Riwayat Hidup Maha Kassapa (7)

Hubungan dengan Para Murid dan Bhikkhu-Bhikkhu Pengikutnya

 

Seorang yang begitu mendedikasikan hidupnya dalam kehidupan pertapaan seperti Maha Kassapa, tidak dapat diharapkan untuk menerima dan melatih banyak murid. Dan pada kenyataannya, kitab-kitab Pali menyebutkan bahwa beliau hanya memiliki sedikit murid saja.

 

Salah satu dari sedikit catatan tentang khotbah Kassapa yang ditujukan kepada para bhikkhu berkaitan dengan perihal penaksiran yang berlebihan pada pencapaian seseorang:

 

“Mungkin terdapat seorang bhikkhu yang mengatakan bahwa dia telah mencapai pengetahuan tertinggi, yaitu mencapai tingkat kesucian Arahat. Kemudian seorang Guru atau seorang siswa yang memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain, memeriksa dan memberinya pertanyaan. Ketika mereka bertanya padanya, bhikkhu tersebut menjadi malu dan bingung. Para penanya sekarang mengerti bahwa bhikkhu tersebut telah membuat pernyataan dengan melebih-lebihkan pencapaiandirinya tanpa maksud untuk bersikap congkak. Kemudian, dengan mempertimbangkan alasan ini, dia melihat bahwa bhikkhu ini telah memperoleh banyak pengetahuan dan cakap tentang Ajaran, yang menyebabkannya mengungkapkan penilaian lebih terhadap dirinya sendiri. Menembus pikiran bhikkhu tersebut, dia melihat bahwa dia masih dihalangi oleh lima rintangan dan telah berhenti separuh jalan ketika masih ada banyak hal yang harus dilakukan.”

— A.10:86

 

Terlepas dari beberapa contoh dimana Maha Kassapa berbicara kepada para bhikkhu yang tidak diketahui namanya atau kepada sekelompok bhikkhu, catatan yang ada hanya mencatat hubungannya dengan Sariputta dan Ananda.

 

Menurut Jataka, pada kehidupan lampaunya Sariputta pernah terlahir dua kali sebagai putra Kassapa (J.509, 515) dan dua kali sebagai saudara laki-laki Kassapa (J.326, 488). Dia juga pernah terlahir sebagai cucu laki-laki Kassapa (J.450) dan sahabat Kassapa (J.525).Di dalam syair-syairnya, Kassapa menyebutkan bahwa dia melihat ribuan dewa Brahma turun dari alam surga mereka, memberi penghormatan kepada Sariputta dan memujinya (Thag. 1082-1086).

 

Dua percakapan antara Maha Kassapa dan Sariputta telah tercatat di dalam Kassapa Samyutta.Kedua kejadian ini terjadi pada sore hari, setelah meditasi, Yang Mulia Sariputta pergi mengunjungi Yang Mulia Maha Kassapa.

 

Di dalam naskah pertama Sariputta bertanya: “Telah dikatakan, sahabatku Kassapa, bahwa tanpa semangat dan tanpa rasa takut atas perbuatan jahat, seseorang tidak mampu mencapai pencerahan, tidak mampu mencapai Nibbana, tidak mampu mencapai perlindungan tertinggi, tetapi sebaliknya, dengan semangat dan dengan rasa takut atas perbuatan jahat, seseorang mampu atas pencapaian-pencapaian tersebut. Sekarang seberapa jauh seseorang tidak mampu atas pencapaian-pencapaian itu dan sejauh mana seseorang mampu atas pencapaian-pencapaian tersebut?”

 

“Ketika, sahabatku Sariputta, seorang bhikkhu berpikir: ‘Apabila keadaan-keadaan buruk dan tidak baik yang sejauh ini belum muncul di dalam diriku telah muncul, hal ini akan membahayakanku,’ dan apabila dia tidak membangkitkan semangat dan rasa takut atas perbuatan jahat, maka dia akan kekurangan semangat dan rasa takut atas perbuatan jahat. Ketika dia berpikir: ‘Apabila keadaan-keadaan buruk dan tidak baik yang sejauh ini telah muncul di dalam diriku tidak ditinggalkan, hal ini akan membahayakanku,’ atau: ‘Apabila keadaan-keadaan baik yang belum muncul tidak muncul, hal ini akan membahayakanku,’ atau: ‘Apabila keadaan-keadaan baik yang telah muncul akan lenyap, hal ini akan membahayakanku,’ apabila peristiwa-peristiwa ini terjadi, dan seorang bhikkhu tidak memunculkan semangat dan rasa takut atas perbuatan jahat, maka dia kekurangan kualitas-kualitas ini, dan karena kekurangan keduanya, dia tidak mampu mencapai pencerahan, tidak mampu mencapai Nibbana, tidak mampu mencapai perlindungan tertinggi. Tetapi apabila seorang bhikkhu (di dalam empat peristiwa tersebut dengan daya upaya benar) mengembangkan semangat dan rasa takut atas perbuatan jahat, dia mampu mencapai pencerahan, mampu mencapai Nibbana, mampu mencapai perlindungan tertinggi.”

— S.16:2;(diringkas)

 

Pada peristiwa lain Sariputta bertanya kepada Maha Kassapa beberapa pertanyaan yang mungkin tidak diharapkan seseorang: apakah Yang Sempurna (Tathagata) ada setelah kematiannya, atau tidak ada, atau (dalam beberapa pengertian) ada dan tiada, atau tiada dan tidak tiada.

 

Di dalam setiap kasus Maha Kassapa menjawab bahwa hal ini tidak dinyatakan oleh Yang Mulia. Dan ketika ditanya mengapa tidak, dia berkata: “Karena hal ini tidak membawa manfaat dan bukan merupakan hal fundamental dalam kehidupan suci, karena hal ini tidak membawa pada pelepasan (dari duniawi), atau pada ketenangan, penghentian, kedamaian (batin), pengetahuan langsung, pencerahan, dan Nibbana.”

 

“Tetapi sahabat, apakah yang dinyatakan oleh Yang Mulia?”

 

“Ini adalah penderitaan-demikianlah, sahabat, yang telah dinyatakan oleh Yang Mulia.Inilah sebab penderitaan – akhir dari penderitaan – jalan untuk mengakhiri penderitaan – demikianlah, sahabat, yang telah dinyatakan oleh Yang Mulia.Dan mengapa?Karena hal ini memberikan manfaat dan merupakan hal fundamental dalam kehidupan suci, karena hal ini membawa pada pelepasan (dari duniawi), pada ketenangan, pelenyapan, kedamaian (batin), pengetahuan langsung, pencerahan, dan Nibbana.”

— S. 16:12

 

Kita tidak mengetahui alasan mengapa Sariputta mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, yang mana bagi seorang Arahat seharusnya sudah jelas. Akan tetapi, tidak mungkin percakapan ini berlangsung sesaat setelah penahbisan Kassapa dan sebelum beliau mencapai tingkat kesucian Arahat, dan bahwa Sariputta berniat menguji Kassapa dengan cara seperti di atas, atau mungkin hal ini dilakukan demi kepentingan para bhikkhu lain yang mungkin ada disana.

 

Majjhima Nikaya mencatat sebuah sutta (No. 32, Mahagosinga Sutta) dimana Maha Kassapa berpartisipasi di dalam sebuah kelompok diskusi bersama beberapa murid lain yang dipimpin oleh Sariputta. Pada saat itu para sesepuh ini sedang berdiam di Hutan Gosinga bersama dengan Buddha dan pada suatu malam dimana bulan bercahaya terang, mereka mendekati Sariputta untuk melakukan sebuah diskusi tentang Dhamma. Sariputta menyatakan: “Sungguh menyenangkan Hutan Gosinga ini, malam ini adalah malam dimana bulan bercahaya dengan terang, pohon-pohon sala sedang berbunga, dan tampaknya seolah-olah aroma surgawi sedang tercium di sekitar.”

 

Kemudian dia bertanya kepada setiap sesepuh yang istimewa dalam kelompok itu – Ananda, Revata, Anuruddha, Maha Kassapa, dan Maha Moggallana – tipe bhikkhu apakah yang dapat menyinari Hutan Gosinga. Maha Kassapa, seperti sesepuh lainnya, menjawab sesuai dengan temperamennya sendiri. Dia menyatakan bahwa seorang bhikkhu yang dapat menyinari Hutan Gosinga adalah seorang penghuni hutan, dia yang pergi berpindapatta, yang mengenakan jubah usang, yang hanya memiliki tiga jubah, yang memiliki sedikit keinginan, yang merasa puas, menyendiri, tidak berlebihan dalam berteman, penuh semangat, dan yang akan memuji setiap kualitas-kualitas berikut ini. Dia memiliki sifat kebaikan, konsentrasi, kebijaksanaan, pelepasan, dan pengetahuan dan visi pelepasan, dan akan memuji setiap pencapaian kualitas ini.

 

Menurut tradisi, Maha Kassapa juga memiliki hubungan yang dekat pada kehidupan-kehidupan lampaunya dengan Yang Mulia Ananda.Ananda pernah terlahir dua kali sebagai saudara laki-lakinya (J.488, 535), sekali sebagai putranya (J. 450), bahkan sekali sebagai pembunuh putranya (J. 540), dan pada kehidupan saat ini dia adalah muridnya (Maha Vagga I, 74).Kassapa Samyutta juga mencatat dua percakapan di antara mereka.Percakapan antara Maha Kassapa dan Ananda berfokus pada pertanyaan-pertanyaan praktis sedangkan percakapan dengan Sariputta merujuk pada doktrin.

 

Pada peristiwa pertama (berkaitan pada S. 16:10), Ananda bertanya kepada Kassapa apakah dia akan pergi bersamanya menuju kediaman para bhikkhuni. Kassapa menolak dan meminta Ananda pergi sendiri.Tetapi Ananda kelihatannya berharap agar Kassapa memberikan sebuah khotbah Dhamma kepada para bhikkhuni dan dia pun mengulangi permohonannya untuk kedua kalinya.Kassapa akhirnya bersedia pergi dan memberikan sebuah khotbah Dhamma kepada para bhikkhuni. Tetapi hasil akhirnya tampaknya berbeda dengan apa yang diharapkan oleh Ananda. Salah satu bhikkhuni, Thullatissa namanya, memperkeras suaranya untuk membuat sebuah pernyataan kasar: “Bagaimana mungkin Yang Mulia Kassapa mengira dapat berbicara Dhamma dengan kehadiran Yang Mulia Ananda, pertapa yang terpelajar? Hal ini seperti seorang pedagang jarum yang menjual jarum kepada pembuat jarum.”

 

Kelihatan jelas bahwa bhikkhuni ini lebih menyukai penyampaian khotbah Ananda dibandingkan pendekatan tajam dan terkadang kritis oleh Kassapa, yang mungkin telah menyentuh kelemahan bhikkhuni itu.

 

Ketika Kassapa mendengar pernyataan bhikkhuni itu, dia bertanya kepada Ananda: “Bagaimana ini, sahabatku Ananda, apakah saya seorang penjual jarum dan anda adalah pembuat jarum, atau apakah saya si pembuat jarum dan anda si penjual jarum?”

 

Ananda menjawab: “Mohon kemurahan hati, Yang Mulia. Dia adalah seorang wanita bodoh.”

 

“Berhati-hatilah, sahabatku Ananda, atau Sangha akan memeriksamu lebih lanjut. Bagaimana, sahabatku Ananda, apakah anda yang dimaksudkan oleh Yang Mulia pada kehadiran Sangha ketika Beliau berkata: ‘Aku, o para bhikkhu, dapat mencapai sesuai dengan kehendakku empat penyerapan meditatif materi-halus dan immateri, pelenyapan persepsi dan perasaan, enam pengetahuan supernormal; dan Ananda juga dapat mencapainya’?”

 

“Bukan demikian, Yang Mulia.”

 

“Atau apakah yang Beliau katakan: ‘Kassapa juga dapat mencapainya’?”

 

Dari catatan di atas, kita dapat melihat bahwa Yang Mulia Maha Kassapa tidak berpikir bahwa jawaban damai Ananda cukup atau adil dalam situasi tersebut.Pernyataan Thullatissa menunjukkan kemelekatan pribadinya terhadap Ananda, yang telah menjadi seorang figur favorit di antara para bhikkhuni, dan yang telah memberikan dukungan kuatnya dalam pendirian persaudaraan para bhikkhuni (Bhikkhuni Sangha).Hubungan emosional Thullatissa terhadap Ananda tidak dapat disingkirkan hanya oleh pernyataan umum Ananda. Oleh karena itu Kassapa merespon dengan cara yang kelihatannya secara sekilas agak kasar: “Berhati-hatilah, sahabatku Ananda, atau Sangha akan memeriksamu lebih lanjut!” Hal ini diucapkan bahwa Ananda tidak seharusnya melibatkan dirinya sendiri terlalu jauh dalam mengurusi para bhikkhuni, karena bagi para bhikkhuni dapat muncul ketergantungan sepertihalnya yang berkembang dalam diri Thullatissa, dan dapat menyebabkan yang lain memiliki keragu-raguan terhadap dirinya. Oleh karenanya, jawaban Kassapa harus dilihat sebagai nasehat tulus dari seorang Arahat yang bebas dari kemelekatan kepada seseorang yang belum mencapai tingkat kesucian tersebut. Ketika, sesaat setelahnya, Kassapa menyebutkan bahwa Buddha telah menyatakan pencapaian meditatifnya sebanding dengan dirinya, dan bukannya Ananda, hal ini dapat disimpulkan untuk menunjukkan perbedaan status spiritual keduanya yang jauh; dan hal ini juga dapat menjadi semacam pemacu bagi Ananda untuk mencapai pencapaian-pencapaian tersebut. Akan tetapi bhikkhuni Thullatissa kemudian meninggalkan Sangha.

 

Percakapan lain antara Yang Mulia Maha Kassapa dan Ananda muncul pada peristiwa berikut ini (berkaitan dengan S.16:11). Pada suatu ketika Yang Mulia Ananda pergi mengembara di Perbukitan Bagian Selatan bersama dengan sekelompok besar para bhikkhu.Pada saat inilah secara bersamaan tiga puluh bhikkhu muda, murid-murid Yang Mulia Ananda, melepaskan jubah mereka dan kembali pada kehidupan berumah tangga.Setelah Yang Mulia Ananda mengakhiri pengembaraannya, dia kembali ke Rajagaha dan pergi mengunjungi Yang Mulia Maha Kassapa.Setelah dia memberikan hormat dan duduk, Kassapa berkata:

 

“Apakah alasannya, sahabatku Ananda, Sang Bhagava telah mengatakan bahwa hanya tiga bhikkhu yang seharusnya pergi saat berpindapatta diantara keluarga-keluarga?”

 

“Terdapat tiga alasan Yang Mulia: itu adalah untuk menjauhi orang-orang berperilaku buruk, demi kebaikan para bhikkhu baik, dan tidak menyulitkan bagi keluarga awam.”

 

“Maka, sahabatku Ananda, mengapa anda pergi bersama para bhikkhu muda baru yang pikirannya belum terkendali, yang tidak berkecukupan dalam hal makan, yang tidak dianjurkan untuk pengamatan?Tampaknya anda berperilaku seperti seseorang yang menginjak-injak jagung.Kelihatannya anda menghancurkan keyakinan yang dimiliki oleh keluarga-keluarga awam.Pengikut anda pecah, murid-murid baru anda pergi.Para pemuda ini sungguh tidak mengetahui takarannya sendiri!”

 

“Rambut uban sekarang telah tumbuh di kepalaku, Yang Mulia, namun kami tidak dapat terhindar dari sebutan ‘pemuda’ oleh Yang Mulia Maha Kassapa.”

 

Tetapi Yang Mulia Maha Kassapa mengulangi lagi kata-kata yang sama dengan yang telah dia ucapkan.

 

Permasalahan ini dapat diakhiri, karena Ananda tidak menyangkal bahwa celaan tersebut benar adanya. Dia hanya keberatan dengan cara menyakitkan yang diekspresikan oleh Maha Kassapa. Dalam respon atas celaan tersebut, Ananda akan mencoba menjaga murid-muridnya dengan disiplin yang lebih ketat. Tetapi, sekali lagi, permasalahan ini diperumit oleh seorang bhikkhuni, Thullananda, yang bersama dengan Thullatissa adalah salah satu dari “bibit buruk” dalam persaudaraan para bhikkhuni. Dia telah mendengar bahwa Ananda telah dipanggil “pemuda” oleh Yang Mulia Maha Kassapa, dan dengan penuh kemarahan, dia mengeraskan suara protesnya dengan berkata bahwa Kassapa tidak memiliki hak untuk mengkritik seorang bhikkhu bijak seperti Ananda karena Kassapa pernah menjadi seorang pertapa dari ajaran lain. Dengan cara itu, Thullananda telah membelokkan permasalahan disiplin monastik ke dalam ranah pribadi. Disamping itu, dia telah keliru, karena seperti yang telah ditunjukkan dalam catatan sebelumnya (Sebelum menemui Buddha, Kassapa telah menjadi seorang pertapa mandiri, bukan seorang pengikut ajaran tertentu).Thullananda segera meninggalkan persaudaraan sepertihalnya yang telah dilakukan oleh bhikkhuni bertingkah lainnya, Thullatissa.

 

Ketika Yang Mulia Maha Kassapa mendengar pernyataan Thullananda, dia berkata kepada Ananda: “Sungguh kasar dan tanpa pertimbangan kata-kata yang telah diucapkan oleh bhikkhuni Thullananda. Semenjak saya meninggalkan kehidupan rumah, saya tidak mempunyai guru lain selain Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna” (S.16:11).

 

sumber:

Riwayat Hidup Maha Kassapa – Bapak Sangha, Insight Vidyasena Production

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: