EKAPAṆṆA-JĀTAKA

“Jika racun tersembunyi,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di kūṭāgārasālā, Mahāvana dekat Vesāli. Pada masa itu, Vesāli berada dalam keadaan yang sangat makmur. Sebuah dinding berlapis tiga mengelilingi kota tersebut, setiap dinding berjarak satu yojana dari dinding berikutnya, dan terdapat tiga buah gerbang dengan menara pengawas. Di kota tersebut selalu terdapat tujuh ratus tujuh puluh tujuh orang raja yang memerintah kerajaan tersebut, serta raja muda, jenderal dan bendaharawan dengan jumlah yang sama. Di antara para putra raja terdapat satu orang yang dikenal sebagai Pangeran Licchavi yang jahat, pemuda yang kasar, emosional, kejam, selalu memberi hukuman, seperti ular berbisa yang penuh kemarahan. Demikianlah sifat alaminya, sehingga tidak seorang pun yang bisa berbicara lebih dari dua atau tiga patah kata di hadapannya; baik orang tua, kerabat maupun teman-temannya tidak bisa membuatnya berubah menjadi lebih baik. Akhirnya orang tuanya memutuskan untuk membawa anak muda yang tidak bisa dikendalikan itu menghadap Yang Tercerahkan Sempurna, menyadari bahwa tidak ada orang lain selain diri-Nya yang mampu menjinakkan jiwa anak muda yang buas itu. Maka mereka membawanya ke hadapan Sang Guru, dengan penuh hormat mereka memohon Beliau memberikan nasihat kepada pemuda tersebut.

Sang Guru menyapa pangeran itu dan berkata, “Pangeran, manusia tidak boleh kasar, emosional, dan kejam. Orang yang bengis adalah orang yang kasar dan kejam, baik kepada ibu yang membesarkannya, kepada ayah dan anaknya, kepada saudara lelaki dan perempuannya, kepada istrinya, teman-teman dan kerabatnya; menimbulkan ketakutan seperti seekor ular berbisa yang meluncur ke depan untuk menggigit, seperti seorang perampok yang menyerang korbannya di hutan, seperti seorang yaksa yang bergerak maju untuk melahap mangsanya, — orang yang demikian akan langsung terlahir kembali di neraka atau alam penuh siksaan lainnya; bahkan dalam kehidupan ini, betapa rupawan pun dirinya, ia terlihat jelek.

Walaupun wajahnya cantik seperti cakra bulan purnama, namun terlihat menjijikkan seperti teratai yang gosong karena kobaran api, seperti potongan emas yang ditutupi oleh kotoran.

Kemarahan yang demikian membuat seseorang seperti membunuh diri mereka sendiri dengan pedang, minum racun, menggantung diri dan melemparkan diri mereka dari tebing yang curam; demikian mereka menemui ajal karena kemarahan mereka sendiri, dan akan terlahir kembali di alam yang penuh penderitaan. Demikian juga dengan mereka yang mencelakai orang lain, dipenuhi oleh kebencian dalam kehidupan ini, dan karena perbuatan jahat mereka, setelah kematiannya akan terlahir kembali di neraka dan alam rendah lainnya; sekalipun mereka terlahir kembali sebagai manusia, penyakit dan rasa sakit di mata, telinga dan segala hal menimpa mereka sejak mereka lahir hingga seterusnya. Karenanya, sebaiknya semua orang menunjukkan kebaikan dan menjadi pelaku kebaikan, kemudian yakinlah bahwa mereka tidak perlu takut pada neraka

dan siksaan.”

Demikianlah kekuatan satu kali ceramah itu membuat ketinggian hatinya semakin berkurang; kesombongan dan keegoisan hilang dari dirinya, dan hatinya dipenuhi oleh kebaikan dan cinta kasih. Ia tidak pernah mencaci maupun memukul lagi, namun berubah menjadi ramah bagaikan seekor ular yang taringnya telah dicabut, bagaikan kepiting yang capitnya putus, bagaikan seekor sapi jantan dengan tanduk yang telah patah.

Melihat perubahan suasana hatinya, para bhikkhu berkumpul bersama dalam Balai Kebenaran, membicarakan bagaimana Pangeran Licchavi yang jahat, walaupun melalui nasihat yang tiada henti dari kedua orang tuanya tetap tidak dapat membuatnya mengendalikan dirinya, tetapi menjadi tunduk dan rendah hati hanya dengan satu nasihat saja dari Buddha

Yang Maha Bijaksana, dan bagaimana hal itu seperti menjinakkan enam gajah yang buas secara bersamaan.

Dikatakan, ‘Awuso, pelatih gajah membimbing gajah yang dilatihnya untuk berbelok ke kanan atau kiri, mundur atau maju, sesuka hatinya; sama dengan para pelatih kuda dan pelatih sapi dengan kuda dan sapi mereka; demikian juga dengan Bhagawan, Yang Tercerahkan Sempurna, membimbing manusia yang akan dididik-Nya ke jalan yang benar, menuntunnya ke arah mana pun yang sesuai dengan keinginan Beliau di sepanjang delapan arah, dan membuat murid-murid-Nya melihat bentuk luar diri-Nya. Demikianlah Buddha dan hanya Buddha sendiri,’ — dan seterusnya, hingga ke kata, — ‘Beliau dielu-elukan sebagai pembimbing utama manusia, yang paling unggul dalam membuat manusia tunduk dalam Dhamma.’ “Karena, Awuso,” kata mereka, “tidak ada pembimbing umat manusia seperti Buddha, Yang Tercerahkan Sempurna.”

Di saat itu, Sang Guru masuk ke dalam Balai Kebenaran dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka menceritakannya dan Beliau berkata, “Para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya sebuah nasihat tunggal dari-Ku berhasil menundukkan pangeran tersebut, tetapi hal yang sama juga pernah terjadi sebelumnya.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai seorang brahmana di Negeri Utara, dan setelah dewasa mula-mula ia belajar Tiga Weda kemudian semua pelajaran lainnya di Takkasilā, dan selama beberapa waktu menempuh kehidupan duniawi. Setelah orang tuanya meninggal, ia menjadi seorang petapa, menetap di Himalaya dan memperoleh kemampuan batin luar biasa dan pencapaian meditasi. Ia menetap di sana cukup lama, hingga kebutuhan akan garam dan kebutuhan hidup lainnya membawanya kembali ke tempat tinggal penduduk, dan ia tiba di Benares, tinggal di taman kerajaan. Keesokan harinya ia berpakaian dengan penuh usaha dan kehati-hatian, dan dengan pakaian petapa yang terbaik ia pergi melakukan pindapata ke kota dan tiba di gerbang istana. Raja sedang duduk dan melihat Bodhisatta dari jendela, dan terlihat pada dirinya, bagaimana petapa tersebut bijaksana dalam hati dan jiwanya, memandang dengan penuh kepastian padanya, bergerak dengan langkah laksana langkah seekor raja singa, seakan dalam setiap langkah kakinya tersimpan satu kantong yang berisikan ratusan keping uang. “Jika kebaikan memang ada,” pikir raja tersebut, “ia pasti berada di dalam dada orang ini.” Maka ia memanggil seorang pengawal istana, memintanya untuk mengundang petapa tersebut ke dalam istana. Pengawal tersebut menemui Bodhisatta dan, dengan penuh hormat, mengambil patta dari tangannya. “Ada apa, Tuan?” tanya Bodhisatta. “Raja mengundangmu dengan penuh hormat,” jawabnya. “Tempat tinggal saya adalah di Himalaya, dan saya bukan orang yang istimewa bagi raja.”

Pembawa pesan itu kembali dan melaporkan hal tersebut kepada raja. Berpikir bahwa ia tidak mempunyai seorang penasihat pribadi saat ini, raja meminta agar Bodhisatta dibawa masuk, dan Bodhisatta setuju untuk datang.

Raja menyapanya saat ia masuk dengan penuh kesopanan dan memintanya untuk duduk di sebuah singgasana emas di bawah payung kerajaan. Dan Bodhisatta dijamu dengan makanan yang awalnya dipersiapkan untuk disantap oleh raja sendiri.

Kemudian raja menanyakan tempat tinggal petapa tersebut, dan mengetahui bahwa ia berdiam di Himalaya.

“Kemanakah tujuanmu sekarang?”

“Dalam pencarian, Paduka, sebuah tempat tinggal selama musim hujan.”

“Mengapa engkau tidak menetap di taman saya saja?” saran raja. Kemudian, setelah mendapatkan persetujuan Bodhisatta, dan telah menyantap makanannya sendiri, raja pergi bersama tamunya menuju taman dan di sana terdapat sebuah tempat pertapaan yang dibangun dengan sebuah bilik untuk siang hari dan sebuah bilik untuk malam hari. Tempat tinggal ini dilengkapi dengan delapan perlengkapan petapa. Setelah menempatkan Bodhisatta di sana, raja menyerahkan tanggung jawab atas dirinya kepada penjaga taman dan kembali ke istana.

Maka Bodhisatta menetap di taman kerajaan dan raja mengunjunginya dua hingga tiga kali sehari. Raja mempunyai seorang putra yang kasar dan emosional, ia dikenal sebagai “Pangeran Jahat”, yang tidak bisa dikendalikan baik oleh ayah maupun para kerabatnya. Para anggota istana, para brahmana dan para penduduk, semua memberitahukan tentang kesalahan tindak tanduknya, namun semuanya sia-sia saja. Ia tidak memedulikan nasihat-nasihat mereka. Dan raja merasa bahwa harapan satu-satunya untuk mendapatkan kembali putranya adalah melalui petapa yang penuh kebaikan itu. Maka sebagai kesempatan terakhir, ia  membawa pangeran tersebut dan menyerahkannya untuk diurusi oleh Bodhisatta. Bodhisatta berjalan bersama pangeran tersebut di taman kerajaan hingga mereka tiba di sebuah tempat dimana tunas pohon nimba sedang tumbuh, yang terlihat hanyalah dua helai daun, satu pada suatu sisi, dan satu lagi di sisi lainnya.

“Cobalah sehelai daun pohon kecil ini, Pangeran,” kata Bodhisatta, “dan lihat seperti apa rasanya.”

Anak muda itu melakukan hal tersebut; namun tidak mungkin menempatkan daun itu dalam mulutnya, saat ia meludahkannya keluar dengan sebuah umpatan, ia mengeluarkannya dan meludah lagi untuk menghilangkan rasa itu dari mulutnya.

“Ada apa, Pangeran?” tanya Bodhisatta.

“Bhante, saat ini, pohon ini hanya menimbulkan kesan sebagai pohon beracun; namun jika dibiarkan tumbuh, akan menjamin kematian bagi banyak orang,” kata pangeran tersebut, kemudian mencabut dan menghancurkan pohon kecil yang sedang tumbuh itu di tangannya, sambil mengucapkan syair berikut ini : —

Jika racun tersembunyi dalam pohon kecil ini, apa lagi yang akan ditunjukkan oleh pohon yang telah tumbuh besar?

Kemudian Bodhisatta berkata, “Pangeran, takut tunas beracun ini akan tumbuh besar engkau mencabut dan menghancurkannya. Seperti apa yang engkau lakukan pada pohon itu, penduduk kerajaan ini, yang takut atas apa yang akan dilakukan oleh seorang pangeran yang kasar dan emosional jika ia menjadi raja, tidak akan menempatkanmu di takhta, melainkan mencabutmu seperti pohon nimba ini dan mengusirmu ke tempat pengasingan. Karena itu, ambillah pelajaran dari pohon ini dan sejak hari ini, tunjukkan kemurahan hati dan rasa cinta pada kebaikan yang berlimpah.”

Sejak saat itu suasana hati pengeran berubah. Ia menjadi rendah hati dan penuh kelembutan, serta murah hati dan berlimpah dalam kebaikan. Mematuhi nasihat Bodhisatta, setelah ayahnya meninggal dunia ia dinobatkan menjadi raja. Ia selalu melakukan amal dan perbuatan baik lainnya, dan akhirnya meninggal dunia untuk terlahir kembali ke alam yang

sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru berkata, “Demikian, para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya saya menjinakkan pangeran yang jahat; saya juga melakukan hal yang sama di kelahiran yang lampau.” Kemudian Beliau menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Pangeran Licchavi yang jahat saat ini adalah Pangeran Jahat pada kisah tersebut.

Ānanda adalah sang raja, dan Saya adalah petapa yang menasihati pangeran itu hingga berubah menjadi baik.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: