Category Archives: kisah jataka

VINĪLAKA-JĀTAKA

“Ketika raja di sana pergi berkuda,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Veḷuvana (Veluvana), tentang bagaimana Devadatta menyamar sebagai Sang Buddha.

Kedua siswa utama pergi ke Gayāsīsa (Gayasisa), tempat Devadatta menyamar sebagai Sang Buddha, dan gagal. Kemudian kedua thera tersebut kembali setelah memberikan khotbah Dhamma, dan membawa bersama mereka murid mereka masing-masing. Sesampainya di Veluvana, Sang Guru menanyakan kepada mereka tentang apa yang Devadatta lakukan ketika melihat mereka. “Bhante”, kata mereka, “dia menyamar sebagai Buddha, dan binasa sama sekali.” Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini, Sāriputta , Devadatta binasa ketika menyamar sebagai diri-Ku, hal ini juga terjadi sebelumnya.” Kemudian atas permintaan sang thera, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Videha memerintah di Mithilā (Mithila) dalam Kerajaan Videha, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari permaisuri utamanya. Dia tumbuh di lingkungan mewah dan mendapat pendidikan di Takkasilā , dan pada saat ayahnya meninggal, dia mewarisi kerajaannya. Kala itu, ada seekor raja angsa emas yang berpasangan dengan seekor burung gagak di tempat mereka mencari makan, dan dari mereka lahir seekor anak burung. Anak burung itu tidak mirip dengan kedua induknya. Dia berwarna ungu, hitam dan biru, dan sesuai dengan penampilannya, burung tersebut dinamakan Vinīlaka (Vinilaka). Raja angsa itu sering mengunjungi anaknya, dan sang raja mempunyai dua anak lainnya, angsa seperti dirinya sendiri. Mereka memerhatikan bahwa dia sering mengunjungi daerah tempat manusia berada, dan menanyakan apa alasannya. “Anak-anakku” katanya, “saya mempunyai pasangan di sana, seekor gagak, dan dia memberi saya seorang putra, yg bernama Vinilaka. Dirinyalah yang sering saya kunjungi.” “Di mana mereka tinggal?” tanya mereka. “Di atas pohon lontar, di dekat Mithila dalam Kerajaan Videha,” dia menjelaskan tempatnya. “Ayah” kata mereka, “di mana ada manusia, di sana ada ketakutan dan bahaya. Ayah tidak seharusnya berpergian ke sana, izinkanlah kami pergi dan menjemputnya untukmu.” Lalu mereka membawa sebuah batang pohon, dan menempatkan Vinilaka di atasnya, kemudian dengan menggigit kedua ujung batang tersebut dengan paruh mereka, mereka terbang melewati Kota Mithila. Pada waktu itu, Raja Videha kebetulan sedang duduk di atas kereta kerajaannya yang ditarik oleh kumpulan empat kuda

Sindhavā yang serba putih, ketika melakukan perjalanan kemenangan mengelilingi kota. Vinilaka melihatnya dan berpikir—“Apakah perbedaan antara Raja Videha dan diriku? Dia menyandang kebesaran mengelilingi kerajaannya di atas sebuah kereta yang ditarik oleh empat kuda putih, dan saya dibawa dengan batang pohon yang dibawa oleh sepasang angsa.” Ketika terbang melewatinya di angkasa, dia mengulangi bait pertama:

Ketika raja di sana pergi berkuda dengan empat kuda putih-susu, Vinilaka hanya memiliki ini, sepasang angsa, yang memikulnya di atas tanah!

Kata-kata ini membuat angsa marah. Pikiran pertama mereka adalah, “Lempar dia di sini dan tinggalkan dirinya!”, tetapi kemudian mereka berpikir kembali—“Apa yang akan ayah kami katakan?” Maka dikarenakan takut akan teguran, mereka membawa makhluk itu ke ayah mereka, dan menjelaskan apa yang dilakukannya. Ayah mereka menjadi marah ketika mendengarnya: “Apa!” katanya, “Apakah Anda atasan anakanakku sehingga Anda membuat dirimu sendiri sebagai tuan mereka, dan memperlakukan mereka seperti kuda-kuda di sebuah kereta? Anda tidak tahu diri. Di sini tidak ada tempat untukmu; pulanglah ke tempat ibumu!” dan dengan kecaman ini, dia mengulangi bait kedua:

Vinilaka, Anakku, di sini ada bahaya, di sini tidak ada tempat buatmu; Di gerbang desa ibumu menunggu—ke sanalah Anda harus bergerak dengan cepat sekarang juga.

Dengan kecaman ini, dia menyuruh anak-anaknya membawa burung tersebut ke tempat tumpukan kotoran di luar Kota Mithila, dan demikianlah yang mereka lakukan.

Uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kelahiran mereka: “Pada masa itu, Devadatta adalah Vinilaka ( Vinīlaka ), kedua thera adalah dua anak angsa, Ānanda adalah ayah dari angsa, dan diri-Ku sendiri adalah Raja Videha.”

 

Sumber: ITC, Jataka Vol 2

Tagged ,

MORA-JĀTAKA

“Di sanalah dia bangkit, raja dari semua penglihatan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal. Bhikkhu ini dibimbing oleh beberapa yang lain ke hadapan Sang Guru, yang kemudian bertanya, “Benarkah, Bhikkhu, seperti yang Aku dengar, bahwa Anda menyesal?” “Ya, Bhante.” “Apa yang membuatmu berbuat demikian?” “Seorang wanita yang mengenakan pakaian yang bagus sekali.” Kemudian kata Sang Guru, “Tidaklah mengherankan jika wanita membawa masalah bagi orang seperti dirimu! Bahkan orang bijak, yang selama tujuh ratus tahun tidak melakukan perbuatan buruk (sehubungan dengan nafsu/kilesa), dengan hanya mendengar suara wanita membuat dirinya melakukan pelanggaran dengan segera; bahkan seorang yang suci menjadi tidak suci; bahkan mereka yang telah mencapai kehormatan tertinggi kemudian mendapat aib—apalagi orang biasa!” dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir ke dunia ini sebagai seekor merak. Cangkang telur tempat dia berada, memiliki kulit yang berwarna kuning seperti kuncup kaṇikāra; dan ketika telurnya pecah, dia menjadi seekor merak emas, cantik dan indah, dengan garis-garis indah berwarna merah di bawah sayapnya. Dalam kehidupannya sehari-hari, dia melewati tiga barisan perbukitan, dan pada bukit keempat dia berdiam, di dataran tinggi sebuah bukit emas di Gunung Daṇḍaka . Ketika hari mulai subuh, saat dia duduk di bukit, sambil memandang terbitnya matahari, dia melafalkan mantra brahma untuk melindungi dirinya agar selamat di lahan makanannya sendiri;

Di sanalah dia bangkit, Raja dari semua penglihatan membuat semua benda terang dengan sinar emasnya. Anda yang saya puja, makhluk yang agung dan mulia membuat semua benda terang dengan sinar emasmu Jagalah saya agar selamat, saya berdoa, melewati hari-hari yang akan datang.

Setelah memuja matahari dengan cara seperti ini dengan mengucapkan mantra yang dibacakan di atas, dia mengulang yang lain untuk memuja Buddha-Buddha yang telah lewat, dan semua kebajikan mereka:

Semua orang suci, yang berbudi luhur, bijaksana dalam ilmu dan pengetahuan yang mulia, saya benar-benar menjunjung tinggi, dan memohon dengan sangat akan bantuan dari mereka: Semua junjungan kepada yang bijak, untuk menjunjung tinggi kebijaksanaan, untuk kebebasan, dan untuk semua yang telah dibebaskan.

Setelah memanjatkan mantra ini untuk melindungi dirinya dari bahaya, sang merak pun pergi makan. Kemudian setelah terbang selama seharian penuh, dia kembali pulang di saat senja dan duduk di atas bukit untuk melihat terbenamnya matahari; kemudian sambil bermeditasi, dia mengucapkan mantra lain untuk melindungi dirinya dan menjauhkannya dari yang jahat:

Di sanalah dia berada, Raja dari semua penglihatan, dia yang membuat semua benda terang dengan sinar emasnya. Anda yang saya puja, makhluk yang agung dan mulia, membuat semua benda terang dengan sinar emasmu. melewati malam, seperti melewati siang, jagalah saya supaya aman, saya berdoa.

Semua orang suci, yang berbudi luhur, bijaksana dalam ilmu dan pengetahuan yang mulia, saya benar-benar menjunjung tinggi, dan memohon dengan sangat akan bantuan dari mereka:

Semua junjungan kepada yang bijak, untuk menjunjung tinggi kebijaksanaan, untuk kebebasan, dan untuk semua yang telah dibebaskan.

Setelah memanjatkan mantra ini untuk menjaga dirinya dari bahaya, sang merak pun jatuh tertidur. Kala itu, seorang pemburu jahat tinggal di sebuah desa pemburu liar dekat Benares. Di saat mengembara di sekitar Himalaya, dia melihat Bodhisatta bertengger di bukit emas Gunung Daṇḍaka , dan memberitahukannya kepada putranya. Secara kebetulan, pada suatu hari, salah satu istri Raja Benares, yang bernama Khemā (Khema), melihat dalam sebuah mimpi seekor merak emas sedang memberikan wejangan. Hal ini diberitahukannya kepada raja, mengatakan bahwa dia ingin sekali untuk mendengarkan wejangan dari merak emas. Sang raja bertanya kepada anggota istananya tentang ini; dan anggota istananya berkata, “Para brahmana pasti mengetahui tentang ini.” Para brahmana berkata: “Ya, ada merak emas.” Ketika ditanya di manakah mereka berada, mereka menjawab, “Para pemburu pasti mengetahuinya.” Raja memanggil para pemburu dan menanyakannya kepada mereka. Kemudian pemburu ini menjawab, “Oh Paduka, ada sebuah bukit emas di Daṇḍaka ; dan ada seekor merak emas hidup di sana.” “Kalau begitu, bawalah dia ke sini–jangan dibunuh, bawalah dia dalam keadaan hidup.” Pemburu itu mulai memasang perangkap di lahan makanan sang merak. Tetapi bahkan ketika sang merak berpijak di sana, perangkapnya tidak mau menutup. Pemburu ini mencoba untuk tujuh tahun lamanya, tetapi dia tidak sanggup menangkapnya sendirian; dan di sanalah dia meninggal. Ratu Khema pun meninggal tanpa mendapatkan impiannnya.  Raja sangat gusar karena ratunya mati karena seekor merak. Dia memerintahkan agar sebuah pesan ditulis di atas papan emas: “Di antara pegunungan Himalaya terdapat sebuah bukit emas di Gunung Daṇḍaka . Di sana hidup seekor merak emas; dan barang siapa yang memakan dagingnya akan menjadi awet muda dan abadi.” Ini diletakkannya di dalam sebuah peti. Setelah dia meninggal, raja berikutnya membaca papan ini; dan berpikir, “Saya akan menjadi awet muda dan abadi;” kemudian dia mengutus pemburu yang lain. Seperti yang pertama, pemburu ini gagal untuk menangkap sang merak, dan meninggal dalam pencariannya. Dengan cara yang sama, kerajaan tersebut mengalami kejadian yang sama oleh enam raja-raja penerusnya. Kemudian yang ketujuh pun bangkit, dia juga mengirim seorang pemburu. Sang pemburu mengamati bahwa ketika sang merak emas datang ke perangkap, perangkap tidak tertutup, dan juga dia mengucapkan mantra sebelum keluar mencari makanan. Kemudian dia pergi, dan menangkap seekor merak betina, yang dilatih untuk menari ketika dia menepuk tangannya dan dengan jentikan jarinya dia membuatnya bersuara. Kemudian, dia membawanya bersamanya, menyiapkan perangkap, meletakkan dengan benar di tanah, saat pagi-paginya, sebelum sang merak mengucapkan mantranya. Kemudian dia membuat merak betina untuk bersuara. Suara yang tidak diinginkan ini—suara (merak) betina—menimbulkan hasrat di dalam hati sang merak; meninggalkan mantra tanpa terucap, dia datang menuju merak betina; dan tertangkap di dalam perangkap. Kemudian sang pemburu membawanya dan menyerahkannya kepada Raja Benares. Sang Raja sangat senang dengan keindahan sang merak; dan memerintahkan untuk meletakkan sebuah kursi untuk sang merak. Duduk di atas kursi yang telah disediakan, Bodhisatta bertanya, “Mengapa Anda menangkapku, Paduka?” “Karena mereka berkata bahwa yang memakan dirimu akan menjadi awet muda dan abadi. Maka dari itu, saya berharap untuk menjadi awet muda dan abadi dengan memakan dirimu,” kata raja. “Kalau begitu—katakanlah benar semua yang memakanku akan menjadi awet muda dan abadi. Tetapi di satu sisi yang lain, saya harus mati!” “Tentu saja,” jawab raja “Baiklah—dan jika saya mati, bagaimana bisa dagingku memberikan keabadian bagi yang memakannya?” “Warnamu adalah emas; Maka dari itu konon mereka yang memakan dagingmu akan menjadi muda dan hidup selama-lamanya.” “Paduka,” balas sang burung, “ada alasan yang sangat bagus untuk warna emasku. Dahulu kala, saya mempunyai kekuasaan di seluruh dunia, memerintah tepat di kota ini sebagai seorang Cakkavati28; Saya menjalankan lima latihan moralitas, dan membuat semua orang untuk melakukan yang sama. Untuk itu saya terlahirkan kembali, setelah kematian, di Alam Tāvatiṁsā ; di sana saya hidup, tetapi di kelahiran berikutnya saya menjadi seekor merak sebagai hasil dari perbuatan buruk; walaupun demikian, saya berwarna emas karena sebelumnya saya telah menjalankan latihan-latihan moralitas tersebut.” “Apa? Sangat menakjubkan! Anda adalah seorang raja dunia, yang menjalankan latihan moralitas, dan terlahirkan dengan warna emas sebagai hasilnya! Silakan buktikan!” “Saya punya satu, Paduka.” “Apakah itu?” “Baiklah, Paduka, ketika saya memerintah, saya selalu berjalan di udara dengan kendaraan yang berhiaskan permata, yang sekarang terkubur di bumi, di bawah air danau kerajaan. Galilah dari dasar danau, dan itu akan menjadi bukti.” Raja menyetujui rencananya; dia memerintahkan untuk mengeringkan danaunya dan menggali keluar kereta kerajaannya, dan kemudian memercayai Bodhisatta. Kemudian Bodhisatta berkata demikian kepadanya: “Paduka, selain nibbana yang abadi, semua benda lain, yang sifatnya merupakan hasil uraian, adalah tidak kekal, semuanya akan selalu berubah, dan akan hidup dan mati.” Sambil menguraikan tentang pembahasan ini, dia membuat raja menjadi kukuh di dalam latihan moralitas. Kedamaian menyelimuti hati sang raja, dia melimpahkan kerajaannya kepada Bodhisatta, dan menunjukkan penghormatan tertingginya. Bodhisatta mengembalikan pemberiannya dan setelah persinggahannya selama beberapa hari, kemudian dia terbang ke udara dan kembali ke bukit emas di Gunung Daṇḍaka , dengan nasihat perpisahan–“Oh Paduka, selalu waspada!“ Dan raja menuruti nasihat dari Bodhisatta; dan setelah mempraktikkan perbuatan memberikan derma dan berbuat kebajikan lainnya, dia meninggal untuk menuai hasil sesuai dengan perbuatannya.

Uraian ini berakhir, Sang Guru memaparkan Kebenarankebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang (tadinya) menyesal itu menjadi mencapai tingkat kesucian Arahat:—“Pada masa itu,

Ānanda adalah raja, dan diri-Ku sendiri adalah sang merak emas.”

 

Sumber: ITC, Jataka Vol 2

Tagged ,

SUHANU-JĀTAKA

“Burung-burung yang berbulu sama,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang dua bhikkhu yang pemarah. Dikatakan bahwasanya ada dua bhikkhu yang pemarah, kasar dan bengis, satu tinggal di Jetavana dan satu lagi tinggal di desa. Suatu hari bhikkhu desa itu datang ke Jetavana atas beberapa pesanan atau yang lainnya. Para samanera dan bhikkhu muda mengetahui sifat bhikkhu ini yang pemarah, jadi mereka membawanya ke bilik bhikkhu yang satunya lagi, semua senang sekali melihat mereka bertengkar. Segera setelah mereka bertemu satu sama lain, kedua orang pemarah itu, kemudian mereka bergegas saling memegang tangan, mengelus dan membelai tangan, kaki dan punggung! Para bhikkhu memperbincangkan hal ini di dalam balai kebenaran, “ Āvuso , kedua bhikkhu ini adalah orang yang pemarah, kasar dan bengis kepada semua orang, tetapi terhadap satu sama lain, mereka adalah teman yang baik, ramah dan simpatik!” Sang Guru masuk, sambil menanyakan apa yang mereka bicarakan di sana. Mereka menceritakan kepada-Nya. Kata Beliau, “Ini, Para Bhikkhu, bukan pertama kalinya mereka, yang pemarah, kasar, dan bengis kepada semua orang, namun menunjukkan kepada diri mereka sendiri kebaikan, keramahan dan kesimpatikan satu sama lain. Hal ini juga terjadi seperti demikian pada zaman dahulu”; dan setelah berkata demikian, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta adalah tangan kanannya, seorang anggota istana yang memberinya nasihat dalam masalah pemerintahan dan masalah spiritual. Adapun raja ini adalah seorang yang bersifat agak tamak; dan dia mempunyai seekor hewan yakni seekor kuda, yang bernama Mahāsoṇa (Mahasona). Beberapa pedagang kuda dari negeri utara membawa turun lima ratus kuda; dan kabar dikirimkan kepada raja bahwa kuda-kuda telah tiba. Adapun sebelum ini, Bodhisatta selalu meminta pedagang-pedagang itu untuk menetapkan harga mereka sendiri dan kemudian membayar lunas semuanya. Tetapi sekarang raja sedang tidak senang dengannya, memanggil pejabat istananya yang lain, yang terhadapnya dia berkata, “Teman, suruh orang-orang itu menyebutkan harga mereka; kemudian lepaskan Mahasona jadi biar dia berbaur di antara mereka; buatlah dia menggigit mereka dan ketika mereka lemah dan terluka, minta orang-orang itu untuk mengurangi harga mereka.” “Baik,” kata orang itu; dan demikianlah yang dilakukannya. Para pedagang dengan sangat marah memberitahukannya kepada Bodhisatta mengenai apa yang telah dilakukan oleh kuda ini. “Apa kalian tidak mempunyai hewan lain yang seperti itu di kota kalian?” tanya Bodhisatta. Ada, jawab mereka, di sana ada satu yang bernama Suhanu (Si Rahang Kuat) dan adalah seekor hewan yang liar dan galak. “Bawalah dia bersama kalian lain kali kalian datang,” kata Bodhisatta; dan mereka berjanji akan melakukannya. Jadi saat berikutnya mereka datang, hewan ini datang bersama mereka. Raja yang mendengar kalau pedagangpedagang kuda itu telah datang, membuka jendelanya untuk melihat kuda-kuda itu dan memberi perintah untuk melepaskan Mahasona. Kemudian saat para pedagang melihat Mahasona datang, mereka melepaskan Suhanu. Begitu keduanya bertemu, mereka berdiri diam sambil menjilati sekujur tubuh mereka satu sama lain!

Raja bertanya kepada Bodhisatta bagaimana kejadiannya. “Teman,” katanya, “ketika kedua kuda liar bertemu yang lain mereka galak, buas dan liar, kedua kuda liar itu akan menggigiti mereka, dan membuat mereka sakit. Tetapi terhadap satu sama lain—mereka berdiri diam, saling menjilati satu sama lain sekujur tubuh! Apa alasannya?” “Alasannya adalah,” kata Bodhisatta, “mereka tidaklah berbeda, melainkan sifat dan karakter mereka sama.” Dan dia mengulangi beberapa bait berikut:

Burung-burung yang berbulu sama berkumpul bersama: Mahasona dan Suhanu keduanya sama:  Dalam jangkauan dan tujuan, keduanya adalah sama— tidak ada perbedaan yang kulihat.

Keduanya liar, dan keduanya jahat; keduanya selalu menggigit tali pengikat; Jadi kasar dengan kasar, dan buruk dengan buruk, demikianlah mereka saling bersikap.

Kemudian Bodhisatta melanjutkan untuk memperingatkan raja agar melawan keserakahan yang berlebihan dan perampasan barang milik orang lain; dan memperbaiki nilainya, dia membuatnya membayar harga yang sepantasnya. Para pedagang menerima harga yang wajar dan pergi dengan sangat puas; dan raja, terikat oleh nasihat Bodhisatta, kemudian meninggal dunia, menerima hasil (buah perbuatan) sesuai dengan perbuatannya.

Ketika Sang Guru telah menyampaikan uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Bhikkhu-bhikkhu yang buruk itu adalah dua kuda itu, Ānanda adalah raja, dan diri-Ku sendiri adalah penasihat yang bijaksana.”

 

Sumber: ITC, Jataka Vol 2

Tagged ,

GUṆA-JĀTAKA

“Yang kuat akan selalu mempunyai jalan mereka sendiri,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana tentang bagaimana Thera Ānanda (Ananda) menerima pemberian seribu jubah. Thera ini telah memberikan Dhamma kepada wanita-wanita di istana Raja Kosala seperti yang telah dikemukakan di dalam Mahāsāra-Jātaka.  Ketika beliau memberikan khotbah Dhamma di sana dengan cara yang telah dikemukakan, seribu jubah, masingmasing bernilai seribu keping uang, dibawa ke raja. Dari ini raja memberikan lima ratus kepada ratu-ratunya. Wanita-wanita ini menyisihkan dan menjadikannya sebagai bingkisan untuk sang thera, dan keesokan harinya dengan mengenakan pakaianpakaian lama, mereka kembali ke istana di tempat raja menyantap sarapan paginya. Raja bertanya, “Saya memberikan kalian semua pakaian-pakaian yang bernilai seribu keping uang masing-masingnya. Mengapa kalian semua tidak memakainya?” “Paduka”, mereka berkata, “kami telah memberikannya kepada Thera Ananda.” “Apakah Thera Ananda mengambil semuanya?” tanyanya. Mereka mengiyakannya, bahwa dia telah mengambilnya. “Yang Tercerahkan Sempurna ( Sammāsambuddha )”, dia berkata, “hanya memperbolehkan tiga jubah. Menurutku, Ananda pasti telah menjual pakaian-pakaiannya!” Dia sangat marah dengan thera ini; dan setelah sarapan pagi, dia mengunjunginya di kamarnya, dan setelah memberikan salam, dia duduk dan berkata:—“Jujurlah, Bhante, apakah wanita-wanitaku belajar dan mendengarkan apa yang Anda ajarkan?”  “Iya, Paduka, mereka belajar apa yang seharusnya dipelajari, dan mendengar apa yang harus mereka dengarkan.” “Oh, sesungguhnya, apakah mereka mendengar atau mereka memberikan Anda bingkisan jubah luar atau jubah dalam?” “Sampai hari ini, Paduka, mereka telah memberikan kepadaku lima ratus jubah yang bernilai seribu keping uang masing-masingnya.” “Dan Bhante menerimanya?” “Ya, Paduka, saya menerimanya.” “Kenapa Bhante, bukankah Sang Guru telah membuat peraturan tentang tiga jubah?” “Benar, Paduka, untuk setiap bhikkhu tiga jubah adalah aturannya, kalau yang dimaksud adalah yang dipakainya sendiri. Tetapi tidak ada larangan untuk siapa saja menerima persembahan kepadanya; karena itulah saya menerimanya— untuk diberikan kepada bhikkhu-bhikkhu yang jubahnya telah usang.” “Tetapi setelah bhikkhu-bhikkhu ini menerimanya dari Anda, apakah yang mereka lakukan terhadap jubah lamanya?” “Menjadikannya sebagai mantel.” “Dan bagaimana pula dengan mantel tua?” “Mereka menjadikannya sebagai baju.” “Dan baju tua?” “Dijadikan sebagai alas ranjang.”

“Dan alas ranjang tua?”—“Menjadi tatakan.” “Dan tatakan tua?”—“Handuk.” “Dan bagaimana dengan handuk tua?” “Paduka, kami tidak diperbolehkan untuk menyia-nyiakan pemberian; jadi mereka mengoyak-ngonyak handuk tua menjadi bagian-bagian kecil, dan mencampurkannya dengan tanah liat, yang kemudian mereka jadikan campuran plester untuk membangun rumah-rumah.” “Sebuah pemberian, Bhante, tidak pantas dimusnahkan, bahkan sehelai handuk.” “Benar, Paduka, kami tidak memusnahkan pemberianpemberian, tapi semuanya dipergunakan.” Percakapan ini sangatlah memuaskan raja, oleh karenanya dia mengirimkan kelima ratus sisa pakaian dan memberikannya kepada sang thera. Kemudian, setelah menerima ucapan terima kasihnya, dia memberikan salam dengan hormat dan berjalan pergi. Thera tersebut memberikan lima ratus jubah pertama kepada bhikkhu-bhikkhu yang jubahnya telah usang. Tetapi jumlah semua bhikkhu hanyalah lima ratus orang. Salah satunya, bhikkhu muda, yang selalu melayani sang thera, membersihkan ruangannya, memberinya makan dan minum, memberinya sikat gigi dan air untuk mencuci mulutnya, membersihkan kakus, ruang-ruang tamu, kamar-kamar tidur, dan semua yang diperlukan oleh tangan, kaki atau punggung. Kepadanya, sebagai haknya telah memberikan semua pelayanan ini, sang thera memberikan lima ratus jubah yang terakhir diterimanya. Bhikkhu muda ini, sebagai gilirannya, membagi-bagikan kepada sesama murid. Mereka memotongnya, mencelupnya menjadi kuning bunga kaṇikāra, dan memakainya, kemudian di sana mereka menunggu Sang Guru, memberi salam dan duduk di samping-Nya. “Guru,” mereka bertanya, “apakah mungkin seorang siswa ariya yang telah mencapai Sotāpanna memuja orang yang dia berikan sesuatu.” “Tidak, Para Bhikkhu, tidaklah mungkin bagi seorang siswa ariya untuk memuja orang yang dia berikan sesuatu.” “Bhante, upajjhāya kami, sang Bendahara Dhamma, telah memberikan lima ratus jubah, yang masingmasing bernilai seribu keping uang kepada seorang bhikkhu muda, dan dia membagi-bagikannya kepada kami.” “Para Bhikkhu, dengan memberikan ini, Ananda tidak memuja siapasiapa. Bhikkhu muda ini adalah pelayan yang sangat membantunya, jadi Ananda memberikan kepadanya untuk pelayanannya, kebaikannya, dan sebenarnya, kalau dipikir sebuah kebaikan patut dibalas dengan kebaikan lain dan dengan niat melakukannya sebagai tanda terima kasih. Pada zaman dahulu, seperti sekarang ini, orang-orang bijaksana melakukan prinsip yang diceritakan dalam sebuah kisah, suatu kebaikan pantas dibalas dengan kebaikan lainnya.” Dan kemudian, atas permintaan mereka, Beliau menceritakan kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah seorang raja di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai singa yang tinggal di gua di suatu pegunungan. Suatu hari, dia keluar dari sarangnya dan melihat ke kaki gunung. Di kaki gunung itu membentang sebidang air yang luas. Di sebagian tanah di sekitarnya terdapat sejumlah rumput hijau yang tumbuh di lumpur yang tebal, dan di atasnya, kelinci-kelinci, rusa dan binatang-binatang kecil lainnya berlarian, dan menikmati rumput-rumput itu. Pada hari itu, seperti biasa, ada rusa yang sedang makan rumput di sana. “Saya akan memakannya!” pikir si singa; dan dengan lompatannya dari sisi bukit dia menerkam si rusa. Tetapi karena si rusa sangat takut, dia berlari tergesa-gesa. Si singa tidak bisa menghentikan sergapannya; dia masuk ke dalam lumpur tempat dia jatuh, dan tenggelam, jadinya dia tidak bisa keluar; dan di sana dia bertahan selama tujuh hari, kakinya terpaku seperti tonggak, dan tidak ada sesuatu pun yang bisa dimakan. Kemudian muncul serigala yang lagi mencari makanan, melihatnya, dan mencoba lari dengan ketakutan. Tetapi si singa memanggilnya keluar—“Serigala, jangan lari—saya di sini, terbenam di dalam rawa-rawa. Tolonglah saya!” Si serigala datang. “Saya bisa menarikmu keluar,” katanya, “tetapi saya sangat takut Anda akan memakanku.” “Tidak usah takut, saya tidak akan memakanmu,” kata si singa. “Malah sebaliknya, saya akan membalas kebaikanmu; bagaimanapun juga keluarkan saya dari sini.” Serigala menerima janjinya, menyingkirkan lumpur di sekitar keempat kakinya, dan di sekitar keempat kakinya yang terbenam dia menggali lebih jauh ke air; kemudian air masuk ke dalam dan membuat lumpurnya menjadi lebih lunak. Kemudian dia masuk ke bawah singa, dan berkata–“Sekarang, Saudara, satu usaha besar,” dengan suara keras dan mendorong perut si singa dengan kepalanya. Si singa mengencangkan semua ototnya dan dengan susah payah merangkak keluar dari lumpur; dia berdiri di tanah kering. Setelah beristirahat sejenak, dia menceburkan dirinya ke danau dan mencuci serta membersihkan lumpur di badannya. Kemudian dia memburu seekor kerbau, dan dengan taring-taringnya dia mengoyak daging si kerbau, dan menawarkannya kepada serigala, serta berkata, “Makanlah, Saudaraku!” dan setelah serigala habis makan, dia pun makan juga. Setelah itu, serigala menggigit sepotong daging di mulutnya. “Untuk apakah itu?” tanya si singa. “Untuk pelayan Anda yang rendah hati, pasanganku, yang menungguku di rumah.” “Baiklah,” kata si singa, juga menggigit sepotong untuk pasangannya. “Mari, Saudaraku,” katanya lagi, “kita tinggal sejenak di puncak gunung, dan kemudian pergi ke rumah betina.” Maka pergilah mereka ke sana, dan kemudian si singa menyuapi si serigala betina; setelah mereka semua puas, dia berkata, “Sekarang saya akan melindungi kalian.” Maka dia membawa mereka ke tempat dia tinggal, dan menempatkan mereka di sebuah gua dekat jalan masuk ke kediamannya sendiri.  Mulai sejak itu, dia dan serigala selalu pergi berburu bersama, meninggalkan pasangan mereka di sarang; semua binatang mereka bunuh dan makan sampai isi hati mereka, dan kemudian membawa pulang sebagian untuk kedua pasangan mereka. Dan seiring dengan waktu, si serigala betina dan singa betina pun mempunyai dua anak, dan mereka pun hidup bahagia bersama. Suatu hari, timbul pikiran di benak singa betina, “Singa jantanku sangat menyayangi si serigala jantan, serigala betina dan anak-anaknya. Bagaimana kalau ada sesuatu yang tidak benar di antara mereka? Saya pikir pasti karena itulah sebabnya mengapa dia sangat menyayangi mereka. Baiklah, saya akan mengganggu dan menakuti si serigala betina, dan mengusirnya dari sini.” Maka ketika si singa jantan dan serigala jantan keluar berburu, dia mengganggu dan menakuti serigala betina, dan menanyakan mengapa dia tinggal di situ, mengapa dia tidak lari. Dan anak-anak singa pun menakuti anak-anak serigala dengan cara yang sama. Si serigala betina pun menceritakan kepada yang jantan apa yang dikatakan singa betina. “Telah jelas,” katanya, “singa telah memberikan petunjuk kepada kita. Kita tinggal di sini sudah terlalu lama; dan sekarang dia akan menjadi perenggut nyawa kita. Mari kita kembali ke tempat tinggal kita semula.” Setelah mendengar ini, serigala jantan mendekati singa jantan, dengan kata-kata sebagai berikut, “Tuan, kami telah lama tinggal disini, telah tinggal lebih dari waktu yang diperbolehkan. Ketika kita keluar, singa betinamu menegur dan menakuti pasanganku, dengan menanyakan mengapa dia tetap tinggal di sini, serta menyuruhnya pergi dari sini; anak-anakmu juga begitu terhadap anak-anakku. Kalau seseorang tidak menyukai tetangganya, dia seharusnya cuma perlu menyuruh pergi, dan mengurus dirinya sendiri; untuk apa perlu mengganggu begitu?” Sambil berkata, dia mengulangi bait pertama:—

Yang kuat selalu mempunyai caranya sendiri; adalah sifatnya untuk berbuat demikian; Pasanganmu mengaum keras; dan sekarang saya takut terhadap apa yang saya percayai dahulu.

Setelah mendengar ini, singa jantan berputar ke arah singa betina, “Istriku,” katanya, “Anda ingatkah bagaimana sewaktu saya pergi berburu selama satu minggu, dan kemudian membawa pulang serigala ini dan pasangannya bersamaku?” “Ya, saya ingat.” “Baik, tahukah Anda mengapa saya pergi selama seminggu?” “Tidak, Suamiku.” “Istriku, ketika sedang mencoba menangkap seekor rusa, saya melakukan kesalahan, dan terbenam di dalam rawa-rawa; di sanalah saya berdiam— tempat saya tidak bisa keluar—satu minggu penuh tanpa makanan. Nyawaku telah diselamatkan oleh serigala ini. Temanku inilah yang menyelamatkan nyawaku! Teman yang ada pada saat dibutuhkan adalah teman yang sesungguhnya, baik besar maupun kecil. Jangan mencoba lagi menghina sahabatku ini, atau istrinya ataupun anak-anaknya.” Kemudian si singa mengulangi bait kedua:—

Seorang teman yang melakukan sesuatu sebagai sahabat, walaupun dia kecil atau lemah,  dia adalah kerabatku dan darah dagingku, dialah teman dan saudara.  Jangan menghina dirinya, Pasanganku yang bertaring tajam! Serigala ini telah menyelamatkan nyawaku.

Si singa betina, setelah mendengarkan kisah ini, kemudian berdamai dengan serigala betina dan selamanya hidup bersahabat dengannya dan anak-anaknya. Dan anak-anak dari kedua pasangan ini pun selalu bermain bersama sewaktu kecil, dan setelah orang tua mereka mati, mereka pun tidak memutuskan persahabatan mereka, tetapi hidup bahagia bersama-sama seperti orang tua mereka sebelumnya. Tentu saja, persahabatan ini bertahan selama tujuh generasi.

Ketika Sang Guru telah menyampaikan uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—(Di akhir kebenaran-kebenaran, ada yang mencapai tingkat kesucian Sotāpanna , ada lagi yang mencapai tingkat kesucian Sakadāgāmi , ada yang mencapai Anāgāmi, dan ada yang mencapai Arahat.)—“Pada masa itu, Ananda ( Ānanda ) adalah serigala, dan singa adalah diri-Ku sendiri.”

 

Sumber: ITC, Jataka Vol 2

Tagged ,

ALĪNACITTA-JĀTAKA

“Pangeran Alīnacitta,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana, tentang bhikkhu yang berhenti berusaha. Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Saṁvara-Jātaka di Buku XI20. Ketika Sang Guru bertanya kepada bhikkhu ini apakah benar dia telah berhenti berusaha, seperti yang dilaporkan, dia menjawab, “Ya, Yang Terberkahi ( Bhagavā ).” Terhadap ini, Sang Guru berkata, “Bhikkhu, pada masa lampau, bukankah Anda mendapatkan kekuasaan penuh atas Kerajaan Benares, dua belas yojana setiap sisi, dan memberikannya kepada seorang bayi laki-laki, seperti potongan daging dan tidak lebih dari itu, dan semua ini hanyalah dengan usaha? Dan sekarang Anda telah memeluk ajaran yang akan memberikan pembebasan, mengapa Anda harus berhenti berusaha?” Beliau pun menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, ada sebuah desa tukang kayu yang tidak jauh dari kota, tempat lima ratus orang tukang kayu tinggal. Mereka biasanya mendayung ke hulu sungai dengan sebuah kapal, dan masuk ke dalam hutan, tempat mereka membuat balok-balok dan papanpapan untuk membangun rumah, dan mengumpulkan kerangka untuk rumah-rumah satu tingkat atau dua tingkat, memberi nomor semua potongan mulai dari balok utama; semuanya ini kemudian mereka bawa ke tepi sungai dan menaikkannya ke kapal; kemudian mendayung ke hilir sungai lagi, mereka selanjutnya akan membangun rumah-rumah sesuai pesanan; setelah itu, kalau mereka telah menerima upah, mereka akan kembali lagi untuk bahan-bahan baku yang lebih banyak untuk bangunan itu, demikianlah mata pencaharian mereka. Suatu hari, di tempat mereka bekerja untuk mengukir kayu, seekor gajah memijak serpihan kayu akasia dan tertusuk di kakinya, menyebabkan kakinya bengkak dan bernanah dan dia sangat kesakitan. Pada puncak kesakitannya, dia menangkap suara para tukang kayu sedang memotong kayu. “Bakal ada beberapa tukang kayu yang akan mengobati saya,” pikirnya; dan dengan pincang di atas tiga kakinya, dia memunculkan diri di depan mereka dan berbaring di dekat situ. Para tukang kayu yang mengetahui kakinya bengkak pergi melihat; ada serpihan kayu yang tertusuk di kakinya. Dengan sebuah alat yang tajam mereka mengiris serpihan kayu tersebut dan mengikatnya ke sepotong tali kemudian menariknya keluar. Mereka kemudian membuka luka itu dan mencucinya dengan air hangat dan mengobatinya dengan baik; dan dalam waktu singkat luka itu pun sembuh. Karena rasa terima kasih atas pengobatan ini, sang gajah berpikir: “Nyawaku telah diselamatkan oleh para tukang kayu ini. Sekarang saya harus membuat diriku bermanfaat bagi mereka.” Jadi semenjak itu, dia pun digunakan untuk mencabut pohon-pohon oleh mereka, atau kalau mereka sedang memotong kayu, dialah yang mengangkat balok-balok itu; atau membawakan mereka kapak atau perkakas lain yang mereka perlu, memegang segalanya sekuat-kuatnya dengan belalai. Dan para tukang kayu, pada saat memberi makan kepadanya, biasanya mereka masing-masing membawa sepotong makanan, jadi keseluruhannya ada lima ratus potong makanan. Gajah ini memiliki seekor anak, badannya serba putih, jenis keturunan yang sangat baik. Sang induk gajah berpikir bahwa dia sekarang sudah tua dan sebaiknya membawa anaknya untuk membantu para tukang kayu, dan dia sendiri bisa bebas pergi. Jadi tanpa sepatah kata pun kepada para tukang kayu, dia pergi ke dalam hutan dan membawa anaknya kepada mereka sambil berkata, “Gajah muda ini adalah anakku. Kalian telah menyelamatkan nyawaku dan saya berikan dia kepada kalian sebagai balasan atas pengobatan kalian; Mulai saat ini, dia akan bekerja untuk kalian.” Maka dia menjelaskan kepada gajah muda itu bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk mengerjakan apa yang biasanya dia sendiri lakukan, dan kemudian dia pun masuk ke dalam hutan, meninggalkannya dengan para tukang kayu. Demikianlah sejak saat itu, gajah muda tersebut melakukan semua tugasnya dengan setia dan patuh; dan mereka memberinya makan seperti yang mereka berikan kepada gajah sebelumnya, dengan lima ratus potong untuk sekali makan. Kalau pekerjaannya telah selesai, gajah itu akan pergi bermain di sungai dan kemudian kembali lagi. Anak-anak tukang kayu suka menarik belalainya dan bersenda gurau dengannya di dalam air maupun di darat. Sebagai makhluk mulia, apakah mereka itu gajah, kuda atau manusia, tidak akan pernah membuang kotoran di dalam air. Jadi gajah ini tidak melakukan hal seperti itu ketika dia berada di dalam air, tetapi menunggu sampai dia keluar ke tepi sungai.  Suatu hari, hujan membanjiri sungai; dan oleh banjir itu, kotorannya yang setengah kering terbawa ke dalam sungai, terhanyut sampai ke Benares, dan kotoran ini tersangkut di semak-semak. Tidak lama setelah itu, para penjaga gajah raja membawa lima ratus gajah untuk dimandikan. Tetapi makhlukmakhluk itu mencium bau tanah itu berasal dari seekor binatang mulia dan tidak ada satu pun yang mau masuk ke dalam air; mengangkat ekor mereka dan berlarian pergi. Para penjaga gajah menceritakan hal ini kepada para pawang gajah; mereka pun menjawab, “Kalau begitu, pasti ada sesuatu di dalam air.” Maka perintah diberikan untuk membersihkan air itu; dan di dalam semak-semak, gumpalan (kotoran) itu terlihat. “Itu adalah masalahnya!” teriak orang-orang itu. Jadi mereka membawa sebuah botol, dan mengisinya dengan air; dan memasukkan benda itu ke dalamnya, mereka memerciki air itu ke gajah-gajah, kemudian badan-badan mereka pun menjadi wangi. Secara bersamaan mereka pun turun ke sungai dan mandi. Ketika para pawang melaporkan hal ini kepada raja, mereka memberikan saran kepada raja untuk menangkap gajah tersebut untuk dipergunakan demi kepentingannya. Maka raja pun berangkat dengan kapal, dan mengayuh ke hulu sungai sampai dia tiba di tempat para tukang kayu tinggal. Gajah muda setelah mendengar suara genderang ketika sedang bermain di air, keluar dan menghadap para tukang kayu, semua datang memberi hormat atas kedatangan raja, dan berkata kepadanya, “Paduka, jika hasil kerajinan kayu yang diinginkan, apa perlu sampai datang ke sini? Mengapa tidak mengutus pengawal datang saja dan kami akan mempersembahkannya untukmu?” “Bukan, bukan, Teman-teman baikku,” jawab raja, “Bukan karena kayu, saya datang kesini, tetapi karena gajah ini.” “Dia milikmu, Paduka!”—Tetapi sang gajah menolak untuk bergerak. “Apa yang harus saya lakukan untuk Anda, gajah yang menjadi bahan pembicaraan?” tanya sang raja. “Perintahkan untuk membayar para tukang kayu atas apa yang telah mereka habiskan untuk saya, Paduka.” “Dengan senang hati, Teman.” Dan raja pun memerintahkan untuk memberikan seratus ribu keping uang untuk ekornya, belalainya dan juga keempat kakinya. Tetapi ini tidak cukup untuk sang gajah; dia belum mau pergi. Jadi untuk setiap tukang kayu diberikan sepasang pakaian dan untuk setiap istri mereka jubah untuk dipakai, dia masih merasa tidak cukup karena teman-teman mainnya, anak-anak masih harus diasuh; kemudian dengan melihat terakhir kalinya kepada para tukang kayu, para wanita, dan anak-anak, dia pun berangkat bersama dengan raja. Ke pusat kota raja membawanya; kota dan kandang semuanya dihiasi dengan megah. Dia memimpin sang gajah keliling kota dengan berpradaksina dan kemudian ke dalam kandangnya, yang telah diatur dengan indah dan megah. Di sana dia memerciki sang gajah dengan khidmat dan menunjuknya sebagai tunggangannya sendiri; seperti seorang sahabat, dia memperlakukannya dan memberikannya separuh dari kerajaannya, menjaganya seperti dia menjaga dirinya sendiri. Setelah kedatangan gajah itu, raja memenangkan kekuasaan penuh di seluruh Jambudīpa (India). Sejalan dengan waktu, permaisuri mengandung Bodhisatta; dan pada saat telah dekat dengan waktu melahirkan, sang raja wafat. Jika sang gajah mengetahui kematian raja, dia pasti akan sedih sekali; jadi dia tetap dilayani seperti sebelumnya dan tidak ada sepatah kata pun yang dikatakan (kepadanya). Tetapi tetangga sebelah, Raja Kosala, mendengar kematian raja. “Pastilah daerahnya menjadi kekuasaanku,” pikirnya; dan dia menggerakkan satu pasukan yang kuat ke kota, dan mengepungnya. Langsung gerbang-gerbang ditutup semua dan sebuah pesan dikirim ke Raja Kosala:—“Permaisuri kami sedang dekat dengan waktu melahirkan dan para ahli bintang telah meramalkan dalam tujuh hari dia bakal melahirkan seorang putra.

Jika dia melahirkan seorang putra, kami tidak akan menyerahkan kerajaan ini, tetapi pada hari ketujuh kita akan bertempur. Untuk waktu selama itulah kami harapkan Anda bisa menanti.” Dan terhadap ini, raja menyetujuinya. Dalam tujuh hari, permaisuri melahirkan seorang putra. Pada hari penamaannya, mereka memberinya nama Alīnacitta (Pangeran Pemenang Hati); karena, kata mereka, dia dilahirkan untuk memenangkan hati rakyat.  Pada hari yang sama di saat dia dilahirkan, para penduduk kota mulai bertempur dengan Raja Kosala. Tetapi karena mereka tidak mempunyai seorang pemimpin, sedikit demi sedikit pasukan mundur, meskipun sangat hebat. Orang-orang istana pun menceritakan berita ini kepada permaisuri, menambahkan, “Karena pasukan kita mulai terdesak, ditakutkan kita akan kalah. Tetapi gajah kerajaan, teman karib sang raja, tidak pernah mendapat kabar bahwa raja telah wafat dan beliau telah dikaruniai seorang putra dan juga Raja Kosala datang bertempur dengan kita. Haruskah kita ceritakan kepadanya?“ “Ya, lakukanlah,” kata permaisuri. Jadi dia mendandani putranya dan menempatkannya di kain halus; setelah itu dia bersama orang-orang istana turun dari istana dan masuk ke kandang sang gajah. Di sana dia meletakkan bayinya di kaki gajah, sambil berkata, “Guru, sahabat Anda telah wafat, tetapi untuk menceritakannya kepadamu, kami takut kalau-kalau akan membuatmu sangat sedih. Ini adalah anak sahabatmu; Raja Kosala telah mengerahkan pasukan ke kota dan sedang bertempur dengan pasukan anak sahabatmu; pasukan kita telah terdesak; jadi bunuhlah anak sahabatmu sendiri atau menangkanlah kerajaan ini untuknya!”  Dengan segera sang gajah menyambar anak itu dengan belalainya dan mengangkatnya ke atas kepalanya; kemudian sambil mengerang dan meratap, dia menurunkan anak itu dan meletakkannya ke tangan ibunya, dan dengan kata-kata—“Saya akan mengatasi Raja Kosala!” dia pergi dengan tergesa-gesa.  Kemudian orang-orang istana memasangkan perisai dan senjata di badannya, membuka gerbang kota, kemudian mengantarkannya ke sana. Sang gajah muncul dengan raungan keras dan menakuti semua pasukan supaya mereka melarikan diri, dan merusak perkemahan mereka; kemudian dia mencengkam rambut Raja Kosala dan membawanya ke depan pangeran muda, kemudian dia jatuhkan raja itu ke kaki pangeran muda. Sebagian orang bangkit untuk membunuhnya, tetapi sang gajah menahan mereka; dan membiarkan raja tawanan itu pergi dengan nasihat: “Ke depannya, berhati-hatilah dan jangan lancang karena melihat pangeran kami yang masih muda ini.” Setelah itu, semua kekuasaan atas seluruh India jatuh ke tangan Bodhisatta dan tidak ada seorang musuh pun yang berani melawannya. Bodhisatta dinobatkan pada usia tujuh tahun sebagai Raja Alīnacitta ; demikianlah dia memerintah dan pada akhir hidupnya, dia terlahir di alam surga.

Ketika Sang Guru selesai menyampaikan uraian ini, dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, Beliau mengulangi beberapa bait berikut:—

Pangeran Alīnacitta menerima keburukan Raja Kosala dan menolong dengan semua yang dimilikinya; Dengan menangkap raja rakus itu, dia membuat rakyat senang.

Demikian juga bhikkhu siapa saja yang kuat dalam berusaha, yang berlindung, yang gemar melakukan kebajikan, yang mengamalkan jalan-jalan menuju nibbana, lambat laun akan menghancurkan segala ikatan ( saṁyojana ).

Dan demikianlah Sang Guru membawa ajaran-Nya sampai ke puncak nibbana, melanjutkan untuk memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran-kebenaran ini, bhikkhu yang tadinya telah berhenti berusaha itu mencapai tingkat kesucian Arahat:—“ Mahāmāyā adalah sang ibu; bhikkhu yang berhenti berusaha adalah gajah yang mengambil alih kerajaan dan menyerahkannya kepada anak itu; Sāriputta adalah ayah dari gajah itu, dan diri-Ku sendiri adalah Pangeran Alīnacitta .”

 

Sumber: ITC, Jataka Vol 2

Tagged ,

GAGGA-JĀTAKA

“Gagga, hidup seratus tahun,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di arama yang didirikan oleh Raja Pasenadi di depan Jetavana, tentang suatu bersin. Dikatakan bahwasanya ketika Sang Guru duduk memberikan khotbah dengan empat kelompok orang di sekeliling-Nya, Beliau bersin. “Semoga panjang umur Bhante, Yang Terberkahi; semoga panjang umur Yang Sempurna Menempuh Jalan!” semua bhikkhu berteriak dengan keras dan melakukan yang terbaik. Keributan ini mengganggu khotbah itu. Kemudian Sang Guru berkata kepada mereka: “Mengapa, Para Bhikkhu, seseorang meneriakkan ‘panjang umur’ ketika mendengar suara bersin, apakah seseorang hidup atau mati untuk itu?” Mereka menjawab, “Tidak, tidak, Bhante.” Beliau melanjutkan, “Kalian tidak seharusnya meneriakkan ‘panjang umur’ untuk suara bersin, Para Bhikkhu. Bhikkhu siapa pun yang melakukannya berarti melakukan pelanggaran dukkaṭa (perbuatan salah).” Dikatakan bahwa pada saat itu, ketika para bhikkhu bersin, orang-orang biasanya berteriak, “Panjang umur untukmu, Bhante!” Tetapi para bhikkhu merasa khawatir (akan melakukan perbuatan salah) dan tidak memberikan jawaban. Semua orang merasa kesal dan bertanya, “Mengapa para petapa siswa Buddha, sang Pangeran Sakya, tidak memberikan jawaban, ketika mereka bersin dan seseorang atau yang lain mendoakan mereka panjang umur?” Semua ini diceritakan kepada Yang Terberkahi. Beliau berkata: “Para Bhikkhu, orang-orang awam biasanya bersifat takhayul. Ketika kalian bersin dan mereka berkata, ‘Panjang umur untukmu, Bhante!’ Aku mengizinkan kalian untuk menjawab, ‘Sama untukmu’.” Kemudian para bhikkhu bertanya kepadaNya—“Bhante, sejak kapan orang mulai menjawab ‘panjang umur’ dengan ‘sama untukmu’?” Kata Sang Guru, “Itu sejak zaman dahulu”, dan Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

________________________

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai seorang anak brahmana dari Kerajaan Kasi; dan ayahnya adalah seorang pedagang. Ketika anak laki-laki itu berusia sekitar enam belas tahun, ayahnya memberikan sebuah permata kepadanya dan mereka berdua mengadakan perjalanan dari kota ke kota, desa ke desa, sampai mereka tiba di Benares. Di sana laki-laki itu menyantap makanan yang dimasak di rumah penjaga gerbang; dan karena tidak dapat menemukan tempat untuk menginap, dia menanyakan di mana ada penginapan untuk pelancong yang datang terlalu malam. Orang itu memberitahunya bahwa ada sebuah bangunan di luar kota, tetapi angker; dia boleh menginap di sana jika dia suka. Anak laki-laki itu berkata kepada ayahnya, “Jangan takut pada hantu (yaksa), Ayah! Saya akan menundukkannya, dan membawanya ke kakimu.” Demikianlah dia membujuk ayahnya dan mereka pergi ke tempat itu bersama.  Sang ayah berbaring di atas tempat tidur dan anaknya duduk di sampingnya sambil menggosok kakinya. Kala itu, yaksa yang gentayangan di tempat itu telah menerima tugas dari Vessavaṇa  selama dua belas tahun, dengan catatan seperti ini: Jika ada seseorang, yang memasuki kediamannya ini, bersin dan jika selamat panjang umur diucapkan terhadapnya, dia harus menjawab, ‘Panjang umur untukmu!’ atau ‘Sama untukmu!’—semua orang, kecuali yang tidak melakukan ini, maka yaksa itu boleh memangsanya. Yaksa itu hidup di tengah kasau (bagian tengah atas) gubuk itu19. Dia bertekad untuk membuat ayah Bodhisatta bersin. Oleh sebab itu, dengan kekuatan gaibnya, dia membuat suatu gumpalan debu halus masuk ke lubang hidung laki-laki itu; dan saat dia berbaring di atas tempt tidur itu, dia pun bersin. Putra itu tidak mengucapkan ‘panjang umur!’ dan yaksa itu pun turun dari tempat tenggerannya, siap untuk memangsa korbannya. Tetapi Bodhisatta melihatnya turun, kemudian kata-kata ini muncul dalam pikirannya, “Tidak diragukan lagi, dirinyalah yang membuat ayahku bersin. Pasti dia adalah yaksa yang memangsa semua orang yang tidak mengatakan ‘panjang umur untukmu’.” Dan kepada ayahnya, dia mengulangi bait pertama sebagai berikut:—

Gagga, hidup seratus tahun—ya, dan lebih dua puluh lagi, saya doakan! Semoga tidak ada yaksa yang memangsamu;  Panjang umur untukmu, saya ucapkan!

Yaksa itu berpikir, “Yang satu ini, saya tidak dapat memakannya, karena dia mengatakan ‘panjang umur untukmu’. Saya akan memangsa ayahnya,” dan dia pun datang mendekati sang ayah. Tetapi laki-laki itu telah meramalkan kebenaran akan hal itu—“Ini pastilah seorang yaksa,” pikirnya, “yang memakan siapa saja yang tidak menjawab ‘sama untukmu!’ dan demikian dia membalas putranya, mengulangi bait kedua:—

Anda juga hidup seratus tahun—ya, dan lebih dua puluh tahun lagi, saya doakan; Semoga yaksa yang memangsamu menjadi teracuni; hidup seratus tahun, saya ucapkan!”

Yaksa itu mendengar perkataan tersebut, berpaling dan berpikir, “Tidak ada dari mereka yang dapat kumakan.” Bodhisatta memberikan sebuah pertanyaan kepadanya: “Datanglah, Yaksa; bagaimanakah Anda bisa memakan orangorang yang masuk ke tempat ini?” “Saya memperoleh hak atas jasa yang kuberikan selama dua belas tahun kepada Vessavaṇa .” “Apa, apakah Anda diijinkan untuk memakan semua orang?”

“Semua orang, kecuali mereka yang mengatakan ‘sama untukmu’ ketika yang lain mengucapkan ‘panjang umur’ kepada mereka.” “Yaksa,” kata anak laki-laki itu, “Anda telah melakukan beberapa kejahatan di kehidupan lampau, yang menyebabkan dirimu sekarang ini lahir menjadi bengis, kejam dan menjadi pembunuh terhadap yang lain. Jika Anda melakukan sesuatu yang sama sekarang, Anda akan masuk dari kegelapan ke dalam kegelapan (kembali). Oleh karena itu, mulai saat ini jauhkanlah dirimu dari semua hal yang menghabisi nyawa.” Dengan katakata itu, dia menundukkan sang yaksa, menakuti dirinya dengan ketakutan terhadap neraka, mengajarkannya lima sila dan membuatnya menjadi patuh bagaikan seorang pelayan. Hari berikutnya, ketika orang-orang datang dan melihat yaksa itu, mengetahui bagaimana Bodhisatta menundukkannya, dan mereka pulang kemudian memberitahu raja: “Paduka, seseorang telah menundukkan yaksa itu, dan membuatnya patuh bagaikan seorang pelayan!” Demikian raja memanggilnya dan mengangkatnya menjadi Panglima Tertinggi; dia mengumpulkan kehormatan untuk ayahnya. Setelah membuat yaksa itu menjadi pemungut pajak dan mengukuhkannya dalam latihan moralitas, dan setelah mempraktikkan perbuatan memberikan derma dan melakukan kebajikan lainnya, dia terlahir kembali di alam surga.

____________________________

Ketika Sang Guru telah mengakhiri kisah itu, yang diceritakan untuk menjelaskan sejak kapan kebiasaan untuk menjawab ‘panjang umur’ atau ‘sama untukmu’ timbul, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada saat itu, Ānanda adalah raja, Kassapa adalah sang ayah, dan diri-Ku sendiri adalah anak laki-laki, putranya.

 

Sumber: ITC, Jataka Vol 2

Tagged ,

URAGA-JĀTAKA

“Bersembunyi di dalam sebuah batu,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang sebuah pertengkaran antara prajurit. Dikatakan bahwasanya dua prajurit yang bertugas dalam naungan Raja Kosala, yang berkedudukan tinggi, dan orangorang yang hebat di lapangan, segera setelah melihat satu sama lain, mereka akan saling mencaci-maki. Bahkan raja, temanteman, maupun sanak saudara, tidak ada yang dapat membuat mereka akur. Pada suatu pagi, ketika Sang Guru meninjau keadaan sekeliling untuk melihat yang mana dari teman-temannya yang siap untuk dibantu mencapai pembebasan, merasa bahwa kedua orang ini telah siap untuk mencapai tingkat kesucian Sotāpanna.

Hari berikutnya, Beliau sendirian pergi meminta derma di Sāvatthi dan berhenti di depan pintu salah satu dari mereka, yang mana keluar dan mengambil patta Sang Guru; kemudian mengajak-Nya masuk, dan menawarkan-Nya tempat duduk. Sang Guru duduk, dan kemudian menjelaskan manfaat dari melatih cinta kasih. Ketika melihat hati orang ini telah siap, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran. Setelah selesai, orang ini mencapai tingkat kesucian Sotāpanna . Melihat ini, Sang Guru mengajaknya untuk membawa patta itu; kemudian bangkit dan menuju ke rumah orang yang satunya. Orang yang satunya pun keluar dan setelah memberi salam, memohon Sang Guru untuk masuk, dan memberi-Nya tempat duduk. Dia pun mengambil patta Sang Guru, dan masuk ke dalam bersama-Nya. Kepadanya, Sang Guru menyanjung sebelas berkah dari cinta kasih; dan ketika merasa bahwa hatinya sudah siap, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran. Dan setelah selesai, orang ini pun mencapai tingkat kesucian Sotāpanna . Demikianlah mereka berdua diubah; mereka mengakui kesalahan mereka satu sama lain dan meminta pengampunan; Dengan damai dan rukun, mereka bersatu. Pada hari yang sama itu juga, mereka makan bersama dengan keberadaan Yang Terberkahi. Setelah selesai makan, Sang Guru kembali ke wihara. Mereka berdua kembali bersama-Nya dengan membawa pemberian yang banyak dalam bentuk bunga-bunga, wewangian yang terbuat dari mentega, madu dan gula. Sang Guru setelah memberi tugas khotbah-Nya di depan para bhikkhu dan mengutarakan sebuah nasihat Buddha, Beliau mengundurkan diri ke dalam gandhakuṭi . Keesokan harinya, para bhikkhu berbicara tentang hal itu di dalam balai kebenaran. “ Āvuso ,” salah satu berkata kepada yang lainnya, “Sang Guru menundukkan yang tidak bisa ditundukkan. Mengapa, dua orang hebat ini, yang telah bertengkar satu sama lain selama ini, dan tidak dapat didamaikan oleh raja sendiri, atau teman-teman dan sanak saudara; dan Sang Guru merendahkan hati mereka dalam satu hari!” Sang Guru masuk, “Apa yang kalian perbincangkan,” tanya Beliau, “di saat kalian duduk bersama di sini?” Mereka menceritakan kepada-Nya. Jawab Beliau, “Para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya Aku mendamaikan kedua orang ini; pada masa yang lampau, Aku telah mendamaikan kedua orang yang sama ini.“ Dan Beliau pun menceritakan tentang sebuah kisah masa lalu kepada mereka.

______________________

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, banyak sekali orang berkumpul bersama di Benares untuk merayakan pesta. Gerombolan dari orang, dewa, nāga (naga) dan burung garuda15 datang bersama untuk mengunjungi pertemuan itu. Demikian terjadi pada suatu tempat, seekor naga dan seekor burung garuda sedang menonton acara itu bersamasama. Sang naga tidak memerhatikan bahwa ada seekor garuda di sampingnya dan meletakkan tangan di atas bahunya. Dan ketika garuda berbalik dan melihat sekeliling untuk melihat tangan siapa yang terletak di atas bahunya, dia melihat sang naga. Naga itu juga menoleh dan melihat dia adalah seekor garuda; dan dengan sangat ketakutan, dia terbang kabur di atas permukaan sungai, garuda itu pun mengejar untuk menangkapnya. Kala itu, Bodhisatta adalah seorang petapa dan tinggal di sebuah gubuk daun di pinggir sungai. Pada saat itu dia mencoba untuk menghindari panas matahari dengan memakai sepotong pakaian basah dan mengangkat pakaian kulit pohonnya; dan dia mandi di sungai itu. “Saya akan membuat petapa ini,” pikir naga itu, “sebagai alat untuk menyelamatkan nyawaku.” Dengan melepaskan bentuk aslinya dan berubah menjadi bentuk perhiasan permata, dia menempelkan dirinya di atas pakaian kulit pohon itu. Burung garuda itu dengan pengejaran ketat melihat ke mana dia pergi; tetapi dikarenakan sangat hormat, dia tidak mau menyentuh pakaian itu; jadi dia menyapa Bodhisatta:  “Bhante, saya lapar. Lihatlah di pakaian kulit pohonmu:— di dalamnya ada seekor ular, saya ingin memakannya,” Dan untuk membuat hal itu lebih jelas, dia mengucapkan bait pertama:

Bersembunyi di dalam sebuah batu, ular malang ini, yang mencari perlindungan demi keselamatan. Namun atas kehormatan terhadap kesucianmu, Meskipun saya lapar, saya tidak akan mengambilnya.

Berdiri di tempat, di dalam air, Bodhisatta mengucapkan bait kedua sebagai pujian terhadap raja garuda:

Semoga panjang umur, dilindungi oleh Brahma, semoga Anda tidak pernah kekurangan makanan lezat. Jangan, dalam kehormatan terhadap kesucianku, jangan bunuh dia, meskipun dalam keadaan lapar.

Dalam kata-kata ini Bodhisatta mengemukakan persetujuannya, berdiri di sana di dalam air. Kemudian dia keluar, dan memakai pakaian kulit pohonnya, dan membawa kedua makhluk itu bersamanya ke pertapaannya; tempat dia menceritakan berkah dari cinta kasih sampai mereka berdua akhirnya bersatu. Sejak saat itu, mereka tinggal bersama bahagia dalam kedamaian dan kerukunan.

______________________

Ketika Sang Guru mengakhiri khotbah itu, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka dengan mengatakan, “Pada masa itu, dua orang hebat itu adalah sang naga dan garuda, dan diri-Ku sendiri adalah petapa.”

 

Sumber: ITC, Jataka Vol 2

Tagged ,

SŪKARA-JĀTAKA

“Anda berkaki empat,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang thera yang sangat tua. Diceritakan bahwasanya pada suatu upacara malam, dan Sang Guru berkhotbah berdiri di tangga yang berhiasan permata di depan ruangan yang wangi ( gandhakuṭi ). Setelah menyampaikan khotbah tentang Yang Sempurna Menempuh Jalan, Beliau pergi tidur di dalam gandhakuṭi, dan Panglima Dhamma, memberi hormat kepada Sang Guru dan kembali ke kamarnya sendiri. Mahāmoggallāna (Mahamoggallana) juga kembali ke kamarnya, dan setelah beristirahat sebentar dia kembali menanyakan sebuah pertanyaan kepada Thera Sāriputta (Sariputta). Sewaktu dia menanyakan pertanyaan demi pertanyaan, sang Panglima Dhamma menjelaskan semuanya, seperti membuat bulan muncul di langit. Di sana hadir empat kelompok siswa, yang duduk dan mendengarkan semuanya. Kemudian sebuah gagasan datang ke pikiran satu thera senior. “Andaikata,” dia berpikir, “saya bisa membuat Sariputta bingung di hadapan orang-orang ini, dengan menanyakan beberapa pertanyaan, maka mereka semua akan berpikir, ‘Betapa pintarnya orang ini!’ dan saya akan memperoleh banyak pujian dan reputasi. “Demikianlah dia bangkit dari kumpulan orang-orang itu, melangkah mendekati Sariputta, berdiri di salah satu sisi, dan berkata, “ Āvuso Sariputta, Saya juga mempunyai suatu pertanyaan buatmu; sudikah Anda membiarkan saya mengutarakannya? Berilah saya suatu keputusan di antara diskriminasi atau nondiskriminasi, penyangkalan atau penerimaan, perbedaan atau lawan perbedaan.” Thera itu melihatnya. “Orang tua ini,“ pikirnya, “masih berdiri di lingkungan nafsu; dia sangat kosong, dan tidak tahu apa-apa.” Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun kepadanya karena sangat memalukan; meletakkan kipasnya, dia bangkit dari tempat duduknya, dan kembali ke kamarnya. Dan begitu juga Thera Moggallana. Orang-orang di sekitarnya melompat bangun dan berteriak, “Tangkap laki-laki tua jahat ini, yang tidak mengizinkan kita mendengarkan khotbah!” dan mereka mengepungnya. Dia pun berlari, dan jatuh ke dalam sebuah lubang di sudut kakus yang hanya berada di luar wihara itu; ketika bangun, badannya diselimuti kotoran. Ketika orang-orang melihatnya, mereka merasa bersalah telah melakukannya, dan melapor ke Sang Guru. Beliau bertanya, “Mengapa kalian datang bukan pada waktunya, Para Upasaka?” Mereka memberitahukan apa yang telah terjadi kepada-Nya. “Para Upasaka,” kata Beliau, “Ini bukan pertama kalinya orang tua ini diberhentikan, dan tidak mengetahui kekuatannya sendiri, mengadu kekuatannya dengan yang kuat, hanya untuk ditutupi dengan kotoran. Pada dahulu kala dia mengetahui bagaimana kekuatannya, dan mengadu kekuatannya dengan yang kuat, dan kemudian ditutupi dengan kotoran seperti sekarang ini. “Kemudian atas permintaan mereka, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka.

________________

Dahulu kala, ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta adalah seekor singa yang tinggal di sebuah gua di pegunungan Himalaya. Dekat di sana, terdapat banyak babi hutan yang tinggal di tepi danau; dan di samping danau yang sama itu, hidup sekumpulan petapa di gubuk yang terbuat dari daun-daun dan dahan-dahan pohon. Suatu hari singa itu menaklukkan seekor kerbau atau gajah atau sejenis hewan buruannya; dan setelah memakan apa yang dia inginkan, dia turun ke danau ini untuk minum. Saat dia keluar, seekor babi hutan yang kuat kebetulan sedang makan di tepi danau. “Dia akan menjadi makananku nanti suatu hari,” pikir singa itu. Tetapi karena takut kalau babi hutan itu melihatnya, dia mungkin tidak akan pernah datang ke sana lagi, singa itu, ketika keluar dari air, menyelinap ke samping. Babi hutan ini melihat hal ini, dan timbul gagasan dalam pikirannya, “Ini dikarenakan dia melihat saya, dan ketakutan! Dia tidak berani datang mendekatiku, dan dia lari ketakutan! Hari ini akan terjadi pertarungan antara saya dengan seekor singa!” Jadi dia meninggikan kepalanya, dan membuat tantangan terhadap singa itu di bait pertama:

Anda berkaki empat – begitu juga saya: Dengan demikian, Teman, kita berdua sama, tahukah Anda; Berbaliklah, Singa, berbalik, takutkah Anda? Mengapa Anda lari dari saya?

Singa itu mendengarnya. “Babi Hutan,“ dia berkata, “untuk hari ini tidak akan ada pertarungan antara Anda dengan saya. Tetapi minggu depan, marilah kita bertarung di tempat ini juga.“ Dan setelah mengucapkan kata-kata ini, dia pergi. Babi hutan itu sangat gembira dengan berpikir bagaimana dia akan bertarung dengan seekor singa; dan dia menceritakan kepada semua teman-teman dan keluarganya tentang hal ini. Tetapi kisah ini hanya menakutkan mereka. “Anda akan menjadi kutukan untuk kami semua,” mereka berkata, “dan Anda sendiri sampai kaki. Anda tidak mengetahui apa yang dapat Anda lakukan, kalau tidak Anda tidak akan berhasrat untuk bertarung dengan seekor singa. Ketika singa datang, dia akan membawa kematian untuk Anda dan kita semua; janganlah bengis!” Kata-kata itu membuat babi hutan takut sendiri. “Apakah yang harus saya lakukan kalau begitu?” dia bertanya. Kemudian babi hutan lainnya menasihatinya untuk berguling-berguling di dalam kotoran-kotoran para petapa selama tujuh hari dan membiarkan kotoran itu kering di tubuhnya; kemudian pada hari ketujuh dia harus melembabkan dirinya dengan tetesan embun, dan pertama berada di tempat bertarung; harus menemukan bagaimana angin akan bertiup, dan mendapatkan arah dari mana angin bertiup; dan singa, sebagai mahkluk yang bersih, akan membiarkannya hidup sewaktu menciumnya. Demikianlah yang dilakukannya; dan pada hari yang telah ditetapkan, dia berada di sana. Begitu singa mencium baunya, dan mencium bau kotoran, dia berkata, “Babi Hutan, muslihat yang licik! Jika Anda tidak diliputi oleh kotoran, saya akan menghabisi nyawamu hari ini juga. Tetapi karenanya, saya tidak dapat menggigitmu, juga tidak mau menyentuhmu dengan kakiku. Oleh sebab itu, saya membiarkan Anda hidup.” Dan kemudian dia mengucapkan bait kedua:

Oh Babi Hutan yang kotor, kulitmu busuk, bau busuk itu sangat mengerikan buatku;  Jika Anda ingin bertarung, saya mengalah, dan Andalah yang menjadi pemenangnya.

Kemudian singa itu pergi dan mencari makanannya; dan dengan segera, setelah minum di danau itu, dia kembali lagi ke guanya di pegunungan itu. Dan babi hutan itu berkata kepada keluarganya bagaimana dia mengalahkan singa itu! Tetapi mereka sangat cemas terhadap ketakutan kalau singa itu akan kembali datang pada suatu hari lagi dan menjadi maut bagi mereka semua. Jadi mereka pun melarikan diri dan pergi ke tempat yang lain.

____________________

Ketika Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, babi hutan adalah thera tua, dan diri-Ku sendiri adalah singa.”

 

Sumber: ITC, Jataka Vol 2

Tagged ,

SIGĀLA-JĀTAKA

“Siapa yang dengan terburu-buru mengerjakan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di kūṭāgārasālā, tentang seorang tukang pangkas yang tinggal di Vesali. Diceritakan bahwasanya laki-laki ini biasa mencukur, menata rambut dan mengepang rambut kaum bangsawan, raja dan ratu, pangeran dan putri, memang dia melakukan semua pekerjaan yang seharusnya dia lakukan. Dia adalah seorang umat yang berkeyakinan, yang berlindung di bawah Tiga Permata, yang bertekad untuk menaati lima sila; dan dari waktu ke waktu dia selalu mendengarkan khotbah Dhamma dari Sang Guru. Suatu hari dia berangkat untuk melaksanakan tugas di istana dengan membawa putranya bersamanya. Anak muda itu, ketika melihat seorang gadis Licchavi yang berpakaian cantik dan anggun seperti seorang bidadari, dia pun jatuh cinta kepadanya. Dia berkata kepada ayahnya, ketika mereka meninggalkan istana bersama, “Ada seorang gadis—jika saya mendapatkannya, saya akan hidup; jika tidak, hanyalah kematian yang ada bagiku.” Dia tidak mau mencicipi sepotong makanan pun, hanya telentang sambil memeluk gulingnya. Ayahnya melihatnya dan berkata, “Mengapa, Putraku, janganlah menginginkan buah terlarang. Anda bukanlah siapa-siapa—anak seorang pemangkas rambut; gadis Licchavi ini adalah seorang berketurunan bangsawan. Anda tidak sebanding dengannya. Saya akan mengenalkan orang lain kepadamu; seorang anak perempuan dari tempatmu dan golonganmu sendiri.“ Tetapi anak laki-laki itu tidak mau mendengarkannya. Kemudian datang ibu, abang, dan kakak, bibi dan paman, semua sanak saudaranya, dan semua teman-teman dan rekan-rekannya, mencoba untuk menenangkannya; tetapi mereka tidak dapat menenangkannya. Jadi dia merana dan makin merana, dan berbaring di sana sampai dia meninggal. Kemudian ayahnya mengadakan upacara pemakamannya dan melakukan apa yang biasa dilakukan untuk arwah orang yang meninggal. Setelah beberapa waktu, ketika kesedihannya telah mulai memudar, dia berpikir dia akan melayani Sang Guru. Dengan membawa dalam jumlah yang banyak bunga-bunga, wangi-wangian, dan minyak wangi, dia berkunjung ke Mahāvana dan memberi pujaan kepada Sang Guru, memberi hormat kepada-Nya, dan duduk di samping. “Mengapa Anda menyembunyikan diri selama ini, Upasaka?” Sang Guru bertanya. Kemudian laki-laki itu menceritakan apa yang telah terjadi. Jawab Sang Guru, “Ah, Upasaka, ini bukan pertama kalinya dia menderita karena menanamkan hatinya kepada apa yang tidak seharusnya dia miliki; ini jugalah merupakan apa yang telah dilakukannya dahulu.“ Kemudian atas permintaan upasaka tersebut, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

____________________________

Dahulu kala, ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor singa muda di daerah pegunungan Himalaya. Pada keluarga yang sama, ada beberapa adik laki-laki, dan satu saudara perempuan, dan semuanya tinggal di Gua Emas. Di dekat gua ini terdapat Gua Kristal di atas Gunung Perak tempat seekor serigala tinggal. Setelah beberapa waktu, singa-singa tersebut kehilangan orang tua mereka akibat serangan kematian. Setelah itu, mereka selalu meninggalkan singa betina, saudara perempuan mereka, di dalam gua, ketika mereka mengembara untuk mencari makan; yang kemudian jika mereka mendapatkannya, mereka akan membawa makanan tersebut pulang untuk dimakannya. Ketika serigala itu melihat sekilas singa betina ini, dia jatuh cinta kepadanya; tetapi bila singa tua dan singa betina ada, dia tidak mendapatkan jalan masuk. Ketika ketujuh kakaknya pergi mencari makanan, dia pun keluar dari Gua Kristalnya, dan bergegas ke Gua Emas itu; tempat dia berdiri di samping singa betina muda itu dan menyapanya dengan licik, dengan kata-kata menggoda dan membujuk seperti berikut: “Oh, Singa Betina, saya adalah seekor makhluk yang berkaki empat, dan begitu juga dirimu. Oleh sebab itu jadilah Anda sebagai pasanganku, dan saya akan menjadi suamimu! Kita akan tinggal bersama dalam persahabatan dan hubungan yang baik, dan Anda akan selalu mencintaiku!”  Setelah mendengar ini, singa betina berpikir dalam hati, “Serigala ini adalah jenis binatang buas, keji dan seperti seorang laki-laki dengan kasta rendah: tetapi sebaliknya saya adalah yang dihormati sebagai kaum bangsawan. Dengan begitu, terhadap diriku dia berkata demikian adalah sangat tidak layak dan buruk. Bagaimana saya dapat hidup setelah mendengarkan apa yang dikatakannya? Saya akan menahan nafas sampai saya mati.”—Kemudian, dia berpikir sejenak, “Jangan,” dia berkata, “untuk mati seperti itu tidak akan rupawan. Saudara laki-laki saya akan segera pulang; Saya akan memberitahu mereka dulu, dan kemudian baru saya mengakhiri hidup saya sendiri.” Serigala itu, mendapatkan tidak ada jawaban, merasa yakin dia tidak peduli apa pun terhadapnya; jadi dia pulang kembali ke Gua Kristalnya, dan berbaring dengan sedih. Adapun salah satu dari singa-singa muda tersebut, setelah membunuh seekor kerbau, atau seekor gajah, atau apa saja, dia memakan sebagian darinya, dan membawa pulang untuk berbagi dengan adik perempuannya, yang dia berikan padanya, sambil mengajaknya makan. “Tidak, Kakak,” katanya, “tidak sepotong pun akan saya makan; karena saya akan mati!” “Mengapa bisa begini?” tanyanya. Dan singa betina menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. “Di mana serigala ini berada sekarang?” tanyanya. Dia melihatnya berbaring di dalam Gua Kristal, dan mengira dia berada di atas langit, dia berkata, “Mengapa, Kakak, tidak dapatkah Anda melihatnya di Gunung Perak, berbaring di atas langit?“ Singa muda, tidak menyadari bahwa serigala itu berbaring di dalam Gua Kristal, dan menganggap bahwa dia benar-benar di langit, melakukan sebuah terjangan, seperti yang biasa dilakukan singasinga, untuk membunuhnya, dan menubruk kristal itu: yang menghancurkan hatinya menjadi berkeping-keping, dan jatuh ke kaki gunung itu, dia pun binasa saat itu juga. Kemudian datang yang lain, kepadanya singa betina itu menceritakan cerita yang sama. Singa ini bahkan melakukan apa yang dilakukan singa pertama, dan jatuh mati di kaki gunung. Ketika enam dari singa-singa itu binasa dengan keadaan yang sama, dan yang terakhir datang adalah si Bodhisatta. Ketika dia menceritakan kisahnya, dia kemudian menanyakan di mana serigala itu berada. “Dia berada di sana,” jawabnya, “di atas langit, di atas Gunung Perak!” Bodhisatta berpikir—“Serigala berbaring di langit? Omong kosong. Saya tahu apa itu: dia sedang berbaring di dalam Gua Kristal.” Jadi dia datang ke kaki gunung, dan di sana dia melihat keenam abangnya terbaring mati. “Saya tahu mengapa begini,” pikirnya; “mereka semuanya bodoh, dan kekurangan kebijaksanaan yang sempurna; tidak mengetahui bahwa itu adalah Gua Kristal, mereka menggunakan hati mereka melawannya, dan terbunuh. Ini adalah hasil dari melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa tanpa berpikir;“ dan dia mengulangi bait pertama:—

Siapa yang dengan terburu-buru mengerjakan suatu usaha, tidak memperhitungkan hal-hal apa yang bakal terjadi, seperti seorang yang membakar mulutnya pada saat makan, demikian dia jatuh sebagai korban terhadap rencana-rencana yang disusunnya.

Setelah mengucapkan baris-baris ini, singa itu melanjutkan: “Saudara-saudara saya ingin membunuh serigala ini, tetapi tidak tahu menyusun rencana mereka dengan pintar; jadi mereka melompat terlalu cepat, dan datanglah ajal mereka. Ini tidak akan saya lakukan; tetapi saya akan membuat serigala ini menghancurkan hatinya sendiri ketika dia berbaring di sana di dalam Gua Kristal. “Jadi dia mencari keluar jalan yang biasanya dilalui serigala untuk naik dan turun, dan berbalik ke jalan itu, dia meraung tiga kali raungan singa-singa, bumi dan langit menghasilkan satu raungan yang sangat hebat! Serigala yang sedang berbaring di dalam Gua Kristal itu pun ketakutan dan terperanjat, hatinya meledak, dan binasa di tempat seketika.

Sang Guru melanjutkan, “Demikianlah serigala binasa mendengar raungan singa itu.” Dan dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, Beliau mengulangi bait kedua berikut:—

Di Daddara, singa memberi suatu raungan, dan membuat Gunung Daddara bergema kembali. Susah untuk seekor serigala hidup; dia sangatlah takut mendengar suara itu, hatinya meledak menjadi dua.

Demikianlah singa membuat serigala itu menemui ajalnya. Kemudian dia menguburkan saudara-saudaranya bersama-sama dalam satu kuburan, dan berkata kepada saudara perempuannya mereka semua telah mati, dan menghiburnya, dan dia tinggal selama hidupnya di Gua Emas, sampai dia meninggal ke tempat yang diperoleh dari kebaikan-kebaikannya.

___________________

Ketika Sang Guru telah menyampaikan uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran ini:—Di akhir kebenaran-kebenarannya, upasaka itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna .—“Pada masa itu, anak tukang pangkas adalah serigala; anak perempuan Licchavi adalah singa betina yang muda; enam singa-singa muda yang lainnya adalah sekarang bhikkhu-bhikkhu senior; dan diri-Ku sendiri adalah singa yang paling tua.”

 

Sumber: ITC Jataka, Vol 2

Tagged ,

RĀJOVĀDA-JĀTAKA

“Yang kasar dengan kasar,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang bagaimana seorang raja dinasihati.  Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Tesakuṇa-Jātaka. Diceritakan bahwasanya pada suatu hari Raja Kosala telah menjatuhkan hukuman untuk sebuah kasus yang rumit menyangkut perbuatan salah. Sehabis bersantap, dengan tangannya yang belum kering, dia bergegas naik kereta kerajaannya untuk mengunjungi Sang Guru, memberi hormat kepada-Nya, kaki-Nya indah bagaikan bunga teratai yang mekar, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Guru menyapanya dengan kata-kata berikut: “Mengapa, Paduka, apa yang membawa Anda ke sini pada jam seperti ini?” “Bhante”, raja berkata, “saya telat karena saya (tadi) menyidangkan sebuah kasus yang rumit, menyangkut perbuatan salah; sekarang saya telah menyelesaikannya dan telah bersantap, dan di sinilah sekarang saya berada, dengan tangan yang belum kering, untuk melayani-Mu.” “Paduka,” jawab Sang Guru, “menghakimi sebuah kasus dengan adil dan tanpa berpihak adalah hal yang benar; itu adalah jalan menuju ke surga. Saat ini, ketika Anda terlebih dahulu telah mendapatkan nasihat dari seorang yang sangat bijaksana seperti diri-Ku, itu tidaklah luar biasa jika Anda mampu menghakimi kasus dengan adil dan tanpa berpihak; tetapi adalah suatu hal yang luar biasa jika raja yang hanya mendapatkan nasihat dari orang pintar yang tidak bijaksana, mampu memutuskan dengan adil dan tanpa berpihak, menghindari empat perbuatan salah dan menjalankan sepuluh kualitas seorang raja. Setelah dengan adil demikian menjalankan pemerintahan, dia menjadi penghuni alam surga di kelahiran berikutnya.” Kemudian, atas permintaan raja, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala, ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta dikandung oleh permaisurinya. Setelah upacaraupacara yang sesuai dengan keadaannya telah dilakukan dengan benar, dia kemudian melahirkan dengan selamat. Pada hari pemberian nama, nama yang diberikan oleh mereka kepadanya adalah Pangeran Brahmadatta.

Seiring berjalannya waktu, pangeran pun beranjak dewasa, dan pada usianya yang keenambelas, dia pergi ke Takkasilā (Takkasila) untuk memperoleh pendidikannya; tempat dia menguasai semua ilmu pengetahuan. Sepeninggal ayahnya, dia menjadi raja sebagai penggantinya dan memerintah dengan adil dan tanpa berpihak, memberikan keadilan tanpa dikaitkan dengan kemauan dan kehendaknya sendiri. Dan karena dia memerintah dengan adil, menteri-menterinya juga bertindak adil dalam tugas mereka. Dengan demikian, ketika semuanya dilakukan dengan adil, maka tidak ada satu pun yang membawa perkara salah ke pengadilan. Tidak lama kemudian, tidak ada kasus penuntutan di daerah sekitar kerajaan; seharian penuh, menteri-menteri itu duduk di bangku dan pergi tanpa melihat seorang penuntut pun. Pengadilan-pengadilan pun menjadi kosong. Kemudian Bodhisatta berpikir dalam dirinya sendiri, “Disebabkan oleh pemerintahan saya yang adil, tidak seorang penuntut pun datang untuk mengajukan perkara di pengadilan; kebisingan-kebisingan sekarang menjadi kesunyian; pengadilan hukum menjadi kosong. Sekarang saya harus mencari (tahu) apakah saya mempunyai kesalahan dalam diri saya sendiri; jika saya menemukannya, saya akan menghindarinya dan menjalani kehidupan yang baik di kehidupan berikutnya.” Sejak saat itu, dia mencoba berulang-ulang kali untuk menemukan seseorang yang akan memberitahukannya sebuah kesalahan, tetapi dari semua yang bertemu dengannya dalam pengadilan, dia tidak dapat menemukan satu orang pun; Tidak ada yang didengarkannya, selain kebaikan tentang dirinya sendiri. “Mungkin,” dia berpikir, “mereka semua sangat takut padaku sehingga mereka tidak mengatakan yang buruk tentang diriku, hanya yang baik,” dan kemudian dia pergi untuk mencoba orang-orang yang berada di luar istananya, tetapi dengan cara ini, hasilnya tetap sama. Kemudian dia menanyakannya kepada seluruh penduduknya secara umum, dan di luar kota, dia bertanya kepada orang orang yang tinggal di pinggiran kota, di keempat pintu gerbang. Masih saja tidak ada seorang pun yang menemukan kesalahannya; tidak ada apa pun, kecuali pujian yang dapat dia dengarkan. Pada akhirnya, dengan tujuan untuk mencoba di daerah perkampungan (perdesaan), dia memercayakan semua pemerintahan kepada menteri-menterinya, dan setelah menaiki keretanya, hanya membawa seorang kusir bersamanya, dia meninggalkan kota dengan menyamar. Semua desa dilintasinya, bahkan sampai ke bagian perbatasan; tetapi tidak ditemukan seorang pun yang memberitahukan kesalahannya, semua yang didapatkannya hanyalah pujian tentang dirinya. Maka dari itu, dia berbalik dari perjalanannya dan pulang dengan melewati jalan raya. Pada saat yang bersamaan, Mallika, Raja Kosala, melakukan hal yang sama. Dia juga adalah seorang raja yang adil, dan dia telah mencari kesalahan-kesalahannya, tetapi di antara semua orang yang ditanyanya, tidak ada satu pun yang memberitahukan kesalahannya; dan tidak ada apa pun yang terdengar, kecuali pujian. Dia telah bertanya ke seluruh perdesaan, kemudian kembali ke tempat yang sama.

Kedua orang ini bertemu, di jalan tempat kereta (Raja Benares) terperosok di antara kedua sisinya, dan tidak ada ruang bagi satu kereta untuk mendahuluinya. “Bawalah kereta Anda keluar dari jalan!” kata kusir dari Raja Mallika kepada kusir dari Raja Benares. “Tidak, tidak, Kusir,” katanya, keluarlah dari jalan dengan keretamu! Ketahuilah bahwa yang duduk di dalam kereta ini adalah Raja Bramadatta yang sangat agung, raja dari Kerajaan Benares!” “Tidak begitu, Kusir!” balas kusir yang satunya lagi, “yang duduk di dalam kereta ini adalah Raja Mallika yang agung, raja dari Kerajaan Kosala! Itu adalah tugas Anda untuk keluar dari jalan dan memberi jalan kepada kereta raja kami!” “Mengapa demikian, di sini juga adalah seorang raja,” pikir kusir Raja Benares. “Apa yang harus dilakukan?” Kemudian dia mendapatkan sebuah ide, dia akan bertanya tentang umur dari kedua raja, sehingga yang lebih muda seharusnya memberi jalan kepada yang lebih tua. Dan dia bertanya kepada kusir yang lain, berapakah umur rajanya, tetapi dia mendengar bahwa mereka berdua memiliki umur yang sama. Maka dari itu, dia menanyakan sejauh mana kekuasaan, kekayaan dan kemuliaan rajanya, serta semua hal mengenai kasta, suku, dan keluarganya. Dia kemudian mengetahui bahwa mereka berdua sama-sama memiliki sebuah kerajaan dengan luas tiga ratus yojana dan bahwasanya mereka sama dalam kekuasaan, kekayaan dan kemuliaan, serta kasta, suku, dan keluarga mereka. Kemudian dia berpikir bahwa tempat itu seharusnya diberikan kepada orang yang lebih baik; Maka dia meminta kepada kusir yang lain untuk menjelaskan kebajikan dari tuannya. Kusir Raja Kosala membalas dengan bait pertama dari syair berikut, dengan memaparkan kesalahan-kesalahan rajanya seolah-olah sebagai kebajikan-kebajikannya.—

Yang kasar dengan kasar, Raja Mallika mengatasi yang halus dengan halus, mengatasi yang baik dengan kebaikan, dan yang buruk dengan keburukan. Berikanlah jalan, berikanlah jalan, wahai Kusir! Demikianlah jalan raja ini!

“Oh,” kata kusir Raja Benares, “inikah semua yang dapat Anda katakan tentang kebajikan raja Anda?” “Iya,” kata yang lainnya.—“Jika semua ini adalah kebajikannya, bagaimana dengan keburukannya?” “Keburukannya akan dijelaskan nanti,” katanya, “jika Anda memintanya; tetapi (sekarang) biarlah kami dengar seperti apakah kebajikan raja Anda!” “Kalau begitu, dengarkanlah,” dia menghubungkannya dengan yang pertama, dan mengulangi bait kedua berikut:—

Dia menaklukkan amarah dengan cinta kasih,  mengalahkan kejahatan dengan kebajikan, mengalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, dan mengalahkan kebohongan dengan kejujuran. Berikanlah jalan, berikanlah jalan, wahai Kusir!  Demikianlah jalan raja ini!

Setelah mendengar kata-kata ini, Raja Mallika dan kusirnya turun dari kereta mereka, melepaskan kuda-kudanya, dan bergerak dari tempatnya, untuk memberi jalan kepada Raja Benares. Kemudian Raja Benares memberikan nasihat yang baik kepada Raja Mallika, dengan berkata, “Demikianlah yang harus Anda lakukan.” Setelah itu, dia kembali ke Benares. Kemudian dia memberikan derma (dana), melakukan kebajikan sepanjang hidupnya, yang akhirnya membuat dia terlahir kembali di alam surga. Raja Mallika selalu mengingat nasihatnya di dalam hati, dan setelah menjelajahi panjang dan lebar dari tanah kerajaannya, dia tidak menemukan siapa pun yang memberitahukan kesalahannya, kemudian kembali ke kerajaannya sendiri, tempat dia memberikan derma dan melakukan kebajikan sepanjang hidupnya sampai akhirnya dia terlahir kembali di alam surga.

Ketika Sang Guru telah menyampaikan uraian ini, yang dimulai-Nya untuk memberikan nasihat kepada Raja Kosala, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “ Moggallāna adalah kusir Raja Mallika, Ānanda adalah rajanya, Sāriputta adalah kusir Raja Benares, dan diri-Ku sendiri adalah rajanya.”

 

Sumber: ITC Jataka, Vol. 2

Tagged ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.