SAṀKHADHAMANA JĀTAKA

pict source

 

“Jangan bertindak keterlaluan,”dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu lain yang juga merupakan orang yang bertindak

sesuka hatinya. Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang peniup terompet yang pergi ke Benares bersama ayahnya dalam suatu pesta rakyat. Di sana ia mendapatkan sejumlah uang dengan meniup terompet, kemudian memulai perjalanan pulang kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan melewati sebuah hutan yang dikuasai oleh para perampok, ia memperingati ayahnya untuk tidak meniup terompet lagi, namun orang tua itu berpikir ia lebih tahu bagaimana cara menjauhkan para perampok, ia meniup terompet sekuat tenaga tanpa berhenti. Karena itu, sama dengan kisah sebelum ini, para perampok kembali lagi dan merampas uang mereka. Seperti kisah sebelumnya, Bodhisatta mengulangi syair berikut ini : —

Jangan bertindak keterlaluan, belajarlah untuk tidak

melakukan sesuatu secara berlebihan;

Karena meniup terompet secara berlebihan

menyebabkan kehilangan atas apa yang (tadi) diperoleh

dari meniup terompet.

___________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu yang selalu bertindak sesuka hati ini adalah ayah di masa itu, dan Saya sendiri adalah anak lelaki tersebut.”

 

Sumber: ITC, Jataka Vol I

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: