Category Archives: kisah jataka

SĀDHUSĪLA-JĀTAKA

 

“Yang satu tampan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang brahmana. Orang ini, diceritakan, mempunyai empat putri. Empat laki-laki datang untuk melamar mereka; yang satu tampan, yang satu tua dan dewasa, yang satu seorang laki-laki dari keluarga terpandang, dan yang satunya lagi adalah orang yang memiliki moralitas. Dia berpikir di dalam hatinya, “Ketika seseorang hendak menikahkan putri-putrinya, kepada siapakah seharusnya mereka dinikahkan? Laki-laki yang tampan atau yang agak tua, atau salah satu di antara dua yang lain, seorang keturunan bangsawan atau yang berbudi luhur (memiliki moralitas)?” Dia memikirkannya, tetapi tidak dapat memutuskan. Maka dia berpikir untuk memberitahukan masalah ini kepada Yang Tercerahkan Sempurna (Sammāsambuddha), yang pasti tahu jawabannya, dan Beliau akan memberikan gadis-gadis ini kepada  pelamar yang paling cocok. Jadi dia mempersiapkan sejumlah wewangian dan untaian bunga, kemudian mengunjungi wihara. Setelah memberi hormat kepada Sang Guru, dia duduk di satu sisi dan menceritakan kepada Beliau semuanya, mulai dari awal sampai akhir; kemudian dia bertanya, “Kepada siapakah dari keempat orang ini harus saya berikan putriputriku?” Atas pertanyaan ini, Sang Guru menjawab, “Di masa lampau, sama seperti sekarang ini, orang bijak menanyakan pertanyaan ini; tetapi karena kelahiran berulang-ulang telah membuat ingatanmu menjadi kabur, Anda tidak dapat mengingat hal itu kembali.” Dan kemudian atas permintaannya, Sang Guru menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai putra seorang brahmana. Dia tumbuh dewasa dan mendapatkan pendidikannya di Takkasilā ; dan sekembalinya ke rumah, dia menjadi seorang guru yang terkenal. Kala itu di sana terdapat seorang brahmana yang mempunyai empat orang putri. Empat putri ini dilamar oleh empat orang seperti yang diceritakan di atas. Brahmana ini tidak dapat memutuskan kepada siapa dia harus nikahkan putri-putrinya.

 

“Saya akan bertanya kepada guru,” pikirnya, “dan beliau akan memberi tahu kepada siapa mereka harus dinikahkan.” Maka dia pergi menghadap gurunya dan mengulangi bait pertama:

 

Yang satu tampan, satunya lagi dewasa;  satunya lagi keturunan bangsawan, dan satunya lagi memiliki moralitas.  Berikanlah jawaban atas pertanyaanku ini, Brahmana; dari keempat ini manakah yang kelihatannya terbaik?

 

Mendengar ini, guru menjawab, “Meskipun memiliki ketampanan dan kualitas lain sejenisnya, seseorang akan dipandang rendah jika dia tidak memiliki moralitas. Oleh karena itu, yang lain-lainnya bukanlah ukuran dari seorang laki-laki; yang saya suka adalah yang memiliki moralitas.” Dan untuk menjelaskan hal ini, beliau mengulangi bait kedua:

 

Ketampanan adalah hal yang bagus: Yang tua memiliki kehormatan, ini adalah hal yang benar: Keturunan bangsawan adalah hal yang bagus;  tetapi yang memiliki moralitas—moralitas, itu adalah pilihanku.

 

Setelah mendengar ini, brahmana tersebut memberikan semua putrinya kepada pelamar yang berbudi luhur.

 

Sang Guru, setelah mengakhiri khotbah ini, memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran-kebenarannya, brahmana itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :— “Brahmana ini adalah brahmana yang sama pada masa itu, dan guru yang terkenal itu adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Advertisements
Tagged ,

GAHAPATI-JĀTAKA

“Saya tidak suka ini,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru, tentang seorang bhikkhu yang menyesal, ketika berdiam di Jetavana dan dalam pembicaraannya, Beliau berkata, “Kaum wanita tidak pernah bisa dijaga dengan baik; bagaimanapun juga mereka akan melakukan perbuatan salah dan menipu suami mereka.” Dan kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau berikut.

 

Dahulu kala di masa pemerintahan Brahmadatta, Raja Benares, Bodhisatta lahir di daerah Kerajaan Kāsi sebagai putra seorang perumah tangga. Setelah tumbuh dewasa, dia menikah dan tinggal menetap sebagai perumah tangga. Adapun istrinya adalah seorang wanita jahat dan dia berselingkuh dengan kepala desa. Bodhisatta mendengar kabar angin itu dan berpikir dalam hatinya bagaimana dia dapat mengujinya.  Pada waktu itu, semua biji-bijian telah habis terendam selama musin hujan dan terjadi kelaparan. Tetapi waktu itu, padi mulai bertunas. Semua penduduk desa datang bersama dan memohon bantuan dari kepala desa mereka, sambil berkata, “Dua bulan dari sekarang, ketika panen, kami akan membayarmu kembali.” Mereka pun mendapatkan seekor sapi tua darinya dan memakannya. Suatu hari, kepala desa itu melihat kesempatannya dan saat Bodhisatta pergi merantau, dia mengunjungi rumah tersebut.

 

Saat mereka baru mulai bersenang-senang, Bodhisatta berjalan kembali dari gerbang desa menuju ke rumah. Wanita tersebut sedang memandang ke arah gerbang desa dan melihatnya. “Mengapa, siapakah ini?” tanyanya dalam hati sewaktu melihat Bodhisatta yang sedang berdiri di ambang pintu. “Itu adalah dia!” Wanita tersebut mengenalinya dan dia memberi tahu kepala desa. Kepala desa tersebut gemetaran ketakutan. “Jangan takut,” kata wanita itu, “saya mempunyai suatu rencana. Anda tahu bahwa kami mendapat daging darimu untuk dimakan: berpura-puralah seakan-akan Anda sedang menagih pembayaran untuk daging itu, saya akan memanjat ke lumbung dan berdiri di pintu itu sambil meneriakkan, ‘Tidak ada padi di sini!’ sedangkan Anda harus berdiri di tengah ruangan dan bersikeras dengan berteriak berulang-ulang kali, ‘Saya punya anak-anak di rumah; berikanlah bayaran untuk daging itu!’ Sambil berkata demikian, wanita tersebut memanjat ke atas lumbung dan duduk di dekat pintunya. Yang satunya lagi berdiri di tengah rumah dan berteriak, “Berikan saya bayaran untuk daging itu.” Sedangkan wanita tersebut menjawab, sambil duduk, “Tidak ada padi di dalam lumbung; Saya akan membayarnya ketika musim panen tiba; jangan ganggu saya sekarang!” Perumah tangga yang baik itu masuk ke dalam rumah dan melihat apa yang sedang mereka lakukan. “Ini pasti rencana wanita jahat itu,” pikirnya, dan dia berkata kepada kepala desa, “Tuan Kepala Desa, ketika kami memakan daging sapi tua milikmu, kami telah berjanji untuk memberimu beras dalam waktu dua bulan. Setengah bulan pun belum berlalu; jadi mengapa Anda mencoba untuk menagihnya sekarang? Itu bukanlah alasan Anda berada disini; Anda pasti datang untuk hal yang lain. Saya tidak suka cara-caramu. Wanita jahat di sana yang melakukan perbuatan salah; sudah tahu tidak ada beras di dalam lumbung, tetapi dia memanjat ke atas dan duduk di sana, sambil berteriak, ‘Tidak ada beras di sini!’ dan Anda berteriak, ‘Berikanlah!’ Saya tidak suka perbuatan kalian berdua!” Dan untuk membuatnya lebih jelas, dia mengucapkan bait berikut:—

 

Saya tidak suka ini, saya tidak suka itu;  Saya tidak suka wanita itu, yang berdiri di lumbung  dan berteriak, ‘Saya tidak bisa membayarnya!’

 

Tidak juga Anda, tidak juga Anda, Tuan! Sekarang dengar:—harta dan perbekalanku sedikit; Anda memberikan kepadaku seekor sapi yang kurus  dan waktu dua bulan untuk membayarnya;  Sekarang, sebelum harinya, Anda menagih kepadaku! Saya sama sekali tidak menyukainya. Setelah berkata demikian, dia menarik rambut kepala desa itu, menyeretnya ke luar, ke halaman, menjatuhkannya, dan ketika kepala desa itu berteriak, “Saya adalah kepala desa!” dia mencemoohnya—“Tolong, ganti rugi, atas kerusakan harta benda orang lain!” sambil memukulinya sampai pingsan. Kemudian dia menarik lehernya dan melemparnya ke luar rumah. Dia menarik rambut wanita jahat itu, menyeretnya ke luar dari lumbung, menjatuhkannya ke bawah dan mengancamnya—“Jika Anda melakukan hal seperti ini lagi, akan kupastikan Anda tetap mengingatnya!” Sejak saat itu, kepala desa bahkan tidak berani melihat ke rumah tersebut, dan wanita itu tidak berani melakukan perbuatan salah bahkan hanya di dalam pikirannya.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenaran-kebenaran, di akhir kebenarannya, bhikkhu yang menyesal tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Perumah tangga baik yang menghukum kepala desa itu adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

RĀDHA-JĀTAKA

 

“Saya sudah pulang,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal. Diceritakan bahwasanya Sang Guru bertanya kepadanya apakah dia benar-benar adalah seorang bhikkhu yang menyesal, dan dia mengiyakannya. Sewaktu ditanyakan apa alasannya, dia menjawab, “Karena nafsuku timbul ketika melihat wanita dengan dandanannya.” Kemudian Sang Guru berkata, “Bhikkhu, tidak ada yang bisa menjaga wanita sepenuhnya. Di masa lampau, para penjaga ditempatkan untuk menjaga pintu-pintu, tetapi masih saja mereka tidak bisa menjaganya agar aman; bahkan setelah Anda mendapatkannya, Anda tidak akan dapat mempertahankannya.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta dilahirkan ke dunia sebagai seekor burung nuri. Namanya adalah Rādha (Radha) dan adiknya yang paling bungsu bernama Poṭṭhapāda (Potthapada). Sewaktu masih sangat muda, keduanya tertangkap oleh seorang penangkap burung dan diberikan kepada seorang brahmana di Benares. Brahmana itu memelihara mereka seperti anaknya sendiri. Tetapi istri brahmana tersebut adalah wanita yang jahat, tidak bisa dijaga. Suaminya kemudian harus bepergian untuk melaksanakan tugasnya dan berkata kepada burung-burung mudanya sebagai berikut, “ Tāta, saya akan pergi untuk melaksanakan tugasku. Jagalah ibumu setiap saat; perhatikanlah apakah ada laki-laki lain yang mengunjunginya.” Kemudian dia pergi, meninggalkan istrinya dalam pengawasan burung-burung mudanya.

 

Setelah dia pergi, wanita itu mulai melakukan perbuatan salah; siang dan malam tamu-tamu datang dan pergi—tidak ada habisnya. Potthapada, yang memerhatikan hal ini, berkata kepada Radha—“Tuan kita memercayakan wanita ini kepada kita dan sekarang dia melakukan perbuatan yang salah. Saya akan berbicara kepadanya.” “Jangan,” kata Radha. Tetapi Potthapada tidak mendengarkannya. “Bu,” katanya, “mengapa Anda melakukan perbuatan yang salah?” Betapa wanita itu ingin membunuhnya! Tetapi dengan berpura-pura seakan-akan dia hendak membelainya, dia memanggilnya, “ Tāta , kamu adalah putraku! Saya tidak akan pernah melakukannya lagi! Kemarilah, Sayang!” Maka dia pun keluar; kemudian wanita itu menangkapnya dan sambil berteriak, “Apa! Kamu menceramahiku! Kamu tidak tahu diri!” Kemudian wanita itu menekan lehernya dan melemparnya ke tungku. Brahmana tersebut pulang. Setelah beristirahat, dia bertanya kepada Bodhisatta: “Baiklah, Tāta , bagaimana dengan ibumu—apakah dia melakukan perbuatan yang salah atau tidak?” dan sambil bertanya, dia mengulangi bait pertama:—

 

Saya sudah pulang, perjalanan telah selesai  dan sekarang saya di rumah lagi; Ayo katakan padaku; apakah ibumu setia?  Apakah dia berselingkuh dengan laki-laki lain?

 

Radha menjawab, “Ayah, para bijak tidak akan mengatakan hal-hal yang tidak mendatangkan kebaikan, baik itu telah terjadi maupun tidak terjadi.” Kemudian dia menjelaskannya dengan mengulangi bait kedua: Karena apa yang dikatakannya sekarang dia terbaring mati, terbakar menjadi abu di sana; Tidaklah baik untuk mengatakan kebenarannya, kalau tidak, saya akan bernasib seperti Potthapada.

 

Demikian Bodhisatta menguraikannya kepada brahmana itu, kemudian dia melanjutkan—“Ini juga bukanlah tempat yang cocok untuk kutempati,” kemudian setelah mengucapkan selamat tinggal kepada brahmana tersebut, dia terbang pergi ke dalam hutan.

 

Setelah Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau  memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran-kebenaran, bhikkhu yang menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“ Ānanda adalah Poṭṭhapāda (Potthapada), dan Aku sendiri adalah Rādha (Radha).”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

MITTĀMITTA-JĀTAKA

 

“Dia tidak tersenyum,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Sāvatthi, tentang seorang bhikkhu. Bhikkhu ini mengambil sepotong kain yang disimpan oleh gurunya karena merasa yakin jika dia mengambilnya, gurunya tidak akan marah. Kemudian dia membuat sebuah tas sepatu dari kain itu, dan pergi. Ketika gurunya menanyakan mengapa dia mengambilnya, dia membalas bahwa dia merasa yakin jika dia melakukannya, maka gurunya tidak akan marah. Guru tersebut menjadi kalap, bangkit dan memukulnya. “Keyakinan apakah yang ada di antara Anda dan saya?” tanyanya. Kejadian ini tersebar sampai kepada para bhikkhu lainnya. Suatu hari mereka berkumpul bersama membicarakan hal ini di dalam balai kebenaran. “Āvuso , bhikkhu muda anu merasa sangat yakin terhadap persahabatan antara dia dan gurunya, oleh karenanya dia mengambil sepotong kain dan membuatnya menjadi sebuah tas sepatu. Kemudian guru tersebut menanyakan kepadanya keyakinan apa yang ada di antara mereka, dan menjadi marah, bangkit dan memukulnya.” Sang Guru masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan dengan duduk bersama di sana. Mereka memberi tahu Beliau. Kemudian Beliau berkata, “Ini bukanlah yang pertama kalinya, Para Bhikkhu, orang tersebut telah mengecewakan kepercayaan temannya. Dia melakukan hal yang sama sebelumnya.” Dan kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai putra seorang brahmana di dalam Kerajaan Kāsi. Ketika tumbuh dewasa, dia meninggalkan keduniawian; dia mengembangkan kesaktian, pencapaian meditasi di dalam dirinya, dan berdiam di daerah Himalaya dengan sekelompok pengikutnya. Salah seorang dari kelompok petapa ini tidak mematuhi perkataan Bodhisatta dan memelihara seekor anak gajah yang kehilangan induknya. Makhluk ini, seiring berjalannya waktu, tumbuh menjadi besar, kemudian membunuh tuannya dan pergi kabur ke dalam hutan. Petapapetapa tersebut melakukan upacara pemakamannya, dan kemudian datang menjumpai Bodhisatta, menanyakan pertanyaan ini kepadanya, “Guru, bagaimanakah kita mengetahui bahwa seseorang itu adalah kawan atau lawan?” Bodhisatta menyatakan ini kepada mereka dalam baitbait berikut:—

 

Dia tidak tersenyum ketika bertemu dengannya,  tidak ada sambutan yang diberikan olehnya, Dia tidak mau melihatnya, dan menjawabnya dengan  kata ‘tidak’.

 

Ini adalah tanda-tanda dari musuhmu yang dapat dilihat:  Jika seorang bijak melihat dan mendengar ini, maka dia akan mengetahui musuhnya.

 

Dalam kata-kata ini, Bodhisatta menyatakan tandatanda dari kawan dan lawan. Setelah itu, dia mengembangkan kediaman luhur dan masuk ke alam brahma.

 

Setelah Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Bhikkhu yang ditanya adalah petapa yang memelihara anak gajah, gurunya adalah gajah tersebut, para pengikut Buddha adalah kelompok petapa tersebut, dan Aku adalah pemimpin mereka.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

VALĀHASSA-JĀTAKA

 

“Mereka yang mengabaikan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal. Ketika Sang Guru menanyakannya apakah benar kalau dia adalah seorang bhikkhu yang menyesal, bhikkhu tersebut menjawab bahwa itu benar. Ketika ditanyakan apa alasannya, dia menjawab bahwa nafsunya bangkit ketika melihat seorang wanita yang berpakaian indah. Kemudian Sang Guru berkata kepadanya sebagai berikut, “Bhikkhu, wanita menggoda laki-laki dengan bentuk badan dan suara mereka, wewangian, minyak wangi, dan sentuhan, serta dengan tipu muslihat dan permainan mereka; demikianlah mereka mendapatkan laki-laki di dalam kekuasaan mereka; dan segera setelah mereka merasa bahwa semua ini telah berhasil, mereka menghancurkan laki-laki, sifat, kekayaan dan semuanya dengan cara-cara jahat mereka. Ini menyebabkan mereka mendapat julukan yaksa wanita. Di masa lampau juga, sekelompok yaksa wanita menggoda sekelompok karavan pedagang dan menguasai mereka. Setelah itu, ketika mereka melihat laki-laki yang lainnya, mereka membunuh semua orang dari kelompok pertama itu dan kemudian memangsa mereka, mengunyah mereka dengan gigi mereka, dan darah mengalir turun dari kedua pipi mereka.” Dan kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, di Pulau Ceylon terdapat sebuah kota yaksa yang disebut Sirīsavatthu , dan dihuni oleh para yaksa wanita. Ketika sebuah kapal karam, para yaksa wanita ini merias dan mendandani diri mereka sendiri, dan sambil membawa nasi dan bubur, dengan rombongan pelayan dan anak-anak mereka di pinggul, mereka menghampiri para pedagang tersebut. Untuk membuat mereka berpikir bahwa di sana adalah kota (hunian) manusia, para yaksa wanita tersebut membuat mereka melihat di sana dan di sini para laki-laki yang sedang membajak dan menggembalai sapi, segerombolan ternak, anjing dan sebagainya. Kemudian setelah menghampiri pedagangpedagang itu, para yaksa wanita tersebut menawarkan kepada para pedagang untuk menyantap bubur, nasi dan makanan lain yang mereka bawa. Para pedagang, semuanya tidak sadar, memakan apa yang ditawarkan. Setelah mereka makan dan minum, dan ketika sedang beristirahat, para yaksa wanita itu menyapa mereka demikian, “Di mana kalian tinggal? Dari mana asal kalian? Hendak pergi ke mana, dan apa yang membawa kalian ke sini?” “Kami terdampar di sini,” jawab mereka. “Bagus sekali, Tuan-tuan Terhormat,” balas mereka, “tiga tahun telah berlalu sejak suami kami pergi berlayar, dan mungkin mereka telah mati. Kalian adalah pedagang juga, kami bersedia menjadi istri-istri kalian.” Demikianlah mereka menyesatkan para laki-laki itu dengan tipu muslihat wanita mereka, sampai mereka masuk ke dalam kota yaksa tersebut. Kemudian jika mereka memiliki laki-laki lainnya yang sebelumnya telah mereka tangkap, mereka akan mengikat semuanya itu dengan rantai gaib dan melemparkan mereka ke dalam rumah penyiksaan. Dan jika mereka tidak menemukan para laki-laki yang terdampar di tempat mereka tinggal, maka mereka akan menyisir pantai sampai sejauh Sungai Kalyāṇi di satu sisi dan Pulau Nāgadīpa di sisi lainnya. Inilah cara mereka. Suatu ketika, lima ratus pedagang yang kapalnya karam terdampar di pantai dekat kota para yaksa wanita itu. Para yaksa itu mendatangi mereka dan memikat mereka sampai mereka membawa para pedagang tersebut ke kota mereka; orang-orang yang mereka tangkap sebelumnya kemudian mereka ikat dengan rantai gaib dan dilemparkan ke rumah penyiksaan. Kemudian pemimpin yaksa wanita itu mengambil pemimpin pedagang tersebut, dan yaksa yang lainnya mengambil pedagang lainnya, sampai lima ratus yaksa mendapatkan lima ratus pedagang; dan mereka menjadikan para laki-laki itu sebagai suami mereka. Kemudian pada malam harinya, ketika suaminya tidur, pemimpin yaksa wanita itu bangun dan pergi menuju ke rumah penyiksaan, membunuh beberapa laki-laki di sana dan memangsa mereka. Yang lain melakukan hal yang sama. Ketika pemimpin yaksa itu kembali setelah memangsa daging manusia, tubuhnya menjadi dingin. Pemimpin pedagang itu memeluknya dan mengetahui bahwa dia adalah seorang yaksa. “Kelima ratus lainnya pastilah yaksa juga!” pikirnya dalam hati, “kami harus melarikan diri!” Maka pada waktu subuh, ketika pergi mencuci mukanya, dia berkata kepada para pedagang lainnya dengan kata-kata berikut, “Mereka semua ini adalah yaksa, bukan manusia! Segera setelah mendapatkan para laki-laki lain yang terdampar, mereka akan menjadikan para laki-laki tersebut sebagai suami, dan akan memakan kita. Ayo, mari kita kabur!” Dua ratus lima puluh dari mereka menjawab, “Kami tidak bisa meninggalkan mereka. Pergilah kalian jika kalian mau, tetapi kami tidak akan pergi.” Kemudian pemimpin pedagang tersebut dengan dua ratus lima puluh pedagang lainnya yang siap mematuhinya, melarikan diri mereka dikarenakan takut dengan para yaksa itu. Pada masa itu, Bodhisatta dilahirkan ke dunia sebagai seekor kuda terbang106, seluruh badannya putih dan paruhnya seperti seekor gagak, dengan bulunya seperti rumput muñja, mempunyai kekuatan gaib, dapat terbang di udara. Dari Himalaya dia terbang di udara sampai tiba di Ceylon . Di sana dia melewati kolam-kolam dan danau-danau, dan makan biji-bijian yang tumbuh liar di sana. Dan ketika melewati tempat-tempat itu, dia mengucapkan bahasa manusia sebanyak tiga kali dengan penuh welas asih, dengan berkata—“Siapa yang hendak pulang? Siapa yang hendak pulang?” Para pedagang itu mendengar apa yang diucapkannya dan berteriak—“Kami hendak pulang, Tuan!” sambil merapatkan tangan mereka beranjali dan mengangkatnya ke atas, ke dahi mereka, dengan penuh hormat. “Naiklah ke punggungku,” kata Bodhisatta. Sebagian dari mereka naik ke atas punggungnya, sebagian bergelantungan pada ekornya, dan sebagian lagi tetap berdiri dengan sikap yang penuh hormat. Kemudian Bodhisatta mengangkat mereka semuanya, bahkan yang sedang memberi hormat kepadanya, dan mengangkut mereka semua, dua ratus lima puluh orang, ke negeri mereka dan menurunkan mereka di kediaman masing-masing; kemudian dia pulang kembali ke kediamannya. Sedangkan para yaksa wanita itu, ketika para laki-laki lain datang ke tempat itu, membunuh dua ratus lima puluh orang yang masih tinggal di sana itu dan melahap mereka.

 

Sang Guru berkata, menunjukannya kepada para bhikkhu, “Para Bhikkhu, sebagian pedagang itu binasa karena jatuh di tangan para yaksa wanita, sedangkan sebagian lainnya dengan menuruti perintah kuda yang luar biasa itu masingmasing pulang dengan selamat ke rumah mereka; demikian juga, mereka yang mengabaikan nasihat para Buddha, para bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, upasika, akan mendapatkan penderitaan yang besar di empat alam rendah, tempat mereka dihukum di bawah lima jenis ikatan dan lain sebagainya. Sedangkan mereka yang mendengarkan nasihat tersebut akan dapat terlahir dalam tiga kelahiran yang baik, enam alam dewa, dua puluh alam brahma, dan mencapai nibbana, mereka mencapai kebahagiaan yang terbesar.” Kemudian Dia Yang Sempurna Kebijaksanaan-Nya mengulangi bait-bait berikut:—

 

Mereka yang mengabaikan Buddha ketika Beliau memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan, seperti para yaksa memakan para pedagang itu,  demikianlah mereka akan binasa.

 

Mereka yang mendengarkan Buddha ketika Beliau memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan, seperti kuda terbang menyelamatkan para pedagang itu, demikianlah mereka akan mendapatkan pembebasan.

 

Ketika Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna , dan banyak dari mereka mencapai tingkat kesucian Sotāpanna, Sakadāgāmi, Anāgāmi atau Arahat :—“Para siswa Buddha adalah dua ratus lima puluh orang yang menuruti nasihat kuda, dan Aku sendiri adalah kuda tersebut.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

PABBATŪPATTHARA-JĀTAKA

 

“Sebuah danau yang menyenangkan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Raja Kosala. Diceritakan bahwa seorang pejabat istana berselingkuh di tempat kediaman para selir raja. Raja menyelidiki masalah ini, dan ketika mengetahui semuanya, dia memutuskan untuk memberitahu Sang Guru. Maka dia datang ke Jetavana dan memberi hormat kepada Sang Guru, menceritakan bagaimana seorang pejabat istananya berselingkuh dan menanyakan apa yang harus dilakukan olehnya. Sang Guru menanyakan kepadanya apakah pejabat istana itu berguna baginya, dan apakah dia mencintai istrinya. “Ya,” jawabnya, “orang itu sangat berguna; dia adalah tangan kanan kerajaan. Dan saya mencintai wanita itu.” “Paduka”, Sang Guru menjawab, “jika pembantu berguna dan wanita dicintai, maka tidaklah perlu untuk mencelakai mereka. Di masa lampau juga, raja mendengarkan kata-kata dari orang bijak dan tidak memedulikan permasalahan seperti ini.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta dilahirkan di dalam keluarga pejabat istana. Ketika tumbuh dewasa, dia menjadi penasihat raja dalam urusan pemerintahan dan spiritual. Kala itu, seorang pejabat istana berselingkuh di kediaman para selir raja, dan raja mengetahui hal itu. “Dia adalah seorang anak buah yang paling berguna,” pikirnya, “dan saya mencintai wanita itu. Saya tidak boleh menghancurkan keduanya. Saya akan bertanya kepada orang bijak di kerajaan. Jika saya harus membiarkannya, maka saya akan membiarkannya; jika tidak, maka saya tidak akan membiarkannya.” Dia memanggil Bodhisatta dan mempersilakannya duduk. “Pendeta Bijak,” katanya, “saya memiliki sebuah pertanyaan untukmu.” “Tanyakanlah, wahai Paduka! Saya akan menjawabnya,” balasnya. Kemudian raja menanyakan pertanyaannya dengan kata-kata dalam bait pertama berikut:—

 

Sebuah danau yang menyenangkan terbentang di suatu kaki bukit yang indah, tetapi serigala menggunakannya meskipun dia tahu  singa yang menjaganya.

 

“Pastinya,” pikir Bodhisatta, “salah satu pejabat istananya berselingkuh di kediaman para selir raja.” Kemudian dia mengulangi  bait kedua berikut:

 

Di sungai yang besar hewan-hewan minum  sesuka hati mereka: Jika Anda menyayanginya, maka bersabarlah— sungai tetaplah sungai.

 

Demikianlah orang yang bijak tersebut menasihati raja. Dan raja menuruti semua nasihat itu, dia memaafkan keduanya, menyuruh mereka pergi dan jangan berbuat zina lagi. Sejak saat itu hubungan mereka berakhir. Kemudian raja memberikan derma dan melakukan kebajikan, sampai akhir hidupnya, dia masuk sebagai penghuni alam surga. Kemudian Raja Kosala juga, setelah mendengar uraian ini, memaafkan mereka berdua dan tetap bersikap biasa saja.

 

Setelah  Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, Ānanda adalah raja, dan Aku sendiri adalah penasihat bijak.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

MAṆICORA-JĀTAKA

 

“Tidak ada dewa di sini,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika tinggal di Veḷuvana (Veluvana), tentang bagaimana Devadatta mencoba membunuh-Nya. Mendengar bahwa Devadatta mencoba membunuh-Nya, Beliau berkata, “Para Bhikkhu, ini bukanlah pertama kalinya Devadatta mencoba membunuh-Ku; dia sudah pernah mencobanya dahulu dan gagal.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala Brahmadatta memerintah di Benares ketika Bodhisatta dilahirkan sebagai anak dari sebuah keluarga yang tinggal di desa yang tidak jauh dari kota. Ketika dia tumbuh dewasa, mereka mencarikan seorang wanita muda dari Benares untuk dinikahkan dengannya. Dia adalah seorang gadis yang elok dan rupawan, cantik bagaikan bidadari dewa (apsara), luwes bagaikan tanaman menjalar, jelita bagaikan kinnara. Namanya adalah Sujātā (Sujata); dia setia, berbudi luhur dan bertanggung jawab. Dia selalu bertindak sepatutnya terhadap suami dan orang tua suaminya. Gadis ini amat disayangi dan dihargai oleh Bodhisatta. Demikianlah mereka hidup bersama dalam kebahagiaan, kesatuan dan kemanunggalan pikiran. Suatu hari Sujata berkata kepada suaminya, “Saya ingin menemui ibu dan ayahku.” “Bagus sekali, Istriku,” balasnya, “persiapkanlah makanan secukupnya untuk perjalanan.” Dia meminta pelayannya memasak beragam jenis makanan dan meletakkan perbekalannya ke dalam kereta; karena dia yang mengendarai kereta, maka dia duduk di depan dan istrinya di belakang. Mereka menuju Benares, dan di tengah jalan mereka mengistirahatkan kereta, mandi dan makan. Kemudian Bodhisatta kembali naik ke keretanya dan duduk di depan, sedangkan Sujata yang telah mengganti pakaiannya dan merias diri duduk di belakang. Ketika kereta memasuki kota, Raja Benares kebetulan sedang mengadakan upacara mengelilingi kota tersebut dengan menunggangi gajah kebesarannya; dan dia melewati tempat itu. Sujata telah turun dari kereta dan berjalan kaki di belakang. Raja melihatnya; kecantikannya menarik perhatiannya, sehingga dia jatuh cinta kepadanya. Dia memanggil salah satu pengawalnya. “Pergilah,” katanya, “cari tahu apakah wanita itu sudah bersuami atau belum.” Pengawal itu melakukan apa yang diperintahkan dan datang kembali melapor kepada raja, “Dia sudah memiliki suami,” katanya, “apakah Anda melihat laki-laki yang duduk di kereta di sana? Dia adalah suaminya.” Raja tidak bisa menahan perasaan cintanya dan nafsu merasuki pikirannya. “Akan kucari cara untuk menyingkirkan orang ini,” pikirnya, “dan kemudian akan kudapatkan istrinya untukku sendiri.” Dengan memanggil seorang pengawalnya, dia berkata, “Teman, ambillah mahkota permata ini dan pergilah dengan gaya seolah-olah Anda hendak melewati jalan itu. Sewaktu Anda berjalan, jatuhkanlah ini ke dalam kereta laki-laki itu di sana.” Seraya berkata demikian, dia memberikan mahkota permata itu dan menyuruhnya pergi. Pengawal itu menerimanya dan pergi; sewaktu melewati kereta itu, dia menjatuhkannya ke dalamnya, kemudian dia kembali dan melapor kepada raja bahwa itu telah dilaksanakan.  “Saya telah kehilangan sebuah mahkota permata,” teriak raja. Semuanya pun menjadi ricuh. “Tutup seluruh gerbang!” perintah raja, “Tutup semua jalan keluar! Cari pencuri itu!” Pengawal raja mematuhi perintahnya. Seluruh kota dilanda kebingungan. Pengawal tersebut, dengan membawa serta beberapa orang bersamanya, mengarah ke Bodhisatta, berteriak, “He, hentikan keretamu! Raja telah kehilangan sebuah mahkota permata; kami harus memeriksa keretamu!” Kemudian dia pun mencarinya, sampai  akhirnya menemukan permata yang tadinya diletakkan olehnya sendiri. “Pencuri (mahkota) permata!” teriaknya, sambil menangkap Bodhisatta; mereka memukulinya dan menendangnya, kemudian mengikat tangannya ke belakang dan menyeretnya ke hadapan raja, sambil berteriak, “Lihatlah pencuri yang mengambil mahkota permata Anda!” “Penggal kepalanya!” perintah raja. Mereka mencambuknya dan menyiksanya di setiap sudut jalan dan melemparnya keluar kota dari gerbang selatan. Sujata meninggalkan kereta, menjulurkan tangannya, berlari ke suaminya, sambil meratap, “Oh Suamiku, sayalah yang menyebabkanmu berada dalam keadaaan buruk ini!” Pengawal raja melempar Bodhisatta dengan tujuan memancung kepalanya. Ketika dia melihat ini, Sujata terpikir dengan kebaikan dan kebajikan dirinya, sambil merenung demikian di dalam hatinya, “Tidak ada dewa di sini yang cukup kuat untuk menahan tangan orang-orang yang kejam dan jahat itu, yang bertindak semenamena terhadap orang yang bajik,” dengan menangis dan meratap, dia mengulangi bait pertama:—

 

Tidak ada dewa di sini; mereka pasti jauh sekali;— Tidak ada dewa di alam ini yang cukup berkuasa; Sekarang orang-orang jahat dan kejam bisa bertindak sesuka mereka, karena di sini tidak ada yang berani mengatakan tidak kepada mereka.

 

Ketika wanita yang memiliki moralitas ini meratap demikian, maka takhta Sakka103, raja para dewa, menjadi panas karenanya. “Siapa itu yang dapat membuatku turun sebagai raja dewa?” pikir Sakka. Kemudian dia mengetahui apa yang terjadi. “Raja Benares,” pikirnya, “sedang melakukan suatu perbuatan kejam. Dia membuat Sujata yang baik menjadi menderita; sekarang juga saya harus ke tempat itu!” Maka turunlah dia dari alam dewa, dengan kekuatannya, dia menurunkan raja yang jahat itu dari gajah yang ditungganginya, dan meletakkannya di tempat hukuman, sedangkan Bodhisatta diangkatnya dan dihiasnya dengan segala jenis perhiasan, dan dipakaikan jubah raja kepadanya kemudian diletakkan di punggung gajah kerajaan. Algojo mengangkat kapak dan memenggal sebuah kepala—tetapi ternyata itu adalah kepala raja; dan ketika itu telah terpenggal, mereka baru mengetahui bahwa itu adalah kepala raja. Sakka menunjukkan dirinya dan datang ke hadapan Bodhisatta, kemudian menabhiskannya menjadi raja, juga memerintahkan posisi permaisuri diberikan kepada Sujata. Dan ketika para pejabat istana, para brahmana, para penduduk dan yang lainnya melihat Sakka, raja dari para dewa, dengan gembira, mereka berkata, “Raja yang jahat telah dipenggal! Sekarang kita telah mendapat raja yang baik dari Sakka!” Kemudian Sakka melayang di udara dan berkata, “Raja kalian yang baik ini mulai sekarang akan memerintah dengan bijaksana. Jika raja tidak bijaksana, maka dewa akan menurunkan hujan tidak pada musimnya, dan pada musimnya dia tidak akan menurunkan hujan: bahaya kelaparan, bahaya wabah, bahaya perang—tiga ancaman bahaya ini akan mendatanginya.”

 

Demikian dia memberikan pelajaran kepada mereka, dan mengulangi bait kedua:

Untuknya tidak ada hujan yang turun pada musimnya, tetapi, tidak pada musimnya, hujan turun terus-menerus. Seorang raja turun dari langit menuju ke alam ini, melihat alasan mengapa orang ini dipenggal.

 

Demikian Sakka menasihati orang banyak, kemudian dia langsung menuju ke kediamannya. Lalu Bodhisatta memerintah dengan benar, dan kemudian terlahir sebagai penghuni alam surga.

 

Setelah Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, Devadatta adalah raja yang jahat, Anuruddha adalah Sakka, Sujātā (Sujata) adalah ibunya Rāhula, dan raja yang muncul atas pemberian Sakka adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

CULLA-PADUMA-JĀTAKA

 

“Ini tidak lain,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal (tidak puas). Cerita pembuka ini akan dikemukakan di dalam  Ummadantī-Jātaka. Ketika bhikkhu ini ditanya oleh Sang Guru apakah benar bahwasanya dia itu seorang yang tidak puas, dia menjawab bahwa itu benar.

 

“Siapakah,” kata Sang Guru, “yang menyebabkan Anda tidak puas?” Dia menjawab bahwa dia telah melihat seorang wanita yang berpakaian bagus dan karena ditaklukkan oleh nafsulah menyebabkan dirinya tidak puas. Kemudian Sang Guru berkata, “Bhikkhu, kaum wanita semuanya tidak berterima kasih dan tidak setia; orang-orang di masa lampau bahkan sangat bodoh sampai memberikan darah dari lutut kanan kepada mereka untuk diminum dan membuat mereka menyerahkan sepanjang hidup mereka, tetapi masih tidak berhasil mendapatkan hati mereka (wanita).” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai putra permaisuri. Pada hari pemberian namanya, mereka memberinya nama Pangeran Paduma (Teratai). Setelah dirinya, lahir enam adik laki-laki. Satu per satu dari mereka bertujuh tumbuh dewasa, menikah dan menetap, hidup sebagai rekan-rekan raja. Suatu hari raja memandang ke luar, ke halaman istana dan ketika sedang memandang, dia melihat pemuda-pemuda ini dengan pengikut yang banyak dalam perjalanan untuk melayaninya. Timbul kecurigaan bahwasanya mereka bermaksud untuk membunuhnya dan merebut kerajaannya. Jadi dia memanggil mereka dan dengan cara begini berkata kepada mereka, “Putra-putraku, kalian tidak boleh tinggal di kota ini. Jadi pergilah ke tempat lain dan setelah saya wafat, barulah kalian pulang kembali, ambillah kerajaan ini yang merupakan milik keluarga kita.”

 

Mereka setuju dengan kata-kata ayah mereka, dan pulang ke rumah sambil menangis dan meratap. “Bukan masalah ke mana kita akan pergi!” ratap mereka; dan membawa istri-istri mereka bersama, mereka meninggalkan kota dan melakukan perjalanan jauh. Hingga sampailah mereka ke suatu hutan, tempat mereka tidak bisa mendapatkan makanan atau minuman. Dan karena tidak bisa menahan sakit karena kelaparan, mereka bertekad untuk menyelamatkan diri mereka dengan mengorbankan para wanita. Mereka menangkap istri dari adik yang paling muda dan membunuhnya; mereka membagi tubuhnya menjadi tiga belas bagian dan memakannya. Tetapi Bodhisatta dan istrinya menyisihkan satu bagian dan memakan sisanya bersama. Demikian yang mereka lakukan selama enam hari; membunuh dan memakan enam wanita; dan setiap hari Bodhisatta menyisihkan satu bagian, jadi dia mempunyai enam bagian yang disimpan. Pada hari ketujuh, yang lainnya hendak menangkap istri Bodhisatta untuk dibunuh, tetapi sebagai gantinya dia memberikan enam bagian yang telah disimpannya. “Makanlah ini,” katanya, “besok saya akan menanganinya.” Mereka semua makan daging tersebut, dan pada saat mereka tertidur, Bodhisatta dan istrinya melarikan diri. Ketika mereka telah mencapai jarak tertentu, wanita tersebut berkata, “Suamiku, saya tidak bisa berjalan lebih jauh lagi.” Jadi Bodhisatta mengangkatnya di pundaknya dan pada saat matahari terbit, mereka keluar dari hutan. Ketika matahari telah terbit, wanita itu berkata—“Suamiku, saya haus!” “Tidak ada air disini, Istriku!” katanya.

 

Tetapi dia memohonnya terus-menerus, sampai dia menusukkan pedangnya ke lutut kanannya, dan berkata, “Tidak ada air, tetapi duduklah dan minumlah darah dari lututku.” Demikianlah yang dilakukan istrinya. Hingga sampailah mereka ke Sungai Gangga yang sangat besar. Mereka minum, mandi dan makan semua jenis buah serta beristirahat di sebuah tempat yang nyaman. Dan di sana, dekat tikungan sungai, mereka membuat sebuah gubuk petapa dan tinggal di dalamnya. Kala itu, seorang perampok di daerah hulu Sungai Gangga telah terbukti bersalah. Tangan, kaki, hidung dan telinganya telah dipotong, dia diletakkan di dalam sebuah perahu yang dihanyutkan ke sungai besar itu. Sampai tempat ini, dia terapung, sambil merintih keras kesakitan. Bodhisatta mendengar rintihannya yang amat memilukan. “Selama saya hidup,” katanya, “tidak boleh ada makhluk malang yang mati untukku!” Dia pergi ke tepi sungai dan menyelamatkan orang itu. Dia membawanya ke gubuk dan dengan losion dan minyak, dia merawat lukanya. Tetapi istrinya berkata dalam hati, “Orang yang dikeluarkannya dari Sungai Gangga untuk dirawat ini adalah orang yang malas!” Dan dia selalu berjalan sambil meludah dikarenakan kejijikan terhadap orang tersebut.  Setelah luka orang tersebut mulai menutup, Bodhisatta membiarkannya berdiam di gubuk itu bersama dengan istrinya, dan dia membawakan segala jenis buah-buahan dari hutan untuk memberi makan kepada orang tersebut dan istrinya. Dan karena mereka berdiam bersama, istri Bodhisatta jatuh cinta kepada orang tersebut dan melakukan zina. Kemudian dia berniat membunuh Bodhisatta dan berkata kepadanya, “Suamiku, ketika berada di pundakmu di saat kita keluar dari hutan, saya melihat bukit di sana dan berjanji jika Anda dan saya selamat dan tidak terluka, saya akan memberikan persembahan kepada makhluk dewata yang ada di bukit itu. Sekarang makhluk dewata itu menghantuiku, dan saya berniat untuk memberikan persembahanku!” “Bagus sekali,” kata Bodhisatta, tanpa mengetahui muslihatnya. Dia pun mempersiapkan persembahan tersebut dan mengantar kepadanya benda-benda persembahan, dia mendaki puncak bukit itu. Kemudian istrinya berkata kepadanya, “Suamiku, bukan makhluk dewata bukit ini, melainkan dirimulah pemimpin para dewataku! Kemudian sebagai penghormatan kepadamu, pertama saya akan mempersembahkan bunga-bunga ini dan berjalan dengan penuh hormat mengelilingimu dan Anda tetap berada di sebelah kananku, dan saya memberi hormat kepadamu: setelah itu, saya akan memberikan persembahanku kepada makhluk dewata bukit ini.” Sambil berkata demikian, dia mengarahkan suaminya menghadap ke tebing curam dan berpura-pura siap untuk memberi hormat dengan berpradaksina. Demikianlah dia berada di belakang suaminya, dia memukul punggungnya dan melemparkannya ke bawah tebing itu. Kemudian dia berteriak dengan gembira, “Saya telah melihat punggung musuhku!” dan dia turun dari gunung kemudian pergi menjumpai kekasihnya.

 

Bodhisatta jatuh ke bawah tebing, tetapi dia tersangkut di dedaunan, di atas puncak pohon elo yang tidak berduri. Tetapi dia masih tetap tidak bisa turun dari bukit tersebut, jadi di sana dia duduk di antara ranting-ranting, sambil memakan buah-buah elo. Kebetulan di sana terdapat seekor kadal besar (iguana) yang biasanya memanjat dari kaki bukit tersebut dan memakan buah dari pohon elo ini. Hari itu, dia melihat Bodhisatta dan melarikan diri. Hari berikutnya, dia datang dan memakan beberapa buah dari sisi lain pohon itu. Lagi dan lagi dia datang, sampai akhirnya dia menjalin persahabatan dengan Bodhisatta.  “Bagaimana Anda bisa sampai ke tempat ini?” tanyanya; dan Bodhisatta menceritakan kepadanya. “Baiklah, jangan takut,” kata iguana; dan membawanya di punggungnya, dia turun dari bukit itu dan membawanya keluar dari hutan. Di sana dia menurunkannya di jalan besar, menunjukkan kepadanya jalan mana yang harus ditempuh, dan dia sendiri kembali ke dalam hutan. Bodhisatta melanjutkan perjalanan ke sebuah desa dan tinggal di sana sampai dia mendengar kabar tentang kematian ayahnya. Mengetahui hal ini, dia kemudian melanjutkan perjalanan ke Benares. Di sana dia mewarisi kerajaan milik keluarganya dan mendapatkan nama Raja Paduma; sepuluh kualitas seorang raja tidak diabaikannya dan dia memerintah dengan benar. Dia membangun enam balai distribusi dana (balai derma), satu di masing-masing ke empat gerbang, satu di tengah kota dan satunya lagi di depan istana; dan setiap harinya dia mendistribusikan derma sebesar enam ratus ribu keping uang. Kala itu istrinya, sambil membawa kekasih di pundaknya, keluar dari hutan, dia pergi mengemis ke orang-orang, mengumpulkan nasi dan bubur untuk menghidupi kekasihnya. Kalau dia ditanya apa hubungan laki-laki itu dengannya, dia akan menjawab, “Ibunya adalah kakak dari ayah saya, dia adalah sepupu saya; mereka memberikan diriku kepadanya. Walaupun dia akan menemui ajalnya, saya tetap akan memikul suamiku ini di pundakku, menjaganya, dan mengemis makanan untuk menopang hidupnya!” “Betapa istri yang penuh pengabdian!”  kata semua orang. Dan sejak saat itu, mereka memberinya lebih banyak makanan daripada sebelumnya. Beberapa dari mereka bahkan memberinya nasihat, berkata, “Janganlah hidup seperti ini. Raja Paduma adalah Raja Benares; dia telah menggemparkan seluruh India dengan kemurahan hatinya. Dia pastinya akan senang bertemu denganmu; Dia akan menjadi begitu gembira sehingga akan memberikanmu derma yang banyak. Taruhlah suamimu ke dalam keranjang ini dan temuilah beliau.” Berkata demikian, mereka membujuknya dan memberikannya satu keranjang daun. Wanita jahat tersebut menaruh kekasihnya ke dalam keranjang itu dan sambil mengangkatnya, dia pergi ke Benares dan hidup dari apa yang didapatkannya dari balai distribusi dana. Bodhisatta sering menunggangi gajah kerajaan yang penuh perhiasan ke balai derma, dan setelah memberi derma kepada delapan atau sepuluh orang, dia akan pulang ke rumah lagi. Kemudian wanita jahat itu menaruh kekasihnya ke dalam keranjang dan sambil mengangkatnya, dia berdiri di tempat yang biasa raja lewati. Raja melihatnya. “Siapakah dia?” tanya raja. “Seorang istri yang penuh pengabdian,” adalah jawabannya. Raja memanggilnya dan mengenali siapa dirinya. Raja memerintahkannya untuk menurunkan laki-laki itu dari keranjangnya, dan bertanya kepada wanita tersebut, “Apa hubungan laki-laki ini denganmu?”—“Dia adalah anak dari kakak ayah saya, diberikan kepadaku oleh keluargaku, suami saya sendiri,” jawabnya. “Ah, betapa seorang istri yang penuh pengabdian!” teriak semua orang, karena mereka tidak tahu seluk-beluknya; dan mereka memuji wanita jahat tersebut. “Apa—orang rendah ini sepupumu? Apakah keluargamu memberikannya kepadamu?” tanya raja, “Suamimu, benarkah demikian?” Wanita tersebut tidak mengenali raja, dan, “Ya, Paduka!” katanya. “Dan inikah putra Raja Benares? Bukankah Anda istri Pangeran Paduma, putri dari seorang raja anu, namamu adalah anu? Bukankah Anda yang minum darah dari lututku? Bukankah Anda jatuh cinta kepada orang rendah ini, dan melempar saya ke bawah tebing? Ah, Anda pikir saya telah mati, dan di sini Anda berada, dengan kematian tertulis di dahimu sendiri—dan inilah saya, masih hidup!” Kemudian dia menoleh ke arah pejabat istananya. “Ingatkah kalian tentang apa yang saya ceritakan, ketika kalian bertanya kepadaku? Enam adik-adikku membunuh enam istri mereka dan memakannya; tetapi saya melindungi istriku tanpa terlukai dan membawanya ke tepi Sungai Gangga, tempat saya tinggal di gubuk petapa. Saya menarik seorang pelaku kejahatan keluar dari sungai itu dan merawatnya. Wanita ini jatuh cinta kepadanya dan melempar saya ke bawah tebing, tetapi saya dapat menyelamatkan diriku dengan menunjukkan kebaikan. Ini tidak lain adalah wanita jahat yang melempar saya dari tebing itu: ini, dan tidak lain, adalah makhluk rendah yang dihukum itu!” Dan dia mengucapkan bait berikut:

 

Ini tidak lain, dan wanita rendah ini adalah dia; Makhluk rendah yang tidak bertangan, tidak lain,  yang kalian lihat; Kata wanita itu—‘Ini adalah suamiku.’ Para wanita pantas mati; mereka tidak mempunyai kebenaran.

 

Dengan sebuah tongkat besar, pukullah makhluk rendah ini sampai mati, yang berbaring menunggu untuk merampas istri orang lain. Kemudian bawa wanita rendah yang setia ini segera, potonglah hidung dan telinganya sebelum dia mati.

 

Walaupun Bodhisatta tidak bisa menyembunyikan amarahnya dan menjatuhkan hukuman ini untuk mereka, tetapi dia tidak melakukan seperti itu; dia kemudian menahan amarahnya dan memerintahkan untuk mengikat keranjang tersebut ke kepala wanita itu dengan sangat kencang hingga dia tidak bisa melepasnya; makhluk rendah itu diletakkannya ke dalam keranjang dan mereka diusir keluar dari kerajaannya.

 

Setelah Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran-kebenaran, bhikkhu yang menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna: —“Pada masa itu, para thera anu adalah keenam bersaudara tersebut, Ciñcā adalah sang istri, Devadatta adalah pelaku kejahatan, Ānanda adalah iguana, dan Raja Paduma adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged

SIRI-KĀḶAKAṆṆI-JĀTAKA

“Sekalipun wanita dapat bersikap adil,” dan seterusnya.

Kisah ini akan dikemukakan di Mahā-ummagga-Jātaka.

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

RUHAKA-JĀTAKA

 

“Bahkan tali busur yang putus,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, mengenai godaan yang timbul dari mantan istri. Cerita pembuka ini akan dijelaskan di dalam Buku VIII, pada Indriya-Jātaka. Kemudian Sang Guru mengatakan kepada bhikkhu ini, “Itu adalah wanita yang mencelakakanmu. Pada masa lampau, dia juga mempersulitmu di depan raja dan seluruh pejabatnya dan memberimu alasan yang tepat untuk meninggalkan rumahmu.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Raja Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan oleh permaisurinya. Ketika dia tumbuh dewasa, ayahnya wafat; dan dia menjadi raja yang memerintah secara adil. Bodhisatta memiliki seorang pendeta kerajaan bernama Ruhaka, dan Ruhaka ini menikahi seorang wanita brahmana tua. Raja memberikan brahmana itu seekor kuda yang dilengkapi dengan perhiasan-perhiasannya, lalu dia menunggangi kuda itu dan pergi untuk melayani raja. Ketika dia sedang menunggangi kudanya yang penuh perhiasan, orang-orang di samping kiri dan kanannya memuji dengan suara keras: “Lihat kuda yang bagus itu!” teriak mereka, “cantik sekali!”

 

Ketika pulang, dia masuk ke rumahnya dan mengatakan kepada istrinya, “Istriku yang baik,” katanya, “kuda kita berjalan dengan baik! Orang di samping kanan dan kiri semua memujinya.” Istrinya tidak lebih baik dari yang seharusnya dan penuh dengan kebohongan; jadi dia membalas suaminya demikian, “Ah, Suamiku, Anda tidak mengerti di mana keindahan kuda ini. Semuanya terletak pada perhiasannya yang bagus. Jika Anda ingin membuat dirimu sebagus kuda itu, pakailah perhiasan itu pada dirimu dan berjingkrak-jingkraklah di jalanan seperti seekor kuda. Anda akan menemui raja dan dia akan memujimu, semua orang akan memujimu.” Brahmana bodoh ini mendengar semua itu, tetapi tidak mengetahui apa yang direncanakan istrinya. Jadi dia percaya kepadanya dan melakukan sesuai apa yang dikatakannya. Semua yang melihatnya tertawa terbahak-bahak: “Ini guru yang hebat!” semua berkata. Lalu raja berteriak malu terhadapnya “Kenapa, Guruku,” katanya, “apakah ada yang salah dengan pikiranmu? Apakah Anda gila?” Pada saat itu brahmana tersebut sadar dia telah berbuat salah dan dia merasa sangat malu. Jadi dia marah pada istrinya dan dia pulang dengan tergesa-gesa, berkata pada dirinya sendiri, “Wanita itu telah membuatku malu di depan raja dan seluruh pasukannya; saya akan menghukumnya dan mengusirnya!” Tetapi wanita yang licik itu mengetahui bahwa dia pulang dalam keadaan marah; dia mengambil langkah terlebih dulu dan berangkat dari pintu samping kemudian pergi menuju istana, tempat dia tinggal selama empat atau lima hari. Sewaktu raja mendengar tentang hal ini, dia memanggil pendeta kerajaannya dan berkata kepadanya, “Guruku, semua wanita melakukan kesalahan, Anda harus memaafkan wanita ini.” Kemudian dengan tujuan membuatnya memaafkan istrinya, dia mengucapkan bait pertama:   Bahkan tali busur yang putus dapat diperbaiki  dan menjadi utuh kembali; Maafkanlah istrimu dan janganlah menyimpan kemarahan di dalam dirimu.

 

Mendengar ini, Ruhaka mengucapkan bait kedua:

 

Selama masih ada bahan dan pekerja juga, akan mudah membeli tali busur yang baru. Saya akan mencari istri yang baru; sudah cukup terhadap yang satu ini. Demikianlah dia mengusirnya dan menikahi wanita brahmana lain sebagai istrinya.

 

Sang Guru, setelah mengakhiri uraian ini, memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran-kebenaran itu, bhikkhu yang tergoda dikukuhkan pada tingkat kesucian Sotāpanna —“Pada masa itu, mantan istrinya adalah orang yang sama, Ruhaka adalah bhikkhu yang tergoda dan Aku sendiri adalah Raja Benares.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,