PUPPHARATTA-JĀTAKA

“Saya tidak menanggapi rasa sakit ini,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai seorang bhikkhu yang menyesal. Saat ditanya oleh Sang Guru, ia mengakui tentang kelemahannya, menjelaskan bahwa ia merindukan istrinya di masa masih merupakan perumah tangga, “Karena, Bhante,” katanya, “ia begitu manis, saya tidak bisa hidup tanpanya.”

“Bhikkhu,” kata Sang Guru, “ia berbahaya bagimu. Di kehidupan yang lampau ia merupakan penyebab engkau dipancang di kayu sula; karena meratapinya saat engkau meninggal maka engkau terlahir kembali di neraka. Mengapa sekarang engkau menginginkannya lagi?” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

___________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai dewa angin. Di Benares diselenggarakan perayaan malam Kattikā; kota dihiasi seperti sebuah kota dewa, dan semua orang libur. Di kota itu terdapat seorang lelaki miskin yang hanya mempunyai sepasang kain kasar yang telah ia cuci dan peras hingga kain-kain itu menyerupai seratus, tidak, seribu lipatan. Istrinya berkata kepadanya, “Suamiku, saya menginginkan sepotong kain dengan warna bunga kusumba untuk dipakai di bagian luar dan satu lagi untuk dipakai di bagian dalam saat saya menghadiri perayaan itu dengan tanganku yang merangkul lehermu.”

“Bagaimana orang miskin seperti kita bisa memperoleh bunga kusumba?” tanyanya. “Pakailah pakaian yang bagus dan bersih saja, dan ikutlah dalam perayaan.”

“Jika saya tidak bisa mendapatkan mereka dicelup dengan bunga kusumba, saya tidak akan pergi sama sekali,” kata istrinya. “Cari wanita lain saja untuk pergi bersamamu ke perayaan itu.”

“Mengapa engkau menyiksaku seperti ini? Bagaimana kita bisa mendapatkan bunga kusumba?”

“Jika ada keinginan, pasti ada jalan,” jawab istrinya dengan ketus. “Bukankah ada bunga kusumba di taman raja?”

“Istriku,” katanya, “taman raja itu seperti kolam yang dihuni oleh raksasa. Tidak mungkin masuk ke dalam, dengan penjagaan yang begitu ketat. Lupakan khayalan itu, dan berpuashatilah dengan apa yang engkau miliki.”

“Saat malam tiba dan telah gelap,” kata istrinya, “apa yang bisa menghentikan seorang lelaki untuk pergi ke tempat yang ia inginkan?”

Sementara ia bersikeras dengan permohonannya itu, rasa cinta membuat suaminya menyerah dan berjanji bahwa istrinya akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Dengan mengambil risiko kehilangan nyawanya sendiri, ia berjalan-jalan di kota saat malam tiba dan masuk ke dalam taman raja dengan merusak pagarnya. Suara yang ia timbulkan saat merusak pagar membangunkan para penjaga, yang segera keluar untuk menangkap pencuri. Dalam waktu singkat ia tertangkap, setelah memukul dan memakinya, mereka menempatkannya dalam kurungan. Paginya, ia dibawa ke hadapan raja, yang segera memerintahkan agar ia dipasung hidup-hidup. Ia diseret keluar, dengan kedua tangan terikat di punggungnya, dan dibawa keluar dari kota menuju tempat pelaksanaan hukuman diiringi bunyi genderang yang menandakan pelaksanaan hukuman mati, kemudian dipasung hidup-hidup. Penderitaannya sangat hebat, dan seakan untuk menambahnya, gagak-gagak hinggap di kepalanya dan mematuk matanya dengan paruh mereka yang setajam pisau. Walaupun begitu, tidak peduli pada rasa sakitnya, ia memikirkan istrinya, lelaki ini menggumam sendiri, “Aduh, saya tidak bisa pergi ke perayaan bersamamu yang memakai baju bunga kusumba, dengan tanganmu merangkul di leherku.”

Setelah berkata demikian, ia mengucapkan syair berikut ini:—

Saya tidak menanggapi rasa sakit ini,

dipasung di sini; oleh gagak, saya dicabik.

Tetapi hatiku hanya merasa sakit akan hal ini, bahwa istri saya tidak akan merayakan liburan dengan memakai pakaian celupan berwarna merah.

Saat bergumam demikian tentang istrinya, ia meninggal dunia dan terlahir kembali di neraka.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Suami istri ini adalah suami istri di masa itu, dan Saya sendiri adalah dewa angin yang membuat cerita mereka dikenal.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

KĀKA-JĀTAKA

“Kerongkongan kami telah lelah,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai sejumlah bhikkhu yang telah berusia lanjut. Saat masih menempuh kehidupan duniawi, mereka merupakan penjaga Sawatthi yang kaya dan makmur, serta saling berteman satu sama lain. Menurut kisah yang diceritakan secara turun temurun, ketika sedang melakukan perbuatan baik, mereka mendengar Sang Guru membabarkan Dhamma. Seketika itu juga mereka berseru, “Kita telah tua; untuk apa rumah dan keluarga bagi kami? Mari kita bergabung dalam Sanggha dan mengikuti ajaran Buddha yang menyenangkan untuk mengakhiri penderitaan.”

Maka mereka membagi semua harta mereka kepada anak dan keluarga mereka, dan meninggalkan kerabat mereka, yang bersedih, menemui Sang Guru agar mereka dapat diterima dalam Sanggha. Namun setelah mereka diterima, mereka tidak menjalani hidup sebagai bhikkhu, dan karena usia mereka, mereka gagal menguasai Dhamma. Sama seperti saat masih merupakan perumah tangga, setelah menjadi bhikkhu, mereka masih hidup bersama, membangun sekelompok pondok yang berdekatan di pinggir wihara. Bahkan saat berpindapata, mereka selalu menuju rumah istri dan anak mereka, dan makan di sana.

Secara khusus, semua lelaki tua ini dilimpahi dengan hadiah dari salah seorang istri mereka; di rumah itu, mereka selalu membawa apa yang mereka dapatkan dan makan di sana, dengan saus dan kari yang disediakan oleh wanita itu. Suatu penyakit telah membuat ia meninggal, dan saat para bhikkhu tua itu kembali ke wihara, mereka saling merangkul satu sama lain, menangisi kematian pemberi dana mereka, yang selalu memberikan saus-saus itu. Suara ratapan mereka membuat para bhikkhu menuju tempat itu untuk mengetahui apa yang terjadi pada mereka. Para lelaki itu itu mengatakan bahwa pemberi derma yang baik itu telah meninggal, dan mereka menangis karena mereka merasa kehilangan dan tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Terkejut melihat ketidak-pantasan itu, para bhikkhu berdiskusi di dalam Balai Kebenaran mengenai penyebab kesedihan orang-orang tua itu, dan mereka menceritakannya kepada Sang Guru, saat Beliau masuk ke dalam balai tersebut, dan bertanya apa yang sedang mereka bicarakan. “Ah, para Bhikkhu,” kata Beliau, “di kehidupan yang lampau, kematian wanita yang sama ini juga membuat mereka menangis dan meratap; pada masa itu ia adalah seekor gagak yang tenggelam ke dalam laut, dan mereka berusaha keras untuk mengosongkan air laut dengan tujuan untuk mengeluarkannya dari laut, saat ia yang bijaksana di masa itu menolong mereka.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah seorang dewa laut. Seekor gagak bersama pasangannya datang dengan tujuan mencari makanan di tepi laut dimana, baru saja, orang-orang memberikan persembahan kepada para nāga berupa susu, nasi, ikan, daging, minuman keras dan sejenisnya. Gagak dan pasangannya yang baru datang makan benda-benda persembahan itu dengan bebas, dan minum minuman keras dalam jumlah yang besar. Mereka berdua telah sangat mabuk. Kemudian mereka ingin menyenangkan diri mereka di laut, dan mencoba untuk berenang di ombak, ketika sebuah ombak besar menyapu gagak betina itu ke tengah laut, kemudian seekor ikan datang dan menelannya.

“Oh, istriku yang malang telah mati,” seru gagak itu, meledak dalam tangisan dan ratapan. Kemudian serombongan gagak lainnya yang penasaran pada suara ratapannya datang ke tempat itu untuk mengetahui apa yang menyakitinya. Ia memberi tahu mereka bagaimana istrinya terbawa oleh air laut, mereka semua mulai menangis bersama. Tiba-tiba suatu pikiran terlintas di benak mereka, bahwa mereka lebih kuat dibanding dengan laut dan apa yang harus mereka lakukan adalah mengeringkan air laut dan menolong teman mereka, dan mulai melaksanakan rencana mereka. Mengeringkan laut seteguk demi seteguk, membawa air laut ke darat. Segera saja kerongkongan mereka sakit karena air garam. Demikianlah mereka bekerja keras hingga mulut dan rahang mereka kering dan meradang, dengan mata yang semerah darah, dan hampir jatuh karena kelelahan.

Kemudian dalam keputusasaan, mereka berpaling kepada satu sama lain, dan berkata mereka telah bekerja tanpa hasil untuk mengeringkan air laut, karena begitu mereka membebaskan satu tempat dari air, lebih banyak lagi air yang mengalir masuk, dan mereka harus mengulangi pekerjaan mereka lagi; mereka tidak akan pernah berhasil menguras air keluar dari lautan. Dan, setelah mengatakan hal tersebut, mereka mengucapkan syair berikut ini:

Kerongkongan kami telah lelah; mulut kami sakit;

Namun laut malah terisi ulang lebih banyak lagi.

Kemudian semua gagak itu memuji keindahan paruh dan mata gagak betina itu; rona, bentuk tubuh dan suaranya yang lembut, berkata bahwa kesempurnaannya memancing laut mencurinya dari mereka. Namun saat mereka sedang membicarakan omong kosong itu, dewa laut muncul dengan rupa yang menyeramkan dan membuat mereka semua terbang pergi.

Dengan cara demikianlah mereka diselamatkan.

____________________

Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Istri dari bhikkhu tua ini adalah gagak betina di masa itu, suaminya adalah gagak jantan tersebut; bhikkhu tua lainnya adalah sisa gagak lainnya, dan Saya adalah dewa laut tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

RĀDHA-JĀTAKA

“Berapa malam lagi yang?” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai godaan nafsu terhadap seorang bhikkhu oleh mantan istrinya dalam kehidupan berumah tangga. Kejadian dalam cerita pembuka akan diceritakan dalam Indriya-Jātaka.

Sang Guru berkata seperti ini pada bhikkhu tersebut, “Tidak mungkin untuk menjaga seorang wanita; tidak ada pengawal yang dapat menjaga seorang wanita untuk tetap berada di jalan yang benar. Engkau sendiri di kelahiran yang lampau menemukan semua usaha perlindunganmu gagal; bagaimana engkau bisa berharap untuk lebih berhasil dalam kehidupan ini?”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai seekor burung. Seorang brahmana tertentu di Negeri Kāsi bertindak bagaikan seorang ayah bagi dirinya dan juga bagi diri saudaranya, memperlakukan mereka seperti anak-anaknya sendiri. Paṭṭhapāda adalah nama Bodhisatta, dan nama adiknya adalah Rādha.

Brahmana ini mempunyai seorang istri yang sangat jahat. Saat akan meninggalkan rumah untuk suatu urusan, ia berkata kepada kedua saudara itu, “Jika ibu kalian, istri saya, hendak berbuat jahat, hentikan dia.” “Akan kami lakukan,” jawab Bodhisatta, “jika kami mampu; namun jika kami tidak

sanggup, kami akan tetap diam.”

Setelah memercayakan istrinya di bawah penjagaan kedua burung tersebut, sang brahmana berangkat untuk melakukan urusannya. Setiap hari sejak saat itu istrinya melakukan tindakan yang tidak senonoh; barisan kekasihnya keluar masuk rumah tanpa henti. Digerakkan oleh pemandangan itu, Rādha berkata kepada Bodhisatta, “Saudaraku, bagian dari perintah ayah kita adalah untuk menghentikan tindakan tidak senonoh istrinya; sekarang ia tidak melakukan apa pun selain berbuat tidak senonoh. Mari kita hentikan dia.” “Saudaraku,” jawab Bodhisatta, “ucapanmu adalah kata-kata orang bodoh.

Engkau bisa menempatkan seorang wanita dalam genggamanmu, dan ia masih tidak aman. Maka jangan mencoba untuk melakukan hal yang tidak mungkin.” Setelah berkata demikian, ia mengucapkan syair berikut ini : —

Berapa malam lagi yang akan tersisa untukmu?

Rencanamu itu akan sia-sia, tidak berhasil sama sekali.

Tidak ada hal lain kecuali cinta seorang istri yang dapat

menghentikan nafsunya; dan cinta seorang istri adalah sungguh jarang adanya.

Dengan alasan demikian, Bodhisatta tidak mengizinkan adiknya untuk berbicara kepada istri brahmana tersebut, yang terus menerus berkeluyuran sesuka hatinya selama suaminya tidak berada di rumah. Saat kembali, brahmana itu bertanya kepada Paṭṭhapāda mengenai kelakuan istrinya, dan Bodhisatta dengan patuh menceritakan semua hal yang terjadi.

“Mengapa, Ayah,” katanya, “engkau masih mempunyai hubungan dengan wanita yang sejahat itu?” Dan ia menambahkan kata-kata berikut ini : — “Ayah, sekarang saya telah melaporkan kejahatan ibu saya, kami tidak bisa tinggal di sini lagi.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia membungkuk di kaki brahmana tersebut dan terbang pergi bersama Rādha menuju ke hutan.

____________________

Uraian tersebut berakhir, Sang Guru mengajarkan Empat Kebenaran Mulia. Di akhir khotbah, bhikkhu yang (tadinya) menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna. “Suami istri ini,” kata Sang Guru, “adalah suami istri di masa itu, Ānanda adalah Rādha, dan Saya sendiri adalah Paṭṭhapāda.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

NAṄGUṬṬHA-JĀTAKA

“Jātaveda yang keji,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai pertapaan salah dari para ājīvaka, atau petapa telanjang.

Menurut kisah yang diceritakan secara turun temurun, di belakang Jetawana mereka selalu melatih pertapaan yang salah. Sejumlah bhikkhu melihat mereka berjongkok pada tumit mereka dengan penuh kesakitan, berayun di udara seperti kelelawar, berbaring di atas duri, membakar diri mereka dengan lima kobaran api dan seterusnya dalam keanekaragaman pertapaan salah mereka, — tergerak untuk bertanya pada Sang Guru apakah tindakan itu dapat memberikan hasil yang baik.

“Sama sekali tidak,” jawab Sang Guru. “Di kehidupan yang lampau, mereka yang bijaksana dan penuh kebajikan masuk ke dalam hutan dengan membawa api kelahiran mereka, berpikir untuk mendapatkan sesuatu dari cara yang keras tersebut; namun menemukan diri mereka tidak lebih baik setelah semua pengorbanan yang telah diberikan pada api tersebut, dan pada semua praktik yang sejenisnya, langsung menyiram api kelahiran tersebut dengan air hingga padam. Dengan melakukan meditasi, kemampuan batin luar biasa dan pencapaian (meditasi) dapat diperoleh dan akan mendapatkan kesempatan untuk terlahir kembali di alam brahma.” Setelah mengucapkan itu, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

_____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai seorang brahmana di Negeri Utara, dan pada hari kelahirannya orang tuanya menyalakan sebuah api kelahiran untuknya.

Saat ia berusia enam belas tahun, mereka berkata kepadanya, “Nak, pada hari kelahiranmu kami menyalakan sebuah api kelahiran untukmu. Sekarang, engkau harus memilih. Jika engkau ingin menjalani hidup berkeluarga, pelajari tiga weda, namun jika engkau ingin mencapai alam brahma, bawa apimu bersamamu ke dalam hutan dan jaga baik-baik, hingga mendapatkan perhatian para mahabrahma, dan setelah meninggal akan masuk ke alam brahma.”

Memberitahu orang tuanya bahwa hidup berkeluarga tidak menarik baginya, ia masuk ke dalam hutan dan tinggal di sebuah pertapaan untuk menjaga apinya. Seekor sapi jantan diberikan kepadanya sebagai bayaran di sebuah pinggiran desa pada suatu hari, setelah membawa sapi tersebut pulang ke tempat pertapaannya, terlintas dalam pikirannya untuk mempersembahkan seekor sapi kepada dewa api. Namun mendapatkan ia tidak mempunyai persediaan garam, dan merasa bahwa dewa api tidak dapat menyantap daging persembahannya tanpa garam, ia memutuskan untuk pergi dan membawa sedikit persediaan dari desa untuk tujuan tersebut. Maka ia mengikat sapi jantan itu dan kembali ke desa.

Saat ia pergi, satu rombongan pemburu datang, melihat sapi itu, mereka membunuh dan memasaknya untuk dijadikan makan malam mereka. Apa yang tidak mereka makan dibawa pergi oleh mereka, hanya meninggalkan ekor, kulit dan tulang kering. Menemukan sisa-sisa yang menyedihkan itu saat kembali, brahmana tersebut berseru, “Jika dewa api ini tidak mampu menjaga miliknya sendiri, bagaimana mungkin ia bisa menjaga saya? Melayani dia hanya akan menghabiskan waktu, tidak membawa kebaikan maupun keuntungan.” Kehilangan minatnya untuk memuja dewa api, ia berkata, “Dewa api, jika engkau tidak bisa menjaga dirimu sendiri, bagaimana engkau bisa menjaga saya? Daging telah habis, sebagai gantinya engkau harus menyantap sampah ini.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia melemparkan ekor dan sisa-sisa yang ditinggalkan oleh para perampok itu ke dalam api, dan mengucapkan syair berikut ini : —

Jātaveda yang keji, ini ekor untukmu;

Dan ingatlah bahwa engkau cukup beruntung untuk

mendapatkan sebanyak itu!

Daging yang terbaik telah habis;

tahanlah dengan ekor hari ini!

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, makhluk yang agung itu memadamkan api dengan air dan berangkat untuk menjadi seorang petapa. Ia memperoleh kemapuan batin luar biasa dan pencapaian meditasi, dan akan terlahir kembali di alam brahma.

____________________

Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Saya adalah petapa yang memadamkan api di masa itu.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

VIROCANA-JĀTAKA

“Mayatmu yang rusak,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana, mengenai usaha Devadatta agar diakui sebagai seorang Buddha di Gayāsīsa. Ketika (keadaan) jhananya menghilang dan ia kehilangan kehormatan dan perolehan yang dulunya merupakan miliknya, dalam kebingungannya, ia meminta Sang Guru untuk menerapkan lima objek kepadanya. Permintaannya ditolak dan ia membuat perpecahan dalam Sanggha dan pergi ke Gayāsīsa bersama lima ratus orang brahmana muda, murid dari kedua siswa utama Sang Buddha, yang masih belum memahami Dhamma dan Vinaya. Dengan pengikut seperti itulah ia melakukan tindakan memecah belah Sanggha yang terkumpul dalam daerah yang sama. Mengetahui dengan baik kapan pengetahuan para brahmana muda ini matang, Sang Guru mengirim kedua thera tersebut kepada mereka. Melihat hal ini, Devadatta dengan gembira menguraikan hingga jauh malam dengan (seperti ia memuji dirinya sendiri) kekuatan yang mengagumkan dari seorang Buddha. Kemudian dengan gaya seorang Buddha ia berkata, “Kumpulan bhikkhu ini, Awuso Sāriputta, masih tetap siaga dan terjaga. Maukah engkau bermurah hati memikirkan beberapa khotbah Dhamma untuk disampaikan kepada mereka? Punggung saya sakit karena kerja keras dan saya harus mengistirahatkannya sejenak.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia pergi untuk berbaring.

Kemudian kedua siswa utama itu mengajari para bhikkhu, memberi penerangan pada mereka tentang magga dan phala, sehingga pada akhirnya mereka berdua mampu membuat semua bhikkhu itu kembali bersama mereka ke Weluwana. Melihat tidak ada satu pun bhikkhu di wihara, Kokālika mencari Devadatta dan memberitahunya bagaimana kedua siswa utama itu telah membubarkan para pengikutnya, dan telah meninggalkan wihara dalam keadaan kosong; “Dan engkau masih terbaring tidur di sini,” katanya. Setelah mengucapkan kata-kata tersebut ia melepaskan jubah luar Devadatta dan menendang dadanya dengan sedikit penyesalan seakan ia telah mengetuk sebuah pasak pada dinding yang berlumut. Kemudian darah keluar dari mulut Devadatta, dan sejak saat itu hingga seterusnya ia menderita akibat pukulan itu.

Sang Guru bertanya kepada Sāriputta, “Apa yang dilakukan Devadatta saat engkau tiba di sana?” Sāriputta menjawab bahwa, walaupun bergaya sebagai seorang Buddha, keburukan tetap menimpa dirinya. Sang Guru berkata, “Sama seperti sekarang ini, Sāriputta, di kehidupan yang lampau Devadatta juga meniru diri-Ku hingga ia sendiri yang terluka.”

Setelah itu, atas permohonan thera tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah seekor singa jantan yang menetap di Gua Emas di Pegunungan Himalaya. Suatu hari ia meloncat turun dari sarangnya, melihat ke utara dan barat, selatan dan timur, dan mengaum dengan kuat saat ia mencari mangsa. Kemudian ia membunuh seekor kerbau yang besar, melahap bagian yang terbaik dari bangkai itu, setelah itu, ia turun ke sebuah kolam, minum air kolam yang bening itu sepuasnya sebelum kembali ke gua. Seekor serigala yang sedang kelaparan, tiba-tiba berpapasan dengan singa itu, tidak bisa menghindar lagi, ia menjatuhkan diri di kaki singa itu. Ketika ditanya apa yang ia inginkan, serigala itu menjawab, “Tuan, jadikan saya pelayanmu.” “Baiklah,” kata singa, “layani saya dan engkau akan mendapatkan daging yang terbaik.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, dengan diikuti oleh serigala itu, ia kembali ke Gua Emas. Sejak saat itu, singa selalu menyisakan bagian untuk serigala dan serigala itu menjadi semakin gemuk.

Suatu hari, berbaring di guanya, singa menyuruh serigala untuk mengamati lembah itu dari puncak gunung, melihat apakah ada gajah, kuda atau kerbau di sekitar sana, maupun hewan-hewan lainnya yang disukai oleh serigala itu. Jika ada yang terlihat, serigala harus melaporkannya dan berkata dengan penuh hormat, “Teruslah bersinar dalam kemuliaanmu, Paduka.”

Kemudian singa itu berjanji untuk membunuh dan menyantapnya, dengan memberikan sebagian kepada serigala itu. Maka serigala itu memanjat ke tempat yang tinggi, saat ia melihat hewan yang sesuai dengan seleranya, ia akan melaporkannya kepada singa tersebut, menjatuhkan diri di kakinya, berkata, “Teruslah bersinar dalam kemuliaanmu, Paduka.” Singa itu dengan gesit melompat keluar dan membunuh makhluk tersebut, meskipun itu adalah seekor gajah, dan membagi bagian yang terbaik dari bangkai itu untuk serigala tersebut. Setelah makan hingga kenyang, serigala itu akan pergi ke sarangnya dan tidur.

Dengan berlalunya waktu, serigala itu menjadi semakin gemuk dan gemuk, hingga ia menjadi lupa diri. “Bukankah saya juga mempunyai empat buah kaki?” ia berkata pada dirinya sendiri, “Mengapa saya menjadi pensiunan yang menerima hadiah dari hari ke hari? Mulai sekarang, saya yang akan membunuh gajah dan hewan buas lainnya, sebagai makanan saya sendiri. Singa, raja hewan buas, bisa membunuh mereka hanya karena mantra ‘Teruslah bersinar dalam kemuliaanmu, Paduka.’ Saya akan membuat singa memanggil saya, ‘Teruslah bersinar dalam kemuliaanmu, Serigala,’ dan saya akan membunuh seekor gajah untuk diriku sendiri.” Karenanya, ia mencari singa tersebut, menyatakan ia telah lama hidup dari apa yang dibunuh oleh Singa, menyatakan keinginannya untuk makan seekor gajah yang ia bunuh sendiri, diakhiri dengan sebuah permohonan kepada singa itu untuk membiarkan dia mengambil tempat di sudut yang ditempati oleh singa di Gua Emas, sementara singa mendaki gunung tersebut untuk mencari gajah. Setelah mendapatkan buruannya, ia meminta singa untuk datang menemuinya di goa tersebut dan berkata, ‘Teruslah bersinar dalam kemuliaanmu, Serigala.’ Ia memohon singa itu agar jangan begitu iri padanya. Singa berkata, “Serigala, hanya singa yang mampu membunuh gajah, di dunia ini, tidak pernah ada yang melihat seekor serigala menundukkan mereka.

Hentikan khayalan ini, dan teruslah makan apa yang saya mangsa.” Namun, apa pun yang dikatakan oleh singa, serigala itu tidak mau menyerah, dan terus mendesak dengan permohonannya. Maka akhirnya singa itu menyerah, meminta serigala itu menempati guanya, memanjat ke puncak dan mengamati seekor gajah di sana. Kembali ke mulut gua, ia berkata, “Teruslah bersinar dalam kemuliaanmu, Serigala.”

Kemudian dari Gua Emas, serigala itu dengan gesit melompat keluar, mencari berkeliling pada empat penjuru, dan melolong sebanyak tiga kali, kemudian menerjang ke arah gajah itu, bertujuan untuk mengunci kepalanya, namun sasarannya meleset, ia mendarat di kaki gajah tersebut. Makhluk yang marah itu mengangkat kaki kanannya dan menghantam kepala serigala tersebut. Ia menginjak tulang-tulangnya hingga menjadi tepung, kemudian memukuli bangkainya menjadi satu tumpukan, dan membuang kotoran di atasnya. Setelah itu gajah tersebut berlari masuk ke dalam hutan. Melihat semua ini, Bodhisatta berkata, “Sekarang, teruslah bersinar dalam kemuliaanmu, Serigala.” Dan mengucapkan syair berikut ini: —

Mayatmu yang rusak, otak yang hancur menjadi tepung,

Menunjukkan bagaimana engkau terus bersinar dalam kemuliaanmu hari ini.

Demikianlah yang diucapkan oleh Bodhisatta, dan hidup hingga usia tua sebelum ia meninggal dunia dalam waktu yang sempurna untuk terlahir kembali di alam bahagia sesuai dengan hasil perbuatannya.

___________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Devadatta adalah serigala di masa itu, dan Saya adalah singa.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

SIGĀLA-JĀTAKA

“Engkau mengencangkan pegangan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana, mengenai percobaan Devadatta membunuh Beliau. Mendengar percakapan para bhikkhu mengenai hal itu di Balai Kebenaran, Sang Guru berkata bahwa sama seperti tindakan Devadatta sekarang, Devadatta juga melakukan hal yang sama di kehidupan yang lampau, namun tetap gagal — karena rasa sakitnya yang menyedihkan — mencapai tujuan jahatnya.

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor serigala, dan menetap di sebuah pemakaman bersama rombongan besar pengikutnya dimana ia merupakan raja mereka. Pada masa itu sebuah perayaan diselenggarakan di Rājagaha, dan itu adalah sebuah perayaan yang dipenuhi dengan minuman keras, dimana semua orang minum habis-habisan. Sebuah buntelan para penjahat dipenuhi oleh makanan dan minuman dalam jumlah besar, dengan memakai pakaian terbaik, mereka bernyanyi dan bersuka ria hingga kekenyangan. Saat tengah malam, semua makanan telah habis, sementara minuman keras masih tersisa. Kemudian salah seorang dari mereka meminta daging, dan diberitahu bahwa daging telah habis. Orang tersebut berkata, “Makanan tidak pernah habis jika ada saya. Saya akan pergi ke pemakaman, membunuh seekor serigala yang sedang berkeliaran untuk mencari mayat, dan kembali dengan membawa daging.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut ia menarik sebuah tongkat pemukul dan pergi ke luar kota melalui selokan ke tempat itu, tempat dimana ia berbaring, memegang pemukul di tangan, berpura-pura mati. Setelah beberapa saat, diikuti oleh serigala-serigala yang lain, Bodhisatta muncul dan melihat mayat palsu itu. Mencurigai tipuan itu, ia memutuskan untuk menyelidiki hal itu. Maka ia berputar ke bagian yang terlindung dan mengetahui dari aromanya bahwa orang tersebut belum mati.

Memutuskan untuk membuat lelaki itu terlihat bodoh sebelum ia meninggalkannya, Bodhisatta mendekat dengan diam-diam dan menarik pemukul itu dengan giginya dan menyentaknya.

Penjahat itu tidak melepaskan tongkat pemukulnya. Tidak merasakan kedatangan Bodhisatta, ia mengencangkan pegangannya. Saat itu, Bodhisatta mundur satu dua langkah, berkata, “Orang baik, jika engkau telah mati, engkau tidak akan mengencangkan peganganmu pada pemukul itu saat saya menariknya, tindakan itu telah mengkhianati dirimu.” Setelah berkata demikian, ia mengucapkan syair berikut ini:

Engkau mengencangkan pegangan pada pemukul yang

engkau perlihatkan dengan bodohnya;

Engkau penipu yang buruk — engkau bukanlah mayat,

saya meragukannya.

Mengetahui ia telah ketahuan, penjahat itu melompat bangun dan melemparkan pemukulnya kepada Bodhisatta, namun luput. “Pergilah, engkau makhluk yang kasar,” katanya, “saya melepaskanmu kali ini.” Berputar kembali, Bodhisatta berkata, “Benar, lemparanmu luput, namun yakinlah bahwa engkau tidak akan luput dari siksaan delapan neraka besar

(mahāniraya) dan enam belas neraka kecil (ussadaniraya).”

Dengan tangan kosong, sang penjahat meninggalkan pemakaman itu dan setelah mandi di sebuah parit, ia kembali ke kota dengan cara yang sama seperti cara ia masuk.

___________________

Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Devadatta adalah penjahat di masa itu, dan Saya adalah raja serigala.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

GODHA-JĀTAKA

“Teman yang jahat,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana mengenai seorang bhikkhu yang berkhianat. Cerita pembukanya sama dengan apa yang diceritakan dalam Mahilā-Mukha- Jātaka.

___________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai seekor kadal. Setelah dewasa, ia menetap di sebuah lubang besar di tepi sungai dengan para pengikutnya, berupa ratusan ekor kadal lainnya.

Bodhisatta mempunyai seorang anak, seekor kadal muda, yang berteman baik dengan seekor bunglon; mereka selalu bermain bersama dan saling merangkul. Kedekatan ini dilaporkan kepada sang raja kadal, ia meminta anaknya menghadap dan mengatakan persahabatan seperti itu adalah salah, karena bangsa bunglon adalah makhluk yang akhlaknya rendah, jika kedekatan seperti itu terus berlangsung, malapetaka akan menimpa seluruh kadal. Ia memerintahkan putranya untuk tidak berhubungan lagi dengan bunglon tersebut. Namun anaknya tetap melanjutkan kedekatan itu. Lagi dan lagi Bodhisatta berbicara dengan putranya, melihat kata-katanya tidak bermanfaat dan meramalkan bahaya yang akan dialami oleh para kadal karena bunglon itu, ia menggali sebuah jalan keluar di salah satu sisi lubang mereka, sehingga ada satu jalan untuk merlarikan diri pada saat dibutuhkan.

Waktu terus berlalu, kadal muda itu tumbuh besar sementara bunglon itu tidak bertambah besar lagi. Dan rangkulan yang erat dari kadal itu malah menimbulkan rasa sakit, sehingga bunglon itu meramalkan kematian akan menimpanya jika mereka tetap bersama beberapa hari lagi, maka ia memutuskan untuk bekerja sama dengan seorang pemburu untuk menghancurkan seluruh kadal tersebut.

Suatu hari di musim panas, semut-semut keluar dari sarang mereka setelah hujan badai reda, dan kadal-kadal itu berlari dengan cepat kesana kemari untuk menangkap dan memangsa mereka. Pada masa itu datanglah seorang penangkap kadal ke dalam hutan dengan membawa sekop dan anjing-anjing untuk menggali keluar kadal-kadal itu; bunglon itu memikirkan tentang hasil tangkapan yang bisa diberikannya kepada penangkap itu. Ia menemui orang itu, dan, berdiri di hadapannya, bertanya mengapa ia berada di hutan. “Untuk menangkap kadal,” jawabnya. “Baiklah, saya mengetahui sebuah lubang, tempat tinggalnya ratusan ekor kadal,” kata bunglon itu; “bawa api dan ranting kayu, dan ikutilah saya.” Ia membawa orang itu ke tempat tinggal para kadal. “Sekarang,” kata bunglon itu, “tempatkan kayu bakarmu di sini dan asapi hingga kadal-kadal itu keluar dari sarang mereka. Di saat yang sama, biarkan anjing-anjingmu untuk berjaga-jaga di sekitar tempat ini dan ambillah sebatang tongkat yang besar di tanganmu, kemudian saat kadal-kadal itu berhamburan keluar, jatuhkan mereka dan tumpukkan hasil buruanmu.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, bunglon pengkhianat itu mundur ke suatu tempat di dekat sana, dimana ia bertengger, dengan kepala tegak, berkata pada dirinya sendiri, — “Hari ini saya akan melihat musuh saya kalah habis-habisan.”

Penangkap itu mulai membuat asap agar kadal-kadal keluar; Kekhawatiran akan keselamatan diri membuat mereka berhamburan keluar dalam keadaan kacau balau dari sarang mereka. Begitu mereka keluar, penangkap itu menghantam kepala mereka, dan jika ia melewatkan mereka, mereka akan menjadi mangsa anjing-anjingnya. Maka terjadilah pembunuhan besar-besaran terhadap para kadal. Menyadari ini adalah ulah bonglon itu, Bodhisatta berseru, “Seseorang tidak boleh berteman dengan mereka yang jahat, karena persahabatan seperti itu hanya akan membawa penderitaan bagi kelompok mereka. Seekor bunglon yang jahat telah membawa kutukan bagi seluruh kadal.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia melarikan diri melalui jalan keluar yang telah dipersiapkannya, mengucapkan syair berikut ini : —

Teman yang jahat tidak pernah membawa akhir yang

baik; hanya melalui persahabatan dengan seekor

bunglon saja, seluruh kawanan kadal menemui ajal mereka.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Devadatta adalah bunglon di masa itu; bhikkhu yang berkhianat ini adalah kadal muda yang tidak patuh, putra dari Bodhisatta, dan Saya sendiri adalah raja kadal.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

KĀKA-JĀTAKA

“Dalam ketakutan tanpa henti,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru mengenai seorang penasihat yang bijaksana. Kejadian-kejadiannya akan diceritakan pada Buku Kedua Belas, berhubungan dengan Bhaddasāla-Jātaka.

__________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai seekor burung gagak. Suatu hari pendeta kerajaan meninggalkan istana menuju ke sungai, mandi, mengharumkan diri dan memasang untaian bunga pada dirinya, memakai perhiasan yang mencolok dan kembali ke kota.

Di bagian bawah atap gerbang kota yang melengkung, duduklah dua ekor burung gagak; seekor gagak berkata kepada temannya, “Saya ingin membuang kotoran di kepala brahmana ini.” “Oh, jangan lakukan hal itu,” kata gagak yang satunya, “karena brahmana ini adalah orang yang mulia, akan merupakan hal yang buruk untuk menimbulkan rasa benci pada orang yang mulia. Jika engkau membuat ia marah, engkau bisa menghancurkan seluruh bangsa kita.” “Saya benar-benar harus,” jawab burung pertama. “Baiklah, engkau pasti akan didapatkannya,” kata gagak yang satunya lagi dan segera terbang pergi. Saat brahmana itu berada tepat di bawah tempat itu, kotoran jatuh menimpanya seperti gagak itu sedang menjatuhkan rangkaian bunga. Sejak itu, brahmana yang merasa murka tersebut membenci semua burung gagak.

Di tempat yang lain, seorang pelayan wanita sedang bertugas di lumbung padi, menyebarkan padi untuk dijemur dekat pintu lumbung tersebut, dan sedang duduk di sana untuk mengawasinya, saat ia akhirnya tertidur. Pada saat itu muncul seekor kambing yang berbulu kasar dan mulai makan padi-padi itu hingga akhirnya gadis itu terbangun dan mengusirnya pergi.

Dua hingga tiga kali kambing itu kembali saat gadis itu jatuh tertidur, dan menyantap padi-padi tersebut. Maka setelah mengusir makhluk itu pergi untuk yang ketiga kalinya, ia berpikir bahwa kedatangan kambing secara terus menerus akan menghabiskan setengah simpanan padinya, dan tindakan itu harus dilakukan untuk menakuti-nakuti hewan tersebut demi kebaikan dan demi menyelamatkannya dari kerugian besar.

Maka ia mengambil sebuah obor yang sedang menyala, dan duduk menunggu, berpura-pura tertidur seperti biasanya. Saat kambing itu sedang makan, tiba-tiba ia melompat bangun dan memukul bagian ekor kambing dengan bulu yang kasar itu dengan obornya. Seketika itu juga kulit kambing itu dipenuhi oleh kobaran api, dan untuk menghentikan rasa sakitnya, kambing itu berlari ke dalam gudang jerami yang berada di dekat kandang gajah, dan bergulingan di atas jerami. Maka lumbung itu dilahap

api, dan kobaran api menyebar hingga ke kandang-kandang itu.

Begitu kandang-kandang itu terbakar, gajah-gajah mulai mengalami penderitaan dan banyak dari gajah-gajah itu yang terbakar parah, di luar kemampuan dokter gajah untuk mengobati mereka. Ketika hal ini dilaporkan pada raja, ia bertanya kepada pendeta kerajaan apakah ia mengetahui apa yang bisa mengobati gajah-gajah ini. “Tentu saya tahu, Paduka,” jawab pendeta tersebut, dan saat dimintai penjelasan, ia berkata obat ajaibnya adalah lemak burung gagak. Raja memerintahkan agar gagak-gagak dibunuh dan lemak mereka diambil. Sejak saat itu, pembunuhan besar-besaran menimpa burung gagak, namun tidak pernah ada lemak yang ditemukan pada mereka.

Sementara orang-orang terus melakukan pembunuhan hingga bangkai gagak menumpuk dimana-mana. Ketakutan besar melingkupi bangsa gagak. Pada saat itu Bodhisatta menetap di sebuah pemakaman besar, sebagai pemimpin dari delapan puluh ribu ekor gagak. Salah seekor dari mereka membawa berita ini padanya, menceritakan tentang ketakutan yang melanda para gagak. Dan Bodhisatta mengetahui tidak ada yang bisa mencoba menyelesaikan hal itu selain dirinya, memutuskan untuk membebaskan bangsanya dari ketakutan besar mereka. Merenungkan Sepuluh Kesempurnaan, dan dari sana, menetapkan Cinta Kasih sebagai pegangannya, ia terbang tanpa henti menuju istana raja dan masuk melalui jendela yang terbuka, dan hinggap di kolong singgasana raja. Seorang pelayan langsung berusaha untuk menangkap burung tersebut, namun raja yang masuk ke dalam ruangan melarangnya.

Memulihkan diri sejenak, makhluk yang agung itu mengingat pada cinta kasih, keluar dari singgasana raja dan berbicara seperti ini kepada Raja, “Paduka, seorang raja seharusnya mengingat pepatah bahwa raja tidak boleh digerakkan oleh hasrat dan nafsu jahat lainnya dalam menjalankan kerajaan mereka. Sebelum bertindak, terlebih dahulu harus menguji dan mengetahui keseluruhan masalah itu, dan kemudian, hanya melakukan apa yang bermanfaat. Jika raja melakukan apa yang tidak bermanfaat, mereka memenuhi ratusan makhluk dengan rasa takut yang hebat, termasuk ketakutan terhadap kematian. Dan dalam memberikan resep berupa lemak burung gagak, pendetamu hanya menyarankannya demi membalas dendam melalui kebohongan; karena gagak tidak mempunyai lemak.”

Dengan kata-kata tersebutlah ia memenangkan hati raja, dan ia meminta agar Bodhisatta ditempatkan di sebuah singgasana emas dan diberi upacara pemercikan di bagian sayapnya dengan minyak pilihan dan dijamu dengan daging dan minuman yang dipersiapkan untuk raja sendiri dalam wadah emas. Setelah makhluk agung itu makan dan telah rileks, raja berkata, “Guru, engkau mengatakan bahwa gagak tidak mempunyai lemak. Mengapa mereka bisa tidak mempunyai lemak?”

“Karena ini,” jawab Bodhisatta dengan suara yang memenuhi seluruh istana, ia mengucapkan kebenaran dalam syair berikut ini : —

Dalam ketakutan tanpa henti,

atas permusuhan dari seluruh umat manusia,

hidup mereka lalui;

karena itulah gagak tidak memiliki lemak.

Setelah memberi penjelasan tersebut, makhluk yang agung itu mengajari raja dengan berkata, “Paduka, raja tidak boleh bertindak tanpa menguji dan mengetahui keseluruhan permasalahan.” Merasa senang, raja memberikan kerajaannya kepada Bodhisatta, namun Bodhisatta mengembalikannya kepada raja, yang menerima lima sila darinya, ia juga memohon pada raja untuk melindungi semua makhluk hidup dari bencana. Dan raja yang terharu oleh kata-kata tersebut, memberikan kekebalan pada semua makhluk hidup, dan dalam kenyataannya ia terus menerus memberikan hadiah yang berlimpah pada bangsa gagak. Setiap hari ia membuat enam gantang berisikan nasi yang dimasak untuk mereka dengan rasa yang lezat, dan semua itu diberikan kepada gagak. Untuk Bodhisatta sendiri, tersedia makanan seperti apa yang dimakan oleh raja sendiri.

__________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Ānanda adalah Raja Benares di masa itu, dan Saya sendiri adalah raja gagak itu.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

UBHATOBHAṬṬHA-JĀTAKA

“Kebutaan suami dan pukulan pada istri,” dan seterusnya.

Kisah ini, diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana, mengenai Devadatta. Kami mendengar bahwa para bhikkhu berkumpul di Balai Kebenaran, saling berbicara, mengatakan bahwa walaupun sebuah obor dari onggokan kayu bakar, hangus pada kedua ujungnya dan penuh kotoran di bagian tengah, tidak bisa berfungsi seperti kayu, baik yang berada di hutan maupun di tungku desa, demikian juga dengan Devadatta yang meninggalkan keduniawian untuk mengikuti ajaran yang berharga ini, hanya untuk mendapatkan kekurangan ganda dan kegagalan, melihat ia kehilangan kenyamanan hidup sebagai perumah tangga dan gagal atas tugasnya sebagai seorang bhikkhu.

Masuk ke dalam Balai Kebenaran, Sang Guru bertanya dan diberitahu mengenai apa yang sedang dibicarakan bersama oleh mereka. “Ya, para Bhikkhu,” kata Beliau, “demikian juga di kehidupan yang lampau, Devadatta mengalami kegagalan ganda lain yang sejenis.” Setelah mengatakan hal itu, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

___________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai dewa pohon, dan di sana terdapat sebuah desa tertentu yang merupakan tempat tinggal para penangkap ikan yang memakai pancing. Salah seorang pemancing ini membawa alat pancingnya dan pergi bersama putranya yang masih kecil, melemparkan kailnya ke dalam air yang paling memungkinkan bagi para pemancing. Sebuah lubang disangkuti oleh kailnya dan pemancing itu tidak dapat menariknya ke atas. “Betapa hebatnya ikan ini!” pikirnya, “lebih baik saya menyuruh putra saya pulang menemui istri saya dan memintanya memulai pertengkaran untuk menjauhkan orang lain dari rumah, sehingga tidak ada orang yang akan ikut ambil bagian atas berkah ini.” Karena itu ia meminta anak yang masih kecil itu untuk berlari pulang dan mengatakan pada ibunya betapa besarnya ikan yang terpancing, dan bagaimana ia harus mengalihkan perhatian tetangganya. Kemudian, merasa takut pancingnya putus, ia melepaskan mantelnya dan terjun ke dalam air untuk mengamankan hadiahnya. Namun saat mencari-cari ikan tersebut, ia menerjang lubang itu dan melukai kedua matanya. Lebih jauh lagi, seorang pencuri mengambil pakaiannya dari pinggir sungai. Dalam penderitaan atas rasa sakit itu, dengan kedua tangan menekan matanya yang telah buta, ia memanjat naik dengan keadaan gemetaran dan berusaha untuk menemukan pakaiannya.

Sementara itu istrinya, bermaksud memanfaatkan tetangganya untuk memulai pertengkaran, telah mendandani dirinya dengan sehelai daun lontar di belakang satu telinganya, dan menghitamkan sebelah matanya dengan jelaga dari sebuah wajan. Dalam samaran ini, dengan merawat seekor anjing ia keluar untuk menemui tetangganya. “Astaga, engkau telah gila,” kata seorang wanita kepadanya. “Saya tidak gila sama sekali,” jawabnya dengan ketus; “engkau memaki saya tanpa sebab dengan lidahmu yang penuh fitnah. Pergilah bersama saya menemui kepala desa dan saya akan membuatmu didenda sebesar delapan keping oleh fitnahmu itu.”

Dengan kata-kata yang penuh amarah, mereka menemui kepala desa. Namun saat permasalahan itu ditelusuri, istri pemancing itu yang didenda; ia diikat dan dipukul untuk membayar denda tersebut. Ketika dewa pohon itu melihat kemalangan yang menimpa baik pada istri di desa maupun suami di hutan, ia berdiri di cabang pohonnya dan berseru, “Ah, pemancing ikan, baik di air maupun di darat, mereka kesakitan, dan kegagalan mereka adalah dua kali lipat.” Setelah berkata demikian, ia mengucapkan syair berikut ini: —

Kebutaan pada suami dan pukulan pada istri,

dengan jelas menunjukkan kegagalan ganda

dan kesengsaraan ganda.

___________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran itu dengan berkata, “Devadatta adalah pemancing di masa itu dan Saya adalah dewa pohon tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

GODHA-JĀTAKA

“Dengan rambut kusut,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai

bhikkhu yang menipu. Kejadian ini serupa dengan yang diceritakan pada kisah sebelumnya.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor kadal; dan di sebuah gubuk dekat sebuah desa di perbatasan tinggallah seorang petapa yang sangat berpegang teguh pada peraturan, yang memiliki lima kemampuan batin luar biasa, dan diperlakukan dengan penuh hormat oleh para penduduk. Dalam sebuah sarang semut di ujung jalan tempat petapa tersebut berjalan hilir mudik, tinggallah Bodhisatta, dan dua hingga tiga kali setiap harinya ia akan menemui petapa tersebut untuk mendengar kata-katanya yang mendidik dan penuh makna. Kemudian, dengan penuh penghormatan terhadap orang baik tersebut, Bodhisatta akan kembali ke tempat tinggalnya sendiri. Pada suatu waktu, petapa tersebut menyampaikan perpisahan kepada para penduduk dan meninggalkan tempat tersebut. Sebagai penggantinya, datanglah seorang petapa lain, orang yang jahat, untuk menetap di pertapaan tersebut. Mengira pendatang baru tersebut juga orang suci, Bodhisatta menunjukkan perlakuan yang sama padanya seperti pada petapa sebelumnya. Suatu hari, sebuah badai yang tak terduga terjadi di musim kering, membuat semut-semut keluar dari sarang mereka, dan kadal-kadal yang berdatangan untuk memangsa mereka, ditangkap dalam jumlah besar oleh para penduduk; dan beberapa disajikan dengan cuka dan

gula untuk dimakan oleh petapa tersebut. Merasa senang dengan hidangan yang lezat itu, ia bertanya makanan apa itu, dan mengetahui bahwa itu adalah daging kadal. Kemudian terbayang olehnya bahwa ia mempunyai tetangga berupa seekor kadal yang baik, dan memutuskan untuk menyantapnya.

Karenanya, ia menyediakan panci masak dan bumbu untuk disajikan dengan kadal tersebut, dan duduk di pintu gubuknya dengan sebuah palu tersimpan di balik jubahnya, menunggu kedatangan Bodhisatta, dengan suasana yang sengaja dibuat penuh kedamaian. Di sore hari Bodhisatta datang, dan saat mendekat, ia melihat petapa itu tidak terlihat seperti biasanya, namun memberi pandangan padanya yang memperlihatkan niat kurang baik. Mengendus angin yang behembus ke arahnya dari tempat petapa tersebut, Bodhisatta mencium bau daging kadal, seketika itu juga menyadari bagaimana rasa kadal telah membuat petapa tersebut ingin membunuhnya dengan sebuah palu dan menyantapnya. Maka ia kembali ke rumahnya tanpa mengunjungi petapa tersebut. Melihat Bodhisatta tidak datang, petapa tersebut menilai kadal itu pasti telah meramalkan tentang rencananya, namun merasa heran bagaimana ia bisa mengetahuinya. Memutuskan bahwa kadal itu tidak boleh lolos, ia menarik keluar palu dan melemparkannya, namun hanya mengenai ujung ekor kadal tersebut. Kabur secepat kilat, Bodhisatta menghambur masuk ke dalam bentengnya, mengeluarkan kepalanya di lubang yang berbeda dengan lubang dimasuki olehnya, berseru, “Orang munafik yang jahat, pakaian yang penuh kesucian membuat saya memercayaimu, namun, sekarang saya mengetahui sifat dasarmu yang jahat. Apa yang dilakukan penjahat seperti dirimu dalam jubah petapa?” Mencela petapa palsu tersebut, Bodhisatta mengucapkan syair berikut:—

Dengan rambut kusut dan pakaian dari kulit kayu,

mengapa menipu (orang) dengan kesucian petapa?

Orang yang suci tanpa hati mereka di dalamnya,

dipenuhi oleh kekotoran yang keji.

Dengan cara demikian Bodhisatta membongkar kejahatan petapa tersebut, kemudian ia kembali ke sarang semutnya, dan petapa jahat itu meninggalkan tempat tersebut.

____________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Orang munafik ini adalah petapa jahat di masa itu, Sāriputta adalah petapa baik yang tinggal di pertapaan tersebut sebelum kedatangannya, dan Saya sendiri adalah kadal tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.