SIGĀLA-JĀTAKA

“Engkau mengencangkan pegangan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana, mengenai percobaan Devadatta membunuh Beliau. Mendengar percakapan para bhikkhu mengenai hal itu di Balai Kebenaran, Sang Guru berkata bahwa sama seperti tindakan Devadatta sekarang, Devadatta juga melakukan hal yang sama di kehidupan yang lampau, namun tetap gagal — karena rasa sakitnya yang menyedihkan — mencapai tujuan jahatnya.

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor serigala, dan menetap di sebuah pemakaman bersama rombongan besar pengikutnya dimana ia merupakan raja mereka. Pada masa itu sebuah perayaan diselenggarakan di Rājagaha, dan itu adalah sebuah perayaan yang dipenuhi dengan minuman keras, dimana semua orang minum habis-habisan. Sebuah buntelan para penjahat dipenuhi oleh makanan dan minuman dalam jumlah besar, dengan memakai pakaian terbaik, mereka bernyanyi dan bersuka ria hingga kekenyangan. Saat tengah malam, semua makanan telah habis, sementara minuman keras masih tersisa. Kemudian salah seorang dari mereka meminta daging, dan diberitahu bahwa daging telah habis. Orang tersebut berkata, “Makanan tidak pernah habis jika ada saya. Saya akan pergi ke pemakaman, membunuh seekor serigala yang sedang berkeliaran untuk mencari mayat, dan kembali dengan membawa daging.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut ia menarik sebuah tongkat pemukul dan pergi ke luar kota melalui selokan ke tempat itu, tempat dimana ia berbaring, memegang pemukul di tangan, berpura-pura mati. Setelah beberapa saat, diikuti oleh serigala-serigala yang lain, Bodhisatta muncul dan melihat mayat palsu itu. Mencurigai tipuan itu, ia memutuskan untuk menyelidiki hal itu. Maka ia berputar ke bagian yang terlindung dan mengetahui dari aromanya bahwa orang tersebut belum mati.

Memutuskan untuk membuat lelaki itu terlihat bodoh sebelum ia meninggalkannya, Bodhisatta mendekat dengan diam-diam dan menarik pemukul itu dengan giginya dan menyentaknya.

Penjahat itu tidak melepaskan tongkat pemukulnya. Tidak merasakan kedatangan Bodhisatta, ia mengencangkan pegangannya. Saat itu, Bodhisatta mundur satu dua langkah, berkata, “Orang baik, jika engkau telah mati, engkau tidak akan mengencangkan peganganmu pada pemukul itu saat saya menariknya, tindakan itu telah mengkhianati dirimu.” Setelah berkata demikian, ia mengucapkan syair berikut ini:

Engkau mengencangkan pegangan pada pemukul yang

engkau perlihatkan dengan bodohnya;

Engkau penipu yang buruk — engkau bukanlah mayat,

saya meragukannya.

Mengetahui ia telah ketahuan, penjahat itu melompat bangun dan melemparkan pemukulnya kepada Bodhisatta, namun luput. “Pergilah, engkau makhluk yang kasar,” katanya, “saya melepaskanmu kali ini.” Berputar kembali, Bodhisatta berkata, “Benar, lemparanmu luput, namun yakinlah bahwa engkau tidak akan luput dari siksaan delapan neraka besar

(mahāniraya) dan enam belas neraka kecil (ussadaniraya).”

Dengan tangan kosong, sang penjahat meninggalkan pemakaman itu dan setelah mandi di sebuah parit, ia kembali ke kota dengan cara yang sama seperti cara ia masuk.

___________________

Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Devadatta adalah penjahat di masa itu, dan Saya adalah raja serigala.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: