MITTAVINDA-JĀTAKA

“Dari empat ke delapan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang sulit dinasihati. Kejadiannya sama dengan yang terjadi pada kisah sebelumnya mengenai Mittavindaka, namun terjadi di masa Buddha Kassapa.

____________________

[414] Pada masa itu salah seorang dari mereka, yang terkena hukuman memanggul sebuah roda (berpisau) dan menderita atas siksaan di neraka, bertanya pada Bodhisatta —

“Yang Mulia, perbuatan buruk apa yang telah saya lakukan?”

Bodhisatta memberitahukan perbuatan buruk yang ia lakukan dan mengucapkan syair berikut ini : —

Dari empat ke delapan, kemudian ke enam belas, dan seterusnya sampai ke tiga puluh dua, nafsu keinginan yang tak terpuaskan, — tetap mendesak tanpa pernah bisa dipuaskan maka roda penderitaan ini harus dipanggul olehnya.

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Bodhisatta kembali ke alam dewa, sementara ia tetap berada di neraka hingga buah perbuatan buruk mereka habis diterima. Setelah itu, ia meninggalkan tempat itu untuk terlahir kembali di alam yang sesuai dengan hasil perbuatannya.

___________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu yang sulit dinasihati itu adalah Mittavindaka dan Saya adalah makhluk dewa tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: