Category Archives: kisah jataka

ASADISA-JĀTAKA

 

“Pangeran Asadisa, ahli dalam seni memanah,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana, tentang pelepasan agung. Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini, Para Bhikkhu, Tathāgata melakukan pelepasan agung: di kehidupan-kehidupan sebelumnya Beliau juga melepaskan payung putih kerajaan dan melakukan hal yang sama.” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta dikandung sebagai putra dari permaisurinya. Permaisuri melahirkan dengan selamat. Dan pada hari pemberian nama, mereka memberinya nama Asadisa (Pangeran Tiada Tara). Pada saat dia mulai bisa berjalan, permaisuri mengandung satu bayi lagi yang juga bakal menjadi orang bijaksana. Dia melahirkan dengan selamat, dan pada hari penamaan mereka memberinya nama Brahmadatta (Pangeran Karunia Brahma). Ketika Asadisa berumur enam belas tahun, dia pergi ke Takkasilā untuk memperoleh pendidikannya. Di sana di bawah bimbingan seorang guru yang termasyhur, dia mempelajari tiga kitab Weda dan delapan belas keahlian; dalam seni memanah dia tidak ada bandingannya; kemudian dia kembali ke Benares. Pada saat akan meninggal dunia, raja menurunkan titah bahwa Asadisa harus menjadi raja sebagai penggantinya, dan Brahmadatta sebagai wakil raja. Kemudian raja meninggal dunia; setelah itu takhta kerajaan diwariskan kepada Asadisa, tetapi ditolak olehnya dengan mengatakan bahwa dia tidak menginginkannya. Maka mereka menahbiskan Brahmadatta sebagai raja dengan upacara pemercikan. Asadisa tidak memedulikan kejayaan dan tidak menginginkan apa-apa.  Saat adiknya memerintah, Asadisa tinggal di dalam segala kebesaran kerajaan. Para pelayan datang dan memfitnah dirinya di hadapan adiknya, “Asadisa ingin menjadi raja!” kata mereka. Brahmadatta memercayai mereka dan membiarkan dirinya ditipu; dia mengirimkan beberapa orang untuk menawan Asadisa. Salah satu pelayan Asadisa menceritakan kepadanya apa yang terjadi. Dia menjadi marah kepada adiknya dan pergi ke kerajaan lain. Ketika tiba di sana, dia mengabarkan pesan kepada raja bahwa seorang pemanah telah datang dan menunggunya. “Berapa bayaran yang dimintanya?” tanya raja. “Seratus ribu per tahun.” “Baik,” kata raja, “biarkan dia masuk.” Asadisa pun menghadap dan berdiri menunggu. “Apakah Anda pemanah itu?” tanya raja. “Ya, Paduka.” “Bagus sekali, saya menerimamu bekerja untukku.” Setelah itu, Asadisa bekerja melayani raja. [88] Tetapi para pemanah lama merasa jengkel dengan bayaran yang diberikan kepadanya; “Terlalu banyak,” keluh mereka.  Suatu hari, raja keluar ke tamannya. Di sana, di bawah pohon mangga, tempat sehelai kain (tirai) telah diletakkan di papan batu, dia duduk di atas sebuah dipan yang sangat bagus. Dia kebetulan memandang ke atas, dan di sana tepat di atas puncak pohon dia melihat kerumunan buah mangga. “Itu terlalu tinggi untuk dapat dipanjat,” pikirnya. Maka setelah memanggil pemanahnya, dia menanyakan kepada mereka apakah mereka mampu memotong kerumunan tersebut dengan panah dan menurunkan untuknya. “Oh,” kata mereka, “tidak terlalu sulit untuk kami lakukan itu. Akan tetapi, Paduka telah cukup (sering) melihat keahlian kami. Pendatang baru itu dibayar jauh lebih banyak daripada kami, mungkin Anda bisa memintanya untuk menurunkan kerumunan buah tersebut.” Kemudian raja memanggil Asadisa dan menanyakan apakah dia sanggup melakukannya. “Oh tentu, Paduka, jika saya boleh memilih posisi saya.” “Posisi mana yang Anda inginkan?” “Tempat di mana tempat duduk Anda berada.” Raja lalu meminta tempat duduk itu digeser dan memberikan tempat itu kepadanya.  Asadisa tidak membawa busur di tangannya; dia biasanya membawanya di dalam pakaiannya; maka dia memerlukan sehelai kain (tirai). Raja memerintahkan untuk membawakan dan membentangkan kain tersebut untuknya dan pemanah tersebut masuk ke dalamnya. Dia menanggalkan pakaian putih yang dipakainya dan mengenakan sehelai pakaian merah di kulitnya; kemudian dia mengencangkan sabuknya dan mengenakan sebuah kain pinggang merah. Dari sebuah tas, dia mengeluarkan sebuah pedang yang terpisah berkeping-keping, yang disatukannya dan dililit pada bagian kirinya. Berikutnya dia mengenakan baju perisai emas, mengikat sarung anak panah di punggungnya dan mengeluarkan busurnya yang bagus, yang terdiri dari bagian-bagian, yang disatukannya bersama, memasang tali busur, merah seperti batu karang; mengikat alas kain di kepalanya; memutar-mutar anak panah dengan kukunya. Dia membuka kain itu dan keluar, terlihat seperti seorang pangeran ular yang muncul dari tanah yang terbelah. Dia pergi ke tempat memanah itu, anak panah dipasang di busur dan kemudian bertanya kepada raja. “Paduka,” katanya, “apakah saya harus menurunkan buah ini dengan satu tembakan ke atas, atau dengan menjatuhkan anak panah di atasnya?” “Anakku,” kata raja, “saya sering melihat sasaran yang diturunkan dengan tembakan ke atas, tetapi tidak pernah ada yang diambil dengan dijatuhkan dari bagian atasnya. Anda lebih baik membuat anak panah jatuh di atasnya.”

 

“Paduka,” jawab pemanah itu, “anak panah ini akan terbang tinggi, sampai ke Alam Cātumahārājika dan kemudian kembali sendiri. Anda harus bersabar sampai dia kembali.” Raja pun berjanji (untuk bersabar). Kemudian pemanah itu berkata lagi, “Paduka, panah ini pada saat tembakan ke atas akan menusuk tangkai tepat di tengah; dan ketika dia turun, dia tidak akan belok sehelai rambut pun ke arah lain, tetapi akan kena tepat ke titik yang sama, dan membawa turun tandan buah itu bersamanya.” Kemudian dia menembakkan panah itu dengan cepat. Ketika panah itu naik, dia menusuk tepat di tengah tangkai mangga tersebut. Saat pemanah tersebut mengetahui panahnya telah mencapai Alam Cātumahārājika, dia menembakkan panah yang lain dengan kecepatan yang lebih cepat daripada yang pertama. Yang ini mengenai bulu dari panah pertama, dan memutarnya kembali; kemudian anak panah itu sendiri terbang setinggi Alam Tāvatiṁsā . Di sana para dewa menangkap dan menyimpannya. Suara dari panah yang mengarah turun itu membelah langit seperti suara halilintar. “Suara apakah itu?” tanya setiap orang. “Itu adalah suara panah yang sedang mengarah turun,” jawab pemanah tersebut. Para penonton semuanya ketakutan setengah mati, takut kalau panah jatuh mengenai mereka, tetapi Asadisa menenangkan mereka. “Tidak usah takut,” katanya, “saya akan pastikan panah itu tidak akan jatuh ke tanah.” Turunlah anak panah itu, tidak berbelok sehelai rambut pun, tetapi dengan mulus menembusi tangkai tandan buah mangga tersebut. Pemanah tersebut menangkap anak panah itu dengan satu tangannya dan buah di tangan yang satunya lagi, jadi keduanya tidak jatuh ke tanah. “Saya tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya!” teriak para penonton, terhadap kejadian luar biasa ini. [90] Betapa (luar biasanya) mereka memuji orang hebat ini! Betapa mereka berseru dan bertepuk tangan dan menjentikkan jari-jari mereka, ribuan sapu tangan melambailambai di udara! Dalam kegembiraan dan kesenangan mereka, orang-orang istana memberikan hadiah kepada Asadisa yang berjumlah uang sepuluh juta. Dan raja juga menghujani dirinya dengan hadiah-hadiah dan kehormatan-kehormatan terhadapnya. Di saat Bodhisatta sedang menerima kemuliaan dan kehormatan itu dari tangan raja ini, tujuh orang raja yang tahu bahwasanya tidak ada Asadisa di Benares, mendatangkan pasukan gabungan mengepung kerajaan dan meminta raja untuk bertempur atau menyerah. Raja menjadi sangat ketakutan. “Di mana kakakku?” tanyanya. “Dia bekerja melayani seorang raja tetangga,” jawaban yang terdengar. “Jika kakakku tidak datang,” katanya, “saya akan menjadi orang mati. Pergi, berlututlah kepadanya atas namaku,  penuhilah tuntutannya, bawalah dia ke sini!” Utusannya datang dan melakukan apa yang dipesankannya. Asadisa memohon diri kepada rajanya dan kembali ke Benares. Dia menenangkan adiknya dan memintanya untuk tidak takut; kemudian menggores71 sebuah pesan di panahnya dengan tulisan: “Saya, Asadisa, telah kembali. Saya bertekad untuk membunuh kalian semua dengan satu panah yang akan saya tembakkan kepada kalian. Bagi mereka yang masih mau hidup, silakan pergi.” Panah ini ditembakkannya sedemikian rupa sehingga jatuh di tengah piring emas, tempat ketujuh raja tersebut sedang makan bersama. Ketika membaca tulisan itu, semuanya berlarian, takut setengah mati. Demikianlah pangeran tersebut mengusir ketujuh raja itu, tanpa menitikkan darah setetes pun, yang bisa diminum oleh seekor lalat kecil; Kemudian, memandang adiknya, dia meninggalkan kesenangan indriawi dan melepaskan keduniawian, mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi, yang pada akhir hidupnya dia terlahir di alam brahma.

 

“Dan demikianlah caranya”, kata Sang Guru, “Asadisa menaklukkan ketujuh raja dan memenangkan pertempuran; setelah itu, dia menjalankan kehidupan suci sebagai seorang petapa.” Kemudian dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, Beliau mengucapkan dua bait berikut:

 

Pangeran Asadisa, ahli dalam seni memanah,  seorang pemimpin yang gagah berani; Cepat bagaikan kilat anak panahnya sebagai pembawa kehancuran bagi prajurit tangguh. Di antara musuhnya yang telah membawa malapetaka, dia bahkan tidak melukai mereka satu pun; Dia menolong adiknya, dan memenangkan  kejayaan dari pengendalian diri.

 

Ketika Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, Ānanda adalah sang adik, dan Aku sendiri adalah sang kakak.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

DUDDADA-JĀTAKA

 

“Sulit untuk melakukan seperti,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang derma yang diberikan secara bersama-sama. Dua sahabat di Sāvatthi, putra dari tuan tanah, mengumpulkan dana yang menyediakan semua keperluan untuk diberikan kepada Buddha dan para siswa-Nya. Dua sahabat tersebut mengundang mereka semuanya, memberikan dana yang banyak selama tujuh hari, dan pada hari ketujuh memberikan semua kebutuhan mereka.

 

Yang tertua dari kedua sahabat itu memberi salam hormat kepada Sang Guru dan berkata, dengan duduk disamping-Nya, “Bhante, di antara pemberi-pemberi dana ini, ada yang memberi banyak dan ada yang memberi sedikit; meskipun demikian, semoga mereka menuai hasil sama untuk semuanya.” Kemudian dia mempersembahkan pemberian tersebut. Jawaban Sang Guru adalah: “Dengan memberikan benda-benda ini kepada Buddha dan para pengikutnya, kalian semua, Para Upasaka, telah melakukan suatu perbuatan yang mulia. Di masa lampau, orangorang bijak memberikan dana yang banyak, sama seperti ini, dan demikian mereka mempersembahkan pemberian mereka.” Kemudian atas permintaannya, Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir di dalam keluarga seorang Brahmana Kasi. Ketika tumbuh dewasa, dia dididik sepenuhnya di Takkasilā; setelah itu dia meninggalkan keduniawian dan menjalankan kehidupan suci sebagai seorang petapa, dan dengan sekelompok pengikutnya, pergi dan tinggal di Himalaya. Di sana dia tinggal dalam waktu yang lama. Suatu kali, untuk mendapatkan garam dan cuka (bumbubumbu lainnya), dia pergi mengembara ke daerah perkotaan, dan akhirnya tiba di Benares. Di sana dia bermalam di taman kerajaan, dan keesokan paginya dia beserta kelompoknya pergi berkeliling untuk mendapatkan derma ke suatu desa di luar gerbang kota. Orang-orang memberi derma kepada mereka. Hari berikutnya, dia berkeliling di kota untuk mendapatkan derma.

 

Semua orang merasa senang memberikan derma mereka kepadanya. Mereka bergabung bersama dan mengumpulkan dana; menyediakan dana yang banyak untuk para petapa tersebut. Setelah pengumpulan itu, pemimpin mereka mempersembahkan dana mereka dengan mengucapkan katakata yang sama seperti di atas. Bodhisatta menjawab, “ Āvuso , bila diberikan dengan pikiran penuh keyakinan, maka tidak ada pemberian yang sedikit.” Dan dia mengucapkan terima kasihnya dengan beberapa bait berikut:

 

Sulit untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh orangorang yang baik, memberikan yang dapat diberikan. Orang-orang yang tidak baik susah mencontoh kehidupan orang-orang yang baik.

 

Oleh karena itu, ketika yang baik dan yang tidak baik meninggalkan kehidupan ini,  yang jahat akan terlahir di alam neraka,  dan yang baik akan terlahir di alam surga.

 

Demikian pernyataan terima kasihnya. Dia tinggal di tempat tersebut selama empat bulan di musim hujan, dan kemudian kembali ke Himalaya, tempat dia melatih meditasi (jhana), dan tanpa terputus sedikit pun sampai akhirnya dia terlahir di alam brahma.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu,” kata Beliau, “para pengikut Buddha adalah kelompok petapa itu, dan Aku sendiri adalah pemimpin mereka.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SATADHAMMA-JĀTAKA

 

“Sesuatu yang kurang berarti,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang dua puluh satu cara hidup yang tidak benar. Pada suatu masa, terdapat banyak bhikkhu yang menyokong kehidupan mereka dengan menjadi tabib, utusan, pengirim pesan, melakukan pertukaran derma, dan sebagainya, dua puluh satu cara hidup yang tidak benar. Kesemuanya ini akan dikemukakan di dalam Sāketa-Jātaka. Ketika Sang Guru mengetahui bahwa mereka hidup dengan cara-cara demikian, Beliau berkata, “Sekarang terdapat banyak bhikkhu yang hidup dengan cara yang tidak benar. Orang-orang yang hidup dengan cara demikian tidak akan terlepas dari kelahiran sebagai yaksa atau sebagai peta; mereka akan terlahir sebagai ternak yang memikul kuk; mereka akan terlahir di alam neraka; untuk keberuntungan dan berkah mereka seharusnya memberikan khotbah Dhamma yang mengandung moral yang jelas dan sederhana.“ Maka Beliau mengumpulkan para bhikkhu Saṅgha (Sangha) dan berkata, “Para Bhikkhu, kalian tidak seharusnya mendapatkan kebutuhan kalian dengan dua puluh satu cara yang tidak benar. Makanan yang didapatkan dengan cara yang tidak benar adalah seperti sepotong besi yang membara, seperti racun yang mematikan. Cara-cara yang tidak benar ini dikecam dan dicela oleh semua siswa dari para Buddha dan Pacceka Buddha. Bagi yang menyantap makanan yang diperoleh dengan tidak benar, tidak akan mendapatkan tawa dan kegembiraan. Makanan yang didapatkan dengan cara-cara demikian, dalam ajaran-Ku, adalah sama seperti sisa makanan dari salah satu kasta yang paling rendah (kaum candala). Bagi siswa dari ajaran Dhamma, mereka yang menyantapnya adalah seperti menyantap makanan dari kaum candala.” Dan dengan kata-kata ini, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka semuanya.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang kaum candala. Ketika dewasa, dia melakukan perjalanan atas tujuan tertentu, dengan membawa sejumlah nasi dan makanan di dalam sebuah keranjang daun sebagai persediaan makanannya. Kala itu terdapat seorang pemuda di Benares, yang bernama Satadhamma. Dia adalah putra dari seseorang yang mulia (kastanya), seorang brahmana utara. Dia juga melakukan perjalanan atas tujuan tertentu, tetapi tidak ada nasi ataupun makanan yang dibawanya dengan keranjang. Keduanya bertemu di jalan besar. Kata brahmana muda itu kepada yang lainnya, “Anda berasal dari kasta apa?” Dia menjawab, “Candala. Dan Anda sendiri?”

“Oh, saya adalah seorang brahmana utara.”

“Baiklah, mari kita melakukan perjalanan bersama,” dan demikianlah mereka pergi bersama. Waktu sarapan tiba: Bodhisatta duduk di tempat yang ada air jernih, mencuci tangannya, dan membuka keranjangnya. “Apakah Anda ingin makan?” katanya. “Tidak,” kata yang lainnya, “saya tidak mau, Anda adalah seorang candala.” “Baiklah,” kata Bodhisatta. Dengan hati-hati agar tidak menghamburkan sedikit pun, dia meletakkan makanan sebanyak yang diinginkannya pada sehelai daun yang terpisah dari yang lainnya, mengikat kembali keranjangnya, dan mulai makan. Kemudian dia minum sedikit air, mencuci tangan dan kakinya, dan mengangkat sisa nasi dan makanan. “Mari, Brahmana Muda,” katanya, dan mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali. Seharian mereka berjalan bersama, dan di saat petang hari, mereka berdua mandi di tempat air yang jernih. Setelah mereka keluar, Bodhisatta duduk di sebuah tempat yang menyenangkan, membuka bungkusannya dan mulai makan. Kali ini dia tidak menawarkannya kepada brahmana itu. Brahmana muda itu letih karena telah berjalan seharian dan sangat lapar sekali. Di sana dia berdiri, melihat-lihat dan berpikir, “Jika dia menawarkan saya (makanan), saya akan menerimanya.” Tetapi Bodhisatta terus makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “Candala ini,” pikir brahmana muda itu, “menyantap setiap bagian (makanannya) tanpa sepatah kata pun. Baiklah, saya akan meminta sedikit (darinya). Saya dapat membuang bagian luarnya yang kotor dan memakan sisanya.” Dan demikianlah yang dilakukannya; dia memakan yang tersisa. Segera setelah selesai makan, dia berpikir, “Betapa saya telah memalukan statusku, kastaku, keluargaku! Saya telah memakan sisa-sisa dari seorang candala!” Benar-benar sangat kuat penyesalannya; Dia memuntahkan makanannya dan darah keluar besertanya. “Oh, betapa buruk perbuatan yang telah kulakukan,” ratapnya, “demi sesuatu yang kurang berarti!” dan dia melanjutkan dalam katakata dari bait pertama berikut:

Sesuatu yang kurang berarti! Sisa-sisa makanannya! juga diberikan di luar kemauannya! Saya adalah seorang (kaum) brahmana,  dan makanan itu telah membuatku sakit.

 

Demikianlah brahmana muda itu membuat ratapannya; dengan menambahkan, “Mengapa kulakukan sesuatu yang buruk hanya demi kehidupanku?” Dia mengasingkan dirinya di dalam hutan dan tidak pernah membiarkan mata mana pun melihatnya lagi, dan di sana dia meninggal dalam kesendirian.

 

Setelah kisah ini berakhir, Sang Guru mengulangi, “Bagaikan brahmana muda itu, Para Bhikkhu, setelah menyantap sisa-sisa makanan seorang candala, tidak lagi mendapatkan tawa dan kegembiraan karena dia telah menyantap makanan yang tidak semestinya; demikianlah siapa pun yang menganut kepercayaan ini dan hidup dengan cara yang tidak benar, ketika dia menyantap makanan dan menyokong kehidupannya dengan cara apa pun yang dikecam dan dicela oleh Buddha, tidak akan mendapatkan tawa dan kegembiraan.” Kemudian, dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, Beliau mengulangi bait kedua berikut:

Dia yang hidup dengan cara yang tidak benar (buruk), dia yang tidak peduli jika dia melakukan keburukan, seperti brahmana di dalam kisah itu, tidak akan mendapatkan kegembiraan.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran-Nya:—Di akhir kebenarannya, banyak bhikkhu yang mencapai tingkat kesucian

Sotāpanna dan yang lainnya—“Pada masa itu, Aku adalah orang yang berkasta rendah tersebut (candala).”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

TIṆḌUKA-JĀTAKA

 

“Lihatlah di sekeliling kita, mereka semua berdiri,” dan seterusnya.

 

Ini adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang kesempurnaan dalam kebijaksanaan. Seperti kisah di dalam Mahābodhi-Jātaka dan Ummagga-Jātaka, ketika mendengar pujian kebijaksanaan-Nya, Beliau berkata, “Bukan hanya kali ini saja Buddha itu bijaksana, tetapi juga sebelumnya Beliau adalah bijaksana dan penuh akal,” dan menceritakan kisah masa lampau berikut.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor kera. Dia tinggal di Himalaya bersama dengan kawanan delapan puluh ribu ekor kera lainnya.

Tidak jauh dari sana terdapat sebuah desa yang kadang-kadang berpenghuni dan kadang-kadang kosong. Dan di tengah-tengah desa itu terdapat sebuah pohon tiṇḍuka, dengan buah yang manis, diselimuti oleh ranting-ranting dan cabang-cabang. Ketika tempat itu kosong, semua kera tersebut selalu pergi ke sana dan memakan buah-buahnya. Suatu ketika, pada musim berbuah, desa itu penuh dengan orang-orang, pagar dari bambu-bambu runcing di pasang di sekitarnya dan pintu masuk pagar dijaga. Pohon tersebut berdiri dengan semua dahannya melengkung ke bawah dikarenakan berat dari buahnya. Kemudian kera-kera itu mulai ingin tahu, “Desa anu, tempat kita biasa mengambil buah tiṇḍuka untuk dimakan, saya ingin tahu apakah pohon itu telah berbuah atau belum; apakah ada orang-orang di sana atau tidak?” Akhirnya mereka mengutus seekor kera untuk mencari tahu. Dia menemukan bahwa ada buah di pohon tersebut, dan desa tersebut dipenuhi dengan orang-orang. Ketika mendengar bahwa ada buah di pohon tersebut di sana, kera-kera bertekad untuk mengambil buah manis itu untuk dimakan. Dengan memberanikan diri, sekelompok dari mereka pergi dan memberitahukannya kepada pemimpin mereka. Sang pimpinan menanyakan apakah desa itu penuh dengan orang-orang atau tidak; “Penuh dengan orang”, kata mereka. “Oleh karena itu, kalian tidak boleh pergi,” katanya, “karena manusia itu penuh dengan tipu daya.” “Tetapi, Yang Mulia, kami akan pergi pada tengah malam, di saat semua orang sedang tertidur pulas, dan kemudian memakannya!” Maka kelompok ini mendapatkan izin untuk pergi dan turun dari pegunungan, kemudian menunggu dengan susah payah sampai semua orang tertidur pulas. Pada penggal tengah malam hari, ketika orang-orang telah tidur, mereka memanjat pohon dan mulai memakan buah-buah dari pohon tersebut. Seorang laki-laki bangun di malam itu karena sesuatu hal yang harus dilakukannya. Dia keluar menuju ke desa dan di sana dia melihat kera-kera tersebut. Segera, dia membuat suatu tanda bahaya; orang-orang keluar, dilengkapi dengan busur dan panah, atau berbagai jenis senjata yang dapat diambil oleh tangan mereka: tongkat-tongkat kayu, bongkahan-bongkahan batu, dan kemudian mengelilingi pohon itu. “Ketika fajar menyingsing,” pikir mereka, “kita akan mendapatkan mereka!”. Delapan puluh ribu kera tersebut melihat orang-orang itu, dan menjadi sangat  ketakutan. Mereka berpikir, “Kita tidak memiliki bantuan apa pun, selain raja kita.” Maka mereka datang kepadanya dan mengucapkan bait pertama:

Lihatlah di sekeliling kita, mereka semua berdiri,  prajurit-prajurit bersenjatakan busur dan panah. Semuanya di sekeliling kita, dengan pedang di tangan; siapa yang membebaskan diri (dari mereka)?

Mendengar ini, raja kera tersebut menjawab, “Jangan takut, manusia mempunyai banyak hal yang harus dikerjakan. Saat ini masih penggal tengah malam hari, di sana mereka berdiri, dengan berpikir–‘Kami akan membunuh mereka’, tetapi kita akan mencari suatu cara untuk mencegah mereka mengerjakan yang satu ini.” Dan untuk menghibur kera-kera tersebut, dia mengulang bait kedua:

Manusia mempunyai banyak hal yang harus dikerjakan; Sesuatu akan membubarkan kerumunan itu; Lihatlah apa yang masih tersisa untuk kalian, makanlah, karena buah memang untuk dimakan.

 

Sang Mahasatwa menenangkan kelompok kera tersebut. Seandainya saja mereka tidak mendapatkan ketenangan ini, maka hati mereka akan hancur dan mereka akan mati. Setelah menghibur kera-kera tersebut, Sang Mahasatwa berkata dengan keras, “Kumpulkan semua kera bersama!” Tetapi sewaktu mengumpulkan diri mereka, ada satu yang tidak dapat mereka temukan, yakni sepupunya, seekor kera yang bernama Senaka. Maka mereka memberitahukan kepadanya bahwa Senaka tidak berada di dalam kelompok. “Jika Senaka tidak ada di sini,” katanya, “jangan takut. Dia akan menemukan jalan untuk menolong kalian.” Sewaktu kelompok kera tersebut berangkat, Senaka sedang tertidur. Kemudian setelah dia terbangun dan tidak menemukan seorang pun di sana, dia pun mengikuti jejak mereka, dan lambat laun, dia melihat semua orang sedang bergegas. “Bahaya bagi kelompok kami,” pikirnya. Kemudian pada waktu itu juga, dia melihat, di dalam sebuah gubuk di daerah pinggiran desa, seorang wanita tua yang tertidur pulas di depan api yang menyala. Dan dengan menyamar seperti seorang anak desa yang hendak pergi ke ladang, Senaka merampas sebuah obor, dan berdiri tegak searah dengan angin bertiup, lalu membakar desa tersebut. Kemudian semua orang meningggalkan kera-kera tersebut dan bergegas untuk memadamkan api. Demikian kera-kera tersebut berlarian pergi, dan setiap kera membawakan satu buah untuk Senaka.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “ Mahānāma Sakka adalah sepupu raja kera, Senaka, pada masa itu; para pengikut Buddha adalah kelompok kera itu; dan Aku sendiri adalah raja mereka.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

ĀDICCUPAṬṬHĀNA- JĀTAKA

 

“Tidak ada bangsa,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menipu (curang).

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan di dalam sebuah keluarga brahmana di Kāsi. Setelah dewasa, dia pergi ke Takkasilā dan menyelesaikan pendidikannya di sana. Kemudian dia menjalankan kehidupan suci sebagai seorang petapa, mengembangkan kesaktian, pencapaian meditasi, dan menjadi pembimbing dari sekelompok besar murid, dia menjalankan kehidupannya di Himalaya. Di sana dia tinggal dalam jangka waktu yang lama; sampai suatu hari, dia turun dari gunung dan pergi ke perbatasan desa untuk memperoleh garam dan rempah-rempah, dan dia tinggal di sebuah gubuk yang terbuat dari daun. Ketika semuanya pergi berkeliling untuk mendapatkan derma makanan, seekor kera jahat biasanya memasuki pertapaan mereka dan memorak-porandakan semua isinya, menumpahkan air dari kendi-kendi, memecahkan kendi-kendi tersebut, dan mengakhirinya dengan mengacaukan tempat perapian. Setelah musim hujan berakhir, para petapa berpikir untuk kembali dan berpamitan kepada penduduk desa; “Sekarang ini,” pikir mereka, “bunga-bunga dan buah-buahan yang ada di gunung sudah masak.” “Besok,” jawab para penduduk, “kami akan datang ke tempat tinggal Bhante dengan membawa dana makanan; makanlah terlebih dahulu sebelum pergi.” Maka pada keesokan harinya, mereka datang ke sana dengan membawa makanan yang banyak, keras dan lunak. Sang kera berpikir di dalam hatinya, “Saya akan menipu dan membujuk orang-orang ini agar memberikan sedikit makanan kepadaku juga.” Jadi dia menunjukkan dirinya seperti petapa yang sedang meminta derma makanan, dan dengan berdiri di dekat para petapa, dia memuja matahari. Ketika orang-orang melihatnya, mereka berpikir, “Mereka yang tinggal bersama dengan orang suci adalah orang suci juga,” dan mengulangi bait pertama:

Tidak ada bangsa hewan yang memiliki disiplin moral seperti ini: Lihatlah bagaimana kera malang ini berdiri di sini memuja matahari!

 

Dengan cara itu orang-orang memuji moralitas sang kera. Tetapi Bodhisatta, yang mengamatinya, menjawab, “Kalian tidak mengetahui kelakuan dari seekor kera jahat. Jika kalian tahu, maka kalian tidak akan memuji dia yang hanya berhak mendapatkan sedikit pujian,” dan menambahkan bait kedua:

Kalian memuji sifat makhluk ini  karena tidak mengenalnya;  Dia telah merusak api suci dan  memecahkan semua kendi air.

 

Pada saat orang-orang mendengar betapa jahatnya kera tersebut, dengan menggunakan kayu-kayu dan bongkahan-bongkahan tanah, mereka melemparinya dan memberikan dana makanan mereka kepada para petapa. Orang-orang suci itu kembali ke Himalaya; dan tanpa  terputus dalam meditasi (jhana), mereka akhirnya terlahir di alam brahma.

 

Pada akhir uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Bhikkhu yang menipu pada masa itu adalah sang kera; para pengikut Buddha adalah sekelompok orang suci itu, dan pemimpin mereka adalah diri-Ku sendiri.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

DŪBHIYA-MAKKAṬA-JĀTAKA

 

“Air yang banyak,” dan seterusnya.

 

Kisah  ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Veluvana, tentang Devadatta. Suatu hari para bhikkhu sedang berbicara di dalam balai kebenaran tentang Devadatta yang tidak tahu berterima kasih dan mengkhianati teman-temannya, kemudian Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini saja, Para Bhikkhu, Devadatta tidak tahu berterima kasih dan mengkhianati teman-temannya sendiri, tetapi sebelumnya juga dia melakukan hal yang sama.” Kemudian Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir di sebuah keluarga brahmana di sebuah desa di Kāsi , dan ketika dewasa, dia menikah dan hidup berumah tangga. Adapun pada saat itu terdapat sebuah sumur yang dalam, di dekat jalan raya di Kerajaan Kāsi, yang tidak memiliki jalan untuk turun ke bawahnya. Orang-orang yang melewati jalan tersebut, untuk melakukan jasa kebajikan, biasanya mengambil air dengan sebuah tali yang panjang dan sebuah ember kayu, dan mengisi palungan untuk hewan-hewan; demikianlah cara mereka memberikan air minum kepada hewan-hewan. Di sekeliling itu adalah hutan yang lebat sekali, tempat sekumpulan kera tinggal.  Terjadi pada suatu ketika, selama dua atau tiga hari persediaan air terhenti, yang biasanya diambil oleh para pejalan kaki; dan hewan-hewan tidak mendapatkan minuman. Seekor kera, tersiksa dengan kehausan, berjalan naik dan turun di dekat sumur untuk mencari air. Kala itu, Bodhisatta tiba di tempat tersebut dalam perjalanannya untuk suatu urusan tertentu, mengambil air untuk dirinya sendiri, minum, dan mencuci tangannya; kemudian dia melihat sang kera. Melihat betapa hausnya kera tersebut, sang pejalan kaki mengambil air dari sumur itu dan mengisikannya ke dalam palungan untuknya. Kemudian dia duduk di bawah sebuah pohon, untuk melihat apa yang akan dilakukan makhluk tersebut. Kera tersebut minum, duduk di dekat sana, dan membuat suatu tampang menyeringai, untuk menakuti Bodhisatta. “Ah, monyet yang jahat!” katanya, ketika melihatnya demikian— “Ketika Anda kehausan dan menderita, saya memberikanmu air yang banyak; dan sekarang Anda memperlihatkan tampang kera itu kepadaku. Baik, baik, menolong seorang yang jahat hanyalah akan menyia-nyiakan pengorbananmu.” Dan dia mengulangi bait pertama:

 

Air yang banyak kuberikan kepadamu ketika Anda kepanasan dan juga kehausan: Sekarang dengan penuh keburukan, Anda duduk mengoceh,—terhadap orang-orang jahat, lebih baik tidak melakukan apa-apa.

 

Kemudian kera yang dengki tersebut membalas, “Menurutku Anda pasti berpikir hanya itulah yang dapat kulakukan. Sekarang saya akan menjatuhkan sesuatu di kepalamu sebelum pergi.” Kemudian, sambil mengulangi bait kedua, dia meneruskan—

Siapa yang pernah melihat seekor kera yang berkelakuan baik? Akan kujatuhkan kotoran di atas kepalamu; karena demikianlah tingkah laku kami.

Segera setelah mendengar ini, Bodhisatta bangkit untuk pergi. Tetapi pada saat yang bersamaan, kera tersebut, dari dahan tempat dia duduk, membuang kotoran seperti menjatuhkan hiasan, di atas kepalanya, dan kemudian lari masuk ke dalam hutan sambil bersuara keras. Bodhisatta membersihkan dirinya dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

 

Ketika Sang Guru mengakhiri uraian ini, setelah berkata, “Bukan hanya sekarang Devadatta seperti itu, tetapi pada masa lalu juga dia tidak mengakui kebaikan hati yang Aku tunjukkan kepadanya,” Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Devadatta adalah kera pada saat itu, dan brahmana itu adalah diri-Ku sendiri.

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

MAKKAṬA-JĀTAKA

 

“Ayah, lihatlah orang tua malang,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menipu (curang).—Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Uddāla-Jātaka, Buku XIV. Di sini juga Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, bukan hanya kali ini orang ini menjadi seorang penipu, tetapi juga di masa lampau, ketika terlahir sebagai seekor kera, dia menipu demi (mendapatkan) api.” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah di masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan di sebuah keluarga brahmana di suatu desa di Kāsi. Ketika tumbuh dewasa, dia mendapatkan pendidikannya di Takkasilā , dan menetap di sana. Istrinya pada waktu itu melahirkan seorang putra; dan ketika anaknya baru bisa berlari, dia meninggal dunia. Suaminya melakukan upacara pemakamannya, dan kemudian berkata, “Apalah gunanya rumah (ini) bagiku sekarang? Saya dan anak saya akan menjalani kehidupan sebagai petapa.” Meninggalkan teman-teman dan sanak keluarganya dalam linangan air mata, dia membawa anaknya ke Himalaya, menjadi seorang petapa, dan hidup dengan memakan buah-buahan dan akar-akaran yang terdapat di dalam hutan. Pada suatu hari di musim hujan, setelah hujan lebat reda, dia menyalakan api, dan berbaring di alas tidurnya, menghangatkan dirinya di perapian. Dan anaknya duduk di sampingnya, sembari menggosok kakinya. Kala itu seekor kera hutan, yang menderita karena kedinginan, melihat api di gubuk daun milik petapa tersebut. “Sekarang,” pikirnya, “kalau saya masuk ke dalam, mereka akan berteriak, ‘Kera! kera,’ dan memukuli saya. Saya tidak akan mendapat kesempatan untuk menghangatkan diri—Saya ada ide!” katanya kemudian. “Saya akan mengambil sehelai jubah petapa, dan masuk ke dalam dengan sebuah muslihat!” Lalu dia pun memakai jubah bekas milik seorang petapa yang telah meninggal, mengangkat keranjang dan tongkat (galah), dan berdiri di depan pintu gubuk, tempat dia membungkuk di samping sebuah pohon kelapa. Sang anak melihatnya dan berkata kepada ayahnya (tidak mengetahui bahwa dia adalah seekor kera), “Di sini ada seorang petapa tua, sudah pasti, menderita karena kedinginan, datang untuk menghangatkan dirinya di perapian.” Kemudian dia menjelaskan kepada ayahnya di dalam kata-kata di bait pertama, memohon ayahnya untuk memperbolehkan orang malang tersebut untuk menghangatkan dirinya:

Ayah, lihatlah orang tua malang yang berdiri di dekat  sebuah pohon kelapa di sana! Di sini kita memiliki sebuah gubuk untuk berteduh, marilah kita memberikan tempat teduh kepadanya.

Ketika mendengar ini, Bodhisatta berdiri dan berjalan ke pintu. Tetapi ketika melihat makhluk itu adalah seekor kera, dia berkata, “Anakku, manusia tidak memiliki wajah seperti itu, dia adalah seekor kera, dan dia tidak boleh dipersilakan untuk masuk.” Kemudian dia mengulangi bait kedua:

 

Dia hanya akan mengotori tempat tinggal kita  jika dia melangkah masuk melewati pintu; Wajah seperti ini—sangat mudah diketahui—tidak ada brahmana yang memilikinya.

Bodhisatta mengambil sebatang kayu, berkata dengan keras—“Apa yang Anda inginkan di sana?”—melemparkan kayu itu ke arahnya dan mengusirnya. Si kera menanggalkan jubah usangnya, memanjat pohon, dan menghilang di dalam hutan. Kemudian Bodhisatta mengembangkan empat kediaman luhur ( brahmavihāra ) hingga akkhirnya terlahir di alam brahma.

 

Setelah mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Bhikkhu yang menipu ini adalah kera pada masa itu; Rāhula adalah anak petapa, dan Aku sendiri adalah sang petapa.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

ARAKA-JĀTAKA

 

“Hati dengan perasaan belas kasih yang tak terbatas,” dan seterusnya”.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana, tentang Metta Sutta. Pada suatu kesempatan, Sang Guru menyapa para bhikkhu: “Para Bhikkhu, cinta kasih dengan semua pengabdian pikiran, merenungkannya, meningkatkannya, menjadikan sebuah alat pengembangan, menjadikan tujuan Anda satusatunya, pelatihan, menjadi yang baik, dengan harapan untuk menghasilkan sebelas berkah, Apa saja sebelas ini? Dia tidur  dengan gembira dan dia bangun dengan gembira; dia tidak bermimpi buruk; orang-orang menyukainya; dewa melindunginya; api, racun dan pedang tidak dapat mendekatinya; dengan cepat dia menjadi terserap dalam pikiran; tampangnya menjadi tenang; dia mati tanpa rasa takut; tidak perlu kebijaksanaan yang lebih jauh, dia pergi ke alam brahma. Cinta kasih, Para Bhikkhu, dilatih dengan penolakan keduniawian dari harapan seseorang”—dan selanjutnya—“bisa diharapkan untuk menghasilkan Sebelas Berkah. Untuk menyanjung cinta kasih yang bisa menghasilkan sebelas berkah ini, Para Bhikkhu, seorang bhikkhu seharusnya menunjukkan cinta kasih kepada semua mahkluk hidup, dengan sengaja atau tidak, dia harus menjadi seorang teman terhadap yang ramah, juga teman terhadap yang tidak ramah, dan seorang teman terhadap yang biasa: demikianlah terhadap semuanya tanpa perbedaan, apakah diundang atau tidak, dia harus menunjukkan cinta kasih: dia harus menunjukkan rasa simpati dengan suka dan duka dan melatih ketenangan hati; dia harus melakukan pekerjaannya melalui empat kediaman luhur ( brahmavihāra ). Dengan melakukan seperti itu, dia akan mencapai alam brahma bahkan tanpa ‘jalan’ ataupun ‘buah’. Orang bijaksana di masa lampau, dengan melatih cinta kasih selama tujuh tahun, telah berdiam di alam brahma selama tujuh zaman, masing–masing dengan satu periode pasang surut.” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, di masa lampau, Bodhisatta dilahirkan di dalam keluarga Brahmana. Ketika tumbuh dewasa, dia meninggalkan kesenangan indriawi dan menjalankan kehidupan seorang petapa, dan mengembangkan empat kediaman luhur. Namanya adalah Araka, dan dia menjadi seorang Guru, dan tinggal di wilayah Himalaya, dengan sekelompok pengikut. Menasihati kelompok orang-orang bijaksananya, dia berkata, “Seorang petapa harus menunjukkan cinta kasih, haruslah dia menunjukkan cinta kasih, baik suka maupun duka, dan penuh ketenangan hati; selama pikiran cinta kasih ini ada, maka dicapai dengan tekad mempersiapkannya ke alam brahma.” Dan sambil menjelaskan berkah dari cinta kasih ini, dia mengulangi bait-bait berikut:—

 

Hati dengan perasaan cinta kasih yang tak terbatas kepada segala sesuatu yang hidup, di surga atas, di alam bawah, dan di tengah bumi ini. Dipenuhi semua perasaan cinta kasih tanpa batas, kemurahan hati tanpa batas, demikian sebuah hati tidak akan pernah sempit dan terbatas.

 

Demikianlah Bodhisatta menguraikan kepada muridmuridnya tentang melatih cinta kasih dan berkahnya. Dan tanpa  terputus dalam meditasi (jhana)-nya, dia pun terlahir kembali di alam brahma, dan selama tujuh zaman, masing-masing dengan waktunya pasang surut, dia tidak lagi muncul di dunia ini.

Setelah menyelesaikan uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, kelompok orang bijaksana adalah pengikut Sang Buddha sekarang, dan Aku sendiri adalah Guru Araka.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SAKUṆAGGHI-JATAKA

 

“Seekor burung puyuh sedang berada di tempat mencari makan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang Sakuṇovāda Sutta. Pada suatu hari, Sang Guru memanggil para bhikkhu dan berkata, ”Para Bhikkhu, pada saat kalian mencari sedekah, tetaplah di daerahmu sendiri.” Dan mengulangi sutta itu dari Mahāvagga yang sesuai dengan kejadian ini, Beliau menambahkan, “Tetapi tunggu sebentar: di masa lampau, yang lain bahkan dalam wujud hewan pun menolak untuk menetap di daerah masing-masing, dan dengan memburu tempat makan orang lain, mereka jatuh di tangan musuh mereka, dan berhasil bebas dari tangan musuh melalui kecerdasan diri dan akal mereka.” Dengan ini, Sang Guru menceritakan kisah di masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir ke dunia ini sebagai burung puyuh. Dia mendapatkan makanan dengan melompat-lompat di atas gumpalan-gumpalan tanah yang sudah dibajak. Suatu hari, burung puyuh berpikir dia akan meninggalkan lahan makanannya dan mencoba yang lain; maka terbanglah dia ke tepi hutan. Pada saat burung puyuh sedang memungut makanannya, ada seekor elang melihatnya, menyerang dengan ganasnya dan menangkapnya dengan cepat.

 

Ditangkap oleh elang ini, burung puyuh mengeluarkan rintihannya: “Ah, betapa malangnya diriku! Betapa sedikitnya pengertianku! Saya sedang memburu tempat makan orang lain! Oh kalau saja saya tetap di tempatku, di mana leluhurku berada, maka tentu saja elang ini tidak mungkin bisa menandingiku, maksudku kalau dia berkelahi!” “Mengapa, Puyuh, elang berkata, “seperti apakah tempatmu, di mana leluhurmu diberi makan?” “Ladang yang telah dibajak dan penuh gumpalan-gumpalan tanah!” Pada saat ini, elang melepaskan tenaganya, “Pergilah burung puyuh! Anda tidak akan lepas dariku meskipun di sana!” Burung puyuh terbang kembali ke tempat asalnya dan bertengger di atas gumpalan tanah yang besar, dan dia berdiri di sana, memanggil—“Kemarilah sekarang, Elang!” Menegangkan semua urat dan menyeimbangkan kedua sayap, elang menyambar ke bawah dengan ganas terhadap burung puyuh, “Dia datang dengan membawa dendam!” pikir burung puyuh; dan pada saat burung puyuh melihat elang dengan gerakan cepat, dia membalik dan membiarkan elang menyerang penuh ke gumpalan tanah. Elang tidak bisa menahan dirinya, dan menghantam dadanya ke tanah; dan dia jatuh mati dengan matanya yang terbuka.

 

Setelah kisah ini diceritakan, Sang Guru menambahkan, “Sekarang Anda lihat, Para Bhikkhu, bagaimana bahkan hewan pun jatuh ke dalam tangan musuh mereka karena meninggalkan tempat mereka; tetapi pada saat mereka tetap di sana, mereka dapat menaklukkan musuh mereka. Maka dari itu, kalian harus berjaga untuk tidak meninggalkan tempat kalian sendiri dan mengganggu yang lain. Oh, Para Bhikkhu, pada saat seseorang meninggalkan tempatnya sendiri, Mara menemukan pintu dan mendapatkan tumpuan. Apakah yang disebut oleh tempat asing, Para Bhikkhu, dan apakah tempat yang salah untuk seorang bhikkhu? Yang saya maksud adalah lima kesenangan indriawi. Apa saja kelima ini? Nafsu yang disebabkan oleh mata… [dan seterusnya]43. Para bhikkhu, ini adalah tempat yang salah untuk seorang bhikkhu.” Kemudian dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, Beliau mengulangi bait pertama:—

Seekor burung puyuh sedang berada di tempat mencari makan, ketika menyambar dari ketinggian, seekor  elang datang; tetapi dia jatuh dan menghadapi kematian seketika.

 

Ketika dia telah binasa, burung puyuh pun keluar, berseru, “Saya telah melihat kekuatan musuhku!” dan bertengger di atas dada musuhnya, dia mengeluarkan suara yang sangat gembira dengan kata-kata yang ada di bait kedua:—

 

Sekarang saya gembira akan kesuksessanku: rencana yang cerdik kudapatkan.

Untuk melenyapkan musuhku dengan tetap berada di tempat sendiri.

 

Di akhir uraian ini, Sang Guru memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kesimpulan kebenaran-kebenarannya, banyak bhikkhu mencapai tingkat kesucian:—“Pada masa itu, Devadatta adalah elang, dan burung puyuh adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SAMIDDHI-JĀTAKA

 

“Petapa peminta-minta, apakah Anda tahu,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Taman Tapoda dekat Rājagaha, tentang Thera Samiddhi. Suatu hari sang thera bergejolak dengan semangat sepanjang malam. Saat fajar tiba, dia mandi; kemudian berdiri dengan jubah luarnya, sambil memegang yang lainnya di tangannya, ketika dia mengeringkan badannya, yang semuanya kuning seperti emas. Sama seperti sebuah patung keemas-emasan dari hasil karya yang elok, keindahan yang sempurna; dan karena itulah dia dipanggil Samiddhi. Seorang putri keturunan dewa, melihat kecantikan sang thera yang tidak ada bandingannya, jatuh hati kepadanya dan kemudian menyapanya. “Anda masih muda, Bhikkhu, dan segar, seorang remaja, dengan rambut hitam, terberkatilah Anda! Anda muda, Anda sangat menawan dan enak dipandang mata. Mengapa laki-laki seperti Anda beralih menjadi orang yang meninggalkan keduniawian, tanpa sedikit kesenangan? Cicipilah kesenangan terlebih dahulu dan kemudian baru Anda menjadi orang yang meninggalkan keduniawian dan lakukan apa yang dilakukan oleh para petapa!”

Dia menjawab, “Bidadari, suatu waktu saya akan mati dan waktu kematiannya saya tidak tahu; waktu itu tersembunyi dari saya. Oleh karena itu dalam kesegaran masa mudaku, saya akan menjalankan kehidupan menyendiri dan mengakhiri penderitaan.” Menemukan bahwa dia tidak mendapat dukungan, dewi itu pun menghilang seketika. Thera itu pulang dan menceritakan kepada Sang Guru mengenai hal itu. Kemudian Sang Guru berkata, “Tidak hanya sekarang, Samiddhi, Anda digoda oleh seorang bidadari dewa. Pada zaman dahulu, seperti sekarang, para bidadari menggoda para petapa.” Dan kemudian atas permintaannya, Sang Guru menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

__

 

Dahulu kala, ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta menjadi putra seorang brahmana di Kāsi . Beberapa tahun berlalu, dia berhasil menyelesaikan pendidikannya, dan menjalankan kehidupan suci sebagai petapa; dan dia tinggal di Himalaya, dekat sebuah danau alami, mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi. Sepanjang malam, dia telah bergejolak dalam semangat; dan pada saat fajar dia mandi dan dengan sehelai pakaian kulit kayu dan yang lainnya di tangan, dia berdiri, membiarkan air di badannya kering. Saat itu seorang putri keturunan dewa melihat keindahan yang tidak ada bandingannya, dan jatuh hati kepadanya. Menggodanya, dia mengulangi bait pertama:—

Petapa peminta-minta, apakah Anda tahu kesenangan apa yang dapat ditunjukkan oleh dunia? Sekarang adalah waktunya—tidak ada yang lain: kesenangan dahulu—Petapa peminta!

Bodhisatta mendengar sapaan bidadari itu dan kemudian membalas, menerangkan tujuannya, dengan mengulangi bait kedua:—

Waktu itu tersembunyi—saya tidak dapat mengetahui saat saya harus pergi: Sekarang adalah waktunya: tidak ada yang lain: Jadi saya sekarang ini menjadi petapa peminta.

 

Ketika bidadari mendengar kata-kata Bodhisatta, dia pun menghilang seketika.

 

Setelah uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Bidadari itu adalah orang yang sama di dalam dua kisah itu, dan petapa pada saat itu adalah diri-Ku sendiri.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,