Riwayat Hidup Maha Kaccana (5)

7. Syair-Syair
Theragatha
Theragatha, syair-syair para sesepuh, memasukkan delapan
syair yang dianggap berasal dari Yang Mulia Maha Kaccana
(v. 494-501). Syair-syair ini tidaklah luar biasa dan hanyalah
berupa ungkapan saja, dalam bentuk syair, sebagai petunjuk
disiplin yang tepat bagi para bhikkhu dan saran yang praktis
bagi para perumah tangga. Meskipun syair Maha Kaccana
yang ditujukan kepada brahmana Lohicca berfungsi secara
efektif sebagai syair yang mendidik, beliau tampaknya tidak
cukup dianugerahi dengan karunia seni berpuisi sebagaimana
yang dimiliki oleh beberapa siswa-siswa utama lainnya,
seperti Maha Kassapa, Sariputta, dan Vangisa . Keunggulan
Kaccana terletak pada analisis dan penafsiran, bukan pada
kefasihan inspirasional atau kreativitas seni.
Dua syair pertama (v. 494-95), menurut bagian komentar,
diucapkan sebagai nasihat kepada para bhikkhu. Suatu hari
sang sesepuh menyadari bahwa sejumlah bhikkhu telah
mengesampingkan latihan meditasi mereka dibandingkan
dengan kesenangan dalam pekerjaan dan komunitas mereka.
Mereka juga menjadi terlalu menyukai makanan lezat yang
disediakan oleh para penyokong setia. Oleh karena itu beliau

menegur mereka demikian29:
“Seorang bhikkhu semestinya tidak melakukan banyak
pekerjaan
Seorang bhikkhu semestinya menghindari kerumunan
orang,
Seorang bhikkhu semestinya tidak memiliki kesibukan
(untuk memperoleh pemberian).
Seorang bhikkhu yang bersemangat dan serakah atas
berbagai rasa
Akan kehilangan tujuan yang membawa pada
kebahagiaan.
Mereka tahu adalah rawa berlumpur, bentuk penghormatan
dan pemujaan ini
Diperoleh dari keluarga-keluarga yang taat.
Sebuah bentuk yang halus, sulit untuk disaring,
Rasa tinggi hati sulit dibuang oleh seorang manusia
hina.”
Enam syair lainnya, lagi menurut bagian komentar, diucapkan
sebagai nasihat kepada Raja Candappajjota. Disebutkan
bahwa sang raja memiliki keyakinan pada brahmana dan
atas perintah mereka mengadakan pengurbanan hewan;
ia juga sering memberikan hukuman dan anugerah sesuka
hatinya, mungkin karena temperamen sesuka-hatinya inilah
dia memperoleh gelar “Yang Kejam.” Oleh karena itu, untuk
mencegah raja dari perilaku sembrono tersebut, sang sesepuh
mengucapkan empat syair berikut ini (496-99):

“Bukanlah tergantung pada perbuatan orang lain
Sehingga kamma seseorang merupakan kejahatan.
Bergantung pada diri sendiri seseorang harus menjauhi
kejahatan,
Karena seseorang berhubungan dengan kammanya
sendiri.
Seseorang bukanlah pencuri oleh karena perkataan orang
lain,
Seseorang bukanlah orang bijak oleh karena perkataan
orang lain;
Hal tersebut diketahui seseorang melalui dirinya sendiri
Demikian pula para dewa mengetahuinya.
Orang lain tidak mengerti
Bahwa kita semua sampai di akhir di sini.
Tetapi mereka yang bijaksana yang mengerti hal ini
Dengan demikian menyelesaikan semua perselisihan
ini.30
Orang bijak hidup dengan sesungguhnya
Bahkan meskipun mereka kehilangan harta
kekayaannya.
Tetapi apabila seseorang tidak memiliki kebijaksanaan,
Maka walaupun mereka kaya mereka tidak hidup.”
Dua syair terakhir (500-501) diucapkan oleh sang sesepuh
ketika sang raja datang menemuinya pada suatu hari dan

menceritakan sebuah mimpi yang mengganggunya tadi
malam kepada sesepuh Kaccana:
“Seseorang mendengar segalanya dengan telinga,
Seseorang melihat segalanya dengan mata,
Orang yang bijaksana tidak boleh mengabaikan
Segala sesuatu yang dilihat dan didengar.
Seseorang yang memiliki mata namun seolah-olah buta,
Seseorang yang memiliki telinga namun seolah-olah tuli,
Seseorang yang memiliki kebijaksanaan namun seolaholah
bisu,
Seseorang yang memiliki kekuatan namun seolah-olah
lemah.
Maka, ketika tujuan telah tercapai,
Seseorang mungkin telah berbaring di atas ranjang
kematiannya.”
Bagian komentar menjelaskan maksud dari dua syair di atas:
Seorang bijaksana tidak boleh mengabaikan segala sesuatu,
tetapi pertama-tama dia harus menyelidiki kebajikankebajikan
dan kesalahan-kesalahan, dan kemudian harus
menolak apa pun yang seharusnya ditolak dan menerima apa
pun yang dapat diterima. Oleh karena itu, dalam kaitannya
dengan apa yang seharusnya ditolak, meskipun seseorang
memiliki mata, dia harus bertindak seolah-olah buta, dan
walaupun mampu mendengar, dia harus bertindak seolaholah
tuli. Seorang yang cerdas, yang mampu berbicara dengan
baik, harus bertindak seolah-olah bodoh ketika tergoda untuk
berbicara apa yang tidak semestinya untuk diucapkan, dan
seorang yang kuat harus bertindak seolah-olah lemah dalam

kaitannya dengan apa yang tidak semestinya dilakukan.
Baris terakhir bersifat ambigu, demikian pula dalam bahasa
Pali-nya, dan ditafsirkan dalam dua cara yang berbeda
di dalam bagian komentar: (1) Ketika tugas yang harus
dilakukan telah muncul, seseorang harus menyelidikinya
dan tidak mengabaikannya bahkan jika ia sedang berada di
atas ranjang kematiannya (ambang pintu kematian). (2) Atau
alternatif lainnya, jika tugas yang tidak seharusnya dilakukan
seseorang muncul, dia seharusnya memilih kematian – untuk
berbaring di atas ranjang kematian – daripada melakukan apa
yang seharusnya tidak dilakukan itu. Penjelasan manapun
tampaknya tidak meyakinkan, dan maksud yang sekiranya
tepat untuk baris terakhir tersebut yang sesuai dengan
semangat syair Theragatha tersebut sebagai satu kesatuan
adalah: Seseorang seharusnya meninggal sebagai orang
yang telah mencapai tujuan, atau dengan kata lain sebagai
Arahat.

——————-

8. Penafsiran Risalah
Sebelum mengakhiri penyelidikan mengenai kontribusi Yang
Mulia Maha Kaccana pada masa kehidupan Buddha Gotama,
harus diperhatikan bahwa tradisi Theravada mencantumkan
dua risalah penafsiran yang berasal dari beliau, yaitu
Petakopadesa dan Nettippakarana – dan sebuah tata bahasa
yang mempengaruhi bahasa Pali yang disebut Kaccayana-
Vyakarana . Kedua risalah ini tidak terdapat dalam kitab
Pali (kecuali di Myanmar, dimana mereka belakangan
memasukkan keduanya ke dalam Sutta Pitaka), tetapi risalah
ini telah memberikan pengaruh besar pada evolusi metode
penafsiran.
Bhikkhu Ñanamoli yang menerjemahkan kedua risalah itu
ke dalam bahasa Inggris, berpendapat bahwa Netti muncul
belakangan, sebuah versi yang lebih baik dari Petakopadesa.
Keduanya memiliki metode penafsiran yang sama, yang di
dalam Netti terlihat lebih jelas dan lebih ringkas. Metode yang
tergambar di sana memang dirancang untuk memperoleh
kesatuan prinsip-prinsip yang mendasari beragam ekspresiekspresi
Dhamma di dalam khotbah-khotbah sang Buddha.
Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa dengan beragamnya
khotbah-khotbah sang Guru, yang diadaptasikan sesuai
dengan temperamen dan situasi para pendengarnya pada
saat tertentu, terdapat sebuah sistem yang konsisten, yang
dengan teknik penafsiran yang tepat dapat disarikan dari

pernyataan tersebut melalui penyelidikan dan ditampilkan
sesuai dengan esensinya tanpa kiasan. Netti, sebagaimana
yang telah dijelaskan oleh Y.M. Ñanamoli, sebenarnya
bukanlah sebuah komentar tetapi merupakan sebuah
panduan bagi para komentator. Netti menjelaskan secara
lengkap, tidak mengenai ajaran-ajaran itu sendiri (kecuali
pada cara pemberian contoh), tetapi sebagai alat yang dapat
digunakan untuk memperoleh kerangka-kerangka struktural
yang mendasari dan membentuk ekspresi dari ajaran
Buddha.
Netti membedakan metodologinya ke dalam dua judul
utama: ungkapan (byanjana) dan makna (attha). Ungkapan
ini memiliki enam belas “cara penyampaian” (hara), teknik
verbal dan analisis logis yang dapat diterapkan pada setiap
bagian khusus untuk mengekstrak prinsip-prinsip yang ada
di balik perumusan verbal dan organisasi logis dari isinya.
‘Makna’ memiliki tiga metode atau “pedoman” (naya).
Metode ini menarik makna sebagai tujuan dari ajaran
(attha bisa berarti “makna” dan “tujuan”), yang tak lain
adalah pencapaian Nibbana, dan kemudian mengungkapkan
bagaimana ajaran dalam bentuk pertanyaan mampu
mengarah pada pencapaian tujuan itu sebagai kerangka yang
mendasarinya. Dua metode tambahan kemudian diusulkan
untuk menghubungkan terminologi sutta dengan metodemetode
untuk menarik makna dari sutta. Metode tersebut
diterapkan oleh bagian sub-komentar pada sutta pertama
dari keempat Nikaya dengan tambahan khusus pada bagian
utama dari sub-komentar. Juga terdapat sebuah komentar
pada Netti yang berkenaan dengan Acariya Dhammapala.
Tanda pengarang dari kedua risalah penafsiran ini –
Petakopadesa dan Nettippakarana – jelas berasal dari Yang

Mulia Maha Kaccana. Bahkan tanda yang terdapat dalam
Netti lebih lanjut menyatakan bahwa Netti itu telah disetujui
oleh sang Bhagava dan dikumandangkan di hadapan Dewan
Buddhis awal. Cendekiawan Barat cenderung mengabaikan
anggapan bahwa Yang Mulia Maha Kaccana telah mengarang
kedua risalah ini. Akan tetapi Y.M. Ñanamoli, dalam Pengantar
dari terjemahan Nettippakarana, menawarkan sebuah
penjelasan yang setidaknya melindungi sebutir kredibilitas
dalam pandangan Buddhis tradisional tanpa jatuh ke dalam
sikap kontra yang keras.
Y.M. Ñanamoli mengusulkan agar kita membedakan antara
kepemilikan metode penafsiran di satu pihak, dan kepemilikan
dari risalah di sisi lain. Beliau mengusulkan sebuah hipotesis
– walaupun mungkin tidak dapat dibuktikan atau disanggah –
bahwa sesepuh Maha Kaccana dan garis keturunan muridnya
di Avanti mungkin telah merumuskan sebuah metode yang
ringkas untuk menginterpretasikan khotbah-khotbah sang
Buddha, dan bahwa metode ini – atau setidaknya unsurunsur
dari metode ini – mungkin telah dibahas pada Konsili
awal dan dituturkan secara lisan dalam bentuk kerangka
analisis. Di kemudian hari, metode ini bisa saja melahirkan
sebuah risalah, yang mencoba untuk menghubungkan unsurunsur
risalah dan menggambarkan aplikasinya dalam naskahnaskah
tertentu. Risalah ini akhirnya menjadi Petakopadesa.
Beberapa waktu kemudian, bahkan mungkin berabadabad
kemudian, versi yang lebih baik dan mudah dipahami
dari pekerjaan yang sama ini dilakukan, dan menjadi
Nettippakarana. Karena metodologi asli yang ada di dalam
risalah ini berasal dari pemikiran Yang Mulia Maha Kaccana,
atau setidaknya diyakini berasal dari beliau, juga sebagai
penghormatan kepada pengarangnya – dan juga untuk

meningkatkan prestise risalah – para penghimpun kitab
ini memberikan apresiasi kepemilikan ini kepada sesepuh
Kaccana. G.P. Malalasekera juga menawarkan rangkaian
hipotesis untuk menjelaskan hubungan status kepemilikan
tata bahasa Pali, Kaccayana-Vyakarana, yang ditujukan
kepada siswa utama Buddha Gotama ini.
Meskipun hipotesis-hipotesis tersebut masih berupa
dugaan, sebagaimana Y.M. Ñanamoli dan Malalasekera
ketahui sendiri, jenis analisis mendetail mengenai
pernyataan-pernyataan tekstual yang ditemukan di dalam
Nettippakarana sesuai dengan pendekatan yang dibawa
oleh Maha Kaccana terhadap interpretasi khotbah-khotbah
ringkas sang Buddha. Dengan demikian akan terlihat bahwa
seandainya pun sebenarnya tidak ada hubungan langsung
antara sang sesepuh agung dengan risalah Pali kuno yang
dianggap berasal dari beliau, fakta tetap menunjukkan
bahwa risalah-risalah tersebut membawa semangat yang
beliau perjuangkan. Semangat ini terlihat begitu jelas dalam
sutta-sutta yang mencatat penjelasannya terhadap sabda
sang Buddha, menggabungkan ketajaman wawasan dengan
kecakapan berekspresi, ketepatan perumusan dengan
kedalaman makna. Atas dasar kecakapan itulah sehingga
sang Bhagava memberinya gelar “Yang Terkemuka dalam
Pembabaran Ajaran”, dan inilah kontribusinya yang luar biasa
dalam pembabaran Ajaran Buddha.

——————–

 

sumber:

maha kaccana

Riwayat Hidup Maha Kaccana – Yang Terkemuka dalam Pembabaran Ajaran yang Terperinci

Insight Vidyasena Production

Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: