Category Archives: kisah jataka

PAṆṆIKA-JĀTAKA

“Ia yang seharusnya memberikan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, Suttapiṭaka Jātaka I mengenai seorang upasaka penjual sayuran di Sawatthi, yang memperoleh nafkah dengan menjual bermacam-macam akar tanaman dan sayuran, labu dan sejenisnya. Ia mempunyai seorang putri yang baik, suci, dan cantik, namun ia selalu tertawa. Saat ia dilamar untuk menikah oleh sebuah keluarga dengan lingkungan yang sama, ayahnya berpikir, “Ia harus

menikah, namun ia selalu tertawa; dan seorang gadis yang tidak baik dinikahkan ke dalam sebuah keluarga yang asing akan membuat malu orang tua gadis tersebut. Saya harus memastikan apakah ia gadis yang baik atau bukan.”

Maka suatu hari ia meminta putrinya membawa sebuah keranjang dan ikut bersamanya ke hutan untuk mencari tanaman (herba). Untuk menguji putrinya, ia menggandeng tangan anaknya sambil membisikkan kata-kata cinta. Gadis itu langsung meledak dalam tangisan dan mulai berseru bahwa hal seperti itu sangat mengerikan seperti api yang menyala di atas air, dan memohon ayahnya untuk menahan diri. Ayahnya mengatakan bahwa ia hanya bermaksud untuk mengujinya, dan mencari tahu apakah ia masih suci. Gadis itu menyatakan bahwa ia masih suci dan ia tidak pernah menatap pria (lain) dengan tatapan penuh cinta. Setelah menenangkan putrinya yang ketakutan, ia pun membawanya pulang ke rumah, dan menyelenggarakan jamuan makan serta menikahkan putrinya. Kemudian ia merasa ingin pergi untuk memberi hormat pada Sang Guru; ia membawa wewangian dan untaian bunga di tangan dan pergi ke Jetawana.

Setelah selesai memberikan penghormatan dan persembahan, ia mengambil tempat duduk di dekat Sang Guru, yang memperhatikan bahwa telah lama ia absen sejak kedatangannya Suttapiṭaka Jātaka I yang terakhir. Lelaki itu kemudian menceritakan seluruh kejadian itu kepada Sang Bhagawan.

“Ia selalu merupakan gadis yang baik,” kata Sang Guru.

“Engkau mengujinya di saat ini sama seperti yang engkau lakukan di kehidupan yang lampau.” Kemudian, atas permohonan penjual sayuran itu, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares [412], Bodhisatta terlahir sebagai dewa pohon di sebuah hutan.

Seorang upasaka penjual sayuran di Benares meragukan putrinya dengan cara yang sama, dan semuanya terjadi sama seperti pada cerita pembuka di atas. Saat ayahnya menggenggam tangannya, gadis yang menangis itu mengulangi syair berikut ini: —

Ia yang seharusnya memberikan perlindungan bagiku,

ayahku, melakukan perbuatan salah ini kepadaku;

Di dalam hutan lebat ini saya sedih dan menangis,

pelindungku ternyata menjadi musuhku sendiri.

Kemudian ayahnya menenangkan rasa takutnya, dan bertanya apakah ia masih suci. Setelah ia mengatakan ia masih suci, kemudian ayahnya membawanya pulang ke rumah dan mengadakan jamuan makan untuk menikahkan gadis tersebut.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru membabarkan Empat Kebenaran Mulia dan pada akhir khotbah, penjual Suttapiṭaka Jātaka I sayuran itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna. Kemudian Beliau menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Ayah dan anak di masa ini merupakan ayah dan anak dalam kisah tersebut, dan saya adalah dewa pohon yang menjadi saksi kejadian tersebut.”

[Catatan : Bandingkan No.217]

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

PAROSATA-JATAKA

Jauh lebih baik dari seratus orang bodoh, walaupun mereka berpikir keras selama seratus tahun tiada henti, adalah satu orang yang, dengan mendengar (baik-baik), langsung mengerti.

[411] Kisah ini hampir sama dengan kisah dalam Parosahassa-Jātaka (No.99), dengan satu-satunya perbedaan adalah ‘berpikir keras’ yang dapat dibaca di sini.

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

ASĀTARŪPA-JĀTAKA

“Dalam samaran kegembiraan,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Kuṇḍadhānavana dekat Kota Kuṇḍiya mengenai Suppavāsā, seorang upasika yang merupakan putri dari Raja Koliya. Pada saat itu, ia mengandung seorang anak selama tujuh tahun dalam kandungannya, selama tujuh hari waktu persalinannya disiksa oleh rasa sakit akan melahirkan, penderitaannya sangat memilukan hati. Diluar penderitaannya, ia berpikir sebagai berikut, “Bhagawan, Yang Tercerahkan Sempurna, membabarkan Dhamma sehingga

akhirnya penderitaan ini mungkin akan terhenti; Kebajikan adalah sifat utama Sang Bhagawan yang dijalankan-Nya, sehingga akhirnya penderitaan ini mungkin dapat berhenti; Terberkahi adalah nibbana, di saat penderitaan seperti ini bisa terhenti.”

Ketiga pemikiran ini merupakan penghiburan baginya dalam kesakitannya. Dan ia mengirim suaminya menemui Sang Buddha untuk menyampaikan keadaannya dan untuk menyampaikan sebuah salam darinya.

Pesannya disampaikan kepada Sang Bhagawan, yang berkata, [408] “Semoga Suppavāsā, putri Raja Koliya, menjadi sehat dan kuat kembali, dan melahirkan seorang bayi yang sehat.” Dengan kata-kata dari Sang Bhagawan, Suppavāsā, putri Raja Koliya, menjadi sehat dan kuat, dan melahirkan seorang bayi yang sehat. Saat kembali, suaminya mendapatkan istrinya telah melahirkan dengan selamat, suaminya menjadi kagum dengan kekuatan yang agung dari Sang Buddha. Setelah anaknya lahir, Suppavāsā sangat ingin mempersembahkan

hadiah selama tujuh hari kepada para bhikkhu dengan Buddha sebagai guru mereka, dan mengirim suaminya lagi untuk mengundang mereka. Pada waktu yang sama, Sanggha dengan Buddha sebagai pemimpin mereka telah menerima undangan dari seorang umat awam yang menyokong Thera Moggallāna Yang Agung; namun, Sang Guru, yang ingin memenuhi permintaan Suppavāsā dalam memberikan dana (makanan), mengutus sang thera untuk menjelaskan masalah tersebut, dan bersama Sanggha menerima undangan makan dari Suppavāsā selama tujuh hari. Pada hari ketujuh ia mendandani bayi kecilnya, yang bernama Sīvali, dan membuat putranya membungkuk di depan Buddha dan Sanggha. Saat bayi itu dibawa untuk melakukan hal yang sama pada Sāriputta, thera itu dengan penuh keramahan menyapa bayi tersebut, berkata, “Baiklah, Sīvali, apakah engkau sehat-sehat saja?” “Bagaimana mungkin, Bhante?” jawab bayi itu. “Selama tujuh tahun yang panjang saya harus bermandikan darah.”

Dengan gembira Suppavāsā berseru, “Anakku, yang hanya berusia tujuh hari, berbincang-bincang mengenai keyakinan dengan Thera Sāriputta, sang Panglima Dhamma!”

“Maukah engkau memiliki anak lagi yang seperti ini?” tanya Sang Guru. “Mau, Bhante,” jawab Suppavāsā, “tujuh anak lagi, jika saya bisa mendapatkan anak yang seperti ini.” Dengan kata-kata yang khidmat Sang Guru mengucapkan terima kasih atas keramahan Suppavāsā dan pergi dari sana.

Pada usia tujuh tahun Sīvali menyerahkan diri pada ajaran Buddha, dan meninggalkan keduniawian untuk bergabung dalam Sanggha; pada usia dua puluh tahun ia telah menjadi bhikkhu. Ia penuh dengan kebaikan dan mendapatkan berkah kebaikan berupa tingkat kesucian Arahat, bumi bersorak dalam kebahagiaan. Suatu hari, para bhikkhu berkumpul di Balai Kebenaran membicarakan hal tersebut, berkata, “Thera Sīvali, yang sekarang begitu bersinar, adalah seorang anak yang sering didoakan; selama tujuh tahun ia berada dalam kandungan dan proses kelahirannya memakan waktu tujuh hari. Betapa hebatnya rasa sakit yang dialami oleh ibu dan anak itu! Karena melakukan apakah mereka mengalami penderitaan seperti itu?”

Masuk ke dalam balai itu, Sang Guru menanyakan topic pembicaraan mereka. “Para Bhikkhu,” kata Beliau, “Sīvali yang penuh kebaikan [409] dikandung selama tujuh tahun dan proses kelahirannya berlangsung selama tujuh hari lamanya adalah karena perbuatannya sendiri di kehidupan yang lampau. Demikian juga dengan Suppavāsā yang mengandung selama tujuh tahun dan melahirkan setelah tujuh hari adalah akibat perbuatannya sendiri di kehidupan yang lampau.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah putra mahkota, ia tumbuh dewasa dan mendapat pendidikan di Takkasilā, dan setelah ayahnya meninggal ia menjadi seorang raja dan memerintah dengan penuh keadilan. Pada masa itu, Raja Kosala datang dengan kekuatan yang hebat untuk berperang dengan Benares, dan membunuh raja serta mengambil Ratu Benares menjadi istrinya.

Saat raja dibunuh, putranya melarikan diri melalui selokan. Setelah itu ia mengumpulkan kekuatan yang besar dan datang ke Benares. Berkemah di dekat sana, ia mengirim pesan kepada raja untuk menyerahkan kerajaannya atau berperang.

Raja mengirim jawaban bahwa ia memilih berperang. Namun ibu pangeran muda ini, mengetahui hal tersebut, mengirim pesan kepada anaknya, yang mengatakan, “Tidak perlu melakukan peperangan. Biarlah setiap jalan masuk ke kota di setiap sisi diberi pengawasan dan diberi penghalang, sehingga mereka kehabisan kayu bakar, air dan makanan, membuat orang-orang lemas. Setelah itu kota akan jatuh ke tanganmu tanpa perlu melakukan peperangan.” Mengikuti nasihat ibunya, selama tujuh hari pangeran tersebut mengawasi kota dengan ketat melalui blokade, hingga akhirnya pada hari ketujuh para penduduk memenggal kepala raja dan membawakannya untuk pangeran tersebut. Kemudian ia memasuki kota dan menjadikan dirinya sebagai raja. Setelah meninggal dunia ia terlahir kembali ke alam yang sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Hasil dan akibat tindakannya memblokir kota selama tujuh hari adalah selama tujuh tahun ia berada dalam kandungan, dan proses kelahirannya berlangsung selama tujuh hari. Namun, karena ia bersujud di kaki Buddha Padumuttara dan memberikan sejumlah persembahan (dana) dengan tekad untuk menjadi seorang Arahat, ia pun mendapatkan berkah mencapai tingkat kesucian Arahat; dan karena di masa Buddha Vipassī, ia memberikan sejumlah persembahan dengan tekad yang sama, bersama para penduduk kota, mempersembahkan dana yang amat bernilai;— [410] karenanya, atas kebaikannya, ia mendapatkan berkah mencapai tingkat kesucian Arahat. Dan karena Suppavāsā yang mengirim pesan meminta anaknya mengambil alih kota melalui blokade, mendapatkan balasan dengan mengandung selama tujuh tahun dan melahirkan setelah tujuh hari.

Uraian-Nya berakhir, Sang Guru, sebagai seorang Buddha, mengulangi syair berikut ini:

Dalam samaran kegembiraan dan kesenangan,

penderitaan muncul dan menggoyahkan batin untuk

menguasai diri orang-orang yang lengah.

Setelah memberikan pelajaran ini, Sang Guru menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Sīvali adalah pangeran yang waktu itu memblokir kota dan menjadi raja; Suppavāsā adalah ibunya, dan Saya adalah ayahnya, Raja Benares.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

PAROSAHASSA-JĀTAKA

“Jauh lebih baik dari seribu orang bodoh,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai pertanyaan orang awam (puthujjana). [406] (Kejadian ini akan dijelaskan dalam Sarabhaṅga-Jātaka.)

Dalam suatu kesempatan tertentu para bhikkhu berkumpul di Balai Kebenaran dan memuji kebijaksanaan Sāriputta, sang Panglima Dhamma, yang menguraikan arti inti pembicaraan Sang Buddha. Masuk ke dalam balai tersebut, Sang Guru bertanya dan mendapat penjelasan mengenai apa yang sedang dibicarakan oleh para bhikkhu. “Ini bukan pertama kalinya, para Bhikkhu,” kata Beliau, “arti inti pembicaraan saya dijelaskan oleh Sāriputta. Ia juga melakukan hal yang sama di kelahiran yang lampau.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai seorang brahmana dari utara dan menyelesaikan pendidikannya di Takkasilā. Melepaskan kesenangan indriawi dalam dirinya dan meninggalkan keduniawian untuk menjalani hidup sebagai petapa, ia memperoleh lima abhiññā (kemampuan batin luar biasa) dan delapan pencapaian meditasi, dan menetap di Himalaya, tempat lima ratus orang petapa berkumpul di sekelilingnya. Pada suatu musim hujan, siswa utamanya pergi bersama setengah dari jumlah para petapa itu ke perkampungan manusia untuk mendapatkan garam dan cuka. Dan itu adalah saat dimana ajal Bodhisatta telah dekat. Dan para siswanya, ingin mengetahui pencapaian spiritualnya, bertanya padanya, “Apa keunggulan yang telah Anda capai?” “Capai?” tanyanya; “Saya mencapai kekosongan.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia meninggal dunia, ia terlahir kembali di Alam Dewa Ābhassara. (Meskipun Bodhisatta dapat mencapai keadaan yang tertinggi, mereka tidak pernah dilahirkan di Alam Ārupa, alam tanpa bentuk, mereka tidak bisa melewati Alam Rupa, alam bentuk.) Salah mengartikan kata-katanya, para siswanya menyimpulkan ia gagal memperoleh pencapaian spiritual. Maka mereka tidak memberikan penghormatan seperti biasanya saat mengkremasikannya. Setelah kembali, siswa utamanya mengetahui guru mereka telah meninggal dunia, dan menanyakan apakah mereka menanyakan pencapaiannya. “Ia mengatakan ia mencapai kekosongan,” jawab mereka, “maka kami tidak memberikan penghormatan seperti biasanya saat mengkremasikannya.”

“Kalian tidak memahami arti perkataannya,” jawab siswa utama tersebut. “Maksud guru kita adalah ia telah mencapai tingkat pengetahuan yang disebut Pengetahuan tentang kekosongan benda-benda.” Walaupun ia telah menjelaskan lagi dan lagi kepada para siswa lainnya, mereka tetap tidak memercayainya.

Mengetahui ketidakpercayaan mereka, Bodhisatta berseru, “Orang-orang bodoh! Mereka tidak percaya pada siswa utama saya. Saya akan membuat hal ini menjadi jelas untuk mereka.” Ia datang dari alam brahma dan dengan kekuatannya yang hebat, ia berdiri di tengah-tengah udara di atas tempat pertapaan tersebut, mengucapkan syair berikut ini untuk memuji kebijaksanaan siswa utamanya : — [407]

Jauh lebih baik dari seribu orang bodoh,

walaupun mereka berpikir keras selama seratus tahun tiada henti,

adalah satu orang yang, dengan mendengar (baik-baik), langsung mengerti.

Demikianlah makhluk agung itu membabarkan Dhamma dari tengah udara, dan mengecam kumpulan petapa itu. Kemudian ia berlalu kembali ke alam brahma, dan para petapa itu meningkatkan keunggulan mereka agar dapat terlahir kembali di alam yang sama.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Sāriputta adalah siswa utama di masa itu, dan Saya sendiri adalah sang Mahā- Brahmā.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

KŪṬAVĀṆIJA-JĀTAKA

[404] “Paṇḍita benar, Atipaṇḍita yang salah,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang pedagang penipu. Terdapat dua orang pedagang yang bekerja sama di Sawatthi, diceritakan kepada kami, mereka melakukan perjalanan dengan membawa barang dagangan dan pulang dengan membawa hasil penjualan. Pedagang penipu itu berpikir, “Rekan saya telah makan dengan buruk dan tinggal dengan kondisi yang tidak nyaman beberapa hari yang lalu, sehingga ia akan mati karena masalah pencernaan, sesampainya di rumahnya kembali ia dapat menyenangkan diri sepuas hati dengan berbagai makanan pilihan. Rencana saya adalah membagi hasil penjualan menjadi tiga bagian, memberi satu bagian untuk anak yatimnya, dan dua bagian lainnya untuk diriku sendiri.” Dengan alasan itu ia membuat alasan untuk menunda pembagian keuntungan. Melihat kegagalannya mendesak pembagian tersebut, rekan yang jujur itu menemui Sang Guru di wihara, memberikan penghormatan dan disambut dengan ramah. “Sudah sangat lama,” kata Sang Buddha, “sejak terakhir kali engkau mengunjungi saya.” Dan saudagar tersebut menceritakan kepada Sang Guru apa yang menimpa dirinya. “Ini bukan pertama kalinya, Upasaka,” kata Sang Guru, “orang ini menipu para pedagang; ia juga melakukan penipuan di kehidupan yang lampau. Seperti ia mencoba menipumu sekarang, ia juga mencoba menipu ia yang bijaksana dan penuh kebaikan di masa itu.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, atas permohonan pedagang jujur tersebut, Sang Guru menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir dalam sebuah keluarga pedagang, dan pada hari pemberian nama, ia diberi nama Paṇḍita (Bijak). Setelah dewasa, ia menjalin kerjasama dengan saudagar lainnya yang bernama Atipaṇḍita (Terlalu Bijak), dan berdagang bersamanya. Mereka berdua membawa lima ratus buah kereta berisikan barang dagangan dari Benares menuju daerah pedesaan.

Setelah menjual barang-barang tersebut, mereka kembali dengan membawa hasil penjualan itu. Saat waktu pembagian tiba, Atipaṇḍita berkata, “Saya harus mendapatkan dua bagian.”

“Mengapa demikian?” tanya Paṇḍita. “Karena kamu hanya ‘Bijaksana’, sementara saya ‘Terlalu Bijak’. Karena itu ‘Bijak’ hanya mendapat satu bagian, ‘Terlalu Bijak’ mendapat dua bagian.” “Namun kita berdua mempunyai bagian yang sama dalam persediaan barang dagangan dan juga dalam sapi serta kereta. Mengapa engkau harus mendapat dua bagian ?” “Karena saya Terlalu Bijak.” Demikianlah mereka saling berbalas kata hingga akhirnya mempertengkarkan hal tersebut.

“Ah!” pikir Atipaṇḍita, “saya ada rencana.” Ia membuat ayahnya bersembunyi [405] dalam sebuah lubang di pohon, memerintahkan agar orang tua itu berkata, pada saat mereka berdua datang, “Atipaṇḍita harus mendapat dua bagian.” Setelah mengatur hal itu, ia mencari Bodhisatta dan mengusulkan padanya untuk menyerahkan tuntutan dua bagian itu kepada dewa pohon yang cakap dalam mengambil keputusan. Ia membuat permohonan dengan kata-kata berikut : “Dewa Pohon, buatlah keputusan untuk masalah kami!” Saat itu, sang ayah yang bersembunyi di dalam pohon, mengubah suaranya, meminta mereka mengatakan permasalahan mereka. Penipu itu berkata, “Tuan, di sini berdiri Paṇḍita, dan di sini berdiri saya, Atipaṇḍita. Kami adalah rekan usaha. Beri tahukanlah bagian yang pantas diterima masing-masing dari kami.”

“Paṇḍita menerima satu bagian dan Atipaṇḍita menerima dua bagian,” jawabnya.

Mendengar keputusan ini, Bodhisatta memutuskan untuk melihat apakah itu benar-benar dewa pohon atau bukan. Ia mengisi lubang pohon itu dengan jerami dan menyalakan api. Dan ayah Atipaṇḍita yang setengah terbakar itu memanjat keluar dengan mencengkeram sebuah cabang pohon. Jatuh ke tanah, ia mengucapkan syair berikut ini : —

Paṇḍita benar, Atipaṇḍita yang salah;

Dikarenakan Atipaṇḍita, saya terbakar parah dalam kobaran api.

Kemudian kedua orang itu membagi dua sama rata hasil penjualan mereka, dan masing-masing mendapatkan satu bagian. Setelah meninggal dunia mereka terlahir kembali di alam

yang sesuai dengan hasil perbuatan mereka. “Demikianlah telah engkau lihat,” kata Sang Guru, “bahwa rekanmu adalah seorang penipu besar di kehidupan yang lampau, sama seperti saat ini.” Setelah mengakhiri cerita tersebut, Beliau menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Pedagang penipu di kelahiran ini juga merupakan pedagang penipu dalam cerita di atas, dan saya adalah pedagang jujur yang bernama Paṇḍita.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

NĀMASIDDHI-JĀTAKA

“Melihat Jīvaka meninggal,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang berpikir bahwa keberuntungan melekat pada nama. Menurut apa yang diceritakan, seorang pemuda dari keluarga terpandang, bernama Pāpaka (Buruk), menyerahkan hidupnya pada ajaran Buddha dan bergabung menjadi anggota Sanggha. [402] Para bhikkhu selalu memanggilnya, “Ke sini, Awuso Pāpaka!” dan “Tinggallah, Awuso Pāpaka,” hingga akhirnya ia memutuskan bahwa (nama) Pāpaka menimbulkan pengertian perwujudan keburukan dan ketidakberuntungan, ia akan mengganti namanya menjadi sebuah nama yang mengandung pertanda baik. Karenanya ia meminta guru dan pembimbingnya memberikan sebuah nama baru kepadanya.

Namun mereka berkata nama hanya berguna untuk menunjuk sesuatu, dan tidak berhubungan dengan kualitas; dan memintanya untuk merasa puas terhadap nama yang ia miliki. Dari waktu ke waktu ia mengulangi permohonannya, sehingga semua bhikkhu mengetahui betapa penting dan melekatnya ia pada sebuah nama belaka. Saat mereka semua sedang duduk membicarakan hal tersebut di Balai Kebenaran, Sang Guru masuk ke dalam balai tersebut dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Setelah mendengar penjelasan mereka, Beliau berkata, “Ini bukan pertama kalinya bhikkhu ini percaya bahwa keberuntungan melekat pada nama; ia juga merasa tidak puas dengan nama yang ia sandang di kelahiran sebelumnya.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

___________________

Sekali waktu, Bodhisatta adalah seorang guru yang sangat terkenal di Takkasilā, lima ratus orang brahmana muda belajar Weda darinya. Salah seorang pemuda itu bernama Pāpaka. Dan terus menerus mendengar teman-temannya mengatakan, “Pergilah, Pāpaka” dan “Datanglah, Pāpaka”, ia mempunyai keinginan untuk terlepas dari namanya dan mengambil satu nama baru yang artinya lebih tidak bermakna keburukan. Maka ia menemui gurunya dan meminta sebuah nama baru dengan karakter yang lebih terhormat agar diberikan kepadanya. Gurunya berkata, “Pergilah, Anakku, jelajahi seluruh negeri ini hingga engkau menemukan sebuah nama yang engkau sukai. Setelah itu, kembalilah dan saya akan mengganti nama untukmu.”

Pemuda itu melakukan apa yang diminta dan mengambil bekal untuk perjalanannya berkelana dari desa ke desa hingga ia tiba di sebuah kota. Di sini seorang lelaki yang bernama Jīvaka (Hidup) meninggal dunia, brahmana muda itu melihatnya dibaringkan di pemakaman, kemudian menanyakan siapa namanya.

“Jīvaka,” jawaban yang diterimanya. “Apa, bisakah Jīvaka meninggal?” “Ya, Jīvaka (bisa) meninggal; baik Jīvaka (Hidup) maupun Ajīvaka (Mati) tetap akan meninggal suatu saat nanti. Nama hanya menandai seseorang itu siapa. Engkau terlihat bodoh.” Mendengar ini, ia melanjutkan perjalanan ke dalam kota, tidak merasa puas maupun puas akan namanya sendiri. Saat itu, ada seorang pelayan wanita yang dilempar keluar dari pintu sebuah rumah, sementara wali (orang tuanya) memukulinya dengan ujung tali karena ia tidak membawa pulang upahnya. Nama gadis itu adalah Dhanapālī (Kaya). [403] Melihat gadis itu dipukuli, saat ia menelusuri jalan itu, ia menanyakan apa alasannya, dan mendapat jawaban bahwa hal itu dikarenakan gadis itu tidak dapat menunjukkan upahnya.

“Siapa nama gadis itu?”

“Dhanapālī,” jawab mereka. “Tidak bisakah Dhanapālī mendapatkan bayaran atas satu hari yang tidak berarti?” “Baik dipanggil Dhanapālī (Kaya) maupun Adhanapālī (Miskin), uang tidak akan muncul lebih banyak untuknya. Sebuah nama hanya untuk menandai seseorang itu siapa. Engkau terlihat bodoh.”

Dengan mulai lebih dapat menerima namanya sendiri, brahmana muda itu meninggalkan kota dan di perjalanan bertemu dengan seseorang yang sedang tersesat. Setelah mengetahui orang tersebut kehilangan arah, brahmana muda itu menanyakan siapa namanya. “Panthaka (Pelancong),” jawab orang tersebut. “Panthaka kehilangan arah?” “Panthaka atau Apanthaka, engkau bisa saja kehilangan arah dengan cara yang sama. Sebuah nama hanya diberikan untuk menandai seseorang itu siapa. Engkau terlihat bodoh.”

Setelah benar-benar dapat menerima namanya, brahmana muda itu kembali ke tempat gurunya.

“Baiklah, nama apa yang engkau pilih?” tanya Bodhisatta. “Guru,” katanya, “saya menemukan bahwa kematian pasti akan dialami oleh Jīvaka dan Ajīvaka suatu saat nanti, bahwa Dhanapālī dan Adhanapālī sama-sama bisa miskin, dan bahwa Panthaka dan Apanthaka sama-sama bisa kehilangan arah. Sekarang, saya mengetahui bahwa sebuah nama hanya untuk menandai seseorang itu siapa, sama sekali tidak menentukan nasib pemiliknya. Maka saya merasa puas pada nama saya sendiri dan tidak ingin menggantinya lagi.”

Kemudian Bodhisatta mengucapkan syair berikut ini; memadukan apa yang dilakukan oleh brahmana muda itu dengan apa yang ia lihat: —

Melihat Jīvaka meninggal, Dhanapālī miskin,

Panthaka kehilangan arah,

Pāpaka belajar, menjadi puas,

tidak berkelana lebih jauh lagi.

____________________

Setelah menceritakan kisah ini, Sang Guru berkata, “Kalian lihat, para Bhikkhu, di kehidupan yang lampau sama seperti kehidupan ini, bhikkhu ini mengira ada pengaruh besar dari sebuah nama.” Dan beliau menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu ini, yang merasa tidak puas pada namanya adalah brahmana muda yang merasa tidak puas di masa itu; para siswa Buddha adalah siswa-siswa itu, dan Saya sendiri adalah guru mereka.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

TELEPATTA-JATAKA

“Saat seseorang penuh perhatian,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika menetap di hutan dekat Kota Desaka di Negeri Sumbha, mengenai Janapada- Kalyāni-Sutta183. Pada kesempatan ini Sang Bhagawan berkata :

— “Seakan, para Bhikkhu, sebuah kerumunan besar terbentuk, berseru, ‘sambutlah wanita tercantik di negeri ini! Sambutlah wanita tercantik di negeri ini!’ dan seakan dengan cara  yang sama kerumunan yang lebih besar berkumpul dan berseru, ‘Wanita tercantik di negeri ini bernyanyi dan menari’; dan andaikata datang seorang laki-laki yang sangat mencintai hidupnya, takut pada kematian, menyukai kesenangan dan menolak penderitaan, dan bayangkan orang itu mendapat sapaan berikut ini, — ‘Halo, engkau yang berada di sana!

Bawalah pot yang berisi minyak yang penuh hingga ke pinggir ini, berdiri di antara kerumunan dan wanita tercantik di negeri ini:

seorang lelaki dengan pedang terhunus akan mengikutimu dari belakang; jika engkau menjatuhkan setetes minyak, ia akan menebas kepalamu’; — Apa yang kalian pikirkan, para Bhikkhu?

Akankah orang tersebut, dalam keadaan tersebut, bersikap ceroboh dan tidak mengeluarkan usaha dalam membawa pot minyak itu?” “Tidak ada cara lain, Bhante.” “Ini adalah sebuah kiasan [394], yang saya susun untuk menjelaskan maksud saya, para Bhikkhu; dan artinya adalah : — Pot minyak yang penuh hingga ke pinggir melambangkan keadaan pikiran yang tenang berkenaan dengan hal-hal yang berkaitan dengan jasmani, dan pelajaran yang dapat dipetik adalah hal seperti menjaga kesadaran harus dilatih dan disempurnakan. Jangan gagal dalam hal ini, para Bhikkhu.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Sang Guru menyampaikan Sutta yang berkenaan dengan wanita tercantik di negeri tersebut, mencakup teks dan terjemahannya.

[395] Kemudian, dalam penerapannya, Sang Guru berkata lebih lanjut, — “Seorang bhikkhu butuh untuk melatih kesadaran yang benar, berkenaan dengan jasmani, harus berhati-hati untuk tidak membiarkan kesadarannya menurun, seperti orang dalam kiasan itu yang tidak akan menjatuhkan setetes minyak pun dari pot itu.”

Setelah mendengarkan Sutta dan artinya, para bhikkhu berkata : — “Adalah sebuah pekerjaan yang sulit, Bhante, bagi orang itu untuk lewat dengan membawa pot minyak tanpa menatap daya tarik wanita tercantik di negeri tersebut.” “Tidak sulit sama sekali, para Bhikkhu; itu adalah suatu tugas yang gampang, — mudah dengan alasan yang sangat bagus bahwa ia dikawal oleh seseorang yang mengancamnya dengan sebilah pedang yang terhunus. Namun benar-benar suatu pekerjaan yang sulit untuk ia yang bijaksana dan penuh kebaikan di kelahiran yang lampau untuk menjaga kesadaran dengan tepat dan mengendalikan nafsu mereka untuk menatap pada keindahan surgawi dengan segala kesempurnaannya. Mereka tetap berjaya, dan selanjutnya memenangkan sebuah kerajaan.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah putra raja yang keseratus, dan telah tumbuh dewasa. Pada waktu itu para Pacceka Buddha selalu datang untuk mendapatkan makanan mereka di istana, dan Bodhisatta yang selalu melayani mereka.

Suatu hari ia memikirkan sejumlah saudara yang ia miliki, Bodhisatta bertanya kepada dirinya sendiri apakah ada kemungkinan bagi dirinya untuk duduk di singgasana ayahnya di kota, dan memutuskan untuk bertanya kepada para Pacceka Buddha apa yang akan terjadi di masa mendatang. Keesokan harinya, para Buddha datang, membawa pot air yang telah disucikan untuk keperluan yang suci, menyaring airnya, mencuci dan mengeringkan kaki mereka, dan duduk untuk menyantap makanan mereka. Setelah mereka duduk, Bodhisatta datang dan duduk di dekat mereka dengan penuh rasa hormat, mengajukan pertanyaannya. Mereka menjawab dengan berkata, “Pangeran, engkau tidak akan pernah menjadi raja di kota ini. Namun di Gandhāra, sekitar dua ribu yojana dari sini, terdapat sebuah kota bernama Takkasilā. Jika engkau bisa mencapai kota tersebut dalam waktu tujuh hari engkau akan menjadi raja di sana. Namun ada bahaya dalam perjalanan ke sana, dalam perjalanan melalui sebuah hutan lebat. Akan menghabiskan jarak dua kali jika memutari hutan tersebut, sehingga lebih cepat jika melewati hutan tersebut. Para yaksa menetap di sana, membuat perkampungan dan rumah-rumah berdiri di pinggir jalan. Di bawah langit-langit yang disulam dengan bintang-bintang di atas kepala, dengan ilmu gaib, mereka siapkan sebuah dipan yang mewah, ditutupi dengan tirai cantik dari bahan celupan yang menakjubkan. Ditata dengan kemewahan surgawi, para yaksa wanita duduk di tempat tinggal mereka, memikat para pengembara [396] dengan kata-kata yang manis. ‘Engkau terlihat capek’ kata mereka; ‘datanglah kemari, makan dan minum sebelum engkau berkelana lebih jauh.’ Mereka yang menuruti perkataan para yaksa wanita itu akan diberi tempat duduk dan terbakar oleh nafsu karena daya pikat kecantikan mereka yang tidak bermoral. Namun jarang yang sempat melakukan perbuatan salah itu sebelum para yaksa wanita membunuh dan menyantap mereka saat darah yang mengalir masih panas.

Mereka menjerat perasaan lelaki, — menawan perasaan dengan kecantikan yang memancarkan keelokan mereka, telinga dengan suara yang lembut, lubang hidung dengan wewangian dari surga, pengecapan dengan makanan pilihan dari surga yang rasanya lezat, dan sentuhan dengan dipan berhiaskan bantalan merah yang sangat lembut. Namun jika engkau bisa menaklukkan perasaanmu, dan menguatkan diri untuk tidak memandang mereka, dalam waktu tujuh hari engkau akan menjadi raja di Kota Takkasilā.”

“Oh, Bhante; bagaimana saya bisa memandang para yaksa wanita setelah (mendengar) nasihat kalian ini?” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Bodhisatta memohon para Pacceka Buddha memberikan sesuatu padanya untuk menjaga keselamatannya selama perjalanan tersebut. Ia menerima sebuah jimat berupa benang dan sedikit pasir yang telah diberi mantra. Mula-mula ia berpamitan kepada para Pacceka Buddha, kemudian pada ayah dan ibunya; lalu ia menuju ke tempat tinggalnya sendiri, berkata kepada para pengurus rumahnya sebagai berikut ini, “Saya akan pergi ke Takkasilā untuk menjadikan diri saya sebagai raja di sana. Kalian akan tinggal di sini.” Namun kelimanya menjawab, “Biarkan kami ikut.”

“Kalian tidak bisa ikut bersama saya,” jawab Bodhisatta; “karena saya diberitahu bahwa jalanannya dikepung oleh para yaksa wanita yang memikat perasaan lelaki dan membinasakan mereka yang kalah pada daya tarik mereka. Bahayanya terlalu besar, namun saya akan mengendalikan diri sendiri dan pergi.”

“Jika kami pergi bersamamu, Pangeran, kami tidak akan menatap bungkusan mereka yang memikat. Kami juga akan pergi ke Takkasilā.” “Kalau begitu tunjukkan keteguhan kalian,” kata Bodhisatta, dan membawa mereka berlima bersamanya dalam perjalanannya. Para yaksa wanita duduk menunggu di tengah perjalanan di perkampungan mereka. Salah satu dari kelima orang itu, cinta pada kecantikan, menatap para yaksa wanita itu, dan terjerat kecantikan mereka, tertinggal di belakang yang lainnya. “Mengapa engkau tertinggal di belakang?” tanya Bodhisatta. “Kaki saya terluka, Pangeran. Saya akan duduk sejenak di paviliun di sana, dan mengejar kalian kemudian.”

“Temanku yang baik, mereka adalah yaksa wanita; jangan menginginkan mereka.” “Meskipun itu benar adanya, Pangeran, saya tidak bisa pergi lebih jauh lagi.” “Baiklah, engkau akan segera menunjukkan sifatmu yang sebenarnya,” kata Bodhisatta, saat ia melanjutkan perjalanan dengan keempat orang lainnya.

Menyerah pada perasaannya, pencinta kecantikan ini mendekat ke arah para yaksa wanita, yang [397] menempatkannya dalam perbuatan salah untuk sementara, kemudian membunuhnya di sana saat itu juga. Mereka pergi, dan lebih jauh di jalanan tersebut, dengan kekuatan gaib mereka, sebuah paviliun terbentuk, dimana mereka duduk sambil bernyanyi dengan iringan alat musik yang berbeda. Saat itu, pencinta musik tertinggal dan disantap oleh mereka. Kemudian para yaksa wanita ini pergi mendahului dan duduk menunggu di sebuah pasar yang dipenuhi oleh semua aroma dan wewangian yang harum. Di sini, pencinta wewangian tertinggal. Setelah menyantapnya, mereka pergi mendahului lagi dan duduk dalam sebuah kedai persediaan dimana sejumlah persediaan bahan makanan laksana makanan dari surga dengan rasa yang lezat di jual. Di sini, pencicip makanan tertinggal di belakang. Setelah memangsanya, mereka pergi lebih jauh, dan duduk di dipan yang diciptakan dari kekuatan sihir mereka. Di sini, pencinta kenyamanan tertinggal, ia juga disantap oleh mereka.

Sekarang yang tersisa hanyalah Bodhisatta. Salah seorang yaksa wanita mengikutinya, berjanji demi sisi hati yang jahat dari Bodhisatta, ia akan berhasil menyantapnya sebelum kembali. Jauh di dalam hutan, para penebang kayu dan lainnya, melihat yaksa wanita tersebut, dan bertanya padanya siapakah lelaki yang berjalan di depannya.

“Ia adalah suami saya, Saudara yang baik.”

“Hai, Engkau yang di sana!” seru mereka kepada Bodhisatta; “Memiliki seorang istri yang begitu manis dan muda, secantik bunga, tinggalkan ia di rumah dan buat agar ia percaya kepadamu, mengapa engkau tidak berjalan bersamanya, namun membiarkan ia kelelahan di belakangmu?” “Ia bukan istri saya, melainkan seorang yaksa. Ia telah memangsa lima orang

pendamping saya.” “Aduh! Saudara-saudara yang baik,” kata wanita itu, “kemarahan membuat orang mengatakan istri mereka sendiri sebagai yaksa wanita dan makhluk penghuni kuburan.”

Kemudian, ia berpura-pura hamil, dan terlihat sebagai seorang wanita yang telah melahirkan seorang anak, dengan anak tersebut digendong di pinggulnya, mengikuti Bodhisatta dari belakang. Setiap orang yang bertemu mereka menanyakan pertanyaan yang sama tentang pasangan tersebut, dan Bodhisatta terus memberikan jawaban yang sama saat ia berjalan terus.

Akhirnya ia tiba di Takkasilā, dimana yaksa wanita itu menghilangkan anak tersebut, dan mengikutinya seorang diri. Di gerbang kota, Bodhisatta memasuki sebuah rumah peristirahatan dan duduk disana. Karena kekuatan dan kemanjuran Bodhisatta, ia tidak bisa masuk, maka ia menghiasi diri dengan cantik dan berdiri di ambang pintu.

Pada saat itu Raja Takkasilā melewati tempat tersebut saat hendak mengunjungi tempat peristirahatannya, terjerat pada kecantikannya. “Pergi dan cari tahu,” katanya pada pelayannya, “apakah ia mempunyai suami [398] bersamanya atau tidak.” Dan ketika pembawa pesan itu tiba, bertanya apakah ada seorang suami bersamanya, ia menjawab, “Ya, Tuan; suami saya sedang duduk di dalam.”

“Ia bukan istri saya,” jawab Bodhisatta. “Ia adalah yaksa wanita dan telah memangsa lima orang pendamping saya.”

Sama seperti sebelumnya, ia berkata, “Aduh! Saudara yang baik, kemarahan membuat seorang lelaki mengatakan apa pun yang terlintas di pikirannya.” Lelaki itu kembali menemui raja dan menceritakan kepadanya apa yang dikatakan oleh masing-masing dari mereka. “Harta terpendam adalah keuntungan tambahan untuk kerajaan,” kata raja. Dan ia mengundang yaksa wanita tersebut, mendudukkannya di punggung gajahnya. Setelah mengelilingi kota dengan prosesi yang khidmat, raja kembali ke istana dan menempatkan yaksa wanita itu di tempat yang dipersiapkan untuk raja. Setelah mandi dan mengharumkan diri, raja menyantap makan malamnya, kemudian berbaring di tempat tidur kerajaannya. Yaksa wanita itu juga mempersiapkan makanannya sendiri, dan mengenakan pakaian yang indah. Berbaring di sisi raja yang merasa gembira, ia memutar badannya ke sisi yang lain dan meledak dalam tangisan. Ketika ditanya mengapa menangis, ia berkata, “Paduka, engkau menemukan saya di pinggir jalan, dan wanita yang tinggal di tempat tinggal para istri raja di istana pasti sangat banyak.

Tinggal di sini, di antara para musuh, saya akan merasa hancur jika mereka berkata, ‘Siapa yang tahu mengenai ayah dan ibumu, atau tentang keluargamu? Engkau dipungut di pinggir

jalan.’ Namun jika Paduka memberikan kekuatan dan kekuasaan atas kerajaan kepada saya, tidak ada orang yang akan berani mengganggu saya dengan ejekan seperti itu.” “Sayang, saya tidak mempunyai kekuatan atas semua yang menetap di seluruh pelosok kerajaan; saya bukan tuan dan majikan mereka. Saya hanya mempunyai hak hukum atas mereka yang memberontak atau melakukan kesalahan. Maka saya tidak bisa memberikan kekuatan dan kekuasaan padamu atas seluruh kerajaan ini.”

“Kalau begitu, Paduka, jika engkau tidak bisa

memberikan kekuasaan atas kerajaan maupun kota ini, paling tidak berikan kekuasaan dalam istana ini padaku, sehingga saya bisa memerintah atas mereka yang tinggal di sini.”

Terlalu mencintai daya tariknya sehingga tidak bisa menolak, raja pun memberikan kekuasaan dalam istana dan memintanya untuk memerintah mereka [399]. Merasa puas, ia

menunggu hingga raja tertidur, kemudian menuju kota para yaksa dan kembali bersama semua yaksa ke dalam istana. Ia sendiri yang membunuh raja dan menyantapnya, kulit, urat dan daging, hanya menyisakan tulang belulang. Yaksa-yaksa yang lain memasuki gerbang, melahap semua yang mereka temui, tanpa menyisakan apa pun, baik unggas maupun anjing yang masih hidup. Keesokan harinya, saat orang-orang berdatangan dan melihat gerbang masih tertutup, mereka memukulinya dan dengan tidak sabar berteriak, kemudian masuk dengan kekerasan,—hanya menemukan seluruh kerajaan dipenuhi oleh tulang yang berserakan. Mereka berseru, “Kalau begitu, orang itu benar saat mengatakan ia bukan istrinya, melainkan yaksa wanita. Dengan tidak bijaksana, raja telah membawanya pulang untuk menjadi istrinya, dan tidak diragukan lagi ia mengumpulkan yaksa lainnya, melahap semua orang, dan pergi.”

Pada saat itu, Bodhisatta dengan pasir yang telah diberikan mantra di kepalanya, dan benang jimat terjalin mengelilingi keningnya, sedang berdiri di rumah peristirahatan itu, dengan pedang di tangan, menunggu fajar tiba. Sementara orang-orang itu, pada saat yang sama, membersihkan kerajaan, menghiasi lantainya sekali lagi, memerciki wewangian di lantai, menyebarkan bunga-bunga, menggantung bunga-bunga yang harum di atap dan menghiasi dinding dengan rangkaian bunga, serta membakar dupa wangi di tempat itu. Kemudian mereka berdiskusi bersama, berkata sebagai berikut: —

“Orang yang bisa mengendalikan indranya dengan begitu hebat saat melihat yaksa wanita dengan kecantikannya mengikutinya dari belakang, adalah orang yang tinggi budinya dan teguh hatinya, dan dipenuhi oleh kebijaksanaan. Dengan orang seperti itu sebagai raja, akan baik untuk seluruh kerajaan. Mari kita jadikan dia sebagai raja.” Semua anggota istana dan penduduk kerajaan tersebut satu suara dalam hal ini. Maka Bodhisatta dipilih menjadi raja, dikawal ke istana, dan di sana ia dihiasi dengan permata dan dinobatkan menjadi Raja Takkasilā. Menghindari diri dari empat Jalan yang salah, dan mengikuti sepuluh jalan (kualitas seorang raja) yang menjadi kewajiban raja, ia menjalankan kerajaannya dengan penuh keadilan, dan setelah menghabiskan hidup dengan berdana dan perbuatan baik lainnya, ia meninggal dunia untuk terlahir kembali di alam bahagia sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Setelah menceritakan kisah ini, Sang Guru, sebagai seorang Buddha, mengucapkan syair berikut ini : — [400]

Saat seseorang penuh perhatian terhadap satu pot

berisikan minyak akan berusaha agar isi yang penuh

hingga ke pinggirnya tidak akan tumpah sedikit pun,

seperti ia yang melakukan perjalanan ke negeri asing

atas kehendaknya sendiri seperti yang harus ditunjukkan

oleh seorang penguasa.

[401] Setelah Sang Guru memperlihatkan hal yang paling utama dari petunjuk tersebut tersebut, berupa tingkat kesucian Arahat, Beliau menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Para siswa Buddha adalah para anggota istana di masa itu, dan Saya sendiri adalah pangeran yang memperoleh sebuah kerajaan.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

MAHĀSUDASSANA-JĀTAKA

“Betapa sementaranya,” dan seterusnya . Kisah ini disampaikan oleh Sang Guru saat Beliau berbaring sekarat, menyangkut perkataan Ānanda, “Wahai Bhagawan, jangan mengakhiri perjalanan hidup-Mu di kota kecil yang menyedihkan ini.” “Ketika Buddha menetap di Jetawana,” pikir Sang Guru, “Thera Sāriputta, yang lahir di Desa Nāla, meninggal dunia di

Varaka pada bulan Kattika, saat bulan purnama; dan di bulan yang sama, saat bulan menyusut, Moggallāna yang agung meninggal dunia. Dua siswa utama Saya telah meninggal

dunia, saya juga akan meninggal dunia, di Kusinārā.” —

Demikianlah pemikiran Sang Bhagawan, dan melakukan pindapata di Kusinārā, di sana, di sebuah dipan yang menghadap ke arah utara di antara dua batang pohon sala kembar, Beliau berbaring tanpa pernah bangkit lagi. Thera Ānanda berkata, “Wahai Bhagawan, jangan mengakhiri perjalanan hidup-Mu di kota kecil yang menyedihkan ini, kota kecil yang kasar di hutan, kota kecil di daerah pinggiran. Tidak bisakah Rājagaha atau kota besar lainnya yang menjadi tempat Buddha mencapai mahā-parinibbāna?”

“Tidak, Ānanda,” kata Sang Guru; “jangan menyebut ini sebuah kota kecil yang menyedihkan, sebuah kota kecil di hutan, sebuah kota kecil di daerah pinggiran. Di kehidupan yang lampau, pada masa Kerajaan Sudassana menguasai seluruh dunia, di kota inilah saya tinggal. Pada masa itu, tempat ini adalah sebuah kota besar dalam batasan dinding-dinding penuh perhiasan [392] dengan keliling dua belas yojana.” Bersamaan itu, atas permohonan sang thera, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini dan membabarkan Mahā-Sudassana Sutta.

_____________________

Adalah permaisuri dari Sudassana, Ratu Subhaddā yang memperhatikan bagaimana, setelah turun dari Istana Kebenaran (Sudhamma), rajanya berbaring di sisi kanan pada sebuah dipan

yang dipersiapkan untuknya di Hutan Lontar (Talawana),yang berhiaskan emas dan permata, ia berada di dipan itu, tidak bangkit-bangkit lagi. Ratu berkata, “Delapan puluh empat ribu kota, dengan kota utamanya adalah Kusāvatī, mengakui kedaulatanmu, Paduka. Tempatkanlah perhatianmu di sana.”

“Jangan berkata demikian, Ratu,” kata Sudassana; “lebih baik menasihati saya dengan berkata, ‘Jagalah perhatianmu di kota ini, jangan merasa rindu terhadap kota lainnya’.”

“Mengapa demikian, Rajaku?”

“Karena saya akan meninggal hari ini,” jawab raja.

Berlinangan air mata, menyeka air mata yang mengalir, ratu dengan tersedu sedan mengucapkan kata-kata yang diminta untuk diucapkannya oleh raja. Kemudian ia meledak dalam tangisan dan ratapan; wanita lain yang menetap di tempat tinggal para selir raja, sejumlah delapan puluh empat ribu orang, juga menangis dan meraung; tidak satu pun di antara para anggota istana yang bisa menahan diri, semuanya meratap bersama.

“Tenang,” kata Bodhisatta; dengan kata-kata ini ratapan mereka ditenangkan. Kemudian, kembali menghadap ratu, ia berkata, “Jangan menangis, Ratu, jangan meraung juga.

Walaupun sebutir bibit wijen yang kecil, tidak ada satu benda pun yang merupakan unsur gabungan tidak mengalami perubahan, semua hal bersifat sementara, semua hal harus terurai kembali.”

Kemudian, sebagai bimbingan untuk ratu, ia mengucapkan syair berikut ini : —

Betapa sementaranya semua hal yang membentuk kesatuan!

Tumbuh merupakan sifat mereka, lalu membusuk:

Mereka dihasilkan, mereka dihancurkan kembali:

Kemudian yang terbaik,—adalah ketika mereka

merebahkan diri untuk beristirahat.

[393] Demikianlah Sudassana yang agung memberikan khotbah yang membawa pada nibbana sebagai tujuan akhirnya. Lebih jauh, pada sisa orang banyak lainnya, ia memberi nasihat agar mereka berdana (melakukan amal), menjalankan latihan moralitas, dan melaksanakan Uposatha. Sebagai hasilnya ia terlahir kembali di alam dewa.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Ibu Rahula adalah Ratu Subhaddā di masa itu, Rahula adalah putra sulung raja, para siswa Buddha adalah para anggota istana, dan saya sendiri adalah Sudassana yang agung.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

LOMAHAṀSA-JĀTAKA

“Sebentar terbakar,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Pāṭikārāma dekat Vesāli, mengenai Sunakkhatta.

Pada masa itu Sunakkhatta, setelah menjadi pengikut Sang Guru, berkelana di negeri tersebut sebagai seorang bhikkhu dengan patta dan jubah, ketika disesatkan oleh ajaran Kora Kshatriya 174 . Maka ia mengembalikan patta dan jubah kepada Sang Buddha, kembali menempuh kehidupan sebagai perumah-tangga karena Kora Kshatriya, yang pada waktunya, terlahir kembali sebagai keturunan dari Kālakañjaka Asura. Ia pergi sejauh tiga lapis dinding Kota Vesāli untuk mencemarkan nama Sang Guru, menegaskan tidak ada yang luar biasa pada Guru Gotama, ia tidak berbeda dengan orang lain yang membabarkan suatu kepercayaan; bahwa Guru Gotama hanya membentuk suatu sistem yang dihasilkan oleh pikiran dan penyelidikannya sendiri; pencapaian ideal yang dibabarkan dalam ajarannya, tidak mengakhiri penderitaan mereka yang mengikutinya.

Yang Ariya Sāriputta sedang melakukan pindapata saat mendengar fitnah dari Sunakkhatta; setelah kembali ia melaporkan hal tersebut kepada Sang Bhagawan. Sang Guru berkata, “Sunakkhatta adalah orang yang lekas naik darah, Sāriputta, dan mengucapkan omong kosong. Sikap pemarahnya membuat ia mengucapkan kata-kata seperti itu, dan menyangkal

ajaran Saya yang sangat berharga. Tanpa disadarinya, orang bodoh ini memuji Saya; Saya katakan tanpa ia sadari, karena ia tidak mempunyai pengetahuan [390] akan kehebatan Saya.

Dalam diri Saya, Sāriputta, terdapat enam abhiññā, karenanya saya lebih dari manusia biasa; di dalam diri saya juga terdapat sepuluh kekuatan (dasabala), dan empat landasan keyakinan (vesārajja). Saya mengetahui batasan dari empat kelahiran di dunia dan lima tingkat kemungkinan akan kelahiran kembali setelah meninggal dunia. Hal ini juga merupakan kemampuan Saya yang luar biasa; barang siapa yang menyangkalnya akan menarik kembali kata-katanya, mengubah kepercayaannya dan meninggalkan pandangan salahnya, atau ia akan masuk ke dalam neraka.” Setelah menguraikan sifat dan kemampuan luar biasa yang terdapat dalam diri-Nya, Sang Guru berkata lebih lanjut, “Sunakkhatta, saya dengar, Sāriputta, merasa gembira disesatkan untuk mempermalukan diri di pertapaan Kora

Kshatriya; karenanya ia tidak bisa merasa senang pada diri saya.

Sembilan puluh satu ribuan tahun yang lalu saya hidup dalam kehidupan yang lebih tinggi dengan merana akan empat tingkatan kehidupan, menguji pertapaan yang salah untuk menemukan apakah kebenaran menetap di dalamnya. Saya adalah seorang petapa, petapa utama; saya capek dan kurus, melebihi petapa lainnya, saya segan untuk menerima kenyamanan, suatu keseganan yang jauh melebihi orang yang lain; saya tinggal terpisah, dan tidak dapat dicapai merupakan keinginan saya akan kesendirian.” Kemudian, atas permohonan thera tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu, sembilan puluh satu ribuan tahun yang lalu, Bodhisatta membuat dirinya menguji pertapaan yang salah.

Ia menjadi seorang petapa, menuruti para petapa telanjang (Ājivika)—tidak berpakaian dan ditutupi dengan debu; menyendiri dan kesepian, menghilang seperti seekor rusa di hadapan

manusia; makanannya adalah ikan-ikan kecil, kotoran sapi dan sampah lainnya; dengan tujuan menjaga agar ia tidak diganggu, ia bertempat tinggal di dalam belukar yang menakutkan di hutan. Saat salju turun di musim dingin, ia keluar di waktu malam dari belukar tempat ia berteduh menuju udara terbuka, saat matahari terbit ia kembali ke dalam belukar lagi; maka ia dibasahi oleh salju di malam hari, dan di siang hari, ia basah kuyup oleh

gerimis dari cabang belukar tersebut. Baik siang maupun malam ia menahan rasa dingin yang menusuk. Saat musim panas, di siang hari, ia menetap di udara terbuka, dan di malam hari ia menetap di dalam hutan — terbakar oleh terik matahari di waktu siang dan mengipasi diri karena tidak ada hembusan angin yang segar di malam hari, sehingga keringat bercucuran di tubuhnya. Muncul dengan sendirinya dalam pikirannya syair berikut ini, yang merupakan syair baru dan belum pernah diucapkan sebelumnya : —

Sebentar terbakar, sebentar beku, sendiri di hutan sepi,

Di sampingnya tak terdapat api, namun membara di

dalam dirinya, Telanjang, petapa itu berusaha keras demi kebenaran.

[391] Setelah menghabiskan hidup melalui pelatihan diri yang keras dalam pertapaan ini, pemandangan akan neraka terhampar di hadapan Bodhisatta. Saat ia terbaring sekarat, ia menyadari semua pelatihan keras yang ia jalani ternyata tidak berarti apa-apa, dan di saat genting itu, ia membuang semua khayalannya, hanya berpegang pada kebenaran sejati, dan

terlahir kembali di alam dewa.

____________________

Uraian Beliau berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Saya adalah petapa telanjang di masa itu.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

VISSĀSABHOJANA-JĀTAKA

“Jangan percaya pada yang dipercaya,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai pengambilan barang atas dasar kepercayaan. Menurut kisah yang diceritakan secara turun temurun, pada masa itu para bhikkhu, sebagian besar, selalu menyisakan dengan sesuka hati mereka, jika mendapatkan sesuatu dari ibu atau ayah, saudara lelaki atau perempuan, paman atau bibi,

maupun kerabat lainnya. Berdebat bahwa dalam posisi perumahtangga sudah selayaknya menerima barang dari orang-orang itu, mereka, sebagai bhikkhu, tidak menunjukkan kehati-hatian atau perhatian sebelum menggunakan makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya yang diberikan oleh kerabat mereka. Melihat hal tersebut, Sang Guru merasa ia harus memberi teguran kepada para bhikkhu. Maka Beliau mengumpulkan mereka semua, dan berkata, “Para Bhikkhu, tidak masalah apakah [388] pemberi dana adalah saudara atau bukan, pemakaian segala sesuatu harus selalu penuh kehati-hatian. Bhikkhu yang tidak berhati-hati dalam pemakaian kebutuhan yang diberikan kepadanya, akan membawa kelahiran kembali sebagai yaksa atau peta. Pemakaian yang sembrono seperti minum racun; dan racun mempunyai kemampuan membunuh yang sama, baik diberikan oleh kerabat maupun orang asing. Di kehidupan yang lampau, seseorang minum racun yang diberikan oleh orang yang dekat dan yang sangat disayangi olehnya, karenanya ia menemui ajalnya.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.”

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai seorang saudagar yang sangat kaya. Ia mempunyai seorang penggembala yang, ketika jagung telah siap dipanen, membawa sapi-sapinya ke hutan, dan menjaga mereka di sana, pada sebuah tempat perlindungan, membawakan hasil ternak-ternak tersebut kepada saudagar tersebut dari waktu ke waktu. Di dekat tempat perlindungan tersebut, tinggallah seekor singa; dan rasa takut terhadap singa itu membuat sapi-sapi itu hanya menghasilkan sedikit susu.

Maka, saat penggembala itu membawakan hasil ternaknya, saudagar tersebut bertanya mengapa hasilnya hanya sedikit. Penggembala tersebut menceritakan alasannya. “Baiklah, apakah singa itu menyukai sesuatu?” “Ya, Tuan; singa itu sangat menyukai seekor rusa betina.” “Bisakah engkau menangkap rusa betina tersebut?” “Bisa, Tuan.” “Baik, tangkaplah rusa betina itu, dan lumuri racun serta gula di sekujur tubuhnya, dan biarkan mengering. Tahan selama satu hingga dua hari, kemudian bebaskan dia. Dikarenakan rasa sayang singa kepadanya, singa akan menjilati rusa betina dengan lidahnya dan mati. Ambillah kulit, dengan cakar dan gigi serta lemaknya, dan bawakan kepadaku.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia memberikan racun yang mematikan kepada penggembala tersebut, dan mengirimnya pergi. Dengan bantuan sebuah jala yang ia buat sendiri, penggembala itu menangkap rusa betina tersebut, melakukan apa yang diperintahkan oleh Bodhisatta.

Melihat rusa betina itu lagi, singa tersebut, dalam rasa cintanya yang besar kepada rusa betina itu, menjilatinya dengan lidahnya sehingga ia mati. Penggembala itu mengambil kulit

singa dan bagian-bagian lainnya, membawakannya kepada Bodhisatta, yang berkata, “Rasa cinta kepada orang lain harus dihindari. Lihat bagaimana, dengan segala kekuatannya, raja dari semua hewan buas, singa, dikarenakan rasa cinta yang penuh nafsu kepada rusa betina itu meracuni dirinya sendiri dengan menjilati rusa betina itu hingga akhirnya ia mati.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengucapkan syair berikut ini sebagai bimbingan bagi mereka yang berkumpul di sana:

[389] Jangan percaya pada yang bisa dipercaya,

jangan juga engkau tidak percaya pada kepercayaan.

Kepercayaan membunuh; melalui kepercayaan singa

menelan kekalahannya.

Seperti itulah pelajaran yang diberikan oleh Bodhisatta kepada mereka yang mengerumuninya. Setelah menghabiskan hidup dengan melakukan amal (berdana) dan perbuatan baik lainnya; ia meninggal dunia untuk terlahir kembali di alam bahagia sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Saya adalah saudagar di masa itu.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.