CULLA-PADUMA-JĀTAKA

 

“Ini tidak lain,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal (tidak puas). Cerita pembuka ini akan dikemukakan di dalam  Ummadantī-Jātaka. Ketika bhikkhu ini ditanya oleh Sang Guru apakah benar bahwasanya dia itu seorang yang tidak puas, dia menjawab bahwa itu benar.

 

“Siapakah,” kata Sang Guru, “yang menyebabkan Anda tidak puas?” Dia menjawab bahwa dia telah melihat seorang wanita yang berpakaian bagus dan karena ditaklukkan oleh nafsulah menyebabkan dirinya tidak puas. Kemudian Sang Guru berkata, “Bhikkhu, kaum wanita semuanya tidak berterima kasih dan tidak setia; orang-orang di masa lampau bahkan sangat bodoh sampai memberikan darah dari lutut kanan kepada mereka untuk diminum dan membuat mereka menyerahkan sepanjang hidup mereka, tetapi masih tidak berhasil mendapatkan hati mereka (wanita).” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai putra permaisuri. Pada hari pemberian namanya, mereka memberinya nama Pangeran Paduma (Teratai). Setelah dirinya, lahir enam adik laki-laki. Satu per satu dari mereka bertujuh tumbuh dewasa, menikah dan menetap, hidup sebagai rekan-rekan raja. Suatu hari raja memandang ke luar, ke halaman istana dan ketika sedang memandang, dia melihat pemuda-pemuda ini dengan pengikut yang banyak dalam perjalanan untuk melayaninya. Timbul kecurigaan bahwasanya mereka bermaksud untuk membunuhnya dan merebut kerajaannya. Jadi dia memanggil mereka dan dengan cara begini berkata kepada mereka, “Putra-putraku, kalian tidak boleh tinggal di kota ini. Jadi pergilah ke tempat lain dan setelah saya wafat, barulah kalian pulang kembali, ambillah kerajaan ini yang merupakan milik keluarga kita.”

 

Mereka setuju dengan kata-kata ayah mereka, dan pulang ke rumah sambil menangis dan meratap. “Bukan masalah ke mana kita akan pergi!” ratap mereka; dan membawa istri-istri mereka bersama, mereka meninggalkan kota dan melakukan perjalanan jauh. Hingga sampailah mereka ke suatu hutan, tempat mereka tidak bisa mendapatkan makanan atau minuman. Dan karena tidak bisa menahan sakit karena kelaparan, mereka bertekad untuk menyelamatkan diri mereka dengan mengorbankan para wanita. Mereka menangkap istri dari adik yang paling muda dan membunuhnya; mereka membagi tubuhnya menjadi tiga belas bagian dan memakannya. Tetapi Bodhisatta dan istrinya menyisihkan satu bagian dan memakan sisanya bersama. Demikian yang mereka lakukan selama enam hari; membunuh dan memakan enam wanita; dan setiap hari Bodhisatta menyisihkan satu bagian, jadi dia mempunyai enam bagian yang disimpan. Pada hari ketujuh, yang lainnya hendak menangkap istri Bodhisatta untuk dibunuh, tetapi sebagai gantinya dia memberikan enam bagian yang telah disimpannya. “Makanlah ini,” katanya, “besok saya akan menanganinya.” Mereka semua makan daging tersebut, dan pada saat mereka tertidur, Bodhisatta dan istrinya melarikan diri. Ketika mereka telah mencapai jarak tertentu, wanita tersebut berkata, “Suamiku, saya tidak bisa berjalan lebih jauh lagi.” Jadi Bodhisatta mengangkatnya di pundaknya dan pada saat matahari terbit, mereka keluar dari hutan. Ketika matahari telah terbit, wanita itu berkata—“Suamiku, saya haus!” “Tidak ada air disini, Istriku!” katanya.

 

Tetapi dia memohonnya terus-menerus, sampai dia menusukkan pedangnya ke lutut kanannya, dan berkata, “Tidak ada air, tetapi duduklah dan minumlah darah dari lututku.” Demikianlah yang dilakukan istrinya. Hingga sampailah mereka ke Sungai Gangga yang sangat besar. Mereka minum, mandi dan makan semua jenis buah serta beristirahat di sebuah tempat yang nyaman. Dan di sana, dekat tikungan sungai, mereka membuat sebuah gubuk petapa dan tinggal di dalamnya. Kala itu, seorang perampok di daerah hulu Sungai Gangga telah terbukti bersalah. Tangan, kaki, hidung dan telinganya telah dipotong, dia diletakkan di dalam sebuah perahu yang dihanyutkan ke sungai besar itu. Sampai tempat ini, dia terapung, sambil merintih keras kesakitan. Bodhisatta mendengar rintihannya yang amat memilukan. “Selama saya hidup,” katanya, “tidak boleh ada makhluk malang yang mati untukku!” Dia pergi ke tepi sungai dan menyelamatkan orang itu. Dia membawanya ke gubuk dan dengan losion dan minyak, dia merawat lukanya. Tetapi istrinya berkata dalam hati, “Orang yang dikeluarkannya dari Sungai Gangga untuk dirawat ini adalah orang yang malas!” Dan dia selalu berjalan sambil meludah dikarenakan kejijikan terhadap orang tersebut.  Setelah luka orang tersebut mulai menutup, Bodhisatta membiarkannya berdiam di gubuk itu bersama dengan istrinya, dan dia membawakan segala jenis buah-buahan dari hutan untuk memberi makan kepada orang tersebut dan istrinya. Dan karena mereka berdiam bersama, istri Bodhisatta jatuh cinta kepada orang tersebut dan melakukan zina. Kemudian dia berniat membunuh Bodhisatta dan berkata kepadanya, “Suamiku, ketika berada di pundakmu di saat kita keluar dari hutan, saya melihat bukit di sana dan berjanji jika Anda dan saya selamat dan tidak terluka, saya akan memberikan persembahan kepada makhluk dewata yang ada di bukit itu. Sekarang makhluk dewata itu menghantuiku, dan saya berniat untuk memberikan persembahanku!” “Bagus sekali,” kata Bodhisatta, tanpa mengetahui muslihatnya. Dia pun mempersiapkan persembahan tersebut dan mengantar kepadanya benda-benda persembahan, dia mendaki puncak bukit itu. Kemudian istrinya berkata kepadanya, “Suamiku, bukan makhluk dewata bukit ini, melainkan dirimulah pemimpin para dewataku! Kemudian sebagai penghormatan kepadamu, pertama saya akan mempersembahkan bunga-bunga ini dan berjalan dengan penuh hormat mengelilingimu dan Anda tetap berada di sebelah kananku, dan saya memberi hormat kepadamu: setelah itu, saya akan memberikan persembahanku kepada makhluk dewata bukit ini.” Sambil berkata demikian, dia mengarahkan suaminya menghadap ke tebing curam dan berpura-pura siap untuk memberi hormat dengan berpradaksina. Demikianlah dia berada di belakang suaminya, dia memukul punggungnya dan melemparkannya ke bawah tebing itu. Kemudian dia berteriak dengan gembira, “Saya telah melihat punggung musuhku!” dan dia turun dari gunung kemudian pergi menjumpai kekasihnya.

 

Bodhisatta jatuh ke bawah tebing, tetapi dia tersangkut di dedaunan, di atas puncak pohon elo yang tidak berduri. Tetapi dia masih tetap tidak bisa turun dari bukit tersebut, jadi di sana dia duduk di antara ranting-ranting, sambil memakan buah-buah elo. Kebetulan di sana terdapat seekor kadal besar (iguana) yang biasanya memanjat dari kaki bukit tersebut dan memakan buah dari pohon elo ini. Hari itu, dia melihat Bodhisatta dan melarikan diri. Hari berikutnya, dia datang dan memakan beberapa buah dari sisi lain pohon itu. Lagi dan lagi dia datang, sampai akhirnya dia menjalin persahabatan dengan Bodhisatta.  “Bagaimana Anda bisa sampai ke tempat ini?” tanyanya; dan Bodhisatta menceritakan kepadanya. “Baiklah, jangan takut,” kata iguana; dan membawanya di punggungnya, dia turun dari bukit itu dan membawanya keluar dari hutan. Di sana dia menurunkannya di jalan besar, menunjukkan kepadanya jalan mana yang harus ditempuh, dan dia sendiri kembali ke dalam hutan. Bodhisatta melanjutkan perjalanan ke sebuah desa dan tinggal di sana sampai dia mendengar kabar tentang kematian ayahnya. Mengetahui hal ini, dia kemudian melanjutkan perjalanan ke Benares. Di sana dia mewarisi kerajaan milik keluarganya dan mendapatkan nama Raja Paduma; sepuluh kualitas seorang raja tidak diabaikannya dan dia memerintah dengan benar. Dia membangun enam balai distribusi dana (balai derma), satu di masing-masing ke empat gerbang, satu di tengah kota dan satunya lagi di depan istana; dan setiap harinya dia mendistribusikan derma sebesar enam ratus ribu keping uang. Kala itu istrinya, sambil membawa kekasih di pundaknya, keluar dari hutan, dia pergi mengemis ke orang-orang, mengumpulkan nasi dan bubur untuk menghidupi kekasihnya. Kalau dia ditanya apa hubungan laki-laki itu dengannya, dia akan menjawab, “Ibunya adalah kakak dari ayah saya, dia adalah sepupu saya; mereka memberikan diriku kepadanya. Walaupun dia akan menemui ajalnya, saya tetap akan memikul suamiku ini di pundakku, menjaganya, dan mengemis makanan untuk menopang hidupnya!” “Betapa istri yang penuh pengabdian!”  kata semua orang. Dan sejak saat itu, mereka memberinya lebih banyak makanan daripada sebelumnya. Beberapa dari mereka bahkan memberinya nasihat, berkata, “Janganlah hidup seperti ini. Raja Paduma adalah Raja Benares; dia telah menggemparkan seluruh India dengan kemurahan hatinya. Dia pastinya akan senang bertemu denganmu; Dia akan menjadi begitu gembira sehingga akan memberikanmu derma yang banyak. Taruhlah suamimu ke dalam keranjang ini dan temuilah beliau.” Berkata demikian, mereka membujuknya dan memberikannya satu keranjang daun. Wanita jahat tersebut menaruh kekasihnya ke dalam keranjang itu dan sambil mengangkatnya, dia pergi ke Benares dan hidup dari apa yang didapatkannya dari balai distribusi dana. Bodhisatta sering menunggangi gajah kerajaan yang penuh perhiasan ke balai derma, dan setelah memberi derma kepada delapan atau sepuluh orang, dia akan pulang ke rumah lagi. Kemudian wanita jahat itu menaruh kekasihnya ke dalam keranjang dan sambil mengangkatnya, dia berdiri di tempat yang biasa raja lewati. Raja melihatnya. “Siapakah dia?” tanya raja. “Seorang istri yang penuh pengabdian,” adalah jawabannya. Raja memanggilnya dan mengenali siapa dirinya. Raja memerintahkannya untuk menurunkan laki-laki itu dari keranjangnya, dan bertanya kepada wanita tersebut, “Apa hubungan laki-laki ini denganmu?”—“Dia adalah anak dari kakak ayah saya, diberikan kepadaku oleh keluargaku, suami saya sendiri,” jawabnya. “Ah, betapa seorang istri yang penuh pengabdian!” teriak semua orang, karena mereka tidak tahu seluk-beluknya; dan mereka memuji wanita jahat tersebut. “Apa—orang rendah ini sepupumu? Apakah keluargamu memberikannya kepadamu?” tanya raja, “Suamimu, benarkah demikian?” Wanita tersebut tidak mengenali raja, dan, “Ya, Paduka!” katanya. “Dan inikah putra Raja Benares? Bukankah Anda istri Pangeran Paduma, putri dari seorang raja anu, namamu adalah anu? Bukankah Anda yang minum darah dari lututku? Bukankah Anda jatuh cinta kepada orang rendah ini, dan melempar saya ke bawah tebing? Ah, Anda pikir saya telah mati, dan di sini Anda berada, dengan kematian tertulis di dahimu sendiri—dan inilah saya, masih hidup!” Kemudian dia menoleh ke arah pejabat istananya. “Ingatkah kalian tentang apa yang saya ceritakan, ketika kalian bertanya kepadaku? Enam adik-adikku membunuh enam istri mereka dan memakannya; tetapi saya melindungi istriku tanpa terlukai dan membawanya ke tepi Sungai Gangga, tempat saya tinggal di gubuk petapa. Saya menarik seorang pelaku kejahatan keluar dari sungai itu dan merawatnya. Wanita ini jatuh cinta kepadanya dan melempar saya ke bawah tebing, tetapi saya dapat menyelamatkan diriku dengan menunjukkan kebaikan. Ini tidak lain adalah wanita jahat yang melempar saya dari tebing itu: ini, dan tidak lain, adalah makhluk rendah yang dihukum itu!” Dan dia mengucapkan bait berikut:

 

Ini tidak lain, dan wanita rendah ini adalah dia; Makhluk rendah yang tidak bertangan, tidak lain,  yang kalian lihat; Kata wanita itu—‘Ini adalah suamiku.’ Para wanita pantas mati; mereka tidak mempunyai kebenaran.

 

Dengan sebuah tongkat besar, pukullah makhluk rendah ini sampai mati, yang berbaring menunggu untuk merampas istri orang lain. Kemudian bawa wanita rendah yang setia ini segera, potonglah hidung dan telinganya sebelum dia mati.

 

Walaupun Bodhisatta tidak bisa menyembunyikan amarahnya dan menjatuhkan hukuman ini untuk mereka, tetapi dia tidak melakukan seperti itu; dia kemudian menahan amarahnya dan memerintahkan untuk mengikat keranjang tersebut ke kepala wanita itu dengan sangat kencang hingga dia tidak bisa melepasnya; makhluk rendah itu diletakkannya ke dalam keranjang dan mereka diusir keluar dari kerajaannya.

 

Setelah Sang Guru mengakhiri uraian ini, Beliau memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran-kebenaran, bhikkhu yang menyesal itu mencapai tingkat kesucian Sotāpanna: —“Pada masa itu, para thera anu adalah keenam bersaudara tersebut, Ciñcā adalah sang istri, Devadatta adalah pelaku kejahatan, Ānanda adalah iguana, dan Raja Paduma adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged

SIRI-KĀḶAKAṆṆI-JĀTAKA

“Sekalipun wanita dapat bersikap adil,” dan seterusnya.

Kisah ini akan dikemukakan di Mahā-ummagga-Jātaka.

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

RUHAKA-JĀTAKA

 

“Bahkan tali busur yang putus,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, mengenai godaan yang timbul dari mantan istri. Cerita pembuka ini akan dijelaskan di dalam Buku VIII, pada Indriya-Jātaka. Kemudian Sang Guru mengatakan kepada bhikkhu ini, “Itu adalah wanita yang mencelakakanmu. Pada masa lampau, dia juga mempersulitmu di depan raja dan seluruh pejabatnya dan memberimu alasan yang tepat untuk meninggalkan rumahmu.” Kemudian Beliau menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Raja Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan oleh permaisurinya. Ketika dia tumbuh dewasa, ayahnya wafat; dan dia menjadi raja yang memerintah secara adil. Bodhisatta memiliki seorang pendeta kerajaan bernama Ruhaka, dan Ruhaka ini menikahi seorang wanita brahmana tua. Raja memberikan brahmana itu seekor kuda yang dilengkapi dengan perhiasan-perhiasannya, lalu dia menunggangi kuda itu dan pergi untuk melayani raja. Ketika dia sedang menunggangi kudanya yang penuh perhiasan, orang-orang di samping kiri dan kanannya memuji dengan suara keras: “Lihat kuda yang bagus itu!” teriak mereka, “cantik sekali!”

 

Ketika pulang, dia masuk ke rumahnya dan mengatakan kepada istrinya, “Istriku yang baik,” katanya, “kuda kita berjalan dengan baik! Orang di samping kanan dan kiri semua memujinya.” Istrinya tidak lebih baik dari yang seharusnya dan penuh dengan kebohongan; jadi dia membalas suaminya demikian, “Ah, Suamiku, Anda tidak mengerti di mana keindahan kuda ini. Semuanya terletak pada perhiasannya yang bagus. Jika Anda ingin membuat dirimu sebagus kuda itu, pakailah perhiasan itu pada dirimu dan berjingkrak-jingkraklah di jalanan seperti seekor kuda. Anda akan menemui raja dan dia akan memujimu, semua orang akan memujimu.” Brahmana bodoh ini mendengar semua itu, tetapi tidak mengetahui apa yang direncanakan istrinya. Jadi dia percaya kepadanya dan melakukan sesuai apa yang dikatakannya. Semua yang melihatnya tertawa terbahak-bahak: “Ini guru yang hebat!” semua berkata. Lalu raja berteriak malu terhadapnya “Kenapa, Guruku,” katanya, “apakah ada yang salah dengan pikiranmu? Apakah Anda gila?” Pada saat itu brahmana tersebut sadar dia telah berbuat salah dan dia merasa sangat malu. Jadi dia marah pada istrinya dan dia pulang dengan tergesa-gesa, berkata pada dirinya sendiri, “Wanita itu telah membuatku malu di depan raja dan seluruh pasukannya; saya akan menghukumnya dan mengusirnya!” Tetapi wanita yang licik itu mengetahui bahwa dia pulang dalam keadaan marah; dia mengambil langkah terlebih dulu dan berangkat dari pintu samping kemudian pergi menuju istana, tempat dia tinggal selama empat atau lima hari. Sewaktu raja mendengar tentang hal ini, dia memanggil pendeta kerajaannya dan berkata kepadanya, “Guruku, semua wanita melakukan kesalahan, Anda harus memaafkan wanita ini.” Kemudian dengan tujuan membuatnya memaafkan istrinya, dia mengucapkan bait pertama:   Bahkan tali busur yang putus dapat diperbaiki  dan menjadi utuh kembali; Maafkanlah istrimu dan janganlah menyimpan kemarahan di dalam dirimu.

 

Mendengar ini, Ruhaka mengucapkan bait kedua:

 

Selama masih ada bahan dan pekerja juga, akan mudah membeli tali busur yang baru. Saya akan mencari istri yang baru; sudah cukup terhadap yang satu ini. Demikianlah dia mengusirnya dan menikahi wanita brahmana lain sebagai istrinya.

 

Sang Guru, setelah mengakhiri uraian ini, memaklumkan kebenaran-kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran-kebenaran itu, bhikkhu yang tergoda dikukuhkan pada tingkat kesucian Sotāpanna —“Pada masa itu, mantan istrinya adalah orang yang sama, Ruhaka adalah bhikkhu yang tergoda dan Aku sendiri adalah Raja Benares.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SĪLĀNISAṀSA-JĀTAKA

 

“Melihat buah perbuatan dari keyakinan,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang upasaka yang berkeyakinan. Dia adalah seorang siswa mulia yang berkeyakinan dan bajik. Suatu petang, dalam perjalanannya ke Jetavana, dia sampai ke tepi Sungai Aciravatī setelah para tukang perahu merapatkan perahu mereka ke daratan untuk pergi mendengarkan Dhamma. Karena tidak ada perahu yang terlihat di tepi sungai tersebut dan pikiran upasaka ini dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran yang sangat menyenangkan tentang Buddha, dia pun berjalan ke sungai tersebut. Kakinya tidak tenggelam masuk ke dalam air. Dia berjalan jauh ke tengah sungai seperti berjalan di daratan; tetapi kemudian di sana dia melihat adanya ombak. Kemudian ketenangan pikirannya menjadi kacau dan kakinya mulai tenggelam. Dia kemudian memusatkan pikirannya kembali dan berjalan melewati sungai itu. Kemudian dia sampai ke Jetavana, memberi salam kepada Sang Guru dan duduk di satu sisi. Sang Guru beruluk salam dengannya dan berkata, “Upasaka, Kuharap,” kata Beliau, “tidak ada halangan di dalam perjalananmu.” “Oh, Bhante,” balasnya, “dalam perjalananku, saya sangat meresapi renungan-renungan tentang Buddha hingga saya melangkahkan kaki ke sungai; tetapi saya melangkah di atasnya seperti di atas daratan yang kering!” “Ah, Upasaka,” kata Sang Guru,  “Anda bukanlah satu-satunya orang yang selamat dengan merenungkan kualitas-kualitas bagus Buddha. Di masa lampau, para upasaka yang berkeyakinan mengalami kapal karam di tengah lautan dan selamat dengan merenungkan kualitas bagus Buddha.“ Kemudian, atas permintaan orang tersebut, Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, di masa Sammāsambuddha Kassapa, seorang siswa mulia yang telah mencapai tingkat kesucian Sotāpanna, melakukan perjalanan dengan kapal bersama dengan seorang tukang pangkas yang cukup kaya. Istri dari tukang pangkas ini memberikan tanggung jawab untuk menjaga suaminya kepada siswa mulia tersebut, dalam keadaaan suka atau duka. Seminggu kemudian, kapal tersebut karam di tengah lautan. Kedua orang tersebut yang berpegangan erat pada satu potongan papan terdampar sampai ke sebuah pulau. Di sana tukang pangkas tersebut membunuh beberapa burung dan memasaknya, menawarkan sebagian makanannya kepada upasaka itu. “Tidak, terima kasih,” katanya, “saya tidak mau makan.” Dia berpikir di dalam dirinya, “Di tempat seperti ini, tidak ada pertolongan kecuali Tiga Permata,” dan kemudian dia merenungkan kualitas-kualitas bagus dari Tiga Permata. Ketika dia merenungkan dan merenungkan, seekor raja nāga (naga) yang lahir di pulau tersebut mengubah dirinya menjadi sebuah kapal yang besar. Kapal tersebut dipenuhi dengan tujuh jenis batu berharga. Dewa laut menjadi nahkodanya. Ketiga tiang terbuat dari batu nilam, layar dari emas, tali-tali dari perak dan papan-papan kapal berwarna keemasan. Dewa laut tersebut berdiri di atas kapal dan berkata dengan keras—“Apakah ada penumpang ke Jambudīpa (India)?” Upasaka tersebut berkata, “Ya, itu adalah tujuan kami.” “Naiklah ke kapal!” Dia naik ke kapal dan berniat untuk memanggil temannya, si tukang pangkas. “Anda boleh naik,“ kata nahkoda, “tetapi dia tidak boleh.” “Mengapa tidak boleh?” “Dia bukanlah seorang yang memiliki kualitas moral yang bagus, itulah alasannya,” katanya, “saya membawa kapal ini untuk dirimu, bukan untuk dirinya.” “Baiklah—semua derma yang telah kuberikan, kebajikan yang telah kulakukan, kekuatan yang telah kukembangkan—kuberikan kepadanya buah dari semua perbuatan baikku itu!” “Terima kasih, Tuan!” kata tukang pangkas itu. “Sekarang,” kata dewa laut, “saya dapat membawamu ikut berlayar.” Kemudian dia membawa mereka ke lautan dan berlayar menuju ke Benares. Di sana, dengan kekuatannya, dia memunculkan sebuah gudang harta untuk mereka berdua, dan kemudian berkata kepada mereka, “Bertemanlah dengan mereka yang bijaksana dan bajik. Seandainya saja tukang pangkas ini tidak berteman dengan sang upasaka, dia pastilah telah binasa di dalamnya lautan.” Kemudian dia mengucapkan bait-bait berikut untuk menyanjung persahabatan dengan yang bijak dan baik:

 

Melihat buah perbuatan dari keyakinan, moralitas  dan kemurahan hati, seekor naga dalam bentuk kapal membawa  orang baik tersebut melewati lautan.

 

Jalinlah persahabatan hanya dengan yang baik  dan jadilah teman yang baik; Karena bersahabat dengan yang baik, tukang pangkas ini bisa dengan selamat melihat rumahnya kembali.

 

Demikianlah dewa laut itu memberikan nasihatnya dengan berdiri di udara, kemudian pergi menghilang. Akhirnya dia kembali ke kediamannya dengan membawa naga bersamanya.

 

Sang Guru, setelah mengakhiri uraian ini, memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, upasaka tersebut mencapai tingkat kesucian Sakadāgāmi :—“Pada masa itu, upasaka yang telah memasuki arus tersebut mencapai nibbāna ; Sāriputta adalah raja naga, dan dewa laut adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

SĪHACAMMA-JĀTAKA

 

“Bukan singa, bukan harimau yang kulihat,” dan seterusnya.

 

Kisah ini seperti yang di atas, tentang Kokālika (Kokalika), yang diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana. Kali ini dia ingin bersuara. Sang Guru, setelah mendengar ini,  menceritakan kisah berikut.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta dilahirkan di sebuah keluarga petani, dan setelah tumbuh dewasa, dia bermata pencaharian sebagai seorang petani. Pada masa yang bersamaan, terdapat seorang pedagang yang biasa berkeliling menjajakan barang dagangannya, yang dibawa oleh seekor keledai. Ke mana pun dia pergi, dia biasanya menurunkan buntelan dagangannya dari keledai itu dan memakaikan kulit singa padanya, kemudian membiarkannya bebas ke ladang padi dan gandum. Ketika para penjaga melihat hewan ini, mereka selalu menganggapnya sebagai seekor singa dan tidak berani untuk mendekatinya. Suatu hari pedagang itu berhenti di sebuah desa, dan ketika sedang menyiapkan sarapan paginya, dia membiarkan keledainya bebas di ladang gandum dengan kulit singa yang dikenakannya. Para penjaga mengiranya sebagai seekor singa, sehingga tidak berani mendekatinya. Mereka lari pulang ke rumah dan memberikan tanda bahaya. Para penduduk desa menyiapkan senjata dan buru-buru ke ladang, berteriak dan meniup terompet serta menabuh genderang. Keledai itu menjadi sangat ketakutan dan mengeluarkan suara keledainya. Kemudian, setelah melihat bahwa dia adalah seekor keledai, Bodhisatta mengulangi bait pertama berikut:

 

Bukan singa bukan harimau yang kulihat, juga bukan seekor macan tutul: Melainkan seekor keledai—makhluk tua yang malang dengan kulit singa di punggungnya!

 

Segera setelah para penduduk desa tahu dia hanyalah seekor keledai, mereka memukulnya dengan kayu sampai tulang-tulangnya patah dan pergi dengan membawa kulit singanya. Ketika pedagang itu datang dan menemukan keledainya dalam keadaan yang menyedihkan demikian, dia mengulangi bait kedua:—

 

Keledai, kalau saja dia pintar, mungkin gandum hijau dapat dimakannya  dalam waktu yang lama  dengan penyamarannya berupa kulit singa: Tetapi dia mengeluarkan suara keledai, dan dipukuli!

 

Ketika dia sedang mengucapkan kata-kata ini, keledai itu mati. Pedagang tersebut meninggalkannya dan pergi sendirian.

 

Setelah uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, Kokālika (Kokalika) adalah keledai, dan petani bijak adalah diri-Ku sendiri.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged

SĪHAKOṬṬHUKA-JĀTAKA

 

“Cakar singa dan tapak singa”, dan seterusnya.

 

Kisah ini ceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang Kokālika (Kokalika). Dikatakan bahwasanya suatu hari Kokalika mendengar sejumlah bhikkhu yang bijak memberikan khotbah Dhamma, dan kemudian merasa ingin untuk memberikan khotbah sendiri; selanjutnya sama  seperti cerita pembuka yang dikemukakan pada kisah yang sebelumnya. Kali ini lagi Sang Guru, setelah mendengarkan ini, berkata, “Bukan hanya kali ini Kokalika membeberkan siapa dirinya sebenarnya dengan suaranya sendiri, tetapi hal yang sama persis juga pernah terjadi sebelumnya”. Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai singa di pegunungan Himalaya dan dia memiliki seekor anak dari serigala betina yg menjadi pasangannya. Singa kecil ini sangat mirip dengan ayahnya, jari, cakar, bulu (tengkuk), warna, sosok tubuh—semuanya, tetapi suaranya lebih mirip ibunya. Suatu hari, setelah hujan reda, semua singa melompatlompat bersama dan saling mengaum; singa kecil itu berpikir ingin untuk mengaum juga, dan ternyata dia meraung seperti serigala. Sewaktu mendengar ini, semua singa terdiam serentak. Anak singa lainnya dari induk yg sama, saudara dari yang singa kecil tersebut, mendengar suara itu dan berkata “Ayah, singa yang di sana mirip dengan kita dari warna dan semuanya, kecuali suaranya. Siapakah dia?” sambil bertanya, dia mengulangi bait pertama:   Cakar singa dan tapak singa, berdiri di atas kaki singa; Tetapi suara makhluk ini tidak kedengaran seperti suara anak singa.

 

Bodhisatta menjawab, “Dia adalah saudaramu, anak serigala (dan singa); rupanya sama seperti diriku, tetapi suaranya sama seperti ibunya.” Kemudian dia memberikan nasihat kepada anak singa tersebut—“Anakku, selama kamu tinggal di sini, jagalah mulutmu. Jika kamu masih bersuara lagi, mereka semua akan mengetahui kalau kamu adalah seekor serigala.” Untuk memperjelas nasihatnya, dia mengulangi bait kedua:—

 

Semua akan mengetahui siapa dirimu sebenarnya jika kamu meraung seperti sebelumnya; Jadi janganlah mencobanya lagi, tetaplah diam; Raunganmu bukanlah auman seekor singa.

 

Setelah mendengar nasihat ini, makhluk itu tidak pernah lagi mencoba untuk mengaum.

 

Setelah mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Pada masa itu, Kokālika (Kokalika) adalah serigala, Rahula adalah saudara dari anak singa itu, dan raja hewan buas adalah diri-Ku sendiri.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

CATUMAṬṬA-JĀTAKA

 

“Duduk dan bernyanyi,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu tua. Dikatakan bahwasanya pada suatu ketika, kedua siswa utama sedang duduk bersama, saling bertanya dan menjawab; ketika datang seorang bhikkhu tua dan menjadi orang ketiga. Setelah mengambil tempat duduknya, dia berkata, “Saya juga mempunyai sebuah pertanyaan, Bhante, yang ingin saya tanyakan kepada kalian, dan jika kalian mempunyai kesulitan, kalian boleh memberitahu saya.” Para thera itu tidak menyukainya, mereka bangkit dan pergi meninggalkannya. Mereka yang mendengarkan khotbah Dhamma dari para thera tersebut, setelah khotbah itu selesai, datang kepada Sang Guru. Beliau bertanya apa yang membuat mereka datang ke sana tidak pada waktunya, dan mereka pun menceritakan kepada Beliau apa yang telah terjadi. Beliau menjawab, “Ini bukan pertama kalinya, para bhikkhu, Sāriputta dan Moggallāna tidak menyukai orang ini dan meninggalkannya tanpa sepatah kata pun, tetapi ini juga pernah terjadi sebelumnya.” Dan Beliau meneruskan untuk menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang makhluk dewata penghuni pohon (dewa pohon) yang hidup di dalam hutan. Dua angsa muda terbang turun dari Gunung Cittakūṭa dan bertengger di atas pohon ini. Mereka terbang ke sekitarnya untuk mencari makanan, kembali ke sana lagi, dan setelah beristirahat, terbang kembali ke kediaman mereka di gunung. Sejalan dengan waktu, dewa pohon itu mulai menjalin persahabatan dengan mereka. Sewaktu datang dan pergi, mereka adalah teman yang akrab dan sering berbicara tentang kepercayaan kepada satu sama lain sebelum mereka berpisah. Terjadi pada suatu hari, ketika angsa-angsa itu duduk di atas pohon, sedang berbicara kepada Bodhisatta, seekor serigala yang berhenti di bawah pohon itu, menyapa angsaangsa muda itu dengan beberapa kata dalam bait berikut:

 

Duduk dan bernyanyi di atas pohon jika kalian hendak sendirian.  Duduklah di tanah dan lantunkanlah syair-syair kepada raja hewan (buas)!

 

Dipenuhi dengan rasa tidak suka, angsa-angsa muda itu mengepakkan sayap mereka dan terbang kembali ke Cittakūṭa . Ketika mereka telah pergi, Bodhisatta mengucapkan bait kedua untuk kebaikan serigala itu:—

 

Yang bersayap indah saling melantunkan kepada yang bersayap indah pula, Dewa dengan dewa membuahkan perbincangan baik; Kecantikan yang sempurna, seharusnya Anda kembali ke dalam sarangmu!

 

Ketika mengakhiri uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Pada masa itu, bhikkhu tua itu adalah serigala, Sāriputta dan Moggallāna adalah dua angsa muda, dan Aku sendiri adalah dewa pohon.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

DADHI-VĀHANA-JĀTAKA

 

“Manis tadinya rasa mangga,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang persahabatan seorang bhikkhu dengan yang tidak baik. Cerita pembukanya sama seperti kisah sebelumnya di atas. Kembali Sang Guru berkata: “Para Bhikkhu, sahabat yang tidak baik adalah buruk dan membahayakan; Bukan hanya persahabatan antar manusia dengan yang tidak baik membuahkan hasil yang tidak baik, tetapi di masa lampau, bahkan tanaman juga, sebuah pohon mangga, yang buah manisnya merupakan sajian yang cocok untuk para dewa, menjadi masam dan pahit dikarenakan pengaruh dari sebuah pohon nimba yang berbau busuk dan pahit.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, empat brahmana bersaudara, di daerah Kāsi, meninggalkan keduniawian dan menjadi petapa; mereka membangun empat gubuk daun sekaligus untuk mereka sendiri di pegunungan Himalaya dan di sanalah mereka tinggal. Saudara yang paling tua meninggal dunia dan terlahir sebagai Dewa Sakka. Mengetahui siapa dirinya dalam kehidupan sebelumnya, dia pun sering mengunjungi yang lainnya setiap tujuh atau delapan hari dan menawarkan bantuan kepada mereka.  Suatu hari, dia mengunjungi petapa yang paling tua dan setelah beruluk salam, duduk di satu sisi. “Bhante, apa yang bisa saya bantu?” tanyanya. Petapa yang sedang sakit kuning tersebut menjawab, “Saya menginginkan api.” Sakka memberinya sebuah kapak pisau cukur. “Mengapa,” kata petapa itu, “siapakah yang bisa memberikan kayu bakar untukku dengan ini?” “Jika Anda menginginkan api,” jawab Sakka, “yang harus Anda lakukan adalah pukulkan tanganmu ke kapak itu dan katakan, ‘Ambilkanlah kayu dan buatkan api!’ maka kapak itu akan mengambil kayu dan membuatkan api untukmu.”

 

Setelah memberikannya kapak pisau cukur itu, dia kemudian mengunjungi saudara kedua dan bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang sama—“Apa yang bisa saya bantu, Bhante?” Saat itu ada jejak kaki gajah di dekat gubuknya dan hewan-hewan itu mengganggunya. Maka dia menceritakannya kepada Sakka bahwa dia diganggu oleh gajah-gajah itu dan menginginkan mereka dapat diusir dari sana. Sakka memberinya sebuah genderang. “Jika Anda memukul sisi yang ini, Bhante,” dia menjelaskan, “musuhmu akan lari; tetapi jika Anda memukul sisi yang lainnya, mereka akan menjadi teman akrabmu dan akan mengelilingimu dengan empat kelompok pengawal.” Kemudian dia menyerahkan genderang kepadanya. Terakhir dia mengunjungi petapa yang paling muda dan bertanya seperti sebelumnya, “Apa yang bisa saya bantu, Bhante?” Dia juga sedang sakit kuning dan apa yang dikatakannya adalah, “Tolong berikanlah dadih kepadaku.” Sakka memberikannya sebuah mangkuk dadih dengan kata-kata berikut: “Balikkanlah mangkuk ini jika Anda menginginkan sesuatu (itu), dan dadih seperti aliran sungai yang besar akan mengucur keluar darinya, dan dapat membanjiri seluruh tempat, bahkan bisa mendapatkan sebuah kerajaan untukmu.” Dengan kata-kata ini, dia pergi. Setelah kejadian itu, kapak tersebut sering dipergunakan untuk membuat api oleh saudara yang paling tua, oleh yang kedua genderang tersebut sering dipukul di satu sisi sehingga membuat gajah-gajah melarikan diri, dan oleh yang termuda mangkuk tersebut digunakan untuk mendapatkan dadih baginya untuk dimakan.

 

Kala itu, terdapat seekor babi hutan yang tinggal di sebuah desa yang hancur, menemukan sebuah batu permata yang memiliki kekuatan gaib. Memungut batu permata itu di mulutnya, dia terbang ke angkasa dengan kekuatan gaib batu tersebut. Dari kejauhan dia melihat sebuah pulau di tengah samudera dan di sana dia memutuskan untuk tinggal. Maka setelah turun, dia memilih tempat yang menyenangkan di bawah sebuah pohon mangga, dan di sanalah dia membuat tempat tinggalnya. Suatu hari dia tertidur di bawah pohon tersebut, dengan batu permata tersebut terletak di depannya. Kala itu, seorang laki-laki dari Desa Kāsi, yang diusir oleh orang tuanya karena dianggap sebagai seorang yang tidak berguna, pergi ke suatu bandar, tempat dia naik kapal sebagai seorang pelaut yang mengerjakan pekerjaan yang membosankan. Di tengah laut, kapal itu karam dan dia terapung di atas sebuah papan sampai ke pulau ini. Ketika berkeliling mencari buah-buahan, dia melihat babi hutan tersebut yang sedang tertidur pulas. Dengan diiamdiam dia merangkak, merampas batu permata itu, dan menemukan dirinya dengan gaib terbang ke udara! Dia hinggap di atas pohon mangga itu dan berpikir, “Kekuatan gaib dari batu permata ini telah mengajarkan babi hutan itu bagaimana berjalan di udara. Karena itulah, dia bisa sampai ke sini. Baiklah, saya harus membunuhnya dan menjadikannya sebagai hidangan pertamaku, baru kemudian pergi.” Maka dia mematahkan sebuah ranting, dan menjatuhkannya di atas kepala babi hutan itu. Babi hutan itu terbangun dan melihat batu permatanya telah hilang, lari ke sana dan ke sini dengan gelisahnya. Orang di atas pohon tersebut tertawa. Babi hutan itu memandang ke atas dan karena melihatnya, dia lari dan membenturkan kepalanya ke pohon mangga dan membunuh dirinya sendiri.  Laki-laki itu turun, menyalakan api, memasak babi hutan itu dan menjadikannya sebagai hidangan. Kemudian dia terbang ke angkasa dan berangkat melanjutkan perjalanannya. Ketika melewati Himalaya, dia melihat tempat tinggal para petapa tersebut. Maka dia turun dan menghabiskan dua atau tiga hari di gubuk petapa yang tertua, dihibur dan dijamu, dan dia mengetahui keunggulan kapak tersebut. Dia memutuskan untuk mendapatkan kapak itu untuk dirinya. Jadi dia menunjukkan keunggulan dari batu permatanya kepada petapa tersebut dan menawarkan untuk menukarnya dengan kapak tersebut. Petapa itu sudah lama menginginkan bisa berjalan di udara dan setuju dengan tawaran tersebut. Orang itu mengambil kapaknya dan pergi; tetapi sebelum dia pergi terlalu jauh, dia memukul kapak tersebut dan berkata—“Kapak, hancurkanlah kepala petapa itu dan ambilkan batu permata itu untukku!” Maka terbanglah kapak membelah kepala sang petapa dan membawa kembali batu permata tersebut. Kemudian orang tersebut menyembunyikan kapak itu dan mengunjungi petapa kedua. Bersama dengannya, pengunjung itu tinggal beberapa hari dan segera mengetahui kemampuan dari genderangnya. Seperti sebelumnya, kemudian dia menukar batu permatanya dengan genderang itu, dan sama seperti sebelumnya pula membuat kapak tersebut membelah kepala pemilik genderang tersebut. Setelah itu, dia pergi ke tempat tinggal petapa yang paling muda, mengetahui kemampuan mangkuk dadih itu, memberikan kepadanya batu permata itu untuk ditukar dengan mangkuknya. Dan seperti sebelumnya mengirim kapak itu untuk membelah kepala petapa tersebut. Demikianlah dia menjadi pemilik dari batu permata, kapak, genderang dan mangkuk dadih. Dia kemudian naik dan terbang di udara. Berhenti di dekat Benares, dia menulis sebuah surat yang dikirimkannya lewat seorang utusan, bahwasanya raja harus bertarung atau menyerah. Setelah menerima pesan, ini raja berangkat untuk menangkap penjahat ini. Dia menabuh sisi genderang yang satunya lagi dan seketika itu juga empat kelompok pengawal mengelilinginya. Ketika melihat raja mengerahkan kekuatannya, dia kemudian membalikkan mangkuk dadih itu dan air susu dadih mengalir deras keluar dari dalamnya seperti aliran sungai yang besar; Banyak sekali orang yang tenggelam di dalam sungai dadih tersebut. Berikutnya dia memukul kapaknya dan, “Ambilkan kepala raja itu untukku!” teriaknya. Kapak itu terbang pergi dan kembali, menjatuhkan kepala raja itu di bawah kakinya. Tidak ada seorang pun yang mampu melawannya. Maka dengan dikelilingi sejumlah pasukan yang kuat, dia masuk ke dalam kota dan mengangkat dirinya sebagai raja terpilih dengan julukan Raja Dadhivāhana (Dadhivahana), dan memerintah dengan benar. Suatu hari, ketika raja sedang bersenang-senang dengan melemparkan jala ke dalam sungai, dia mendapatkan sebuah mangga, yang cocok untuk para dewa, yang mengapung turun dari Danau Kaṇṇamuṇḍa . Ketika jala ditarik keluar, buah mangga ditemukan dan ditunjukkan kepada raja. Buah ini sangatlah besar, sebesar baskom, bulat dan berwarna keemasan. Raja menanyakan buah apakah itu: “Mangga,” jawab para penjaga hutan. Dia memakannya dan bijinya ditanam di dalam tamannya, dan disiram dengan air susu. Pohon tersebut tumbuh dan dalam tiga tahun pohon ini telah berbuah. Persembahan yang banyak diberikan kepada pohon ini; air susu dituangkan di sekitarnya, untaian bunga yang wangi dengan lima aroma digantungkan kepadanya, kalung bunga berbentuk lingkaran dihiaskan kepadanya, pelita selalu tetap menyala dan diisi dengan minyak yang wangi, dan sekelilingnya terdapat sekat kain. Buahnya sangat manis dan berwarna layaknya emas murni. Raja Dadhivahana, sebelum mengirimkan hadiah buah-buah mangga ini kepada raja-raja lain, biasanya dengan duri menusuk ke dalam bijinya, tempat tunas keluar, karena takut kalau mereka akan menumbuhkan pohon yang sama dengan menanam bijinya. Setelah memakan buahnya, mereka menanam bijinya. Akan tetapi mereka tidak bisa membuat biji ini berakar. Mereka pun mencari tahu apa penyebabnya dan menemukan apa masalahnya. Terdapat seorang raja yang menanyakan kepada tukang kebunnya apakah dia bisa merusak rasa dari buah ini dan membuatnya menjadi pahit di pohonnya. Orang tersebut mengiyakannya, maka raja memberikan kepadanya uang seribu keping, dan mengirimnya pergi untuk melakukan tugas tersebut. Demikianlah segera setelah sampai ke Benares, orang tersebut mengirimkan pesan kepada raja bahwa seorang tukang kebun datang. Raja setuju untuk menemuinya. Setelah orang tersebut memberi salam, raja bertanya, “Anda adalah seorang tukang kebun?” “Ya, Paduka,” jawab orang itu dan mulai memuji dirinya sendiri. “Bagus sekali,” jawab raja, “Anda boleh pergi dan membantu penjaga taman saya.” Maka setelah itu, mereka berdua yang menjaga taman kerajaan. Orang baru itu berhasil membuat taman kelihatan lebih indah dengan memaksa bunga-bunga dan buah keluar di luar musimnya. Hal ini menyenangkan raja, sehingga dia memecat penjaga lamanya dan memberikan seluruh tanggung jawab taman kepada orang baru itu. Tidak lama setelah orang ini mendapatkan taman di tangannya, dia pun menanam pohon nimba dan tanaman-tanaman menjalar lainnya di sekitar pohon mangga tersebut. Setelah beberapa saat, pohon nimba itu mulai tumbuh. Di atas dan di bawah, akar dengan akar, dan ranting dengan ranting, semua tanaman tersebut melilit pohon mangga itu. Demikianlah pohon mangga yang buahnya yang manis itu, menjadi pahit seperti pohon nimba yang berdaun pahit, ditambah lagi oleh tanaman-tanaman yang berbau busuk dan masam. Segera setelah tukang kebun itu tahu bahwa buahnya telah menjadi pahit, dia pun pergi melarikan diri.  Raja Dadhivahana berjalan ke taman kerajaannya dan mencicipi buah mangga. Sari buah mangga di dalam mulutnya terasa seperti buah nimba yang tidak enak; dia tidak bisa menelannya, dia memuntahkan dan meludahkannya keluar. Kala itu, Bodhisatta adalah penasihatnya dalam urusan pemerintahan dan spiritual. Raja bertanya kepadanya. “Pendeta, pohon ini selalu dirawat dengan baik, tetapi buahnya masih saja menjadi pahit. Apa artinya ini?” dan sambil menanyakan pertanyaan ini, dia mengulangi bait pertama:—

 

Manis tadinya rasa mangga ini, harum baunya,  emas warnanya: Apakah yang telah menyebabkan rasa pahit ini?  padahal kami merawatnya sama seperti sebelumnya.

 

Bodhisatta menjelaskan alasannya dalam bait kedua:—

 

Melilit mengelilingi batangnya, ranting dengan ranting dan akar dengan akar,  lihatlah tanaman menjalar yang pahit itu;  itulah yang merusak buahmu; Demikianlah Anda lihat, sahabat yang tidak baik akan membuat yang lebih baik menjadi sama dengannya.

 

Setelah mendengar ini, raja memerintahkan semua pohon nimba dan tanaman menjalar itu dibersihkan dan akarakarnya dicabut; semua tanah yang tercemar itu diangkat dan tanah yang subur ditaruh di tempatnya; dan pohon tersebut, dengan hati-hati, diberi air yang manis, air susu, air yang beraroma wangi. Kemudian setelah menyerap semua rasa manis itu, buahnya pun kembali tumbuh menjadi manis. Raja memanggil tukang kebun yang lama untuk bertanggung jawab atas taman itu kembali, dan pada akhir hayatnya, raja meninggal menerima buah sesuai dengan perbuatannya.

 

Setelah uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran-Nya:—“Pada masa itu, Aku adalah penasihat bijak tersebut.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

ANABHIRATI-JĀTAKA

 

“Air berlumpur, pekat,” dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang brahmana muda. Dikatakan bahwasanya seorang brahmana muda bertempat tinggal di Sāvatthi yang telah menguasai tiga kitab Weda mengajarkan syair-syair suci tersebut kepada sejumlah brahmana muda lainnya dan para kesatria. Pada waktunya, dia hidup sebagai seorang perumah tangga. Pikirannya kala itu disibukkan dengan harta dan perhiasaan, melayani laki-laki dan melayani perempuan, tanah dan unsur-unsur, sapi dan kerbau, putra dan putri, dia cenderung dipenuhi dengan nafsu, kebencian, dan kegelapan batin. Kesemuanya ini menutupi akal sehatnya, hingga dia menjadi lupa bagaimana untuk melantunkan syairsyairnya dalam susunan yang benar dan kadang-kadang syairsyairnya itu tidak muncul dengan jelas di dalam pikirannya. Orang ini, pada suatu hari, mendapatkan sejumlah bunga dan wewangian, dan dengan ini, dia membawakannya untuk Sang Guru di Jetavana. Setelah memberi salam, dia duduk di satu sisi.

 

Sang Guru, setelah beruluk salam, berkata kepadanya, “Brahmana Muda, Anda adalah seorang guru yang mengajarkan syair-syair suci. Apakah Anda menghafal semuanya di luar kepala?” “Ya, Bhante, tadinya saya telah menghapal semuanya dengan baik. Akan tetapi, sejak menikah, pikiranku menjadi keruh dan saya tidak lagi mampu menghapalnya.” “Brahmana Muda,” Sang Guru berkata, “kejadian yang sama telah terjadi sebelumnya; pada awalnya, pikiranmu jernih dan Anda mampu menghapal semua syairmu dengan sempurna, tetapi setelah pikiranmu keruh dikarenakan nafsu dan yang lainnya, Anda tidak lagi mampu melihat semuanya dengan jelas.” Kemudian atas permintaannya, Sang Guru menceritakan kisah masa lampau.

 

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir di dalam keluarga seorang brahmana yang terkemuka. Ketika tumbuh dewasa, dia belajar di bawah bimbingan seorang guru yang termasyhur di Takkasilā , tempat dia belajar semua syair suci. Sekembalinya ke Benares, dia mengajarkan syair-syair itu kepada sejumlah brahmana dan para kesatria muda. Di antara orang-orang muda tersebut, terdapat seorang brahmana yang mampu mempelajari tiga kitab Weda di luar kepala, dan dia menjadi pemimpin, dan dapat mengulangi seluruh syair suci tanpa kesalahan, meskipun satu baris. Sampai suatu saat, dia menikah dan berumah tangga. Kemudian masalah rumah tangga mengeruhkan pikirannya dan dia tidak mampu lagi mengulangi syair-syair suci tersebut. Suatu hari Sang Guru mengunjunginya. “Brahmana Muda,” dia bertanya, “apakah Anda menghafal semua syairmu di luar kepala?” “Sejak saya menjadi kepala keluarga,” balasnya “pikiranku menjadi keruh dan saya tidak mampu lagi menghafalnya.” “Anakku,” kata gurunya, “ketika pikiran keruh, tidak peduli bagaimana sempurnanya kitab itu telah dipelajari, maka semuanya akan menjadi tidak jelas. Akan tetapi ketika pikiran jernih, Anda tidak akan melupakannya.” Dan kemudian dia mengulangi dua bait berikut:

 

Air berlumpur, pekat, tidak akan memperlihatkan ikan atau kerang atau pasir atau batu kerikil yang mungkin berada di bawahnya: Demikian dengan pikiran yang keruh, tidak ada kebajikan dalam dirimu sendiri atau orang lain yang dapat terlihat. Air yang jernih dan tenang selalu memperlihatkan semuanya, baik itu ikan atau kerang, yang berada di bawahnya; Demikian dengan pikiran yang jernih: kebajikan dalam dirimu sendiri dan orang lain  dapat terlihat dengan jelas.

 

Ketika mengakhiri uraian ini, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran, brahmana muda tersebut mencapai tingkat kesucian Sotāpanna :—“Pada masa itu, brahmana muda dalam kisah ini adalah brahmana muda itu, dan Aku sendiri adalah gurunya.”

 

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,

GIRIDANTA-JĀTAKA

 

“Berkat penjaga kuda,“ dan seterusnya.

 

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Veḷuvana, tentang persahabatan (seorang bhikkhu) dengan yang tidak baik. Cerita pembukanya telah dikemukakan di dalam Mahilāmukha-Jātaka. Sekali lagi, seperti sebelumnya, kata Sang Guru: “Di masa lampau, bhikkhu ini bersahabat dengan yang tidak baik, sama seperti yang dilakukannya sekarang ini.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

 

Dahulu kala, ada seorang raja yang bernama Sāma (si Hitam) berkuasa di Benares. Pada masa itu, Bodhisatta adalah anggota keluarga dari seorang menteri istana, dan tumbuh dewasa menjadi penasihat raja dalam urusan pemerintahan dan spiritual raja. Raja memiliki kuda kerajaan yang bernama Paṇḍava , dan Giridanta adalah pelatihnya, seorang yang pincang. Kuda itu terbiasa melihat pelatihnya berjalan terpincang-pincang di depannya, sambil memegang tali kekang; mengetahui bahwa dia adalah pelatihnya, kuda itu menirunya dan menjadi pincang. Seseorang memberi tahu raja bahwa kuda itu menjadi pincang. Raja mengirimkan dokter-dokter hewan ke sana. Mereka memeriksa kuda itu dan menemukan bahwa dia sangat sempurna, dan membuat laporan atas dasar itu. Kemudian raja mengirim Bodhisatta. “Pergilah, Teman,” katanya, “dan cari tahulah tentang semua itu.” Kemudian dia mengetahui bahwasanya kuda itu menjadi pincang karena dia bersama pelatih yang pincang. Maka dari itu, dia memberitahukan hal itu kepada raja. “Ini adalah masalah persahabatan dengan yang tidak baik,” katanya, dan mulai mengulangi bait pertama:

 

Berkat penjaga kuda, Paṇḍava yang malang dalam keadaan berbahaya demikian: Tidak menunjukkan sifat-sifat terdahulunya,  tetapi terpaksa meniru.

 

“Baiklah, Teman,” kata raja,  “apa yang harus dilakukan?” “Carilah penjaga kuda yang baik,” balas Bodhisatta, “dan kuda itu akan menjadi baik seperti sebelumnya.” Kemudian dia mengulangi bait kedua: —

 

Carilah penjaga kuda yang baik dan cocok,  yang kepadanya Anda dapat bergantung, untuk mengendalikan dan melatihnya,  kuda itu akan berubah menjadi baik dengan cepat; Kebiasaan buruknya akan kembali menjadi benar; dia akan meniru temannya.

 

Raja pun melakukan demikian, kuda tersebut menjadi baik seperti sebelumnya. Raja memberikan kehormatan yang sangat besar kepada Bodhisatta, merasa senang bahwa dia bahkan tahu hal-hal mengenai hewan.

 

Sang Guru, ketika uraian ini berakhir, mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“Devadatta adalah Giridanta pada masa itu;  Bhikkhu yang berteman dengan yang tidak baik adalah kuda itu, dan penasihat yang bijak adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2

 

 

Tagged ,