KHANTI-VAṆṆANA-JĀTAKA

“Ada seorang laki-laki,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang Raja Kosala. Seorang bawahan yang sangat berguna berselingkuh di tempat kediaman selir. Meskipun tahu orang yang melakukan kejahatan tersebut, raja merahasiakan penghinaan itu, karena orang tersebut sangat berguna, dan raja menceritakannya kepada Sang Guru. Sang Guru berkata, “Raja lain di masa lampau telah melakukan hal yang sama;” dan atas permintaannya, Beliau menceritakan kisah berikut.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, seorang bawahan di istananya terlibat perselingkuhan di tempat kediaman selir, dan seorang pembantu dari pejabat istana tersebut melakukan hal yang sama di rumahnya. Pejabat istana tersebut tidak dapat menahan penghinaan yang demikian. Jadi dia membawa pembantunya itu ke hadapan raja, sambil berkata, “Rajaku, saya mempunyai seorang pelayan yang melakukan semua pekerjaan dengan baik, dan dia membuat saya menjadi seorang suami yang istrinya menyeleweng; apa yang harus saya lakukan kepadanya?” Dan dengan pertanyaan ini, dia mengucapkan bait pertama berikut:

 

Ada seorang laki-laki di rumahku, seorang pelayan rajin; Dia mengkhianati kepercayaanku, oh Paduka! Katakanlah—apa yang harus kulakukan?”

 

Ketika mendengar ini, raja mengucapkan bait kedua:—

 

Saya juga mempunyai seorang pelayan yang rajin; dan di sini dia berdiri! Laki-laki yang baik, saya percaya, sudah langka ditemukan sekarang: jadi sabar adalah saran saya.

 

Pejabat istana tersebut mengetahui bahwa kata-kata raja ini ditujukan terhadapnya, dan ke depannya, dia tidak berani lagi melakukan perbuatan salah di istana raja.  Dan demikian juga pelayannya, mengetahui bahwa hal tersebut telah diceritakan kepada raja, ke depannya, dia tidak berani lagi untuk melakukan perbuatan tersebut.

 

Kisah ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:— “Aku adalah Raja Benares.” Dan pejabat istana pada cerita pembuka ini mengetahui bahwa raja telah menceritakannya kepada Sang Guru, tidak pernah melakukan perbuatan itu kembali.

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Advertisements
Tagged ,

KUMBHĪLA-JĀTAKA

“Oh kera,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Veḷuvana , tentang Devadatta.

 

Oh Kera, empat moralitas ini membawa kemenangan: kebenaran, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan kemurahan hati.

 

Tanpa empat berkah ini adalah tidak ada kemenangan: kebenaran, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan kemurahan hati.”

 

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

PUṬA-BHATTA-JĀTAKA

“Kehormatan untuk kehormatan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang seorang tuan tanah.  Diceritakan bahwasanya pada suatu waktu, seorang tuan tanah warga Kota Sāvatthi melakukan bisnis dengan seorang tuan tanah dari desa. Membawa istrinya bersama, dia mengunjungi orang ini, penghutang; tetapi penghutang menyatakan bahwa dia tidak dapat membayar. Dalam kemarahan, tuan tanah (beserta istrinya) berangkat pulang tanpa menyantap sarapan pagi. Dalam perjalanan, beberapa orang bertemu dengannya; dan melihat betapa kelaparannya orang tersebut, memberinya makanan, dan memintanya untuk berbagi dengan istrinya. Ketika dia mendapatkan ini, dia tidak rela memberikan sebagian kepada istirnya. Maka kepada istrinya, dia berkata, “Istri, tempat ini terkenal sering dikunjungi oleh pencuri, jadi Anda lebih baik pergi ke depan.” Setelah berhasil menyingkirkannya, dia memakan semua makanan dan kemudian menunjukkan panci kosong kepadanya, sambil berkata—“Lihat ini, Istriku, mereka memberiku sebuah panci kosong!” Istrinya menduga bahwa suaminya telah memakan semuanya sendiri dan menjadi sangat jengkel. Ketika mereka berdua melewati wihara di Jetavana, mereka berpikir akan masuk ke dalamnya dan minum air. Di sana Sang Guru duduk, dengan sengaja menunggu untuk menjumpai mereka, seperti seorang pemburu yang sedang mengintai, duduk di dalam kamar-Nya yang wangi ( gandhakuṭi ). Beliau menyambut mereka dengan ramah, dan berkata, “Upasika, apakah suami Anda baik dan menyayangimu?” “Saya mencintainya, Bhante,” jawabnya, “tetapi dia tidak pernah mencintaiku; dibiarkan sendirian, pada hari ini dia diberikan sepanci makanan dalam perjalanan dan tidak memberikan sedikit pun kepadaku, menghabiskan semuanya sendiri.” “Upasika, begitulah yang selalu terjadi—Anda menyayangi dan baik, dan dia tidak menyayangi; tetapi ketika dengan bantuan orang bijak, dia mengetahui kebaikanmu, dia kemudian memberikan semua kehormatan kepadamu.” Kemudian, atas permintaannya, Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta adalah putra dari salah seorang pejabat istana. Ketika dewasa, dia menjadi penasihat raja dalam segala urusan pemerintahan dan spiritual. Raja takut akan putranya, kalaukalau dia bakal melukainya, dan mengirimnya pergi. Membawa istrinya, putranya itu pergi dari kota dan datang ke Desa Kāsi , tempat dia menetap. Setelah beberapa waktu, ayahnya meninggal, putranya mendengar hal itu dan kembali ke Benares; “Saya mungkin akan mewarisi kerajaannya yang merupakan hak kelahiranku,” katanya. Dalam perjalanannya, seseorang memberinya nasi, sambil berkata, “Makan dan berikanlah kepada istrimu juga.” Tetapi dia tidak memberikan sedikit pun dan menghabisinya sendiri. [204] Istrinya berpikir—“Ini adalah seorang laki-laki yang sungguh kejam!” dan dia dipenuhi dengan kesedihan. Ketika suaminya tiba di Benares dan mewarisi kerajaannya, dia menjadikan istrinya sebagai permaisuri raja, tetapi berpikir—“Sedikit saja cukup untuknya,” dia tidak memberikan penghargaan atau kehormatan lainnya, bahkan tidak menanyakan bagaimana keadaannya. “Permaisuri ini,” pikir Bodhisatta, ”melayani raja dengan baik dan mencintainya, sedangkan raja tidak memikirkannya sedikit pun. Saya akan membuat raja memberikan kehormatan dan penghargaan kepadanya.” Maka dia datang ke permaisuri dan memberi salam, berdiri di satu sisi. “Ada apa, Guru?” tanyanya. “Permaisuri,” Bodhisatta bertanya, “bagaimana kami dapat melayani Anda? Bukankah seharusnya Anda memberikan kepada orang-orang tua ini sepotong baju atau semangkuk nasi?” “Guru, saya tidak pernah menerima apa pun untuk diriku sendiri; apa yang dapat kuberikan kepada Anda? Jika saya  menerima, apakah saya pernah tidak memberi? Tetapi sekarang raja tidak memberikan apa pun kepadaku, apalagi memberikan sesuatu kepada yang lain, ketika dia dalam perjalanan, dia menerima semangkuk nasi dan tidak memberikan sedikit pun kepadaku—dia menghabiskannya sendiri.”

 

“Baik, Permaisuri, sanggupkah Anda mengatakan ini di depan raja?” “Ya,” balas permaisuri.  “Baiklah, kalau begitu. Hari ini, ketika saya berdiri di hadapan raja, di saat saya menanyakan pertanyaanku, berikanlah jawaban yang sama; dan hari ini juga saya akan membuat kebaikanmu disadari (oleh raja).” Maka Bodhisatta pergi dan berdiri di hadapan raja. Dan permaisuri juga pergi dan berdiri di dekat raja. Kemudian Bodhisatta berkata, “Permaisuri, Anda sangat kejam. Bukankah seharusnya Anda memberikan orang-orang tua ini sepotong pakaian dan sepiring makanan?” Dan permaisuri menjawab, “Guru, saya sendiri tidak menerima apa pun dari raja: apa yang dapat saya berikan kepada Anda?” “Bukankah Anda permaisuri raja?” Bodhisatta bertanya. “Guru,” kata permaisuri, “apa artinya menjadi seorang permaisuri raja kalau tidak ada kehormatan diberikan? Apa yang akan diberikan raja kepada saya sekarang? Ketika dia mendapatkan sepiring nasi di tengah perjalanan. [205] Dia bahkan tidak memberikan sedikit pun kepadaku, malah menghabiskan semuanya sendiri.” Dan Bodhisatta bertanya kepada raja, “Benarkah begitu, Paduka?” Dan raja mengiyakannya. Ketika Bodhisatta melihat raja mengangguk, “Kalau begitu, Permaisuri,” katanya, “mengapa harus tinggal di sini bersama raja setelah dia telah menjadi tidak baik? Di dunia ini, kesatuan tanpa kasih sayang adalah hal yang menyakitkan. Ketika Anda tinggal di sini, kesatuan tanpa kasih sayang dengan raja akan membawa kesengsaraan bagimu. Rakyat menghormati orang yang menghormati (orang lain), dan ketika tidak ada yang menghormati—Segera setelah Anda melihatnya, Anda seharusnya pergi ke tempat lain; banyak orang yang hidup di dunia ini.” Dan beliau mengucapkan bait-bait berikut:

 

Kehormatan untuk kehormatan, kasih sayang untuk kasih sayang adalah hal yang wajar: Lakukan kebajikan untuk orang yang melakukan hal yang sama terhadapmu: Ketaatan menghasilkan ketaatan; tetapi ini jelas tak seorang pun ingin membantu orang yang tidak akan membantu lagi. Membalas pengabaian untuk pengabaian, jangan tinggal untuk menyenangkan orang yang kasihnya telah tiada. Dunia ini luas; dan ketika burung-burung melihat dari jauh pohon-pohon yang telah kehilangan buah—mereka terbang pergi.

 

Mendengar ini, raja memberikan semua penghormatan kepada permaisurinya; dan sejak saat itu, mereka hidup bersama dalam persahabatan dan keharmonisan.

 

Ketika Sang Guru telah mengakhiri uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, suami istri tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Suami istri itu adalah orang yang sama di dalam kisah ini, dan penasihat bijak itu adalah diri-Ku sendiri.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

CŪLA-NANDIYA-JĀTAKA

“Saya teringat,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Veḷuvana , tentang Devadatta. Suatu hari para bhikkhu berdiskusi di dalam balai kebenaran, “Āvuso , Devadatta itu adalah orang yang kasar, bengis dan kejam, penuh dengan muslihat untuk menentang Sammāsambuddha. Dia melemparkan batu138, dia bahkan menggunakan bantuan Nāḷāgiri; tidak ada perasaan kasihan dan belas kasih dalam dirinya terhadap Tathāgata .” Sang Guru masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan ketika mereka duduk di sana. Mereka memberi tahu Beliau. Kemudian Beliau berkata, “Ini bukan pertama kalinya, Para Bhikkhu, Devadatta berkelakuan kasar, kejam, tanpa kasihan, tetapi dia juga begitu sebelumnya.” Dan Beliau menceritakan kisah masa lampau kepada mereka.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor kera yang bernama Nandiya, dan berdiam di daerah Himalaya; adiknya yang paling bungsu bernama Jollikin. Mereka berdua memimpin sebuah kelompok delapan puluh ribu ekor kera, dan mereka merawat ibunya yang buta di rumah. Mereka meninggalkan ibu mereka di sarangnya di semak-semak dan pergi di antara pepohonan untuk mencari segala jenis buah liar yang manis, yang kemudian mereka kirim ke rumah untuknya. Para kera pesuruh tidak menyampaikannya. Tersiksa karena lapar, dia pun menjadi kurus kering. Bodhisatta berkata kepadanya, “Ibu, kami mengirim banyak buah-buahan manis kepadamu: apa yang membuatmu menjadi kurus?” “Putraku, saya tidak pernah mendapatkannya!” Bodhisatta merenung, “Di saat saya menjaga kawananku, ibuku akan mati! Saya akan meninggalkan kelompok itu, dan merawat ibuku sendiri.” Jadi dia memanggil adiknya, “Adik,” katanya, “kamu pimpin kawanan ini dan saya akan menjaga ibu.” “Tidak, Kakak,” jawabnya, “mengapa saya harus memimpin kawanan itu? Saya juga hanya akan menjaga ibu!” Jadi mereka berdua memiliki satu pikiran dan meninggalkan kawanan kera tersebut, mereka membawa ibu mereka turun dari Himalaya dan berdiam di sebuah pohon beringin di daerah perbatasan, tempat mereka merawat sang ibu. Kala itu, seorang brahmana yang tinggal di Takkasilā, yang telah menuntut ilmu dari seorang guru yang terkenal dan setelah itu, memohon diri, mengatakan bahwa dia akan pergi. Guru ini mempunyai kemampuan untuk meramal dari tanda tanda badan seseorang; dan demikian dia merasa bahwa muridnya kasar, kejam dan bengis. “Anakku,” katanya, “Anda kasar, kejam dan bengis. Orang-orang seperti Anda tidak akan makmur dalam situasi apa pun; mereka hanya akan mendapatkan penderitaan dan kehancuran. Janganlah bertindak kasar dan berbuat sesuai kehendak diri Anda atau Anda akan menyesal setelahnya.” Dengan nasihat ini, dia membiarkannya pergi. Pemuda itu berpamitan pada gurunya dan melanjutkan perjalanannya ke Benares. Di sana dia menikah dan berumahtangga. Karena tidak mampu untuk mencari nafkah dari keahliankeahliannya yang lain, dia bertekad untuk hidup dari busurnya. Jadi dia mulai bekerja sebagai seorang pemburu, dan meninggalkan Benares untuk mencari nafkah. Menetap di perbatasan desa, dia menyisir hutan dengan dilengkapi busur dan anak panahnya, dan hidup dari menjual segala jenis daging hewan buas yang dia bunuh. Suatu hari, ketika sedang pulang menuju ke rumah, setelah tidak menangkap apa pun di dalam hutan, dia melihat sebuah pohon beringin tumbuh berdiri di pinggir sebuah tanah lapang di hutan. “Mungkin,” pikirnya, “di sini ada sesuatu.” Dan dia membalikkan wajahnya ke pohon beringin tersebut. Kedua kera bersaudara tersebut baru saja memberi makan buah-buahan kepada ibu mereka dan duduk di belakangnya, di pohon itu, ketika mereka melihat laki-laki tersebut datang. “Meskipun dia melihat ibu kita,” kata mereka, “apa yang akan dilakukannya?” dan mereka bersembunyi di antara cabang-cabang pohon. Kemudian orang jahat ini, ketika naik ke pohon dan melihat ibu kera tersebut lemah karena usia lanjut dan buta, berpikir, “Mengapa saya harus pulang dengan tangan kosong? Saya akan bunuh kera betina ini dahulu!” dan mengangkat busurnya untuk membunuhnya. Bodhisatta melihat dan berkata kepada saudaranya, “Jollikin, orang ini hendak membunuh ibu kita! Saya akan menyelamatkan hidupnya. Setelah saya mati, Anda jagalah ibu kita.” Sambil berkata demikian, dia turun keluar dari pohon dan berteriak, “Oh Manusia, jangan bunuh ibuku! Dia buta dan lemah karena usia lanjut. Saya akan menyelamatkan hidupnya; jangan membunuhnya, tetapi bunuhlah saya!” Dan setelah yang lain berjanji kepadanya, dia duduk di tempat sejauh jangkauan anak panah. Pemburu itu tanpa kasihan membunuh Bodhisatta; setelah dia jatuh, laki-laki itu mempersiapkan panahnya untuk membunuh ibu kera. Jollikin melihat ini dan pikirnya dalam hati, “Pemburu di sana ingin menembak ibuku. Walaupun ibu hanya hidup satu hari, dia akan menerima hadiah dari kehidupan; Saya akan memberikan nyawaku untuknya.” Maka, dia turun dari pohon, dan berkata, “Oh Manusia, jangan bunuh ibuku! Saya akan memberikan nyawaku untuknya. Bunuhlah saya—bawa kami dua bersaudara, dan ampunilah nyawa ibu kami!” Pemburu itu menyetujuinya dan Jollikin jongkok tidak jauh dari jangkauan anak panahnya. Pemburu membunuh yang satu ini juga, dan membunuhnya—“Ini cukup untuk anak-anakku di rumah,” pikirnya—dan dia menembak ibu kera itu juga; menggantungkan mereka bertiga di galahnya dan menuju ke rumah. Pada saat itu petir menyambar rumah laki-laki jahat itu, membakar istri dan kedua anaknya beserta rumah itu: tidak ada yang tersisa selain atap dan bambu yang tegak.

 

Seorang laki-laki bertemu dengannya di perbatasan memasuki desa dan menceritakan kepadanya. Kesedihan akan istri dan anak-anaknya melanda dirinya; di tempat itu juga dia menjatuhkan galahnya beserta hewan buruannya dan busurnya, melemparkan pakaiannya, dan telanjang dia menuju ke rumah, meratap dengan kedua tangan terjulur. Kemudian bambu yang tegak tersebut terbelah dan jatuh di atas kepalanya lalu menindihnya. Bumi terbuka lebar, api muncul dari neraka. Ketika dia ditelan bumi, dia teringat akan peringatan gurunya: [202] “Inilah ajaran yang diberikan Brahmana Pārāsariya kepadaku!” Dan sambil meratap, dia mengucapkan bait-bait berikut:

 

Saya teringat kata-kata guruku: inilah yang dimaksudnya! Hati-hatilah, jangan melakukan sesuatu yang mungkin akan Anda sesali. Apapun yang dilakukan seseorang, hal yang sama akan menimpa dirinya sendiri: Orang yang baik menjumpai yang baik, dan yang jahat dirancang mendapatkan kejahatan; Perbuatan kita semuanya adalah sama seperti benih, akan menuaikan buah sejenisnya.

 

Demikian meratap, dia turun ke bawah bumi dan terlahir di alam neraka yang dalam.

 

Ketika Sang Guru mengakhiri uraian ini, yang Beliau tunjukkan bagaimana pada masa lainnya, seperti pada masa itu, Devadatta menjadi jahat, kejam dan bengis, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, Devadatta adalah pemburu, Sāriputta adalah guru terkenal, Ānanda adalah Jollikin, Gotamī adalah ibu kera, dan Aku sendiri adalah Nandiya.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KĀSĀVA-JĀTAKA

“Jika ada seseorang,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Devadatta. Ini adalah suatu kejadian yang terjadi di Rājagaha . Ada suatu waktu, Panglima Dhamma tinggal dengan lima ratus bhikkhu di Veḷuvana. Dan Devadatta, dengan sekelompok orang yang jahat seperti dirinya, tinggal di Gayāsīsa. Kala itu, penduduk Rājagaha biasanya berkumpul bersama dengan tujuan memberikan derma. Seorang pedagang, yang datang ke sana untuk berdagang, membawa sebuah jubah kuning wangi yang indah sekali, bertanya jikalau dia boleh bergabung mereka, dan memberikan pakaian ini sebagai dermanya. Orang-orang kota membawa banyak sekali pemberian. Semua yang disumbangkan oleh mereka yang berkumpul bersama terdiri dari uang tunai. Hanya jubah inilah yang tersisa. Kelompok yang datang bersama itu berkata, “Ini ada jubah wangi yang cantik tersisa. Siapa yang akan memilikinya—Thera Sāriputta atau Devadatta?” Beberapa orang memilih Sāriputta : yang lain berkata, “Thera Sāriputta akan tinggal di sini selama beberapa hari, dan setelah itu akan bepergian sesuai dengan keinginannya sendiri; sedangkan Devadatta selalu tinggal di dekat kota kita; dia adalah tempat perlindungan kita di saat baik atau buruk. Devadatta-lah yang berhak memilikinya!” Mereka terpisah, dan yang memilih Devadatta adalah suara terbanyak. Jadi kepada Devadatta-lah mereka memberikannya. Devadatta meminta orang mengguntingnya menjadi potongan-potongan, menjahitnya,  mewarnainya dengan warna keemasan, lalu dia memakainya. Pada saat itu juga, tiga puluh bhikkhu datang ke Sāvatthi

untuk memberi hormat kepada Sang Guru. Setelah beruluk salam, mereka menceritakan kepada Beliau semua kejadian ini, dan menambahkan, “Dan demikianlah, Bhante, Devadatta memakai tanda orang suci, yang tidak cocok buatnya.” “Para Bhikkhu,” kata Sang Guru, “ini bukan pertama kalinya, Devadatta memakai pakaian seorang suci, pakaian yang paling tidak sesuai, tetapi dia juga melakukan hal yang sama sebelumnya.” Dan kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor gajah di daerah pegunungan Himalaya. Raja dari sebuah kumpulan delapan puluh ribu ekor gajah liar, dia tinggal di hutan. Seorang laki-laki miskin yang tinggal di Benares, ketika melihat pekerja kerajinan gading di pasar gading membuat gelang dan bermacam-macam barang perhiasan gading, menanyakan mereka apakah mereka mau membeli gading gajah jika dia bisa mendapatkannya. Mereka mengiyakannya. Maka dia membawa sebuah senjata dan memakai jubah kuning di badannya, dia menyamar menjadi seorang PaccekaBuddha136, dengan sebuah penutup di kepalanya. Berdiri di jalan  gajah-gajah itu, dia membunuh salah satu dari mereka dengan senjatanya, menjual gadingnya di Benares; dan dengan beginilah dia mencari nafkah. Setelah ini, dia mulai membunuh gajah yang berjalan paling belakang di kelompok Bodhisatta. Dari hari ke hari, gajah-gajah menjadi makin sedikit. Kemudian mereka pergi dan menanyakan kepada Bodhisatta mengapa jumlah mereka semakin berkurang. Dia mengetahui sebabnya. “Ada orang,” pikirnya, “ yang berdiri di tempat gajah lewat, membuat dirinya kelihatan seperti seorang Pacceka-Buddha. Apakah dia yang membunuh gajah-gajah itu? Saya akan mencari tahu.” Jadi suatu hari, dia mengutus yang lainnya di depannya [198] dan dia mengikuti dari belakang. Orang tersebut melihat Bodhisatta dan menyerangnya dengan senjata. Bodhisatta berbalik dan berdiri. “Saya akan memukulnya ke tanah dan membunuhnya!” pikirnya: dan merentangkan belalainya,—ketika dia melihat jubah kuning yang dipakai orang itu—“Saya harus menghormati jubah suci itu!” katanya. Jadi menarik belalainya kembali, dia berteriak—“Oh Manusia, bukankah itu jubah, tanda kesucian, tidak cocok untukmu? Mengapa Anda memakainya?” Dan dia mengulangi bait-bait berikut ini:

 

Jika ada seseorang, yang masih penuh dengan keburukan, berani memakai jubah kuning, yang tidak memiliki pengendalian diri atau kecintaan terhadap kebenaran, maka dia tidak layak memakai jubah tersebut.

 

Dia yang telah terbebas dari keburukan, yang di mana saja kukuh dalam moralitas, yang memiliki pengendalian diri terhadap nafsunya, dan benar, maka dia layak memakai jubah kuning tersebut.

 

Dengan kata-kata ini, Bodhisatta mengecam orang tersebut dan memintanya untuk tidak pernah datang ke sana lagi, kalau tidak dia akan mati untuk itu. Demikian dia mengusirnya.

 

Setelah uraian berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Devadatta adalah orang yang membunuh gajah-gajah tersebut, dan pemimpin kelompok (gajah) itu adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

DHAMMADDHAJA-JĀTAKA

“Anda kelihatan seakan-akan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Veḷuvana , tentang usaha-usaha untuk membunuh-Nya. Pada kesempatan ini, seperti sebelumnya, Sang Guru berkata, “Ini bukan pertama kalinya Devadatta mencoba untuk membunuh-Ku dan tidak berhasil membuat-Ku takut, tetapi dia juga melakukan hal yang sama sebelumnya.” Dan Beliau menceritakan kisah ini.

 

Dahulu kala seorang raja yang bernama Yasapāṇi (Yasapani) memerintah di Benares. Panglimanya bernama Kāḷaka (Kalaka). Pada masa itu, Bodhisatta adalah pendeta kerajaannya, bernama Dhammaddhaja. Ada juga seorang pemuda bernama Chattapāṇi (Chattapani). Raja adalah seorang yang baik, tetapi panglimanya menerima suap dalam mengadili perkara; dia adalah seorang pengkhianat; dia menerima uang suap, dan menipu pemilik yang sah. Suatu hari, seseorang yang telah kalah dalam gugatan keluar dari pengadilan, sedang meratap dan menjulurkan tangannya ketika dia berjumpa dengan Bodhisatta, sewaktu Bodhisatta hendak pergi melayani raja. Sambil berlutut, orang tersebut berteriak menceritakan bagaimana dia telah dicurangi dalam perkaranya: “Meskipun orang seperti Anda, Tuanku, menasihati raja hal-hal di dunia ini dan yang akan datang, panglima tetap menerima uang suap, dan menipu pemilik yang sah!” Bodhisatta merasa kasihan kepadanya. “Kemarilah, Teman,” katanya, “saya akan mengadili perkara Anda untukmu!” dan dia menuju ke pengadilan. Orang banyak berkumpul bersama. Bodhisatta mencabut hukumannya dan memberikan keadilan hukum kepadanya, yang berhak. Para penonton bertepuk tangan. Suara yang ditimbulkan sangat riuh. Raja mendengarnya, dan bertanya—“Suara apa yang kudengar ini?”  “Paduka,” jawab mereka, “ada sebuah perkara yang diadili dengan salah dan telah diadili dengan benar oleh Yang Bijak Dhammaddhaja; itulah sebabnya mengapa  ada sorakan.” Raja senang dan memanggil Bodhisatta. “Mereka memberitahuku,” dia memulai, “bahwa Anda telah mengadili sebuah perkara?” “Ya, Paduka, saya mengadili apa yang Kalaka tidak adili dengan benar.” “Jadilah Anda seorang hakim mulai hari ini,” kata raja; “Ini akan menjadi hiburan bagi telingaku, dan kemakmuran bagi dunia!” Bodhisatta enggan, tetapi raja memohon kepadanya— “Atas belas kasihan terhadap semua makhluk, duduklah Anda dalam pengadilan!” dan raja  pun mendapatkan persetujuannya. Sejak saat itu, Kalaka tidak lagi menerima hadiah-hadiah, dan kehilangan keuntungannya. Dia memfitnah Bodhisatta di depan raja, dengan berkata, “Oh Paduka, Dhammaddhaja yang bijaksana mendambakan kerajaanmu!” Tetapi raja tidak percaya dan memintanya untuk tidak berkata demikian.

 

“Jika Anda tidak percaya,” kata Kalaka, “lihatlah keluar jendela saat kedatangannya. Maka Anda akan melihat bahwa dia telah mendapatkan seluruh kota di tangannya.” Raja melihat orang banyak di sekelilingnya di balai pengadilannya. “Itulah rombongannya,” pikirnya. Raja pun mengalah. “Apa yang harus kita lakukan, Panglima?” tanyanya. “Paduka, dia harus dihukum mati.” “Bagaimana kita dapat menghukum mati dirinya tanpa menemukan kejahatan besar?” “Ada sebuah cara.” kata yang lain. “Cara apakah itu?” “Suruh dia lakukan apa yang tidak mungkin, dan jika dia tidak dapat, maka hukum mati dirinya untuk itu.” “Tetapi apa yang tidak mungkin untuknya?” “Paduka,” jawabnya, “perlu waktu dua atau empat tahun bagi sebuah kebun berbuah, dengan tanah yang subur, bila ditanam dan dirawat. Panggillah Bodhisatta untuk menghadapmu dan katakan—‘Kami menginginkan sebuah taman hiburan (untuk bersenang-senang) besok. Buatlah sebuah taman untuk kami!’ dia tidak akan sanggup untuk melakukan ini, dan kita akan membunuhnya untuk kesalahan itu.” Raja berbicara sendiri kepada Bodhisatta. “Tuan Bijak, kami telah bermain cukup lama di taman yang tua; sekarang kami sangat membutuhkan sebuah taman baru untuk bermain. Buatkanlah sebuah taman untuk kami! Jika Anda tidak dapat membuatnya, Anda akan mati.” Bodhisatta berpikir, “Pasti Kalaka telah menghasut raja untuk melawanku, karena dia tidak lagi mendapatkan hadiahhadiah.”—“Jika saya bisa,” katanya kepada raja, “Paduka, saya akan melakukannya.” Dan dia pulang ke rumah. Setelah makan, dia berbaring di tempat tidurnya, sambil berpikir keras. Istana Sakka menjadi panas. Sakka merasakan kesulitan Bodhisatta. Dia segera datang kepadanya, masuk ke ruangannya, dan bertanya kepadanya—“Tuan yang Bijak, apa yang sedang Anda pikirkan?”—sambil melayang di udara. “Siapakah Anda?” tanya Bodhisatta. “Saya adalah Sakka.” “Raja memintaku untuk membuat sebuah taman: itulah yang sedang saya pikirkan.” “Tuan yang Bijak, jangan bersusah hati: saya akan membuatkan Anda sebuah taman seperti Hutan Nandana dan Cittalatā! Di manakah harus saya buat taman itu?” “Di tempat anu,” katanya kepada Sakka. Sakka membuatkannnya, dan kembali ke alam dewa. Hari berikutnya, Bodhisatta melihat taman itu benarbenar ada di sana, dan menantikan kehadiran raja. “Oh Paduka, taman sudah siap, pergilah ke tempat bermainmu!” Raja datang ke tempat itu dan melihat sebuah kebun dengan sebuah pagar yang panjangnya delapan belas hasta, diwarnai dengan merah terang, mempunyai gerbang-gerbang dan kolam-kolam, sangat indah dengan beragam jenis pohon penuh dengan bunga dan buah! “Orang bijak itu telah menyelesaikan apa yang kuminta,” katanya kepada Kalaka, “sekarang apa yang harus kita lakukan?”

 

“Oh Paduka!” jawabnya, “jika dia dapat membuat sebuah taman dalam semalam, tidak dapatkah dia merampas kerajaanmu?” “Baiklah, apa yang harus kita lakukan?” “Kita akan memintanya melakukan sesuatu yang lain yang tidak mungkin.” “Apa itu?” tanya raja. “Kita akan memintanya membuat sebuah danau yang memiliki tujuh batu permata!” Raja setuju, lalu meminta kepada Bodhisatta: “Guru, Anda telah membuatkan sebuah taman. Sekarang buatlah sebuah danau untuk memadaninya, dengan tujuh batu permata. Jika Anda tidak dapat membuatnya, Anda tidak layak hidup!” “Baiklah, Paduka,” jawab Bodhisatta, “saya akan membuatnya jika saya sanggup.” Kemudian Sakka membuatkan sebuah danau besar yang sangat indah, mempunyai seratus tempat pendaratan, seribu teluk kecil, ditutupi semuanya oleh bunga teratai dengan lima warna yang berbeda, seperti danau di Nandana. Hari berikutnya, Bodhisatta melihat ini juga, dan berkata kepada raja: “Lihat, danau telah dibuat!” Dan raja melihat, menanyakan Kalaka apa yang harus dilakukan. “Mintalah kepadanya, Paduka, buatkan sebuah rumah untuk memadaninya,” katanya. “Buatkanlah sebuah rumah, Guru,” kata raja kepada Bodhisatta, “semua terbuat dari gading, untuk memadani kebun dan danau: jika Anda tidak dapat membuatnya, Anda harus mati!” Sakka membuatkan sebuah rumah yang demikian juga. Hari berikutnya Bodhisatta melihat dan mengatakannya kepada raja. Ketika raja melihatnya, dia menanyakan Kalaka kembali mengenai apa yang harus dilakukan. Kalaka berkata kepadanya untuk meminta Bodhisatta membuatkan sebuah permata untuk memadani rumah tersebut. Raja berkata kepada Bodhisatta, “Guru, buatkanlah sebuah permata untuk memadaninya dengan rumah gading ini; Saya akan berkeliling melihatnya dengan kilauan permata; jika Anda tidak dapat membuatkannya, Anda harus mati!” Kemudian Sakka membuatkan sebuah permata juga untuknya. Hari berikutnya Bodhisatta melihat dan mengatakannya kepada raja. Ketika raja melihatnya, dia kembali menanyakan Kalaka apa yang harus dilakukan selanjutnya. “Paduka!” jawabnya, “saya kira pasti ada makhluk dewata yang melakukan apa saja yang diharapkan oleh Brahmana Dhammaddhaja. Sekarang mintalah kepadanya sesuatu yang bahkan dewa pun tidak sanggup membuatnya. Bahkan seorang dewa pun tidak akan sanggup membuat seseorang dengan empat moralitas; karena itu mintalah kepadanya untuk membuatkan seorang penjaga dengan empat kualitas ini.” Jadi raja berkata, “Guru, Anda telah membuatkan sebuah kebun, sebuah danau, sebuah istana (rumah untuk raja), dan sebuah permata untuk memberikan sinar. Sekarang buatkanlah seorang penjaga dengan empat moralitas untukku, untuk menjaga kebun; jika Anda tidak dapat melakukannya, Anda harus mati.” “Baiklah,” jawabnya, “jika itu memungkinkan, saya akan melakukannya.” Dia pulang ke rumah, makan, dan berbaring.

 

Kemudian dia bangun di pagi hari, duduk di tempat tidurnya, dan  berpikir demikian, “Apa yang Raja Sakka dapat buat dengan kekuatannya, telah dibuatnya. Dia tidak dapat membuat seorang penjaga taman dengan empat moralitas. Sudah begini, lebih baik mati kesepian di dalam hutan, daripada mati di tangan orang lain.” Jadi tanpa berkata apa pun kepada siapa pun, dia turun dari tempat tinggalnya dan melewati kota dari gerbang utama, dan masuk ke hutan, dan dia duduk di bawah sebuah pohon dan merenung dengan keyakinan yang baik. Sakka merasakannya; dan dengan wujud seorang penjaga hutan, dia menghampiri Bodhisatta, sambil berkata, “Brahmana, Anda masih muda dan berhati mulia. Mengapa Anda duduk di sini di dalam hutan ini, seperti Anda tidak pernah merasakan sakit sebelumnya?” Sambil bertanya, dia mengulangi bait pertama:—

 

Anda kelihatan seakan-akan kehidupanmu bahagia; tetapi di dalam hutan liar, Anda akan menjadi tunawisma, seperti orang malang yang hidupnya sengsara dan merana di bawah pohon ini, dalam kesepian.

 

Terhadap ini Bodhisatta menjawab dengan bait kedua:—

 

Saya kelihatan seakan-akan hidupku bahagia; tetapi di dalam hutan saya akan menjadi tunawisma, seperti orang malang yang hidupnya sengsara dan merana di bawah pohon ini, dalam kesepian, merenungkan kebenaran yang diketahui oleh para suci Kemudian Sakka berkata, “Jika begitu, mengapa, Brahmana, Anda duduk di sini?” “Raja,” jawabnya, “memerlukan seorang penjaga kebun dengan empat moralitas. Orang seperti itu tidak bisa ditemukan; jadi saya berpikir—‘Mengapa harus binasa di tangan orang? Saya akan pergi ke hutan dan mati kesepian’. Maka ke sinilah saya datang dan di sinilah saya duduk.” Kemudian yang lain menjawab, “Brahmana, saya adalah Sakka, raja dari para dewa. Oleh saya, kebunmu dibuat dan juga semua yang lainnya. Seorang penjaga kebun yang memiliki empat moralitas tidak dapat dibuat, tetapi di negerimu ada seorang yang bernama Chattapani, yang membuat perhiasan untuk raja dan dia adalah orang itu. Jika seorang penjaga kebun dibutuhkan, pergilah dan jadikanlah pekerja ini sebagai penjaga kebun.” Dengan kata-kata ini, Sakka kembali ke alam dewa, setelah menghiburnya dan memintanya untuk tidak takut. Bodhisatta pulang ke rumah dan setelah sarapan, dia pergi ke gerbang-gerbang istana dan di sanalah dia melihat Chattapani. Dia memegang tangannya dan bertanya kepadanya—“Benarkah, seperti yang kudengar, Chattapani, apakah Anda diberkahi dengan empat moralitas?” “Siapa yang mengatakan demikian?” tanya yang lain. “Sakka, raja para dewa.” “Mengapa dia berkata begitu kepadamu?” Dia menceritakan semua dan menjelaskan alasannya. Yang lain berkata, “Ya, saya diberkahi dengan empat moralitas.” Bodhisatta, sambil memegang tangannya, membawanya ke hadapan raja. “Ini, Paduka, adalah Chattapani, yang diberkahi dengan empat moralitas. Jika dibutuhkan seorang penjaga kebun, jadikanlah dia sebagai penjaga kebun itu.” “Benarkah, seperti yang kudengar,” tanya raja kepada Chattapani, “apakah Anda mempunyai empat moralitas?” “Benar, Paduka.” “Apa saja itu?” tanya raja.

 

“Saya tidak iri dan tidak minum minuman keras, tidak memiliki nafsu yang besar, kemarahan bukan milikku,” katanya demikian.  “Chattapani,” teriak raja, “apakah Anda mengatakan Anda tidak memiliki rasa iri?” “Ya, Paduka, saya tidak memiliki rasa iri.” “Apa saja yang Anda tidak iri?” “Dengarlah, Paduka!” katanya, dan dia menceritakan bagaimana dia tidak merasa iri dalam bait berikut:–

 

Seorang pendeta kerajaan yang terikat saya campakkan— Yang seorang wanita membuat saya melakukannya: Dia mendidikku dalam pengetahuan suci, sejak saat itu saya tidak pernah iri lagi.

 

Kemudian raja berkata, “Chattapani, mengapa Anda berpantang minuman keras?” dan dia menjawab dengan bait berikut—

 

Pernah suatu ketika saya mabuk dan saya memakan daging putraku sendiri di atas piringku: Kemudian, tersentuh dengan duka dan penderitaan, bertekad untuk tidak pernah meminumnya lagi.

 

Kemudian raja berkata, “Tetapi apa, Tuan, yang membuat Anda biasa saja, tidak memiliki cinta (nafsu)?” Orang tersebut menjelaskan dengan kata-kata ini:–

 

Raja Kitavāsa adalah namaku: Seorang raja yang mulia adalah diriku; Putraku memecahkan patta Pacceka Buddha dan karena itu dia harus mati.

 

Kata raja kemudian, “Apakah yang membuatmu tidak memiliki kemarahan?” Dan dia membuat masalah itu lebih jelas dalam kalimat-kalimat ini:

 

Sebagai Araka, selama tujuh tahun saya mempraktikkan kemurahan hati; dan kemudian selama tujuh zaman menetap di alam brahma yang tinggi.

 

Ketika Chattapani telah menjelaskan empat kebajikannya, raja memberikan pertanda kepada pelayannya.

 

Dan dalam sekejap seluruh istana, para petapa dan orang awam, semuanya bangkit dan berteriak terhadap Kalaka—“Anda, pemakan suap, pencuri, dan orang rendah! Anda tidak bisa lagi mendapatkan suap, dan Anda hendak membunuh orang bijaksana dengan memfitnahnya!” Mereka menangkap Kalaka pada tangan dan kakinya, kemudian mengusirnya keluar istana; lalu mengambil apa pun yang dapat mereka raih, batu dan kayu, mereka memecahkan kepalanya dan melakukannya sampai dia mati. Sambil menarik kakinya, mereka melemparkannya ke dalam tempat tumpukan kotoran. Sejak saat itu, raja memerintah dengan benar, sampai dia wafat sesuai dengan hasil dari perbuatannya.

 

Uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Devadatta adalah Panglima Kāḷaka (Kalaka), Sāriputta adalah Chattapāṇi (Chattapani), dan Aku sendiri adalah Dhammaddhaja.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

GARAHITA-JĀTAKA

“Emas itu milikku,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang putus asa dan tidak puas. Bhikkhu ini tidak dapat memusatkan pikirannya pada apa pun, hidupnya penuh dengan ketidakpuasan; dan ini diceritakan kepada Sang Guru. Ketika ditanya oleh Sang Guru apakah benar dia tidak puas, dia mengiyakannya. Sewaktu ditanyakan alasannya, dia menjawab itu karena nafsunya. “Wahai Bhikkhu,” kata Sang Guru, “nafsu ini dipandang rendah bahkan oleh hewan yang rendah. Dan bolehkah Anda, seorang bhikkhu dari ajaran Buddha, menyerah pada ketidakpuasan yang timbul dari nafsu yang dipandang rendah, bahkan oleh hewan yang rendah?” Kemudian Beliau menceritakan kepadanya sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor kera, di daerah Himalaya. Seorang penjaga hutan menangkapnya, membawanya ke rumah dan memberikannya kepada raja. Dalam waktu yang lama kera itu tinggal dengan raja, melayaninya dengan setia dan dia belajar banyak tentang kelakuan di alam manusia. Raja senang terhadap kesetiaannya. Raja memanggil penjaga hutan dan memintanya melepaskan kera tersebut ke tempat dia ditangkap; dan demikianlah yang dilakukan oleh penjaga hutan itu. Semua bangsa kera berkumpul bersama di atas sebuah batu yang sangat besar, untuk melihat Bodhisatta yang telah kembali kepada mereka sekarang, dan mereka berbicara dengan gembira kepadanya, “Tuan, di manakah Anda tinggal selama ini?”  “Di istana raja, di Benares.” “Kalau begitu bagaimana Anda bisa bebas?” “Raja membuatku menjadi peliharaannya dan puas dengan permainan saya, dia membiarkan saya pergi.” Kera-kera itu melanjutkan—“Anda pasti tahu cara hidup di alam manusia: Ceritakanlah kepada kami tentang itu juga—kami ingin mendengar!” “Jangan tanya saya tentang cara hidup manusia,” kata Bodhisatta. “Ceritakanlah—kami ingin mendengar!” kata mereka lagi. “Manusia,” katanya, “baik pangeran-pangeran maupun brahmana-brahmana, berteriak—‘Milikku! Milikku!’ Mereka tidak mengerti tentang perubahan, yang artinya sesuatu itu sebenarnya tidak ada. Dengarkanlah cara hidup orang-orang dungu yang buta ini.” Dan dia mengucapkan bait-bait berikut:

 

‘Emas itu milikku, emas berharga itu!’ demikian mereka berteriak, siang dan malam: Orang-orang dungu ini tidak pernah memberikan sebuah pandangan pun ke jalan kehidupan suci.

 

Ada dua orang tuan di rumah itu; yang satunya tidak mempunyai janggut, tetapi mempunyai dada-dada yang panjang, telinga-telinga yang dilubangi dan berambut kepang; Harganya dinilai dengan emas tak terhitung jumlahnya;  dia menggoda semua orang di sana.

 

Ketika mendengar ini, semua kera berteriak— “Berhenti, berhenti! Kami telah mendengar sesuatu yang tidak pantas didengar!” dan dengan kedua tangan, mereka menutupi telinga-telinga mereka dengan rapat. Dan mereka tidak suka tempat itu, karena mereka berkata, “Di tempat ini kami mendengar sesuatu yang tidak pantas,” jadi mereka pergi ke tempat lain. Dan batu itu kemudian diberi nama Batu Garahitapiṭṭhi, atau Batu Tercela.

 

Setelah Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu ini mencapai tingkat kesucian Sotāpanna —“Pengikut-pengikut Buddha yang sekarang adalah kelompok kera tersebut, dan pemimpinnya adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KŪṬA-VĀṆIJA-JĀTAKA

“Terencana dengan baik,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang saudagar yang tidak jujur. Terdapat dua saudagar di Sāvatthi, yang satu bijak dan yang satunya lagi penipu. Kedua orang ini bergabung dalam persekutuan dagang dan mengisi lima ratus kereta penuh dengan barang, melakukan perjalanan dari timur ke barat untuk berdagang, dan kembali ke Sāvatthi dengan keuntungan yang besar. Saudagar bijak mengusulkan kepada teman dagangnya bahwa mereka seharusnya membagi persediaan barang jualan mereka. Si curang ini berpikir dalam hatinya, “Orang ini telah bersusah dalam waktu yang lama dengan makanan dan tempat tinggal yang buruk. Sekarang dia sudah pulang ke rumah, dia akan memakan berbagai makanan lezat dan mati karena kekenyangan. Dengan demikian, saya akan memiliki semua persediaan barang untukku sendiri.” Apa yang kemudian dikatakannya adalah, “Baik bintang maupun hari tidak mendukung; kita lihat saja besok atau hari berikutnya.” Demikianlah dia terus berdalih. Tetapi, si bijak terus mendesaknya dan (akhirnya) membuat barang-barang tersebut dibagi. Kemudian saudagar bijak ini pergi, dengan membawa wewangian dan untaian bunga, untuk mengunjungi Sang Guru. Setelah memberi hormat, dia duduk di satu sisi. Sang Guru menanyakan sejak kapan dia pulang. “Dua minggu yang lalu, Guru,” katanya. “Kalau begitu, mengapa Anda menunda untuk mengunjungi Buddha?” Saudagar itu menjelaskannya. Kemudian Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini, temanmu adalah orang yang curang, tetapi dia juga begitu sebelumnya,” dan atas permintaannya, Beliau menceritakan kisah masa lampau

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang pejabat istana raja. Ketika tumbuh dewasa, dia diangkat sebagai hakim pengadilan. Kala itu terdapat dua orang saudagar, yang satu dari desa dan satunya lagi dari kota, mereka bersahabat. Saudagar desa menitipkan lima ratus mata bajak ke saudagar kota itu. Saudagar kota ini menjual semua barang tersebut dan menyimpan uangnya. Di tempat mata bajak itu sebelumnya disimpan, dia menaburkan kotoran tikus. Setelah beberapa waktu, saudagar desa datang dan menanyakan mata bajaknya. “Tikustikus telah memakan habis semuanya!” kata si penipu, menunjukkan kotoran tikus itu kepadanya.  “Baiklah, kalau begitu, biarlah,” jawabnya: “apa yang bisa diperbuat dengan barang-barang yang telah dimakan tikus?” Dan pada waktu mandi, saudagar desa itu membawa putra saudagar kota dan menitipkannya di rumah seorang teman, dalam sebuah kamar sebelah dalam, meminta mereka untuk tidak membiarkannya pergi ke mana pun juga. Dan setelah mandi, dia pergi ke rumah temannya. “Di mana putraku?” tanya si penipu. “Teman,” jawabnya, “saya membawanya bersama dan meninggalkannya di tepi sungai. Ketika saya masuk ke dalam air, datang seekor burung elang dan menangkap putramu dengan cakarnya, kemudian terbang ke udara. Saya memukul-mukul air, berteriak, berjuang—tetapi tidak dapat membuatnya melepaskannya.” “Bohong!” teriak si penipu, “tidak ada burung elang yang dapat membawa pergi seorang anak laki-laki.”

 

“Teman, relakanlah. Jika sesuatu yang tidak seharusnya terjadi telah terjadi, apa lagi yang dapat kulakukan? Putramu telah dibawa pergi oleh seekor burung elang, seperti yang saya katakan.” Saudagar kota mencacinya, “Penjahat! Pembunuh! Sekarang saya akan pergi ke hakim dan membuatmu diseret di hadapannya!” Dan dia pun berangkat. Saudagar desa berkata, “Silakan saja,” dan pergi juga ke pengadilan. Si jahat menceritakan kepada Bodhisatta demikian, “Tuan, orang ini membawa anakku pergi bersamanya untuk mandi, dan ketika saya menanyakan keberadaan putraku, dia menjawab bahwa seekor burung elang telah membawanya pergi. Adililah perkaraku ini!” “Katakanlah yang sebenarnya,” kata Bodhisatta, meminta kepada yang satunya lagi. “Sungguh, Tuan,” dia menjawab, “saya membawanya bersamaku dan burung elang membawanya pergi.” “Tetapi mana ada burung elang yang membawa pergi anak-anak? “Tuan,” jawabnya, “saya memiliki sebuah pertanyaan untukmu. Jika burung elang tidak membawa anak-anak pergi, apakah tikus dapat memakan mata bajak besi?” “Apa maksudmu?” “Tuan, saya menitipkan lima ratus mata bajak di rumah orang ini. Orang ini menceritakan kepadaku bahwa tikus-tikus telah melahapnya dan menunjukkan kepada saya kotoran tikustikus yang telah melakukannya. Tuan, jika tikus-tikus memakan mata bajak, maka burung-burung elang membawa pergi anak anak; tetapi jika tikus tidak dapat melakukannya, begitu juga burung-burung elang tidak dapat membawa anak-anak. Orang ini mengatakan tikus-tikus telah memakan mata bajakku. Berikanlah jawaban apakah mata bajak dimakan atau tidak. Adililah perkaraku!” “Dia pasti mempunyai maksud,” pikir Bodhisatta, “untuk melawan si penipu dengan senjatanya sendiri.—“Terencana dengan baik!” katanya, dan kemudian dia mengucapkan dua bait berikut:—

 

Terencana dengan baik memang! Penggigit digigit, Penipu ditipu—sebuah pukulan yang manis! Jika tikus-tikus memakan mata bajak,  maka burung-burung elang dapat terbang dengan anak-anak ke udara!

 

Seorang yang jahat dikalahkan dengan kejahatan!  Kembalikan bajak itu, dan setelah itu orang yang kehilangan bajak mungkin akan mengembalikan putramu kepada Anda sekarang juga!

 

Demikian orang yang kehilangan putra mendapatkan putranya kembali, dan orang yang kehilangan mata bajak menerima mata bajaknya kembali. Setelah itu, keduanya meninggal dunia menerima hasil (buah perbuatan) sesuai dengan perbuatan mereka.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Kedua penipu dalam kedua kejadian ini adalah orang yang sama, dan begitu juga yang bijak; Aku  sendiri adalah hakim pengadilan.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SEGGU-JĀTAKA

“Seluruh dunia takluk terhadap kesenangan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang upasaka penjual sayur. Cerita pembukanya telah dikemukakan di dalam Buku I. Di sini kembali Sang Guru menanyakan ke mana saja dia pergi selama ini, dan dia menjawab, “Putriku, Bhante, selalu tersenyum. Setelah mengujinya, saya menikahkannya dengan seorang pemuda. Karena hal ini harus dilakukan, saya tidak ada kesempatan untuk mengunjungimu.” Terhadap ini, Sang Guru menjawab, “Bukan hanya kali ini putrimu berbudi luhur, tetapi dia juga berbudi luhur di masa lampau; dan seperti Anda mengujinya sekarang, demikian juga Anda mengujinya di masa lampau.” Atas permintaan orang itu, Sang Guru menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta adalah seorang makhluk dewata penjaga pohon (dewa pohon). Penjual sayur yang berkeyakinan ini menuruti pikirannya untuk menguji putrinya. Dia membawanya masuk ke hutan, dan memegang tangannya, berbuat seakan-akan dia bernafsu terhadap putrinya itu. Dan ketika putrinya berteriak dalam kesengsaraan, laki-laki tersebut menegurnya dalam katakata di bait pertama:—

 

Seluruh dunia takluk terhadap kesenangan; Ah, Putriku yang Polos, sekarang saya telah menangkapmu,  janganlah menangis; seperti yang dilakukan kota, begitu juga saya.

 

Ketika mendengar itu, putrinya menjawab, “Ayahku, saya adalah seorang gadis, dan saya tidak tahu tentang perbuatan hubungan badan,” dan sambil menangis dia mengucapkan bait kedua:—

 

Dia yang seharusnya menyelamatkanku dari semua kesukaran, mengkhianatiku dalam kesendirianku, ayahku, yang seharusnya menjadi pelindungku yang sesungguhnya, di sini di dalam hutan melakukan kekejaman.

 

Dan penjual sayur tersebut, setelah menguji putrinya demikian, membawanya pulang dan menikahkannya dengan seorang pemuda. Setelah itu, dia meninggal dunia sesuai dengan perbuatannya.

 

Ketika Sang Guru telah mengakhiri uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran ini:—Di akhir kebenarannya, penjual sayur mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Pada masa itu, ayah dan putri tersebut adalah orang-orang yang sama, dan dewa pohon yang melihat semua kejadiannya adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

MACCHA-JĀTAKA

“Bukanlah api yang,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang godaan (nafsu) terhadap seorang bhikkhu oleh mantan istrinya. Sang Guru bertanya kepada bhikkhu ini, “Benarkah, Bhikkhu, apa yang Ku-dengar, bahwa Anda menyesal?” “Ya, Bhante.” “Karena siapa?” “Karena mantan istriku.” Kemudian Sang Guru berkata kepadanya, “Istri ini, Bhikkhu, telah melakukan kejahatan terhadapmu. Dahulu kala, dengan tipu muslihatnya, Anda hampir saja ditusuk dan dibakar untuk dijadikan makanan, tetapi orang bijaksana menyelamatkan nyawamu.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta adalah pendeta kerajaannya. Beberapa nelayan menarik seekor ikan yang terperangkap di jala mereka, dan melemparkannya ke atas pasir yang panas sambil berkata, “Kita akan memasaknya di bara api dan memakannya.” Maka mereka pun mengasah sebuah tusukan. Dan ikan tersebut mencucurkan air mata atas pasangannya dan mengucapkan dua bait ini:

 

Bukanlah api yang membakarku membuatku sakit,  ataupun tusukan yang melukaiku; melainkan pikiran atas pasanganku yang mungkin menyebutku sebagai kekasih yang tidak setia.

 

Api cinta ini yang membakarku dan memenuhi hatiku  dengan rasa sakit; Bukan kematian yang setimpal dengan cinta;  Oh Para Nelayan, bebaskanlah saya kembali!

 

Pada saat itu, Bodhisatta mendekat ke tepi sungai; dan setelah mendengar ratapan ikan itu, dia menghampiri para nelayan dan meminta mereka membiarkan ikan itu bebas.

 

Uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Pada masa itu, istri tersebut adalah pasangan ikan itu, bhikkhu yang menyesal adalah ikan itu, dan Aku sendiri adalah pendeta kerajaan.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,