Riwayat Hidup Buddha Gotama: Pernikahan Sang Pangeran

— Welas Asih Sang Pangeran —

Sifat welas asih Pangeran Siddhattha tercermin dalam kehidupan sehari-hari-Nya seperti menghentikan dan menasihati seorang pelayan-Nya yang sedang memukuli seekor ular dengan tongkat.

Pada kesempatan lainnya, ketika pangeran sedang beristirahat di bawah pohon dalam waktu bermainnya bersama sahabat-sahabat-Nya dan juga sepupunya, Pangeran Devadatta, Ia tiba-tiba melihat seekor angsa jatuh dari angkasa. Ia tahu bahwa Pangeran Devadatta telah memanah angsa tersebut. Dengan segera Pangeran Siddhattha menolong si angsa. Pangeran Devadatta juga mengejar angsa itu, namun Pangeran Siddhattha berhasil terlebih dulu mengambil angsa itu dan dengan lembut Ia menarik anak panah yang menusuk angsa tersebut serta memberikan obat pada lukanya.

Pangeran Devadatta yang baru saja tiba menuntut agar unggas itu diserahkan kepadanya, namun Pangeran Siddhattha menolaknya. Akhirnya terjadilah perselisihan dan saling debat. Pangeran Devadatta bersikukuh bahwa angsa itu adalah miliknya karena ia yang memanahnya. Sedangkan Pangeran Siddhattha mengatakan bahwa Ia yang berhak atas angsa itu karena Ia telah menyelamatkan hidupnya, sedangkan si pemanah tidak berhak akan angsa yang masih hidup tersebut. Akhirnya Pangeran Siddhattha mengusulkan agar permasalahan ini dibawa ke makamah para bijak untuk memperoleh jawaban atas siapa yang berhak atas angsa tersebut.

Setelah diajukan ke makamah para bijak, akhirnya salah satu dari para bijak tersebut berseru, ā€œSemua makhluk patut menjadi milik mereka yang menyelamatkan atau menjaga hidup. Kehidupan tak pantas dimiliki oleh orang yang berusaha menghancurkannya. Angsa yang terluka ini masih hidup dan diselamatkan oleh Pangeran Siddhattha. Karenanya, angsa ini mesti dimiliki oleh penyelamatnya, yaitu Pangeran Siddhattha!ā€

— Pernikahan —

Pada usia enam belas tahun, pangeran dibuatkan tiga buah istana oleh ayahnya.Satu istana untuk musim panas (Suramma), satu untuk musim hujan (Subha), dan satu lagi untuk musim dingin (Ramma). Ketiganya besar dan indah, lengkap dengan taman penuh bunga serta tetumbuhan lain yang lindung. Semuanya dibuat serba nyaman, penuh wangi-wangian. Kehidupan dibuat supaya senang, banyak berpesta.

Kemudian raja memberi undangan kepada para orang tua yang mempunyai anak-anak gadis. Mereka diminta mengirim anak-anak gadis tersebut ke istana, untuk berpesta, supaya sang pangeran dapat memilih seorang sebagai calon istri. Namun para orang tua mengabaikan undangan tersebut. Mereka berkata, sang pangeran tidak tahu ilmu perang, tidak mengerti nilai kesenian, bagaimana dia akan memelihara serta melindungi istrinya?

Mendengar hal itu, pangeran mohon kepada ayahnya supaya diselenggarakan sayembara mengenai keterampilan berbagai ilmu perang. Para lelaki seisi kerajaan, bahkan dari luar negara Sakya pun dibiarkan datang untuk mengikuti perlombaan. Pangeran sendiri juga akan turun ke arena pertandingan itu. Hasilnya sangat mengejutkan, karena sang pangeran yang menjadi juara. Dia amat mahir, lebih-lebih di bidang panah memanah. Sesudah perlombaan selesai, diadakan pesta besar di mana hadir kurang lebih empat puluh ribu gadis cantik. Pilihan Pangeran Siddhartha jatuh pada sepupunya sendiri, saudara sekandung Devadatta ialah Yasodhara, putri Ratu Amita, adik Raja Suddhodhana.

Setelah pernikahan itu, Raja Suddhodhana agak merasa tenang, karena ayahanda pangeran itu tetap mengingati ramalan para brahmana. Sang pangeran harus selalu dikerumuni oleh semua keindahan, kemewahan, keenakan makanan, dan kenyamanan. Raja lebih senang anaknya menjadi rajanya semua raja daripada menjadi Buddha. Dengan pernikahan, pangeran akan lebih terikat oleh keduniawian. Dan jangan sampai dia melihat orang tua; orang sakit, orang mati maupun seorang pertapa. Pengawal, dayang, dan pekerja istana lain merupakan para pemuda dan pemudi pilihan: gagah, tampan dan cantik-cantik Raja merasa puas, berharap putranya akan menggantikan dia memerintah di Kerajaan Sakya.

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: