NACCA-JĀTAKA

pict source

“Sebuah pemandangan yang menyenangkan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang memiliki banyak harta benda. Kejadian tersebut sama seperti yang terjadi di Devadhamma-Jātaka di bagian sebelumnya. “Apakah laporan tersebut benar, Bhikkhu,” tanya Sang Guru, “bahwa engkau mempunyai banyak benda?”

“Benar, Bhante.”

“Mengapa engkau harus memiliki banyak benda?” Tanpa mendengar lebih lanjut, bhikkhu itu menarik lepas jubah yang dipakainya, berdiri telanjang di hadapan Sang Guru, berteriak, “Saya akan pergi dalam keadaan seperti ini!”

“Oh, dasar tidak tahu malu!” seru setiap orang yang ada di sana. Lelaki tersebut berlari pergi dan kembali menempuh kehidupan sebagai perumah tangga dengan tingkatan yang rendah. Saat berkumpul di Balai Kebenaran, para bhikkhu membicarakan kelakuannya yang tidak layak di hadapan Sang Guru. Saat itu, Sang Guru masuk ke dalam ruangan dan menanyakan topic pembicaraan mereka. “Bhante,” jawab mereka, “kami sedang membicarakan ketidakpantasan sikap bhikkhu itu, tepat di hadapan-Mu dan empat kelompok siswa-Mu, ia kehilangan rasa malunya sehingga berdiri telanjang seperti seorang anak kampung yang miskin. Melihat dirinya tidak disukai siapa pun, ia kembali ke tingkat yang lebih rendah dan kehilangan keyakinannya.”

Sang Guru menjawab, “Para Bhikkhu, ini bukan satu-satunya kehilangan yang terjadi karena ia tidak memiliki rasa malu; di kehidupan yang lampau, ia kehilangan seorang istri yang berharga, sama seperti ia kehilangan sebuah keyakinan yang berharga di saat sekarang ini.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Dahulu kala, di awal sejarah kehidupan, hewan-hewan berkaki empat memilih singa menjadi raja mereka, para ikan memilih ikan raksasa Ānanda menjadi raja ikan, dan burung-burung memilih angsa emas sebagai raja burung. Raja angsa emas memiliki anak perempuan yang sangat elok. Sang raja selalu mengabulkan setiap permintaan yang ia sampaikan. Dan ia meminta kesempatan untuk memilih suaminya sendiri. Dalam memenuhi permintaan tersebut, raja mengumpulkan semua jenis burung yang ada di Himalaya. Berbagai jenis burung datang, demikian juga dengan angsa, merak dan jenis burung lainnya; mereka berkumpul di sebuah dataran tinggi dari sebuah lempengan batu yang besar. Raja meminta putrinya untuk pergi ke sana dan memilih suami sesuai keinginannya. Saat mengamati kawanan burung itu, matanya bersinar melihat burung merak dengan hiasan leher yang berkilau dan bulu ekor dari berbagai macam warna. Ia memilih burung merak tersebut, berkata, “Biar dia yang menjadi suamiku.” Kawanan burung yang sedang berkumpul itu mendekati burung merak itu dan berkata, “Merak sahabat kami, putri raja, dalam memilih seorang calon suami di antara semua burung yang ada di sini, telah menjatuhkan pilihannya padamu.”

Terbawa oleh rasa gembira, ia berseru, “Sebelum hari ini, kalian tidak pernah mengetahui betapa aktifnya saya;” dan bertentangan dengan semua batas kesopanan, ia mengembangkan sayapnya dan mulai menari; — saat menari itulah ia tidak menutupi dirinya.

Merasa malu, raja angsa emas berkata, “Burung ini tidak memiliki kerendahan hati dalam dirinya, juga tidak memiliki pembawaan yang sopan; saya tidak akan menyerahkan putriku kepada burung yang demikian tidak tahu malunya.” Di tengah-tengah kawanan burung yang sedang berkumpul, raja angsa emas itu mengulangi syair berikut ini : —

Sebuah pemandangan yang menyenangkan dengan melihatmu, dengan bagian ekor yang elok. Sebuah leher dengan warna seperti Lapis Lazuli. Rentangan bulu-bulumu mencapai jarak hingga satu byāma. Bersama itu, tarianmu menjatuhkan dirimu, Anakku.

Di hadapan semua burung yang sedang berkumpul, raja angsa emas menyerahkan putrinya pada seekor angsa muda yang masih merupakan keponakan raja. Merasa malu karena kehilangan putri raja angsa emas tersebut, burung merak itu segera bangkit dan terbang meninggalkan tempat tersebut. Raja angsa emas juga meninggalkan tempat tersebut kembali ke tempat tinggalnya.

____________________

“Demikianlah, Para Bhikkhu,” kata Sang Guru, “ini bukan pertama kalinya ia melanggar kesopanan yang membuat ia akhirnya menderita kerugian; seperti sekarang ini, ia kehilangan keyakinan yang berharga, di kehidupan yang lampau, ia kehilangan seorang istri yang sangat berharga.” Setelah menyelesaikan uraian tersebut, Beliau mempertautkan dan menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu yang memiliki sejumlah harta benda itu adalah burung merak di masa itu dan Saya sendiri adalah raja angsa emas tersebut.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: