NAKULA JATAKA

“Wahai makhluk, musuhmu sejak dari telur,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru sewaktu berdiam di Jetavana tentang dua orang yang bertengkar. Cerita pembukanya telah dikemukakan di dalam Uraga-Jataka. Di sini, seperti sebelumnya, kata Sang Guru, “Ini bukan untuk pertama kalinya, Para Bhikkhu, kedua bangsawan ini telah didamaikan oleh diri-Ku; Sebelumnya, Aku juga mendamaikan mereka.”

Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir di sebuah desa sebagai salah satu anggota keluarga brahmana. Ketika beranjak dewasa, dia dididik di Takkasila; kemudian, meninggalkan kehidupan duniawi; dia menjadi seorang petapa, mengembangkan kesaktian, pencapaian meditasi, dan berdiam di daerah pegunungan Himalaya, hidup dengan memakan akar-akaran dan buah-buahan yang dikumpulkannya dalam pengembaraannya.

Di akhir perjalanan ke tempat terpencilnya, hidup seekor musang di sebuah gundukan rumah semut; dan tidak jauh dari sana, hidup seekor ular di sebuah pohon berlubang. Mereka berdua, ular dan musang, tidak henti-hentinya bertengkar.  Bodhisatta memberikan wejangan kepada mereka tentang keburukan dari pertengkaran dan kebaikan dari kedamaian, dan mendamaikan mereka, kemudian berkata, “Kalian harus menghentikan pertengkaran ini dan hidup berdamai.”

Ketika ular berada di luar, musang di ujung jalan berbaring dengan kepala berada di luar gundukan rumah semut, mulutnya terbuka, dan kemudian jatuh tertidur, bernapas dengan

dengusan yang kuat. Bodhisatta melihat dia tertidur di sana, dan sambil bertanya kepadanya, “Mengapa, apa yang Anda takutkan?” mengulangi bait pertama berikut:

 

Wahai makhluk, musuhmu sejak dari telur, sekarang

sebagai seorang sahabat sejati telah terjalin:

Mengapa tidur di sana dengan semua gigimu terpampang? Apakah yang Anda takutkan?

 

“Tuan,” kata musang, “jangan pernah meremehkan seorang mantan musuh, tetaplah selalu waspada terhadapnya”: dan dia mengulangi bait kedua:

 

Jangan pernah meremehkan seorang musuh dan jangan pernah memercayai seorang teman:

Ketakutan yang bersemi dari sesuatu yang tidak ditakutkan akan menghancurkan dan menghabisi.

 

“Jangan takut,“ balas Bodhisatta, ”saya telah membujuk ular untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat menyakitimu; jangan tidak percaya lagi kepadanya.” Dengan saran ini, dia melanjutkan kehidupannya dengan mengembangkan kediaman luhur, dan kemudian terlahir kembali di alam brahma. Dan yang satunya lagi juga meninggal, menerima hasil sesuai dengan perbuatannya.

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, kedua bangsawan adalah sang ular dan sang musang, dan Aku sendiri adalah  sang petapa.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

Tagged ,

GIJJHA JATAKA

“Seekor burung hering bisa melihat bangkai,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru tentang seorang bhikkhu yang menghidupi ibunya. Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Sama-Jataka. Sang Guru bertanya kepadanya apakah dia, seorang bhikkhu, benar menghidupi umat awam yang masih hidup di dunia ini. Bhikkhu ini mengiyakannya. “Apakah hubungan dirinya denganmu?” Sang Guru melanjutkan. “Mereka adalah orang tua saya, Bhante.” “Bagus, bagus,” kata Sang Guru; dan meminta para bhikkhu untuk tidak marah kepada bhikkhu ini. “Orang bijak di masa lampau,“ katanya, “telah melayani orang-orang yang bahkan bukan sanak saudaranya, kewajiban orang ini adalah menghidupi orang tuanya sendiri.”

Berbicara tentang ini, Beliau kemudian menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai seekor burung hering di puncak Gunung Burung Hering, dan menghidupi ibu dan ayahnya.

Suatu saat terjadi angin kencang dan hujan lebat.  Burung-burung hering ini tidak dapat menghadapinya; sebagian dari mereka membeku, mereka terbang ke Benares, dan di sana dekat tembok dan sebuah parit mereka duduk, gemetar kedinginan.

Seorang pedagang dari Benares sedang keluar dari kota dalam perjalanan untuk mandi ketika dia melihat burung-burung hering yang menyedihkan ini. Dia meletakkan mereka di suatu tempat yang kering, membuat perapian, dan memberikan mereka beberapa potong daging lembu dari tempat pembakaran ternak, dan menyuruh seseorang untuk menjaga mereka.

Ketika badai reda, burung-burung hering ini baik-baik saja dan terbang bersama, pergi ke daerah pegunungan. Tanpa menyia-nyiakan waktu, mereka bertemu dan kemudian berunding bersama. “Seorang pedagang Benares telah menolong kita; dan sebuah kebaikan patut dibalas dengan  kebaikan lain; mulai sekarang kalau ada dari kita yang menemukan sehelai pakaian atau perhiasan maka kita harus membawanya ke halaman rumah pedagang itu. Maka sejak itu, jika mereka melihat ada orang yang menjemur pakaian atau perhiasan di bawah matahari, menunggu saat mereka lengah, mereka menyambarnya dengan cepat, seperti seekor elang menyambar sepotong daging, dan menjatuhkannya di halaman pedagang itu. Tetapi setiap kali melihat burung-burung ini membawakannya sesuatu, pedagang itu selalu menyisihkannya.

Mereka memberitahukan kepada raja tentang bagaimana burung–burung hering melakukan penjarahan di kota.

“Tangkaplah seekor burung hering untukku,” kata raja, “dan saya akan membuat mereka mengembalikan semuanya.” Maka jebakan dan perangkap diletakkan di mana–mana; burung hering yang patuh ini pun tertangkap. Mereka menangkapnya dengan tujuan membawanya kepada raja. Pedagang tersebut, dalam perjalanannya untuk menghadap raja, melihat orang-orang ini sedang berjalan dengan seekor burung hering. Dia bergabung dengan mereka, takut mereka akan menyakiti burung hering itu. Mereka memberikan burung hering itu kepada raja, yang kemudian memeriksanya.

“Anda menjarah kota kami, dan membawa pergi pakaian–pakaian dan berbagai jenis barang,” mulainya.—“Ya, Paduka“—“Kepada siapakah kalian berikan semua itu?”

“Seorang pedagang dari Benares.“ “Mengapa?” “Karena dia telah menyelamatkan nyawa kami, dan konon satu kebaikan pantas dibalas dengan kebaikan lainnya; itulah sebabnya kami memberikan kepadanya.” “Burung–burung hering, konon,“ raja berkata, ”dapat menemukan bangkai dalam jarak yang jauhnya seratus yojana; dan apakah Anda tidak dapat melihat serangkaian perangkap yang sudah tersedia untukmu?” Dan dengan kata–kata ini, dia mengulangi bait pertama:—

 

Seekor burung hering bisa melihat bangkai yang terletak sejauh seratus yojana:

Ketika Anda hinggap di atas sebuah perangkap, tidakkah Anda melihatnya, jujurlah?

 

Burung hering tersebut mendengarkan, kemudian mengulangi bait kedua:—

 

Ketika kehidupan sudah sampai pada ajalnya, dan waktu maut menghampiri,

walaupun Anda telah mendekatinya, tidak ada perangkap dan jebakan yang bisa Anda lihat.

 

Setelah mendengar balasan dari burung hering tersebut, raja berpaling ke pedagang tersebut. “Apakah benar semua barang–barang ini telah dibawanya untuk Anda, oleh burung-burung hering tersebut?” “Ya, Paduka.” “Di manakah semuanya?” ”Paduka, semuanya saya sisihkan; masing-masing penduduk bisa mendapatkan kembali kepunyaan mereka:— lepaskanlah burung hering ini!” Dia mempunyai hidupnya sendiri; Burung hering itu dibebaskan, dan pedagang tersebut mengembalikan semua barang kepada pemiliknya.

Uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran-kebenaran, bhikkhu yang menghidupi ibunya itu mencapai tingkat kesucian Sotapanna:—

“Pada masa itu, Ananda adalah raja, Sariputta adalah pedagang, dan Aku sendiri adalah burung hering yang menghidupi orang tuanya.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

Tagged ,

SUSIMA JATAKA

Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana, tentang pemberian derma tanpa aturan.

Dikatakan bahwasanya di Savatthi, sebuah keluarga biasanya sesekali memberikan derma kepada Buddha dan rombongan bhikkhu-Nya, sesekali mereka memberikannya kepada kaum penganut pandangan salah (titthiya); pemberi-pemberi derma tersebut kadang-kadang membentuk kelompok-kelompok, atau orang-orang yang tinggal di satu jalan akan membentuk kelompok sendiri, atau seluruh warga mengumpulkan derma-derma secara sukarela, dan mempersembahkannya kepada mereka.

Dalam kisah ini, seluruh warga telah mengumpulkan benda-benda yang diperlukan; tetapi mereka terpecah, sebagian meminta ini diberikan kepada kaum titthiya, sebagian meminta ini diberikan kepada pengikut-pengikut Sang Buddha. Masing-masing pihak bertahan pada pendapat masing-masing, pengikut-pengikut titthiya memberikan suara kepada kaum titthiya, dan pengikut-pengikut Sang Buddha memberikan suara kepada kelompok Sang Buddha. Kemudian diusulkan dilakukan pembagian berdasarkan permintaan, dan demikianlah dibagikan; pengikut-pengikut Sang Buddha adalah mayoritas. Maka rencana mereka pun dijalankan, dan pengikut-pengikut kaum titthiya tidak bisa mencegah derma itu diberikan kepada Buddha dan para pengikut-Nya.

Orang-orang memberikan undangan kepada kelompok Sang Buddha; dan selama tujuh hari mereka memberikan banyak sekali derma kepada mereka, dan pada hari ketujuh mereka memberikan semua benda yang telah mereka kumpulkan. Sang Guru mengucapkan terima kasih, setelah itu Beliau mengukuhkan sejumlah besar orang-orang tersebut di dalam ‘jalan’ dan ‘buah’. Kemudian Beliau kembali ke Jetavana; dan setelah para siswa-Nya menyelesaikan tugas-tugas mereka, Beliau memberikan khotbah Dhamma dengan berdiri di depan, tempat Beliau istirahat kemudian.

Pada malam harinya para bhikkhu berbicara sesama mereka di dalam balai kebenaran: “Avuso, betapa kaum titthiya mencoba untuk mencegah derma yang akan diberikan kepada orang-orang suci! Bagaimanapun mereka tidak berhasil melakukannya; semua benda-benda yang dikumpulkan akhirnya jatuh kepada orang-orang suci. Ah, betapa besarnya kekuatan Sang Buddha!” “Apakah yang sedang kalian bicarakan?” tanya Sang Guru, sembari berjalan masuk. Mereka pun menceritakannya. “Para Bhikkhu,” Beliau berkata, “ini bukan pertama kalinya kaum titthiya mencoba menghalangi derma yang seharusnya diberikan kepada-Ku. Mereka juga melakukan hal yang sama sebelumnya; tetapi selalu semua benda-benda ini akhirnya jatuh kepada-Ku.” Setelah mengatakan itu, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala di Benares hiduplah seorang raja yang bernama Susima Susima); dan Bodhisatta adalah putra dari istri pendeta kerajaannya. Ketika dia berumur enam belas tahun, ayahnya meninggal. Ketika ayahnya masih hidup, dia adalah seorang pemimpin upacara festival-festival gajah raja. Dia sendiri bertanggung jawab untuk hiasan dan pertunjukan gajah-gajah yang datang ke festival. Dikarenakan itu, dia mendapat uang sebanyak sepuluh juta untuk setiap festival.

Kala itu adalah musim festival gajah. Dan kaum brahmana datang menghadap raja, dengan kata-kata sebagai berikut: “Oh Paduka, musim festival gajah telah tiba, dan festival harus diadakan. Tetapi putra pendeta kerajaan ini masih terlalu muda; dia tidak tahu tentang tiga Weda, tidak juga pengetahuan. Bolehkah kami yang adakan festival ini?” Raja menyetujuinya.

Pergilah para brahmana dengan senang hati. “Aha,” kata mereka, “kita telah menghalangi anak ini untuk mengadakan festival. Kita akan mengadakannya sendiri, dan mendapatkan keuntungannya!”

Tetapi ibu dari Bodhisatta mendengar dalam empat hari akan ada festival gajah. “Selama tujuh generasi,“ pikirnya, “kami telah mengurus festival-festival gajah ini dari ayah ke anak. Kebiasan lama ini akan hilang dari kami, dan kekayaan kami akan habis!” Dia mencucurkan air mata dan meratap tangis. “Apa yang ibu tangisi?” tanya putranya. Dia menjelaskannya. Kata anaknya–“Baiklah, Bu, saya yang akan mengadakan festival itu.”

“Apa, Anda, Anakku? Anda tidak tahu tentang tiga Weda ataupun pengetahuan tentang gajah; bagaimana Anda bisa melakukannya?” “Kapankah mereka akan mengadakan festival ini, Bu?” “Empat hari dari hari ini, Anakku.” “Di manakah saya bisa mendapatkan guru-guru yang tahu tentang tiga Weda di luar kepala, dan semua pengetahuan tentang gajah?” “Guru yang demikian terkenal, Anakku, tinggal di Takkasila, dua ribu yojana dari sini.” “Ibu,” katanya, “hak turun-temurun kita tidak boleh hilang. Dalam satu hari akan saya tempuh ke Takkasila; satu malam sudah cukup untuk mengajariku tiga Weda dan pengetahuan tentang gajah; keesokan harinya saya akan menempuh perjalanan balik; dan pada hari keempat saya yang akan mengadakan festival itu. Janganlah menangis lagi!” Dengan kata-kata ini, dia menghibur ibunya.

Pagi-pagi keesokan harinya dia menyantap sarapan paginya dan berangkat sendiri ke Takkasila dalam satu hari. Kemudian setelah berjumpa dengan guru, dia mengucapkan salam dan duduk di satu sisi.

“Anda berasal dari mana?” tanya sang guru.

“Dari Benares, Guru.”

“Untuk tujuan apa?”

“Untuk belajar dari Guru tentang tiga Weda dan pengetahuan tentang gajah.”

“Tentu saja, Anakku, Anda seharusnya mempelajarinya.”

“Tetapi, Guru,” kata si Bodhisatta, “kasus saya ini mendesak.” Kemudian dia menceritakan semua masalahnya, dan menambahkan, “Dalam satu hari saya telah menempuh perjalanan dua ribu yojana. Berikan padaku waktu Anda satu malam saja. Tiga hari dari sekarang akan ada festival gajah; Saya akan belajar semuanya dalam satu hari.

Guru itu pun menyetujuinya. Kemudian anak ini membasuh kaki gurunya, dan meletakkan di sampingnya biaya sebesar seribu keping uang; Dia duduk di satu sisi, dan belajar dengan sepenuh hati; waktu pun berlalu, bahkan sebelum hari berlalu, dia telah mempelajari tiga Weda dan pengetahuan tentang gajah. “Masih adakah, Guru?” tanyanya. “Tidak, Anakku, Anda telah menerima semuanya.” “Guru,” lanjutnya, “di dalam buku ini ada bait yang muncul terlalu telat, sedangkan yang

lainnya muncul di tempat yang salah dalam bacaan itu. Inilah cara untuk mengajar murid-murid Anda di kemudian hari,” dan kemudian dia memperbaiki pengetahuan gurunya.

Setelah sarapan pagi, dia pun pergi dan dalam satu hari, tiba di Benares, dan memberikan salam kepada ibunya. “Apakah Anda telah belajar apa yang harus Anda pelajari, Anakku?” tanyanya. Dia menjawab, “Ya”; dan ibunya pun sangat gembira mendengarnya.

Keesokan harinya, festival gajah-gajah telah dipersiapkan. Seratus ekor gajah telah dihiasi dengan hiasan emas, bendera emas, ditutupi dengan jaring-jaring emas murni; dan seluruh lapangan istana juga telah dihiasi. Di sana berdiri para brahmana dengan pakaian pesta mereka yang bagus, dan  berpikir dalam hati, “Sekarang kita yang akan mengadakan upacara, kita akan melakukannya!” Segera datang sang raja, dengan segala kebesarannya, dan bersamanya perhiasan dan benda-benda lain yang dipakainya.

Bodhisatta berpakaian laksana seorang pangeran, sebagai pemimpin rombongannya, menghampiri raja dengan kata-kata sebagai berikut, “Benarkah, Paduka, Anda akan merampas hakku? Apakah Yang Mulia akan memberikan kepada para brahmana yang lain untuk memimpin upacara ini? Apakah Paduka telah mengatakan bahwa Paduka bermaksud akan memberikan kepada mereka semua perhiasan dan peralatan yang dipergunakan?” dan dia mengulang bait pertama sebagai berikut:

 

Seratus ekor gajah hitam, dengan gading-gading yang serba putih semua,

adalah hak Anda, dengan memakai perhiasan emas.

‘Kepada Anda, dan Andalah saya berikan mereka’ —

apakah Anda berkata begitu, mengingat hak leluhurku?

 

Raja Susima, kemudian membalas, dan mengulangi bait kedua:—

 

Seratus ekor gajah hitam, dengan gading-gading yang serba putih semua,

adalah hak saya, dengan memakai perhiasan emas

‘Kepada Anda, dan Andalah saya berikan mereka’—

demikian saya berkata, anak muda, mengingat hak leluhurmu.

 

Kemudian terlintas di pikiran Bodhisatta; dan dia berkata, “Paduka, jika Anda mengingat hak leluhurku dan adat-istiadat leluhurmu, mengapa Anda mengabaikanku dan menjadikan orang lain sebagai pemimpin dari festival Anda?” “Mengapa,  saya diberitahukan bahwa Anda tidak tahu tentang tiga Weda dan pengetahuan tentang gajah, dan inilah sebabnya saya menunjuk orang lain untuk memimpinnya.” “Baiklah, Paduka. Jika ada di antara para brahmana ini yang bisa mengucapkan hanya sebagian dari Weda atau pengetahuan tentang gajah kepadaku, biarlah dia berdiri di depan! Tidak ada seorang pun di seluruh India, selain saya, yang tahu tentang tiga Weda dan pengetahuan tentang gajah untuk memimpin festival gajah!”

Perkataannya dikeluarkan seperti auman singa! Tidak seorang brahmana pun yang maju dan membantahnya. Dengan demikian, Bodhisatta melanjutkan hak turun-temurunnya, dan memimpin festival tersebut; dan dengan penuh kekayaan, dia kembali ke rumahnya.

Ketika Sang Guru telah menyampaikan uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran, dan mempertautkan kisah kelahiran mereka: — ada yang mencapai tingkat kesucian Sotapanna, ada yang mencapai Sakadagami, ada yang mencapai Anagami dan ada yang mencapai Arahat: — “Pada masa itu, Mahamaya adalah sang ibu, dan Raja Suddhodana adalah sang ayah, Ananda adalah Raja Susima, Sariputta adalah guru yang terkenal, dan Aku sendiri adalah brahmana muda.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

Tagged ,

SANTHAVA JATAKA

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang persembahan kepada api. Cerita pembukanya sama dengan yang terdapat di dalam Naṅguṭṭha-Jataka. Para bhikkhu, saat melihat orang-orang yang memberikan persembahan kepada api, berkata kepada Yang Terberkahi, “Bhante, di sini ada petapa rambut panjang yang berlatih berbagai pertapaan yang tidak benar. Ada kebaikan apakah di dalam praktik seperti ini?” “Tidak ada yang baik dari ini,” jawab Sang Guru, “ini pernah terjadi sebelumnya, bahkan orang bijaksana menganggap ada kebaikan dalam pemberian persembahan kepada api, tetapi setelah melakukannya dalam waktu yang cukup lama, dia mengetahui bahwa tidak ada yang baik dari itu dan memadamkannya dengan air dan memukulnya, memadamkannya dengan tongkat, tidak pernah memandangnya lagi setelah itu.” Kemudian Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala, ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir di dalam keluarga seorang brahmana. Ketika  dia berusia enam belas tahun, ayah dan ibunya membawa api kelahirannya dan berkata kepadanya: “Anakku, akankah Anda membawa api kelahiranmu ke dalam hutan dan memuja api ini di sana; atau akankah Anda belajar tiga kitab Weda dan hidup sebagai seorang yang menikah dan tinggal dalam keduniawian?”

Dia berkata, ”Tidak ada kehidupan duniawi untuk diriku; saya akan memuja api di dalam hutan dan pergi ke jalan menuju surga.” Jadi sambil membawa api kelahirannya, dia berpamitan  kepada orang tuanya dan masuk ke dalam hutan, tempat dia tinggal di dalam gubuk yang terbuat dari dahan-dahan dan daun-daun, dan memuja api.

Suatu hari dia diundang ke suatu tempat, tempat dia menerima pemberian bubur beras dan mentega cair. “Bubur beras ini,” pikirnya, “akan kupersembahkan kepada brahma  agung.” Maka dia membawa pulang bubur beras itu dan menyalakan api. Kemudian dengan kata-kata, “Dengan beras ini, saya memberikan persembahan kepada api suci,” dia melemparkannya ke atas api itu. Menaburi bubur beras itu di atasnya, semuanya penuh dengan minyak seperti sebelumnya — api yang sangat panas itu menyebar menyebabkan tempat pertapaannya menyala. Kemudian brahmana itu berlari pergi ketakutan dan duduk tidak jauh dari tempat itu. “Tidak seharusnya berurusan dengan yang jahat,” katanya; “dan demikianlah api ini telah membakar gubuk yang kubuat dengan susah payah!” Dan dia mengulangi bait pertama:—

 

Tidak ada yang lebih buruk daripada teman jahat;

Saya memberikan persembahan kepada api dengan

bubur beras dan mentega cair yang banyak;

Dan gubuk, yang memberikan saya berbagai kesulitan

untuk membangunnya, api itu telah membakarnya.

 

“Cukuplah sudah denganmu sekarang, Teman yang jahat!” tambahnya; dan dia pun menuangkan air di atas api itu, dan memukulnya dengan tongkat, dan kemudian memendam dirinya sendiri di pegunungan. Di sana dia melihat seekor rusa hitam yang sedang menjilati muka seekor singa, seekor harimau dan seekor panter (macan tutul). Karena ini, tersirat dalam pikirannya bagaimanapun tidak ada yang lebih baik daripada teman-teman baik; dan bersamaan dengan itu, dia mengulangi bait kedua:

 

Tidak ada yang lebih baik daripada teman baik,

jasa baik dari persahabatan kulihat di sini;

Melihat singa, harimau, dan panter itu, Rusa hitam menjilati muka mereka bertiga.

 

Dengan renungan-renungan ini, Bodhisatta masuk ke kedalaman pegunungan itu dan di sana dia menjalankan kehidupan suci yang benar, mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi, sampai pada akhir hidupnya dia terlahir kembali di alam brahma.

Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran ini: “Pada masa itu, Aku adalah sang petapa.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

Tagged ,

INDASAMANAGOTTA JATAKA

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seseorang yang sulit  dinasihati; dan cerita pembukanya akan dikemukakan di Gijjha-Jataka, Buku IX. Sang Guru berkata kepada bhikkhu ini — “Pada zaman dahulu, seperti sekarang, Anda diinjak mati oleh seekor gajah yang marah karena sulit dinasihati dan mengabaikan nasihat orang  bijaksana.” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir di dalam keluarga seorang brahmana. Ketika  beranjak dewasa, dia meninggalkan keduniawian dan menjalani kehidupan suci sebagai seorang pabbajita, dan pada waktunya  menjadi pemimpin sebuah kelompok lima ratus petapa, yang semuanya hidup bersama di daerah pegunungan Himalaya.

Di antara petapa itu terdapat seorang yang sulit dinasihati dan mengabaikan nasihat, yang bernama  (Indasamanagotta). Dia memiliki seekor gajah peliharaan. Bodhisatta memanggilnya ketika mengetahui hal ini dan menanyakan apakah benar dia memelihara seekor gajah muda? “Ya, Guru” orang itu menjawab. Dia memiliki seekor gajah  yang kehilangan induknya. “Baik,” kata Bodhisatta, “ketika gajah-gajah menjadi dewasa, mereka akan membunuh orang-orang,  bahkan orang yang membesarkan mereka; jadi Anda lebih baik jangan memeliharanya lebih lama lagi.” “Tetapi saya tidak dapat  hidup tanpa dirinya, Guru!” balasnya. “Oh, baik,” kata Bodhisatta, “Anda akan menyesalinya di kemudian hari.” Bagaimanapun dia masih tetap memelihara hewan itu, seiring berjalannya waktu, hewan itu tumbuh menjadi besar.

Suatu ketika para petapa semuanya pergi jauh untuk mengumpulkan akar-akaran dan buah-buahan di dalam hutan  dan mereka tidak pulang selama beberapa hari. Tiupan angin selatan membuat gajah itu menjadi liar. “Hancurkan gubuk ini!” pikirnya, “Saya akan menghancurkan kendi air! Saya akan menjungkir-balikkan papan batu itu! Saya akan merobek-robek kasur jerami itu! Saya akan membunuh petapa dan kemudian pergi!” Maka dia kabur masuk ke dalam hutan dan menunggu, sambil melihat kepulangan mereka.

Majikannya pulang duluan, penuh dengan makanan untuk peliharaannya. Segera setelah melihatnya, dia mempercepat langkah, berpikir semuanya baik-baik saja. Dengan tergesa-gesa, gajah itu keluar dari semak belukar dan menangkapnya dengan belalai, melemparkannya ke tanah, kemudian dengan pukulan di kepala dia mengakhiri nyawanya;  dan sambil mengeluarkan suara dengan menggila, dia berlari masuk ke dalam hutan.

Para petapa lainnya menyampaikan kabar ini kepada Bodhisatta. Kata Bodhisatta, “Kita tidak seharusnya berurusan dengan yang jahat,” dan kemudian dia mengulangi dua bait berikut:

Yang baik seharusnya menghindar dari pergaulan dengan yang jahat;

Yang baik tahu akan kewajiban apa yang seharusnya mereka lakukan:

Yang jahat akan melakukan kejahatan, cepat atau lambat,

seperti gajah membunuh majikannya itu.

Akan tetapi, jika Anda bertemu dengan seseorang yang

baik dalam moralitas, kebijaksanaan, dan pembelajaran,

maka pilihlah yang demikian untuk dijadikan teman baik;

Teman baik dan berkah berjalan seiring.

 

Dengan cara ini, Bodhisatta menunjukkan kepada kelompok petapanya bahwa sebaiknya menjadi orang patuh dan tidak sulit dinasihati. Kemudian dia mengadakan pemakaman Indasamanagotta, dan melanjutkan hidup dengan mengembangkan kediaman luhur (brahma vihara), dan akhirnya terlahir kembali di alam brahma.

Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Orang yang mengabaikan nasihat itu adalah Indasamanagotta, dan diri-Ku sendiri adalah guru dari kelompok petapa.

 

*****

Sumber: ITC Jataka Volume 2

Tagged ,

VINĪLAKA-JĀTAKA

“Ketika raja di sana pergi berkuda,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Veḷuvana (Veluvana), tentang bagaimana Devadatta menyamar sebagai Sang Buddha.

Kedua siswa utama pergi ke Gayāsīsa (Gayasisa), tempat Devadatta menyamar sebagai Sang Buddha, dan gagal. Kemudian kedua thera tersebut kembali setelah memberikan khotbah Dhamma, dan membawa bersama mereka murid mereka masing-masing. Sesampainya di Veluvana, Sang Guru menanyakan kepada mereka tentang apa yang Devadatta lakukan ketika melihat mereka. “Bhante”, kata mereka, “dia menyamar sebagai Buddha, dan binasa sama sekali.” Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini, Sāriputta , Devadatta binasa ketika menyamar sebagai diri-Ku, hal ini juga terjadi sebelumnya.” Kemudian atas permintaan sang thera, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Videha memerintah di Mithilā (Mithila) dalam Kerajaan Videha, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari permaisuri utamanya. Dia tumbuh di lingkungan mewah dan mendapat pendidikan di Takkasilā , dan pada saat ayahnya meninggal, dia mewarisi kerajaannya. Kala itu, ada seekor raja angsa emas yang berpasangan dengan seekor burung gagak di tempat mereka mencari makan, dan dari mereka lahir seekor anak burung. Anak burung itu tidak mirip dengan kedua induknya. Dia berwarna ungu, hitam dan biru, dan sesuai dengan penampilannya, burung tersebut dinamakan Vinīlaka (Vinilaka). Raja angsa itu sering mengunjungi anaknya, dan sang raja mempunyai dua anak lainnya, angsa seperti dirinya sendiri. Mereka memerhatikan bahwa dia sering mengunjungi daerah tempat manusia berada, dan menanyakan apa alasannya. “Anak-anakku” katanya, “saya mempunyai pasangan di sana, seekor gagak, dan dia memberi saya seorang putra, yg bernama Vinilaka. Dirinyalah yang sering saya kunjungi.” “Di mana mereka tinggal?” tanya mereka. “Di atas pohon lontar, di dekat Mithila dalam Kerajaan Videha,” dia menjelaskan tempatnya. “Ayah” kata mereka, “di mana ada manusia, di sana ada ketakutan dan bahaya. Ayah tidak seharusnya berpergian ke sana, izinkanlah kami pergi dan menjemputnya untukmu.” Lalu mereka membawa sebuah batang pohon, dan menempatkan Vinilaka di atasnya, kemudian dengan menggigit kedua ujung batang tersebut dengan paruh mereka, mereka terbang melewati Kota Mithila. Pada waktu itu, Raja Videha kebetulan sedang duduk di atas kereta kerajaannya yang ditarik oleh kumpulan empat kuda

Sindhavā yang serba putih, ketika melakukan perjalanan kemenangan mengelilingi kota. Vinilaka melihatnya dan berpikir—“Apakah perbedaan antara Raja Videha dan diriku? Dia menyandang kebesaran mengelilingi kerajaannya di atas sebuah kereta yang ditarik oleh empat kuda putih, dan saya dibawa dengan batang pohon yang dibawa oleh sepasang angsa.” Ketika terbang melewatinya di angkasa, dia mengulangi bait pertama:

Ketika raja di sana pergi berkuda dengan empat kuda putih-susu, Vinilaka hanya memiliki ini, sepasang angsa, yang memikulnya di atas tanah!

Kata-kata ini membuat angsa marah. Pikiran pertama mereka adalah, “Lempar dia di sini dan tinggalkan dirinya!”, tetapi kemudian mereka berpikir kembali—“Apa yang akan ayah kami katakan?” Maka dikarenakan takut akan teguran, mereka membawa makhluk itu ke ayah mereka, dan menjelaskan apa yang dilakukannya. Ayah mereka menjadi marah ketika mendengarnya: “Apa!” katanya, “Apakah Anda atasan anakanakku sehingga Anda membuat dirimu sendiri sebagai tuan mereka, dan memperlakukan mereka seperti kuda-kuda di sebuah kereta? Anda tidak tahu diri. Di sini tidak ada tempat untukmu; pulanglah ke tempat ibumu!” dan dengan kecaman ini, dia mengulangi bait kedua:

Vinilaka, Anakku, di sini ada bahaya, di sini tidak ada tempat buatmu; Di gerbang desa ibumu menunggu—ke sanalah Anda harus bergerak dengan cepat sekarang juga.

Dengan kecaman ini, dia menyuruh anak-anaknya membawa burung tersebut ke tempat tumpukan kotoran di luar Kota Mithila, dan demikianlah yang mereka lakukan.

Uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kelahiran mereka: “Pada masa itu, Devadatta adalah Vinilaka ( Vinīlaka ), kedua thera adalah dua anak angsa, Ānanda adalah ayah dari angsa, dan diri-Ku sendiri adalah Raja Videha.”

 

Sumber: ITC, Jataka Vol 2

Tagged ,

MORA-JĀTAKA

“Di sanalah dia bangkit, raja dari semua penglihatan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal. Bhikkhu ini dibimbing oleh beberapa yang lain ke hadapan Sang Guru, yang kemudian bertanya, “Benarkah, Bhikkhu, seperti yang Aku dengar, bahwa Anda menyesal?” “Ya, Bhante.” “Apa yang membuatmu berbuat demikian?” “Seorang wanita yang mengenakan pakaian yang bagus sekali.” Kemudian kata Sang Guru, “Tidaklah mengherankan jika wanita membawa masalah bagi orang seperti dirimu! Bahkan orang bijak, yang selama tujuh ratus tahun tidak melakukan perbuatan buruk (sehubungan dengan nafsu/kilesa), dengan hanya mendengar suara wanita membuat dirinya melakukan pelanggaran dengan segera; bahkan seorang yang suci menjadi tidak suci; bahkan mereka yang telah mencapai kehormatan tertinggi kemudian mendapat aib—apalagi orang biasa!” dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir ke dunia ini sebagai seekor merak. Cangkang telur tempat dia berada, memiliki kulit yang berwarna kuning seperti kuncup kaṇikāra; dan ketika telurnya pecah, dia menjadi seekor merak emas, cantik dan indah, dengan garis-garis indah berwarna merah di bawah sayapnya. Dalam kehidupannya sehari-hari, dia melewati tiga barisan perbukitan, dan pada bukit keempat dia berdiam, di dataran tinggi sebuah bukit emas di Gunung Daṇḍaka . Ketika hari mulai subuh, saat dia duduk di bukit, sambil memandang terbitnya matahari, dia melafalkan mantra brahma untuk melindungi dirinya agar selamat di lahan makanannya sendiri;

Di sanalah dia bangkit, Raja dari semua penglihatan membuat semua benda terang dengan sinar emasnya. Anda yang saya puja, makhluk yang agung dan mulia membuat semua benda terang dengan sinar emasmu Jagalah saya agar selamat, saya berdoa, melewati hari-hari yang akan datang.

Setelah memuja matahari dengan cara seperti ini dengan mengucapkan mantra yang dibacakan di atas, dia mengulang yang lain untuk memuja Buddha-Buddha yang telah lewat, dan semua kebajikan mereka:

Semua orang suci, yang berbudi luhur, bijaksana dalam ilmu dan pengetahuan yang mulia, saya benar-benar menjunjung tinggi, dan memohon dengan sangat akan bantuan dari mereka: Semua junjungan kepada yang bijak, untuk menjunjung tinggi kebijaksanaan, untuk kebebasan, dan untuk semua yang telah dibebaskan.

Setelah memanjatkan mantra ini untuk melindungi dirinya dari bahaya, sang merak pun pergi makan. Kemudian setelah terbang selama seharian penuh, dia kembali pulang di saat senja dan duduk di atas bukit untuk melihat terbenamnya matahari; kemudian sambil bermeditasi, dia mengucapkan mantra lain untuk melindungi dirinya dan menjauhkannya dari yang jahat:

Di sanalah dia berada, Raja dari semua penglihatan, dia yang membuat semua benda terang dengan sinar emasnya. Anda yang saya puja, makhluk yang agung dan mulia, membuat semua benda terang dengan sinar emasmu. melewati malam, seperti melewati siang, jagalah saya supaya aman, saya berdoa.

Semua orang suci, yang berbudi luhur, bijaksana dalam ilmu dan pengetahuan yang mulia, saya benar-benar menjunjung tinggi, dan memohon dengan sangat akan bantuan dari mereka:

Semua junjungan kepada yang bijak, untuk menjunjung tinggi kebijaksanaan, untuk kebebasan, dan untuk semua yang telah dibebaskan.

Setelah memanjatkan mantra ini untuk menjaga dirinya dari bahaya, sang merak pun jatuh tertidur. Kala itu, seorang pemburu jahat tinggal di sebuah desa pemburu liar dekat Benares. Di saat mengembara di sekitar Himalaya, dia melihat Bodhisatta bertengger di bukit emas Gunung Daṇḍaka , dan memberitahukannya kepada putranya. Secara kebetulan, pada suatu hari, salah satu istri Raja Benares, yang bernama Khemā (Khema), melihat dalam sebuah mimpi seekor merak emas sedang memberikan wejangan. Hal ini diberitahukannya kepada raja, mengatakan bahwa dia ingin sekali untuk mendengarkan wejangan dari merak emas. Sang raja bertanya kepada anggota istananya tentang ini; dan anggota istananya berkata, “Para brahmana pasti mengetahui tentang ini.” Para brahmana berkata: “Ya, ada merak emas.” Ketika ditanya di manakah mereka berada, mereka menjawab, “Para pemburu pasti mengetahuinya.” Raja memanggil para pemburu dan menanyakannya kepada mereka. Kemudian pemburu ini menjawab, “Oh Paduka, ada sebuah bukit emas di Daṇḍaka ; dan ada seekor merak emas hidup di sana.” “Kalau begitu, bawalah dia ke sini–jangan dibunuh, bawalah dia dalam keadaan hidup.” Pemburu itu mulai memasang perangkap di lahan makanan sang merak. Tetapi bahkan ketika sang merak berpijak di sana, perangkapnya tidak mau menutup. Pemburu ini mencoba untuk tujuh tahun lamanya, tetapi dia tidak sanggup menangkapnya sendirian; dan di sanalah dia meninggal. Ratu Khema pun meninggal tanpa mendapatkan impiannnya.  Raja sangat gusar karena ratunya mati karena seekor merak. Dia memerintahkan agar sebuah pesan ditulis di atas papan emas: “Di antara pegunungan Himalaya terdapat sebuah bukit emas di Gunung Daṇḍaka . Di sana hidup seekor merak emas; dan barang siapa yang memakan dagingnya akan menjadi awet muda dan abadi.” Ini diletakkannya di dalam sebuah peti. Setelah dia meninggal, raja berikutnya membaca papan ini; dan berpikir, “Saya akan menjadi awet muda dan abadi;” kemudian dia mengutus pemburu yang lain. Seperti yang pertama, pemburu ini gagal untuk menangkap sang merak, dan meninggal dalam pencariannya. Dengan cara yang sama, kerajaan tersebut mengalami kejadian yang sama oleh enam raja-raja penerusnya. Kemudian yang ketujuh pun bangkit, dia juga mengirim seorang pemburu. Sang pemburu mengamati bahwa ketika sang merak emas datang ke perangkap, perangkap tidak tertutup, dan juga dia mengucapkan mantra sebelum keluar mencari makanan. Kemudian dia pergi, dan menangkap seekor merak betina, yang dilatih untuk menari ketika dia menepuk tangannya dan dengan jentikan jarinya dia membuatnya bersuara. Kemudian, dia membawanya bersamanya, menyiapkan perangkap, meletakkan dengan benar di tanah, saat pagi-paginya, sebelum sang merak mengucapkan mantranya. Kemudian dia membuat merak betina untuk bersuara. Suara yang tidak diinginkan ini—suara (merak) betina—menimbulkan hasrat di dalam hati sang merak; meninggalkan mantra tanpa terucap, dia datang menuju merak betina; dan tertangkap di dalam perangkap. Kemudian sang pemburu membawanya dan menyerahkannya kepada Raja Benares. Sang Raja sangat senang dengan keindahan sang merak; dan memerintahkan untuk meletakkan sebuah kursi untuk sang merak. Duduk di atas kursi yang telah disediakan, Bodhisatta bertanya, “Mengapa Anda menangkapku, Paduka?” “Karena mereka berkata bahwa yang memakan dirimu akan menjadi awet muda dan abadi. Maka dari itu, saya berharap untuk menjadi awet muda dan abadi dengan memakan dirimu,” kata raja. “Kalau begitu—katakanlah benar semua yang memakanku akan menjadi awet muda dan abadi. Tetapi di satu sisi yang lain, saya harus mati!” “Tentu saja,” jawab raja “Baiklah—dan jika saya mati, bagaimana bisa dagingku memberikan keabadian bagi yang memakannya?” “Warnamu adalah emas; Maka dari itu konon mereka yang memakan dagingmu akan menjadi muda dan hidup selama-lamanya.” “Paduka,” balas sang burung, “ada alasan yang sangat bagus untuk warna emasku. Dahulu kala, saya mempunyai kekuasaan di seluruh dunia, memerintah tepat di kota ini sebagai seorang Cakkavati28; Saya menjalankan lima latihan moralitas, dan membuat semua orang untuk melakukan yang sama. Untuk itu saya terlahirkan kembali, setelah kematian, di Alam Tāvatiṁsā ; di sana saya hidup, tetapi di kelahiran berikutnya saya menjadi seekor merak sebagai hasil dari perbuatan buruk; walaupun demikian, saya berwarna emas karena sebelumnya saya telah menjalankan latihan-latihan moralitas tersebut.” “Apa? Sangat menakjubkan! Anda adalah seorang raja dunia, yang menjalankan latihan moralitas, dan terlahirkan dengan warna emas sebagai hasilnya! Silakan buktikan!” “Saya punya satu, Paduka.” “Apakah itu?” “Baiklah, Paduka, ketika saya memerintah, saya selalu berjalan di udara dengan kendaraan yang berhiaskan permata, yang sekarang terkubur di bumi, di bawah air danau kerajaan. Galilah dari dasar danau, dan itu akan menjadi bukti.” Raja menyetujui rencananya; dia memerintahkan untuk mengeringkan danaunya dan menggali keluar kereta kerajaannya, dan kemudian memercayai Bodhisatta. Kemudian Bodhisatta berkata demikian kepadanya: “Paduka, selain nibbana yang abadi, semua benda lain, yang sifatnya merupakan hasil uraian, adalah tidak kekal, semuanya akan selalu berubah, dan akan hidup dan mati.” Sambil menguraikan tentang pembahasan ini, dia membuat raja menjadi kukuh di dalam latihan moralitas. Kedamaian menyelimuti hati sang raja, dia melimpahkan kerajaannya kepada Bodhisatta, dan menunjukkan penghormatan tertingginya. Bodhisatta mengembalikan pemberiannya dan setelah persinggahannya selama beberapa hari, kemudian dia terbang ke udara dan kembali ke bukit emas di Gunung Daṇḍaka , dengan nasihat perpisahan–“Oh Paduka, selalu waspada!“ Dan raja menuruti nasihat dari Bodhisatta; dan setelah mempraktikkan perbuatan memberikan derma dan berbuat kebajikan lainnya, dia meninggal untuk menuai hasil sesuai dengan perbuatannya.

Uraian ini berakhir, Sang Guru memaparkan Kebenarankebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang (tadinya) menyesal itu menjadi mencapai tingkat kesucian Arahat:—“Pada masa itu,

Ānanda adalah raja, dan diri-Ku sendiri adalah sang merak emas.”

 

Sumber: ITC, Jataka Vol 2

Tagged ,

SUHANU-JĀTAKA

“Burung-burung yang berbulu sama,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang dua bhikkhu yang pemarah. Dikatakan bahwasanya ada dua bhikkhu yang pemarah, kasar dan bengis, satu tinggal di Jetavana dan satu lagi tinggal di desa. Suatu hari bhikkhu desa itu datang ke Jetavana atas beberapa pesanan atau yang lainnya. Para samanera dan bhikkhu muda mengetahui sifat bhikkhu ini yang pemarah, jadi mereka membawanya ke bilik bhikkhu yang satunya lagi, semua senang sekali melihat mereka bertengkar. Segera setelah mereka bertemu satu sama lain, kedua orang pemarah itu, kemudian mereka bergegas saling memegang tangan, mengelus dan membelai tangan, kaki dan punggung! Para bhikkhu memperbincangkan hal ini di dalam balai kebenaran, “ Āvuso , kedua bhikkhu ini adalah orang yang pemarah, kasar dan bengis kepada semua orang, tetapi terhadap satu sama lain, mereka adalah teman yang baik, ramah dan simpatik!” Sang Guru masuk, sambil menanyakan apa yang mereka bicarakan di sana. Mereka menceritakan kepada-Nya. Kata Beliau, “Ini, Para Bhikkhu, bukan pertama kalinya mereka, yang pemarah, kasar, dan bengis kepada semua orang, namun menunjukkan kepada diri mereka sendiri kebaikan, keramahan dan kesimpatikan satu sama lain. Hal ini juga terjadi seperti demikian pada zaman dahulu”; dan setelah berkata demikian, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta adalah tangan kanannya, seorang anggota istana yang memberinya nasihat dalam masalah pemerintahan dan masalah spiritual. Adapun raja ini adalah seorang yang bersifat agak tamak; dan dia mempunyai seekor hewan yakni seekor kuda, yang bernama Mahāsoṇa (Mahasona). Beberapa pedagang kuda dari negeri utara membawa turun lima ratus kuda; dan kabar dikirimkan kepada raja bahwa kuda-kuda telah tiba. Adapun sebelum ini, Bodhisatta selalu meminta pedagang-pedagang itu untuk menetapkan harga mereka sendiri dan kemudian membayar lunas semuanya. Tetapi sekarang raja sedang tidak senang dengannya, memanggil pejabat istananya yang lain, yang terhadapnya dia berkata, “Teman, suruh orang-orang itu menyebutkan harga mereka; kemudian lepaskan Mahasona jadi biar dia berbaur di antara mereka; buatlah dia menggigit mereka dan ketika mereka lemah dan terluka, minta orang-orang itu untuk mengurangi harga mereka.” “Baik,” kata orang itu; dan demikianlah yang dilakukannya. Para pedagang dengan sangat marah memberitahukannya kepada Bodhisatta mengenai apa yang telah dilakukan oleh kuda ini. “Apa kalian tidak mempunyai hewan lain yang seperti itu di kota kalian?” tanya Bodhisatta. Ada, jawab mereka, di sana ada satu yang bernama Suhanu (Si Rahang Kuat) dan adalah seekor hewan yang liar dan galak. “Bawalah dia bersama kalian lain kali kalian datang,” kata Bodhisatta; dan mereka berjanji akan melakukannya. Jadi saat berikutnya mereka datang, hewan ini datang bersama mereka. Raja yang mendengar kalau pedagangpedagang kuda itu telah datang, membuka jendelanya untuk melihat kuda-kuda itu dan memberi perintah untuk melepaskan Mahasona. Kemudian saat para pedagang melihat Mahasona datang, mereka melepaskan Suhanu. Begitu keduanya bertemu, mereka berdiri diam sambil menjilati sekujur tubuh mereka satu sama lain!

Raja bertanya kepada Bodhisatta bagaimana kejadiannya. “Teman,” katanya, “ketika kedua kuda liar bertemu yang lain mereka galak, buas dan liar, kedua kuda liar itu akan menggigiti mereka, dan membuat mereka sakit. Tetapi terhadap satu sama lain—mereka berdiri diam, saling menjilati satu sama lain sekujur tubuh! Apa alasannya?” “Alasannya adalah,” kata Bodhisatta, “mereka tidaklah berbeda, melainkan sifat dan karakter mereka sama.” Dan dia mengulangi beberapa bait berikut:

Burung-burung yang berbulu sama berkumpul bersama: Mahasona dan Suhanu keduanya sama:  Dalam jangkauan dan tujuan, keduanya adalah sama— tidak ada perbedaan yang kulihat.

Keduanya liar, dan keduanya jahat; keduanya selalu menggigit tali pengikat; Jadi kasar dengan kasar, dan buruk dengan buruk, demikianlah mereka saling bersikap.

Kemudian Bodhisatta melanjutkan untuk memperingatkan raja agar melawan keserakahan yang berlebihan dan perampasan barang milik orang lain; dan memperbaiki nilainya, dia membuatnya membayar harga yang sepantasnya. Para pedagang menerima harga yang wajar dan pergi dengan sangat puas; dan raja, terikat oleh nasihat Bodhisatta, kemudian meninggal dunia, menerima hasil (buah perbuatan) sesuai dengan perbuatannya.

Ketika Sang Guru telah menyampaikan uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Bhikkhu-bhikkhu yang buruk itu adalah dua kuda itu, Ānanda adalah raja, dan diri-Ku sendiri adalah penasihat yang bijaksana.”

 

Sumber: ITC, Jataka Vol 2

Tagged ,

GUṆA-JĀTAKA

“Yang kuat akan selalu mempunyai jalan mereka sendiri,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana tentang bagaimana Thera Ānanda (Ananda) menerima pemberian seribu jubah. Thera ini telah memberikan Dhamma kepada wanita-wanita di istana Raja Kosala seperti yang telah dikemukakan di dalam Mahāsāra-Jātaka.  Ketika beliau memberikan khotbah Dhamma di sana dengan cara yang telah dikemukakan, seribu jubah, masingmasing bernilai seribu keping uang, dibawa ke raja. Dari ini raja memberikan lima ratus kepada ratu-ratunya. Wanita-wanita ini menyisihkan dan menjadikannya sebagai bingkisan untuk sang thera, dan keesokan harinya dengan mengenakan pakaianpakaian lama, mereka kembali ke istana di tempat raja menyantap sarapan paginya. Raja bertanya, “Saya memberikan kalian semua pakaian-pakaian yang bernilai seribu keping uang masing-masingnya. Mengapa kalian semua tidak memakainya?” “Paduka”, mereka berkata, “kami telah memberikannya kepada Thera Ananda.” “Apakah Thera Ananda mengambil semuanya?” tanyanya. Mereka mengiyakannya, bahwa dia telah mengambilnya. “Yang Tercerahkan Sempurna ( Sammāsambuddha )”, dia berkata, “hanya memperbolehkan tiga jubah. Menurutku, Ananda pasti telah menjual pakaian-pakaiannya!” Dia sangat marah dengan thera ini; dan setelah sarapan pagi, dia mengunjunginya di kamarnya, dan setelah memberikan salam, dia duduk dan berkata:—“Jujurlah, Bhante, apakah wanita-wanitaku belajar dan mendengarkan apa yang Anda ajarkan?”  “Iya, Paduka, mereka belajar apa yang seharusnya dipelajari, dan mendengar apa yang harus mereka dengarkan.” “Oh, sesungguhnya, apakah mereka mendengar atau mereka memberikan Anda bingkisan jubah luar atau jubah dalam?” “Sampai hari ini, Paduka, mereka telah memberikan kepadaku lima ratus jubah yang bernilai seribu keping uang masing-masingnya.” “Dan Bhante menerimanya?” “Ya, Paduka, saya menerimanya.” “Kenapa Bhante, bukankah Sang Guru telah membuat peraturan tentang tiga jubah?” “Benar, Paduka, untuk setiap bhikkhu tiga jubah adalah aturannya, kalau yang dimaksud adalah yang dipakainya sendiri. Tetapi tidak ada larangan untuk siapa saja menerima persembahan kepadanya; karena itulah saya menerimanya— untuk diberikan kepada bhikkhu-bhikkhu yang jubahnya telah usang.” “Tetapi setelah bhikkhu-bhikkhu ini menerimanya dari Anda, apakah yang mereka lakukan terhadap jubah lamanya?” “Menjadikannya sebagai mantel.” “Dan bagaimana pula dengan mantel tua?” “Mereka menjadikannya sebagai baju.” “Dan baju tua?” “Dijadikan sebagai alas ranjang.”

“Dan alas ranjang tua?”—“Menjadi tatakan.” “Dan tatakan tua?”—“Handuk.” “Dan bagaimana dengan handuk tua?” “Paduka, kami tidak diperbolehkan untuk menyia-nyiakan pemberian; jadi mereka mengoyak-ngonyak handuk tua menjadi bagian-bagian kecil, dan mencampurkannya dengan tanah liat, yang kemudian mereka jadikan campuran plester untuk membangun rumah-rumah.” “Sebuah pemberian, Bhante, tidak pantas dimusnahkan, bahkan sehelai handuk.” “Benar, Paduka, kami tidak memusnahkan pemberianpemberian, tapi semuanya dipergunakan.” Percakapan ini sangatlah memuaskan raja, oleh karenanya dia mengirimkan kelima ratus sisa pakaian dan memberikannya kepada sang thera. Kemudian, setelah menerima ucapan terima kasihnya, dia memberikan salam dengan hormat dan berjalan pergi. Thera tersebut memberikan lima ratus jubah pertama kepada bhikkhu-bhikkhu yang jubahnya telah usang. Tetapi jumlah semua bhikkhu hanyalah lima ratus orang. Salah satunya, bhikkhu muda, yang selalu melayani sang thera, membersihkan ruangannya, memberinya makan dan minum, memberinya sikat gigi dan air untuk mencuci mulutnya, membersihkan kakus, ruang-ruang tamu, kamar-kamar tidur, dan semua yang diperlukan oleh tangan, kaki atau punggung. Kepadanya, sebagai haknya telah memberikan semua pelayanan ini, sang thera memberikan lima ratus jubah yang terakhir diterimanya. Bhikkhu muda ini, sebagai gilirannya, membagi-bagikan kepada sesama murid. Mereka memotongnya, mencelupnya menjadi kuning bunga kaṇikāra, dan memakainya, kemudian di sana mereka menunggu Sang Guru, memberi salam dan duduk di samping-Nya. “Guru,” mereka bertanya, “apakah mungkin seorang siswa ariya yang telah mencapai Sotāpanna memuja orang yang dia berikan sesuatu.” “Tidak, Para Bhikkhu, tidaklah mungkin bagi seorang siswa ariya untuk memuja orang yang dia berikan sesuatu.” “Bhante, upajjhāya kami, sang Bendahara Dhamma, telah memberikan lima ratus jubah, yang masingmasing bernilai seribu keping uang kepada seorang bhikkhu muda, dan dia membagi-bagikannya kepada kami.” “Para Bhikkhu, dengan memberikan ini, Ananda tidak memuja siapasiapa. Bhikkhu muda ini adalah pelayan yang sangat membantunya, jadi Ananda memberikan kepadanya untuk pelayanannya, kebaikannya, dan sebenarnya, kalau dipikir sebuah kebaikan patut dibalas dengan kebaikan lain dan dengan niat melakukannya sebagai tanda terima kasih. Pada zaman dahulu, seperti sekarang ini, orang-orang bijaksana melakukan prinsip yang diceritakan dalam sebuah kisah, suatu kebaikan pantas dibalas dengan kebaikan lainnya.” Dan kemudian, atas permintaan mereka, Beliau menceritakan kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah seorang raja di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai singa yang tinggal di gua di suatu pegunungan. Suatu hari, dia keluar dari sarangnya dan melihat ke kaki gunung. Di kaki gunung itu membentang sebidang air yang luas. Di sebagian tanah di sekitarnya terdapat sejumlah rumput hijau yang tumbuh di lumpur yang tebal, dan di atasnya, kelinci-kelinci, rusa dan binatang-binatang kecil lainnya berlarian, dan menikmati rumput-rumput itu. Pada hari itu, seperti biasa, ada rusa yang sedang makan rumput di sana. “Saya akan memakannya!” pikir si singa; dan dengan lompatannya dari sisi bukit dia menerkam si rusa. Tetapi karena si rusa sangat takut, dia berlari tergesa-gesa. Si singa tidak bisa menghentikan sergapannya; dia masuk ke dalam lumpur tempat dia jatuh, dan tenggelam, jadinya dia tidak bisa keluar; dan di sana dia bertahan selama tujuh hari, kakinya terpaku seperti tonggak, dan tidak ada sesuatu pun yang bisa dimakan. Kemudian muncul serigala yang lagi mencari makanan, melihatnya, dan mencoba lari dengan ketakutan. Tetapi si singa memanggilnya keluar—“Serigala, jangan lari—saya di sini, terbenam di dalam rawa-rawa. Tolonglah saya!” Si serigala datang. “Saya bisa menarikmu keluar,” katanya, “tetapi saya sangat takut Anda akan memakanku.” “Tidak usah takut, saya tidak akan memakanmu,” kata si singa. “Malah sebaliknya, saya akan membalas kebaikanmu; bagaimanapun juga keluarkan saya dari sini.” Serigala menerima janjinya, menyingkirkan lumpur di sekitar keempat kakinya, dan di sekitar keempat kakinya yang terbenam dia menggali lebih jauh ke air; kemudian air masuk ke dalam dan membuat lumpurnya menjadi lebih lunak. Kemudian dia masuk ke bawah singa, dan berkata–“Sekarang, Saudara, satu usaha besar,” dengan suara keras dan mendorong perut si singa dengan kepalanya. Si singa mengencangkan semua ototnya dan dengan susah payah merangkak keluar dari lumpur; dia berdiri di tanah kering. Setelah beristirahat sejenak, dia menceburkan dirinya ke danau dan mencuci serta membersihkan lumpur di badannya. Kemudian dia memburu seekor kerbau, dan dengan taring-taringnya dia mengoyak daging si kerbau, dan menawarkannya kepada serigala, serta berkata, “Makanlah, Saudaraku!” dan setelah serigala habis makan, dia pun makan juga. Setelah itu, serigala menggigit sepotong daging di mulutnya. “Untuk apakah itu?” tanya si singa. “Untuk pelayan Anda yang rendah hati, pasanganku, yang menungguku di rumah.” “Baiklah,” kata si singa, juga menggigit sepotong untuk pasangannya. “Mari, Saudaraku,” katanya lagi, “kita tinggal sejenak di puncak gunung, dan kemudian pergi ke rumah betina.” Maka pergilah mereka ke sana, dan kemudian si singa menyuapi si serigala betina; setelah mereka semua puas, dia berkata, “Sekarang saya akan melindungi kalian.” Maka dia membawa mereka ke tempat dia tinggal, dan menempatkan mereka di sebuah gua dekat jalan masuk ke kediamannya sendiri.  Mulai sejak itu, dia dan serigala selalu pergi berburu bersama, meninggalkan pasangan mereka di sarang; semua binatang mereka bunuh dan makan sampai isi hati mereka, dan kemudian membawa pulang sebagian untuk kedua pasangan mereka. Dan seiring dengan waktu, si serigala betina dan singa betina pun mempunyai dua anak, dan mereka pun hidup bahagia bersama. Suatu hari, timbul pikiran di benak singa betina, “Singa jantanku sangat menyayangi si serigala jantan, serigala betina dan anak-anaknya. Bagaimana kalau ada sesuatu yang tidak benar di antara mereka? Saya pikir pasti karena itulah sebabnya mengapa dia sangat menyayangi mereka. Baiklah, saya akan mengganggu dan menakuti si serigala betina, dan mengusirnya dari sini.” Maka ketika si singa jantan dan serigala jantan keluar berburu, dia mengganggu dan menakuti serigala betina, dan menanyakan mengapa dia tinggal di situ, mengapa dia tidak lari. Dan anak-anak singa pun menakuti anak-anak serigala dengan cara yang sama. Si serigala betina pun menceritakan kepada yang jantan apa yang dikatakan singa betina. “Telah jelas,” katanya, “singa telah memberikan petunjuk kepada kita. Kita tinggal di sini sudah terlalu lama; dan sekarang dia akan menjadi perenggut nyawa kita. Mari kita kembali ke tempat tinggal kita semula.” Setelah mendengar ini, serigala jantan mendekati singa jantan, dengan kata-kata sebagai berikut, “Tuan, kami telah lama tinggal disini, telah tinggal lebih dari waktu yang diperbolehkan. Ketika kita keluar, singa betinamu menegur dan menakuti pasanganku, dengan menanyakan mengapa dia tetap tinggal di sini, serta menyuruhnya pergi dari sini; anak-anakmu juga begitu terhadap anak-anakku. Kalau seseorang tidak menyukai tetangganya, dia seharusnya cuma perlu menyuruh pergi, dan mengurus dirinya sendiri; untuk apa perlu mengganggu begitu?” Sambil berkata, dia mengulangi bait pertama:—

Yang kuat selalu mempunyai caranya sendiri; adalah sifatnya untuk berbuat demikian; Pasanganmu mengaum keras; dan sekarang saya takut terhadap apa yang saya percayai dahulu.

Setelah mendengar ini, singa jantan berputar ke arah singa betina, “Istriku,” katanya, “Anda ingatkah bagaimana sewaktu saya pergi berburu selama satu minggu, dan kemudian membawa pulang serigala ini dan pasangannya bersamaku?” “Ya, saya ingat.” “Baik, tahukah Anda mengapa saya pergi selama seminggu?” “Tidak, Suamiku.” “Istriku, ketika sedang mencoba menangkap seekor rusa, saya melakukan kesalahan, dan terbenam di dalam rawa-rawa; di sanalah saya berdiam— tempat saya tidak bisa keluar—satu minggu penuh tanpa makanan. Nyawaku telah diselamatkan oleh serigala ini. Temanku inilah yang menyelamatkan nyawaku! Teman yang ada pada saat dibutuhkan adalah teman yang sesungguhnya, baik besar maupun kecil. Jangan mencoba lagi menghina sahabatku ini, atau istrinya ataupun anak-anaknya.” Kemudian si singa mengulangi bait kedua:—

Seorang teman yang melakukan sesuatu sebagai sahabat, walaupun dia kecil atau lemah,  dia adalah kerabatku dan darah dagingku, dialah teman dan saudara.  Jangan menghina dirinya, Pasanganku yang bertaring tajam! Serigala ini telah menyelamatkan nyawaku.

Si singa betina, setelah mendengarkan kisah ini, kemudian berdamai dengan serigala betina dan selamanya hidup bersahabat dengannya dan anak-anaknya. Dan anak-anak dari kedua pasangan ini pun selalu bermain bersama sewaktu kecil, dan setelah orang tua mereka mati, mereka pun tidak memutuskan persahabatan mereka, tetapi hidup bahagia bersama-sama seperti orang tua mereka sebelumnya. Tentu saja, persahabatan ini bertahan selama tujuh generasi.

Ketika Sang Guru telah menyampaikan uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—(Di akhir kebenaran-kebenaran, ada yang mencapai tingkat kesucian Sotāpanna , ada lagi yang mencapai tingkat kesucian Sakadāgāmi , ada yang mencapai Anāgāmi, dan ada yang mencapai Arahat.)—“Pada masa itu, Ananda ( Ānanda ) adalah serigala, dan singa adalah diri-Ku sendiri.”

 

Sumber: ITC, Jataka Vol 2

Tagged ,

ALĪNACITTA-JĀTAKA

“Pangeran Alīnacitta,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana, tentang bhikkhu yang berhenti berusaha. Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Saṁvara-Jātaka di Buku XI20. Ketika Sang Guru bertanya kepada bhikkhu ini apakah benar dia telah berhenti berusaha, seperti yang dilaporkan, dia menjawab, “Ya, Yang Terberkahi ( Bhagavā ).” Terhadap ini, Sang Guru berkata, “Bhikkhu, pada masa lampau, bukankah Anda mendapatkan kekuasaan penuh atas Kerajaan Benares, dua belas yojana setiap sisi, dan memberikannya kepada seorang bayi laki-laki, seperti potongan daging dan tidak lebih dari itu, dan semua ini hanyalah dengan usaha? Dan sekarang Anda telah memeluk ajaran yang akan memberikan pembebasan, mengapa Anda harus berhenti berusaha?” Beliau pun menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, ada sebuah desa tukang kayu yang tidak jauh dari kota, tempat lima ratus orang tukang kayu tinggal. Mereka biasanya mendayung ke hulu sungai dengan sebuah kapal, dan masuk ke dalam hutan, tempat mereka membuat balok-balok dan papanpapan untuk membangun rumah, dan mengumpulkan kerangka untuk rumah-rumah satu tingkat atau dua tingkat, memberi nomor semua potongan mulai dari balok utama; semuanya ini kemudian mereka bawa ke tepi sungai dan menaikkannya ke kapal; kemudian mendayung ke hilir sungai lagi, mereka selanjutnya akan membangun rumah-rumah sesuai pesanan; setelah itu, kalau mereka telah menerima upah, mereka akan kembali lagi untuk bahan-bahan baku yang lebih banyak untuk bangunan itu, demikianlah mata pencaharian mereka. Suatu hari, di tempat mereka bekerja untuk mengukir kayu, seekor gajah memijak serpihan kayu akasia dan tertusuk di kakinya, menyebabkan kakinya bengkak dan bernanah dan dia sangat kesakitan. Pada puncak kesakitannya, dia menangkap suara para tukang kayu sedang memotong kayu. “Bakal ada beberapa tukang kayu yang akan mengobati saya,” pikirnya; dan dengan pincang di atas tiga kakinya, dia memunculkan diri di depan mereka dan berbaring di dekat situ. Para tukang kayu yang mengetahui kakinya bengkak pergi melihat; ada serpihan kayu yang tertusuk di kakinya. Dengan sebuah alat yang tajam mereka mengiris serpihan kayu tersebut dan mengikatnya ke sepotong tali kemudian menariknya keluar. Mereka kemudian membuka luka itu dan mencucinya dengan air hangat dan mengobatinya dengan baik; dan dalam waktu singkat luka itu pun sembuh. Karena rasa terima kasih atas pengobatan ini, sang gajah berpikir: “Nyawaku telah diselamatkan oleh para tukang kayu ini. Sekarang saya harus membuat diriku bermanfaat bagi mereka.” Jadi semenjak itu, dia pun digunakan untuk mencabut pohon-pohon oleh mereka, atau kalau mereka sedang memotong kayu, dialah yang mengangkat balok-balok itu; atau membawakan mereka kapak atau perkakas lain yang mereka perlu, memegang segalanya sekuat-kuatnya dengan belalai. Dan para tukang kayu, pada saat memberi makan kepadanya, biasanya mereka masing-masing membawa sepotong makanan, jadi keseluruhannya ada lima ratus potong makanan. Gajah ini memiliki seekor anak, badannya serba putih, jenis keturunan yang sangat baik. Sang induk gajah berpikir bahwa dia sekarang sudah tua dan sebaiknya membawa anaknya untuk membantu para tukang kayu, dan dia sendiri bisa bebas pergi. Jadi tanpa sepatah kata pun kepada para tukang kayu, dia pergi ke dalam hutan dan membawa anaknya kepada mereka sambil berkata, “Gajah muda ini adalah anakku. Kalian telah menyelamatkan nyawaku dan saya berikan dia kepada kalian sebagai balasan atas pengobatan kalian; Mulai saat ini, dia akan bekerja untuk kalian.” Maka dia menjelaskan kepada gajah muda itu bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk mengerjakan apa yang biasanya dia sendiri lakukan, dan kemudian dia pun masuk ke dalam hutan, meninggalkannya dengan para tukang kayu. Demikianlah sejak saat itu, gajah muda tersebut melakukan semua tugasnya dengan setia dan patuh; dan mereka memberinya makan seperti yang mereka berikan kepada gajah sebelumnya, dengan lima ratus potong untuk sekali makan. Kalau pekerjaannya telah selesai, gajah itu akan pergi bermain di sungai dan kemudian kembali lagi. Anak-anak tukang kayu suka menarik belalainya dan bersenda gurau dengannya di dalam air maupun di darat. Sebagai makhluk mulia, apakah mereka itu gajah, kuda atau manusia, tidak akan pernah membuang kotoran di dalam air. Jadi gajah ini tidak melakukan hal seperti itu ketika dia berada di dalam air, tetapi menunggu sampai dia keluar ke tepi sungai.  Suatu hari, hujan membanjiri sungai; dan oleh banjir itu, kotorannya yang setengah kering terbawa ke dalam sungai, terhanyut sampai ke Benares, dan kotoran ini tersangkut di semak-semak. Tidak lama setelah itu, para penjaga gajah raja membawa lima ratus gajah untuk dimandikan. Tetapi makhlukmakhluk itu mencium bau tanah itu berasal dari seekor binatang mulia dan tidak ada satu pun yang mau masuk ke dalam air; mengangkat ekor mereka dan berlarian pergi. Para penjaga gajah menceritakan hal ini kepada para pawang gajah; mereka pun menjawab, “Kalau begitu, pasti ada sesuatu di dalam air.” Maka perintah diberikan untuk membersihkan air itu; dan di dalam semak-semak, gumpalan (kotoran) itu terlihat. “Itu adalah masalahnya!” teriak orang-orang itu. Jadi mereka membawa sebuah botol, dan mengisinya dengan air; dan memasukkan benda itu ke dalamnya, mereka memerciki air itu ke gajah-gajah, kemudian badan-badan mereka pun menjadi wangi. Secara bersamaan mereka pun turun ke sungai dan mandi. Ketika para pawang melaporkan hal ini kepada raja, mereka memberikan saran kepada raja untuk menangkap gajah tersebut untuk dipergunakan demi kepentingannya. Maka raja pun berangkat dengan kapal, dan mengayuh ke hulu sungai sampai dia tiba di tempat para tukang kayu tinggal. Gajah muda setelah mendengar suara genderang ketika sedang bermain di air, keluar dan menghadap para tukang kayu, semua datang memberi hormat atas kedatangan raja, dan berkata kepadanya, “Paduka, jika hasil kerajinan kayu yang diinginkan, apa perlu sampai datang ke sini? Mengapa tidak mengutus pengawal datang saja dan kami akan mempersembahkannya untukmu?” “Bukan, bukan, Teman-teman baikku,” jawab raja, “Bukan karena kayu, saya datang kesini, tetapi karena gajah ini.” “Dia milikmu, Paduka!”—Tetapi sang gajah menolak untuk bergerak. “Apa yang harus saya lakukan untuk Anda, gajah yang menjadi bahan pembicaraan?” tanya sang raja. “Perintahkan untuk membayar para tukang kayu atas apa yang telah mereka habiskan untuk saya, Paduka.” “Dengan senang hati, Teman.” Dan raja pun memerintahkan untuk memberikan seratus ribu keping uang untuk ekornya, belalainya dan juga keempat kakinya. Tetapi ini tidak cukup untuk sang gajah; dia belum mau pergi. Jadi untuk setiap tukang kayu diberikan sepasang pakaian dan untuk setiap istri mereka jubah untuk dipakai, dia masih merasa tidak cukup karena teman-teman mainnya, anak-anak masih harus diasuh; kemudian dengan melihat terakhir kalinya kepada para tukang kayu, para wanita, dan anak-anak, dia pun berangkat bersama dengan raja. Ke pusat kota raja membawanya; kota dan kandang semuanya dihiasi dengan megah. Dia memimpin sang gajah keliling kota dengan berpradaksina dan kemudian ke dalam kandangnya, yang telah diatur dengan indah dan megah. Di sana dia memerciki sang gajah dengan khidmat dan menunjuknya sebagai tunggangannya sendiri; seperti seorang sahabat, dia memperlakukannya dan memberikannya separuh dari kerajaannya, menjaganya seperti dia menjaga dirinya sendiri. Setelah kedatangan gajah itu, raja memenangkan kekuasaan penuh di seluruh Jambudīpa (India). Sejalan dengan waktu, permaisuri mengandung Bodhisatta; dan pada saat telah dekat dengan waktu melahirkan, sang raja wafat. Jika sang gajah mengetahui kematian raja, dia pasti akan sedih sekali; jadi dia tetap dilayani seperti sebelumnya dan tidak ada sepatah kata pun yang dikatakan (kepadanya). Tetapi tetangga sebelah, Raja Kosala, mendengar kematian raja. “Pastilah daerahnya menjadi kekuasaanku,” pikirnya; dan dia menggerakkan satu pasukan yang kuat ke kota, dan mengepungnya. Langsung gerbang-gerbang ditutup semua dan sebuah pesan dikirim ke Raja Kosala:—“Permaisuri kami sedang dekat dengan waktu melahirkan dan para ahli bintang telah meramalkan dalam tujuh hari dia bakal melahirkan seorang putra.

Jika dia melahirkan seorang putra, kami tidak akan menyerahkan kerajaan ini, tetapi pada hari ketujuh kita akan bertempur. Untuk waktu selama itulah kami harapkan Anda bisa menanti.” Dan terhadap ini, raja menyetujuinya. Dalam tujuh hari, permaisuri melahirkan seorang putra. Pada hari penamaannya, mereka memberinya nama Alīnacitta (Pangeran Pemenang Hati); karena, kata mereka, dia dilahirkan untuk memenangkan hati rakyat.  Pada hari yang sama di saat dia dilahirkan, para penduduk kota mulai bertempur dengan Raja Kosala. Tetapi karena mereka tidak mempunyai seorang pemimpin, sedikit demi sedikit pasukan mundur, meskipun sangat hebat. Orang-orang istana pun menceritakan berita ini kepada permaisuri, menambahkan, “Karena pasukan kita mulai terdesak, ditakutkan kita akan kalah. Tetapi gajah kerajaan, teman karib sang raja, tidak pernah mendapat kabar bahwa raja telah wafat dan beliau telah dikaruniai seorang putra dan juga Raja Kosala datang bertempur dengan kita. Haruskah kita ceritakan kepadanya?“ “Ya, lakukanlah,” kata permaisuri. Jadi dia mendandani putranya dan menempatkannya di kain halus; setelah itu dia bersama orang-orang istana turun dari istana dan masuk ke kandang sang gajah. Di sana dia meletakkan bayinya di kaki gajah, sambil berkata, “Guru, sahabat Anda telah wafat, tetapi untuk menceritakannya kepadamu, kami takut kalau-kalau akan membuatmu sangat sedih. Ini adalah anak sahabatmu; Raja Kosala telah mengerahkan pasukan ke kota dan sedang bertempur dengan pasukan anak sahabatmu; pasukan kita telah terdesak; jadi bunuhlah anak sahabatmu sendiri atau menangkanlah kerajaan ini untuknya!”  Dengan segera sang gajah menyambar anak itu dengan belalainya dan mengangkatnya ke atas kepalanya; kemudian sambil mengerang dan meratap, dia menurunkan anak itu dan meletakkannya ke tangan ibunya, dan dengan kata-kata—“Saya akan mengatasi Raja Kosala!” dia pergi dengan tergesa-gesa.  Kemudian orang-orang istana memasangkan perisai dan senjata di badannya, membuka gerbang kota, kemudian mengantarkannya ke sana. Sang gajah muncul dengan raungan keras dan menakuti semua pasukan supaya mereka melarikan diri, dan merusak perkemahan mereka; kemudian dia mencengkam rambut Raja Kosala dan membawanya ke depan pangeran muda, kemudian dia jatuhkan raja itu ke kaki pangeran muda. Sebagian orang bangkit untuk membunuhnya, tetapi sang gajah menahan mereka; dan membiarkan raja tawanan itu pergi dengan nasihat: “Ke depannya, berhati-hatilah dan jangan lancang karena melihat pangeran kami yang masih muda ini.” Setelah itu, semua kekuasaan atas seluruh India jatuh ke tangan Bodhisatta dan tidak ada seorang musuh pun yang berani melawannya. Bodhisatta dinobatkan pada usia tujuh tahun sebagai Raja Alīnacitta ; demikianlah dia memerintah dan pada akhir hidupnya, dia terlahir di alam surga.

Ketika Sang Guru selesai menyampaikan uraian ini, dalam kebijaksanaan-Nya yang sempurna, Beliau mengulangi beberapa bait berikut:—

Pangeran Alīnacitta menerima keburukan Raja Kosala dan menolong dengan semua yang dimilikinya; Dengan menangkap raja rakus itu, dia membuat rakyat senang.

Demikian juga bhikkhu siapa saja yang kuat dalam berusaha, yang berlindung, yang gemar melakukan kebajikan, yang mengamalkan jalan-jalan menuju nibbana, lambat laun akan menghancurkan segala ikatan ( saṁyojana ).

Dan demikianlah Sang Guru membawa ajaran-Nya sampai ke puncak nibbana, melanjutkan untuk memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran-kebenaran ini, bhikkhu yang tadinya telah berhenti berusaha itu mencapai tingkat kesucian Arahat:—“ Mahāmāyā adalah sang ibu; bhikkhu yang berhenti berusaha adalah gajah yang mengambil alih kerajaan dan menyerahkannya kepada anak itu; Sāriputta adalah ayah dari gajah itu, dan diri-Ku sendiri adalah Pangeran Alīnacitta .”

 

Sumber: ITC, Jataka Vol 2

Tagged ,