SATADHAMMA-JĀTAKA

 

“Sesuatu yang kurang berarti,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang dua puluh satu cara hidup yang tidak benar. Pada suatu masa, terdapat banyak bhikkhu yang menyokong kehidupan mereka dengan menjadi tabib, utusan, pengirim pesan, melakukan pertukaran derma, dan sebagainya, dua puluh satu cara hidup yang tidak benar. Kesemuanya ini akan dikemukakan di dalam Sāketa-Jātaka. Ketika Sang Guru mengetahui bahwa mereka hidup dengan cara-cara demikian, Beliau berkata, “Sekarang terdapat banyak bhikkhu yang hidup dengan cara yang tidak benar. Orang-orang yang hidup dengan cara demikian tidak akan terlepas dari kelahiran sebagai yaksa atau sebagai peta; mereka akan terlahir sebagai ternak yang memikul kuk; mereka akan terlahir di alam neraka; untuk keberuntungan dan berkah mereka seharusnya memberikan khotbah Dhamma yang mengandung moral yang jelas dan sederhana.“ Maka Beliau mengumpulkan para bhikkhu Saṅgha (Sangha) dan berkata, “Para Bhikkhu, kalian tidak seharusnya mendapatkan kebutuhan kalian dengan dua puluh satu cara yang tidak benar. Makanan yang didapatkan dengan cara yang tidak benar adalah seperti sepotong besi yang membara, seperti racun yang mematikan. Cara-cara yang tidak benar ini dikecam dan dicela oleh semua siswa dari para Buddha dan Pacceka Buddha. Bagi yang menyantap makanan yang diperoleh dengan tidak benar, tidak akan mendapatkan tawa dan kegembiraan. Makanan yang didapatkan dengan cara-cara demikian, dalam ajaran-Ku, adalah sama seperti sisa makanan dari salah satu kasta yang paling rendah (kaum candala). Bagi siswa dari ajaran Dhamma, mereka yang menyantapnya adalah seperti menyantap makanan dari kaum candala.” Dan dengan kata-kata ini, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka semuanya.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang kaum candala. Ketika dewasa, dia melakukan perjalanan atas tujuan tertentu, dengan membawa sejumlah nasi dan makanan di dalam sebuah keranjang daun sebagai persediaan makanannya. Kala itu terdapat seorang pemuda di Benares, yang bernama Satadhamma. Dia adalah putra dari seseorang yang mulia (kastanya), seorang brahmana utara. Dia juga melakukan perjalanan atas tujuan tertentu, tetapi tidak ada nasi ataupun makanan yang dibawanya dengan keranjang. Keduanya bertemu di jalan besar. Kata brahmana muda itu kepada yang lainnya, “Anda berasal dari kasta apa?” Dia menjawab, “Candala. Dan Anda sendiri?”

“Oh, saya adalah seorang brahmana utara.”

“Baiklah, mari kita melakukan perjalanan bersama,” dan demikianlah mereka pergi bersama. Waktu sarapan tiba: Bodhisatta duduk di tempat yang ada air jernih, mencuci tangannya, dan membuka keranjangnya. “Apakah Anda ingin makan?” katanya. “Tidak,” kata yang lainnya, “saya tidak mau, Anda adalah seorang candala.” “Baiklah,” kata Bodhisatta. Dengan hati-hati agar tidak menghamburkan sedikit pun, dia meletakkan makanan sebanyak yang diinginkannya pada sehelai daun yang terpisah dari yang lainnya, mengikat kembali keranjangnya, dan mulai makan. Kemudian dia minum sedikit air, mencuci tangan dan kakinya, dan mengangkat sisa nasi dan makanan. “Mari, Brahmana Muda,” katanya, dan mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali. Seharian mereka berjalan bersama, dan di saat petang hari, mereka berdua mandi di tempat air yang jernih. Setelah mereka keluar, Bodhisatta duduk di sebuah tempat yang menyenangkan, membuka bungkusannya dan mulai makan. Kali ini dia tidak menawarkannya kepada brahmana itu. Brahmana muda itu letih karena telah berjalan seharian dan sangat lapar sekali. Di sana dia berdiri, melihat-lihat dan berpikir, “Jika dia menawarkan saya (makanan), saya akan menerimanya.” Tetapi Bodhisatta terus makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “Candala ini,” pikir brahmana muda itu, “menyantap setiap bagian (makanannya) tanpa sepatah kata pun. Baiklah, saya akan meminta sedikit (darinya). Saya dapat membuang bagian luarnya yang kotor dan memakan sisanya.” Dan demikianlah yang dilakukannya; dia memakan yang tersisa. Segera setelah selesai makan, dia berpikir, “Betapa saya telah memalukan statusku, kastaku, keluargaku! Saya telah memakan sisa-sisa dari seorang candala!” Benar-benar sangat kuat penyesalannya; Dia memuntahkan makanannya dan darah keluar besertanya. “Oh, betapa buruk perbuatan yang telah kulakukan,” ratapnya, “demi sesuatu yang kurang berarti!” dan dia melanjutkan dalam katakata dari bait pertama berikut:

Sesuatu yang kurang berarti! Sisa-sisa makanannya! juga diberikan di luar kemauannya! Saya adalah seorang (kaum) brahmana,  dan makanan itu telah membuatku sakit.

 

Demikianlah brahmana muda itu membuat ratapannya; dengan menambahkan, “Mengapa kulakukan sesuatu yang buruk hanya demi kehidupanku?” Dia mengasingkan dirinya di dalam hutan dan tidak pernah membiarkan mata mana pun melihatnya lagi, dan di sana dia meninggal dalam kesendirian.

 

Setelah kisah ini berakhir, Sang Guru mengulangi, “Bagaikan brahmana muda itu, Para Bhikkhu, setelah menyantap sisa-sisa makanan seorang candala, tidak lagi mendapatkan tawa dan kegembiraan karena dia telah menyantap makanan yang tidak semestinya; demikianlah siapa pun yang menganut kepercayaan ini dan hidup dengan cara yang tidak benar, ketika dia menyantap makanan dan menyokong kehidupannya dengan cara apa pun yang dikecam dan dicela oleh Buddha, tidak akan mendapatkan tawa dan kegembiraan.” Kemudian, dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, Beliau mengulangi bait kedua berikut:

Dia yang hidup dengan cara yang tidak benar (buruk), dia yang tidak peduli jika dia melakukan keburukan, seperti brahmana di dalam kisah itu, tidak akan mendapatkan kegembiraan.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran-Nya:—Di akhir kebenarannya, banyak bhikkhu yang mencapai tingkat kesucian

Sotāpanna dan yang lainnya—“Pada masa itu, Aku adalah orang yang berkasta rendah tersebut (candala).”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KACCHAPA-JĀTAKA

 

“Di sini saya dilahirkan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang bagaimana seseorang sembuh dari suatu wabah penyakit. Diceritakan bahwasanya suatu ketika suatu wabah penyakit tiba-tiba menjangkiti sebuah keluarga di Sāvatthi . Orang tua di dalam keluarga tersebut berkata kepada putra mereka, “Jangan tinggal di rumah ini, Anakku, buatlah lubang di dinding dan larilah ke tempat yang lain, dan selamatkan nyawamu.  Setelah beberapa lama barulah kembali—harta karun akan ditimbun di sini, gali dan pulihkanlah kembali kemakmuran keluarga, dan semoga kehidupanmu bahagia!” Anak muda itu melakukan seperti apa yang diberitahukan kepadanya, dia menghancurkan dinding dan melarikan diri. Ketika wabahnya telah reda, dia pun pulang kembali dan menggali harta karun itu, yang digunakannya untuk membangun kehidupan keluarganya. Pada suatu hari, dengan membawa banyak mentega, wijen, kain dan pakaian, serta persembahan lainnya, dia berkunjung ke Jetavana dan memberi salam hormat kepada Sang Guru, kemudian mengambil tempat duduknya. Sang Guru memulai percakapan dengannya. “Kami mendengar,” kata Beliau, “bahwa rumahmu terjangkit wabah penyakit. Bagaimana caranya Anda menyelamatkan diri?” Dia memberitahukan semuanya kepada Sang Guru. Beliau berkata, “Di masa lampau, seperti sekarang ini, Upasaka, ketika bahaya muncul, ada orang yang terlalu melekat pada rumahnya untuk ditinggalkan dan mereka binasa di sana; sedangkan orang yang tidak melekat dan pergi ke tempat yang lain, nyawa mereka terselamatkan.” Dan kemudian atas permintaannya, Sang Guru menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir di sebuah desa sebagai putra dari seorang kundi. Dia menjalankan usaha dagang tembikar, menghidupi istri dan keluarganya. Kala itu terdapat sebuah danau alami yang besar dekat dengan sungai besar di Benares. Ketika airnya banyak, sungai dan danau menjadi satu, tetapi ketika airnya sedikit, mereka menjadi terpisah. Ikan-ikan dan kura-kura tahu dari naluri mereka kapan terjadinya musim hujan dan kapan terjadinya musim kemarau. Pada suatu ketika, ikan-ikan dan kura-kura yang tinggal di danau tersebut mengetahui bahwa akan terjadi kekeringan. Maka ketika dua aliran air tersebut menyatu, mereka pun berenang keluar dari danau menuju ke sungai. Akan tetapi ada seekor kura-kura yang tidak mau pindah ke sungai, karena katanya, “Di sini saya lahir, di sini saya tumbuh dewasa, dan di sini adalah rumah orang tuaku. Saya tidak bisa meninggalkannya!” Di saat musim kemarau datang, semua air (di danau) menjadi kering. Dia menggali sebuah lubang dan mengubur dirinya sendiri di dalam, persis di tempat Bodhisatta sering datang untuk mengambil tanah liat. Kemudian Bodhisatta datang ke sana untuk mengambil tanah liat, dengan sekop yang besar dia mengali ke bawah, sampai dia memecahkan cangkang kurakura, mengeluarkannya dari dalam tanah seakan-akan dia adalah sebongkah tanah liat yang besar. Dalam kesakitannya makhluk itu berpikir, “Disini saya sedang sekarat, semuanya karena saya terlalu melekat kepada tempat tinggalku sehingga tidak bisa kutinggalkan!” Dan di dalam kata-kata dalam bait ini, dia merintih:

Di sini saya dilahirkan, dan di sinilah saya tinggal; tempat berlindungku adalah tanah liat. Dan sekarang tanah liat ini memperdayaku  dengan cara yang paling kejam; Anda, Anda saya panggil, Oh Bhaggava; dengarlah apa yang akan saya katakan!

Pergilah ke mana Anda dapat menemukan kebahagiaan, ke mana pun tempat itu berada; Hutan atau desa, di sana mereka yang bijak melihat rumah dan tempat lahir mereka; Pergilah ke mana kehidupan itu ada; jangan tinggal di rumah untuk menanti kematian menguasaimu.

 

Kemudian dia terus-menerus berbicara kepada Bodhisatta, hingga dia meninggal. Bodhisatta membawanya dan mengumpulkan semua penduduk desa dan kemudian berkata, “Lihatlah kura-kura ini. Ketika ikan-ikan dan kura-kura yang lain pergi ke sungai yang besar, dia terlalu mencintai rumahnya untuk pergi bersama mereka, menguburkan dirinya sendiri di tempat saya mengambil tanah liat. Kemudian ketika saya sedang menggali tanah liat, cangkangnya rusak oleh sekop besar saya, dan saya mengeluarkannya ke atas tanah dengan anggapan bahwa dia adalah sebuah bongkahan tanah liat yang besar. Kemudian dia mengingatkan tentang apa yang telah dia lakukan, meratapi dirinya dalam dua bait kalimat dan mati. Maka kalian melihat dia menemui ajalnya karena terlalu melekat kepada rumahnya. Jagalah diri kalian agar tidak seperti kura-kura ini. Janganlah berkata pada diri sendiri, ‘Saya memiliki penglihatan, saya memiliki penciuman, saya memiliki pengecap, saya memiliki sentuhan, saya memiliki seorang putra, saya memiliki seorang putri, saya memiliki sekumpulan anak buah dan pembantu yang melayani saya, saya memiliki emas berharga’, janganlah terikat kepada semua ini dengan nafsu keinginan. Setiap makhluk melewati tiga alam keberadaan.” Demikian dia menasihati orang banyak tersebut dengan gaya seorang Buddha. Wejangan ini tersebar di seluruh Jambudīpa (India), dan selama tujuh ribu tahun, wejangan ini tetap diingat. Semua penduduk desa menjalankan nasihatnya, memberi derma dan melakukan kebajikan lainnya hingga akhirnya masuk ke alam surga.

 

Setelah mengakhirinya, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir dari kebenaran, anak muda tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Pada masa itu, Ānanda adalah kura-kura tersebut, dan tukang kundi adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

TIṆḌUKA-JĀTAKA

 

“Lihatlah di sekeliling kita, mereka semua berdiri,” dan seterusnya.

 

Ini adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang kesempurnaan dalam kebijaksanaan. Seperti kisah di dalam Mahābodhi-Jātaka dan Ummagga-Jātaka, ketika mendengar pujian kebijaksanaan-Nya, Beliau berkata, “Bukan hanya kali ini saja Buddha itu bijaksana, tetapi juga sebelumnya Beliau adalah bijaksana dan penuh akal,” dan menceritakan kisah masa lampau berikut.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor kera. Dia tinggal di Himalaya bersama dengan kawanan delapan puluh ribu ekor kera lainnya.

Tidak jauh dari sana terdapat sebuah desa yang kadang-kadang berpenghuni dan kadang-kadang kosong. Dan di tengah-tengah desa itu terdapat sebuah pohon tiṇḍuka, dengan buah yang manis, diselimuti oleh ranting-ranting dan cabang-cabang. Ketika tempat itu kosong, semua kera tersebut selalu pergi ke sana dan memakan buah-buahnya. Suatu ketika, pada musim berbuah, desa itu penuh dengan orang-orang, pagar dari bambu-bambu runcing di pasang di sekitarnya dan pintu masuk pagar dijaga. Pohon tersebut berdiri dengan semua dahannya melengkung ke bawah dikarenakan berat dari buahnya. Kemudian kera-kera itu mulai ingin tahu, “Desa anu, tempat kita biasa mengambil buah tiṇḍuka untuk dimakan, saya ingin tahu apakah pohon itu telah berbuah atau belum; apakah ada orang-orang di sana atau tidak?” Akhirnya mereka mengutus seekor kera untuk mencari tahu. Dia menemukan bahwa ada buah di pohon tersebut, dan desa tersebut dipenuhi dengan orang-orang. Ketika mendengar bahwa ada buah di pohon tersebut di sana, kera-kera bertekad untuk mengambil buah manis itu untuk dimakan. Dengan memberanikan diri, sekelompok dari mereka pergi dan memberitahukannya kepada pemimpin mereka. Sang pimpinan menanyakan apakah desa itu penuh dengan orang-orang atau tidak; “Penuh dengan orang”, kata mereka. “Oleh karena itu, kalian tidak boleh pergi,” katanya, “karena manusia itu penuh dengan tipu daya.” “Tetapi, Yang Mulia, kami akan pergi pada tengah malam, di saat semua orang sedang tertidur pulas, dan kemudian memakannya!” Maka kelompok ini mendapatkan izin untuk pergi dan turun dari pegunungan, kemudian menunggu dengan susah payah sampai semua orang tertidur pulas. Pada penggal tengah malam hari, ketika orang-orang telah tidur, mereka memanjat pohon dan mulai memakan buah-buah dari pohon tersebut. Seorang laki-laki bangun di malam itu karena sesuatu hal yang harus dilakukannya. Dia keluar menuju ke desa dan di sana dia melihat kera-kera tersebut. Segera, dia membuat suatu tanda bahaya; orang-orang keluar, dilengkapi dengan busur dan panah, atau berbagai jenis senjata yang dapat diambil oleh tangan mereka: tongkat-tongkat kayu, bongkahan-bongkahan batu, dan kemudian mengelilingi pohon itu. “Ketika fajar menyingsing,” pikir mereka, “kita akan mendapatkan mereka!”. Delapan puluh ribu kera tersebut melihat orang-orang itu, dan menjadi sangat  ketakutan. Mereka berpikir, “Kita tidak memiliki bantuan apa pun, selain raja kita.” Maka mereka datang kepadanya dan mengucapkan bait pertama:

Lihatlah di sekeliling kita, mereka semua berdiri,  prajurit-prajurit bersenjatakan busur dan panah. Semuanya di sekeliling kita, dengan pedang di tangan; siapa yang membebaskan diri (dari mereka)?

Mendengar ini, raja kera tersebut menjawab, “Jangan takut, manusia mempunyai banyak hal yang harus dikerjakan. Saat ini masih penggal tengah malam hari, di sana mereka berdiri, dengan berpikir–‘Kami akan membunuh mereka’, tetapi kita akan mencari suatu cara untuk mencegah mereka mengerjakan yang satu ini.” Dan untuk menghibur kera-kera tersebut, dia mengulang bait kedua:

Manusia mempunyai banyak hal yang harus dikerjakan; Sesuatu akan membubarkan kerumunan itu; Lihatlah apa yang masih tersisa untuk kalian, makanlah, karena buah memang untuk dimakan.

 

Sang Mahasatwa menenangkan kelompok kera tersebut. Seandainya saja mereka tidak mendapatkan ketenangan ini, maka hati mereka akan hancur dan mereka akan mati. Setelah menghibur kera-kera tersebut, Sang Mahasatwa berkata dengan keras, “Kumpulkan semua kera bersama!” Tetapi sewaktu mengumpulkan diri mereka, ada satu yang tidak dapat mereka temukan, yakni sepupunya, seekor kera yang bernama Senaka. Maka mereka memberitahukan kepadanya bahwa Senaka tidak berada di dalam kelompok. “Jika Senaka tidak ada di sini,” katanya, “jangan takut. Dia akan menemukan jalan untuk menolong kalian.” Sewaktu kelompok kera tersebut berangkat, Senaka sedang tertidur. Kemudian setelah dia terbangun dan tidak menemukan seorang pun di sana, dia pun mengikuti jejak mereka, dan lambat laun, dia melihat semua orang sedang bergegas. “Bahaya bagi kelompok kami,” pikirnya. Kemudian pada waktu itu juga, dia melihat, di dalam sebuah gubuk di daerah pinggiran desa, seorang wanita tua yang tertidur pulas di depan api yang menyala. Dan dengan menyamar seperti seorang anak desa yang hendak pergi ke ladang, Senaka merampas sebuah obor, dan berdiri tegak searah dengan angin bertiup, lalu membakar desa tersebut. Kemudian semua orang meningggalkan kera-kera tersebut dan bergegas untuk memadamkan api. Demikian kera-kera tersebut berlarian pergi, dan setiap kera membawakan satu buah untuk Senaka.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “ Mahānāma Sakka adalah sepupu raja kera, Senaka, pada masa itu; para pengikut Buddha adalah kelompok kera itu; dan Aku sendiri adalah raja mereka.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KALĀYA-MUṬṬHI-JĀTAKA

 

“Seekor kera bodoh,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, mengenai seorang Raja Kosala. Di suatu musim hujan, pemberontakan terjadi di daerah perbatasannya. Para pasukan berpangkalan di sana, setelah dua atau tiga pertempuran gagal untuk menaklukkan musuhnya, mereka mengirimkan pesan kepada sang raja. Meskipun musim hujan, raja turun dalam pertempuran, dan berkemah di dekat Jetavana. Kemudian dia mulai berpikir, “Ini adalah musim yang buruk untuk (melakukan) perjalanan; setiap celah dan lubang terpenuhi dengan air, dan medannya menjadi berat. Saya akan pergi mengunjungi Sang Guru. Beliau pasti akan menanyakan ‘hendak ke mana’, kemudian saya akan memberitahukannya kepada Beliau. Sang Guru bukan hanya melindungi (diriku) dari sesuatu (yang buruk) di masa yang akan datang, tetapi Beliau juga melindungi dari sesuatu yang dapat kita lihat sekarang. Jika kepergian saya tidak membuahkan hasil, maka Beliau akan mengatakan ‘ini adalah waktu yang tidak baik untuk melakukan perjalanan, Paduka’, tetapi jika bakal berhasil, Beliau tidak akan mengatakan apa-apa. Maka dia pergi berkunjung ke Jetavana dan, setelah mengucapkan salam kepada Sang Guru, dia duduk di satu sisi. “Mengapa Anda datang, wahai Paduka,” tanya Sang Guru, “pada waktu yang tidak tepat?” “Bhante”, jawabnya, “saya sedang dalam perjalanan untuk memadamkan pemberontakan di perbatasan; dan saya datang terlebih dahulu ke sini untuk berpamitan dengan-Mu.” Terhadap ini, Sang Guru berkata “Kejadian Ini sudah pernah terjadi sebelumnya, raja-raja yang sangat berkuasa, sebelum pergi bertempur, terlebih dahulu mendengarkan kata-kata orang bijak dan berbalik dari perjalanan mereka yang tidak sesuai pada musimnya.” Kemudian, atas permintaan sang raja, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, dia mempunyai seorang menteri yang menjadi tangan kanannya dan memberinya nasehat dalam urusan pemerintahan dan spiritual. Kala itu, terjadi pemberontakan di perbatasan, dan para pasukan yang berpangkalan di sana mengirimkan pesan kepada raja. Raja pun berangkat meskipun kala itu adalah musim hujan, dan mendirikan sebuah kemah di tamannya. Bodhisatta berdiri di depan raja. Pada waktu itu, orang-orang telah merebus kacangkacangan untuk kuda-kuda dan menuangkannya ke dalam palungan. Salah seekor kera yang tinggal di dalam taman melompat dari pohon ke bawah, mengisi mulut dan tangannya dengan kacang-kacang tersebut, kemudian naik kembali ke atas, dan duduk di pohon, sembari mulai makan. Selagi dia makan, salah satu kacangnya jatuh dari tangannya ke tanah. Kemudian semua kacangnya dibuang dari tangan dan mulutnya, dan karenanya dia turun ke bawah, untuk mencari satu kacang yang jatuh itu. Tetapi kacang itu tidak bisa ditemukannya. Dia memanjat ke atas pohon kembali dan duduk diam, sangat sedih, kelihatan seperti seseorang yang telah kehilangan uang seribu keping di dalam suatu tuntutan perkara. Raja mengamati bagaimana kera itu bertingkah laku, dan menunjukkan hal itu kepada Bodhisatta. “Teman, bagaimana pendapatmu tentang itu?” tanyanya. Bodhisatta memberikan jawaban, “Paduka, ini adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang bodoh yang kurang cerdas; mereka menghabiskan banyak hal untuk mendapatkan sesuatu yang sedikit,” dan dia melanjutkan dengan mengulangi bait pertama:

Seekor kera bodoh, tinggal di pohon,  wahai Paduka, di saat kedua tangannya penuh dengan kacang, malah membuang semuanya untuk mencari satu:  Tidak ada kebijaksanaan di dalam hal seperti ini.

Kemudian Bodhisatta menghampiri sang raja, dan menjelaskan kepadanya, mengulangi bait kedua:

Demikianlah diri kita, wahai Paduka, demikian juga orang-orang yang tamak; Kehilangan banyak untuk mendapatkan sedikit,  seperti kera dan kacang (tersebut).

Setelah mendengar penjelasan ini, raja berbalik dan langsung kembali ke Benares. Dan kemudian para pemberontak yang mendengar bahwasanya raja telah berangkat dari ibukota untuk menghancurkan musuh-musuhnya pun tergesa-gesa pergi meninggalkan perbatasan.

Pada masa kisah ini diceritakan, para pemberontak (pada cerita pembuka di atas) melarikan diri dengan cara yang sama. Setelah mendengarkan ucapan Sang Guru, raja bangkit dan berpamitan, kemudian kembali ke Sāvatthi . Sang Guru, pada akhir uraian ini, mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, Ānanda adalah raja, dan menteri yang bijak itu adalah diri-Ku sendiri.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

ĀDICCUPAṬṬHĀNA- JĀTAKA

 

“Tidak ada bangsa,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menipu (curang).

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan di dalam sebuah keluarga brahmana di Kāsi. Setelah dewasa, dia pergi ke Takkasilā dan menyelesaikan pendidikannya di sana. Kemudian dia menjalankan kehidupan suci sebagai seorang petapa, mengembangkan kesaktian, pencapaian meditasi, dan menjadi pembimbing dari sekelompok besar murid, dia menjalankan kehidupannya di Himalaya. Di sana dia tinggal dalam jangka waktu yang lama; sampai suatu hari, dia turun dari gunung dan pergi ke perbatasan desa untuk memperoleh garam dan rempah-rempah, dan dia tinggal di sebuah gubuk yang terbuat dari daun. Ketika semuanya pergi berkeliling untuk mendapatkan derma makanan, seekor kera jahat biasanya memasuki pertapaan mereka dan memorak-porandakan semua isinya, menumpahkan air dari kendi-kendi, memecahkan kendi-kendi tersebut, dan mengakhirinya dengan mengacaukan tempat perapian. Setelah musim hujan berakhir, para petapa berpikir untuk kembali dan berpamitan kepada penduduk desa; “Sekarang ini,” pikir mereka, “bunga-bunga dan buah-buahan yang ada di gunung sudah masak.” “Besok,” jawab para penduduk, “kami akan datang ke tempat tinggal Bhante dengan membawa dana makanan; makanlah terlebih dahulu sebelum pergi.” Maka pada keesokan harinya, mereka datang ke sana dengan membawa makanan yang banyak, keras dan lunak. Sang kera berpikir di dalam hatinya, “Saya akan menipu dan membujuk orang-orang ini agar memberikan sedikit makanan kepadaku juga.” Jadi dia menunjukkan dirinya seperti petapa yang sedang meminta derma makanan, dan dengan berdiri di dekat para petapa, dia memuja matahari. Ketika orang-orang melihatnya, mereka berpikir, “Mereka yang tinggal bersama dengan orang suci adalah orang suci juga,” dan mengulangi bait pertama:

Tidak ada bangsa hewan yang memiliki disiplin moral seperti ini: Lihatlah bagaimana kera malang ini berdiri di sini memuja matahari!

 

Dengan cara itu orang-orang memuji moralitas sang kera. Tetapi Bodhisatta, yang mengamatinya, menjawab, “Kalian tidak mengetahui kelakuan dari seekor kera jahat. Jika kalian tahu, maka kalian tidak akan memuji dia yang hanya berhak mendapatkan sedikit pujian,” dan menambahkan bait kedua:

Kalian memuji sifat makhluk ini  karena tidak mengenalnya;  Dia telah merusak api suci dan  memecahkan semua kendi air.

 

Pada saat orang-orang mendengar betapa jahatnya kera tersebut, dengan menggunakan kayu-kayu dan bongkahan-bongkahan tanah, mereka melemparinya dan memberikan dana makanan mereka kepada para petapa. Orang-orang suci itu kembali ke Himalaya; dan tanpa  terputus dalam meditasi (jhana), mereka akhirnya terlahir di alam brahma.

 

Pada akhir uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Bhikkhu yang menipu pada masa itu adalah sang kera; para pengikut Buddha adalah sekelompok orang suci itu, dan pemimpin mereka adalah diri-Ku sendiri.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

DŪBHIYA-MAKKAṬA-JĀTAKA

 

“Air yang banyak,” dan seterusnya.

 

Kisah  ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Veluvana, tentang Devadatta. Suatu hari para bhikkhu sedang berbicara di dalam balai kebenaran tentang Devadatta yang tidak tahu berterima kasih dan mengkhianati teman-temannya, kemudian Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini saja, Para Bhikkhu, Devadatta tidak tahu berterima kasih dan mengkhianati teman-temannya sendiri, tetapi sebelumnya juga dia melakukan hal yang sama.” Kemudian Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir di sebuah keluarga brahmana di sebuah desa di Kāsi , dan ketika dewasa, dia menikah dan hidup berumah tangga. Adapun pada saat itu terdapat sebuah sumur yang dalam, di dekat jalan raya di Kerajaan Kāsi, yang tidak memiliki jalan untuk turun ke bawahnya. Orang-orang yang melewati jalan tersebut, untuk melakukan jasa kebajikan, biasanya mengambil air dengan sebuah tali yang panjang dan sebuah ember kayu, dan mengisi palungan untuk hewan-hewan; demikianlah cara mereka memberikan air minum kepada hewan-hewan. Di sekeliling itu adalah hutan yang lebat sekali, tempat sekumpulan kera tinggal.  Terjadi pada suatu ketika, selama dua atau tiga hari persediaan air terhenti, yang biasanya diambil oleh para pejalan kaki; dan hewan-hewan tidak mendapatkan minuman. Seekor kera, tersiksa dengan kehausan, berjalan naik dan turun di dekat sumur untuk mencari air. Kala itu, Bodhisatta tiba di tempat tersebut dalam perjalanannya untuk suatu urusan tertentu, mengambil air untuk dirinya sendiri, minum, dan mencuci tangannya; kemudian dia melihat sang kera. Melihat betapa hausnya kera tersebut, sang pejalan kaki mengambil air dari sumur itu dan mengisikannya ke dalam palungan untuknya. Kemudian dia duduk di bawah sebuah pohon, untuk melihat apa yang akan dilakukan makhluk tersebut. Kera tersebut minum, duduk di dekat sana, dan membuat suatu tampang menyeringai, untuk menakuti Bodhisatta. “Ah, monyet yang jahat!” katanya, ketika melihatnya demikian— “Ketika Anda kehausan dan menderita, saya memberikanmu air yang banyak; dan sekarang Anda memperlihatkan tampang kera itu kepadaku. Baik, baik, menolong seorang yang jahat hanyalah akan menyia-nyiakan pengorbananmu.” Dan dia mengulangi bait pertama:

 

Air yang banyak kuberikan kepadamu ketika Anda kepanasan dan juga kehausan: Sekarang dengan penuh keburukan, Anda duduk mengoceh,—terhadap orang-orang jahat, lebih baik tidak melakukan apa-apa.

 

Kemudian kera yang dengki tersebut membalas, “Menurutku Anda pasti berpikir hanya itulah yang dapat kulakukan. Sekarang saya akan menjatuhkan sesuatu di kepalamu sebelum pergi.” Kemudian, sambil mengulangi bait kedua, dia meneruskan—

Siapa yang pernah melihat seekor kera yang berkelakuan baik? Akan kujatuhkan kotoran di atas kepalamu; karena demikianlah tingkah laku kami.

Segera setelah mendengar ini, Bodhisatta bangkit untuk pergi. Tetapi pada saat yang bersamaan, kera tersebut, dari dahan tempat dia duduk, membuang kotoran seperti menjatuhkan hiasan, di atas kepalanya, dan kemudian lari masuk ke dalam hutan sambil bersuara keras. Bodhisatta membersihkan dirinya dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

 

Ketika Sang Guru mengakhiri uraian ini, setelah berkata, “Bukan hanya sekarang Devadatta seperti itu, tetapi pada masa lalu juga dia tidak mengakui kebaikan hati yang Aku tunjukkan kepadanya,” Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Devadatta adalah kera pada saat itu, dan brahmana itu adalah diri-Ku sendiri.

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

MAKKAṬA-JĀTAKA

 

“Ayah, lihatlah orang tua malang,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menipu (curang).—Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Uddāla-Jātaka, Buku XIV. Di sini juga Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, bukan hanya kali ini orang ini menjadi seorang penipu, tetapi juga di masa lampau, ketika terlahir sebagai seekor kera, dia menipu demi (mendapatkan) api.” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah di masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan di sebuah keluarga brahmana di suatu desa di Kāsi. Ketika tumbuh dewasa, dia mendapatkan pendidikannya di Takkasilā , dan menetap di sana. Istrinya pada waktu itu melahirkan seorang putra; dan ketika anaknya baru bisa berlari, dia meninggal dunia. Suaminya melakukan upacara pemakamannya, dan kemudian berkata, “Apalah gunanya rumah (ini) bagiku sekarang? Saya dan anak saya akan menjalani kehidupan sebagai petapa.” Meninggalkan teman-teman dan sanak keluarganya dalam linangan air mata, dia membawa anaknya ke Himalaya, menjadi seorang petapa, dan hidup dengan memakan buah-buahan dan akar-akaran yang terdapat di dalam hutan. Pada suatu hari di musim hujan, setelah hujan lebat reda, dia menyalakan api, dan berbaring di alas tidurnya, menghangatkan dirinya di perapian. Dan anaknya duduk di sampingnya, sembari menggosok kakinya. Kala itu seekor kera hutan, yang menderita karena kedinginan, melihat api di gubuk daun milik petapa tersebut. “Sekarang,” pikirnya, “kalau saya masuk ke dalam, mereka akan berteriak, ‘Kera! kera,’ dan memukuli saya. Saya tidak akan mendapat kesempatan untuk menghangatkan diri—Saya ada ide!” katanya kemudian. “Saya akan mengambil sehelai jubah petapa, dan masuk ke dalam dengan sebuah muslihat!” Lalu dia pun memakai jubah bekas milik seorang petapa yang telah meninggal, mengangkat keranjang dan tongkat (galah), dan berdiri di depan pintu gubuk, tempat dia membungkuk di samping sebuah pohon kelapa. Sang anak melihatnya dan berkata kepada ayahnya (tidak mengetahui bahwa dia adalah seekor kera), “Di sini ada seorang petapa tua, sudah pasti, menderita karena kedinginan, datang untuk menghangatkan dirinya di perapian.” Kemudian dia menjelaskan kepada ayahnya di dalam kata-kata di bait pertama, memohon ayahnya untuk memperbolehkan orang malang tersebut untuk menghangatkan dirinya:

Ayah, lihatlah orang tua malang yang berdiri di dekat  sebuah pohon kelapa di sana! Di sini kita memiliki sebuah gubuk untuk berteduh, marilah kita memberikan tempat teduh kepadanya.

Ketika mendengar ini, Bodhisatta berdiri dan berjalan ke pintu. Tetapi ketika melihat makhluk itu adalah seekor kera, dia berkata, “Anakku, manusia tidak memiliki wajah seperti itu, dia adalah seekor kera, dan dia tidak boleh dipersilakan untuk masuk.” Kemudian dia mengulangi bait kedua:

 

Dia hanya akan mengotori tempat tinggal kita  jika dia melangkah masuk melewati pintu; Wajah seperti ini—sangat mudah diketahui—tidak ada brahmana yang memilikinya.

Bodhisatta mengambil sebatang kayu, berkata dengan keras—“Apa yang Anda inginkan di sana?”—melemparkan kayu itu ke arahnya dan mengusirnya. Si kera menanggalkan jubah usangnya, memanjat pohon, dan menghilang di dalam hutan. Kemudian Bodhisatta mengembangkan empat kediaman luhur ( brahmavihāra ) hingga akkhirnya terlahir di alam brahma.

 

Setelah mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Bhikkhu yang menipu ini adalah kera pada masa itu; Rāhula adalah anak petapa, dan Aku sendiri adalah sang petapa.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

DADDARA-JĀTAKA

 

“Siapakah gerangan dengan teriakan yang sangat keras,” dan seterusnya.

 

Ini adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana tentang Kokālika (Kokalika). Dikatakan bahwasanya terdapat beberapa bhikkhu yang pandai di daerah Manosilā, yang berbicara seperti singa-singa muda, cukup keras untuk menurunkan Gangga Surgawi, ketika melafalkan sutta di tengah-tengah para bhikkhu. Dan ketika mereka melafalkan sutta-sutta, Kokalika (dengan tidak mengetahui kebodohan apa yang dia tunjukan pada dirinya sendiri) berpikir bahwa dia akan melakukan hal yang sama. Maka dia pergi menghampiri para bhikkhu, tanpa memperkenalkan namanya, berkata, “Mereka tidak memintaku untuk melafalkan sutta. Seandainya mereka memintaku, saya pasti akan melakukannya.” Para bhikkhu mengetahui hal ini dan mereka berpikir bahwa mereka akan menguji dirinya. “Āvuso Kokalika,” kata mereka, “perdengarkanlah beberapa pelafalan sutta kepada para bhikkhu hari ini.” Dia setuju untuk melakukannya, tanpa menyadari kebodohannya; pada hari itu juga dia akan membacakannya di depan para bhikkhu. Dia pertama-tama menyantap bubur yang dibuat sesuai seleranya, memakan makanan utama, dan meminum beberapa hidangan sup kesukaannya. Di saat senja, bunyi gong berkumandang untuk (menandakan) waktu pemberian khotbah Dhamma; para bhikkhu berkumpul bersama. Jubah (dalam) yang dikenakannya berwarna kuning seperti warna bunga landep, dan jubah luarnya berwarna putih seperti bunga kaṇikāra. Dengan berpakaian demikian, dia masuk ke tengah-tengah para bhikkhu lainnya, memberi salam kepada para bhikkhu senior, melangkah naik ke alas duduk di bawah paviliun yang berhiaskan batu berharga, memegang sebuah kipas yang diukir dengan sangat bagus; dia duduk, bersiap diri untuk memulai melafalkan sutta. Tetapi pada saat itu, butiran-butiran keringat mulai bercucuran keluar dari tubuhnya, dan dia merasa malu. Bait pertama dari sutta dia lafalkan, tetapi dia tidak mampu mengingat bait-bait selanjutnya. Maka dia bangkit dari duduknya dalam kebingungan, keluar dari pertemuan para bhikkhu itu dan kembali ke kamarnya. Seorang bhikkhu yang pandai kemudian melafalkan sutta tersebut. Sejak saat itu, semua bhikkhu mengetahui betapa kosongnya dia. Pada suatu hari, para bhikkhu membicarakan hal ini di dalam balai kebenaran: “Āvuso , sebelumnya sangatlah tidak mudah untuk melihat betapa kosongnya si Kokalika. Akan tetapi, sekarang dia telah bersuara kembali sesuai dengan dirinya, dan menunjukkannya demikian.” Sang Guru masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka diskusikan bersama. Mereka memberi tahu Beliau. Kemudian Beliau berkata— “Para Bhikkhu, Ini bukan pertama kalinya Kokalika menipu dirinya dengan ucapannya sendiri; hal yang sama juga pernah terjadi sebelumnya,” dan kemudian Beliau menceritakan kepada mereka sebuiah kisah di masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor singa, dan merupakan raja dari semua singa. Dengan sejumlah singa-singa lainnya, dia tinggal di Gua Perak. Di dekat sana hiduplah seekor serigala, yang tinggal di gua yang lain. Suatu hari, setelah hujan reda, semua singa berkumpul bersama di depan pintu masuk gua milik raja mereka, saling mengaum dengan sangat keras dan bermain lompat-lompatan ke sana ke sini. Saat mereka mengaum dan bermain, sang serigala juga meninggikan suaranya. “Serigala ini, mengeluarkan suara yang sama seperti kita!” kata singa-singa; mereka merasa malu dan diam. Ketika mereka semua diam, anak dari Bodhisatta menanyakan pertanyaan ini kepadanya, “Ayah, semua singa yang tadinya mengaum dan bermain sekarang menjadi diam atas sesuatu yang memalukan setelah mendengar suara dari makhluk di sana. Makhluk apakah yang menipu dirinya sendiri dengan suaranya?” dan dia mengulangi bait pertama:

Siapakah gerangan dengan teriakan yang sangat keras yang membuat (Gunung) Daddara bergema? Siapakah dirinya, Raja dari para hewan? Dan mengapa dia tidak mendapatkan sambutan yang baik?

 

Terhadap kata-kata anaknya, sang singa tua mengulangi bait kedua:

Serigala, yang paling hina di antara semua hewan, dirinyalah yang membuat suara itu:  Singa-singa tidak menyukai kerendahan dirinya,  ketika mereka duduk melingkar dalam keheningan.

 

“Para Bhikkhu,” Sang Guru menambahkan, “ini bukan pertama kalinya Kokalika menipu dirinya sendiri dengan ucapannya, hal yang sama juga pernah terjadi sebelumnya,” dan mengakhiri uraian-Nya, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, Kokālika (Kokalika) adalah sang serigala, Rāhula adalah singa muda, dan Aku sendiri adalah raja singa.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KALYĀṆA-DHAMMA-JĀTAKA

 

“Oh Paduka, ketika orang mengelu-elukan kita,“ dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana, tentang seorang ibu mertua yang tuli. Dikatakan bahwa ada seorang tuan tanah di Sāvatthi , seorang yang berkeyakinan, yang percaya, yang telah berlindung di bawah Tiga Permata dan seorang yang menjalankan lima sila.

 

Pada suatu hari, dia pergi untuk mendengarkan (khotbah) Sang Guru di Jetavana, dengan membawa banyak sekali mentega cair (gi) dan beragam jenis rempah-rempah, bunga-bunga, wewangian, dan yang lainnya. Pada waktu yang sama, ibu dari istrinya (ibu mertuanya) datang untuk mengunjungi anak perempuannya dan membawa bingkisan makanan yang keras dan yang lunak. Dia memiliki sedikit kesulitan mendengar. Setelah makan—biasanya orang mengantuk setelah makan—dia berkata, untuk berusaha tetap terjaga—“Nah, apakah suamimu hidup bahagia denganmu? Apakah kalian berdua akur satu sama lain?” “Mengapa, Bu, apa yang Anda tanyakan ini? Anda bahkan susah mencari seorang petapa suci yang sangat baik dan berbudi seperti dirinya!” Sang ibu tidak begitu jelas mendengar apa yang dikatakan putrinya, tetapi dia menangkap kata—‘petapa’ dan dia pun menjerit—“Oh, Anakku, mengapa suamimu menjadi seorang petapa?” dengan tingkah yang berlebihan. Semua orang yang tinggal di dalam rumah itu mendengarnya, dan menjerit, “Berita (baru)—tuan tanah telah menjadi seorang petapa!” Orang-orang mendengar keributan itu, dan segerombolan orang datang berkumpul di depan pintu untuk mencari tahu apa yang terjadi. “Tuan tanah yang tinggal di sini telah menjadi petapa!” hanya itulah yang mereka dengar. Tuan tanah itu, setelah mendengar khotbah dari Sang Buddha, kemudian meninggalkan wihara untuk kembali ke kota. Di tengah perjalanannya, seorang laki-laki berjumpa dengannya, dan berkata—“Mengapa, Tuan, mereka mengatakan Anda telah menjadi seorang petapa dan seluruh keluargamu dan pelayanpelayanmu sedang menangis di rumah!”  Kemudian pikiran pikiran ini terlintas di kepalanya, “Orang-orang mengatakan bahwa saya telah menjadi seorang petapa meskipun saya tidak melakukan hal apa pun yang seperti itu. Sebuah ucapan yang (demikian) baik tidak boleh diabaikan; hari ini juga saya harus menjadi seorang petapa.” Kemudian, di tempat itu juga, dia berbalik dan kembali ke tempat Sang Guru. “Tadi Anda telah mengunjungi Sang Buddha,“ kata Sang Guru, “dan telah pulang. Apa yang membawamu kembali lagi ke sini?” Laki-laki itu menceritakannya kepada Sang Guru, dan menambahkan, “Sebuah ucapan yang baik, Bhante, tidak boleh diabaikan. Demikianlah saya sekarang berada di sini, dan saya berkeinginan untuk menjadi seorang petapa.” Kemudian dia ditahbiskan dan diupasampada, dan menjalani kehidupan yang bajik. Dalam waktu yang singkat, dia pun mencapai tingkat kesucian Arahat. Kisah ini pun diketahui oleh para bhikkhu. Suatu hari, ketika mereka sedang membicarakannya demikian di dalam balai kebenaran, “ Āvuso, tuan tanah anu menjalankan kehidupan suci sebagai seorang petapa karena dia mengatakan ‘Suatu ucapan beruntung tidak boleh diabaikan’, dan sekarang dia mencapai tingkat kesucian Arahat!” Sang Guru masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka memberi tahu Beliau. Kemudian Beliau berkata, “Para Bhikkhu, orang bijak di masa lampau juga menjadi seorang petapa karena mereka mengatakan bahwa suatu ucapan yang baik tidak boleh diabaikan,” dan menceritakan sebuah kisah di masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi Raja  Benares, Bodhisatta terlahir sebagai anak seorang pedagang kaya. Kemudian setelah tumbuh dewasa dan ayahnya meninggal, dia menggantikan posisi ayahnya. Pernah sekali dia pergi mengunjungi raja dan ibunya datang menjenguk anaknya. Dia memiliki sedikit kesulitan mendengar, dan apa yang terjadi berikutnya semua itu sama seperti yang telah diceritakan. Suaminya sedang dalam perjalanan pulang dari kunjungan ke istana ketika berjumpa dengan seseorang di tengah jalan, yang berkata, “Mereka mengatakan Anda telah menjadi seorang petapa, dan terjadi kegemparan di rumahmu!” Bodhisatta berpikir bahwa ucapan yang (demikian) baik tidak boleh diabaikan, kemudian berbalik dan kembali menjumpai raja. Raja menanyakan apa yang membawanya kembali ke sana. “Paduka,” dia berkata, “semua orang-orangku meratapiku, seperti yang diceritakan kepadaku, karena saya telah menjadi seorang petapa, padahal saya tidak melakukan hal apa pun yang seperti itu. Tetapi ucapan yang (demikian) baik ini tidak boleh diabaikan, dan saya pun akan menjadi petapa. Saya meminta izin  paduka untuk menjadi seorang petapa!” dan dia menjelaskan keadaannya dalam bait berikut:

 

Wahai Paduka, ketika orang mengelu-elukan kita  di dalam nama kesucian (menjadi seorang petapa), maka kita pun harus melakukan demikian; Kita tidak boleh ragu-ragu dan tidak melakukannya; Kita harus memikul akibatnya.

 

Wahai Paduka, nama ini telah dianugerahkan kepadaku; Hari ini mereka meratapi bagaimana saya menjadi seorang petapa suci; Karena itu saya akan hidup dan mati sebagai petapa; Saya tidak lagi tertarik dengan nafsu dan kesenangan indriawi.

 

Demikianlah Bodhisatta memohon izin kepada raja untuk menjalankan kehidupan suci sebagai seorang petapa. Kemudian dia pergi ke pegunungan Himalaya, dan sebagai seorang petapa, dia mengembangkan kesaktian, pencapaian meditasi, dan akhirnya terlahir kembali di alam brahma.

 

Sang Guru, setelah menyampaikan uraian ini,  mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, Ānanda adalah raja, dan Aku sendiri adalah pedagang kaya (di) Benares.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KAKAṆṬAKA-JĀTAKA

 

Kakaṇṭaka-jātaka ini akan diceritakan di bawah, di Kelahiran Mahā-Ummagga-jātaka.

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,