Category Archives: kisah jataka

GIRIDANTA-JĀTAKA

 

“Berkat penjaga kuda,“ dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Veḷuvana, tentang persahabatan (seorang bhikkhu) dengan yang tidak baik. Cerita pembukanya telah dikemukakan di dalam Mahilāmukha-Jātaka. Sekali lagi, seperti sebelumnya, kata Sang Guru: “Di masa lampau, bhikkhu ini bersahabat dengan yang tidak baik, sama seperti yang dilakukannya sekarang ini.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, ada seorang raja yang bernama Sāma (si Hitam) berkuasa di Benares. Pada masa itu, Bodhisatta adalah anggota keluarga dari seorang menteri istana, dan tumbuh dewasa menjadi penasihat raja dalam urusan pemerintahan dan spiritual raja. Raja memiliki kuda kerajaan yang bernama Paṇḍava , dan Giridanta adalah pelatihnya, seorang yang pincang. Kuda itu terbiasa melihat pelatihnya berjalan terpincang-pincang di depannya, sambil memegang tali kekang; mengetahui bahwa dia adalah pelatihnya, kuda itu menirunya dan menjadi pincang. Seseorang memberi tahu raja bahwa kuda itu menjadi pincang. Raja mengirimkan dokter-dokter hewan ke sana. Mereka memeriksa kuda itu dan menemukan bahwa dia sangat sempurna, dan membuat laporan atas dasar itu. Kemudian raja mengirim Bodhisatta. “Pergilah, Teman,” katanya, “dan cari tahulah tentang semua itu.” Kemudian dia mengetahui bahwasanya kuda itu menjadi pincang karena dia bersama pelatih yang pincang. Maka dari itu, dia memberitahukan hal itu kepada raja. “Ini adalah masalah persahabatan dengan yang tidak baik,” katanya, dan mulai mengulangi bait pertama:

 

Berkat penjaga kuda, Paṇḍava yang malang dalam keadaan berbahaya demikian: Tidak menunjukkan sifat-sifat terdahulunya,  tetapi terpaksa meniru.

 

“Baiklah, Teman,” kata raja,  “apa yang harus dilakukan?” “Carilah penjaga kuda yang baik,” balas Bodhisatta, “dan kuda itu akan menjadi baik seperti sebelumnya.” Kemudian dia mengulangi bait kedua: —

 

Carilah penjaga kuda yang baik dan cocok,  yang kepadanya Anda dapat bergantung, untuk mengendalikan dan melatihnya,  kuda itu akan berubah menjadi baik dengan cepat; Kebiasaan buruknya akan kembali menjadi benar; dia akan meniru temannya.

 

Raja pun melakukan demikian, kuda tersebut menjadi baik seperti sebelumnya. Raja memberikan kehormatan yang sangat besar kepada Bodhisatta, merasa senang bahwa dia bahkan tahu hal-hal mengenai hewan.

 

Sang Guru, ketika uraian ini berakhir, mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Devadatta adalah Giridanta pada masa itu;  Bhikkhu yang berteman dengan yang tidak baik adalah kuda itu, dan penasihat yang bijak adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

VĀLODAKA-JĀTAKA

 

“Minuman sisa yang lemah,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang lima ratus orang yang menyantap sisa-sisa makanan.  Dikatakan bahwasanya di Sāvatthi terdapat lima ratus orang yang telah meninggalkan urusan duniawi kepada putraputri mereka, dan tinggal bersama, di bawah ajaran Sang Guru. Dari mereka semua ini, sebagian mencapai tingkat kesucian Sotāpanna , sebagian mencapai tingkat kesucian Sakadāgāmi, sebagian mencapai tingkat kesucian Anāgāmi, tidak ada lagi satu pun dari mereka yang menjadi manusia biasa. Orang-orang yang mengundang Sang Guru juga akan mengundang mereka ini. Tetapi mereka mempunyai lima ratus pembantu yang melayani mereka, membawakan mereka sikat gigi, air pencuci mulut, dan untaian bunga; anak-anak ini memakan sisa-sisa makanan mereka. Setelah makan dan istirahat, mereka biasanya berlari turun ke Aciravatī , dan di tepi sungai tersebut mereka akan bergulat seperti para mallian 77 asli, berteriak terus-menerus. Sedangkan kelima ratus upasaka tersebut begitu tenang, hampir tidak menimbulkan suara ribut sama sekali, dan selalu menjaga keheningan.   Sang Guru kebetulan mendengar suara para pembantu itu bersorak-sorai. “Suara apakah itu, Ānanda (Ananda)?” tanya Beliau. “Para pembantu yang memakan sisa-sisa makanan,” adalah jawabannya. Sang Guru berkata: “Ananda, ini bukan pertama kalinya para pembantu ini hidup dengan menyantap sisa-sisa makanan dan membuat keributan sesudahnya, tetapi juga mereka telah melakukan hal yang sama sebelumnya. Dan kemudian juga para upasaka ini di masa lampau begitu tenang, sama seperti mereka sekarang.” Setelah berkata demikian, atas permintaannya, Sang Guru menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari salah satu menterinya, dan menjadi penasihat raja dalam semua hal, baik pemerintahan maupun spiritual. Kabar terdengar sampai kepada raja tentang adanya pemberontakan di perbatasan. Dia memerintahkan lima ratus kuda dipersiapkan untuknya, dan bala tentara lengkap dengan empat kelompok pengawal78. Dengan persiapan ini dia berangkat, dan (berhasil) memadamkan pemberontakan, setelah itu, dia kembali ke Benares. Sesampainya di istana, dia memberikan perintah, “Karena kuda-kuda telah letih, berikan mereka makanan yang penuh kandungan airnya dan sari buah anggur untuk diminum.” Kuda-kuda itu meminum minuman lezat tersebut, beristirahat di dalam kandang mereka, dan berdiri dengan tenang di dalamnya. Tetapi terdapat banyak sekali sisa minuman mereka, dengan hampir semua sarinya yang telah diperas keluar. Para penjaga kuda menanyakan kepada raja apa yang harus dilakukan. “Campurkan dengan air,” perintahnya, “saring dengan kain, dan berikan kepada keledai-keledai yang membawa makanan kuda.” Minuman sisa itu pun diminum oleh keledaikedelai tersebut. Ini membuat mereka kehilangan pengendalian diri dan mereka pun berlarian dengan kencang di halaman istana sambil mengeluarkan suara-suara ribut yang keras. Dari sebuah jendela yang terbuka, raja melihat Bodhisatta dan memanggilnya.

 

“Lihatlah di sana, bagaimana gilanya keledai-keledai itu karena minuman sisa tersebut! Bagaimana mereka mengeluarkan suara, bagaimana mereka melompat-lompat! Sedangkan kuda-kuda keturunan bagus tersebut, setelah meminum minuman keras tersebut, tidak mengeluarkan suara-suara ribut; mereka sangatlah diam, dan tidak melompat-lompat sama sekali. Apakah artinya ini?” dan dia mengulangi bait pertama:

 

Minuman sisa yang lemah, sarinya telah diperas semua membuat semua keledai ini mabuk tidak karuan: Kuda-kuda keturunan bagus, yang meminum sari buah keras tersebut, berdiri diam, juga tidak melompat-lompat.

 

Dan Bodhisatta menjelaskan hal ini dalam bait kedua:—

 

Makhluk rendah yang kasar, mencicipi dan merasai, kemudian bersenang-senang dan mabuk: Dia yang mulia akan selalu menjaga pikirannya jernih meskipun menghabisi minuman yang paling keras.

 

Setelah raja mendengar jawaban Bodhisatta, dia memerintahkan keledai-keledai untuk dikeluarkan dari halaman istana. Kemudian, dengan tetap menuruti nasihat Bodhisatta, dia memberikan derma dan melakukan kebajikan-kebajikan lainnya sampai akhirnya meninggal dan menerima buah sesuai dengan perbuatannya.

 

Setelah uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:— “Pada masa itu, para pembantu itu adalah kelima ratus keledai, dan para upasaka adalah kelima ratus kuda keturunan bagus, Ānanda (Ananda) adalah sang raja, dan penasihat bijak itu adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged

SAṀGĀMĀVACARA-JĀTAKA

 

“Oh Gajah, kamu seorang pahlawan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Thera Nanda. Sang Guru pada kepulangan-Nya yang pertama ke kota Kapila, menerima Pangeran Nanda, adik-Nya, ke dalam kelompok bhikkhu Saṅgha (Sangha), dan setelah pulang ke Sāvatthi , Beliau tinggal di sana. Thera Nanda teringat bagaimana ketika dia meninggalkan rumahnya setelah membawa patta, mengikuti Sang Guru, Janapadakalyāṇī (Janapadakalyani) melihat keluar dari jendela, dengan rambutnya setengah terurai, dan berkata—“Mengapa Pangeran Nanda pergi dengan Sang Guru? Segeralah kembali, Tuanku!”—mengingat ini, dia menjadi menyesal, tidak puas, pucat pasi, dan urat nadi di sekujur tubuhnya tampak jelas. Ketika Sang Guru mengetahui ini, Beliau berpikir, “Bagaimana kalau Aku bantu Nanda untuk mencapai kesucian?” Beliau pun pergi ke kamar Nanda, dan duduk di tempat duduk yang diberikan kepada-Nya. “Baiklah, Nanda,” tanya Beliau, “apakah Anda merasa gembira dengan ajaran-Ku?” “Bhante,” balas Nanda, “saya jatuh cinta pada Janapadakalyani, dan saya menjadi merasa tidak puas.” “Apakah Anda pernah berkunjung ke Himalaya, Nanda?” “Tidak, Bhante, tidak pernah.” “Kalau begitu, mari kita pergi.” “Tetapi, Bhante, saya tidak memiliki kekuatan gaib, bagaimana saya bisa pergi?” “Aku akan membawamu, Nanda.” Setelah berkata demikian, Sang Guru membawanya dengan memegang tangannya dan kemudian terbang ke angkasa.  Di tengah perjalanan, mereka melewati sebidang tanah yang terbakar. Di sana, di satu tongkol pohon yang hangus terbakar, dengan hidung dan ekor yang setengah terbakar, bulu yang hangus dan sisa bara, yang tertinggal kulit diselimuti darah, seekor kera betina duduk. “Apakah Anda melihat kera itu, Nanda?” Sang Guru bertanya. “Ya, Bhante.” “Lihatlah dirinya dengan baik-baik,” kata Sang Guru. Kemudian Beliau menunjukkan, dengan hamparan yang melebihi enam puluh yojana, Manosilā , tujuh danau yang besar, Anotatta dan lainnya, lima sungai yang besar, seluruh dataran tinggi Himalaya, dengan gunung-gunung yang indah sekali yang bernama Gunung Emas, Gunung Perak dan Gunung Permata, dan ratusan tempat lainnya yang menyenangkan. Kemudian Sang Guru bertanya, “Nanda, apakah Anda pernah melihat tempat tinggal Tiga Puluh Tiga Dewa (Alam Tāvatiṁsā )?” “Tidak, Bhante, tidak pernah,” balasnya. “Kemarilah, Nanda,” kata Sang Guru, “Aku akan menunjukkan Alam Tāvatiṁsā kepadamu.” Di sana, Beliau membawanya ke takhta marmer kuning, dan membuatnya duduk di atasnya. Sakka, raja para dewa di dua alam dewa, datang dengan rombongan dewanya, memberi sambutan dan duduk di satu sisi. Para pelayannya yang berjumlah dua puluh lima juta dan lima ratus bidadari (apsara) yang berkaki sangat indah, datang dan memberikan sambutan, kemudian duduk di satu sisi. Sang Guru membuat Nanda melihat lima ratus apsara tersebut secara berulang-ulang, berikut dengan keinginan terhadap mereka. “Nanda” tanya Sang Guru, “Apakah Anda melihat para bidadari berkaki nan indah ini? “Ya, Bhante.” “Baiklah, siapa yang lebih cantik, mereka atau Janapadakalyani?” “Oh, Bhante, Janapadakalyani diibaratkan seperti kera betina yang buruk itu jika dibandingkan demikian dengan para apsara ini!” “Baiklah, Nanda. Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?” “Bagaimanakah caranya, Bhante, mendapatkan para apsara ini?” “Dengan menjalani kehidupan sebagai seorang petapa (samana) yang sesuai Dhamma,” jawab Sang Guru, “seseorang bisa mendapatkan para apsara ini.” Dia pun kemudian berkata, “Jika Yang Terberkahi berjanji bahwa kehidupan sebagai seorang petapa akan membuahkan didapatkannya para apsara ini, maka saya akan menjalankan kehidupan sebagai seorang petapa.” “Bagus sekali, Nanda, Aku berjanji demikian.” “Baiklah, Bhante,” balasnya, “jangan menghabiskan waktu lebih lama lama lagi. Marilah kita pergi, dan saya akan menjadi seorang petapa.” Sang Guru membawanya kembali ke Jetavana. Thera ini kemudian mulai menjalankan kehidupan petapa yang sesuai dengan Dhamma. Sang Guru menceritakan kepada Sāriputta (Sariputta), sang Panglima Dhamma, bagaimana adik-Nya telah membuat diri-Nya berjanji di tengah para dewa di Alam Tāvatiṁsā mengenai para bidadari dewa tersebut (apsara). Dengan cara yang sama, Beliau juga bercerita kepada Thera Mahāmoggallāna, Thera Mahākassapa, Thera Anuruddha, Thera Ānanda, sang Bendahara Dhamma, semua delapan puluh siswa yang agung (mahāsāvaka), dan kemudian dari satu ke lainnya, Beliau juga menceritakannya kepada bhikkhu-bhikkhu lainnya. Sang Panglima Dhamma, Sariputta, bertanya kepada Nanda, “Benarkah seperti yang kudengar, Āvuso Nanda, Anda membuat Buddha berjanji bahwa Anda akan mendapatkan para apsara dari Alam Tāvatiṁsā , dengan menjalankan kehidupan suci sebagai seorang petapa? Kemudian,” dia meneruskan, “bukankah semua kehidupanmu ini hanya ditujukan untuk wanita dan nafsu saja? Jika Anda menjalankan kehidupan suci hanya demi wanita, apalah bedanya dirimu dengan orang-orang yang bekerja hanya untuk mendapatkan bayaran?” Perkataan ini memadamkan semua semangat di dalam dirinya dan membuatnya malu terhadap dirinya sendiri. Dengan cara yang sama, kedelapan puluh mahāsāvaka dan bhikkhu-bhikkhu lainnya, Nanda Yang Mulia itu menjadi malu. “Saya telah berbuat salah,” pikirnya. Di dalam perasaan malu dan penyesalannya yang mendalam, dia mulai bangkit kembali dan mengembangkan (meditasi) pandangan terangnya sampai akhirnya dia mencapai tingkat kesucian Arahat. Dia menghadap kepada Sang Guru dan berkata, “Bhante, saya membebaskan Yang Terberkahi dari janjiNya.” Sang Guru berkata, “Karena Anda telah mencapai tingkat kesucian Arahat, Nanda, dengan demikian Aku juga telah terbebas dari janji-Ku.”

 

Ketika para bhikkhu mendengar ini, mereka mulai membicarakannya di dalam balai kebenaran. “Alangkah patuhnya Thera Nanda itu!  Āvuso , satu kata nasihat sudah membangkitkan hiri dan ottappa-nya. Segera setelah itu, dia mulai hidup sebagai seorang petapa dan sekarang dia telah menjadi seorang Arahat!” Sang Guru datang dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan bersama. Mereka memberi tahu Beliau. “Para Bhikkhu,” kata Beliau, “Nanda juga sama patuhnya di masa lampau, seperti sekarang ini,’ dan kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah kepada mereka.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang pelatih gajah. Ketika tumbuh dewasa, dengan saksama dia diajari semua keahlian yang berhubungan dengan pelatihan gajah. Dia bekerja di bawah kekuasaan seorang raja yang merupakan musuh dari Raja Benares. Dia melatih gajah kerajaan yang menguntungkan ini sampai tahap yang sempurna. Raja tersebut bertekad untuk menaklukan Benares. Dengan menunggangi gajah kebesarannya, dia memimpin pasukan besar yang sangat kuat untuk menghadapi Benares dan mengepungnya. Kemudian dia mengirimkan surat kepada Raja Benares, “Bertarung atau menyerah.” Raja Benares memilih untuk bertarung. Tembok dan gerbang, menara-menara dan benteng–benteng dijaganya dengan pasukan besar yang perkasa, dan dia melawan musuh itu. Raja saingannya melengkapi gajah kebesarannya dengan senjata, dan mengenakan perisai, memegang tongkat gancu yang tajam di tangannya, kemudian menunggangi gajahnya ke arah kota. “Sekarang,” katanya, “saya akan menghancurkan kerajaan ini dan membunuh musuhku, kemudian mengambil alih kekuasaan kerajaannya.” Tetapi ketika melihat para pasukan lawan yang sedang bertahan, yang melemparkan lumpur panas dan bebatuan dari katapel-katapel perang mereka, serta beragam jenis senjata lainnya, gajah tersebut menjadi takut dan kebingungan sehingga tidak berani mendekati tempat itu. Kemudian datang si pelatih, sambil berteriak, “Anakku, seorang pahlawan seperti dirimu ini, medan pertempuran adalah sama dengan rumahmu! Di tempat seperti ini sangatlah memalukan untuk melarikan diri!” Dan untuk membangkitkan semangatnya, dia mengucapkan dua bait berikut:

 

Wahai Gajah, kamu adalah seorang pahlawan, rumahmu adalah medan pertempuran:  Di sana pintu gerbang tegak berdiri di hadapanmu: mengapa berbalik arah dan menyerah?

 

Bergegaslah, terjanglah terali besi itu, dan hancurkanlah pilar-pilar tembok tersebut! Hancurkanlah pintu gerbang itu, percepatlah perang ini, dan masuk ke dalam kota!

 

Gajah itu mendengarkannya; satu nasihat saja cukup untuk mengubah dirinya. Dengan melilitkan belalainya di bagian utama pilar-pilar tembok, dia menghancurkannya seperti jamur; dia menghancurkan pintu gerbang lawan, merusak terali-terali besi, dan memaksa masuk ke dalam kota, kemudian memenangkan pertempuran untuk rajanya.

 

Ketika Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, Nanda adalah gajah, Ānanda adalah rajanya, dan pelatihnya adalah diriKu sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged

ASADISA-JĀTAKA

 

“Pangeran Asadisa, ahli dalam seni memanah,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana, tentang pelepasan agung. Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini, Para Bhikkhu, Tathāgata melakukan pelepasan agung: di kehidupan-kehidupan sebelumnya Beliau juga melepaskan payung putih kerajaan dan melakukan hal yang sama.” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta dikandung sebagai putra dari permaisurinya. Permaisuri melahirkan dengan selamat. Dan pada hari pemberian nama, mereka memberinya nama Asadisa (Pangeran Tiada Tara). Pada saat dia mulai bisa berjalan, permaisuri mengandung satu bayi lagi yang juga bakal menjadi orang bijaksana. Dia melahirkan dengan selamat, dan pada hari penamaan mereka memberinya nama Brahmadatta (Pangeran Karunia Brahma). Ketika Asadisa berumur enam belas tahun, dia pergi ke Takkasilā untuk memperoleh pendidikannya. Di sana di bawah bimbingan seorang guru yang termasyhur, dia mempelajari tiga kitab Weda dan delapan belas keahlian; dalam seni memanah dia tidak ada bandingannya; kemudian dia kembali ke Benares. Pada saat akan meninggal dunia, raja menurunkan titah bahwa Asadisa harus menjadi raja sebagai penggantinya, dan Brahmadatta sebagai wakil raja. Kemudian raja meninggal dunia; setelah itu takhta kerajaan diwariskan kepada Asadisa, tetapi ditolak olehnya dengan mengatakan bahwa dia tidak menginginkannya. Maka mereka menahbiskan Brahmadatta sebagai raja dengan upacara pemercikan. Asadisa tidak memedulikan kejayaan dan tidak menginginkan apa-apa.  Saat adiknya memerintah, Asadisa tinggal di dalam segala kebesaran kerajaan. Para pelayan datang dan memfitnah dirinya di hadapan adiknya, “Asadisa ingin menjadi raja!” kata mereka. Brahmadatta memercayai mereka dan membiarkan dirinya ditipu; dia mengirimkan beberapa orang untuk menawan Asadisa. Salah satu pelayan Asadisa menceritakan kepadanya apa yang terjadi. Dia menjadi marah kepada adiknya dan pergi ke kerajaan lain. Ketika tiba di sana, dia mengabarkan pesan kepada raja bahwa seorang pemanah telah datang dan menunggunya. “Berapa bayaran yang dimintanya?” tanya raja. “Seratus ribu per tahun.” “Baik,” kata raja, “biarkan dia masuk.” Asadisa pun menghadap dan berdiri menunggu. “Apakah Anda pemanah itu?” tanya raja. “Ya, Paduka.” “Bagus sekali, saya menerimamu bekerja untukku.” Setelah itu, Asadisa bekerja melayani raja. [88] Tetapi para pemanah lama merasa jengkel dengan bayaran yang diberikan kepadanya; “Terlalu banyak,” keluh mereka.  Suatu hari, raja keluar ke tamannya. Di sana, di bawah pohon mangga, tempat sehelai kain (tirai) telah diletakkan di papan batu, dia duduk di atas sebuah dipan yang sangat bagus. Dia kebetulan memandang ke atas, dan di sana tepat di atas puncak pohon dia melihat kerumunan buah mangga. “Itu terlalu tinggi untuk dapat dipanjat,” pikirnya. Maka setelah memanggil pemanahnya, dia menanyakan kepada mereka apakah mereka mampu memotong kerumunan tersebut dengan panah dan menurunkan untuknya. “Oh,” kata mereka, “tidak terlalu sulit untuk kami lakukan itu. Akan tetapi, Paduka telah cukup (sering) melihat keahlian kami. Pendatang baru itu dibayar jauh lebih banyak daripada kami, mungkin Anda bisa memintanya untuk menurunkan kerumunan buah tersebut.” Kemudian raja memanggil Asadisa dan menanyakan apakah dia sanggup melakukannya. “Oh tentu, Paduka, jika saya boleh memilih posisi saya.” “Posisi mana yang Anda inginkan?” “Tempat di mana tempat duduk Anda berada.” Raja lalu meminta tempat duduk itu digeser dan memberikan tempat itu kepadanya.  Asadisa tidak membawa busur di tangannya; dia biasanya membawanya di dalam pakaiannya; maka dia memerlukan sehelai kain (tirai). Raja memerintahkan untuk membawakan dan membentangkan kain tersebut untuknya dan pemanah tersebut masuk ke dalamnya. Dia menanggalkan pakaian putih yang dipakainya dan mengenakan sehelai pakaian merah di kulitnya; kemudian dia mengencangkan sabuknya dan mengenakan sebuah kain pinggang merah. Dari sebuah tas, dia mengeluarkan sebuah pedang yang terpisah berkeping-keping, yang disatukannya dan dililit pada bagian kirinya. Berikutnya dia mengenakan baju perisai emas, mengikat sarung anak panah di punggungnya dan mengeluarkan busurnya yang bagus, yang terdiri dari bagian-bagian, yang disatukannya bersama, memasang tali busur, merah seperti batu karang; mengikat alas kain di kepalanya; memutar-mutar anak panah dengan kukunya. Dia membuka kain itu dan keluar, terlihat seperti seorang pangeran ular yang muncul dari tanah yang terbelah. Dia pergi ke tempat memanah itu, anak panah dipasang di busur dan kemudian bertanya kepada raja. “Paduka,” katanya, “apakah saya harus menurunkan buah ini dengan satu tembakan ke atas, atau dengan menjatuhkan anak panah di atasnya?” “Anakku,” kata raja, “saya sering melihat sasaran yang diturunkan dengan tembakan ke atas, tetapi tidak pernah ada yang diambil dengan dijatuhkan dari bagian atasnya. Anda lebih baik membuat anak panah jatuh di atasnya.”

 

“Paduka,” jawab pemanah itu, “anak panah ini akan terbang tinggi, sampai ke Alam Cātumahārājika dan kemudian kembali sendiri. Anda harus bersabar sampai dia kembali.” Raja pun berjanji (untuk bersabar). Kemudian pemanah itu berkata lagi, “Paduka, panah ini pada saat tembakan ke atas akan menusuk tangkai tepat di tengah; dan ketika dia turun, dia tidak akan belok sehelai rambut pun ke arah lain, tetapi akan kena tepat ke titik yang sama, dan membawa turun tandan buah itu bersamanya.” Kemudian dia menembakkan panah itu dengan cepat. Ketika panah itu naik, dia menusuk tepat di tengah tangkai mangga tersebut. Saat pemanah tersebut mengetahui panahnya telah mencapai Alam Cātumahārājika, dia menembakkan panah yang lain dengan kecepatan yang lebih cepat daripada yang pertama. Yang ini mengenai bulu dari panah pertama, dan memutarnya kembali; kemudian anak panah itu sendiri terbang setinggi Alam Tāvatiṁsā . Di sana para dewa menangkap dan menyimpannya. Suara dari panah yang mengarah turun itu membelah langit seperti suara halilintar. “Suara apakah itu?” tanya setiap orang. “Itu adalah suara panah yang sedang mengarah turun,” jawab pemanah tersebut. Para penonton semuanya ketakutan setengah mati, takut kalau panah jatuh mengenai mereka, tetapi Asadisa menenangkan mereka. “Tidak usah takut,” katanya, “saya akan pastikan panah itu tidak akan jatuh ke tanah.” Turunlah anak panah itu, tidak berbelok sehelai rambut pun, tetapi dengan mulus menembusi tangkai tandan buah mangga tersebut. Pemanah tersebut menangkap anak panah itu dengan satu tangannya dan buah di tangan yang satunya lagi, jadi keduanya tidak jatuh ke tanah. “Saya tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya!” teriak para penonton, terhadap kejadian luar biasa ini. [90] Betapa (luar biasanya) mereka memuji orang hebat ini! Betapa mereka berseru dan bertepuk tangan dan menjentikkan jari-jari mereka, ribuan sapu tangan melambailambai di udara! Dalam kegembiraan dan kesenangan mereka, orang-orang istana memberikan hadiah kepada Asadisa yang berjumlah uang sepuluh juta. Dan raja juga menghujani dirinya dengan hadiah-hadiah dan kehormatan-kehormatan terhadapnya. Di saat Bodhisatta sedang menerima kemuliaan dan kehormatan itu dari tangan raja ini, tujuh orang raja yang tahu bahwasanya tidak ada Asadisa di Benares, mendatangkan pasukan gabungan mengepung kerajaan dan meminta raja untuk bertempur atau menyerah. Raja menjadi sangat ketakutan. “Di mana kakakku?” tanyanya. “Dia bekerja melayani seorang raja tetangga,” jawaban yang terdengar. “Jika kakakku tidak datang,” katanya, “saya akan menjadi orang mati. Pergi, berlututlah kepadanya atas namaku,  penuhilah tuntutannya, bawalah dia ke sini!” Utusannya datang dan melakukan apa yang dipesankannya. Asadisa memohon diri kepada rajanya dan kembali ke Benares. Dia menenangkan adiknya dan memintanya untuk tidak takut; kemudian menggores71 sebuah pesan di panahnya dengan tulisan: “Saya, Asadisa, telah kembali. Saya bertekad untuk membunuh kalian semua dengan satu panah yang akan saya tembakkan kepada kalian. Bagi mereka yang masih mau hidup, silakan pergi.” Panah ini ditembakkannya sedemikian rupa sehingga jatuh di tengah piring emas, tempat ketujuh raja tersebut sedang makan bersama. Ketika membaca tulisan itu, semuanya berlarian, takut setengah mati. Demikianlah pangeran tersebut mengusir ketujuh raja itu, tanpa menitikkan darah setetes pun, yang bisa diminum oleh seekor lalat kecil; Kemudian, memandang adiknya, dia meninggalkan kesenangan indriawi dan melepaskan keduniawian, mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi, yang pada akhir hidupnya dia terlahir di alam brahma.

 

“Dan demikianlah caranya”, kata Sang Guru, “Asadisa menaklukkan ketujuh raja dan memenangkan pertempuran; setelah itu, dia menjalankan kehidupan suci sebagai seorang petapa.” Kemudian dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, Beliau mengucapkan dua bait berikut:

 

Pangeran Asadisa, ahli dalam seni memanah,  seorang pemimpin yang gagah berani; Cepat bagaikan kilat anak panahnya sebagai pembawa kehancuran bagi prajurit tangguh. Di antara musuhnya yang telah membawa malapetaka, dia bahkan tidak melukai mereka satu pun; Dia menolong adiknya, dan memenangkan  kejayaan dari pengendalian diri.

 

Ketika Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, Ānanda adalah sang adik, dan Aku sendiri adalah sang kakak.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

DUDDADA-JĀTAKA

 

“Sulit untuk melakukan seperti,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang derma yang diberikan secara bersama-sama. Dua sahabat di Sāvatthi, putra dari tuan tanah, mengumpulkan dana yang menyediakan semua keperluan untuk diberikan kepada Buddha dan para siswa-Nya. Dua sahabat tersebut mengundang mereka semuanya, memberikan dana yang banyak selama tujuh hari, dan pada hari ketujuh memberikan semua kebutuhan mereka.

 

Yang tertua dari kedua sahabat itu memberi salam hormat kepada Sang Guru dan berkata, dengan duduk disamping-Nya, “Bhante, di antara pemberi-pemberi dana ini, ada yang memberi banyak dan ada yang memberi sedikit; meskipun demikian, semoga mereka menuai hasil sama untuk semuanya.” Kemudian dia mempersembahkan pemberian tersebut. Jawaban Sang Guru adalah: “Dengan memberikan benda-benda ini kepada Buddha dan para pengikutnya, kalian semua, Para Upasaka, telah melakukan suatu perbuatan yang mulia. Di masa lampau, orangorang bijak memberikan dana yang banyak, sama seperti ini, dan demikian mereka mempersembahkan pemberian mereka.” Kemudian atas permintaannya, Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir di dalam keluarga seorang Brahmana Kasi. Ketika tumbuh dewasa, dia dididik sepenuhnya di Takkasilā; setelah itu dia meninggalkan keduniawian dan menjalankan kehidupan suci sebagai seorang petapa, dan dengan sekelompok pengikutnya, pergi dan tinggal di Himalaya. Di sana dia tinggal dalam waktu yang lama. Suatu kali, untuk mendapatkan garam dan cuka (bumbubumbu lainnya), dia pergi mengembara ke daerah perkotaan, dan akhirnya tiba di Benares. Di sana dia bermalam di taman kerajaan, dan keesokan paginya dia beserta kelompoknya pergi berkeliling untuk mendapatkan derma ke suatu desa di luar gerbang kota. Orang-orang memberi derma kepada mereka. Hari berikutnya, dia berkeliling di kota untuk mendapatkan derma.

 

Semua orang merasa senang memberikan derma mereka kepadanya. Mereka bergabung bersama dan mengumpulkan dana; menyediakan dana yang banyak untuk para petapa tersebut. Setelah pengumpulan itu, pemimpin mereka mempersembahkan dana mereka dengan mengucapkan katakata yang sama seperti di atas. Bodhisatta menjawab, “ Āvuso , bila diberikan dengan pikiran penuh keyakinan, maka tidak ada pemberian yang sedikit.” Dan dia mengucapkan terima kasihnya dengan beberapa bait berikut:

 

Sulit untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh orangorang yang baik, memberikan yang dapat diberikan. Orang-orang yang tidak baik susah mencontoh kehidupan orang-orang yang baik.

 

Oleh karena itu, ketika yang baik dan yang tidak baik meninggalkan kehidupan ini,  yang jahat akan terlahir di alam neraka,  dan yang baik akan terlahir di alam surga.

 

Demikian pernyataan terima kasihnya. Dia tinggal di tempat tersebut selama empat bulan di musim hujan, dan kemudian kembali ke Himalaya, tempat dia melatih meditasi (jhana), dan tanpa terputus sedikit pun sampai akhirnya dia terlahir di alam brahma.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu,” kata Beliau, “para pengikut Buddha adalah kelompok petapa itu, dan Aku sendiri adalah pemimpin mereka.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SATADHAMMA-JĀTAKA

 

“Sesuatu yang kurang berarti,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang dua puluh satu cara hidup yang tidak benar. Pada suatu masa, terdapat banyak bhikkhu yang menyokong kehidupan mereka dengan menjadi tabib, utusan, pengirim pesan, melakukan pertukaran derma, dan sebagainya, dua puluh satu cara hidup yang tidak benar. Kesemuanya ini akan dikemukakan di dalam Sāketa-Jātaka. Ketika Sang Guru mengetahui bahwa mereka hidup dengan cara-cara demikian, Beliau berkata, “Sekarang terdapat banyak bhikkhu yang hidup dengan cara yang tidak benar. Orang-orang yang hidup dengan cara demikian tidak akan terlepas dari kelahiran sebagai yaksa atau sebagai peta; mereka akan terlahir sebagai ternak yang memikul kuk; mereka akan terlahir di alam neraka; untuk keberuntungan dan berkah mereka seharusnya memberikan khotbah Dhamma yang mengandung moral yang jelas dan sederhana.“ Maka Beliau mengumpulkan para bhikkhu Saṅgha (Sangha) dan berkata, “Para Bhikkhu, kalian tidak seharusnya mendapatkan kebutuhan kalian dengan dua puluh satu cara yang tidak benar. Makanan yang didapatkan dengan cara yang tidak benar adalah seperti sepotong besi yang membara, seperti racun yang mematikan. Cara-cara yang tidak benar ini dikecam dan dicela oleh semua siswa dari para Buddha dan Pacceka Buddha. Bagi yang menyantap makanan yang diperoleh dengan tidak benar, tidak akan mendapatkan tawa dan kegembiraan. Makanan yang didapatkan dengan cara-cara demikian, dalam ajaran-Ku, adalah sama seperti sisa makanan dari salah satu kasta yang paling rendah (kaum candala). Bagi siswa dari ajaran Dhamma, mereka yang menyantapnya adalah seperti menyantap makanan dari kaum candala.” Dan dengan kata-kata ini, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka semuanya.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang kaum candala. Ketika dewasa, dia melakukan perjalanan atas tujuan tertentu, dengan membawa sejumlah nasi dan makanan di dalam sebuah keranjang daun sebagai persediaan makanannya. Kala itu terdapat seorang pemuda di Benares, yang bernama Satadhamma. Dia adalah putra dari seseorang yang mulia (kastanya), seorang brahmana utara. Dia juga melakukan perjalanan atas tujuan tertentu, tetapi tidak ada nasi ataupun makanan yang dibawanya dengan keranjang. Keduanya bertemu di jalan besar. Kata brahmana muda itu kepada yang lainnya, “Anda berasal dari kasta apa?” Dia menjawab, “Candala. Dan Anda sendiri?”

“Oh, saya adalah seorang brahmana utara.”

“Baiklah, mari kita melakukan perjalanan bersama,” dan demikianlah mereka pergi bersama. Waktu sarapan tiba: Bodhisatta duduk di tempat yang ada air jernih, mencuci tangannya, dan membuka keranjangnya. “Apakah Anda ingin makan?” katanya. “Tidak,” kata yang lainnya, “saya tidak mau, Anda adalah seorang candala.” “Baiklah,” kata Bodhisatta. Dengan hati-hati agar tidak menghamburkan sedikit pun, dia meletakkan makanan sebanyak yang diinginkannya pada sehelai daun yang terpisah dari yang lainnya, mengikat kembali keranjangnya, dan mulai makan. Kemudian dia minum sedikit air, mencuci tangan dan kakinya, dan mengangkat sisa nasi dan makanan. “Mari, Brahmana Muda,” katanya, dan mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali. Seharian mereka berjalan bersama, dan di saat petang hari, mereka berdua mandi di tempat air yang jernih. Setelah mereka keluar, Bodhisatta duduk di sebuah tempat yang menyenangkan, membuka bungkusannya dan mulai makan. Kali ini dia tidak menawarkannya kepada brahmana itu. Brahmana muda itu letih karena telah berjalan seharian dan sangat lapar sekali. Di sana dia berdiri, melihat-lihat dan berpikir, “Jika dia menawarkan saya (makanan), saya akan menerimanya.” Tetapi Bodhisatta terus makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “Candala ini,” pikir brahmana muda itu, “menyantap setiap bagian (makanannya) tanpa sepatah kata pun. Baiklah, saya akan meminta sedikit (darinya). Saya dapat membuang bagian luarnya yang kotor dan memakan sisanya.” Dan demikianlah yang dilakukannya; dia memakan yang tersisa. Segera setelah selesai makan, dia berpikir, “Betapa saya telah memalukan statusku, kastaku, keluargaku! Saya telah memakan sisa-sisa dari seorang candala!” Benar-benar sangat kuat penyesalannya; Dia memuntahkan makanannya dan darah keluar besertanya. “Oh, betapa buruk perbuatan yang telah kulakukan,” ratapnya, “demi sesuatu yang kurang berarti!” dan dia melanjutkan dalam katakata dari bait pertama berikut:

Sesuatu yang kurang berarti! Sisa-sisa makanannya! juga diberikan di luar kemauannya! Saya adalah seorang (kaum) brahmana,  dan makanan itu telah membuatku sakit.

 

Demikianlah brahmana muda itu membuat ratapannya; dengan menambahkan, “Mengapa kulakukan sesuatu yang buruk hanya demi kehidupanku?” Dia mengasingkan dirinya di dalam hutan dan tidak pernah membiarkan mata mana pun melihatnya lagi, dan di sana dia meninggal dalam kesendirian.

 

Setelah kisah ini berakhir, Sang Guru mengulangi, “Bagaikan brahmana muda itu, Para Bhikkhu, setelah menyantap sisa-sisa makanan seorang candala, tidak lagi mendapatkan tawa dan kegembiraan karena dia telah menyantap makanan yang tidak semestinya; demikianlah siapa pun yang menganut kepercayaan ini dan hidup dengan cara yang tidak benar, ketika dia menyantap makanan dan menyokong kehidupannya dengan cara apa pun yang dikecam dan dicela oleh Buddha, tidak akan mendapatkan tawa dan kegembiraan.” Kemudian, dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, Beliau mengulangi bait kedua berikut:

Dia yang hidup dengan cara yang tidak benar (buruk), dia yang tidak peduli jika dia melakukan keburukan, seperti brahmana di dalam kisah itu, tidak akan mendapatkan kegembiraan.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran-Nya:—Di akhir kebenarannya, banyak bhikkhu yang mencapai tingkat kesucian

Sotāpanna dan yang lainnya—“Pada masa itu, Aku adalah orang yang berkasta rendah tersebut (candala).”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

TIṆḌUKA-JĀTAKA

 

“Lihatlah di sekeliling kita, mereka semua berdiri,” dan seterusnya.

 

Ini adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang kesempurnaan dalam kebijaksanaan. Seperti kisah di dalam Mahābodhi-Jātaka dan Ummagga-Jātaka, ketika mendengar pujian kebijaksanaan-Nya, Beliau berkata, “Bukan hanya kali ini saja Buddha itu bijaksana, tetapi juga sebelumnya Beliau adalah bijaksana dan penuh akal,” dan menceritakan kisah masa lampau berikut.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor kera. Dia tinggal di Himalaya bersama dengan kawanan delapan puluh ribu ekor kera lainnya.

Tidak jauh dari sana terdapat sebuah desa yang kadang-kadang berpenghuni dan kadang-kadang kosong. Dan di tengah-tengah desa itu terdapat sebuah pohon tiṇḍuka, dengan buah yang manis, diselimuti oleh ranting-ranting dan cabang-cabang. Ketika tempat itu kosong, semua kera tersebut selalu pergi ke sana dan memakan buah-buahnya. Suatu ketika, pada musim berbuah, desa itu penuh dengan orang-orang, pagar dari bambu-bambu runcing di pasang di sekitarnya dan pintu masuk pagar dijaga. Pohon tersebut berdiri dengan semua dahannya melengkung ke bawah dikarenakan berat dari buahnya. Kemudian kera-kera itu mulai ingin tahu, “Desa anu, tempat kita biasa mengambil buah tiṇḍuka untuk dimakan, saya ingin tahu apakah pohon itu telah berbuah atau belum; apakah ada orang-orang di sana atau tidak?” Akhirnya mereka mengutus seekor kera untuk mencari tahu. Dia menemukan bahwa ada buah di pohon tersebut, dan desa tersebut dipenuhi dengan orang-orang. Ketika mendengar bahwa ada buah di pohon tersebut di sana, kera-kera bertekad untuk mengambil buah manis itu untuk dimakan. Dengan memberanikan diri, sekelompok dari mereka pergi dan memberitahukannya kepada pemimpin mereka. Sang pimpinan menanyakan apakah desa itu penuh dengan orang-orang atau tidak; “Penuh dengan orang”, kata mereka. “Oleh karena itu, kalian tidak boleh pergi,” katanya, “karena manusia itu penuh dengan tipu daya.” “Tetapi, Yang Mulia, kami akan pergi pada tengah malam, di saat semua orang sedang tertidur pulas, dan kemudian memakannya!” Maka kelompok ini mendapatkan izin untuk pergi dan turun dari pegunungan, kemudian menunggu dengan susah payah sampai semua orang tertidur pulas. Pada penggal tengah malam hari, ketika orang-orang telah tidur, mereka memanjat pohon dan mulai memakan buah-buah dari pohon tersebut. Seorang laki-laki bangun di malam itu karena sesuatu hal yang harus dilakukannya. Dia keluar menuju ke desa dan di sana dia melihat kera-kera tersebut. Segera, dia membuat suatu tanda bahaya; orang-orang keluar, dilengkapi dengan busur dan panah, atau berbagai jenis senjata yang dapat diambil oleh tangan mereka: tongkat-tongkat kayu, bongkahan-bongkahan batu, dan kemudian mengelilingi pohon itu. “Ketika fajar menyingsing,” pikir mereka, “kita akan mendapatkan mereka!”. Delapan puluh ribu kera tersebut melihat orang-orang itu, dan menjadi sangat  ketakutan. Mereka berpikir, “Kita tidak memiliki bantuan apa pun, selain raja kita.” Maka mereka datang kepadanya dan mengucapkan bait pertama:

Lihatlah di sekeliling kita, mereka semua berdiri,  prajurit-prajurit bersenjatakan busur dan panah. Semuanya di sekeliling kita, dengan pedang di tangan; siapa yang membebaskan diri (dari mereka)?

Mendengar ini, raja kera tersebut menjawab, “Jangan takut, manusia mempunyai banyak hal yang harus dikerjakan. Saat ini masih penggal tengah malam hari, di sana mereka berdiri, dengan berpikir–‘Kami akan membunuh mereka’, tetapi kita akan mencari suatu cara untuk mencegah mereka mengerjakan yang satu ini.” Dan untuk menghibur kera-kera tersebut, dia mengulang bait kedua:

Manusia mempunyai banyak hal yang harus dikerjakan; Sesuatu akan membubarkan kerumunan itu; Lihatlah apa yang masih tersisa untuk kalian, makanlah, karena buah memang untuk dimakan.

 

Sang Mahasatwa menenangkan kelompok kera tersebut. Seandainya saja mereka tidak mendapatkan ketenangan ini, maka hati mereka akan hancur dan mereka akan mati. Setelah menghibur kera-kera tersebut, Sang Mahasatwa berkata dengan keras, “Kumpulkan semua kera bersama!” Tetapi sewaktu mengumpulkan diri mereka, ada satu yang tidak dapat mereka temukan, yakni sepupunya, seekor kera yang bernama Senaka. Maka mereka memberitahukan kepadanya bahwa Senaka tidak berada di dalam kelompok. “Jika Senaka tidak ada di sini,” katanya, “jangan takut. Dia akan menemukan jalan untuk menolong kalian.” Sewaktu kelompok kera tersebut berangkat, Senaka sedang tertidur. Kemudian setelah dia terbangun dan tidak menemukan seorang pun di sana, dia pun mengikuti jejak mereka, dan lambat laun, dia melihat semua orang sedang bergegas. “Bahaya bagi kelompok kami,” pikirnya. Kemudian pada waktu itu juga, dia melihat, di dalam sebuah gubuk di daerah pinggiran desa, seorang wanita tua yang tertidur pulas di depan api yang menyala. Dan dengan menyamar seperti seorang anak desa yang hendak pergi ke ladang, Senaka merampas sebuah obor, dan berdiri tegak searah dengan angin bertiup, lalu membakar desa tersebut. Kemudian semua orang meningggalkan kera-kera tersebut dan bergegas untuk memadamkan api. Demikian kera-kera tersebut berlarian pergi, dan setiap kera membawakan satu buah untuk Senaka.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “ Mahānāma Sakka adalah sepupu raja kera, Senaka, pada masa itu; para pengikut Buddha adalah kelompok kera itu; dan Aku sendiri adalah raja mereka.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

ĀDICCUPAṬṬHĀNA- JĀTAKA

 

“Tidak ada bangsa,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menipu (curang).

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan di dalam sebuah keluarga brahmana di Kāsi. Setelah dewasa, dia pergi ke Takkasilā dan menyelesaikan pendidikannya di sana. Kemudian dia menjalankan kehidupan suci sebagai seorang petapa, mengembangkan kesaktian, pencapaian meditasi, dan menjadi pembimbing dari sekelompok besar murid, dia menjalankan kehidupannya di Himalaya. Di sana dia tinggal dalam jangka waktu yang lama; sampai suatu hari, dia turun dari gunung dan pergi ke perbatasan desa untuk memperoleh garam dan rempah-rempah, dan dia tinggal di sebuah gubuk yang terbuat dari daun. Ketika semuanya pergi berkeliling untuk mendapatkan derma makanan, seekor kera jahat biasanya memasuki pertapaan mereka dan memorak-porandakan semua isinya, menumpahkan air dari kendi-kendi, memecahkan kendi-kendi tersebut, dan mengakhirinya dengan mengacaukan tempat perapian. Setelah musim hujan berakhir, para petapa berpikir untuk kembali dan berpamitan kepada penduduk desa; “Sekarang ini,” pikir mereka, “bunga-bunga dan buah-buahan yang ada di gunung sudah masak.” “Besok,” jawab para penduduk, “kami akan datang ke tempat tinggal Bhante dengan membawa dana makanan; makanlah terlebih dahulu sebelum pergi.” Maka pada keesokan harinya, mereka datang ke sana dengan membawa makanan yang banyak, keras dan lunak. Sang kera berpikir di dalam hatinya, “Saya akan menipu dan membujuk orang-orang ini agar memberikan sedikit makanan kepadaku juga.” Jadi dia menunjukkan dirinya seperti petapa yang sedang meminta derma makanan, dan dengan berdiri di dekat para petapa, dia memuja matahari. Ketika orang-orang melihatnya, mereka berpikir, “Mereka yang tinggal bersama dengan orang suci adalah orang suci juga,” dan mengulangi bait pertama:

Tidak ada bangsa hewan yang memiliki disiplin moral seperti ini: Lihatlah bagaimana kera malang ini berdiri di sini memuja matahari!

 

Dengan cara itu orang-orang memuji moralitas sang kera. Tetapi Bodhisatta, yang mengamatinya, menjawab, “Kalian tidak mengetahui kelakuan dari seekor kera jahat. Jika kalian tahu, maka kalian tidak akan memuji dia yang hanya berhak mendapatkan sedikit pujian,” dan menambahkan bait kedua:

Kalian memuji sifat makhluk ini  karena tidak mengenalnya;  Dia telah merusak api suci dan  memecahkan semua kendi air.

 

Pada saat orang-orang mendengar betapa jahatnya kera tersebut, dengan menggunakan kayu-kayu dan bongkahan-bongkahan tanah, mereka melemparinya dan memberikan dana makanan mereka kepada para petapa. Orang-orang suci itu kembali ke Himalaya; dan tanpa  terputus dalam meditasi (jhana), mereka akhirnya terlahir di alam brahma.

 

Pada akhir uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Bhikkhu yang menipu pada masa itu adalah sang kera; para pengikut Buddha adalah sekelompok orang suci itu, dan pemimpin mereka adalah diri-Ku sendiri.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

DŪBHIYA-MAKKAṬA-JĀTAKA

 

“Air yang banyak,” dan seterusnya.

 

Kisah  ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Veluvana, tentang Devadatta. Suatu hari para bhikkhu sedang berbicara di dalam balai kebenaran tentang Devadatta yang tidak tahu berterima kasih dan mengkhianati teman-temannya, kemudian Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini saja, Para Bhikkhu, Devadatta tidak tahu berterima kasih dan mengkhianati teman-temannya sendiri, tetapi sebelumnya juga dia melakukan hal yang sama.” Kemudian Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir di sebuah keluarga brahmana di sebuah desa di Kāsi , dan ketika dewasa, dia menikah dan hidup berumah tangga. Adapun pada saat itu terdapat sebuah sumur yang dalam, di dekat jalan raya di Kerajaan Kāsi, yang tidak memiliki jalan untuk turun ke bawahnya. Orang-orang yang melewati jalan tersebut, untuk melakukan jasa kebajikan, biasanya mengambil air dengan sebuah tali yang panjang dan sebuah ember kayu, dan mengisi palungan untuk hewan-hewan; demikianlah cara mereka memberikan air minum kepada hewan-hewan. Di sekeliling itu adalah hutan yang lebat sekali, tempat sekumpulan kera tinggal.  Terjadi pada suatu ketika, selama dua atau tiga hari persediaan air terhenti, yang biasanya diambil oleh para pejalan kaki; dan hewan-hewan tidak mendapatkan minuman. Seekor kera, tersiksa dengan kehausan, berjalan naik dan turun di dekat sumur untuk mencari air. Kala itu, Bodhisatta tiba di tempat tersebut dalam perjalanannya untuk suatu urusan tertentu, mengambil air untuk dirinya sendiri, minum, dan mencuci tangannya; kemudian dia melihat sang kera. Melihat betapa hausnya kera tersebut, sang pejalan kaki mengambil air dari sumur itu dan mengisikannya ke dalam palungan untuknya. Kemudian dia duduk di bawah sebuah pohon, untuk melihat apa yang akan dilakukan makhluk tersebut. Kera tersebut minum, duduk di dekat sana, dan membuat suatu tampang menyeringai, untuk menakuti Bodhisatta. “Ah, monyet yang jahat!” katanya, ketika melihatnya demikian— “Ketika Anda kehausan dan menderita, saya memberikanmu air yang banyak; dan sekarang Anda memperlihatkan tampang kera itu kepadaku. Baik, baik, menolong seorang yang jahat hanyalah akan menyia-nyiakan pengorbananmu.” Dan dia mengulangi bait pertama:

 

Air yang banyak kuberikan kepadamu ketika Anda kepanasan dan juga kehausan: Sekarang dengan penuh keburukan, Anda duduk mengoceh,—terhadap orang-orang jahat, lebih baik tidak melakukan apa-apa.

 

Kemudian kera yang dengki tersebut membalas, “Menurutku Anda pasti berpikir hanya itulah yang dapat kulakukan. Sekarang saya akan menjatuhkan sesuatu di kepalamu sebelum pergi.” Kemudian, sambil mengulangi bait kedua, dia meneruskan—

Siapa yang pernah melihat seekor kera yang berkelakuan baik? Akan kujatuhkan kotoran di atas kepalamu; karena demikianlah tingkah laku kami.

Segera setelah mendengar ini, Bodhisatta bangkit untuk pergi. Tetapi pada saat yang bersamaan, kera tersebut, dari dahan tempat dia duduk, membuang kotoran seperti menjatuhkan hiasan, di atas kepalanya, dan kemudian lari masuk ke dalam hutan sambil bersuara keras. Bodhisatta membersihkan dirinya dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

 

Ketika Sang Guru mengakhiri uraian ini, setelah berkata, “Bukan hanya sekarang Devadatta seperti itu, tetapi pada masa lalu juga dia tidak mengakui kebaikan hati yang Aku tunjukkan kepadanya,” Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Devadatta adalah kera pada saat itu, dan brahmana itu adalah diri-Ku sendiri.

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

MAKKAṬA-JĀTAKA

 

“Ayah, lihatlah orang tua malang,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menipu (curang).—Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Uddāla-Jātaka, Buku XIV. Di sini juga Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, bukan hanya kali ini orang ini menjadi seorang penipu, tetapi juga di masa lampau, ketika terlahir sebagai seekor kera, dia menipu demi (mendapatkan) api.” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah di masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan di sebuah keluarga brahmana di suatu desa di Kāsi. Ketika tumbuh dewasa, dia mendapatkan pendidikannya di Takkasilā , dan menetap di sana. Istrinya pada waktu itu melahirkan seorang putra; dan ketika anaknya baru bisa berlari, dia meninggal dunia. Suaminya melakukan upacara pemakamannya, dan kemudian berkata, “Apalah gunanya rumah (ini) bagiku sekarang? Saya dan anak saya akan menjalani kehidupan sebagai petapa.” Meninggalkan teman-teman dan sanak keluarganya dalam linangan air mata, dia membawa anaknya ke Himalaya, menjadi seorang petapa, dan hidup dengan memakan buah-buahan dan akar-akaran yang terdapat di dalam hutan. Pada suatu hari di musim hujan, setelah hujan lebat reda, dia menyalakan api, dan berbaring di alas tidurnya, menghangatkan dirinya di perapian. Dan anaknya duduk di sampingnya, sembari menggosok kakinya. Kala itu seekor kera hutan, yang menderita karena kedinginan, melihat api di gubuk daun milik petapa tersebut. “Sekarang,” pikirnya, “kalau saya masuk ke dalam, mereka akan berteriak, ‘Kera! kera,’ dan memukuli saya. Saya tidak akan mendapat kesempatan untuk menghangatkan diri—Saya ada ide!” katanya kemudian. “Saya akan mengambil sehelai jubah petapa, dan masuk ke dalam dengan sebuah muslihat!” Lalu dia pun memakai jubah bekas milik seorang petapa yang telah meninggal, mengangkat keranjang dan tongkat (galah), dan berdiri di depan pintu gubuk, tempat dia membungkuk di samping sebuah pohon kelapa. Sang anak melihatnya dan berkata kepada ayahnya (tidak mengetahui bahwa dia adalah seekor kera), “Di sini ada seorang petapa tua, sudah pasti, menderita karena kedinginan, datang untuk menghangatkan dirinya di perapian.” Kemudian dia menjelaskan kepada ayahnya di dalam kata-kata di bait pertama, memohon ayahnya untuk memperbolehkan orang malang tersebut untuk menghangatkan dirinya:

Ayah, lihatlah orang tua malang yang berdiri di dekat  sebuah pohon kelapa di sana! Di sini kita memiliki sebuah gubuk untuk berteduh, marilah kita memberikan tempat teduh kepadanya.

Ketika mendengar ini, Bodhisatta berdiri dan berjalan ke pintu. Tetapi ketika melihat makhluk itu adalah seekor kera, dia berkata, “Anakku, manusia tidak memiliki wajah seperti itu, dia adalah seekor kera, dan dia tidak boleh dipersilakan untuk masuk.” Kemudian dia mengulangi bait kedua:

 

Dia hanya akan mengotori tempat tinggal kita  jika dia melangkah masuk melewati pintu; Wajah seperti ini—sangat mudah diketahui—tidak ada brahmana yang memilikinya.

Bodhisatta mengambil sebatang kayu, berkata dengan keras—“Apa yang Anda inginkan di sana?”—melemparkan kayu itu ke arahnya dan mengusirnya. Si kera menanggalkan jubah usangnya, memanjat pohon, dan menghilang di dalam hutan. Kemudian Bodhisatta mengembangkan empat kediaman luhur ( brahmavihāra ) hingga akkhirnya terlahir di alam brahma.

 

Setelah mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Bhikkhu yang menipu ini adalah kera pada masa itu; Rāhula adalah anak petapa, dan Aku sendiri adalah sang petapa.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,