DURĀJĀNA-JĀTAKA

source

“Anda berpikir,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang upasaka (upāsaka, umat awam pria). Menurut kisah yang disampaikan secara turun-temurun, ada seorang upasaka yang tinggal di Sawatthi, yang berlindung kepada Ti Ratana (Tiga Mestika, yang terdiri dari Buddha, Dhamma, dan Sanggha) dan (teguh menjalankan) lima latihan moralitas; ia adalah pengagum Buddha, Dhamma, dan Sanggha yang sangat taat, tetapi istrinya adalah seorang wanita yang bejat dan jahat. Bila telah berbuat salah, ia menjadi penurut seperti seorang budak wanita yang dibeli dengan seratus keping uang; sementara bila tidak berbuat salah, ia bertingkah seperti seorang nyonya besar, penuh nafsu jahat dan kejam. Suaminya tidak bisa menyadarkannya. Ia begitu mengkhawatirkan istrinya sehingga tidak pergi mengunjungi Buddha Yang Mahamulia.

Suatu hari, ia pergi dengan (membawa persembahan berupa) wewangian dan bunga, mengambil tempat duduk setelah memberikan penghormatan. Sang Guru berkata kepadanya, “Beritahukanlah, Upasaka, mengapa tujuh hingga delapan hari ini Anda tidak datang berkunjung?” “Istri saya, Bhante, satu hari bersikap seperti seorang budak wanita yang dibeli seharga seratus keping uang, sementara hari yang lain bertingkah seperti nyonya besar yang penuh nafsu jahat dan kejam. Saya tidak bisa menyadarkannya; karena itu ia membuat saya khawatir, sehingga saya tidak datang berkunjung.”

Mendengar kata-kata itu, Sang Guru berkata, “Mengapa, Upasaka, bukankah Anda telah diberitahu oleh ia yang bijaksana dan baik pada kehidupan yang lampau bahwa sangat sulit untuk memahami sifat dasar wanita,” dan beliau menambahkan, “tetapi jalan hidupmu yang lampau telah dikacaukan dalam pikiranmu, sehingga Anda tidak bisa mengingatnya lagi.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Pada suatu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang guru yang sangat terkenal, dengan lima ratus orang brahmana muda di bawah asuhannya. Salah seorang siswanya adalah seorang brahmana muda dari negeri asing, yang jatuh cinta kepada seorang wanita dan menikahi wanita tersebut. Walaupun menetap di Benares, ia tidak mengunjungi gurunya sebanyak dua atau tiga kali. Perlu diketahui, istrinya adalah seorang wanita yang bejat dan jahat, yang menjadi penurut seperti seorang budak bila ia telah berbuat salah; tetapi bila tidak berbuat salah, ia bertingkah seperti seorang nyonya besar yang penuh nafsu jahat dan kejam.

Suaminya sama sekali tidak bisa menyadarkannya; karena begitu khawatir dan terganggu akan keadaan istrinya, ia tidak mengunjungi gurunya. Setelah tujuh hingga delapan hari berlalu, ia mulai hadir kembali, dan ditanya oleh Bodhisatta mengapa ia tidak terlihat belakangan ini.

“Guru, penyebabnya adalah istri saya,” katanya. Ia kemudian menyampaikan kepada Bodhisatta bagaimana satu hari istrinya bersikap begitu penurutnya seperti seorang budak wanita, dan kejam keesokan harinya; bagaimana ia tidak bisa menyadarkannya sama sekali, bagaimana khawatirnya dia dan juga terganggu akan pergantian suasana hati istrinya sehingga ia tidak berkunjung.

“Memang begitulah, Brahmana Muda,” kata Bodhisatta, “bila mereka telah berbuat salah, wanita merendahkan diri mereka di hadapan suaminya dan menjadi penurut serta patuh seperti seorang budak wanita; tetapi bila mereka tidak berbuat salah, mereka menjadi keras kepala dan tidak patuh pada suami mereka. Karena perilaku inilah wanita dikatakan bejat dan jahat; dan sifat dasar mereka juga sulit untuk dipahami. Tidak ada yang perlu diperhatikan terhadap kesukaan mereka maupun ketidaksukaan mereka.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Bodhisatta mengulangi syair ini untuk peneguhan batin siswanya : —

Anda berpikir seorang wanita mencintaimu? — janganlah

Merasa gembira.

Anda berpikir ia tidak mencintaimu? — hindari diri dari

Kesedihan.

Tidak bisa diketahui, tidak pasti seperti jejak

Ikan-ikan di dalam air, inilah kenyataan wanita.

Demikianlah petunjuk Bodhisatta kepada siswanya, yang sejak saat itu tidak mempedulikan perubahan pikiran istrinya yang tanpa sebab. Dan istrinya, yang mendengar kalau perilakunya yang buruk telah sampai ke telinga Bodhisatta, sejak saat itu juga menghentikan semua kelakuannya yang buruk.

____________________

Demikian juga istri upasaka ini berkata kepada dirinya sendiri, “Buddha Yang Mahasempurna telah mengetahui, kata orang-orang kepadaku, mengenai kelakuanku yang buruk.” Sejak saat itu ia tidak melakukan kejahatan lagi. Setelah uraiannya berakhir, Sang Guru membabarkan Dhamma; dan pada akhir khotbah, upasaka itu memenangkan buah kesucian pertama (Sotāpatti-phala) . Kemudian Sang Guru mempertautkan dan menjelaskan tentang kelahiran tersebut, “Suami istri ini juga adalah suami istri pada kehidupan lampau, dan saya sendiri adalah guru tersebut.”

 

Sumber: ITC, Jataka 1

Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: