Riwayat Hidup Maha Kaccana (1)

Daftar Isi
1. Pendahuluan i
2. Latar Belakang Kehidupan 5
3. Kaccana Menjadi Siswa Buddha 10
4. Beragam Kejadian 17
5. Penjabar Khotbah Ringkas 25
6. Ajaran Lain dari Maha Kaccana 50
7. Syair-Syair Theragatha 61
8. Penafsiran Risalah 66

 

Prawacana Penerbit
Hari peringatan Waisak telah tiba, di bulan Waisak ini kita
memperingati 3 peristiwa bersejarah bagi seluruh umat
Buddha. Pertama adalah kelahiran Pangeran Siddharta
Gautama di dunia ini, kemudian pencapaian sempurna oleh
Pertapa Gautama menjadi seorang Buddha dan terakhir adalah
parinibbana-nya Sang Buddha. 3 peristiwa ini merupakan
peristiwa-peristiwa yang luar biasa yang menjadi waktu yang
sangat tepat bagi kita semua untuk merefleksikan diri kita
sendiri. Peristiwa-peristiwa tersebut mengandung berbagai
nilai-nilai yang berharga bagi kehidupan seperti sejauh
mana kita telah menjalani kehidupan ini sebagai manusia,
apakah kita telah menapaki jalan yang benar seperti jalan
yang diajarkan oleh Sang Guru kita menuju pulau seberang
ataukah kita masih tetap terus berkutat di alam yang penuh
dengan dukkha ini.
Untuk membantu kita mengingat kembali jalan yang diajarkan
oleh Sang Buddha, kita dapat mencoba memahami kembali
Ajaran yang telah diajarkan oleh Sang Buddha. Melalui tulisan
dari Bhikkhu Bodhi dengan judul ”RIWAYAT HIDUP MAHA
KACCANA Yang Terkemuka dalam Pembabaran Ajaran
yang Terperinci”, kita dapat mencoba mengenal lebih dalam
mengenai sosok dari salah seorang dari siswa Sang Buddha
yaitu Y.A. Maha Kaccana yang dikenal sebagai siswa sang
Buddha yang terkemuka dalam pembabaran Ajaran. Melalui

tulisan dari Bhikkhu Bodhi yang telah kami sajikan ke dalam
bentuk buku ini, kami berharap dapat membantu kita semua
untuk kembali mengingat keindahan Dhamma yang diajarkan
oleh Sang Buddha.
Kami berharap dengan hadirnya buku ini ke ruang baca Anda,
peringatan 3 peristiwa berharga bagi seluruh umat Buddha ini
akan menjadi lebih bermakna. Meskipun peristiwa tersebut
telah berlalu lebih dari 2500 tahun, tetapi makna dari setiap
peristiwa itu sebaiknya akan terus kita renungkan sehingga
kita semua dapat mecapai ke pulau seberang dan terlepas
dari 3 akar kejahatan yang ada di dunia ini.
Selaku penerbit kami ingin menyampaikan ucapan terima
kasih dan anumodana kepada Bhikkhu Bodhi selaku
penulis dari naskah ini. Tak lupa juga kami ucapkan terima
kasih dan anumodana kepada Sdr. Seng Hansen yang telah
menerjemahkan naskah Maha Kaccana ini dan kepada
Sdr. Seng Hansun yang telah bersedia menjadi editor buku
ini. Terima kasih kasih dan anumodana juga kepada para
donatur, karena tanpa Anda buku ini tidak akan terbit serta
kepada para pembaca karena tanpa Anda, buku ini hanya
akan menjadi sebuah buku yang tidak bermakna.
Selamat memperingati hari waisak 2554
Terima kasih atas perhatiannya.
Semoga Anda selalu berbahagia.
Semoga semua makhluk selalu hidup berbahagia.

Manajer Produksi Buku
Lisa

 

1. Pendahuluan
Sebagai seorang guru yang ahli dan cakap dalam penguasaan
teknik-teknik pengajaran, sang Buddha menerapkan gaya
mengajar yang berbeda-beda dalam menjelaskan Dhamma
kepada murid-muridnya. Kerapkali Beliau akan menjelaskan
sebuah ajaran secara mendetail (vittharena). Setelah
memperkenalkan topik ajaran yang hendak disampaikan
dengan sebuah pernyataan ringkas, yang secara teknis disebut
uddesa atau sinopsis, Beliau kemudian akan memberikan
penjabaran yang lebih mendetail, niddesa, atau disebut juga
analisis, vibhanga. Pada tahapan pembabaran ini, Beliau
akan membagi subyek yang telah diperkenalkan melalui
sinopsis menjadi beberapa komponen bagian, menjelaskan
setiap bagian secara berurutan, dan menarik kesimpulan
dari bagian-bagian itu, terkadang dengan menambahkan
sebuah perumpamaan untuk menggambarkan pesan dari
pembabaran yang diberikannya. Dan pada akhirnya, Beliau
akan mengulang kembali pernyataan pembukanya sebagai
suatu kesimpulan penutup (niggamana), yang sekarang telah
didukung sepenuhnya oleh analisis sebelumnya.
Namun pada beberapa kesempatan lainnya, sang Buddha tidak
akan mengajarkan sesuatu secara mendetail. Malahan Beliau
akan memberikan Dhamma secara ringkas (sankhittena),
hanya menjelaskan sekilas, terkadang bahkan terasa samarsamar,
penyataan yang mendalam namun sarat dengan

makna yang sangat tinggi. Sang Buddha tidak mengajarkan
Ajaran dengan cara seperti ini guna membungkus suatu
pesan batin atau karena Beliau senang akan kerahasiaan
(obscurantism). Beliau menggunakan teknik ini karena
terkadang teknik ini terbukti merupakan sarana yang lebih
efektif dalam mengguncang dan mengubah pikiran para
pendengarnya daripada dengan memberikan penjelasan
panjang lebar secara mendetail. Walaupun penjelasan yang
diberikan secara langsung dapat mengirimkan informasi
dengan lebih cepat, metode seperti ini bisa saja tidak
memberikan efek yang tahan lama dan mendalam yang
dibutuhkan Dhamma agar tertanam kuat. Tetapi dengan
mendorong murid-muridnya untuk merenungkan makna
dan mencoba mencarinya dengan penyelidikan mendalam
secara terus-menerus, demikian juga dengan berdiskusi,
sang Buddha memastikan bahwa pada saat murid-muridnya
akhirnya memahami pernyataannya, pesan tersebut akan
merasuk dalam ke relung pikiran murid-muridnya.
Manakala khotbah-khotbah ringkas seperti itu akan
sulit dipahami oleh sebagian besar bhikkhu-bhikkhuni,
para siswa yang telah matang dengan pengertian dan
kebijaksanaan yang tajam akan dapat memahami makna
dari khotbah ringkas tersebut. Pada saat semacam itulah,
para bhikkhu biasa (ed. belum mencapai tingkat kesucian)
yang tidak ingin mengganggu Guru mereka (Buddha) dengan
meminta penjelasan lebih jauh mengenai khotbah-khotbah
ringkas tersebut, akan mencari senior-senior mereka yang
kemampuan pemahaman Dhamma-nya telah dinyatakan oleh
sang Buddha. Betapa pentingnya fungsi ini dalam komunitas
awal Sangha sehingga sang Buddha sendiri membangun,
dalam tingkatan murid-muridnya yang paling cemerlang,

suatu kategori tersendiri yang disebut “Yang terkemuka di
antara mereka yang mampu menganalisa secara terperinci
makna dari apa yang telah dinyatakan (olehku) secara
ringkas” (aggam sankhittena bhasitassa vittharena attham
vibhajantanam). Bhikkhu yang memeroleh posisi kehormatan
itu adalah Yang Mulia Maha Kaccana – Kaccana yang Mulia,
demikian beliau dipanggil untuk membedakannya dengan
yang lainnya yang memiliki nama marga brahmana yang
sama dari Kaccayana (disingkat menjadi Kaccana) .
Setelah penahbisannya menjadi seorang bhikkhu, Yang Mulia
Maha Kaccana biasanya berdiam di kampung halamannya
di Avanti, sebuah daerah terpencil di barat daya Kerajaan
Tengah tempat dimana sang Buddha menetap, dan oleh
karenanya beliau tidak menghabiskan banyak waktu bersama
sang Buddha sebagaimana yang dapat dilakukan oleh siswasiswa
utama lainnya, seperti Sariputta, Maha Moggallana,
dan Ananda. Untuk alasan ini, kami tidak dapat menemukan,
di dalam catatan Sutta Pitaka, bahwa figur Yang Mulia
Maha Kaccana menjadi sosok yang berpengaruh di dalam
komunitas Sangha dan sebagai perwakilan Buddha seperti
para sesepuh lain yang sudah disebutkan sebelumnya.
Meskipun demikian, berkat kepiawaian kemampuan
intelektualnya, kemampuannya dalam memahami
Dhamma, dan kemampuannya sebagai seorang pembicara,
kapanpun Maha Kaccana mendampingi sang Buddha untuk
selang waktu beberapa lama, para bhikkhu lain kerapkali
mengunjunginya untuk meminta penjelasan makna dari
khotbah-khotbah ringkas sang Buddha yang telah membuat
mereka pusing tujuh keliling. Hasilnya, kami menemukan
dalam kitab Pali, sekumpulan khotbah yang disampaikan

oleh Yang Mulia Maha Kaccana yang menempati posisi yang
penting. Naskah-naskah ini, selalu disusun dengan urutan dan
analisis yang tepat, menunjukkan dengan kejernihan yang
luar biasa implikasi-implikasi yang luas dan arti-arti praktis
dari beberapa pernyataan ringkas Sang Buddha; yang apabila
tanpa penjelasannya, luput dari pemahaman kita.

————————

2. Latar Belakang
Kehidupan
Sebagaimana halnya pada kasus semua siswa-siswa utama
Sang Buddha, kedudukan terkemuka Yang Mulia Maha Kaccana
di dalam Sangha merupakan buah dari benih perbuatan yang
sudah ditaburnya jauh di masa kehidupan lampau melalui
siklus kelahiran berulang-ulang di alam samsara , lingkaran
kelahiran lagi, dan telah dimatangkan melalui kehidupan
yang tak terhitung banyaknya. Perkiraan riwayat hidup
Maha Kaccana mengisahkan aspirasi awal beliau untuk
memegang peranan penting di dalam komunitas Sangha.
Menurut catatan, aspirasi ini telah dibuat 100.000 kalpa di
masa lampau, selama masa kehidupan Buddha Padumuttara.
Pada saat itu, Kaccana terlahir di dalam sebuah keluarga yang
kaya raya. Pada suatu hari beliau pergi mendengar khotbah

sang Buddha dan pada saat itulah, ketika khotbah diberikan,
Buddha Padumuttara memberi gelar pada seorang bhikkhu
sebagai Yang Terkemuka di antara mereka yang mampu
menganalisis secara mendetail apa yang telah dinyatakan
olehnya secara ringkas. Sang pemuda perumah tangga ini
begitu terpesona pada bhikkhu yang diberikan gelar tersebut
dan berpikir dalam dirinya: “Betapa mulianya bhikkhu
tersebut, sehingga Guru Agung memujinya sedemikian tinggi.
Aku bertekad untuk mencapai kedudukan serupa pada masa
kehidupan Buddha yang akan datang.”
Tetapi untuk mencapai kedudukan mulia semacam itu,
hanya dengan kebulatan tekad saja tentu tidaklah cukup.
Aspirasi ini harus didukung pula dengan dasar perbuatanperbuatan
bajik. Oleh karenanya sang pemuda mengundang
Guru Agung untuk menerima dana makanan di rumahnya,
dan selama seminggu penuh ia menyediakan persembahan
mewah bagi Buddha dan siswa-siswanya. Pada hari terakhir
dia bersujud di hadapan kaki sang Buddha dan menyuarakan
keinginan hatinya: “Yang Mulia, atas jasa-jasa persembahan
ini saya tidak mengharapkan pencapaian yang lain selain ini:
bahwa di masa mendatang, pada masa kehidupan seorang
Buddha, saya dapat mencapai kedudukan yang sama seperti
kedudukan seorang bhikkhu mulia yang telah Anda berikan
minggu lalu.”
Kemudian Buddha Padumuttara, melihat ke masa mendatang
dengan pengetahuannya yang tak terbatas sebagai seorang
Yang Telah Sepenuhnya Mencapai Penerangan Sempurna,
melihat bahwa aspirasi sang pemuda akan terpenuhi.
Beliau berkata padanya: “Anak muda, di masa mendatang,
saat 100.000 kalpa telah berlalu, seorang Buddha bernama
Gotama akan muncul di dunia. Pada masa kehidupannya

inilah engkau akan menjadi Yang Terkemuka di antara mereka
yang mampu menganalisis secara mendetail makna dari apa
yang telah dinyatakan oleh sang Buddha secara ringkas.”
Bagian Apadana menjelaskan bahwa di masa kehidupan ini
pula, Kaccana telah membangun sebuah stupa bagi Buddha
Padumuttara dengan sebuah kursi batu yang dilapisi dengan
emas. Dia menghiasi stupa tersebut dengan taburan permata
dan sebuah kipas hiasan . Menurut catatan di atas, setelah
dia memberikan persembahan inilah Buddha Padumuttara
meramalkan pencapaiannya di masa mendatang sebagai salah
seorang siswa utama di masa kehidupan Buddha Gotama. Di
dalam ramalan ini, sang Buddha juga memberikan ramalan
lain berkaitan dengan kehidupan Kaccana selanjutnya di
alam samsara, yang dari perspektif kita sekarang berarti
kehidupan lampau Kaccana. Sang Buddha mengatakan
bahwa sebagai buah dari pemberian-pemberian bajiknya,
sang pemuda akan menjadi raja para dewa (devinda) selama
tiga puluh kalpa, memerintah para dewa lainnya. Setelah
kembali ke alam manusia, dia akan menjadi seorang raja
dunia (cakkavatti-raja) bernama Pabhassara, yang dari
tubuhnya akan memancarkan sinar terang benderang ke
seluruh penjuru dunia. Dia akan menghabiskan kehidupannya
selanjutnya hingga kehidupan yang terakhir di alam surga
Tusita, dan setelah meninggal dari sana, dia akan terlahir di
dalam sebuah keluarga brahmana bermarga Kaccana. Pada
masa kehidupan itulah, dia akan mencapai tingkat kesucian
Arahat dan ditunjuk sebagai salah seorang siswa utama oleh
sang Buddha.
Bagian selanjutnya dari Apadana memberikan suatu catatan
yang agak berbeda mengenai aspirasi awal Maha Kaccana

untuk menjadi siswa utama . Menurut versi ini, pada masa
kehidupan Buddha Padumuttara, Kaccana adalah seorang
pertapa yang hidup mengasingkan diri di pegunungan
Himalaya. Pada suatu hari, ketika sedang mengembara di
udara dengan kemampuan batinnya, dia melintasi sebuah
daerah padat penduduk dan melihat Sang Pemenang di
bawah sana. Dia turun dan berjalan mendekati Guru Agung
untuk mendengarkan Dhamma, dan dia mendengar sang
Buddha memuji salah seorang bhikkhu (yang juga bernama
Kaccana) sebagai Yang Terkemuka di antara mereka yang
mampu menjabarkan khotbah ringkas Buddha. Semenjak
itulah sang pertapa, terpukau oleh pertemuan tak terduga
itu, pergi kembali ke pegunungan Himalaya, mengumpulkan
rangkaian bunga, dan secepat kilat kembali ke tempat
pertemuan dan mempersembahkan rangkaian bunga
tersebut kepada Buddha. Pada saat itulah, dia membuat
aspirasi untuk menjadi Yang Terkemuka di antara penjabar
Dhamma di masa kehidupan Buddha yang akan datang.
Buddha Padumuttara kemudian meramalkan bahwa aspirasi
tersebut akan terpenuhi 100.000 kalpa kemudian, yakni
ketika Buddha Gotama muncul di dunia ini.
Di dalam syair-syair dari kisah yang sama, Maha Kaccana
menyatakan bahwa sebagai hasil dari persembahannya
kepada Buddha, dia tidak pernah terlahir di alam rendah – di
neraka, di alam binatang atau di alam setan – tetapi selalu
terlahir di alam para dewa atau manusia. Dan juga, ketika dia
terlahir di alam manusia, dia akan selalu terlahir di antara
dua kasta teratas – bangsawan atau brahmana – dan tidak

pernah terlahir di dalam keluarga berkasta rendah.
Salah satu kejadian penting, yang menentukan keunikan dari
penampilan seorang siswa utama pada kelahiran terakhirnya,
terjadi selama masa kehidupan Buddha Kassapa, yakni
Buddha sebelum Buddha Gotama. Pada masa kehidupan
Buddha Kassapa, Kaccana terlahir di dalam sebuah keluarga
di Benares. Setelah Buddha Kassapa mencapai Parinibbana ,
dia mempersembahkan bata emas yang sangat berharga
sebagai material untuk pembangunan stupa emas bagi sang
Buddha. Pada saat mempersembahkannya, dia membuat
pengharapan: “Kapanpun aku dilahirkan kembali, semoga
tubuhku selalu memiliki kulit berwarna emas.” Sebagai
hasilnya, ketika dia terlahir kembali di masa kehidupan
Buddha Gotama, tubuhnya diliputi kulit berwarna emas
yang indah, yang akan meninggalkan kesan mendalam bagi
siapapun yang melihatnya10. Pada kasus lain, yang akan kita
bahas di bawah (lihat halaman 23), ternyata penampilan fisik
sesepuh ini akan membawanya pada beberapa kejadian yang
tidak lazim.

 

Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: