atas bukit menyaksikan matahari terbit, membacakan doa agar melindunginya selama mencari makan. Kemudian si merak akan melantunkan pujian kepada para Buddha di masa lampau dan segala kebajikan Mereka. Dengan meyakini bahwa doa pujian tersebut akan melindunginya sepanjang hari, si merak pun pergi mencari makan.

Demikian pula ketika senja telah tiba, si merak akan kembali ke puncak bukit tempat dimana dia biasanya melihat matahari terbenam, dan dia bermeditasi untuk memanjatkan doa pujian agar senantiasa melindunginya dari bahaya selama malam hari. Dia kemudian pergi tidur.

Dikisahkan terdapat seorang pemburu yang melihat si merak dan menceritakan keunikan si merak kepada putranya. Pada saat itu Ratu Khema dari Benares bermimpi aneh yang meminta raja untuk membawakan burung merak emas kepadanya. Dia ingin mendengar khotbah dari si burung merak tersebut. Raja kemudian memerintahkan para pemburu untuk mencari burung merak emas. Tetapi berkat kekuatan doa dan berkahnya, perangkap yang dipasang tidak pernah berhasil menangkap si merak. Setelah tujuh tahun satu per satu para pemburu meninggal dunia mengikuti jejak sang ratu yang meninggal terlebih dahulu.

Raja menjadi marah kepada si merak dan meninggalkan sebuah inskripsi yang menyatakan bahwa barang siapa yang memakan daging si merak emas akan selalu muda dan hidup kekal abadi. Oleh karena itulah enam raja penerus kerajaan memiliki niatan untuk menangkap si burung merak walaupun selalu berakhir dengan sia-sia.

Raja penerus ketujuh mengirim seorang pemburu yang seekor burung merak betina yang pandai bernyanyi. Pagi hari si pemburu membuat perangkap dengan si merak betina bernyanyi sangat memukau sebelum si merak emas pergi ke puncak bukit untuk berdoa seperti biasanya. Si merak emas jantan terpukau dan pergi mendekati si merak betina, dan akhirnya terperangkap dalam perangkap yang telah dibuat. Si pemburu yang senang mengikat si merak emas dan segera membawanya ke istana untuk dipersembahkan kepada raja.

Raja sangat senang melihat keindahan warna emas si merak dan menempatkan si merak di atas singgasana kerajaan untuk sekedar berdiskusi dengannya.

Si merak emas menceritakan kisah kehidupannya di masa lampau sebagai seorang raja bijaksana di kerajaan yang sama dan juga menjelaskan kekuatan dari doa pujiannya kepada raja. Akhirnya raja bersedia melepaskan merak emas kembali ke habitatnya di puncak bukit Dandaka. Cerita berakhir dengan bahagia.

******

Sumber:

http://web.ukonline.co.uk/myburma/p1mora.htm

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: