Riwayat Hidup Maha Kaccana (3)

5. Penjabar Khotbah
Ringkas
Sang Buddha menghargai Yang Mulia Maha Kaccana dengan
menyebutnya sebagai siswa terunggul dalam kemampuannya
untuk memberikan penjelasan secara mendetail atas khotbahkhotbah
ringkas yang diberikan oleh beliau. Maha Kaccana
menerima gelar ini terutama berdasar atas delapan sutta yang
ditemukan di dalam Nikaya: tiga sutta dalam Majjhima, tiga
sutta dalam Samyutta, dan dua sutta dalam Anguttara. Selain
itu, dapat ditemukan pula di dalam Nikaya, beberapa khotbah
dimana Yang Mulia Maha Kaccana menjabarkan khotbah
singkat yang telah disampaikan oleh sang Buddha – tanpa
mendasarkan pandangannya sendiri. Semua wacana ini, bila
dicermati bersama, memiliki keseragaman dan cita rasa yang
khas, mengungkapkan kualitas pikiran dari mana khotbah
tersebut dijabarkan. Khotbah-khotbah tersebut disampaikan
secara menyeluruh, seimbang, penuh pertimbangan dan
kewaspadaan, substansial dalam isi, teliti dalam ekspresi,
tajam, ditata dengan baik dan padat. Khotbah-khotbah
tersebut juga harus diakui, sedikit kering – tanpa emosi dan
tidak sentimental – namun tanpa pemborosan kata-kata,
khotbah-khotbah tersebut tidak pernah gagal membawa kita
langsung ke jantung Dhamma.

Khotbah-khotbah Maha Kaccana tidak memanfaatkan unsurunsur
retoris sebagaimana yang kerap dijumpai dalam khotbah
yang disampaikan oleh penjabar Dhamma lainnya: kita tidak
menemukan kiasan-kiasan, perumpamaan-perumpamaan,
atau cerita-cerita; bahasa yang digunakan sederhana namun
tepat tanpa cela. Dalam hal ini, khotbahnya kontras dengan
khotbah-khotbah lainnya sebagaimana yang disampaikan
oleh Buddha Gotama, Yang Mulia Sariputta, maupun Yang
Mulia Ananda, yang semuanya ahli dalam membuat kiasan
indah yang akan meninggalkan kesan mendalam dalam
benak para pendengarnya. Tampaknya khotbah-khotbah
Yang Mulia Maha Kaccana sepenuhnya hanya tergantung
pada efektivitas dari isi khotbah dan ketepatan analisisnya
daripada sastra kiasan.
Sebagai orang yang mampu menganalisis Dhamma,
karakteristik Yang Mulia Maha Kaccana paling menyerupai
karakteristik yang dimiliki oleh Yang Mulia Sariputta, dan
memang wacana-wacana dari kedua sesepuh menunjukkan
ciri-ciri yang serupa. Perbedaan keduanya terutama terletak
pada masalah cara penyampaian daripada masalah substansi.
Analisis yang diberikan oleh Sariputta, misalnya seperti yang
terlihat dalam Sammaditthi Sutta dan Mahahatthipadopama
Sutta22, dimulai dengan satu topik tertentu dan kemudian
berkembang dengan membedah topik tersebut menjadi
beberapa komponen dan selanjutnya menjelajahi setiap
komponen sesuai urutannya (sering kali dengan pembagian
yang lebih baik). Dengan keahlian khususnya sendiri, Yang
Mulia Maha Kaccana memulai khotbahnya tidak dengan
topik yang umum, tetapi dengan satu pernyataan ringkas
dari Buddha Gotama, sering kali yang merupakan pernyataan

yang intuitif, puitis, ataupun peribahasa. Penjelasannya
kemudian dimulai dengan merumuskan kembali peribahasa
atau ungkapan inspirasional sang Buddha dengan cara
menghubungkannya dengan kerangka ajaran yang lebih
dikenal, biasanya dengan enam lingkup indera dan praktek
pengendalian indera. Namun, di samping perbedaan dalam
cara penyampaian mereka, kedua siswa utama ini memiliki
kegemaran dalam memberikan analisis yang sistematis
dan keduanya memperlihatkan hal yang sama mengenai
ketajaman presisi pemikiran mereka.
Untuk alasan ini, tak diragukan lagi bahwa di dalam tradisi
Theravada, mereka berdua telah dianggap sebagai bapak
dari metodologi spesifik dalam menafsirkan Dhamma,
sistem penafsiran yang muncul dan menjadi menonjol pada
abad-abad awal sejarah intelektual Buddhis. Sariputta, tentu
saja, dipandang sebagai orang pertama yang menjabarkan
Abhidhamma secara sistematis, dimana (menurut tradisi)
beliau menguraikannya secara rinci berdasarkan kerangka
yang telah diajarkan sang Buddha kepadanya selama
kunjungannya yang teratur ke dunia manusia, sementara
menguraikan Abhidhamma kepada para dewa di surga
Tavatimsa23. Maha Kaccana dianggap sebagai pencipta
metode eksposisi yang dapat dilihat pada dua karya yang
memberikan pengaruh penting bagi para komentator awal
ajaran Buddha. Mengenai dua karya ini – Petakopadesa dan
Nettippakarana – akan dibicarakan lebih lanjut di bawah ini.
(1) Majjhima Nikaya
Sutta pertama dalam Majjhima Nikaya dimana Yang
Mulia Maha Kaccana memainkan peranan penting adalah

Madhupindika Sutta (MN 18), yaitu khotbah Bola Madu,
judul yang diberikan oleh sang Buddha sendiri – mungkin
merupakan sebuah contoh yang unik dari Buddha yang
menganugerahkan judul atas sutta yang diucapkan oleh salah
seorang muridnya.
Sutta tersebut diberikan pada suatu kesempatan ketika sang
Buddha berdiam di kota kelahirannya Kapilavatthu, kerajaan
suku Sakya. Suatu hari, ketika sang Buddha sedang duduk
bermeditasi di Taman Nigrodha, seorang Sakya angkuh
bernama Dandapani mendekatinya dan bertanya, dengan
nada kasar yang sengaja dibuat: “Apakah yang pertapa
tegaskan, apakah yang Anda proklamirkan?” Sang Buddha
membalas dengan sebuah jawaban yang dimaksudkan untuk
menggarisbawahi penolakannya terseret ke dalam suatu
debat dimana si penanya berniat untuk memprovokasi:
“Teman, saya menyatakan dan memproklamirkan ajaran
yang tidak dapat diperdebatkan oleh siapa pun di dunia
ini dengan para dewa, Mara dan Brahma-nya, dalam
generasi ini dengan para pertapa dan Brahmana-nya,
para pangeran dan rakyatnya; ajaran yang menyatakan
bahwa persepsi tidak lagi mendasari seorang brahmana
yang hidup tanpa melekat pada kesenangan sensual,
tanpa kebingungan, tanpa kekhawatiran, bebas dari
kemelekatan apapun.”
Jawaban yang diberikan sang Buddha tidak dapat dipahami
oleh Dandapani, yang mengangkat alisnya penuh kebingungan
dan beranjak pergi. Kemudian, di sore hari, sang Buddha
memberitahukan para bhikkhu apa yang telah terjadi. Salah
satu bhikkhu bertanya: “Apakah sebenarnya ajaran yang

dinyatakan oleh sang Bhagava yang dengan mendengarnya
seseorang dapat menghindari semua perdebatan dan, pada
saat yang sama, akan terbebas dari pengaruh keinginan
jahat?” Buddha menjawab dengan pernyataan berbobot
berikut:
“Bhikkhu, apabila dengan asal mula persepsi dan
pengertian yang diwarnai oleh bentuk pikiran terbentuk
dalam diri seseorang: jika di sana tidak ditemukan
sesuatu yang menyenangkan, diinginkan, dan dilekati,
inilah akhir dari kecenderungan yang mendasari nafsu,
keengganan, pandangan, keraguan, kesombongan,
keinginan untuk menjadi, dan kebodohan. Inilah akhir
dari ketergantungan pada tongkat dan senjata, dari
perdebatan, perkelahian, perselisihan, tuduh-menuduh,
kedengkian, dan ucapan keliru; disinilah perbuatan jahat
yang tidak bermanfaat akan berhenti tanpa sisa.”
Setelah mengatakan hal ini, bahkan sebelum para bhikkhu
sempat untuk meminta penjelasan lebih lanjut, sang Buddha
bangkit dari tempat duduknya dan memasuki kediamannya.
Setelah sang Buddha beristirahat, para bhikkhu merenungkan
pernyataan beliau, dan menyadari bahwa mereka tidak dapat
memahaminya dengan cara mereka sendiri, mereka berpikir:
“Yang Mulia Maha Kaccana dipuji oleh Guru dan dijunjung
oleh para sahabat bijaksana dalam kehidupan suci. Beliau
tentu mampu menguraikan secara rinci makna khotbah
singkat ini. Marilah kita pergi menemuinya dan bertanya
kepadanya makna dari khotbah ini.”
Ketika mereka menemui Maha Kaccana dan menjelaskan

maksud kedatangan mereka, pertama-tama beliau
menceramahi mereka karena datang meminta penjelasan
padanya daripada meminta penjelasan secara langsung
kepada sang Buddha. Meminta penjelasan darinya padahal
Sang Bhagava ada, katanya, adalah seperti mencari inti pohon
di antara cabang-cabang dan dedaunan dari sebuah pohon
yang besar setelah melewati batangnya. Sang Bhagava adalah
ia yang mengetahui dan melihat, beliau adalah visi, beliau
adalah pengetahuan, beliau telah menjadi Dhamma, menjadi
yang suci; beliau adalah pembabar, sang proklamator, sang
pengurai makna, pemberi keabadian, Penguasa Dhamma,
sang Tathagata.
Akan tetapi para bhikkhu, disamping mengakui bahwa
pernyataan sang sesepuh adalah benar, masih tetap
bersikeras bahwa Yang Mulia Maha Kaccana pasti mampu
menjelaskan makna dari khotbah ringkas tersebut. Akhirnya
sang sesepuh menyetujuinya dan kemudian memberikan
penjelasan terhadap khotbah ringkas sang Buddha sebagai
berikut:
“Tergantung pada mata dan rupa, muncullah kesadaran
mata. Pertemuan ketiganya adalah kontak. Dengan kontak
ini sebagai kondisi maka muncullah perasaan. Apa yang
seseorang rasakan, itulah yang dia terima. Apa yang
seseorang terima, itulah yang dia pikirkan. Apa yang
seseorang pikirkan, itulah yang secara mental terbentuk.
Dengan suatu mental yang telah terbentuk sebagai sumber,
persepsi-persepsi dan pengertian-pengertian diwarnai oleh
bentuk pikiran membentuk diri seseorang dalam kaitannya
dengan bentuk-bentuk di masa lalu, masa depan, dan
masa sekarang yang dapat dikenali mata.”

Pola yang sama berulang untuk setiap indera lainnya. Sang
sesepuh kemudian menghubungkan seluruh penjabaran ini
dengan prinsip kondisional, menunjukkan bagaimana setiap
bagian dalam rangkaian tersebut muncul saling bergantungan
dengan bagian sebelumnya dan berhenti dengan berhentinya
bagian sebelumnya.
Wacana ini, yang kaya akan implikasi, memberikan penjelasan
mengenai proses yang dapat lekas dimengerti, dimana pikiran
yang terdelusi menjadi kewalahan akibat kreasi khayalannya
sendiri – yaitu persepsi yang terdistorsi dan bentuk mental.
Urutan tersebut dimulai sebagai suatu deskripsi langsung
mengenai asal-usul yang terkondisi dari kesadaran: setiap
bentuk kesadaran muncul saling bergantungan pada setiap
indera dan objeknya. Proses tersebut dijelaskan dalam
tatanan alami melalui kontak, perasaan, dan persepsi sejauh
tahapan berpikir terjadi. Tetapi bagi makhluk hidup yang
belum memahami Dhamma, yang kurang memiliki wawasan
yang benar mengenai hakikat segala sesuatu, pada tahap
kesadaran pikiran disebabkan oleh pengaruh papañca
– sebuah kata yang berasal dari bahasa Pali yang sulit
diartikan dan paling tepat diterjemahkan sebagai “proliferasi
konseptual24.” Daripada memahami objek persepsi dengan
benar, pikiran yang terdelusi, yang disusupi oleh papañca,
menghasilkan komentar pikiran yang kompleks yang melabeli
hal-hal dengan pengertian yang keliru sebagai “milikku,”
“Aku,” dan “diriku.” Demikianlah orang tersebut telah
dikalahkan oleh “persepsi dan pengertian yang diwarnai oleh
proliferasi mental” (papañcasaññasankha).

Hal yang mendasari proliferasi konseptual ini adalah tiga
kekotoran batin: kemelekatan (tanha), kesombongan
(mana), dan pandangan salah (ditthi). Ketika ketiganya telah
menguasai proses berpikir, kesadaran berjalan dengan liar,
berkutat dalam sejumlah gagasan delusi, obsesi, dan hasrat
yang mengalahkan orang tersebut dan menjadikannya sebagai
korban yang malang. Proses persepsi akal ini, sebagaimana
yang Maha Kaccana perlihatkan, adalah “sumber darimana
persepsi dan pengertian yang diwarnai oleh proliferasi
mental timbul dalam diri seseorang,” sebagaimana yang
dinyatakan oleh sang Buddha dalam khotbah ringkasnya.
Saat tidak ada lagi kesenangan pada proses persepsi melalui
nafsu keinginan, yang diuraikan berdasarkan pengalaman
ke dalam istilah: “milikku”; saat tidak ada lagi yang
menerimanya dengan keangkuhan, yang memperkenalkan
gagasan “Aku”; saat tidak ada lagi yang memegang dengan
cara pandang yang salah, yang dalam hal ini berarti “diri”,
maka semua kecenderungan mendasar pada kekotoran
batin akan tumbang, dan seseorang dapat tinggal di dunia ini
sebagai seorang mulia yang telah bebas, suci dan bijak, tanpa
perdebatan, konflik, dan perselisihan.
Demikianlah penjelasan terhadap khotbah ringkas sang
Buddha yang disampaikan oleh Yang Mulia Maha Kaccana
kepada para bhikkhu. Tak lama setelah itu para bhikkhu
menemui sang Bhagava dan menceritakan apa yang telah
dikatakan oleh Maha Kaccana pada beliau. Buddha menjawab
dengan kata-kata pujian tertinggi untuk muridnya: “Maha
Kaccana sungguh bijaksana, para bhikkhu, Maha Kaccana
memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Jika kalian bertanya
padaku arti dari khotbah ini, akan kujelaskan kepada kalian
semua dengan cara yang sama seperti yang Maha Kaccana

telah jelaskan. Demikianlah arti dari khotbah ini dan oleh
karena itu, kalian semua harus mengingatnya.”
Tepat pada saat itu, Yang Mulia Ananda, berdiri di dekat
beliau, menambahkan sebuah perumpamaan yang sulit
dilupakan untuk menggambarkan keindahan penjelasan
Maha Kaccana: “Sama seperti seseorang yang kelelahan
karena kelaparan dan keletihan memiliki sebuah bola madu,
pada saat memakannya dia akan menemukan rasa manis yang
lezat luar biasa; demikian pula, yang mulia, setiap bhikkhu
yang mampu, yang memahami dengan kebijaksanaan makna
dari khotbah Dhamma ini, akan menemukan kepuasan dan
kemantapan pikiran.” Berdasarkan perumpamaan inilah, sang
Buddha menamakan khotbah tersebut sebagai Madhupindika
Sutta – “Khotbah Bola Madu.”
Dua sutta lain dalam Majjhima Nikaya yang menampilkan
Maha Kaccana, dan satu di dalam Anguttara Nikaya, memiliki
pola stereotip yang sama: sang Buddha membuat pernyataan
singkat, bangkit dan pergi memasuki kediamannya; para
bhikkhu mendekati Yang Mulia Maha Kaccana untuk meminta
penjelasan arti dari khotbah singkat tersebut, ia menegur
mereka karena datang kepadanya tanpa meminta penjelasan
langsung dari sang Buddha sendiri, tetapi pada akhirnya ia
memenuhi permintaan mereka dan menjelaskan khotbah
sang Buddha; para bhikkhu kembali ke hadapan sang Buddha
dan menceritakan kembali analisis yang diberikan oleh Maha
Kaccana, yang sang Guru puji dengan kata-kata pujian yang
ditujukan kepada sesepuh Kaccana.
Maha Kaccana Bhaddekaratta Sutta (MN 133) menceritakan
seputar kisah puisi terkenal Bhaddekaratta, satu set syair
yang diucapkan oleh sang Buddha yang telah beredar

di dalam komunitas Sangha. Puisi ini menekankan pada
pentingnya menanggalkan kerinduan akan masa lalu dan
antisipasi akan masa mendatang, dan sebaliknya puisi ini
menekankan pada upaya untuk menghimpun energi agar
dapat menembus realitas masa kini itu sendiri. Banyak di
antara para bhikkhu yang telah mempelajari puisi ini dalam
hati mereka, disertai dengan penafsiran sang Buddha sendiri,
dan telah menggunakannya sebagai inspirasi bagi latihan
meditasi mereka dan sebagai topik untuk khotbah-khotbah
yang akan mereka sampaikan25.
Namun, seorang bhikkhu bernama Samiddhi, bahkan tidak
mengetahui puisi tersebut, meninggalkan penafsirannya.
Pada suatu hari, sesosok dewa yang bajik, yang menaruh
rasa iba padanya, menghadapnya di pagi hari dan
mendesaknya untuk mempelajari puisi Bhaddekaratta
berikut penafsirannya. Yang Mulia Samiddhi pergi menemui
sang Buddha dan memohon pada beliau untuk mengajarkan
ringkasan Bhaddekaratta beserta analisisnya. Sang Buddha
membacakan puisi tersebut:
“Janganlah seseorang menghidupkan kembali masa lalu
Atau membangun harapan akan masa mendatang,
Karena yang lalu telah berlalu
Dan masa depan belum terjadi.
Sebaliknya dengan pandangan benar biarlah ia melihat
Setiap keadaan yang muncul saat ini;

Biarlah ia mengerti akan hal itu dan menjadi yakin,
Tak terkalahkan, tak tergoyahkan.
Hari ini upaya tersebut harus dilakukan;
(karena) Besok Kematian datang menjemput, siapa yang
tahu?
Tidak ada tawar-menawar dengan Kematian
Yang dapat menghindarkan diri dan hartanya dari
Kematian.
Tetapi seseorang yang berusaha dengan penuh semangat,
Tanpa henti, baik itu pada siang hari maupun pada
malam hari –
Itulah mereka, sebagaimana yang telah dikatakan oleh
Pertapa Agung, Yang memiliki sebuah keberuntungan.”
Kemudian sang Buddha beranjak dari tempat duduknya dan
memasuki kediamannya.
Samiddhi dan para bhikkhu lain yang hadir pada saat itu,
pergi menemui Yang Mulia Maha Kaccana dengan maksud
untuk mencari penjelasan. Seperti bagian pembukaan dalam
Madhupindika Sutta, Maha Kaccana pada mulanya menolak
mereka, akan tetapi pada akhirnya setuju untuk berbagi
pemahaman mengenai arti dari puisi ini. Mengambil dua baris
pertama sebagai tema penjelasannya, beliau menjelaskan
setiap arti baris dengan menggunakan enam landasan indera
manusia.
Seseorang akan “menghidupkan kembali masa lalu”
ketika dia mengingat kembali dengan mata dan rupa yang
terlihat (oleh mata) di masa lalu, melekat padanya disertai
hasrat dan nafsu keinginan; demikian pula yang terjadi

dengan lima indera lainnya dan objek-objeknya. Seseorang
“membangun harapan akan masa mendatang” ketika dia
membayangkan mengalami sesuatu melalui objek inderanya
di masa mendatang yang belum terjadi. Seseorang yang
tidak mengikat dirinya dengan hasrat dan nafsu keinginan
atas kenangan pengalaman inderawi di masa lalu dan hasrat
akan pengalaman inderawi di masa depan adalah orang yang
“tidak menghidupkan kembali masa lalu atau membangun
harapan akan masa mendatang.” Demikian pula, mereka
yang pikirannya terbelenggu oleh nafsu keinginan melalui
indera dan objek-objeknya pada saat ini disebut sebagai
“mereka yang kalah terhadap keadaan yang timbul saat ini,”
sedangkan mereka yang pikiran tidak lagi terikat pada nafsu
disebut sebagai “mereka yang tak terkalahkan terhadap
keadaan yang timbul saat ini.”
Kembali, para bhikkhu pergi menghadap sang Buddha yang
kemudian mengatakan “jika seandainya kalian bertanya
padaku arti dari khotbah ini, akan kujelaskan kepada kalian
dengan cara yang sama seperti yang telah Maha Kaccana
jelaskan.”
Sutta Majjhima ketiga, Uddesavibhanga Sutta (MN 138),
diawali dengan pemberitahuan sang Buddha kepada para
bhikkhu bahwa beliau akan mengajarkan mereka sebuah
ringkasan (uddesa) dan diikuti dengan sebuah penjelasan
(vibhanga). Beliau menyatakan ringkasan tersebut sebagai
berikut:
“Para bhikkhu, seorang bhikkhu semestinya mengamati
hal-hal sedemikian rupa sehingga ketika ia mengamatinya,
kesadarannya tidak terganggu dan tidak buyar baik
secara eksternal maupun terjebak secara internal, dan

dengan tidak melekat ia pun tidak menjadi gelisah. Jika
kesadarannya tidak terganggu dan tidak buyar baik
secara eksternal maupun terjebak secara internal, dan
jika dengan tidak melekat ia tidak menjadi gelisah, maka
baginya tidak ada lagi awal mula penderitaan – kelahiran,
usia tua, dan kematian di masa mendatang.”
Kemudian, seperti peristiwa-peristiwa sebelumnya, beliau
bangkit dari tempat duduknya dan beranjak pergi, tanpa
memberikan sebuah eksposisi – suatu kelalaian yang aneh,
padahal beliau telah menyatakan bahwa ia akan memberikan
penjelasannya juga! Tetapi para bhikkhu tidak merasa
kehilangan, karena Yang Mulia Maha Kaccana sedang berada
di tengah-tengah mereka, dan setelah protesnya yang seperti
biasa, sang sesepuh memulai analisisnya.
Beliau menjelaskan dengan mengambil setiap frase dari
khotbah ringkas sang Buddha dan membedahnya secara
mendetail. Bagaimana kesadaran “terganggu dan buyar
secara eksternal”? Ketika seorang bhikkhu telah melihat
suatu bentuk dengan mata (atau telah mengalami beberapa
objek lain terkait dengan indera lainnya), “jika kesadarannya
mengikuti tanda bentukan tersebut, terikat dan terbelenggu
oleh kepuasan dari tanda bentukan tersebut, terbelenggu
oleh belenggu kepuasan dari tanda bentukan tersebut, maka
kesadarannya disebut sebagai ‘terganggu dan buyar secara
eksternal.’” “Tetapi jika, ketika melihat suatu bentuk dengan
mata, dan seterusnya, seorang bhikkhu tidak mengikuti tanda
bentukan tersebut, tidak menjadi terikat dan terbelenggu
oleh tanda bentukan tersebut, maka kesadarannya disebut
sebagai ‘tidak terganggu dan tidak buyar secara eksternal.’ “

Pikirannya “terjebak secara internal” apabila ia mencapai
salah satu dari empat jhana, penyerapan meditatif, dan
pikirannya menjadi “terikat dan terbelenggu” oleh kepuasan
yang luar biasa, kebahagiaan, kedamaian, dan ketenangan
batin akibat pencapaian jhana. Jika ia dapat mencapai
jhana tanpa menjadi terikat terhadap jhana-jhana tersebut,
maka pikirannya dikatakan sebagai “tidak terjebak secara
internal.”
Ada “gejolak kemelekatan” (upadaya paritassana) dalam
“makhluk hidup yang tidak dibimbing” (assutava puthujjana)
yang menganggap lima kelompok sebagai diri. Saat rupa,
atau perasaan, atau persepsi, atau bentuk-bentuk pikiran,
atau kesadarannya berubah dan mengalami kemerosotan,
pikirannya akan disibukkan dengan perubahan tersebut, dan
ia akan menjadi cemas, menderita, dan gelisah. Demikianlah
terdapat gejolak atas kemelekatan. Tetapi siswa mulia yang
telah dibimbing tidak menganggap lima kelompok sebagai
diri. Oleh karena itu, ketika kelompok-kelompok tersebut
mengalami perubahan dan bertransformasi, pikirannya tidak
disibukkan dengan perubahan itu dan ia berdiam tenang,
bebas dari rasa cemas, gejolak, dan kekhawatiran.
Inilah, sebagaimana sang sesepuh nyatakan, bagaimana ia
memahami secara rinci khotbah ringkas yang disampaikan
oleh sang Bhagava, dan ketika para bhikkhu menceritakan
kembali uraian ini kepada Guru Agung, beliau mendukung
penjelasan salah seorang murid utamanya itu.

(2) Samyutta Nikaya
Samyutta Nikāya memiliki tiga sutta yang memperlihatkan
kecerdasan Yang Mulia Maha Kaccana dalam mengelaborasi
khotbah-khotbah singkat sang Buddha, yakni SN 22:3, SN
22:4, dan SN 35:130. Sutta-sutta ini berbeda, baik dalam
pengaturan maupun karakternya, dengan tiga khotbah analitis
yang terdapat dalam Majjhima Nikaya. Dalam ketiga sutta ini,
Maha Kaccana tidak sedang berada di tengah-tengah Sangha
yang berada di dekat sang Buddha, tetapi beliau berdiam
di Avanti, di Sarang Elang Laut di lereng gunung, mungkin
sebuah tempat terpencil yang sulit diakses. Kemudian seorang
umat awam bernama Haliddikani, yang kelihatannya cukup
memahami Dhamma, datang menemuinya dan memintanya
untuk menjelaskan secara rinci khotbah singkat Sang Buddha.
Dengan demikian jawaban Yang Mulia Maha Kaccana ini
ditujukan hanya kepada umat awam Haliddikani saja, bukan
kepada sekelompok bhikkhu, dan tidak ada konfirmasi lebih
lanjut atas penjelasan yang telah disampaikan oleh Kaccana
yang diberikan oleh sang Buddha pada akhir khotbah. Rasanya
mustahil untuk menentukan apakah dialog-dialog ini terjadi
selama Buddha Gotama masih hidup atau tidak, tetapi yang
pasti, setelah dialog-dialog ini dimasukkan ke dalam kitab
Pali, laporan mengenai diskusi ini pasti telah tersebar dalam
pusat-pusat kegiatan komunitas Buddhis.
Dalam SN 22:3, Haliddikani meminta sang sesepuh untuk
menjelaskan secara rinci arti sebuah syair dari “Pertanyaan-
Pertanyaan Magandiya,” yang terdapat dalam Atthakavagga
dari Sutta Nipata (v.844):
“Setelah meninggalkan rumah untuk mengembara tanpa
tempat tinggal,

Di desa sang pertapa bijak tidak lagi memiliki hubungan
akrab;
Terbebas dari segala kesenangan sensual, tanpa
kecenderungan,
Dia tidak akan melibatkan orang-orang dalam
sengketa.”
Dalam menanggapi permohonan sang umat awam, Yang
Mulia Maha Kaccana memperkenalkan suatu metodologi
yang sangat berbeda dari pendekatan interpretasinya seperti
di dalam tiga sutta dari Majjhima Nikaya. Di sini beliau tidak
hanya menjelaskan arti harfiah dari pernyataan sang Buddha,
menarik keluar sisi filosofis dan implikasi praktisnya seperti
yang dilakukannya dalam sutta-sutta tersebut. Sebaliknya,
beliau mengubah urutan kata kunci dari syair tersebut ke
tingkatan khotbah yang berbeda, memperlakukan ekspresiekspresi
ini, tidak hanya sebagai istilah-istilah kabur yang
membutuhkan penjelasan dan contoh praktis, melainkan
sebagai metafora-metafora atau kiasan-kiasan yang, dengan
pemahaman yang baik, harus dirumuskan kembali ke dalam
makna non-figuratifnya. Beliau melakukan hal ini, seperti yang
akan kita lihat di bawah, pertama-tama dengan memunculkan
makna implisit dari istilah-istilah figuratif tertentu dan
kemudian memetakan arti-arti tersebut ke dalam kerangka
ajaran yang lebih sistematis. Teknik ini menjadi ciri khas dari
bagian komentar kitab Pali pada beberapa abad selanjutnya,
dan kita bahkan dapat menganggap gaya penafsiran Maha
Kaccana ini sebagai, setidaknya dalam beberapa hal, prototipe
asli dari metode pemberian komentar.
Pertama dalam menjelaskan ungkapan “telah meninggalkan
rumah” (okam pahaya), Maha Kaccana memperlakukan

kata “rumah,” bukan dalam arti harfiah sebagai sebuah
tempat dimana orang tinggal atau bernaung, melainkan
sebagai suatu istilah yang mengacu pada “rumah kesadaran”
(viññanassa oko). Beliau menjelaskan bahwa “rumah
kesadaran” merupakan empat kelompok lainnya – bentukan
materi, perasaan, persepsi, dan formasi kehendak – yang
di sini disebut sebagai unsur-unsur (dhatu); di bagian lain
keempatnya digambarkan sebagai empat “pintu kesadaran”
( viññana-thiti)26. Jika kesadaran seseorang terikat oleh nafsu
keinginan terhadap empat unsur tersebut, ia dikatakan berada
di dalam rumah. Jika seseorang telah meninggalkan seluruh
hasrat, nafsu keinginan, kesenangan, dan kemelekatan
terhadap empat rumah kesadaran ini, ia dikatakan
“mengembara meninggalkan rumah” (anokasari). Perlu
dicatat bahwa istilah terakhir ini sendiri tidak terdapat dalam
syair tersebut, tetapi Maha Kaccana telah menggunakannya
dalam penafsirannya sebagai suatu gambaran dari seseorang
yang telah meninggalkan rumah.
Selanjutnya sang sesepuh menjelaskan frasa “mengembara
tanpa tempat tinggal” (aniketasari). Beliau pertama-tama
mendefinisikan antonim frasa itu, “mengembara di sebuah
tempat tinggal” (niketasari), yang juga tidak muncul dalam syair
tersebut. Seperti sebelumnya, Maha Kaccana menggunakan
ungkapan ini sebagai metafora untuk dirumuskan kembali
ke dalam bentuk doktrin sistematis. Dalam hal ini, daripada
menggunakan lima kelompok sebagai dasar kerangkanya,
beliau menggunakan enam landasan indera eksternal.
Dengan menjadi terikat oleh tanda bentukan (suara, bau, dan
lain-lain), dengan mengembara dalam kediaman bentukanbentukan
itu, dan seterusnya, seseorang disebut sebagai

“orang yang mengembara di sebuah tempat tinggal.” Ketika
seseorang telah meninggalkan semua ikatan terhadap tanda
bentukan-bentukan tersebut, dan seterusnya, memotong
hingga ke akar-akarnya, maka seseorang dikatakan sebagai
“mengembara tanpa tempat tinggal.”
Bagian yang tersisa dari eksposisi ini dilanjutkan dengan lebih
harfiah, dan dijelaskan secara sederhana dengan definisi yang
lugas, arti dari frasa yang digunakan dalam syair tersebut,
selalu dalam bentuk pasangan yang saling kontradiksi.
Seseorang yang “tidak lagi memiliki hubungan akrab di
desa” didefinisikan sebagai seorang bhikkhu yang selalu
menjauhkan diri dari orang awam dan kekhawatiran duniawi
mereka. Seseorang yang “terbebas dari kesenangan sensual”
adalah seseorang yang tidak lagi memiliki nafsu keinginan
dan kemelekatan akan kenikmatan sensual. Seseorang yang
“tanpa kecenderungan” (apurakkharano) adalah seseorang
yang tidak lagi mendambakan sesuatu di masa mendatang.
Dan seseorang yang “tidak akan melibatkan orang-orang
dalam sengketa” adalah seseorang yang tidak lagi terlibat
dalam perdebatan dan perselisihan mengenai interpretasi
Dhamma.
Di dalam sutta berikutnya (SN 22:4) Haliddikani bertanya
bagaimana seseorang harus memahami secara rinci pernyataan
ringkas sang Buddha berikut, ditemukan dalam “Pertanyaan-
Pertanyaan Sakka27“: “Para pertapa dan brahmana yang
terbebas dengan sepenuhnya menghancurkan kemelekatan
adalah mereka yang telah mencapai tujuan akhir, keamanan
tertinggi dari perbudakan, kehidupan suci tertinggi, tujuan
tertinggi, dan yang terbaik di antara para dewa dan manusia.”
Maha Kaccana menjelaskan:

Perumah tangga, hasrat akan unsur bentuk materi (atas
unsur perasaan, unsur persepsi, unsur formasi kehendak,
unsur kesadaran), nafsu keinginan, kegembiraan,
kemelekatan, pertalian dan keterikatan, sudut pandang
mental, dan kecenderungan mendasar terhadap hal itu:
melalui kehancuran hal-hal tersebut, melemahkannya,
menghentikannya, merelakannya, dan melepaskannya,
pikiran dikatakan sebagai terbebas dengan sempurna.
“Jadi, perumah tangga, demikianlah semestinya arti dari
apa yang dinyatakan secara ringkas oleh sang Bhagava
harus dipahami secara terperinci.”
Di dalam sutta ketiga (SN 35:130) Haliddikani memulai
dengan sebuah pertanyaan atas kutipan dari sang Buddha,
tetapi kali ini dia tidak bertanya: “bagaimana seharusnya
arti dari pernyataan singkat ini dipahami secara mendetail?”
Sebaliknya, ia hanya meminta Yang Mulia Maha Kaccana
untuk menjelaskan kutipan berikut yang berasal dari
Dhatusamyutta (SN 14:4): “Para bhikkhu, adalah karena
dalam ketergantungan pada keberagaman unsur sehingga
memunculkan keberagaman kontak; dalam ketergantungan
pada keberagaman kontak sehingga memunculkan
keberagaman perasaan.”
Sang Buddha sendiri telah menjelaskan pernyataan ini
dengan menunjukkan bagaimana berbagai jenis unsur yang
berbeda ini mengkondisikan jenis kontak dan perasaan yang
sesuai: “Dalam ketergantungan pada unsur mata timbullah
kontak mata; dalam ketergantungan pada kontak mata
timbullah perasaan yang lahir dari kontak mata.” Demikian
pula untuk indera-indera lainnya. Meskipun demikian, Yang

Mulia Maha Kaccana tidak hanya sekedar mengikuti analisis
yang telah diberikan oleh sang Buddha, tetapi beliau juga
menjelaskannya ke tahapan yang lebih baik:
“Di sini, perumah tangga, setelah melihat suatu bentukan
melalui mata, seorang bhikkhu mengerti akan suatu hal
yang dapat disenangi bahwa: ’Demikianlah adanya.’
Dalam ketergantungan pada kesadaran mata dan sebuah
kontak yang dialami sebagai sesuatu yang menyenangkan,
maka timbullah perasaan yang menyenangkan. Lalu,
setelah melihat suatu bentukan melalui mata, seorang
bhikkhu mengerti akan suatu hal yang tak dapat disenangi
bahwa: ‘Demikianlah adanya.’ Dalam ketergantungan
pada kesadaran mata dan sebuah kontak yang dialami
sebagai sesuatu yang menyakitkan, maka timbullah
perasaan yang menyakitkan. Lalu, setelah melihat suatu
bentukan melalui mata, seorang bhikkhu mengerti sesuatu
yang merupakan sebuah dasar bagi keseimbangan batin
bahwa: ‘Demikianlah adanya.’ Dalam ketergantungan
pada kesadaran mata dan sebuah kontak yang dialami
sebagai sesuatu yang tidak-menyakitkan-ataupunmenyenangkan,
maka timbullah perasaan yang tidakmenyakitkan-
ataupun-menyenangkan.”
Analisis yang sama diterapkan pada masing-masing indera
lainnya. Demikianlah, bila sang Buddha hanya membedakan
kontak dan perasaan dalam pengertian sarana indera, Yang
Mulia Maha Kaccana membedakan dalam setiap ruang
lingkup indera, tiga kualitas dari objek – yakni: disenangi, tidak
disenangi, dan tenang seimbang; tiga kualitas dari kontak
– menyenangkan, menyakitkan, dan tidak-menyakitkan

ataupun-menyenangkan; dan tiga kualitas perasaan
– menyenangkan, menyakitkan, dan tidak-menyakitkanataupun-
menyenangkan. Ketiga rangkaian ini kemudian
disusun dan diperlihatkan berasal dari hubungan yang saling
berkondisi: kualitas dari objek akan mengkondisikan kualitas
dari kontak; kualitas dari kontak akan mengkondisikan
kualitas dari perasaan. Saat seluruh proses dikatakan telah
dipahami oleh seorang bhikkhu yang memiliki pengertian,
ini juga berarti bahwa bhikkhu tersebut memiliki kapasitas
untuk mengatasi ikatan perasaan melalui pengertian benar
ke awal mula kondisional mereka.
(3) The Anguttara Nikaya
Anguttara Nikaya memberikan dua contoh lagi mengenai
keahlian penafsiran yang dimiliki oleh Maha Kaccana.
Dalam sebuah sutta pendek (AN 10:26), kita dapat melihat
bagaimana sang sesepuh menafsirkan sebuah syair, yang
maknanya kelihatan terpampang jelas secara eksplisit, tetapi
dengan mengubahnya menjadi modus figuratif dan kemudian
mengemukakan arti implisitnya dengan memetakan
kerangka teori secara sistematis. Di sini, seorang umat wanita
bernama Kali datang menemui sang sesepuh dan meminta
beliau untuk menjelaskan secara rinci sebuah syair dari
“Pertanyaan-Pertanyaan Sang Gadis.” Rujukannya adalah
sebuah kisah mengenai perjumpaan sang Buddha dengan
putri-putri Mara ketika mereka mencoba untuk merayunya
pada tahun pertama setelah Pencerahannya (SN 4:25). Putri
Tanha (Nafsu Keinginan) telah bertanya kepada sang Buddha,
mengapa, bukannya menjalin hubungan-hubungan baik
di desa, ia malah memilih menghabiskan waktunya untuk
bermeditasi sendirian di hutan. Untuk pertanyaan ini, sang
Buddha menjawab:

“Setelah menaklukkan tentara kenikmatan dan
kesenangan,
(dalam) Meditasi sendiri Aku menemukan kebahagiaan –
Pencapaian tujuan, kedamaian batin.
Oleh karena itu Aku tidak berteman dengan orangorang,
Juga tidak menjalin hubungan intim dengan siapa pun
yang berkembang bagiku.”
Inilah syair yang diminta Kali kepada Yang Mulia Maha
Kaccana agar bersedia untuk menjelaskannya. Sang sesepuh
menjelaskan syair ini dalam suatu cara yang kelihatannya
tidak diturunkan langsung dari kata-kata dalam syair itu
sendiri. Penafsirannya bertolak belakang dengan sikap
sang Buddha terhadap kasina – meditasi pada objek-objek
tertentu sehingga dapat meningkatkan konsentrasi28- dan
dengan pertapa-pertapa dan brahmana-brahmana lainnya.
Beliau menjelaskan bahwa beberapa perenungan, yang
menganggap pencapaian kasina bumi sebagai tujuan
tertinggi, sehingga menghasilkan pencapaian kasina jenis
ini. Yang lain mungkin akan mengambil salah satu kasina lain
sebagai tujuan tertingginya – seperti kasina air, kasina api, dan
lainnya – dan mencapai keadaan meditasi yang sesuai. Tetapi
untuk setiap kasina ini, sang Bhagava telah mengerti sampai
sejauh mana pencapaiannya yang tertinggi, dan setelah
mengerti akan hal ini, beliau melihat asal-usulnya, beliau
melihat bahayanya, beliau melihat jalan keluarnya, dan beliau
melihat pengetahuan dan visi dari jalan yang benar dan jalan
yang salah. Setelah melihat semua hal ini, beliau memahami
pencapaian tujuan dan kedamaian batin. Dengan cara inilah,

sang sesepuh menyimpulkan bahwa makna dari syair di atas,
haruslah dipahami secara mendetail.
Diinterpretasikan melalui maknanya yang tersurat, syair
ini tampaknya memuji kebahagiaan dari praktek meditasi
menyendiri melebihi kenikmatan sensual dan kontak
sosial – sebuah kesenangan luar biasa yang dicoba oleh
putri Mara dalam upayanya merayu sang Bhagava. Tetapi
Yang Mulia Maha Kaccana memberikan penafsiran yang
berbeda terhadap makna syair tersebut. Menurut beliau,
perbandingan itu bukan hanya antara kesenangan sensual
dengan kebahagiaan praktek meditasi saja, tetapi antara
dua sikap yang berbeda dengan tahapan-tahapan lanjut dari
meditasi. Pertapa-pertapa biasa dan brahmana memahami
jhana dan tahapan kesadaran luar biasa lainnya yang dicapai
melalui meditasi kasina sebagai tujuan akhir dari usaha
spiritual mereka. Dengan melakukan hal itu, mereka tetap
terjebak dalam perangkap kemelekatan untuk menjadi
dan karenanya, mereka gagal menemukan jalan mencapai
pembebasan akhir. Karena mereka melekat pada kebahagiaan
dan ketenangan agung yang diperoleh dari pencapaian
jhana, mereka tidak dapat melihat bahwa sesungguhnya
keadaan-keadaan ini juga adalah terkondisi dan bersifat
sementara saja, dan dengan demikian mereka tidak dapat
melepaskan keterikatan mereka terhadap keadaan-keadaan
ini. Karena itulah mereka tetap berada dalam cengkraman
Mara, ditaklukkan oleh tentara “bentuk-bentuk kenikmatan
dan kebahagiaan,” seperti apapun keluhurannya. Tetapi sang
Buddha telah melihat asal (adi) dari pencapaian ini, yaitu
kemelekatan sebagai asal-usul penderitaan; beliau telah
melihat bahaya (adinava), yaitu bahwa keadaan ini tidak kekal,
tidak memuaskan, dan dapat berubah; beliau telah melihat

jalan keluar (nissarana) dari keadaan ini, yaitu Nibbana; dan
beliau telah memperoleh pengetahuan dan visi dimana beliau
dapat membedakan jalan yang benar dari jalan yang salah,
yaitu Jalan Mulia Beruas Delapan dari jalan keliru beruas
delapan. Dengan pengetahuan mengenai empat hal ini,
yang tak lain adalah pengetahuan tentang Empat Kebenaran
Mulia, beliau telah mencapai tujuan terakhir, Nibbana, yang
dialami sebagai ketentraman batin yang hanya dapat timbul
apabila semua kekotoran batin telah dipadamkan tanpa sisa.
Akhirnya, pada bagian akhir dari Anguttara Nikaya, dapat
ditemukan satu lagi sutta yang disusun dengan pola yang
sama seperti tiga sutta yang ada dalam Majjhima Nikaya.
Sutta ini (AN 10:172) diawali dengan sebuah pernyataan
ringkas Buddha Gotama:
“Para Bhikkhu, yang bukan Dhamma harus dipahami,
demikian juga Dhamma harus dipahami.
Yang berbahaya harus dipahami, dan yang membawa
manfaat harus dipahami.
Setelah memahami semua ini, seseorang harus berlatih
sesuai dengan Dhamma, sesuai dengan yang membawa
manfaat.”
Setelah mengutarakan pernyataan ini, sang Bhagava bangkit
dari tempat duduknya dan memasuki kediamannya.
Para bhikkhu kemudian menemui Yang Mulia Maha Kaccana
untuk meminta penjelasan. Seperti pola biasanya yang
selalu diawali dengan protes dan desakan, akhirnya Maha
Kaccana bersedia menafsirkan pernyataan ringkas sang
Buddha dengan menjabarkan sepuluh perbuatan yang tidak

membawa manfaat dan sepuluh perbuatan yang membawa
manfaat: membunuh adalah bukan dhamma, pantang
membunuh adalah dhamma; berbagai macam keadaan jahat
yang muncul sebagai akibat dari perbuatan membunuh –
adalah membahayakan; berbagai keadaan baik yang muncul
sebagai akibat dari perbuatan pantang membunuh dan yang
menuju perkembangan – adalah menguntungkan. Pola yang
sama diterapkan pada perbuatan mencuri, perilaku seksual
yang menyimpang, berbohong, memfitnah, bicara kasar, dan
gosip. Akhirnya, ketamakan, niat jahat, dan pandangan yang
salah merupakan yang bukan dhamma, dan keadaan-keadaan
jahat yang muncul sebagai akibat darinya merupakan hal
yang berbahaya; tanpa ketamakan, dengan niat baik, dan
pandangan benar adalah dhamma, dan keadaan-keadaan
baik yang muncul sebagai akibat dari perbuatan tersebut yang
menuju perkembangan merupakan hal yang bermanfaat.

Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: