Category Archives: kisah jataka

PAÑCAGURU-JĀTAKA

“Memperhatikan nasihat yang bijaksana,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai Sutta yang berhubungan dengan godaan putri-putri Mara di bawah Pohon Beringin Penggembala Kambing (Ajapālanigrodha). Sang Guru mengutip Sutta tersebut, dimulai dengan kata-kata pembukaan —

Dengan seluruh pesona kecantikan mereka datang,

— nafsu keinginan, ketidakpuasan dan kemelekatan.

Bagaikan kapas yang jatuh karena hembusan angin, demikianlah Sang Guru membuat mereka terbang pergi.

Setelah Beliau mengucapkan sutta itu hingga ke bagian akhirnya, para bhikkhu berkumpul bersama di Balai Kebenaran dan menyatakan bagaimana putri-putri Mara menggunakan semua daya tarik yang mereka miliki, namun tetap gagal menggoda Buddha, Yang Tercerahkan Sempurna, karena Beliau bahkan tidak membuka matanya untuk melihat mereka, betapa luar biasanya Beliau! Masuk ke dalam Balai, Sang Guru bertanya dan diberitahu apa yang sedang mereka bicarakan. “Para Bhikkhu,” kata Beliau, “bukanlah hal luar biasa bahwa saya bahkan tidak membuka mata untuk melihat putri-putri Mara di kehidupan ini di saat Saya telah bebas dari segala kotoran batin (āsava) dan mencapai pencerahan. Di kehidupan yang lampau ketika Saya masih belum mencapai Kebuddhaan, ketika kotoran batin masih ada di dalam diri, Saya mendapat kekuatan untuk tidak menatap kecantikan yang luar biasa, yang merupakan cara bagi kotoran batin untuk menghancurkan moralitas; melalui penahanan diri tersebut, saya mendapatkan sebuah kerajaan.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah saudara termuda dari seratus orang bersaudara, dan petualangannya akan diceritakan dalam Takkasilā-Jātaka. Ketika kerajaan telah diserahkan kepada Bodhisatta oleh para penduduk, dan ia telah menerimanya serta telah dinobatkan menjadi raja, para penduduk menghiasi kota seperti kota para dewa dan istana kerajaan seperti Kerajaan Indra. Memasuki kota, Bodhisatta menuju aula kerajaan yang luas dan mengambil tempat dengan keanggunan laksana seorang dewa di singgasana yang berhiaskan permata di bawah payung putih kerajaan. Dikelilingi oleh para menteri, brahmana dan bangsawan yang memancarkan kemewahan, sementara enam belas ribu gadis penghibur, secantik peri dari kahyangan, bernyanyi, menari dan memainkan musik, hingga kerajaan dipenuhi oleh suara-suara seperti lautan saat badai meledakkan petir dalam airnya. Memandang sekeliling kerajaannya yang megah, Bodhisatta berpikir bahwa andai saja ia melihat pada daya tarik yaksa wanita itu, ia akan binasa tanpa bentuk, tidak akan pernah melihat keadaannya yang cemerlang seperti sekarang ini, yang ia dapatkan dengan mengikuti nasihat para Pacceka Buddha. Pemikiran ini memenuhi benaknya, emosinya terlepas dalam syair berikut ini :

Memperhatikan nasihat yang bijaksana, teguh pada keputusan; Dengan hati yang berani, tetap berpegang pada pendirianku, saya menjauhkan diri dari tempat tinggal para wanita penggoda dan jerat mereka, dan menemukan kebebasan yang besar.

Dan mengakhiri ajarannya dalam syair ini. Makhluk yang agung itu memerintah kerajaannya dalam keadilan, dan berlimpah dalam dana dan perbuatan baik lainnya, hingga akhirnya ia meninggal dunia untuk terlahir kembali di alam bahagia sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Saya adalah pangeran yang di masa itu pergi ke Takkasilā dan mendapatkan sebuah kerajaan.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

ASAMPADĀNA-JĀTAKA

“Jika seorang teman,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana, mengenai Devadatta. Pada saat itu para bhikkhu sedang berdiskusi di dalam Balai Kebenaran tentang rasa tidak tahu terima kasih dari Devadatta dan ketidakmampuannya untuk mengenali kebaikan Sang Guru, ketika Sang Guru sendiri masuk ke dalam balai tersebut dan saat bertanya Beliau diberitahu topik pembicaraan mereka. “Para Bhikkhu,” kata Beliau, “ini bukan pertama kalinya Devadatta bersikap tidak tahu berterima kasih; ia juga bersikap tidak tahu berterima kasih di kelahiran yang lampau.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Suatu ketika seorang raja tertentu dari Magadha memerintah di Rājagaha, Bodhisatta adalah bendaharawan di kerajaannya, mempunyai kekayaan sebesar delapan ratus juta dan dikenal sebagai ‘Jutawan’ (Saṅkha). Di Benares terdapat seorang bendaharawan lain yang juga mempunyai kekayaan sebesar delapan ratus juta, yang bernama Piliya, dan merupakan teman baik sang Jutawan. Karena suatu alasan Piliya dari Benares mengalami kesulitan dan kehilangan semua hartanya, akhirnya ia menjadi jatuh miskin. Demi kebutuhannya, ia meninggalkan Benares, dan bersama istrinya melakukan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Rājagaha, untuk menemui Jutawan, harapan terakhirnya. Jutawan memeluk temannya dan memperlakukannya seperti seorang tamu kehormatan, menanyakan alasan kedatangannya dengan penuh kesopanan. “Saya adalah orang yang telah bangkrut,” jawab Piliya, “saya telah kehilangan semuanya, dan datang kemari untuk memohon bantuanmu.”

“Dengan senang hati, jangan mengkhawatirkan hal tersebut,” jawab Jutawan. Ia membuka pintu besi dan memberi empat ratus juta kepada Piliya. Ia juga membagi dua semua harta benda, peternakan dan semuanya, memberikan kepada Piliya separuh bagian yang sama dari semua kekayaannya.

Dengan membawa kekayaannya, Piliya kembali ke Benares dan menetap di sana.

Tak lama kemudian, musibah yang sama dialami oleh Jutawan, yang pada gilirannya, kehilangan setiap sen yang ia miliki. Mencari kemana untuk berpaling pada saat genting itu, ia teringat bagaimana ia telah melindungi Piliya dengan memberikan separuh hartanya, dan bisa mencari bantuan padanya tanpa takut akan diusir. Maka ia meninggalkan Rājagaha bersama istrinya dan tiba di Benares. Di pintu masuk kota ia berkata pada istrinya, “Istriku, tidak pantas bagimu untuk berjalan dengan susah payah di sepanjang jalan bersama saya. Tunggulah sebentar di sini hingga saya mengirim sebuah kereta dengan seorang pelayan untuk membawamu masuk ke kota dengan pantas.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut ia meninggalkan istrinya di bawah tempat berlindung itu, dan melanjutkan perjalanan ke dalam kota seorang diri, hingga tiba di rumah Piliya, dimana ia meminta untuk diumumkan sebagai Jutawan dari Rājagaha yang datang untuk bertemu dengan temannya.

“Baik, bawa ia masuk,” kata Piliya; namun melihat keadaan temannya ia tidak bangkit untuk menemuinya maupun menyapanya untuk menyambut kedatangannya, hanya bertanya apa yang membawa ia datang.

“Untuk bertemu denganmu,” jawabnya.

“Engkau menginap dimana?”

“Saat ini, belum ada. Saya meninggalkan istri saya di bawah tempat berteduh dan langsung kemari untuk menemuimu.”

“Tidak ada tempat untukmu di sini. Ambillah sedikit beras sumbangan, temukan suatu tempat untuk memasak dan menyantapnya, kemudian pergi dan jangan pernah mengunjungiku lagi.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, orang kaya tersebut mengirim seorang pelayan dengan perintah memberi temannya yang malang seperdelapan bagian pohon yang telah dipangkas untuk dibawa pulang dengan diikatkan pada sudut bajunya;— dan ini, walaupun saat ini ia mempunyai seratus kereta yang diisi dengan beras terbaik yang telah ditebah keluar dan tersimpan dalam lumbung yang penuh sesak. Yah, penjahat ini, yang telah dengan tenangnya mengambil empat ratus juta hartanya, sekarang mendermakan seperdelapan bagian pohon yang telah dipangkas pada orang yang telah begitu murah hati padanya! Menuruti perintahnya, pelayan itu mengukur pohon yang telah dipangkas dalam sebuah keranjang dan memberikannya kepada Bodhisatta, yang berdebat dengan dirinya sendiri apakah harus menerima atau menolak. Ia berpikir,

“Orang yang tidak tahu berterima kasih ini menghancurkan persahabatan kami karena saya telah bangkrut. Jika saya menolak pemberiannya yang tak berharga, saya akan menjadi seburuk dia. Betapa rendahnya orang yang mencela pemberian yang sederhana, menghina makna utama persahabatan. Karena itu, bagian saya untuk memenuhi persahabatan ini sejauh di pihak saya, dengan mengambil hadiah darinya berupa pohon yang telah dipangkas. Maka ia mengikatkan pohon yang telah dipangkas tersebut di sudut bajunya dan berjalan kembali ke tempat ia meninggalkan istrinya.

“Apa yang engkau dapatkan, Tuanku?” tanya istrinya.

“Teman kita Piliya memberikan pohon yang telah dipangkas ini kepada kita, dan tidak mau berurusan dengan kita lagi.”

“Oh, mengapa engkau menerimanya? Apakah ini balasan yang sesuai dengan uang empat ratus juta?”

“Jangan menangis, Istriku,” kata Bodhisatta. “saya mengambilnya hanya karena tidak ingin melanggar makna persahabatan. Mengapa menangis?” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut ia membacakan syair berikut ini : —

Jika seorang teman memainkan peran sebagai orang pelit nan egois, maka seorang bodoh telah terjelma di dalam dirinya;

Pemberiannya berupa pohon yang telah dipangkas akan saya ambil, dan tidak membuat persahabatan kami putus karena ini.

Namun istrinya tetap menangis. Pada saat yang sama, seorang pekerja ladang yang telah diberikan Jutawan kepada Piliya melewati tempat itu dan

mendekat saat mendengar suara tangisan mantan majikannya.

Mengenali tuan dan nyonyanya, ia berlutut di kaki mereka, dan dengan air mata serta isak tangis, menanyakan alasan kedatangan mereka. Bodhisatta menceritakan kejadian yang menimpa mereka.

“Pertahankan semangatmu,” kata lelaki tersebut menenangkan, dan membawa mereka ke tempat tinggalnya, di sana ia menyediakan air mandi yang wangi dan makanan untuk mereka. Kemudian memberi tahu pelayan lainnya bahwa mantan majikan mereka telah datang, dan beberapa hari kemudian mereka berbaris dalam satu kesatuan menuju istana, dimana mereka membuat suatu keriuhan.

Raja menanyakan apa yang terjadi, dan mereka menceritakan keseluruhan kejadian itu. Maka raja meminta keduanya menghadap dan bertanya pada Jutawan apakah laporan itu benar bahwa ia telah memberikan empat ratus juta hartanya kepada Piliya.

“Paduka,” katanya, “pada saat ia butuh, teman saya percaya kepada saya dan datang untuk mencari bantuan kepada saya, saya memberikan setengah bagian yang sama besar, bukan hanya uang, namun peternakan dan semua harta yang saya miliki.”

“Benarkah?” tanya raja kepada Piliya.

“Benar, Paduka,” jawabnya.

“Dan saat gilirannya, penolongmu percaya kepadamu dan mencarimu, apakah engkau menunjukkan penghormatan dan keramahtamahan (yang sama)?”

Di sini Piliya terdiam.

“Benarkah engkau memberikan seperdelapan bagian pohon yang telah dipangkas sebagai sumbangan di sudut bajunya?”

Piliya tetap terdiam.

Raja kemudian berunding dengan para menterinya tentang apa yang harus dilakukan, dan akhirnya, sebagai keputusan untuk menghukum Piliya, memerintahkan suami istri itu pergi ke rumah Piliya, dan memberikan semua kekayaan Piliya kepada Jutawan.

“Tidak, Paduka,” kata Bodhisatta, “saya tidak membutuhkan apa pun yang merupakan milik orang lain. Jangan berikan kepadaku melampaui apa yang dulu saya berikan kepadanya.”

Kemudian raja memerintahkan Bodhisatta untuk menikmati semua miliknya kembali, dan Bodhisatta, dengan rombongan besar pelayannya, kembali bersama kekayaan yang diperolehnya ke Rājagaha, dimana ia menjalankan pekerjaannya dengan layak, dan setelah menghabiskan hidup dengan berdana dan melakukan perbuatan baik lainnya, ia meninggal dunia untuk terlahir kembali di alam bahagia sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Devadatta adalah Bendaharawan Piliya di masa itu, dan Saya sendiri adalah Jutawan.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

KOSIYA-JĀTAKA

“Engkau bisa menderita atau makan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang wanita di Sawatthi. Dikatakan ia adalah seorang istri yang jahat dari seorang brahmana yang baik hati dan suci, merupakan seorang umat awam. Waktu malamnya dihabiskan untuk berkeluyuran; sementara siang harinya ia tidak pernah bekerja, namun berpura-pura sakit dan berbaring sambil mengomel.

“Ada apa denganmu, Istriku?” tanya suaminya.

“Angin mengganggu saya.”

“Apa yang bisa saya ambilkan untukmu?”

“Manisan, makanan yang lezat dan kaya rasa, bubur nasi, nasi yang panas, minyak dan sebagainya.”

Suami yang penurut itu akan melakukan apa yang ia inginkan, dan bekerja keras seperti seorang pelayan baginya. Ia tetap berada di tempat tidur saat suaminya berada di rumah; namun begitu pintu ditutup oleh suaminya, ia segera berada dalam pelukan kekasih gelapnya.

“Istri saya yang malang, tidak terlihat lebih baik karena pengaruh angin,” pikir brahmana tersebut pada akhirnya, dan pergi untuk mempersembahkan wewangian, bunga dan sejenisnya kepada Sang Guru di Jetawana. Setelah memberi penghormatan, ia berdiri di hadapan Sang Bhagawan, yang bertanya kepadanya mengapa ia tidak terlihat untuk waktu yang begitu lama. “Bhante,” katanya, “istri saya mengatakan ia terganggu oleh angin, dan saya bekerja keras untuk menjaga agar ia mendapatkan makanan yang dipikirkannya. Sekarang ia gemuk dan rona kulitnya telah jelas, namun angin masih tetap mengganggunya. Karena mengurusinya, saya tidak mempunyai waktu untuk datang kemari, Bhante.”

Sang Guru yang mengetahui kejahatan istrinya berkata, “Ah, Brahmana, mereka yang bijaksana dan penuh kebaikan telah mengajarimu bagaimana mengobati penderitaan wanita seperti yang dialami istrimu dari penyakit yang begitu membandel. Namun kelahiran kembali telah mengacaukan pikiranmu sehingga engkau telah lupa.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai seorang brahmana dalam sebuah keluarga yang sangat terhormat. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Takkasilā, ia menjadi seorang guru yang sangat terkenal di Benares. Yang berguru kepadanya adalah kumpulan siswa yang terdiri dari bangsawan dan brahmana muda dari semua keluarga bangsawan dan orang kaya. Seorang brahmana muda dari desa telah mempelajari Tiga Weda dan Delapan Belas

Pengetahuan alam dari Bodhisatta. Ia menetap di Benares untuk menjaga tanah miliknya; datang dua hingga tiga kali sehari untuk mendengarkan ajaran Bodhisatta. Dan brahmana muda ini mempunyai seorang istri yang buruk, seorang wanita yang jahat.

Dan semuanya terjadi seperti dalam cerita sebelumnya. Ketika brahmana tersebut menjelaskan mengapa ia tidak bisa datang untuk mendengarkan ajaran gurunya, Bodhisatta, yang mengetahui bahwa istri brahmana tersebut hanya berpura-pura sakit, berpikir, “Saya akan memberitahunya obat apa yang bisa mengobati makhluk ini.” Maka ia berkata pada brahmana tersebut, “Jangan berikan makanan pilihan lagi, Anakku, namun kumpulkan air seni sapi dan di sana, celupkan lima macam buah buahan dan sebagainya, dan biarkan tumpukan itu diasamkan dalam sebuah pot tembaga yang baru hingga semua terasa seperti logam. Kemudian ambil seutas tali atau kawat ataupun tongkat, dan temui istrimu. Katakan padanya dengan terus terang bahwa ia harus menelan obat yang tidak berbahaya yang engkau bawakan, atau bekerja untuk mendapatkan makanannya sendiri (Di sini, engkau akan mengulangi baris tertentu yang akan saya ajarkan padamu.) Jika ia menolak obat tersebut, ancam dia dengan membuat ia merasakan tali atau tongkat, dan seret dia dengan menjambak rambutnya sejenak, ketika engkau memukulnya dengan tinjumu. Engkau akan mendapatkan bahwa pada ancaman belaka ia akan bangkit dan melakukan pekerjaannya.”

Pergilah brahmana tersebut dan membawakan istrinya kotoran yang dipersiapkan sesuai petunjuk Bodhisatta.

“Siapa yang memberikan resep ini?” tanyanya.

“Sang guru,” jawab suaminya.

“Bawa pergi, saya tidak akan memakannya.”

“Engkau tidak mau memakannya?” kata brahmana muda itu, memegang ujung tali, “Baiklah kalau begitu, engkau telan obat yang tidak berbahaya itu atau bekerja untuk mendapatkan makanan dengan jujur.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengucapkan syair berikut ini:

Engkau bisa menderita atau makan;

yang mana yang engkau pilih?

Engkau tidak bisa melakukan keduanya, Kosiyā.

Takut pada hal ini, Kosiyā, wanita tersebut menyadari saat gurunya turut campur, tidak mungkin untuk mencurangi beliau, bangkit dan pergi untuk melakukan tugasnya.

Kesadaran bahwa guru mengetahui kejahatannya membuat ia bertobat dan menjadi sebaik sebagaimana sebelum ia berubah menjadi jahat.

____________________

(Begitulah kisah ini berakhir, dan istri brahmana tersebut, merasakan Buddha, Yang Tercerahkan Sempurna, telah mengetahui seperti apakah dia, memegang rasa takut dan hormat pada Beliau, tidak pernah melakukan kejahatan lagi.)

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Suami istri saat ini adalah suami istri pada kisah itu, dan Saya sendiri adalah sang guru.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

AGGIKA-JĀTAKA

“Itu adalah keserakahan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai

orang munafik lainnya.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah seekor raja tikus, dan menetap di dalam hutan. Dalam suatu kejadian, hutan terbakar, dan seekor serigala yang tidak bisa melarikan diri, meletakkan kepalanya di balik sebatang pohon dan membiarkan kobaran api menyapu dirinya. Api menghanguskan bulu di sekujur tubuhnya, membuat dirinya benar-benar tak berbulu, kecuali seberkas bulu seperti simpul di kepalanya, dimana mahkota kepalanya tertekan di balik pohon itu. Suatu hari, saat minum air di kolam yang berbatu, ia menangkap bayangan simpul di kepalanya melalui air. “Akhirnya saya memperoleh apa yang saya butuhkan untuk terjun dalam pasar,” pikirnya. Dalam pengembaraannya di dalam hutan, ia tiba di sarang tikus. Ia berkata sendiri, “Saya akan menipu tikus-tikus ini dan melahap mereka.” Dengan maksud itu, ia berdiri di dekat sana, sama seperti dalam kisah sebelumnya.

Dalam perjalanan mencari makanan, Bodhisatta melihat serigala ini, menilai hewan buas itu dengan kesucian dan kebaikan, ia mendekat dan menanyakan siapa namanya.

“Bhāradvāja, pemuja dewa api.”

“Mengapa engkau datang kemari?”

“Untuk melindungi engkau dan rakyatmu.”

“Apa yang akan engkau lakukan untuk melindungi kami?”

“Saya mengetahui bagaimana cara menghitung dengan jari-jari saya, dan akan menghitung jumlah kalian baik pagi maupun sore, dengan demikian, dapat memastikan jumlah yang pulang ke rumah di waktu malam, adalah sama dengan jumlah yang berangkat di pagi hari. Dengan cara demikian kalian akan saya lindungi.”

“Kalau begitu tinggallah, Paman, dan jagalah kami.”

Karenanya, saat para tikus berangkat di pagi hari ia mulai menghitung mereka, “Satu, dua, tiga”; demikian juga saat mereka kembali di malam hari. Dan setiap kali ia menghitung mereka, ia menangkap dan menyantap tikus terakhir. Segera hal yang sama terjadi seperti pada kisah sebelumnya, kecuali saat raja tikus berbalik dan berkata pada serigala tersebut, “Bukan kesucian, Bhāradvāja, pemuja dewa api, namun kerakusan yang menghiasi mahkotamu dengan simpul di kepalamu.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengucapkan syair berikut ini: —

Itu adalah keserakahan, bukan kesucian,

yang menghiasi kepalamu.

Jumlah kami yang semakin berkurang

membuatmu gagal untuk meneruskan rencanamu;

Kami sudah bosan denganmu, pemuja api.

____________________

Uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu ini adalah serigala di masa itu, dan Saya adalah raja tikus.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

BIḶĀRA-JĀTAKA

“Dimana kesucian,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai orang yang munafik. Ketika kemunafikan seorang bhikkhu dilaporkan kepadanya, Sang Guru berkata, “Ini bukan pertama kalinya ia menunjukkan dirinya adalah orang yang munafik; ia juga mempunyai sifat yang sama di kelahiran yang lampau.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai seekor tikus, yang sempurna dalam kebijaksanaan, dengan badan sebesar seekor babi hutan.

Ia menetap di hutan, dengan beberapa ratus tikus di bawah kekuasaannya.

Saat itu, ada seekor serigala pengembara yang melihat kawanan tikus ini dan merencanakan bagaimana memperdaya dan memangsa mereka. Ia berdiri di dekat rumah mereka dengan wajah menghadap ke arah matahari, menghirup udara dan berdiri dengan satu kaki. Melihat hal ini saat melakukan perjalanan mencari makanan, Bodhisatta mengira serigala ini adalah makhluk yang suci, mendekatinya dan menanyakan siapa namanya.

“Suci adalah nama saya,” jawab serigala itu. “Mengapa engkau berdiri dengan satu kaki?” “Jika saya berdiri dengan keempat kaki saya secara bersamaan, bumi tidak akan bisa menahan berat saya. Karena itulah saya hanya berdiri dengan satu kaki saja.” “Dan mengapa mulutmu tetap terbuka?” “Untuk menghirup udara, saya hidup dari udara; itu adalah makanan saya satu-satunya.” “Mengapa engkau menghadap ke arah matahari?” “Untuk memujanya.” “Betapa tulusnya!” pikir Bodhisatta. Sejak itu, hampir dalam setiap kepergiannya, didampingi oleh tikus-tikus lainnya, ia memberikan penghormatan di pagi dan sore hari terhadap serigala yang suci itu. Saat mereka pergi, serigala menangkap dan menelan tikus yang berada paling belakang dari barisan tersebut, menyeka bibirnya dan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Akibatnya, jumlah tikus-tikus itu semakin berkurang dan berkurang, hingga akhirnya mereka mengetahui ada kekosongan dalam barisan mereka, bertanya-tanya mengapa hal itu bisa terjadi, dan menanyakan alasannya pada Bodhisatta. Ia tidak mampu menjelaskannya, namun mencurigai serigala tersebut, memutuskan untuk menempatkan dirinya untuk menguji hal tersebut. Maka keesokan harinya ia membiarkan tikus yang lain keluar terlebih dahulu dan dirinya berdiri paling belakang. Serigala tersebut menerkam Bodhisatta, yang melihat kedatangannya, berbalik menghadapnya dan berseru, “Begitu kesucianmu rupanya, dasar penjahat yang munafik!” Dan ia mengulangi syair berikut ini: —

Dimana kesucian yang ada hanyalah selubung

untuk menipu penduduk yang tidak mempunyai akal

Dan melindungi pengkhianatan si penjahat,

— Sifat alami bangsa kucing yang telah kita saksikan.

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, raja tikus itu menerkam kerongkongan serigala dan menggigit batang tenggorokannya hingga hancur di bawah cakarnya, akhirnya serigala tersebut mati. Pasukan tikus lainnya, kembali dan melahap badan serigala tersebut dengan ‘nyam, nyam, nyam’;— hal itu untuk memberi penjelasan, dilakukan dengan cepat oleh mereka, sehingga dikatakan tidak ada yang tersisa untuk mereka yang datang belakangan. Setelah itu, untuk selamanya, para tikus hidup dengan bahagia dalam kedamaian dan ketenangan.

____________________

Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru membuat kaitan dengan berkata, “Bhikkhu yang munafik ini adalah serigala di masa itu, dan Saya adalah raja tikus.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

KALAṆḌUKA-JĀTAKA

“Engkau memalsukan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu pembual. (Cerita pembuka dan kisah masa lampau dalam kasus ini sama seperti yang diceritakan dalam Kaṭāhaka di kisah sebelumnya.)

____________________

Kalaṇḍuka dalam kejadian ini adalah nama dari pelayan Saudagar Benares itu. Setelah ia melarikan diri dan hidup dalam kemewahan bersama putri dari saudagar di perbatasan, Saudagar Benares itu merasa kehilangan dirinya dan tidak dapat menemukan keberadaannya. Maka ia mengirim seekor kakak tua yang dipeliharanya untuk mencari orang tersebut. Terbanglah kakak tua itu untuk mencari Kalaṇḍuka, mencarinya di mana-mana hingga akhirnya burung tersebut tiba di kota tempat tinggalnya. Pada saat yang sama Kalaṇḍuka sedang bersenangsenang di sungai bersama istrinya di atas sebuah perahu dengan persediaan makanan pilihan, bunga dan wewangian. Sementara itu, para bangsawan negeri tersebut dalam pesta air itu bermaksud minum susu yang dicampur dengan obat yang baunya menyengat, agar terhindar dari rasa dingin setelah menghabiskan waktu di dalam air. Ketika Kalaṇḍuka mencicipi susu ini, ia mengeluarkan dan meludahkannya kembali; dan saat melakukan hal tersebut, ia meludahkannya di atas kepala putri saudagar tersebut. Pada saat itu, kakak tua tersebut terbang dan melihat semua kejadian itu dari cabang pohon ara di pinggir sungai. “Ayo, ayo, Kalaṇḍuka si pelayan,” seru burung tersebut, “ingatlah siapa dan apa posisimu, jangan meludah di atas kepala wanita muda yang terhormat ini. Tahu dirilah, Teman!” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengucapkan syair berikut ini:

Engkau memalsukan keturunan bangsawanmu,

derajatmu yang tinggi, dengan lidah yang penuh kebohongan.

Walaupun hanya seekor burung, saya tahu tentang kebenaran itu.

Engkau akan segera ditangkap, engkau seorang pelarian. Jangan menghina susu itu, Kalaṇḍuka.

Mengenali kakak tua itu, Kalaṇḍuka merasa takut perbuatannya akan dibongkar, berseru, “Ah, Tuan yang baik, kapan engkau tiba?”

Kakak tua itu berpikir, “Ini bukan persahabatan, namun keinginan untuk mencekik leher saya, hal itu yang mendorong perhatian yang ramah ini.” Maka ia menjawab ia tidak memerlukan pelayanan dari Kalaṇḍuka, dan terbang kembali ke Benares, dimana ia memberi tahu saudagar besar itu segala sesuatu yang ia saksikan.

“Dasar penjahat!” serunya, dan memerintahkan agar Kalaṇḍuka ditangkap kembali ke Benares, dan mendapatkan kembali makanan layaknya seorang pelayan.

____________________

Setelah uraian ini berakhir, Sang Guru menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu ini adalah Kalaṇḍuka di masa itu, dan Saya adalah saudagar dari Benares tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

ASILAKKHAṆA-JĀTAKA

“Perbedaan nasib kita,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang brahmana yang disewa oleh Raja Kosala karena kehebatannya dalam menyatakan apakah sebilah pedang membawa keberuntungan atau tidak. Diberitahukan bahwa saat pandai besi istana menempa sebilah pedang, brahmana ini hanya perlu mencium untuk menyatakan apakah pedang tersebut membawa keberuntungan atau tidak. Ia membuat ketentuan hanya memuji pekerjaan para pandai besi yang memberi hadiah padanya, dan menolak pekerjaan mereka yang tidak menyogoknya.

Ada seorang pandai besi yang telah membuat sebilah pedang dan menempatkannya dalam sarungnya bersama sedikit bubuk merica yang halus, dan membawa pedang dalam kondisi tersebut menghadap raja, yang seketika itu juga menyerahkannya kepada brahmana itu untuk diuji. Brahmana tersebut melepaskan pedang dari sarungnya dan mengendus pedang tersebut. Bubuk merica itu terhisap masuk ke dalam hidungnya dan ia mulai bersin-bersin, begitu kuatnya ia bersin sehingga ia merobek hidungnya dengan bagian pinggir pedang tersebut.

Kecelakaan yang dialami brahmana ini sampai ke telinga para bhikkhu, dan suatu hari mereka membicarakan hal tersebut dalam perbincangan mereka di Balai Kebenaran ketika Sang Guru masuk. Mendengar topik pembicaraan mereka, Beliau berkata, “Ini bukan pertama kalinya, para Bhikkhu, brahmana ini merobek hidungnya saat mengendus pedang-pedang tersebut.

Nasib yang sama juga menimpa dirinya di kehidupan yang lampau.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, di antara orang yang melayaninya terdapat seorang brahmana yang terkenal akan kemampuannya untuk mengatakan apakah sebilah pedang membawa keberuntungan atau tidak. Dan semua kejadian berlangsung sama seperti pada cerita pembuka. Raja memanggil ahli bedah untuk mencocokkan sebuah ujung hidung palsu padanya, yang diwarnai dengan penuh ketrampilan menyerupai hidung yang asli; kemudian brahmana tersebut melanjutkan tugasnya di istana. Brahmadatta tidak mempunyai putra, hanya seorang putri dan seorang keponakan, yang berada di bawah pengawasannya sendiri. Setelah dewasa, mereka saling jatuh cinta. Maka raja meminta para anggota dewan untuk datang dan berkata kepada mereka, “Keponakan saya adalah ahli waris saya. Jika saya menjadikan putri saya sebagai istrinya, ia akan dinobatkan menjadi raja.”

Namun, setelah mempertimbangkannya kembali, ia memutuskan bahwa dalam segala hal keponakannya seperti putranya sendiri, lebih baik ia menikah dengan putri dari negeri lain, dan memberikan putrinya pada pangeran dari kerajaan lain, karena, pikirnya, rencana ini akan memberikan lebih banyak cucu padanya, dan juga memberinya tongkat kekuasaan atas dua kerajaan yang berbeda. Setelah berunding dengan anggota dewannya, ia memutuskan untuk memisahkan mereka berdua, karenanya, mereka berdua dibuat hidup terpisah. Mereka berusia enam belas tahun dan sedang jatuh cinta secara mendalam, pangeran muda itu tidak memikirkan hal lain selain bagaimana cara membawa pergi putri tersebut dari kerajaan ayahnya.

Akhirnya sebuah rencana terpikirkan olehnya, ia meminta seorang wanita yang bijak untuk datang dan memberikan sekantung uang pada wanita tersebut.

“Untuk apa uang ini?” tanyanya. Ia memberitahukan hasrat hatinya, dan memohon wanita itu untuk membawanya pada putri yang sangat ia cintai.

Wanita itu menjanjikan keberhasilan padanya, dan berkata ia akan memberitahu raja bahwa putrinya berada di bawah pengaruh sihir, namun karena sesosok makhluk telah merasukinya cukup lama, raja akan melengahkan penjagaannya, dan ia akan membawa putri itu pada suatu hari dengan menggunakan sebuah kereta menuju pemakaman dengan kawalan yang ketat, dan di sana, dalam sebuah lingkaran sihir, ia akan membaringkan putri tersebut di sebuah tempat tidur dengan mayat seorang lelaki di bawah tempat tidur, dan dengan seratus delapan semprotan air wewangian untuk membersihkan tubuhnya. “Dan saat dengan dalih ini saya membawa putri ke pemakaman,” lanjut wanita bijak ini, “ingatlah untuk tiba di pemakaman sebelum kami tiba, dengan keretamu bersama pengawal yang bersenjata dan bawalah bubuk merica bersamamu. Tiba di pemakaman, tinggalkan keretamu di jalan masuk, dan kirim orang-orangmu ke tanah pemakaman sementara engkau sendiri pergi ke puncak bukit dan berbaring seakan telah mati. Kemudian saya akan datang dan mempersiapkan sebuah tempat tidur di atas dirimu, tempat dimana saya membaringkan putri. Akan tiba saat bagimu untuk menghirup merica itu agar engkau bersin sebanyak dua atau tiga kali, dan ketika engkau bersin, kami akan meninggalkan tuan putri dan melarikan diri. Kemudian kalian berdua mandi dan engkau harus membawanya pulang ke rumah bersamamu.”

“Bagus sekali,” kata pangeran, “cara yang sangat sempurna.” Maka pergilah wanita yang bijaksana itu menemui raja, dan dia menyetujui rencana wanita tersebut, sama seperti tuan putri saat rencana itu dijelaskan kepadanya. Ketika saatnya tiba, wanita tua itu memberi tahu putri tersebut mengenai tugas mereka, dan berkata kepada para penjaga di tengah perjalanan untuk menakut-nakuti mereka, “Dengar, di bawah tempat tidur yang akan saya siapkan, terdapat mayat seorang lelaki; dan mayat itu akan bersin. Perhatikan baik-baik, segera setelah ia bersin, ia akan keluar dari bawah tempat tidur dan menangkap orang pertama yang ia temukan. Jadi, bersiap-siaplah kalian semua.”

Sementara itu pangeran tersebut telah tiba di tempat tersebut, dan berada di bawah tempat tidur sebagaimana yang telah diatur.

Selanjutnya, kawanan mereka membawa putri tersebut dan membaringkannya di atas tempat tidur, berbisik padanya agar tidak takut. Pangeran menghirup merica dan segera bersin-bersin.

Begitu ia mulai bersin sebelum wanita itu meninggalkan putri tersebut, sambil berteriak dengan keras wanita tersebut berlari, lebih cepat dari mereka semua. Tidak ada seorang pun yang tinggal di tempat tersebut, — semua orang melemparkan senjata mereka dan lari menyelamatkan hidup mereka. Saat itu pangeran keluar dan membawa putri ke rumahnya, seperti yang telah diatur sebelumnya. Wanita tua itu menemui raja dan menceritakan apa yang telah terjadi.

“Baiklah,” pikir raja, “saya selalu berharap mereka menikah, dan mereka telah tumbuh besar bersama seperti biji-bijian dalam bubur nasi.” Maka ia tidak meledak dalam amarah, melainkan pada waktunya, menjadikan keponakannya sebagai raja di negeri tersebut, dengan putrinya sebagai pendamping raja.

Raja baru ini tetap mempertahankan pelayanan yang diberikan oleh brahmana yang terkenal akan kemampuannya menyatakan watak sebilah pedang. Suatu hari, berdiri dibawah terik matahari, ujung hidung palsu brahmana tersebut melonggar dan terjatuh. Di sana, brahmana tersebut berdiri, menutupi wajahnya dengan malu. “Tidak mengapa, tidak mengapa,” tawa raja, “bersin baik untuk beberapa orang, namun tidak untuk orang yang lain. Satu bersin membuat engkau kehilangan hidungmu; sementara saya harus berterima kasih atas satu bersin, baik untuk takhta maupun ratu saya.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia membacakan syair berikut ini : —

Perbedaan nasib kita menunjukkan prinsip ini,

— apa yang membawa kebahagiaan untukku, mungkin

membawa penderitaan untukmu.

Begitulah yang diucapkan oleh raja, dan setelah menghabiskan hidup dengan melakukan amal dan perbuatan baik lainnya, ia meninggal dunia untuk terlahir kembali di alam yang sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Dengan cara yang bijaksana ini Sang Guru mengajarkan bahwa di dunia ini, adalah salah untuk memikirkan semua hal adalah pasti dan mutlak baik atau buruk dalam semua kejadian yang sama. Akhirnya, Beliau menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Orang yang sama, yang sekarang ini terkenal karena mengetahui apakah pedang membawa keberuntungan atau tidak, terkenal dengan kemampuan yang sama di masa itu; dan Saya sendiri adalah pangeran yang mewarisi kerajaan pamannya.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

KAṬĀHAKA-JĀTAKA

“Jika ia yang berada,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai

seorang bhikkhu pembual. Cerita pembuka mengenai dirinya sama dengan apa yang telah pernah diceritakan.

_____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah seorang saudagar yang kaya, dan istrinya telah melahirkan seorang putra untuknya. Pada hari yang sama, seorang pelayan wanita di rumahnya juga melahirkan seorang putra, dan kedua anak ini tumbuh besar bersama. Ketika putra orang kaya ini belajar menulis, pelayan muda ini biasanya pergi membawa catatan tuan mudanya, dengan demikian ia juga belajar menulis sendiri. Selanjutnya ia belajar dua atau tiga macam kerajinan tangan, dan tumbuh dewasa menjadi pemuda yang pintar bicara dan tampan; ia bernama Kaṭāhaka.

Dipekerjakan sebagai pelayan pribadi, ia berpikir, “Saya tidak bisa selamanya bekerja seperti ini. Dengan sedikit kesalahan, saya akan dipukuli, dipenjarakan, dicap dan diberi makanan layaknya seorang budak. Di daerah pinggiran tinggal seorang saudagar, seorang teman dari majikan saya. Mengapa saya tidak ke sana dengan sepucuk surat yang diakui sebagai surat dari majikan saya, dan, memalsukan diri saya sebagai putra majikan saya, menikah dengan putri saudagar tersebut dan hidup bahagia setelah itu?”

Maka ia menulis sepucuk surat, dengan isi, “Pembawa surat ini merupakan anak saya. Sudah sepantasnya jika rumah tangga kita dipersatukan dalam pernikahan, dan saya meminta engkau untuk memberikan putrimu kepada putra saya ini dan menjaga pasangan muda ini bersamamu untuk sementara waktu ini. Begitu saya bisa melakukannya sendiri dengan baik, saya akan menemuimu.” Surat ini ia segel dengan segel pribadi tuannya, dan menemui saudagar di perbatasan dengan dompet yang terisi penuh, pakaian yang bagus, wewangian dan sejenisnya. Dengan penuh hormat ia berdiri di hadapan saudagar tersebut. “Darimanakah asalmu?” tanya saudagar tersebut. “Dari Benares.” “Siapakah ayahmu?”

“Saudagar Benares.” “Apa yang membuat engkau datang?”

“Surat ini akan menjelaskannya,” kata Kaṭāhaka, menyerahkan surat tersebut kepadanya. Saudagar itu membaca surat tersebut dan berseru, “Hal ini memberi kehidupan baru bagiku.” Dalam kegembiraannya, ia menyerahkan putrinya kepada Kaṭāhaka dan mengukuhkan pasangan muda itu. Mereka menjalani kehidupan dengan gaya hidup yang mewah. Namun, Kaṭāhaka semakin merajalela, ia selalu menemukan kesalahan pada makanan dan pakaian yang dibawakan untuknya, menyebut semuanya “kampungan”. “Orang kampung yang kesasar ini,” katanya, “tidak mengetahui bagaimana cara berpakaian. Dalam hal wewangian dan untaian bunga, mereka tidak tahu apa pun.”

Merasa kehilangan pelayannya, Bodhisatta berkata, “Saya tidak melihat Kaṭāhaka. Kemana ia pergi? Cari dia!” Pergilah orang-orang Bodhisatta untuk mencarinya, mencari dimana-mana hingga akhirnya mereka menemukannya.

Kemudian mereka kembali, tanpa diketahui oleh Kaṭāhaka, dan menceritakan hal tersebut kepada Bodhisatta.

“Ini tidak boleh terjadi,” kata Bodhisatta mendengar hal tersebut. “Saya akan pergi dan membawanya kembali.” Maka ia meminta izin dari raja dan berangkat dengan sejumlah pengawal.

Berita itu menyebar kemana-mana, bahwa saudagar itu sedang menuju daerah perbatasan. Mendengar berita tersebut, Kaṭāhaka segera memikirkan jalan yang akan ia tempuh. Ia mengetahui ia adalah penyebab tunggal kedatangan saudagar itu, dan mengetahui jika ia lari sekarang, ia tidak akan mempunyai kesempatan untuk kembali lagi. Maka ia memutuskan untuk menemui sang saudagar, berdamai dengannya dengan berpura-pura sebagai pelayan di hadapannya seperti di waktu lalu.

Bertindak menurut rencananya, ia bermaksud menyatakan di hadapan publik dalam setiap kesempatan, tentang ketidaksukaannya pada kehilangan yang disayangkan atas rasa hormatnya terhadap orang tuanya, yang ia tunjukkan dengan cara anak-anak duduk untuk makan bersama orang tuanya, bukan menanti mereka. “Ketika orang tua saya makan,” kata Kaṭāhaka, “saya membawakan piring dan hidangan, membawakan tempat membuang ludah, dan mengambilkan kipas mereka untuk mereka. Demikianlah yang selalu saya lakukan.” Dan ia menjelaskan dengan hati-hati mengenai kewajiban pelayan terhadap majikan mereka, seperti mengambilkan air dan melayaninya saat ia beristirahat. Setelah mendidik mereka secara umum, ia berkata kepada ayah mertuanya secara singkat sebelum kedatangan Bodhisatta, “Saya mendengar ayah saya akan datang untuk menemuimu.

Engkau sebaiknya bersiap-siap untuk menghiburnya, sementara saya akan pergi menemuinya di jalan dengan membawa hadiah.”

“Lakukanlah hal tersebut, Anakku,” jawab ayah mertuanya. Maka Kaṭāhaka membawa hadiah yang sangat bagus dan pergi bersama rombongan yang sangat besar untuk bertemu dengan Bodhisatta, yang ia persembahkan hadiah dengan penuh hormat. Bodhisatta menerima hadiah tersebut dengan cara yang ramah, dan di waktu sarapan ia mendirikan perkemahan untuk beristirahat karena tuntutan alami tubuhnya. Menghentikan rombongannya, Kaṭāhaka membawakan air dan mendekati Bodhisatta, kemudian pemuda itu berlutut di kaki Bodhisatta dan berseru, “Oh, Tuan, saya akan membayar berapa pun yang engkau mau; namun jangan membongkar perbuatan saya.”

“Jangan takut perbuatanmu akan saya bongkar,” kata Bodhisatta, senang melihat tingkahnya yang penurut. Dan mereka bergerak masuk ke dalam kota, dimana ia dijamu dengan agung. Dan Kaṭāhaka tetap bertindak seperti seorang pelayan.

Saat saudagar itu telah duduk dengan tenangnya, saudagar di perbatasan itu berkata, “Tuanku, menerima suratmu, saya bertindak sebagaimana seharusnya dengan memberikan putri saya untuk menikah dengan putramu.” Saudagar itu menjawab dengan tepat mengenai ‘putranya’, dengan cara yang begitu ramah, sehingga saudagar tersebut gembira tak terkira.

Namun sejak saat itu, Bodhisatta tidak menatap Kaṭāhaka lagi. Suatu hari, makhluk yang agung itu menemui putri saudagar tersebut dan berkata, “Nak, tolong periksa kepala saya.” Ia melakukannya,dan sang saudagar berterima kasih atas pelayanan gadis itu, yang sangat dibutuhkan olehnya, ia menambahkan, “Sekarang beritahu saya, Nak, apakah putra saya adalah orang yang bersikap pantas dalam suka dan duka, dan apakah engkau bisa cocok dengannya?”

“Suami saya hanya mempunyai satu masalah. Ia selalu menemukan kesalahan pada makanannya.”

“Ia selalu mempunyai masalah dengan hal tersebut, Nak, namun saya akan memberitahumu bagaimana cara menghentikan lidahnya. Saya akan memberitahukan sebuah syair yang harus engkau pelajari dengan penuh perhatian dan engkau ulangi pada saat suamimu menemukan masalah dengan makanannya.” Ia mengajari gadis itu baris-baris tersebut dan sebentar kemudian ia meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Benares. Kaṭāhaka menemani sebagian perjalanannya, dan pamit setelah memberikan hadiah-hadiah yang berharga kepada saudagar tersebut. Sejak kepergian Bodhisatta, Kaṭāhaka menjadi semakin angkuh dan angkuh. Suatu hari istrinya memesankan hidangan makan malam yang lezat, dan membantu suaminya menyediakan sebuah sendok, namun begitu suapan pertama saja Kaṭāhaka mulai mengomel. Kemudian putri saudagar tersebut mengingat pelajaran yang ia terima, dan mengulangi syair berikut ini : —

Jika ia, yang berada di antara orang asing dan jauh dari rumah, membual, maka pengunjungnya akan kembali untuk merusak semuanya.

— Mari, santap makan malammu, Kaṭāhaka.

“Astaga,” pikir Kaṭāhaka, “saudagar itu pasti telah memberitahukan nama saya kepadanya, dan telah menceritakan semuanya.” Sejak saat itu, ia tidak pernah bertingkah berlebihan lagi, namun dengan rendah hati makan apa pun yang disajikan untuknya, dan setelah meninggal, ia terlahir kembali di alam yang sesuai dengan hasil perbuatannya.

_____________________

Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu yang menggeser dan mengambil tempat orang lain ini adalah Kaṭāhaka di masa itu, dan saya adalah saudagar dari Benares tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

AMBA-JĀTAKA

“Tetaplah semangat, Saudaraku,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang brahmana baik yang termasuk keluarga bangsawan di Sawatthi, yang menyerahkan diri pada kebenaran dan bergabung dalam Sanggha, namun tidak mengalami kemajuan dalam setiap tugasnya. Tidak menyalahkan jumlah kehadirannya pada para guru; teliti akan masalah makanan dan minuman; giat dalam melaksanakan tugas-tugas di seluruh ruang utama, pemandian dan sebagainya; sempurna dalam ketepatan waktu dalam ketaatan terhadap empat belas pelajaran utama dan delapan puluh pelajaran tambahan; ia selalu menyapu wihara, kamar-kamar, beranda dan jalan menuju wihara mereka, dan memberikan air kepada para penduduk yang kehausan.

Karena kebaikannya, para penduduk secara teratur membawakan makanan untuk jatah lima ratus orang setiap harinya kepada para bhikkhu; dan banyak keuntungan dan hadiah kepada wihara yang terus bertambah, dan ada banyak kemakmuran karena kebaikan seseorang. Suatu hari dalam Balai Kebenaran para bhikkhu membicarakan bagaimana kebaikan seorang bhikkhu membawa keuntungan dan hadiah bagi mereka, dan menambah hidup banyak orang dengan kebahagiaan.

Masuk ke dalam balai tersebut, Sang Guru bertanya dan diberitahukan apa yang sedang mereka bicarakan. “Ini bukan pertama kalinya, para Bhikkhu,” kata Beliau, “bhikkhu ini secara teratur memenuhi tugasnya. Di kehidupan yang lampau lima ratus orang petapa yang mencari buah-buahan mendapatkan buah-buahan yang tersedia karena kebaikan hatinya.” Setelah mengucapkan hal tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

___________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang brahmana di bagian utara, dan setelah dewasa, ia meninggalkan keduniawian dan menetap sebagai guru dari lima ratus orang petapa di kaki pegunungan.

Pada masa itu, terjadi bencana kekeringan di Negeri Himalaya, dimana-mana air mengering, dan semua binatang buas juga menderita sakit. Melihat makhluk-makhluk malang itu kehausan, salah seorang petapa menebang sebatang pohon yang ia lubangi menjadi sebuah palung, dan palung ini ia isi dengan semua air yang bisa ia temukan. Dengan cara ini ia memberi minum kepada hewan-hewan tersebut. Mereka datang dalam bentuk kawanan, minum dan minum sehingga petapa ini tidak mempunyai waktu yang tersisa untuk pergi dan mengumpulkan buah-buahan untuk dirinya sendiri. Tanpa memedulikan rasa laparnya sendiri, ia bekerja keras untuk memuaskan rasa dahaga hewan-hewan tersebut. Hewan-hewan ini berpikir, “Betapa tekunnya petapa ini mengatur kebutuhan kami sehingga ia membiarkan dirinya tidak mempunyai waktu untuk mencari buahbuahan.

Pasti ia sangat lapar. Mari kita sepakati bahwa masingmasing dari kita yang datang kemari untuk minum harus membawakan buah-buahan kepada petapa ini.” Hal tersebut mereka sepakati, setiap makhluk yang datang membawakan mangga atau jambu atau buah sukun maupun buah-buah sejenisnya; hingga pemberian mereka bisa dimuat dalam dua ratus lima puluh gerobak; dan terdapat makanan yang cukup untuk lima ratus orang petapa, dengan jumlah yang berlimpah.

Melihat hal ini, Bodhisatta berseru, “Demikianlah kebaikan satu orang telah membuat tersedianya makanan untuk semua petapa. Benar, kita harus selalu teguh dalam melakukan hal yang benar.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengucapkan syair berikut ini : —

Tetaplah semangat, Saudaraku; tetap teguh memegang harapan;

Jangan biarkan semangatmu surut dan melemah;

Jangan lupakan ia, yang melalui puasa yang menyengsarakan, mendapatkan buah-buahan di luar keinginan hatinya.

Demikianlah ajaran dari makhluk yang agung itu kepada rombongan petapa tersebut.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu ini adalah petapa baik di masa itu, Saya sendiri adalah guru para petapa tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

NAṄGALĪSA-JĀTAKA

“Untuk segala hal,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai Thera Lāḷudāyi yang disebut-sebut selalu mengatakan hal yang salah. Ia tidak pernah mengetahui waktu yang sesuai untuk beberapa ajaran. Sebagai contoh, jika ada perayaan, ia akan menyerukan teks yang sedih, “Mereka bersembunyi (di tempat) tanpa dinding, dan di tempat empat persimpangan jalan bertemu.” Jika itu adalah pemakaman, ia akan menyerukan, “Kebahagiaan memenuhi hati para dewa dan manusia,” atau dengan, “Oh, semoga engkau melihat seratus, tidak, seribu hari bahagia seperti ini.”

Suatu hari, para bhikkhu yang berada dalam Balai Kebenaran mengomentari ketidakpantasannya terhadap pokok permasalahan yang luar biasa dan keahliannya untuk selalu mengucapkan kata yang salah. Saat mereka duduk membicarakannya, Sang Guru masuk dan dalam menjawab pertanyaan Beliau, mereka memberitahukan apa yang sedang mereka bicarakan. “Para Bhikkhu,” katanya, “ini bukan pertama kalinya Lāḷudāyi yang bodoh membuat dirinya mengucapkan kata-kata yang salah. Ia selalu bersikap tidak layak seperti sekarang.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir dalam sebuah keluarga brahmana yang kaya, dan setelah dewasa ia menguasai semua pengetahuan dan merupakan seorang guru besar yang terkenal dengan lima ratus orang brahmana muda untuk diajari.

Pada masa cerita kita berlangsung, di antara para brahmana terdapat seseorang dengan pikiran bodoh yang di kepalanya dan selalu mengucapkan kata-kata yang salah; ia diminta oleh siswa lainnya untuk mempelajari kitab sebagai seorang murid, namun karena kebodohannya, ia tidak mampu menguasainya. Ia tekun sebagai pembantu Bodhisatta dan memberi pelayanan kepadanya bagaikan seorang budak.

Suatu hari setelah makan malam Bodhisatta berbaring di tempat tidur, di sana ia dibersihkan dan diberi wewangian oleh brahmana muda tersebut di tangan, kaki dan punggungnya. Saat anak muda itu berbalik untuk meninggalkan ruangan, Bodhisatta berkata padanya, “Beri topangan pada kaki tempat tidur saya sebelum engkau pergi.” Brahmana muda itu dapat menyangga kaki tempat tidur di satu sisi, namun tidak dapat menemukan sesuatu untuk menyangga sisi lainnya. Karenanya ia menggunakan kakinya sebagai penyangga dan melewati malam dengan cara demikian. Ketika Bodhisatta terbangun di pagi hari dan melihat brahmana muda itu, ia bertanya mengapa ia duduk di sana. “Guru,” kata pemuda itu, “saya tidak dapat menemukan sesuatu untuk menyangga kaki tempat tidur di salah satu sisi; maka saya menempatkan kaki saya untuk menyangganya.”

Terharu oleh kata-kata tersebut, Bodhisatta berpikir, “Betapa setianya ia! Dan hal ini datang dari orang yang paling bodoh di antara semua muridku. Dengan cara apa saya bisa memberi pendidikan kepadanya?” Sebuah pikiran terlintas di benaknya bahwa cara terbaik adalah dengan menanyai brahmana tersebut saat ia kembali dari tugas mengumpulkan kayu bakar dan dedaunan, mengenai sesuatu yang ia lihat dan lakukan di hari tersebut, kemudian bertanya seperti apakah itu.

“Karena,” pikir sang guru, “hal ini akan membimbing ia membuat perbandingan dan memberi alasan, dan latihan membuat perbandingan serta alasan secara terus menerus pada dirinya akan memungkinkan saya untuk mendidiknya.”

Karenanya ia meminta pemuda itu datang dan memberitahunya saat kembali dari mengumpulkan kayu bakar dan dedaunan untuk mengatakan padanya apa yang ia lihat, makan atau minum. Dan pemuda itu berjanji untuk melakukannya. Suatu hari, setelah melihat seekor ular saat pergi keluar bersama siswa lainnya untuk mengumpulkan kayu bakar di hutan, ia berkata, “Guru, saya melihat seekor ular.” “Seperti apakah bentuknya?”

“Oh, seperti batang dari sebuah bajak.” “Ini adalah perbandingan yang bagus. Ular seperti batang dari sebuah bajak,” kata Bodhisatta, yang mulai mempunyai harapan bahwa akhirnya ia berhasil menangani murid tersebut.

Di hari yang lain brahmana muda tersebut melihat seekor gajah di hutan dan memberi tahu gurunya. “Seperti apakah gajah itu?” “Oh, seperti batang dari sebuah bajak.” Gurunya tidak berkata apa-apa karena ia berpikir, belalai dan gading gajah membentuk kemiripan dengan batang dari sebuah bajak, barangkali kebodohan muridnya membuatnya menyebutnya secara umum (walaupun ia memikirkan belalai tersebut secara spesifik), karena ketidakmampuannya untuk menjelaskan secara terperinci.

Pada hari ketiga ia diundang untuk makan tebu, dan sebagaimana biasanya ia menceritakannya kepada gurunya.

“Seperti apakah tebu itu?” “Oh, seperti batang dari sebuah bajak.” “Tidak ada perbandingan yang lebih masuk akal lagi,” pikir gurunya, namun tidak berkata apa-apa. Di hari yang lain, kembali para siswanya diundang untuk makan sari gula dengan dadih dan susu, dan ini juga dilaporkannya sebagaimana biasanya. “Seperti apakah bentuk dadih dan susu?” “Oh, seperti batang dari sebuah bajak.” Guru tersebut berpikir sendiri, “Pemuda ini benar saat mengatakan seekor ular seperti batang dari sebuah bajak, dan lebih kurang, walaupun tidak tepat, dengan mengatakan seekor gajah dan sebatang tebu mempunyai kemiripan yang sama. Namun dadih dan susu (yang selalu berwarna putih) mengambil bentuk seperti wadah dimana mereka ditempatkan; di sini ia kehilangan seluruh perbandingan secara menyeluruh. Si bodoh ini tidak akan pernah bisa belajar.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengucapkan syair berikut ini : —

Untuk segala hal ia menerapkan istilah dengan makna terbatas,

Batang bajak dan dadih baginya adalah sama,

tidak ada bedanya;

— Si bodoh menganggap keduanya adalah sama.

____________________

Uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Lāḷudāyi adalah si bodoh itu, dan Saya adalah guru besar yang sangat terkenal.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.