MAHILAMUKHA-JATAKA

pict source

“Awalnya, dengan mendengar,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Bhagawan ketika berada di Weluwana, mengenai Devadatta, yang mendapatkan kesetiaan Pangeran Ajātasattu, ia memperoleh keuntungan serta kehormatan darinya. Pangeran Ajātasattu membangun sebuah wihara untuk Devadatta di Gayāsīsa, dan setiap hari mempersembahkan  lima ratus mangkuk nasi wangi yang berusia tiga tahun, yang telah dibumbui dengan semua bumbu pilihan. Semua keuntungan dan kehormatan ini membawakan sejumlah pengikut untuk Devadatta, yang tinggal bersamanya, tanpa pernah keluar dari wihara. Saat itu di Rājagaha, hiduplah dua orang sahabat. Satu orang mengucapkan sumpahnya di bawah Sang Guru, sementara yang satunya lagi, bersumpah di bawah Devadatta.

Mereka berdua saling bertemu sepanjang waktu, baik secara kebetulan maupun dengan mengunjungi wihara masing-masing. Suatu hari, murid Devadatta berkata kepada temannya, “Bhante, mengapa setiap hari engkau pergi berkeliling melakukan pindapata hingga keringat bercucuran di tubuhmu? Devadatta hanya perlu duduk dengan tenang di Gayāsīsa, dan hidup dari makanan dari kualitas terbaik yang dibumbui dengan semua bumbu pilihan, tidak perlu melakukan apa yang kamu lakukan. Mengapa mencari penderitaan sendiri? Apakah tidak baik bagimu untuk datang pagi-pagi sekali ke wihara di Gayāsīsa, dan menikmati bubur nasi dengan makanan pembuka setelah itu, mencoba delapan belas jenis makanan padat yang kami miliki dan juga makanan lunak dengan mutu yang baik, yang dibumbui dengan semua bumbu pilihan?”

Karena selalu dibujuk untuk menerima undangan tersebut, bhikkhu ini mulai berniat untuk pergi, dan akhirnya ia pergi juga ke Gayāsīsa, ia makan dan makan, namun ia tidak lupa untuk kembali ke Weluwana pada waktunya. Bagaimanapun, ia tidak dapat terus merahasiakan hal itu; sedikit demi sedikit, bhikkhu yang lain mulai mengetahui ia selalu pergi ke Gayāsīsa dan menikmati makanan yang disediakan untuk Devadatta. Karena itu, teman-temannya bertanya kepadanya, “Benarkah apa yang dikatakan mereka, bahwa engkau menghibur diri dengan makanan yang dipersembahkan untuk Devadatta?”

“Siapa yang mengatakan hal itu?”

“Si anu yangmengatakannya.”

“Benar, Awuso, saya pergi ke Gayāsīsa dan makan di sana. Namun bukan Devadatta yang memberikan makanan kepadaku, bhikkhu lain yang melakukannya.”

“Awuso, Devadatta adalah musuh Buddha; dengan akal liciknya, ia mendapatkan kesetiaan Ajātasattu, dan dengan cara jahat, ia memperoleh keuntungan dan penghormatan untuk dirinya. Namun, kamu yang mengambil sumpah berdasarkan ajaran yang akan membawa nibbana bagi kita, makan makanan yang diperoleh Devadatta dengan cara-cara yang tidak benar. Mari, kami akan membawamu menghadap Sang Guru.” Kemudian mereka membawa bhikkhu itu ke Balai Kebenaran.

Ketika Sang Guru melihat kedatangan mereka, Beliau bertanya, “Para Bhikkhu, mengapa bhikkhu ini dibawa bertentangan dengan kehendaknya?”

“Bhante, bhikkhu ini, setelah mengucapkan sumpah di bawah pengawasan-Mu, makan makanan yang diperoleh Devadatta dengan cara-cara yang tidak benar.”

“Benarkah apa yang mereka katakan, bahwa engkau makan makanan yang diperoleh Devadatta dengan cara yang tidak benar?”

“Bukan Devadatta yang memberikan makanan itu kepadaku, Bhante, melainkan orang lain.”

“Jangan membuat dalih di sini, Bhikkhu,” kata Sang Guru. “Devadatta adalah pemimpin yang buruk dengan prinsip yang salah. Oh, bagaimana engkau bisa, setelah mengambil sumpah di sini, makan makanan dari Devadatta, saat engkau menjalankan ajaran-Ku? Namun, engkau memang selalu mudah dipengaruhi, selalu mengikuti perkataan setiap orang yang engkau temui.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini. Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai menterinya. Di saat itu, raja memiliki seekor gajah kerajaan yang bernama Mahilamukha (Paras

Gadis), yang sangat bijaksana dan penuh kebaikan, ia tidak pernah melukai siapa pun.

Suatu malam, beberapa orang pencuri berkumpul di dekat kandang gajah itu, mereka duduk sambil membicarakan rencana mereka : — “Inilah cara untuk menerobos masuk ke dalam sebuah rumah; dan ini adalah cara mendobrak masuk melalui dinding rumah; sebelum membawa kabur barang-barang curian, masuk dengan cara menerobos atau pun mendobrak dinding harus jelas dan terbuka, seperti melalui darat atau dengan menyeberangi sungai. Dalam membawa kabur barang-barang itu, jangan sampai terjebak dalam pembunuhan, di mana kamu tidak akan bisa melawan lagi. Seorang pencuri harus membuang semua kebaikan dan kebajikan yang ia miliki, agar ia cukup kejam. Ia harus menjadi orang yang penuh dengan kebengisan dan kekerasan.” Setelah saling mengajari satu sama lain dengan nasihat-nasihat itu, mereka membubarkan diri.

Mereka datang lagi keesokan harinya, dan beberapa hari setelah itu, mereka selalu mengadakan percakapan yang sama sehingga akhirnya gajah itu menyimpulkan bahwa mereka datang untuk memberikan petunjuk kepadanya, bahwa ia harus berubah menjadi kejam, bengis dan penuh kekerasan. Dan seperti itulah ia berubah. Begitu pelatihnya muncul di pagi hari, gajah itu melilit lelaki itu dengan belalainya dan melemparkannya ke tanah hingga ia meninggal. Dengan cara yang sama ia memperlakukan orang kedua, ketiga dan setiap orang yang mendekatinya.

Berita itu disampaikan kepada Raja, bahwa Mahilamukha telah gila dan membunuh setiap orang yang terlihat olehnya. Raja segera mengundang Bodhisatta dan berkata, “Pergilah, wahai Yang bijaksana, temukan apa yang telah menyesatkannya.”

Bodhisatta pergi ke tempat gajah itu berada, ia memastikan bahwa gajah itu tidak menunjukkan tanda-tanda ada bagian tubuhnya yang sakit. Saat memikirkan kembali semua kemungkinan yang menyebabkan perubahan tersebut, ia tiba pada kesimpulan bahwa gajah itu pasti mendengar pembicaraan orang-orang yang berada di dekatnya. Gajah itu mengira mereka sedang memberikan petunjuk kepadanya, hal inilah yang menyesatkan hewan tersebut. Karena itu, ia bertanya kepada penjaga gajah tersebut apakah belakangan ini ada orang yang melakukan percakapan di dekat kandang gajah pada malam hari. “Ada, Tuanku,” jawab penjaga gajah itu, “beberapa orang pencuri datang kemari dan melakukan pembicaraan.”

Kemudian Bodhisatta pergi menghadap raja dan berkata, “Tidak ada yang salah dengan gajah itu, Paduka, ia disesatkan oleh pembicaraan beberapa orang pencuri.”

“Baiklah, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Undanglah orang-orang yang penuh dengan kebaikan, para guru dan brahmana untuk duduk di dekat kandangnya dan membicarakan tentang kebaikan.”

“Lakukanlah hal itu, Temanku,” kata Raja. Bodhisatta kemudian mengundang orang-orang yang penuh dengan kebaikan, para guru dan brahmana ke kandang gajah tersebut, dan meminta mereka untuk membicarakan hal-hal yang baik. Maka mereka semua, duduk didekat gajah tersebut, membicarakan hal berikut ini, “Jangan menganiaya maupun membunuh. Orang baik harus tahan terhadap penderitaan, tetap penuh cinta kasih serta murah hati.” Mendengar kata-kata tersebut, gajah itu berpikir mereka pasti memaksudkan itu sebagai bimbingan baginya, ia kemudian memutuskan untuk berubah menjadi baik. Maka ia pun berubah menjadi baik kembali.

“Baiklah, Temanku,” kata Raja kepada Bodhisatta, “sudahkah gajah itu berubah menjadi baik sekarang?”

“Ya, Paduka,” kata Bodhisatta, “berterimakasihlah kepada mereka yang bijaksana dan penuh kebaikan sehingga gajah yang telah tersesat itu kembali menjadi dirinya lagi.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengulangi syair berikut ini : —

Awalnya, dengan mendengarkan pembicaraan yang tidak benar dari para pencuri

Mahilamukha berubah, ia melukai dan membunuh ;

Akhirnya, dengan mendengar kata-kata yang mulia dari mereka yang bijaksana,

gajah kerajaan itu berubah menjadi baik kembali.

 

Raja itu berkata, “Ia bahkan mampu membaca pikiran hewan!” Raja menganugerahkan penghargaan besar kepada Bodhisatta. Setelah hidup hingga usia yang cukup tua, baik raja maupun Bodhisatta meninggal dunia dan terlahir di alam bahagia sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat. Sang Guru berkata, “Di kehidupan yang lampau, engkau juga mengikuti perkataan setiap orang yang engkau temui, Bhikkhu; saat mendengar ucapan pencuri, engkau mengikuti perkataan mereka; lalu mendengar kata-kata para bijaksana dan orang-orang baik, kamu juga mengikutinya.”

Setelah uraian-Nya berakhir, Beliau mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu yang berkhianat ini adalah Mahilamukha di masa itu, Ānanda adalah sang raja, dan Saya sendiri adalah menteri tersebut.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: