DADDARA JĀTAKA

“Wahai Daddara, siapa ,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu pemarah. Cerita pembukanya telah dijelaskan sebelumnya. Dalam kisah ini, di saat suatu pembicaraan dilakukan di balai kebenaran mengenai sifat pemarah dari bhikkhu tersebut, Sang Guru muncul, dan ketika para bhikkhu memberitahukan topik pembicaraan mereka untuk menjawab pertanyaan-Nya, Beliau memanggil bhikkhu tersebut dan bertanya,” Apakah itu benar, Bhikkhu, apa yang mereka katakana bahwa Anda adalah seorang pemarah?” “Ya, Bhante, itu benar,” jawabnya. Kemudian Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini, Para Bhikkhu, tetapi di masa lampau juga ia adalah seorang pemarah, dan disebabkan oleh watak penuh nafsu kemarahannya, orang bijak pada masa itu harus tinggal selama tiga tahun di tempat tumpukan kotoran yang menjijikkan walaupun mereka tetap menjalani kehidupan tanpa kesalahan sebagai para pangeran nāga (naga).

Dahulu kala ketika Brahmadatta berkuasa di Benares, keluarga Naga Daddara bertempat tinggal di kaki Gunung Daddara di daerah pegunungan Himalaya, dan Bodhisatta terlahir dalam kehidupan mereka sebagai Mahādaddara (Mahadaddara), putra dari Sūradaddara (Suradaddara), raja negeri itu, dengan seorang adik laki-laki bernama Culladaddara.

Adiknya ini adalah makhluk yang pemarah dan kejam, selalu pergi mengganggu dan menggoda para wanita naga. Raja naga memberi perintah untuk mengusirnya dari kerajaan naga. Tetapi Mahadaddara meminta ayahnya untuk memaafkannya dan menyelamatkannya dari pengasingan. Kedua kalinya, sang ayah marah sekali dengannya, tetapi lagi-lagi ia dibujuk untuk memaafkannya. Tetapi pada saat ketiga kalinya, raja berkata, “Anda telah mencegahku untuk mengusir makhluk yang tak ada baiknya ini, sekarang kalian berdua pergi dari dunia naga ini dan tinggallah selama tiga tahun di Benares di tempat tumpukan

kotoran.”

Jadi ia mengusir mereka keluar jauh dari dunia naga, dan mereka pun berangkat dan tinggal di Benares. Ketika anak-anak dari suatu perkampungan melihat mereka mencari makanan di parit yang membatasi tempat tumpukan kotoran tersebut, mereka memukul dan melempari keduanya dengan bongkahan batu dan kayu dan benda-benda lainnya,sambil berteriak keras, “Apa yang kita dapatkan disini—kadal air berkepala besar dan berekor seperti jarum?” ujar mereka untuk melecehkan mereka. Tetapi Culladaddara, karena sifat kejam dan pemarahnya, tidak bisa membiarkan pelecehan ini begitu saja dan berkata, “Saudaraku, mereka mengolok-olok kita. Mereka tidak tahu bahwa kita adalah ular (naga) yang berbisa. Saya tidak bisa menerima olok-olokkan mereka terhadap kita; akan kuhabisi mereka dengan nafas dari lubang hidungku.” Dan untuk berkata kepada abangnya lagi, ia mengulangi bait pertama berikut:

Wahai Daddara, siapa yang bisa tahan dengan hinaan seperti ini?

‘Hai, ada tongkat pemakan kodok di dalam lumpurnya,’ teriak mereka:

memikirkan bagaimana makhluk-makhluk malang ini

berani menantang ular yang mempunyai taring berbisa!

Setelah mendengar kata-katanya, Mahadaddara mengucapkan bait berikut:

Sebuah pengasingan di tempat asing haruslah menjadikan hinaan sebagai sesuatu yang berharga:

Karena tidak ada mampu mengetahui kedudukan dan kebajikannya,

hanya orang dungu yang menunjukkan keangkuhannya.

Ia yang menjadi “bintang bersinar” di dalam rumahnya,

haruslah menjadi orang rendah hati di luar (rumahnya).

Demikian mereka tetap tinggal di sana selama tiga tahun,

kemudian ayah mereka memanggil mereka kembali. Sejak hari

itu, keangkuhannya pun menjadi berkurang.

Setelah selesai menyampaikan uraian ini, Sang Guru memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran itu, bhikkhu pemarah tersebut mencapai tingkat kesucian Anāgāmi (Anagami):—“Pada masa itu, bhikkhu pemarah adalah Culladaddara dan saya sendiri adalah Mahadaddara.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Advertisements
Tagged ,

EKARĀJA JĀTAKA

“O raja yang sebelumnya berkuasa ,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang bawahan Raja Kosala. Cerita pembukanya berhubungan dengan Seyyaṃsa-Jātaka. Dalam kisah ini, Sang Guru berkata, “Anda bukanlah satu-satunya orang yang mendapatkan kebaikan dari perbuatan buruk, orang bijak di masa lampau juga mendapatkan kebaikan dari perbuatan buruk.” Beliau pun menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Pada suatu ketika, seorang menteri yang bekerja melayani Raja Benares melakukan perbuatan buruk di tempat kediaman selir kerajaan. Raja mengusirnya keluar dari kerajaan setelah menyaksikan sendiri pelanggaran yang dilakukannya. Bagaimana ia menjadi bawahan raja Kosala, yang bernama Dabbasena, diceritakan semuanya dalam Mahāsīlava Jātaka.

Dalam kisah ini, Dabbasena menangkap Raja Benares ketika sedang berada di pentas di tengah-tengah para menterinya, dan mengikatnya dengan tali di atas pintu sehingga membuat kepalanya menggantung ke bawah. Raja mengembangkan perasaan cinta kasih terhadap kesatria jahat tersebut, dan dengan meditasi kasiṇa memasuki ke dalam tingkat jhana. Setelah memutuskan semua ikatannya, ia duduk bersila di udara. Kesatria itu kemudian diserang oleh rasa sakit yang amat membara di dalam tubuhnya, dan dengan tangisan, “Saya terbakar, saya terbakar,” ia berguling-guling di atas tanah.

Ketika ia bertanya kenapa hal ini bisa terjadi, para menterinya menjawab, “Ini terjadi karena raja yang Anda gantung kepalanya ke bawah dari atas pintu itu adalah seorang yang suci dan tidak bersalah.” Kemudian ia berkata, “Cepat pergi dan bebaskan dirinya.” Para bawahannya segera pergi, dan ketika melihat raja itu sedang duduk bersila di udara, mereka kembali dan memberi tahu Dabbasena. Maka ia pun bergegas pergi ke sana dan menunduk di hadapan raja seraya meminta maaf dan mengucapkan bait pertama berikut :

O raja yang sebelumnya berkuasa di kerajaan tempat

Anda tinggal, menikmati kebahagiaan yang demikian

yang hanya sedikit dialami oleh manusia,

Bagaimana bisa, berada di tengah siksaan seperti alam

neraka, Anda masih tetap begitu tenang dan wajahmu

begitu cerah?

Mendengar ini, Bodhisatta mengucapkan bait-bait berikut:

Dahulu pernah saya bertekad dengan sungguh-sungguh,

agar, dari kehidupan sebagai petapa, tidak dihalangi,

Sekarang kejayaan demikian telah diberikan kepadaku,

mengapa harus kukotori raut wajahku?

Akhir telah terwujudkan, tugasku selesai,

Kesatria yang sebelumnya adalah musuh

sekarang bukan lagi seorang musuh,

Ketenaran yang demikian telah dimenangkan,

mengapa harus kukotori raut wajahku?

Ketika kebahagiaan menjadi kesedihan dan

kesedihan menjadi kebahagiaan,

Jiwa-jiwa yang tabah mungkin memperoleh

kesenangan yang muncul dari rasa sakit mereka,

Tetapi perbedaan perasaan ini tidak akan mereka

rasakan, ketika ketenangan nibbana dicapai.

Setelah mendengar ini, Dabbasena meminta maaf kepada Bodhisatta dan berkata, “Pimpinlah rakyat-rakyatmu dan akan kubersihkan para pemberontak di dalamnya.” Maka setelah menghukum menteri yang jahat tersebut, ia pun pergi.

Sedangkan Bodhisatta menyerahkan kerajaannya kepada para menterinya, dan dengan menjalani kehidupan suci sebagai seorang petapa, ia terlahir kembali di alam brahma.

Setelah selesai menyampaikan uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahirannya: “Pada masa itu, Ānanda (Ananda) adalah Dabbasena, dan saya adalah Raja Benares.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Tagged ,

MAHĀ ASSĀROHA JĀTAKA

“Perbuatan baikmu dilimpahkan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, mengenai Ānanda Thera. Cerita pembuka yang terdapat dalam kisah ini telah dijelaskan sebelumnya. “Di masa lampau juga,” Sang Guru berkata, “orang bijak berbuat dengan prinsip bahwa perbuatan baik akan mendapatkan hasil yang baik pula.” Dan berikut ini, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka.

Dahulu kala, Bodhisatta menjadi Raja Benares, dan ia selalu berderma dan menjaga latihan moralitas (sila), menjalankan pemerintahannya dengan asas keadilan dan kesamaan.

Karena dipenuhi pikiran untuk mengakhiri pemberontakan di garis depan, maka ia sendiri memimpin peperangan dengan kekuatan besar. Tetapi setelah dikalahkan, ia harus turun dari kudanya dan lari menyelamatkan diri sampai ke desa perbatasan. Di sana, hiduplah tiga puluh orang yang setia dan mereka sedang berkumpul bersama di pagi hari itu di tengah desa melakukan kegiatan sehari-hari. Pada waktu itu, raja naik ke atas kudanya yang dilengkapi dengan baju perang dan senjata, berjalan masuk menuju ke depan pintu gerbang desa.

Semua orang takut dan lari masuk ke dalam rumah masing-masing sambil berkata. “Ada apa ini?” Tetapi ada satu laki-laki yang datang menyambut raja itu tanpa pergi ke rumahnya terlebih dahulu. Dengan memberi tahu orang asing tersebut bahwa dikatakan raja telah tiba sampai ke garis depan, ia menanyakan siapakah dirinya dan apakah ia adalah dirinya adalah seorang yang setia atau seorang pemberontak. “Saya adalah seorang yang setia, Tuan.” katanya. “Kalau begitu, ikutlah dengan saya,” jawab laki-laki itu dan menuntun raja itu ke rumahnya dan mempersilakannya duduk di tempat duduknya sendiri. Kemudian laki-laki itu berkata kepada istrinya, “Istriku, basuhlah kaki teman kita ini,” dan setelah istrinya melakukannya, ia pun mempersembahkan makanan yang terbaik kepadanya dan kemudian merapikan tempat untuk tidur baginya dengan memintanya untuk beristirahat sejenak. Maka raja pun berbaring.

Kemudian si tuan rumah melepaskan baju perang dari kudanya, membuatnya merasa nyaman, memberinya minum air dan makan rumput, serta menggosoknya dengan minyak.

Demikianlah perlakuan yang diberikan selama tiga atau empat hari, dan akhirnya raja berkata, “ Teman, saya harus berangkat pulang sekarang,” dan lagi untuk terakhir kalinya ia memberikan pelayanan kepada raja dan kudanya. Setelah selesai menyantap makanannya, raja bersiap untuk berangkat dan berkata, “Saya dipanggil si penunggang kuda yang hebat. Rumah kami di pusat kota ini. Jika Anda ada datang ke sana dalam urusan apa pun, berdirilah di sebelah kanan pintu dan tanyalah penjaga di sana di mana si penunggang kuda yang hebat tinggal, kemudian ikutlah dengannya, datanglah ke rumah kami.” Setelah mengatakan ini, ia pun berangkat.

Saat itu, pasukan kerajaan tetap berada di dalam barak mereka karena tidak ada raja, tetapi ketika melihat raja kembali, mereka keluar untuk menjemputnya dan mengawalnya kembali ke rumah. Sewaktu memasuki kota, raja berdiri di depan pintu masuk dan meminta semua penjaga dan penduduk untuk berhenti melakukan kegiatan mereka pada saat itu,dan berkata, “Teman, seorang laki-laki istimewa yang tinggal di desa perbatasan akan datang dan ingin berjumpa dengan kita, dan ia akan bertanya dimana rumah si penunggang kuda yang hebat. Gandenglah tangannya dan bawa ia ke hadapanku, dan kalian akan mendapatkan beribu-ribu keping uang.”

Tetapi ketika laki-laki tersebut tidak kunjung datang, raja menaikkan upeti di desa tempat ia tinggal. Walaupun upeti dinaikkan, tetap laki-laki itu juga tidak datang. Maka raja pun menaikkan upeti untuk kedua kalinya, dan ketiga kalinya, tetapi tetap saja ia tidak datang. Kemudian penduduk lain di desa itu berkumpul bersama dan berkata kepada laki-laki itu, “Tuan, sejak si penunggang kuda itu datang ke tempatmu sampai sekarang, kami menjadi begitu tertekan dengan upeti sampai kami tidak bisa mengangkat kepala sendiri. Pergi dan jumpailah ia, coba bujuk dirinya untuk meringankan beban hidup kami.”

“Baiklah, saya akan pergi.” jawabnya, “ tetapi saya tidak bisa pergi dengan tangan kosong. Teman saya itu mempunyai dua orang putra, jadi tolong siapkan hiasan dan beberapa setel pakaian untuk mereka beserta istrinya dan temanku.”

“Baiklah,” kata mereka, sambil mempersiapkan segala sesuatunya sebagai hadiah.

Jadi laki-laki itu membawa hadiahnya dan kue yang dibuat di rumahnya sendiri. Dan setibanya di pintu gerbang sebelah kanan, ia menanyakan kepada penjaganya dimana rumah si penunggang kuda yang hebat. Penjaga itu menjawab, “Ikutlah dengan saya dan akan saya tunjukkan padamu,” dan menggandeng tangannya. Sesampainya mereka di depan pintu gerbang ruangan raja, terdengarlah seruan, “Penjaga telah tiba dan membawa laki-laki yang tinggal di desa perbatasan.”Raja pun bangkit dari duduknya ketika mendengar ini dan berkata, “Biarkanlah teman saya dan siapa saja yang ikut datang dengannya masuk.” Kemudian ia maju ke depan untuk menyambut dan memeluknya, dan setelah menanyakan kabar dari istri dan anak-anak temannya ini, ia membawanya naik ke atas pentas dan mendudukkannya di takhta kerajaan di bawah sebuah payung putih. Dan ia memanggil permaisurinya seraya berkata, “Basuhlah kaki temanku ini.” Istrinya pun melakukannya.

Raja memercikkan air dari sebuah mangkuk emas ketika istrinya sedang membasuh kakinya dan menggosoknya dengan minyak yang wangi. Kemudian raja bertanya, “Apakah Anda membawakan sesuatu untuk kami makan?” Dan laki-laki itu berkata, “Ya, Tuanku,” sembari mengeluarkan kue dari sebuah karung. Raja menerima kue tersebut dengan piring emas dan dengan menunjukkan penghargaan atas kue yang dibawa laki- laki itu, dan berkata, “Makanlah apa yang dibawakan oleh temanku,” sambil membagikannya kepada ratu dan menteri- menterinya untuk dimakan. Kemudian orang asing itu mengeluarkan hadiahnya yang lain. Dan raja, untuk menunjukkan bahwa ia menerima hadiahnya, menanggalkan pakaian sutranya dan memakai setelan pakaian yang dibawakan laki-laki itu. Sang ratu juga demikian halnya, langsung memakai hiasan dan pakaian yang dibawakan. Kemudian raja mempersembahkannya makanan untuk seorang raja dan meminta salah satu menterinya dengan berkata, “Bawalah ia dan pastikan janggutnya dirapikan layaknya diriku, berikan air yang wangi kepadanya untuk digunakan sewaktu mandi. Setelah itu, pakaikan sebuah jubah sutra yang berharga ribuan keping uang, dan hormati ia dengan gaya kerajaan, kemudian bawa ia ke sini.”

Perintah raja pun dilaksanakan. Dengan bunyi tabuhan genderang di kota, raja mengumpulkan para menterinya, dan dengan melemparkan benang merah melewati payung putih, sang raja memberikan laki-laki itu setengah dari kerajaannya.

Mulai saat itu, mereka makan, minum, dan tinggal bersama serta menjadi akrab dan teman yang tak terpisahkan.

Kemudian raja menjemput istri dan keluarga laki-laki tersebut, dan mereka pun memerintah kerajaan itu dengan keharmonisan yang sempurna. Seorang pejabat istana mengahasut kemarahan putra sang raja dengan berkata, “O Pangeran, raja telah memberikan setengah kerajaannya kepada seorang penduduk biasa. Ia makan, minum, dan tinggal dengannya, serta memerintahkan kita untuk menghormati anak-anaknya.

Apa maksud raja? Kami merasa malu. Apakah Anda sudah bicara dengan raja?” Pangeran pun segera melakukannya, mengatakan setiap kata kepada raja dan berkata, “O Paduka, jangan bertindak seperti itu.” “Anakku,” jawabnya, “apakah Anda tahu dimana saya tinggal sewaktu kalah dalam pertempuran?”

“Saya tidak tahu, Paduka,” jawabnya.

“Saya tinggal di rumah laki-laki ini, dan ketika saya sembuh dan sehat, saya baru bisa kembali dan memimpin lagi sekarang. Bagaimana saya tidak melimpahkan kehormatan kepada penyelamatku?”

Dan kemudian Bodhisatta mengatakan lebih lanjut, “Anakku, orang yang tidak membantu orang yang pantas yang membutuhkan bantuan, maka orang itu, ketika berada dalam kesusahan, tidak akan dapat menemukan siapa pun untuk

membantunya.” Dan untuk menunjukkan moralitasnya, ia mengucapkan bait berikut:

Perbuatan baikmu dilimpahkan kepada orang dungu atau orang jahat,

maka dalam keadaan genting yang susah tidak akan menemukan teman untuk menolong:

Tetapi kebaikanmu dilimpahkan kepada orang yang baik,

Maka dalam keadaan genting yang susah akan mendapatkan bantuan.

Anugerah kepada jiwa yang tak pantas adalah perbuatan sia-sia belaka,

Jasa baikmu, sekecil apa pun, diberikan kepada orang baik ada manfaatnya:

Perbuatan mulia, meskipun itu hanya satu,

menjadikan pelakunya pantas mendapatkan takhta:

Seperti buah yang berlimpah dari bibit kecil,

ketenaran abadi berawal dari perbuatan mulia.

Setelah mendengar hal ini, baik pangeran muda maupun menteri itu tidak bisa menjawab apa-apa.

Sang Guru, setelah selesai bercerita, mempertautkan kisah kelahiran ini: “Pada masa itu, Ānanda adalah laki-laki yang tinggal di desa perbatasan itu, sedangkan saya adalah Raja Benares.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Tagged ,

CULLAKĀLIṄGA JĀTAKA

“Buka pintu gerbang ,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang penahbisan empat petapa (pengembara) wanita. Menurut tradisi, keluarga pemimpin kaum Licchavi2 yang berjumlah tujuh ribu tujuh ratus tujuh orang, bertempat tinggal di Vesālī (Vesali), dan mereka semuanya bagus dalam argumentasi dan perdebatan.

Kala itu, seorang laki-laki pengikut ajaran jainisme, yang ahli dalam menghafal lima ratus tesis3 yang berbeda, datang ke Vesali dan disambut dengan baik di sana. Seorang wanita pengikut ajaran jainisme yang mempunyai ciri yang sama juga datang ke Vesali. Dan pemimpin kaum Licchavi mencoba kemampuan mereka dalam menghafal ajaran mereka. Dan ketika keduanya benar-benar terbukti sangat bagus sebagai penghafal, pemimpin itu berpikir bahwa pasangan ini akan melahirkan anak-anak yang cerdas. Maka orang-orang pun mengatur pernikahan mereka, dan dari pernikahan ini lahirlah empat orang putri dan satu orang putra. Putri-putri mereka diberi nama Saccā (Sacca), Lolā (Lola), Avavādakā (Avavadaka), dan Paṭācārā4 (Patacara), sedangkan putra mereka diberi nama Saccaka. Kelima anak ini sewaktu beranjak dewasa telah mempelajari seribu tesis yang berbeda, lima ratus dari ibu mereka dan lima ratus dari ayah mereka. Dan orang tua mereka mendidik putri-putri mereka dengan berpesan akan hal ini: “Jika laki-laki awam (atau perumah tangga) mampu membantah tesis kalian, maka kalian harus menjadi istri-istri mereka. Akan tetapi, jika seorang pabbajita5 yang melakukannya, maka kalian harus bertahbis menjadi siswa-siswanya.”

Tak lama kemudian, orang tua mereka meninggal dunia. Dan setelah mereka meninggal dunia, Jain Saccaka tetap tinggal di tempat yang sama di Vesali, sambil mendalami ajaran kaum Licchavi. Tetapi kakak-kakaknya, dengan membawa ranting pohon jambu, dan dalam pengembaraan mereka dari satu kota ke kota lain dengan tujuan berdebat tesis, akhirnya tiba di Sāvatthi (Savatthi). Di sana mereka menancapkan ranting pohon tersebut di pintu gerbang kota dan berkata kepada beberapa anak laki-laki yang ada di sana, “Jika seorang laki-laki, baik laki-laki awam maupun petapa, mampu membantah tesis kami, maka biarlah ia menyerakkan tumpukan pasir ini dengan kakinya dan memijak ranting ini di bawah kakinya.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, mereka masuk ke dalam kota berkeliling untuk mendapatkan derma makanan.

Waktu itu Yang Mulia Sāriputta (Sariputta), setelah menyapu tempat yang perlu dibersihkan, mengisi air ke dalam tempayan yang kosong, dan merawat orang-orang yang sakit, pergi ke Savatthi pada siang hari untuk berpindapata. Dan ketika ia melihat dan mendengar tentang ranting pohon itu, ia menyuruh anak-anak tersebut untuk membuangnya dan memijaknya. Ia berkata, “Biarlah mereka yang menancapkan ranting pohon ini, sesudah mereka bersantap, datang dan menjumpai saya di satu ruangan di dalam gerbang Wihara Jetavana.”

Maka ia masuk ke dalam kota dan sesudah selesai bersantap, ia pun menunggu di ruangan tersebut di dalam seberang gerbang wihara. Para petapa wanita itu juga setelah selesai berkeliling untuk mendapatkan derma makanan, kembali ke tempat itu dan menemukan bahwa ranting pohonnya sudah dirusak. Dan ketika mereka menanyakan siapa yang melakukan hal tersebut, anak-anak tersebut menjawab bahwa Thera Sariputta yang melakukannya, dan juga menyampaikan pesannya bahwa jika mereka ingin berdebat, mereka harus pergi ke ruangan yang ada di dalam gerbang wihara itu.

Jadi mereka kembali ke kota, dengan diikuti oleh orang banyak, menuju ke gerbang wihara tersebut, dan mempertanyakan seribu tesis yang berbeda. Sang thera (bhikkhu senior) memecahkan semua kesulitan mereka dan menanyakan apakah mereka masih mempunyai yang lainnya lagi.

Mereka menjawab, “Tidak, Tuan.”

“Kalau begitu saya yang akan menanyakan sesuatu,” katanya.

“Silakan tanya, Tuan, dan jika kami tahu, kami pasti menjawabnya.”

Maka sang thera mengajukan hanya satu pertanyaan kepada mereka, dan ketika mereka menyerah, ia pun memberitahukan jawabannya.

Kemudian mereka berkata; “Kami kalah, kemenangan ada padamu.”

“Apa yang akan kalian lakukan sekarang?” tanyanya.

Mereka menjawab, “Orang tua kami berpesan: ‘jika kalian dikalahkan oleh laki-laki awam, kalian harus menjadi istri- istri mereka, tetapi jika kalah oleh seorang pabbajita, kalian harus bertahbis dan menjadi siswa-siswanya.’—Oleh karena itu, perkenankanlah kami menjadi pengikutmu dalam menjalani kehidupan suci.”

Sang thera menyetujuinya dan meminta Uppalavaṇṇā Therī untuk menahbiskan mereka. Dan mereka semuanya mencapai tingkat kesucian Arahat dalam waktu yang tidak lama.

Kemudian pada suatu hari, para bhikkhu memulai sebuah pembicaraan di dalam balai kebenaran (dhammasabhā), tentang bagaimana Thera Sariputta menjadi tempat berlindung bagi empat petapa wanita, dan dikarenakan dirinya juga mereka mencapai kesucian Arahat. Ketika Sang Guru datang dan mendengar pokok pembicaraan mereka, Beliau berkata, “Bukan hanya kali ini, tetapi juga di masa lampau Sāriputta (Sariputta) menjadi tempat berlindung bagi wanita-wanita ini. Pada saat ini, ia menerima mereka di dalam kehidupan suci, tetapi di masa lampau, ia mengasuh mereka di dalam kehidupan mereka sebagai permaisuri.” Kemudian Sang Guru menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka.

Dahulu kala, Kāliṅga (Kalinga) memerintah Kota Dantapura di Kerajaan Kāliṅga, Assaka menjadi raja di Kota Potali dalam Kerajaan Assaka. Pada saat itu Raja Kalinga mempunyai pasukan yang sangat kuat dan dirinya sendiri sekuat gajah, tetapi ia tidak dapat menemukan lawan tanding. Jadi dikarenakan menginginkan sebuah pertarungan, ia berkata kepada para menterinya: “Saya ingin bertarung, tetapi tidak dapat menemukan siapa pun untuk bertarung denganku.”

Para menterinya berkata, “Paduka, ada satu jalan terbuka bagimu. Anda mempunyai empat orang putri yang luar biasa cantiknya, mintalah mereka mempercantik diri dengan hiasan permata kemudian dudukkan mereka di dalam tandu yang bercadar, dan bawa mereka keliling ke setiap desa, kota dan kerajaan dengan dikawal oleh pengawal bersenjata. Dan jika ada raja mana pun yang ingin menjadikan putri-putri Anda sebagai selir mereka, kita akan bertanding dengannya.”

Raja mengikuti nasihat mereka. Tetapi para raja di berbagai kerajaan, dari mana pun mereka datang, takut untuk membiarkan mereka masuk ke dalam kota-kota mereka, hanya mengirimkan hadiah dan membuat barak di luar tembok kota untuk mereka. Demikianlah mereka melewati hampir semua tempat sepanjang India sampai mereka sampai di Potali di Kerajaan Assaka. Tetapi Assaka juga menutup pintu gerbangnya dan hanya mengirimkan hadiah kepada mereka. Kala itu, raja memiliki seorang penasihat yang bijak dan cakap bernama Nandisena, yang sangat menguasai cara menyelesaikan masalah. Ia berpikir dalam dirinya sendiri: “Para putri ini, dikatakan, telah menjelajahi hampir seluruh India tanpa ada menemukan orang yang bersedia bertarung untuk mendapatkan mereka. Kalau keadaannya seperti ini terus menerus, negeri India akan menjadi bukan apa-apa, melainkan hanya sebuah nama kosong. Saya sendiri yang akan melakukan pertarungan dengan Raja Kalinga.”

Kemudian ia pergi dan memerintahkan penjaga untuk membuka gerbangnya bagi mereka dan mengucapkan bait pertama ini:

Buka pintu gerbang untuk para wanita ini:

Dengan kekuatan Nandisena, singa cerdasnya Raja Aruna, kota kami akan terjaga dengan baik.

Dengan kata-kata ini ia membuka gerbangnya, membawa para wanita itu ke hadapan Raja Assaka, dan berkata kepadanya, “Jangan takut. Jika harus ada pertarungan, saya yang akan melakukannya. Jadikanlah putri-putri yang cantik ini sebagai permaisurimu.” Kemudian ia menjadikan mereka sebagai ratu dengan memercikkan air suci, dan membubarkan para pengawalnya, dengan meminta mereka pergi dan memberi tahu Kalinga bahwa putri-putrinya telah diangkat menjadi permaisuri. Maka pergilah mereka dan memberitahukannya, Kalinga pun berkata, “Menurutku, ia tidak tahu seberapa kuatnya saya,” dan segera ia berangkat dengan pasukan yang besar.

Nandisena mendengar tentang kedatangannya dan mengirimkan pesan yang berbunyi; “Tetaplah Kalinga berada dalam batas kerajaannya, jangan melewati batas kerajaan kami, dan pertempurannya akan dilaksanakan di perbatasan daripada kedua kerajaan.” Sewaktu menerima pesan ini, Kalinga berhenti di dalam batas wilayahnya dan begitu juga halnya dengan Assaka.

Pada saat ini, Bodhisatta terlahir menjadi seorang petapa suci (resi) dan hidup menjalani pertapaan di sebuah gubuk daun tepat diantara batas kedua kerajaan tersebut. Kalinga berkata, “Para petapa adalah orang yang serba tahu, yang bisa memberitahukan siapa dari kami yang akan menang, dan yang kalah. Saya akan bertanya kepada petapa ini.” Maka ia datang dengan menyamar menjumpai Bodhisatta, kemudian duduk dengan penuh hormat di satu sisi, dan setelah mengucapkan salam, ia berkata, “Bhante, Kalinga dan Assaka masing-masing dengan pasukannya menunggu di wilayah mereka, menanti untuk bertarung. Siapakah yang akan memperoleh kemenangan, dan siapakah yang akan menderita kekalahan?”

“Yang Mulia,” ia menjawab, “Salah satu dari mereka akan menaklukkan, dan yang satunya lagi akan ditaklukkan. Saya tidak bisa memberitahukan lebih banyak lagi sekarang ini. Tetapi Sakka, raja para dewa, akan datang ke tempat ini nanti. Saya akan bertanya kepadanya dan memberitahukanmu jawabannya jika Anda kembali lagi besok.”

Jadi ketika Dewa Sakka datang untuk memberi hormat kepada Bodhisatta, ia bertanya kepadanya, dan Sakka menjawab, “Yang Mulia, Kalinga yang akan menaklukkan, Assaka yang akan ditaklukkan, dan pertanda-pertanda anu akan dapat terlihat sebelumnya.” Hari berikutnya Kalinga datang dan mengulangi pertanyaannya, dan Bodhisatta pun memberitahukan jawaban dari Sakka. Dan Kalinga, tanpa bertanya apa pun tentang pertandanya, berpikir dalam dirinya: “Mereka mengatakan saya yang akan menaklukkan,” dan pergi dengan perasaan cukup puas. Kabar ini pun menyebar luas. Dan ketika Assaka mendengar hal ini, ia memanggil Nandisena dan berkata, “Kalinga, kata mereka, akan berjaya dan kita akan kalah. Apa yang harus kita lakukan?”

“Paduka,” jawabnya, “siapa yang tahu akan hal ini?

Jangan menyusahkan diri tentang siapa yang akan memperoleh kemenangan dan siapa yang akan menderita kekalahan.”

Dengan kata-kata ini, ia menghibur raja. Kemudian ia pergi dan memberi hormat kepada Bodhisatta, setelah duduk dengan penuh hormat di satu sisi, ia berkata, “Bhante, siapakah yang akan menaklukkan, dan siapakah yang akan ditaklukkan?”

“Kalinga,” jawabnya, “akan memenangkan hari tersebut dan Assaka akan dikalahkan.”

“Dan, Bhante, apa yang akan menjadi pertanda bagi ia yang akan menaklukkan, dan pertanda bagi ia yang ditaklukkan?”

“Yang Mulia,” ia menjawab, “dewata pelindung bagi yang sang penakluk akan berupa seekor sapi jantan putih, dan yang satunya lagi adalah sapi jantan hitam, dan kedua dewata pelindung dari kedua raja itu juga akan bertarung sendiri dan akan terbagi dalam kemenangan dan kekalahan.”

Mendengar akan hal ini, Nandisena bangkit dan pergi dan membawa pasukan raja—mereka berjumlah ribuan dan semuanya adalah kesatria tangguh—mengarahkan mereka ke sebuah gunung yang ada di dekat sana dan bertanya kepada mereka dengan berkata, “Bersediakah kalian mengorbankan diri untuk raja kita?”

“Ya, Tuan, kami bersedia,” jawab mereka.

“Kalau begitu buanglah diri kalian dari tebing curam ini,” katanya.

Mereka langsung mencoba melakukannya, kemudian ia menghentikan mereka, dengan berkata, “Jangan dilanjutkan lagi.

Kalian menunjukkan bahwa kalian adalah teman-teman raja yang bisa diandalkan, dan bertarunglah dengan gagah untuknya.”

Mereka semua berikrar untuk melakukannya. Dan ketika waktu pertempurannya sudah dekat, Kalinga berkesimpulan dalam pemikirannya sendiri bahwa ia akan menang, dan pasukannya juga berpikir, “Kemenangan akan menjadi milik kami.” Dan kemudian mereka mengenakan baju perang, membentuk formasi yang terpisah (detasemen), mereka bergerak maju seperti apa yang mereka pikir pantas untuk dilakukan, dan ketika saatnya tiba untuk mengerahkan seluruh tenaganya, mereka gagal melakukannya.

Tetapi kedua raja, yang menunggang kuda, mulai bergerak maju saling mendekat dengan tujuan untuk bertarung.

Dan kedua dewata pelindung mereka bergerak di depan mereka, kepunyaan Kalinga berupa seekor sapi jantan putih, dan yang satunya lagi, kepunyaan Assaka, berupa seekor sapi jantan hitam. Dan ketika kedua raja itu maju mendekat, mereka juga bersiap-siap untuk bertarung. Tetapi kedua sapi ini hanya dapat terlihat oleh kedua raja, yang lainnya tidak bisa. Dan Nandisena bertanya kepada Assaka, “Paduka, dapatkah Anda melihat dewata pelindung itu?”

“Ya, bisa,” jawabnya.

“Dalam bentuk apa?” tanyanya.

“Dewata pelindung Kalinga terlihat berupa sapi jantan putih, sedangkan kepunyaan kita berbentuk sapi jantan hitam dan terlihat lesu.”

“Jangan takut, Paduka, kita yang akan menaklukkan dan Kalinga yang akan ditaklukkan. Turun saja dari kuda Sindhavā yang terlatih ini, dan dengan memegang tombak ini, gunakan tangan kirimu, pukullah ia di bagian rusuk, kemudian dengan ribuan orang bergerak maju dengan cepat dan dengan tusukan senjatamu jatuhkan dewata pelindung si Kalinga, sedangkan kami dengan ribuan tombak akan menusuknya, maka dewata pelindung Kalinga akan mati, dan kemudian Kalinga akan kalah dan kita akan menang.”

“Bagus,” kata raja, dan pada tanda yang diberikan oleh Nandisena, ia pun menusukkan tombaknya dan para pengikutnya juga menusukkan ribuan tombak, dan dewata pelindung Kalinga mati di sana.

Sementara itu, Kalinga kalah dan melarikan diri. Pada saat ribuan pengawal raja melihatnya, mereka berteriak dengan suara keras, “Kalinga melarikan diri.” Kemudian Kalinga dengan rasa takut akan kematian dirinya, ketika dalam pelariannya, mendekati petapa itu dan mengucapkan bait kedua berikut:

“Kāliṅga pasti akan mendapatkan kemenangan, mengalahkan Kerajaan Assaka.”

Demikianlah ramalanmu, Yang Mulia, dan orang yang menapaki kehidupan suci tidaklah seharusnya berkata tidak benar.

Demikianlah Kalinga, ketika dalam pelariannya, mencerca petapa itu. Dan dalam pelariannya kembali ke kotanya sendiri, ia hanya menoleh sekali ke belakang. Beberapa hari kemudian, Dewa Sakka datang mengunjungi Bodhisatta. Dan Bodhisatta berbicara dengannya dengan mengucapkan bait ketiga ini:

Para dewa seharusnya bebas dari berkata tidak benar,

kebenaran menjadi harta utama mereka yang berharga.

Dalam hal ini, Sakka, Anda berkata tidak benar;

Beri tahu saya apa alasannya.

Mendengar ini, Sakka mengucapkan bait keempat ini:

Apakah Anda, wahai brahmana, tidak pernah

diberitahukan bahwa dewa tidaklah iri dengan orang yang berani?

Keteguhan hati yang mantap yang tidak luntur,

kemahiran yang diikuti keberanian dalam medan perang,

semangat juang tinggi dan kekuatan,

Itulah yang membuat Assaka memenangkan pertarungan.

Dan dengan kepergian Kalinga, Raja Assaka kembali dengan membawa hadiah perangnya ke kotanya sendiri. Dan Nandisena mengirim sebuah pesan kepada Kalinga bahwasanya ia harus mengirimkan bagiannya sebagai mas kawin terhadap keempat putri kerajaan ini. “Kalau tidak,” tambahnya, “saya akan tahu bagaimana membereskannya.” Dan Kalinga, begitu mendengar pesan ini, menjadi begitu terkejut sehingga ia mengirimkan bagian yang pantas bagi mereka. Dan sejak saat itu kedua raja hidup damai bersama.

Setelah menyampaikan uraian (Dhamma) ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran ini:—“Pada masa itu, para petapa (pengembara) wanita adalah para putri dari Raja Kāliṅga (Kalinga), Sāriputta (Sariputta) adalah Nandisena, dan saya sendiri adalah sang petapa.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3

 

 

Tagged ,

VAKA-JĀTAKA

“Serigala, yang mengambil,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang persahabatan lampau. Cerita pembukanya secara lengkap terdapat di dalam Vinaya; berikut ini adalah ringkasannya. Yang Mulia Upasena, dua vassa, mengunjungi Sang Guru Bersama dengan seorang yang bhikkhu satu vassa yang tinggal di dalam wihara yang sama; Sang Guru mengecamnya dan dia pun kembali. Setelah memperoleh pandangan terang dan mencapai tingkat kesucian Arahat, yang membuat dirinya berada dalam keadaan puas, setelah menjalankan latihan tiga belas dhutaṅga dan mengajarkannya kepada para pengikutnya ketika Yang Terberkahi sedang menyendiri selama tiga bulan, dia Bersama dengan para pengikutnya itu, yang pertama kalinya dikecam karena perkataan tidak benar dan perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan, diterima (oleh Sang Buddha), dengan kata-kata, “Bhikkhu-bhikkhu boleh mengunjungi diri-Ku selama masa vassa apabila mereka itu adalah bhikkhu-bhikkhu yang mempraktikkan latihan dhutaṅga.” Menjadi semangat karena ini, dia pun kembali dan memberitahukannya kepada para bhikkhu.

Setelah itu, para bhikkhu itu mengikuti praktik latihan ini sebelum datang mengunjungi Sang Guru. Kemudian ketika Sang Buddha telah selesai menjalani masa vassa-Nya, mereka pun membuang pakaian usang mereka dan mengenakan pakaian yang baru.

Ketika Sang Guru berkeliling memeriksa ruangan-ruangan, [450] Beliau melihat pakaian-pakaian usang itu berserakan dan menanyakan pakaian apa itu. Ketika mereka memberikan

jawabannya, Beliau berkata, “Para Bhikkhu, perbuatan yang dilakukan oleh bhikkhu-bhikkhu ini adalah perbuatan yang singkat, seperti pelaksanaan Uposatha yang dilakukan oleh serigala,” dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah sebagai raja di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai Sakka, raja para dewa. Kala itu, seekor serigala tinggal di satu batu karang di dekat Sungai Gangga. Banjir musim hujan datang dan mengelilingi karang itu. Serigala hanya bisa bertahan di atas karang, tanpa makanan dan cara untuk mendapatkan makanan. Air semakin lama semakin tinggi, dan serigala merenung, “Tidak ada makanan di sini dan tidak ada cara untuk mendapatkannya. Saya hanya bisa berbaring di sini, tanpa ada sesuatu yang bisa dilakukan. Saya mungkin bisa melaksanakan laku Uposatha.”

Demikian dia bertekad untuk melaksanakan Uposatha, dia bertekad untuk menjaga latihan moralitas. Sakka, dalam meditasinya, mengetahui tekad lemah sang serigala. Dia berpikir, “Saya akan menguji serigala itu,” dan dengan mengubah wujudnya menjadi seekor kambing, dia berdiri di dekatnya dan membiarkan serigala melihat dirinya.

“Akan kulaksanakan laku Uposatha ini pada lain hari!” pikir serigala sewaktu melihat kambing itu. Dia pun bangkit dan lompat hendak menangkap makhluk itu. Tetapi, kambing itu juga lompat dan serigala tidak berhasil menangkapnya. Ketika serigala melihat bahwa dia tidak mampu menangkapnya lagi, dia pun tidak bergerak dan kembali, sambil berpikir di dalam dirinya sendiri dalam keadaan berbaring (seperti sediakala), “Setidaknya laku Uposatha-ku masih belum kulanggar.” Kemudian dengan kekuatannya, Sakka terbang berkeliling di udara, dan berkata, “Apa yang kamu lakukan dengan laku Uposatha, makhluk yang sama sekali tidak tetap pendiriannya? Kamu tidak tahu saya adalah Sakka, dan tadi menginginkan mendapatkan makanan berupa daging kambing!” Setelah demikian menguji dan mengecamnya, Sakka kembali ke alam para dewa.

Serigala, yang mengambil nyawa makhluk lain sebagai makanannya, menjadikan daging dan darah mereka sebagai santapan, suatu ketika bertekad menjalankan laku Uposatha, memutuskan untuk menjalankannya.

Ketika mengetahui apa yang ditekadkannya itu, Sakka mengubah wujudnya menjadi seekor kambing. Makhluk peminum darah itu pun melompat untuk menangkap mangsanya, tekadnya dilupakan, dan kebajikannya dikesampingkan terlebih dahulu.

[451] Demikianlah sebagian orang yang berada di alam ini, membuat tekad yang berada di luar kemampuan mereka, akan teralihkan dari tekad mereka sendiri seperti yang dilakukan oleh serigala begitu melihat kambing itu.

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran-Nya: “Pada masa itu, diri-Ku sendiri adalah Sakka.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KOMĀYA-PUTTA-JĀTAKA

“Tadinya kamu biasa,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Pubbārāma, tentang beberapa bhikkhu yang berkelakuan buruk dan kasar. Bhikkhubhikkhu ini, yang tinggal di bawah kamar Sang Guru, membicarakan tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar, kemudian mereka jadi bertengkar dan saling mencela. Sang Guru memanggil Mahāmoggallāna dan memintanya untuk membuat mereka terkejut. Sang thera bangkit terbang di udara dan menyentuh fondasi bangunan itu dengan hanya menggunakan satu jari kakinya. Bangunan itu bergerak ke tepi laut yang paling ujung. Bhikkhu-bhikkhu itu terkejut setengah mati, keluar dan berdiri di luar.

Kelakukan kasar mereka pun kemudian diketahui oleh para bhikkhu lainnya. Suatu hari, para bhikkhu membicarakannya di dalam balai kebenaran, “Āvuso, terdapat beberapa bhikkhu, yang telah bertahbis di dalam ajaran yang memberikan pembebasan, kasar dan buruk. Mereka tidak memahami perubahan, penderitaan, dan keadaan tanpa diri, dan juga tidak melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan.” Sang Guru berjalan masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan dengan duduk di sana. Mereka memberi tahu Beliau.

“Ini bukan pertama kalinya, Para Bhikkhu,” kata Beliau, “mereka menjadi orang-orang yang buruk dan kasar, tetapi mereka juga sama sebelumnya.” Dan Beliau menceritakan kisah masa lampau kepada mereka.

Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi raja di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang putra brahmana yang tinggal di suatu desa. Mereka memberinya nama Komāyaputta (Komayaputta). Waktu pun berlalu, dia meninggalkan kehidupan duniawi dan menjalankan kehidupan suci sebagai petapa di daerah pegunungan Himalaya. Terdapat beberapa petapa yang berkelakukan buruk dan kasar yang membuat pertapaan mereka di tempat itu, dan tinggal di sana. Akan tetapi, para petapa ini tidaklah melatih meditasi; mereka mengumpulkan buah-buahan di dalam hutan untuk dimakan, mereka menghabiskan waktu dengan tawa dan canda bersama. Mereka memiliki seekor kera, yang berkelakukan kasar seperti mereka, yang memberi mereka hiburan dengan gerakan wajah dan tubuhnya.

Mereka tinggal di sana dalam kurun waktu yang lama, sampai akhirnya mereka harus pergi ke tempat tinggal penduduk untuk mendapatkan garam dan bumbu-bumbu lainnya. Setelah mereka pergi, Bodhisatta tinggal di dalam kediaman mereka. Kera itu memainkan gerakan-gerakan yang biasa dilakukannya untuk petapa-petapa lainnya tersebut. Bodhisatta menjentikkan jarinya dan memberikan wejangan kepadanya, dengan berkata, “Seorang makhluk yang tinggal bersama dengan petapa yang terlatih dengan baik seharusnya berkelakuan yang baik, berbuat yang baik, dan melatih pemusatan pikiran.” Setelah mendengar wejangan ini, kera itu pun menjadi bajik dan berkelakuan baik.

Kemudian Bodhisatta pergi. Para petapa itu kembali dengan membawa garam dan bumbu-bumbu lainnya. Tetapi, kera itu tidak lagi memainkan gerakan-gerakan yang biasa dimainkan untuk mereka. “Ada apa ini, Teman?” tanya mereka, “mengapa tidak memainkan gerakan seperti yang biasa kamu lakukan?” Salah satu dari mereka kemudian mengucapkan bait pertama berikut:

Tadinya kamu biasa memainkan gerakan,

di tempat kami, para petapa ini, tinggal.

Wahai Kera, lakukanlah apa yang dilakukan kera;

ketika kamu menjadi baik, kami tidak menyukaimu.

Mendengar ini, kera itu mengulangi bait kedua berikut:

Semua kebijaksanaan yang sempurna dari perkataan

Yang Bijak Komāya telah kudengar.

Janganlah menganggap diriku sama seperti yang dahulu;

sekarang kesukaanku adalah melatih pemusatan pikiran.

Mendengar ini, petapa itu mengulangi bait ketiga berikut:

Jika biji ditabur di atas batu (karang),

meskipun turun hujan, biji itu tidak akan tumbuh.

Kamu mungkin telah mendengar kebijaksanaan

sempurna, tetapi kamu tidak akan pernah berhasil

memusatkan pikiran.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, bhikkhu-bhikkhu (yang berkelakuan kasar dan buruk) ini adalah para petapa itu, sedangkan Komayaputta (Komāyaputta ) adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

UDUMBARA-JĀTAKA

“Buah-buah elo telah masak,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu. Dia membangun pertapaannya untuk ditempati di dekat sebuah desa di daerah perbatasan. Kediaman yang menyenangkan ini berada di atas batu yang rata; sebuah sumur dengan air yang cukup menambah kesenangannya, sebuah desa yang dekat untuk dikelilingi mendapatkan derma makanan dan penduduk-penduduk yang ramah untuk memberikan derma.

Seorang bhikkhu lain dalam perjalanannya tiba di tempat ini. Thera yang berdiam di dalamnya itu pun melakukan kewajibankewajiban sebagai tuan rumah terhadap tamu yang datang, dan pada keesokan harinya membawa dia turut serta berpindapata. Orang-orang memberikannya makanan, dan mengundangnya untuk datang berkunjung lagi pada hari-hari berikutnya. Setelah demikian melewati hari-harinya selama beberapa lama, dia mulai memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa mengusir thera itu keluar dari kediamannya dan mengambil alih. Suatu ketika, dia menghampiri sang thera dan bertanya, “Āvuso, pernahkah Anda mengunjungi Sang Buddha?” “Belum pernah, Bhante, tidak ada orang yang menjaga gubukku. Kalau tidak, saya sudah pergi dari dulu.” “Oh, kalau begitu saya yang akan menjaganya selagi Anda pergi berkunjung ke tempat Sang Buddha,” kata bhikkhu tamu itu. Maka bhikkhu tuan rumah itu pun pergi untuk mengunjungi Sang Buddha setelah terlebih dahulu berpesan kepada para penduduk untuk menjaga bhikkhu tamu tersebut sampai dia kembali nanti. Bhikkhu tamu ini mulai memfitnah bhikkhu tuan rumah tersebut dan mengatakan kepada para penduduk mengenai segala keburukan dirinya.

Sang thera kembali setelah mengunjungi Sang Buddha, tetapi bhikkhu tamu itu tidak mau memberikannya tempat tinggal. Dia kemudian mencari tempat lain untuk ditempati, dan pada keesokan harinya berpindapata di desa. Akan tetapi, para penduduk tidak melakukan kewajiban mereka. Dia menjadi begitu putus asa dan kembali ke Jetavana, dia memberitahukan hal ini kepada para bhikkhu. Mereka pun mulai membicarakannya di dalam balai kebenaran, “Āvuso, bhikkhu anu telah membuat bhikkhu ini keluar dari pertapaannya sendiri dan mengambil alih untuk dirinya sendiri!” Sang Guru berjalan masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan dengan duduk di sana. Mereka memberi tahu Beliau. Beliau berkata, “Para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya orang ini membuat orang lain keluar dari kediamannya sendiri,” dan menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmdatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai makhluk dewata penghuni pohon di dalam hutan. Kala itu musim hujan, dan hujan lebat turun selama tujuh hari secara berturut-turut. Seekor kera kecil berwajah merah hidup di dalam sebuah gua karang yang terlindung dari hujan. Sewaktu dia duduk di dalam gua itu, seekor kera besar berwajah hitam, yang basah kuyup, gemetar kedinginan, melihatnya. “Bagaimana caranya agar saya bisa mengusir kera itu keluar dan tinggal di dalamnya?” pikirnya. Setelah mengembangkan perutnya, dan bertingkah seolah-olah dia baru saja menyantap makanan enak, dia berhenti di hadapan kera kecil tersebut dan mengucapkan bait pertama berikut:

Buah-buah elo telah masak, buah-buah beringin juga,

siap dijadikan sebagai santapan bagi para kera.

Marilah ikut bersamaku dan menyantapnya,

mengapa harus menahan lapar di sini?

[446] Kera merah itu memercayainya dan hendak mendapatkan buah-buah itu untuk disantap. Maka dia pun pergi dan mencari buah-buahan itu ke sana ke sini, tetapi tidak ada satu buah pun yang bisa dijumpainya. Kemudian dia pulang kembali, dan melihat kera hitam itu duduk di dalamnya. Dia memutuskan untuk mengalahkannya, maka dengan berhenti di hadapannya, dia kemudian mengulangi bait kedua berikut:

Dia yang memberikan hormat kepada yang lebih tua

akan menjadi bahagia sepanjang hari;

sama seperti yang kurasakan sekarang ini,

setelah menyantap semua buah itu.

Kera besar itu mendengarnya dan mengulangi bait ketiga berikut:

Penghuni hutan bertemu dengan penghuni hutan, seekor

kera telah mencium adanya tipuan dari kera lainnya.

Meskipun yang lebih muda ini pintar akalnya,

tetapi kera tua tidak dapat ditangkap dengan perangkap.

Kera kecil berwajah merah itu pun pergi.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, bhikkhu pemilik gubuk (tuan rumah) adalah kera kecil, bhikkhu perampas gubuk (tamu) adalah kera besar, sedangkan dewa pohon adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SAMUDDA-JĀTAKA

“Siapakah yang terbang,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang Thera Upananda. Bhikkhu ini adalah seorang pemakan dan peminum yang banyak, tidak ada yang membuatnya puas, bahkan persediaan berupa satu muatan kereta. Selama masa vassa, dia menghabiskan waktunya di dua atau tiga tempat tinggal, dengan meninggalkan sandalnya di satu tempat, tongkatnya di tempat lain dan kendi airnya di tempat yang lainnya lagi. Ketika dia berkunjung ke sebuah wihara desa dan melihat para bhikkhu yang mendapatkan segala perlengkapan mereka, dia mulai membicarakan tentang empat jenis petapa yang berpuas hati281 (ariya); mengambil pakaian mereka, membuat mereka mengambil pakaian dari tumpukan debu; membuat mereka mengambil patta yang terbuat dari tanah, membuat mereka memberikan patta yang terbuat dari logam yang diinginkannya; kemudian dia memasukkan semuanya ke dalam sebuah kereta dan membawanya pergi ke Jetavana.

Pada suatu hari, para bhikkhu mulai membicarakannya di dalam balai kebenaran, “Āvuso, Upananda dari suku Sakya, seorang pemakan banyak, seorang yang tamak, memberikan ajaran kepada yang lain, dan dia datang ke sini dengan membawa muatan satu kereta penuh berupa barang-barang milik mereka!” Sang Guru berjalan masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan dengan duduk di sana. Mereka memberi tahu Beliau. “Para Bhikkhu,” Beliau berkata, “Upananda melakukan perbuatan buruk setelah mengajarkan kepuasan diri ini. Seorang bhikkhu hendaknya berkeinginan sedikit terlebih dahulu di dalam dirinya sebelum memuji kelakuan baik yang lain. Hendaklah orang mengembangkan dirinya terlebih dahulu dalam hal-hal yang baik, kemudian barulah melatih orang lain. Orang bijak yang melakukan hal itu tidak akan dicela.”

Setelah demikian memaparkan syair yang terdapat di dalam Dhammapada (syair 158), dan mencela Upananda, Beliau melanjutkan, “Ini bukan pertama kalinya, Para Bhikkhu, Upananda menjadi orang yang tamak, tetapi dahulu kala, dia bahkan berpikiran untuk menyimpan air yang berada di lautan.” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang dewa laut. Seekor burung gagak air terbang melewati laut itu. Dia terbang ke sana ke sini, mencari ikan dan kawanan burung lainnya, sambil meneriakkan, “Jangan terlalu banyak minum air laut, berhati-hatilah!” [442] Ketika melihatnya, dewa laut itu mengulangi bait pertama berikut:

Siapakah yang terbang melewati ombak laut asin ini?

Siapakah yang mencari ikan, dan berusaha

menahan monster laut, menghabiskan air di laut ini?

Mendengar ini, gagak air itu menjawabnya dalam bait kedua berikut:

Peminum tidaklah pernah puas hati,

demikian yang dikatakan orang di seluruh penjuru,

sayalah yang ingin mencoba minum air laut ini,

dan mengeringkannya.

Mendengar jawabannya, dewa laut mengulangi bait ketiga berikut:

Laut akan surut pada satu waktu,

dan kemudian pasang kembali pada waktu berikutnya.

Siapa yang bilang laut akan kehabisan air?

Untuk menghabiskan air di dalamnya adalah hal yang sia-sia dilakukan.

 

Setelah mengucapkan ini, dewa laut tersebut mengubah wujudnya menjadi rupa yang menyeramkan dan mengusir gagak air itu pergi.

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, Upananda adalah gagak air, sedangkan dewa laut adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KĀMA-VILĀPA-JĀTAKA

“Wahai burung yang terbang,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang godaan (nafsu) oleh mantan istrinya. Cerita pembukanya dikemukakan di dalam Puppharatta-Jātaka 282 dan juga kisah masa lampau di dalam Indriya-Jātaka283.

Maka orang ini pun dipasung hidup-hidup. Sewaktu tergantung di sana, dia menengadah ke atas dan melihat seekor gagak terbang di angkasa. Tanpa memedulikan rasa sakitnya, dia berteriak kepada gagak itu untuk mengirimkan pesan kepada istrinya, dengan mengulangi bait-bait berikut:

Wahai Burung yang Terbang di Angkasa,

burung bersayap yang terbang tinggi di sana,

beri tahukanlah istriku, yang memiliki kaki indah:

Waktunya akan terasa amat lama.

Dia tidak tahu di mana pisau dan tombak diletakkan:

dia akan menjadi marah dan murka.

Itulah yang menjadi penderitaan dan ketakutanku,

bukan keadaan diriku yang tergantung di sini.

Baju perang teratai kuletakkan di dekat bantal,

dan permata ada di dalamnya,

di sampingnya terdapat kain dari Kāsi.

Semoga harta itu dapat membuatnya puas.

 

[444] Setelah mengucapkan ratapan itu, dia pun meninggal dunia.

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka: (Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang tadinya menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna): “Pada masa itu, sang istri adalah orang yang sama, sedangkan makhluk dewata yang menyaksikan kejadian ini adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

ANTA-JĀTAKA

“Seperti seekor sapi,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di tempat yang sama, tentang dua orang yang sama. Cerita pembukanya sama seperti sebelumnya di atas.

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang dewa pohon eraṇḍa279, yang tumbuh di dekat sebuah desa. Seekor sapi tua mati di desa, dan para penduduk menarik bangkainya keluar dan melemparnya ke hutan tersebut di dekat gerbang desa. Seekor serigala datang dan mulai menyantap daging sapi tersebut. Kemudian dating seekor gagak, dan bertengger di pohon itu. Ketika melihat serigala, burung gagak itu berpikir dia mungkin akan mendapatkan daging bangkai untuk dimakan jika dia memujinya. Dan demikian dia mengulangi bait pertama berikut:

Seperti sapi jantan tubuhmu terlihat,

seperti singa gerak gerikmu.

Wahai Raja Hewan Buas, semoga Anda berjaya!

Mohon jangan lupa untuk menyisakan sedikit untukku.

Ketika mendengar ini, serigala mengulangi bait kedua:

Mereka yang berasal dari keturunan dan kelahiran mulia

tahu bagaimana memuji yang patut dipuji.

Wahai Gagak, lehermu terlihat seperti leher merak,

turunlah dari pohon dan ambillah bagianmu!

Dewa pohon yang melihat kejadian ini, mengulangi bait ketiga berikut:

Yang paling rendah dari segala hewan buas adalah

serigala, gagak adalah yang paling rendah dari segala burung;

Pohon eraṇḍa adalah yang paling rendah pula:

sekarang ketiga makhluk rendah berada di sini, bertiga.

 

[441] Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, Devadatta adalah serigala, Kokalika (Kokālika) adalah gagak, sedangkan dewa pohon adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,
Advertisements