Category Archives: kisah jataka

UCCHIṬṬHA-BHATTA-JĀTAKA

“Panas di atas,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang godaan (nafsu) terhadap seorang bhikkhu oleh mantan istrinya. Bhikkhu tersebut ditanya oleh Sang Guru apakah benar bahwasanya dia menyesal. Dia mengiyakannya. “Karena siapa?” adalah pertanyaan berikutnya. “Karena mantan istriku.” “Bhikkhu,” kata Sang Guru, “wanita ini di masa lampau adalah jahat dan membuatmu memakan sisa-sisa makanan dari kekasihnya.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai salah satu anggota keluarga  pemain akrobat yang miskin dan hidup dari meminta-minta. Jadi setelah tumbuh dewasa, dia miskin dan terlantar, hidup dengan meminta-minta. Kala itu, di sebuah desa di Kāsi , terdapat seorang brahmana yang istrinya jahat, kejam, dan melakukan perbuatan yang salah. [168] Dan terjadi ketika suaminya sedang bepergian untuk sesuatu hal, kekasih wanita tersebut memerhatikan waktu suaminya dan mengunjungi rumah itu. Setelah wanita tersebut menerimanya, kekasihnya itu berkata, “Saya akan makan sedikit sebelum pergi.” Jadi wanita itu menyiapkan makanan dan menghidangkan nasi panas dengan saus dan kari, kemudian memberikan kepada kekasihnya itu, memintanya untuk makan; dia sendiri berdiri di pintu, mengawasi kedatangan brahmana tersebut. Selagi kekasihnya itu makan, Bodhisatta berdiri menunggu sesuap nasi. Kemudian brahmana itu berjalan pulang menuju ke rumah. Istrinya melihatnya semakin mendekat dan segera berlari ke dalam—“Berdiri, suamiku sedang berjalan ke sini!” dan wanita tersebut menyuruh kekasihnya turun ke dalam ruang penyimpanan. Suaminya masuk; wanita itu memberinya tempat duduk dan air untuk mencuci tangan. Dan di atas nasi dingin yang ditinggalkan oleh kekasihnya, dia menambahkan nasi panas dan menghidangkan kepada suaminya itu. Suaminya memasukkan tangannya ke nasi itu dan merasakan panas di atas, dingin di bawah. “Ini pasti sisa makanan dari orang lain,” pikirnya; dan dia bertanya kepada wanita tersebut dengan katakata di bait pertama:

 

Panas di atas dan dingin di bawah, sepertinya tidak sama: Saya menanyakan alasannya kepadamu:  Mari, Istriku, berikanlah jawaban kepadaku!”

 

Berulangkali dia bertanya, tetapi wanita tersebut takut kalau-kalau perbuatannya akan terungkap, maka dia pun tetap bungkam. Kemudian sebuah pikiran melintas di kepala pemain akrobat ini, “Laki-laki yang berada di dalam ruang penyimpanan itu pastilah seorang kekasih (gelap) dan ini adalah kepala rumah tangga ini; istrinya tidak berkata apa-apa, takut kalau perbuatannya terbongkar. Saya akan menerangkan seluruh kejadian ini dan menunjukkan kepada brahmana bahwa ada seorang laki-laki yang bersembunyi di ruang penyimpanannya!” Dan dia menceritakan seluruh kejadian kepada brahmana tersebut: bagaimana ketika dia keluar dari rumahnya, orang lain masuk dan melakukan perbuatan salah; bagaimana orang tersebut telah memakan nasi yang pertama dan istrinya berdiri di depan pintu untuk mengawasi; dan bagaimana laki-laki itu bersembunyi di ruang penyimpanan. Dan untuk mengatakannya, dia mengucapkan bait kedua:

 

Saya adalah seorang pemain akrobat, Tuan:  saya datang dengan tujuan mengemis di sini: Dia yang Anda cari sedang bersembunyi di ruang penyimpanan, ke sana dia pergi!

 

Dengan menarik rambutnya, dia memaksa laki-laki itu keluar dari ruang penyimpanan dan memintanya untuk tidak mengulangi perbuatannya. Brahmana tersebut mengecam dan memukul mereka berdua dan memberi mereka sebuah pelajaran agar mereka tidak akan melakukan hal yang seperti itu lagi.

 

Kemudian, dia meninggal dunia dan menerima hasil (buah perbuatan) sesuai dengan perbuatannya.

 

Setelah Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran ini:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang (tadinya) menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Mantan istrimu adalah istri brahmana itu; Anda, bhikkhu yang menyesal, adalah brahmana itu sendiri; dan Aku adalah pemain akrobat.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Advertisements
Tagged ,

SOMADATTA-JĀTAKA

“Sepanjang tahun tidak pernah berhenti,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru, ketika berada di Jetavana, tentang Thera Lāḷudāyī (Laludayi). Bhikkhu ini, diceritakan, tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun di hadapan dua atau tiga orang. Dia begitu gugup, sampai-sampai dia mengatakan sesuatu hal, padahal yang dimaksud adalah yang lain. Para bhikkhu membicarakan hal ini di saat duduk bersama di dalam balai kebenaran. Sang Guru masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan di saat mereka duduk bersama. Mereka memberi tahu Beliau. Beliau menjawab, “Para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya Laludayi menjadi seseorang yang sangat gugup, tetapi juga sebelumnya dia adalah orang yang sama.” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta dilahirkan dalam sebuah keluarga brahmana di Kerajaan Kāsi (dengan nama Somadatta). Ketika tumbuh dewasa, dia pergi untuk mendapatkan pendidikannya di Takkasilā . Pada kepulangannya, dia menemukan keluarganya menjadi miskin; dan dia berpamitan kepada orang tuanya dan berangkat ke Benares, sambil berkata kepada dirinya, “Saya akan membangun kembali keluarga saya yang jatuh miskin ini!”

 

Di Benares dia menjadi pelayan raja; dia sangat disenangi raja dan menjadi kesayangannya.  Ayahnya hidup dari membajak sawah, tetapi dia hanya  mempunyai sepasang sapi, dan salah satunya mati. Dia datang menjumpai Bodhisatta dan berkata kepadanya, “Anakku, salah satu sapiku mati dan saya tidak bisa membajak lagi. Mintalah kepada raja untuk memberikanmu seekor sapi!” “Tidak, Ayah,” jawabnya, “saya baru saja bertemu raja; tidaklah seharusnya saya meminta sapi kepadanya sekarang:— mintalah sendiri kepadanya.” “Anakku,” kata ayahnya, “Anda tidak tahu betapa segannya diriku. Jika ada dua atau tiga orang di hadapanku, saya tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Jika saya yang pergi meminta seekor sapi kepada raja, pada akhirnya bakal saya yang akan memberikan kepadanya punyaku ini!” “Ayah,” kata Bodhisatta, “memang sudah begini keadaannya. Saya tidak bisa meminta kepada raja, tetapi saya akan melatihmu untuk melakukannya.” Jadi dia membawa ayahnya ke suatu pekuburan yang penuh dengan rumput, mengikat rumput-rumput, dan menyebarnya di sana sini dan menamainya satu per satu, sambil menunjuk ke ikatan-ikatan rumput itu, “Itu adalah raja, itu adalah wakil raja, ini adalah panglima. Nah, Ayah, ketika berada di hadapan raja, pertamatama Anda harus mengucapkan—‘Semoga Paduka panjang umur!’ dan kemudian mengulangi bait ini, untuk meminta seekor sapi.” Inilah bait yang diajarkan kepadanya:—

 

Saya tadinya mempunyai dua ekor sapi untuk membajak, dengan sapi ini saya kerjakan tugasku, tetapi salah satu sapi ini mati! Oh Paduka, berikanlah seekor sapi kepadaku!

 

Dengan waktu sepanjang tahun, laki-laki itu mempelajari bait ini dan kemudian berkata kepada putranya— “Somadatta, saya telah (berhasil) mempelajari bait itu! Sekarang saya bisa mengucapkannya di hadapan siapa pun! Bawalah saya ke hadapan raja.” Maka Bodhisatta, sambil membawa sebuah hadiah yang sepantasnya, membawa ayahnya ke hadapan raja. “Semoga Paduka panjang umur!” teriak brahmana itu, sambil mempersembahkan hadiahnya.  “Siapakah brahmana ini, Somadatta?” tanya raja. “Paduka, dia adalah ayah saya,” jawabnya. “Mengapa dia datang ke sini?” tanya raja. Kemudian brahmana tersebut mengulangi baitnya untuk meminta sapi:—

 

Saya tadinya mempunyai dua ekor sapi untuk membajak, dengan sapi ini saya kerjakan tugasku, tetapi salah satu sapi ini mati! Oh Paduka, ambillah sapi yang satunya lagi!

 

Raja mengetahui ada kesalahan. “Somadatta,” katanya sambil tersenyum, “Menurutku, Anda mempunyai banyak sapi di rumah?” “Jika itu benar, Paduka, semuanya adalah pemberian Anda!” Mendengar jawaban ini, raja bersukacita. Raja memberikan enam belas ekor sapi dengan perhiasan yang bagus dan sebuah desa untuk ditempati kemudian memintanya pergi dengan penuh kehormatan, sebagai persembahan bagi seorang brahmana. Brahmana tersebut menaiki sebuah kereta yang ditarik oleh kuda-kuda Sindhava, yang berwarna serba putih, dan kembali ke kediamannya dengan kemegahan. Ketika Bodhisatta duduk di samping ayahnya di dalam kereta, dia berkata, “Ayah, saya mengajarimu sepanjang tahun, tetapi ketika tiba saatnya, Anda malah jadi memberikan sapimu kepada raja!” Dan dia mengucapkan bait pertama:—

 

Sepanjang tahun tidak pernah berhenti dengan  semangat yang tidak kenal lelah, di mana rumput-rumput tumbuh berumpun  hari demi hari dia melatihnya: Ketika datang di antara pejabat istana, tiba-tiba dia mengubah maknanya; Melatih dengan sungguh-sungguh tetaplah sia-sia jika orang tersebut adalah dungu.

 

Ketika ayahnya mendengar ini, brahmana tersebut mengucapkan bait kedua:

 

Orang yang meminta, Somadatta, memilih salah satu— mungkin mendapatkan lebih, mungkin tidak mendapatkan apa pun:  Demikianlah keadaannya ketika Anda meminta (sesuatu).

 

Ketika Sang Guru telah menunjukkan bagaimana Laludayi itu sama pemalunya di masa lampau, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“ Lāḷudāyī (Laludayi) adalah ayah Somadatta dan saya sendiri adalah Somadatta.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KANDAGALAKA-JĀTAKA

“Oh Teman,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru sewaktu berdiam di Veḷuvana (Veluvana) tentang usahausaha Devadatta untuk meniru-Nya. Ketika mendengar usahausaha untuk meniru-Nya tersebut, Sang Guru berkata, “Ini bukan pertama kalinya Devadatta menghancurkan dirinya sendiri dengan meniru diri-Ku, tetapi kejadian sama juga pernah terjadi sebelumnya.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor burung pelatuk. Di dalam sebuah hutan pohon khadira, dia tinggal dan namanya adalah Khadiravaniya. Dia memiliki sahabat yang bernama Kandagalaka, yang mencari makanannya di hutan yang penuh dengan buah-buah simbali. Suatu hari sang sahabat pergi mengunjungi Khadiravaniya. “Sahabatku datang!” pikir Khadiravaniya. Dia membawanya masuk ke dalam hutan khadira dan mematuk batang-batang pohon sampai keluar serangga, kemudian dia berikan kepada sahabatnya. Setiap kali diberikan kepadanya, sang sahabat itu pun mematuk dan memakannya, seperti itu adalah kue madu. Sewaktu dia makan demikian, kesombongan timbul di dalam dirinya. “Burung ini adalah seekor burung pelatuk,” pikirnya, “dan begitu juga saya. Apa perlunya saya diberi makan oleh dirinya? Akan kudapatkan sendiri makananku di dalam hutan khadira ini!” Jadi dia berkata kepada Khadiravaniya, “Teman, janganlah merepotkan dirimu—saya akan mendapatkan makananku sendiri di dalam hutan khadira ini.” Kemudian sahabatnya berkata, “Kamu tergolong jenis burung yang mencari makanan di dalam hutan dengan pohon simbali yang tidak berserat dan pohon yang berbuah berlimpah, sedangkan pohon khadira ini penuh dengan serat dan keras. Mohon janganlah lakukan itu!” “Apa!” kata Kandagalaka— “Apakah saya bukan seekor burung pelatuk?” Dan dia tidak mau mendengarkannya, dia malah mematuk sebatang pohon khadira . Dalam sekejap paruhnya patah, bola matanya seperti akan  jatuh keluar dari kepalanya, dan kepalanya  terbelah. Demikianlah karena tidak mampu berpegangan erat pada pohon, dia pun jatuh ke tanah, sambil mengulangi bait pertama:

 

Wahai Teman, pohon apa ini yang berduri  dan berdaun rimbun, yang dengan seketika menghancurkan paruhku?

 

Mendengar ini, Khadiravaniya mengulangi bait kedua:

 

Burung ini cocok untuk kayu usang dan lunak;  Ketika sekali dia coba, dengan semborono, untuk mematuk pohon keras; kepalanya pun pecah dan mati.

 

Demikian Khadiravaniya berkata, dan dia menambahkan, “Wahai Kandagalaka, pohon yang menghancurkan paruhmu itu besar dan kuat!” Tetapi dia telah mati di sana.

 

Setelah mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Devadatta adalah Kandagalaka, sedangkan Khadiravaniya adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KAKKARA-JĀTAKA

“Banyak pohon yang telah kulihat,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu muda yang merupakan siswa dari Thera Sāriputta , sang Panglima Dhamma. Bhikkhu ini, diceritakan, sangatlah pintar menjaga dirinya. Makanan yang terlalu panas atau yang terlalu dingin tidak dimakannya karena takut akan membuatnya sakit. Dia tidak pernah keluar karena takut dilukai oleh cuaca dingin atau panas; dan dia tidak akan makan nasi yang terlalu masak atau terlalu keras. Para bhikkhu melihat betapa penuh perhatian dia menjaga dirinya. Di dalam balai kebenaran, mereka semua membahas tentangnya, “ Āvuso , betapa pintarnya bhikkhu anu, untuk mengetahui apa yang baik bagi dirinya!” Sang Guru masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan selama mereka duduk bersama. Mereka menceritakan kepada Beliau. Kemudian Beliau berkata, “Bukan hanya kali ini bhikkhu itu berhati-hati untuk kenyamanan dirinya, tetapi dia juga sama di dalam kehidupan lampaunya.” Dan Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, di masa pemerintahan Brahmadatta, Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang dewa pohon di suatu tempat di dalam hutan. Seorang penangkap burung, dengan membawa burung pengumpan, perangkap bulu dan tongkat, masuk ke dalam hutan untuk menangkap burung. Dia mulai mengikuti seekor burung tua yang terbang ke dalam hutan, yang mencoba untuk meloloskan diri. Burung itu tidak membiarkannya mendapat kesempatan untuk menangkapnya ke dalam perangkapnya, dia terus terbang dan hinggap, terbang dan hinggap. Jadi penangkap burung itu menutupi dirinya dengan ranting-ranting dan dahan-dahan, kemudian memasang perangkap dan tongkatnya lagi dan lagi. Tetapi burung itu, yang berkeinginan untuk membuatnya malu akan dirinya sendiri, mengucapkan bahasa manusia dan mengulangi bait pertama:—

 

Banyak pohon yang telah kulihat tumbuh di dalam hutan yang hijau. Tetapi, wahai Pohon, mereka tidak dapat melakukan sesuatu yang aneh seperti dirimu!

 

Setelah berkata demikian, burung itu terbang dan pergi ke tempat lain. Setelah dia pergi, penangkap burung itu mengulangi bait kedua:—

 

Burung ini, yang mengetahui perangkap itu, telah terbang ke angkasa; Keluar dari sangkarnya yang rusak, dan dengan bahasa manusia, dia berbicara!

 

Demikian penangkap burung itu berkata; dan setelah memburu di sekitar hutan, mengambil apa yang dapat ditangkapnya, dia pun pulang ke rumahnya kembali.

 

Setelah mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, Devadatta adalah penangkap burung, bhikkhu muda adalah burung tersebut, dan dewa pohon yang melihat semuanya adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SUṀSUMĀRA-JĀTAKA

“Jambu, nangka,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana, tentang usaha-usaha Devadatta untuk membunuh-Nya. Ketika mendengar usaha-usaha ini, Sang Guru berkata, “Ini bukan pertama kalinya Devadatta mencoba untuk membunuh-Ku, tetapi dia melakukan hal yang sama sebelumnya, dan bahkan tidak berhasil membuat-Ku takut.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir di kaki Gunung Himalaya sebagai seekor kera. Dia tumbuh kuat dan tegap, berbadan besar, makmur, dan tinggal di tikungan Sungai Gangga di dalam hutan yang angker. Pada masa itu terdapat seekor buaya yang hidup di Sungai Gangga. Istri buaya tersebut melihat badan kera yang besar itu, dan memiliki keinginan untuk memakan jantungnya. Jadi dia berkata kepada suaminya, “Suamiku, saya ingin untuk memakan jantung raja kera yang besar itu!” “Istriku,” kata buaya, “saya hidup di air dan dia hidup di darat: bagaimana kita bisa menangkapnya?” “Bagaimanapun caranya,” jawabnya, “dia harus bisa ditangkap. Jika saya tidak mendapatkannya, saya akan mati.” “Baiklah,” jawab buaya, menghiburnya, “jangan menyakiti dirimu sendiri. Saya mempunyai sebuah rencana; saya akan memberikan jantungnya kepadamu untuk dimakan.” Maka ketika Bodhisatta duduk di tepi Sungai Gangga, setelah meminum air, buaya menghampirinya dan berkata: “Kera, mengapa Anda hidup dengan memakan buah-buahan jelek di tempat tua ini? Di sisi lain dari Sungai Gangga terdapat pohon mangga dan pohon sukun yang tak terhingga banyaknya, dengan buah yang semanis madu. Apakah tidak lebih baik untuk pergi ke seberang dan memakan semua buah itu?” “Raja Buaya,” jawab kera, “Sungai Gangga ini dalam dan lebar. Bagaimanakah saya menyeberanginya?” “Jika kamu ingin pergi, saya akan membawamu di atas punggungku dan menyeberangkanmu.” Sang kera memercayainya dan menyetujuinya. “Ke sinilah, kalau begitu,” kata buaya, “naiklah ke punggungku!” dan demikianlah kera naik ke punggungnya. Tetapi ketika telah berenang sedikit jauh, buaya menceburkan kera itu ke dalam air. “Teman, kamu membuatku tenggelam!” teriak kera, “Ada apa ini?” Buaya berkata, “Kamu pikir saya akan membawamu ke tempat yang bagus? Jangan harap! Istriku menginginkan jantungmu dan saya hendak memberikan kepadanya untuk dimakan.” “Teman,” kata kera, “kamu baik sekali mau memberitahukannya kepada saya. Jika jantung kami berada di dalam tubuh, maka ketika kami melompat di antara puncak pepohonan, itu akan menyebabkannya hancur berkeping-keping”   “Kalau begitu, di manakah kamu menyimpannya?” tanya buaya. Bodhisatta menunjuk ke sebuah pohon elo yang ditumbuhi oleh banyak buah ranum, berada tidak jauh dari sana. “Lihat,” katanya, “di sana jantung kami tergantung di atas pohon elo itu.”

 

“Jika kamu menunjukkan jantungmu kepadaku,” kata buaya, “maka saya tidak akan membunuhmu.” “Bawalah saya ke pohon itu, kalau begitu, dan saya akan menunjukkannya kepadamu dengan bergelantung di atasnya.” Buaya membawanya ke tempat itu. Kera melompat dari punggungnya dan memanjat ke pohon elo itu, kemudian duduk di atasnya. “Wahai Buaya Dungu!” katanya, “kamu pikir ada makhluk yang menyimpan jantungnya di puncak pohon! Kamu sangat bodoh dan saya telah memperdayamu! Kamu boleh  mengambil buah-buah ini. Badanmu besar, tetapi kamu tidak memiliki akal.” Dan kemudian untuk menjelaskan maksudnya ini, dia mengucapkan bait-bait berikut:—

 

Jambu, nangka, dan mangga di seberang  sungai sana kulihat; Cukuplah, saya tidak menginginkannya;  buah pohon elo sudah cukup baik untukku!

 

Badanmu besar, sungguh, tetapi akal pikiranmu kecil! Sekarang pergilah, buaya, saya telah mendapatkan yang terbaik.

 

Buaya merasa sedih dan sengsara seperti telah kehilangan ribuan keping uang, pulang kembali dengan ratapan ke kediamannya.

 

Ketika mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, Devadatta adalah buaya, Ciñcā adalah istrinya, dan Aku adalah sang kera.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

ASSAKA-JĀTAKA

“Dahulu bersama Raja Assaka yang agung,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang godaan nafsu terhadap seorang bhikkhu oleh mantan istrinya. Beliau bertanya kepada bhikkhu tersebut apakah apakah benar dia menyesal. Bhikkhu tersebut berkata, “Ya.” “Kepada siapakah Anda jatuh cinta?” lanjut Sang Guru. “Mantan istri saya,” balasnya. Kemudian Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini saja, Bhikkhu, Anda sangat menginginkan wanita ini. Di masa lampau, cintanya membuatmu mendapatkan penderitaan yang besar.” Dan Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, seorang Raja Assaka memerintah di Potali, sebuah kota di Kerajaan Kāsi. Permaisurinya, yang bernama Ubbarī (Ubbari), amatlah disayanginya. Wanita ini sangat memikat dan anggun, dan kecantikannya melampaui banyak wanita meskipun tidak secantik seorang dewi. Permaisurinya ini kemudian meninggal, dan kematiannya membuat raja sangat berduka, sedih dan sengsara. Raja membaringkan jasad permaisuri ke dalam sebuah peti mati dan dibalsam dengan minyak dan ramuan, kemudian diletakkan di bawah ranjang. Di sana, raja berbaring tanpa makan, hanya menangis dan meratap. Sia-sia apa yang dilakukan oleh orang tua dan sanak keluarga, teman-teman dan anggota istana, para brahmana dan penduduk, untuk memintanya agar tidak bersedih karena segala sesuatu pasti berubah. Mereka tidak dapat menggerakkan hatinya. Demikian dia berbaring dalam duka, tujuh hari pun berlalu. Kala itu, Bodhisatta adalah seorang petapa yang memiliki lima kesaktian dan delapan pencapaian meditasi; dia berdiam di bawah kaki gunung Himalaya. Dia memiliki kekuatan mata dewa, dan ketika melihat sekeliling India dengan penglihatan saktinya itu, dia melihat raja itu meratap, dan langsung memutuskan untuk menolongnya. Dengan kekuatan gaibnya, dia terbang di udara dan turun di taman raja, duduk pada papan batu besar, seperti sebuah patung emas.

 

Seorang brahmana muda dari Kota Potali masuk ke dalam taman tersebut, dan ketika melihat Bodhisatta, dia memberinya salam dan duduk. Bodhisatta mulai berbicara dengan ramah kepadanya, “Apakah raja seorang pemimpin yang arif?” tanyanya. “Ya, Tuan, raja adalah seorang yang arif,” balas orang muda itu, “tetapi permaisurinya baru saja wafat; dia membaringkan tubuh permaisurinya ke dalam peti mati dan berbaring meratapinya; hari ini adalah hari ketujuh sejak dia mulai begitu.—Mengapa Anda tidak membebaskan raja dari penderitaan ini? Makhluk yang bajik seperti dirimu ini seharusnya mampu mengatasi penderitaan raja.” “Saya tidak mengenal raja itu, Brahmana Muda,” kata Bodhisatta, “tetapi jika raja yang datang dan memintanya kepadaku sendiri, akan saya beri tahukan kepadanya tempat istrinya sekarang dilahirkan kembali, dan membuat wanita itu berbicara sendiri.” “Kalau begitu, Bhante, tunggulah di sini sampai kubawakan raja kepadamu,“ kata brahmana muda itu. Bodhisatta mengiyakannya, dan brahmana muda itu pun bergegas menghadap raja dan menceritakan kepadanya tentang hal itu. “Anda harus mendatangi orang ini yang memiiki penglihatan sakti!” katanya kepada raja. Raja sangat gembira, memikirkan dapat melihat Ubbari, dan dia pun naik kereta kebesarannya dan mengendarainya menuju ke tempat itu.  Setelah memberi salam kepada Bodhisatta, raja duduk di satu sisi dan bertanya, “Benarkah, seperti yang diberitahukan kepadaku bahwasanya Anda mengetahui di mana  permaisuriku dilahirkan kembali?” “Benar, Paduka,” jawabnya.

 

Kemudian raja menanyakan di manakah tempatnya. Bodhisatta menjawab, “Wahai Paduka, (dalam kehidupannya sebagai permaisuri) dia begitu dimabukkan oleh kecantikannya sehingga jatuh dalam kelalaian dan tidak melakukan perbuatan yang baik dan bajik. Jadi sekarang dia telah menjadi seekor ulat kotoran sapi di dalam taman ini.” [157] “Saya tidak percaya!” kata raja. “Kalau begitu saya akan memperlihatkannya kepada Anda dan membuatnya berbicara,” kata Bodhisatta. “Tolong buat dia berbicara!” kata raja. Bodhisatta mengucapkan perintah—“Dua makhluk yang sibuk menggelindingkan gumpalan kotoran sapi, datanglah menghadap raja.” Dengan kekuatannya, dia membuat mereka melakukan demikian, dan mereka pun datang. Bodhisatta menunjuk salah satu dari mereka kepada raja: “Itu adalah Permaisuri Ubbari-mu, Paduka! Dia baru saja keluar dari gumpalan kotoran ini, mengikuti suaminya ulat kotoran. Lihat dan perhatikanlah.” “Apa! Permaisuri Ubbari-ku adalah seekor ulat kotoran? Saya tidak percaya!” teriak raja. “Saya akan membuatnya berbicara, Paduka!” “Saya mohon buatlah dia berbicara, Bhante!” katanya. Bodhisatta dengan kekuatannya memberikan ulat tersebut kemampuan berbicara. “Ubbari!” katanya. “Ada apa, Bhante?” tanya Ubbari, dalam bahasa manusia. “Siapakah namamu dalam kehidupan sebelumnya?” tanya Bodhisatta. “Namaku adalah Ubbari, Bhante,” jawabnya, “permaisuri Raja Assaka.” “Beritahu saya,” lanjut Bodhisatta, “manakah yang paling kamu cintai sekarang–Raja Assaka atau ulat kotoran ini?” “Oh, Bhante, itu adalah kehidupan masa lampauku,” katanya, “kala itu, saya hidup bersamanya di taman ini, menikmati rupa, suara, bau, rasa dan sentuhan. Akan tetapi, sekarang ingatanku telah menjadi kabur dikarenakan kelahiran kembali, siapalah dirinya (Raja Assaka)? Sekarang saya akan (memilih untuk) membunuh Raja Assaka dan melumuri kaki suamiku, ulat kotoran, dengan darah yang mengalir dari kerongkongannya!” dan di hadapan raja, dia mengucapkan bait-bait berikut dalam bahasa manusia:

 

Dahulu bersama Raja Assaka yang agung, suamiku yang tercinta, yang mencintai dan yang tercinta, saya berkeliaran di taman ini.

 

Tetapi sekarang, penderitaan baru dan kebahagiaan baru telah membuat yang lama lenyap. Dan jauh lebih kucintai ulatku ini dibandingkan Assaka. Ketika mendengar ini, Raja Assaka menyesal di tempat itu juga, dan segera dia memerintahkan agar jasad permaisuri tersebut dikeluarkan, kemudian dia membasuh kepalanya sendiri. Dia memberi hormat kepada Bodhisatta dan pulang kembali ke kota, tempat dia menikahi permaisuri yang lain dan memerintah dengan benar. Dan Bodhisatta, setelah menasihati raja dan membuatnya bebas dari kesedihan, kembali ke Himalaya.

 

Setelah mengakhiri uraian ini, Sang Guru  memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran, bhikkhu yang (tadinya) menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Mantan istrimu adalah Ubbarī (Ubbari); Anda, bhikkhu yang mabuk cinta adalah Raja Assaka; Sāriputta adalah brahmana muda tersebut; dan petapa itu adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KURUṄGA-MIGA-JĀTAKA

 

 

“Kemarilah, Kura-kura,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Veḷuvana (Veluvana), tentang Devadatta. Kabar tentang Devatta yang merencanakan kematian-Nya sampai ke telinga Sang Guru. “Para Bhikkhu,” kata Beliau, “hal ini sama persis dengan yang terjadi dahulu kala; Devadatta mencoba membunuh-Ku pada saat itu seperti yang dicobanya sekarang ini.” Dan Beliau menceritakan kepada mereka kisah  masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor Rusa Kurunga dan tinggal di dalam hutan, di suatu semak belukar dekat sebuah danau. Tidak jauh dari danau yang sama tersebut, bertengger seekor burung pelatuk di atas sebuah pohon, dan di danau itu berdiam seekor kura-kura. Mereka bertiga menjadi sahabat dan tinggal bersama dengan akrab. Ketika seorang pemburu berkeliling di dalam hutan itu, dia melihat jejak kaki Bodhisatta yang turun menuju ke air, dan dia pun memasang perangkap dari kulit, yang kuat seperti rantai besi, kemudian pergi. Pada penggal awal malam hari itu, Bodhisatta turun untuk minum air dan dia pun terjerat di dalam perangkap itu: dia berteriak keras dan panjang. Mendengar itu, burung pelatuk  terbang ke bawah dari atas pohonnya dan kurakura pun keluar dari dalam air, berunding tentang apa yang harus dilakukan. Kata burung pelatuk kepada kura-kura, “Teman, kamu punya banyak gigi–gigitlah perangkap ini, sedangkan saya akan pergi dan memastikan pemburu itu tidak datang. Jika kita berusaha sedaya upaya kita, maka teman kita tidak akan kehilangan nyawanya.” Untuk membuat ini lebih jelas, dia mengucapkan bait pertama:

 

Kemarilah, Kura-kura, koyaklah perangkap kulit itu  dan gigitlah sampai putus,  dan pemburu itu, saya yang akan mengurusnya, dan menjauhkannya darimu.

 

Kura-kura mulai menggerogoti tali kulit itu, burung pelatuk tersebut pun pergi ke tempat tinggal sang pemburu. Pada fajar hari, keluarlah si pemburu dengan pisau di tangan. Segera setelah melihat sang pemburu mulai melangkah, burung itu berteriak dan mengepakkan sayapnya kemudian menyerangnya di bagian wajah ketika dia baru keluar dari pintu depan. “Burung pembawa sial menyerangku!” pikir pemburu itu, dia pun kembali dan berbaring sebentar. Kemudian dia bangkit lagi dan membawa pisaunya. Burung itu pun berpikir dalam hatinya, “Tadi dia keluar dari pintu depan, sekarang dia pasti akan keluar dari belakang:” dan dia pun duduk di belakang rumah. [154] Sang pemburu pun memikirkan hal yang sama, “Ketika tadi keluar dari pintu depan, saya menemui pertanda buruk, sekarang saya akan keluar dari belakang!” dan demikianlah yang dilakukannya. Tetapi burung itu berteriak kembali dan menyerang wajahnya. Mendapati dirinya kembali diserang oleh burung pertanda buruk, sang pemburu pun berseru, “Mahkluk ini tidak membiarkanku keluar!” dan berbaliklah dia, kemudian berbaring sampai matahari terbit. Ketika matahari telah terbit, dia membawa pisaunya dan mulai lagi. Burung pelatuk segera mendatangi teman-temannya. “Si pemburu sedang menuju ke sini!” teriaknya. Waktu itu, kura-kura telah menggerogoti semua tali kulitnya, tinggal satu yang keras: gigi-giginya kelihatan seperti akan tanggal semua dan mulutnya berlumuran darah. Bodhisatta melihat pemburu itu datang seperti kilat, dengan pisau di tangan: dia pun memutuskan tali tersebut dan lari masuk ke dalam hutan, burung pelatuk terbang bertengger di atas pohonnya, tetapi kura-kura sangat lemah sehingga dia hanya terbaring di sana. Sang pemburu memasukkannya ke dalam sebuah kantung dan mengikatnya di pohon. Bodhisatta melihat kura-kura tertangkap dan bertekad untuk menyelamatkan nyawa temannya. Maka dia membiarkan pemburu itu melihatnya dan berpura-pura seakan dia lemah. Sang pemburu melihatnya dan mengiranya lemah, dia pun mencabut pisau dan mengejarnya. Bodhisatta menjaga jaraknya dari sang pemburu dan memancingnya masuk ke dalam hutan. Ketika melihat bahwasanya mereka telah berlari jauh, dia meloloskan diri darinya dan, dengan tangkasnya dari arah lain, dia keluar mengambil kantong tersebut dengan tanduknya, melemparnya ke tanah dan mengoyaknya, kemudian membiarkan kura-kura keluar. Dan burung pelatuk pun terbang turun dari pohon. Kemudian Bodhisatta pun berkata demikian kepada mereka, “Nyawaku telah kalian selamatkan, dan kalian telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai sahabat. Sekarang pemburu pasti akan datang dan memburu kalian. Jadi kalian; Temanku Burung Pelatuk, pergilah ke tempat lain dengan anak-anakmu, dan Anda, Temanku Kura-kura, menyelamlah ke dalam air.” Mereka pun melakukan demikian.

 

Dia Yang Sempurna Kebijaksanaan-Nya mengulangi bait kedua berikut:—

 

Kura-kura masuk ke dalam danau,  rusa masuk ke dalam hutan, dan dari pohon, burung pelatuk membawa anak-anaknya terbang pergi.

 

Sang pemburu kembali dan tidak melihat salah satu pun dari mereka. Dia melihat kantongnya robek, memungutnya dan pulang ke rumah dengan sedih. Dan ketiga sahabat itu pun hidup dengan persahabatan mereka yang erat sepanjang hidup mereka, dan kemudian meninggal sesuai dengan perbuatan mereka.

 

Ketika mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Devadatta adalah sang pemburu, Sāriputta adalah burung pelatuk, Moggallāna adalah kura-kura, dan Aku adalah rusa.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

GAṄGEYYA-JĀTAKA

 

“Ikan-ikan dari,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika tinggal di Jetavana, tentang dua bhikkhu muda. Dikatakan bahwasanya dua bhikkhu muda ini adalah anggota dari sebuah keluarga yang terpandang di Sāvatthi dan memiliki keyakinan. Tetapi mereka, dengan tidak menyadari akan keburukan dari badan jasmani, memuji ketampanan mereka sendiri dan menyombongkan hal tersebut. Suatu hari mereka bertengkar dikarenakan permasalahan ini: “Anda tampan, demikian juga saya,” kata mereka masing-masing. Melihat ada seorang thera tua yang duduk tidak jauh dari sana, mereka setuju kalau dia mungkin tahu apakah mereka tampan atau tidak. Kemudian mereka menghampirinya dan bertanya, “Bhante, siapakah yang tampan di antara kami?” Sang Thera menjawab, “ Āvuso , saya lebih tampan daripada kalian berdua.” Terhadap ini, kedua bhikkhu muda tersebut mencelanya dan pergi, sambil mengomel bahwa dia menjawab sesuatu yang tidak mereka tanyakan, tetapi tidak menjawab apa yang mereka tanyakan. Para bhikkhu mengetahui kejadian ini, dan pada suatu hari, ketika bersama-sama di dalam balai kebenaran, mereka mulai membicarakannya, “ Āvuso , thera tersebut mempermalukan kedua bhikkhu muda yang pikirannya dipenuhi dengan ketampanan mereka sendiri!” Sang Guru masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan selama mereka duduk bersama. Mereka menceritakan kepada-Nya. Beliau kemudian berkata, “Ini bukan pertama kalinya, Para Bhikkhu, kedua bhikkhu muda ini memuja ketampanan mereka sendiri, tetapi di masa lampau juga mereka selalu menyombongkannya seperti apa yang mereka lakukan sekarang.” Dan kemudian Beliau menceritakan mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, pada masa pemerintahan Brahmadatta, Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang dewa pohon di tepi Sungai Gangga. Pada satu titik, tempat Gangga dan Jumma bertemu, dua ekor ikan bertemu satu sama lain, satu dari Gangga dan satu dari Jumma. “Saya cantik!” kata yang satu, “dan begitu juga kamu!” dan kemudian mereka bertengkar mengenai kecantikan mereka. Tidak jauh dari Sungai Gangga, mereka melihat seekor kura-kura berbaring di tepi sungai, “Teman di sana yang akan memutuskan apakah kita cantik atau tidak!” kata mereka. Dan mereka pun menghampirinya. “Siapakah yang cantik di antara kami, Teman Kura-kura,” tanya mereka, “ikan Gangga atau ikan Jumma?” Kura-kura menjawab, “Ikan Gangga cantik dan ikan Jumma juga cantik, tetapi sayalah yang paling cantik di antara kalian berdua.” Dan untuk menjelaskannya, dia mengucapkan bait pertama:—

 

Ikan-ikan dari Sungai Jumma itu cantik, ikan-ikan dari Sungai Gangga cantik, tetapi seekor makhluk berkaki empat, dengan leher  lonjong seperti saya, bulat seperti pohon beringin yang menyebar, pastilah melebihi semuanya.

 

Ketika mendengar ini, kedua ikan itu berkata, “He, Kurakura Jahat, kamu tidak menjawab pertanyaan kami, malah menjawab yang lain!” dan mereka mengulangi bait kedua:

 

Kami menanyakan ini, dia menjawab itu: sungguh sebuah jawaban yang aneh!

Dengan lidahnya sendiri dia memuji diri sendiri:— saya tidak menyukainya!

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, kedua bhikkhu muda adalah kedua ekor ikan, sang thera tua adalah kura-kura, dan Aku adalah dewa pohon yang melihat semua kejadian itu dari tepi Sungai Gangga.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged

VĪRAKA-JĀTAKA

 

“Oh, apakah Anda melihat,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang peniruan terhadap Yang Sempurna Menempuh Jalan (Sugata). Ketika para thera telah pergi beserta pengikut mereka untuk mengunjungi Devadatta, Sang Guru menanyakan Sāriputta apa yang dilakukan Devadatta ketika dia melihat mereka. Jawabannya adalah dia meniru Sang Buddha. Sang Guru menyambung, “Bukan hanya kali ini, Devadatta meniru diri-Ku dan demikian menemui kehancuran; tetapi dia juga melakukan hal yang sama sebelumnya.” Kemudian, atas permintaan para thera, Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah sebagai raja di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor gagak air dan tinggal di sebuah kolam. Namanya adalah Vīraka (Viraka). Di sana, terjadi kelaparan di Kasi. Orang-orang tidak bisa menyisihkan makanan untuk burung-burung gagak, tidak juga persembahan untuk para yaksa dan nāga . Satu per satu burung gagak meninggalkan tanah yang dilanda kelaparan itu dan masuk ke dalam hutan. Ada seekor gagak bernama Saviṭṭhaka (Savitthaka), yang tinggal di Benares, membawa serta pasangannya gagak betina dan pergi ke tempat Viraka tinggal, membuat sarangnya di samping kolam yang sama. Suatu hari, gagak ini mencari makanan di sekitar kolam itu. Dia melihat bagaimana Viraka turun ke dalamnya dan memakan beberapa ekor ikan, setelah itu keluar lagi dari dalam air dan berdiri mengeringkan bulunya. “Di bawah sayap gagak itu,” pikirnya, “banyak ikan yang bisa didapatkan. Saya akan menjadi pelayannya.” Maka dia menghampirinya. “Ada apa, Teman?” tanya Viraka. “Saya ingin menjadi pelayanmu!” jawabnya. Viraka setuju dan mulai saat itu dia pun melayaninya. Dan sejak saat itu, Viraka biasanya hanya memakan ikan secukupnya untuk mempertahankan hidupnya dan sisanya dia berikan kepada Savitthaka segera setelah dia menangkapnya, dan setelah Savitthaka memakan ikan secukupnya untuk mempertahankan hidupnya, dia berikan apa yang tersisa kepada istrinya. Setelah beberapa waktu, kesombongan mulai timbul di hatinya. “Gagak ini,” katanya, “berwarna hitam dan demikian juga diriku. Dalam bentuk mata, paruh, dan kaki juga tidak ada perbedaan di antara kami. Saya tidak menginginkan ikannya; saya akan menangkapnya sendiri!” Jadi dia berkata kepada Viraka bahwa nantinya dia berniat untuk turun ke dalam air dan menangkap ikan sendiri. Kemudian Viraka berkata, “Teman, Anda bukanlah termasuk jenis gagak yang dilahirkan untuk masuk ke dalam air dan menangkap ikan. Jangan menghancurkan dirimu sendiri!” Walaupun usaha ini dilakukan untuk menghalanginya, Savitthaka tetap saja tidak mau mendengar peringatan itu. Dia pergi ke kolam itu dan turun ke dalam air, tetapi dia tidak dapat melewati rumput-rumput liar dan keluar lagi—di sana dia, terjerat oleh rumput-rumput liar, hanya ujung paruhnya yang terlihat muncul di atas air. Karena tidak dapat bernapas, dia pun mati di dalam air. Pasangannya mengetahui dia tidak kembali dan pergi mencari Viraka untuk menanyakan kabar dirinya. “Tuan,’ tanyanya, “Savitthaka tidak kelihatan. Di manakah dia?” Dan saat setelah menanyakan hal ini, dia mengulangi bait pertama berikut:

 

Oh apakah Anda melihat Savitthaka,  apakah Anda melihat pasanganku yang bersuara merdu, yang lehernya seperti kemilau burung merak?

 

Ketika mendengar ini, Viraka membalas, ”Ya, saya tahu di mana dia berada,” dan mengulangi bait kedua:—

 

Dia tidaklah dilahirkan untuk menyelam di bawah air, tetapi apa yang tidak dapat dilakukannya malah dicobanya; Maka burung malang itu menemukan makam airnya, terjerat di tengah rumput-rumput liar dan mati di sana.

 

Ketika gagak betina tersebut mendengarnya, sambil meratap, dia kembali ke Benares.

 

Setelah uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Devadatta adalah Saviṭṭhaka (Savitthaka), dan Aku adalah Vīraka (Viraka).”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KHANDHA-VATTA-JĀTAKA

“Ular-ular Virūpakkha saya kasihi,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu. Dikatakan bahwasanya pada saat dia duduk, di depan ruang tamunya, membelah kayu, seekor ular menyelinap keluar dari kayu yang lapuk dan menggigit jari kakinya; dia pun mati seketika. Seluruh wihara mengetahui bagaimana dia mati mendadak. Di dalam balai kebenaran, mereka mulai membicarakannya, mengatakan bagaimana bhikkhu anu sedang duduk di pintu, membelah kayu, ketika seekor ular menggigitnya dan mati seketika karena gigitan itu. Sang Guru masuk dan ingin mengetahui apa yang mereka perbincangkan selama mereka duduk bersama. Mereka pun menceritakan kepada-Nya. Kata Beliau, “Para Bhikkhu, seandainya saja bhikkhu ini melatih cinta kasih terhadap empat jenis ular, maka ular tersebut tidak akan menggigitnya. Orang bijak di masa lampau, sebelum Sang Buddha lahir, dengan menerapkan cinta kasih terhadap empat jenis ular, bebas dari rasa takut yang muncul karena ular-ular ini.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala di masa pemerintahan Brahmadatta, Raja Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai seorang brahmana muda di Kerajaan Kāsi. Setelah dewasa, dia melepaskan nafsunafsunya dan memilih menjalani kehidupan sebagai seorang petapa; dia mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi; dia membangun sebuah pertapaan di tikungan Sungai Gangga, di bawah kaki Himalaya dan berdiam di sana, dikelilingi oleh sekelompok petapa, terhanyut dalam kebahagiaan meditasi. Kala itu terdapat banyak ular di sekitar pinggiran Sungai Gangga yang suka mengganggu para petapa dan banyak dari mereka tewas digigit ular. Petapa-petapa itu menceritakan kejadian tersebut kepada Bodhisatta. Dia pun memanggil para petapa untuk menjumpainya dan berkata, “Jika kalian menunjukkan cinta kasih kepada keempat jenis ular, tidak akan ada ular yang menggigitmu. Oleh karena itu, mulai sekarang tunjukkanlah cinta kasih kepada keempat jenis ular ini,” Kemudian dia menambahkan bait berikut:

 

Ular-ular Virūpakkha yang saya kasihi, Ular-ular Erāpatha  yang saya kasihi, Ular-ular Chabbyāputta yang saya kasihi, Ular-ular Kaṇhāgotama yang saya kasihi.

 

Setelah demikian mengucapkan nama-nama dari keempat jenis ular itu, beliau menambahkan, “Jika kalian bisa mengembangkan cinta kasih terhadap semua ular ini, maka tidak akan ada ular yang akan menggigit atau mencelakaimu.” Kemudian Beliau mengulangi bait kedua:—

 

Semua makhluk di bawah sinar matahari, dua kaki, empat kaki, atau lebih, atau tidak ada— betapa saya mengasihi kalian, semuanya!

 

Setelah menyatakan ungkapan cinta kasih di dalam dirinya, beliau mengucapkan bait berikutnya dengan berdoa:

 

Semua makhluk, berkaki dua atau berkaki empat, yang tidak mempunyai kaki dan yang mempunyai lebih, janganlah menyakiti saya, saya memohon!

 

Kemudian kembali, dengan bahasa biasa, dia mengulangi satu bait berikut:—

 

Kalian semua makhluk yang memiliki kehidupan, bernafas dan bergerak di atas tanah, semoga kalian bahagia, semuanya, jangan pernah jatuh dalam kejahatan.

 

Demikianlah dia memaparkan bagaimana seseorang harus menunjukkan cinta kasih dan niat baik kepada semua makhluk hidup tanpa ada perbedaan; dia mengingatkan semua pendengarnya tentang kualitas bagus dari Tiga Permata, mengucapkan—“Buddha Nirbatas, Dhamma Nirbatas, dan Sangha Nirbatas.” Dia berkata, “Ingatlah kualitas bagus dari Tiga Permata,” demikianlah setelah memaparkan ketidakterbatasan Tiga Permata, dan ingin menunjukkan kepada mereka bahwa semua makhluk adalah terbatas, dia menambahkan, “Yang terbatas dan dapat diukur adalah hewan-hewan melata, ular, kalajengking, lipan, laba-laba, kadal, tikus.” Dan dilanjutkan, “Nafsu dan keinginan yang ada di dalam hewan inilah kualitas yang menjadikan mereka terbatas dan bisa diukur, semoga kita dilindungi siang dan malam dari makhluk yang terbatas ini dengan kekuatan dari Tiga Permata, yang nirbatas. Oleh karena itu, ingatlah kualitas bagus dari Tiga Permata.” Kemudian dia mengucapkan bait berikut:—

 

Sekarang saya terlindungi dengan aman  dan dipagari sekeliling: Semua makhluk hidup janganlah menggangguku. Segala hormat kepada Yang Terberkahi kuberikan, dan terpuijlah tujuh Sammāsambuddha yang telah lewat.

 

Dan setelah meminta mereka juga mengingat tujuh Buddha ketika mereka memberikan penghormatan, Bodhisatta menggubah syair pelindung ini dan menyampaikannya kepada kelompok petapanya. Sejak saat itu, para petapa mengingat dalam hati nasihat Bodhisatta tersebut, mengembangkan cinta kasih dan niat baik, serta merenungkan kebajikan Buddha. Sewaktu mereka melakukan ini, semua ular pergi meninggalkan mereka. Bodhisatta mengembangkan kediaman murni dan mencapai alam brahma.

 

Setelah Sang Guru menyampaikan uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Para siswa Buddha adalah para pengikut petapa itu, dan guru mereka adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,