Riwayat Hidup Yasodhara – Putri yang Mulia (Part 3 of 3)

PUTRI YASODHARĀ DALAM JᾹTAKA

 

Seperti halnya banyak para siswa-siswi utama Buddha Gautama lainnya, Putri Yasodharā memiliki keterkaitan kuat dengan kehidupan-kehidupan lampau Buddha Gautama. Terlebih dalam beberapa kelahiran lampau, posisi Putri Yasodharā tidak terbantahkan sebagai seorang pendamping setia Bodhisatta dalam menyempurnakan parami dan mencapai pencerahan. Tercacat terdapat 23 kisah di dalam Jātaka yang menceritakan pertautan antara Bodhisatta dan Putri Yasodharā. Berikut adalah rangkuman beberapa kehidupan lampau Putri Yasodharā yang terdapat dalam Jātaka.

 

 

Jātaka 11- Lakkhana Jātaka

Jātaka ini menceritakan hubungan antara Buddha Gautama, Sariputta, Devadatta dan Yasodharā. Diceritakan bahwa Bodhisatta terlahir sebagai seekor rusa jantan yang bijaksana. Setelah dewasa dan menikah dengan Yasodharā yang terlahir sebagai rusa betina, mereka memiliki 2 ekor anak yang bernama Lakkhana (Sariputta) dan Kala (Devadatta). Ketika kedua anaknya dewasa, Bodhisatta meminta agar masing-masing anaknya memimpin rombongan kawanan rusa mereka ke dalam hutan untuk berlindung selama masa panen. Akhir cerita, rombongan Lakkhana semuanya selamat sedangkan rombongan Kala semuanya binasa akibat kebodohan Kala.

 

 

Jātaka 281- Abbhantara Jātaka

Jātaka ini menceritakan hubungan kehidupan lampau antara Putri Yasodharā dan sang Senapati Dhamma – YM Sariputta. Diceritakan bahwa pada suatu ketika Putri Yasodharā yang telah melepaskan kehidupan duniawinya dan menjadi seorang bhikkhuni yang lebih dikenal dengan nama Bimbādevī Theri, merasakan sakit perut yang teramat sangat. Putranya, Samanera Rāhula, datang mengunjunginya dan mengetahui sakit ibunya. Dia pun bertanya kepada ibunya, “Obat apa yang biasa Anda minum?”

 

Bimbādevī Theri menjawab bahwa biasanya dia hanya membutuhkan sari buah mangga yang ditambah dengan gula apabila terserang sakit perut seperti ini. Oleh karena mereka berdua telah menjadi murid Buddha Gautama, maka mereka hanya hidup dari meminta derma. Samanera Rāhula berkata, “Saya akan mencarikannya untukmu.” Samanera muda itu pun pergi menemui Upajjhāya[1]-nya yaitu YM Sariputta. Mendengar berita dan kesusahan tersebut, YM Sariputta pergi menemui Raja Kosala. Disana beliau menerima dana persembahan berupa sari buah mangga yang dikupas sendiri oleh Raja Kosala dan mengisikannya ke dalam patta[2] sang thera. Sang thera pun pulang dan memberikannya kepada Samanera Rāhula yang kemudian memberikannya kepada ibunya. Ketika Bimbadevi Theri minum sari buah mangga itu, sakitnya pun terobati. Kejadian ini sampai ke telinga Buddha Gautama yang kemudian menceritakan kisah yang terjadi di masa lampau. Kala itu seorang pertapa sakti turun gunung dan menyebabkan kediaman Sakka terguncang. Sakka kemudian berpikir untuk mengusirnya dengan cara berbohong kepada seorang permaisuri. Pada tengah malam, permaisuri memperoleh penampakkan Sakka – raja para dewa, yang memintanya untuk memakan buah mangga sentral[3] demi memperoleh seorang putra. Permaisuri itu pun pura-pura sakit dan memohon agar raja mencarikan buah mangga sentral untuk diberikan kepadanya. Raja mengutus seekor burung nuri peliharaan istana untuk memperoleh buah tersebut. Setelah melewati berbagai tantangan dan halangan, si burung nuri berhasil memperoleh sebiji buah sentral dengan bantuan seorang pertapa bernama Jotirasa. Permaisuri memakan buah itu tetapi tetap tidak mendapatkan seorang putra.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa permaisuri itu adalah Putri Yasodharā, Ananda adalah burung nuri, Sariputta adalah pertapa Jotirasa, sedangkan pertapa sakti itu adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 292 – Supatta Jātaka

Pada kisah ini, hal yang serupa terjadi kepada Bimbadevi Theri. Beliau merasakan serangan sakit perut. Untuk menyembuhkannya, makanan berupa nasi yang dicampur dengan mentega cair segar dan ditambah dengan ikan merah akan mampu menyembuhkannya. Dengan bantuan YM Sariputta, Bimbadevi Theri pun sembuh dari sakit perutnya. Buddha kemudian mendengar perihal ini dan menceritakan sebuah kisah di masa lampau.

 

Dahulu kala Bodhisatta terlahir sebagai raja dari burung gagak dan bernama Supatta. Pasangannya bernama Suphassā. Dia memiliki seekor gagak panglima bernama Sumukha. Dengan delapan puluh ribu pengikut, dia tinggal di dekat Benares. Pada suatu ketika, dia dan pasangannya melewati dapur istana. Pasangannya tergiur oleh masakan koki istana. Dia pun meminta agar rajanya memberikannya makanan tersebut untuk dicicipi. Raja gagak menceritakan hal ini kepada panglimanya. Panglimanya dengan gagah berani mengatur siasat sehingga dapat mengecoh perhatian para penjaga dan koki istana. Gagak-gagak lain yang ikut bersamanya ke istana berhasil memperoleh makanan tersebut dan memberikannya kepada raja dan ratu mereka.

 

Sayang sekali sang panglima gagak tertangkap dan dibawa menghadap raja Benares. Raja bertanya kepada panglima gagak sebab tingkah laku tidak sopannya. Sang panglima gagak menceritakan perihal keinginan sang ratu gagak yang mendambakan untuk mencicipi rasa masakan koki istana tersebut. Sang raja tertegun dan kagum atas keberanian panglima gagak. Dia pun mengundang raja gagak untuk datang dan memberikan ajaran.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa ratu gagak itu adalah Putri Yasodharā, raja Benares adalah Ananda, panglima gagak adalah Sariputta, dan Supatta adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 328 – Ananusociya Jātaka

Jātaka ini menceritakan tentang ketidakkekalan segala hal yang berkondisi, termasuk terhadap istri tercinta yang meninggal dunia. Dikisahkan dahulu kala Bodhisatta terlahir sebagai seorang putra di dalam sebuah keluarga brahmana. Ketika dewasa ia dinikahkan dengan seorang putri dari sebuah keluarga brahmana terpandang di Kāsi bernama Sammillabhāsinī. Putri itu memiliki segala kecantikan wanita dan sangat berbudi. Oleh karena pernikahan keduanya dilangsungkan diluar kehendak mereka berdua, Bodhisatta dan Sammillabhasini tidak saling melihat satu sama lain dengan pandangan penuh nafsu, melainkan tinggal bersama layaknya dua orang pertapa suci atau dua makhluk suci.

 

Ketika kedua orang tua Bodhisatta meninggal, Bodhisatta berniat meninggalkan semua harta keluarganya kepada istrinya dan menjadi seorang pertapa. Namun ketika dia mengatakan hasratnya itu, sang istri pun berniat mengikuti suaminya menjadi seorang pertapa. Pada akhirnya mereka berdua mendermakan segala harta mereka dan menjadi pertapa.

 

Pada suatu ketika, pertapa wanita ini terserang penyakit sakit perut karena memakan makanan campuran. Karena tidak bisa mendapatkan obatnya, pertapa wanita ini pun meninggal dunia tatkala Bodhisatta sedang pergi mendapatkan derma makanan. Tubuhnya menjadi tontonan banyak orang yang ada disana dan mengagumi kecantikannya. Mereka pun menangis. Ketika Bodhisatta tiba dan mengetahui kematian pertapa wanita itu, dia tidak menjadi sedih. Banyak orang yang ada di sana keheranan dan bertanya mengapa dia tidak menjadi sedih. Bodhisatta pun mengajarkan kebenaran kepada kerumunan orang-orang tersebut bahwa segala sesuatu yang berkondisi tidaklah kekal adanya. Kematian pasti akan datang mendekat dan dapat datang sewaktu-waktu.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa Putri Yasodharā adalah Sammillabhasini dan pertapa itu adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 340 – Visayha Jātaka

Kisah ini menceritakan tentang betapa besarnya peranan berdana. Dahulu kala Bodhisatta terlahir sebagai seorang saudagar kaya raya bernama Visayha. Dia memiliki kekayaan sebesar delapan ratus juta. Ia pun sangat menggemari kegiatan berdana. Bersama istrinya, dia mengatur pembagian derma ke 4 (empat) balai distribusi dana di keempat penjuru kota yang dibangunnya. Setiap harinya ada enam ratus ribu orang yang datang meminta derma.

 

Kesungguhan tekadnya membuat kursi singgasana Sakka, raja para dewa, menjadi panas dan memaksanya turun dari takhtanya. Sakka kemudian berniat untuk membuat si saudagar kehilangan seluruh hartanya, menjadi miskin sehingga dia tidak dapat lagi berdana. Kemudian si saudagar kehilangan seluruh harta dan pelayan serta pekerjanya dalam sekejap. Hanya ada dia dan istrinya. Satu-satunya yang mereka miliki hanyalah pakaian yang melekat di tubuh mereka.

 

Ketika orang-orang yang biasa datang meminta dana makanan bertanya kemana semua dana yang biasa dilakukan oleh sang saudagar, Bodhisatta merasa perlu untuk bekerja sehingga dapat menghasilkan uang dan memberikan dana. Selama tujuh hari dia memotong rumput, menjualnya dan memberikan hasil penjualannya sebagai dana. Pada hari ketujuh, karena ia hanyalah manusia biasa dan sudah tujuh hari tidak makan, kepalanya mulai terasa berputar-putar dan akhirnya ia terbaring jatuh dan tak sadarkan diri.

 

Sakka yang sedang mengawasi apa yang dilakukan oleh Visayha segera sampai di tempat Visayha berada dan bertanya mengapa saudagar itu bersikeras melakukan dana. Bodhisatta membalas, “Dengan berdana, menjalankan sila, melaksanakan Uposatha dan memenuhi tujuh sumpah (tekad), Dewa Sakka mendapatkan kedudukannya sebagai raja para dewa. Sekarang, Anda malah melarang pemberian dana, yang sebelumnya telah membuatmu memperoleh kejayaan ini. Anda telah melakukan suatu keburukan atas hal yang tak seharusnya terjadi.”

 

Lebih lanjut sang saudagar itu berkata, “Bukan untuk mendapatkan kedudukan sebagai Sakka ataupun sebagai Brahma, melainkan untuk mencapai Kesadaranlah, saya memberikan derma.” Sakka yang bersukacita setelah mendengar perkataan tersebut, menyembuhkan tubuh Bodhisatta dan mengembalikan seluruh kekayaannya.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa istri dari saudagar itu adalah Putri Yasodharā dan saudagar itu adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 387 – Sūci Jātaka

Apabila dalam kebanyakan cerita Jātaka digambarkan Bodhisatta dan cikal bakal Yasodharā sama-sama memiliki keinginan untuk menjalankan kehidupan suci dan selibat meskipun merupakan sepasang kekasih, pada cerita ini digambarkan sisi manusiawi Bodhisatta yang jatuh hati kepada cikal bakal Yasodharā. Kala itu Bodhisatta terlahir sebagai seorang tukang pandai besi yang sangat terampil. Orang tuanya adalah orang yang miskin. Tidak jauh dari desa mereka, terdapat juga sebuah desa pandai besi yang terdiri dari seribu rumah. Kepala desa pandai besi itu adalah salah satu orang kesayangan raja, kaya raya dan dikaruniai seorang putri yang cantik jelita. Kecantikan putrinya ini bagaikan bidadari surgawi (apsara) dengan pertanda baik seorang wanita. Orang-orang terus membicarakan kecantikan dan kehalusan budi gadis ini sampai akhirnya terdengar oleh Bodhisatta.

 

Meskipun hanya dengan mendengar cerita orang-orang itu, Bodhisatta menjadi jatuh cinta dan berpikir, “Saya akan menjadikannya sebagai istriku.” Kemudian ia pun mengambil besi terbaik untuk membuat sebuah jarum halus yang tajam yang dapat menusuk tembus sebuah dadu dan terapung di atas air. Kemudian dia pun membuat sarung penutupnya dengan jenis yang sama. Dengan cara yang sama ia membuat sarung itu sebanyak tujuh buah.

 

Kemudian ia pun pergi ke desa itu dengan menanyakan jalan menuju ke rumah tukang pandai besi itu berada. Sesampainya disana ia menjelaskan dan memuji jarum buatannya. Putri si pandai besi yang sedang mengipasi ayahnya yang tertidur, mendengar suara merdu Bodhisatta. Kemudian ia pun keluar dan berbicara dengan Bodhisatta di luar dengan berdiri di beranda. Ayahnya yang mendengar percakapan mereka menyuruh Bodhisatta masuk dan menguji kehebatan jarum buatannya.

 

Dilakukanlah sebuah uji kehebatan jarum buatan Bodhisatta dengan disaksikan oleh ribuan tukang besi lainnya di desa tersebut. Jarum-jarum buatannya sanggup menembus kayu sekuat apapun namun tetap terapung ringan di permukaan air. Melihat kehebatan jarum-jarum itu, kepala pandai besi memanggil putrinya dan di tengah kumpulan orang banyak ia berkata, “Wanita ini adalah pasangan yang cocok untukmu.” Ia memercikkan air kepada mereka dan menyerahkan putrinya kepada Bodhisatta. Dan setelahnya, ketika kepala desa pandai besi itu meninggal dunia, Bodhisatta menjadi kepala desa pandai besi di desa itu.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa putri dari kepala desa pandai besi itu adalah Putri Yasodharā dan pemuda tukang besi yang pandai itu adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 397 – Manoja Jātaka

Pada cerita ini, Bodhisatta dan Putri Yasodharā terlahir sebagai sepasang singa yang memiliki dua ekor anak, satu jantan dan satunya betina. Anaknya yang jantan bernama Manoja. Ketika dewasa, singa jantan ini menikah dengan seekor betina lainnya sehingga mereka berjumlah 5 (lima) ekor dalam satu kawanan.

 

Pada suatu hari, Manoja bertemu dengan seekor serigala yang berkeinginan menjadi pembantu singa itu. Ketika Manoja membawa pulang serta serigala ke rumahnya, Bodhisatta meminta agar anaknya berhati-hati dan tidak berteman dengan serigala yang terkenal licik, jahat dan kejam. Tetapi Manoja tidak menghiraukan nasehat ayahnya. Hingga pada suatu ketika, si serigala berkata kepada tuannya untuk berburu kuda. Kuda tersebut dimiliki oleh raja Benares. Mendengar hal ini, Bodhisatta meminta agar anaknya tidak mendengar ucapan serigala, tetapi Manoja akhirnya tetap pergi untuk mendapatkan daging kuda.

 

Setelah berhasil membunuh seekor kuda istana, Manoja dipanah oleh pemanah istana. Serigala yang melihat hal ini segera meninggalkan Manoja dan pulang kembali ke rumah tuanya. Sedangkan Manoja segera pulang dengan tertatih-tatih dan penuh derita. Sesampainya di depan kediaman singa, Manoja pun rubuh dan mati. Melihat hal ini, orang tua, adik dan istrinya bersedih. Bodhisatta pun mengucapkan syair sebagai berikut:

 

“Ia yang mengikuti orang-orang jahat akan menjadi jahat;

Ia yang berteman dengan sesama temannya yang baik, tidak akan dikhianati;

Ia yang memberi hormat di depan orang mulia dapat bangkit dengan cepat;

Carilah, oleh karena itu, orang-orang yang lebih baik darimu, untuk membantumu.”

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa pada masa itu, serigala itu adalah Devadatta, Manoja adalah bhikkhu yang berteman dengan orang jahat, adiknya adalah Uppalavaṇṇā, istrinya adalah Ratu Khema, ibunya adalah Putri Yasodharā dan ayahnya adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 408 – Kumbhakāra Jātaka

Cerita ini mengisahkan tentang pertemuan Bodhisatta dengan empat orang Pacceka Buddha. Setelah mendengar khotbah yang disampaikan oleh Pacceka Buddha, Bodhisatta berniat meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi seorang pertapa. Dia pun pulang dan menyatakan keinginannya kepada istrinya. Dia juga menceritakan khotbah yang didengarnya kepada istrinya itu. Istrinya, setelah mendengar khotbah yang disampaikan ulang oleh suaminya, juga berkeinginan menjadi seorang pertapa wanita. Namun anak-anak mereka masih kecil dan oleh karena itu hanya salah satu dari mereka yang bisa menjadi seorang pertapa.

 

Dia pun bermaksud memperdaya suaminya dengan berkata akan pergi mengambil air. Sambil berpura-pura membawa kendi kosong, ia keluar rumah dan segera pergi menemui Pacceka Buddha. Mereka pun menerimanya dan menahbiskannya menjadi pertapa wanita. Bodhisatta yang menyadari bahwa istrinya tidak akan kembali lagi akhirnya harus menunda keinginannya menjadi seorang pertapa dan membesarkan anak-anak mereka.

 

Setelah beberapa lama, pada suatu hari, ia pun memasak nasi yang kurang matang. Besoknya memasak nasi yang matang, nasi yang terlalu matang, nasi dengan sedikit garam, nasi dengan kebanyakan garam. Anak-anaknya berkata, “Ayah, hari ini nasinya tidak matang, hari ini nasinya kurang matang, hari ini nasinya benar-benar matang, hari ini nasinya terlalu banyak air, hari ini nasinya tidak ada garam, hari ini nasinya terlalu banyak garam.” Bodhisatta kemudian berkata, “Ya, anak-anakku,” dan berpikir, “Anak-anak ini sekarang dapat mengetahui apa yang tidak matang dan apa yang matang, apa yang ada garamnya dan apa yang tidak ada; mereka pasti dapat hidup dengan jalan mereka sendiri.” Ia pun akhirnya menitipkan mereka kepada sanak keluarganya dan dirinya sendiri ditahbiskan menjadi seorang pertapa.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa pertapa wanita itu adalah Putri Yasodharā dan pertapa lelaki itu adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 411 – Susīma Jātaka

Pada suatu ketika, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang pendeta kerajaan. Di hari yang sama, lahir pula putra raja dari permaisurinya. Putra pendeta kerajaan diberi nama Susīma sedangkan putra raja diberi nama Brahmadatta. Mereka berdua tumbuh besar dan berparas elok menyerupai putra para dewa. Setelah raja dan pendeta kerajaan meninggal dunia, Brahmadatta naik takhta menjadi seorang raja sedangkan Susīma menjadi pendeta kerajaan.

 

Pada suatu ketika, mereka berdua berjalan. Ibu suri secara tidak sengaja melihat pendeta kerajaan yang adalah teman anaknya. Ibu suri jatuh hati tetapi malu mengatakannya kepada anaknya. Dia pun jatuh sakit sampai akhirnya raja mengutus ratu untuk mencari tahu penyebabnya. Ibu suri kemudian menceritakan permasalahannya kepada ratu. Ratu akhirnya memberitahukan hal ini kepada raja. Setelah berpikir dalam-dalam dan rasa bakti kepada ibunya, raja memutuskan untuk menjadikan pendeta kerajaan sahabatnya itu menjadi seorang raja, ibunya menjadi permaisuri, dan dirinya menjadi wakil raja.

 

Pada mulanya pendeta kerajaan menolak rencana tersebut. Tetapi karena terus didesak oleh sahabatnya sendiri, dia pun akhirnya setuju dan menikah dengan ibu suri. Akan tetapi karena pada dasarnya Bodhisatta tidak menyukai kehidupan duniawi, ia berdiri, duduk dan tidur sendirian layaknya orang yang terkurung dalam penjara istana. Istrinya berpikir bahwa raja menghindari dirinya karena dia masih muda sedangkan dirinya sudah menua. Ia pun berpikir untuk memperdaya raja dengan berkata bahwa dia telah menjadi tua dan oleh karena itu akan hidup bersama permaisuri sebagai temannya.

 

Suatu hari, seolah-olah sedang membersihkan kepala raja, permaisuri berkata bahwa dia menemukan rambut uban yang sebenarnya adalah rambutnya sendiri. Melihat hal ini raja menjadi cemas dan berpikir untuk segera menjalani hidup suci. Hal ini sungguh bertolak belakang dengan keinginan dan maksud permaisuri. Permaisuri pun mengakui perbuatannya tetapi Bodhisatta bersikukuh dan tidak menyalahkan permaisuri karena dia telah memberitahu hal yang pasti terjadi. Akhirnya Bodhisatta melepas segala jabatannya, mengembalikan kedudukan raja kepada sahabatnya dan menjadi pertapa di daerah pegunungan Himalaya.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa permaisuri itu adalah Putri Yasodharā dan Raja Susīma adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 415 – Kummāsapiṇda Jātaka

Berbeda dengan sebagian besar cerita Jātaka lainnya dimana Bodhisatta terlahir dalam keluarga kaya raya, cerita kali ini dimulai dengan Bodhisatta terlahir dalam keluarga miskin. Dia adalah seorang pelayan. Pada suatu hari dia melihat empat orang Pacceka Buddha dan berniat memberikan dana makanan kepada keempat Pacceka Buddha tersebut. Dia pun mendanakan bubur gandum yang seharusnya menjadi sarapannya. Sambil memberikan hormat dan mempersembahkan bubur itu, pemuda miskin itu berkata agar semoga di kehidupan masa mendatang dia tidak dilahirkan di dalam keluarga miskin dan semoga jasa kebajikan ini menyebabkan dia menjadi Yang Mahatahu. Keempat Pacceka Buddha menerima dan menyantap dana makanannya dan berterima kasih.

 

Setelah pemuda miskin ini meninggal dunia, dia terlahir sebagai putra raja Benares. Dia mampu mengingat jasa kebajikannya di masa lampau dan mengetahui penyebab kelahirannya sebagai seorang putra mahkota. Setelah dewasa, dia menikah dengan Putri Raja Kosala yang sangat cantik. Pada hari penobatannya menjadi raja, dia bersuka cita dan mengucapkan syair suka cita yang disukai dan dinyanyikan oleh banyak orang tetapi tidak dimengerti oleh istrinya.

 

Setelah sekian lama berlalu, permaisuri menjadi ingin mengetahui arti dari lagu tersebut tetapi tidak berani bertanya kepada Bodhisatta. Sampai pada suatu hari raja yang senang dengan sikap permaisuri menanyakan hadiah apa yang diinginkan oleh istrinya itu. Permaisuri berkata bahwa dia hanya ingin mengetahui arti dari ungkapan suka citanya itu. Raja pun bersedia memberitahukan arti ungkapan itu tidak hanya kepada permaisuri, tetapi juga kepada semua orang. Maka raja pun memerintahkan untuk mengumpulkan semua orang. Disana ia menceritakan tentang kehidupan masa lalunya sebagai seorang pelayan yang memberikan dana kepada empat Pacceka Buddha dan sebagai buah jasa kebajikannya, ia terlahir menjadi putra Raja Benares.

 

Mendengar hal ini, semua orang bersuka cita. Lebih lanjut raja bertanya kepada permaisuri tentang alasan di balik kecantikan dan keelokkan istrinya itu. Ternyata permaisuri juga mampu mengingat kehidupan lampaunya dan menceritakan bahwa dalam kehidupan lampaunya ia adalah seorang budak pelayan wanita di istana Kerajaan Ambaṭṭha. Dia selalu berusaha untuk rendah hati, melakukan kebajikan dan melatih moralitas. Dia pernah memberikan dana makanan kepada seorang bhikkhu yang berpindapatta. Dan atas jasa kebajikannya itulah dia terlahir sebagai Putri dari Kerajaan Kosala. Sejak saat itu, mereka mendirikan enam balai distribusi derma.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa permaisuri itu adalah Putri Yasodharā dan raja adalah Sang Buddha sendiri.

 

 

Jātaka 443 – Culla Bodhi Jātaka

Dalam Jātaka ini, diceritakan Bodhisatta terlahir sebagai seorang putra dari keluarga brahmana yang kaya raya. Setelah tumbuh dewasa, orang tuanya mencarikan seorang istri berbudi luhur untuknya. Wanita yang diidamkan telah ditemukan dan mereka pun menikah. Beberapa waktu kemudian orang tua Bodhisatta meninggal dunia dan Bodhisatta berniat menjadi seorang pertapa dan memberikan seluruh harta kekayaannya kepada istrinya. Tetapi istrinya menolak dan berniat mengikuti suaminya. Mereka pun menjadi sepasang pertapa dan tinggal di sebuah taman milik raja.

 

Suatu hari, raja melihat tukang kebun membawa persembahan. Ketika ditanyakan, ternyata persembahan itu untuk diberikan kepada sepasang pertapa yang tinggal di dalam taman. Raja pun pergi menemui pertapa tersebut. Sesampainya disana raja jatuh cinta kepada pertapa wanita. Dengan kekuasaannya dia memerintahkan pengawalnya untuk membawa serta pertapa wanita itu ke istana meskipun pertapa wanita mengeluh keberatan. Selama di istana, raja tidak dapat meluluhkan hati pertapa wanita yang tetap teguh menjalankan kehidupan sederhana dan selibatnya. Dipenuhi kemarahan, raja kembali menemui pertapa laki-laki untuk meminta penjelasan. Singkat cerita, setelah berdialog dengan Bodhisatta akhirnya raja menjadi sadar kekeliruan perbuatannya dan meminta maaf kepada keduanya. Mereka diijinkan tetap tinggal di taman kerajaan.

 

Ketika selesai menyampaikan cerita tersebut, Buddha kemudian mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan menyatakan bahwa pertapa wanita itu adalah Putri Yasodharā dan raja adalah Ananda.

 

 

Jātaka 451 – Cakka Vāka Jātaka

Dalam Jātaka ini, Bodhisatta maupun Putri Yasodharā terlahir sebagai sepasang angsa merah yang tinggal di sebuah hutan. Seekor burung gagak pergi menemui mereka dan bertanya bagaimana caranya mereka memperoleh warna tubuh yang begitu indah.  Setelah memberikan nasehat, si gagak merasa tidak percaya dan pergi meninggalkan kedua angsa tersebut.

 

 

Selain Jātaka-Jātaka di atas, masih terdapat banyak lagi cerita di dalam Jātaka yang menceritakan pertautan kelahiran Bodhisatta dan Putri Yasodharā yaitu Jātaka 421 – Gaṅgamāla Jātaka, 424 – Ᾱditta Jātaka, 434 – Cakkavāka Jātaka, 458 – Udaya Jātaka, 459 – Pānīya Jātaka, 461 – Dasaratha Jātaka, 485 – Candakinnara Jātaka, 506 – Campeyya Jātaka, 513 – Jayadissa Jātaka, 525 – Cullasutasoma Jātaka, dan 531 – Kusa Jātaka.

 

 


 

PARINIBBᾹNA YASODHARĀ THERI

 

Setelah memasuki Sangha dan menjadi seorang bhikkhuni, Putri Yasodharā hidup tenang dan menjauhi keramaian. Beliau hidup sederhana dan menjadi seorang Arahat. Meskipun sebelumnya memiliki hubungan sebagai pasangan suami-istri dengan Pangeran Siddhārtha dan ibu-anak dengan Bhikkhu Rāhula, Putri Yasodharā yang kini lebih dikenal dengan sebutan Bhikkhuni Baddhakaccana, mampu menjaga dirinya sendiri dan mematuhi peraturan bhikkhuni Sangha selayaknya para bhikkhuni lainnya.

 

Memang tidak banyak kisah yang menceritakan kemampuan dan peranan Putri Yasodharā di dalam Sangha sepertihalnya siswa-siswa utama Buddha Gautama. Sedikit yang diketahui dari riwayat hidup istri Pangeran Siddhārtha ini yang tercatat di dalam naskah-naskah buddhis.

 

Menjelang usia 78 tahun, Arahat Bhaddakaccana mengetahui bahwa ajalnya telah dekat. Maka pada suatu malam beliau pergi menghadap Buddha Gautama dan berkata, “Malam ini saya akan meninggal dunia.” Beliau datang menemui Buddha untuk berterima kasih kepada seseorang yang pernah menjadi suaminya dan kini menjadi guru agungnya.

 

Buddha kemudian meminta Arahat Bhaddakaccana untuk menunjukkan kemampuan batinnya kepada anggota Sangha lainnya yang berkumpul saat itu. Hal ini penting karena meskipun beliau merupakan siswi yang terkemuka dalam hal kekuatan batin, Bhikkhuni Bhaddakaccana adalah seseorang penyendiri dan menyukai kehidupan sederhananya. Beliau jarang sekali menunjukkan kebolehannya sehingga banyak orang terutama para bhikkhu yang memandang rendah kemampuan beliau maupun kemampuan para bhikkhuni lainnya. Buddha Gautama mengetahui hal ini dan melihat hal itu sebagai kekotoran batin di dalam pikiran para siswaNya yang karena kebodohan mereka telah meremehkan kemampuan Bhikkhuni Bhaddakaccana. Sebagai seorang Arahat, Bhikkhuni Bhaddakaccana layak memperoleh pengakuan dan penghormatan baik dari para bhikkhu maupun bhikkhuni. Oleh karena itu Buddha meminta Bhikkhuni Bhaddakaccana untuk menunjukkan kekuatan batinnya untuk terakhir kalinya sebelum beliau meninggal dunia.

 

Menjawab permintaan Buddha, Bhikkhuni Bhaddakaccana yang meskipun telah berusia tua, menunjukkan berbagai kekuatan batinnya yang mengubah bentukan-bentukan tubuhnya, mengubah sel-sel padat di dalam tubuhnya (patthavi) menjadi air (sel-sel cair di dalam tubuh), angin, hingga sel-sel gas di dalam tubuh (vayo – unsur angin) menjadi unsur energi di dalam tubuh (thejo) yang semuanya membutuhkan kekuatan pikiran luar biasa. Inilah kemampuan luar biasa yang dimiliki Bhaddakaccana dan tidak diketahui oleh semua orang. Mereka yang hadir menjadi takjub akan kemampuan Bhikkhuni Bhaddakaccana dan memberikan penghormatan mereka. Akhirnya, pada usia 78 tahun Bhikkhuni Bhaddakaccana meninggal dunia dan mencapai Parinibbāna. Pada hari yang sama, para bhikkhuni arahat yang menjadi temannya juga menyusul mencapai Parinibbāna.

 


 

 

YASODHARĀ DALAM BERBAGAI BUDAYA

 

Nama Yasodharā telah dikenal luas dalam berbagai literatur buddhis. Di negara-negara buddhis Theravada, nama Yasodharā muncul dalam berbagai puisi dan nyanyian-nyanyian rakyat. Banyak pula umat buddhis yang menamai anak perempuan mereka dengan nama Yasodharā.

 

Di dalam bahasa Sinhala, riwayat hidup Yasodharā tumbuh berkembang menjadi 2 kitab yaitu Yasodharāvata (Kisah Yasodharā) dan Yasodharāpadānaya (Riwayat Hidup Suci Yasodharā). Di Sri Lanka, puisi-puisi ratapan Yasodharā berkembang menjadi kesenian rakyat.

 

Berbagai artikel dan tulisan telah dibuat oleh banyak pelajar buddhis yang mengupas kehidupan dan peranan beliau di dalam kehidupan Buddha Gautama. Banyak pula wihara dan sekolah yang dinamai Yasodharā. Ini dapat dijumpai di negara-negara buddhis terutama di Sri Lanka. Nama ini juga banyak digunakan di dalam lagu, komik dan film-film buddhis. Nama Yasodharā sering digunakan sebagai penggambaran untuk ikon cinta yang setia dan tidak berkondisi.

 


 

 

 

Referensi

Dhammapada Aṭṭhakathā – Kisah-Kisah Dhammapada. 2012. Insight Vidyāsenā Production.

Jātaka Vol 1 sampai 5. ITC.

Komik Bodhi: Bimbadewi – Kesetiaan Agung. 2009. Handaka Vijjānanda & Fredy Siloy. Ehipassiko Foundation.

Yasodhara and Siddhārtha – The Enlightenment of Buddha’s Wife. 2010. Jacqueline Kramer. Turning Wheel.

Yashodhara Theri. A Gift of Dhamma. Maung Paw.

Yasodharā – The Wife of The Bodhisattva (Terjemahan dari kitab Yasodharāvata dan Yasodharāpadānaya berbahasa Sinhala). 2009. Ranjini Obeyesekere.

 

 


[1] Bhikkhu penahbis

[2] Patta: Mangkuk yang dimiliki bhikkhu/bhikkhuni

[3] Abbhantara-Amba

 

 

yasodhara

sumber: Riwayat Hidup Yasodhara – Putri yang Mulia, Insight Vidyasena Production

 

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: