Riwayat Hidup Maha Kaccana (2)

3. Kaccana Menjadi
Siswa Buddha
Di masa kehidupan terakhirnya, ketika Buddha Gotama telah
muncul di dunia ini, Kaccana terlahir sebagai putra dari
seorang pendeta kerajaan (purohita) di kota Ujjeni, ibu kota
Avanti, barat daya dari Kerajaan Tengah11. Ayahnya bernama
Tiritivaccha, ibunya bernama Candima12, dan mereka
bermarga Kaccayana, salah satu marga tertua dan paling
dihormati dalam silsilah brahmana. Oleh karena dia terlahir
dengan kulit berwarna emas di sekujur tubuhnya, orang
tuanya berkata bahwa dia telah membawa namanya sejak
lahir di dunia ini, dan mereka menamakannya “Kañcana,”
yang berarti “emas”. Sebagai seorang brahmana dan putra
dari pendeta kerajaan, Kañcana tumbuh besar dengan
mempelajari Tiga Veda13, naskah-naskah kuno suci bagi
para brahmana, dan setelah ayahnya meninggal dunia, dia
menggantikan posisi ayahnya sebagai pendeta kerajaan.
Raja Avanti pada saat Kaccana menjabat sebagai pendeta
adalah Candappajjota, atau Pajjota Yang Keji. Dia memeroleh

julukan ini karena tabiatnya yang bertemperamen kasar
dan sering meledak-ledak. Ketika Raja Candappajjota
mendengar bahwa sang Buddha telah muncul di dunia ini,
dia mengumpulkan para menterinya dan bertanya siapakah
di antara mereka yang layak pergi dan mengundang Buddha
untuk mengunjungi Ujjeni. Para menteri sepakat bahwa satusatunya
orang yang layak mengundang sang Buddha untuk
mengunjungi Avanti hanyalah pendeta Kaccana. Oleh karena
itu, raja kemudian memerintahkan Kaccana pergi guna
mengemban misi tersebut, tetapi Kaccana membuat sebuah
persyaratan yang harus dipenuhi oleh sang raja, yakni dia
akan pergi hanya jika dia diizinkan untuk menjadi seorang
bhikkhu setelah bertemu dengan sang Bhagava. Sang Raja,
yang telah siap dengan persyaratan apapun demi bertemu
dengan Tathagata, memberikan persetujuannya.
Kaccana pergi ditemani oleh tujuh punggawa kerajaan lainnya.
Saat mereka bertemu dengan Guru Agung, beliau mengajarkan
mereka Dhamma, dan pada akhir khotbah tersebut, Kaccana
bersama dengan tujuh rekan yang menyertainya semua
mencapai tingkat kesucian Arahat bersamaan dengan empat
pengetahuan analitis (patisambhida-ñana). Sang Buddha
kemudian dengan sederhana memberikan penahbisan bagi
mereka ke dalam Sangha dengan kata-kata, “Kemarilah, para
bhikkhu14.”
Sang bhikkhu baru, sekarang bernama Yang Mulia Maha
Kaccana, kemudian mulai memuji keindahan Ujjeni kepada
Buddha. Guru Agung menyadari bahwa sang murid baru

menginginkan dirinya untuk pergi mengunjungi tanah
asalnya, tetapi sang Buddha menjawab bahwa sudah cukup
bila Kaccana pergi sendiri ke sana, mengingat dia sudah
mampu mengajarkan Dhamma dan menumbuhkan keyakinan
di dalam diri Raja Candappajjota.
Dalam perjalanan pulang ke kota asal mereka, kelompok
bhikkhu tersebut tiba di sebuah kota bernama Telapanali,
tempat dimana mereka berhenti untuk mengumpulkan
dana makanan. Di kota tersebut hiduplah dua orang gadis,
anak perempuan dari keluarga saudagar yang berbeda.
Salah satu gadis tersebut memiliki paras yang cantik dengan
rambut panjang yang indah, tetapi kedua orang tuanya
sudah tiada dan dia hidup dalam kemiskinan bersama
dengan pengasuhnya. Gadis lainnya hidup kaya raya tetapi
karena suatu penyakit, dia kehilangan rambutnya. Berulang
kali dia mencoba membujuk si gadis miskin untuk menjual
rambutnya sehingga dia bisa membuat sebuah rambut palsu,
tetapi si gadis miskin terus menolak.
Sekarang, ketika si gadis miskin melihat Yang Mulia Maha
Kaccana dan para bhikkhu pengikutnya sedang berkeliling
mengumpulkan dana makanan, dengan mangkuk-mangkuk
yang kosong seolah-olah baru saja dicuci dan dibersihkan,
dia tiba-tiba merasakan munculnya dorongan keyakinan
dan rasa bakti yang mendalam terhadap para sesepuh itu,
dan ia memutuskan untuk memberikan persembahan dana
makanan bagi kelompok bhikkhu tersebut. Akan tetapi
karena dia tidak memiliki harta apapun, satu-satunya cara
dia dapat memeroleh uang untuk membeli persembahan
adalah dengan menjual rambutnya kepada si gadis yang
kaya raya. Kali ini, karena rambut yang dihantarkan kepada
si gadis kaya sudah dalam keadaan dipotong sebelumnya, dia

hanya membayar delapan koin. Dengan delapan koin ini si
gadis miskin mempersiapkan dana makanan bagi kedelapan
bhikkhu, menggunakan satu koin untuk setiap porsi. Setelah
dia mempersembahkan dananya, sebagai buah langsung dari
perbuatan baiknya, rambutnya tumbuh kembali sepanjang
dan seindah sedia kala.
Ketika Yang Mulia Maha Kaccana tiba kembali di Ujjeni,
dia melaporkan kejadian ini kepada Raja Candappajjota.
Sang Raja kemudian mengundang gadis miskin tersebut ke
istananya dan setelah pandangan pertama memutuskan
untuk menjadikannya sebagai permaisurinya. Semenjak saat
itu, raja menaruh rasa hormat yang mendalam pada Maha
Kaccana. Banyak orang di Ujjeni yang mendengarkan khotbah
sesepuh Kaccana kemudian memeroleh keyakinan terhadap
Dhamma dan memohon untuk menjadi bhikkhu di bawah
bimbingan beliau. Demikianlah seluruh kota (menurut bagian
komentar), berubah menjadi “kibaran jubah kuning dari para
pendeta suci yang hilir mudik”. Ratu yang memiliki rasa bakti
mendalam kepada sesepuh Maha Kaccana, membangun
sebuah kediaman di Taman Hutan Emas untuk beliau.
Demikianlah yang tertulis dalam bagian komentar Anguttara,
tetapi kitab Pali sendiri menyatakan bahwa Sangha belumlah
berkembang baik di Avanti sebagaimana yang dijelaskan
bagian komentar. Fakta ini dapat dicerna dari sebuah kisah
yang melibatkan Yang Mulia Maha Kaccana yang tertulis
dalam Mahavagga dari Vinaya Pitaka15.
Ketika kisah ini terjadi, sang sesepuh sedang berdiam di
Avanti di kediaman favoritnya, di Sarang Elang Laut di tebing

gunung. Seorang murid awam bernama Sona Kutikanna
datang menghadapnya dan menunjukkan keinginannya
untuk menjadi seorang bhikkhu di bawah bimbingan beliau.
Tetapi Kaccana, melihat bahwa sang umat awam belum siap
mengambil langkah besar seperti itu, menolaknya dengan
ucapan: “Sulit Sona, untuk tidur sendiri, makan sehari sekali,
dan menjalani kehidupan selibat seumur hidupmu. Saat
masih menjadi seorang umat perumah tangga, kamu harus
menerapkan ajaran sang Buddha, dan pada waktu-waktu
yang tepat, kamu dapat berlatih tidur sendiri, makan sehari
sekali, dan menjalani selibat.”
Dengan kata-kata ini, antusiasme Sona untuk menjadi
seorang bhikkhu lenyap. Tetapi beberapa waktu kemudian,
dorongan itu muncul kembali dan dia kembali mengunjungi
Yang Mulia Maha Kaccana dengan permohonan yang sama.
Untuk kedua kalinya, sang sesepuh menolak permohonan
tersebut dan untuk kedua kalinya keinginan Sona lenyap. Saat
Sona mengunjungi beliau untuk ketiga kalinya dan memohon
penahbisan sebagai bhikkhu, Maha Kaccana memberikan
penahbisan “dia yang pergi mencari perlindungan” (pabbajja),
yakni penahbisan awal sebagai seorang murid (samanera16).
Selama masa kehidupan Buddha Gotama, tampaknya sudah
menjadi kebiasaan bagi lelaki dewasa, yang telah memiliki
keyakinan terhadap Dhamma dan memahami ajaran, untuk
menerima kedua penahbisan dalam waktu yang singkat.
Penahbisan awal akan diberikan terlebih dahulu, dan setelah
itu upacara penahbisan yang lebih tinggi (upasampada) akan
dilaksanakan, menjadikan seorang calon bhikkhu sebagai
anggota penuh dari komunitas Sangha. Tetapi pada saat
kejadian di atas terjadi, di Avanti sendiri belum ada banyak

bhikkhu, jauh dari tempat pembabaran Dhamma sang Buddha
dan dari pusat-pusat kegiatan Buddhis lainnya. Menurut
peraturan disiplin yang masih berlaku, penahbisan yang lebih
tinggi dapat dilaksanakan dengan dihadiri oleh sekurangkurangnya
sepuluh bhikkhu (dasavagga-bhikkhusangha).
Namun pada saat itu di Avanti, Yang Mulia Maha Kaccana
tidak dapat dengan mudah menemukan sembilan bhikkhu
lainnya untuk memberikan penahbisan yang lebih tinggi
kepada Sona. Baru setelah tiga tahun kemudian, dengan
menemui banyak kesulitan dan masalah, beliau berhasil
mengumpulkan sepuluh bhikkhu dari berbagai tempat yang
berbeda untuk memberikan Sona penahbisan yang lebih
tinggi.
Ketika Yang Mulia Sona telah menyelesaikan retreat musim
hujan pertamanya sebagai seorang bhikkhu, muncul
keinginannya untuk memberikan penghormatan kepada sang
Buddha. Dia sudah sering mendengar pujian-pujian tertinggi
yang ditujukan kepada Buddha, sang guru dan pelindungnya,
tetapi dia sendiri belum pernah sekalipun melihat secara
langsung rupa gurunya, dan sekarang keinginan tersebut
menjadi begitu besar dan tidak tertahankan. Dia pergi
menghadap ke pembimbingnya untuk meminta izin
melakukan perjalanan jauh menuju Savatthi, tempat dimana
Buddha Gotama berdiam. Yang Mulia Maha Kaccana tidak
hanya mendukung keinginan muridnya untuk bertemu
sang Buddha, tetapi dia juga meminta Sona untuk bertanya
kepada Guru Agung mengenai sedikit kelonggaran peraturan
kebhikkhuan yang dapat diterapkan untuk kondisi sosial dan
geografis yang berbeda, seperti di Avanti dan di wilayah
perbatasan lainnya.
Saat Yang Mulia Sona bertemu sang Buddha dan menjelaskan

pertanyaan pembimbingnya, sang Buddha menyetujuinya.
Pertama, untuk menentukan wilayah mana yang dapat disebut
sebagai wilayah perbatasan, sang Buddha menentukan
batas-batas dalam Kerajaan Tengah, dimana peraturan
asli harus tetap dijalankan sama seperti sebelumnya.
Selanjutnya beliau menjelaskan versi peraturan revisi yang
dapat diterapkan di luar wilayah perbatasan, tidak termasuk
dalam wilayah Kerajaan Tengah. Peraturan revisi tersebut
adalah sebagai berikut: (1) Penahbisan yang lebih tinggi tidak
harus diberikan oleh sepuluh orang bhikkhu tetapi dapat
diberikan oleh lima orang bhikkhu, salah satu diantaranya
harus menguasai Vinaya, peraturan disiplin kebhikkhuan. (2)
Para bhikkhu diizinkan untuk menggunakan sandal dengan
alas yang tebal bila tanah di wilayah-wilayah tersebut keras
dan kasar. (3) Para bhikkhu diizinkan untuk mandi beberapa
kali mengingat masyarakat di Avanti sangat mementingkan
mandi. (4) Kulit domba, kulit kambing, dan sebagainya, dapat
digunakan sebagai selimut. (5) Jubah-jubah dapat diterima
atas nama bhikkhu yang sedang tidak berada di tempat, dan
sepuluh hari setelah itu (sesuai dengan peraturan), jubah
ekstra dapat diterima hanya apabila jubah sebelumnya telah
sampai di tangan pemiliknya.

——————-

4. Beragam Kejadian
Baik sutta maupun bagian komentar tidak memberikan kita
informasi yang cukup mengenai riwayat hidup Yang Mulia
Maha Kaccana di dalam komunitas Sangha. Sebaliknya,
naskah tersebut hanya fokus pada seputar peranannya
sebagai seorang guru, khususnya pada penjabarannya secara
mendetail mengenai khotbah-khotbah ringkas sang Buddha.
Mulai dari nidana hingga sutta dimana Maha Kaccana
disebutkan, kita dapat menyimpulkan bahwa setelah
penahbisannya, dia menghabiskan sebagian besar waktunya
di Avanti. Kelihatannya, biasanya beliau berdiam dalam
pengasingan, walaupun pada kejadian-kejadian tertentu,
beliau muncul untuk memberikan pengarahan kepada yang
lainnya. Secara teratur, beliau akan pergi mengunjungi sang
Buddha di beberapa kediaman utamanya, dan kelihatannya
beliau juga beberapa kali menemani sang Buddha dalam
membabarkan Dhamma. Tiga sutta dalam Majjhima Nikaya
dimana Maha Kaccana muncul dalam peranannya sebagai
penjabar terjadi di tiga lokasi yang berbeda, yakni di
Kapilavatthu, Rajagaha, dan Savatthi. Mengingat kota-kota ini
secara geografis berada di lembah Gangga, terpisah jauh satu
dengan yang lainnya dan jauh pula dari Avanti, diperkirakan
bahwa Yang Mulia Maha Kaccana menemani perjalanan sang
Buddha dalam waktu yang cukup lama atau bahwa beliau
pergi mengunjungi vihara-vihara yang berbeda dimana

Buddha sedang berdiam ketika beliau mendengar kabar
bahwa sang Buddha akan berdiam di sana dalam waktu yang
cukup lama.
Kami tidak menemukan dalam naskah-naskah yang ada,
indikasi bahwa Maha Kaccana memiliki persahabatan erat
dengan bhikkhu-bhikkhu utama lainnya, sebagaimana yang
dimiliki oleh Sariputta, Maha Moggallana dan Ananda. Beliau
tampaknya lebih cenderung hidup menyendiri, walaupun
beliau tidak menekankan hidup menyepi yang ketat seperti
yang dilakukan oleh Yang Mulia Maha Kassapa, atau dia tidak
kelihatan keras dalam kehidupan pertapaan17. Beliau siap
untuk memberikan pelajaran apabila diminta, seperti yang
akan kita lihat, tetapi beliau selalu muncul di dalam sutta
dalam peranannya sebagai penjabar dan pengurai Dhamma
bagi para bhikkhu lainnya. Kita tidak menemukan Yang
Mulia Maha Kaccana berdialog empat mata dengan bhikkhu
lainnya, sebagaimana yang bisa kita lihat dalam kasus para
sesepuh lain yang telah disebutkan di atas; bahkan kita juga
tidak melihatnya bertanya kepada sang Buddha sebagaimana
yang kerap kali dilakukan oleh bhikkhu yang paling bijaksana,
Yang Mulia Sariputta. Ketidakhadirannya sangat terasa di

dalam Mahagosinga Sutta (MN 32), dimana para siswa luar
biasa lainnya berkumpul pada malam bulan purnama penuh
untuk berdiskusi tentang bhikkhu yang cocok yang dapat
menerangi hutan. Pada kesempatan itu enam sesepuh agung
– Sariputta, Moggallana, Ananda, Maha Kassapa, Anuruddha,
dan Revata – masing-masing menggambarkan sosok bhikkhu
yang sesuai menurut pandangan mereka masing-masing,
dan di akhir kesempatan tersebut sang Buddha memberikan
gambarannya sendiri mengenai bhikkhu yang paling mulia
tersebut. Tentu bila Maha Kaccana hadir pada kesempatan itu,
maka beliau akan memenuhi gambaran bhikkhu yang ideal
demikian sebagai seseorang yang cakap dalam menjelaskan
secara mendetail khotbah-khotbah ringkas Buddha Gotama.
Maha Kaccana memberikan penahbisan tinggi, seperti
yang dapat kita simak dalam kasus Sona di atas, meskipun
murid-muridnya tidaklah banyak jumlahnya, menurut
bagian komentar Anguttara. Salah satu muridnya adalah
bhikkhu Isidatta, yang semenjak masih sangat muda telah
mengesankan bhikkhu-bhikkhu lain yang lebih tua darinya
dengan jawaban-jawabannya yang tepat atas pertanyaanpertanyaan
Dhamma yang sulit18. Hanya ada sedikit keraguan
bahwa kecakapan Isidatta dalam memahami poin-poin halus
dari ajaran mencerminkan latihan ketat yang pastilah ia
terima dari Yang Mulia Maha Kaccana.
Pada suatu kesempatan ketika Yang Mulia Maha Kaccana
mengunjungi Buddha Gotama, ia menerima penghormatan

khusus dari Sakka, raja para dewa19. Hal ini terjadi saat
sang Buddha sedang berdiam di Taman Timur di Savatthi,
di Wisma Ibu Migara. Sang Buddha sedang duduk dikelilingi
oleh sekelompok besar bhikkhu pada hari pavarana, upacara
saling mengingatkan di antara para bhikkhu yang menandakan
berakhirnya retreat musim hujan tahunan. Karena Maha
Kaccana secara teratur sering mengunjungi sang Buddha
untuk mendengarkan Dhamma, bahkan dari jarak yang jauh,
para sesepuh utama lainnya akan selalu menyediakan tempat
kosong baginya andaikata beliau tiba-tiba datang.
Pada kesempatan ini, Sakka bersama dengan rombongan
penghuni surga lainnya, mendekati tempat pertemuan suci
tersebut dan bersujud di hadapan sang Bhagava. Karena ia
tidak melihat kehadiran Yang Mulia Maha Kaccana, ia berpikir:
“Akan lebih baik seandainya sesepuh mulia hadir pula.” Tepat
pada saat itu Maha Kaccana datang dan menempati tempat
duduknya. Ketika Sakka telah melihatnya, dia memegang
dengan lembut pergelangan kaki sang sesepuh, menyatakan
kegembiraannya atas kedatangan sang sesepuh dan
menghormatinya dengan karunia aroma dan bunga-bunga.
Beberapa bhikkhu yang lebih muda marah dan mengeluh
bahwa Sakka terlalu berlebihan dalam memberikan
penghormatannya, tetapi sang Buddha menegur mereka
dengan ucapan berikut: “Para bhikkhu, bhikkhu-bhikkhu
yang seperti putraku Maha Kaccana, yang menjaga pintu
inderanya, akan dicintai baik oleh para dewa dan manusia.”
Beliau kemudian mengucapkan syair Dhammapada berikut
(syair 94):

“Bahkan para dewa mencintainya,
Mereka yang inderanya tenang
Seperti kuda yang terlatih dengan baik oleh kusirnya,
Yang tidak lagi memiliki kebanggaan,
Dan yang terbebas dari perbuatan-perbuatan jahat”
Fakta bahwa Yang Mulia Maha Kaccana adalah orang yang
mencurahkan segenap perhatiannya pada penguasaan
indera-inderanya dapat dilihat dari khotbah-khotbahnya,
yang (seperti yang akan kita lihat di bawah) seringkali
menekankan pentingnya menjaga “pintu-pintu indera.”
Bagian komentar mencatat dua rangkaian peristiwa aneh,
keduanya disebabkan oleh kesan yang muncul bahwa bentuk
fisik sang sesepuh dibuat oleh pikiran orang lain. Salah
satunya, sebagaimana yang dicatat dalam bagian komentar
Dhammapada20, melibatkan seorang pemuda bernama
Soreyya, yang merupakan putra bendahara di kota dengan
nama yang sama pula. Suatu hari, pemuda Soreyya pergi ke
luar kota dengan kereta, dalam perjalanan ke sebuah tempat
pemandian bersama dengan seorang teman karibnya dan
sekelompok teman berhura-hura. Tepat ketika mereka akan
meninggalkan kota, Yang Mulia Maha Kaccana sedang berdiri
di gerbang kota, sedang mengenakan jubah luarnya sebelum
masuk ke kota untuk berjalan mengumpulkan dana makanan.
Ketika pemuda Soreyya melihat warna keemasan dari tubuh
sang sesepuh, ia berpikir: “Oh, andaikata sesepuh ini menjadi
istriku! Atau andai saja rona dari tubuh istriku menjadi seperti
rona tubuhnya!”

Pada saat pikiran ini melintas dalam pikirannya, Soreyya
langsung berubah dari seorang laki-laki menjadi seorang
wanita. Terkejut oleh perubahan jenis kelamin ini, ia
melompat keluar dari kereta dan lari sebelum temantemannya
bisa melihat apa yang terjadi. Perlahan-lahan
ia menuju ke kota Takkasila. Teman-temannya mencarinya
dengan sia-sia dan kembali untuk melaporkan lenyapnya
Soreyya yang terjadi secara misterius kepada orang tua
Soreyya. Saat semua upaya untuk melacaknya ternyata siasia,
orangtuanya menyimpulkan bahwa ia telah meninggal
dan mereka mengadakan upacara pemakaman.
Sementara itu Soreyya wanita, saat tiba di Takkasila, bertemu
dengan putra bendahara kota yang jatuh cinta padanya dan
menjadikannya sebagai istri. Dalam tahun-tahun pertama
perkawinan mereka, ia melahirkan dua anak laki-laki.
Sebelumnya, saat masih menjadi seorang laki-laki, Soreyya
memiliki dua orang putra dari istrinya di kota kelahirannya.
Dengan demikian, ia adalah orang tua dari empat orang anak,
dua saat dia masih sebagai seorang ayah dan dua lainnya
sebagai seorang ibu.
Suatu hari salah seorang teman dekat Soreyya datang ke
Takkasila untuk beberapa urusan pribadi. Soreyya wanita
melihatnya di jalan dan mengenalinya. Ia memintanya datang
ke rumah dan menceritakan rahasia misterius perubahannya
dari seorang laki-laki menjadi seorang wanita. Teman Soreyya
menyarankan Soreyya untuk memberikan dana kepada
Yang Mulia Maha Kaccana, yang berdiam di dekat kota itu,
dan kemudian memohon maaf kepada beliau karena telah
memiliki pikiran yang cabul seperti itu.
Teman Soreyya kemudian pergi menghadap sang sesepuh

dan mengundangnya untuk datang ke rumah Soreyya wanita
untuk menerima dana pada keesokan harinya. Ketika Yang
Mulia Maha Kaccana tiba, teman Soreyya membawa Soreyya
wanita menghadap Kaccana, memberitahukan apa yang telah
terjadi lama berselang, dan memintanya untuk mengampuni
Soreyya atas penyimpangan tersebut. Segera setelah sang
sesepuh mengucapkan kata-kata “saya memaafkanmu,”
Soreyya wanita berubah kembali menjadi seorang pria.
Terguncang karena metamorfosis ganda ini, Soreyya bertekad
bahwa ia tidak dapat lagi menjalani kehidupan berumah
tangga. Dia mengambil penahbisan sebagai seorang bhikkhu
di bawah bimbingan Yang Mulia Maha Kaccana, dan dalam
kurun waktu yang singkat berhasil mencapai tingkat kesucian
arahat bersamaan dengan pencapaian kekuatan spiritual.
Vassakara, menteri utama Magadha di bawah pemerintahan si
durhaka Raja Ajatasattu, malah kurang beruntung, meskipun
kemalangannya ini adalah akibat dari kesombongan dan
keras kepalanya sendiri dan bukan berasal dari kekuatan yang
berada di luar kendalinya. Bagian komentar dalam Majjhima
Nikaya melaporkan bahwa pada suatu hari, ketika Vassakara
melihat Yang Mulia Maha Kaccana turun dari puncak gunung
Hering, ia berseru: “Dia tampak seperti monyet!”21 Ucapan
tersebut tampaknya aneh, terutama ditujukan pada Maha
Kaccana yang digambarkan dalam naskah-naskah sebagai
orang yang tampan dan anggun dalam penampilan fisiknya.
Apapun alasan pernyataannya, berita tentang kejadian ini
menyebar dan akhirnya sampai pada sang Buddha. Sang
Bhagava berkata bahwa jika Vassakara pergi menghadap sang
sesepuh dan meminta maaf, maka semuanya akan baik-baik
saja; tetapi jika dia tidak meminta maaf, maka ia akan terlahir

kembali sebagai seekor kera di Hutan Bambu di Rajagaha. Hal
ini dilaporkan kembali kepada Vassakara. Sebagai menteri
utama kerajaan, dia pasti sudah terlalu tinggi hati untuk
meminta maaf dari seorang bhikkhu miskin. Jadi, mengingat
apapun yang diucapkan oleh sang Buddha pasti akan menjadi
kenyataan, ia pun menerima masa depannya dan membuat
persiapan untuk kehidupan berikutnya dengan menanam
pohon-pohon di Hutan Bambu dan menyiapkan para penjaga
untuk melindungi kehidupan liar di hutan tersebut. Dikatakan
bahwa beberapa waktu setelah kematiannya, seekor monyet
lahir di Hutan Bambu yang akan datang mendekat saat
seseorang berteriak “Vassakara.”
Keadaan pada saat kematian Yang Mulia Maha Kaccana tidak
tercatat dalam naskah-naskah yang ada, tetapi di bagian akhir
Madhura Sutta (dibahas di bawah) Maha Kaccana menyatakan
bahwa sang Buddha telah mencapai Parinibbana. Jadi jelas
dari hal ini bahwa Kaccana sendiri hidup lebih lama daripada
Gurunya.

———————-

 

Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: