Category Archives: kisah jataka

VALĀHASSA-JĀTAKA

 

“Mereka yang mengabaikan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal. Ketika Sang Guru menanyakannya apakah benar kalau dia adalah seorang bhikkhu yang menyesal, bhikkhu tersebut menjawab bahwa itu benar. Ketika ditanyakan apa alasannya, dia menjawab bahwa nafsunya bangkit ketika melihat seorang wanita yang berpakaian indah. Kemudian Sang Guru berkata kepadanya sebagai berikut, “Bhikkhu, wanita menggoda laki-laki dengan bentuk badan dan suara mereka, wewangian, minyak wangi, dan sentuhan, serta dengan tipu muslihat dan permainan mereka; demikianlah mereka mendapatkan laki-laki di dalam kekuasaan mereka; dan segera setelah mereka merasa bahwa semua ini telah berhasil, mereka menghancurkan laki-laki, sifat, kekayaan dan semuanya dengan cara-cara jahat mereka. Ini menyebabkan mereka mendapat julukan yaksa wanita. Di masa lampau juga, sekelompok yaksa wanita menggoda sekelompok karavan pedagang dan menguasai mereka. Setelah itu, ketika mereka melihat laki-laki yang lainnya, mereka membunuh semua orang dari kelompok pertama itu dan kemudian memangsa mereka, mengunyah mereka dengan gigi mereka, dan darah mengalir turun dari kedua pipi mereka.” Dan kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, di Pulau Ceylon terdapat sebuah kota yaksa yang disebut Sirīsavatthu , dan dihuni oleh para yaksa wanita. Ketika sebuah kapal karam, para yaksa wanita ini merias dan mendandani diri mereka sendiri, dan sambil membawa nasi dan bubur, dengan rombongan pelayan dan anak-anak mereka di pinggul, mereka menghampiri para pedagang tersebut. Untuk membuat mereka berpikir bahwa di sana adalah kota (hunian) manusia, para yaksa wanita tersebut membuat mereka melihat di sana dan di sini para laki-laki yang sedang membajak dan menggembalai sapi, segerombolan ternak, anjing dan sebagainya. Kemudian setelah menghampiri pedagangpedagang itu, para yaksa wanita tersebut menawarkan kepada para pedagang untuk menyantap bubur, nasi dan makanan lain yang mereka bawa. Para pedagang, semuanya tidak sadar, memakan apa yang ditawarkan. Setelah mereka makan dan minum, dan ketika sedang beristirahat, para yaksa wanita itu menyapa mereka demikian, “Di mana kalian tinggal? Dari mana asal kalian? Hendak pergi ke mana, dan apa yang membawa kalian ke sini?” “Kami terdampar di sini,” jawab mereka. “Bagus sekali, Tuan-tuan Terhormat,” balas mereka, “tiga tahun telah berlalu sejak suami kami pergi berlayar, dan mungkin mereka telah mati. Kalian adalah pedagang juga, kami bersedia menjadi istri-istri kalian.” Demikianlah mereka menyesatkan para laki-laki itu dengan tipu muslihat wanita mereka, sampai mereka masuk ke dalam kota yaksa tersebut. Kemudian jika mereka memiliki laki-laki lainnya yang sebelumnya telah mereka tangkap, mereka akan mengikat semuanya itu dengan rantai gaib dan melemparkan mereka ke dalam rumah penyiksaan. Dan jika mereka tidak menemukan para laki-laki yang terdampar di tempat mereka tinggal, maka mereka akan menyisir pantai sampai sejauh Sungai Kalyāṇi di satu sisi dan Pulau Nāgadīpa di sisi lainnya. Inilah cara mereka. Suatu ketika, lima ratus pedagang yang kapalnya karam terdampar di pantai dekat kota para yaksa wanita itu. Para yaksa itu mendatangi mereka dan memikat mereka sampai mereka membawa para pedagang tersebut ke kota mereka; orang-orang yang mereka tangkap sebelumnya kemudian mereka ikat dengan rantai gaib dan dilemparkan ke rumah penyiksaan. Kemudian pemimpin yaksa wanita itu mengambil pemimpin pedagang tersebut, dan yaksa yang lainnya mengambil pedagang lainnya, sampai lima ratus yaksa mendapatkan lima ratus pedagang; dan mereka menjadikan para laki-laki itu sebagai suami mereka. Kemudian pada malam harinya, ketika suaminya tidur, pemimpin yaksa wanita itu bangun dan pergi menuju ke rumah penyiksaan, membunuh beberapa laki-laki di sana dan memangsa mereka. Yang lain melakukan hal yang sama. Ketika pemimpin yaksa itu kembali setelah memangsa daging manusia, tubuhnya menjadi dingin. Pemimpin pedagang itu memeluknya dan mengetahui bahwa dia adalah seorang yaksa. “Kelima ratus lainnya pastilah yaksa juga!” pikirnya dalam hati, “kami harus melarikan diri!” Maka pada waktu subuh, ketika pergi mencuci mukanya, dia berkata kepada para pedagang lainnya dengan kata-kata berikut, “Mereka semua ini adalah yaksa, bukan manusia! Segera setelah mendapatkan para laki-laki lain yang terdampar, mereka akan menjadikan para laki-laki tersebut sebagai suami, dan akan memakan kita. Ayo, mari kita kabur!” Dua ratus lima puluh dari mereka menjawab, “Kami tidak bisa meninggalkan mereka. Pergilah kalian jika kalian mau, tetapi kami tidak akan pergi.” Kemudian pemimpin pedagang tersebut dengan dua ratus lima puluh pedagang lainnya yang siap mematuhinya, melarikan diri mereka dikarenakan takut dengan para yaksa itu. Pada masa itu, Bodhisatta dilahirkan ke dunia sebagai seekor kuda terbang106, seluruh badannya putih dan paruhnya seperti seekor gagak, dengan bulunya seperti rumput muñja, mempunyai kekuatan gaib, dapat terbang di udara. Dari Himalaya dia terbang di udara sampai tiba di Ceylon . Di sana dia melewati kolam-kolam dan danau-danau, dan makan biji-bijian yang tumbuh liar di sana. Dan ketika melewati tempat-tempat itu, dia mengucapkan bahasa manusia sebanyak tiga kali dengan penuh welas asih, dengan berkata—“Siapa yang hendak pulang? Siapa yang hendak pulang?” Para pedagang itu mendengar apa yang diucapkannya dan berteriak—“Kami hendak pulang, Tuan!” sambil merapatkan tangan mereka beranjali dan mengangkatnya ke atas, ke dahi mereka, dengan penuh hormat. “Naiklah ke punggungku,” kata Bodhisatta. Sebagian dari mereka naik ke atas punggungnya, sebagian bergelantungan pada ekornya, dan sebagian lagi tetap berdiri dengan sikap yang penuh hormat. Kemudian Bodhisatta mengangkat mereka semuanya, bahkan yang sedang memberi hormat kepadanya, dan mengangkut mereka semua, dua ratus lima puluh orang, ke negeri mereka dan menurunkan mereka di kediaman masing-masing; kemudian dia pulang kembali ke kediamannya. Sedangkan para yaksa wanita itu, ketika para laki-laki lain datang ke tempat itu, membunuh dua ratus lima puluh orang yang masih tinggal di sana itu dan melahap mereka.

 

Sang Guru berkata, menunjukannya kepada para bhikkhu, “Para Bhikkhu, sebagian pedagang itu binasa karena jatuh di tangan para yaksa wanita, sedangkan sebagian lainnya dengan menuruti perintah kuda yang luar biasa itu masingmasing pulang dengan selamat ke rumah mereka; demikian juga, mereka yang mengabaikan nasihat para Buddha, para bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, upasika, akan mendapatkan penderitaan yang besar di empat alam rendah, tempat mereka dihukum di bawah lima jenis ikatan dan lain sebagainya. Sedangkan mereka yang mendengarkan nasihat tersebut akan dapat terlahir dalam tiga kelahiran yang baik, enam alam dewa, dua puluh alam brahma, dan mencapai nibbana, mereka mencapai kebahagiaan yang terbesar.” Kemudian Dia Yang Sempurna Kebijaksanaan-Nya mengulangi bait-bait berikut:—

 

Mereka yang mengabaikan Buddha ketika Beliau memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan, seperti para yaksa memakan para pedagang itu,  demikianlah mereka akan binasa.

 

Mereka yang mendengarkan Buddha ketika Beliau memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan, seperti kuda terbang menyelamatkan para pedagang itu, demikianlah mereka akan mendapatkan pembebasan.

 

Ketika Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna , dan banyak dari mereka mencapai tingkat kesucian Sotāpanna, Sakadāgāmi, Anāgāmi atau Arahat :—“Para siswa Buddha adalah dua ratus lima puluh orang yang menuruti nasihat kuda, dan Aku sendiri adalah kuda tersebut.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

PABBATŪPATTHARA-JĀTAKA

 

“Sebuah danau yang menyenangkan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Raja Kosala. Diceritakan bahwa seorang pejabat istana berselingkuh di tempat kediaman para selir raja. Raja menyelidiki masalah ini, dan ketika mengetahui semuanya, dia memutuskan untuk memberitahu Sang Guru. Maka dia datang ke Jetavana dan memberi hormat kepada Sang Guru, menceritakan bagaimana seorang pejabat istananya berselingkuh dan menanyakan apa yang harus dilakukan olehnya. Sang Guru menanyakan kepadanya apakah pejabat istana itu berguna baginya, dan apakah dia mencintai istrinya. “Ya,” jawabnya, “orang itu sangat berguna; dia adalah tangan kanan kerajaan. Dan saya mencintai wanita itu.” “Paduka”, Sang Guru menjawab, “jika pembantu berguna dan wanita dicintai, maka tidaklah perlu untuk mencelakai mereka. Di masa lampau juga, raja mendengarkan kata-kata dari orang bijak dan tidak memedulikan permasalahan seperti ini.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta dilahirkan di dalam keluarga pejabat istana. Ketika tumbuh dewasa, dia menjadi penasihat raja dalam urusan pemerintahan dan spiritual. Kala itu, seorang pejabat istana berselingkuh di kediaman para selir raja, dan raja mengetahui hal itu. “Dia adalah seorang anak buah yang paling berguna,” pikirnya, “dan saya mencintai wanita itu. Saya tidak boleh menghancurkan keduanya. Saya akan bertanya kepada orang bijak di kerajaan. Jika saya harus membiarkannya, maka saya akan membiarkannya; jika tidak, maka saya tidak akan membiarkannya.” Dia memanggil Bodhisatta dan mempersilakannya duduk. “Pendeta Bijak,” katanya, “saya memiliki sebuah pertanyaan untukmu.” “Tanyakanlah, wahai Paduka! Saya akan menjawabnya,” balasnya. Kemudian raja menanyakan pertanyaannya dengan kata-kata dalam bait pertama berikut:—

 

Sebuah danau yang menyenangkan terbentang di suatu kaki bukit yang indah, tetapi serigala menggunakannya meskipun dia tahu  singa yang menjaganya.

 

“Pastinya,” pikir Bodhisatta, “salah satu pejabat istananya berselingkuh di kediaman para selir raja.” Kemudian dia mengulangi  bait kedua berikut:

 

Di sungai yang besar hewan-hewan minum  sesuka hati mereka: Jika Anda menyayanginya, maka bersabarlah— sungai tetaplah sungai.

 

Demikianlah orang yang bijak tersebut menasihati raja. Dan raja menuruti semua nasihat itu, dia memaafkan keduanya, menyuruh mereka pergi dan jangan berbuat zina lagi. Sejak saat itu hubungan mereka berakhir. Kemudian raja memberikan derma dan melakukan kebajikan, sampai akhir hidupnya, dia masuk sebagai penghuni alam surga. Kemudian Raja Kosala juga, setelah mendengar uraian ini, memaafkan mereka berdua dan tetap bersikap biasa saja.

 

Setelah  Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, Ānanda adalah raja, dan Aku sendiri adalah penasihat bijak.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

MAṆICORA-JĀTAKA

 

“Tidak ada dewa di sini,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika tinggal di Veḷuvana (Veluvana), tentang bagaimana Devadatta mencoba membunuh-Nya. Mendengar bahwa Devadatta mencoba membunuh-Nya, Beliau berkata, “Para Bhikkhu, ini bukanlah pertama kalinya Devadatta mencoba membunuh-Ku; dia sudah pernah mencobanya dahulu dan gagal.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala Brahmadatta memerintah di Benares ketika Bodhisatta dilahirkan sebagai anak dari sebuah keluarga yang tinggal di desa yang tidak jauh dari kota. Ketika dia tumbuh dewasa, mereka mencarikan seorang wanita muda dari Benares untuk dinikahkan dengannya. Dia adalah seorang gadis yang elok dan rupawan, cantik bagaikan bidadari dewa (apsara), luwes bagaikan tanaman menjalar, jelita bagaikan kinnara. Namanya adalah Sujātā (Sujata); dia setia, berbudi luhur dan bertanggung jawab. Dia selalu bertindak sepatutnya terhadap suami dan orang tua suaminya. Gadis ini amat disayangi dan dihargai oleh Bodhisatta. Demikianlah mereka hidup bersama dalam kebahagiaan, kesatuan dan kemanunggalan pikiran. Suatu hari Sujata berkata kepada suaminya, “Saya ingin menemui ibu dan ayahku.” “Bagus sekali, Istriku,” balasnya, “persiapkanlah makanan secukupnya untuk perjalanan.” Dia meminta pelayannya memasak beragam jenis makanan dan meletakkan perbekalannya ke dalam kereta; karena dia yang mengendarai kereta, maka dia duduk di depan dan istrinya di belakang. Mereka menuju Benares, dan di tengah jalan mereka mengistirahatkan kereta, mandi dan makan. Kemudian Bodhisatta kembali naik ke keretanya dan duduk di depan, sedangkan Sujata yang telah mengganti pakaiannya dan merias diri duduk di belakang. Ketika kereta memasuki kota, Raja Benares kebetulan sedang mengadakan upacara mengelilingi kota tersebut dengan menunggangi gajah kebesarannya; dan dia melewati tempat itu. Sujata telah turun dari kereta dan berjalan kaki di belakang. Raja melihatnya; kecantikannya menarik perhatiannya, sehingga dia jatuh cinta kepadanya. Dia memanggil salah satu pengawalnya. “Pergilah,” katanya, “cari tahu apakah wanita itu sudah bersuami atau belum.” Pengawal itu melakukan apa yang diperintahkan dan datang kembali melapor kepada raja, “Dia sudah memiliki suami,” katanya, “apakah Anda melihat laki-laki yang duduk di kereta di sana? Dia adalah suaminya.” Raja tidak bisa menahan perasaan cintanya dan nafsu merasuki pikirannya. “Akan kucari cara untuk menyingkirkan orang ini,” pikirnya, “dan kemudian akan kudapatkan istrinya untukku sendiri.” Dengan memanggil seorang pengawalnya, dia berkata, “Teman, ambillah mahkota permata ini dan pergilah dengan gaya seolah-olah Anda hendak melewati jalan itu. Sewaktu Anda berjalan, jatuhkanlah ini ke dalam kereta laki-laki itu di sana.” Seraya berkata demikian, dia memberikan mahkota permata itu dan menyuruhnya pergi. Pengawal itu menerimanya dan pergi; sewaktu melewati kereta itu, dia menjatuhkannya ke dalamnya, kemudian dia kembali dan melapor kepada raja bahwa itu telah dilaksanakan.  “Saya telah kehilangan sebuah mahkota permata,” teriak raja. Semuanya pun menjadi ricuh. “Tutup seluruh gerbang!” perintah raja, “Tutup semua jalan keluar! Cari pencuri itu!” Pengawal raja mematuhi perintahnya. Seluruh kota dilanda kebingungan. Pengawal tersebut, dengan membawa serta beberapa orang bersamanya, mengarah ke Bodhisatta, berteriak, “He, hentikan keretamu! Raja telah kehilangan sebuah mahkota permata; kami harus memeriksa keretamu!” Kemudian dia pun mencarinya, sampai  akhirnya menemukan permata yang tadinya diletakkan olehnya sendiri. “Pencuri (mahkota) permata!” teriaknya, sambil menangkap Bodhisatta; mereka memukulinya dan menendangnya, kemudian mengikat tangannya ke belakang dan menyeretnya ke hadapan raja, sambil berteriak, “Lihatlah pencuri yang mengambil mahkota permata Anda!” “Penggal kepalanya!” perintah raja. Mereka mencambuknya dan menyiksanya di setiap sudut jalan dan melemparnya keluar kota dari gerbang selatan. Sujata meninggalkan kereta, menjulurkan tangannya, berlari ke suaminya, sambil meratap, “Oh Suamiku, sayalah yang menyebabkanmu berada dalam keadaaan buruk ini!” Pengawal raja melempar Bodhisatta dengan tujuan memancung kepalanya. Ketika dia melihat ini, Sujata terpikir dengan kebaikan dan kebajikan dirinya, sambil merenung demikian di dalam hatinya, “Tidak ada dewa di sini yang cukup kuat untuk menahan tangan orang-orang yang kejam dan jahat itu, yang bertindak semenamena terhadap orang yang bajik,” dengan menangis dan meratap, dia mengulangi bait pertama:—

 

Tidak ada dewa di sini; mereka pasti jauh sekali;— Tidak ada dewa di alam ini yang cukup berkuasa; Sekarang orang-orang jahat dan kejam bisa bertindak sesuka mereka, karena di sini tidak ada yang berani mengatakan tidak kepada mereka.

 

Ketika wanita yang memiliki moralitas ini meratap demikian, maka takhta Sakka103, raja para dewa, menjadi panas karenanya. “Siapa itu yang dapat membuatku turun sebagai raja dewa?” pikir Sakka. Kemudian dia mengetahui apa yang terjadi. “Raja Benares,” pikirnya, “sedang melakukan suatu perbuatan kejam. Dia membuat Sujata yang baik menjadi menderita; sekarang juga saya harus ke tempat itu!” Maka turunlah dia dari alam dewa, dengan kekuatannya, dia menurunkan raja yang jahat itu dari gajah yang ditungganginya, dan meletakkannya di tempat hukuman, sedangkan Bodhisatta diangkatnya dan dihiasnya dengan segala jenis perhiasan, dan dipakaikan jubah raja kepadanya kemudian diletakkan di punggung gajah kerajaan. Algojo mengangkat kapak dan memenggal sebuah kepala—tetapi ternyata itu adalah kepala raja; dan ketika itu telah terpenggal, mereka baru mengetahui bahwa itu adalah kepala raja. Sakka menunjukkan dirinya dan datang ke hadapan Bodhisatta, kemudian menabhiskannya menjadi raja, juga memerintahkan posisi permaisuri diberikan kepada Sujata. Dan ketika para pejabat istana, para brahmana, para penduduk dan yang lainnya melihat Sakka, raja dari para dewa, dengan gembira, mereka berkata, “Raja yang jahat telah dipenggal! Sekarang kita telah mendapat raja yang baik dari Sakka!” Kemudian Sakka melayang di udara dan berkata, “Raja kalian yang baik ini mulai sekarang akan memerintah dengan bijaksana. Jika raja tidak bijaksana, maka dewa akan menurunkan hujan tidak pada musimnya, dan pada musimnya dia tidak akan menurunkan hujan: bahaya kelaparan, bahaya wabah, bahaya perang—tiga ancaman bahaya ini akan mendatanginya.”

 

Demikian dia memberikan pelajaran kepada mereka, dan mengulangi bait kedua:

Untuknya tidak ada hujan yang turun pada musimnya, tetapi, tidak pada musimnya, hujan turun terus-menerus. Seorang raja turun dari langit menuju ke alam ini, melihat alasan mengapa orang ini dipenggal.

 

Demikian Sakka menasihati orang banyak, kemudian dia langsung menuju ke kediamannya. Lalu Bodhisatta memerintah dengan benar, dan kemudian terlahir sebagai penghuni alam surga.

 

Setelah Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, Devadatta adalah raja yang jahat, Anuruddha adalah Sakka, Sujātā (Sujata) adalah ibunya Rāhula, dan raja yang muncul atas pemberian Sakka adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

CULLA-PADUMA-JĀTAKA

 

“Ini tidak lain,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal (tidak puas). Cerita pembuka ini akan dikemukakan di dalam  Ummadantī-Jātaka. Ketika bhikkhu ini ditanya oleh Sang Guru apakah benar bahwasanya dia itu seorang yang tidak puas, dia menjawab bahwa itu benar.

 

“Siapakah,” kata Sang Guru, “yang menyebabkan Anda tidak puas?” Dia menjawab bahwa dia telah melihat seorang wanita yang berpakaian bagus dan karena ditaklukkan oleh nafsulah menyebabkan dirinya tidak puas. Kemudian Sang Guru berkata, “Bhikkhu, kaum wanita semuanya tidak berterima kasih dan tidak setia; orang-orang di masa lampau bahkan sangat bodoh sampai memberikan darah dari lutut kanan kepada mereka untuk diminum dan membuat mereka menyerahkan sepanjang hidup mereka, tetapi masih tidak berhasil mendapatkan hati mereka (wanita).” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai putra permaisuri. Pada hari pemberian namanya, mereka memberinya nama Pangeran Paduma (Teratai). Setelah dirinya, lahir enam adik laki-laki. Satu per satu dari mereka bertujuh tumbuh dewasa, menikah dan menetap, hidup sebagai rekan-rekan raja. Suatu hari raja memandang ke luar, ke halaman istana dan ketika sedang memandang, dia melihat pemuda-pemuda ini dengan pengikut yang banyak dalam perjalanan untuk melayaninya. Timbul kecurigaan bahwasanya mereka bermaksud untuk membunuhnya dan merebut kerajaannya. Jadi dia memanggil mereka dan dengan cara begini berkata kepada mereka, “Putra-putraku, kalian tidak boleh tinggal di kota ini. Jadi pergilah ke tempat lain dan setelah saya wafat, barulah kalian pulang kembali, ambillah kerajaan ini yang merupakan milik keluarga kita.”

 

Mereka setuju dengan kata-kata ayah mereka, dan pulang ke rumah sambil menangis dan meratap. “Bukan masalah ke mana kita akan pergi!” ratap mereka; dan membawa istri-istri mereka bersama, mereka meninggalkan kota dan melakukan perjalanan jauh. Hingga sampailah mereka ke suatu hutan, tempat mereka tidak bisa mendapatkan makanan atau minuman. Dan karena tidak bisa menahan sakit karena kelaparan, mereka bertekad untuk menyelamatkan diri mereka dengan mengorbankan para wanita. Mereka menangkap istri dari adik yang paling muda dan membunuhnya; mereka membagi tubuhnya menjadi tiga belas bagian dan memakannya. Tetapi Bodhisatta dan istrinya menyisihkan satu bagian dan memakan sisanya bersama. Demikian yang mereka lakukan selama enam hari; membunuh dan memakan enam wanita; dan setiap hari Bodhisatta menyisihkan satu bagian, jadi dia mempunyai enam bagian yang disimpan. Pada hari ketujuh, yang lainnya hendak menangkap istri Bodhisatta untuk dibunuh, tetapi sebagai gantinya dia memberikan enam bagian yang telah disimpannya. “Makanlah ini,” katanya, “besok saya akan menanganinya.” Mereka semua makan daging tersebut, dan pada saat mereka tertidur, Bodhisatta dan istrinya melarikan diri. Ketika mereka telah mencapai jarak tertentu, wanita tersebut berkata, “Suamiku, saya tidak bisa berjalan lebih jauh lagi.” Jadi Bodhisatta mengangkatnya di pundaknya dan pada saat matahari terbit, mereka keluar dari hutan. Ketika matahari telah terbit, wanita itu berkata—“Suamiku, saya haus!” “Tidak ada air disini, Istriku!” katanya.

 

Tetapi dia memohonnya terus-menerus, sampai dia menusukkan pedangnya ke lutut kanannya, dan berkata, “Tidak ada air, tetapi duduklah dan minumlah darah dari lututku.” Demikianlah yang dilakukan istrinya. Hingga sampailah mereka ke Sungai Gangga yang sangat besar. Mereka minum, mandi dan makan semua jenis buah serta beristirahat di sebuah tempat yang nyaman. Dan di sana, dekat tikungan sungai, mereka membuat sebuah gubuk petapa dan tinggal di dalamnya. Kala itu, seorang perampok di daerah hulu Sungai Gangga telah terbukti bersalah. Tangan, kaki, hidung dan telinganya telah dipotong, dia diletakkan di dalam sebuah perahu yang dihanyutkan ke sungai besar itu. Sampai tempat ini, dia terapung, sambil merintih keras kesakitan. Bodhisatta mendengar rintihannya yang amat memilukan. “Selama saya hidup,” katanya, “tidak boleh ada makhluk malang yang mati untukku!” Dia pergi ke tepi sungai dan menyelamatkan orang itu. Dia membawanya ke gubuk dan dengan losion dan minyak, dia merawat lukanya. Tetapi istrinya berkata dalam hati, “Orang yang dikeluarkannya dari Sungai Gangga untuk dirawat ini adalah orang yang malas!” Dan dia selalu berjalan sambil meludah dikarenakan kejijikan terhadap orang tersebut.  Setelah luka orang tersebut mulai menutup, Bodhisatta membiarkannya berdiam di gubuk itu bersama dengan istrinya, dan dia membawakan segala jenis buah-buahan dari hutan untuk memberi makan kepada orang tersebut dan istrinya. Dan karena mereka berdiam bersama, istri Bodhisatta jatuh cinta kepada orang tersebut dan melakukan zina. Kemudian dia berniat membunuh Bodhisatta dan berkata kepadanya, “Suamiku, ketika berada di pundakmu di saat kita keluar dari hutan, saya melihat bukit di sana dan berjanji jika Anda dan saya selamat dan tidak terluka, saya akan memberikan persembahan kepada makhluk dewata yang ada di bukit itu. Sekarang makhluk dewata itu menghantuiku, dan saya berniat untuk memberikan persembahanku!” “Bagus sekali,” kata Bodhisatta, tanpa mengetahui muslihatnya. Dia pun mempersiapkan persembahan tersebut dan mengantar kepadanya benda-benda persembahan, dia mendaki puncak bukit itu. Kemudian istrinya berkata kepadanya, “Suamiku, bukan makhluk dewata bukit ini, melainkan dirimulah pemimpin para dewataku! Kemudian sebagai penghormatan kepadamu, pertama saya akan mempersembahkan bunga-bunga ini dan berjalan dengan penuh hormat mengelilingimu dan Anda tetap berada di sebelah kananku, dan saya memberi hormat kepadamu: setelah itu, saya akan memberikan persembahanku kepada makhluk dewata bukit ini.” Sambil berkata demikian, dia mengarahkan suaminya menghadap ke tebing curam dan berpura-pura siap untuk memberi hormat dengan berpradaksina. Demikianlah dia berada di belakang suaminya, dia memukul punggungnya dan melemparkannya ke bawah tebing itu. Kemudian dia berteriak dengan gembira, “Saya telah melihat punggung musuhku!” dan dia turun dari gunung kemudian pergi menjumpai kekasihnya.

 

Bodhisatta jatuh ke bawah tebing, tetapi dia tersangkut di dedaunan, di atas puncak pohon elo yang tidak berduri. Tetapi dia masih tetap tidak bisa turun dari bukit tersebut, jadi di sana dia duduk di antara ranting-ranting, sambil memakan buah-buah elo. Kebetulan di sana terdapat seekor kadal besar (iguana) yang biasanya memanjat dari kaki bukit tersebut dan memakan buah dari pohon elo ini. Hari itu, dia melihat Bodhisatta dan melarikan diri. Hari berikutnya, dia datang dan memakan beberapa buah dari sisi lain pohon itu. Lagi dan lagi dia datang, sampai akhirnya dia menjalin persahabatan dengan Bodhisatta.  “Bagaimana Anda bisa sampai ke tempat ini?” tanyanya; dan Bodhisatta menceritakan kepadanya. “Baiklah, jangan takut,” kata iguana; dan membawanya di punggungnya, dia turun dari bukit itu dan membawanya keluar dari hutan. Di sana dia menurunkannya di jalan besar, menunjukkan kepadanya jalan mana yang harus ditempuh, dan dia sendiri kembali ke dalam hutan. Bodhisatta melanjutkan perjalanan ke sebuah desa dan tinggal di sana sampai dia mendengar kabar tentang kematian ayahnya. Mengetahui hal ini, dia kemudian melanjutkan perjalanan ke Benares. Di sana dia mewarisi kerajaan milik keluarganya dan mendapatkan nama Raja Paduma; sepuluh kualitas seorang raja tidak diabaikannya dan dia memerintah dengan benar. Dia membangun enam balai distribusi dana (balai derma), satu di masing-masing ke empat gerbang, satu di tengah kota dan satunya lagi di depan istana; dan setiap harinya dia mendistribusikan derma sebesar enam ratus ribu keping uang. Kala itu istrinya, sambil membawa kekasih di pundaknya, keluar dari hutan, dia pergi mengemis ke orang-orang, mengumpulkan nasi dan bubur untuk menghidupi kekasihnya. Kalau dia ditanya apa hubungan laki-laki itu dengannya, dia akan menjawab, “Ibunya adalah kakak dari ayah saya, dia adalah sepupu saya; mereka memberikan diriku kepadanya. Walaupun dia akan menemui ajalnya, saya tetap akan memikul suamiku ini di pundakku, menjaganya, dan mengemis makanan untuk menopang hidupnya!” “Betapa istri yang penuh pengabdian!”  kata semua orang. Dan sejak saat itu, mereka memberinya lebih banyak makanan daripada sebelumnya. Beberapa dari mereka bahkan memberinya nasihat, berkata, “Janganlah hidup seperti ini. Raja Paduma adalah Raja Benares; dia telah menggemparkan seluruh India dengan kemurahan hatinya. Dia pastinya akan senang bertemu denganmu; Dia akan menjadi begitu gembira sehingga akan memberikanmu derma yang banyak. Taruhlah suamimu ke dalam keranjang ini dan temuilah beliau.” Berkata demikian, mereka membujuknya dan memberikannya satu keranjang daun. Wanita jahat tersebut menaruh kekasihnya ke dalam keranjang itu dan sambil mengangkatnya, dia pergi ke Benares dan hidup dari apa yang didapatkannya dari balai distribusi dana. Bodhisatta sering menunggangi gajah kerajaan yang penuh perhiasan ke balai derma, dan setelah memberi derma kepada delapan atau sepuluh orang, dia akan pulang ke rumah lagi. Kemudian wanita jahat itu menaruh kekasihnya ke dalam keranjang dan sambil mengangkatnya, dia berdiri di tempat yang biasa raja lewati. Raja melihatnya. “Siapakah dia?” tanya raja. “Seorang istri yang penuh pengabdian,” adalah jawabannya. Raja memanggilnya dan mengenali siapa dirinya. Raja memerintahkannya untuk menurunkan laki-laki itu dari keranjangnya, dan bertanya kepada wanita tersebut, “Apa hubungan laki-laki ini denganmu?”—“Dia adalah anak dari kakak ayah saya, diberikan kepadaku oleh keluargaku, suami saya sendiri,” jawabnya. “Ah, betapa seorang istri yang penuh pengabdian!” teriak semua orang, karena mereka tidak tahu seluk-beluknya; dan mereka memuji wanita jahat tersebut. “Apa—orang rendah ini sepupumu? Apakah keluargamu memberikannya kepadamu?” tanya raja, “Suamimu, benarkah demikian?” Wanita tersebut tidak mengenali raja, dan, “Ya, Paduka!” katanya. “Dan inikah putra Raja Benares? Bukankah Anda istri Pangeran Paduma, putri dari seorang raja anu, namamu adalah anu? Bukankah Anda yang minum darah dari lututku? Bukankah Anda jatuh cinta kepada orang rendah ini, dan melempar saya ke bawah tebing? Ah, Anda pikir saya telah mati, dan di sini Anda berada, dengan kematian tertulis di dahimu sendiri—dan inilah saya, masih hidup!” Kemudian dia menoleh ke arah pejabat istananya. “Ingatkah kalian tentang apa yang saya ceritakan, ketika kalian bertanya kepadaku? Enam adik-adikku membunuh enam istri mereka dan memakannya; tetapi saya melindungi istriku tanpa terlukai dan membawanya ke tepi Sungai Gangga, tempat saya tinggal di gubuk petapa. Saya menarik seorang pelaku kejahatan keluar dari sungai itu dan merawatnya. Wanita ini jatuh cinta kepadanya dan melempar saya ke bawah tebing, tetapi saya dapat menyelamatkan diriku dengan menunjukkan kebaikan. Ini tidak lain adalah wanita jahat yang melempar saya dari tebing itu: ini, dan tidak lain, adalah makhluk rendah yang dihukum itu!” Dan dia mengucapkan bait berikut:

 

Ini tidak lain, dan wanita rendah ini adalah dia; Makhluk rendah yang tidak bertangan, tidak lain,  yang kalian lihat; Kata wanita itu—‘Ini adalah suamiku.’ Para wanita pantas mati; mereka tidak mempunyai kebenaran.

 

Dengan sebuah tongkat besar, pukullah makhluk rendah ini sampai mati, yang berbaring menunggu untuk merampas istri orang lain. Kemudian bawa wanita rendah yang setia ini segera, potonglah hidung dan telinganya sebelum dia mati.

 

Walaupun Bodhisatta tidak bisa menyembunyikan amarahnya dan menjatuhkan hukuman ini untuk mereka, tetapi dia tidak melakukan seperti itu; dia kemudian menahan amarahnya dan memerintahkan untuk mengikat keranjang tersebut ke kepala wanita itu dengan sangat kencang hingga dia tidak bisa melepasnya; makhluk rendah itu diletakkannya ke dalam keranjang dan mereka diusir keluar dari kerajaannya.

 

Setelah Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran-kebenaran, bhikkhu yang menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna: —“Pada masa itu, para thera anu adalah keenam bersaudara tersebut, Ciñcā adalah sang istri, Devadatta adalah pelaku kejahatan, Ānanda adalah iguana, dan Raja Paduma adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged

SIRI-KĀḶAKAṆṆI-JĀTAKA

“Sekalipun wanita dapat bersikap adil,” dan seterusnya.

Kisah ini akan dikemukakan di Mahā-ummagga-Jātaka.

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

RUHAKA-JĀTAKA

 

“Bahkan tali busur yang putus,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, mengenai godaan yang timbul dari mantan istri. Cerita pembuka ini akan dijelaskan di dalam Buku VIII, pada Indriya-Jātaka. Kemudian Sang Guru mengatakan kepada bhikkhu ini, “Itu adalah wanita yang mencelakakanmu. Pada masa lampau, dia juga mempersulitmu di depan raja dan seluruh pejabatnya dan memberimu alasan yang tepat untuk meninggalkan rumahmu.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Raja Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan oleh permaisurinya. Ketika dia tumbuh dewasa, ayahnya wafat; dan dia menjadi raja yang memerintah secara adil. Bodhisatta memiliki seorang pendeta kerajaan bernama Ruhaka, dan Ruhaka ini menikahi seorang wanita brahmana tua. Raja memberikan brahmana itu seekor kuda yang dilengkapi dengan perhiasan-perhiasannya, lalu dia menunggangi kuda itu dan pergi untuk melayani raja. Ketika dia sedang menunggangi kudanya yang penuh perhiasan, orang-orang di samping kiri dan kanannya memuji dengan suara keras: “Lihat kuda yang bagus itu!” teriak mereka, “cantik sekali!”

 

Ketika pulang, dia masuk ke rumahnya dan mengatakan kepada istrinya, “Istriku yang baik,” katanya, “kuda kita berjalan dengan baik! Orang di samping kanan dan kiri semua memujinya.” Istrinya tidak lebih baik dari yang seharusnya dan penuh dengan kebohongan; jadi dia membalas suaminya demikian, “Ah, Suamiku, Anda tidak mengerti di mana keindahan kuda ini. Semuanya terletak pada perhiasannya yang bagus. Jika Anda ingin membuat dirimu sebagus kuda itu, pakailah perhiasan itu pada dirimu dan berjingkrak-jingkraklah di jalanan seperti seekor kuda. Anda akan menemui raja dan dia akan memujimu, semua orang akan memujimu.” Brahmana bodoh ini mendengar semua itu, tetapi tidak mengetahui apa yang direncanakan istrinya. Jadi dia percaya kepadanya dan melakukan sesuai apa yang dikatakannya. Semua yang melihatnya tertawa terbahak-bahak: “Ini guru yang hebat!” semua berkata. Lalu raja berteriak malu terhadapnya “Kenapa, Guruku,” katanya, “apakah ada yang salah dengan pikiranmu? Apakah Anda gila?” Pada saat itu brahmana tersebut sadar dia telah berbuat salah dan dia merasa sangat malu. Jadi dia marah pada istrinya dan dia pulang dengan tergesa-gesa, berkata pada dirinya sendiri, “Wanita itu telah membuatku malu di depan raja dan seluruh pasukannya; saya akan menghukumnya dan mengusirnya!” Tetapi wanita yang licik itu mengetahui bahwa dia pulang dalam keadaan marah; dia mengambil langkah terlebih dulu dan berangkat dari pintu samping kemudian pergi menuju istana, tempat dia tinggal selama empat atau lima hari. Sewaktu raja mendengar tentang hal ini, dia memanggil pendeta kerajaannya dan berkata kepadanya, “Guruku, semua wanita melakukan kesalahan, Anda harus memaafkan wanita ini.” Kemudian dengan tujuan membuatnya memaafkan istrinya, dia mengucapkan bait pertama:   Bahkan tali busur yang putus dapat diperbaiki  dan menjadi utuh kembali; Maafkanlah istrimu dan janganlah menyimpan kemarahan di dalam dirimu.

 

Mendengar ini, Ruhaka mengucapkan bait kedua:

 

Selama masih ada bahan dan pekerja juga, akan mudah membeli tali busur yang baru. Saya akan mencari istri yang baru; sudah cukup terhadap yang satu ini. Demikianlah dia mengusirnya dan menikahi wanita brahmana lain sebagai istrinya.

 

Sang Guru, setelah mengakhiri uraian ini, memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran-kebenaran itu, bhikkhu yang tergoda dikukuhkan pada tingkat kesucian Sotāpanna —“Pada masa itu, mantan istrinya adalah orang yang sama, Ruhaka adalah bhikkhu yang tergoda dan Aku sendiri adalah Raja Benares.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SĪLĀNISAṀSA-JĀTAKA

 

“Melihat buah perbuatan dari keyakinan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang upasaka yang berkeyakinan. Dia adalah seorang siswa mulia yang berkeyakinan dan bajik. Suatu petang, dalam perjalanannya ke Jetavana, dia sampai ke tepi Sungai Aciravatī setelah para tukang perahu merapatkan perahu mereka ke daratan untuk pergi mendengarkan Dhamma. Karena tidak ada perahu yang terlihat di tepi sungai tersebut dan pikiran upasaka ini dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran yang sangat menyenangkan tentang Buddha, dia pun berjalan ke sungai tersebut. Kakinya tidak tenggelam masuk ke dalam air. Dia berjalan jauh ke tengah sungai seperti berjalan di daratan; tetapi kemudian di sana dia melihat adanya ombak. Kemudian ketenangan pikirannya menjadi kacau dan kakinya mulai tenggelam. Dia kemudian memusatkan pikirannya kembali dan berjalan melewati sungai itu. Kemudian dia sampai ke Jetavana, memberi salam kepada Sang Guru dan duduk di satu sisi. Sang Guru beruluk salam dengannya dan berkata, “Upasaka, Kuharap,” kata Beliau, “tidak ada halangan di dalam perjalananmu.” “Oh, Bhante,” balasnya, “dalam perjalananku, saya sangat meresapi renungan-renungan tentang Buddha hingga saya melangkahkan kaki ke sungai; tetapi saya melangkah di atasnya seperti di atas daratan yang kering!” “Ah, Upasaka,” kata Sang Guru,  “Anda bukanlah satu-satunya orang yang selamat dengan merenungkan kualitas-kualitas bagus Buddha. Di masa lampau, para upasaka yang berkeyakinan mengalami kapal karam di tengah lautan dan selamat dengan merenungkan kualitas bagus Buddha.“ Kemudian, atas permintaan orang tersebut, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, di masa Sammāsambuddha Kassapa, seorang siswa mulia yang telah mencapai tingkat kesucian Sotāpanna, melakukan perjalanan dengan kapal bersama dengan seorang tukang pangkas yang cukup kaya. Istri dari tukang pangkas ini memberikan tanggung jawab untuk menjaga suaminya kepada siswa mulia tersebut, dalam keadaaan suka atau duka. Seminggu kemudian, kapal tersebut karam di tengah lautan. Kedua orang tersebut yang berpegangan erat pada satu potongan papan terdampar sampai ke sebuah pulau. Di sana tukang pangkas tersebut membunuh beberapa burung dan memasaknya, menawarkan sebagian makanannya kepada upasaka itu. “Tidak, terima kasih,” katanya, “saya tidak mau makan.” Dia berpikir di dalam dirinya, “Di tempat seperti ini, tidak ada pertolongan kecuali Tiga Permata,” dan kemudian dia merenungkan kualitas-kualitas bagus dari Tiga Permata. Ketika dia merenungkan dan merenungkan, seekor raja nāga (naga) yang lahir di pulau tersebut mengubah dirinya menjadi sebuah kapal yang besar. Kapal tersebut dipenuhi dengan tujuh jenis batu berharga. Dewa laut menjadi nahkodanya. Ketiga tiang terbuat dari batu nilam, layar dari emas, tali-tali dari perak dan papan-papan kapal berwarna keemasan. Dewa laut tersebut berdiri di atas kapal dan berkata dengan keras—“Apakah ada penumpang ke Jambudīpa (India)?” Upasaka tersebut berkata, “Ya, itu adalah tujuan kami.” “Naiklah ke kapal!” Dia naik ke kapal dan berniat untuk memanggil temannya, si tukang pangkas. “Anda boleh naik,“ kata nahkoda, “tetapi dia tidak boleh.” “Mengapa tidak boleh?” “Dia bukanlah seorang yang memiliki kualitas moral yang bagus, itulah alasannya,” katanya, “saya membawa kapal ini untuk dirimu, bukan untuk dirinya.” “Baiklah—semua derma yang telah kuberikan, kebajikan yang telah kulakukan, kekuatan yang telah kukembangkan—kuberikan kepadanya buah dari semua perbuatan baikku itu!” “Terima kasih, Tuan!” kata tukang pangkas itu. “Sekarang,” kata dewa laut, “saya dapat membawamu ikut berlayar.” Kemudian dia membawa mereka ke lautan dan berlayar menuju ke Benares. Di sana, dengan kekuatannya, dia memunculkan sebuah gudang harta untuk mereka berdua, dan kemudian berkata kepada mereka, “Bertemanlah dengan mereka yang bijaksana dan bajik. Seandainya saja tukang pangkas ini tidak berteman dengan sang upasaka, dia pastilah telah binasa di dalamnya lautan.” Kemudian dia mengucapkan bait-bait berikut untuk menyanjung persahabatan dengan yang bijak dan baik:

 

Melihat buah perbuatan dari keyakinan, moralitas  dan kemurahan hati, seekor naga dalam bentuk kapal membawa  orang baik tersebut melewati lautan.

 

Jalinlah persahabatan hanya dengan yang baik  dan jadilah teman yang baik; Karena bersahabat dengan yang baik, tukang pangkas ini bisa dengan selamat melihat rumahnya kembali.

 

Demikianlah dewa laut itu memberikan nasihatnya dengan berdiri di udara, kemudian pergi menghilang. Akhirnya dia kembali ke kediamannya dengan membawa naga bersamanya.

 

Sang Guru, setelah mengakhiri uraian ini, memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, upasaka tersebut mencapai tingkat kesucian Sakadāgāmi :—“Pada masa itu, upasaka yang telah memasuki arus tersebut mencapai nibbāna ; Sāriputta adalah raja naga, dan dewa laut adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SĪHACAMMA-JĀTAKA

 

“Bukan singa, bukan harimau yang kulihat,” dan seterusnya.

 

Kisah ini seperti yang di atas, tentang Kokālika (Kokalika), yang diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana. Kali ini dia ingin bersuara. Sang Guru, setelah mendengar ini,  menceritakan kisah berikut.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan di sebuah keluarga petani, dan setelah tumbuh dewasa, dia bermata pencaharian sebagai seorang petani. Pada masa yang bersamaan, terdapat seorang pedagang yang biasa berkeliling menjajakan barang dagangannya, yang dibawa oleh seekor keledai. Ke mana pun dia pergi, dia biasanya menurunkan buntelan dagangannya dari keledai itu dan memakaikan kulit singa padanya, kemudian membiarkannya bebas ke ladang padi dan gandum. Ketika para penjaga melihat hewan ini, mereka selalu menganggapnya sebagai seekor singa dan tidak berani untuk mendekatinya. Suatu hari pedagang itu berhenti di sebuah desa, dan ketika sedang menyiapkan sarapan paginya, dia membiarkan keledainya bebas di ladang gandum dengan kulit singa yang dikenakannya. Para penjaga mengiranya sebagai seekor singa, sehingga tidak berani mendekatinya. Mereka lari pulang ke rumah dan memberikan tanda bahaya. Para penduduk desa menyiapkan senjata dan buru-buru ke ladang, berteriak dan meniup terompet serta menabuh genderang. Keledai itu menjadi sangat ketakutan dan mengeluarkan suara keledainya. Kemudian, setelah melihat bahwa dia adalah seekor keledai, Bodhisatta mengulangi bait pertama berikut:

 

Bukan singa bukan harimau yang kulihat, juga bukan seekor macan tutul: Melainkan seekor keledai—makhluk tua yang malang dengan kulit singa di punggungnya!

 

Segera setelah para penduduk desa tahu dia hanyalah seekor keledai, mereka memukulnya dengan kayu sampai tulang-tulangnya patah dan pergi dengan membawa kulit singanya. Ketika pedagang itu datang dan menemukan keledainya dalam keadaan yang menyedihkan demikian, dia mengulangi bait kedua:—

 

Keledai, kalau saja dia pintar, mungkin gandum hijau dapat dimakannya  dalam waktu yang lama  dengan penyamarannya berupa kulit singa: Tetapi dia mengeluarkan suara keledai, dan dipukuli!

 

Ketika dia sedang mengucapkan kata-kata ini, keledai itu mati. Pedagang tersebut meninggalkannya dan pergi sendirian.

 

Setelah uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, Kokālika (Kokalika) adalah keledai, dan petani bijak adalah diri-Ku sendiri.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged

SĪHAKOṬṬHUKA-JĀTAKA

 

“Cakar singa dan tapak singa”, dan seterusnya.

 

Kisah ini ceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang Kokālika (Kokalika). Dikatakan bahwasanya suatu hari Kokalika mendengar sejumlah bhikkhu yang bijak memberikan khotbah Dhamma, dan kemudian merasa ingin untuk memberikan khotbah sendiri; selanjutnya sama  seperti cerita pembuka yang dikemukakan pada kisah yang sebelumnya. Kali ini lagi Sang Guru, setelah mendengarkan ini, berkata, “Bukan hanya kali ini Kokalika membeberkan siapa dirinya sebenarnya dengan suaranya sendiri, tetapi hal yang sama persis juga pernah terjadi sebelumnya”. Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai singa di pegunungan Himalaya dan dia memiliki seekor anak dari serigala betina yg menjadi pasangannya. Singa kecil ini sangat mirip dengan ayahnya, jari, cakar, bulu (tengkuk), warna, sosok tubuh—semuanya, tetapi suaranya lebih mirip ibunya. Suatu hari, setelah hujan reda, semua singa melompatlompat bersama dan saling mengaum; singa kecil itu berpikir ingin untuk mengaum juga, dan ternyata dia meraung seperti serigala. Sewaktu mendengar ini, semua singa terdiam serentak. Anak singa lainnya dari induk yg sama, saudara dari yang singa kecil tersebut, mendengar suara itu dan berkata “Ayah, singa yang di sana mirip dengan kita dari warna dan semuanya, kecuali suaranya. Siapakah dia?” sambil bertanya, dia mengulangi bait pertama:   Cakar singa dan tapak singa, berdiri di atas kaki singa; Tetapi suara makhluk ini tidak kedengaran seperti suara anak singa.

 

Bodhisatta menjawab, “Dia adalah saudaramu, anak serigala (dan singa); rupanya sama seperti diriku, tetapi suaranya sama seperti ibunya.” Kemudian dia memberikan nasihat kepada anak singa tersebut—“Anakku, selama kamu tinggal di sini, jagalah mulutmu. Jika kamu masih bersuara lagi, mereka semua akan mengetahui kalau kamu adalah seekor serigala.” Untuk memperjelas nasihatnya, dia mengulangi bait kedua:—

 

Semua akan mengetahui siapa dirimu sebenarnya jika kamu meraung seperti sebelumnya; Jadi janganlah mencobanya lagi, tetaplah diam; Raunganmu bukanlah auman seekor singa.

 

Setelah mendengar nasihat ini, makhluk itu tidak pernah lagi mencoba untuk mengaum.

 

Setelah mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, Kokālika (Kokalika) adalah serigala, Rahula adalah saudara dari anak singa itu, dan raja hewan buas adalah diri-Ku sendiri.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

CATUMAṬṬA-JĀTAKA

 

“Duduk dan bernyanyi,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu tua. Dikatakan bahwasanya pada suatu ketika, kedua siswa utama sedang duduk bersama, saling bertanya dan menjawab; ketika datang seorang bhikkhu tua dan menjadi orang ketiga. Setelah mengambil tempat duduknya, dia berkata, “Saya juga mempunyai sebuah pertanyaan, Bhante, yang ingin saya tanyakan kepada kalian, dan jika kalian mempunyai kesulitan, kalian boleh memberitahu saya.” Para thera itu tidak menyukainya, mereka bangkit dan pergi meninggalkannya. Mereka yang mendengarkan khotbah Dhamma dari para thera tersebut, setelah khotbah itu selesai, datang kepada Sang Guru. Beliau bertanya apa yang membuat mereka datang ke sana tidak pada waktunya, dan mereka pun menceritakan kepada Beliau apa yang telah terjadi. Beliau menjawab, “Ini bukan pertama kalinya, para bhikkhu, Sāriputta dan Moggallāna tidak menyukai orang ini dan meninggalkannya tanpa sepatah kata pun, tetapi ini juga pernah terjadi sebelumnya.” Dan Beliau meneruskan untuk menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang makhluk dewata penghuni pohon (dewa pohon) yang hidup di dalam hutan. Dua angsa muda terbang turun dari Gunung Cittakūṭa dan bertengger di atas pohon ini. Mereka terbang ke sekitarnya untuk mencari makanan, kembali ke sana lagi, dan setelah beristirahat, terbang kembali ke kediaman mereka di gunung. Sejalan dengan waktu, dewa pohon itu mulai menjalin persahabatan dengan mereka. Sewaktu datang dan pergi, mereka adalah teman yang akrab dan sering berbicara tentang kepercayaan kepada satu sama lain sebelum mereka berpisah. Terjadi pada suatu hari, ketika angsa-angsa itu duduk di atas pohon, sedang berbicara kepada Bodhisatta, seekor serigala yang berhenti di bawah pohon itu, menyapa angsaangsa muda itu dengan beberapa kata dalam bait berikut:

 

Duduk dan bernyanyi di atas pohon jika kalian hendak sendirian.  Duduklah di tanah dan lantunkanlah syair-syair kepada raja hewan (buas)!

 

Dipenuhi dengan rasa tidak suka, angsa-angsa muda itu mengepakkan sayap mereka dan terbang kembali ke Cittakūṭa . Ketika mereka telah pergi, Bodhisatta mengucapkan bait kedua untuk kebaikan serigala itu:—

 

Yang bersayap indah saling melantunkan kepada yang bersayap indah pula, Dewa dengan dewa membuahkan perbincangan baik; Kecantikan yang sempurna, seharusnya Anda kembali ke dalam sarangmu!

 

Ketika mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, bhikkhu tua itu adalah serigala, Sāriputta dan Moggallāna adalah dua angsa muda, dan Aku sendiri adalah dewa pohon.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2