Riwayat Hidup Maha Kassapa (9-ending)

9. Syair-Syair Maha Kassapa

 

Di dalam kitab “Syair-Syair Para Sesepuh” (Theragatha), empat puluh syair (1051-1091) dianggap berasal dari Yang Mulia Maha Kassapa. Syair-syair ini mencerminkan beberapa karakteristik kualitas dan kebaikan luar biasa dari Maha Kassapa: kebiasaan hidupnya yang keras dan rasa puasnya; disiplinnya terhadap dirinya sendiri dan para bhikkhu; semangat kemandiriannya; kecintaannya pada penyendirian, menjauhi keramaian; dedikasinya dalam praktek meditasi dan kedamaian jhana-jhana. Syair-syair ini juga menunjukkan apa yang tidak ada di dalam naskah-naskah lain: sensitifitasnya terhadap keindahan alam yang ada di sekitarnya.

 

Berikut hanya diberikan beberapa syair yang telah diseleksi, yang dapat dibaca seutuhnya dari terjemahan (ke dalam bahasa Inggris) oleh C.A.F. Rhys Davids dan K.R. Norman[1].

 

Sebuah nasehat kepada para bhikkhu untuk berlatih rasa puas dengan empat kebutuhan dasar dalam kehidupan seorang bhikkhu[2].

 

Pada suatu hari saya turun dari pondokan di gunung
Dan berpindapatta di sepanjang jalan.
Saya melihat seorang penderita kusta sedangmenyantap makanannya
Dandengan sopan saya berhenti di sisinya. (1054)

 

Dia dengan tangannya yang berkusta dan berpenyakit
Meletakkan sebutir nasi ke dalam mangkukku; saat ia meletakkannya,
Sebuah jarinya putus dan jatuh ke dalam makananku. (1055)

 

Pada sebuah tembok terdekat saya menyantap bagianku,
Tidak pada saat itu ataupun sesudahnya saya merasa jijik. (1056)

 

Karena hanya dia yang menerima apa yang datang
Makanan sisa, urin sapi untuk obat,
Berdiam di bawah sebuah pohon, berjubah tambal sulam,
Sesungguhnya adalah seorang yang selalu merasa puas dimana pun berada[3]. (1057)

Ketika Maha Kassapa diajukan pertanyaan mengapa, pada usia lanjutnya, beliau masih mendaki dan menuruni bebatuan setiap hari, beliau menjawab:

 

Sementara beberapa orang merasa sangat lelah saat mereka memanjat batu,
Seorang pewaris Buddha, sadar, mawas diri,
Dengan kekuatan semangat yang tak surut[4],
Demikianlah Kassapa mendaki alur gunung. (1058)

Kembali dari kegiatan berpindapatta sehari-hari,
Dia mendaki lagi bebatuan dan duduk
Dalam meditasi, tidak melekatpada apapun,
Karenadia telah melepaskan ketakutan dan kengerian jauh dari dirinya. (1059)

 

Kembali dari kegiatan berpindapatta sehari-hari,
Dia mendaki lagi bebatuan dan duduk
Dalam meditasi, tidak melekat di manapun,

Karena dia salah satu di antara mereka yang apinya telah sejuk dan tenang. (1060)

Kembali dari kegiatan berpindapatta sehari-hari,
Dia mendaki lagi bebatuan dan duduk
Dalam meditasi, tidak melekat pada apapun,

Tugasnya telah dilaksanakan, dia telah terbebas dari kanker. (1061)

 

Orang-orang bertanya lagi mengapa Yang Mulia Maha Kassapa, pada usia lanjutnya, menetap di hutan-hutan dan pegunungan. Apakah beliau tidak menyukai wihara seperti Wihara Veluvana dan wihara lainnya?

 

Daerah-daerah ini menyenangkan hati saya
Ketika tanaman menjalar Kareri menyebarkanrangkaian bunganya,
Ketika suara terompet memanggil para gajah.
Daerah tinggi berbatu inimenyenangkan hati saya. (1062)

 

Bebatuan ini dengan rona awan biru-gelap
Dimana sungai mengalir, dingin dan sebening kristal,
Dengan diselimuti oleh kilauan cahaya (bersinar terang),
Daerah tinggi berbatu ini menyenangkan hati saya. (1063)

 

Seperti puncak menjulang awan biru-gelap,
Seperti bangunan-bangunan indah rupa bebatuan ini,
Dimana suara manis burung menghiasi udara,
Daerah tinggi berbatu ini menyenangkan hati saya. (1064)

 

Seperti tanah luas yang disegarkan oleh hujan (dingin),
Bergema dengan panggilan burung-burung jambul,
Tebing itu menjadi tempat bagi para pertapa,
Daerah tinggi berbatu ini menyenangkan hati saya. (1065)

Tempat ini cukup bagi saya, yangkeras,
Yang berkeinginan untuk bermeditasi (dalam kesendirian).
Tempat ini cukup bagi saya, seorang bhikkhu tekun,
Yang berusaha untuk berdiam dalam pencapaian tujuan tertinggi[5]. (1066)

Tempat ini cukup bagi saya, yang keras,
Yang berkeinginan untuk hidup dalam ketenangan (dan kebebasan).
Tempat ini cukup bagi saya yang bertekad bulat,
(mendedikasikan praktek) sebagai seorang bhikkhu tekun. (1067)

 

Seperti rami berwarna biru-gelap mereka,
Seperti langit musim gugur dengan awan biru-gelap,
Dengan kawanan berbagai jenis burung,
Daerah tinggi berbatu ini menyenangkan hati saya. (1068)

 

Tidak ada kerumunan orang di daerah bebatuan ini,
Tetapi dikunjungi oleh kawanan-kawanan rusa.
Dengan kawanan berbagai jenis burung,
Daerah tinggi berbatu ini menyenangkan hati saya. (1069)

Ngarai lebar yang ada dimana air jernih mengalir,
Dibayangi oleh monyet-monyet dan rusa,
Dipenuhi oleh karpetlumut, lembab,
Daerah tinggi berbatu ini menyenangkan hati saya. (1700)

Tidak ada musik dengan lima instrumen
Yang bisa menggembirakan saya seperti ini
Seperti ketika, dengan pikiran yang dihimpun dengan baik,
Wawasan langsung menuju fajar Dhamma. (1071)

Pada syair-syair berikut ini, Yang Mulia Maha Kassapa menyuarakan “Auman Singa”nya.

 

Di dalam semua pengikut Buddha,
Terkecuali bagi Guru Agungsendiri,
Saya berdiri terdepan dalam hal pertapaan;
Tidak ada seorang pun yang berlatih sekeras saya. (1087)

Sang Guru telah dilayani olehku,
Dan semua ajaran Buddha telah dilakukan.
Telah saya letakkan rendah beban beratku,
sebab kelahiran kembali tidak dapat ditemukan lagi dalam diriku. (1088)

Gotama yang tak terbandingkan tidak melekat
Pada jubah, makanan atau tempat tinggal.
Seperti bunga teratai bersih Ia bebas dari noda,
Bertekad bulat pada pelepasanIa melampaui tiga dunia. (1089)

 

Empat landasan perhatian adalah lehernya;
Pertapa agung memiliki keyakinan dan kepercayaan sebagai tangan;
Di atas, alisnya adalah kebijaksanaan sempurna; mulia bijaksana,
Beliau mengembara dengan semua keinginan yang telahdipadamkan. (1090)


[1]Keduanya diterbitkan oleh Pali Text Society, London.

[2]Kalimat pendahuluan bagian-bagian syair diambil dari bagian komentar kuno.

[3]Harfiah: “seorang pria dengan empat arah”; yang berarti bahwa dia merasa puas dengan segala kondisi dimana pun ia berada.

[4]Harfiah: didukung dengan kekuatan supernormalnya.

[5]Alam me atthakamassa;harfiah: “cukup bagi saya yang mengharapkan tujuan.”Tetapi karena Maha Kassapa telah mencapai tingkat kesucian Arahat, terjemahan kami pun telah disesuaikan. Terjemahan alternatif: “Dia yang menginginkan tujuannya”.

 

maha kassapa

sumber:

Riwayat Hidup Maha Kassapa – Bapak Sangha, Insight Vidyasena Production

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: