KULĀVAKA-JĀTAKA

pict source

“Biarkan semua anak burung di hutan,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang minum tanpa menyaring airnya terlebih dahulu.

Menurut kisah yang diceritakan secara turun temurun, dua orang bhikkhu muda yang saling bersahabat meninggalkan Sawatthi menuju sebuah desa, di sana mereka tinggal di suatu tempat yang menyenangkan. Setelah menetap beberapa saat, mereka meninggalkan tempat itu menuju ke Jetawana, untuk mengunjungi Yang Tercerahkan Sempurna (Sammāsambuddha). Hanya salah seorang dari mereka yang membawa saringan air, yang seorang lagi tidak membawanya, maka mereka berdua menggunakan saringan yang sama sebelum minum. Suatu hari mereka bertengkar. Pemilik saringan tidak mau meminjamkan saringan itu kepada temannya, ia menyaring dan meminum sendiri air yang telah disaringnya itu. Karena temannya tidak mau memberikan saringan itu, dan karena ia tidak mampu menahan rasa haus yang menyerangnya, ia minum air tanpa disaring terlebih dahulu. Akhirnya tibalah mereka di Jetawana, dan segera memberikan salam dengan penuh penghormatan kepada Sang Guru sebelum duduk. Setelah menyapa mereka dengan ramah, Beliau bertanya dari manakah mereka berdua datang.

“Bhante,” jawab mereka, “kami menetap di sebuah dusun kecil di Negeri Kosala sebelum kami datang untuk mengunjungi Anda.”

“Apakah kalian berdua masih bersahabat seperti saat kalian memulai perjalanan?”

Bhikkhu yang tidak membawa saringan berkata, “Bhante, kami bertengkar di tengah perjalanan dan ia tidak mau meminjamkan saringannya kepada saya.”

Bhikkhu yang satunya lagi berkata, “Bhante, ia tidak menyaring air minumnya, namun – dengan sadar – ia minum air beserta semua makhluk hidup yang terkandung di dalamnya.”

“Benarkah laporan itu, Bhikkhu, bahwa kamu dengan sadar minum air beserta semua makhluk hidup yang terkandung di dalamnya?”

“Benar, Bhante, saya minum air yang belum disaring,” jawab bhikkhu itu.

“Bhikkhu, ia yang bijak dan penuh kebaikan di kehidupan yang lampau, saat terbang menjauh di sepanjang tempat yang tinggi ketika harus menyerahkan kekuasaan atas kota para dewa, pikiran akan adanya cemoohan karena membunuh makhluk hidup demi menyelamatkan kekuasaan mereka, membuat mereka lebih baik memutar kereta perang, mengabaikan kejayaan mereka dengan tujuan menyelamatkan nyawa para garuda muda.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Pada suatu waktu ada seorang Raja Magadha yang memerintah di Rājagaha, Negeri Magadha. Sebagaimana ia yang saat ini merupakan Sakka, lahir pada kelahiran sebelumnya di sebuah dusun kecil di Macala, Negeri Magadha. Itu adalah dusun kecil yang sama dalam setiap kelahirannya. Masa itu, Bodhisatta terlahir sebagai seorang bangsawan muda. Ketika saat pemberian nama tiba, ia diberi nama ‘Pemuda Magha’, setelah dewasa ia dikenal sebagai ‘Brahmana Muda Magha’. Orang tuanya memilihkan seorang istri untuknya, yang berasal dari kasta yang sama dengan mereka; dan dia, dengan sebuah keluarga berupa anak lelaki dan perempuan, yang tumbuh besar bersamanya, unggul dalam berdana dan selalu menjaga lima latihan moralitas.

Desa itu hanya ditempati oleh tiga puluh keluarga. Suatu hari, para lelaki berdiri di tengah desa mengadakan pertemuan antar penduduk desa. Setelah membersihkan debu di sekitar tempatnya berdiri, Bodhisatta berdiri dengan nyamannya di sana, namun seseorang datang dan merebut tempat berdirinya. Ia membersihkan tempat yang lain agar dapat berdiri dengan nyaman, — hanya untuk direbut oleh orang lain sebagaimana kejadian sebelumnya. Ia mengulangi hal itu lagi dan lagi, hingga akhirnya ia memberikan tempat berdiri yang nyaman pada semua orang yang berada di sana. Di waktu yang lain, ia membangun sebuah paviliun, — yang kemudian diruntuhkannya kembali, ia membangun sebuah balai desa dengan kursi-kursi dan kendi air di dalamnya. Di lain kesempatan, ketiga puluh lelaki itu dibimbing oleh Bodhisatta menjadi sejalan dengannya; ia mengukuhkan mereka dalam lima latihan moralitas, kemudian bersama mereka melakukan perbuatan baik lainnya. Saat mereka melakukan perbuatan-perbuatan baik, di bawah bimbingan Bodhisatta, mereka biasanya bangun pagi-pagi dan memulai perjalanan, dengan membawa pisau, kapak dan tongkat di tangan mereka. Tongkat itu mereka gunakan untuk menyingkirkan batu-batu yang berserakan di perempatan jalan utama serta jalan-jalan lainnya yang ada di desa itu; pohon-pohon yang bisa tertabrak oleh roda kereta, mereka tebang; jalanan yang berlubang mereka ratakan; mereka membangun jalan lintasan yang tinggi, menggali tempat penampungan air, dan membangun balai desa. Mereka melakukan praktik berdana dan menjaga lima latihan moralitas. Para penduduk desa bertindak bijaksana karena ajaran Bodhisatta dan karena latihan yang mereka jalankan.

Kepala desa kemudian berpikir, “Saat orang-orang ini masih suka mabuk dan melakukan pembunuhan, serta hal-hal buruk lainnya, saya bisa mendapatkan uang dari minuman keras yang mereka minum, serta dari denda dan upeti yang mereka bayar. Namun sekarang, Brahmana Muda Magha bertekad membuat mereka menjalankan latihan; ia membuat mereka berhenti membunuh dan melakukan perbuatan jahat lainnya.” Dengan penuh kemarahan ia berseru, “Aku akan membuat mereka menjalankan lima latihan moralitas itu!” Ia menghadap raja dan berkata, “Paduka, ada segerombolan perampok yang akan merampok desa-desa dan berusaha menyusupkan penjahat-penjahat lainnya ke desa.” Mendengar hal itu, raja meminta kepala desa membawa orang-orang itu menghadapnya. Pergilah kepala desa itu untuk menangkap ketiga puluh lelaki itu dan menyatakan bahwa mereka adalah penjahat-penjahat itu di hadapan raja. Tanpa menyelidiki apa yang (sebenarnya) telah mereka perbuat, raja memberi perintah bahwa mereka semua mendapat hukuman mati diinjak oleh gajah. Untuk itu, mereka dibawa ke halaman istana dan gajah pun di kirim ke sana. Bodhisatta menasihati mereka dengan berkata, “Tetaplah ingat latihan-latihan itu; cintai orang yang telah memfitnahmu, raja dan juga gajah itu seperti kalian mencintai diri kalian sendiri.”

Demikianlah yang dilakukan oleh mereka. Seekor gajah masuk ke halaman istana untuk menginjak mati mereka. Para pengawal berusaha menuntun gajah itu sedekat mungkin dengan mereka, namun gajah itu menolak, hewan itu menjauh sambil mengeluarkan suara yang keras. Satu demi satu gajah dibawa ke halaman istana;— namun semuanya melakukan tindakan yang sama seperti gajah pertama. Menduga mereka pasti membawa ramuan tertentu, raja meminta agar mereka diperiksa. Pemeriksaan segera dilakukan sesuai dengan perintah raja, namun mereka tidak menemukan apa pun; hal itu kemudian dilaporkan kepada raja. “Mereka pasti membaca mantra tertentu,” kata raja, “tanyakan apakah ada mantra yang mereka bacakan.” Pertanyaan itu diajukan kepada mereka, Bodhisatta mengatakan bahwa mereka memang memiliki mantra. Para pengawal menyampaikan hal tersebut kepada raja mereka. Maka raja mengumpulkan mereka di hadapannya dan berkata, “Beritahukan mantramu kepada saya.”

Bodhisatta menjawab, “Paduka, kami hanya mempunyai satu mantra, bahwa tidak seorang pun di antara kami yang melakukan pembunuhan, atau mengambil sesuatu yang tidak diberikan kepada kami, atau melakukan perbuatan yang tidak senonoh, atau berdusta, kami tidak minum minuman keras; kami dipenuhi dengan rasa cinta terhadap kebajikan; menunjukkan kebaikan hati, kami meratakan jalanan, menggali tempat penampungan air, membangun balai desa;— inilah mantra kami, pelindung kami dan sumber kekuatan kami.” Merasa puas dengan jawaban dan tindakan mereka, Raja menganugerahkan kemakmuran yang ada di rumah tukang fitnah itu dan menjadikannya sebagai pelayan mereka; Raja juga memberikan gajah serta desa itu kepada mereka sebagai tambahan.

Selanjutnya, mereka terus melakukan perbuatan kebajikan sesuai dengan keinginan hati mereka; seorang tukang kayu diminta untuk membangun sebuah balai besar di perempatan jalan utama. Namun karena mereka telah tidak memiliki hasrat terhadap wanita, mereka tidak mengizinkan wanita untuk mengambil bagian dalam kebajikan yang mereka lakukan itu.

Sementara itu, di rumah Bodhisatta terdapat empat orang wanita, mereka adalah Sudhammā, Cittā, Nandā, dan Sujā. Saat Sudhammā berada sendirian dengan tukang kayu itu, ia memberikan uang kepada tukang kayu itu dan berkata, “Saudaraku, usahakan untuk menjadikan saya sebagai orang penting yang berhubungan dengan pembangunan balai ini.”

“Baik,” jawab tukang kayu itu, dan sebelum memulai pekerjaan lain dalam pembangunan balai itu, ia mengerjakan beberapa batang kayu untuk dijadikan menara, ia menghiasi, melubangi dan merakit kayu-kayu itu menjadi sebuah menara yang siap pakai. Hasil karyanya itu ditutupi dengan sehelai kain dan diletakkan di pinggir. Ketika pembangunan balai telah selesai, dan tiba saatnya untuk memasang menara, ia berseru, “Astaga, Tuanku, masih ada satu bagian yang belum kita kerjakan.”

“Apa itu?”

“Begini, kita harus mempunyai sebuah menara.”

“Baiklah, buatkanlah satu!”

“Namun menara tidak bisa dibuat dari kayu yang masih basah; kita harus memiliki kayu yang telah ditebang beberapa waktu yang lalu, dihias dan dilubangi serta dikeringkan.”

“Baiklah, apa yang harus kita lakukan sekarang ?”

“Sebaiknya kita melihat apakah ada orang yang mempunyai benda seperti itu di rumah mereka, sebuah menara siap pakai yang dibuat untuk dijual.”

Saat mereka mencari di sekitar tempat itu, mereka menemukan satu di rumah Sudhammā, namun ia tidak mau menjualnya. “Jika kalian bersedia menjadikan saya sebagai rekanan kalian dalam melakukan kebajikan,” katanya, “saya akan memberikannya kepada kalian secara cuma-cuma.”

“Tidak,” jawab mereka, “kami tidak mau ada wanita yang turut ambil bagian dalam kebajikan ini.” Tukang kayu itu berkata, “Tuan-tuan, apa yang Anda katakan? Bahkan sampai ke alam brahma, tidak ada tempat dimana tidak ada wanita. Ambillah menara itu dan pekerjaan kita akan segera selesai.”

Setelah mendapat persetujuan, mereka mengambil kayu menara itu dan menyelesaikan balai tersebut. Kursi-kursi diletakkan dan kendi-kendi air ditempatkan di dalamnya, di sana juga selalu tersedia nasi yang masih hangat. Mereka membangun sebuah dinding dengan sebuah pintu gerbang di sekeliling balai tersebut, jarak antar dinding bagian dalamnya ditaburi dengan pasir dan bagian luarnya ditanami dengan sebaris pohon lontar kipas. Cittā membangun sebuah taman peristirahatan di tempat tersebut, tidak ada tanaman bunga dan buah yang tidak terdapat disana, Nandā juga, ia menggali sebuah tempat penampungan air di tempat yang sama, menutupi permukaannya dengan lima jenis bunga teratai, hingga menjadi begitu indah dipandang mata. Hanya Sujā yang tidak melakukan apa-apa.

Bodhisatta menetapkan tujuh ketentuan ini; membahagiakan ibu, membahagiakan ayah, menghormati saudara (orang) yang lebih tua, berbicara jujur, menghindari kata-kata kasar, menjauhkan diri dari kata-kata fitnah, dan menghindari sifat kikir : —

Barang siapa yang menyokong orang tuanya, orang-orang yang pantas dihormati,

yang ramah, mengucapkan kata-kata yang bersahabat,

tidak memfitnah, Tidak kasar, jujur, pengendali – bukan budak – kemarahan,

—Ia yang akan terlahir di Alam Tiga Puluh Tiga Dewa

pantas disebut sebagai Ia Yang Penuh Kebajikan.

 

Demikianlah kata-kata pujian yang ditanamkan olehnya. Saat ajalnya tiba, ia meninggal dan terlahir kembali di Alam Tiga Puluh Tiga Dewa sebagai Sakka, raja para dewa; teman-temannya juga terlahir di alam yang sama.

Pada masa itu, para asura juga berdiam di Alam Tiga Puluh Tiga Dewa. Sakka, raja para dewa berkata, “Apa baiknya bagi kita dengan kerajaan yang juga ditempati oleh makhluk-makhluk lain?”

Ia membuat para asura minum minuman keras para dewa, dan di saat mereka mabuk, ia membuat mereka terlempar ke kaki Pegunungan Sineru yang curam. Mereka terjatuh ke ‘alam asura’, sebagaimana alam itu dinamakan — wilayah paling bawah dari Pegunungan Sineru, yang setingkat dengan Alam Tiga Puluh Tiga Dewa. Di sana, terdapat sebatang pohon, mirip dengan Pohon Pāricchattaka, yang bisa hidup hingga beribu-ribu tahun lamanya; pohon itu adalah Pohon Cittapāṭali. Mekarnya bunga ini membuat mereka sadar, bahwa tempat itu bukanlah alam dewa, karena di sana yang mekar seharusnya adalah Pohon Pāricchattaka. Mereka berteriak, “Si tua bangka Sakka telah membuat kita mabuk dan melempar kita ke tempat yang sangat dalam, ia telah merampas kota dewa kita.”

“Mari,” teriak mereka, “kita menangkan kembali alam milik kita darinya dengan menggunakan kekuatan senjata.” Mulailah mereka memanjat naik ke sisi atas Pegunungan Sineru, seperti iring-iringan semut yang menaiki pilar. Mendengar raungan tanda bahaya yang menunjukkan bahwa para asura telah bergerak naik, Sakka segera pergi ke tempat para asura untuk bertempur dengan mereka, namun, ia kalah dalam serangan balik itu. Ia terbang di sepanjang puncak demi puncak bagian selatan kedalaman tersebut dengan menggunakan kereta tempurnya, Vejayantaratha (Kereta Tempur Kemenangan), yang panjangnya seratus lima puluh yojana. Tibalah kereta tempurnya yang bergerak secepat kilat itu di Hutan Pohon Simbali. Di sepanjang lintasan kereta itu, pohon-pohon yang kokoh ini habis terpotong seakan-akan dicabut oleh sejumlah tangan, dan jatuh ke dalam lubang yang dalam itu. Saat para garuda muda itu terjatuh ke dalam lubang yang dalam, mereka menjerit dengan keras. Sakka bertanya kepada Mātali, penunggang keretanya, “Mātali, suara apakah itu? Suara tersebut sangat menyayat hati!”

“Paduka, itu adalah suara tangisan burung-burung garuda yang ketakutan, saat pohon yang mereka huni tumbang karena terjangan keretamu.” Makhluk yang sangat agung itu kemudian berkata, “Jangan biarkan mereka mendapat masalah karena saya, Mātali. Jangan karena keselamatan kerajaan, terjadi pembunuhan. Lebih baik saya, demi keselamatan mereka, mengorbankan diri kepada para asura. Putar kembali keretanya.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengulangi syair berikut ini : Biarkan semua anak burung di hutan ini, Mātali, selamat dari terjangan kereta tempur kita. Saya menawarkan, kesediaan untuk menjadi korban, nyawa saya untuk para asura yang berada di sana; burung-burung yang malang ini jangan sampai, karena saya, terlempar dari sarang mereka yang terkoyak-koyak.

Kata-kata itu membuat Mātali, penunggang kereta tempur itu, memutar kembali kereta tempur tersebut, dan menempuh jalan lain kembali ke alam dewa. Saat para asura melihat ia memutar kereta tempurnya, berseru bahwa Sakka dari alam lain tentu telah datang; “Pasti ada bala bantuan yang membuatnya memutar kembali kereta tempurnya.” Merasa keselamatan nyawa mereka terancam, mereka segera melarikan diri dan terus berlari tanpa berhenti hingga mereka tiba kembali di alam asura. Sakka tiba di alam dewanya, berdiri di tengah kota, dikelilingi oleh rombongan dewa yang tinggal di alam tersebut, dan juga dewa-dewa dari alam brahma lainnya. Saat yang sama, sungai di dunia ini memancar tinggi hingga mencapai ‘Istana Kemenangan’ (Vejayanta) di ketinggian beberapa yojana — disebut demikian karena hal tersebut terjadi di saat-saat kemenangan. Untuk mencegah para asura kembali lagi, Sakka menempatkan penjaga di lima tempat, — mengenai apa yang pernah diucapkannya sebelum ini : —Tak terkalahkan pertahanan yang ada di antara kedua kota! Di antara, lima lapis penjagaan, dijaga oleh para nāga, garuda, kumbhaṇḍa, yaksa dan Empat Raja Dewa.

Ketika Sakka menikmati saat-saat ia menjadi raja para dewa di alam dewa yang agung, yang dijaga dengan ketat oleh para pengawalnya di lima tempat, Sudhammā meninggal dunia dan terlahir sebagai pelayan wanita Sakka sekali lagi. Persembahan menara yang diberikannya membuat sebuah balai besar – bernama Sudhammā (Balai pertemuan para dewa)– tercipta untuknya, bertaburkan permata-permata alam dewa, dengan tinggi lima ratus yojana, dimana di bawah naungan sebuah atap putih kerajaan, duduklah Sakka, raja para dewa, yang memerintah manusia dan dewa.

Cittā juga, setelah meninggal, terlahir sekali lagi sebagai pelayan wanita Sakka; persembahan taman peristirahatan yang diberikannya membuat munculnya sebuah taman peristirahatan yang diberi nama Cittalatāvana. Sama halnya dengan Nandā, setelah meninggal dunia, ia terlahir sekali lagi sebagai pelayan wanita Sakka; buah perbuatannya membuatkan sebuah tempat penampungan air membuat timbulnya sebuah kolam di sana yang bernama Nandā. Namun, Sujā, yang tidak melakukan kebaikan apa pun juga, terlahir sebagai seekor burung bangau di sebuah gua dalam hutan. “Tidak ada tanda-tanda munculnya Sujā,” kata Sakka kepada dirinya sendiri. “Saya merasa penasaran ia terlahir kembali di alam mana.” Saat memikirkan hal tersebut, ia menemukan keberadaannya. Maka ia mengunjunginya, membawanya mengunjungi alam dewa untuk menunjukkan kepadanya betapa menyenangkannya kota para dewa itu, Sudhammā, Cittalatāvana, dan Kolam Nandā. “Mereka bertiga,” kata Sakka, “terlahir kembali sebagai pelayan wanita saya karena kebajikan yang mereka lakukan, sedangkan kamu, karena tidak melakukan perbuatan baik apa pun, terlahir kembali di alam yang rendah. Mulai sekarang, jagalah latihan.” Setelah menasehatinya dan mengukuhkan lima latihan moralitas kepadanya, Sakka membawanya pulang kembali (ke tempat asalnya) dan membiarkannya hidup bebas. Mulai saat itu, burung bangau itu menjaga kelima latihan moralitas tersebut. Beberapa waktu kemudian, karena ingin mengetahui apakah ia (mampu) menjaga latihan atau tidak, Sakka pergi ke tempatnya dan muncul di hadapannya dalam bentuk seekor ikan.

Mengira ikan tersebut telah mati, burung bangau itu meraih kepala ikan tersebut. Tiba-tiba ikan tersebut menggerakkan ekornya. “Aduh, ikannya masih hidup,” kata burung bangau tersebut, ia membiarkan ikan tersebut pergi. “Bagus, bagus,” kata Sakka, “kamu mampu menjaga latihan-latihan tersebut.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Sakka pergi meninggalkan tempat itu. Setelah meninggal, burung bangau itu terlahir kembali dalam sebuah keluarga pengrajin tembikar di Benares. Merasa penasaran di manakah Sujā terlahir kembali, Sakka mencari dan akhirnya menemukan tempat ia berada. Sakka menyamar menjadi seorang kakek, mengisi sebuah gerobak dengan mentimun yang terbuat dari emas murni, duduk di tengah desa, berteriak, “Belilah mentimun saya! Belilah mentimun saya!” Para penduduk mendatanginya dan menawar mentimun tersebut.

“Saya hanya melepaskannya untuk mereka yang menjaga latihan,” katanya,”apakah kalian menjaga latihan?”

“Kami tidak tahu apa yang kamu maksudkan dengan ‘latihan’ itu; jual saja mentimun itu kepada kami.”

“Tidak, saya tidak menginginkan uang untuk mentimun saya. Saya akan memberikannya secara cuma-cuma, namun hanya untuk mereka yang menjaga latihan.”

“Siapakah pelawak ini?” gerutu orang-orang itu sebelum meninggalkan tempat tersebut. Sujā berpikir bahwa mentimun itu pasti dibawa untuknya, karena itu ia pergi ke sana dan meminta beberapa buah mentimun. “Apakah engkau menjaga latihan, Nyonya?” tanya kakek itu. “Ya, saya melakukannya,” jawab Sujā.

“Semua ini saya bawa untukmu seorang,” kata kakek itu, dan meninggalkan mentimun, gerobak dan semuanya di depan pintu rumahnya sebelum pergi. Setelah menghabiskan sisa hidupnya dengan tetap menjaga latihan-latian tersebut, Sujā terlahir kembali sebagai putri dari Raja Asura Vepacittiya. Karena kebaikan yang dilakukannya, ia terlahir dengan paras yang jelita. Setelah dewasa, ayahnya mengumpulkan semua asura agar dapat dipilih oleh putrinya untuk dijadikan suami. Sakka, yang telah mencari dan menemukan keberadaannya, mengambil bentuk asura dan turun ke sana, sambil berkata, “Jika Sujā benar-benar memilih seorang suami dari lubuk hati terdalamnya, saya akan terpilih.”

Sujā didandani dan dibawa menuju tempat pertemuan tersebut, tempat dimana ia diminta untuk memilih seorang suami berdasarkan pilihan hatinya. Melihat ke sekeliling dan mengamati Sakka, ia digerakkan oleh rasa cintanya kepada Sakka di kehidupan yang lampau dan memilihnya untuk menjadi suaminya. Sakka membawanya ke kota para dewa dan menjadikannya pimpinan dari dua puluh lima juta orang gadis penari. Setelah ajalnya tiba, ia meninggal dan terlahir kembali di alam yang sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menegur bhikkhu tersebut dengan kata-kata berikut ini, “Demikianlah, Bhikkhu, ia yang bijaksana dan penuh kebaikan di kehidupan yang lampau saat memerintah di alam dewa, menghindari, walaupun harus mengorbankan nyawa mereka sendiri, untuk melakukan pembunuhan. Dapatkah kamu, yang telah mengucapkan janji untuk memelihara keyakinan ini, minum air yang belum disaring, beserta semua makhluk hidup yang terkandung di dalamnya?” Kemudian Beliau mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Ānanda adalah Mātali, penunggang kereta tempur itu, dan Saya adalah Sakka.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: