RĀDHA-JĀTAKA

“Berapa malam lagi yang?” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai godaan nafsu terhadap seorang bhikkhu oleh mantan istrinya dalam kehidupan berumah tangga. Kejadian dalam cerita pembuka akan diceritakan dalam Indriya-Jātaka.

Sang Guru berkata seperti ini pada bhikkhu tersebut, “Tidak mungkin untuk menjaga seorang wanita; tidak ada pengawal yang dapat menjaga seorang wanita untuk tetap berada di jalan yang benar. Engkau sendiri di kelahiran yang lampau menemukan semua usaha perlindunganmu gagal; bagaimana engkau bisa berharap untuk lebih berhasil dalam kehidupan ini?”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai seekor burung. Seorang brahmana tertentu di Negeri Kāsi bertindak bagaikan seorang ayah bagi dirinya dan juga bagi diri saudaranya, memperlakukan mereka seperti anak-anaknya sendiri. Paṭṭhapāda adalah nama Bodhisatta, dan nama adiknya adalah Rādha.

Brahmana ini mempunyai seorang istri yang sangat jahat. Saat akan meninggalkan rumah untuk suatu urusan, ia berkata kepada kedua saudara itu, “Jika ibu kalian, istri saya, hendak berbuat jahat, hentikan dia.” “Akan kami lakukan,” jawab Bodhisatta, “jika kami mampu; namun jika kami tidak

sanggup, kami akan tetap diam.”

Setelah memercayakan istrinya di bawah penjagaan kedua burung tersebut, sang brahmana berangkat untuk melakukan urusannya. Setiap hari sejak saat itu istrinya melakukan tindakan yang tidak senonoh; barisan kekasihnya keluar masuk rumah tanpa henti. Digerakkan oleh pemandangan itu, Rādha berkata kepada Bodhisatta, “Saudaraku, bagian dari perintah ayah kita adalah untuk menghentikan tindakan tidak senonoh istrinya; sekarang ia tidak melakukan apa pun selain berbuat tidak senonoh. Mari kita hentikan dia.” “Saudaraku,” jawab Bodhisatta, “ucapanmu adalah kata-kata orang bodoh.

Engkau bisa menempatkan seorang wanita dalam genggamanmu, dan ia masih tidak aman. Maka jangan mencoba untuk melakukan hal yang tidak mungkin.” Setelah berkata demikian, ia mengucapkan syair berikut ini : —

Berapa malam lagi yang akan tersisa untukmu?

Rencanamu itu akan sia-sia, tidak berhasil sama sekali.

Tidak ada hal lain kecuali cinta seorang istri yang dapat

menghentikan nafsunya; dan cinta seorang istri adalah sungguh jarang adanya.

Dengan alasan demikian, Bodhisatta tidak mengizinkan adiknya untuk berbicara kepada istri brahmana tersebut, yang terus menerus berkeluyuran sesuka hatinya selama suaminya tidak berada di rumah. Saat kembali, brahmana itu bertanya kepada Paṭṭhapāda mengenai kelakuan istrinya, dan Bodhisatta dengan patuh menceritakan semua hal yang terjadi.

“Mengapa, Ayah,” katanya, “engkau masih mempunyai hubungan dengan wanita yang sejahat itu?” Dan ia menambahkan kata-kata berikut ini : — “Ayah, sekarang saya telah melaporkan kejahatan ibu saya, kami tidak bisa tinggal di sini lagi.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia membungkuk di kaki brahmana tersebut dan terbang pergi bersama Rādha menuju ke hutan.

____________________

Uraian tersebut berakhir, Sang Guru mengajarkan Empat Kebenaran Mulia. Di akhir khotbah, bhikkhu yang (tadinya) menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna. “Suami istri ini,” kata Sang Guru, “adalah suami istri di masa itu, Ānanda adalah Rādha, dan Saya sendiri adalah Paṭṭhapāda.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: