SUṀSUMĀRA-JĀTAKA

“Jambu, nangka,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana, tentang usaha-usaha Devadatta untuk membunuh-Nya. Ketika mendengar usaha-usaha ini, Sang Guru berkata, “Ini bukan pertama kalinya Devadatta mencoba untuk membunuh-Ku, tetapi dia melakukan hal yang sama sebelumnya, dan bahkan tidak berhasil membuat-Ku takut.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir di kaki Gunung Himalaya sebagai seekor kera. Dia tumbuh kuat dan tegap, berbadan besar, makmur, dan tinggal di tikungan Sungai Gangga di dalam hutan yang angker. Pada masa itu terdapat seekor buaya yang hidup di Sungai Gangga. Istri buaya tersebut melihat badan kera yang besar itu, dan memiliki keinginan untuk memakan jantungnya. Jadi dia berkata kepada suaminya, “Suamiku, saya ingin untuk memakan jantung raja kera yang besar itu!” “Istriku,” kata buaya, “saya hidup di air dan dia hidup di darat: bagaimana kita bisa menangkapnya?” “Bagaimanapun caranya,” jawabnya, “dia harus bisa ditangkap. Jika saya tidak mendapatkannya, saya akan mati.” “Baiklah,” jawab buaya, menghiburnya, “jangan menyakiti dirimu sendiri. Saya mempunyai sebuah rencana; saya akan memberikan jantungnya kepadamu untuk dimakan.” Maka ketika Bodhisatta duduk di tepi Sungai Gangga, setelah meminum air, buaya menghampirinya dan berkata: “Kera, mengapa Anda hidup dengan memakan buah-buahan jelek di tempat tua ini? Di sisi lain dari Sungai Gangga terdapat pohon mangga dan pohon sukun yang tak terhingga banyaknya, dengan buah yang semanis madu. Apakah tidak lebih baik untuk pergi ke seberang dan memakan semua buah itu?” “Raja Buaya,” jawab kera, “Sungai Gangga ini dalam dan lebar. Bagaimanakah saya menyeberanginya?” “Jika kamu ingin pergi, saya akan membawamu di atas punggungku dan menyeberangkanmu.” Sang kera memercayainya dan menyetujuinya. “Ke sinilah, kalau begitu,” kata buaya, “naiklah ke punggungku!” dan demikianlah kera naik ke punggungnya. Tetapi ketika telah berenang sedikit jauh, buaya menceburkan kera itu ke dalam air. “Teman, kamu membuatku tenggelam!” teriak kera, “Ada apa ini?” Buaya berkata, “Kamu pikir saya akan membawamu ke tempat yang bagus? Jangan harap! Istriku menginginkan jantungmu dan saya hendak memberikan kepadanya untuk dimakan.” “Teman,” kata kera, “kamu baik sekali mau memberitahukannya kepada saya. Jika jantung kami berada di dalam tubuh, maka ketika kami melompat di antara puncak pepohonan, itu akan menyebabkannya hancur berkeping-keping”   “Kalau begitu, di manakah kamu menyimpannya?” tanya buaya. Bodhisatta menunjuk ke sebuah pohon elo yang ditumbuhi oleh banyak buah ranum, berada tidak jauh dari sana. “Lihat,” katanya, “di sana jantung kami tergantung di atas pohon elo itu.”

 

“Jika kamu menunjukkan jantungmu kepadaku,” kata buaya, “maka saya tidak akan membunuhmu.” “Bawalah saya ke pohon itu, kalau begitu, dan saya akan menunjukkannya kepadamu dengan bergelantung di atasnya.” Buaya membawanya ke tempat itu. Kera melompat dari punggungnya dan memanjat ke pohon elo itu, kemudian duduk di atasnya. “Wahai Buaya Dungu!” katanya, “kamu pikir ada makhluk yang menyimpan jantungnya di puncak pohon! Kamu sangat bodoh dan saya telah memperdayamu! Kamu boleh  mengambil buah-buah ini. Badanmu besar, tetapi kamu tidak memiliki akal.” Dan kemudian untuk menjelaskan maksudnya ini, dia mengucapkan bait-bait berikut:—

 

Jambu, nangka, dan mangga di seberang  sungai sana kulihat; Cukuplah, saya tidak menginginkannya;  buah pohon elo sudah cukup baik untukku!

 

Badanmu besar, sungguh, tetapi akal pikiranmu kecil! Sekarang pergilah, buaya, saya telah mendapatkan yang terbaik.

 

Buaya merasa sedih dan sengsara seperti telah kehilangan ribuan keping uang, pulang kembali dengan ratapan ke kediamannya.

 

Ketika mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, Devadatta adalah buaya, Ciñcā adalah istrinya, dan Aku adalah sang kera.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Advertisements
Tagged ,

ASSAKA-JĀTAKA

“Dahulu bersama Raja Assaka yang agung,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang godaan nafsu terhadap seorang bhikkhu oleh mantan istrinya. Beliau bertanya kepada bhikkhu tersebut apakah apakah benar dia menyesal. Bhikkhu tersebut berkata, “Ya.” “Kepada siapakah Anda jatuh cinta?” lanjut Sang Guru. “Mantan istri saya,” balasnya. Kemudian Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini saja, Bhikkhu, Anda sangat menginginkan wanita ini. Di masa lampau, cintanya membuatmu mendapatkan penderitaan yang besar.” Dan Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, seorang Raja Assaka memerintah di Potali, sebuah kota di Kerajaan Kāsi. Permaisurinya, yang bernama Ubbarī (Ubbari), amatlah disayanginya. Wanita ini sangat memikat dan anggun, dan kecantikannya melampaui banyak wanita meskipun tidak secantik seorang dewi. Permaisurinya ini kemudian meninggal, dan kematiannya membuat raja sangat berduka, sedih dan sengsara. Raja membaringkan jasad permaisuri ke dalam sebuah peti mati dan dibalsam dengan minyak dan ramuan, kemudian diletakkan di bawah ranjang. Di sana, raja berbaring tanpa makan, hanya menangis dan meratap. Sia-sia apa yang dilakukan oleh orang tua dan sanak keluarga, teman-teman dan anggota istana, para brahmana dan penduduk, untuk memintanya agar tidak bersedih karena segala sesuatu pasti berubah. Mereka tidak dapat menggerakkan hatinya. Demikian dia berbaring dalam duka, tujuh hari pun berlalu. Kala itu, Bodhisatta adalah seorang petapa yang memiliki lima kesaktian dan delapan pencapaian meditasi; dia berdiam di bawah kaki gunung Himalaya. Dia memiliki kekuatan mata dewa, dan ketika melihat sekeliling India dengan penglihatan saktinya itu, dia melihat raja itu meratap, dan langsung memutuskan untuk menolongnya. Dengan kekuatan gaibnya, dia terbang di udara dan turun di taman raja, duduk pada papan batu besar, seperti sebuah patung emas.

 

Seorang brahmana muda dari Kota Potali masuk ke dalam taman tersebut, dan ketika melihat Bodhisatta, dia memberinya salam dan duduk. Bodhisatta mulai berbicara dengan ramah kepadanya, “Apakah raja seorang pemimpin yang arif?” tanyanya. “Ya, Tuan, raja adalah seorang yang arif,” balas orang muda itu, “tetapi permaisurinya baru saja wafat; dia membaringkan tubuh permaisurinya ke dalam peti mati dan berbaring meratapinya; hari ini adalah hari ketujuh sejak dia mulai begitu.—Mengapa Anda tidak membebaskan raja dari penderitaan ini? Makhluk yang bajik seperti dirimu ini seharusnya mampu mengatasi penderitaan raja.” “Saya tidak mengenal raja itu, Brahmana Muda,” kata Bodhisatta, “tetapi jika raja yang datang dan memintanya kepadaku sendiri, akan saya beri tahukan kepadanya tempat istrinya sekarang dilahirkan kembali, dan membuat wanita itu berbicara sendiri.” “Kalau begitu, Bhante, tunggulah di sini sampai kubawakan raja kepadamu,“ kata brahmana muda itu. Bodhisatta mengiyakannya, dan brahmana muda itu pun bergegas menghadap raja dan menceritakan kepadanya tentang hal itu. “Anda harus mendatangi orang ini yang memiiki penglihatan sakti!” katanya kepada raja. Raja sangat gembira, memikirkan dapat melihat Ubbari, dan dia pun naik kereta kebesarannya dan mengendarainya menuju ke tempat itu.  Setelah memberi salam kepada Bodhisatta, raja duduk di satu sisi dan bertanya, “Benarkah, seperti yang diberitahukan kepadaku bahwasanya Anda mengetahui di mana  permaisuriku dilahirkan kembali?” “Benar, Paduka,” jawabnya.

 

Kemudian raja menanyakan di manakah tempatnya. Bodhisatta menjawab, “Wahai Paduka, (dalam kehidupannya sebagai permaisuri) dia begitu dimabukkan oleh kecantikannya sehingga jatuh dalam kelalaian dan tidak melakukan perbuatan yang baik dan bajik. Jadi sekarang dia telah menjadi seekor ulat kotoran sapi di dalam taman ini.” [157] “Saya tidak percaya!” kata raja. “Kalau begitu saya akan memperlihatkannya kepada Anda dan membuatnya berbicara,” kata Bodhisatta. “Tolong buat dia berbicara!” kata raja. Bodhisatta mengucapkan perintah—“Dua makhluk yang sibuk menggelindingkan gumpalan kotoran sapi, datanglah menghadap raja.” Dengan kekuatannya, dia membuat mereka melakukan demikian, dan mereka pun datang. Bodhisatta menunjuk salah satu dari mereka kepada raja: “Itu adalah Permaisuri Ubbari-mu, Paduka! Dia baru saja keluar dari gumpalan kotoran ini, mengikuti suaminya ulat kotoran. Lihat dan perhatikanlah.” “Apa! Permaisuri Ubbari-ku adalah seekor ulat kotoran? Saya tidak percaya!” teriak raja. “Saya akan membuatnya berbicara, Paduka!” “Saya mohon buatlah dia berbicara, Bhante!” katanya. Bodhisatta dengan kekuatannya memberikan ulat tersebut kemampuan berbicara. “Ubbari!” katanya. “Ada apa, Bhante?” tanya Ubbari, dalam bahasa manusia. “Siapakah namamu dalam kehidupan sebelumnya?” tanya Bodhisatta. “Namaku adalah Ubbari, Bhante,” jawabnya, “permaisuri Raja Assaka.” “Beritahu saya,” lanjut Bodhisatta, “manakah yang paling kamu cintai sekarang–Raja Assaka atau ulat kotoran ini?” “Oh, Bhante, itu adalah kehidupan masa lampauku,” katanya, “kala itu, saya hidup bersamanya di taman ini, menikmati rupa, suara, bau, rasa dan sentuhan. Akan tetapi, sekarang ingatanku telah menjadi kabur dikarenakan kelahiran kembali, siapalah dirinya (Raja Assaka)? Sekarang saya akan (memilih untuk) membunuh Raja Assaka dan melumuri kaki suamiku, ulat kotoran, dengan darah yang mengalir dari kerongkongannya!” dan di hadapan raja, dia mengucapkan bait-bait berikut dalam bahasa manusia:

 

Dahulu bersama Raja Assaka yang agung, suamiku yang tercinta, yang mencintai dan yang tercinta, saya berkeliaran di taman ini.

 

Tetapi sekarang, penderitaan baru dan kebahagiaan baru telah membuat yang lama lenyap. Dan jauh lebih kucintai ulatku ini dibandingkan Assaka. Ketika mendengar ini, Raja Assaka menyesal di tempat itu juga, dan segera dia memerintahkan agar jasad permaisuri tersebut dikeluarkan, kemudian dia membasuh kepalanya sendiri. Dia memberi hormat kepada Bodhisatta dan pulang kembali ke kota, tempat dia menikahi permaisuri yang lain dan memerintah dengan benar. Dan Bodhisatta, setelah menasihati raja dan membuatnya bebas dari kesedihan, kembali ke Himalaya.

 

Setelah mengakhiri uraian ini, Sang Guru  memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran, bhikkhu yang (tadinya) menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Mantan istrimu adalah Ubbarī (Ubbari); Anda, bhikkhu yang mabuk cinta adalah Raja Assaka; Sāriputta adalah brahmana muda tersebut; dan petapa itu adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KURUṄGA-MIGA-JĀTAKA

 

 

“Kemarilah, Kura-kura,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Veḷuvana (Veluvana), tentang Devadatta. Kabar tentang Devatta yang merencanakan kematian-Nya sampai ke telinga Sang Guru. “Para Bhikkhu,” kata Beliau, “hal ini sama persis dengan yang terjadi dahulu kala; Devadatta mencoba membunuh-Ku pada saat itu seperti yang dicobanya sekarang ini.” Dan Beliau menceritakan kepada mereka kisah  masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor Rusa Kurunga dan tinggal di dalam hutan, di suatu semak belukar dekat sebuah danau. Tidak jauh dari danau yang sama tersebut, bertengger seekor burung pelatuk di atas sebuah pohon, dan di danau itu berdiam seekor kura-kura. Mereka bertiga menjadi sahabat dan tinggal bersama dengan akrab. Ketika seorang pemburu berkeliling di dalam hutan itu, dia melihat jejak kaki Bodhisatta yang turun menuju ke air, dan dia pun memasang perangkap dari kulit, yang kuat seperti rantai besi, kemudian pergi. Pada penggal awal malam hari itu, Bodhisatta turun untuk minum air dan dia pun terjerat di dalam perangkap itu: dia berteriak keras dan panjang. Mendengar itu, burung pelatuk  terbang ke bawah dari atas pohonnya dan kurakura pun keluar dari dalam air, berunding tentang apa yang harus dilakukan. Kata burung pelatuk kepada kura-kura, “Teman, kamu punya banyak gigi–gigitlah perangkap ini, sedangkan saya akan pergi dan memastikan pemburu itu tidak datang. Jika kita berusaha sedaya upaya kita, maka teman kita tidak akan kehilangan nyawanya.” Untuk membuat ini lebih jelas, dia mengucapkan bait pertama:

 

Kemarilah, Kura-kura, koyaklah perangkap kulit itu  dan gigitlah sampai putus,  dan pemburu itu, saya yang akan mengurusnya, dan menjauhkannya darimu.

 

Kura-kura mulai menggerogoti tali kulit itu, burung pelatuk tersebut pun pergi ke tempat tinggal sang pemburu. Pada fajar hari, keluarlah si pemburu dengan pisau di tangan. Segera setelah melihat sang pemburu mulai melangkah, burung itu berteriak dan mengepakkan sayapnya kemudian menyerangnya di bagian wajah ketika dia baru keluar dari pintu depan. “Burung pembawa sial menyerangku!” pikir pemburu itu, dia pun kembali dan berbaring sebentar. Kemudian dia bangkit lagi dan membawa pisaunya. Burung itu pun berpikir dalam hatinya, “Tadi dia keluar dari pintu depan, sekarang dia pasti akan keluar dari belakang:” dan dia pun duduk di belakang rumah. [154] Sang pemburu pun memikirkan hal yang sama, “Ketika tadi keluar dari pintu depan, saya menemui pertanda buruk, sekarang saya akan keluar dari belakang!” dan demikianlah yang dilakukannya. Tetapi burung itu berteriak kembali dan menyerang wajahnya. Mendapati dirinya kembali diserang oleh burung pertanda buruk, sang pemburu pun berseru, “Mahkluk ini tidak membiarkanku keluar!” dan berbaliklah dia, kemudian berbaring sampai matahari terbit. Ketika matahari telah terbit, dia membawa pisaunya dan mulai lagi. Burung pelatuk segera mendatangi teman-temannya. “Si pemburu sedang menuju ke sini!” teriaknya. Waktu itu, kura-kura telah menggerogoti semua tali kulitnya, tinggal satu yang keras: gigi-giginya kelihatan seperti akan tanggal semua dan mulutnya berlumuran darah. Bodhisatta melihat pemburu itu datang seperti kilat, dengan pisau di tangan: dia pun memutuskan tali tersebut dan lari masuk ke dalam hutan, burung pelatuk terbang bertengger di atas pohonnya, tetapi kura-kura sangat lemah sehingga dia hanya terbaring di sana. Sang pemburu memasukkannya ke dalam sebuah kantung dan mengikatnya di pohon. Bodhisatta melihat kura-kura tertangkap dan bertekad untuk menyelamatkan nyawa temannya. Maka dia membiarkan pemburu itu melihatnya dan berpura-pura seakan dia lemah. Sang pemburu melihatnya dan mengiranya lemah, dia pun mencabut pisau dan mengejarnya. Bodhisatta menjaga jaraknya dari sang pemburu dan memancingnya masuk ke dalam hutan. Ketika melihat bahwasanya mereka telah berlari jauh, dia meloloskan diri darinya dan, dengan tangkasnya dari arah lain, dia keluar mengambil kantong tersebut dengan tanduknya, melemparnya ke tanah dan mengoyaknya, kemudian membiarkan kura-kura keluar. Dan burung pelatuk pun terbang turun dari pohon. Kemudian Bodhisatta pun berkata demikian kepada mereka, “Nyawaku telah kalian selamatkan, dan kalian telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai sahabat. Sekarang pemburu pasti akan datang dan memburu kalian. Jadi kalian; Temanku Burung Pelatuk, pergilah ke tempat lain dengan anak-anakmu, dan Anda, Temanku Kura-kura, menyelamlah ke dalam air.” Mereka pun melakukan demikian.

 

Dia Yang Sempurna Kebijaksanaan-Nya mengulangi bait kedua berikut:—

 

Kura-kura masuk ke dalam danau,  rusa masuk ke dalam hutan, dan dari pohon, burung pelatuk membawa anak-anaknya terbang pergi.

 

Sang pemburu kembali dan tidak melihat salah satu pun dari mereka. Dia melihat kantongnya robek, memungutnya dan pulang ke rumah dengan sedih. Dan ketiga sahabat itu pun hidup dengan persahabatan mereka yang erat sepanjang hidup mereka, dan kemudian meninggal sesuai dengan perbuatan mereka.

 

Ketika mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Devadatta adalah sang pemburu, Sāriputta adalah burung pelatuk, Moggallāna adalah kura-kura, dan Aku adalah rusa.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

GAṄGEYYA-JĀTAKA

 

“Ikan-ikan dari,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika tinggal di Jetavana, tentang dua bhikkhu muda. Dikatakan bahwasanya dua bhikkhu muda ini adalah anggota dari sebuah keluarga yang terpandang di Sāvatthi dan memiliki keyakinan. Tetapi mereka, dengan tidak menyadari akan keburukan dari badan jasmani, memuji ketampanan mereka sendiri dan menyombongkan hal tersebut. Suatu hari mereka bertengkar dikarenakan permasalahan ini: “Anda tampan, demikian juga saya,” kata mereka masing-masing. Melihat ada seorang thera tua yang duduk tidak jauh dari sana, mereka setuju kalau dia mungkin tahu apakah mereka tampan atau tidak. Kemudian mereka menghampirinya dan bertanya, “Bhante, siapakah yang tampan di antara kami?” Sang Thera menjawab, “ Āvuso , saya lebih tampan daripada kalian berdua.” Terhadap ini, kedua bhikkhu muda tersebut mencelanya dan pergi, sambil mengomel bahwa dia menjawab sesuatu yang tidak mereka tanyakan, tetapi tidak menjawab apa yang mereka tanyakan. Para bhikkhu mengetahui kejadian ini, dan pada suatu hari, ketika bersama-sama di dalam balai kebenaran, mereka mulai membicarakannya, “ Āvuso , thera tersebut mempermalukan kedua bhikkhu muda yang pikirannya dipenuhi dengan ketampanan mereka sendiri!” Sang Guru masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan selama mereka duduk bersama. Mereka menceritakan kepada-Nya. Beliau kemudian berkata, “Ini bukan pertama kalinya, Para Bhikkhu, kedua bhikkhu muda ini memuja ketampanan mereka sendiri, tetapi di masa lampau juga mereka selalu menyombongkannya seperti apa yang mereka lakukan sekarang.” Dan kemudian Beliau menceritakan mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, pada masa pemerintahan Brahmadatta, Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang dewa pohon di tepi Sungai Gangga. Pada satu titik, tempat Gangga dan Jumma bertemu, dua ekor ikan bertemu satu sama lain, satu dari Gangga dan satu dari Jumma. “Saya cantik!” kata yang satu, “dan begitu juga kamu!” dan kemudian mereka bertengkar mengenai kecantikan mereka. Tidak jauh dari Sungai Gangga, mereka melihat seekor kura-kura berbaring di tepi sungai, “Teman di sana yang akan memutuskan apakah kita cantik atau tidak!” kata mereka. Dan mereka pun menghampirinya. “Siapakah yang cantik di antara kami, Teman Kura-kura,” tanya mereka, “ikan Gangga atau ikan Jumma?” Kura-kura menjawab, “Ikan Gangga cantik dan ikan Jumma juga cantik, tetapi sayalah yang paling cantik di antara kalian berdua.” Dan untuk menjelaskannya, dia mengucapkan bait pertama:—

 

Ikan-ikan dari Sungai Jumma itu cantik, ikan-ikan dari Sungai Gangga cantik, tetapi seekor makhluk berkaki empat, dengan leher  lonjong seperti saya, bulat seperti pohon beringin yang menyebar, pastilah melebihi semuanya.

 

Ketika mendengar ini, kedua ikan itu berkata, “He, Kurakura Jahat, kamu tidak menjawab pertanyaan kami, malah menjawab yang lain!” dan mereka mengulangi bait kedua:

 

Kami menanyakan ini, dia menjawab itu: sungguh sebuah jawaban yang aneh!

Dengan lidahnya sendiri dia memuji diri sendiri:— saya tidak menyukainya!

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, kedua bhikkhu muda adalah kedua ekor ikan, sang thera tua adalah kura-kura, dan Aku adalah dewa pohon yang melihat semua kejadian itu dari tepi Sungai Gangga.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged

VĪRAKA-JĀTAKA

 

“Oh, apakah Anda melihat,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang peniruan terhadap Yang Sempurna Menempuh Jalan (Sugata). Ketika para thera telah pergi beserta pengikut mereka untuk mengunjungi Devadatta, Sang Guru menanyakan Sāriputta apa yang dilakukan Devadatta ketika dia melihat mereka. Jawabannya adalah dia meniru Sang Buddha. Sang Guru menyambung, “Bukan hanya kali ini, Devadatta meniru diri-Ku dan demikian menemui kehancuran; tetapi dia juga melakukan hal yang sama sebelumnya.” Kemudian, atas permintaan para thera, Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah sebagai raja di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor gagak air dan tinggal di sebuah kolam. Namanya adalah Vīraka (Viraka). Di sana, terjadi kelaparan di Kasi. Orang-orang tidak bisa menyisihkan makanan untuk burung-burung gagak, tidak juga persembahan untuk para yaksa dan nāga . Satu per satu burung gagak meninggalkan tanah yang dilanda kelaparan itu dan masuk ke dalam hutan. Ada seekor gagak bernama Saviṭṭhaka (Savitthaka), yang tinggal di Benares, membawa serta pasangannya gagak betina dan pergi ke tempat Viraka tinggal, membuat sarangnya di samping kolam yang sama. Suatu hari, gagak ini mencari makanan di sekitar kolam itu. Dia melihat bagaimana Viraka turun ke dalamnya dan memakan beberapa ekor ikan, setelah itu keluar lagi dari dalam air dan berdiri mengeringkan bulunya. “Di bawah sayap gagak itu,” pikirnya, “banyak ikan yang bisa didapatkan. Saya akan menjadi pelayannya.” Maka dia menghampirinya. “Ada apa, Teman?” tanya Viraka. “Saya ingin menjadi pelayanmu!” jawabnya. Viraka setuju dan mulai saat itu dia pun melayaninya. Dan sejak saat itu, Viraka biasanya hanya memakan ikan secukupnya untuk mempertahankan hidupnya dan sisanya dia berikan kepada Savitthaka segera setelah dia menangkapnya, dan setelah Savitthaka memakan ikan secukupnya untuk mempertahankan hidupnya, dia berikan apa yang tersisa kepada istrinya. Setelah beberapa waktu, kesombongan mulai timbul di hatinya. “Gagak ini,” katanya, “berwarna hitam dan demikian juga diriku. Dalam bentuk mata, paruh, dan kaki juga tidak ada perbedaan di antara kami. Saya tidak menginginkan ikannya; saya akan menangkapnya sendiri!” Jadi dia berkata kepada Viraka bahwa nantinya dia berniat untuk turun ke dalam air dan menangkap ikan sendiri. Kemudian Viraka berkata, “Teman, Anda bukanlah termasuk jenis gagak yang dilahirkan untuk masuk ke dalam air dan menangkap ikan. Jangan menghancurkan dirimu sendiri!” Walaupun usaha ini dilakukan untuk menghalanginya, Savitthaka tetap saja tidak mau mendengar peringatan itu. Dia pergi ke kolam itu dan turun ke dalam air, tetapi dia tidak dapat melewati rumput-rumput liar dan keluar lagi—di sana dia, terjerat oleh rumput-rumput liar, hanya ujung paruhnya yang terlihat muncul di atas air. Karena tidak dapat bernapas, dia pun mati di dalam air. Pasangannya mengetahui dia tidak kembali dan pergi mencari Viraka untuk menanyakan kabar dirinya. “Tuan,’ tanyanya, “Savitthaka tidak kelihatan. Di manakah dia?” Dan saat setelah menanyakan hal ini, dia mengulangi bait pertama berikut:

 

Oh apakah Anda melihat Savitthaka,  apakah Anda melihat pasanganku yang bersuara merdu, yang lehernya seperti kemilau burung merak?

 

Ketika mendengar ini, Viraka membalas, ”Ya, saya tahu di mana dia berada,” dan mengulangi bait kedua:—

 

Dia tidaklah dilahirkan untuk menyelam di bawah air, tetapi apa yang tidak dapat dilakukannya malah dicobanya; Maka burung malang itu menemukan makam airnya, terjerat di tengah rumput-rumput liar dan mati di sana.

 

Ketika gagak betina tersebut mendengarnya, sambil meratap, dia kembali ke Benares.

 

Setelah uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Devadatta adalah Saviṭṭhaka (Savitthaka), dan Aku adalah Vīraka (Viraka).”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KHANDHA-VATTA-JĀTAKA

“Ular-ular Virūpakkha saya kasihi,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu. Dikatakan bahwasanya pada saat dia duduk, di depan ruang tamunya, membelah kayu, seekor ular menyelinap keluar dari kayu yang lapuk dan menggigit jari kakinya; dia pun mati seketika. Seluruh wihara mengetahui bagaimana dia mati mendadak. Di dalam balai kebenaran, mereka mulai membicarakannya, mengatakan bagaimana bhikkhu anu sedang duduk di pintu, membelah kayu, ketika seekor ular menggigitnya dan mati seketika karena gigitan itu. Sang Guru masuk dan ingin mengetahui apa yang mereka perbincangkan selama mereka duduk bersama. Mereka pun menceritakan kepada-Nya. Kata Beliau, “Para Bhikkhu, seandainya saja bhikkhu ini melatih cinta kasih terhadap empat jenis ular, maka ular tersebut tidak akan menggigitnya. Orang bijak di masa lampau, sebelum Sang Buddha lahir, dengan menerapkan cinta kasih terhadap empat jenis ular, bebas dari rasa takut yang muncul karena ular-ular ini.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala di masa pemerintahan Brahmadatta, Raja Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai seorang brahmana muda di Kerajaan Kāsi. Setelah dewasa, dia melepaskan nafsunafsunya dan memilih menjalani kehidupan sebagai seorang petapa; dia mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi; dia membangun sebuah pertapaan di tikungan Sungai Gangga, di bawah kaki Himalaya dan berdiam di sana, dikelilingi oleh sekelompok petapa, terhanyut dalam kebahagiaan meditasi. Kala itu terdapat banyak ular di sekitar pinggiran Sungai Gangga yang suka mengganggu para petapa dan banyak dari mereka tewas digigit ular. Petapa-petapa itu menceritakan kejadian tersebut kepada Bodhisatta. Dia pun memanggil para petapa untuk menjumpainya dan berkata, “Jika kalian menunjukkan cinta kasih kepada keempat jenis ular, tidak akan ada ular yang menggigitmu. Oleh karena itu, mulai sekarang tunjukkanlah cinta kasih kepada keempat jenis ular ini,” Kemudian dia menambahkan bait berikut:

 

Ular-ular Virūpakkha yang saya kasihi, Ular-ular Erāpatha  yang saya kasihi, Ular-ular Chabbyāputta yang saya kasihi, Ular-ular Kaṇhāgotama yang saya kasihi.

 

Setelah demikian mengucapkan nama-nama dari keempat jenis ular itu, beliau menambahkan, “Jika kalian bisa mengembangkan cinta kasih terhadap semua ular ini, maka tidak akan ada ular yang akan menggigit atau mencelakaimu.” Kemudian Beliau mengulangi bait kedua:—

 

Semua makhluk di bawah sinar matahari, dua kaki, empat kaki, atau lebih, atau tidak ada— betapa saya mengasihi kalian, semuanya!

 

Setelah menyatakan ungkapan cinta kasih di dalam dirinya, beliau mengucapkan bait berikutnya dengan berdoa:

 

Semua makhluk, berkaki dua atau berkaki empat, yang tidak mempunyai kaki dan yang mempunyai lebih, janganlah menyakiti saya, saya memohon!

 

Kemudian kembali, dengan bahasa biasa, dia mengulangi satu bait berikut:—

 

Kalian semua makhluk yang memiliki kehidupan, bernafas dan bergerak di atas tanah, semoga kalian bahagia, semuanya, jangan pernah jatuh dalam kejahatan.

 

Demikianlah dia memaparkan bagaimana seseorang harus menunjukkan cinta kasih dan niat baik kepada semua makhluk hidup tanpa ada perbedaan; dia mengingatkan semua pendengarnya tentang kualitas bagus dari Tiga Permata, mengucapkan—“Buddha Nirbatas, Dhamma Nirbatas, dan Sangha Nirbatas.” Dia berkata, “Ingatlah kualitas bagus dari Tiga Permata,” demikianlah setelah memaparkan ketidakterbatasan Tiga Permata, dan ingin menunjukkan kepada mereka bahwa semua makhluk adalah terbatas, dia menambahkan, “Yang terbatas dan dapat diukur adalah hewan-hewan melata, ular, kalajengking, lipan, laba-laba, kadal, tikus.” Dan dilanjutkan, “Nafsu dan keinginan yang ada di dalam hewan inilah kualitas yang menjadikan mereka terbatas dan bisa diukur, semoga kita dilindungi siang dan malam dari makhluk yang terbatas ini dengan kekuatan dari Tiga Permata, yang nirbatas. Oleh karena itu, ingatlah kualitas bagus dari Tiga Permata.” Kemudian dia mengucapkan bait berikut:—

 

Sekarang saya terlindungi dengan aman  dan dipagari sekeliling: Semua makhluk hidup janganlah menggangguku. Segala hormat kepada Yang Terberkahi kuberikan, dan terpuijlah tujuh Sammāsambuddha yang telah lewat.

 

Dan setelah meminta mereka juga mengingat tujuh Buddha ketika mereka memberikan penghormatan, Bodhisatta menggubah syair pelindung ini dan menyampaikannya kepada kelompok petapanya. Sejak saat itu, para petapa mengingat dalam hati nasihat Bodhisatta tersebut, mengembangkan cinta kasih dan niat baik, serta merenungkan kebajikan Buddha. Sewaktu mereka melakukan ini, semua ular pergi meninggalkan mereka. Bodhisatta mengembangkan kediaman murni dan mencapai alam brahma.

 

Setelah Sang Guru menyampaikan uraian ini, Beliau mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Para siswa Buddha adalah para pengikut petapa itu, dan guru mereka adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KEḶI-SĪLA-JĀTAKA

“Angsa, bangau, gajah”, dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Yang Mulia Lakuṇṭaka (Lakuntaka) nan baik. Yang Mulia Lakuntaka adalah orang yang terkenal atas keyakinannya terhadap Sang Buddha, orang yang terkemuka, bermulut manis, pengkhotbah yang baik, yang memiliki pengetahuan analitik, yang telah dengan sempurna melenyapkan leleran batin ( āsava ), tetapi dengan perawakannya yang paling kecil di antara delapan puluh mahathera, tidak lebih besar dari seorang samanera, seperti anak kecil bisa yang diajak bermain. Suatu hari, dia berada di depan gerbang Jetavana untuk memberi penghormatan kepada Sang Buddha ketika tiga puluh bhikkhu dari daerah itu sampai di pintu gerbang dalam perjalanan memberi penghormatan kepada Sang Buddha juga. Ketika melihat thera ini, mereka mengira dia adalah samanera; mereka menarik ujung jubahnya, mereka memegang tangannya, memegang kepalanya, mencubit hidungnya dan menarik telinganya kemudian mengguncangnya dan memperlakukannya dengan sangat kasar; kemudian setelah meletakkan patta dan jubah, mereka menghampiri Sang Guru dan memberi hormat kepada-Nya. Kemudian mereka bertanya kepada Beliau, “Bhante, kami tahu bahwa Anda memiliki seorang thera yang bernama Lakuntaka yang baik, seorang pengkhotbah yang manis. Di manakah dia?” “Kalian ingin bertemu dengannya?” tanya Sang Guru. “Ya, Bhante.” “Dia adalah orang yang kalian jumpa di gerbang tadi, orang yang kalian tarik jubahnya dan yang kalian perlakukan dengan sangat kasar sebelum kalian datang ke sini.” “Mengapa, Bhante,” tanya mereka, “mengapa dia seorang yang memiliki keyakinan, yang beraspirasi tinggi, seorang siswa sejati—mengapa dia kelihatan sangat tidak berarti?” “Dikarenakan perbuatan buruknya sendiri,” jawab Sang Guru. Atas permintaan mereka, Beliau kemudian menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Raja Brahmadatta berkuasa di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai Sakka, raja para dewa. Brahmadatta tidak tahan melihat apa saja yang tua atau lemah, apakah itu gajah, kuda, sapi, atau apa saja. Dia sangat nakal, dan apabila melihat yang seperti itu, dia akan mempermainkan mereka; gerobak-gerobak tua dihancurkannya, dan wanitawanita tua yang  dilihatnya akan dipanggil, lalu Brahmadatta memukul perut mereka, kemudian menyuruh mereka berdiri lagi dan membuat mereka menjadi takut; dia menyuruh laki-laki tua bergulingan dan bermain di tanah layaknya pemain akrobat. Bila dia tidak melihat mereka, tetapi hanya mendengar ada laki-laki tua di kota anu, maka dia akan memanggilnya dan mempermainkannya. Dikarenakan hal ini, orang-orang dengan alasan perbuatan yang memalukan itu, mengirim orang tua mereka ke luar dari batas wilayah kerajaan. Tidak ada lagi orang yang merawat ibu dan ayah mereka. Teman-teman raja sama nakalnya seperti raja. Setelah orang-orang meninggal, mereka memenuhi penghuni keempat alam rendah; penghuni alam dewa menjadi semakin menyusut. Sakka melihat tidak ada pendatang baru di antara para dewa, maka dia pun mencari apa yang dapat dilakukannya. Pada akhirnya, dia menemukan suatu cara. “Saya akan membuatnya menjadi baik!” pikir Sakka. Dia pun menjelma menjadi orang tua dan meletakkan dua kendi susu di sebuah kereta yang sangat tua yang ditarik oleh sepasang sapi tua, kemudian berangkat pada suatu hari perayaan. Brahmadatta, dengan menunggangi gajah yang dihiasi secara mewah, sedang berkeliling kota yang juga telah dihiasi semuanya; dan Sakka, dengan berpakaian compang-camping, mengendarai keretanya, datang menjumpai raja. Ketika raja melihat kereta tua, dia berteriak, “Kamu, pergilah dengan keretamu itu!” Tetapi orang-orangnya menjawab, “Di mana itu, Paduka? Kami tidak melihat satu kereta pun!” (Sakka dengan kekuatannya membuat dia tidak dapat dilihat oleh siapa pun kecuali raja). Dan, menghampiri raja berulang kali, akhirnya Sakka yang masih mengendari keretanya menghancurkan salah satu kendinya di atas kepala raja dan membuatnya berpaling, kemudian dia menghancurkan yang satunya lagi dengan cara yang sama. Dan susu itu pun mengucur dari kedua sisi kepala raja. Demikianlah raja itu dipermainkan dan disiksa, dibuat menderita oleh kelakuan Sakka. Ketika melihatnya demikian menderita, Sakka membuat keretanya hilang dan kembali ke wujud asalnya. Dengan melayang di tengah udara, petir di tangannya, dia mengecamnya—“Wahai Raja yang Jahat dan yang Tidak Benar, apakah Anda sendiri tidak akan menjadi tua? Tidakkah usia tua menyerang dirimu nantinya? Anda masih saja mempermainkan dan mengganggu, dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk terhadap orang yang tua! Dikarenakan dirimu seorang, dan kelakuanmu ini, setiap orang yang meninggal akan memenuhi keempat alam rendah, dan orang-orang tidak bisa merawat orang tua mereka! Jika Anda tidak menghentikan ini, akan kubelah kepalamu dengan petir batu permataku. Pergilah, dan jangan melakukannya lagi.” Setelah mengucapkan kecaman ini, Sakka memaparkan nilai-nilai dari orang tua dan memaparkan berkah dari menghormati orang yang tua. Kemudian dia kembali ke kediamannya sendiri. Sejak saat itu, raja tidak pernah lagi terpikir untuk melakukan apa yang biasa dilakukan sebelumnya.

 

Kisah ini berakhir, Dia Yang Sempurna Kebijaksanaan-Nya, mengulangi dua bait berikut:—

 

Angsa, bangau, gajah dan rusa, meskipun semuanya tidak sama, tetapi mereka samasama takut terhadap singa.

 

Demikianlah seorang anak bisa menjadi hebat  jika dia pandai; Orang bodoh mungkin saja besar, tetapi tidak akan pernah bisa menjadi hebat.

 

Setelah uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran-kebenaran, sebagian bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpanna, sebagian mencapai tingkat kesucian Sakadāgāmi dan sebagian lagi mencapai tingkat kesucian Arahat:—“ Lakuṇṭaka (Lakuntaka) yang baik adalah raja pada kisah tersebut, yang membuat orangorang sebagai sasaran dari olok-olokannya dan kemudian dia sendiri juga menjadi sasaran, sedangkan Aku adalah Sakka.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

BANDHANĀGĀRA-JĀTAKA

“Bukan belenggu-belenggu besi,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang rumah tahanan. Kala itu diceritakan terdapat sekelompok pencuri, perampok dan pembunuh yang tertangkap dan dibawa secara paksa ke hadapan Raja Kosala. Sang raja memerintahkan untuk mengikat mereka dengan rantai-rantai, tali-tali, dan belenggubelenggu. Tiga puluh bhikkhu desa, yang berniat untuk menjumpai Sang Guru, datang untuk menjenguk-Nya dan memberikan salam hormat mereka. Keesokan harinya, sewaktu sedang berpindapata, mereka melewati rumah tahanan itu dan melihat orang-orang jahat tersebut. Pada sore harinya, sekembalinya dari berkeliling, mereka menghampiri Sang Buddha. “Bhante,” kata mereka, “hari ini, ketika sedang berpindapata, kami melihat di dalam rumah tahanan terdapat sejumlah penjahat yang terikat ketat oleh rantai-rantai dan belenggu-belenggu, berada dalam keadaaan yang sangat menderita. Mereka tidak dapat memutuskan belenggu-belenggu tersebut dan melarikan diri. Adakah belenggu yang lebih kuat dari yang belenggu-belenggu ini?” Sang Guru membalas, “Para Bhikkhu, benar bahwasanya itu adalah belenggu. Akan tetapi, belenggu yang terdiri dari nafsu terhadap kekayaaan, hasil panen, putra, istri dan anak, lebih kuat dari itu seratus kali lipat, bahkan seribu kali lipat. Walaupun belenggu-belenggu itu sulit untuk dilepaskan, tetapi mereka berhasil diputuskan oleh orang bijak di masa lampau, yang pergi ke Himalaya dan menjadi petapa.” Kemudian Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah Benares, Bodhisatta dilahirkan di dalam sebuah keluarga yang miskin. Ketika dia tumbuh dewasa, ayahnya meninggal. Dia mencari nafkah dan menghidupi ibunya. Ibunya, bertentangan dengan kehendaknya, membawakan seorang istri ke rumah untuknya dan segera setelah itu dia meninggal. Istrinya kemudian mengandung. Tanpa mengetahui bahwa istrinya telah mengandung, dia berkata kepada istrinya, “Istriku, Anda harus menghidupi dirimu sendiri sekarang, saya akan meninggalkan keduniawian.” Kemudian istrinya berkata, “Tidak, karena saya sedang mengandung. Tunggu dan lihatlah anak tersebut lahir dan baru setelah itu pergi dan jadilah petapa.” Mendengar perkataan ini, dia pun menyetujuinya. Kemudian setelah istrinya melahirkan, dia berkata, “Istriku, sekarang Anda telah melahirkan dengan selamat, dan saya harus menjadi petapa.” “Tunggulah,” kata istrinya, “sampai anak ini berhenti menyusu.”  Dan setelah itu, istrinya mengandung lagi. “Jika saya (selalu) menyetujui permintaannya,“ pikir Bodhisatta, “saya tidak akan pernah bisa pergi. Saya akan pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun kepadanya, dan menjadi seorang petapa.” Maka dari itu, dia tidak mengatakan apa pun kepadanya, bangun pada malam hari dan pergi. Para penjaga kota menahannya. “Saya mempunyai seorang ibu untuk dijaga,” katanya—“biarkan saya pergi!” Demikian dia membuat mereka melepaskannya pergi, dan setelah berdiam di suatu tempat, dia melewati gerbang utama dan menuju ke Himalaya, tempat dia tinggal sebagai seorang petapa; dia mengembangkan kesaktian dan pencapaian meditasi dalam dirinya di saat dia tinggal dalam kebahagiaan meditasinya. Ketika tinggal di sana, dia merasa bahagaia dan berkata—“Ikatan dari istri dan anak, ikatan dari hawa nafsu, yang sangat susah untuk diputuskan, telah terputus!” dan dia mengulangi bait berikut:—

 

Bukan belenggu-belenggu besi—yang dikatakan oleh para bijak—bukan tali-tali atau tiang-tiang kayu,  yang mampu mengikat sekuat hawa nafsu dan cinta terhadap anak atau istri, terhadap batu permata dan batangan emas.

 

Belenggu-belenggu yang kuat ini siapakah di sana yang bisa menemukan pembebasan dari semua ini?—  Ini semua adalah belenggu-belenggu yang mengikat:

Jikalau yang bijak dapat memutuskannya, maka mereka akan bebas, melepaskan semua cinta dan hawa nafsu!”

 

Dan Bodhisatta, setelah mengutarakan tekad ini, tanpa terputus dalam meditasi (jhana), akhirnya mencapai alam brahma.

 

Ketika Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran: Di akhir kesimpulan dari kebenaran-kebenaran, sebagian mencapai tingkat kesucian Sotāpanna , sebagian mencapai tingkat kesucian Sakadāgāmi sebagian mencapai tingkat kesucian Anāgāmi dan sebagian  mencapai tingkat kesucian Arahat:—

“Dalam kisah tersebut, Mahāmāyā adalah sang ibu, Raja Suddhodana adalah sang ayah, Ibunya Rāhula adalah sang istri, Rāhula sendiri adalah sang anak, dan Aku adalah orang yang meninggalkan keluarganya dan menjadi seorang petapa.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SĀDHUSĪLA-JĀTAKA

 

“Yang satu tampan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang brahmana. Orang ini, diceritakan, mempunyai empat putri. Empat laki-laki datang untuk melamar mereka; yang satu tampan, yang satu tua dan dewasa, yang satu seorang laki-laki dari keluarga terpandang, dan yang satunya lagi adalah orang yang memiliki moralitas. Dia berpikir di dalam hatinya, “Ketika seseorang hendak menikahkan putri-putrinya, kepada siapakah seharusnya mereka dinikahkan? Laki-laki yang tampan atau yang agak tua, atau salah satu di antara dua yang lain, seorang keturunan bangsawan atau yang berbudi luhur (memiliki moralitas)?” Dia memikirkannya, tetapi tidak dapat memutuskan. Maka dia berpikir untuk memberitahukan masalah ini kepada Yang Tercerahkan Sempurna (Sammāsambuddha), yang pasti tahu jawabannya, dan Beliau akan memberikan gadis-gadis ini kepada  pelamar yang paling cocok. Jadi dia mempersiapkan sejumlah wewangian dan untaian bunga, kemudian mengunjungi wihara. Setelah memberi hormat kepada Sang Guru, dia duduk di satu sisi dan menceritakan kepada Beliau semuanya, mulai dari awal sampai akhir; kemudian dia bertanya, “Kepada siapakah dari keempat orang ini harus saya berikan putriputriku?” Atas pertanyaan ini, Sang Guru menjawab, “Di masa lampau, sama seperti sekarang ini, orang bijak menanyakan pertanyaan ini; tetapi karena kelahiran berulang-ulang telah membuat ingatanmu menjadi kabur, Anda tidak dapat mengingat hal itu kembali.” Dan kemudian atas permintaannya, Sang Guru menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai putra seorang brahmana. Dia tumbuh dewasa dan mendapatkan pendidikannya di Takkasilā ; dan sekembalinya ke rumah, dia menjadi seorang guru yang terkenal. Kala itu di sana terdapat seorang brahmana yang mempunyai empat orang putri. Empat putri ini dilamar oleh empat orang seperti yang diceritakan di atas. Brahmana ini tidak dapat memutuskan kepada siapa dia harus nikahkan putri-putrinya.

 

“Saya akan bertanya kepada guru,” pikirnya, “dan beliau akan memberi tahu kepada siapa mereka harus dinikahkan.” Maka dia pergi menghadap gurunya dan mengulangi bait pertama:

 

Yang satu tampan, satunya lagi dewasa;  satunya lagi keturunan bangsawan, dan satunya lagi memiliki moralitas.  Berikanlah jawaban atas pertanyaanku ini, Brahmana; dari keempat ini manakah yang kelihatannya terbaik?

 

Mendengar ini, guru menjawab, “Meskipun memiliki ketampanan dan kualitas lain sejenisnya, seseorang akan dipandang rendah jika dia tidak memiliki moralitas. Oleh karena itu, yang lain-lainnya bukanlah ukuran dari seorang laki-laki; yang saya suka adalah yang memiliki moralitas.” Dan untuk menjelaskan hal ini, beliau mengulangi bait kedua:

 

Ketampanan adalah hal yang bagus: Yang tua memiliki kehormatan, ini adalah hal yang benar: Keturunan bangsawan adalah hal yang bagus;  tetapi yang memiliki moralitas—moralitas, itu adalah pilihanku.

 

Setelah mendengar ini, brahmana tersebut memberikan semua putrinya kepada pelamar yang berbudi luhur.

 

Sang Guru, setelah mengakhiri khotbah ini, memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran-kebenarannya, brahmana itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :— “Brahmana ini adalah brahmana yang sama pada masa itu, dan guru yang terkenal itu adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

GAHAPATI-JĀTAKA

“Saya tidak suka ini,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru, tentang seorang bhikkhu yang menyesal, ketika berdiam di Jetavana dan dalam pembicaraannya, Beliau berkata, “Kaum wanita tidak pernah bisa dijaga dengan baik; bagaimanapun juga mereka akan melakukan perbuatan salah dan menipu suami mereka.” Dan kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau berikut.

 

Dahulu kala di masa pemerintahan Brahmadatta, Raja Benares, Bodhisatta lahir di daerah Kerajaan Kāsi sebagai putra seorang perumah tangga. Setelah tumbuh dewasa, dia menikah dan tinggal menetap sebagai perumah tangga. Adapun istrinya adalah seorang wanita jahat dan dia berselingkuh dengan kepala desa. Bodhisatta mendengar kabar angin itu dan berpikir dalam hatinya bagaimana dia dapat mengujinya.  Pada waktu itu, semua biji-bijian telah habis terendam selama musin hujan dan terjadi kelaparan. Tetapi waktu itu, padi mulai bertunas. Semua penduduk desa datang bersama dan memohon bantuan dari kepala desa mereka, sambil berkata, “Dua bulan dari sekarang, ketika panen, kami akan membayarmu kembali.” Mereka pun mendapatkan seekor sapi tua darinya dan memakannya. Suatu hari, kepala desa itu melihat kesempatannya dan saat Bodhisatta pergi merantau, dia mengunjungi rumah tersebut.

 

Saat mereka baru mulai bersenang-senang, Bodhisatta berjalan kembali dari gerbang desa menuju ke rumah. Wanita tersebut sedang memandang ke arah gerbang desa dan melihatnya. “Mengapa, siapakah ini?” tanyanya dalam hati sewaktu melihat Bodhisatta yang sedang berdiri di ambang pintu. “Itu adalah dia!” Wanita tersebut mengenalinya dan dia memberi tahu kepala desa. Kepala desa tersebut gemetaran ketakutan. “Jangan takut,” kata wanita itu, “saya mempunyai suatu rencana. Anda tahu bahwa kami mendapat daging darimu untuk dimakan: berpura-puralah seakan-akan Anda sedang menagih pembayaran untuk daging itu, saya akan memanjat ke lumbung dan berdiri di pintu itu sambil meneriakkan, ‘Tidak ada padi di sini!’ sedangkan Anda harus berdiri di tengah ruangan dan bersikeras dengan berteriak berulang-ulang kali, ‘Saya punya anak-anak di rumah; berikanlah bayaran untuk daging itu!’ Sambil berkata demikian, wanita tersebut memanjat ke atas lumbung dan duduk di dekat pintunya. Yang satunya lagi berdiri di tengah rumah dan berteriak, “Berikan saya bayaran untuk daging itu.” Sedangkan wanita tersebut menjawab, sambil duduk, “Tidak ada padi di dalam lumbung; Saya akan membayarnya ketika musim panen tiba; jangan ganggu saya sekarang!” Perumah tangga yang baik itu masuk ke dalam rumah dan melihat apa yang sedang mereka lakukan. “Ini pasti rencana wanita jahat itu,” pikirnya, dan dia berkata kepada kepala desa, “Tuan Kepala Desa, ketika kami memakan daging sapi tua milikmu, kami telah berjanji untuk memberimu beras dalam waktu dua bulan. Setengah bulan pun belum berlalu; jadi mengapa Anda mencoba untuk menagihnya sekarang? Itu bukanlah alasan Anda berada disini; Anda pasti datang untuk hal yang lain. Saya tidak suka cara-caramu. Wanita jahat di sana yang melakukan perbuatan salah; sudah tahu tidak ada beras di dalam lumbung, tetapi dia memanjat ke atas dan duduk di sana, sambil berteriak, ‘Tidak ada beras di sini!’ dan Anda berteriak, ‘Berikanlah!’ Saya tidak suka perbuatan kalian berdua!” Dan untuk membuatnya lebih jelas, dia mengucapkan bait berikut:—

 

Saya tidak suka ini, saya tidak suka itu;  Saya tidak suka wanita itu, yang berdiri di lumbung  dan berteriak, ‘Saya tidak bisa membayarnya!’

 

Tidak juga Anda, tidak juga Anda, Tuan! Sekarang dengar:—harta dan perbekalanku sedikit; Anda memberikan kepadaku seekor sapi yang kurus  dan waktu dua bulan untuk membayarnya;  Sekarang, sebelum harinya, Anda menagih kepadaku! Saya sama sekali tidak menyukainya. Setelah berkata demikian, dia menarik rambut kepala desa itu, menyeretnya ke luar, ke halaman, menjatuhkannya, dan ketika kepala desa itu berteriak, “Saya adalah kepala desa!” dia mencemoohnya—“Tolong, ganti rugi, atas kerusakan harta benda orang lain!” sambil memukulinya sampai pingsan. Kemudian dia menarik lehernya dan melemparnya ke luar rumah. Dia menarik rambut wanita jahat itu, menyeretnya ke luar dari lumbung, menjatuhkannya ke bawah dan mengancamnya—“Jika Anda melakukan hal seperti ini lagi, akan kupastikan Anda tetap mengingatnya!” Sejak saat itu, kepala desa bahkan tidak berani melihat ke rumah tersebut, dan wanita itu tidak berani melakukan perbuatan salah bahkan hanya di dalam pikirannya.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenaran-kebenaran, di akhir kebenarannya, bhikkhu yang menyesal tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Perumah tangga baik yang menghukum kepala desa itu adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,