ROMAKA-JĀTAKA

Di sini di perbukitan ini,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Veḷuvana (Veluvana), tentang sebuah upaya pembunuhan. Cerita pembukanya akan menjelaskan kisahnya sendiri. Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor burung dara, dan bersama dengan sekelompok burung dara lainnya, dia tinggal di tengah hutan di dalam gua bukit. Terdapat seorang petapa, seorang ang memiliki moralitas, membangun sebuah gubuk daun di dekat sebuah desa perbatasan tidak jauh dari tempat burung-burung dara itu berada, dan di sana dia tinggal. Bodhisatta sering mengunjungi dirinya dan mendengarkan hal-hal yang patut untuk didengarkan.

 

Setelah tinggal di sana dalam jangka waktu yang lama, petapa itu pun pergi. Kemudian seorang petapa gadungan berambut panjang datang dan tinggal di sana. Bodhisatta, yang ditemani oleh kawanan burung daranya, (selalu) mengunjungi dan memberi salam kepadanya dengan penuh hormat; mereka menghabiskan siang hari dengan berkeliaran di sekitar pertapaan petapa itu, mematuk makanan di depan gua, dan kemudian kembali ke kediaman mereka pada sore harinya. Di sana, petapa gadungan berambut panjang itu tinggal selama lebih dari lima puluh tahun.

 

Pada suatu hari, para penduduk desa memberikan kepadanya daging burung dara yang telah dimasak. Dia terkagum pada rasa makanannya dan menanyakan makanan apa itu. “Burung dara,” kata mereka. Dia kemudian berpikir, “Kerumunan burung dara selalu datang ke pertapaanku. Akan kubunuh beberapa dari mereka untuk dimakan.” Maka dia pun menyiapkan beras, mentega cair, dadih, susu dan merica. Di satu sisi jubahnya dia menyimpan sebatang kayu dan duduk di depan gubuknya, sambil menantikan kedatangan burung-burung dara itu. Bodhisatta datang beserta dengan kelompoknya, dan mengetahui rencana jahat yang hendak dijalankan oleh petapa gadungan tersebut. “Petapa jahat yang duduk di sana melakukan praktik-praktik yang salah! Mungkin dia telah memakan daging bangsa kita; saya akan mencari tahu.” Maka dia bertengger berlawanan arah dengan angin dan mencium (baunya).

 

“Ya,” katanya, “orang ini ingin membunuh dan menyantap kita. Kita tidak boleh mendekatinya,” dan kemudian dia terbang kembali beserta kelompoknya. Melihat dirinya semakin menjauh darinya, petapa itu berpikir, “Saya akan berbicara kepadanya dengan kata-kata nan manis, berteman dengannya dan kemudian membunuh dan menyantapnya!” Dan dia mengucapkan dua bait kalimat berikut: Di sini di perbukitan ini, selama lima puluh satu tahun, wahai Unggas Berbulu, burung-burung mengunjungiku, tidak mencurigai apa pun, tidak mengenal rasa takut, dalam rasa aman yang meyakinkan!

 

Sekarang anak-anak dari telur mereka ini kelihatannya terbang pergi dalam rasa curiga ke bukit lain. Apakah mereka telah melupakan perlakuan terdahulu? Apakah mereka adalah burung yang sama? Kemudian Bodhisatta mundur dan mengulangi bait ketiga berikut:

Kami bukanlah makhluk bodoh, kami mengenal dirimu;

Kami adalah burung yang sama, dan Anda juga begitu:

Anda memiliki rencana buruk untuk kami, oleh karenanya, kami merasakan rasa takut itu.

“Saya ketahuan!” pikir petapa gadungan itu. Dia kemudian melemparkan kayunya pada burung itu, tetapi tidak mengenainya. “Pergilah,” katanya, “saya tidak berhasil mendapatkanmu!” “Anda tidak berhasil mendapatkan kami,” kata Bodhisatta, “tetapi Anda tidak akan tidak berhasil mendapatkan empat alam rendah! Jika Anda tetap tinggal di sini, maka akan kupanggil para penduduk dan membuat mereka menangkapmu sebagai seorang pencuri. Cepatlah pergi!” Demikianlah dia mengancam orang tersebut, dan kemudian terbang pergi. Petapa tersebut tidak dapat tinggal di sana lagi.

 

Setelah mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, Devadatta adalah petapa gadungan; petapa yang pertama, yang baik, adalah Sāriputta; dan raja burung dara adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Advertisements
Tagged ,

KURUDHAMMA-JĀTAKA

“Karena mengetahui keyakinan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang membunuh seekor angsa. Dua orang bhikkhu, yang merupakan sahabat karib, yang berasal dari Sāvatthi, telah ditahbiskan dan diupasampada, selalu bepergian bersama-sama. Suatu hari, mereka pergi ke Aciravatī. Setelah mandi, mereka berdiri di pasir, berjemur di bawah sinar matahari dan berbincang-bincang. Kala itu, dua ekor angsa terbang di angkasa melintasi mereka. Salah satu dari kedua bhikkhu muda tersebut mengambil sebuah batu dan berkata, “Saya akan melempar tepat di satu mata dari angsa itu.” “Anda tidak akan mampu melakukannya,” kata bhikkhu yang satunya lagi. “Bahkan bukan hanya itu—saya mampu melempar tepat di mata kiri atau mata kanannya, sesuai keinginanku.” “Anda tidak mampu melakukannya!” kata temannya lagi. “Kalau begitu, lihatlah ini!” kata temannya yang satu lagi itu kembali. Dia mengambil sebuah batu yang bersegi tiga dan melemparkannya ke arah satu angsa tersebut. Angsa itu memutar kepalanya ketika mendengar suara batu yang terbang melalui udara. Kemudian bhikkhu yang satunya lagi, setelah mengambil sebuah batu bulat, melemparkannya dan mengenai mata yang lebih dekat kepadanya dan membuatnya tercungkil keluar. Dengan suara jeritan yang amat keras,  angsa itu pun terhenti dari terbangnya dan jatuh di depan kaki mereka.

 

Para bhikkhu yang berdiri di sana melihat seluruh kejadiannya dan lari menghampiri bhikkhu itu. “Āvuso, setelah ditahbiskan di dalam ajaran yang mengarah pada pembebasan, adalah sangat tidak patut untuk melakukan suatu pembunuhan makhluk hidup!” Mereka membawanya menghadap Tathāgata. “Bhikkhu, benarkah apa yang mereka katakan?” tanya Sang Guru, “Apakah Anda telah melakukan pembunuhan makhluk hidup?” “Ya, Bhante,” jawabnya. “Bhikkhu,” kata Beliau, mengapa Anda melakukan pembunuhan makhluk hidup setelah ditahbiskan di dalam ajaran yang mengarah pada pembebasan? Orang bijak di masa lampau, sebelum Buddha muncul, meskipun mereka hidup berumah tangga dan (karenanya) menjalani kehidupan yang tidak suci, tetapi mereka memiliki rasa penyesalan (bersalah) terhadap suatu hal yang sepele. Sedangkan Anda, yang telah menjalani kehidupan suci sebagai seorang pabbajita, tidak memiliki penyesalan. Seorang bhikkhu seharusnya memiliki pengendalian diri dalam perbuatan, ucapan, dan pikiran.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah.

 

Dahulu kala ketika Dhanañjaya (Dhananjaya) adalah Raja Kota Indapatta di Kerajaan Kuru, Bodhisatta terlahir sebagai seorang putra dari permaisuri raja. Seiring berjalannya waktu, dia tumbuh dewasa dan dididik di Takkasilā. Ayahnya kemudian menjadikannya sebagai wakil raja, dan sepeninggalnya, dia pun menjadi raja dan tumbuh dalam norma Kuru, juga menjalankan sepuluh kualitas seorang raja (rajadhamma).

 

Norma Kuru yang dimaksudkan adalah lima sila. Ini selalu dijalankan oleh Bodhisatta dan dijaga tetap murni. Seperti yang dilakukan oleh Bodhisatta, demikian juga yang dilakukan oleh ibu suri, permaisuri, adiknya, wakil raja, pendeta kerajaan, para brahmana, tukang nilai tanah, pejabat kerajaan, kusir, saudagar, bendahara, menteri kerajaan, portir, wanita penghibur kelas tinggi dan kelas rendah—semuanya melakukan hal yang sama. Raja, ibu suri, permaisuri, wakil raja, pendeta kerajaan, tukang nilai tanah, kusir, saudagar, bendahara, portir, wanita penghibur kelas tinggi rendah, semuanya berjumlah sebelas orang, semuanya menjalankan norma Kuru.

 

Demikian mereka semuanya ini menjalankan lima sila dan menjaganya agar tetap murni. Raja mendirikan enam balai distribusi dana—satu balai di masing-masing gerbang kota, satu di tengah kota, dan satu lagi di depan rumahnya. Setiap hari, dia memberikan dana sejumlah enam ratus ribu, yang dengan pemberiannya ini menggemparkan seluruh Jambudīpa (India).

Kecondongan dan kesenangannya dalam memberikan dana ini tersebar luas.

 

Kala itu di Kota Dantapura, di Kerajaan Kaliṅga, terdapat seorang raja yang bernama Raja Kaliṅga (Kalinga). Hujan tidak turun di kerajaannya, dan dikarenakan kekeringan itu, terjadilah bencana kelaparan di kerajaan tersebut. Para penduduk berpikir bahwa tidak adanya makanan ini akan memunculkan wabah. Jadi terdapat tiga ancaman bahaya di sana: bahaya kekeringan, bahaya kelaparan, dan bahaya wabah. Orang-orang mengembara ke sana ke sini dalam keadaan melarat, sambal menggenggam tangan anak-anak mereka. Semua penduduk kemudian berkumpul bersama dan pergi ke Dantapura, di sana mereka bersuara keras di depan istana raja.

 

Raja sedang berdiri di dekat jendela ketika mendengar suara ribut itu dan menanyakan mengapa orang-orang membuat suara ribut itu. “Oh, Paduka,” terdengar jawaban, “tiga ancaman bahaya sedang melanda kerajaan kita: bahaya kekeringan, bahaya kelaparan, dan bahaya wabah. Para penduduk yang kelaparan, berpenyakitan, dan melarat mengembara ke sana ke sini sambil menggenggam tangan anak-anak mereka. Turunkanlah hujan untuk kami, wahai Paduka!”

 

Raja berkata, “Apa yang biasa dilakukan oleh raja-raja terdahulu bila hujan tidak turun?” “Para raja terdahulu, wahai Paduka, jika hujan tidak turun (dalam waktu yang lama), akan memberikan derma, menjalankan hari Uposatha, mengamalkan kebajikan (disiplin moralitas), dan berbaring di dalam kamar mereka di atas rumput kusa selama tujuh hari. Maka hujan akan turun.” “Bagus sekali,” kata raja, dan melakukannya. Meskipun dia telah melakukan demikian, tetapi hujan juga tidak kunjung turun. Raja berkata kepada para pejabatnya, “Saya telah melakukan seperti yang kalian katakan, tetapi hujan tidak turun juga. Apa yang harus saya lakukan?” “Wahai Paduka, di Kota Indapatta, terdapat seekor gajah kerajaan yang bernama Añjanavasabha. Gajah ini adalah milik Dhananjaya, Raja Kuru. Bawalah gajah itu ke sini, kemudian hujan pasti akan turun.”

 

“Tetapi bagaimanakah cara kita melakukannya? Raja dan pasukannya tidaklah mudah untuk dihadapi.” “Paduka, tidaklah perlu bertempur dengannya. Rajanya adalah seorang yang senang memberi, dia suka memberikan dana. Jika diminta, dia akan bersedia untuk memotong kepalanya sendiri dalam segala kebesarannya, atau mencungkil matanya keluar, atau menyerahkan kerajaannya. Tidaklah diperlukan usaha yang keras untuk mendapatkan gajah itu. Dia akan memberikannya tanpa menolaknya.”

 

Raja kemudian mengutus delapan brahmana dari suatu desa brahmana, dan dengan segala kehormatan dan kebesaran, mengutus mereka untuk meminta gajah tersebut. Mereka mengambil uang dan pakaian untuk perjalanan mereka, tanpa beristirahat di suatu tempat, terus melakukan perjalanan dengan cepat sampai beberapa hari kemudian mereka makan di dalam balai distribusi dana yang terdapat di gerbang kota. Setelah memenuhi kebutuhan jasmani, mereka bertanya, “Kapan saja raja datang ke balai distribusi dananya?” Jawaban yang didapatkan adalah, “Tiga hari, pada paruhan bulan—hari keempat belas, kelima belas, dan kedelapan. Besok adalah malam bulan purnama, besok beliau akan datang.”

 

Maka pada keesokan paginya, para brahmana itu pergi dan masuk melalui gerbang timur. Bodhisatta, setelah mandi dan membersihkan diri, berdandan dan mengenakan pakaian kebesarannya, menunggangi seekor gajah kerajaan yang dihiasi dengan perhiasan mewah, bersama dengan rombongannya datang ke balai distribusi dana di gerbang timur. Sesampainya di sana, dia turun dari gajahnya dan membagikan makanan kepada tujuh atau delapan orang dengan tangannya sendiri. “Lanjutkanlah pemberian dengan cara seperti ini,” katanya, dan setelah menunggangi gajahnya, berangkat ke gerbang selatan. Sewaktu dia berada di gerbang timur, para brahmana itu tidak memiliki kesempatan (untuk mendekatinya) dikarenakan kekuatan dari pengawal kerajaannya. Oleh karenanya, mereka pun bergerak ke gerbang selatan dan mengawasi kedatangan raja. Ketika raja terlihat di jalan, tidak jauh dari gerbang selatan, mereka melambaikan tangan dan menyambut kedatangannya dengan mendoakan semoga beliau tetap berjaya. Raja pun menuntun gajahnya dengan menggunakan angkusa ke tempat mereka berada. “Para Brahmana, ada apa?” tanya raja.

 

Kemudian mereka memaparkan kualitas baik dari Bodhisatta dalam bait pertama berikut:

Karena mengetahui keyakinan dan moralitasmu, wahai Paduka, kami datang ke sini.

Untuk (mendapatkan) hewan ini, kami menghabiskan kekayaan kami di rumah.

 

Bodhisatta memberikan jawabannya, “Para Brahmana, jika memang semua kekayaan kalian telah dihabiskan demi untuk mendapatkan gajah ini, maka tidak apa-apa— saya berikan gajah ini kepada kalian beserta dengan segala kebesarannya.” Demikian menghibur mereka, dia mengulangi dua bait berikut:

Baik kalian hidup dengan memelihara hewan untuk

mendapatkan bayaran maupun tidak,

makhluk apa pun yang datang kepadaku,

seperti yang diajarkan oleh guruku di masa lampau,

semuanya yang datang ke sini haruslah disambut.

 

Kubawakan gajah ini sebagai hadiah untuk kalian:

Gajah ini adalah gajah kerajaan, pantas untuk seorang raja!

Bawalah dia beserta dengan kebesarannya, rantai emas, kusir dan semuanya,

pulanglah ke tempat asal kalian.

 

Demikianlah yang diucapkan oleh Sang Mahasatwa sewaktu berada di atas punggung gajahnya. Kemudian setelah turun dari gajahnya, dia berkata kepada mereka, “Jika ada satu titik pada gajah ini yang tidak terhiasi, saya akan menghiasinya dan baru kemudian memberikannya kepada kalian.” Tiga kali dia mengelilingi makhluk ini, berkeliling mengarah ke kanan dan memeriksanya, tetapi tidak menemukan satu titik pun yang tidak terhiasi. Kemudian dia menyerahkan belalai sang gajah ke tangan para brahmana tersebut. Raja memercikkan air yang wangi dari sebuah pot emas nan bagus dan menyerahkannya kepada mereka. Para brahmana itu menerima gajah tersebut beserta dengan segala kepunyaannya, dan dengan menunggang di atas punggungnya ke Dantapura, menyerahkannya kepada raja mereka. Walaupun gajah telah tiba di sana, tetapi hujan tetap tidak kunjung turun juga.

 

Kemudian raja bertanya kembali, “Apa lagi alasannya kali ini?” Mereka berkata, “Dhananjaya, Raja Kuru, menjalankan norma Kuru. Oleh karena itu, di kerajaannya hujan tetap turun dalam setiap sepuluh atau lima belas hari. Itulah kekuatan dari dari kualitas bagus sang raja. Seandainya pun ada kebajikan di dalam diri gajah ini, maka itu pastinya sangatlah kecil!” Kemudian raja berkata, “Bawalah gajah ini, dalam pakaian mewahnya seperti sediakala, dengan segala kepunyaannya, kembalikan kepada rajanya. Tulislah di atas sebuah papan emas norma Kuru yang dijalankannya dan bawalah itu ke sini.” Dengan kata-kata ini, dia mengutus para brahmana dan pejabat kerajaannya pergi.

 

Para utusan tersebut datang menghadap Raja Kuru, dan kemudian berkata, “Paduka, bahkan ketika gajahmu telah tiba (di kerajaan kami), tidak ada hujan yang turun juga. Orang-orang menyebutkan bahwa Anda menjalankan norma Kuru. Raja kami berkeinginan untuk menjalankannya juga. Dan beliau telah mengutus kami untuk meminta Anda menuliskannya pada satu papan emas dan membawanya kembali untuk dirinya. Beri tahukanlah norma itu kepada kami!”

 

“Teman-temanku,” kata raja, “sebelumnya saya memang mengamalkan norma itu, tetapi sekarang saya memiliki perasaan bersalah terhadap hal ini. Norma ini tidak lagi terwujudkan di dalam pikiranku. Oleh karenanya, saya tidak bisa memberikannya kepada kalian.”

 

Anda sekalian mungkin bertanya mengapa moralitas tidak lagi terwujudkan di dalam pikiran raja. Begini, setiap tiga tahun sekali, pada bulan Kattika, raja-raja biasanya mengadakan sebuah perayaan yang disebut dengan perayaan Kattika. Dalam perayaan ini, raja-raja berhias diri dalam segala kebesaran mereka dan berpakaian layaknya para dewa; mereka berdiri di hadapan seorang yaksa yang bernama Cittarāja, dan mereka menembakkan ke empat penjuru mata angin panah-panah yang berkalungkan bunga dan dihias dengan beragam warna. Oleh karena itu, raja ini (Raja Kuru), sewaktu merayakan perayaan ini, berdiri di tepi sebuah danau, di hadapan Cittarāja, dan menembakkan panah-panah ke empat penjuru mata angin.

 

Mereka bisa melihat ke mana tiga panah yang ditembakkannya itu pergi, tetapi panah keempat yang ditembakkan di atas air tidak terlihat oleh mereka. Raja kemudian berpikir, “Mungkin panah yang kutembakkan itu mengenai seekor ikan!” Karena perasaan bersalah ini muncul, perbuatannya membunuh makhluk hidup menyebabkan kehancuran dalam moralitasnya. Itulah sebabnya moralitas itu tidak lagi terwujudkan di dalam pikirannya.

 

Cerita ini diberitahukan oleh raja kepada mereka, dan dia menambahkan, “Teman-temanku, saya sendiri memiliki perasaan bersalah terhadap diriku sendiri, apakah saya menjalankan norma Kuru ini atau tidak. Akan tetapi, ibuku menjalankannya dengan baik. Kalian bisa mendapatkannya dari beliau.” “Tetapi, Paduka,” kata mereka, “Anda tidaklah memiliki niat dalam melakukan pembunuhan itu. Tanpa adanya niat dalam pikiran maka tidak terjadilah pembunuhan itu. Berikanlah kepada kami norma Kuru yang telah Anda jalankan!”

 

“Kalau begitu, tulislah,” kata raja. Dan dia membuat mereka menulis pada papan emas seperti berikut: “Jangan membunuh makhluk hidup; jangan mengambil apa yang tidak diberikan; jangan berbuat asusila; jangan mengucapkan kata-kata bohong; jangan meminum minuman keras.” Kemudian raja menambahkan, “Tetapi, norma ini masih tidak terwujudkan di dalam pikiranku. Kalian sebaiknya mencari tahu dari ibuku.” Para utusan itu memberi hormat kepada raja dan pergi ke tempat ibu suri. “Ibu Suri,” kata mereka, “orang-orang mengatakan bahwa Anda menjalankan norma Kuru. Beritahukanlah itu kepada kami!” Ibu suri berkata, “Anak-anakku, tadinya saya menjalankan norma ini, tetapi sekarang saya memiliki suatu perasaan bersalah. Dikatakan bahwasanya ibu suri pada saat itu memiliki dua orang putra; putra sulung menjadi raja dan putra bungsu menjadi wakil raja. Seorang raja anu mengirimkan wewangian berupa cendana yang bagus yang bernilai sebesar seratus ribu keping uang dan sebuah kalung emas yang bernilai seribu keping uang kepada Bodhisatta. Dengan memiliki pemikiran untuk menghormati ibunya, dia pun mengirimkan semua itu kepadanya. Ibu suri berpikir, “Saya tidak (biasa) menggunakan cendana sebagai wewangian dan saya juga tidak (biasa) mengenakan kalung. Akan kuberikan saja ini kepada istri-istri dari putra-putraku.” Kemudian ini terlintas di dalam benaknya— “Istri putra sulungku adalah seorang wanita pemimpin, dia adalah pemaisuri, kalung ini akan kuberikan kepadanya; sedangkan istri putra bungsuku adalah seorang wanita malang, wewangian cendana ini akan kuberikan kepadanya.” Dan demikianlah dia memberikan kalung kepada permaisuri dan wewangian kepada yang satunya lagi. Setelahnya, dia merenung, “Saya menjaga norma Kuru: apakah orang itu malang atau tidak bukanlah suatu permasalahan. Tidaklah seharusnya saya memberikan hormat yang lebih kepada istri putra sulungku. Karena tidak berbuat sesuai ini, saya telah membuat kesalahan di dalam moralitasku!” Dia pun kemudian mulai merasa bersalah; dan inilah sebabnya mengapa dia berkata demikian seperti sebelumnya di atas.

 

Para utusan tersebut berkata, “Ketika sesuatu (benda) berada di tanganmu, maka benda itu dapat diberikan sesuka hatimu (kepada siapa pun). Jika Anda memiliki perasaan bersalah atas hal yang sedemikian kecil seperti itu, bagaimana dengan perbuatan buruk lainnya yang pernah Anda lakukan sebelumnya? Moralitas tidaklah hancur hanya dengan hal seperti itu. Berikanlah norma Kuru itu kepada kami!” Dan darinya mereka mendapatkan itu kemudian menuliskannya di atas papan emas. “Semuanya sama, Anak-anakku,” kata ibu suri, “saya tidak berbahagia di dalam norma ini. Akan tetapi, menantuku menjalankannya dengan baik. Tanyakanlah itu kepadanya!”

 

Mereka kemudian berpamitan kepadanya dengan penuh hormat, bertanya kepada menantunya. Sama seperti sebelumnya, menantunya ini berkata, “Saya tidak bisa memberikannya, karena saya sendiri tidak lagi menjaganya (dengan baik). —Dikatakan bahwasanya pada suatu waktu ketika sedang duduk di dekat sebuah jendela dan memandang ke bawah, dia melihat raja melakukan perjalanan mengelilingi kota; dan di belakangnya, di punggung gajah itu sang wakil raja duduk.

 

Dia jatuh cinta kepadanya, dan berpikir, “Bagaimana kalau saya memulai sebuah persahabatan dengannya, dan ketika abangnya meninggal, dia akan menjadi raja dan menjadikanku sebagai istrinya!” Kemudian ini terlintas di dalam benaknya—“Saya adalah orang yang menjaga norma Kuru, yang telah bersuami, tetapi saya memandang laki-laki lain dengan perasaan cinta. Ini adalah suatu keburukan di dalam moralitasku!” Dia kemudian memiliki suatu perasaan bersalah. Dan inilah yang diceritakan olehnya kepada para utusan tersebut. Kemudian mereka berkata, “Hanya memikirkannya di dalam pikiran bukanlah suatu perbuatan buruk. Jika Anda memiliki perasaan bersalah atas hal sekecil ini, pelanggaran apa lagi yang pernah Anda perbuat sebelumnya? Hal sekecil ini tidaklah merusak moralitas.

 

Berikanlah kepada kami norma Kuru ini!” Sama dengan yang sebelumnya, dia pun memberitahukannya kepada mereka dan mereka menuliskannya di sebuah papan emas. Tetapi kemudian dia berkata, “Teman-temanku, moralitasku ini tidaklah sempurna. Wakil raja menjaga norma ini dengan baik, pergilah kepadanya dan dapatkanlah darinya.” Kemudian mereka pergi menjumpai wakil raja, dan sama seperti sebelum-sebelumnya menanyakan kepadanya tentang norma Kuru. —Dikatakan bahwasanya wakil raja ini biasa pergi menjumpai raja pada sore hari untuk memberikan penghormatan. Ketika orang-orang datang ke halaman istananya, dengan berada di atas keretanya, jika dia hendak makan malam bersama raja dan bermalam di sana, maka dia akan melemparkan tali kekang dan galah penghalaunya ke arah kuk-nya, dan itu merupakan pertanda bagi orang-orang untuk pulang, yang kemudian pada keesokan paginya akan datang kembali dan berdiri menunggu kepulangan wakil raja. Begitu juga dengan kusir keretanya, dia akan merawat keretanya dan datang kembali bersama dengan keretanya itu pada keesokan paginya, menunggu di depan pintu raja. Tetapi jika dia hendak kembali juga pada hari yang sama, maka dia akan meletakkan tali kekang dan galahnya di dalam kereta dan kemudian masuk ke dalam untuk memberi penghormatan kepada raja. Orang-orang yang memahami pertanda itu bahwa dia akan kembali juga pada hari itu akan berdiri menunggunya di depan istana. Pada suatu hari, dia melakukannya dan masuk ke dalam untuk memberi penghormatan kepada raja. Tetapi ketika dia berada di dalam istana raja, hari mulai hujan. Karena hujan, raja mengatakan bahwa dia tidak membolehkan wakil raja untuk pulang, sehingga setelah selesai bersantap, dia pun tidur bermalam di sana.

 

Sedangkan kerumunan orang berdiri menunggunya untuk keluar dan mereka tetap berada di sana sepanjang malam dalam keadaan basah kuyup. Keesokan harinya, wakil raja keluar dan ketika melihat kerumunan orang itu basah kuyup berdiri menunggunya di sana, berpikir, “Saya, yang menjaga norma Kuru, telah membuat kerumunan orang ini menjadi begini! Pastinya moralitas diriku telah rusak!” dan dia pun dilanda rasa bersalah. Maka dia berkata kepada para utusan itu, “Sekarang perasaan bersalah melanda diriku jika meskipun saya menjaga norma ini. Oleh karenanya, saya tidak bisa memberikannya kepada kalian,” dan dia pun memberitahukan permasalahannya kepada mereka.

 

“Tetapi,” kata mereka, “Anda tidak pernah memiliki einginan untuk membuat mereka sakit demikian. Sesuatu yang dilakukan tanpa niat adalah bukan merupakan perbuatan (buruk). Jika Anda memiliki perasaan bersalah atas hal sekecil ini, elanggaran apa lagi yang pernah Anda perbuat sebelumnya?”

 

Maka mereka pun mendapatkan norma tersebut darinya dan menuliskannya pada papan emas mereka. “Bagaimanapun juga,” katanya, “norma ini tidaklah sempurna di dalam diriku. Tetapi pendeta kerajaanku menjaganya dengan baik, pergilah dan tanyakanlah kepadanya.”

Kemudian mereka pun pergi menjumpai pendeta kerajaan itu. Dikatakan bahwasanya pada suatu hari ketika hendak pergi memberikan penghormatan kepada raja, di tengah perjalanan, dia melihat sebuah kereta yang dikirim untuk raja dari seorang raja anu, berwarna seperti matahari baru. “Kereta siapakah ini?” tanyanya. “Kereta yang dikirimkan untuk sang raja,” kata mereka. Kemudian dia berpikir, “Sekarang saya sudah tua. Jika raja memberikan kereta ini kepadaku, betapa senangnya diriku bepergian dengan mengendarainya!” Ketika dia menghadap raja dan berdiri di satu sisi setelah memberikan salam kepadanya dengan mendoakan semoga raja tetap berjaya, mereka menunjukkan kereta tersebut kepada raja.

 

“Itu adalah sebuah kereta yang sangat cantik,” kata raja, “berikanlah kereta itu kepada guruku.” Akan tetapi pendeta kerajaannya tidak mau menerimanya. Dia tetap tidak mau menerimanya meskipun diberikan kepadanya secara berulang-ulang kali. Mengapa demikian? Ini dikarenakan pemikiran berikut terlintas di dalam benaknyam—“Saya, yang menjaga norma Kuru, telah mendambakan barang milik orang lain. Pastinya moralitas diriku telah rusak!” Jadi dia menceritakan hal tersebut kepada para utusan itu, dan menambahkan, “Anak-anakku, saya memiliki perasaan bersalah di dalam norma Kuru. Norma ini tidak lagi terwujudkan di dalam pikiranku. Oleh karenanya, saya tidak bias mengajarkannya kepada kalian.”

 

Tetapi para utusan itu berkata, “Hanya memikirkannya dengan mendambakan milik orang lain tidaklah membuat moralitas menjadi hancur. Jika Anda memiliki perasaan bersalah atas hal yang sedemikian kecil seperti itu, bagaimana dengan perbuatan buruk lainnya yang pernah Anda lakukan sebelumnya?” Dan darinya juga mereka mendapatkan norma itu dan menuliskannya pada papan emas mereka. “Akan tetapi, tetap saja norma ini tidak lagi terwujudkan di dalam pikiranku sekarang,” katanya, “tukang nilai tanah mengamalkannya dengan baik. Pergilah dan tanyakanlah kepadanya.”

 

Maka mereka pun mencari tukang nilai itu dan bertanya kepadanya. Dikatakan bahwasanya kala itu dia sedang mengukur sebuah ladang. Setelah mengikatkan seutas tali pada sebatang kayu, dia memberikan ujung tali yang satu kepada pemilik ladang untuk dipegang dan ujung tali yang satunya lagi dipegang sendiri olehnya. Kayu yang diikatkan pada ujung tali yang dipegang olehnya sampai pada sebuah lubang sarang kepiting. Dia berpikir, “Jika saya menancapkan kayu ini di dalam lubang itu, kepiting yang ada di dalamnya mungkin saja dapat terluka. Jika saya meletakkan di sisi ini, barang milik raja mungkin jadi hilang; dan jika saya meletakkannya di sisi yang satu lagi, petani itu mungkin akan mengalami kerugian. Apa yang harus kulakukan?” Kemudian dia berpikir kembali, “Seharusnya kepiting ada di dalam lubang ini. Tetapi, jika memang ada kepiting, dia pasti telah menunjukkan dirinya.” Maka dia pun meletakkan kayu itu ke dalam lubang. Kepiting mengeluarkan bunyi klik di dalamnya. Kemudian dia berpikir, “Kayu ini pasti telah menghantam kepiting itu dan membunuhnya. Saya mengamalkan norma Kuru dan sekarang terdapat satu celah di dalamnya.”

 

Jadi dia memberitahukan ini kepada mereka dan menambahkan, “Sekarang saya memiliki perasaan bersalah terhadap ini, dan saya tidak bisa memberikannya kepada kalian.” Para utusan itu berkata, “Tadinya Anda tidak memiliki niat untuk membunuh kepiting itu. Perbuatan yang dilakukan tanpa adanya niat tidaklah disebut sebagai perbuatan (buruk). Jika Anda memiliki perasaan bersalah atas hal yang sedemikian kecil seperti itu, bagaimana dengan perbuatan buruk lainnya yang pernah Anda lakukan sebelumnya?” Dan mereka mendapatkan norma itu dari mulutnya sendiri sama seperti sebelumnya dan menuliskannya pada papan emas. “Bagaimanapun juga,” katanya, “norma ini tidak lagi terwujudkan di dalam pikiranku. Kusir kerajaan menjalankannya dengan baik. Pergilah dan tanyakanlah kepada dirinya.”

 

Maka mereka berpamitan dan pergi mencari kusir itu. ikatakan bahwasanya pada suatu hari, raja mengendarai keretanya masuk ke dalam taman. Di sana raja bersenang-senang selama siang hari dan kembali pada sore hari, dan naik ke keretanya. Tetapi sebelum raja tiba kembali ke kotanya, pada saat matahari terbenam, awan badai muncul. Kusir yang merasa takut kalau-kalau raja akan menjadi basah, mempercepat laju gerak kuda-kudanya dengan menggunakan galahnya: kuda-kuda itu pun melaju dengan cepat ke arah rumahnya. Sejak saat itu, saat pergi atau pulang dari taman, mulai dari tempat itu (tempat mereka dipacu), kuda-kuda itu akan melaju dengan cepat.

 

Mengapa demikian? Karena kuda-kuda berpikir bahwa ada semacam bahaya di tempat tersebut dan itulah sebabnya sang kusir menyentuh mereka menggunakan galahnya. Dan kusir itu berpikir, “Jika raja menjadi basah atau kering, itu bukanlah alahku. Akan tetapi, saya telah memberikan satu sentuhan galah di luar kebiasaan kepada kuda-kuda yang telah terlatih dengan baik ini sehingga mereka berlari dengan cepat secara terus-menerus sampai mereka kelelahan, semuanya ini dikarenakan perbuatanku. Dan saya menjalankan norma Kuru! Pastinya telah terdapat satu celah di dalamnya!” Cerita ini diberitahukan kepada para utusan tersebut, dan berkata, “Dikarenakan alasan ini saya memiliki perasaan bersalah dan tidak dapat memberikannya kepada kalian.” “Tetapi,” kata mereka, “Anda tidak berniat untuk membuat kuda-kuda itu kelelahan. Dan perbuatan yang dilakukan tanpa niat bukanlah merupakan suatu perbuatan (buruk). Jika Anda memiliki perasaan bersalah atas hal yang sedemikian kecil seperti itu, bagaimana dengan perbuatan buruk lainnya yang pernah Anda lakukan sebelumnya?” Dan mereka juga mendapatkan norma itu darinya, dan menuliskannya pada papan emas mereka.

 

Kemudian kusir kerajaan itu mengirim mereka untuk mencari saudagar anu, dengan berkata, “Norma ini tidak terwujudkan di dalam pikiranku, sedangkan dia menjaganya dengan baik.” Maka mereka pun menjumpai saudagar tersebut dan bertanya kepadanya. Dikatakan bahwasanya pada satu hari dia pergi ke ladang padinya. Dia melihat sekelompok padi yang berhamburan keluar dari sekamnya, dia pun kemudian mengikat kelompok padi itu dengan tali jerami. Dengan satu tangannya yang penuh dengan padi, dia mengikatkan bagian atas kelompok padi tersebut pada sebuah tiang. Kemudian ini terlintas di dalam benaknya—“Belum kuberikan hasil dari ladang ini kepada raja, saya sudah mengambil segenggam padinya dari bagian adangnya! Saya yang menjalankan norma Kuru pastinya telah melanggar norma ini!” Dan masalah ini diceritakan olehnya kepada para utusan tersebut, dengan berkata, “Sekarang saya memiliki perasaan bersalah atas norma ini, sehingga saya tidak bisa memberikannya kepada kalian.” “Tetapi,” kata mereka, “Anda tidak memiliki niat untuk mencuri. Tanpa adanya niat, seseorang tidak bisa dikatakan bersalah atas pencurian. Jika Anda memiliki perasaan bersalah atas hal yang sedemikian kecil seperti itu, kapan Anda pernah mengambil benda milik orang lain?” Dan darinya juga mereka mendapatkan norma itu, dan menuliskannya pada papan emas mereka. Dia kemudian menambahkan, “Saya tidaklah berpuas hati atas masalah ini, sang bendahara menjaga norma ini dengan baik. Pergilah dan tanyakanlah kepadanya.”

 

Maka mereka pun menjumpai bendahara itu. Dikatakan bahwasanya orang ini, ketika sedang duduk di depan lumbung (kerajaan) dan memerhatikan beras hasil dari upeti raja yang akan dihitung, mengambil segenggam beras dari tumpukan yang belum dihitung dan meletakkannya di bawah sebagai pertanda. Pada saat itu, hari mulai hujan. Para pengawal menghitung pertanda-pertanda itu, demikian banyaknya, dan kemudian menggabungkan semuanya itu dan meletakkannya di dalam tumpukan yang telah dihitung. Kemudian dengan cepat dia berlari masuk dan duduk di dalam tempat teduhnya. “Apakah tadi saya meletakkan pertanda-pertanda itu ke dalam tumpukan beras yang telah dihitung atau yang belum dihitung?” Dia bertanya-tanya dan pemikiran ini terlintas di dalam benaknya, “Jika saya tadi melemparkannya ke dalam tumpukan yang telah dihitung, maka kekayaan raja akan bertambah dan pemiliknya akan menderita kerugian. Saya adalah orang yang menjalankan norma Kuru dan sekarang telah terdapat celah di dalamnya!” Dia menceritakan ini kepada para utusan tersebut dan menambahkan bahwa oleh karenanya dia memiliki perasaan bersalah dan tidak bisa memberikannya kepada mereka. Tetapi mereka berkata, “Anda, waktu itu, tidak memiliki niat melakukan pencurian, dan tanpa adanya niat, seseorang tidak bias dikatakan bersalah atas pencurian. Jika Anda memiliki perasaan bersalah atas hal yang sedemikian kecil seperti itu, kapan Anda pernah mengambil benda milik orang lain?” Darinya juga mereka mendapatkan norma itu dan mereka menuliskannya pada papan emas. “Bagaimanapun juga,” katanya, “moralitas ini tidaklah sempurna kujalankan. Ada seorang penjaga gerbang (portir) yang menjalankannya dengan baik. Pergilah dan dapatkanlah itu darinya.”

 

Maka mereka pun pergi dan menanyakannya kepada portir tersebut. Dikatakan bahwasanya pada suatu hari, tatkala gerbang harus ditutup, dia meneriakkannya dengan keras sebanyak tiga kali. Seorang laki-laki miskin yang pergi ke dalam hutan untuk mengumpulkan kayu-kayu dan dedaunan bersama dengan adik bungsunya, mendengar suaranya dan berlari ke arahnya bersama dengan sang adik. Portir itu berkata, “Apakah kalian tidak tahu bahwa raja berada di dalam kota? Apakah kalian tidak tahu bahwa gerbang kota ini harus ditutup pada

waktunya? Apakah kalian pergi ke dalam hutan untuk bercinta?”

 

Laki-laki miskin itu berkata, “Tidak, Tuan, dia bukanlah istriku, melainkan adikku.” Kemudian portir itu berpikir, “Betapa tak pantasnya diriku menyebut seorang adik sebagai seorang istri. Dan saya adalah orang yang menjalankan norma Kuru. Pastinya telah terdapat celah di dalamnya!” Cerita ini diberitahukan kepada para utusan tersebut, dengan menambahkan, Demikianlah saya memiliki perasaan bersalah atas norma ini dan tidak bisa memberikannya kepada kalian.” Kemudian mereka berkata, “Anda mengatakan itu karena Anda memang berpikiran sebagaimana adanya, ini tidaklah merusak moralitas dirimu. Jika Anda memiliki perasaan bersalah atas hal yang sedemikian kecil seperti itu, bagaimana mungkin Anda mengucapkan kata-kata yang tidak benar dengan bertujuan demikian?” Dan mereka kemudian mendapatkan norma itu darinya, menuliskannya pada papan emas. Kemudian dia berkata, “Moralitas ini tidak lagi terwujudkan sempurna di dalam diriku. Ada seorang wanita penghibur kelas tinggi yang menjalankannya dengan baik. Pergilah dan tanyakanlah kepadanya.”

 

Mereka pun melakukan demikian. Wanita penghibur itu menolak mereka, sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang sebelumnya. Alasannya adalah sebagai berikut: Sakka, raja para dewa, berkeinginan untuk menguji dirinya. Oleh karenanya, dengan menyamar sebagai seorang pemuda, dia memberikan uang seribu keping kepadanya dan berkata, “Saya akan datang pada waktu anu.” Kemudian Sakka kembali ke alam surga dan tidak mengunjunginya kembali dalam waktu tiga tahun. Dan wanita ini, dikarenakan rasa hormatnya, tidak bersedia menerima uang sepeser pun dari laki-laki lain. Secara berangsur-angsur, dia pun menjadi jatuh miskin, kemudian dia berpikir, “Pemuda yang memberikan uang seribu keping kepadaku sudah tidak datang selama tiga tahun, dan sekarang saya telah jatuh miskin. Tidak bisa lagi kupertahankan jiwa dan ragaku ini. Sekarang saya harus pergi memberitahukan ini kepada hakim pengadilan dan dapat memperoleh penghasilanku seperti sediakala.”

 

Maka dia pergi ke pengadilan dan berkata, “Tiga tahun yang lalu ada seorang pemuda yang memberikanku uang seribu keping dan kemudian tidak pernah kembali lagi. Saya tidak tahu apakah sekarang dia telah mati atau tidak. Tidak bisa lagi kupertahankan jiwa dan raga ini. Apa yang harus kulakukan, Tuanku?” Hakim itu erkata, “Jikalau dia memang sudah tidak kembali dalam waktu tiga tahun, apa lagi yang bisa Anda lakukan? Carilah penghasilanmu kembali seperti sediakala.” Begitu dia meninggalkan pengadilan, setelah mendapatkan keputusan itu, datanglah seorang pemuda yang menawarkan uang seribu keping kepadanya. Ketika dia menjulurkan tangannya untuk menerima uang itu, Sakka menunjukkan dirinya. Wanita itu berkata, “Inilah pemuda yang memberikanku uang seribu keeping tiga tahun yang lalu. Saya tidak bisa menerima uangmu.” Dan dia menarik kembali tangannya. Kemudian Sakka menunjukkan rupa aslinya dan terbang melayang di udara, bersinar laksana matahari yang baru terbit, dan membuat orang-orang berkumpul bersama. Sakka, di tengah kerumunan orang tersebut, berkata, “Untuk menguji dirinya, saya berikan kepadanya uang seribu keping tiga tahun yang lalu. Contohlah dirinya dan seperti dirinyalah menjaga kehormatan.” Setelah memberikan nasihat ini, dia mengisi kediaman wanita itu dengan tujuh jenis batu berharga, dan berkata, “Mulai saat ini, waspadalah,” dia menghibur dirinya dan kembali ke alam surga. Atas alasan ini, dia menolaknya, dengan berkata, “Karena sebelumnya saya telah mendapatkan bayaran dari seseorang, tetapi kemudian saya menjulurkan tangan untuk mengambil dari orang lain, maka moralitasku masih tidak sempurna, dan saya tidak bisa memberikannya kepada kalian.” Para utusan ini membalas, “Hanya dengan menjulurkan tangan keluar bukanlah suatu perusakan terhadap moralitas. Malah moralitas dirimu itulah yang paling sempurna!” Dan darinya, sama seperti orang-orang sebelumnya, mereka mendapatkan norma itu dan menuliskannya pada papan emas. Mereka membawanya bersama mereka kembali ke Dantapura, dan menceritakan kepada raja tentang bagaimana mereka melalui semuanya.

 

Kemudian raja mereka tersebut mempraktikkan norma Kuru dan menjalankan lima latihan moralitas (sila). Tak lama kemudian, hujan pun turun di Kerajaan Kalinga. Tiga ancaman bahaya itu pun teratasi, tanah kerajaan menjadi subur kembali dan makmur. Sepanjang hidupnya, Bodhisatta memberikan derma dan melakukan kebajikan-kebajikan lainnya, dan kemudian beserta dengan rakyat-rakyatnya terlahir kembali di alam surga.

 

Ketika mengakhiri uraian ini, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran lampau ini. Di akhir kebenarannya, beberapa bhikkhu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna, beberapa Sakadāgāmi, dan beberapa Anāgāmi, serta beberapa mencapai tingkat kesucian Arahat. Dan kisah kelahiran lampau ini dipertautkan sebagai berikut:

Uppalavaṇṇā adalah wanita penghibur itu, Puṇṇa adalah portir, bendahara adalah Kuccāna; Kolita adalah tukang nilai tanah, saudagar kaya adalah Sāriputta; Kusir kereta adalah Anuruddha, pendeta kerajaan adalah Thera Kassapa; Wakil raja adalah Nandapaṇḍita; Ibunya Rāhula adalah permaisuri, ibu suri adalah Māyā; dan rajanya adalah Bodhisatta. —Demikianlah kisah kelahiran ini dipahami.

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

RUCIRA-JĀTAKA

“Siapakah burung bangau cantik ini,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang serakah. Kisah ini sama seperti kisah sebelumnya di atas. Dan berikut ini adalah bait-bait kalimatnya:—

Siapakah burung bangau cantik ini,

mengapa dia berbaring di rumah temanku si gagak?

Temanku si gagak itu adalah burung yang pemarah!

Ini adalah sangkarnya, saya beri tahu ini kepadamu!

Apakah kamu benar-benar tidak mengenaliku, Teman?

kita biasa pergi mencari makan bersama.

Tidak kukerjakan seperti apa yang diberitahukan kepadaku,

maka demikianlah bulu-buluku dicabuti, seperti yang terlihat olehmu ini.

 

Nantinya kamu akan kembali berduka, saya tahu itu—

adalah sifat alamiahmu untuk melakukannya.

Jika manusia menyiapkan makanan berupa daging (ikan)

maka makanan itu bukanlah untuk dimakan oleh burung-burung kecil.

 

Kemudian sama seperti yang dikatakan oleh Bodhisatta sebelumnya di atas, “Saya tidak bisa tinggal di sini lagi,” dan terbang ke tempat lain. Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang serakah itu mencapai tingkat kesucian Anāgāmi:—“Bhikkhu yang serakah itu adalah burung gagak, dan Aku sendiri adalah burung dara.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

LOLA-JĀTAKA

“Anak dari awan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang serakah. Dia dibawa ke balai kebenaran, kemudian Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini dia adalah seorang yang serakah, sebelumnya juga dia adalah seorang yang serakah, dan keserakahannya itu yang membuatnya kehilangan nyawanya, serta sebagai akibatnya orang bijak di masa lampau diusir dari tempat tinggalnya.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, juru masak seorang saudagar di kota itu menggantungkan sebuah keranjang sangkar di dapurnya untuk mendapatkan jasa kebajikan darinya. Kala itu, Bodhisatta terlahir sebagai seekor burung dara; dia datang dan tinggal di dalam keranjang sangkar tersebut. Kala itu juga ketika terbang melewati dapur itu, seekor burung gagak yang serakah tertarik pada ikan-ikan yang tergeletak beragam jenisnya. Dia menjadi merasa lapar setelahnya. “Bagaimanakah caranya saya bisa mendapatkan ikan-ikan itu?” pikirnya. Kemudian matanya tertuju kepada Bodhisatta. “Saya tahu!” pikirnya lagi, “Saya akan menjadikan burung ini sebagai alatku untuk mendapatkan ikan-ikan itu.” Dan berikut ini adalah bagaimana caranya dia menjalankan rencananya.

 

Ketika burung dara hendak keluar untuk mencari makanannya, burung gagak itu terbang mengikutinya dari belakang. “Apa yang kamu inginkan dariku, Gagak?” tanya burung dara. “Saya dan kamu tidaklah memakan makanan yang sama. Tetapi saya menyukai dirimu,” kata gagak, “izinkanlah saya menjadi pelayanmu dan mencari makanan bersamamu.”

 

Burung dara menyetujuinya. Akan tetapi, ketika mereka pergi untuk mencari makanan, burung gagak hanyalah berpura-pura makan bersamanya; dia kemudian akan terbang ke tempat yang lain, mengais tumpukan kotoran sapi dan memakan satu atau dua cacing, dan setelah perutnya kenyang, dia akan terbang kembali—“Hai, Tuan, lama sekali waktu yang kamu butuhkan untuk mencari makan! Kamu tidak tahu kapan waktunya untuk selesai. Ayo, mari kita kembali sebelum hari terlalu gelap.” Dan mereka melakukan hal itu. Ketika mereka pulang bersama, juru masak itu yang melihat burung dara membawa pulang seorang teman, menggantungkan satu keranjang sangkar lagi untuknya.

 

Dengan cara yang demikian, empat atau lima hari berlalu. Kemudian terjadilah suatu pembelian ikan secara besar-besaran di dapur saudagar kaya tersebut. Betapa inginnya gagak itu untuk mendapatkan beberapa ikan itu! Sejak subuh dia sudah berbaring di sana, sambil merintih dan mengeluarkan suara ribut. Pada pagi hari, burung dara berkata kepada gagak, “Mari, Teman, kita (cari) sarapan pagi.” “Kamu saja yang pergi,” balasnya, “saya lagi sakit perut.” “Seekor burung gagak sakit perut? Omong kosong!” kata burung dara, “Bahkan sumbu lampu tidak bisa bertahan lama di dalam perutmu, dan segala sesuatu yang kamu makan akan langsung dicerna dalam waktu singkat. Sekarang kerjakanlah apa yang kuminta padamu.  Janganlah bertingkah seperti ini hanya untuk mendapatkan sedikit ikan!” “Apa maksudmu, Tuan? Saya benar-benar merasa sakit di dalam perutku!” “Baiklah, baiklah,” kata burung dara, “jagalah dirimu.” Dan dia pun terbang pergi.

 

Juru masak itu telah selesai menyiapkan semua masakannya dan berdiri di pintu dapur, sambil mengusap keringatnya. “Sekaranglah waktunya!” pikir gagak, dan dia hinggap di sebuah piring yang berisikan makanan lezat. “Klik!” juru masak mendengar suara ribut itu dan melihat di sekelilingnya. Tidak lama kemudian dia menangkap burung gagak itu dan mencabuti bulu-bulunya, kecuali jumbai bulunya yang terdapat tepat di atas kepalanya. Dia menggiling jahe dan merica, mencampurnya dengan mentega sisa dan air, kemudian mengoleskannya ke sekujur tubuh gagak. “Terimalah itu karena telah merusak makan malam tuanku, dan karena telah membuatku harus membuang makanan itu!” katanya, dan kemudian melemparnya masuk ke dalam keranjangnya. Oh, betapa sakitnya itu! Burung dara kemudian pulang dari perburuan makanannya. Yang pertama terlihat olehnya adalah sang gagak dalam keadaannya yang demikian. Dia mengolok-olok dirinya. Dia mengucapkan bait berikut ini:

‘Anak dari awan,’ dengan jambul berjumbai-jumbai,

Mengapa Anda mengambil tempat di sangkar temanku?

Ayo kemari, burung bangau.

Temanku, si gagak, mudah marah, kamu harus tahu itu.

 

Mendengar ini, burung gagak membalasnya dalam bait berikutnya:

Bukanlah bangau yang berjumbai diriku ini,

tidak lain tidak bukan adalah seekor gagak serakah.

Tidak kukerjakan seperti apa yang telah diberitahukan,

maka demikianlah bulu-buluku dicabuti, seperti yang dapat terlihat olehmu.

 

Dan burung dara membalasnya kembali dalam bait ketiga berikut:

Nantinya kamu akan kembali berduka, saya tahu itu—

adalah sifat alamiahmu untuk melakukannya.

Jika manusia menyiapkan makanan berupa daging (ikan)

maka makanan itu bukanlah untuk dimakan oleh burung-burung kecil.

 

Kemudian burung dara terbang pergi, sembari berkata, “Saya tidak bisa tinggal dengan makhluk seperti ini.” Dan burung gagak hanya terbaring sambil merintih, sampai akhirnya mati.

 

Setelah mengakhiri uraian ini, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang serakah itu mencapai tingkat kesucian Anāgāmi:—“Pada masa itu, bhikkhu yang serakah itu adalah burung gagak, dan Aku sendiri adalah burung dara.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

KACCHAPA-JĀTAKA

“Brahmana mana yang datang,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang pertengkaran di antara dua pejabat kerajaan di Kosala. Cerita pembukanya telah dikemukakan di Buku II.

 

Ketika Brahmadatta sedang memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang brahmana di Kerajaan Kāsi. Ketika tumbuh dewasa, dia pergi ke Takkasilā untuk mendapatkan pendidikannya. Setelah itu, dia melepaskan kesenangan indriawi dan menjalankan kehidupan suci sebagai petapa di daerah pegunungan Himalaya. Dengan ranting dan dedaunan dia membangun gubuknya di tepi Sungai Gangga, tempat dia kemudian mengembangkan kesakitan, pencapaian meditasi, dan hidup berhibur diri di dalam meditasi (jhana). Di dalam kelahiran ini, Bodhisatta melatih keseimbangan batin.

 

Ketika dia duduk di depan gubuknya, seekor kera yang tidak tahu malu dan bermoral bejat (selalu) datang dan bersanggama di lubang telinga Bodhisatta. Bodhisatta, dalam keadaan yang hampir tidak terasa terganggu, duduk di sana dalam batin yang seimbang. Suatu hari, seekor kura-kura keluar dari Sungai Gangga dan, ketika berjemur di bawah sinar matahari, tertidur dengan mulutnya yang terbuka lebar. Ketika melihatnya demikian, kera yang penuh nafsu itu pun langsung bersanggama di lubang mulutnya. Ketika bangun, kura-kura itu menggigitnya, menyegelnya seperti berada di dalam sebuah kotak. Rasa sakit yang besar menyerang kera itu. Karena tidak mampu menahannya, dia berteriak, “Kepada siapakah saya harus pergi agar bisa terbebas dari penderitaan ini?” Setelah berpikir, “Tidak ada yang lainnya, selain petapa itu yang dapat membebaskanku dari sakit ini; saya harus pergi menjumpainya,” kera itu membawa kura-kura tersebut dengan kedua tangannya dan pergi menjumpai Bodhisatta untuk mendapatkan pembebasan.

 

Bodhisatta mengolok-olok kera yang bermoral bejat itu dalam bait pertama berikut:

Brahmana mana yang datang untuk mendapatkan makanan, atau petapa mana yang datang mencari derma, dengan tangan terjulur dan sebuah mangkuk?

 

Ketika mendengar ini, kera itu mengucapkan bait kedua:

Saya adalah makhluk dungu, makhluk yang bodoh, bebaskanlah diriku, Yang Mulia, sehingga saya bisa pergi dengan bebas.

 

Bodhisatta, berbicara kepada kura-kura, mengucapkan bait ketiga berikut:

Kura-kura adalah keluarga dari Kassapa, kera adalah keluarga dari Koṇḍañña; Kassapa dan Koṇḍañña berhubungan keluarga, Anda boleh membebaskannya sekarang. Kura-kura itu, yang merasa senang dihibur demikian oleh Bodhisatta, membebaskannya. Setelah dibebaskan, kera itu dengan penuh hormat berpamitan kepada Bodhisatta dan lari pergi, tidak pernah lagi mengunjungi tempat itu, bahkan tidak untuk melihatnya kembali. Kura-kura pun pergi kembali ke kediamannya dengan memberikan hormat. Dengan tidak pernah terputus dari meditasi (jhana), Bodhisatta akhirnya terlahir kembali di alam brahma.

 

Ketika uraian ini berakhir, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Kedua pejabat kerajaan itu adalah sang kera dan kura-kura, dan Aku sendiri adalah petapa itu.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

VYAGGHA-JĀTAKA

“Ketika keakraban teman,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Kokālika. Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Buku XIII, dan di dalam Takkāriya-Jātaka. Dalam kesempatan ini, Kokālika kembali berkata, “Saya akan membawa Sāriputta dan Moggallāna kembali bersamaku.” Maka setelah meninggalkan kerajaannya, dia pergi ke Jetavana, memberi salam kepada Sang Guru, yang kemudian dilanjutkan kepada kedua siswa utama. Dia berkata, “Āvuso, para penduduk Kerajaan Kokalika memanggil-manggill dirimu! Marilah kita kembali ke sana!” “Pergilah sendiri, Āvuso, kami tidak akan pergi,” demikian dia menawabnya.

 

Para bhikkhu membicarakan ini di dalam balai kebenaran. “Āvuso, Kokālika (Kokalika) tidak bisa hidup bersama dengan Sāriputta dan Moggallāna, ataupun tanpa mereka. Dia tidak bisa berdamai dengan pengikut mereka!” Sang Guru berjalan masuk, dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan dengan duduk bersama di sana. Mereka memberi tahu Beliau. Kemudian Beliau berkata, “Pada masa lampau, seperti keadaan sekarang ini, Kokalika tidak bisa hidup bersama dengan mereka, ataupun tanpa mereka.” Dan Beliau menceritakan sebuah kisah.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang dewa pohon yang tinggal di dalam sebuah hutan. Tidak jauh dari kediamannya, hiduplah seorang dewa pohon lainnya, di dalam lebatnya pepohonan. Di dalam hutan yang sama, hiduplah seekor singa dan seekor harimau. Dikarenakan takut terhadap singa dan harimau itu, tidak ada seorang pun yang berani masuk ke dalam hutan itu, atau menebang pohon, tidak ada seorang pun yang bahkan berani untuk berhenti sejenak melihatnya. Singa dan harimau itu membunuh dan memangsa segala jenis makhluk, dan sisa-sisa mangsa yang mereka makan ditinggalkan begitu saja di tempat sehingga hutan tersebut penuh dengan bau busuk.

 

Dewa pohon yang satunya lagi (bukan Bodhisatta), seorang yang tidak tahu dan dungu, suatu hari bertanya demikian kepada Bodhisatta, “Samma, hutan ini penuh dengan bau busuk dikarenakan singa dan harimau ini. Saya akan mengusir mereka pergi.” Bodhisatta membalas, “Teman, dua makhluk inilah yang melindungi tempat tinggal kita. Jika mereka pergi, maka tempat tinggal kita akan menjadi hancur. Jika manusia tidak melihat adanya jejak singa dan harimau, maka mereka akan menebang semua pohon dan membuat hutan ini menjadi lahan terbuka, menjadi daratan. Mohon jangan lakukan itu!” dan kemudian dia mengucapkan dua bait pertama berikut:

Ketika keakraban teman dekatmu memberikan ancaman pada berakhirnya kedamaianmu,

jika Anda bijaksana, maka lindungilah daerah kekuasaanmu, bagaikan bola matamu sendiri.

Tetapi ketika teman dekatmu malah meningkatkan tingkat kedamaianmu, biarkanlah kehidupan temanmu itu berjalan apa adanya, sayangilah mereka seperti Anda menyayangi diri sendiri.

 

Setelah Bodhisatta demikian menjelaskan permasalahannya, meskipun dijelaskan demikian, dewa pohon yang dungu itu tidak menghiraukannya. Pada suatu hari, dia mengubah dirinya ke dalam wujud yang menyeramkan dan mengusir singa dan harimau itu. Karena tidak lagi melihat adanya jejak singa dan harimau di dalam hutan, berpikiran bahwa mereka telah pergi ke hutan lainnya, orang-orang pun mulai menebang pepohonan di satu sisi hutan tersebut. Kemudian dewa pohon itu menghampiri Bodhisatta dan berkata kepadanya, “Teman, saya tidak melakukan apa yang Anda katakan, melainkan saya mengusir kedua makhluk itu pergi. Sekarang, orang-orang mengetahui bahwa singa dan harimau telah pergi dan mereka pun mulai menebang pepohonan di dalam hutan. Apa yang harus dilakukan?” Kala itu, singa dan harimau telah pergi ke hutan yang lain. Jawaban yang diberikan oleh Bodhisatta adalah bahwasanya dia harus menjemput mereka kembali. Dia pun kemudian melakukannya; dan dengan berdiri di hadapan mereka, dia mengulangi bait ketiga berikut, dengan penuh hormat:

Pulanglah kembali, wahai Harimau (dan Singa), ke hutan, jangan biarkan dia menjadi daratan kosong; Karena tanpa kehadiran kalian, kapak akan menebangnya menjadi rata; Kalian juga, tanpanya, menjadi tidak mempunyai rumah.

 

Permintaan ini ditolak oleh singa dan harimau, dengan berkata, “Pergilah! Kami tidak akan kembali.” Dewa pohon itu pun kembali ke hutan itu sendirian. Dan setelah beberapa hari, orang-orang menebang semua pohon di dalam hutan ini, membuatnya dan mengolahnya menjadi ladang-ladang.

 

Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kelahiran mereka: “Kokalika (Kokālika) adalah dewa pohon yang dungu, Sāriputta adalah singa, Moggallāna adalah harimau, dan Aku sendiri adalah dewa pohon yang bijak.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

UDAPĀNA-DŪSAKA-JĀTAKA

“Sumur yang terdapat di dalam hutan ini,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seekor serigala yang mengotori sebuah sumur.

 

Dikatakan bahwasanya seekor serigala biasa mengotori sebuah sumur tempat para bhikkhu mengambil air, dan kemudian melarikan diri. Pada suatu hari, para samanera melemparinya dengan gumpalan tanah dan membuatnya tidak nyaman. Setelah kejadian itu, serigala tidak pernah kembali ke  tempat tersebut.

 

Para bhikkhu mendengar tentang kejadian ini dan mulai membicarakannya di dalam balai kebenaran, “Āvuso, serigala yang biasa mengotori sumur kita tidak terlihat lagi sejak para samanera mengusirnya pergi dengan gumpalan tanah!” Sang Guru berjalan masuk, dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan dengan duduk di sana. Mereka memberi tahu Beliau. Kemudian Beliau berkata, “Para Bhikkhu, ini bukanlah pertama kalinya serigala itu mengotori sebuah sumur. Dia juga melakukan hal yang sama sebelumnya.” Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, di suatu tempat di dekat Benares yang dikenal dengan nama Isipatana, terdapatlah sumur itu (sumur yang sama dengan cerita pembuka di atas). Kala itu, Bodhisatta terlahir di dalam sebuah keluarga terpandang. Ketika dewasa, dia menjalankan kehidupan suci sebagai seorang petapa, dan diikuti oleh sekelompok petapa lainnya, tinggal di Isipatana.

 

Seekor serigala selalu mengotori sumur itu sama seperti yang telah diceritakan di awal, dan kemudian melarikan diri. Suatu hari, para petapa itu mengepungnya dan, setelah berhasil menangkapnya dengan suatu cara, membawanya ke hadapan Bodhisatta. Dia kemudian menyapa sang serigala dalam bait pertama berikut:

Sumur yang terdapat di dalam hutan ini,

petapa hidup bergantung padanya sejak lama.

Setelah segala usaha dan kerja keras petapa itu,

mengapa Anda selalu mengotori sumur itu?

 

Mendengar ini, sang serigala kemudian mengulangi bait kedua berikut:

Ini adalah adat dari bangsa serigala, mengotori tempat mereka minum: Orang tua dan kakek nenekku juga melakukan hal yang sama, karena itu tidak ada alasan bagi pertanyaanmu.

 

Kemudian Bodhisatta membalasnya dalam bait ketiga berikut:

Jika ini adalah ‘adat’ dalam bangsa serigala, bagaimana lagi dengan ‘keadaan mereka tanpa adat’!

Kuharap ini adalah kali terakhir saya melihatmu, perbuatanmu, baik ‘beradat’ maupun ‘tak beradat’.

 

Demikian Sang Mahasatwa menasihatinya, dan kemudian berkata, “Jangan pernah datang ke sumur itu lagi.” Sejak saat itu, serigala tidak pernah datang ke tempat itu lagi, bahkan tidak untuk melihatnya.

 

Setelah uraian ini selesai, Sang Guru memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran mereka— “Serigala yang mengotori sumur itu adalah serigala yang sama, dan Aku sendiri adalah pemimpin rombongan petapa.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

ULŪKA-JĀTAKA

“Anda sekalian umumkan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang pertengkaran di antara burung gagak dan burung hantu.   Dikatakan bahwasanya pada satu masa yang tidak diketahui kapan pastinya, burung gagak biasa memangsa burung hantu pada siang hari, dan pada malam hari burung hantu terbang berkeliling dan mematuk kepala burung gagak sampai putus di saat mereka tertidur, dan demikian membunuh burung gagak. Kala itu, terdapat seorang bhikkhu yang tinggal di sebuah bilik di samping Jetavana. Ketika tiba waktunya untuk menyapu, selalu terdapat sejumlah banyak kepala-kepala burung gagak yang harus dibuang, yang jatuh dari pohon. Jumlahnya cukup untuk memenuhi tujuh atau delapan pot. Dia pun kemudian memberitahukan ini kepada para bhikkhu lainnya. Di dalam balai kebenaran, mereka mulai membicarakannya, “ Āvuso , bhikkhu anu selalu menemukan banyak kepala burung gagak yang harus dibuang setiap hari di tempat dia tinggal!” Sang Guru berjalan masuk, dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan dengan duduk di sana. Mereka pun memberi tahu Beliau. Kemudian mereka menanyakan sejak kapan burung gagak dan burung hantu mulai bertengkar. Sang Guru menjawab, “Sejak kappa (kalpa) pertama,” dan kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka.

 

Dahulu kala, orang-orang yang hidup pada kappa pertama berkumpul bersama dan memilih seorang pemimpin (raja) bagi mereka, seorang yang rupawan, banyak hasil, yang bisa memimpin, dan yang semuanya serbabaik. Hewan-hewan berkaki empat pun berkumpul bersama dan memilih singa sebagai raja mereka. Ikan-ikan di lautan memilih seekor ikan yang bernama Ānanda di antara mereka sebagai raja. Kemudian burung-burung di daerah pegunungan Himalaya berkumpul bersama di atas batu karang yang datar, dan berkata, “Di antara manusia sudah ada raja, di antara hewan (berkaki empat) sudah ada raja, begitu juga dengan ikan-ikan di lautan, sedangkan di antara kita belum ada seorang raja. Kita tidak boleh hidup dalam ketidakteraturan, kita juga harus memilih seorang raja di antara kita. Carilah satu yang cocok dijadikan sebagai raja kita!” Mereka pun mencari burung yang demikian, dan memilih burung hantu, “Inilah burung yang kami suka,” kata mereka. Dan seekor burung mengumumkan sebanyak tiga kali bahwa akan ada pemungutan suara untuk memutuskan permasalahan tersebut. Setelah dengan sabar mendengar pengumuman itu sebanyak dua kali, pada kali ketiganya, seekor burung gagak bangkit dan berkata,

 

“Tahan! Jika demikian rupa dirinya ketika hendak dinobatkan sebagai raja, bagaimana pula dengan rupanya ketika dia marah? Jika dia melihat kita dengan kemarahan, maka kita akan hancur seperti biji-bijian yang diletakkan pada wadah yang panas. Saya tidak menginginkan burung ini menjadi raja!” dan mengucapkan bait pertama berikut:

 

Anda sekalian umumkan burung hantu akan menjadi  raja dari segala burung: Dengan izin darimu, bolehkah saya mengutarakan pendapatku?

 

Burung-burung mengulangi bait kedua berikut, untuk memperbolehkannya berbicara:

 

Anda mendapatkan izin dari kami, semoga pendapatmu itu baik dan benar:  karena burung-burung lainnya muda, bijaksana,  dan cerdas.

 

Setelah mendapatkan izin, dia mengulangi bait ketiga berikut:

 

Saya tidak suka (dikatakan dengan penuh hormat) dengan burung hantu yang dinobatkan sebagai pemimpin kita.

 

Lihatlah wajahnya! Jika itu adalah di saat dia sedang senang hati, bagaimana pula wajahnya di saat dia marah?

 

Kemudian burung gagak itu terbang ke angkasa, sembari meneriakkan, “Saya tidak suka itu! Saya tidak suka itu!” Burung hantu bangkit dan terbang mengejarnya. Sejak saat itu, kedua jenis burung tersebut saling bermusuhan. Dan burung-burung kemudian memilih seekor angsa emas sebagai raja mereka, dan membubarkan diri.

 

Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran ini:—“Pada masa itu, angsa emas yang terpilih menjadi raja burung adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SUJĀTA-JĀTAKA

“Mereka yang dilimpahi,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Sujātā , menantu dari Anāthapiṇḍika , putri dari seorang saudagar– Dhanañjaya , dan adik bungsu dari Visākhā.   Dikatakan bahwasanya wanita itu masuk ke dalam rumah Anāthapiṇḍika dengan penuh kesombongan, karena memikirkan betapa besarnya keluarga tempat dia berasal. Dia adalah seorang yang keras kepala, pemarah, dan kasar. Dia tidak mau melakukan apa yang merupakan kewajibannya terhadap ibu dan ayah mertuanya, atau terhadap suaminya. Dia berkeliaran di dalam rumah itu dengan melontarkan kata-kata ancaman dan cacian.   Suatu hari, Sang Guru beserta lima ratus bhikkhu berkunjung ke rumah Anāthapiṇḍika , dan duduk di tempat yang disiapkan. Saudagar besar tersebut duduk di samping Yang Terberkahi, mendengarkan khotbah Dhamma. Pada saat yang bersamaan, Sujātā kebetulan sedang memarahi para pelayan. Sang Guru berhenti berbicara dan menanyakan suara ribut apa itu. Saudagar tersebut menjelaskan bahwa itu adalah suara menantunya yang kasar, mengatakan bahwa dia tidak berkelakukan sebagaimana mestinya kepada suaminya atau kepada kedua mertuanya, dia juga tidak memberikan derma, dan tidak memiliki sisi yang baik, seorang yang tidak berkeyakinan dan tidak percaya, dia hanya berkeliaran di dalam rumah dengan melontarkan kata-kata ancaman dan cacian. Sang Guru memintanya untuk memanggil wanita itu. Dia datang, dan setelah memberikan hormat kepada Sang Guru, berdiri di satu sisi. Kemudian Sang Guru menyapanya demikian: “ Sujātā , terdapat tujuh jenis istri yang bisa didapatkan oleh seorang laki-laki. Jenis keberapakah dirimu?” Dia membalas, “Bhante, Anda berbicara terlalu singkat kepadaku untuk dapat dimengerti. Tolong dijelaskan.” “Baiklah,” kata Sang Guru, “dengarkanlah baik-baik,” dan Beliau mengucapkan bait berikut:

 

Yang pertama adalah berhati busuk, tidak menunjukkan kasih sayang. Sisi baiknya adalah mengasihi orang lain, tetapi membenci suaminya. Selalu menghabiskan apa yang didapatkan oleh suaminya, istri tipe ini disebut sebagai si Perusak.

 

Apa saja yang diperoleh suami untuknya dari hasil penjualan, atau dari keahlian, atau dari pacul petani, dia selalu berusaha untuk mencuri sedikit darinya, istri tipe ini disebut sebagai si Pencuri.

 

Tidak melakukan kewajibannya, malas, rakus,  kejam, pemarah, kasar, tidak memiliki belas kasihan terhadap bawahannya, istri tipe ini disebut sebagai si Sombong.

 

Dia yang memiliki kasih sayang dan baik hati, merawat suaminya, layaknya seorang ibu, menjaga semua kekayaan yang diperoleh suaminya, istri tipe ini disebut sebagai si Ibu.

 

Dia yang menghormati suaminya, layaknya saudara yang lebih muda menghormati  saudara yang lebih tua, rendah hati, patuh terhadap keinginan suami, istri tipe ini disebut sebagai si Saudara (wanita).

 

Dia yang selalu bahagia ketika melihat (berjumpa dengan) suaminya, layaknya seorang sahabat yang berjumpa dengan sahabat lamanya, berasal dari keluarga yang baik (terpandang) dan bermoral, menyerahkan hidupnya kepada suaminya, istri tipe ini disebut sebagai si Sahabat.

 

Bersikap tenang ketika dimarahi, takut untuk berbuat jahat, tidak pemarah, penuh dengan kesabaran, setia, mematuhi suaminya, istri tipe ini disebut sebagai si Pelayan.    “Inilah, Sujātā , tujuh jenis wanita yang bisa didapatkan oleh seorang laki-laki. Tiga dari tujuh jenis wanita ini, si Perusak, Pencuri, dan Sombong, akan terlahir kembali di alam neraka; sedangkan empat jenis sisanya akan terlahir kembali di Alam Dewa Nimmānarati .

 

Mereka yang menjalankan peran sebagai si Perusak di dalam kehidupan ini, si Pencuri, atau si Sombong, karena mereka itu adalah orang yang pemarah, kejam, dan tidak memiliki rasa hormat, setelah meninggal akan terlempar ke alam neraka yang rendah.

 

Mereka yang menjalankan peran sebagai si Ibu, Saudara, Sahabat dan Pelayan, karena mereka itu adalah orang yang bermoral dan mengendalikan diri mereka dalam waktu yang lama,  setelah meninggal akan terlahir di alam dewa.

 

Ketika Sang Guru memaparkan tentang tujuh jenis istri tersebut, Sujātā mencapai tingkat kesucian Sotāpanna . Kemudian Sang Guru menanyakan dirinya termasuk tipe yang ke berapa. Dia menjawab, “Saya adalah si Pelayan, Bhante!” kemudian memberikan hormat kepada Sang Buddha, dan meminta maaf kepadanya.  Demikianlah, dengan satu nasihat, Sang Guru menjinakkan wanita judes tersebut. Setelah selesai bersantap, setelah memberitahukan kewajiban kepada para bhikkhu, Beliau masuk ke dalam ruangan  yang wangi ( gandhakuṭi ).  Kemudian para bhikkhu berkumpul bersama di dalam balai kebenaran, dan melantunkan pujian terhadap Sang Guru, “ Āvuso , dengan satu nasihat saja Sang Guru dapat menjinakkan seorang wanita yang judes, dan mengukuhkannya dalam tingkat kesucian Sotāpanna .” Sang Guru berjalan masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan dengan duduk berkumpul di sana. Mereka pun memberi tahu Beliau. Kata Beliau, “Para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya Aku menjinakkan Sujātā dengan satu nasihat.” Atas permintaan mereka, Beliau kemudian menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari permaisurinya. Ketika dewasa, dia mendapatkan pendidikannya di Takkasilā . Sepeninggal ayahnya, dia naik takhta menjadi raja dan memerintah dalam kebenaran. Ibunya adalah seorang wanita yang pemarah, kejam, kasar, judes, dan temperamental. Sang anak berkeinginan untuk menasihati ibunya, tetapi dia merasa bahwa dia tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak sopan. Maka dia pun tetap mencari-cari kesempatan untuk memberikan petunjuk kepadanya.

 

Pada suatu hari, dia pergi ke taman dan ibunya pergi bersama dengannya. Seekor burung bernyanyi dengan suara melengking di tengah jalan. Mendengar ini, para pejabat kerajaan (yang mengikutinya) menutup telinga mereka, sambil berkata, “Betapa jeleknya suara itu! Suara yang melengking! Hentikan suara itu!”  Kemudian Bodhisatta melanjutkan perjalanannya di dalam taman dengan ibu dan pejabat kerajaannya. Seekor burung tekukur yang bertengger di pohon sala yang berdaun lebat, berkicau dengan suara yang merdu. Semua orang yang mendengarnya merasa senang dengan suara kicauannya, mereka bergandengan tangan dan menjulurkannya ke depan, mereka juga mencari keberadaan burung itu—“Oh, betapa lembutnya suara itu! Betapa merdunya suara itu! Betapa indahnya suara itu!—teruslah berkicau, Burung, teruslah berkicau!” dan mereka tetap berdiri di sana, sembari menjulurkan leher mereka dan mendengarkan dengan rasa ingin tahu.  Bodhisatta, yang memerhatikan kedua kejadian tersebut, berpikir bahwa inilah kesempatan untuk memberikan petunjuk itu kepada ibunya, sang ratu. “Bu,” katanya, “ketika mendengar suara burung yang melengking di tengah jalan, orang-orang ini menutup telinga mereka dan meneriakkan ‘Hentikan suara itu!’ dan terus menutup telinga mereka: ini terjadi karena suara-suara yang buruk tidak disukai oleh siapa pun.” Dan dia mengulangi bait-bait berikut:

 

Mereka yang dilimpahi dengan warna yang indah,  meskipun terlihat demikian indah dan cantik, tetapi jika mereka memiliki suara yang buruk untuk didengarkan, maka mereka tidak akan disukai baik di kehidupan ini maupun di kehidupan yang akan datang.

 

Ada sejenis burung yang mungkin sering terlihat olehmu;  buruk rupa, hitam, dan mungkin berbintik-bintik,  tetapi memiliki suara yang lembut untuk didengarkan:  Betapa banyaknya makhluk yang menyukai tekukur itu!

 

Oleh sebab itu, ucapanmu juga harus terdengar lembut dan manis, berbicara dengan bijaksana, tidak diisi dengan kesombongan. Suara yang demikian, yang dapat menerangkan kebenaran beserta artinya, apa pun yang diucapkan akan terdengar menyenangkan.

 

Setelah demikian menasihati ibunya dalam tiga bait kalimat di atas, Bodhisatta berhasil mengubah cara berpikirnya, dan sejak saat itu, dia menjalankan kehidupan yang benar. Setelah dengan satu nasihat menjinakkan ibunya yang judes, Bodhisatta kemudian meninggal dan menerima hasil sesuai dengan perbuatannya.

 

Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “ Sujātā adalah ibu dari Raja Benares, dan Aku sendiri adalah sang raja.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

ĀRĀMA-DŪSA-JĀTAKA

“Yang terbaik dari semua,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Dakkhiṇāgiri , tentang seorang anak tukang taman. Setelah masa vassa berlalu, Sang Guru meninggalkan Jetavana, pergi berpindapata ke sebuah daerah di sekitar Dakkhiṇāgiri . Seorang umat mengundang Sang Buddha dan rombongannya untuk makan, mempersilakan mereka duduk di dalam tamannya, dan mempersembahkan bubur dan makanan kering. Kemudian dia berkata, “ Ayyā, jika Anda sekalian ingin melihat-lihat taman ini, maka tukang taman akan membawa Anda sekalian berkeliling,” dan dia juga memberi perintah kepada tukang taman itu untuk memberikan buah apa saja yang mereka inginkan. Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah tempat yang kosong. “Apa penyebab,” tanya mereka, “tempat ini kosong dan tidak memiliki pohon?” “Penyebabnya adalah,” jawab tukang taman, “seorang anak tukang taman, yang diminta untuk menyiram pohon-pohon muda ini, berpikir akan lebih baik jika dia memberikan jumlah air sesuai dengan panjang akar pohonpohonnya, maka dia pun mencabut pohon-pohon tersebut keluar sampai ke akar-akarnya, kemudian baru menyiramnya. Akibatnya, tempat ini menjadi kosong.” Para bhikkhu kembali dan menceritakan ini kepada Sang Guru. Beliau berkata, “Bukan kali ini saja anak itu merusak tumbuhan, sebelumnya juga dia telah melakukan hal yang sama.” Kemudian Beliau menceritakan kepada mereka sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika seorang raja yang bernama Vissasena memerintah di Benares, pengumuman liburan diumumkan. Tukang taman berpikir untuk pergi dan berlibur. Jadi dia memanggil kera-kera yang tinggal di dalam taman dan berkata, “Taman ini merupakan suatu berkah yang besar bagi kalian. Saya akan libur selama satu minggu. Bersediakah kalian menyiram pohon-pohon muda ini selama tujuh hari?” “Ya,” kata mereka. Tukang taman itu kemudian memberikan kaleng penyiram kepada mereka, dan pergi. Kera-kera mengambil air dan mulai menyiram pohonpohon. Kera yang paling tua berkata, “Tunggu sebentar, sangat sulit untuk mengambil air. Kita harus berhemat dalam menggunakannya. Mari kita cabut tumbuhan ini, dan lihat panjang dari akar-akarnya; jika mereka memiliki akar-akar yang panjang, maka mereka membutuhkan air yang banyak; tetapi jika mereka memiliki akar-akar yang pendek, maka mereka membutuhkan air yang sedikit.” “Benar, benar,” kera-kera lainnya setuju. Kemudian sebagian dari mereka mencabut tumbuhtumbuhan tersebut dan sebagian lagi menanam mereka kembali, baru kemudian menyiram mereka.

 

Kala itu, Bodhisatta terlahir sebagai seorang pemuda yang tinggal di Benares. Sesuatu membawanya datang ke taman tersebut, dan dia melihat apa yang sedang dilakukan oleh kerakera tersebut. “Siapa yang meminta kalian melakukan itu?” tanyanya. “Pemimpin kami,” balas mereka. “Jika kebijaksanaan sang pemimpin seperti ini, bagaimana lagi dengan kalian?” katanya, dan untuk menjelaskan permasalahannya, dia mengucapkan bait pertama berikut:

 

Yang terbaik dari semua rombongan adalah ini: Betapa rendahnya kepintaran dirinya!  Jika dia dipilih sebagai yang terbaik (pemimpin), bagaimana lagi dengan yang lainnya!

 

Mendengar pernyataannya, kera-kera itu membalasnya dalam bait kedua berikut:

 

Brahmana, Anda tidak tahu apa yang Anda katakan, menyalahkan kami dengan cara yang demikian! Jika kami tidak tahu (panjang) akarnya,  lantas bagaimana kami tahu pohon mana yang tumbuh?

 

Kemudian Bodhisatta membalas mereka dalam bait ketiga berikut:

 

Wahai Para Kera, saya tidak menyalahkan kalian, bukan pula mereka yang berada di hutan sana. Sang pemimpin adalah yang bodoh, mengatakan,

 

‘Tolong rawat pohon-pohon ini selagi saya tidak ada’.

 

Ketika uraian ini selesai, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Anak yang merusak tumbuhan di dalam taman adalah kera pemimpin, dan Aku sendiri adalah pemuda bijak.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,
Advertisements