KAPOTA-JĀTAKA

 

“Orang keras kepala,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang serakah. Keserakahannya akan berhubungan dengan Buku Kesembilan, dalam Kāka-Jātaka. Pada kesempatan ini para bhikkhu menyampaikan kepada Sang Guru, dengan berkata,“Bhante, bhikkhu ini sangat serakah.”

Sang Guru bertanya, “Benarkah apa yang dikatakan mereka, Bhikkhu, bahwa engkau sangat serakah?”

“Benar, Bhante,” jawabnya.

“Demikian juga di kehidupan yang lampau, Bhikkhu, engkau serakah dan karena keserakahanmu, engkau kehilangan nyawa, juga menyebabkan ia yang bijaksana dan penuh kebaikan kehilangan tempat tinggal.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor burung dara. Penduduk Benares di masa itu, menunjukkan kebaikan mereka dengan menggantungkan keranjang jerami di berbagai tempat sebagai tempat berlindung dan bersenang-senang bagi burung-burung; juru masak dari seorang saudagar besar di Benares juga menggantungkan keranjang di dapurnya. Dalam keranjang inilah Bodhisatta tinggal, ia pergi keluar di pagi hari untuk mencari makan dan kembali lagi di sore hari; seperti itulah rutinitas kehidupannya.

Suatu hari, seekor gagak masuk ke dalam dapur, ia mencium harum garam dan ikan serta daging segar di sana, gagak itu dipenuhi oleh keinginan untuk mencicipinya. Sambil mencari cara untuk memenuhi keinginannya, ia bertengger di sekitar dapur, dan saat hari telah sore, ia melihat Bodhisatta pulang dan masuk ke dalam dapur. “Aha!” pikirnya, “akan saya lakukan melalui burung dara itu.” Keesokan harinya ia kembali di saat hari masih subuh. Saat Bodhisatta keluar untuk mencari makanan, ia mengikutinya dari satu tempat ke tempat yang lain seakan ia adalah bayangannya. Melihat itu, Bodhisatta bertanya, “Mengapa engkau mengikutiku terus, Teman?”

“Tuanku,” jawab gagak itu, “tingkah lakumu membuatku sangat kagum; karena itu aku mengikutimu.”

“Namun jenis makanan kita berbeda,” jawab Bodhisatta, “engkau akan menemui kesulitan jika mengikatkan diri kepada saya.”

“Tuanku,” kata gagak tersebut, “saat engkau mencari makananmu, aku juga akan makan, dengan tetap berada di sisimu.”

“Baiklah jika itu yang engkau inginkan,” jawab Bodhisatta; “Hanya saja, engkau harus bersungguh-sungguh.” Setelah memberikan nasihat kepada gagak tersebut, Bodhisatta bergerak ke sana kemari mematuk bibit-bibit rumput, sementara burung yang satu lagi membalikkan kotoran sapi dan mematuk serangga yang berada di bawah kotoran itu hingga ia kenyang. Setelah itu, ia kembali ke sisi Bodhisatta dan berkata, “Tuanku, engkau menghabiskan begitu banyak waktu untuk makan; hal-hal yang berlebihan harus dihentikan.”

Saat Bodhisatta telah selesai makan dan tiba kembali ke rumahnya di sore hari, gagak itu ikut terbang bersamanya ke dalam dapur tersebut.

“Burung kita membawa seekor burung lain kembali bersamanya,” seru juru masak itu, ia kemudian menggantungkan keranjang kedua untuk gagak tersebut. Mulai hari itu, kedua burung itu tinggal bersama di dapur tersebut.

Suatu hari, sang saudagar menempatkan ikan-ikan, yang digantung oleh koki di dapur. Dipenuhi oleh keserakahan saat melihat ikan-ikan itu, gagak memutuskan untuk menyuguhi dirinya dengan makanan yang lezat tersebut. Maka sepanjang malam ia berbaring sambil merintih.

Paginya, ketika Bodhisatta akan pergi mencari makan, ia berseru, “Mari, Gagak temanku.” Gagak itu menjawab, “Pergilah tanpa aku, Tuan. Aku sakit perut.”

“Teman,” jawab Bodhisatta, “sebelum ini saya tidak pernah mendengar ada gagak yang sakit perut. Benar, gagak menderita pusing setiap tiga kali jaga malam; namun jika mereka makan sebuah sumbu pelita, rasa lapar mereka akan reda saat itu juga. Engkau pasti mengincar ikan di dapur ini. Ikutlah bersama saya sekarang, makanan manusia tidak cocok untuk dirimu. Jangan bertingkah seperti ini. Ikutlah dan cari makanan bersamaku.”

“Sungguh, aku tidak mampu, Tuan,” jawab gagak itu.

“Baiklah, perbuatanmu sendiri yang akan membuktikannya,” kata Bodhisatta. “Hanya saja, jangan menjadi korban keserakahan, tetaplah bertahan.” Setelah memberikan nasihat tersebut, ia terbang pergi untuk mencari makanan seperti biasa.

 

Sang juru masak mengambil beberapa jenis ikan, membumbui beberapa ekor ikan dengan satu cara dan ikan lainnya dengan cara yang berbeda. Ia mengangkat tutup pancinya agar uap panas bisa keluar, kemudian meletakkan saringan di atas salah satu panci itu. Setelah itu, ia melangkah keluar dari pintu dapur, berhenti di sana untuk menyeka keringat dari dahinya. Pada saat itu, kepala gagak itu muncul dari keranjang, pandangan sekilas itu memberitahukannya bahwa juru masak itu sedang tidak berada di dalam ruangan. “Sekarang atau tidak sama sekali,” pikirnya, “saatku untuk bertindak. Pertanyaan satu-satunya adalah apakah saya harus memilih daging cincang atau satu potongan yang besar?” Ia berdebat sendiri bahwa akan dibutuhkan waktu yang lama untuk kenyang jika ia memilih daging cincang, ia memutuskan untuk mengambil satu potong besar daging ikan, kemudian duduk dan makan di dalam keranjangnya. Ia terbang keluar dari keranjang dan hinggap di atas saringan. Suara ‘klik’ terdengar dari saringan itu. “Bunyi apa itu?” tanya sang juru masak dan berlari masuk saat mendengar suara tersebut. Melihat gagak itu, ia berteriak, “Oh, gagak jahat ini ingin mengambil makanan majikanku. Saya bekerja untuk majikan saya, bukan untuk penjahat ini! Apalah gunanya ia bagiku?” Pertama-tama ia menutup pintu, lalu menangkap gagak itu dan mencabuti semua bulu dari badan gagak tersebut. Kemudian, ia menumbuk jahe dengan garam dan sejenis buah, mencampurnya dalam susu asam – terakhir ia merendam gagak itu dalam asinan tersebut dan melemparkannya kembali ke dalam keranjangnya.

Gagak itu terbaring di dalam keranjang sambil merintih, dikuasai oleh penderitaan hebat dari rasa sakitnya. Sore harinya, Bodhisatta kembali dan melihat kondisigagak yang menyedihkan itu. “Ah, Gagak yang serakah,” ia berseru, “engkau tidak mau mendengar nasihatku, sekarang, keserakahanmu telah membawa kesengsaraan bagimu.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengulangi syair berikut ini :

Orang keras kepala, yang pada saat dinasihati memberikan ketidakacuhan pada teman-teman yang berbaik hati memberikan nasihat, pasti akan binasa, seperti gagak yang serakah itu, yang tertawa untuk mencemooh peringatan burung dara.

Kemudian ia berseru, “Saya tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini,” Bodhisatta terbang meninggalkan tempat tersebut. Gagak tersebut mati di sana pada saat itu juga. Juru masak tersebut kemudian melemparkan gagak, keranjang dan semuanya ke dalam tumpukan sampah.

____________________

Sang Guru berkata, “Engkau serakah, Bhikkhu, di kehidupan yang lampau, sama seperti saat ini; Karena keserakahanmu, ia yang bijaksana dan penuh kebaikan di masa itu kehilangan tempat tinggalnya.” Setelah menyelesaikan uraian-Nya, Sang Guru membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Di akhir khotbah, bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian Anāgāmi. Sang Guru kemudian mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran itu sebagai berikut:—“Bhikkhu yang serakah ini adalah burung gagak itu dan Saya sendiri adalah burung dara.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: