Riwayat Hidup Yasodhara – Putri yang Mulia (Part 1 of 3)

DAFTAR ISI

 

  1. Prawacana Penerbit
  2. Pendahuluan
  3. Kelahiran Putri Yasodharā
  4. Masa Kecil Putri Yasodharā
  5. Pernikahan Putri Yasodharā
  6. Kelahiran Rāhula
  7. Putri Yasodharā: Pasangan Setia
  8. Putri Yasodharā Menjadi Bhikkhuni
  9. Karakteristik Utama dan Teladan Putri Yasodharā
  10. Putri Yasodharā Dalam Jātaka
  11. Parinibbāna Yasodharā Theri
  12. Yasodharā Dalam Berbagai Budaya

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Sebagai salah satu tokoh agama terkemuka di dunia dan menjadi salah satu inspirasi bagi sekian banyak orang dan peradaban, Buddha Gautama juga memiliki sisi manusiawi sebagai seorang suami dan seorang ayah. Sebagai seorang putra mahkota sebuah kerajaan makmur bernama Kapilavasthu[1], Pangeran Siddhārtha Gautama pada usia enam belas tahun mulai mencari pendamping hidupnya. Setelah melalui berbagai ujian dan unjuk diri, pilihan sang pangeran akhirnya jatuh kepada Putri Yasodharā – yang tak lain dan tak bukan adalah teman kecil dan sekaligus sepupunya sendiri.

 

Yasodharā, meskipun seorang putri kerajaan dan merupakan istri dari seorang pangeran yang bakal menjadi seorang raja, lahir dengan berbagai keistimewaan budi dan pekerti. Beliau adalah seseorang dengan kelembutan hati, kepandaian dan kesetiaan yang luar biasa. Sebagai seorang perempuan, beliau adalah sosok teladan bagi para upasika[2]. Dengan cinta yang mendalam, beliau telah mendampingi suaminya dalam beratus-ratus kelahiran. Dengan cinta yang mendalam pula beliau telah mendampinginya selama masa kehidupan terakhir mereka. Dan ketika beliau ditinggalkan oleh sang pangeran yang pergi mencari obat bagi keluarganya[3], dengan penuh kesetiaan dan ketabahan Yasodharā membesarkan anak mereka yang bernama Rāhula.

 

Kesetiaan, ketabahan, kepandaian dan kualitas-kualitas lain dari Putri Yasodharā telah menjadi inspirasi bagi banyak perempuan lain. Tidak hanya itu, beliau juga dipuji oleh Buddha Gautama sebagai murid wanita yang terkemuka dalam hal abhiññā (kekuatan batin). Yasodharā adalah satu-satunya siswi Buddha yang berhasil memiliki kemampuan untuk mengingat kehidupan masa lampau hingga lebih dari 1 asankheyya dan 100.000 kalpa[4].[5] Beliau ingat bahwa ia pernah terlahir sebagai seorang putri dari keluarga kaya raya di kota Haṃsavatī. Ketika itu pada masa Buddha Padumuttara[6], ia melihat seorang bhikkhuni yang dipuji oleh Buddha Padumuttara sebagai siswi yang terbaik dalam hal kekuatan batin. Ia pun tergerak dan bercita-cita untuk mencapai hal yang sama di kehidupannya di masa depan. Kemampuan lain beliau sebagaimana yang tergambar dalam naskah-naskah buddhis adalah kemampuan telinga dewa (mampu mendengar sangat jelas dari kejauhan), kemampuan mata dewa, kemampuan untuk mengetahui pikiran orang lain, dan kemampuan fisik supernormal lainnya.

 

Awal perjumpaan bakal putri dan pangeran dari dua kerajaan ini dapat ditelusuri sejak masa kehidupan Buddha Dīpaṅkara[7].[8] Dikisahkan bahwa pada empat Maha Kalpa dan seratus ribu kalpa tambahan di masa lampau, Buddha Gautama terlahir sebagai seorang putra brahmana di Kota Amaravatī. Beliau bernama Sumedha yang setelah memperoleh keahlian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan. Beliau pergi meninggalkan hartanya untuk menjadi seorang pertapa di pegunungan Himalaya. Disana beliau berhasil mencapai kesaktian dari meditasi jhāna[9] yang dilakukannya. Sedangkan Putri Yasodharā terlahir sebagai seorang brahmani bernama Sumitta. Pada suatu hari, seorang Buddha bernama Dīpaṅkara berangkat dari Vihara Sudassana menuju Kota Ramma. Orang-orang yang mengetahui kedatangan Beliau segera pergi membersihkan jalan-jalan menuju kota tersebut. Ketika itu pertapa Sumedha sedang terbang melintas di angkasa dan melihat kerumunan orang-orang itu. Dia lalu menghampiri dan bertanya kepada kerumunan orang tersebut tentang apa yang terjadi. Dia pun kemudian memilih sebuah jalan yang belum sempat dibersihkan. Ketika Buddha Dīpaṅkara tiba dan mendekat, pertapa Sumedha membaringkan dirinya sendiri di atas jalan yang masih berlumpur dan berkata, “Jangan biarkan Guru dan para pengikutNya menginjak lumpur. Lebih baik Beliau menginjak saya.” Melihat keteguhan dan kesungguhan pertapa Sumedha, bramani Sumitta yang melihat dari kejauhan menjadi iba. Sebelumnya brahmani Sumitta telah tiba di sisi jalan setelah memperoleh kabar kedatangan seorang Buddha dan berniat melakukan dana dengan mempersembahkan 8 (delapan) teratai. Melihat kemuliaan pertapa Sumedha, Sumitta memberikan 5 (lima) teratai kepada pertapa Sumedha untuk dipersembahkan kepada Buddha sedangkan 3 (tiga) sisanya akan dia persembahkan sendiri kepada Buddha Dīpaṅkara. Kemudian brahmani Sumitta menyatakan tekadnya agar dia dapat selalu menjadi pendamping pertapa Sumedha dalam menyempurnakan jasa kebajikannya.

 

Buddha Dīpaṅkara yang mengetahui tekad kedua orang ini kemudian menerawang dan mengetahui bahwa pertapa Sumedha memenuhi 8 (delapan) kondisi untuk menjadi Sammā Sambuddha[10]. Beliau kemudian menyatakan bahwa sang pertapa akan menjadi seorang Samma Sambuddha bernama Gautama dalam kurun waktu 4 asankheyya dan 100.000 kalpa mendatang. Beliau juga menyatakan kepada Sumedha bahwa Sumitta akan menjadi pendampingnya dalam usahanya merealisasikan pencerahan. Dalam kelahiran terakhirnya, Sumitta akan menjadi siswi Sumedha dan mencapai tingkat kesucian Arahat[11]. Dengan demikian, sejak saat itulah seorang bakal Buddha (Bodhisatta) beserta pendamping setianya ada dan mulai mengarungi arus tumimbal lahir demi menyempurnakan parami.

 

Putri Yasodharā sebagai satu-satunya orang yang mendampingi Bodhisatta pada kehidupan terakhirnya, sebagai salah satu pendamping Bodhisatta dalam banyak sekali kehidupan lampau mereka, sebagai satu-satunya istri dari Pangeran Siddhārtha dan ibu dari anak mereka, memiliki peranan lebih dari sekedar tokoh tambahan dalam kisah kehidupan Buddha Gautama. Berkat kehadirannya menjadikan tokoh besar dan mulia seperti Buddha Gautama terasa menjadi lebih manusiawi. Kisah kepergian Pangeran Siddhārtha meninggalkan istri dan anaknya yang baru lahir memang terasa tidak nyaman. Tetapi itulah sebuah momen dimana Pangeran Siddhārtha akhirnya mengambil keputusan untuk mencari obat (dari penderitaan) bagi keluarganya. Dengan penuh cinta terhadap anak dan istrinya, dengan penuh kesadaran untuk mencari obat bagi dunia, pangeran pergi meninggalkan kehidupan istana. Disini kita dapat melihat bahwa Buddha Gautama mengalami siklus kehidupan normal seorang manusia seutuhnya: dari seorang pangeran, suami, ayah, pertapa miskin, hingga menjadi guru bagi para dewa dan manusia.

 


 

KELAHIRAN PUTRI YASODHARĀ

 

Kisah ini berawal dari sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bernama Suppabuddha. Raja Suppabuddha adalah adik dari Raja Suddhodana, ayah Pangeran Siddhārtha. Raja Suppabuddha memiliki seorang ratu bernama Amita. Ketika Ratu Mahamaya mengandung, pada saat itu pula Ratu Amita mengandung. Dengan demikian dua kerajaan ini bersuka cita menyambut kelahiran putra mahkota. Tetapi kebahagiaan dirasakan berbeda oleh kedua raja. Bagi Raja Suddhodana, kehamilan Ratu Mahamaya adalah pertama kalinya dan oleh karena itu anak yang akan dilahirkannya adalah anak pertamanya. Sedangkan bagi Raja Suppabuddha ini adalah anak keduanya.

 

Ketika Ratu Mahamaya melahirkan seorang putra dalam perjalanannya menuju kampung halamannya, pada saat yang bersamaan lahir pula seorang putri oleh Ratu Amita. Kelahiran bersamaan yang secara umum dapat dikatakan kebetulan ini sesungguhnya sudah merupakan kewajaran mengingat kedua insan ini telah menjadi sepasang kekasih dalam kelahiran-kelahiran lampau mereka. Selain Putri Yasodharā, pada hari yang sama pula lahir putra dari Raja Amitodana – adik Raja Suddhodana, yang diberi nama Pangeran Ananda. Lahir pula Kaludayi – anak seorang menteri yang kelak juga menjadi menteri di Kapilavasthu, Channa yang bakal menjadi kusir istana, seekor anak kuda istana yang diberi nama Kanthaka oleh pawangnya, dan di Hutan Uruvela tumbuhlah Pohon Assattha[12] yang kelak menjadi pohon Bodhi. Secara gaib muncul pula 4 (empat) kendi emas berukuran besar. Dari gambaran di atas, hal ini berarti bahwa usia Putri Yasodharā sama dengan usia Pangeran Siddhārtha.

 

Ayah Putri Yasodharā adalah seorang pemimpin suku Koliya sedangkan ibunya berasal dari suku Sakya. Baik suku Koliya maupun suku Sakya sebenarnya merupakan bagian dari klan atau marga Ᾱdicca atau Ikṡvāku dari Dinasti Matahari. Tidak ada keluarga lain yang sebanding dengan keduanya di wilayah ini dan oleh karena itu, pernikahan antar sesama kedua keluarga ini sering terjadi.

 

Salah satu hal unik dari Putri Yasodharā adalah nama-nama yang diberikan kepadanya. Ada berbagai macam nama dan gelar yang diberikan kepadanya dalam kehidupannya yang terakhir ini. Sebagai seorang putri kerajaan, diberikanlah nama Yasodharā (bahasa Sansekerta) yang berasal dari kata “yasas” yang berarti kejayaan atau kemegahan dan “dhara” yang berarti pembawa[13]. Dengan demikian apabila digabungkan Yasodharā memiliki arti “Sang Pembawa Kejayaan”. Hal ini amat sesuai dengan arti nama Pangeran Siddhārtha. Siddhārtha memiliki arti “Yang Tercapai Cita-Citanya”. Hal ini menunjukkan bahwa sejak beratus-ratus kehidupan lampau mereka hingga pada kelahiran terakhir mereka, Putri Yasodharā telah menjadi pendukung dan penyokong Pangeran Siddhārtha dalam upayanya menyempurnakan parami[14].

 

Selain nama ‘Yasodharā’, sang putri juga dikenal dengan sebutan Bimbadevi yang berasal dari kata ‘bimba’ yang berarti citra dan ‘devi’ yang berarti dewi atau makhluk surgawi perempuan. Hal ini dikarenakan rupa sang putri yang begitu jelita bagaikan jelmaan seorang dewi surga.

 

Selain dua nama di atas, Yasodharā juga dikenal dengan nama Bhaddakaccana. Sebutan inilah yang ada dan tercatat dalam kitab Pali. Kita tidak dapat menemukan kata Yasodharā maupun Bimbadevi dalam kitab Pali, tetapi kita dapat menemukan kata Bhaddakaccana. Buddhaghosa[15] mengidentifikasi nama Bhaddakaccana yang terdapat di dalam Aṅguttara Nikāya sebagai siswi yang terkemuka dalam kemampuan batin ini sebagai Rāhulamātā (ibu dari Rāhula). Di dalam kitab tersebut, Buddha menyebutkan bahwa Bhaddakaccana adalah siswi yang terkemuka dalam kemampuan batin (“mahabhinnappattanam yadidam bhaddakaccana“). Beliau adalah salah satu dari empat siswa-siswi Buddha yang memiliki kemampuan tersebut, yaitu: Sāriputta, Maha Moggāllana, dan Bakkula.

 

Sejak kepergian Pangeran Siddhārtha, Putri Yasodharā harus membesarkan sendiri anak mereka yang bernama Rāhula sehingga beliau juga sering disebut Rāhulamātā[16] yang berarti “ibunya Rāhula”. Apabila kita hendak mencari cerita kehidupan-kehidupan lampau Putri Yasodharā dalam kitab Jātaka[17], kita tidak akan dapat menemukan nama Yasodharā melainkan Rāhulamātā (ibu dari Rāhula).

 

Kelahiran sang putri di kerajaan Koliya menambah kebahagiaan bagi Raja Suppabuddha dan Ratu Amita yang sebelumnya telah dikaruniai seorang putra bernama Devadatta. Kelak Devadatta inilah yang menjadi siswa licik yang mencoba membunuh Buddha Gautama dan memecah belah Sangha karena rasa iri hati dan kebenciannya yang mendalam terhadap Buddha Gautama sejak kehidupan-kehidupan lampau mereka sebelumnya.

 


 

MASA KECIL PUTRI YASODHARĀ

 

Sebagai seorang putri sebuah kerajaan makmur, Putri Yasodharā dibekali dengan berbagai pendidikan dan tata susila layaknya seorang putri. Meskipun memiliki banyak dayang-dayang untuk membantunya mengerjakan sesuatu, beliau tetap seseorang yang rendah hati dan mandiri. Yasodharā tumbuh menjadi anak yang cantik jelita dan dicintai banyak orang. Seperti Pangeran Siddhārtha, Putri Yasodharā juga memiliki rasa cinta kasih yang mendalam kepada banyak makhluk. Dengan kepandaian dan kebijaksanaannya, dia lebih membela Pangeran Siddhārtha, yang menyelamatkan seekor angsa yang dipanah oleh kakaknya sendiri, yaitu Devadatta.

 

Menurut cerita, Devadatta yang kala itu sedang berburu melihat seekor angsa. Dia pun memanah angsa putih yang sedang terbang tersebut. Angsa yang dipanah itu pun jatuh secara kebetulan di hadapan Pangeran Siddhārtha. Pangeran yang iba segera menolong angsa tersebut. Devadatta yang datang hendak mengambil angsa buruannya melihat Pangeran Siddhārtha dan berkata bahwa angsa itu adalah miliknya.

 

Tetapi dengan penuh rasa iba dan kebijaksanaan, sang pangeran berkata bahwa hanya jika angsa itu mati barulah angsa itu menjadi milik Devadatta yang telah memanahnya. Tetapi sampai saat ini angsa itu masih bertahan hidup dan terluka, dan Pangeran Siddhārtha-lah yang menyelematkannya. Dengan demikian angsa ini menjadi milik si penyelamat.

 

Tentu saja Devadatta tetap tidak dapat menerima pembelaan Siddhārtha. Akhirnya mereka bertengkar dan Pangeran Siddhārtha mengusulkan agar mereka pergi meminta keputusan dari pengadilan kerajaan terkait masalah ini. Devadatta menyetujuinya. Akhirnya diputuskan bahwa angsa itu adalah milik Pangeran Siddhārtha yang berusaha menyelamatkan nyawa si angsa. Kehidupan tidaklah pantas dimiliki oleh mereka yang berusaha menghancurkannya.

 

Devadatta pulang ke rumah dengan perasaan penuh kebencian. Dia pun bertanya kepada adiknya – Putri Yasodharā, siapa yang berhak atas angsa tersebut dan sang putri menjawab bahwa yang berhak adalah orang yang menyelamatkannya. Ketika Yasodharā mendengar pertanyaan ini, dia menjadi sangat ingin bertemu dengan orang yang telah menyelamatkan angsa tersebut. Seperti putri-putri kerajaan lainnya, Yasodharā kemudian pergi mengunjungi istana sepupunya. Ketika beliau berjalan memasuki ruangan dimana Pangeran Siddhārtha sedang menyapa para putri, mata mereka saling bertemu dan saat itu Siddhārtha merasakan getaran mendalam. Pangeran Siddhārtha tahu bahwa dia telah mencintai sang putri dalam banyak kehidupan sebelumnya. Mereka berdua saling mengetahui perasaan masing-masing dan jatuh cinta. Pangeran kemudian meminta sang putri untuk menjadi pengantinnya. Yasodharā pulang ke rumah dan memberitahukan kabar baik tersebut kepada ayahnya. Tetapi Raja Suppabudda menolak karena khawatir atas kebahagiaan Putri tercintanya.

 

“Apakah kamu tahu, putriku tersayang, terdapat tanda-tanda (ramalan) bahwa Siddhārtha akan pergi menjadi pertapa dan meninggalkan keluarganya demi mencapai pencerahan?”

 

“Ya, ayahanda, saya tahu akan hal ini,” jawab Yasodharā, “tetapi saya tidak memiliki calon suami lain selain Siddhārtha. Kami telah berjanji satu sama lain di dalam banyak kehidupan kami sebelumnya. Kali ini merupakan kehidupan kami terakhir kalinya dan kami akan melakukannya bersama-sama”.[18]

 


 

PERNIKAHAN PUTRI YASODHARĀ

 

Putri Yasodharā tumbuh dewasa menjadi gadis yang mempesona. Kecantikannya setara dengan para dewi di alam surgawi. Raja Suppabuddha dan Ratu Amita sangat menyayangi Bimbadevi, nama kecil sang putri.

 

Menjelang usia 16 tahun, pada usia yang sama dengan dirinya, Pangeran Siddhārtha diminta oleh ayahnya Raja Suddhodana untuk menikah. Pernikahan pada usia dini adalah hal yang lumrah terjadi di India pada saat itu. Raja Suddhodana mengirimkan pengumuman kepada para bangsawan agar putri-putri mereka dibawa menghadap ke istana Kapilavasthu demi acara perjodohan Pangeran Siddhārtha. Selama ini Pangeran Siddhārtha dikenal lembut dan baik hati sehingga banyak dari para bangsawan itu yang enggan mengikutkan putri mereka dalam acara perjodohan tersebut karena beranggapan bahwa Pangeran Siddhārtha tidaklah cocok untuk menjadi seorang raja. Raja Suppabuddha menginginkan agar putrinya menikah dengan seorang ksatria. Demikian pula di rumah bangsawan lainnya yang meragukan kemampuan seorang ksatria yang harus dimiliki oleh seorang putra mahkota.

 

Raja Suddhodana yang mendengar hal itu marah karena merasa putranya telah diremehkan. Raja Suddhodana menceritakan hal tersebut kepada Pangeran Siddhārtha yang kemudian dengan penuh ketenangan bersedia untuk menunjukkan kemampuan ksatrianya kepada para bangsawan tersebut. Maka diadakanlah sebuah uji kemampuan di alun-alun istana dengan mengundang semua bangsawan di daerah tersebut. Adapun uji kemampuan yang dilombakan terdiri dari 3 (tiga) jenis, yaitu kemampuan berkuda, bermain pedang, dan memanah. Semua pangeran dan pemuda diijinkan mengikuti perlombaan tersebut.

 

Pada kemampuan berkuda, Pangeran Siddhārtha menunggang Kanthaka – kuda istana yang lahir di hari yang sama dengan pangeran Siddhārtha. Dengan menunggang Kanthaka, Pangeran Siddhārtha berhasil mengalahkan sepupunya Anuruddha. Sedangkan pada kemampuan bermain pedang, pangeran berhasil mengalahkan saudara tirinya – Pangeran Nanda.

 

Dan terakhir pada perlombaan memanah disediakan sebuah busur khusus. Banyak peserta yang mencoba mengangkat busur panah tersebut tetapi tidak sanggup. Karena tidak ada yang sanggup, giliran Pangeran Siddhārtha maju dan mencoba. Ternyata dia mampu mengangkat busur tersebut dengan entengnya. Dia pun menunjukkan 4 (empat) kemampuan memanah yaitu Akkhanavedhi (memanah sasaran berkali-kali dengan cepat), Valavedhi (memanah rambut), Saravedhi (memanah anak panah lain secara beruntun) dan Saddavedhi (memanah sasaran dengan mata tertutup).

 

Akhirnya jelas sudah bahwa Pangeran Siddhārtha bukanlah seseorang dengan kemampuan biasa saja. Beliau bahkan sanggup mengalahkan banyak peserta yang mahir di bidangnya. Keraguan para bangsawan hapus sudah dan mereka berniat menjadikan Pangeran Siddhārtha menjadi menantu mereka. Pangeran pun kemudian memilih satu dari sekian banyak putri yang hadir untuk dijodohkan dengannya. Yang terpilih adalah dia yang mendapatkan sebuah kalung emas dengan batu rubi. Dan pilihan sang pangeran jatuh kepada Putri Yasodharā.

 

Demikianlah kisah pernikahan Putri Yasodharā yang disertai dengan sebuah uji kemampuan oleh calon suaminya yakni Pangeran Siddhārtha. Kebahagiaan dirasakan oleh Putri Yasodharā ketika dia dipilih oleh Pangeran Siddhārtha. Pada hari yang telah ditentukan, mereka berdua menikah dengan sebuah perayaan yang begitu meriah.

 

Raja Suddhodana menjadi sangat bahagia karena harapannya agar putranya menjadi seorang raja semakin terwujud. Raja pun membuatkan 3 (tiga) buah istana khusus untuk pangeran dan istrinya tinggal, yaitu istana Ramma (istana untuk musim dingin), istana Suramma (istana untuk musim panas) dan istana Subha (istana untuk musim hujan).

 

Demikianlah kehidupan rumah tangga mereka dimulai ketika mereka masih berusia 16 tahun. Selama 13 tahun lamanya, pangeran dan putri hidup bahagia menjalin cinta kasih di antara mereka berdua. Siddhārtha tidak hanya merasa terhormat berhasil meminang Putri Yasodharā, tetapi juga merasa bahagia dan penuh suka cita.


[1] Kapilavasthu (Pali: Kapilavatthu) adalah nama sebuah kerajaan kuno Sakya dimana Buddha Gautama menghabiskan 29 tahun pertamanya di dalam kerajaan tersebut. Diperkirakan tempat tersebut berada sekitar 10 kilometer arah barat dari tempat kelahirannya di Lumbini. Pilar Ashoka yang ada di tempat tersebut telah menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO

[2] Upasika: umat buddhis awam wanita

[3] Obat yang dimaksud disini adalah obat (atau cara, jalan) untuk mengatasi usia tua, penyakit dan kematian

[4] Asankheyya dan kalpa (Pali: kappa) adalah nama unit waktu dalam kosmologi buddhis. Dalam Visuddhimagga, terdapat 4 macam kalpa yaitu Ayu-Kalpa (waktu yang merujuk pada masa hidup manusia pada suatu era, saat ini sekitar 100 tahun dan terus menurun), Antah-Kalpa (waktu yang diperlukan oleh 1 Ayu-Kalpa untuk bertambah dari 10 tahun hingga menjadi 1 Asankya dan kembali menjadi 10 tahun), Asankya-Kalpa (20 kali Antah-Kalpa atau seperempat Maha-Kalpa), dan Maha-Kalpa. Sedangkan Asankheyya secara umum diartikan sebagai sebuah unit waktu yang tak terhingga lamanya

[5] Anguttara Nikaya Atthakatha 1, 205

[6] Buddha Padumuttara adalah Buddha ketigabelas dalam Daftar 28 Buddha. Beliau lahir di Haṃsavatī. Beliau hidup selama sepuluh ribu tahun di tiga istana: Naravāhana, Yassa (atau Yasavatī) dan Vasavatti. Banyak siswa-siswi Buddha Gautama yang memulai aspirasi mereka untuk menjadi bhikkhu/bhikkhuni pada masa Buddha Padumuttara ini

[7] Buddha keempat dalam Daftar 28 Buddha. Lahir dari kasta Brahmana di Kota Rammavatinagara dan mencapai ke-Buddha-an di bawah pohon Pipphala

[8] Buddhavaṁsa

[9] Jhāna: keadaan meditative pikiran yang terbebas dari 5 rintangan batin

[10] Sammā Sambuddha: seseorang yang mencapai tingkat kesucian tertinggi dan menjadi Buddha tanpa bantuan seorang guru dan mampu mengajarkan Dhamma kepada orang lain

[11] Apadana II, 587

[12] Nama asli pohon beringin Ficus Religiosa sebelum dikenal luas sebagai pohon Bodhi karena Pangeran Siddhartha mencapai pencerahan (Bodhi) dibawah pohon ini

[13] Berasal dari kata dasar dhri yang berarti “membawa, mendukung”

[14] Parami: jasa kebajikan

[15] Bhadantācariya Buddhaghoṣa adalah seorang pelajar dan cendikiawan buddhis abad ke-5 M

[16] Mātā: Ibu

[17] Kitab Jātaka: kitab yang menceritakan tentang kehidupan-kehidupan lampau Boddhisatta dan penuh dengan pesan moral

[18] Yasodhara and Siddhartha – The Enlightenment of Buddha’s Wife, oleh Jacqualine Kramer

 

sumber: Riwayat Hidup Yasodhara – Putri yang Mulia, Insight Vidyasena Production

 

Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: