VĀTAMIGA-JĀTAKA (Jataka 14)

Picture source: http://www.jathakakatha.org/english/index.php?option=com_content&view=article&id=118:18-vatamiga-jataka&catid=42:1-50&Itemid=89

Vatamiga Jataka ini berkisah tentang bahaya kecanduan atas kesenangan-kesenangan indrawi. Bahkan ketika seseorang telah menapaki jalan pembebasan, apabila dia tidak berhati-hati dan memiliki tekad yang kuat, maka dia akan kembali mencari kenikmatan duniawi.

Kisah ini dimulai ketika Sang Bhagava sedang berdiam di hutan Bambu dekat Rajagaha. Dikisahkan terdapat seorang pangeran bernama Tissa datang ke hutan Bambu dan mendengar khotbah yang disampaikan oleh Buddha Gotama. Tergerak oleh uraian khotbah tersebut, dia pun hendak bergabung ke dalam Sangha. Tetapi permohonan tersebut ditolak lantaran kedua orang tuanya tidak mengijinkannya memasuki komunitas Sangha. Namun dia mencoba memaksa orang tuanya mengabulkan keinginannya dengan berpuasa selama tujuh hari dan akhirnya dia pun berhasil memperoleh persetujuan orang tuanya.

Dengan nama sesepuh Tissa dia pun mulai hidup mengembara dan mengumpulkan dana makanan dari rumah ke rumah.

Di Rajagaha kedua orang tua Tissa bersedih hati karena kepergian anaknya. Seorang wanita budak yang datang ke rumah orang tua Tissa bertanya apa gerangan yang terjadi. Ibu Tissa menceritakan peristiwa kepergian anaknya.

“Apakah yang anak Anda senangi, Nyonya?”

“Dia menyukai hal ini dan hal itu,” jawab ibu Tissa.

“Baiklah, jika Nyonya memberikan wewenang dan otoritas kepada saya, saya akan membawa kembali anak Nyonya.”

“Baiklah,” ibu Tissa menyetujui dan memberikan semua biaya dan keperluan bagi si wanita tersebut dan mengantar kepergiannya, “Pergilah dan bawa anakku kembali.”

Kemudian wanita tersebut pergi menuju Savatthi dan membangun kediamannya di jalan yang sering dilalui sesepuh Tissa saat mengumpulkan dana makanan. Ketika sesepuh datang, dia memberikan dana makanan dan minuman kesukaannya, kemudian dia pun berpura-pura sakit dan masuk ke dalam kamar.

Menyadari dia hanya duduk sendirian, sesepuh Tissa bertanya kepada pelayan, “Dimana umat wanita?”

“Dia sakit, tuan, dia akan senang Anda datang melihatnya.”

Terperdaya oleh kecanduan dan kesukaannya, sesepuh Tissa melanggar sumpah dan peraturan yang selama ini dia taati dan pergi memasuki kamar wanita tersebut. Kemudian si wanita menceritakan maksud kedatangannya dan memintanya pulang kembali ke rumah orang tuanya. Akhirnya dengan serombongan besar pelayan, Tissa dan wanita tersebut pulang kembali ke Rajagaha.

Kejadian ini tersebar luas dengan cepat dan didengar oleh para bhikkhu. Buddha menenangkan keadaan dan berkata, “Saudara, ini bukanlah pertama kali akibat kecanduannya akan kenikmatan, Tissa jatuh ke dalam genggaman wanita tersebut; jauh di masa lampau dia juga telah jatuh ke dalam genggaman wanita tersebut.” Dan setelah berkata demikian, Buddha pun menceritakan kejadian yang telah terjadi di masa silam.

*****

Pada suatu ketika saat Brahmadatta sedang berdiam di Benares dia memiliki seorang tukang kebun bernama Sanjaya. Di kebun raja tiba-tiba muncullah seekor menjangan yang tertangkap oleh mata Sanjaya, tetapi dia membiarkannya begitu saja. Menjangan itu mulai memakan rerumputan, bunga-bunga dan buah-buahan di kebun raja sampai akhirnya raja pada suatu hari berkata, “Apakah kamu menyadari sesuatu yang aneh disini, tukang kebun?”

“Hanya, terdapat seekor menjangan Yang Mulia.”

“Dapatkah kamu menangkapnya?”

“Ya, tentu saja; jika seandainya saya memiliki sedikit madu, saya akan membawanya ke hadapan raja.”

Setelah mendapatkan madu, si tukang kebun mulai membuat siasat. Pertama-tama dia mengoleskan madu ke rerumputan yang sering dimakan oleh menjangan dan kemudian bersembunyi. Si menjangan yang datang mencicipi rasa manis madu itu dan menjadi kecanduan sehingga dia tidak berniat mencari rumput di tempat lain selain kebun raja. Mengetahui kesuksesannya, si tukang kebun mulai menampakkan dirinya di hadapan menjangan. Hari pertama dan kedua si menjangan langsung kabur. Tetapi hari ketiga dia merasa mulai terbiasa dengan si tukang kebun dan secara berangsur-angsur berani memakan langsung rerumputan madu dari tangan si tukang kebun.

Senang bukan main, si tukang kebun mulai menggiring si menjangan dengan segenggam rumput madu dan berjalan di depan menjangan, menuntunnya menuju istana raja.

Menyadari keberadaannya sekarang di hadapan banyak orang, si menjangan mulai panik dan ketakutan. Dia berontak kesana kemari di dalam aula. Sang raja kemudian turun dari singgasanannya dan melihat makhluk yang sedang ketakutan itu dan berkata, “Lihatlah betapa takutnya menjangan ini sehingga dia tidak pernah mengunjungi tempat-tempat dimana manusia berada selama seminggu ini; tetapi karena terpikat oleh kecanduan, hewan liar yang datang dari hutan ini berani memasuki tempat seperti ini. sesungguhnya, teman-temanku, tidak ada yang lebih berbahaya di dunia ini daripada kecanduan.”

Mengakhiri kata-katanya, raja membiarkan menjangan itu pergi kembali ke dalam hutan.

*****

Ketika Guru mengakhiri pelajaranNya, Beliau mengaitkan kejadian di masa lampau dengan saat ini, dan berkata, “Pada saat itu wanita budak ini adalah Sanjaya, sesepuh Tissa adalah si menjangan, dan Aku sendiri adalah Raja Benares.”

*****

Sumber:

http://www.brandbihar.com/english/religion/buddhism/jataka/jataka_story_14.html

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: