SIGĀLA-JĀTAKA

“Serigala mabuk itu,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Weluwana, mengenai Devadatta. Para bhikkhu berkumpul di Balai Kebenaran dan bercerita tentang bagaimana Devadatta telah pergi ke Gayāsīsa bersama lima ratus orang pengikut, yang dituntunnya kepada ajaran yang salah dengan mengatakan bahwa Dhamma sebenarnya ada pada dirinya, “bukan pada Petapa Gotama”, dan bagaimana kebohongannya telah memecah belah Sanggha, serta bagaimana ia melaksanakan dua hari Uposatha dalam seminggu. Saat mereka duduk di sana membicarakan keburukan Devadatta, Sang Guru masuk ke dalam balai tersebut dan diberitahukan mengenai apa yang sedang mereka bicarakan. “Para Bhikkhu,” kata Beliau, “Devadatta adalah seorang pembohong besar di kehidupan yang lampau, sama seperti di kehidupan ini.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau berikut ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang dewa pohon yang terdapat di sebuah pemakaman. Pada masa itu sebuah perayaan diumumkan di Benares, dan orang-orang memutuskan untuk memberikan persembahan kepada para yaksa. Maka mereka menyebarkan ikan dan daging di halaman-halaman rumah, di jalan-jalan dan tempat-tempat lainnya, serta menempatkan kendi-kendi yang berisi minuman keras. Di tengah malam, seekor serigala datang ke kota melalui selokan, dan menghibur diri dengan daging dan minuman keras itu. Merangkak ke dalam semak belukar, dengan cepat ia terlelap hingga fajar tiba.

Bangun dan melihat hari telah pagi, ia tahu ia tidak bisa kembali dengan aman di waktu demikian. Maka ia berbaring tanpa suara di dekat pinggir jalan dimana ia tidak terlihat, sampai akhirnya ia melihat seorang brahmana (pengembara) yang sedang dalam perjalanan untuk mencuci muka di kolam. Serigala itu berpikir, “Para brahmana adalah orang yang serakah. Saya harus memanfaatkan keserakahannya untuk membuatnya mengeluarkan saya dari kota melalui kain pinggang di bawah jubah luarnya.” Maka, dengan suara manusia, ia berseru, “Brahmana.”

“Siapa yang memanggil saya?” tanya brahmana tersebut, sambil memutar tubuhnya. “Saya, Brahmana.” “Ada apa?” “Saya mempunyai dua ratus keping emas, Brahmana; jika engkau bersedia menyembunyikan saya di kain pinggang di bawah jubah luarmu dan membawa saya keluar dari kota tanpa terlihat, engkau akan mendapatkan semua emas itu.”

Sepakat dengan tawaran tersebut, brahmana yang serakah menyembunyikan serigala itu dan membawa hewan buas itu keluar dari kota. “Tempat apakah ini, Brahmana?” tanya serigala tersebut. “Oh, ini adalah tempat anu,” jawab brahmana itu. “Pergilah lebih jauh sedikit,” kata serigala itu, dan terus berdebat dengan brahmana itu, selalu memintanya berjalan lebih jauh sedikit, hingga akhirnya mereka tiba di tempat pemakaman.

“Turunkan saya di sini,” kata serigala; brahmana itu menuruti permintaannya. “Bentangkan jubahmu di tanah, brahmana.” Brahmana yang serakah itu melakukan hal tersebut.

“Sekarang gali pohon ini sampai pada bagian akarnya,” katanya, dan saat brahmana tersebut sedang bekerja, ia berjalan ke arah jubah itu, membuang kotoran disana dan merusaknya di lima tempat — di keempat sudut dan di bagian tengah. Setelah selesai, ia melarikan diri ke hutan.

Bodhisatta berdiri di cabang pohon, mengucapkan syair berikut ini : —

Serigala mabuk itu, Brahmana, menipu kepercayaan yang engkau berikan!

Engkau tidak akan menemukan seratus kulit sapi,

apalagi keinginanmu akan dua ratus keping emas.

Setelah mengulangi syair ini, Bodhisatta berkata kepada brahmana tersebut, “Pergilah sekarang, cuci jubahmu dan mandi, lanjutkan perjalananmu.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia lenyap dari pandangan, dan brahmana itu melakukan apa yang dikatakan olehnya, ia pergi dengan malu karena telah diperdaya.

___________________

Uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Devadatta adalah serigala di masa itu dan Saya adalah dewa pohon.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

AMARĀDEVĪ-PAÑHA

“Nasi barli dan bubur masam,” dan seterusnya . Kisah Amarādevī-Pañha (Pertanyaan Amarādevī) ini akan diceritakan di dalam Jātaka yang sama (di atas). Ini adalah akhir dari Amarādevī-Pañha.

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

GADRABHA-PAÑHA

“Engkau pikir dirimu adalah seekor angsa,” dan seterusnya. Kisah mengenai Gadrabha-Pañha (Pertanyaan Keledai) ini akan diceritakan secara lengkap di dalam Ummagga- Jātaka. Ini adalah akhir dari Gadrabha-Pañha.

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

SABBASAṀHĀRAKA-PAÑHA

“Tidak ada yang mencakup semua,” dan seterusnya.

Sabbasaṁhāraka-Pañha ini dikemukakan secara lengkap dalam Ummagga-Jātaka. Ini adalah akhir dari Sabbasaṁhāraka- Pañha.

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

KUṆḌAKAPŪVA-JĀTAKA

“Sebagai imbalan bagi pemujanya,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Sawatthi, mengenai seorang lelaki yang sangat miskin.

Di Sawatthi, Sanggha dengan Buddha sebagai guru mereka selalu dijamu, kadang-kadang oleh satu keluarga tunggal, kadang-kadang oleh tiga atau empat keluarga sekaligus, atau oleh seseorang secara pribadi maupun penduduk satu jalan yang sama, dan kadang juga, satu kota secara bersama-sama menjamu mereka. Dalam kesempatan ini, penduduk dari satu jalan yang sama menunjukkan keramahan mereka. Para penduduk telah mengatur untuk menyediakan makanan utama dan makanan pendamping.

Di jalan itu, tingggallah seorang lelaki yang sangat miskin, seorang buruh upahan, yang tidak mampu memberikan bubur, namun memutuskan untuk memberikan kue. Ia mengumpulkan tepung merah dari sekam yang kosong dan mengadoninya dengan air membentuk kue yang bulat. Kue ini ia bungkus dengan sehelai daun rempah, dan ia panggang dalam bara api. Setelah selesai, ia memutuskan bahwa tidak ada orang lain selain Sang Buddha yang akan menerimanya, karenanya ia berdiri di dekat Sang Guru. Begitu diminta untuk mempersembahkan kue, ia segera maju, lebih cepat dibanding orang lain, dan meletakkan kuenya di patta Sang Guru. Sang Guru menolak semua kue lainnya dan makan kue yang diberikan oleh orang miskin itu. Setelah itu, seluruh kota hanya membicarakan bagaimana Yang Tercerahkan Sempurna tidak merasa terhina untuk makan kue dari kulit padi yang dipersembahkan oleh orang miskin itu. Mulai dari penjaga pintu hingga kaum bangsawan dan raja, semua tingkatan masyarakat berkumpul di sana, memberi hormat pada Sang Guru, dan mengerumuni orang miskin itu, menawarkan makanan, atau dua hingga lima ratus keping uang jika ia bersedia mengalihkan jasa perbuatannya kepada mereka.

Berpikir untuk menanyakannya terlebih dahulu kepada Sang Guru, ia menemui Beliau dan menyampaikan masalah itu.

“Terima tawaran mereka,” kata Sang Guru, “dan hubungkan kebaikanmu kepada semua makhluk hidup.” Maka lelaki itu mulai mengumpulkan tawaran tersebut. Ada yang memberikan dua kali lipat dari yang lain, ada yang memberikan empat kali lipat, yang lain delapan kali lipat, dan seterusnya hingga sembilan puluh juta telah terkumpul. Mengucapkan terima kasih atas keramahan itu, Sang Guru kembali ke wihara dan setelah memberikan petunjuk kepada para bhikkhu dan menanamkan ajaran-Nya yang mulia pada mereka, Beliau masuk ke dalam kamarnya yang wangi.

Di sore harinya, raja mengundang orang miskin itu menghadap dan mengangkatnya menjadi Bendaharawan.

Berkumpul di Balai Kebenaran, para bhikkhu membicarakan bagaimana Sang Guru, tidak menganggap remeh kue dari kulit padi yang diberikan orang miskin itu, telah menyantapnya seakan-akan itu adalah makanan para dewa, dan bagaimana lelaki miskin itu menjadi kaya [423] dan dijadikan Bendaharawan sebagai keberuntungan terbesarnya. Saat itu Sang Guru masuk ke dalam balai tersebut dan mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, Beliau berkata, “Para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya saya tidak merasa terhina untuk makan kue dari kulit padi yang dipersembahkan oleh lelaki miskin itu. Saya melakukan hal yang sama saat saya merupakan dewa pohon, kemudian dengan cara itu juga menjadi Bendaharawan.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah seorang dewa pohon yang menetap di pohon eraṇḍa. Dan para penduduk di masa itu sangat percaya pada takhayul mengenai para dewa. Suatu perayaan akan dilangsungkan dan para penduduk mempersembahkan korban kepada dewa pohon yang mereka hormati. Melihat hal tersebut, seorang lelaki miskin juga menunjukkan pemujaan pada pohon eraṇḍa. Semua orang datang dengan membawa untaian bunga,

wewangian dan kue-kue, namun lelaki miskin itu hanya mempunyai kue yang terbuat dari tepung sekam dan air dengan tempurung kelapa sebagai wadahnya untuk dipersembahkan kepada pohon ini. Berdiri di depan pohon, ia berpikir, “Dewa pohon terbiasa menyantap makanan surgawi, dan tidak akan makan kue yang terbuat dari tepung sekam ini. Kalau begitu, mengapa saya harus kehilangannya begitu saja? Akan saya makan sendiri saja.” Maka ia berputar untuk meninggalkan tempat itu, ketika Bodhisatta berseru dari cabang pohon itu, “Orang yang baik, jika engkau adalah penguasa besar, engkau akan membawakan saya makanan pilihan; namun engkau adalah orang miskin, apa yang harus saya makan jika bukan kue itu? Jangan rampas bagian untuk saya.” Dan ia mengucapkan syair berikut ini : —

Sebagai imbalan bagi pemujanya,

seorang dewa akan makan (persembahannya).

Bawakan saya kue itu, jangan rampas bagian saya.

Kemudian lelaki itu berputar kembali, melihat Bodhisatta,

dan memberikan persembahannya. Bodhisatta menyantap makanan itu dari rasanya, dan berkata, “Mengapa engkau memuja saya?” “Saya adalah orang miskin, dan saya memujamu untuk mengurangi kemiskinan saya.” [424] “Jangan mengkhawatirkan hal itu lagi. Engkau telah memberikan pengorbanan pada ia yang tahu berterima kasih dan penuh kesadaran atas perbuatan baik. Di sekeliling pohon ini, lajur demi lajur, terdapat pot harta yang terpendam. Pergi dan ceritakan kepada raja, dan bawa pergi harta itu dengan menggunakan kereta ke halaman istana. Di sana, tumpuklah harta tersebut dalam satu timbunan. Raja akan sangat gembira sehingga ia akan menjadikanmu sebagai Bendaharawan.” Setelah mengatakan hal tersebut, Bodhisatta menghilang dari pandangan. Lelaki itu melakukan apa yang diminta, dan raja menjadikannya sebagai Bendaharawan. Demikianlah lelaki miskin itu dengan bantuan Bodhisatta mendapatkan berkah yang besar; dan setelah meninggal ia terlahir kembali ke alam yang sesuai dengan hasil perbuatannya.

____________________

Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Lelaki miskin saat ini adalah lelaki miskin di masa itu, dan saya adalah dewa pohon yang menetap di pohon eraṇḍa.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

BĀHIYA-JĀTAKA

“Belajarlah engkau dengan tepat,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika Beliau menetap di Kūṭāgārasālā 192 di Weluwana (Veḷuvana) dekat Vesāli, mengenai seorang Licchavi, seorang pangeran alim yang memeluk keyakinan ini. Ia mengundang Sanggha dengan Sang Buddha sebagai guru mereka ke rumahnya, dan di sana ia memberikan persembahan yang berlimpah pada mereka. Dan istrinya merupakan seorang wanita yang sangat gemuk dengan rupa yang membengkak, serta selera berpakaian yang jelek.

Berterima kasih atas persembahannya, Sang Guru kembali ke wihara dan setelah memberikan khotbah kepada para bhikkhu, Beliau masuk ke dalam kamarnya yang wangi.

Berkumpul bersama di Balai Kebenaran, para bhikkhu menunjukkan keterkejutan mereka bahwa seseorang seperti Pangeran Licchavi bisa mendapatkan seorang wanita gemuk dengan selera berpakaian yang buruk untuk menjadi istrinya, dan begitu mencintai wanita tersebut. Masuk ke Balai Kebenaran dan mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, seperti sekarang ini, demikian juga di kelahiran sebelumnya, ia mencintai wanita gemuk itu.”

Kemudian, atas permohonan mereka, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

[421] Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir kembali sebagai salah seorang anggota istana. Dan seorang wanita desa yang gemuk dengan selera berpakaian yang jelek, dan bekerja untuk mendapatkan upah, sedang lewat di dekat halaman istana, ketika kebutuhan yang mendesak datang padanya. Berjongkok dengan pakaiannya terkumpul secara sopan mengelilingi dirinya, ia menyelesaikan kebutuhannya itu, dan menanamnya dalam sekejab mata.

Pada saat yang sama, raja melihat keluar ke arah halaman istana melalui sebuah jendela, dan melihat kejadian itu.

Ia berpikir, “Seorang wanita yang bisa mengatur hal demikian dengan begitu sopan pasti mempunyai kesehatan yang baik. Rumahnya pasti bersih; dan seorang anak yang lahir dalam sebuah rumah yang bersih, pasti akan tumbuh besar dengan sifat pembersih dan juga baik. Saya akan menjadikannya pendamping saya.” Karenanya, raja mula-mula memastikan sendiri bahwa wanita itu bukan milik pasangan orang lain, kemudian mengundangnya menghadap dan menjadikannya sebagai ratu. Dan wanita itu, menjadi orang yang sangat dekat dan sangat disayangi olehnya. Tak lama kemudian, seorang pangeran lahir, dan pangeran inilah yang menjadi raja yang menguasai dunia.

Melihat keberuntungan wanita itu, Bodhisatta mengambil kesempatan untuk berbicara dengan raja, “Paduka, mengapa perhatian tidak diberikan kepada yang memenuhi pandangan dengan keadaan yang semestinya, namun wanita yang hebat ini dengan kerendahan hati dan kesopanannya sewaktu membuang kotoran malah mendapatkan perhatian Paduka dan memperoleh keberuntungan setinggi ini?” Ia melanjutkan dengan mengucapkan syair berikut ini : —

Belajarlah engkau dengan tepat,

para Penduduk yang keras kepala ;

Orang kampung telah menyenangkan raja

melalui kesopanannya.

Demikianlah makhluk yang agung itu memuji kebaikan mereka yang mencurahkan diri untuk mempelajari kesopanan dengan sepantasnya.

____________________

[422] Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Suami istri di masa ini adalah suami istri di masa itu, dan Saya adalah anggota istana yang bijaksana tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

SĀLITTAKA-JĀTAKA

[418] “Hadiah dari keahlian,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang melempar batu dan menjatuhkan seekor angsa. Diceritakan bahwa bhikkhu ini, yang berasal dari sebuah keluarga terpandang di Sawatthi, mempunyai keahlian memukul benda dengan batu; suatu hari, setelah mendengarkan pembabaran Dhamma ia menyerahkan hidupnya pada ajaran Buddha, meninggalkan keduniawian dan diterima menjadi seorang bhikkhu. Tanpa belajar maupun berlatih, ia unggul sebagai seorang bhikkhu. Suatu hari, bersama seorang bhikkhu yang lebih muda ia pergi ke Sungai Aciravatī, dan sedang berdiri di tepi sungai setelah mandi saat ia melihat sepasang angsa yang terbang di dekat sana. Ia berkata pada bhikkhu yang lebih muda, “Saya akan memukul angsa yang terhalang itu tepat di matanya dan menjatuhkannya.” “Buat ia turun,” jawab bhikkhu itu; “engkau tidak akan bisa mengenainya.” “Tunggu saja. Saya akan mengenainya dari satu mata menembus ke mata yang lain.”

“Oh, omong kosong.” “Baik, engkau tunggu dan lihat saja.”

Kemudian ia mengambil sebuah batu berbentuk segitiga di tangannya dan melemparkannya ke arah angsa-angsa itu. Bunyi ‘whiz’ desingan batu melewati udara dan angsa itu. Menduga ada bahaya, angsa itu berhenti untuk mendengar. Seketika itu juga bhikkhu tersebut meraih sebuah batu bulat licin dan saat angsa berhenti untuk mencari arah yang lain, ia melemparkan batu itu tepat di matanya, sehingga batu itu masuk dari satu mata dan keluar dari mata yang lain. Sambil mengeluarkan suara pekikan yang keras, angsa itu jatuh ke tanah di dekat kaki mereka. “Ini adalah tindakan yang sangat salah,” kata bhikkhu muda itu dan membawanya menghadap Sang Guru, melaporkan apa yang telah terjadi. Setelah mengecam bhikkhu tersebut, Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, ia mempunyai keahlian yang sama di kehidupan yang lampau, sama seperti saat ini.” Dan Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah salah seorang anggota istana. Pendeta kerajaan pada masa itu sangat cerewet dan suka berbicara panjang lebar, sehingga sekali ia mulai berbicara, orang lain tidak akan mempunyai kesempatan untuk berbicara lagi. Maka raja berusaha mencari orang untuk menghentikan kecerewetannya, ia mencari kemana-mana untuk mendapatkan orang seperti itu.

Pada masa itu, ada seorang lelaki pincang di Benares yang merupakan ahli penembak batu yang sangat hebat, anak-anak selalu menempatkannya di sebuah gerobak kecil dan [419] menariknya ke dekat gerbang Benares, dimana terdapat sebatang pohon beringin yang sangat besar, dengan cabang yang dipenuhi dedaunan. Di sana, mereka akan berkumpul mengelilinginya, memberikan sedikit uang kepadanya, dan berkata, “Buatkan seekor gajah,” atau “Buatkan seekor kuda.”

Lelaki pincang itu akan melemparkan batu demi batu hingga ia memotong daun-daun itu dalam bentuk yang mereka inginkan.

Dan bagian bawah pohon akan dipenuhi oleh daun-daun yang berguguran.

Dalam perjalanan menuju tempat peristirahatannya, raja tiba di tempat tersebut, dan semua anak-anak itu berhamburan pergi karena merasa takut pada raja, meninggalkan lelaki pincang itu di sana tanpa bantuan. Melihat daun-daun yang berserakan, raja bertanya, saat ia mengendalikan keretanya mendekat, siapa yang telah memotong daun-daun tersebut. Ia diberitahu bahwa lelaki pincang itu yang melakukannya. Berpikir bahwa mungkin di sini ada cara untuk menghentikan mulut pendeta tersebut, raja bertanya dimana lelaki pincang itu berada, dan ditunjukkan bahwa ia sedang duduk di bawah pohon itu.

Raja meminta agar ia dibawa menghadapnya, dan memberi isyarat agar rombongannya berdiri agak jauh, kemudian bertanya kepadanya, “Saya mempunyai seorang pendeta yang sangat cerewet. Apakah engkau bisa menghentikannya?”

“Bisa, Paduka, — jika saya mempunyai sebuah penembak kacang yang dipenuhi dengan kotoran kambing yang telah kering,” jawab lelaki pincang itu. Maka raja membawanya ke istana dan menyediakan sebuah penembak kacang yang dipenuhi dengan kotoran kambing yang telah kering di balik tirai dengan sebuah celah, tepat di depan tempat duduk pendeta itu.

Ketika brahmana itu datang menemui raja dan ditempatkan di kursi yang telah dipersiapkan untuknya, raja memulai pembicaraan. Segera saja pendeta itu memonopoli pembicaraan, dan tidak ada orang yang bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Pada saat itulah lelaki pincang itu menembakkan peluru berupa kotoran kambing satu per satu secara lurus, melalui celah di tirai yang berada tepat di depan kerongkongan pendeta tersebut. Dan brahmana itu, menelan semua peluru itu begitu mereka datang seperti telah dilumuri minyak, hingga semuanya menghilang dalam perutnya. Setelah semua peluru penembak kacang itu telah berada di dalam perut pendeta tersebut, semuanya mengembang dalam ukuran setengah takaran; dan raja yang mengetahui semua peluru itu telah habis, berkata kepada brahmana tersebut, “Guru, betapa cerewetnya engkau, sehingga engkau telah menelan semua peluru dari satu penembak kacang berupa kotoran kambing tanpa menyadarinya sedikit pun. Itu adalah jumlah yang bisa engkau peroleh dalam sekali kunjungan. Sekarang, pulanglah ke rumah dan minum satu takaran biji rumput gandum dengan air sebagai obat pembuat muntah, agar engkau sehat kembali.”

Sejak itu [420] pendeta tersebut menjaga agar mulutnya tetap tertutup dan duduk dengan diam selama pembicaraan berlangsung seakan-akan mulutnya telah disegel.

1 takaran = 7 ½ liter.

“Baiklah, telinga saya berhutang pada lelaki pincang itu atas kebebasannya,” kata raja, dan memberikan empat desa kepadanya, satu di utara, satu di selatan, satu di barat dan satu lagi di timur; yang menghasilkan seratus ribu keping per tahunnya.

Bodhisatta mendekati raja dan berkata, “ Di dunia ini, Paduka, keahlian seharusnya dilatih dengan bijaksana. Semata-mata hanya karena keahlian dalam membidik, memberikan semua kemakmuran ini kepada lelaki pincang itu.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengucapkan syair berikut:

Hadiah dari keahlian, lihatlah lelaki pincang

yang ahli menembak itu ;

— Empat desa merupakan hadiah atas bidikannya.

____________________

Setelah uraian tersebut berakhir, Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu ini adalah lelaki pincang di masa itu, Ānanda adalah raja dan Saya sendiri adalah anggota istana yang bijaksana.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

UDAÑCANI-JĀTAKA

“Hidup bahagia tadinya adalah milikku,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana,  mengenai godaan dari seorang gadis yang gemuk (atau kasar).

Kejadian ini akan diceritakan dalam Culla-Nārada-Kassapa-Jātaka189 di Buku Ketiga Belas.

Saat menanyai bhikkhu tersebut, Sang Buddha mendapat pengakuan darinya bahwa benar ia sedang jatuh cinta, dan mencintai gadis gemuk itu. “Bhikkhu,” kata Sang Guru, “ia akan menyesatkan dirimu. Demikian juga di masa yang lampau ia membuat engkau menjadi jahat, dan engkau dipulihkan hingga dapat merasa bahagia kembali oleh ia yang bijaksana dan penuh kebaikan di kehidupan yang lampau.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

__________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, terjadilah hal-hal seperti yang diceritakan dalam Culla-Nārada-Kassapa-Jātaka. Namun dalam kesempatan ini, Bodhisatta tiba di sore hari dengan membawa buah-buahan di tempat pertapaannya, membuka pintu dan berkata kepada putranya, “Di hari-hari biasa, engkau selalu membawakan kayu dan makanan, serta menyalakan perapian. Mengapa hari ini engkau tidak melakukan satu pun dari hal tersebut di atas, melainkan duduk termenung disini dengan menyedihkan?”

“Ayah,” kata anak muda itu, “ketika engkau pergi mengumpulkan buah-buahan, seorang gadis datang kemari, yang mencoba memikat saya dengan rayuan. Namun, saya tidak akan pergi sebelum berpamitan denganmu, jadi saya membuatnya pergi ke sana, duduk menunggu kedatanganku.

Sekarang saya berharap untuk bisa pergi.”

Melihat anaknya terlalu kasmaran untuk bisa melepaskan gadis itu, Bodhisatta mengizinkannya pergi, berkata, “Saat ia menginginkan daging [417], ikan, biji-bijian, garam atau beras, maupun hal-hal lainnya untuk dimakannya, dan membuat engkau ke sana kemari atas perintahnya, ingatlah pada pertapaan ini dan kembalilah kemari.”

Maka anak tersebut pergi bersama gadis itu ke tempat tinggal penduduk; setibanya di rumah, gadis itu membuat anak muda tersebut berlari ke sana kemari untuk mengambilkan semua barang yang ia inginkan.

“Saya lebih seperti budaknya jika begini,” pikirnya, dan segera kembali ke tempat ayahnya, memberi hormat padanya, berdiri dan mengulangi syair berikut ini: —

Hidup bahagia tadinya adalah milikku,

hingga aku jatuh cinta padanya,

— Kendi yang mengkhawatirkan dan menjemukan,

istriku — membuat saya menjalankan perintahnya

dengan berlari ke sana kemari.

Bodhisatta memuji anak muda tersebut, menasihatinya untuk berbaik hati dan bermurah hati, mengajarinya mengembangkan empat kediaman luhur dan cara-cara meditasi. Tak lama kemudian, anak muda itu telah memperoleh kesaktian dan pencapaian meditasi, dan tanpa terputus dari keadaan baik tersebut, bersama ayahnya, ia terlahir kembali di alam brahma.

____________________

Setelah uraian tersebut berakhir, dan Empat Kebenaran Mulia telah dibabarkan (di akhir khotbah, bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpanna), Sang Guru menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Gadis gemuk di saat ini merupakan gadis gemuk di masa itu; bhikkhu muda ini adalah anak tersebut dan Saya sendiri adalah sang ayah di masa itu.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

DUBBALAKAṬṬHA-JĀTAKA

“Takutkah engkau pada angin,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang tinggal dalam keadaan gelisah secara terus menerus. Dikatakan bahwa ia berasal dari keluarga terpandang di Sawatthi, dan ia meninggalkan keduniawian setelah mendengarkan pembabaran Dhamma, ia selalu merasa gelisah akan hidupnya, baik siang maupun malam. Bunyi desiran angin, desauan kipas, atau suara burung maupun hewan buas akan membuatnya membayangkan sesuatu yang mengerikan sehingga ia akan menjerit dan berlari pergi. Ia tidak pernah menyadari bahwa kematian pasti akan dialami olehnya; walaupun ia telah melatih meditasi dengan objek kematian, ia tidak pernah bisa menghadapinya. [415] Karena hanya mereka, yang tidak melakukan meditasi, yang takut pada kematian.

Sekarang, ketakutannya akan kematian diketahui oleh para bhikkhu, dan suatu hari mereka berkumpul di Balai Kebenaran, membahas ketakutannya, dan ketenangan para bhikkhu yang mengambil kematian sebagai objek meditasi. Masuk ke dalam Balai Kebenaran, Sang Guru bertanya dan diberitahukan apa yang sedang mereka bicarakan. Maka Beliau meminta bhikkhu tersebut datang dan bertanya kepadanya apakah benar ia hidup dalam ketakutan akan kematian. Bhikkhu tersebut mengakuinya.

“Jangan marah, para Bhikkhu,” kata Sang Guru, “dengan bhikkhu ini. Ketakutan yang memenuhi dirinya saat ini tidak kalah kuatnya dibanding dengan ketakutannya di kehidupan yang lampau.”

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

___________________

Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta adalah seorang dewa pohon di dekat Pegunungan Himalaya. Pada masa itu raja menempatkan gajah istana di tangan pelatih gajah untuk dilatih berdiri dengan tegak. Mereka mengikat gajah itu dengan kuat di sebuah tonggak, dengan tongkat di tangan, mereka melatih gajah itu. Tidak mampu menahan rasa sakit sewaktu dipaksa melakukan perintah mereka, gajah tersebut mematahkan tonggak tersebut, membuat para pelatihnya melarikan diri, sementara ia sendiri melarikan diri ke Pegunungan Himalaya. Orang-orang tersebut, tidak bisa menangkapnya, kembali dengan tangan kosong. Gajah tersebut hidup di Himalaya, selalu merasa takut pada kematian. Satu tiupan angin sudah cukup untuk membuat ia ketakutan dan berlari pergi dengan kecepatan penuh, menggoyangkan belalainya ke sana kemari. Perasaan ini selalu mengikutinya, seakan ia masih terikat di tonggak itu untuk dilatih. Semua kebahagiaan lahir dan batin telah lenyap darinya, ia berkeliaran ke mana-mana dengan penuh ketakutan. Melihat hal itu, dewa pohon itu berdiri di cabang pohonnya dan mengucapkan syair berikut ini: —

Takutkah engkau pada angin yang tiada henti

memukul batang-batang rusak hingga pecah?

Ketakutan seperti itu akan cukup membinasakanmu!

[416] Demikianlah kata-kata dewa pohon yang membuatnya menjadi tenang. Sejak itu, gajah tersebut tidak merasa takut lagi.

___________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru mengajarkan Empat Kebenaran Mulia (di akhir khotbah, bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpanna), dan menjelaskan kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu ini adalah gajah di masa itu, dan Saya adalah dewa pohon itu.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,

MITTAVINDA-JĀTAKA

“Dari empat ke delapan,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang sulit dinasihati. Kejadiannya sama dengan yang terjadi pada kisah sebelumnya mengenai Mittavindaka, namun terjadi di masa Buddha Kassapa.

____________________

[414] Pada masa itu salah seorang dari mereka, yang terkena hukuman memanggul sebuah roda (berpisau) dan menderita atas siksaan di neraka, bertanya pada Bodhisatta —

“Yang Mulia, perbuatan buruk apa yang telah saya lakukan?”

Bodhisatta memberitahukan perbuatan buruk yang ia lakukan dan mengucapkan syair berikut ini : —

Dari empat ke delapan, kemudian ke enam belas, dan seterusnya sampai ke tiga puluh dua, nafsu keinginan yang tak terpuaskan, — tetap mendesak tanpa pernah bisa dipuaskan maka roda penderitaan ini harus dipanggul olehnya.

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Bodhisatta kembali ke alam dewa, sementara ia tetap berada di neraka hingga buah perbuatan buruk mereka habis diterima. Setelah itu, ia meninggalkan tempat itu untuk terlahir kembali di alam yang sesuai dengan hasil perbuatannya.

___________________

Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru menjelaskan tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu yang sulit dinasihati itu adalah Mittavindaka dan Saya adalah makhluk dewa tersebut.”

Sumber: ITC, Jataka Vol 1

Tagged ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.