Category Archives: kisah jataka

ULŪKA-JĀTAKA

“Anda sekalian umumkan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang pertengkaran di antara burung gagak dan burung hantu.   Dikatakan bahwasanya pada satu masa yang tidak diketahui kapan pastinya, burung gagak biasa memangsa burung hantu pada siang hari, dan pada malam hari burung hantu terbang berkeliling dan mematuk kepala burung gagak sampai putus di saat mereka tertidur, dan demikian membunuh burung gagak. Kala itu, terdapat seorang bhikkhu yang tinggal di sebuah bilik di samping Jetavana. Ketika tiba waktunya untuk menyapu, selalu terdapat sejumlah banyak kepala-kepala burung gagak yang harus dibuang, yang jatuh dari pohon. Jumlahnya cukup untuk memenuhi tujuh atau delapan pot. Dia pun kemudian memberitahukan ini kepada para bhikkhu lainnya. Di dalam balai kebenaran, mereka mulai membicarakannya, “ Āvuso , bhikkhu anu selalu menemukan banyak kepala burung gagak yang harus dibuang setiap hari di tempat dia tinggal!” Sang Guru berjalan masuk, dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan dengan duduk di sana. Mereka pun memberi tahu Beliau. Kemudian mereka menanyakan sejak kapan burung gagak dan burung hantu mulai bertengkar. Sang Guru menjawab, “Sejak kappa (kalpa) pertama,” dan kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka.

 

Dahulu kala, orang-orang yang hidup pada kappa pertama berkumpul bersama dan memilih seorang pemimpin (raja) bagi mereka, seorang yang rupawan, banyak hasil, yang bisa memimpin, dan yang semuanya serbabaik. Hewan-hewan berkaki empat pun berkumpul bersama dan memilih singa sebagai raja mereka. Ikan-ikan di lautan memilih seekor ikan yang bernama Ānanda di antara mereka sebagai raja. Kemudian burung-burung di daerah pegunungan Himalaya berkumpul bersama di atas batu karang yang datar, dan berkata, “Di antara manusia sudah ada raja, di antara hewan (berkaki empat) sudah ada raja, begitu juga dengan ikan-ikan di lautan, sedangkan di antara kita belum ada seorang raja. Kita tidak boleh hidup dalam ketidakteraturan, kita juga harus memilih seorang raja di antara kita. Carilah satu yang cocok dijadikan sebagai raja kita!” Mereka pun mencari burung yang demikian, dan memilih burung hantu, “Inilah burung yang kami suka,” kata mereka. Dan seekor burung mengumumkan sebanyak tiga kali bahwa akan ada pemungutan suara untuk memutuskan permasalahan tersebut. Setelah dengan sabar mendengar pengumuman itu sebanyak dua kali, pada kali ketiganya, seekor burung gagak bangkit dan berkata,

 

“Tahan! Jika demikian rupa dirinya ketika hendak dinobatkan sebagai raja, bagaimana pula dengan rupanya ketika dia marah? Jika dia melihat kita dengan kemarahan, maka kita akan hancur seperti biji-bijian yang diletakkan pada wadah yang panas. Saya tidak menginginkan burung ini menjadi raja!” dan mengucapkan bait pertama berikut:

 

Anda sekalian umumkan burung hantu akan menjadi  raja dari segala burung: Dengan izin darimu, bolehkah saya mengutarakan pendapatku?

 

Burung-burung mengulangi bait kedua berikut, untuk memperbolehkannya berbicara:

 

Anda mendapatkan izin dari kami, semoga pendapatmu itu baik dan benar:  karena burung-burung lainnya muda, bijaksana,  dan cerdas.

 

Setelah mendapatkan izin, dia mengulangi bait ketiga berikut:

 

Saya tidak suka (dikatakan dengan penuh hormat) dengan burung hantu yang dinobatkan sebagai pemimpin kita.

 

Lihatlah wajahnya! Jika itu adalah di saat dia sedang senang hati, bagaimana pula wajahnya di saat dia marah?

 

Kemudian burung gagak itu terbang ke angkasa, sembari meneriakkan, “Saya tidak suka itu! Saya tidak suka itu!” Burung hantu bangkit dan terbang mengejarnya. Sejak saat itu, kedua jenis burung tersebut saling bermusuhan. Dan burung-burung kemudian memilih seekor angsa emas sebagai raja mereka, dan membubarkan diri.

 

Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran ini:—“Pada masa itu, angsa emas yang terpilih menjadi raja burung adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Advertisements
Tagged ,

SUJĀTA-JĀTAKA

“Mereka yang dilimpahi,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Sujātā , menantu dari Anāthapiṇḍika , putri dari seorang saudagar– Dhanañjaya , dan adik bungsu dari Visākhā.   Dikatakan bahwasanya wanita itu masuk ke dalam rumah Anāthapiṇḍika dengan penuh kesombongan, karena memikirkan betapa besarnya keluarga tempat dia berasal. Dia adalah seorang yang keras kepala, pemarah, dan kasar. Dia tidak mau melakukan apa yang merupakan kewajibannya terhadap ibu dan ayah mertuanya, atau terhadap suaminya. Dia berkeliaran di dalam rumah itu dengan melontarkan kata-kata ancaman dan cacian.   Suatu hari, Sang Guru beserta lima ratus bhikkhu berkunjung ke rumah Anāthapiṇḍika , dan duduk di tempat yang disiapkan. Saudagar besar tersebut duduk di samping Yang Terberkahi, mendengarkan khotbah Dhamma. Pada saat yang bersamaan, Sujātā kebetulan sedang memarahi para pelayan. Sang Guru berhenti berbicara dan menanyakan suara ribut apa itu. Saudagar tersebut menjelaskan bahwa itu adalah suara menantunya yang kasar, mengatakan bahwa dia tidak berkelakukan sebagaimana mestinya kepada suaminya atau kepada kedua mertuanya, dia juga tidak memberikan derma, dan tidak memiliki sisi yang baik, seorang yang tidak berkeyakinan dan tidak percaya, dia hanya berkeliaran di dalam rumah dengan melontarkan kata-kata ancaman dan cacian. Sang Guru memintanya untuk memanggil wanita itu. Dia datang, dan setelah memberikan hormat kepada Sang Guru, berdiri di satu sisi. Kemudian Sang Guru menyapanya demikian: “ Sujātā , terdapat tujuh jenis istri yang bisa didapatkan oleh seorang laki-laki. Jenis keberapakah dirimu?” Dia membalas, “Bhante, Anda berbicara terlalu singkat kepadaku untuk dapat dimengerti. Tolong dijelaskan.” “Baiklah,” kata Sang Guru, “dengarkanlah baik-baik,” dan Beliau mengucapkan bait berikut:

 

Yang pertama adalah berhati busuk, tidak menunjukkan kasih sayang. Sisi baiknya adalah mengasihi orang lain, tetapi membenci suaminya. Selalu menghabiskan apa yang didapatkan oleh suaminya, istri tipe ini disebut sebagai si Perusak.

 

Apa saja yang diperoleh suami untuknya dari hasil penjualan, atau dari keahlian, atau dari pacul petani, dia selalu berusaha untuk mencuri sedikit darinya, istri tipe ini disebut sebagai si Pencuri.

 

Tidak melakukan kewajibannya, malas, rakus,  kejam, pemarah, kasar, tidak memiliki belas kasihan terhadap bawahannya, istri tipe ini disebut sebagai si Sombong.

 

Dia yang memiliki kasih sayang dan baik hati, merawat suaminya, layaknya seorang ibu, menjaga semua kekayaan yang diperoleh suaminya, istri tipe ini disebut sebagai si Ibu.

 

Dia yang menghormati suaminya, layaknya saudara yang lebih muda menghormati  saudara yang lebih tua, rendah hati, patuh terhadap keinginan suami, istri tipe ini disebut sebagai si Saudara (wanita).

 

Dia yang selalu bahagia ketika melihat (berjumpa dengan) suaminya, layaknya seorang sahabat yang berjumpa dengan sahabat lamanya, berasal dari keluarga yang baik (terpandang) dan bermoral, menyerahkan hidupnya kepada suaminya, istri tipe ini disebut sebagai si Sahabat.

 

Bersikap tenang ketika dimarahi, takut untuk berbuat jahat, tidak pemarah, penuh dengan kesabaran, setia, mematuhi suaminya, istri tipe ini disebut sebagai si Pelayan.    “Inilah, Sujātā , tujuh jenis wanita yang bisa didapatkan oleh seorang laki-laki. Tiga dari tujuh jenis wanita ini, si Perusak, Pencuri, dan Sombong, akan terlahir kembali di alam neraka; sedangkan empat jenis sisanya akan terlahir kembali di Alam Dewa Nimmānarati .

 

Mereka yang menjalankan peran sebagai si Perusak di dalam kehidupan ini, si Pencuri, atau si Sombong, karena mereka itu adalah orang yang pemarah, kejam, dan tidak memiliki rasa hormat, setelah meninggal akan terlempar ke alam neraka yang rendah.

 

Mereka yang menjalankan peran sebagai si Ibu, Saudara, Sahabat dan Pelayan, karena mereka itu adalah orang yang bermoral dan mengendalikan diri mereka dalam waktu yang lama,  setelah meninggal akan terlahir di alam dewa.

 

Ketika Sang Guru memaparkan tentang tujuh jenis istri tersebut, Sujātā mencapai tingkat kesucian Sotāpanna . Kemudian Sang Guru menanyakan dirinya termasuk tipe yang ke berapa. Dia menjawab, “Saya adalah si Pelayan, Bhante!” kemudian memberikan hormat kepada Sang Buddha, dan meminta maaf kepadanya.  Demikianlah, dengan satu nasihat, Sang Guru menjinakkan wanita judes tersebut. Setelah selesai bersantap, setelah memberitahukan kewajiban kepada para bhikkhu, Beliau masuk ke dalam ruangan  yang wangi ( gandhakuṭi ).  Kemudian para bhikkhu berkumpul bersama di dalam balai kebenaran, dan melantunkan pujian terhadap Sang Guru, “ Āvuso , dengan satu nasihat saja Sang Guru dapat menjinakkan seorang wanita yang judes, dan mengukuhkannya dalam tingkat kesucian Sotāpanna .” Sang Guru berjalan masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan dengan duduk berkumpul di sana. Mereka pun memberi tahu Beliau. Kata Beliau, “Para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya Aku menjinakkan Sujātā dengan satu nasihat.” Atas permintaan mereka, Beliau kemudian menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari permaisurinya. Ketika dewasa, dia mendapatkan pendidikannya di Takkasilā . Sepeninggal ayahnya, dia naik takhta menjadi raja dan memerintah dalam kebenaran. Ibunya adalah seorang wanita yang pemarah, kejam, kasar, judes, dan temperamental. Sang anak berkeinginan untuk menasihati ibunya, tetapi dia merasa bahwa dia tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak sopan. Maka dia pun tetap mencari-cari kesempatan untuk memberikan petunjuk kepadanya.

 

Pada suatu hari, dia pergi ke taman dan ibunya pergi bersama dengannya. Seekor burung bernyanyi dengan suara melengking di tengah jalan. Mendengar ini, para pejabat kerajaan (yang mengikutinya) menutup telinga mereka, sambil berkata, “Betapa jeleknya suara itu! Suara yang melengking! Hentikan suara itu!”  Kemudian Bodhisatta melanjutkan perjalanannya di dalam taman dengan ibu dan pejabat kerajaannya. Seekor burung tekukur yang bertengger di pohon sala yang berdaun lebat, berkicau dengan suara yang merdu. Semua orang yang mendengarnya merasa senang dengan suara kicauannya, mereka bergandengan tangan dan menjulurkannya ke depan, mereka juga mencari keberadaan burung itu—“Oh, betapa lembutnya suara itu! Betapa merdunya suara itu! Betapa indahnya suara itu!—teruslah berkicau, Burung, teruslah berkicau!” dan mereka tetap berdiri di sana, sembari menjulurkan leher mereka dan mendengarkan dengan rasa ingin tahu.  Bodhisatta, yang memerhatikan kedua kejadian tersebut, berpikir bahwa inilah kesempatan untuk memberikan petunjuk itu kepada ibunya, sang ratu. “Bu,” katanya, “ketika mendengar suara burung yang melengking di tengah jalan, orang-orang ini menutup telinga mereka dan meneriakkan ‘Hentikan suara itu!’ dan terus menutup telinga mereka: ini terjadi karena suara-suara yang buruk tidak disukai oleh siapa pun.” Dan dia mengulangi bait-bait berikut:

 

Mereka yang dilimpahi dengan warna yang indah,  meskipun terlihat demikian indah dan cantik, tetapi jika mereka memiliki suara yang buruk untuk didengarkan, maka mereka tidak akan disukai baik di kehidupan ini maupun di kehidupan yang akan datang.

 

Ada sejenis burung yang mungkin sering terlihat olehmu;  buruk rupa, hitam, dan mungkin berbintik-bintik,  tetapi memiliki suara yang lembut untuk didengarkan:  Betapa banyaknya makhluk yang menyukai tekukur itu!

 

Oleh sebab itu, ucapanmu juga harus terdengar lembut dan manis, berbicara dengan bijaksana, tidak diisi dengan kesombongan. Suara yang demikian, yang dapat menerangkan kebenaran beserta artinya, apa pun yang diucapkan akan terdengar menyenangkan.

 

Setelah demikian menasihati ibunya dalam tiga bait kalimat di atas, Bodhisatta berhasil mengubah cara berpikirnya, dan sejak saat itu, dia menjalankan kehidupan yang benar. Setelah dengan satu nasihat menjinakkan ibunya yang judes, Bodhisatta kemudian meninggal dan menerima hasil sesuai dengan perbuatannya.

 

Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “ Sujātā adalah ibu dari Raja Benares, dan Aku sendiri adalah sang raja.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

ĀRĀMA-DŪSA-JĀTAKA

“Yang terbaik dari semua,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Dakkhiṇāgiri , tentang seorang anak tukang taman. Setelah masa vassa berlalu, Sang Guru meninggalkan Jetavana, pergi berpindapata ke sebuah daerah di sekitar Dakkhiṇāgiri . Seorang umat mengundang Sang Buddha dan rombongannya untuk makan, mempersilakan mereka duduk di dalam tamannya, dan mempersembahkan bubur dan makanan kering. Kemudian dia berkata, “ Ayyā, jika Anda sekalian ingin melihat-lihat taman ini, maka tukang taman akan membawa Anda sekalian berkeliling,” dan dia juga memberi perintah kepada tukang taman itu untuk memberikan buah apa saja yang mereka inginkan. Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah tempat yang kosong. “Apa penyebab,” tanya mereka, “tempat ini kosong dan tidak memiliki pohon?” “Penyebabnya adalah,” jawab tukang taman, “seorang anak tukang taman, yang diminta untuk menyiram pohon-pohon muda ini, berpikir akan lebih baik jika dia memberikan jumlah air sesuai dengan panjang akar pohonpohonnya, maka dia pun mencabut pohon-pohon tersebut keluar sampai ke akar-akarnya, kemudian baru menyiramnya. Akibatnya, tempat ini menjadi kosong.” Para bhikkhu kembali dan menceritakan ini kepada Sang Guru. Beliau berkata, “Bukan kali ini saja anak itu merusak tumbuhan, sebelumnya juga dia telah melakukan hal yang sama.” Kemudian Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika seorang raja yang bernama Vissasena memerintah di Benares, pengumuman liburan diumumkan. Tukang taman berpikir untuk pergi dan berlibur. Jadi dia memanggil kera-kera yang tinggal di dalam taman dan berkata, “Taman ini merupakan suatu berkah yang besar bagi kalian. Saya akan libur selama satu minggu. Bersediakah kalian menyiram pohon-pohon muda ini selama tujuh hari?” “Ya,” kata mereka. Tukang taman itu kemudian memberikan kaleng penyiram kepada mereka, dan pergi. Kera-kera mengambil air dan mulai menyiram pohonpohon. Kera yang paling tua berkata, “Tunggu sebentar, sangat sulit untuk mengambil air. Kita harus berhemat dalam menggunakannya. Mari kita cabut tumbuhan ini, dan lihat panjang dari akar-akarnya; jika mereka memiliki akar-akar yang panjang, maka mereka membutuhkan air yang banyak; tetapi jika mereka memiliki akar-akar yang pendek, maka mereka membutuhkan air yang sedikit.” “Benar, benar,” kera-kera lainnya setuju. Kemudian sebagian dari mereka mencabut tumbuhtumbuhan tersebut dan sebagian lagi menanam mereka kembali, baru kemudian menyiram mereka.

 

Kala itu, Bodhisatta terlahir sebagai seorang pemuda yang tinggal di Benares. Sesuatu membawanya datang ke taman tersebut, dan dia melihat apa yang sedang dilakukan oleh kerakera tersebut. “Siapa yang meminta kalian melakukan itu?” tanyanya. “Pemimpin kami,” balas mereka. “Jika kebijaksanaan sang pemimpin seperti ini, bagaimana lagi dengan kalian?” katanya, dan untuk menjelaskan permasalahannya, dia mengucapkan bait pertama berikut:

 

Yang terbaik dari semua rombongan adalah ini: Betapa rendahnya kepintaran dirinya!  Jika dia dipilih sebagai yang terbaik (pemimpin), bagaimana lagi dengan yang lainnya!

 

Mendengar pernyataannya, kera-kera itu membalasnya dalam bait kedua berikut:

 

Brahmana, Anda tidak tahu apa yang Anda katakan, menyalahkan kami dengan cara yang demikian! Jika kami tidak tahu (panjang) akarnya,  lantas bagaimana kami tahu pohon mana yang tumbuh?

 

Kemudian Bodhisatta membalas mereka dalam bait ketiga berikut:

 

Wahai Para Kera, saya tidak menyalahkan kalian, bukan pula mereka yang berada di hutan sana. Sang pemimpin adalah yang bodoh, mengatakan,

 

‘Tolong rawat pohon-pohon ini selagi saya tidak ada’.

 

Ketika uraian ini selesai, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Anak yang merusak tumbuhan di dalam taman adalah kera pemimpin, dan Aku sendiri adalah pemuda bijak.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KAKKAṬĀ JĀTAKA

“Makhluk bercapit emas,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang wanita.   Dikatakan bahwasanya seorang tuan tanah di Sāvatthi, bersama dengan istrinya, pergi ke desa dengan tujuan untuk menagih utang, dan bertemu dengan para perampok. Istrinya adalah seorang wanita yang sangat cantik dan memikat. Pemimpin perampok itu begitu terpesona kepadanya sehingga dia bermaksud untuk membunuh suaminya untuk bisa mendapatkan dirinya. Akan tetapi, wanita itu adalah seorang yang baik dan bermoral, seorang istri yang setia. Dia bersujud di bawah kaki pemimpin perampok itu, sambil berkata, “Tuan, jika Anda membunuh suamiku untuk mendapatkan diriku, maka saya akan minum racun atau menghentikan napasku untuk membunuh diriku sendiri! Saya tidak akan pergi bersamamu. Janganlah membunuh suamiku untuk hal yang tidak ada gunanya!” Dengan cara demikian, dia berhasil memohonnya untuk pergi.  Mereka berdua kemudian kembali dengan selamat ke Sāvatthi. Ketika melintasi wihara yang ada di Jetavana, mereka berpikir untuk mengunjunginya dan memberikan salam hormat kepada Sang Guru. Maka mereka pun pergi ke ruangan yang wangi ( gandhakuṭi ) dan duduk di satu sisi setelah terlebih dahulu memberikan salam hormat. Sang Guru menanyakan kepada mereka datang dari mana. “Dari menagih utang,” balas mereka. “Apakah perjalanan kalian lancar tanpa halangan?” tanya Beliau berikutnya. “Kami ditahan oleh para perampok di tengah perjalanan,” kata sang suami, “dan pemimpin perampok itu bermaksud untuk membunuhku. Akan tetapi, istriku memohon kepadanya untuk melepaskan diriku, dan saya berutang nyawa kepadanya.” Kemudian Sang Guru berkata, “Upasaka, Anda bukanlah satu-satunya orang yang diselamatkan olehnya. Di masa lampau, dia juga telah menyelamatkan nyawa orang bijak.” Kemudian atas permintaannya, Sang Guru menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, terdapatlah sebuah kolam yang besar di Himalaya, tempat hidupnya seekor kepiting emas yang besar. Karena dia hidup di sana, tempat itu dikenal dengan nama Kuḷīradaha (Kolam Kepiting). Kepiting itu amatlah besar, sebesar penebahan. Dia mampu menangkap gajah, membunuh dan memangsanya. Disebabkan oleh hal ini, gajah-gajah tidak berani turun ke kolam itu dan bermain-main di sana.   Kala itu, Bodhisatta dikandung di dalam rahim seekor gajah betina yang merupakan pasangan dari raja gajah yang memimpin sekelompok gajah yang tinggal di dekat kolam kepiting itu. Agar selamat sampai pada waktunya melahirkan, gajah betina itu mencari tempat tinggal lain di sebuah gunung, dan di sana dia melahirkan seorang anak gajah jantan, yang seiring berjalannya waktu tumbuh menjadi dewasa dan bijaksana. Dia adalah seekor gajah yang besar, kuat dan banyak hasil. Dia terlihat seperti Gunung Collyrium. Dia kemudian memilih seekor gajah betina sebagai pasangannya, dan dia berkeinginan untuk menangkap kepiting tersebut. Maka dengan pasangan dan ibunya, dia mencari kelompok gajah tersebut dan menjumpai ayahnya, mengemukakan keinginannya untuk pergi menangkap kepiting itu. “Anda tidak akan mampu melakukannya, Anakku,” katanya. Akan tetapi, dia terus-menerus memohon kepadanya untuk memperbolehkannya pergi, sampai pada akhirnya, raja gajah itu berkata, “Baiklah, Anda boleh mencobanya.” Maka gajah muda itu mengumpulkan semua gajah di samping kolam kepiting, dan menuntun mereka sampai ke dekat kolam. “Apakah kepiting ini menangkap mangsanya ketika mereka turun ke bawah, atau ketika mereka sedang makan, atau ketika mereka hendak naik ke atas?” Mereka menjawab, “Ketika hewan-hewan hendak naik ke atas.” “Baiklah, kalau begitu,” katanya, “turunlah kalian semua ke kolam itu dan makanlah apa yang bisa kalian temukan, kemudian naiklah terlebih dahulu ke atas, saya yang akan menyusul di belakang.” Mereka pun melakukan demikian. Kemudian kepiting itu, yang melihat Bodhisatta naik ke atas pada urutan belakang, menggenggam kakinya ketat dengan capit, seperti seorang pandai besi yang memegang seonggok besi dengan penjepit besi. Pasangan Bodhisatta tidak meninggalkannya, melainkan berdiri di dekatnya. Bodhisatta berusaha menarik kepiting itu, tetapi bahkan tidak mampu membuatnya bergerak. Kemudian kepiting itu menariknya dan membuatnya berhadapan dengannya. Setelah kejadian itu, dalam ketakutannya gajah tersebut meraung dan meraung. Mendengar raungan tersebut, semua gajah lainnya, dalam ketakutan mereka, melarikan diri sambil meraung dan mengeluarkan kotoran. Bahkan kali ini, pasangannya mulai tidak tahan dan hendak melarikan diri. Kemudian untuk memberi tahu dirinya bagaimana dia ditawan, dia (Bodhisatta) mengucapkan bait pertama berikut, dengan harapan untuk menahannya, tidak melarikan diri:

 

Mahkluk bercapit emas dengan mata menyembul,  tinggal di kolam, tidak berambut,  dengan cangkang tipis yang jelek, Dia menangkapku: dengarkanlah jeritan sedihku!

 

Pasanganku, janganlah meninggalkan diriku—karena Anda sangat mengasihiku. Kemudian pasangannya berbalik, dan mengulangi bait kedua berikut untuk menenangkannya:

 

Saya tidak akan pernah pergi meninggalkanmu, suami yang mulia, bersamamu enam puluh tahun. Empat penjuru bumi ini tidak dapat menunjukkan siapa pun yang demikian mengasihiku seperti dirimu.

 

Dengan cara itu, dia memberikan dukungan semangat kepada pasangannya. Kemudian dia berkata, “Sekarang, Tuan, saya akan berbicara kepada kepiting itu untuk melepaskanmu pergi.” Dia menyapa kepiting itu dalam bait ketiga berikut:

 

Dari semua kepiting yang ada di perairan, Gangga ataupun Yamunā, Andalah yang paling baik dan pemimpin, setahu saya: Dengarkanlah saya—lepaskan suamiku!

 

Ketika dia berbicara demikian, pikiran kepiting itu tertarik oleh suara dari gajah betina tersebut, dan dengan melupakan segala ketakutannya, melepaskan jepitannya dari kaki gajah tersebut, tanpa mencurigai apa yang akan dilakukan olehnya (sang gajah jantan) ketika dia dibebaskan. Kemudian gajah itu mengangkat satu kakinya dan memijakkannya ke punggung kepiting itu, dan kedua matanya pun menjadi semakin menyembul keluar. Gajah meraungkan jeritan kemenangan. Semua gajah yang lain berlarian datang, menarik kepiting itu dan meletakkannya di tanah, kemudian menghancurkannya berkeping-keping. Dua capitnya terputus dari badannya dan terpisah. Danau kepiting itu, karena dekat dengan Sungai Gangga, ketika air Sungai Gangga meluap, terisi dengan air dari Sungai Gangga. Ketika banjir mulai surut, aliran airnya mengalir dari kolam itu menuju ke Sungai Gangga. Kedua capit itu pun terbawa dan terapung di sepanjang aliran Sungai Gangga. Salah satu capit tersebut terapung sampai ke laut, dan satunya lagi ditemukan oleh Sepuluh Saudara Raja ketika sedang bermain di sungai. Mereka mengambilnya dan menjadikannya sebuah genderang kecil yang disebut Ānaka . Para asura menemukan capit yang sampai ke laut itu dan menjadikannya sebuah genderang kecil yang disebut Āḷambara . Ketika kalah bertempur dengan Sakka, para asura ini melarikan diri dan meninggalkan genderang tersebut. Kemudian Sakka menyimpannya untuk digunakannya sendiri, dan inilah yang disebut-sebut orang sebagai Āḷambara megha .

 

Ketika uraian ini selesai disampaikan, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, suami istri tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :— “Pada masa itu, upasika ini adalah gajah betina, dan Aku sendiri adalah pasangannya.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

VĀTAGGA-SINDHAVA-JĀTAKA

“Dikarenakan dirinya,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan di Jetavana, tentang seorang tuan tanah.  Dikatakan bahwasanya di Sāvatthi , seorang wanita melihat laki-laki yang tampan itu dan jatuh cinta kepadanya. Keinginan di dalam dirinya terasa seperti api yang terus-menerus membakar dirinya. Dia (seperti) kehilangan indranya, tubuh dan pikiran, dia tidak mau makan, dia hanya berbaring sambil memeluk tepi ranjang. Teman-teman dan pelayan-pelayannya menanyakan apa yang menyusahkan hatinya sehingga dia hanya berbaring sambil memeluk tepi ranjang; mereka ingin mengetahui apa masalahnya. Pada awalnya dia tidak mau mengatakan apa pun, tetapi karena terus didesak oleh mereka, akhirnya dia pun memberitahukan apa masalahnya.  “Jangan khawatir,” kata mereka, “kami akan membawa dirinya kepadamu,” dan mereka pun pergi untuk berbicara dengan laki-laki itu. Awalnya, dia menolak, tetapi karena terus didesak oleh mereka, akhirnya dia pun menyetujuinya. Mereka membuatnya berjanji untuk datang pada jam anu di hari yang telah ditetapkan, dan mereka memberitahukannya kepada wanita itu. Dia merapikan ruangannya dan mengenakan pakaian terbaiknya, kemudian duduk menunggu kedatangan laki-laki tersebut. Laki-laki itu datang dan duduk di sampingnya. Kemudian terlintas sebuah pemikiran di dalam benaknya, “Jika saya langsung menerima sapaannya dan membuat diriku (terkesan) menjadi murahan, maka harga diriku akan hancur. Membiarkan dirinya mendapatkan apa yang diinginkannya pada kali pertama adalah hal yang tidak mungkin. Saya akan menjadi galak hari ini, dan sesudahnya baru saya akan menjadi lembut.” Maka tidak lama setelah laki-laki itu menyentuhnya dan mulai bermain-main, dia memegang tangannya dan berkata kasar kepadanya, memintanya untuk pergi karena dia tidak menginginkan dirinya di sana. Laki-laki itu pun kembali dengan perasaan marah, pulang ke rumahnya.  Ketika teman-teman dan pelayan-pelayannya mengetahui apa yang dilakukannya, setelah laki-laki itu pergi, mereka menghampirinya. “Lagi-lagi Anda berada di sini,” kata mereka, “jatuh cinta kepada seseorang, hanya berbaring, tidak mau makan. Dengan susah payah, kami membujuk laki-laki itu dan akhirnya berhasil membawanya datang, kemudian Anda tidak mengatakan apa-apa kepadanya!” Dia pun memberitahukan mereka mengapa dia melakukan demikian, dan mereka akhirnya pergi, sambil memperingatkan dirinya untuk berbicara nantinya.  Laki-laki itu tidak pernah datang kembali untuk berjumpa dengannya. Ketika mengetahui bahwa dia telah kehilangan diri laki-laki tersebut, wanita itu melanjutkan tindakannya yang tidak mau makan dan akhirnya meninggal dunia. Ketika mendengar tentang kematiannya, laki-laki itu membawa sejumlah bunga, dupa, wewangian, pergi ke Jetavana. Dia memberikan salam hormat kepada Sang Guru dan duduk di satu sisi. Sang Guru bertanya kepadanya, “Upasaka, mengapa kami tidak pernah melihatmu datang belakangan ini?” Dia memberitahukan Beliau semua yang terjadi, menambahkan bahwa dia tidak datang untuk memberikan pelayanan kepada Buddha dikarenakan rasa malu. Sang Guru berkata, “Upasaka, dalam kehidupan ini wanita itu memintamu untuk datang disebabkan oleh nafsunya (keinginannya), kemudian tidak mengatakan apa-apa kepadamu dan mengusirmu pergi dengan marah. Demikian juga halnya di masa lampau, wanita ini jatuh cinta kepada seorang bijak, dan ketika dia datang, wanita ini tidak mau melakukan apa pun dengannya, dan demikian membuatnya menjadi marah serta mengusirnya.” Kemudian atas permintaannya, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor kuda Sindhava, dan dia diberi nama Vātaggasindhava (Secepat Angin). Dia adalah kuda kerajaan; penjaga kuda biasa membawanya untuk mandi di Sungai Gangga. Di sana seekor keledai betina yang bernama Kundalī melihatnya dan jatuh cinta kepadanya. Menjadi gemetaran karena nafsu, [339] keledai betina tersebut tidak mau makan rumput ataupun minum air, dia menjadi semakin pucat dan kurus, sampai akhirnya tinggal kulit dan tulang. Kemudian anaknya yang melihat sang ibu menjadi semakin kurus, berkata, “Mengapa tidak makan rumput, Bu, dan mengapa tidak minum air? Mengapa Ibu menjadi semakin pucat dan berbaring gemetaran di sini? Apa masalahnya?” Awalnya, dia tidak mau mengatakannya, tetapi setelah terus-menerus ditanya dan ditanya, akhirnya dia memberitahukan masalahnya kepada anaknya. Kemudian sang anak menenangkan ibunya dengan berkata, “Bu, jangan bersedih. Saya akan membawanya datang untukmu.”   Maka ketika Vātaggasindhava turun mandi, anak keledai itu berkata, sembari menghampirinya, “Tuan, ibuku jatuh cinta kepadamu. Sekarang ini, dia tidak mau makan dan tubuhnya menjadi semakin pucat, hampir mati. Tolonglah berikan kehidupan kepadanya!” “Baiklah, saya akan melakukannya,” kata kuda itu, “biasanya setelah saya selesai mandi, penjaga kuda akan membiarkan diriku untuk berlari-lari di tepi sungai. Bawalah ibumu datang ke tempat itu.”  Anak keledai itu pun menjemput ibunya dan membawanya ke tempat tersebut, kemudian sembunyi di dekat tempat itu. Penjaga kuda membiarkan Vātaggasindhava untuk berlari-lari. Vātaggasindhava kemudian melihat keledai betina itu dan menghampirinya. Ketika dia menghampirinya dan mulai mengendus dirinya, keledai betina itu berpikir, “Jika kubuat diriku menjadi seperti seekor betina murahan dan membiarkannya mendapatkan apa yang diinginkannya pada kali pertama dia datang ke sini, kehormatan dan harga diriku akan hancur. Saya akan bertingkah seolah-olah tidak menginginkannya.” Maka dia pun menendang rahang bawahnya dan bergegas pergi. Tendangan itu mematahkan rahang sang kuda jantan dan hampir membunuhnya. “Apalah peduliku kepada dirinya?” pikir Vātaggasindhava , dan dia merasa malu sendiri, kemudian pergi. Kemudian keledai betina tersebut meratap tangis dan berbaring di tempatnya dalam kesedihan. Anaknya datang dan menanyakan sebuah pertanyaan kepadanya dalam bait berikut:

 

Dikarenakan dirinya, Anda menjadi semakin pucat dan kurus, dan Anda tidak mau makan sedikit pun, kuda yang Anda cintai itu telah datang kepadamu, mengapa Anda lari (darinya)?

 

Mendengar suara anaknya, dia kemudian mengulangi bait kedua berikut:

 

Jika pada pertama kalinya, kepada dia (laki-laki) yang berdiri di sampingnya, tanpa basa basi, seorang wanita menyerah, maka harga dirinya akan hancur: Oleh karena itulah, saya lari darinya.

 

Dengan kata-kata tersebut, dia menjelaskan tentang sifat alamiah wanita kepada anaknya.

 

Dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, Sang Guru mengulangi bait ketiga berikut:

 

Jika seorang wanita menolak seorang kekasih yang berasal dari keluarga baik, yang selalu ingin berada di sampingnya, maka, seperti Kundalī yang bersedih karena Vātaggasindhava, dia akan bersedih dalam waktu yang amat lama.

 

Ketika uraian ini telah selesai disampaikan, Sang Guru memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, tuan tanah itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Wanita ini adalah sang keledai betina, dan Aku sendiri adalah Vātaggasindhava .”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KHURAPPA-JĀTAKA

“Ketika demikian banyak busur,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang telah kehilangan semangat. Sang Guru menanyakan apakah benar bahwasanya bhikkhu tersebut telah kehilangan semangatnya. Bhikkhu itu mengiyakannya. “Mengapa,” tanya Beliau, “Anda kehilangan semangat setelah memeluk ajaran yang membawa pembebasan ini? Pada masa lampau, orang bijak sangatlah bersemangat dalam permasalahan yang bahkan tidak menuntun ke arah pembebasan.” Setelah berkata demikian, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir ke dalam keluarga seorang penjaga hutan. Ketika dewasa, dia memimpin satu rombongan penjaga hutan yang berjumlah lima ratus orang, dan tinggal di sebuah desa yang berada di dekat pintu masuk ke hutan tersebut. Dia biasa mempekerjakan dirinya sendiri untuk menuntun orang-orang melewati hutan tersebut.   Pada suatu hari, seorang penduduk Benares, putra seorang saudagar, tiba di desa tersebut dengan rombongan karavannya yang berjumlah lima ratus kereta. Dia mencari Bodhisatta dan menawarkannya uang seribu keping untuk menjadi penjaganya melewati hutan tersebut. Karena Bodhisatta menyetujui penawarannya, berarti secara mental Bodhisatta mengabdikan hidupnya untuk memberikan (jasa) pelayanan kepada saudagar tersebut. Kemudian dia pun menuntunnya melewati hutan. Di tengah hutan, muncul lima ratus orang perampok. Begitu melihat para perampok itu, semua rombongan karavan tersebut ketakutan, hanya sang penjaga hutan sendiri saja yang berteriak, bertarung, dan membuat semua perampok tersebut pergi, serta membawa saudagar itu melewati hutan dengan selamat. Setelah berhasil melewati hutan, saudagar itu pun mengistirahatkan rombongannya; dia memberikan sang penjaga hutan segala jenis daging pilihan dan dia duduk di sampingnya setelah terlebih dahulu menyantap makanannya, kemudian berbicara demikian kepadanya: “Beri tahukanlah saya,” katanya, “ketika bertemu dengan lima ratus perampok yang bersenjata, yang terlihat ada di mana-mana, mengapa tidak ada rasa takut sedikit pun di dalam dirimu?” Dan dia mengucapkan bait pertama berikut:

 

Ketika demikian banyak busur yang melepaskan batang panah dengan cepat, tangan-tangan yang memegang pisau-pisau baja datang mendekat, ketika maut telah datang dengan pasukannya yang mengerikan; Mengapa, di tengah teror yang demikian, Anda tidak gentar sama sekali?

 

Mendengar ini, penjaga hutan tersebut mengulangi dua bait berikut:

 

Ketika demikian banyak busur yang melepaskan batang panah dengan cepat, tangan-tangan yang memegang pisau-pisau baja datang mendekat, ketika maut datang dengan pasukannya yang mengerikan; Hari itu kurasakan sebagai kesenangan  yang besar dan hebat.

 

Dan kesenangan inilah yang memberikan kemenangan; Dalam hidup ini, saya pasti akan mati; Dia yang melakukan tindakan heroik dan ingin menjadi seorang hero, harus memandang hidupnya demikian.

 

Demikianlah dia mengucapkan kata-katanya seperti hujan panah; dan setelah dia melakukan perbuatan heroik tersebut dengan menunjukkan dirinya yang terbebas dari kemelekatan akan kehidupan, dia pun berpamitan kepada saudagar muda itu dan kembali ke desanya sendiri. Setelah mempraktikkan perbuatan memberikan derma dan kebajikankebajikan lainnya di dalam kehidupannya, dia kemudian terlahir kembali dan menerima hasil sesuai dengan perbuatannya.

 

Ketika uraian ini telah selesai disampaikan, Sang Guru memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran ini:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang (tadinya) telah kehilangan semangat itu mencapai tingkat kesucian Arahat:—“Pada masa itu, Aku adalah sang penjaga hutan.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

MAHĀ-PANĀDA-JĀTAKA

“Yang memiliki istana itu,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di tepi Sungai Gangga, tentang kesaktian Thera Bhaddaji.  Pada satu kesempatan, ketika Sang Guru telah melewati masa vassa di Sāvatthi , Beliau berpikir untuk membantu seorang pemuda yang bernama Bhaddaji. Maka dengan rombongan bhikkhu yang berada bersama-Nya, Beliau pergi ke Kota Bhaddiya dan tinggal di sana selama tiga bulan di Jātiyāvana , menunggu pemuda itu matang waktunya dan sempurna dalam pengetahuan. Kala itu, Bhaddaji adalah seorang yang luar biasa, putra satu-satunya dari seorang saudagar kaya raya di Bhaddiya, yang memiliki harta sebesar delapan ratus juta. Dia memiliki tiga buah rumah untuk tiga musim, yang di masing-masing rumah tersebut dia menghabiskan waktu empat bulan; setelah menghabiskan satu periode di salah satu rumahnya, dia akan pindah ke rumah lainnya bersama dengan seluruh sanak keluarganya, dalam rombongan yang berjumlah besar. Pada waktu-waktu tersebut, seluruh kota menjadi gempar melihat ketidakbiasaan pemuda tersebut; dan di antara rumah-rumah itu terdapat tempat-tempat duduk yang disusun dalam lingkaran, secara berlapis-lapis.

 

Ketika telah tinggal di sana selama tiga bulan, Sang Guru memberitahukan para penduduk bahwa Beliau berniat untuk pergi. Setelah memohon Beliau untuk menunggu sampai keesokan harinya, para penduduk pada keesokan harinya mengumpulkan persembahan dana yang banyak kepada Sang Buddha dan para bhikkhu rombongan Beliau. Mereka mendirikan sebuah paviliun di tengah-tengah kota, menghiasnya dan menyiapkan tempat-tempat duduk; kemudian mereka mengumumkan bahwa waktunya telah tiba. Sang Guru dan rombongan pergi dan mengambil tempat duduk mereka masingmasing di sana. Semua orang dengan senang hati memberikan persembahan kepada mereka. Setelah selesai bersantap, Sang Guru mengucapkan terima kasih kepada mereka dengan suara semanis madu. Pada waktu itu, Bhaddaji sedang berpindah dari rumah yang satu ke rumah lainnya. Pada hari itu, tidak ada yang datang untuk melihat kebesarannya; hanya orang-orangnya sendiri yang berada di sekelilingnya. Maka dia bertanya kepada orang-orangnya apa yang telah terjadi. Biasanya, seluruh kota menjadi heboh melihatnya berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya, pada lingkaran-lingkaran ataupun pada lapisan berikutnya. Akan tetapi, hari itu, tidak ada seorang pun yang datang, selain pengawalnya sendiri. Apa yang menjadi penyebabnya?  Jawaban yang didapatkannya, “Tuan, Yang Tercerahkan Sempurna ( Sammāsambuddha ) telah menghabiskan waktu tiga bulan tinggal di dekat kota, dan hari ini Beliau akan pergi. Beliau baru saja selesai menyantap makanan dan sekarang sedang memberikan khotbah Dhamma. Seluruh penduduk kota sedang mendengarkannya.” “Oh, bagus sekali, kita juga harus pergi dan mendengarkannya,” kata pemuda itu. Maka dengan sinar perhiasannya, bersama para pengikutnya, dia berangkat dan duduk di bagian luar keramaian tersebut. Ketika dia mendengar khotbah Dhamma, semua leleran batinnya lenyap, dan dia mendapatkan buah tertinggi, mencapai tingkat kesucian Arahat.   Sang Guru, menyapa Saudagar Bhaddiya, dengan berkata, “Tuan Saudagar, putramu, dalam segala kebesarannya, telah menjadi seorang Arahat setelah mendengar khotbah-Ku; hari ini juga dia akan bertahbis menjalani kehidupan suci sebagai seorang pabbajita, atau dia akan mencapai nibbana.” “Bhante,” balasnya, “saya tidak ingin putraku mencapai nibbana. Tahbiskanlah dirinya. Setelah ini dilakukan, datanglah ke rumahku bersama dengannya besok.” Yang Terberkahi menerima undangan ini; Beliau membawa pemuda itu ke wihara, menahbiskannya. Selama satu minggu, orang tua dari pemuda itu menunjukkan keramahtamahan yang baik kepada Beliau.  Setelah berdiam selama tujuh hari, Sang Guru memulai berpindapata, dengan membawa pemuda itu bersama denganNya, tiba di sebuah desa yang bernama Koṭi . Para penduduk desa dengan baik hati memberikan dana makanan kepada Sang Buddha dan para siswa-Nya. Sehabis bersantap, Sang Guru mengucapkan terima kasih kepada mereka. Setelah itu dilakukan, pemuda itu pergi keluar dari desa, dan di satu tempat di Sungai Gangga, dia duduk di bawah pohon, masuk ke dalam jhana, dan berpikir untuk bangkit jika Sang Guru datang. Ketika para thera tua menghampirinya, dia tidak bangkit; dia bangkit begitu Sang Guru datang. Orang-orang awam (pengikut Sang Buddha lainnya yang belum mencapai kesucian) menjadi marah karena dia berkelakuan seolah-olah dirinyalah seorang bhikkhu senior, dengan tidak berdiri ketika melihat para bhikkhu senior datang menghampirinya.  Para penduduk desa membuat sebuah perahu. Setelah perahunya selesai, Sang Guru menanyakan keberadaan Bhaddaji. “Dia ada di sana, Bhante.” “Mari, Bhaddaji, naiklah ke atas perahu-Ku.” Thera itu pun naik ke atas perahu. Ketika mereka berada di tengah sungai, Sang Guru menanyakannya sebuah pertanyaan: “Bhaddaji, di manakah istanamu berada di masa pemerintahan Raja Mahāpanāda ?” “Di sini, Bhante, di bawah air sungai ini,” jawabnya. Orang-orang awam itu berkata satu sama lain, “Thera Bhaddaji sedang menunjukkan bahwa dia adalah seorang ariya!” Kemudian Sang Guru memintanya untuk menghilangkan keraguan mereka, sesama siswa.  Dalam sekejap, sang thera, setelah membungkuk memberikan hormat kepada Sang Guru, bergerak dengan kesaktiannya, mengangkat seluruh bagian istana itu di jari tangannya dan terbang di udara sambil menahan istana itu bersamanya (istana tersebut seluas dua puluh lima yojana); kemudian dia membuat lubang di bawahnya, dan menunjukkan dirinya kepada para penghuni istana tersebut di bawah, dan melemparkan bangunan itu ke atas, pertama-tama sejauh satu yojana, kemudian dua, dan tiga yojana. Kemudian orang-orang yang dahulunya menjadi sanak keluarganya, yang sekarang telah terlahir sebagai ikan atau kura-kura, ular air atau katak karena mereka terlalu terikat dengan istana tersebut, menggeliat keluar dari istana itu dan terjatuh secara berulang-ulang ke dalam air kembali. Ketika melihat ini, Sang Guru berkata, “Bhaddaji, sanak keluargamu sedang dalam masalah.” Mendengar perkataan Sang Guru, thera itu melepaskan istana tersebut, dan istana itu tenggelam masuk ke dalam tempat semula dia berada.  Sang Guru tiba di sisi Sungai Gangga. Kemudian mereka menyiapkan sebuah tempat duduk untuk Beliau, tepat di tepi sungai. Beliau duduk di tempat yang telah disiapkan tersebut, bagaikan matahari yang baru terbit mengeluarkan sinarnya. Kemudian para bhikkhu menanyakan kepada Beliau kapan Thera Bhaddaji hidup di dalam istana tersebut. Sang Guru menjawab, “Di masa pemerintahan Raja Mahāpanāda ,” kemudian menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka.

 

Dahulu kala, Suruci adalah Raja Mitthilā , yang merupakan sebuah kota di dalam Kerajaan Videha. Dia memiliki seorang putra yang bernama Suruci juga, dan putranya ini memiliki seorang putra yang bernama Mahāpanāda (Mahapanada). Merekalah yang mendapatkan kepemilikan atas istana megah tersebut. Mereka mendapatkan istana itu atas perbuatan yang mereka lakukan di kehidupan sebelumnya; seorang ayah dan anaknya membangun sebuah gubuk daun dari dedaunan dan cabang-cabang pohon elo, untuk dijadikan kediaman bagi seorang Pacceka Buddha.

 

Kelanjutan kisahnya akan diceritakan di dalam Suruci-Jātaka, Buku Keempat Belas.  Sang Guru, setelah selesai menceritakan kisah ini, dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, mengucapkan baitbait berikut:

 

Yang memiliki istana itu dahulu adalah Raja Panada,  seribu panah tingginya dan enam belas lebarnya,  seribu panah tingginya, dihiasi oleh panji-panji; seratus tingkat semuanya, semua menggunakan hijaunya batu zamrud.

 

Enam ribu pemusik berada di sekeliling,   dalam tujuh kelompok kemudian mereka bernyanyi. Seperti  yang telah dikatakan Bhaddaji, demikian dia berkata: Saya, Sakka, adalah pelayanmu, yang selalu mematuhi perintah-perintah Anda.

 

Pada masa itu, orang-orang awam tersebut menjadi tidak meragukan dirinya kembali.   Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Bhaddaji adalah Raja Panāda (Panada), dan Aku sendiri adalah Sakka.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

CULLA-PALOBHANA-JĀTAKA

“Bukan melalui laut,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal. Dia dibawa ke hadapan Sang Guru di dalam balai kebenaran, dan Beliau menanyakan kepadanya apakah benar dia menyesal. Dia menjawab, “Ya, Bhante.” “Wanita,” kata Sang Guru, “di masa lampau, bahkan membuat orang yang telah berkeyakinan menjadi berbuat buruk.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, Brahmadatta, Raja Benares, tidak memiliki anak. Dia berkata kepada ratunya, “Mari kita memohon kehadiran seorang anak.” Mereka pun melakukan persembahan dan memohon. Selang waktu berlalu lama, Bodhisatta turun dari alam brahma dan terlahir kembali di dalam kandungan sang ratu. Setelah dilahirkan, dia dimandikan dan diberikan kepada seorang pengasuh untuk merawatnya. Ketika dia menyusu, dia selalu menangis. Dia kemudian diberikan kepada pengasuh lainnya; tetapi ketika seorang wanita yang menimangnya, dia akan selalu tidak bisa tenang (diam). Oleh karena itu, dia diberikan kepada seorang pengasuh laki-laki untuk merawatnya. Ketika ingin memberinya minum susu, mereka akan memerah susu (air susu ibu) untuknya, atau mereka akan menyusuinya dari belakang sebuah layar. Bahkan ketika dia tumbuh besar, mereka tidak bisa menunjukkan seorang wanita kepada dirinya. Akhirnya raja memerintahkan untuk membangun sebuah tempat terpisah baginya untuk duduk dan lain sebagainya, dan sebuah kamar terpisah untuk meditasi, semuanya dibangun untuk dirinya sendiri.  Ketika anak itu berusia enam belas tahun, raja berpikir demikian, “Saya tidak memiliki putra yang lain selain dirinya, tetapi dia tidak menyukai kesenangan indriawi. Dia bahkan tidak memiliki keinginan untuk mengurusi kerajaan. Apalah gunanya putra yang seperti ini?”   Kala itu, terdapat seorang penari wanita muda yang sangat mahir dalam tarian, nyanyian, dan musik. Dia mampu mengendalikan laki-laki mana pun yang dijumpainya. Dia kemudian menghampiri sang raja dan menanyakan apa yang dipikirkan olehnya. Raja pun memberitahukan kepadanya. “Biarlah saya, Paduka,” katanya, “mencoba untuk mengendalikannya, saya akan membuatnya jatuh cinta kepadaku.” “Baiklah, jika Anda berhasil mengendalikan putraku yang tidak pernah bisa berhubungan dengan wanita, maka dia akan kujadikan sebagai raja dan Anda akan menjadi permaisurinya.” “Serahkan itu kepadaku, Paduka,” balasnya, “tidak perlu khawatir.” Kemudian dia mendatangi para penjaga pangeran itu dan berkata, “Di saat hari menjelang pagi, saya akan datang ke tempat pangeran tidur, dan di luar kamarnya tempat dia bermeditasi, saya akan bernyanyi. Jika dia menjadi marah, kalian harus memberitahukannya kepadaku dan saya akan pergi. Akan tetapi, jika dia mendengarkannya, pujilah diriku.” Mereka pun mengiyakannya.  Maka pada saat hari menjelang pagi, penari wanita itu datang ke tempat yang disebutkannya dan melantunkan nyanyian dengan suara semanis madu, musiknya terdengar semanis lagunya dan lagunya terdengar semanis musiknya. Sang pangeran berbaring dan mendengarkan. Keesokan harinya, pangeran memerintahkan agar penari wanita itu berdiri di tempat yang lebih dekat dan bernyanyi. Hari berikutnya, pangeran memerintahkan dia untuk berdiri di dalam kamarnya dan bernyanyi. Pada hari berikutnya lagi, pangeran memerintahkan dia untuk berdiri di hadapannya. Dan lambat laun, nafsu di dalam dirinya pun bangkit; dia menjelajahi kebenaran dunia dan mengenal nikmatnya kesenangan indriawi. “Saya tidak akan membiarkan laki-laki lain memiliki wanita ini,” demikian dia bertekad; dan dengan mengambil pedangnya, dia berlari tanpa kendali di jalanan, mengejar-ngejar orang. Raja memerintahkan pengawal untuk menangkapnya dan mengasingkannya keluar dari kerajaan bersama dengan wanita tersebut. Mereka berdua masuk ke dalam hutan, menelusuri Sungai Gangga. Di sana, pada satu sisi terdapat sungai dan pada sisi yang satunya lagi terdapat laut, mereka membangun sebuah gubuk dan tinggal di dalamnya. Wanita itu tinggal di dalam gubuk, dan memasak akar-akaran dan umbi-umbian, sedangkan Bodhisatta mengumpulkan buah-buahan dari hutan.  Pada suatu hari, ketika pangeran sedang keluar mengumpulkan buah-buahan, seorang petapa dari sebuah pulau di laut tersebut, yang sedang berkeliling meminta derma makanan, melihat asap ketika berjalan di udara melewati gubuk tersebut, dan kemudian turun di samping gubuk itu. “Duduklah terlebih dahulu sambil menunggu makanannya masak,” kata wanita itu. Kemudian daya pikat wanitanya mengusik jiwa petapa itu, menyebabkannya terputus dari jhananya, membuat satu noda dalam kesuciannya. Dan petapa itu, bagaikan seekor gagak yang patah sayapnya, tidak bisa meninggalkan diri wanita tersebut, duduk di sana seharian sampai akhirnya melihat kepulangan Bodhisatta dan kemudian lari dengan cepat ke arah laut. “Ini pasti adalah seorang musuh,” pikir pangeran itu, dan menarik pedangnya kemudian mengejarnya. Tetapi petapa tersebut, yang membuat gerakan seolah-olah dia akan terbang di udara, terjatuh ke dalam laut. Kemudian Bodhisatta berpikir, “Orang itu pasti adalah seorang petapa yang tadinya datang dengan terbang di udara; dan sekarang karena keadaan jhananya telah terputus, dia pun terjatuh ke dalam laut. Saya harus menolongnya.” Dengan berdiri di tepi laut, dia mengucapkan bait-bait berikut:

 

Bukan melalui laut, melainkan dengan kekuatan gaibmu,  Anda datang ke sini pada beberapa saat yang lalu;  sekarang dikarenakan keburukan dari wanita,  Anda telah dibuat jatuh ke dalam laut.

 

Penuh dengan tipu daya yang buruk, semuanya menipu, mereka menggoda orang-orang yang berhati murni untuk mengalami kejatuhan. Ke bawah, dan terus ke bawah mereka turun: seorang laki-laki seharusnya lari menghindari wanita di saat dia mengetahui seperti apa mereka itu.

 

Siapa saja yang mereka layani demi uang atau demi nafsu, mereka akan membakar orang itu layaknya minyak di dalam api.

 

Setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Bodhisatta, petapa itu berdiri di tengah laut, dan dengan mengembalikan keadaan jhananya, dia bangkit terbang di udara dan kembali ke kediamannya sendiri. Bodhisatta berpikir, “Petapa itu, dengan beban yang demikian berat, pergi melalui udara bagaikan sekumpulan kapas. Mengapa saya tidak seperti dirinya saja, mengembangkan jhana dan pergi dengan terbang di udara?” Maka dia kembali ke gubuknya dan menuntun wanita itu kembali di antara orang-orang lainnya, kemudian memintanya untuk pergi, sedangkan dia sendiri masuk ke dalam hutan, membangun sebuah gubuk di tempat yang menyenangkan dan menjadi seorang petapa. Dia melakukan meditasi pendahuluan kasiṇa, mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi, kemudian terlahir kembali di alam brahma.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenarannya: (Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna ): “Pada masa itu,” lanjut Beliau, “Aku sendiri adalah pemuda yang tidak bisa dekat dengan wanita itu.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

MUDU-PĀṆI-JĀTAKA

“Satu tangan yang lembut,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal. Mereka membawanya ke dalam balai kebenaran, dan Sang Guru bertanya kepadanya apakah benar dia menyesal. Dia mengiyakannya. Kemudian Sang Guru berkata, “Wahai Bhikkhu, adalah hal yang tidak mungkin menjaga wanita untuk tidak memburu nafsu mereka. Di masa lampau, bahkan orang bijak tidak mampu menjaga putrinya; selagi berdiri memegang tangan ayahnya, tanpa sepengetahuan ayahnya, dia melakukan suatu perbuatan salah dengan seorang kekasihnya.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Raja Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari permaisurinya. Setelah tumbuh dewasa, dia dididik di Takkasilā , dan sepeninggal ayahnya, dia naik takhta menjadi raja untuk menggantikannya dan memerintah kerajaan dengan benar.   Di sana tinggal bersama dengannya adalah seorang putrinya dan seorang keponakannya, keduanya bersama-sama di dalam rumah itu. Suatu hari di saat duduk bersama dengan para menterinya, raja berkata, “Sesudah saya meninggal nanti, keponakanku akan menjadi raja, dan putriku akan menjadi permaisurinya.” Setelah itu, ketika mereka berdua tumbuh dewasa, raja kembali duduk bersama para menterinya dan berkata, “Saya akan membawa putri yang lain ke rumah ini untuk keponakanku, dan putriku akan kunikahkan dengan keluarga kerajaan lainnya. Dengan cara ini, saya akan memiliki banyak relasi.” Para menteri menyetujuinya. Kemudian raja menempatkan keponakannya di sebuah rumah di luar istana dan melarang dia datang ke dalam istana.   Akan tetapi, kedua orang tersebut saling mencintai. Pemuda itu berpikir, “Bagaimana caranya agar saya bisa membawa putri raja keluar dari rumahnya?—Oh iya, saya ada ide.” Dia kemudian memberikan sesuatu kepada pengasuhnya. “Apa yang harus saya lakukan, Tuan?” tanyanya. “Begini, Bu, saya ingin mendapatkan kesempatan untuk membawa putri keluar dari istana.” “Saya akan membicarakannya dengan tuan putri,” katanya, “kemudian memberitahukannya kepadamu.” “Bagus sekali, Bu,” balasnya. Pengasuh itu pergi menjumpai putri. “Mari saya cari kutu di kepalamu,” katanya. Dia memberikan tempat duduk yang rendah kepada putri dan dia sendiri duduk di tempat duduk yang lebih tinggi, dia meletakkan kepala sang putri di pangkuannya, dan mulai mencari kutu di kepalanya, dengan menggaruk-garuk kepalanya. Sang putri mengerti keadaannya dan berpikir, “Pengasuhku ini menggaruk kepalaku dengan kuku milik saudaraku, keponakan raja, bukan dengan kuku miliknya.”—“Bu,” tanyanya, “apakah tadi Anda bertemu dengan keponakan raja?” “Ya, Putri.” “Apa yang dikatakannya?” “Dia menanyakan bagaimana dia bisa menemukan jalan untuk membawamu keluar dari istana.” “Jika dia adalah seorang yang bijak, dia pasti akan tahu caranya,” kata putri, dan dia mengucapkan bait pertama, sembari meminta pengasuhnya untuk menghafal dan mengulanginya kembali kepada keponakan raja itu:

 

Satu tangan yang lembut, seekor gajah yang terlatih dengan baik, dan awan hujan yang hitam, akan memberikan apa yang Anda inginkan.

 

Pengasuh itu menghafalnya dan kemudian kembali menjumpai keponakan raja. “Bagaimana, Bu, apa yang dikatakan oleh putri?” tanyanya. “Tidak ada, dia hanya menitipkan bait ini kepadamu,” balasnya, dan dia pun mengulanginya. Pemuda itu menerimanya dan kemudian memintanya pergi. Dia mengerti apa maksudnya. Dia mencari seorang anak laki-laki yang rupawan dan memiliki tangan yang lembut, dan mempersiapkan dirinya. Dia memberikan suap kepada penjaga gajah kerajaan, dan setelah melatih gajah tersebut untuk menjadi tenang, dia pun tinggal bersama dengannya. Kemudian pada satu malam Uposatha yang gelap, persis setelah penggal tengah malam hari, hujan turun dari awan hitam nan tebal. “Ini adalah hari yang dimaksudkan oleh putri,” pikirnya. Dia menunggangi gajah itu dan menempatkan anak tersebut di punggung gajah, kemudian berangkat. Di seberang istana dia mengikat gajahnya pada dinding besar yang ada di halaman istana, dan berdiri di depan sebuah jendela, dalam keadaan basah kuyup.  Kala itu, raja sedang mengawasi putrinya dan membuatnya tidur pada ranjang yang kecil, di hadapannya. Putri berpikir, “Hari ini pemuda itu akan datang!” dan berbaring tanpa berniat untuk tertidur.   “Ayah,” katanya, “saya ingin mandi.” Dengan memegang tangannya, raja membawanya ke jendela (kamar mandi); dia mengangkatnya dan meletakkannya pada sebuah hiasan teratai di luarnya, sembari memegang satu tangannya. Selagi mandi, putri menjulurkan satu tangannya kepada pemuda tersebut. Pemuda itu melepaskan perhiasan dari tangan sang putri dan memakaikannya ke tangan anak laki-laki yang dibawanya itu, kemudian mengangkat anak tersebut dan meletakkannya di atas hiasan teratai itu di samping sang putri. Putri mengambil tangan anak laki-laki itu dan menempatkannya ke tangan ayahnya, yang kemudian memegangnya dan melepaskan tangan putrinya. Kemudian putri itu menanggalkan perhiasan dari tangan satunya lagi dan mengenakannya ke tangan anak laki-laki yang satunya lagi, yang kemudian diletakkan ke tangan ayahnya, dan setelahnya pergi bersama pemuda tersebut. Raja pun mengira bahwa anak laki-laki itu adalah putri kandungnya. Ketika dia telah selesai mandi, raja membawanya untuk tidur di kamar tidur kerajaan, menutup pintu, dan menguncinya. Kemudian setelah menempatkan seorang penjaga, dia kembali ke kamarnya sendiri dan berbaring istirahat.   Ketika hari pagi, raja membuka pintu kamar putrinya dan dia melihat anak laki-laki itu di sana. “Apa-apaan ini?” teriaknya. Anak itu memberitahukan kepada raja tentang bagaimana sang putri melarikan diri. Raja pun menjadi lemas. “Bahkan dengan bersama dan memegang tangannya, seseorang tetap tidak bisa menjaga seorang wanita,” pikirnya, “oleh sebab itu, adalah merupakan hal yang tidak mungkin untuk menjaga wanita.” Dan dia mengucapkan bait-bait berikut:

 

Meskipun lembut tuturan katanya, tetapi wanita itu seperti sungai, sulit dipenuhi, selalu tidak puas, tidak ada yang dapat memuaskan keinginan diri mereka: Ke bawah, dan terus ke bawah mereka turun: seorang laki-laki seharusnya lari menghindari wanita di saat dia mengetahui seperti apa mereka itu.

 

Siapa saja yang mereka layani demi uang atau demi nafsu, mereka akan membakar orang itu layaknya minyak di dalam api.

 

Setelah berkata demikian, Sang Mahasatwa menambahkan, “Saya harus mendukung keponakanku.” Maka dengan kehormatan yang besar, dia memberikan putrinya kepada orang tersebut dan menjadikannya sebagai wakil raja. Dan sang keponakan mewarisi takhta kerajaan setelah pamannya wafat.

 

Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran, bhikkhu yang (tadinya) menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Pada masa itu, Aku adalah sang raja.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

PADUMA-JĀTAKA

“Potong, potong dan potong lagi,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang beberapa bhikkhu yang memberikan persembahan berupa untaian bunga untuk melakukan puja di bawah pohon Ānanda . Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Kāliṅga-BodhiJātaka. Pohon ini disebut pohon Ānanda karena Ānanda -lah yang menanamnya. Seluruh Jambudīpa (India) mengetahui bagaimana sang thera menanam pohon ini di depan gerbang Wihara Jetavana.   Beberapa bhikkhu yang tinggal di sana berpikir untuk memberikan persembahan di pohon Ānanda. Mereka pun melakukan perjalanan menuju Jetavana, memberikan salam hormat kepada Sang Guru, dan keesokan harinya langsung menuju ke Sāvatthi, ke pasar bunga teratai, tetapi tak satu pun untaian bunga mereka dapatkan. Mereka memberitahukan ini kepada Ānanda , tentang bagaimana mereka berkeinginan untuk memberikan persembahan kepada pohon tersebut, tetapi tidak mendapatkan satu untaian bunga pun di pasar bunga teratai. Sang thera kemudian mengatakan akan membawakan beberapa untaian bunga untuk mereka. Maka dia pun pergi ke pasar bunga, dan kembali dengan banyak untaian bunga teratai biru, yang kemudian diberikan kepada bhikkhu-bhikkhu tersebut. Dengan bunga-bunga itu, mereka pun melakukan puja, memberikan persembahan kepada pohon tersebut.  Ketika para bhikkhu mendengar kabar ini, mereka mulai membicarakannya di dalam balai kebenaran, “ Āvuso , beberapa bhikkhu yang memiliki sedikit jasa kebajikan tidak mampu mendapatkan satu untaian bunga pun di pasar bunga, sedangkan sang thera pergi dan mendapatkan untaian-untaian bunga yang kemudian diberikan kepada mereka.” Sang Guru berjalan masuk, dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan dengan duduk di sana. Mereka pun memberi tahu Beliau. Beliau kemudian berkata, “Para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya seorang yang memiliki lidah yang pintar mendapatkan untaian bunga atas ucapannya yang pintar, tetapi ini juga telah terjadi sebelumnya.” Dan Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang saudagar kaya. Di dalam kota tersebut terdapat sebuah kolam, yang di dalamnya ditumbuhi oleh teratai-teratai yang bermekaran. Seorang laki-laki yang telah kehilangan hidungnya, menjaga kolam tersebut.  Suatu hari, suatu perayaan diumumkan di Benares, dan ketiga putra dari saudagar kaya tersebut berpikir untuk mengenakan untaian bunga di kepala mereka dan pergi bersenang-senang. “Kita akan pura-pura memuji orang yang tak berhidung itu, kemudian meminta beberapa untaian bunga darinya.” Mereka pun pergi ke kolam tersebut. Ketika sang penjaga hendak memetik bunga-bunga teratai, mereka menunggu, kemudian salah satu dari mereka mengucapkan bait pertama berikut:

 

Potong, potong dan potong lagi,  rambut dan kumis akan tumbuh kembali;  Demikian juga hidungmu, akan tumbuh seperti ini.  Berikanlah satu teratai kepada diriku ini.

 

Penjaga tersebut menjadi marah dan tidak memberikan apa-apa kepadanya. Kemudian yang kedua mengucapkan bait kedua berikut:

 

Pada musim gugur, benih ditabur  yang kemudian akan tumbuh membesar;  Semoga demikian juga halnya dengan hidungmu.  Berikanlah satu teratai kepada diriku ini.

 

Lagi-lagi penjaga tersebut menjadi marah dan tidak memberikan apa-apa kepadanya juga. Kemudian yang ketiga mengucapkan bait ketiga berikut:

 

Orang-orang dungu yang omong kosong, berpikir mereka  dapat memperoleh bunga teratai dengan cara ini. Baik mereka mengatakan iya maupun mereka mengatakan tidak,  hidung yang terpotong tidak akan tumbuh kembali.  Lihatlah, saya meminta kepadamu dengan jujur:  Berikanlah satu teratai kepadaku.

 

Ketika mendengar ini, penjaga tersebut berkata, “Kedua orang tersebut berbohong, sedangkan Anda mengatakan yang sebenarnya. Anda berhak mendapatkan beberapa bunga teratai.” Maka dia pun memberikan kepadanya bunga-bunga teratai yang banyak, dan kemudian kembali ke danaunya.

 

Ketika uraian-Nya selesai, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran ini: “Anak yang mendapatkan bunga teratai itu adalah diri-Ku sendiri.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,
Advertisements