Category Archives: kisah jataka

HARITA-MĀTA-JĀTAKA

“Ketika saya berada di dalam jaring mereka,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Veḷuvana (Veluvana), tentang Ajātasattu (Ajatasattu).  Ketika Mahākosala , ayah Raja Kosala, menikahkan putrinya dengan Raja Bimbisāra (Bimbisara), dia memberikan sebuah desa yang terdapat di Kāsi kepada putrinya. Setelah Ajatasattu membunuh Bimbisara, ayahnya, tidak lama kemudian sang ratu juga meninggal dunia dikarenakan rasa cintanya terhadap suaminya. Bahkan sepeninggal ibunya, Ajatasattu masih menikmati upeti dari desa tersebut. Akan tetapi, Raja Kosala menyatakan bahwa seorang pembunuh yang membunuh orang tuanya sendiri tidak boleh memiliki sebuah desa, yang merupakan miliknya sebagai warisannya, dan kemudian menyatakan perang dengannya. Kadang-kadang sang paman yang memenangkan pertempuran dan kadang-kadang sang keponakan yang memenangkannya. Ketika memenangkan pertempuran, Ajatasattu mengibarkan panjinya dan berbaris masuk ke dalam kerajaannya dalam kejayaan, tetapi ketika kalah dalam pertempuran, dia kembali ke dalam kerajaannya dengan diam-diam, tanpa memberi tahu siapa pun.  Pada suatu hari, para bhikkhu duduk membicarakan masalah ini di dalam balai kebenaran. “ Āvuso , Ajatasattu bergembira ketika mengalahkan pamannya (dalam pertempuran), dan bersedih ketika mengalami kekalahan.” Sang Guru yang berjalan masuk ke dalam balai, menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. [238] Mereka memberitahukan Beliau. Beliau berkata, “Para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya orang ini bergembira ketika dia menang, dan bersedih ketika dia kalah.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor katak hijau. Pada waktu itu, orang-orang meletakkan jaring-jaring di semua lubang yang terdapat di sungai-sungai untuk menangkap ikan. Seekor ular air, yang sedang asyik memakan ikan, masuk ke dalam salah satu perangkap jaring tersebut. Sejumlah ikan berkumpul bersama dan menggigiti ular itu, sampai sekujur tubuhnya berlumuran darah. Melihat tidak ada bantuan yang bisa didapatkannya dan takut akan kematian, ular itu (menyelip) keluar dari ujung jaring, kemudian berbaring kesakitan di tepian. Pada waktu yang bersamaan, katak hijau tersebut melompat berada di depan jaring. Tidak tahu siapa yang bisa menolongnya, ular bertanya kepada katak mengenai apa yang dilihatnya di dalam jaring itu— “Teman Katak, apakah kamu senang dengan kelakukan ikanikan di sana?” dan mengucapkan bait pertama berikut:

 

Ketika saya berada di dalam jaring mereka, ikan-ikan menggigitiku. Katak hijau, apakah itu hal yang benar?

 

Kemudian katak menjawab, “Ya, itu benar. Mengapa tidak? Jika kamu memangsa ikan-ikan yang masuk ke daerah kekuasanmu, maka ikan-ikan akan memangsamu ketika kamu masuk ke daerah kekuasaan mereka. Di kediaman sendiri, di daerah kekuasaan sendiri, dan di tempat mencari makanan sendiri, tidak ada makhluk yang lemah.” Setelah berkata demikian, dia mengucapkan bait kedua berikut:

 

Orang-orang merampas ketika mereka masih mampu; Dan ketika mereka telah tidak mampu, mengapa mereka harus bersedih?

 

Setelah Bodhisatta demikian mengutarakan pendapatnya, semua ikan yang memerhatikan keadaan ular yang sudah lemah, berkata, “Mari kita habisi musuh kita!” Mereka keluar dari jaring, menggigiti ular tersebut di semua bagian sampai akhirnya dia mati, dan kemudian mereka pergi.

 

Setelah selesai menyampaikan uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“ Ajātasattu (Ajatasattu) adalah ular air, dan katak hijau adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Advertisements
Tagged ,

EKAPADA-JĀTAKA

“Beri tahukanlah kepadaku,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang saudagar.  Dikatakan bahwasanya hiduplah seorang saudagar di Sāvatthi (Savatthi). Pada suatu hari, ketika sedang duduk di pangkuannya, putranya bertanya kepadanya pertanyaan “pintu”. Dia membalas, “Pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh seorang Buddha, tidak ada orang lain yang mampu menjawabnya selain Beliau.” Maka dia membawa putranya ke Jetavana, kemudian memberi hormat kepada Sang Guru. “Bhante,” katanya, “ketika putraku duduk di pangkuanku, dia menanyakan sebuah pertanyaan ‘pintu’ kepadaku. Saya tidak mengetahui jawabannya, jadi saya membawanya ke sini untuk mendapatkan jawabannya.” Sang Guru berkata, “Upasaka, ini bukanlah pertama kalinya anak laki-laki ini mencari jalan untuk memenuhi tujuan (akhir)-nya dan menanyakan pertanyaan ini kepada orang bijak, dia juga melakukan hal yang sama sebelumnya, dan orang bijak itu telah memberikan jawaban kepada dirinya. Akan tetapi, disebabkan oleh tumpukan kelahiran yang berulang-ulang, dia pun telah melupakannya.” Atas permintaannya, Sang Guru menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadata memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang putra hartawan. Dia tumbuh dewasa, dan ketika ayahnya meninggal dunia, dia mengambil alih kedudukan ayahnya sebagai seorang hartawan. Dan putranya, seorang anak laki-laki, menanyakan kepadanya sebuah pertanyaan selagi duduk di pangkuannya. “Ayah,” katanya, “beri tahukanlah kepadaku satu hal yang mencakup berbagai macam makna,” dan mengulangi bait pertama berikut:—

 

Beri tahukanlah kepadaku satu hal yang dapat mencakup segala hal: Dengan apakah, singkatnya, kita dapat mencapai tujuan akhir kita?

 

Ayahnya menjawab dalam bait kedua berikut:—

 

Satu hal yang dapat mencakup segalanya— adalah keahlian: Ditambah dengan moralitas dan kesabaran, serta berbahagia bergaul dengan teman-temanmu dan tidak berbahagia dengan musuh-musuhmu.

 

Demikianlah Bodhisatta menjawab pertanyaan putranya. Anak laki-laki itu mengikuti jalan yang disampaikan oleh ayahnya untuk memenuhi tujuannya, dan kemudian meninggal serta menerima hasil perbuatan sesuai dengan perbuatannya.

 

Ketika uraian ini selesai disampaikan, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran, ayah dan anak itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Anak Laki-laki itu adalah orang yang sama, dan Aku sendiri adalah Hartawan Benares.

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SĀKETA-JĀTAKA

“Mengapa kadang kala,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di dekat Sāketa , tentang seorang Brahmana Sāketa . Cerita pembukanya telah dikemukakan di dalam Buku I (Ekanipāta)  … dan ketika Sang Tathāgata kembali ke kediaman-Nya, para bhikkhu bertanya, “Bagaimana (hubungan) cinta kasih terjalin, Bhante?” Dan mengulangi bait pertama berikut:

 

Mengapa kadang kala seseorang itu dingin kepada yang lainnya—Oh, Yang Terberkahi, beri tahukanlah! mengapa kadang kala seseorang itu amat hangat, menyayangi yang lainnya?

 

Sang Guru memaparkan sifat alamiah dari cinta kasih dalam bait kedua berikut:—

 

Mereka yang melatih cinta kasih di dalam kehidupankehidupan sebelumnya, bagaikan teratai di dalam kolam, maka cinta kasih itu akan bermekaran (di dalam kehidupan sekarang).

 

Setelah uraian ini selesai, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Kedua orang ini adalah sang brahmana dan istrinya, dan Aku sendiri adalah putra mereka.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

BAKA-JĀTAKA

“Lihatlah burung itu,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menipu. Ketika dia dibawa ke hadapan Sang Guru, Beliau berkata, “Para Bhikkhu, ini bukanlah pertama kalinya dia menipu, dia juga pernah melakukan hal yang sama sebelumnya.” Kemudian Beliau menceritakan kisah berikut.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor ikan, yang memiliki banyak pengikut, di sebuah kolam di daerah pegunungan Himalaya. Kala itu, seekor burung bangau merasa ingin memakan ikan. Maka di sebuah tempat dekat kolam tersebut, dia membuat kepalanya seperti dalam keadaan terkulai, membentangkan kedua sayapnya, dan menatap kosong kepada ikan-ikan, sembari menunggu saat mereka tidak terjaga. Pada waktu yang sama, Bodhisatta bersama dengan rombongannya datang ke tempat tersebut untuk mencari makan. Ketika melihatnya, rombongan ikan itu mengucapkan bait pertama berikut:

 

Lihatlah burung itu, betapa pucatnya—  seperti bunga seroja putih;  Kedua sayapnya terbentang di kiri dan di kanan—  oh, betapa tenang dan lemahnya dirinya!

 

Kemudian Bodhisatta melihatnya, dan mengucapkan bait kedua berikut:

 

Dirinya yang sebenarnya tidak kalian ketahui,

jika mengetahuinya, kalian tidak akan memuji dirinya.

Dia adalah musuh kita yang paling berbahaya;

Itulah sebabnya dia tidak menaikkan sayapnya.

 

Di sana rombongan ikan itu mengeruhkan airnya dan membuat bangau tersebut terbang pergi.

 

Setelah uraian ini selesai, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Bhikkhu yang menipu itu adalah burung bangau, dan Aku sendiri adalah raja ikan.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

VACCHA-NAKHA-JĀTAKA

“Kehidupan duniawi adalah kebahagiaan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Roja, seorang Malla. Dikatakan bahwasanya laki-laki ini, yang merupakan seorang teman perumah tangga dari Ānanda (Ananda), mengirimkan pesan kepada sang thera agar beliau datang ke tempatnya. Sang thera meminta izin dari Sang Guru, dan kemudian berangkat. Dia melayani sang thera dengan mempersembahkan beragam jenis makanan, kemudian duduk di satu sisi, sembari berbincang-bincang dengan beliau. Dia kemudian menawarkan sebagian kekayaan rumahnya kepada sang thera, menggodanya melalui lima unsur kesenangan indriawi. “Bhante Ananda, di dalam rumahku terdapat banyak kekayaan materi dan kekayaan nonmateri. Saya akan membagikan setengahnya kepada Anda; marilah kita jalani kehidupan rumah tangga di dalam rumah ini bersama!” Sang thera memaparkan kepadanya keburukan yang terdapat di dalam kesenangan indriawi, kemudian bangkit dari duduknya dan kembali ke wihara.

 

Ketika Sang Guru menanyakan kepadanya apakah dia telah bertemu dengan Roja, dia menjawab bahwa dia telah bertemu dengannya. “Apa yang dikatakannya kepadamu?” “Bhante, Roja menawarkan kepadaku untuk kembali menjalani kehidupan duniawi; kemudian saya memaparkan kepadanya tentang keburukan yang terdapat di dalam kehidupan duniawi dan juga di dalam kesenangan indriawi.” Sang Guru berkata, “Ananda, ini bukan pertama kalinya Roja, si Malla, menawarkan kepada seorang pabbajita (petapa) untuk kembali menjalani kehidupan duniawi, dia juga melakukan hal yang sama sebelumnya.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau atas permintaan sang thera.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, Bodhisatta terlahir di dalam sebuah keluarga brahmana yang tinggal di sebuah desa niaga. Ketika dewasa, dia menjalani kehidupan suci sebagai seorang pabbajita (petapa), dan tinggal di daerah pegunungan Himalaya dalam waktu yang lama.  Kemudian dia pergi ke Benares untuk mendapatkan garam dan cuka (bumbu-bumbu lainnya), bermalam di taman milik raja, masuk ke dalam Kota Benares pada keesokan harinya.  Kala itu, seorang hartawan di kota tersebut yang merasa senang dengan kelakuannya, membawanya ke rumahnya, mempersembahkan makanan kepadanya, dan setelah mendapatkan persetujuan darinya, dia memintanya untuk tinggal di dalam taman dan melayani segala kebutuhannya. Persahabatan pun kemudian terjalin di antara mereka.

 

Suatu hari, disebabkan oleh cinta kasih dan persahabatannya terhadap Bodhisatta, hartawan itu berpikir di dalam dirinya, “Kehidupan pabbajita adalah penderitaan. Saya akan membujuk sahabatku, Vacchanakha, si petapa pengembara, untuk kembali menjalankan kehidupan duniawi; saya akan membagi kekayaanku menjadi dua bagian dan memberikan satu bagian kepadanya, kemudian kami berdua akan tinggal bersama.” Maka pada suatu hari, setelah selesai bersantap, dia berbicara dengan baik kepada sahabatnya dan berkata, “Bhante Vacchanakha, kehidupan pabbajita adalah penderitaan, kehidupan duniawi adalah kebahagiaan. Marilah kita berdua jalani kehidupan duniawi, menikmati kesenangankesenangan sesuka hati kita.” Setelah berkata demikian, dia mengucapkan bait pertama berikut:

 

Kehidupan duniawi adalah kebahagiaan,  penuh dengan makanan, penuh dengan kekayaan; Di dalam kehidupan duniawi, Anda akan mendapatkan segalanya—makan dan minum sesuka hati.

 

Ketika mendengar perkataannya, Bodhisatta membalas, “Tuan Hartawan, disebabkan oleh ketidaktahuan, Anda telah menjadi serakah di dalam kesenangan indriawi, mengatakan bahwa kehidupan pabbajita adalah penderitaan dan kehidupan keduniawian adalah kebahagiaan. Sekarang dengarkanlah, saya akan memberitahukan kepadamu betapa buruknya kehidupan duniawi itu,” dan dia mengucapkan bait kedua berikut:

 

Dia yang menjalani kehidupan duniawi tidak pernah mengetahui apa itu kedamaian, dia berbohong dan menipu, dia harus menghadapi banyak kejadian yang tidak menyenangkan dari orangorang: Tidak ada yang dapat mengobati keburukan ini: Kalau begitu, siapakah yang berminat untuk menjalani kehidupan duniawi?

 

Dengan kata-kata demikian Sang Mahasatwa memberitahukan keburukan dari kehidupan duniawi. Kemudian dia pergi kembali ke dalam taman.

 

Setelah uraian ini selesai disampaikan, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Roja adalah hartawan, dan Aku adalah Petapa Pengembara Vacchanakha.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

ASITĀBHŪ-JĀTAKA

“Sekarang nafsu telah tiada,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang gadis.  Dikatakan bahwasanya di Sāvatthi, di dalam sebuah keluarga yang menopang kehidupan dua orang siswa utama ( aggasāvaka ) Sang Buddha, terdapat seorang gadis yang berparas elok dan bersinar cemerlang. Ketika dewasa, dia dinikahkan kepada sebuah keluarga yang sama baiknya dengan keluarganya sendiri. Suaminya, tanpa mengatakan apa pun kepada siapa pun, selalu pergi bersenang-senang sendiri ke mana saja sesuka hatinya. Sang istri tidak memedulikan perlakuan suaminya yang tidak menunjukkan rasa hormat itu; dia mengundang kedua siswa utama Sang Buddha, memberikan dana kepada mereka, mendengarkan khotbah Dhamma dari mereka, sampai kemudian dia mencapai tingkat kesucian Sotāpanna (Sotapanna). Setelahnya, dia melewati hari-harinya dalam kebahagiaan ‘jalan’ dan ‘buah’ ( maggaphalasukha ). Akhirnya, dengan berpikir bahwa suaminya tidak memerlukan dirinya, tidak ada gunanya dia ada di dalam kehidupan rumah tangganya, dia pun bertekad untuk menjalani kehidupan suci sebagai seorang pabbajita. Dia memberitahukan rencana ini kepada orang tuanya, menjalankannya, dan kemudian menjadi seorang Arahat.  Cerita mengenai dirinya ini tersebar luas sampai terdengar oleh para bhikkhu. Suatu hari mereka membicarakan masalah ini di dalam balai kebenaran, “ Āvuso , seorang putri dari keluarga anu berusaha untuk mencapai kebaikan tertinggi. Mengetahui suaminya tidak memedulikan dirinya, dia tetap memberikan dana kepada dua siswa utama, mendengarkan khotbah Dhamma dari mereka, dan mencapai tingkat kesucian Sotāpanna ; dia meminta izin kepada orang tuanya, menjalani kehidupan suci sebagai seorang petapa, dan akhirnya mencapai tingkat kesucian Arahat. Demikianlah, Āvuso , gadis itu berusaha untuk mencapai kebaikan tertinggi.”  Ketika sedang berbicara demikian, Sang Guru (berjalan) masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka memberitahukan Beliau. Beliau berkata, “Ini bukan pertama kalinya, Para Bhikkhu, dia berusaha mencapai kebaikan tertinggi; dia juga pernah melakukannya di kehidupan sebelumnya.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah sebagai Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang petapa di daerah pegunungan Himalaya, yang telah mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi. Raja Benares, yang memerhatikan betapa besar kejayaan yang dimiliki oleh putranya, Pangeran Brahmadatta, dipenuhi dengan rasa curiga dan mengusir putranya keluar dari kerajaan.

 

Pemuda itu bersama dengan istrinya, Asitābhū (Asitabhu), pergi ke Himalaya, membangun sebuah gubuk daun sebagai tempat tinggal mereka, (hidup dengan) memakan ikan, daging dan buah-buahan. Dia melihat seorang kinnara151 dan menjadi terpikat pada dirinya. “Akan kujadikan dia sebagai istriku!” katanya, dan tanpa memikirkan Asitabhu, dia pun mengikuti jejaknya. Istrinya yang mengetahui dirinya pergi untuk mengejar kinnara tersebut menjadi marah. “Orang itu tidak memedulikan diriku,” pikirnya, “apalah peduliku kepadanya?” Kemudian dia datang ke tempat Bodhisatta dan memberikan penghormatan kepadanya. Dia mempelajari meditasi pendahuluan kasiṇa, dan dengan memerhatikan meditasi kasiṇa itu, dia berhasil mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi. Kemudian dia berpamitan kepada Bodhisatta, pulang kembali ke kediamannya, dan berdiri di depan pintu gubuknya.  Pangeran Brahmadatta yang mengikuti jejak kinnara itu  tidak dapat menemukan ke mana perginya sang kinnara. Dia kemudian mengurungkan niatnya dan pulang kembali ke gubuknya. Melihatnya pulang kembali, Asitabhu terbang melayang di udara. Dengan posisi duduk demikian melayang di udara seperti pada sebuah alas yang memiliki warna batu permata, dia berkata kepadanya, “Suamiku, disebabkan oleh dirimulah saya mendapatkan kebahagiaan dalam jhāna (jhana) ini.” Kemudian dia mengucapkan bait pertama berikut:

 

Sekarang nafsu (kesenangan indriawi) telah tiada,  dan berakhir, berkat dirimu:  Seperti gading gajah, sekali terpotong,  tidak ada yang mampu menyatukannya kembali.

 

Setelah berkata demikian, di saat suaminya masih melihat dirinya, dia bangkit dan pergi ke tempat lain. Setelah dia pergi, suaminya mengucapkan bait kedua berikut, sembari meratap:

 

Keserakahan yang tidak diam pada satu tempat,  nafsu, yang membingungkan semua indra,  menghilangkan kebaikan dari diri kita,  seperti sekarang ini diriku yang kehilangan seorang istri.

 

Setelah demikian meratap, dia tinggal sendirian di dalam hutan, dan ketika ayahnya meninggal dunia, dia naik takhta menggantikannya.

 

Setelah uraian ini selesai, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Kedua orang ini adalah pangeran dan istrinya, dan Aku sendiri adalah sang petapa.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

VIKAṆṆAKA-JĀTAKA

“Panah itu masih berada di punggungmu,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal. Dia dibawa ke dalam balai kebenaran dan ditanya apakah benar bahwasanya dia menyesal, yang kemudian diakuinya. Ketika ditanyakan alasannya, dia menjawab, “Disebabkan oleh nafsu kesenangan indriawi.” Sang Guru berkata, “Kesenangan indriawi itu bagaikan panah berduri di kedua ujungnya untuk mendapatkan tempat di dalam batin. Sekali berada di sana, dia akan membunuh, seperti panah berduri yang membunuh buaya.” Kemudian Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala Bodhisatta terlahir sebagai Raja Benares, dan dia menjadi seorang raja yang baik. Suatu hari, dia pergi ke tepi sebuah danau yang berada di dalam tamannya. Para pelayan pun mulai menari dan menyanyi. Beragam jenis ikan dan kura-kura, yang hendak mendengar nyanyian tersebut, berkumpul bersama dan menghampiri sisi raja. Ketika melihat sekumpulan ikan yang panjangnya bagaikan sebatang pohon lontar, raja bertanya kepada menteri-menterinya, “Mengapa ikanikan ini menghampiriku?”  Mereka menjawab, “Mereka melakukan itu untuk memberikan pelayanan kepada raja.”

 

Raja menjadi senang mendengar bahwa mereka datang untuk memberikan pelayanan kepadanya, dan memerintahkan agar mereka diberikan nasi (makanan) setiap hari secara teratur. Pada waktu pemberian makan, sebagian ikan datang dan sebagian lagi tidak datang, makanannya pun menjadi ada yang terbuang. Mereka memberitahukan ini kepada raja. “Mulai saat ini,” kata raja, “pada saat pemberian makan, tabuhlah genderang. Ketika genderang ditabuh, ketika ikan-ikan telah berkumpul, barulah berikan makanan kepada mereka.” Sejak saat itu, pengawal yang memberi makan kepada ikan-ikan tersebut meminta orang untuk menabuh genderang, dan ketika mereka telah berkumpul bersama, barulah dia memberikan makanan kepada mereka. Di saat mereka berkumpul demikian untuk makan, seekor buaya datang dan memangsa sebagian ikan tersebut. Pengawal yang memberi makan itu memberitahukan kejadian tersebut kepada raja. Raja mendengarkannya. “Ketika buaya itu sedang memangsa ikan-ikan,” kata raja, “tusuklah dia dengan sebuah panah berduri dan tangkaplah dia.” “Baik,” kata pengawal. Dan dia pun pergi dengan sebuah perahu. Segera setelah buaya itu datang untuk memangsa ikan-ikan, dia menusuknya dengan sebatang panah. Panah itu tertancap di punggungnya. Kesakitan karena panah tersebut, buaya pun pergi dengan membawa panahnya. Mengetahui bahwa dia terluka, pengawal mengucapkan bait berikut:

 

Panah itu masih berada di punggungmu, pergilah ke mana saja sesuka hatimu.

 

Tabuhan genderang, yang memanggil ikan-ikanku untuk datang makan, telah membuat dirimu, yang mengejar keserakahan, berada di tempat yang membawa penderitaan bagimu.

 

Sesampainya di sarangnya, buaya itu pun akhirnya mati.

 

Untuk menjelaskan ini, Sang Guru yang sempurna kebijaksanaan-Nya, mengucapkan bait berikut:

 

Demikianlah ketika dunia ini menggoda siapa saja untuk berbuat buruk, dia yang tidak tahu akan peraturan, hanya mengikuti keinginan hatinya saja, akan mati di antara sanak keluarganya,  seperti buaya yang memangsa ikan-ikan tersebut.

 

Ketika uraian ini selesai, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran-Nya:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang (tadinya) menyesal mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Pada masa itu, Aku adalah Raja Benares.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

VĪṆĀ-THŪṆA-JĀTAKA

“Pemikiranmu sendiri,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang gadis.  Dia adalah putri semata wayang dari seorang saudagar kaya di Sāvatthi (Savatthi). Dia memerhatikan bahwa di rumah ayahnya, suatu kehebohan terjadi karena seekor sapi, dan menanyakan kepada perawatnya apa yang sebenarnya terjadi. “Apakah itu, Bu, yang diberikan kehormatan demikian?” Perawat tersebut menjawab bahwa itu adalah seekor raja sapi.  Suatu hari ketika sedang melihat ke arah jalan dari lantai atas rumahnya, dia melihat seorang pemuda bungkuk. Dia berpikir, “Di dalam keturunan sapi, pemimpinnya memiliki tonjolan. Pastilah ini juga sama halnya dengan manusia. Dia pasti adalah seorang manusia pemimpin, saya harus menjadi pengikut setianya.” Maka dia mengutus pelayannya untuk mengatakan bahwa seorang putri saudagar ingin menjadi pasangannya, dan memintanya untuk menunggu dirinya di suatu tempat. Dia kemudian mengumpulkan semua hartanya, dan dalam samaran, meninggalkan rumah, pergi bersama pemuda bungkuk tersebut.  Kejadian ini kemudian tersebar luas di seluruh kota dan diketahui oleh para bhikkhu. Di dalam balai kebenaran, para bhikkhu membicarakannya, “ Āvuso , ada seorang putri saudagar yang kabur bersama seorang pemuda bungkuk!” Sang Guru berjalan masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka pun memberi tahu Beliau. Beliau membalas, “Ini bukan pertama kalinya, Para Bhikkhu, gadis itu jatuh cinta dengan seorang pemuda bungkuk. Dia juga melakukan yang sama sebelumnya.” Dan Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, Bodhisatta terlahir di dalam sebuah keluarga saudagar kaya yang bertempat tinggal di sebuah desa niaga. Ketika dewasa, dia hidup sebagai seorang perumah tangga dan memiliki banyak putra dan putri. Untuk istri putranya, dia memilih putri dari seorang penduduk kaya di Benares, dan menentukan harinya.  Kala itu, gadis tersebut melihat di dalam rumahnya kehormatan yang besar diberikan kepada seekor sapi. Dia bertanya kepada perawatnya, “Apakah itu?”—“Seekor raja sapi,” jawabnya. Setelah itu, gadis tersebut melihat seorang pemuda bungkuk berjalan. “Dia pasti seorang manusia pemimpin!” pikirnya. Dengan mengambil semua barang berharganya yang diletakkan di dalam satu bundelan, dia pun pergi bersama dengan pemuda tersebut.  Pasangan itu berjalan di sepanjang jalan sepanjang malam. Sepanjang malam pemuda bungkuk itu diserang oleh rasa haus; dan pada saat matahari terbit, dia diserang oleh rasa sakit pada perutnya, rasa sakit yang hebat menyerang dirinya. Dia pun berhenti berjalan, menjadi pusing oleh rasa sakitnya dan terbaring, seperti sebatang kecapi yang rusak dikumpulkan bersama; gadis itu juga duduk di dekat kakinya. Bodhisatta melihatnya duduk di dekat kaki pemuda bungkuk itu dan kemudian mengenali dirinya. Dia menghampirinya, berbicara kepadanya dengan mengulangi bait pertama berikut:

 

Pemikiranmu sendiri! Orang dungu ini tak dapat  bergerak tanpa bantuan, orang bungkuk ini tidaklah cocok bagimu untuk bersanding dengannya.

 

Mendengar perkataannya, gadis itu menjawab dengan bait kedua berikut:

 

Kupikir si bungkuk ini adalah manusia pemimpin,  dan mencintainya atas kehormatannya itu, dia, yang seperti sebatang kecapi rusak dikumpulkan bersama, terbaring di tanah.

 

Dan ketika menyadari bahwa putrinya mengikuti pemuda bungkuk itu dalam samaran, Bodhisatta memintanya untuk mandi, berhias diri dan membawanya naik ke dalam kereta, kemudian pulang kembali ke rumah.

 

Ketika uraian ini selesai, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Gadis dalam kisah ini adalah gadis yang sama tadi dalam pembicaraan, dan Saudagar Benares adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

UPĀHANA-JĀTAKA

“Seperti ketika sepasang sepatu,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Veḷuvana (Veluvana), tentang Devadatta. Para bhikkhu berkumpul bersama di dalam balai kebenaran dan mulai membicarakan masalah tersebut. “ Āvuso, setelah mengingkari gurunya dan menjadi musuh dan lawan dari Sang Tathāgata, akhirnya Devadatta mendapatkan kehancuran.” Sang Guru berjalan masuk, dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan dengan duduk di sana. Mereka pun memberitahukannya kepada Beliau. Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya Devadatta mengingkari gurunya, dan menjadi musuh-Ku, kemudian mendapatkan kehancuran. Hal yang sama juga pernah terjadi sebelumnya.” Kemudian Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah sebagai Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang pawang gajah. Ketika dewasa, dia diajari semua keahlian untuk menjinakkan gajah. Kala itu, seorang pemuda dari Kāsi (Kasi) datang kepadanya dan diajari olehnya. Ketika seorang calon Buddha mengajarkan sesuatu, dia tidak akan memberikan hanya sebagian dari keahliannya, melainkan dia akan memberikan sesuai dengan semua keahlian yang dimilikinya, tanpa menyimpan satu keahlian pun (dari muridnya). Oleh sebab itu, pemuda tersebut mempelajari semua keahlian Bodhisatta, tanpa kekurangan apa pun. Setelah mempelajari semuanya, dia berkata kepada gurunya: “Guru, saya akan bekerja untuk melayani raja.”  “Bagus, Muridku,” jawabnya. Dia pun pergi menghadap kepada raja dan memberi tahu raja bahwa seorang muridnya ingin bekerja untuknya. Raja berkata, “Bagus, persilakanlah dia bekerja untukku.” “Kalau begitu, apakah Paduka tahu berapa besar bayaran yang akan diberikan kepadanya?” tanya Bodhisatta.  “Seorang murid tentu tidak akan mendapatkan sebanyak yang gurunya dapatkan. Jika Anda mendapatkan seratus, maka dia akan mendapatkan lima puluh; jika Anda mendapatkan dua, maka dia akan mendapatkan satu.” Kemudian Bodhisatta pulang dan memberi tahu muridnya. “Guru,” kata pemuda itu, “semua keahlian telah kupelajari, satu per satu. Jika saya mendapatkan bayaran yang sama seperti dirimu, saya akan bekerja untuk raja. Jika tidak, saya tidak akan bekerja untuk raja.” Dan Bodhisatta memberitahukan ini kepada raja.  Raja berkata, “Jika pemuda itu mampu melakukan hal yang sama dengan Anda, jika dia mampu menunjukkan keahlian yang sama dengan keahlianmu, dia akan mendapatkan bayaran itu.” Bodhisatta kemudian memberitahukan ini kepada muridnya, dan muridnya menjawab, “Baiklah, akan kulakukan.” Raja kemudian berkata, “Besok, tunjukkanlah keahlian kalian.”

 

“Baiklah, buatlah pengumuman dengan tabuhan genderang.” Raja pun meminta pengawalnya untuk mengumumkannya, “Besok, seorang guru dan seorang murid akan menunjukkan keahlian mereka dalam menjinakkan gajah. Bagi mereka yang ingin menyaksikannya, silakan berkumpul di halaman istana.”  “Muridku,” pikir sang guru di dalam hatinya, “tidak mengetahui seluruh kemampuanku.” Kemudian dia memilih seekor gajah dan, dalam waktu satu malam, melatihnya untuk melakukan segala perintah secara berlawanan. Dia melatihnya untuk mundur ketika diperintahkan untuk maju, maju ketika diperintahkan untuk mundur; berbaring ketika diperintahkan untuk bangkit, bangkit ketika diperintahkan untuk berbaring; membuang ketika diperintahkan untuk mengambil, dan mengambil ketika diperintahkan untuk membuang.  Keesokan harinya, dengan naik di punggung gajahnya, dia datang ke halaman istana. Dan muridnya juga berada di sana, di punggung seekor gajah yang anggun. Terdapat banyak orang di sana. Mereka berdua menunjukkan keahlian  mereka. Tetapi Bodhisatta telah membuat gajah muridnya tersebut melakukan perintah secara berlawanan; “Maju!” kata muridnya, gajah itu berjalan mundur; “Mundur!” Gajah itu berjalan maju; “Berdiri!” Gajah itu berbaring; “Berbaring!” Gajah itu berdiri; “Ambil itu!” Gajah itu membuangnya; “Buang itu!” Gajah itu mengambilnya. Dan orang-orang berteriak, “He, Murid yang Buruk, janganlah meninggikan nada suaramu ketika berhadapan dengan gurumu! Kamu tidak mengetahui kemampuan dirimu sendiri dan berpikir bahwa dirimu sebanding dengan dirinya!” Dan mereka menyerangnya dengan gumpalan tanah dan kayu, sampai dia meninggal di sana. Bodhisatta turun dari gajahnya, menghampiri raja, dan berkata demikian kepadanya, “Oh Paduka, demi diri mereka sendiri, orang-orang datang untuk mendapatkan pelajaran, tetapi ada satu orang yang pelajarannya itu membuatnya mendapatkan kehancuran, seperti sepatu yang dibuat dengan salah,” dan dia mengucapkan dua bait berikut:—

 

Seperti ketika sepasang sepatu yang dibeli seseorang untuk mendapatkan bantuan dan kenyamanan,  tetapi malah menyebabkan penderitaan, menggosok kaki sampai kepanasan dan membuatnya kian hari kian bertambah lukanya:

 

Demikianlah seorang jahat yang tidak mulia, setelah mempelajari semua yang mampu dipelajarinya darimu, menjadi orang yang ingin melukaimu: Orang yang tidak mulia itu sama seperti sepatu yang dibuat dengan salah.

 

Raja menjadi bersukacita, dan memberikan banyak kehormatan kepada Bodhisatta.

 

Ketika uraian ini selesai, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka, “Devadatta adalah murid, dan Aku sendiri adalah guru.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

DUTIYA-PALĀYI-JĀTAKA

“Panji-panjiku tak terhitung,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang petapa pengembara yang melarikan diri. Kala itu, dikelilingi oleh rombongan orang banyak, duduk pada tempat duduk kebenaran ( dhammāsana ), di permukaan berwarna merah, Sang Guru memaparkan khotbah Dhamma, seperti seekor singa yang mengaum mengeluarkan suara singa. Petapa pengembara itu, yang melihat rupa Sang Buddha seperti Brahma, wajah-Nya seperti bulan purnama yang bercahaya, kening-Nya seperti papan emas, berbalik arah dari tempat dia datang di tengah-tengah rombongan dan melarikan diri, seraya berkata, “Siapa yang mampu mengalahkan orang seperti ini?”

 

Orang-orang pergi mengejarnya, kemudian kembali dan memberi tahu Sang Guru. Beliau berkata, “Ini bukan pertama kalinya petapa pengembara ini bergegas kabur ketika melihat rupa keemasan-Ku, dia juga melakukan hal yang sama sebelumnya.” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, Bodhisatta terlahir sebagai raja di Benares, dan di Takkasila terdapat seorang Raja Gandhāra . Raja ini, yang berkeinginan untuk menguasai Benares, pergi dan mengepung kota tersebut dengan empat kelompok pengawal. Setelah mengambil posisi di depan gerbang kota, dia melihat ke arah pasukannya dan berkata, “Siapa yang mampu mengalahkan pasukan yang hebat seperti ini?” Dan untuk menguraikan pasukannya, dia mengucapkan bait pertama berikut:—

 

Panji-panjiku tak terhitung jumlahnya:  mereka tidak memilikinya: Kawanan burung (gagak) tidak mampu menenangkan lautan yang bergejolak— pun badainya tidak mampu menghancurkan gunung:— Oleh karena itu, tidak ada siapa pun yang mampu mengalahkan diriku.

 

Kemudian Bodhisatta menunjukkan penampilannya yang berjaya, bagaikan bulan purnama yang bercahaya; dan untuk mengecamnya, berkata demikian: “Orang Dungu, berbicara tidak ada manfaatnya! Sekarang saya akan menghancurkan pasukanmu, seperti seekor gajah mabuk menghancurkan belukar!” Dan dia mengulangi bait kedua berikut:

 

Orang Dungu, belum pernahkah Anda menemukan lawan tanding? Anda sakit panas jika ingin melukai gajah liar  seperti diriku ini! Seperti gajah-gajah yang menghancurkan batang-batang belukar, demikianlah juga akan kuhancurkan dirimu!

 

Ketika mendengarnya mengecam demikian, Raja Gandhāra menoleh ke atas dan melihat keningnya yang lebar seperti papan emas. Karena merasa takut dirinya akan tertangkap, dia pun berbalik arah dan melarikan diri, kembali ke kotanya sendiri.

 

Setelah uraian ini selesai, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Petapa pengembara itu adalah Raja Gandhāra , dan Raja Benares adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,
Advertisements