MITTAVINDA-JĀTAKA

“Tidak ada lagi tempat untuk berdiam,” dan seterusnya .

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang keras hati. Kejadian-kejadian pada kelahiran ini, yang berlangsung pada masa Buddha Kassapa, akan diceritakan dalam Mahā-Mittavindaka-Jātaka di Buku Kesepuluh.

____________________

Kemudian Bodhisatta mengucapkan syair berikut:

Tidak ada lagi tempat untuk berdiam di istana-istana

pulau yang terbuat dari kristal, perak atau permata-permata

yang berkilauan,—

Engkau dihiasi dengan perhiasan kepala dari batu sekarang;

Siksaan untuk menebus perbuatan itu tidak akan pernah

berhenti sebelum semua kesalahanmu telah ditebus dan

hidup harus berakhir.

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Bodhisatta kemudian berlalu menuju kediaman pribadinya di antara para Dewa. Dan Mittavindaka, setelah memakai perhiasan kepala tersebut, menderita siksaan yang menyakitkan hingga semua karma buruknya berbuah dan ia meninggal dunia untuk terlahir kembali di alam yang sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru mempertautkan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu yang keras hati saat ini adalah Mittavindaka di masa itu, dan Saya sendiri adalah raja para dewa.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: