DUBBACA-JĀTAKA

“Terlalu berlebihan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai

seorang bhikkhu yang tidak patuh; Cerita pembukanya akan diberikan pada Buku Kesembilan, dalam Gijjha-Jātaka.

Sang Guru menegurnya dengan kata-kata berikut ini, “Sama seperti sekarang, di kehidupan yang lampau engkau juga tidak patuh, Bhikkhu, tidak mengindahkan nasihat mereka yang bijaksana dan penuh kebaikan. Karenanya, engkau meninggal oleh sebatang tombak.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.”

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir dalam sebuah keluarga pemain akrobat. Setelah dewasa, ia tumbuh menjadi anak yang bijak dan pintar.

Dari pemain akrobat yang lain, ia belajar tarian tombak, bersama gurunya ia melakukan perjalanan untuk mempertunjukkan keahliannya. Gurunya ini menguasai tarian dengan empat buah tombak, belum mencapai lima; suatu hari saat sedang mengadakan pertunjukan di sebuah desa, di bawah pengaruh minuman keras, ia menyusun lima tombak dalam satu baris, dan menyampaikan bahwa ia akan menari melewati tombak-tombak itu. Bodhisatta berkata, “Engkau tidak mampu menangani seluruh tombak itu, Guru. Kurangilah satu, jika engkau mencoba kelimanya, engkau akan tiba di tombak kelima dan mati.”

“Engkau tidak tahu apa yang bisa saya lakukan jika saya mencobanya,” jawab orang mabuk itu, tidak mendengar pada kata-kata Bodhisatta. Ia menari melalui empat buah tombak hanya untuk menikamkan diri pada tombak kelima seperti Bunga Bassia di tangkainya. Di sana, ia berbaring sambil mengerang.

Bodhisatta berkata, “Bencana ini terjadi karena engkau tidak mengindahkan nasihat ia yang bijaksana dan penuh kebaikan.”

Dan ia mengucapkan syair berikut ini : —

Terlalu berlebihan — walaupun kesakitan berlawanan dengan kehendakku — engkau mencobanya; melewati yang keempat, di tombak yang kelima engkau meninggal.

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengangkat gurunya agar terlepas dari tombak tersebut dan memberikan pelayanan terakhir yang sepantasnya pada mayatnya.

____________________

Setelah kisah itu berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu yang tidak patuh ini adalah guru di masa itu, dan Saya adalah murid tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: