Riwayat Hidup Yasodhara – Putri yang Mulia (Part 2 of 3)

KELAHIRAN RĀHULA

 

Dalam riwayat hidup Buddha Gautama, telah diceritakan bahwa pada hari kelima kelahiran Pangeran Siddhārtha, Raja Suddhodana mengundang delapan brahmana bijak untuk memilih usulan nama dan ramalan masa depan sang pangeran. Sang pangeran akhirnya diberi nama Siddhārtha yang berarti “dia yang tercapai cita-citanya.” Kemudian para brahmana meramalkan masa depan pangeran. Tujuh brahmana menyatakan bahwa terdapat dua kemungkinan masa depan Pangeran Siddhārtha yaitu menjadi seorang Cakkavatti[1] – seandainya dia memilih kekuasaan, atau apabila dia memilih meninggalkan keduniawian maka dia akan menjadi seorang Sammā-Sambuddha. Tetapi hanya satu brahmana muda bernama Koṇḍañña yang meramalkan bahwa pada suatu hari sang pangeran akan pergi mencari kebenaran dan menjadi Sammā-Sambuddha.

 

Teringat hal ini, Raja Suddhodana memastikan agar Pangeran Siddhārtha tidak menjadi seorang pertapa. Setelah mengadakan upacara pernikahan meriah untuk Pangeran Siddhārtha dan Putri Yasodharā, raja juga berusaha memastikan agar pangeran tidak melihat atau mengetahui 4 (empat) hal yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan seorang pertapa. Namun pangeran tetap memohon kepada ayahnya agar dia diperbolehkan melihat rakyatnya sendiri di luar istana. Akhirnya raja mengijinkan dan segera membuat persiapan.

 

Meskipun segala persiapan telah dilakukan, tetap saja ketika pangeran pergi bersama kusirnya yang bernama Channa dan kuda istana Kanthaka, sesosok orang yang belum pernah ditemui oleh Pangeran Siddhārtha muncul di tengah jalan. “Siapakah orang itu, Channa?” tanya pangeran.

 

“Itu adalah orang tua, pangeran.” Channa kemudian menjelaskan bahwa semua orang akan menjadi tua pada waktunya. Pangeran menjadi tertegun dan merenungkan bahwa kebahagiaan yang dimilikinya saat ini tidaklah kekal. Inilah penglihatan pertama seperti yang diramalkan oleh pertapa Asita. Peristiwa ini berlanjut hingga penglihatan kedua.

 

Selesai melihat kejadian kedua yaitu orang sakit, Putri Yasodharā mengandung anak pertama mereka. Hal ini dimanfaatkan oleh raja untuk membuat pangeran melupakan kesedihannya atas penampakan peristiwa sebelumnya. Ketika kehamilan Putri Yasodharā sudah besar, pangeran kembali memohon kepada ayahnya untuk pergi keluar istana. Bersama Channa beliau pergi keluar istana dan di tengah perjalanan menemui sesosok mayat (orang mati).

 

Terakhir, penampakan seorang pertapa akhirnya terjadi juga. Lalu pada saat yang bersamaan terdengar kabar berita tentang kelahiran anaknya. Mendapat kabar lahirnya seorang putra, pangeran berkata “Rāhulajāto, bandhanaṁ jātaṁ[2]. Raja yang mendengar laporan dari utusan tentang ucapan sang pangeran kemudian menamai cucunya Rāhula.

 

Kepulangan pangeran disambut meriah oleh semua rakyat dan abdi istana. Raja pun mengadakan sebuah perayaan atas kelahiran Rāhula, cucu pertamanya. Setelah berakhirnya pesta, pangeran terbangun dan kecewa melihat pemandangan yang menjijikan dari orang-orang mabuk dan lain sebagainya. Keinginannya untuk tinggal di istana padam sudah. Dia pun bertekad untuk menemukan obat untuk mengatasi sakit, tua dan mati yang selama ini menghantuinya. Untuk terakhir kalinya dia pergi melihat istri dan putranya yang sedang tertidur pulas. Dia pun pergi meninggalkan istana bersama Channa dan Kanthaka.

 

Demikianlah peristiwa kelahiran Rāhula yang berkaitan langsung dengan tekad pangeran untuk menemukan pencerahan. Rāhula yang diharapkan menjadi belenggu bagi ayahnya ternyata dikalahkan oleh rasa cinta pangeran terhadap istri-anaknya dan semua orang yang berharga bagi dirinya.


 

PUTRI YASODHARĀ: PASANGAN SETIA

 

Sepeninggalan pangeran, putri harus menjadi orang tua tunggal bagi putranya. Ayah Putri Yasodharā menjadi sangat marah terhadap Pangeran Siddhārtha dan merasa dipermalukan. Dia pun meminta putrinya untuk kembali ke kerajaan Koliya. Permintaan tersebut ditolak oleh sang putri. Putri lebih memilih untuk tetap setia menunggu kepulangan suaminya yang mengembara menjadi seorang pertapa. Untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dan dilakukan oleh suaminya, Putri Yasodharā  selalu berusaha mencari tahu dan memperoleh kabar tentang kehidupan pangeran sebagai seorang pertapa. Dengan penuh kesetiaan pula beliau berlaku selayaknya pertapa wanita. Demikianlah beliau membesarkan anaknya sambil mengikuti perjuangan suaminya. Para pelayannya pun mengikuti laku serupa.

 

Ketika mendapat kabar burung bahwa pertapa Siddhārtha meninggal, dia terpukul. Tetapi mengingat ramalan dan namanya, Raja Suddhodana meyakinkan istri dan menantunya bahwa pangeran belum meninggal sebelum memperoleh apa yang diharapkannya. Sampai suatu hari mereka mendapat kabar bahwa pangeran telah berhasil menjadi seorang Buddha. Mereka bersuka cita menunggu kepulangan anak dan suami yang kini telah menjadi orang suci.

 

Pada hari kedatangan Buddha, Yasodharā menunjukkan kepada anaknya Rāhula tentang kebesaran dan kemuliaan seorang manusia agung, ayahnya itu. Dia pun mengungkapkan ciri-ciri manusia agung yang ada pada tubuh Buddha. Terdapat 32 karakteristik utama manusia agung sebagaimana yang dijelaskan dalam Lakkhana Sutta – Digha Nikaya.

 

Sebagai seorang istri, Yasodharā dengan sabar menunggu kedatangan Pangeran Siddhārtha yang kini telah menjadi Buddha. Beliau berpikir bahwa “jika aku memang pernah memberikan pelayanan yang layak, maka Ia akan menjumpaiku secara pribadi. Barulah aku akan memberikan hormat kepadaNya.” Jadi sang putri tetap menunggu di kamarnya.

 

Sementara itu, seusai bersantap siang Buddha bermaksud menemui Putri Yasodharā. Bersama YM Sariputta dan YM Maha Moggallana[3], Buddha pergi menuju kediaman Putri Yasodharā. Beliau pun berkata kepada kedua siswa utamaNya itu agar membiarkan putri melakukan apa saja yang dia inginkan. Mendengar laporan pelayannya bahwa Buddha telah berdiri di depan pintu kamar, putri tidak dapat lagi menahan keinginannya untuk bertemu suaminya itu. Dia pun segera keluar dan menangis di bawah kaki Buddha.

 

Raja kemudian menceritakan perilaku putri yang mengikuti apa yang dilakukan oleh Buddha ketika menjalani kehidupan suci. Bahkan ketika banyak bangsawan dan pangeran yang berusaha memikatnya, putri tidak melirik sedikit pun. Demikian setianya Putri Yasodharā kepada suaminya. Tak terkalahkan!

 

Kemudian Buddha pun dengan kemampuanNya mengingat kehidupan masa lalu menceritakan kisah kesetiaan sang putri yang tidak hanya dilakukannya pada masa kehidupan saat ini, tetapi juga sejak kehidupan-kehidupan di masa lampau. Kisah ini tercatat dalam Candakinnara Jātaka, Jātaka 485.

 

Suatu ketika, Yasodharā pernah hidup sebagai Kinnari[4] bernama Candaa. Suaminya adalah Kinnara[5] bernama Canda. Suatu hari, ketika mereka sedang bermain di sebuah sungai, seorang raja bernama Brahmadatta yang gemar berburu melihat Candaa dan jatuh hati kepadanya. Brahmadatta adalah raja yang berkuasa penuh di seluruh India saat itu. Raja itu lalu memanah Canda, suami Candaa. Candaa menangis melihat kematian suaminya dan mengusir raja yang berniat menjadikannya permaisuri. Sambil menangis, Candaa meratap kepada para dewa meminta pertolongan. Dewa Sakka yang berempati kemudian menjelma menjadi seorang brahmana dengan kesaktian tinggi. Dengan kemampuannya, brahmana sakti itu menghidupkan kembali Canda. Candaa dan Canda pun kembali hidup bahagia bersama.

 

Tetapi cinta, rasa kagum dan pengabdian Putri Yasodharā paling dapat terlihat jelas di dalam puisinya yang berjudul “Singa di antara Manusia”. Di dalam puisi ini, Putri Yasodharā memuji karakteristik agung dan menawan yang dimiliki Buddha Gautama kepada anaknya Rāhula. Setelah Buddha menemui istri dan anaknya[6], Putri Yasodharā berkata kepada putranya untuk pergi menemui ayahnya – Buddha Gautama, dan meminta warisan darinya. Rāhula pergi menuruti perkataan ibunya dan menemui ayahnya. Rāhula kecil terus mengikuti kemana perginya Buddha Gautama sambil meminta warisan dari ayahnya itu. Ketika diminta warisan berharga oleh anakNya, Buddha Gautama berpikir bahwa warisan paling berharga yang dapat diberikanNya adalah Dhamma[7]. Oleh karena itu Buddha meminta YM Sariputta untuk menahbiskan Rāhula kecil menjadi samanera. Dengan demikian Rāhula adalah samanera pertama di dunia. Pada saat itu Rāhula berusia 7 (tujuh) tahun.

 


 

PUTRI YASODHARĀ MENJADI BHIKKHUNI

 

Kembali Putri Yasodharā harus kehilangan suami dan kali ini anaknya yang juga telah menjadi samanera. Empat musim hujan kemudian, Raja Suddhodana jatuh sakit dan Buddha dipanggil pulang untuk menemui ayahNya. Buddha segera bergegas pulang ke istana dan membabarkan dhamma kepada ayahNya. Tepat pada saat itu pula raja merealisasi kesucian tertinggi dan menjadi seorang Arahat perumah tangga[8].

 

Setelah perabuan Raja Suddhodana, Buddha kembali ke Vesali. Ratu Mahapajapati Gotami yang telah menjadi Sotāpanna tidak larut dalam kesedihan mendalam. Dia pun memutuskan untuk mengikuti jejak anak tirinya dan menjadi seorang bhikkhuni. Mendengar keputusan ratu, Putri Yasodharā dan para janda Sakya yang ditinggal oleh para suami mereka mengikuti jejak Buddha Gautama pun turut serta berkeinginan menjadi bhikkhuni. Mereka mencukur rambut dan mengenakan jubah kuning sepertihalnya para bhikkhu. Mereka menyusul Buddha beserta rombongannya ke Vesali dengan berjalan kaki sepanjang hampir 1000 km. Kaki mereka yang lembut dan indah menjadi terluka, tubuh mereka menjadi kotor oleh debu dan tanah tetapi itu semua tidak menyurutkan langkah mereka menuju Vesali, kediaman Buddha.

 

Setibanya disana, YM Ananda melihat kedatangan ratu beserta rombongannya dan menanyakan apa arti semua ini. Setelah menceritakan keinginan mereka, YM Ananda menyampaikan maksud mereka kepada Buddha. Dengan berbagai pertimbangan, Buddha akhirnya mengijinkan kaum perempuan ditahbiskan menjadi bhikkhuni. Inilah untuk pertama kalinya di dunia Sangha Bhikkhuni terbentuk dengan Ratu Mahapajapati Gotami sebagai bhikkhuni pertama yang ditahbiskan oleh Buddha sendiri. Hal ini juga menunjukkan betapa Buddha mengangkat kesetaraan jender antara kaum pria dan wanita yang selama ini tidak imbang di masyarakat India kuno. Bahkan dapat dikatakan bahwa Sangha Bhikkhuni adalah organisasi wanita pertama yang dibentuk di dunia dan Buddha menjadi pelopor pertama yang mengangkat derajat kaum wanita dalam hal kesetaraan kehidupan spiritual. Setelah menjadi bhikkhuni, Putri Yasodharā lebih dikenal dengan nama Bhaddakaccana atau Rāhulamātā.

 


 

KARAKTERISTIK UTAMA DAN TELADAN PUTRI YASODHARĀ

 

Putri Yasodharā merupakan seorang wanita yang cantik dan baik hati. Karakteristik utamanya di dalam riwayat perjalanan hidup Buddha Gautama adalah sebagai seorang pendamping hidup yang setia dan mandiri. Hal ini dapat terlihat dari ketabahan Putri Yasodharā ketika ditinggal pergi oleh suaminya. Dengan penuh ketabahan beliau membesarkan anak mereka seorang diri. Beliau berusaha menjadi seorang ibu yang kuat bagi Rāhula. Putri Yasodharā juga merupakan seorang wanita yang berani mengemukakan pendapatnya. Hal ini tercermin dalam cerita pembelaannya kepada penyelamat angsa dan penolakannya terhadap pinangan pangeran-pangeran lain setelah kepergian Siddhārtha.

 

Meskipun demikian, sebenarnya tersimpan kesedihan mendalam di dalam dirinya ketika Pangeran Siddhārtha pergi meninggalkan istana dan keluarganya. Hal ini sungguh wajar karena tidaklah mudah untuk ditinggal pergi oleh seorang suami dan menjadi janda di usia yang muda. Terlebih dengan keberadaan putra mereka yang baru saja lahir.

 

Pagi hari setelah merayakan kelahiran Rāhula, Putri Yasodharā bangun dan mendengar berita bahwa suaminya telah pergi menjadi seorang pertapa. Segera ia bergegas menemui Channa, kusir pangeran untuk memastikan kabar berita tersebut. Mengetahui kebenaran berita tersebut, kesedihan mendalam muncul di dalam diri Putri Yasodharā. Meskipun dia telah mengetahui kemungkinan hal ini akan terjadi, tetap sebagai seorang istri yang sangat mencintai dan memuja suaminya, kepergian Siddhārtha tidak mudah diterima. Yasodharā pun menyalahkan Channa yang gagal membujuk Pangeran Siddhārtha untuk kembali. Demikian pula ibu tiri Pangeran Siddhārtha, Pajapati Gotami yang ikut meratapi kepergian anak tirinya itu.[9]

 

Sifat manusiawi lainnya dari Putri Yasodharā tergambar pada peristiwa kunjungan Siddhārtha untuk pertama kalinya ke istana setelah menjadi Buddha. Pada awalnya Putri Yasodharā menolak bertemu dan menghadap Buddha Gautama yang telah tiba di halaman istana. Raja mengutus pelayan untuk meminta Putri Yasodharā segera pergi menemui Buddha Gautama di istana tetapi permintaan itu terus ditolak oleh putri yang terus mengeluh. Beliau berpendapat bahwa apabila selama menjadi istri Pangeran Siddhārtha dia pernah memberikan pelayanan terbaiknya, maka biarlah Buddha sendiri yang datang menemuinya di kamarnya. Harapannya terkabul. Buddha kemudian datang menemui Putri Yasodharā langsung. Ketika mengetahui Buddha berada di depan kamarnya, hati Putri Yasodharā bercampur aduk menjadi satu. Beliau merasakan kemarahan karena ditinggal pergi menjadi orang tua tunggal, kekecewaan terhadap suaminya, tetapi juga rasa syukur dan bahagia mengetahui bahwa suaminya dalam keadaan sehat dan telah menjadi Buddha. Dia menangis di bawah kaki Buddha Gautama yang berdiri diam selama beberapa saat lamanya. Setelah tenang, Buddha kemudian membabarkan Ajaran dan Putri Yasodharā menjadi seorang Sotāpanna[10].

 

Bahkan di dalam naskah-naskah buddhis, keberadaan beliau setelah menjadi bhikkhuni hampir tersamarkan. Hal ini mungkin dikarenakan sifat beliau yang lebih menyukai ketenangan dan kedamaian dalam menjalani kehidupan suci setelah memasuki persaudaraan. Dengan sifat keibuannya, beliau tetap mengawasi pertumbuhan Bhikkhu Rāhula sambil menjalani kehidupan sucinya sebagai seorang Arahat. Demikianlah karakteristik utama yang terdapat dalam diri Putri Yasodharā. Sebagai seorang menantu yang baik, seorang istri yang sempurna dan sebagai seorang ibu yang kuat. Semua sifat agung seorang wanita dapat ditemukan di dalam diri Putri Yasodharā.


[1] Cakravarti (Sansekerta): Raja Dunia, Raja Diraja

[2] Belenggu telah lahir, ikatan besar telah lahir

[3] Yang Mulia Sariputta dan Yang Mulia Maha Moggallana adalah dua siswa utama Buddha Gautama

[4] Makhluk setengah burung setengah manusia (perempuan)

[5] Makhluk setengah burung setengah manusia (laki-laki)

[6] Kata “istri dan anak” tetap digunakan untuk memberikan hubungan keterkaitan antara Buddha Gautama (sebelumnya dikenal dengan nama Pangeran Siddhārtha) dengan Putri Yasodharā dan Rāhula. Setelah menjadi seorang Buddha, Siddhārtha menjalani kehidupan suci dan berselibat

[7] Dhamma: Ajaran Buddha, kebenaran

[8] Maksudnya disini adalah seseorang mencapai tingkat kesucian tertinggi – Arahat, tanpa memasuki Sangha dan menjadi seorang bhikkhu/bhikkhuni terlebih dahulu

[9] Yasodharā – The Wife of The Bodhisattva. Terjemahan dari kitab Yasodharāvata dan Yasodharāpadānaya berbahasa Sinhala oleh Ranjini Obeyesekere. 2009. Hal 3-5

[10] Sotāpanna atau pemenang arus adalah sebutan untuk seseorang yang telah melenyapkan tiga kekotoran pikiran. Sotāpanna adalah tingkatan pertama dari empat tingkatan kesucian

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: