KUṬIDŪSAKA JĀTAKA

“Wahai kera, dari kaki,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu muda yang membakar gubuk daun milik Mahākassapa Thera (Mahakassapa Thera). Kejadian yang menghubungkan kisah ini terjadi di Rājagaha (Rajagaha).

Dikatakan, pada masa itu sang thera tinggal di sebuah gubuk di dalam hutan dekat Rajagaha, dengan dua orang siswa, yang melayani keperluannya. Satu siswanya sangat baik dalam pelayanan dan yang satunya lagi sangat jahat. Apa pun yang dikerjakan oleh sahabatnya yang baik, ia akan membuatnya terlihat seolah-olah itu dikerjakan oleh dirinya sendiri. Contohnya, ketika sahabatnya yang baik itu telah menyiapkan air untuk mencuci mulut, ia pergi menemui sang thera dan memberi salam, sembari berkata, “Bhante, airnya sudah siap. Silakan bhante menggunakannya untuk mencuci mulut.” Dan ketika pelayan yang baik itu bangun pagi dan telah selesai menyapu ruangan bhikkhu senior tersebut, ia akan melakukan ini dan itu untuk menunjukkan seolah-olah ruangan tersebut dibersihkan olehnya sendiri ketika beliau kembali ke ruangannya.

Siswa yang baik itu berpikir, “Sahabatku yang jahat ini selalu membuat apa pun yang kukerjakan kelihatan seperti dikerjakan oleh dirinya sendiri. Saya akan membongkar kelicikannya.” Jadi ketika siswa yang jahat itu sedang tidur sehabis makan dan kembali dari desa, ia memasak air panas untuk mandi dan menyembunyikannya di ruang belakang kemudian hanya meletakkan sedikit air di dalam belanga. Siswa yang jahat itu bangun, melihat uap keluar dari belanga dan berpikir, “Pasti sahabatku telah memasak air dan meletakkannya di dalam kamar mandi.” Maka ia pun pergi menemui sang thera dan berkata, “Bhante, airnya sudah siap di kamar mandi. Silakan mandi.” Beliau pergi bersama dengannya, dan ketika melihat tidak ada air di sana, beliau menanyakan di mana airnya diletakkan. Dengan tergesa-gesa, ia menuju ke dapur dan memasukkan sibur ke dalam belanga yang kosong itu, sibur membentur bagian dasar belanga dan menimbulkan bunyi kelentung. (Sejak saat itulah, siswa ini dikenal dengan nama Uḷuṅkasaddaka). Kemudian, siswa yang baik itu membawakan air dari ruang belakang dan berkata, “Bhante, silakan mandi.”

Sang thera kemudian mandi, dan mengetahui kelakuan buruk dari Uḷuṅkasaddaka (Ulunkasaddaka). Ketika ia datang di malam hari untuk memberikan pelayanan, beliau mendekatinya dan berkata, “Āvuso, Ketika seseorang melakukan suatu pekerjaan, maka hanya dirinyalah yang berhak untuk mengatakan, ‘Saya yang melakukannya.’ Jika tidak, maka itu adalah suatu kebohongan. Oleh karena itu, janganlah melakukan perbuatan tidak benar seperti ini.”

Ia menjadi marah terhadap sang thera. Pada keesokan harinya, ia tidak mau pergi bersama dengannya untuk berpindapata. Beliau pergi bersama dengan siswa yang satunya lagi. Dan Ulunkasaddaka pergi menjumpai keluarga penyokong thera itu. Ketika mereka menanyakan dimana sang thera berada, ia menjawab bahwa beliau sedang sakit, berada di dalam gubuk.

Mereka menanyakan apa yang harus beliau makan. Ia berkata, “Berikan ini dan itu,” dan kemudian membawanya pergi ke tempat yang ia sukai, memakannya dan kembali ke gubuk. Keesokan harinya, sang thera mengunjungi keluarga itu dan duduk bersama dengan mereka. Mereka berkata, “Bhante tidak enak badan ya? Katanya, kemarin Bhante sakit dan berada di dalam gubuk. Kami menitipkan makanan Bhante kepada seorang pelayan anu. Apakah Yang Mulia memakannya?” Sang thera diam, dan setelah selesai bersantap, beliau kembali ke gubuknya.

Pada malam hari, ketika Ulunkasaddaka datang untuk memberikan pelayanan, beliau berujar demikian kepadanya:

“Āvuso, Anda pergi meminta derma makanan dari keluarga anu di desa anu. Anda memohon derma makanan dengan mengatakan, ‘Yang mulia harus makan ini dan itu.’ Kemudian mereka mengatakan bahwa Anda sendiri yang memakan semua itu. Cara meminta seperti adalah cara yang salah. Janganlah melakukan kesalahan seperti ini lagi.”

Ulunkasaddaka demikian menaruh dendam kepada sang thera dalam waktu yang lama, dengan berpikir, “Kemarin hanya karena masalah sedikit air, ia memarahiku. Dan sekarang ia marah karena saya memakan nasi dari rumah keluarga penopangnya, ia memarahiku lagi. Saya akan mencari cara yang tepat untuk berhadapan dengannya.” Dan keesokan harinya, ketika beliau pergi berpindapata, Ulunkasaddaka mengambil sebuah tongkat kayu dan menghancurkan semua belanga yang digunakan untuk menyimpan makanan, membakar gubuk daun itu, kemudian melarikan diri.

Ketika masih hidup, ia menjadi seorang manusia berwujud peta di alam ini dan, ketika meninggal, terlahir di Alam Neraka Avīci.

Dan ketenaran dari perbuatan jahatnya ini tersebar luas di antara orang-orang.

Pada suatu hari, beberapa bhikkhu datang dari Rajagaha menuju ke Savatthi. Setelah meletakkan patta dan jubah mereka di ruangan, mereka memberi penghormatan kepada Sang Guru, dan kemudian duduk. Sang Guru, setelah membalas salam, menanyakan mereka datang dari mana. “Rajagaha, Bhante.”

“Siapa guru yang memberikan wejangan Dhamma di sana?” tanya Beliau. “Mahakassapa Thera, Bhante.” “Apakah Kassapa baik-baik saja, Bhikkhu?” tanya beliau. “Ya, Bhante, beliau baik-baik saja. Tetapi seorang siswa mudanya yang sangat marah karena teguran yang didapatkan dari beliau, membakar gubuk daun beliau dan melarikan diri.”

Sang Guru, setelah mendengar ini, berkata, “Bhikkhu, kesendirian lebih baik bagi Kassapa daripada ditemani oleh orang dungu seperti itu.”

Setelah berkata demikian, Beliau mengulangi satu bait kalimat yang terdapat di dalam Dhammapada:

Janganlah bepergian dengan kawanan yang tidak baik,

dan hindarilah persahabatan dengan orang dungu;

Pilihlah teman yang sebanding atau yang lebih baik,

kalau tidak, maka jalanilah itu sendiri.

Lebih lanjut lagi, Beliau berkata kepada para bhikkhu, “Bukan hanya kali ini siswa muda itu merusak gubuk (tempat tinggal) dan menjadi marah dengan orang yang menegurnya, tetapi juga di masa lampau ia melakukan hal yang sama.”

Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka.

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor burung siṅgila. Dan ketika tumbuh menjadi burung dewasa, ia bertempat tinggal di Himalaya dan membuat sarangnya di sana di tempat yang menyenangkan, yang melindunginya dari hujan. Kemudian pada satu musim hujan, ketika hujan turun tiada hentinya, seekor kera duduk di dekat Bodhisatta, dengan gigi yang bergeretak dikarenakan cuaca yang amat dingin. Bodhisatta yang melihatnya demikian menyedihkan, berbicara dengannya, dengan mengucapkan bait pertama berikut:

Wahai kera, dari kaki, tangan dan wajah,

menyerupai wujud manusia,

mengapa kamu tidak membuat tempat tinggal,

untuk melindungimu dari cuaca buruk?

Kera mengulangi bait kedua berikut setelah mendengar perkataan burung:

Meskipun kera, dari kaki, tangan dan wajah,

menyerupai wujud manusia,

tetapi tidak mendapatkan segala kebaikan yang

diberikan kepada manusia

Mendengar perkataannya, Bodhisatta mengulangi dua bait berikut berikut:

Ia yang selalu merasa tidak puas, yang berpikiran

dangkal dan ckcau, yang selalu berubah-ubah dalam

segala tindakannya, tidak akan mendapatkan

kebahagiaan.

Wahai kera, berusahalah dengan sungguh-sungguh

untuk unggul dalam kebajikan,

dan agar dapat tinggal dengan aman dari bahaya cuaca

dingin, buatlah sebuah tempat tinggal.

Kera berpikir, “Makhluk ini, mentang-mentang mempunyai tempat tinggal yang melindunginya dari hujan, mencela diriku. Tidak akan kubiarkan ia istirahat dengan tenang di sarangnya.” Dipenuhi dengan rasa sangat ingin menangkap Bodhisatta, kera melompat untuk menyerangnya. Tetapi Bodhisatta terbang jauh ke angkasa dan mengepakkan sayapnya ke tempat lain. Dan kera itu juga pergi setelah menghancurkan  sarang burung tersebut.

Sang Guru, setelah menyelesaikan uraian ini, mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, siswa muda yang membakar gubuk adalah kera, dan saya sendiri adalah burung siṅgila.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Advertisements
Tagged ,

SUCCAJA JĀTAKA

“Ia mungkin memberikan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, mengenai seorang tuan tanah. Dikatakan, tuan tanah ini pergi ke suatu perkampungan bersama dengan istrinya untuk menagih hutang dan menyita sebuah kereta yang merupakan pengganti dari apa yang seharusnya mereka tagih. Ia menitipkannya pada sebuah keluarga dengan maksud untuk kembali mengambilnya nanti. Dalam perjalanan menuju Sāvatthi (Savatthi), mereka melihat sebuah gunung. Istrinya bertanya, “Jika gunung itu berubah menjadi emas, apakah Anda akan memberikan sedikit emas kepadaku?” “Siapa kamu?” jawabnya, “Saya tidak akan memberikan secuil pun kepadamu.” “Astaga,” pikir istrinya, “ia adalah seorang yang berhati batu. Walaupun gunung itu berubah menjadi emas, ia tidak akan memberikan secuil pun kepadaku.”

Dan ia menjadi merasa sangat tidak senang. Ketika telah mendekati Jetavana, dan merasa haus, mereka pergi ke dalam wihara dan meminta sedikit air minum.

Pada pagi hari, Sang Guru yang melihat bahwa buah dari kamma mereka cukup untuk dapat mereka mencapai tingkat kesucian Sotapanna, duduk di dalam ruangan yang wangi (gandhakuṭi), menunggu kedatangan mereka, dan mengeluarkan enam warna sinar ke-Buddha-an. Setelah melegakan dahaga, mereka pergi menjumpai Sang Guru, memberi salam dengan penuh hormat dan duduk. Sang Guru, seusai membalas salam seperti biasa, menanyakan mereka datang dari mana. “Kami pergi menagih hutang, Bhante.” “Upasika, saya harap suamimu baik terhadapmu dan selalu siap melakukan hal-hal yang baik untukmu,” kata Beliau. “Bhante, saya sangat mencintainya tetapi ia tidak mencintaiku. Hari ini ketika saya melihat sebuah gunung saya bertanya padanya, ’Jika gunung itu berubah menjadi emas, apakah kamu akan memberikan sedikit emas kepadaku?’ ia menjawab, ’Siapa kamu? Saya tidak akan memberikan secuil pun kepadamu.’ Ia adalah seorang yang berhati batu.” “Upasika,” kata Beliau, “Gaya bicaranya sudah memang seperti ini. Akan tetapi, kapan saja ia ingat akan kebajikanmu, ia siap untuk memberikanmu segalanya.” “Ceritakanlah semuanya kepada kami, Bhante,” kata mereka, dan atas permintaan mereka ini Beliau menceritakan kisah masa lampau berikut.

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta menjadi menterinya dan bekerja melayaninya. Pada suatu hari, raja melihat putranya, sang raja muda, datang dan memberi hormat kepadanya. Ia berpikir dalam dirinya sendiri, “Anak ini mungkin akan melakukan kesalahan terhadapku jika ia mendapatkan kesempatan,” Maka ia memanggilnya dan berkata, “Selama saya masih hidup, kamu tidak boleh tinggal di kota ini. Tinggallah di tempat lain, dan setelah saya meninggal, kamu baru dapat memimpin kerajaan ini.” Putranya setuju akan hal ini, maka ia berpamitan kepada ayahnya dan memulai perjalanannya keluar dari Benares bersama dengan istrinya. Sesampainya mereka di sebuah desa perbatasan, ia membuat sebuah gubuk yang terbuat dari dedaunan dan tinggal di sana dengan memakan akar-akaran dan buah-buahan yang tumbuh liar. Tak lama kemudian, raja meninggal dunia. Raja muda mengetahui kematian ayahnya dengan mengamati pergerakan bintang.

Dalam perjalanan ke Benares, mereka melihat sebuah gunung. Istrinya berkata kepadanya, “Jika gunung itu berubah menjadi emas, apakah kamu akan memberikan sedikit emas kepadaku?” “Siapa kamu?” jawabnya, “Saya tidak akan memberikan secuil pun kepadamu.” Istrinya berpikir, “Karena cintaku padanya, saya masuk ke dalam hutan ini, tidak berniat untuk meninggalkannya. Akan tetapi ia berbicara begitu terhadap diriku. Ia adalah orang yang berhati batu, dan jika ia menjadi raja, hal baik apa yang akan dilakukan untukku?” Ia pun menjadi sedih dikarenakan ini.

Setibanya di Benares, ia dinobatkan menjadi raja dan menjadikan istrinya sebagai permaisuri. Ia hanya memberikan itu sebagai satu gelar saja, sebenarnya ia tidak menaruh hormat padanya dan bahkan mengabaikan keberadaannya. Bodhisatta berpikir, “Dulu permaisuri ini membantu raja, tidak memedulikan penderitaan dan tinggal dalam hutan. Tetapi raja tidak memikirkan hal ini dan bersenang-senang dengan wanita lain.

Saya akan membuat permaisuri mendapatkan apa yang pantas didapatkannya.” Dengan pikiran ini, ia pergi pada suatu hari dan memberi salam pada ratu, “Ratu, kami tidak menerima segenggam beras pun darimu. Mengapa Anda begitu berhati batu dan mengabaikan kami seperti itu?” “Teman,” balasnya, “jika saya mendapatkan semuanya, maka saya akan memberikannya kepada kamu, tetapi jika saya tidak mendapatkan apa-apa, apa yang harus saya berikan? Apa yang mungkin diberikan oleh raja kepadaku? Dalam perjalanan kembali ke sini, ketika saya bertanya kepadanya, ‘Jika gunung itu berubah menjadi emas, apakah kamu akan memberikan sedikit emas kepadaku?’ ia menjawab, ‘Siapa kamu? Saya tidak akan memberikan secuil pun kepadamu.” “Baiklah, bersediakah Anda mengulangi perkataan ini di depan raja?” tanyanya. “Mengapa tidak?” jawabnya. “Kalau begitu, ketika saya berdiri di hadapan raja nanti, saya akan bertanya dan Anda akan menjawab dengan mengulangi perkataan tadi,” lata Bodhisatta. “Baiklah, Teman,” jawabnya lagi. Maka ketika Bodhisatta berdiri dan memberi hormat kepada raja, beliau bertanya kepada ratu, “Ratu, apakah kami tidak mendapatkan apa pun dari dirimu?” Ratu menjawab, “Jika saya mendapatkan sesuatu, baru saya dapat memberikanmu sesuatu juga. Tetapi apa yang mungkin diberikan oleh raja padaku sekarang? Ketika kami berjalan di hutan dan melihat sebuah gunung, saya bertanya kepadanya, ‘Jika gunung itu berubah menjadi emas, apakah kamu akan memberikan sedikit emas kepadaku?’ ‘Siapa kamu?’ jawabnya, ‘Saya tidak akan memberikan secuil pun kepadamu.’ Dengan kata-kata inilah ia menolak memberikan hal yang sangat mudah diberikan.”

Untuk mengilustrasikan hal ini, ia mengulangi bait pertama berikut:

Ia mungkin memberikan sesuatu yang tidak berharga,

yang tidak akan dicarinya jika hilang.

Gunung emas, darinya kuminta emas;

Ia menjawab semuanya dengan berkata, “Tidak.”

Raja mengucapkan bait kedua berikut setelah mendengar perkataan ratu:

Ketika Anda sanggup, katakan, “Ya, saya janji,”

ketika Anda tidak sanggup, janganlah berjanji.

Janji yang tidak ditepati adalah dusta;

Pendusta adalah orang yang dihindari oleh para bijak.

Ketika mendengar ucapan ini, ratu bersikap anjali dan mengulangi bait ketiga berikut:

Berdiri tegak dalam kebenaran,

Anda, wahai raja, kami puja dengan rendah hati.

Segala harta kekayaan mungkin akan habis (rusak);

Tetapi kebenaran masih Anda miliki sebagai kekayaan.

Setelah mendengar ratu mengucapkan kata-kata pujian terhadap raja, Bodhisatta mempermaklumkan kebajikan ratu dan mengulangi bait keempat berikut:

Terkenal sebagai istri yang tiada taranya,

berbagi kesenangan dan kesusahan hidup,

selalu (bersikap) sama pada kedua jenis keadaan itu,

memang cocok bersanding dengan raja.

Bodhisatta dengan kata-kata ini melantunkan pujian terhadap ratu, “Wanita ini, Yang Mulia, di masa Anda susah, tetap tinggal bersamamu dan berbagi kesusahanmu, di dalam hutan. Anda harus memberikan kehormatan padanya.”

Mendengar ini, raja berkata, “Menteri bijak, disebabkan oleh perkataanmu, saya teringat kembali akan kebajikan ratu,” dan setelah berkata demikian, ia memberikan semua kekuasaan kepada ratu. Ia juga menganugerahkan kekuasaan yang besar kepada Bodhisatta. Ia berkata, “Dikarenakan dirimulah, saya teringat kembali akan kebajikan ratu.”

Sang Guru memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran mereka setelah menyelesaikan uraian ini:—Di akhir kebenarannya, suami istri tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpanna:—“Pada masa itu, tuan tanah adalah Raja Benares, upasika adalah ratu, dan saya sendiri adalah menteri yang bijak.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Tagged ,

TITTIRA JĀTAKA

“Hidup yang bahagia,” dan seterusnya.

Ini adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Badarikārāma dekat Kosambī (Kosambi), tentang Rāhula Thera (Rahula Thera). Kisah pembukanya diceritakan secara lengkap dalam Tipallattha-Jātaka46. Dalam kisah ini, para bhikkhu di dalam balai kebenaran melantunkan pujian terhadap Yang Mulia Rahula, orang yang gemar belajar (melatih diri), cermat, dan sabar dalam memberikan nasihat. Sang Guru berjalan masuk dan mendengar pembicaraan ini, kemudian berkata, “Bukan hanya kali ini, tetapi juga di masa lampau Rahula adalah orang yang gemar belajar, cermat, dan sabar dalam memberikan nasihat.” Kemudian Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala, ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir di dalam sebuah keluarga brahmana. Ketika dewasa, ia mempelajari semua ilmu pengetahuan di Takkasilā (Takkasila) dan melepaskan keduniawian dengan menjanlankan kehidupan suci sebagai seorang petapa di daerah pegunungan Himalaya, ia mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi. Di sana, ia menikmati kebahagiaan dalam jhana, ia tinggal di dalam hutan belantara, dan dari sana ia berkeliling untuk mendapatkan garam dan cuka sampai di suatu desa perbatasan. Ketika orang-orang melihatnya, mereka menjadi pengikut ajarannya dan membangun sebuah gubuk daun untuknya, menyediakan semua keperluannya (sebagai petapa), membuat sebuah tempat tinggal bagi dirinya di sana. Pada saat itu, seorang penangkap unggas (burung) di desa ini menangkap

seekor burung ketitir, ia melatihnya sebagai pengumpan dan memeliharanya di dalam sebuah sangkar. Kemudian ia membawanya ke hutan, dan dengan suara burung ketitir itu, mengumpan burung ketitir lainnya untuk datang mendekat.

Burung ketitir pengumpan berpikir, “Karena diriku, banyak saudaraku yang lain menghadapi kematian mereka. Ini adalah sebuah perbuatan yang buruk bagiku.” Maka ia pun tidak bersuara lagi. Ketika mengetahui ia tidak bersuara, sang majikan memukul kepalanya dengan sebatang bambu. Karena merasa sakit, ia pun kembali bersuara dan pemburu itu kembali mendapatkan buruannya. Kemudian burung ketitir berpikir lagi, “Baiklah, anggap mereka mati. Tidak ada niat buruk dalam diriku. Apakah ada akibat yang buruk disebabkan oleh perbuatanku ini? Ketika saya tidak bersuara, mereka tidak datang, tetapi mereka datang ketika saya bersuara. Dan mereka semua yang datang itu akan ditangkap dan dibunuh oleh orang ini. Apakah ada perbuatan buruk dalam hal ini dari diriku, atau tidak? Siapakah yang benar-benar dapat memberikan jawaban atas keraguanku ini?” Demikianlah seterusnya pemikiran burung ketitir tersebut.

Dan ia pun mencari orang bijak yang demikian untuk dapat memberikan jawaban kepadanya. Pada suatu hari, pemburu ini berhasil menjerat banyak burung ketitir, memasukkan mereka ke dalam keranjangnya dan datang ke tempat Bodhisatta untuk meminta sedikit air minum. Setelah meletakkan keranjang yang dibawanya, ia meminum air, berbaring di tanah dan tertidur.

Melihatnya sedang tertidur, burung ketitir pengumpan itu berpikir, “Saya akan bertanya kepada petapa ini mengenai keraguanku, dan jika ia tahu jawabannya, ia akan memecahkan permasalahanku. Dengan tetap berada di dalam sangkarnya, ia mengulangi bait pertama berikut dalam bentuk pertanyaan:

Hidup yang bahagia kujalani sehari-hari,

makanan berlimpah tersedia untukku:

Yang Mulia, saya berada di suatu jalan

yang berbahaya, bagaimanakah masa depanku?

Bodhisatta menjawab pertanyaan ini dengan mengucapkan bait kedua berikut:

Jika tidak ada niat buruk di dalam pikiranmu

yang mengarah ke perbuatan buruk,

jika kamu hanya memainkan satu peran yang pasif,

maka kesalahan tidak berada pada dirimu.

Burung ketitir itu mengucapkan bait ketiga berikut setelah mendengar jawabannya:

‘Ah, saudaraku,’ demikian mereka berujar,

dan dengan berkelompok mereka datang melihatku.

Apakah saya bersalah, seharusnyakah mereka mati?

Tolong jawablah keraguan ini untukku.

Mendengar perkataan ini, Bodhisatta mengulangi bait keempat berikut:

Jika tidak ada niat buruk di dalam pikiranmu,

maka perbuatanmu itu tidaklah buruk.

Ia yang memainkan satu peran yang pasif,

bebas dari segala kesalahan.

Demikianlah Sang Mahasatwa meyakinkan burung ketitir tersebut. Dan karena dirinya, burung ketitir itu terbebas dari perasaan bersalah. Kemudian penangkap unggas itu bangun, memberi hormat kepada petapa, membawa keranjangnya dan pergi.

Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka sesudah menyelesaikan uraian-Nya: “Pada masa itu, ayam hutan adalah Rāhula (Rahula), dan saya sendiri adalah petapa.

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Tagged ,

KAṆAVERA JĀTAKA

“Waktu itu adalah musim,” dan seterusnya.

Ini adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang tergoda oleh mantan istrinya (dalam kehidupan berumah tangga). Situasi dan keadaan yang menyebabkan munculnya kisah ini dijelaskan dalam Indriya-Jātaka. Sang Guru berkata, “Pada kehidupan sebelumnya, kepalamu dipenggal disebabkan oleh dirinya.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir di desa Kasi dalam rumah seorang perumah tangga, di saat gugus bintang seorang perampok (terjadi). Ketika dewasa, ia menghidupi dirinya dari hasil rampokkan, dan ketenarannya tersebar luas sebagai orang yang berani dan sekuat gajah, dan tidak ada seorang pun yang mampu menangkapnya. Suatu hari ia membobol rumah seorang saudagar kaya dan mengambil banyak hartanya. Para penduduk kota mendatangi raja dan berkata, “Paduka, seorang perampok besar sedang menjarah kota ini, tangkaplah dia!” Raja memerintahkan panglima (penjaga kota) untuk menangkapnya.

Maka pada malam harinya, panglima menempatkan pasukannya di segala penjuru, dan setelah berhasil menangkapnya berserta uang rampokannya, panglima melaporkannya kepada raja. Raja memerintahkan untuk memenggal kepala perampok itu.

Panglima mengikat kedua tangan perampok tersebut di belakang, melingkarkan untaian bunga oleander merah di lehernya, menaburkan bubuk batu bata di atas kepalanya, mencambuk sekujur tubuhnya, dan menggiringnya ke tempat eksekusi diiringi dengan suara tabuhan drum yang berbunyi keras. Orang-orang berkata, “Perampok yang menjarah kota kita sudah ditangkap,” dan seluruh kota menjadi gempar.

Kala itu, hiduplah di Benares seorang pelacur bernama Sāmā (Sama) yang tarifnya sebesar seribu keping uang. Ia adalah salah satu wanita kesayangan raja dan memiliki lima ratus pelayan wanita. Ketika berdiri di depan jendela dari lantai atas istananya, ia melihat perampok ini yang sedang diarak. Saat itu, perampok itu terlihat rupawan dan menarik, menonjol di antara semua penduduk kota, benar-benar berjaya dan terlihat seperti dewa. Ketika melihatnya demikian, ia jatuh cinta dengannya dan berpikir dalam dirinya, “Dengan cara apa bisa kuselamatkan laki-laki ini dan menjadikannya sebagai suamiku?”

“Ini dia caranya,” katanya, dan ia mengutus seorang pelayannya dengan membawa uang seribu keping untuk menemui panglima dan berpesan, “Beri tahu panglima, perampok ini adalah saudara Sama, ia tidak mempunyai tempat untuk berlindung kecuali di tempat Sama. Bujuklah panglima untuk menerima uangnya dan membiarkan tahanan itu melarikan diri.” Pelayan itu pun melakukan persis seperti apa yang diperintahkan kepadanya.

Tetapi panglima berkata, “Ini adalah perampok yang terkenal jahat, saya tidak bisa membiarkannya kabur seperti ini. Akan tetapi, jika saya bisa mendapatkan laki-laki lain sebagai penggantinya, maka saya bisa memasukkan perampok ini dalam kereta yang tertutup dan mengirimkannya kepada kamu.”

Pelayan itu kembali dan melaporkan semuanya kepada sang majikan.

Kala itu juga, ada seorang putra saudagar kaya, yang terpikat kepada Sama, yang setiap harinya memberikan ia uang seribu keping. Dan pada hari yang sama itu pula, di saat matahari terbenam, ia datang ke tempat Sama dengan uangnya, seperti hari-hari biasa. Sama menerima uangnya, meletakkannya di pangkuan dan menangis. Ketika ditanya apa sebabnya ia menangis, Sama berkata, “Tuanku, perampok ini adalah saudaraku, walaupun ia tidak pernah datang untuk menemuiku karena orang-orang mengatakan saya menjalani pekerjaan yang hina. Ketika saya mengirim pesan kepada panglima, ia mengatakan bahwa ia akan melepaskannya jika mendapatkan uang seribu keping. Sekarang saya tidak bisa menemukan siapa pun yang bersedia pergi dan memberikan uang ini kepadanya.”

Demi cintanya kepada Sama, saudagar ini berkata, “Saya yang akan pergi.” “Pergilah kalau begitu, dan bawa uang ini bersamamu,” kata Sama. Ia mengambil uangnya dan pergi ke rumah panglima. Panglima menyembunyikan saudagar ini di tempat rahasia dan memasukkan perampok itu ke dalam kereta yang tertutup dan mengirimkannya kepada Sama. Kemudian ia berpikir, “Perampok ini terkenal di kota ini, akan kueksekusi ia pada saat hari menjelang malam ketika orang-orang beristirahat.”

Dengan pemikiran begitu, ia membuat alasan untuk menundanya sebentar. Ketika orang-orang pergi beristirahat, ia membawa saudagar muda tersebut dengan kawalan ketat ke tempat eksekusi, dan memenggal kepalanya, dengan sebilah pedang menusuk tubuhnya, kemudian kembali ke kota.

Sejak saat itu, Sama tidak lagi menerima apa pun dari laki-laki lain, hanya mendapatkan kesenangan dengan perampok itu. Perampok itu berpikir, “Jika wanita ini jatuh cinta dengan orang lain, ia juga akan membunuhku dan bersenang-senang dengan orang itu. Ia adalah orang yang suka berkhianat kepada teman-temannya. Saya harus segera pergi meninggalkan tempat ini.” Ketika hendak kabur, ia berpikir lagi, “Saya tidak akan pergi dengan tangan kosong, akan kubawa beberapa perhiasannya.” Jadi pada suatu hari, ia berkata kepada Sama, “Sayangku, kita selalu berada di dalam rumah seperti ayam di dalam kandang. Sekali-sekali kita harus keluar dan bermain di taman.” Sama menyetujui usulannya dan mempersiapkan berbagai jenis makanan, memakai perhiasannya dan pergi ke taman dengan kereta yang tertutup. Kala ini, ketika berjalan ke luar dengan Sama, perampok itu berpikir, “Sekarang adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri.” Jadi dengan wajah yang dibuat seperti penuh dengan cinta yang mendalam pada Sama, ia masuk ke dalam semak-semak bunga oleander. Dengan berpura-pura memeluk Sama, ia menindihnya sampai tak sadarkan diri, kemudian mengambil semua perhiasannya dan meletakkannya di dalam sebuah bundelan yang kemudian dijinjing di bahunya, dan kabur dengan melompati dinding taman.

Ketika sadar dan bangun dari pingsannya, Sama pergi dan menanyakan kepada para pelayannya apa yang telah terjadi dengan tuannya. “Kami tidak tahu, Nyonya.” “Ia pasti menyangka saya mati dan lari karena ketakutan.” Tertekan dengan pikiran ini, ia pun kembali ke rumahnya dan berkata, “Saya tidak akan duduk beristirahat di atas kursi mewah sebelum bertemu (kembali) dengan tuanku.” Dan ia pun berbaring di atas lantai. Mulai saat itu, ia tidak mengenakan pakaian yang cantik atau makan lebih dari satu kali, juga tidak memakai wewangian, untaian bunga, dan sebagainya. Ia sangat bertekad untuk menemukannya kembali dengan cara apa pun, ia memanggil beberapa seniman dan memberikan mereka uang seribu keping.

Mereka bertanya, “Apa yang harus kami lakukan, Nyonya?” Ia berkata, “Kunjungilah semua tempat, desa, kota kecil dan besar, jangan sampai ada yang terlewati, kemudian setelah mengumpulkan orang-orang, nyanyikanlah lagu ini,”—sembari mengajarkan bait pertama kepada seniman-seniman itu,—“dan jika sewaktu kalian menyanyikan,” ia menambahkan, “suamiku berada di antara kerumunan orang-orang, ia akan berbicara kepadamu. Beri tahulah ia bahwa saya baik-baik saja dan bawa ia kembali denganmu. Jika ia menolak untuk ikut Bersama kalian, kabari saya.” Ia menyuruh mereka untuk berangkat setelah memberikan uang untuk perjalanan mereka. Mereka memulainya dari Benares sampai akhirnya tiba di sebuah desa perbatasan dan memanggil orang-orang untuk berkumpul. Pada saat ini, sang perampok tinggal di desa tersebut sejak pelariannya. Setelah mengumpulkan orang-orang, mereka menyanyikan bait pertama berikut:

Waktu itu adalah musim semi yang menyenangkan,

dihiasi oleh cerahnya bunga, rumput, dan pohon;

Terbangun dari ketidaksadarannya, Sama sadar kembali,

dan hidup untuk dirimu.

Perampok itu menghampiri mereka setelah mendengar bait ini dan berkata, “Kalian mengatakan bahwa Sama masih hidup, saya tidak percaya.” Dan ia mengulangi bait kedua berikut:

Dapatkah angin kencang menggetarkan gunung?

Dapatkah ia menggoyangkan bumi yang kokoh ini?

Melihat seseorang yang bangkit dari kematian adalah

suatu keanehan yang luar biasa!

Salah seorang seniman itu mengucapkan bait ketiga berikut setelah mendengar perkataannya:

Sama sebenarnya tidak mati,

tidak juga telah menikah dengan laki-laki lain.

Ia hanya makan satu kali dalam sehari,

ia hanya mencintaimu dan kamu seorang.

Perampok itu berkata setelah mendengar perkataan seniman tersebut, “Baik ia hidup maupun mati, saya tidak menginginkan dirinya,” dan mengulangi bait keempat berikut:

Kesukaan Sama selalu berubah-ubah,

dari kesetiaan yang telah lama (teruji) sampai ke cinta yang baru bersemi:

Saya juga, akan dikhianati oleh Sama, jika tidak

melarikan diri.

Para seniman itu pulang kembali dan memberi tahu Sama bagaimana mereka berhadapan dengan perampok itu. Sama, penuh dengan penyesalan, kembali menjalani kehidupannya yang dahulu.

Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran ini ketika uraian-Nya selesai:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang tadinya menyesal (karena tergoda oleh mantan istrinya) mencapai tingkat kesucian Sotāpanna:—“Pada masa itu, bhikkhu yang menyesal adalah putra saudagar kaya, mantan istrinya (bhikkhu itu) adalah Sāmā (Sama), dan saya sendiri adalah perampok.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Tagged ,

MATARODANA JĀTAKA

“Merataplah bagi mereka yang hidup,” dan seterusnya.

Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang tuan tanah yang tinggal di Savatthi. Dikatakan bahwa ketika saudaranya meninggal dunia, tuan tanah ini dilanda duka yang begitu mendalam sehingga ia tidak (mau) makan ataupun membersihkan dirinya, ia selalu pergi ke pekuburan pada subuh hari dan meratap tangis di sana. Pada pagi hari, Sang Guru meninjau keadaan dunia dan, ketika melihat bahwa buah dari perbuatan laki-laki dapat membuatnya mencapai tingkat kesucian Sotāpanna (Sotapanna), berpikir, “Tak ada orang lain selain diriku yang dapat, dengan menceritakan apa yang terjadi di masa lampau, meredakan kesedihannya dan membuatnya mencapai tingkat kesucian Sotapanna. Saya harus menjadi tempatnya untuk berlindung.”

Maka keesokannya pada siang hari, sehabis berpindapata, Beliau membawa serta seorang bhikkhu junior dan pergi ke rumah tuan tanah tersebut. Mendengar kedatangan Sang Guru, ia memerintahkan orang-orangnya untuk menyiapkan tempat duduk, dan mempersilakan Beliau masuk, memberi hormat kepada Beliau kemudian duduk di satu sisi. Sebagai jawaban atas pertanyaan Sang Guru, yang menanyakan mengapa ia bersedih, ia mengatakan bahwa ia bersedih karena kematian saudaranya. Sang Guru berkata, “Segala yang terkondisi selalu berubah (tidak kekal), apa yang harus rusak pasti akan rusak.

Seseorang tidak seharusnya bersedih karena masalah ini. Orang bijak di masa lampau, karena memahami hal ini, tidak bersedih ketika saudaranya meninggal dunia.” Dan atas permintaannya, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir di dalam keluarga seorang saudagar kaya, yang memiliki harta sebesar delapan ratus juta. Orang tuanya meninggal dunia ketika ia beranjak dewasa, dan abangnya yang mengurus keluarga itu. Dan Bodhisatta hidup bergantung padanya. Tak lama kemudian, abangnya pun meninggal dunia.

Sanak saudara, para kerabat dan temannya datang berkumpul, mereka semua menangis dan meratap, tidak ada yang bisa menahan perasaan (sedih) mereka. Akan tetapi, Bodhisatta tidak menangis ataupun meratap. Orang-orang berkata, “Lihatlah itu, ia sama sekali tidak menunjukkan wajah yang sedih meskipun saudaranya telah meninggal: ia benar-benar seorang yang berhati keras. Menurutku, ia memang menginginkan kematian saudaranya karena berharap untuk mendapatkan bagian yang lebih banyak.” Demikianlah mereka menyalahkan Bodhisatta.

Sanak saudaranya juga mencela dirinya, dengan berkata, “Meskipun abangmu meninggal, tetapi kamu tidak meneteskan air mata sama sekali.” Mendengar kata-kata ini, ia berkata, “Dalam kedunguan yang membuta, tidak mengetahui delapan kondisi duniawi, kalian menangis dan meratap, ‘Saudaraku telah meninggal,’ sedangkan sebenarnya saya dan kalian juga akan meninggal suatu saat. Mengapa kalian tidak meratap ketika memikirkan kematian kalian sendiri? Segala yang terkondisi selalu berubah (tidak kekal), dan oleh karenanya tidak ada sesuatu apa pun yang mampu bertahan (tetap sama) seperti keadaan sediakala. Meskipun kalian, orang dungu, dalam kekeliruan tidak mengetahui delapan kondisi duniawi, menangis dan meratap, tetapi mengapa saya harus (ikut) menangis?” Dan setelah berkata demikian, ia mengulangi bait-bait berikut:

Merataplah bagi mereka yang hidup daripada yang mati!

Semua makhluk yang berwujud manusia, hewan berkaki

empat dan burung dan ular yang memiliki tudung,

manusia dan dewa melewati jalan yang sama.

Tidak kuasa menghadapi kenyataan, gemetaran

menghadapi kematian, berada di tengah-tengah

perubahan yang menyedihkan dari kebahagiaan

dan penderitaan;

Mengapa orang harus mempermasalahkan tentang

meneteskan air mata yang sia-sia dan terjerumus ke

dalam kesedihan karena kematian seorang saudara?

Orang-orang berkata tidak benar dan semakin lama

semakin menumpuk seiring bertambahnya usia,

orang dungu yang tidak belajar,

bahkan orang yang gagah perkasa,

jika bijaksana terhadap hal-hal duniawi ini tetapi

mengabaikan yang benar,

maka kebijaksanannya sama seperti kedunguannya.

Demikianlah Bodhisatta mengajarkan kebenaran kepada orang-orang ini dan membebaskan mereka semua dari kesedihan.

Sang Guru, setelah menyelesaikan uraian-Nya, memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran ini:—Di akhir kebenarannya, tuan tanah itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna:—“Pada masa itu, orang bijak yang dengan pemaparan kebenaran membebaskan orang-orang dari kesedihan mereka adalah saya sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Tagged ,

SASA JĀTAKA

“Tujuh ekor ikan merah,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang pemberian derma yang mencakup semua. Dikatakan, seorang tuan tanah di Savatthi, menyediakan semua keperluan bagi para Saṅgha (Sangha) yang dipimpin oleh Sang Buddha. Ia membangun sebuah paviliun di depan rumahnya dan mengundang semua rombongan anggota Sangha dan Sang Buddha sebagai pemimpin mereka. Ia memberikan tempat duduk yang elegan dan menyajikan pelbagai makanan lezat dan pilihan.

Dan dengan berkata, “Datanglah kembali esok hari,” ia melayani mereka selama satu minggu penuh, dan pada hari ketujuh ia mempersembahkan semua keperluan kepada Sang Buddha dan kelima ratus bhikkhu yang mengikuti-Nya. Pada akhir persembahan tersebut, sebagai ucapan terima kasih, Beliau berkata, “Upasaka, Anda telah bertindak benar dalam memberikan kebahagiaan dan kenyamanan batin dengan pemberian derma ini. Karena ini juga merupakan kebiasaan dari orang bijak di masa lampau, yang mengorbankan dirinya sendiri untuk pengemis yang mereka jumpai, bahkan ia juga memberikan dagingnya sendiri kepadanya untuk dimakan.” Dan atas permintaan tuan tanah itu, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir menjadi seekor kelinci dan tinggal di dalam hutan. Pada salah satu sisi hutan itu terdapat kaki gunung, pada sisi yang lain terdapat sebuah sungai, dan pada sisi yang ketiga terdapat sebuah desa perbatasan. Kelinci itu mempunyai tiga sahabat—seekor kera, seekor serigala dan seekor berangberang.

Keempat makhluk bijak ini tinggal bersama dan mereka masing-masing mencari makan di lahan mereka sendiri, dan berkumpul pada petang hari. Kelinci, dengan kebijaksanaannya, memberi wejangan berupa pemaparan kebenaran kepada ketiga sahabatnya, mengajari mereka untuk memberi derma (berdana), menjalankan latihan moralitas (sila), dan memperingati hari-hari suci. Sahabat-sahabatnya menerima wejangannya dan masing-masing pulang kembali ke tempat tinggal mereka di sisi-sisi hutan itu.

Pada suatu hari, Bodhisatta meninjau langit dan memandang bulan, mengetahui bahwa keesokan harinya adalah hari Uposatha. Kemudian ia berkata kepada para sahabatnya, “Besok adalah hari Uposatha. Marilah kita menjalankan sila dan laku Uposatha. Ia yang memberi derma disertai dengan menjalankan sila tentulah mendapatkan hasil perbuatan yang amat mulia. Oleh karena itu, berikanlah makanan kepada orang yang datang meminta kepada kalian dengan makanan dari tempat kalian sendiri. Mereka semua menyetujuinya dan kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Pada keesokan paginya, berang-berang berangkat untuk mencari makanannya di tepi Sungai Gangga. Kala itu, seorang nelayan telah menangkap tujuh ekor ikan merah, mengikat ikan-ikan itu dengan tali pada satu ranting, menguburnya di dalam tanah di tepi sungai. Kemudian ia kembali mengarungi sungai ke bagian hilir untuk mendapatkan lebih banyak ikan. Berang-berang yang mencium bau ikan di dalam tanah, menggali tanah dan menemukannya. Ia menarik keluar ikan-ikan itu dan berkata dengan keras, sebanyak tiga kali, “Siapakah empunya ikan-ikan ini?” Karena tidak melihat siapa pun sebagai pemiliknya, berang-berang, dengan menggigit ranting tersebut, membawa ikan-ikan itu ke hutan tempat ia tinggal dengan niat untuk memakannya pada waktu yang tepat, kemudian ia berbaring dan memikirkan tentang latihan moralnya.

Demikian halnya dengan serigala, ia juga berangkat untuk mencari makanan dan menemukan dua besi pemanggang, seekor kadal besar dan satu kendi dadih di dalam pondok seorang penjaga ladang. Setelah tiga kali berkata dengan keras, “Siapakah yang empunya benda-benda ini?” ia pun melingkarkan tali di lehernya untuk mengangkat kendi, membawa kadal dan besi pemanggang dengan cara menggigitnya. Ia membawa mereka ke sarangnya dan berpikir, “Saya akan memakan ini pada waktu yang tepat,” kemudian berbaring, memikirkan tentang latihan moralnya.

Demikian halnya juga dengan kera, ia pergi ke dalam hutan belantara dan mengumpulkan buah-buah mangga, kemudian membawanya kembali ke dalam hutan tempat ia tinggal dengan niat untuk memakannya pada waktu yang tepat. Ia pun berbaring sambil memikirkan tentang latihan moralnya.

Sedangkan Bodhisatta pada waktu yang sama keluar dari tempat tinggalnya, dengan tujuan untuk mendapatkan rumput kusa. Ketika ia berbaring di dalam hutan (tempat ia tinggal), pemikiran ini terlintas dalam benaknya, “Tidaklah mungkin bagiku untuk menawarkan rumput kepada orang yang datang meminta kepadaku nanti, dan saya juga tidak mempunyai minyak (wijen) atau beras, dan sebagainya. Jika ada orang yang datang meminta makanan kepadaku nanti, akan kuberikan dagingku sendiri kepadanya untuk dimakan.” Dikarenakan kekuatan kebajikannya ini, takhta marmer kuning Dewa Sakka menjadi panas. Sakka, dengan kekuatannya memindai, menemukan penyebabnya dan berniat untuk menguji si kelinci. Pertama-tama, ia pergi ke kediaman berang-berang, dalam samarannya sebagai seorang brahmana (petapa). Ketika ditanya mengapa ia berdiri di sana, ia menjawab, “Tuan yang bijak, jika saya bisa mendapatkan sesuatu untuk makan, maka saya akan dapat menjalankan laku Uposatha.” Berang-berang berkata, “Baiklah, saya akan memberikanmu makanan,” dan pada saat ia berbicara dengannya, ia mengulangi bait pertama berikut:

Tujuh ekor ikan merah yang kubawa pulang

ke daratan dari Sungai Gangga,

wahai brahmana, makanlah ini sepuasnya,

dan tinggallah di hutan ini.

Brahmana itu berkata, “Tunggulah sampai besok, saya akan mengambilnya.” Berikutnya, ia pergi ke kediaman serigala, ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama, ia pun menjawab dengan jawaban yang sama. Serigala juga bersedia memberikannya makanan, dan pada saat berbicara dengannya, ia mengulangi bait kedua berikut:

Seekor kadal dan satu kendi dadih, makan malam

si penjaga, dua besi pemanggang untuk memanggang

daging yang kudapatkan ini: Akan kuberikan kepadamu:

Wahai brahmana, makanlah ini sepuasnya,

dan tinggallah di hutan ini.

Brahmana itu berkata, “Tunggulah sampai besok, saya akan mengambilnya.” Kemudian, ia pergi ke kediaman kera, dan ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama, ia pun menjawab dengan jawaban yang sama. Kera menawarkan makanan untuknya, dan pada saat berbicara dengannya, ia mengulangi bait ketiga berikut:

Aliran sungai yang dingin, buah mangga yang ranum,

tempat teduh yang menyenangkan di hutan,

wahai Brahmana, makanlah ini sepuasnya,

dan tinggallah di hutan ini.

Brahmana itu berkata, “Tunggulah sampai besok, saya akan mengambilnya.” Kemudian ia pergi ke kediaman si kelinci bijak, dan ketika ditanya mengapa ia berdiri di sana, ia pun menjawab dengan jawaban yang sama seperti sebelumnya.

Bodhisatta merasa sangat gembira mendengar apa yang ia inginkan, dan berkata, “Brahmana, Anda telah melakukan hal yang benar dengan datang meminta makanan kepadaku. Hari ini akan kuberikan kepadamu persembahan yang belum pernah kuberikan sebelumnya, tetapi Anda tidak akan melanggar sila dengan mengambil nyawa hewan. Teman, pergilah dan sesudah Anda mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api, datanglah kembali ke sini dan beri tahu saya, saya akan mengorbankan diriku sendiri dengan melompat ke dalam api.

Bilamana dagingku telah terpanggang (cukup matang), makanlah sesukamu dan jalankanlah kewajibanmu sebagai seorang petapa.” Demikian si kelinci berbicara kepadanya dan mengucapkan bait keempat berikut:

Bukan wijen, bukan kacang-kacangan, bukan pula beras

yang kumiliki sebagai makanan untuk didermakan,

melainkan kukorbankan dagingku sendiri untuk

dipanggang dalam api, jika Anda ingin tinggal

di hutan ini bersama kami.

Setelah mendengar apa yang dikatakannya, dengan kesaktiannya, Sakka memunculkan satu tumpukan bara api yang berkobar-kobar dan memberi tahu Bodhisatta. Setelah bangkit dari ranjang rumput kusanya dan datang ke tempat itu, kelinci mengibas-ngibaskan tubuhnya tiga kali agar serangga-serangga kecil atau kutu-kutu di tubuhnya tidak mati, ikut terbakar.

Kemudian untuk mempersembahkan seluruh tubuhnya sebagai derma, ia melompat masuk ke dalam tumpukan bara api dalam kegembiraannya, seperti seekor angsa yang terbang turun ke tumpukan terata. Tetapi kobaran api itu tidak mampu membakarnya, bahkan tak sehelai rambutnya pun terbakar, dan ia seolah-olah seperti masuk ke dalam sebuah tempat yang sangat dingin. Kemudian ia menyapa Sakka dengan kata-kata berikut: “Brahmana, api yang Anda nyalakan ini sedingin es: api ini tidak membakar tubuhku, bahkan tak sehelai rambutku pun terbakar. Apa arti semua ini?” “Tuan yang bijak,” jawabnya, “saya bukanlah seorang brahmana, saya adalah Dewa Sakka dan saya datang untuk menguji kebajikanmu.” Kemudian Bodhisatta berkata, “Sakka, bukan hanya dirimu, jika seluruh penghuni dunia ini mengujiku dalam hal berdana, mereka tidak akan menemukan keengganan dalam diriku untuk memberi,” dan setelah mengucapkan kata-kata ini, Bodhisatta mengeluarkan jeritan kebahagiaan seperti auman seekor singa. Kemudian Sakka berkata Bodhisatta, “Wahai kelinci bijak, biarlah kebajikanmu ini dikenal selama waktu yang tak terhitung lamanya.” Setelah meremas sebuah gunung dan mengambil sarinya, Sakka membuat gambar seekor kelinci di bagian tengah bulan.

Kemudian setelah mengembalikan kelinci pada ranjang rumput kusa, ia pun kembali ke kediamannya di alam dewa.

Keempat makhluk bijak itu tinggal bersama dengan bahagia dan harmonis, menjalankan sila dan memperingati hari-hari suci, sampai akhirnya mereka terpisah untuk menuai hasil sesuai perbuatan mereka masing-masing.

Sang Guru, setelah selesai menyampaikan uraian-Nya, memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran ini:—Di akhir kebenarannya, tuan tanah yang berdana semua keperluan itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna (Sotapanna):— Pada masa itu, Ānanda adalah berang-berang, Mogallāna adalah serigala, Sāriputta adalah kera, dan saya sendiri adalah si kelinci bijak.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Tagged ,

MAṀSA JĀTAKA

“Bagi seseorang yang meminta,” dan seterusnya.

Ini adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang bagaimana Yang Mulia Sāriputta (Sariputta) memperoleh makanan enak bagi beberapa bhikkhu yang sedang menjalani perawatan. Kisahnya dimulai dari beberapa bhikkhu yang menginginkan makanan enak setelah mengkonsumsi cairan kental sebagai pencuci perut. Mereka yang merawat bhikkhu-bhikkhu tersebut pergi ke Savatthi untuk mendapatkan makanan enak, akan tetapi mereka harus kembali tanpa mendapatkan apa yang diinginkan setelah berpindapata di jalan tempat para tukang masak tinggal. Kemudian hari itu juga, bhikkhu senior Sariputta berpindapata pergi berpindapata di kota dan bertemu dengan mereka, dan menanyakan mengapa mereka kembali begitu cepat. Mereka pun memberitahukan beliau apa yang terjadi. “Ikutlah denganku kalau begitu,” kata bhikkhu senior, dan membawa mereka kembali ke jalan tadi yang mereka lewati. Dan orang-orang di sana memberikan kepadanya makanan enak yang banyak. Mereka membawakan makanannya kepada bhikkhu-bhikkhu yang sakit dan mereka pun memakannya. Pada suatu hari, sebuah pembicaraan dimulai di dalam balai kebenaran tentang bagaimana para pelayan yang pergi ke kota tidak mendapatkan makanan enak untuk para bhikkhu yang mereka rawat, kemudian Yang Mulia Sariputta membawa mereka bersama dengannya untuk berpindapata di sebuah jalan tempat para tukang masak tinggal, dan meminta

mereka pulang dengan memberikan makanan enak yang berlimpah. Sang Guru datang dan menanyakan apa yang sedang dibicarakan, dan ketika diberitahukan jawabannya, Beliau berkata, “Bukan hanya kali ini, Para Bhikkhu, Sariputta mampu mendapatkan makanan sendirian, tetapi juga di masa lampau, orang bijak yang memiliki suara nan lembut dan tahu bagaimana cara berbicara dengan menyenangkan mendapatkan hal yang sama.” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta memimpin di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra seorang saudagar kaya. Suatu hari,seorang pemburu rusa mengisi keretanya dengan daging rusa dan pergi ke kota dengan tujuan untuk menjualnya. Kala itu, empat orang putra dari saudagar kaya yang tinggal di Benares pergi ke kota, dan duduk di satu persimpangan jalan sewaktu bertemu, kemudian berbincang satu sama lain mengenai apa saja yang mereka lihat dan dengar. Salah seorang dari mereka yang melihat kereta yang penuh dengan daging itu mencoba untuk mendapatkan daging rusa dari pemburu tersebut. Saudara-saudaranya yang lain mendukungnya untuk pergi dan mencobanya. Maka ia berjalan menghampiri pemburu itu dan berkata, “Hai, Pemburu, berikan daging rusa kepadaku.” Pemburu itu menjawab, “Seseorang yang meminta sesuatu dari orang lain seharusnya berbicara dengan nada yang lembut; oleh karenanya kamu akan mendapatkan potongan daging yang sesuai dengan caramu berbicara.” Kemudian ia mengucapkan bait berikut:

Bagi seseorang yang meminta sesuatu, Teman,

ucapanmu terasa kasar,

nada yang demikian pantas mendapatkan

balasan yang kasar juga, maka hanya kuberikan

kepadamu kulit dan tulang ini.

Kemudian pemuda kedua menanyakan kepadanya kata apa yang digunakan olehnya ketika meminta daging itu. “Saya berkata, ‘Hai, Pemburu!’ ” jawabnya. “Saya juga akan meminta daging darinya,” katanya. Kemudian ia menghampiri pemburu itu dan berkata, “Saudara, berikan daging rusa kepadaku.” Pemburu itu menjawab, “Kamu akan mendapatkan potongan daging yang sesuai dengan caramu berbicara.” Dan ia mengulangi bait kedua berikut:

Panggilan saudara menandakan hubungan dekat,

menghubungkan saudara yang satu dengan yang lain,

karena ucapan yang baik pantas mendapatkan hadiah

dariku, maka kuberikan tungkai ini kepada saudaraku.

Dan setelah mengucapkan kata-kata ini, ia memberikan kepadanya daging bagian tungkai. Kemudian pemuda yang ketiga menanyakan kepadanya kata apa yang digunakan olehnya ketika meminta daging itu. “Saya menyapanya sebagai saudara,” jawabnya. “Kalau begitu, saya juga akan meminta daging darinya,” kata pemuda ketiga ini. Maka ia pergi menghampiri pemburu tersebut dan berkata, “Ayah, berikan daging rusa kepadaku.” Pemburu itu menjawab, “Kamu akan mendapatkan potongan daging yang sesuai dengan caramu berbicara.” Dan ia mengulangi bait ketiga berikut:

Karena hati lembut seorang ayah tergerak atas rasa

kasihan, mendengar sapaan “ayah”,

maka saya juga akan membalas permintaan kasihmu

dan memberikan hati rusa ini kepadamu.

Dan setelah mengucapkan kata-kata ini, ia mengambil dan memberikan kepadanya sepotong daging, hati, dan yang lainnya. Kemudian pemuda keempat menanyakan kepadanya kata apa yang digunakan olehnya ketika meminta daging itu.

“Oh, saya menyapanya ‘Ayah’,” jawabnya. “Kalau begitu, saya juga akan meminta daging darinya,” kata pemuda keempat ini.

Maka ia pergi menghampiri pemburu tersebut dan berkata, “Teman, berikan daging rusa kepadaku.” Pemburu itu menjawabnya, “Kamu akan mendapatkan potongan daging yang sesuai dengan caramu berbicara.” Dan ia mengulangi bait berikut:

Dunia tanpa seorang teman, pastilah menemui kesepian,

dalam sapaan seorang teman yang penuh kasih sayang,

maka kuberikan kepadamu semua daging rusa ini.

Ia kemudian menambahkan, “Mari, Teman, saya akan mengantarkan kereta yang penuh dengan daging rusa ini ke rumahmu.” Jadi putra keempat dari saudagar kaya tersebut mendapatkan kereta yang penuh daging itu dengan diantar ke rumahnya. Dan putra keempat ini, sesampainya di rumah, melayani pemburu itu dengan ramah dan penuh hormat.

Kemudian setelah meminta istri dan anak dari pemburu itu untuk tinggal di rumahnya, ia membuat pemburu itu berhenti dari pekerjaannya yang buruk. Mereka pun menjadi teman yang tak terpisahkan dan hidup panjang umur dengan berbahagia bersama.

Sang Guru, setelah menyelesaikan uraian ini mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, Sāriputta (Sariputta) adalah pemburu, dan saya sendiri adalah putra saudagar yang mendapatkan semua daging rusa.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Tagged ,

LOHAKUMBHĪ JĀTAKA

“Dikarenakan kami tidak berbagi kekayaan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru sewaktu berdiam di Jetavana, tentang seorang Raja Kosala. Kala itu, Raja Kosala, dikatakan pada suatu malam mendengar suara jeritan yang dikeluarkan oleh empat penghuni alam neraka—yaitu du, sa, na, so, masing-masing mengeluarkan satu suku kata dari keempat penghuni tersebut. Dikatakan juga bahwa pada kehidupan sebelumnya mereka adalah pangeran-pangeran di Sāvatthi (Savatthi), dan melakukan keburukan berupa perzinaan.

Setelah berbuat zina dengan istri dari kerajaan tetangga mereka, seberapa hati-hatinya pun mereka menyimpan rahasia ini yang merupakan kecanduan mereka terhadap wanita lain, kehidupan mereka yang jahat ini diperpendek oleh roda kematian. Mereka terlahir kembali di dalam empat bejana logam (kuningan). Setelah tersiksa selama tiga puluh ribu tahun, mereka naik ke atas permukaan, dan ketika melihat bagian bibir bejana, mereka berpikir, “Kapan kita akan terbebas dari kesengsaraan ini?” Dan kemudian mereka berempat mengeluarkan suara jeritan yang keras secara bergantian. Raja takut setengah mati ketika mendengar suara-suara jeritan tersebut, dan duduk menunggu fajar, tidak bisa menenangkan dirinya.

Pada subuh hari, para (brahmana) petapa datang dan menanyakan kabarnya. Raja menjawab, “Guru, bagaimana keadaanku bisa baik, setelah mendengar empat suara jeritan yang begitu mengerikan. Para petapa mengibas-ngibaskan

tangan mereka. “Apa itu, Guru?” tanya raja. Para petapa meyakinkan raja bahwa suara itu adalah pertanda buruk akan adanya hal-hal buruk. “Apakah mereka meminta sesuatu?” tanya raja. “Sepertinya tidak,” jawabnya, “tetapi kami sudah terlatih dengan keadaan seperti ini, Paduka.” “Dengan cara apa kalian akan mencegah hal buruk ini?” tanya raja. “Paduka, ada satu cara, yaitu dengan memberikan korban persembahan makhluk hidup masing-masing rangkap empat, kita akan dapat mencegahnya.” “Kalau begitu, cepatlah,” kata raja, “ambil makhluk-makhluk itu masing-masing rangkap empat—manusia, sapi, kuda, gajah, burung puyuh dan yang lainnya—dengan korban persembahan ini, kembalikanlah ketenangan pikiranku.”

Para brahmana menyetujuinya, dan setelah membawa apa saja yang diperlukan, mereka menggali sebuah lubang tempat pengorbanan. Setelah mengikat semua korban persembahan pada kayu dan menjadi bersemangat tatkala memikirkan makanan lezat yang dapat disantap dan kekayaan yang akan didapatkan nantinya, mereka berlari ke sana dan ke sini, sambil berkata, “Tuan, saya pasti mendapatkan ini dan itu.”

Ratu Mallika datang dan menanyakan kepada raja mengapa para brahmana itu begitu bahagia, berjalan ke sana ke sini dan tersenyum. Raja berkata, “Apa hubungannya denganmu? Anda terlena dengan kejayaan dirimu sendiri dan tidak tahu betapa menyedihkannya diriku ini.” “Ada masalah apa, Paduka?” tanyanya. “Saya mendengar suara-suara yang mengerikan, Ratuku, dan ketika saya menanyakan kepada para brahmana itu tentang apa arti dari suara-suara jeritan tersebut, mereka memberitahukan bahwa bahaya mengancam kerajaan, atau harta benda, atau nyawaku. Akan tetapi, dengan suatu korban persembahan rangkap empat, mereka dapat mengembalikan ketenangan pikiranku, dan sekarang atas perintahku mereka telah menggali sebuah lubang pengorbanan dan pergi mengambil korban apa saja yang mereka perlukan.”

Ratu berkata, “Apakah Paduka sudah bertanya kepada Brahmana Agung yang mengenal seluruh alam dewa mengenai suara-suara jeritan ini?” “Siapa, Ratu,” kata raja, “Brahmada Agung yang mengenal seluruh alam dewa?” “Gotama Yang Mulia, Yang Tercerahkan Sempurna (Sammāsambuddha),” jawabnya. “Ratu, saya belum bertanya kepada Beliau,” balas raja. “Kalau begitu, pergilah” lanjut ratu, “dan tanyakanlah kepada Beliau.”

Raja mengikuti kata-kata ratu dan keesokan harinya sehabis menyantap sarapan pagi, ia naik kereta kerajaan dan pergi ke Jetavana. Setelah memberi penghormatan kepada Sang Buddha, raja menyapa Beliau: “Bhante, pada malam hari saya mendengar empat suara jeritan dan telah membahasnya dengan para brahmana. Mereka mengatakan mereka dapat mengembalikan ketenangan pikiranku, dengan melakukan korban persembahan makhluk hidup masing-masing rangkap empat, dan saat ini mereka sedang sibuk mempersiapkan lubang pengorbanan. Apa sebenarnya arti dari suara jeritan ini terhadap diriku?”

“Tidak ada arti apa pun,” jawab Beliau, “makhluk-makhluk di alam neraka, dikarenakan penderitaan hebat yang mereka alami, menjerit dan menangis dengan keras. Suara jeritan ini bukan hanya terdengar oleh dirimu saja, tetapi juga oleh raja di masa lampau. Dan setelah membicarakan ini dengan para brahmananya, raja ingin memberikan korban persembahan, tetapi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh seorang bijak, raja pun tidak jadi melakukan hal tersebut. Orang bijak itu menjelaskan kepadanya tentang asal muasal suara jeritan tersebut dan memintanya untuk melepaskan kumpulan korban persembahan itu, dan demikian mengembalikan ketenangan pikirannya. Atas permintaan raja, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir di dalam sebuah keluarga brahmana, di sebuah desa di Kerajaan Kasi. Ketika dewasa, ia meninggalkan kesenangan indriawi dan menjalani kehidupan suci sebagai seorang petapa, ia mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi, berhibur dalam jhana. Ia mengambil tempat tinggalnya di sebuah hutan yang menyenangkan di daerah pegunungan Himalaya.

Raja Benares pada masa itu menjadi sangat ketakutan karena mendengar empat suara yang dikeluarkan oleh empat empat makhluk yang berada di alam neraka. Dan ketika diberi tahu oleh para brahmana tentang salah satu dari tiga bahaya tersebut akan menimpa dirinya, raja setuju untuk mencegahnya dengan melakukan korban persembahan makhluk hidup rangkap empat. Pendeta kerajaan dengan bantuan para brahmana mempersiapkan lubang pengorbanan, membawa kumpulan korban persembahan dan mengikat mereka pada kayu.

Kemudian Bodhisatta, dengan perasaan cinta kasih, memindai keadaan sekitar dengan mata dewanya. Ketika melihat apa yang terjadi di sana, ia berkata, “Saya harus segera ke sana dan membuat semua makhluk tersebut kembali dalam keadaan baik.”

Kemudian dengan kekuatan gaibnya, ia terbang di angkasa dan turun di taman Raja Benares, kemudian duduk di papan batu yang besar, terlihat seperti sebuah patung emas. Siswa utama dari pendeta kerajaan itu menghampiri gurunya dan bertanya, “Bukankah tertulis di dalam kitab Weda bahwa tidak akan ada kebahagiaan bagi mereka yang mengambil nyawa makhluk lain?”

Pendeta kerajaan menjawab, “Tugasmu adalah membawa barang-barang raja ke sini, dan kita akan memiliki makanan lezat yang berlimpah ruah. Bersabarlah saja.” Dengan kata-kata ini, ia mengusir siswanya pergi. Tetapi anak muda tersebut berpikir, “Saya tidak akan ambil bagian dalam masalah ini,” dan pergi, dan bertemu Bodhisatta di taman milik raja. Setelah memberi penghormatan dengan ramah, ia duduk di satu sisi.

Bodhisatta bertanya, “Anak muda, apakah raja memerintah kerajaannya dengan benar?” “Ya, Bhante,” jawabnya, “akan tetapi ia mendengar empat suara jeritan pada malam hari, dan setelah bertanya kepada para brahmana ia diyakinkan oleh mereka bahwa mereka dapat mengembalikan ketenangan pikirannya dengan memberikan korban persembahan makhluk hidup rangkap empat. Jadi karena merasa senang dapat mengembalikan ketenangannya, raja sedang mempersiapkan hewan-hewan korban, dan sejumlah besar korban telah dibawa dan diikat pada kayu pengorbanan. Sekarang, apakah itu bukan sesuatu yang benar bagi seorang suci seperti Anda untuk menjelaskan penyebab suara jeritan itu dan menyelamatkan sejumlah besar korban tersebut dari cengkeraman maut?” “Anak muda,” jawabnya, “raja tidak mengenal diriku dan begitu juga dengan diriku, tetapi saya mengetahui penyebab suara jeritan itu. Jika raja yang datang bertanya kepadaku tentang apa penyebabnya, maka saya akan memecahkan keraguannya.”

“Kalau begitu,” katanya, “tunggu sebentar di sini, Bhante, dan akan kubawakan raja ke hadapanmu.”

Bodhisattta menyetujuinya. Anak muda itu pergi dan memberitahukan semuanya kepada raja, dan kembali dengan membawa serta dirinya. Raja memberi penghormatan kepada Bodhisatta dan, setelah duduk di satu sisi, menanyakan apakah benar bahwa ia mengetahui asal muasal suara jeritan tersebut.

“Ya, Paduka,” jawabnya, “kalau begitu, beritahukanlah kepada saya, Bhante.” kata raja. Ia menjawab, “Paduka, di kehidupan sebelumnya keempat laki-laki ini berbuat zina dengan istri dari kerajaan tetangga mereka di dekat Benares, dan oleh karenanya terlahir kembali di dalam empat bejana logam. Tempat mereka disiksa selama tiga puluh ribu tahun di dalam cairan korosi yang tebal mendidih, mereka tenggelam sampai ke bagian dasar bejana dan kembali ke atas permukaan seperti gelembung, setelah melewati tahun-tahun tersebut, mereka akan sampai di bagian bibir bejana, dan sewaktu melihat ke bagian luar bejana mereka berempat berkeinginan untuk mengucapkan empat bait kalimat, tetapi tidak berhasil melakukannya. Dan setelah hanya mengucapkan satu suku kata saja, mereka tenggelam kembali ke dalam bejana logam tersebut. Salah satu dari mereka yang tenggelam setelah mengeluarkan suku kata ‘du’ sebenarnya ingin mengucapkan bait berikut:—

Dikarenakan kami tidak berbagi kekayaan;

kehidupan buruk yang kami jalani:

Kami tidak menemukan kebebasan dalam

kebahagiaan yang sekarang meninggalkan kami.

Ketika ia tidak berhasil mengucapkannya secara lengkap, Bodhisatta dengan kemampuannya sendiri mengulangi bait kalimatnya dengan lengkap. Dan demikian pula halnya dengan yang lainnya. Ia yang mengeluarkan suku kata ‘sa’ sebenarnya ingin mengucapkan bait berikut:—

Menyedihkan nasib mereka yang menderita!

Ah, kapankah pembebasan akan datang?

Meskipun telah melewati waktu yang tidak terhitung

lamanya, siksaan neraka tidak pernah berhenti.

Dan kemudian ia yang mengeluarkan suku kata ‘na’ sebenarnya ingin mengucapkan bait berikut:

Tidak ada akhir, penderitaan yang dialami mereka

atas perbuatan mereka sendiri;

Perbuatan buruk yang kami lakukan di dunia

memberikan balasan ini kepada kami.

Dan ia yang mengeluarkan suku kata ‘so’ sebenarnya ingin mengucapkan bait berikut:

Segera setelah (diriku) keluar dari tempat ini,

mendapatkan kelahiran sebagai manusia,

dengan sifat bajik di dalam diri akan

kulakukan banyak perbuatan kebajikan.

Bodhisatta, setelah melafalkan bait kalimat tersebut satu per satu, berkata, “Para penghuni alam neraka, Paduka, ketika ingin mengucapkan satu bait kalimat secara lengkap, dikarenakan kekuatan dari perbuatan buruk mereka, tidak mampu melakukannya. Dan ketika menerima hasil dari perbuatan salah, mereka menjerit dengan sekuat-kuatnya. Tetapi jangan takut; tidak akan ada bahaya yang menimpa dirimu karena mendengar suara jeritan ini.” Demikianlah ia meyakinkan raja. Dan dengan suara tabuhan genderang emasnya, raja memberi perintah untuk membebaskan semua korban dan menghancurkan lubang pengorbanan tersebut. Setelah demikian menyelamatkan sejumlah korban tersebut, Bodhisatta tinggal di sana selama beberapa hari dan kemudian kembali ke tempat tinggalnya semula, tanpa terputus dari jhananya, kemudian terlahir di alam brahma.

Setelah menyampaikan uraian-Nya, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, Sāriputta adalah siswa dari pendeta kerajaan, dan saya sendiri adalah petapa.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Tagged ,

KHANTIVĀDĪ JĀTAKA

“Ia yang memotong,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang pemarah. Kejadian yang menimbulkan kisah ini telah diuraikan sebelumnya. Sang Guru bertanya kepada bhikkhu itu, “Mengapa setelah bertahbis menjadi siswa dari Sang Buddha yang ajarannya tidak mengenal apa itu kemarahan, Anda malah menunjukkan kemarahan? Orang bijak di masa lampau, walaupun menderita ribuan kali cambukkan, walaupun tangan, kaki, telinga dan hidung mereka dipotong, tidak menunjukkan kemarahan kepada siapa pun.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala Raja Kāsi (Kasi) yang bernama Kalābu (Kalabu) memerintah di Benares. Kala itu, Bodhisatta terlahir sebagai pemuda bernama Kuṇḍaka (Kundaka) di sebuah keluarga brahmana yang memiliki kekayaan sebesar delapan ratus juta. Ketika dewasa, ia memperoleh pengetahuan tentang semua bidang ilmu pengetahuan di Takkasila, dan sesudahnya, pulang kembali ke rumah sebagai seorang perumah tangga.

Sepeninggal kedua orang tuanya, ia berpikir sendiri sambil melihat tumpukan hartanya: “Sanak keluargaku yang mengumpulkan harta kekayaan ini telah pergi semua tanpa membawa serta harta mereka. Sekarang adalah giliranku untuk memilikinya dan juga meninggalkannya.” Oleh karena itu, dengan hati-hati ia memilih orang-orang, yang berbuat kebajikan dengan (selalu) memberikan derma yang pantas mendapatkannya, dan memberikan kekayaannya kepada mereka. Kemudian ia pergi ke daerah pegunungan Himalaya dan menjalani kehidupan suci sebagai seorang petapa. Di sana, ia tinggal untuk waktu yang lama, bertahan hidup dengan memakan buah-buahan (yang tumbuh liar). Ingin mendapatkan sedikit garam dan cuka, ia pergi ke rumah penduduk di Benares dimana ia bermalam taman kerajaan. Keesokan harinya, ia berkeliling kota untuk mendapatkan derma makanan sampai tiba di depan pintu rumah seorang Panglima tertinggi. Panglima itu membawanya masuk ke rumah karena merasa senang dengan kesopanan tingkah lakunya dan memberinya makan hidangan yang sebenarnya disiapkan untuk dirinya sendiri. Setelah memberikan persetujuan kepadanya, Panglima meminta pengawalnya untuk mengantar petapa tersebut tinggal di dalam taman kerajaan.

Suatu hari raja Kalabu, dengan keinginan meminum minuman keras, pergi ke taman dengan rombongan yang besar dan dikelilingi oleh rombongan penari. Kemudian ia meminta anak buahnya untuk menyiapkan pembaringan pada satu papan batu yang besar dan berbaring dengan kepala di atas pangkuan istri kesayangannya, sedangkan para penari, yang ahli dalam tarik suara dan alat-alat musik serta tarian, menyajikan satu hiburan musikal—demikian besar kejayaannya, seperti kejayaan Sakka, Raja Dewa—dan kemudian raja pun tertidur. Wanita-wanita penari itu berkata, “Orang yang kita hibur dengan sajian musik sudah tertidur, apa gunanya lagi kita bernyanyi?”

Kemudian mereka menyampingkan kecapi dan alat-alat music lainnya di sana, dan menuju ke dalam taman untuk bersenang-senang karena tergoda oleh bunga-bunga dan pohon yang sedang berbuah di sana.

Kala itu, Bodhisatta sedang duduk di dalam taman tersebut di bawah pohon sala yang berbunga, seperti gajah dalam kebanggaan akan kekuatannya, menikmati kebahagiaan terlepas dari keduniawian. Kemudian wanita-wanita yang sedang berjalan-jalan di sana melihat dirinya dan berkata, “Kemarilah, mari kita duduk dan mendengarkan sesuatu dari petapa yang sedang beristirahat di bawah pohon ini, selagi raja tidur.” Mereka pun pergi dan memberi penghormatan kepadanya. Setelah duduk mengelilinginya, mereka berkata, “Ajarkanlah sesuatu yang baik untuk kami dengar.” Kemudian Bodhisatta mengajarkan ajarannya kepada mereka.

Sementara itu, dengan satu gerakan tubuhnya, istri kesayangan raja membuatnya terbangun. Ketika bangun dan tidak melihat wanita-wanita tersebut, raja bertanya, “Ke manakah perginya mereka?” “Paduka,” katanya, “mereka telah pergi dan menemui seorang petapa untuk mendengarkan ajarannya.”

Dengan marah raja mengambil sebilah pedang dan pergi dengan tergesa-gesa sembari berkata, “Akan kuberi petapa gadungan itu sebuah pelajaran.” Ketika melihat raja datang dengan marah, para wanita yang baik itu pergi dan mengambil pedang dari tangan raja, kemudian menenangkan dirinya. Kemudian raja mendatangi petapa itu dan berdiri di dekat Bodhisatta, bertanya, “Apa yang kamu ajarkan, Petapa?” “Ajaran tentang kesabaran, Paduka,” jawabnya. “Apa itu kesabaran?” tanya raja itu. “Tidak marah ketika orang mencerca, memukul dan mencaci maki dirimu,” jawabnya. Raja berkata, “Sekarang akan kuuji kebenaran dari ajaran kesabaranmu,” dan memanggil algojonya. Algojo datang dengan membawa sebuah kapak, cambuk duri, mengenakan jubah kuning dan untaian bunga merah, memberi hormat kepada raja dan berkata, “Apa perintahmu, Paduka?”

“Bawa dan seret petapa gadungan ini,” kata raja, “baringkan ia di tanah dan cambuk dengan cambuk duri sebanyak dua ribu kali di bagian depan, belakang dan kedua sisinya.” Algojo melaksanakan perintahnya, bagian luar dan dalam kulit Bodhisatta terkelupas, terpotong sampai ke dagingnya, dan darah mengalir keluar. Raja bertanya lagi, “Apa yang kamu ajarkan, Petapa?” “Ajaran tentang kesabaran, Paduka,” jawabnya, “Anda pikir kesabaranku berada di dalam kulit.

Kesabaranku tidaklah berada di dalam kulit, melainkan berada sangat dalam di satu tempat, tempat Anda tidak bisa melihatnya, Paduka.” Algojo bertanya kembali, “Apa perintahmu, Paduka?”

Raja berkata, “Potong kedua kaki dan tangan dari petapa gadungan ini.” Algojo mengambil kapaknya, dan setelah meletakkan korbannya di dalam lingkaran maut, memotong kedua tangannya. Kemudian raja berkata, “Potong kedua kakinya,” dan kaki sang petapa pun dipotong. Darah mengucur deras dari kedua kaki dan tangan Bodhisatta seperti air yang mengucur keluar dari sebuah kendi pecah. Sekali lagi raja menanyakan ajaran apa yang diajarkannya. “Ajaran tentang kesabaran, Paduka,” jawabnya, “Anda pikir kesabaranku berada di kedua kaki dan tanganku. Kesabaranku tidaklah berada di sana, melainkan berada di dalam suatu tempat.” Raja berkata, “Potong hidung dan kedua telinganya.” Algojo melaksanakannya.

Sekujur tubuhnya sekarang berlumuran darah, dan kembali raja menanyakan ajaran apa yang diajarkannya. Dan ia berkata, “Janganlah berpikir bahwa kesabaranku berada di ujung hidung dan telingaku. Kesabaranku berada jauh di dalam hatiku.” Raja berkata, “Berbaringlah, Petapa gadungan, dan kembangkanlah kesabaranmu di sana.” Setelah berkata demikian, raja memijak

dada Bodhisatta dengan kakinya, dan kemudian pergi.

Ketika ia telah pergi, Panglima mengusap darah dari tubuh Bodhisatta, membalutkan perban di kedua kaki, tangan, telinga, dan hidungnya. Setelah mendudukkannya pada satu tempat duduk dengan pelan, ia memberi hormat kepadanya, duduk di satu sisi dan berkata, “Jika, Yang Mulia, Anda hendak marah kepada orang yang melakukan perbuatan buruk ini, maka marahlah (hanya) kepada raja, jangan marah kepada yang lainnya.” Panglima mengulangi bait berikut sewaktu memohon permintaan tersebut di atas:

Ia yang memotong hidung dan telingamu, dan memotong

kaki dan tanganmu, marahlah kepadanya,

tetapi, kami mohon, ampunilah kerajaan ini.

Bodhisatta yang mendegar ini mengucapkan bait kedua berikut:

Semoga Paduka panjang umur, yang

tangannya menghancurkan tubuhku ini,

orang-orang suci seperti diriku ini tidak pernah

menanggapinya dengan kemarahan.

Persis di saat raja berjalan keluar dari taman itu, ketika ia tidak terlihat dari jarak pandang Bodhisatta, bumi megah yang tebalnya dua ratus empat puluh ribu yojana terpecah menjadi dua, terjatuh seperti pakaian dari bahan yang amat berat, dan kobaran api dari neraka Avīci (Avici) menangkap raja, dan membungkusnya seperti jubah kerajaan yang terbuat dari kain wol merah. Demikian raja tenggelam masuk ke dalam bumi persis di atas pintu gerbang taman dan berada di Alam Neraka Avici. Bodhisatta meninggal pada hari yang sama itu juga. Para anak buah raja dan penduduk datang dengan membawa wewangian, untaian bunga dan dupa di tangan mereka untuk melakukan upacara pemakaman Bodhisatta. Beberapa orang mengatakan bahwa Bodhisatta langsung terlahir kembali di Himalaya. Tetapi dalam bait berikut, mereka tidak mengatakan apa pun tentangnya:

Seorang bijak di masa lampau, seperti yang diceritakan, menunjukkan kesabaran yang besar:

Orang suci itu sangat kuat dalam menahan penderitaan,

yang dilakukan oleh Raja Kāsi.

Utang-utang penyesalan yang harus dilunasi oleh raja:

Ketika berakhir dengan berdiam di alam neraka

terendah, ia akan menyesal dalam waktu yang sangat lama.

Kedua bait ini diucapkan oleh Ia yang sempurna kebijaksanaan-Nya.

Setelah menyampaikan uraian-Nya, Sang Guru memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran ini:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang pemarah itu mencapai tingkat kesucian Anāgāmī, dan banyak lagi lainnya yang mencapai tingkat kesucian Sotāpanna .:—Pada masa itu, Devadatta adalah Kalābu (Kalabu), Raja Kasi, Sāriputta adalah panglima dan saya sendiri adalah sang petapa, si pengajar kesabaran.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Tagged ,

KASSAPAMANDIYA JĀTAKA

“Jika anak muda berbuat ceroboh,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu tua. Dikatakan bahwa setelah mengetahui keburukan dari kesenangan indiriawi, seorang bangsawan muda di Sāvatthi (Savatthi), menerima penahbisan dari Sang Guru, dan dengan selalu mempraktikkan meditasi yang menimbulkan ketenangan, ia pun mencapai tingkat kesucian Arahat dalam waktu singkat. Sepeninggal ibunya, ia menahbiskan ayah dan adiknya sebagai pabbajita, dan mereka bertempat tinggal di Jetavana.

Pada awal musim hujan, mendengar adanya tempat di suatu desa dimana jubah dapat diperoleh dengan mudah, mereka pergi untuk berdiam di sana melewati masa vassa. Dan mereka langsung kembali ke Jetavana sesudah masa vassa berakhir. Ketika mereka berada di tempat yang sudah dekat dengan Jetavana, bhikkhu muda tersebut memberitahukan samanera (bhikkhu pemula) untuk membawa ayah mereka dengan tenang, sedangkan ia akan pergi dahulu ke Jetavana untuk mempersiapkan tempat tinggal mereka. Bhikkhu tua ini berjalan pelan sekali. Samanera berulang-ulang mendorong bagian belakang bhikkhu tua itu dengan kepalanya, dan menariknya dengan kuat, seraya berkata, “Ayolah, Bhante.”

Bhikkhu tua membalas, “Anda memaksa saya melakukan hal di luar keinginanku,” kemudian kembali ke posisi semula dan memulainya dari awal. Demikian mereka terus berselisih sepanjang perjalanan, sampai akhirnya matahari terbenam dan kegelapan mulai muncul. Sementara itu, bhikkhu muda tersebut menyapu gubuknya, mengisi air ke dalam tempayan. Karena melihat mereka tidak kunjung pulang juga, ia pun mengambil obor dan pergi menjemput mereka. Ketika mereka bertemu, ia menanyakan apa yang menyebabkan mereka begitu lama sampainya. Laki-laki tua itu memberitahukan alasannya. Maka ia pun meminta mereka untuk beristirahat dan kemudian membawa mereka pulang dengan perlahan. Pada hari itu ia merasa sudah tidak sempat lagi mengunjungi Sang Buddha. Maka pada keesokan harinya, ketika ia datang untuk memberi penghormatan kepada Sang Buddha, setelah ia memberi penghormatan dan duduk pada tempatnya, Sang Guru bertanya, “Kapan Anda tiba?”

“Kemarin, Bhante.” “Anda tiba semalam dan baru sekarang datang ke sini?” “Ya, Bhante,” ia menjawab dan memberitahukan alasannya. Sang Guru mengecam bhikkhu tua tersebut, “Bukan hanya kali ini ia bertindak seperti itu, tetapi juga di masa lampau ia melakukan hal yang sama. Kali ini Anda yang dibuat kesal olehnya, di masa lampau ia membuat kesal orang bijak.” Dan atas permintaan bhikkhu muda itu, Sang Guru menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir di dalam kehidupan sebuah keluarga brahmana di sebuah kota di negeri Kāsi (Kasi). Ketika ia dewasa, ibunya meninggal dunia. Setelah melaksanakan upacara pemakaman, pada akhir minggu keenam ia mendermakan semua harta yang ada di rumahnya. Dengan membawa adik dan ayahnya, ia mengenakan pakaian dari kulit kayu dan menjalani kehidupan suci seorang petapa di daerah pegunungan Himalaya. Dan di sana ia tinggal di dalam hutan yang menyenangkan, bertahan hidup dengan merapu makanan dan memakan akar-akaran dan buah-buahan yang tumbuh liar.

Pada masa itu di Himalaya, selama musim hujan ketika curah hujan tinggi, adalah hal yang tidak mungkin untuk mendapatkan umbi-umbian, akar-akaran atau buah-buahan, dan daun-daun mulai berguguran. Maka para petapa akan turun gunung, berdiam di tempat yang dihuni oleh banyak orang (manusia awam). Kala itu, setelah tinggal di tempat ini Bersama ayah dan adiknya, ketika negeri Himalaya kembali dihiasi oleh bunga-bunga yang bermekaran dan pohon yang berbuah, Bodhisatta membawa keduanya kembali ke tempat pertapaan mereka di Himalaya. Di saat matahari terbenam, ketika mereka berada tidak jauh lagi dari tempat pertapaan itu, ia meninggalkan mereka dengan berpesan, “Kalian bisa berjalan dengan pelan sekarang, sedangkan saya akan jalan lebih cepat untuk terlebih dahulu tiba dan mempersiapkan segala sesuatunya di sana.”

Kemudian petapa pemula itu pun berjalan dengan pelan bersama ayahnya sambil terus mendorong pinggangnya dengan menggunakan kepalanya. Laki-laki tua itu berkata, “Saya tidak suka caramu membawaku pulang.” Ia kembali ke posisi semula dan mengulanginya lagi dari awal. Ketika mereka terus berselisih demikian, hari pun mulai menjadi gelap. Bodhisatta mengambil obor dan kembali menjemput mereka setelah selesai menyapu gubuknya dan mengisi air. Ketika berjumpa dengan mereka, ia menanyakan mengapa mereka membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di sana. Dan adiknya memberitahukan kepadanya apa yang telah dilakukan ayah mereka. Kemudian Bodhisatta membawa mereka pulang kembali ke tempat tinggal mereka dengan tenang, dan sesudah menyimpan perlengkapan petapanya, ia menyiapkan keperluan mandi ayahnya, membasuh kakinya dan menggosok punggunggnya. Kemudian ia menyiapkan arang dan, ketika ayahnya sudah tidak kelelahan lagi, ia duduk di dekatnya dan berkata, “Ayah, anak muda sama

seperti tempayan dari tanah liat: mereka bisa saja rusak sewaktu-waktu, dan sekali mereka rusak, tidak mungkin untuk memperbaikinya kembali. Orang yang lebih tua harus menghadapi mereka dengan sabar ketika mereka sedang gusar.”

Dan untuk menasihati ayahnya, Kassapa, ia mengucapkan bait-bait berikut:

Jika anak muda berbuat ceroboh, baik dalam ucapan

maupun dalam perbuatan,

maka tunjukkanlah bagian dari kebijaksanaan ini;

Perselisihan di antara orang baik akan cepat berakhir,

sedangkan orang dungu akan terpecah belah, seperti

tempayan dari tanah liat yang hancur.

Manusia bijak belajar, waspada terhadap keburukan

mereka sendiri, yang tak ada habisnya;

Demikian beban berat seorang abang (orang yang lebih tua), menyelesaikan perselisihan yang terjadi dengan tenang.

Demikian Bodhisatta menasihati ayahnya. Sejak saat itu, ia mulai melatih pengendalian diri.

Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran ini sesudah menyelesaikan uraian-Nya: “Pada masa itu, bhikkhu tua adalah ayah petapa, bhikkhu pemula (samanera) adalah petapa muda, dan saya sendiri adalah anak yang menasihati ayahnya.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Tagged ,
Advertisements