Riwayat Hidup Maha Kaccana (4)

6. Ajaran Lain dari
Maha Kaccana
Tidak semua khotbah yang disampaikan oleh Yang Mulia
Maha Kaccana merupakan penjelasan tentang pernyataan
ringkas sang Buddha. Beliau juga menyampaikan Dhamma
yang tidak berawal dari pernyataan ringkas Buddha, dan
beliau juga terampil dalam menghilangkan keraguan para
penanya dan bhikkhu pengikutnya dengan wawasannya
sendiri terhadap ajaran.
Majjhima Nikāya memiliki sebuah dialog utuh antara sang
sesepuh dengan Raja Avantiputta dari Madhura, yang
(menurut komentar) adalah cucu Raja Candappajjota dari
Avanti. Pada suatu hari, saat Yang Mulia Maha Kaccana
sedang berdiam di Madhura, sang raja mendengar kabar
menggembirakan yang beredar perihal Kaccana: “Dia adalah
orang bijaksana, cerdas, berpengetahuan, terpelajar, pandai
berbicara, dan berpikiran tajam; ia berpengalaman dan ia
adalah seorang Arahat.” Berkeinginan untuk bercakap-cakap
dengan bhikkhu yang layak seperti demikian, sang raja pergi
keluar menuju tempat pertapaan Kaccana untuk bertemu
dengannya, dan percakapan yang dihasilkan telah tercatat
sebagai Madhura Sutta (MN 84).

Pertanyaan yang diajukan raja dalam mengawali dialog ini
tidaklah membahas mengenai masalah perihal sifat realitas
atau realisasi yang lebih dalam dari meditasi. Dialog ini
berkisar pada masalah praktis yang pastilah telah menjadi
beban berat di pikiran banyak orang dari kasta bangsawan
penguasa pada waktu itu: usaha dari kaum Brahmana untuk
membangun kekuasaan tertinggi mereka atas seluruh sistem
sosial di India. Para brahmana berusaha untuk membenarkan
kekuasaan mutlak ini dengan dalih bahwa mereka memiliki
status Ilahi. Raja Avantiputta berkata pada Yang Mulia Maha
Kaccana pernyataan yang telah mereka keluarkan: “Kasta
Brahmana adalah kasta tertinggi, sedangkan mereka yang
dari kasta lainnya adalah yang lebih rendah; kasta Brahmana
adalah kasta yang paling terang, sedangkan mereka yang
dari kasta lain adalah gelap; hanyalah para brahmana
yang dimurnikan, tidak demikian halnya bagi kasta selain
Brahmana; hanyalah brahmana yang merupakan putra
Brahma, keturunan Brahma, lahir dari mulutnya, lahir dari
Brahma, diciptakan oleh Brahma, pewaris Brahma.”
Yang Mulia Maha Kaccana, meskipun memiliki silsilah
keturunan brahmana dalam dirinya, sangat menyadari
keangkuhan dan kesombongan yang ada di balik pernyataan
semacam ini. Beliau menjawab bahwa pernyataan para
brahmana “hanyalah sebuah ucapan di dunia ini saja,” ucapan
yang tanpa sangsi Ilahi yang dapat mendukung pernyataan
tersebut. Untuk membuktikan pendapatnya Maha Kaccana
membuat sebaris argumen kuat untuk mendukung
pendapatnya itu: seseorang yang berasal dari kasta manapun
yang memiliki kekayaan akan dapat memerintah mereka dari
kasta yang berbeda; bahkan seseorang dari kasta rendah pun
dapat memerintahkan seorang brahmana untuk melayaninya.

Siapa pun dari kasta mana pun yang melanggar prinsip-prinsip
moralitas akan dilahirkan kembali di alam neraka. Demikian
pula siapa pun dari kasta mana pun yang menjalankan
prinsip-prinsip moral akan terlahir kembali di alam bahagia.
Siapa pun dari kasta mana pun yang melanggar hukum akan
dihukum. Siapa pun dari kasta mana pun yang meninggalkan
keduniawian dan menjadi seorang pertapa akan menerima
penghargaan dan penghormatan. Ketika setiap argumen
berakhir, raja menyatakan: “Keempat kasta ini semuanya
sama, tidak ada perbedaan di antara mereka sama sekali.”
Pada akhir diskusi, setelah menyatakan penghargaannya atas
jawaban yang diberikan oleh Guru Kaccana, Raja Avantiputta
menyatakan: “Saya pergi berlindung kepada Guru Kaccana
dan juga kepada Dhamma dan kepada Sangha para bhikkhu.”
Tetapi Maha Kaccana mengoreksi pernyataannya itu: “Jangan
pergi berlindung kepadaku, raja besar. Pergilah berlindung
kepada sang Bhagava, yang kepadanyalah aku telah pergi
untuk berlindung” – sang Buddha Yang Sepenuhnya
Tercerahkan. Ketika sang raja bertanya dimana sang Bhagava
sekarang tinggal, sang sesepuh menjelaskan bahwa beliau
telah mencapai Parinibbana. Jawaban ini menunjukkan
bahwa kematian Maha Kaccana sendiri pastilah terjadi pada
suatu waktu setelah parinibbana sang Buddha.
Samyutta Nikāya mencakup pula sebuah sutta (SN 35:132)
yang menunjukkan bagaimana kecakapan Yang Mulia Maha
Kaccana dalam menangani sekelompok brahmana muda
pembuat gaduh dan mengubah sikap seorang brahmana
tua terpelajar beserta seluruh pengikutnya. Pada suatu
ketika, sang sesepuh sedang berdiam di Avanti di sebuah
gubuk sederhana di dalam hutan. Kemudian sejumlah
brahmana muda, murid dari seorang guru brahmana terkenal

bernama Lohicca, berada di dekat gubuk itu ketika sedang
mengumpulkan kayu bakar. Sebagaimana para brahmana
pada masa itu sering memendam rasa permusuhan terhadap
pertapa-pertapa Buddhis, brahmana-brahmana muda ini,
berperilaku seperti yang biasanya dilakukan oleh sekelompok
anak laki-laki, berputar-putar di sekitar pondokan, sengaja
membuat kegaduhan untuk mengganggu sang bhikkhu yang
sedang bermeditasi. Mereka juga meneriakkan kata-kata
yang kerap kali digunakan untuk mengejek para pertapa nonbrahmana:
“Dasar pertapa botak yang tumpul ini, pertapa
bajingan, keturunan berkulit gelap dari kaki Yang Esa, merasa
terhormat, dihormati, dihargai, dipuja, dan diagungkan oleh
para budak setia.”
Yang Mulia Maha Kaccana keluar dari gubuk dan
menyampaikan kepada sekelompok brahmana muda itu
syair-syair yang mengingatkan mereka tentang cita-cita awal
kaum brahmana yang luhur, yang sayangnya telah begitu
parah diabaikan oleh para brahmana pada masa itu:
“Mereka para sesepuh yang unggul dalam kebajikan,
Mereka para brahmana yang mengingat aturan-aturan
kuno,
Pintu indera mereka terjaga, terlindung dengan baik,
Berdiam dengan tenang setelah menaklukkan angkara
murka di dalam diri .
Mereka berbahagia dalam Dhamma dan meditasi,
Merekalah para brahmana yang mengingat aturanaturan
kuno.
Tetapi kini mereka telah jatuh, menyatakan ‘Kami
melafal’

Sementara menumbuhkan kesombongan pada keturunan
mereka.
Mereka membimbing diri mereka sendiri dengan cara
yang tidak benar;
Dikuasai oleh kemarahan, dipersenjatai dengan berbagai
senjata,
Mereka melawan baik yang lemah dan yang kuat.
Bagi seseorang yang tidak menjaga pintu-pintu indera
(Semua bakti yang ia ucapkan) adalah sia-sia
Sama seperti kekayaan yang diperoleh seorang pria di
dalam mimpinya:
Berpuasa dan tidur di atas tanah,
Mandi di waktu fajar, (mempelajari) tiga kitab Veda,
Berkulit kasar, rambut kusut, dan penuh debu;
Hymne-hymne, peraturan-peraturan dan sumpah bakti,
kesederhanaan,
Kemunafikan, kejahatan, membilas mulut:
Inilah lambang dari kaum brahmana
Yang dilakukan untuk meningkatkan kesenangan
duniawinya.
Pikiran yang terkonsentrasi dengan baik,
Suci dan bebas dari cacat,
Lembut terhadap semua makhluk berakal budi –
Itulah jalan untuk mencapai Brahma.”

Mendengar hal ini, para brahmana muda itu marah dan
tidak senang. Pada saat mereka kembali menghadap
guru mereka, brahmana Lohicca, mereka melaporkan
bahwa pertapa Maha Kaccana sedang merendahkan dan
mencemooh kidung suci para brahmana. Setelah gejolak
kemarahan pertamanya mereda, Lohicca, yang telah menjadi
orang yang cerdas, menyadari bahwa ia seharusnya tidak
terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan
kabar yang dilaporkan oleh para muridnya, tetapi pertamatama
ia harus mencari tahu dari Maha Kaccana sendiri
apakah tuduhan mereka benar adanya. Ketika Lohicca pergi
menemui Yang Mulia Maha Kaccana dan bertanya kepadanya
tentang percakapan yang terjadi antara beliau dengan
para muridnya, Maha Kaccana melaporkan segala sesuatu
sebagaimana yang terjadi. Lohicca merasa sangat terkesan
dengan puisi Maha Kaccana mengenai cara hidup yang
tepat bagi kaum brahmana, dan bahkan terlebih lagi pada
khotbah yang diberikan sang sesepuh selanjutnya mengenai
bagaimana cara menjaga pintu-pintu indera. Pada akhir
diskusi dia tidak hanya menyatakan pergi berlindung pada
Tiga Mustika, tetapi ia juga mengundang sang sesepuh untuk
mengunjungi kediamannya, menjamin bahwa “para pemuda
dan gadis brahmana di sana akan menghormati Yang Mulia
Maha Kaccana; mereka akan berdiri untuk menunjukkan
rasa hormat padanya; mereka akan menawarkan tempat
duduk dan air; dan hal itu akan membawa kesejahteraan dan
kebahagiaan bagi mereka untuk waktu yang lama.”
Yang Mulia Maha Kaccana tampaknya memiliki wawasan yang
sangat mendalam mengenai dasar penyebab pertengkaran
dan perselisihan umat manusia. Kita telah melihat bagaimana
beliau menarik keluar akar penyebab konflik dalam
penjelasannya di Madhupindika Sutta dan keahliannya dalam

mengubah sekelompok murid Lohicca. Pada kesempatan lain
(AN 2:4:6) seorang brahmana bernama Aramadanda datang
menemuinya dan bertanya: “Mengapa masyarakat harus
mengalami hal pahit seperti konflik – konflik yang terjadi antara
bangsawan dengan bangsawan lainnya, brahmana dengan
brahmana lainnya, perumah tangga dengan perumah tangga
lainnya?” Untuk pertanyaan ini sang sesepuh menjawab: “Ini
semua karena nafsu sensual, kemelekatan, keserakahan, dan
obsesi terhadap kenikmatan sensual, hingga menyebabkan
bangsawan bermusuhan dengan bangsawan lainnya,
brahmana dengan brahmana lainnya, perumah tangga
dengan perumah tangga lainnya.” Kemudian Aramadanda
bertanya: “Mengapa para pertapa bermusuhan dengan
pertapa lainnya?” Dan Maha Kaccana menjawab: “Ini semua
karena nafsu atas pandangan, kemelekatan, keserakahan, dan
obsesi atas pandangan, hingga menyebabkan para pertapa
bermusuhan dengan pertapa lainnya.” Akhirnya brahmana
itu bertanya apakah ada seseorang di dunia ini yang telah
melampaui kedua nafsu, yakni nafsu sensual dan nafsu
atas pandangan. Walaupun Maha Kaccana, sebagai seorang
Arahat, bisa saja menempatkan dirinya sendiri sebagai
contoh atas pertanyaan itu, dengan penuh kesopanan dan
kerendahan hati, beliau malah menyebutkan sang Bhagava,
yang sedang berdiam di Savatthi pada saat itu. Ketika hal ini
dikemukakan, brahmana Aramadanda berlutut di atas tanah,
merangkapkan kedua telapak tangannya menunjukkan rasa
hormat, dan berseru tiga kali: “Sujudku pada Sang Bhagava,
sang Arahat, Yang Telah Tercerahkan Sepenuhnya.”
Dalam sutta berikutnya (AN 2:4:7) seorang brahmana
bernama Kandarayana mencela Maha Kaccana karena tidak
menunjukkan rasa hormatnya terhadap para brahmana yang

lebih tua. Sang sesepuh membela diri dengan membedakan
penggunaan kata-kata konvensional “tua” dan “muda”
dengan makna yang tepat sesuai disiplin Ajaran Buddha.
Pada kriteria terakhir ini, bahkan walaupun seseorang telah
berusia delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun
sejak ia dilahirkan, tetapi jika ia masih memiliki kecanduan
terhadap kenikmatan sensual, maka ia diperhitungkan
sebagai orang bodoh, bukan seorang sesepuh. Tetapi bahkan
jika seseorang yang masih muda, dengan rambut hitam
legam, diberkahi dengan berkah seorang pemuda, namun
jika ia telah bebas dari keinginan sensual, maka ia kemudian
dapat diperhitungkan sebagai seorang sesepuh.
Pernah pada suatu ketika Yang Mulia Maha Kaccana
memberikan khotbah mengenai enam perenungan (cha
anussati) – yaitu perenungan kepada Buddha, Dhamma,
Sangha, kebajikan, kemurahan hati, dan para dewa (AN 6:26).
Beliau menyatakan bahwa sungguh indah dan mengagumkan
bagaimana cara sang Bhagava telah menemukan enam
perenungan ini sebagai jalan menuju kebebasan bagi mereka
yang masih terjebak dalam keduniawian. Beliau menjelaskan
enam perenungan ini dengan cara yang persis sama dengan
istilah yang telah digunakan oleh sang Buddha sendiri
dalam menggambarkan empat landasan kesadaran. Mereka
adalah sarana-sarana “untuk mensucikan makhluk, untuk
mengatasi kesedihan dan ratapan, untuk melalui rasa sakit
dan duka, untuk menemukan metode yang tepat, dan untuk
merealisasikan Nibbana.”
Pada kesempatan lain (AN 6:28) beberapa bhikkhu sepuh
sedang berdiskusi mengenai saat yang tepat untuk mendekati
“seorang bhikkhu yang layak dihormati” (manobhavaniyo
bhikkhu). Salah seorang bhikkhu berkata bahwa sang

bhikkhu harus didekati setelah ia selesai makan siang, yang
lain mengatakan bahwa dia harus didekati pada sore hari,
sementara yang lain lagi berpendapat bahwa pagi hari
adalah waktu yang paling tepat untuk berbicara dengan
bhikkhu yang dihormati itu. Tidak mampu mencapai mufakat,
mereka datang menemui Maha Kaccana dengan membawa
permasalahan mereka. Sang sesepuh menjawab bahwa ada
enam saat yang tepat untuk mendekati seorang bhikkhu yang
layak dihormati. Lima yang pertama adalah ketika pikiran
dikuasai dan dipenuhi oleh lima rintangan batin – keinginan
sensual, niat jahat, kemalasan dan kelambanan, kegelisahan
dan penyesalan, serta keragu-raguan – dan seorang bhikkhu
tidak dapat menemukan jalan keluar dengan upayanya
sendiri. Saat pendekatan yang tepat keenam adalah ketika
seorang bhikkhu tidak tahu obyek mana yang cocok untuk
direnungkan dalam rangka melenyapkan kekotoran-kekotoran
batin (asavakkhaya).
Yang Mulia Maha Kaccana tidak selalu mengajarkan melalui
kata-kata saja, tetapi juga dengan contoh diam. Pada satu
kesempatan, sang Buddha tergerak untuk memuji Maha
Kaccana dalam sebuah udana – sebuah khotbah inspirasi
– disajikan di dalam kitab koleksi dengan nama yang sama
seperti namanya – Udana (Ud. 7:8). Suatu malam, Buddha
Gotama sedang berada di dalam pondokannya di hutan Jeta
di Savatthi ketika beliau melihat Yang Mulia Maha Kaccana di
dekatnya, “duduk bersila, dengan tubuh tegap, dan memiliki
kesadaran penuh terhadap tubuhnya sendiri.” Menyadari
pentingnya hal ini, sang Bhagava mengucapkan khotbah
terinspirasi berikut:
“Ia yang selalu memiliki kesadaran penuh
Terus mengembangkan di dalam diri hal ini:

“Jika (memang) tidak ada, maka (memang) tidak ada
untukku;
Jika (memang) tidak akan ada, maka (memang) tidak
akan ada untukku,’
Jika ia berdiam seperti ini tahap demi tahap
Pada waktunya ia akan melampaui kemelekatan.”
Dalam penjelasan sutta ini, bagian komentar Udana
membantu menjelaskan pendekatan yang diadopsi oleh
Yang Mulia Maha Kaccana dalam mencapai tingkat kesucian
arahat. Walaupun penjelasan ini bertentangan dengan catatan
mengenai “pencerahan seketika” sang sesepuh sebagaimana
yang dapat ditemukan dalam gambaran biografi dari bagian
komentar Anguttara (baca pada bagian sebelumnya, halaman
10), akan tetapi hal ini tampaknya lebih realistis. Bagian
komentar Udana menjelaskan bahwa dalam upayanya untuk
mencapai tingkat kesucian arahat, Maha Kaccana pertamatama
mengembangkan jhana menggunakan kesadaran tubuh
(kayagata sati) sebagai subyek meditasinya. Memanfaatkan
jhana tersebut sebagai dasar konsentrasinya yang tenang,
beliau kemudian mengarahkan kembali kesadaran tubuh
pada jalan meditasi wawasan ke dalam (vipassana). Dengan
kebijaksanaan yang muncul dari perenungan terhadap tubuh,
beliau mencapai jalan tertinggi dan buahnya, mencapai
puncaknya di buah akhir pencapaian arahat. Setelah itu beliau
secara teratur kembali melakukan pendekatan yang sama
agar dapat memasuki buah dari pencapaian tingkat kesucian
arahat (arahattaphala-samapatti), pencerapan meditasi
khusus, khusus bagi sang Arahat, dimana kebahagiaan
Nibbana dapat dialami bahkan dalam kehidupan saat ini juga.
Pada kesempatan itulah, ketika sang sesepuh sedang duduk
tenggelam dalam pencapaian hasilnya, Buddha Gotama

melihatnya dan memuji beliau dalam syair inspirasional ini.
Sebuah bait dimana sang Buddha mengungkapkan makna
dari perenungan yang dilakukan, dalam bagian komentar,
untuk menandakan “kekosongan bersudut empat” (catukotisuññata),
yaitu: tidak adanya “aku” dan “milikku” di masa
lalu dan masa kini (“Jika tidak ada, maka tidak ada untukku”);
dan tidak adanya “aku” dan “milikku” di masa mendatang
(“Jika tidak akan ada, maka tidak akan ada untukku”).
Dengan memuji Yang Mulia Maha Kaccana dengan ungkapan
terinspirasi ini, sang Buddha telah menjadikannya sebagai
contoh panutan bagi para bhikkhu lain dalam pencarian
mereka sendiri untuk mengatasi keterikatan pada dunia.

Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: