Category Archives: kisah jataka

AMBA-JĀTAKA

“Tetaplah semangat, Saudaraku,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang brahmana baik yang termasuk keluarga bangsawan di Sawatthi, yang menyerahkan diri pada kebenaran dan bergabung dalam Sanggha, namun tidak mengalami kemajuan dalam setiap tugasnya. Tidak menyalahkan jumlah kehadirannya pada para guru; teliti akan masalah makanan dan minuman; giat dalam melaksanakan tugas-tugas di seluruh ruang utama, pemandian dan sebagainya; sempurna dalam ketepatan waktu dalam ketaatan terhadap empat belas pelajaran utama dan delapan puluh pelajaran tambahan; ia selalu menyapu wihara, kamar-kamar, beranda dan jalan menuju wihara mereka, dan memberikan air kepada para penduduk yang kehausan.

Karena kebaikannya, para penduduk secara teratur membawakan makanan untuk jatah lima ratus orang setiap harinya kepada para bhikkhu; dan banyak keuntungan dan hadiah kepada wihara yang terus bertambah, dan ada banyak kemakmuran karena kebaikan seseorang. Suatu hari dalam Balai Kebenaran para bhikkhu membicarakan bagaimana kebaikan seorang bhikkhu membawa keuntungan dan hadiah bagi mereka, dan menambah hidup banyak orang dengan kebahagiaan.

Masuk ke dalam balai tersebut, Sang Guru bertanya dan diberitahukan apa yang sedang mereka bicarakan. “Ini bukan pertama kalinya, para Bhikkhu,” kata Beliau, “bhikkhu ini secara teratur memenuhi tugasnya. Di kehidupan yang lampau lima ratus orang petapa yang mencari buah-buahan mendapatkan buah-buahan yang tersedia karena kebaikan hatinya.” Setelah mengucapkan hal tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

___________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang brahmana di bagian utara, dan setelah dewasa, ia meninggalkan keduniawian dan menetap sebagai guru dari lima ratus orang petapa di kaki pegunungan.

Pada masa itu, terjadi bencana kekeringan di Negeri Himalaya, dimana-mana air mengering, dan semua binatang buas juga menderita sakit. Melihat makhluk-makhluk malang itu kehausan, salah seorang petapa menebang sebatang pohon yang ia lubangi menjadi sebuah palung, dan palung ini ia isi dengan semua air yang bisa ia temukan. Dengan cara ini ia memberi minum kepada hewan-hewan tersebut. Mereka datang dalam bentuk kawanan, minum dan minum sehingga petapa ini tidak mempunyai waktu yang tersisa untuk pergi dan mengumpulkan buah-buahan untuk dirinya sendiri. Tanpa memedulikan rasa laparnya sendiri, ia bekerja keras untuk memuaskan rasa dahaga hewan-hewan tersebut. Hewan-hewan ini berpikir, “Betapa tekunnya petapa ini mengatur kebutuhan kami sehingga ia membiarkan dirinya tidak mempunyai waktu untuk mencari buahbuahan.

Pasti ia sangat lapar. Mari kita sepakati bahwa masingmasing dari kita yang datang kemari untuk minum harus membawakan buah-buahan kepada petapa ini.” Hal tersebut mereka sepakati, setiap makhluk yang datang membawakan mangga atau jambu atau buah sukun maupun buah-buah sejenisnya; hingga pemberian mereka bisa dimuat dalam dua ratus lima puluh gerobak; dan terdapat makanan yang cukup untuk lima ratus orang petapa, dengan jumlah yang berlimpah.

Melihat hal ini, Bodhisatta berseru, “Demikianlah kebaikan satu orang telah membuat tersedianya makanan untuk semua petapa. Benar, kita harus selalu teguh dalam melakukan hal yang benar.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengucapkan syair berikut ini : —

Tetaplah semangat, Saudaraku; tetap teguh memegang harapan;

Jangan biarkan semangatmu surut dan melemah;

Jangan lupakan ia, yang melalui puasa yang menyengsarakan, mendapatkan buah-buahan di luar keinginan hatinya.

Demikianlah ajaran dari makhluk yang agung itu kepada rombongan petapa tersebut.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu ini adalah petapa baik di masa itu, Saya sendiri adalah guru para petapa tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

NAṄGALĪSA-JĀTAKA

“Untuk segala hal,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai Thera Lāḷudāyi yang disebut-sebut selalu mengatakan hal yang salah. Ia tidak pernah mengetahui waktu yang sesuai untuk beberapa ajaran. Sebagai contoh, jika ada perayaan, ia akan menyerukan teks yang sedih, “Mereka bersembunyi (di tempat) tanpa dinding, dan di tempat empat persimpangan jalan bertemu.” Jika itu adalah pemakaman, ia akan menyerukan, “Kebahagiaan memenuhi hati para dewa dan manusia,” atau dengan, “Oh, semoga engkau melihat seratus, tidak, seribu hari bahagia seperti ini.”

Suatu hari, para bhikkhu yang berada dalam Balai Kebenaran mengomentari ketidakpantasannya terhadap pokok permasalahan yang luar biasa dan keahliannya untuk selalu mengucapkan kata yang salah. Saat mereka duduk membicarakannya, Sang Guru masuk dan dalam menjawab pertanyaan Beliau, mereka memberitahukan apa yang sedang mereka bicarakan. “Para Bhikkhu,” katanya, “ini bukan pertama kalinya Lāḷudāyi yang bodoh membuat dirinya mengucapkan kata-kata yang salah. Ia selalu bersikap tidak layak seperti sekarang.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir dalam sebuah keluarga brahmana yang kaya, dan setelah dewasa ia menguasai semua pengetahuan dan merupakan seorang guru besar yang terkenal dengan lima ratus orang brahmana muda untuk diajari.

Pada masa cerita kita berlangsung, di antara para brahmana terdapat seseorang dengan pikiran bodoh yang di kepalanya dan selalu mengucapkan kata-kata yang salah; ia diminta oleh siswa lainnya untuk mempelajari kitab sebagai seorang murid, namun karena kebodohannya, ia tidak mampu menguasainya. Ia tekun sebagai pembantu Bodhisatta dan memberi pelayanan kepadanya bagaikan seorang budak.

Suatu hari setelah makan malam Bodhisatta berbaring di tempat tidur, di sana ia dibersihkan dan diberi wewangian oleh brahmana muda tersebut di tangan, kaki dan punggungnya. Saat anak muda itu berbalik untuk meninggalkan ruangan, Bodhisatta berkata padanya, “Beri topangan pada kaki tempat tidur saya sebelum engkau pergi.” Brahmana muda itu dapat menyangga kaki tempat tidur di satu sisi, namun tidak dapat menemukan sesuatu untuk menyangga sisi lainnya. Karenanya ia menggunakan kakinya sebagai penyangga dan melewati malam dengan cara demikian. Ketika Bodhisatta terbangun di pagi hari dan melihat brahmana muda itu, ia bertanya mengapa ia duduk di sana. “Guru,” kata pemuda itu, “saya tidak dapat menemukan sesuatu untuk menyangga kaki tempat tidur di salah satu sisi; maka saya menempatkan kaki saya untuk menyangganya.”

Terharu oleh kata-kata tersebut, Bodhisatta berpikir, “Betapa setianya ia! Dan hal ini datang dari orang yang paling bodoh di antara semua muridku. Dengan cara apa saya bisa memberi pendidikan kepadanya?” Sebuah pikiran terlintas di benaknya bahwa cara terbaik adalah dengan menanyai brahmana tersebut saat ia kembali dari tugas mengumpulkan kayu bakar dan dedaunan, mengenai sesuatu yang ia lihat dan lakukan di hari tersebut, kemudian bertanya seperti apakah itu.

“Karena,” pikir sang guru, “hal ini akan membimbing ia membuat perbandingan dan memberi alasan, dan latihan membuat perbandingan serta alasan secara terus menerus pada dirinya akan memungkinkan saya untuk mendidiknya.”

Karenanya ia meminta pemuda itu datang dan memberitahunya saat kembali dari mengumpulkan kayu bakar dan dedaunan untuk mengatakan padanya apa yang ia lihat, makan atau minum. Dan pemuda itu berjanji untuk melakukannya. Suatu hari, setelah melihat seekor ular saat pergi keluar bersama siswa lainnya untuk mengumpulkan kayu bakar di hutan, ia berkata, “Guru, saya melihat seekor ular.” “Seperti apakah bentuknya?”

“Oh, seperti batang dari sebuah bajak.” “Ini adalah perbandingan yang bagus. Ular seperti batang dari sebuah bajak,” kata Bodhisatta, yang mulai mempunyai harapan bahwa akhirnya ia berhasil menangani murid tersebut.

Di hari yang lain brahmana muda tersebut melihat seekor gajah di hutan dan memberi tahu gurunya. “Seperti apakah gajah itu?” “Oh, seperti batang dari sebuah bajak.” Gurunya tidak berkata apa-apa karena ia berpikir, belalai dan gading gajah membentuk kemiripan dengan batang dari sebuah bajak, barangkali kebodohan muridnya membuatnya menyebutnya secara umum (walaupun ia memikirkan belalai tersebut secara spesifik), karena ketidakmampuannya untuk menjelaskan secara terperinci.

Pada hari ketiga ia diundang untuk makan tebu, dan sebagaimana biasanya ia menceritakannya kepada gurunya.

“Seperti apakah tebu itu?” “Oh, seperti batang dari sebuah bajak.” “Tidak ada perbandingan yang lebih masuk akal lagi,” pikir gurunya, namun tidak berkata apa-apa. Di hari yang lain, kembali para siswanya diundang untuk makan sari gula dengan dadih dan susu, dan ini juga dilaporkannya sebagaimana biasanya. “Seperti apakah bentuk dadih dan susu?” “Oh, seperti batang dari sebuah bajak.” Guru tersebut berpikir sendiri, “Pemuda ini benar saat mengatakan seekor ular seperti batang dari sebuah bajak, dan lebih kurang, walaupun tidak tepat, dengan mengatakan seekor gajah dan sebatang tebu mempunyai kemiripan yang sama. Namun dadih dan susu (yang selalu berwarna putih) mengambil bentuk seperti wadah dimana mereka ditempatkan; di sini ia kehilangan seluruh perbandingan secara menyeluruh. Si bodoh ini tidak akan pernah bisa belajar.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengucapkan syair berikut ini : —

Untuk segala hal ia menerapkan istilah dengan makna terbatas,

Batang bajak dan dadih baginya adalah sama,

tidak ada bedanya;

— Si bodoh menganggap keduanya adalah sama.

____________________

Uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Lāḷudāyi adalah si bodoh itu, dan Saya adalah guru besar yang sangat terkenal.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

DUMMEDHA-JĀTAKA

“Kedudukan yang tinggi,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana, mengenai Devadatta. Saat para bhikkhu berkumpul bersama di Balai Kebenaran, dan membicarakan bagaimana sekilas pandang pada kesempurnaan Sang Buddha dan semua tandatanda Kebuddhaan yang khusus itu membuat Devadatta dipenuhi oleh kemarahan; dan kecemburuannya membuat ia tidak tahan mendengar pujian terhadap kata-kata Sang Buddha yang bijaksana. Masuk ke dalam balai tersebut, Sang Guru menanyakan apa yang menjadi topik pembicaraan mereka.

Ketika mereka menyampaikan hal tersebut kepada-Nya, Beliau berkata, “Para Bhikkhu, sama seperti sekarang ini, di kehidupan yang lampau Devadatta juga marah mendengar pujian-pujian yang diberikan kepada Saya.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

________________________

Sekali waktu ketika Raja Magadha memerintah di Rājagaha pada Kerajaan Magadha, Bodhisatta terlahir kembali sebagai seekor gajah. Ia berwarna putih secara keseluruhan, dan dianugerahi dengan semua bentuk kecantikan yang telah dijelaskan sebelumnya. Karena keindahannya, raja menjadikannya sebagai gajah kerajaan.

Pada suatu perayaan, raja menghias kota menyerupai kota para dewa dan menunggang gajah tersebut dengan segala hiasannya, melakukan sebuah prosesi yang khidmat untuk mengelilingi kota didampingi oleh satu rombongan yang besar. Di sepanjang jalan, orang-orang terpana melihat gajah tanpa tandingan itu, hingga berseru, “Oh, betapa agungnya gaya berjalan itu! Betapa sepadannya! Betapa indahnya! Betapa mulianya! Gajah putih seperti itu senilai dengan kerajaan di seluruh dunia!” Semua pujian itu membuat raja iri dan ia memutuskan untuk membuangnya di tebing yang curam dan membuatnya terbunuh. Maka ia memanggil pelatihnya dan menanyakan apakah seperti itu yang disebut sebagai seekor gajah yang terlatih.

“Ia benar-benar terlatih dengan baik, Paduka,” kata pelatih tersebut. “Tidak, ia sangat tidak terlatih.” “Paduka, ia terlatih dengan baik.”

“Jika ia terlatih dengan baik, bisakah kamu membuatnya mendaki puncak Gunung Vepulla?” “Bisa, Paduka.”

“Pergilah engkau bersamanya, kalau begitu,” kata raja.

Dan raja turun dari punggung gajah, sebagai gantinya, pelatih itu yang menungganginya, dan raja pergi sendiri ke kaki gunung, sementara sang pelatih duduk di punggung gajah menuju ke puncak gunung tersebut. Raja bersama anggota kerajaan juga mendaki gunung tersebut, dan membuat gajah itu berhenti di tepi tebing yang curam. “Sekarang,” katanya kepada lelaki tersebut, “jika ia terlatih dengan baik seperti katamu, buat ia berdiri dengan tiga kaki.”

Pelatih yang berada di punggung gajah hanya menyentuh hewan tersebut dengan tongkatnya untuk memberi tanda dan berkata, “Hai, Gajahku yang cantik, berdirilah dengan tiga kaki.” “Sekarang, buat ia berdiri dengan dua kaki depan,” kata raja. Dan makhluk yang agung itu bertumpu dengan kaki

belakangnya dan berdiri dengan kedua kaki depannya saja.

“Sekarang berdiri dengan kaki belakang,” kata raja. Gajah yang patuh itu bertumpu dengan kaki depannya hingga ia hanya berdiri dengan kaki belakangnya saja. “Sekarang berdiri dengan satu kaki,” kata raja, dan gajah tersebut berdiri dengan satu kaki saja.

Melihat gajah tersebut tidak jatuh ke dalam tebing yang curam itu, raja kemudian berseru, “Jika kamu bisa, buat ia terbang di udara!”

Pelatih itu berpikir, “Di seluruh India, tidak ada gajah yang bisa menandingi gajah yang terlahir dengan begitu sempurna ini. Pasti raja hanya ingin membuat ia berguling ke dalam tebing yang curam ini dan mengalami kematian.” Maka ia berbisik di telinga gajah, “Anakku, raja hanya ingin agar engkau jatuh dan mati. Ia tidak berharga bagimu. Jika engkau mempunyai kekuatan untuk melayang di udara, melayanglah dengan saya berada di punggungmu dan terbanglah melalui udara ke Benares.”

Makhluk yang agung ini, diberkahi dengan kekuatan yang luar biasa, yang mengalir dari jasa kebaikannya, langsung melayang di udara. Pelatih itu kemudian berkata, “Paduka, gajah ini memiliki kekuatan luar biasa yang mengalir dari jasa kebaikannya, terlalu baik untuk orang bodoh yang tidak berharga seperti dirimu: tidak ada yang lain selain raja yang bijaksana dan penuh kebaikan yang pantas menjadi majikannya. Jika orang yang tidak berharga seperti dirimu mendapatkan gajah seperti ini, yang tidak mengetahui betapa bernilainya gajah ini, akan kehilangan gajah dan semua kejayaan serta kemewahan yang tersisa.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, pelatih itu, duduk di punggung gajah, mengucapkan syair berikut ini: —

Kedudukan yang tinggi memberikan penderitaan bagi seorang yang dungu,

ia menjadi musuh bagi dirinya sendiri dan makhluk lain.

“Sekarang, selamat tinggal,” katanya kepada raja setelah mengakhiri ungkapan kemarahannya; terbang di udara, ia menuju ke Benares dan berhenti di tengah-tengah udara diluar halaman istana. Terjadilah kegemparan besar di kota, semua orang berseru, “Lihatlah gajah kerajaan yang datang melalui udara untuk raja kita dan sedang melayang dekat halaman istana.” Dengan tergesa-gesa berita ini disampaikan kepada raja, yang segera keluar dan berkata, “Jika kedatanganmu berhubungan dengan kepentingan saya, maka turunlah.”

Bodhisatta turun dari udara. Pelatih itu turun dan memberi hormat kepada raja, dan dalam menjawab pertanyaan raja ia menceritakan seluruh kejadian yang membuat mereka meninggalkan Rājagaha. “Kalian telah berbaik hati,” kata raja, “untuk datang kemari”; dan dalam kegembiraannya, ia meminta agar kota dihiasi dan gajah tersebut ditempatkan di kandang kerajaan. Kemudian ia membagi kerajaannya menjadi tiga bagian, memberi satu bagian untuk Bodhisatta, satu bagian untuk pelatih itu dan satu bagian untuk dirinya sendiri. Dan kekuasaannya semakin berkembang sejak Bodhisatta datang, hingga akhirnya ia menguasai seluruh India. Sebagai raja di India, ia sangat murah hati dan melakukan semua perbuatan baik hingga akhirnya ia meninggal dunia untuk terlahir kembali di alam bahagia sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Devadatta adalah Raja Benares, Ānanda adalah pelatih itu, dan Saya adalah gajah tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

KUSANĀḶI-JĀTAKA

“Biar besar dan kecil,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, tentang sahabat sejati Anāthapiṇḍika. Para kenalan, teman-teman dan kerabatnya menemuinya dan mencoba menghentikan kedekatan Anāthapiṇḍika dengan seseorang, dengan mengatakan ia tidak sebanding dengan Anāthapiṇḍika baik dalam status maupun kekayaan, namun saudagar agung itu menjawab bahwa persahabatan tidak tergantung pada kesetaraan maupun ketidaksetaraan kondisi luar. Ketika pergi ke desa yang

dikepalainya, ia menugaskan temannya itu untuk menjaga hartanya. Semua hal terjadi sama seperti dalam Kālakaṇṇi- Jātaka. Namun, dalam kasus ini ketika Anāthapiṇḍika menceritakan bahaya yang hampir menimpa rumahnya, Sang Guru berkata, “Perumah-tangga, seorang sahabat sejati tidak pernah dikatakan lebih rendah (statusnya). Yang menjadi tolak ukurnya adalah kemampuan untuk melindungi. Seorang sahabat sejati, meskipun hanya setara atau lebih rendah dari diri kita, seharusnya dianggap lebih tinggi, karena sahabat sejati selalu membantu kita bila sedang berada dalam masalah/kesulitan.

Sekarang ini, sahabat sejatimu lah yang menyelematkan kekayaanmu; demikian pula di kehidupan yang lampau, seorang sahabat sejati yang sama menyelamatkan kediaman seorang dewa pohon.” Atas permohonan Anāthapiṇḍika, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang dewa (pohon) di taman peristirahatan raja dan mendiami serumpun rumput kusa. Di tempat yang sama, di dekat tempat duduk raja, terdapat sebuah Pohon Permohonan yang indah (disebut juga sebagai Mukkhaka) dengan batang yang lurus dan cabang yang melebar, yang mendapatkan banyak persembahan dari raja. Di sini, tinggallah makhluk yang dulunya adalah raja dewa yang hebat dan telah terlahir kembali sebagai dewa pohon. Dan Bodhisatta berteman baik dengan dewa pohon ini.

Di tempat tinggal raja, hanya terdapat satu pilar yang menyangga atap dan pilar itu mulai goyah. Diberitahu mengenai hal tersebut, raja mengirim tukang kayu dan meminta mereka untuk menempatkan sebuah pilar yang kuat dan membuat tempat itu aman. Maka para tukang kayu mencari sebatang pohon yang bisa digunakan namun tidak dapat menemukannya dimanapun juga. Kembali ke taman peristirahatan, mereka melihat Mukkhaka, kemudian mereka kembali menghadap raja.

“Baik,” kata raja, “apakah kalian telah menemukan pohon yang sesuai?”

“Ya, Paduka,” kata mereka; “namun kami tidak berani untuk melakukannya.” “Mengapa?” tanya raja. Mereka menceritakan bagaimana mereka telah mencari kemana-mana pohon seperti itu, namun tidak berani untuk menebang pohon suci itu. “Pergi dan tebanglah pohon tersebut,” kata raja, “dan buat atap itu aman. Saya akan mencari pohon yang lain.”

Maka mereka pergi, membawakan korban ke taman dan mempersembahkannya kepada pohon tersebut, berkata di antara mereka sendiri bahwa mereka akan datang dan menebangnya besok. Mendengar perkataan mereka, dewa pohon itu mengetahui bahwa rumahnya akan dihancurkan keesokan harinya, meledak dalam tangisan sementara ia mendekap anakanaknya di dadanya, tidak mengetahui harus pergi kemana bersama anak-anaknya. Teman-temannya, para dewa pohon di hutan itu, datang dan menanyakan apa yang telah terjadi. Namun tidak satu pun yang mempunyai cara untuk menahan para tukang kayu itu, semua dewa pohon yang lain merangkulnya sambil menangis dan meratap. Pada saat itu, Bodhisatta datang mengunjunginya, dan mengetahui hal tersebut. “Jangan khawatir,” kata Bodhisatta menenangkannya, “saya akan menjaga agar pohon ini tidak ditebang. Tunggu dan lihat apa yang akan saya lakukan ketika para tukang kayu datang besok.”

Keesokan harinya saat orang-orang itu datang, Bodhisatta, yang mengambil bentuk sebagai seekor bunglon, berada di pohon sebelum mereka tiba, dan masuk dari akarnya, merangkak naik dan keluar di antara cabang-cabangnya, membuat pohon itu dipenuhi oleh lubang. Kemudian Bodhisatta berhenti di cabang-cabangnya dimana kepalanya bergerak ke sana kemari dengan cepat. Tibalah para tukang kayu itu; begitu melihat bunglon tersebut, pemimpin mereka memukul pohon tersebut dengan tangan, dan berseru bahwa pohon itu telah rusak, dan mereka tidak melihat dengan teliti sebelum membuat permohonan sehari sebelumnya. Ia pergi dengan penuh celaan terhadap pohon besar itu. Demikianlah cara Bodhisatta menyelamatkan tempat tinggal dewa pohon tersebut. Ketika semua teman dan kenalannya mengunjunginya, dengan gembira ia memuji Bodhisatta, sebagai penyelamat rumahnya, berkata, “Para Dewa Pohon, dengan kekuatan yang ada pada kita, kita tidak mengetahui apa yang harus dilakukan; sementara dewa rumput kusa yang bersahaja dengan bijaksana menyelamatkan rumah saya untuk saya. Benar, kita harus memilih teman tanpa mempertimbangkan apakah lebih tinggi, sederajat, atau lebih rendah, tanpa membeda-bedakan kedudukan, karena masing-masing makhluk itu memiliki kekuatan untuk dapat menolong seorang teman pada saat dibutuhkan.” Dan ia mengulangi syair ini mengenai persahabatan dan kewajibannya : —

Biar besar dan kecil dan seimbang, semua,

melakukan yang terbaik saat bahaya timbul,

dan menolong seorang teman yang

mendapat kemalangan,

seperti saya yang ditolong oleh Dewa Kusa.

Demikianlah yang diajarkannya kepada para dewa pohon lain yang berkumpul, dengan menambahkan, “Karenanya, terlepas dari keadaan mendapat kemalangan tidak hanya mempertimbangkan apakah dalam keadaannya sebanding atau lebih hebat, namun berteman dengan ia yang bijaksana bagaimanapun kondisi hidup mereka.” Ia dan Dewa Kusa itu hidup berdampingan hingga akhirnya meninggal dunia untuk terlahir kembali di alam yang sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Ānanda adalah dewa pohon itu dan Saya adalah dewa rumput kusa itu.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

BANDHANAMOKKHA-JĀTAKA

“Ketika orang bodoh berbicara,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang brahmana wanita bernama Ciñca, yang kisahnya akan diceritakan di Buku Kedua Belas dalam Mahāpaduma-Jātaka. Pada kesempatan itu Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya Ciñca melempar tuduhan palsu kepada saya. Ia juga melakukan hal yang sama di masa lampau.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

_________________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir dalam keluarga pendeta, dan setelah ayahnya meninggal, ia menduduki jabatan pendeta kerajaan.

Pada masa itu, raja berjanji untuk mengabulkan apa pun permintaan yang diminta oleh ratu padanya, dan ratu berkata, —

“Permintaan yang saya minta sangat mudah; mulai saat ini engkau tidak boleh menatap wanita lain dengan tatapan penuh cinta.” Awalnya raja menolak, namun bosan pada desakan yang tidak berhenti itu, akhirnya raja menyerah. Sejak saat itu, ia tidak pernah melemparkan tatapan yang penuh cinta lagi kepada siapapun dari keenam belas ribu gadis penarinya.

Suatu waktu, kerusuhan timbul di daerah pinggiran kerajaan, dan setelah dua atau tiga kali bertempur dengan para perampok, pasukan yang berada di sana mengirim sepucuk surat kepada raja yang menyatakan bahwa mereka tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut. Raja dipenuhi oleh keinginan untuk pergi sendiri ke sana dan mulai mengumpulkan rombongan besar. Ia berkata kepada istrinya, “Istriku, saya akan pergi ke garis depan, dimana perang akan berkecamuk, yang akan berakhir dengan kemenangan atau kekalahan. Medan perang bukanlah tempat untuk wanita, engkau harus tinggal di sini.”

“Saya tidak akan bisa (bertahan) jika engkau pergi, Tuanku,” kata ratu. Namun melihat raja tetap teguh pada keputusannya, ia menurutinya dengan permintaan berikut ini sebagai gantinya, — “Pada akhir setiap yojana, kirimkanlah seorang pembawa pesan (kurir) untuk mengetahui bagaimana perkembangan keadaanku.” Raja berjanji untuk melakukan hal tersebut. Kemudian raja berderap keluar bersama rombongannya, meninggalkan Bodhisatta di dalam kota. Raja mengirimkan seorang kurir di akhir setiap yojana untuk memberitahukan keadaannya kepada ratu dan menanyakan bagaimana keadaan ratu. Pada setiap lelaki yang datang, ratu menanyakan apa yang membawanya kembali, dan menerima jawaban bahwa ia kembali untuk mengetahui bagaimana kondisi perkembangannya. Ratu memberi isyarat pada sang kurir dan berbuat zina dengannya. Saat itu, raja telah melakukan perjalanan sejauh tiga puluh dua yojana dan telah mengirim tiga puluh dua kurir, dan ratu berbuat zina dengan mereka semua. Setelah mengamankan garis depan, dalam kegembiraan rakyatnya, raja memulai perjalanan kembali, mengirim rangkaian kedua dari tiga puluh dua kurir. Dan ratu melakukan hal yang sama dengan masing-masing dari mereka, sama seperti sebelumnya. Setelah menghentikan pasukan yang membawa kemenangan di dekat kota, raja mengirim sepucuk surat kepada Bodhisatta agar mempersiapkan kota untuk menyambut kedatangannya. Setelah kota dipersiapkan, Bodhisatta mempersiapkan istana untuk menyambut kedatangan raja, sampai akhirnya tiba di tempat kediaman ratu. Melihat ketampanannya, ratu memintanya untuk memuaskan hasrat ratu.

Namun Bodhisatta memohon kepada ratu, dengan menyinggung tentang kehormatan raja, dan mengatakan bahwa ia telah menjauhkan diri dari segala nafsu dan tidak akan melakukan apa yang diinginkan oleh ratu. “Keenam puluh empat kurir itu tidak memikirkan tentang raja,” katanya, “apakah kamu takut melakukan permintaan saya karena mengingat raja?”

Bodhisatta berkata, “Jika saja kurir-kurir itu memiliki pemikiran yang sama seperti diriku, mereka tidak akan melakukan hal tersebut. Dan bagi saya yang mengetahui apa yang benar, saya tidak akan melakukan kesalahan.”

“Jangan mengucapkan omong kosong,” kata ratu, “jika engkau menolak, saya akan membuat kepalamu dipenggal.”

“Lakukanlah hal tersebut. Penggallah kepala saya dalam kelahiran ini maupun dalam seratus ribu kali kelahiran; saya tetap tidak akan melakukan permintaanmu.”

“Baik, kita akan lihat nanti,” kata ratu penuh ancaman. Dan setelah masuk kembali ke kamarnya, ia mencakar dirinya sendiri, menaruh minyak di lengan dan tungkainya, memakai pakaian yang kotor dan berpura-pura sakit. Kemudian ia memanggil pelayannya dan meminta mereka memberi tahu raja, jika raja menanyakan dirinya, bahwa ia sedang sakit.

Pada saat yang sama Bodhisatta pergi untuk menemui raja, yang setelah mengelilingi kota dengan prosesi yang khidmat, masuk ke dalam istana. Tidak melihat ratu, ia menanyakan keberadaan ratu, dan diberitahu bahwa ratu sedang sakit. Masuk ke dalam kamar tidur kerajaan, raja memeluk dan

membelai ratu, dan menanyakan apa yang membuat ia sakit.

Ratu tidak memberi jawaban, namun saat pertanyaan itu diulangi raja sebanyak tiga kali, ia menatap raja dan berkata, “Walaupun Tuanku masih hidup, wanita yang malang seperti saya ini harus mempunyai seorang majikan.”

“Apa maksud perkataanmu?”

“Pendeta kerajaan, yang Anda serahkan tugas untuk menjaga kota, datang kemari berpura-pura untuk mengurus istana; namun karena saya tidak menyerah pada keinginannya, ia memukuli saya sepuas hatinya dan pergi.”

Raja menggerutu dalam kemarahannya, seperti letupan garam atau gula dalam api; dan bergegas keluar dari kamar.

Memanggil para pelayannya, ia meminta mereka mengikat kedua tangan pendeta itu ke belakang punggungnya, seperti orang yang mendapat hukuman mati, dan memenggal kepalanya di tempat pelaksanaan hukuman mati. Maka mereka bergegas pergi dan mengikat Bodhisatta. Bunyi genderang terdengar untuk mengumumkan tentang hukuman mati itu.

Bodhisatta berpikir, “Pasti ratu yang jahat itu telah meracuni pikiran raja terhadap saya, dan sekarang saya harus menyelamatkan diri saya dari bencana ini.” Maka ia berkata kepada orang yang menahannya, “Bawa saya ke istana sebelum kalian membunuh saya.” “Mengapa demikian?” tanya mereka.

“Karena, sebagai pelayan raja, saya telah bekerja keras untuk kepentingan raja, dan mengetahui dimana terdapat harta terpendam yang ditemukan oleh saya. Jika saya tidak dibawa ke hadapan raja, semua harta itu akan lenyap. Maka, bawa saya ke hadapannya, setelah itu lakukan kewajiban kalian.”

Karenanya, mereka membawanya ke hadapan raja, yang kemudian bertanya mengapa kemuliaan tidak menahannya melakukan kejahatan seperti itu.

“Paduka,” jawab Bodhisatta, “saya terlahir sebagai brahmana, dan tidak pernah membunuh seekor semut. Saya tidak pernah mengambil apa pun yang bukan merupakan milik saya, termasuk sehelai rumput. Saya tidak pernah memandang dengan tatapan yang penuh nafsu kepada istri orang lain.

Bahkan dalam senda gurau pun, saya tidak pernah mengucapkan kebohongan; dan tidak setetes pun minuman keras yang pernah saya minum. Saya tidak bersalah, Paduka; namun wanita jahat itu lah yang menarik tangan saya dengan penuh nafsu, dan karena ditolak, mengancam saya, sebelum kembali ke kamarnya ia menceritakan sebuah rahasia kejahatannya kepada saya. Terdapat enam puluh empat kurir yang datang dengan surat darimu untuk ratu. Mintalah orangorang

ini untuk datang dan tanyakanlah apakah mereka melakukan apa yang diminta oleh ratu atau tidak.” Kemudian raja mengumpulkan keenam puluh empat orang itu dan meminta ratu menghadap. Ratu mengakui telah melakukan kesalahan dengan para kurir itu. Raja memerintahkan agar enam puluh empat orang itu dipenggal.

Pada kesempatan ini, Bodhisatta berseru, “Tidak, Paduka, orang-orang itu tidak seharusnya disalahkan; mereka dipaksa oleh ratu, karena itu maafkanlah mereka. Dan bagi ratu:—ia tidak dapat disalahkan, karena nafsu keinginan wanita tidak ada puasnya, ia hanya tertindak sesuai dengan nalurinya.

Karenanya, maafkanlah dirinya juga, wahai Raja.”

Atas permohonan ini, raja bermurah hati; maka Bodhisatta telah menyelamatkan nyawa ratu dan enam puluh empat orang tersebut, ia memberikan tempat tinggal bagi masing-masing dari mereka. Bodhisatta menemui raja dan berkata, “Paduka, tuduhan yang tidak beralasan dan bodoh menempatkan ia yang bijaksana dalam ikatan yang tidak pantas, namun kata-kata ia yang bijaksana membebaskan mereka yang bodoh. Demikianlah orang bodoh diikat oleh kesalahan; dan kebijaksanaan membebaskan ikatan tersebut”. Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia mengucapkan syair berikut:—

Ucapan dan perilaku orang bodoh

diikat oleh ketidakbenaran,

sedangkan kata-kata bijak yang tepat

melepaskan semua ikatan.

Setelah ia menyampaikan kebenaran kepada raja dalam syair tersebut, ia berseru, “Semua masalah ini timbul karena hidup saya yang masih merupakan seorang perumah tangga.

Saya harus merubah cara hidup saya, dan sangat mengharapkan izin darimu, Paduka, untuk melepaskan keduniawian.” Dengan izin dari raja, ia meninggalkan keduniawian, meninggalkan hubungan yang penuh air mata dan kekayaannya untuk menjadi seorang petapa. Ia menetap di Pegunungan Himalaya dan memperoleh kemampuan batin luar biasa dan pencapaian (meditasi) lainnya, kemudian mendapatkan kelahiran kembali di alam brahma.

____________________

Ketika uraian tersebut telah berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Ciñca adalah ratu yang jahat di masa itu, Ānanda adalah sang raja, dan Saya adalah pendeta kerajaan.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

AKĀLARĀVI-JĀTAKA

“Tidak ada induk,” dan seterusnya . Kisah ini disampaikan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang selalu ribut di waktu yang salah. Dikatakan bahwa ia berasal dari sebuah keluarga terpandang di Sawatthi, ia melepaskan keduniawian untuk belajar Dhamma, namun ia melalaikan tugas dan menganggap remeh petunjuk yang diberikan kepadanya. Ia tidak pernah memperhatikan berapa lama waktu untuk melaksanakan kewajiban, untuk kebaktian atau untuk membaca paritta. Di sepanjang waktu jaga di malam hari, sama seperti waktu bangun, ia tidak pernah diam; maka bhikkhu yang lain juga tidak bisa tidur sama sekali. Karenanya para bhikkhu mencela perbuatannya di Balai Kebenaran. Masuk ke dalam Balai tersebut dan mempelajari apa yang sedang mereka bicarakan, Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, sama seperti saat ini, di kehidupan yang lampau bhikkhu ini juga ribut di luar waktunya dan tindakannya yang tidak tepat waktu sangat mengganggu.” Setelah mengatakan hal tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir dalam sebuah keluarga brahmana dari utara, setelah dewasa ia mempelajari semua pengetahuan dan menjadi seorang guru yang sangat terkenal dengan lima ratus orang brahmana muda yang belajar dibawah bimbingannya. Para brahmana muda ini mempunyai seekor ayam jantan yang berkokok pada waktunya dan membangunkan mereka untuk belajar. Setelah ayam jantan ini mati, mereka mencari penggantinya di sekitar tempat itu. Salah seorang dari mereka, ketika memungut kayu bakar di tanah pemakaman, melihat ada seekor ayam jantan di sana dan membawanya pulang untuk ditempatkan di kandang ayam. Namun, saat ayam jantan kedua ini lahir di tanah pemakaman, ia tidak mempelajari pengetahuan akan waktu dan musim, ia berkokok secara sembarangan, — di tengah malam sama seperti di waktu subuh. Dibangunkan oleh kokok ayam jantan di waktu malam, para brahmana mulai belajar; dan di saat fajar mereka telah kelelahan dan dengan mengantuk berusaha memperhatikan pelajaran mereka; saat ia kembali berkokok di pagi hari, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengulang pelajaran mereka.

Karena ayam jantan itu berkokok baik di tengah malam maupun di pagi hari, membuat pelajaran mereka terhenti sama sekali, mereka membawanya dan mencekik lehernya. Kemudian mereka menceritakan pada guru mereka bahwa mereka telah membunuh ayam tersebut, yang berkokok sepanjang waktu.

Guru itu berkata, sebagai pelajaran bagi mereka, “Karena salah asuhan, ayam ini menemui ajalnya.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengucapkan syair berikut:

Tidak ada induk, tidak ada guru yang melatih unggas ini:

Baik siang maupun malam memperdengarkan suaranya.

Demikianlah ajaran Bodhisatta atas hal tersebut. Setelah demikian menjalani hidupnya pada masa itu, ia meninggal dunia untuk terlahir kembali di alam yang sesuai dengan hasil perbuatannya.

___________________

Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut sebagai berikut : —

“Bhikkhu ini adalah ayam jantan di masa itu, yang tidak mengetahui kapan waktu (yang tepat) untuk berkokok; Para siswa saya adalah para brahmana muda itu; dan Saya adalah guru mereka.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

VAṬṬAKA-JĀTAKA

“Orang yang tidak bijaksana,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai putra dari seorang saudagar besar. Saudagar besar ini dikatakan sebagai orang yang kaya di Sawatthi, dan istrinya merupakan ibu dari makhluk yang sangat bijak dari alam brahma, yang tumbuh dewasa seelok brahma. Suatu hari saat perayaan Kattikā diselenggarakan di Sawatthi, seluruh penduduk larut dalam perayaan tersebut. Rekan-rekannya, putra dari orang kaya lainnya, telah memiliki istri, namun putra saudagar kaya yang telah lama hidup di alam brahma itu telah bebas dari nafsu duniawi. Rekan-rekannya berkomplot untuk mendapatkan seorang pasangan untuknya dan membuat ia terus bergembira bersama mereka. Maka mereka berkata kepadanya, “Teman yang baik, ini adalah perayaan Kattikā yang menyenangkan.

Tidak bisakah kami mencarikan seorang pasangan untukmu dan bersenang-senang bersama?” Akhirnya teman-temannya memilih seorang gadis yang cantik dan mendandaninya, kemudian meninggalkannya di rumah pemuda tersebut setelah memberi petunjuk pada gadis itu untuk pergi ke kamar anak muda itu. Namun saat tiba di kamar anak muda itu, tidak selintas pun ia ditatap maupun sepatah kata terucap dari mulut saudagar muda itu. Kesal karena kecantikannya diremehkan, ia memperlihatkan semua keanggunan dan rayuan dengan gemulai, tersenyum untuk menunjukkan keindahan giginya.

Pandangan pada giginya memberi kesan akan tulang padanya, dan benak saudagar muda ini dipenuhi pemikiran akan tulang belulang, sehingga keseluruhan tubuh gadis ini terlihat bagaikan rangkaian tulang semata baginya. Ia memberi uang pada gadis itu dan memintanya pergi.

Setelah perayaan yang berlangsung selama tujuh hari itu berakhir, ibu gadis tersebut, melihat anaknya masih belum pulang juga, pergi ke rumah teman-teman saudagar muda itu dan menanyakan keberadaan anaknya; dan mereka kemudian menanyakan itu kepada saudagar muda tersebut. Ia mengatakan bahwa ia telah memberikan uang padanya dan memintanya pergi begitu mereka berjumpa.

Ibu gadis tersebut berkeras agar gadis itu dikembalikan kepadanya, dan membawa pemuda tersebut menghadap raja, yang memeriksa masalah itu lebih lanjut. Dalam menjawab pertanyaan raja, pemuda itu mengakui bahwa gadis tersebut diserahkan kepadanya, namun berkata ia tidak mengetahui keberadaan gadis tersebut, dan tidak bisa mengembalikannya.

Raja berkata, “Jika tidak bisa mengembalikan gadis itu, hukum mati dia!” Maka pemuda itu dibawa dengan tangan terikat di punggung untuk dieksekusi. Seisi kota digemparkan oleh berita ini. Dengan tangan menekan dada, orang-orang mengikutinya sambil meratap, “Apa maksud ini, Tuan? Engkau menderita karena ketidakadilan.”

Pemuda ini berpikir “Semua penderitaan ini saya alami karena saya menjalani hidup sebagai perumah tangga.

Jika saya bisa terlepas dari bahaya ini, saya akan melepaskan hidup keduniawian dengan bergabung dalam Sanggha yang dipimpin oleh Gotama yang Agung, yang telah mencapai penerangan sempurna.”

Gadis tersebut mendengar kegemparan itu dan menanyakan apa yang terjadi. Mendengar kejadian itu, ia segera berlari pergi, berseru, “Pinggir, Tuan-Tuan! Biarkan saya lewat! Biarkan orang-orang raja bertemu dengan saya.” Begitu menunjukkan diri, ia segera dibawa ke tempat ibunya oleh anak buah raja, yang kemudian membebaskan pemuda tersebut dan melanjutkan perjalanan mereka ke istana.

Dikelilingi oleh teman-temannya, putra saudagar kaya itu turun ke sungai dan mandi. Kembali ke rumahnya, ia menyantap sarapannya dan menyampaikan keputusannya untuk meninggalkan keduniawian kepada kedua orang tuanya.

Kemudian ia memakai jubah petapa, diikuti oleh rombongan besar, mencari Sang Guru, dan dengan penuh hormat ia menanyakan apakah ia bisa diterima dalam Sanggha. Mula-mula sebagai samanera, setelah itu menjadi bhikkhu. Ia melakukan meditasi dengan objek pengendalian diri hingga mencapai jhana, dan tak lama kemudian mencapai tingkat kesucian Arahat. Suatu hari di Balai Kebenaran para bhikkhu berkumpul untuk membicarakan kebajikannya, mengingat bagaimana di saat yang genting ia mengenali keunggulan Dhamma, dan dengan bijaksana memutuskan untuk meninggalkan keduniawian, dan telah mencapai phala tertinggi, yakni tingkat kesucian Arahat. Pada saat mereka berbicara, Sang Guru masuk ke dalam Balai Kebenaran, menanyakan apa topik pembicaraan mereka, dan diberitahukan apa yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Kemudian Beliau mengumumkan bahwa orang seperti putra saudagar kaya itu, yang bijaksana pada kehidupan yang lampau, dengan bertindak bijaksana di saat

menghadapi bahaya, terlepas dari kematian. Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta, dalam kelahiran kembalinya, terlahir sebagai seekor burung puyuh. Pada masa itu terdapat seorang penangkap burung yang selalu menangkap sejumlah burung dari dalam hutan dan membawanya pulang untuk digemukkan. Setelah gemuk, ia akan menjual mereka pada orang-orang; demikianlah ia memperoleh nafkahnya. Suatu hari ia menangkap Bodhisatta dan membawanya pulang bersama sejumlah burung lainnya.

Bodhisatta berpikir, “Jika saya menyantap makanan dan minuman yang ia berikan, saya akan dijualnya; sementara jika tidak makan, saya akan menjadi kurus, sehingga orang-orang akan memperhatikan hal itu dan melewatkan saya, dengan demikian saya akan aman. Inilah apa yang akan saya lakukan.”

Maka ia tidak makan dan terus tidak makan sehingga menjadi begitu kurus, hanya tinggal kulit dan tulang, tidak ada orang yang mau membelinya dengan harga berapa pun. Setelah menjual semua burung kecuali Bodhisatta, penangkap burung itu mengeluarkan Bodhisatta dari sangkar dan meletakkannya di telapak tangannya untuk melihat apa yang salah pada burung tersebut. Saat lelaki itu lengah, Bodhisatta membentangkan sayapnya dan terbang kembali ke hutan. Melihat ia kembali, burung yang lain bertanya kemana ia pergi selama ini. Ia memberitahukan mereka bahwa ia tertangkap oleh seorang penangkap burung, dan ketika ditanya bagaimana ia bisa melarikan diri, jawabannya adalah, melalui suatu cara yang terpikirkan olehnya, yakni, tidak makan maupun minum apa pun yang disediakan oleh penangkap itu. Setelah mengatakan hal tersebut, ia mengucapkan syair berikut ini: —

Orang yang tidak bijaksana tidak akan memperoleh hasil apa pun. — Tetapi lihatlah buah kebijaksanaan pada diriku, terbebaskan dari kematian dan ikatan.

Dengan cara demikian Bodhisatta mengatakan apa yang telah ia lakukan.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Saya adalah burung puyuh yang terlepas dari kematian di masa itu.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

TITTIRA-JĀTAKA

“Seperti kematian ketitir,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai Kokālika; ceritanya akan ditemukan di Buku Ketiga Belas dalam Takkāriya-Jātaka.

Sang Guru berkata, “Sama seperti saat ini, para Bhikkhu, demikian juga di kehidupan yang lampau, lidah Kokālika membawa kehancuran baginya.” Setelah mengucapkan katakata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang brahmana di Negeri Utara. Setelah dewasa, ia menerima pelajaran penuh di Takkasilā, dan meninggalkan kesenangan indriawi, melepaskan keduniawian untuk menjadi petapa. Ia memperoleh lima kemampuan batin luar biasa dan delapan pencapaian (meditasi), dan semua petapa di Pegunungan Himalaya yang berjumlah lima ratus orang berkumpul bersama menjadi muridnya. Tingkatan tingkatan jhana dicapainya (juga) saat menetap bersama para siswanya di Pegunungan Himalaya.

Pada masa itu terdapat seorang petapa yang hatinya penuh prasangka, ia sedang membelah kayu dengan menggunakan kapak, saat bhikkhu yang merupakan tukang oceh datang dan duduk di dekatnya, mulai mengatur pekerjaan bhikkhu itu, meminta ia memberi satu potongan di sini dan satu potongan di sana, hingga petapa yang hatinya dipenuhi prasangka itu kehilangan kesabarannya. Dalam kemarahannya ia berseru, “Siapa kamu, mengajari saya bagaimana cara membelah kayu?” Dan mengangkat kapaknya yang tajam membelah bhikkhu tersebut hingga mati dengan satu pukulan. Dan Bodhisatta menguburkan mayat bhikkhu tersebut.

Di sebuah sarang semut dekat pertapaan tersebut tinggallah seekor ketitir yang selalu mengeluarkan bunyi yang nyaring saat pagi dan sore hari di atas sarang semut tersebut.

Mengenali suara ketitir, seorang pemburu membunuh unggas itu dan membawanya pergi. Kehilangan suara unggas tersebut, Bodhisatta bertanya pada para petapa mengapa suara tetangga mereka, si ketitir, tidak terdengar lagi sekarang. Mereka menceritakan padanya apa yang telah terjadi, dan ia mengaitkan kedua kejadian itu dalam syair berikut ini: —

Seperti kematian ketitir karena suaranya yang bising,

demikianlah ocehan dan bualan

mencelakai orang bodoh ini hingga meninggal.

Setelah mengembangkan empat kediaman luhur di dalam dirinya, Bodhisatta kemudian terlahir kembali di alam brahma.

Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, sama seperti saat ini, demikian juga di kehidupan yang lampau, lidah Kokālika mengakibatkan kehancuran bagi dirinya.” Di akhir khotbah Beliau menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Kokālika adalah petapa tukang oceh di masa itu, para pengikutku adalah rombongan petapa itu, dan Saya adalah guru mereka.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

DUBBACA-JĀTAKA

“Terlalu berlebihan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai

seorang bhikkhu yang tidak patuh; Cerita pembukanya akan diberikan pada Buku Kesembilan, dalam Gijjha-Jātaka.

Sang Guru menegurnya dengan kata-kata berikut ini, “Sama seperti sekarang, di kehidupan yang lampau engkau juga tidak patuh, Bhikkhu, tidak mengindahkan nasihat mereka yang bijaksana dan penuh kebaikan. Karenanya, engkau meninggal oleh sebatang tombak.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.”

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir dalam sebuah keluarga pemain akrobat. Setelah dewasa, ia tumbuh menjadi anak yang bijak dan pintar.

Dari pemain akrobat yang lain, ia belajar tarian tombak, bersama gurunya ia melakukan perjalanan untuk mempertunjukkan keahliannya. Gurunya ini menguasai tarian dengan empat buah tombak, belum mencapai lima; suatu hari saat sedang mengadakan pertunjukan di sebuah desa, di bawah pengaruh minuman keras, ia menyusun lima tombak dalam satu baris, dan menyampaikan bahwa ia akan menari melewati tombak-tombak itu. Bodhisatta berkata, “Engkau tidak mampu menangani seluruh tombak itu, Guru. Kurangilah satu, jika engkau mencoba kelimanya, engkau akan tiba di tombak kelima dan mati.”

“Engkau tidak tahu apa yang bisa saya lakukan jika saya mencobanya,” jawab orang mabuk itu, tidak mendengar pada kata-kata Bodhisatta. Ia menari melalui empat buah tombak hanya untuk menikamkan diri pada tombak kelima seperti Bunga Bassia di tangkainya. Di sana, ia berbaring sambil mengerang.

Bodhisatta berkata, “Bencana ini terjadi karena engkau tidak mengindahkan nasihat ia yang bijaksana dan penuh kebaikan.”

Dan ia mengucapkan syair berikut ini : —

Terlalu berlebihan — walaupun kesakitan berlawanan dengan kehendakku — engkau mencobanya; melewati yang keempat, di tombak yang kelima engkau meninggal.

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengangkat gurunya agar terlepas dari tombak tersebut dan memberikan pelayanan terakhir yang sepantasnya pada mayatnya.

____________________

Setelah kisah itu berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu yang tidak patuh ini adalah guru di masa itu, dan Saya adalah murid tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

ANUSĀSIKA-JĀTAKA

“Burung pengadu yang serakah itu,” dan seterusnya .

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai seorang bhikkhuni yang memberikan peringatan kepada orang lain. Diberitahukan bahwa ia berasal dari sebuah keluarga terpandang di Sawatthi, namun sejak menjadi, bhikkhuni ia gagal melaksanakan kewajibannya dan dipenuhi oleh keserakahan; ia selalu mencari dana di tempat pemukiman dalam kota yang tidak dikunjungi oleh bhikkhuni yang lain. Di sana, ia mendapatkan makanan pilihan. Keserakahannya membuat ia takut kalau bhikkhuni lain akan pergi ke sana juga  dan mengambil makanan yang merupakan bagiannya. Ia mencari cara untuk menghentikan kepergian mereka dan menahan semua untuk dirinya sendiri. Ia memberi peringatan kepada bhikkhuni yang lain bahwa di sana adalah pemukiman yang berbahaya, diganggu oleh seekor gajah yang ganas, seekor kuda yang liar dan seekor anjing yang galak, ia meminta mereka untuk tidak pergi kesana untuk mengumpulkan dana. Karenanya, tidak ada seorang bhikkhuni yang memberi lebih dari sekilas tatapan pada tempat tersebut. Suatu hari dalam perjalanan melalui wilayah itu untuk melakukan pindapata, saat sedang terburu-buru menuju salah satu rumah disana, seekor domba jantan menanduknya dengan keras sehingga kakinya patah. Orang-orang berdatangan, mengobati kakinya dan membawanya dengan tandu menuju ke wihara yang dihuni oleh para bhikkhuni. Semua bhikkhuni mencelanya dengan berkata ia mengalami patah kaki karena pergi ke tempat yang ia peringatkan agar tidak dikunjungi oleh mereka.

Tidak lama kemudian, para bhikkhu juga mendengar hal tersebut; suatu hari di Balai Kebenaran mereka mengatakan bahwa bhikkhuni ini mengalami patah kaki dikarenakan oleh seekor domba jantan liar di tempat pemukiman dalam kota itu, bertentangan dengan apa yang ia peringatkan pada bhikkhuni yang lain; mereka mengecam perbuatannya.

Masuk ke dalam balai tersebut pada saat itu, Sang Guru bertanya dan diberitahukan apa yang sedang mereka bicarakan.

“Sama seperti sekarang, para Bhikkhu,” kata Beliau, “di kehidupan yang lampau ia juga memberi peringatan yang tidak ia patuhi sendiri; dan sama seperti saat ini, ia menderita rasa sakit.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor burung, dan tumbuh dewasa menjadi raja burung. Ia pergi ke Pegunungan Himalaya bersama ribuan ekor burung dalam barisannya. Selama menetap di tempat tersebut, seekor burung yang galak selalu mencari makanan di sepanjang jalan raya tempat ia menemukan padi, kacang-kacangan dan biji-bijian yang dijatuhkan oleh gerobak yang lewat. Mencari cara untuk mencegah agar burung yang lain tidak pergi ke sana, ia mengatakan seperti ini pada mereka : —

“Jalan raya itu penuh bahaya. Di sepanjang jalan terdapat gajah dan kuda, gerobak yang ditarik oleh sapi liar, dan hal-hal berbahaya lainnya. Tidak mungkin untuk dapat terbang pergi ke tempat itu, jadi janganlah pergi ke sana sama sekali.” Karena peringatannya, burung yang lain memberinya julukan ‘Pemberi Peringatan’.

Suatu hari saat sedang mencari makanan di sepanjang jalan raya itu, ia mendengar suara gerobak yang mendekat dengan cepat di sepanjang jalan, dan ia berpaling untuk melihat.

“Oh, masih jauh,” pikirnya, dan melanjutkan pencarian makanan.

Suara angin berdesir diiringi dengan datangnya gerobak, dan sebelum ia bisa terbang pergi, roda gerobak telah menerjangnya dan berputar di jalan. Saat berkumpul, raja burung menyadari ketidakhadirannya dan memerintahkan agar pencarian segera dilakukan. Akhirnya ia ditemukan di jalan raya dalam keadaan terbelah dua dan berita itu disampaikan kepada raja. “Karena tidak mematuhi peringatannya sendiri pada burung yang lain, ia terbelah menjadi dua,” katanya dan mengucapkan syair berikut:

Burung pengadu yang serakah itu, tamak akan makanan, roda gerobak meninggalkannya terkoyak-koyak di jalan.

___________________

Setelah Uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhuni yang memberikan peringatan itu adalah burung ‘Pemberi Peringatan’ di masa itu, dan Saya adalah raja para burung.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.